Anda di halaman 1dari 3

MEKANISME HIPERSENSITIVITAS TIPE IV

(DELAY TYPE HYPERSENSITIVITY)


Oleh : Yohana Maria P
1306493032

Gambar 1. (Overview) respons DTH


Delayed type hypersensitivity merupakan cytokine-mediated inflammatory
reaction yang merugikan sebagai akibat dari aktivasi sel T, terutama sel CD4 + (T
helper).
Respon DTH diawali oleh tahap sensitisasi (1-2 minggu awal) setelah
kontak primer dengan antigen. Selama periode ini, antigen dipresentasikan
bersama-sama dengan molekul MHC kelas II pada permukaan APC, sehingga selsel T helper teraktivasi dan terjadi ekspansi klonal (Gambar 1). berbagai antigen
presenting cells terlibat dalam aktivasi dari respon DTH, termasuk sel-sel
Langerhans dan makrofag. Sel Langerhans adalah sel dendritik yang ditemukan di
epidermis. Sel-sel ini menangkap antigen yang masuk melalui kulit dan

mengangkutnya ke kelenjar getah bening regional, di mana sel-sel T diaktivasi


oleh antigen. Pada manusia, sel-sel endotel vaskular mengekspresikan molekul
MHC kelas II dan juga berfungsi sebagai APC pada respon DTH.
Umumnya, sel-sel T yang diaktivasi selama fase sensitisasi adalah CD4+
(T helper), terutama dari subtipe Th1, tetapi dalam beberapa kasus sel CD8+ (T
sitotoksik) juga telah diperlihatkan dapat menginduksi respon DTH. Sel T yang
teraktivasi sebelumnya disebut sel TDTH untuk menunjukkan fungsi mereka dalam
respon DTH, meskipun pada kenyataannya mereka hanya subset sel TH1 yang
diaktifkan (atau, dalam beberapa kasus, sel TC).
Paparan antigen berikutnya akan menginduksi tahap efektor dari respon
DTH (lihat Gambar 1b). Pada fase efektor, sel Th1 mengeluarkan berbagai sitokin
yang merekrut dan mengaktifkan makrofag dan sel inflamasi nonspesifik lainnya.
Suatu respon DTH biasanya tidak tampak hingga kira-kira 24 jam setelah kontak
kedua dengan antigen; respon umumnya mencapai puncak pada 48-72 jam setelah
kontak kedua. Delayed onset dari respon ini mencerminkan waktu yang
dibutuhkan untuk menginduksi sitokin influx lokal dari makrofag dan activasinya.
Ketika respon DTH dimulai, interaksi yang rumit dari sel spesifik dan mediator
diatur dalam pergerakan yang dapat menghasilkan amplifikasi yang luar biasa.
Pada saat respon DTH sepenuhnya berkembang, hanya sekitar 5% dari sel-sel
yang terlibat yang merupakan antigen spesific Th1 cells; sisanya adalah makrofag
dan sel spesifik lainnya.
Makrofag adalah sel-sel efektor utama pada respon DTH. Sitokin yang
disekresikan oleh sel-sel Th1 menginduksi monosit darah untuk menempel pada
sel endotel pembuluh darah dan bermigrasi dari darah ke jaringan sekitarnya.
Selama proses ini monosit berdiferensiasi menjadi makrofag teraktivasi.
Makrofag teraktivasi menunjukkan peningkatan tingkat fagositosis dan
peningkatan kemampuan untuk membunuh mikroorganisme melalui berbagai
mediator sitotoksik. Selain itu, makrofag teraktivasi mengalami peningkatan
ekspresi molekul MHC kelas II dan molekul-molekul adhesi dan karena itu
berfungsi lebih efektif sebagai APC.
Masuk dan teraktivasinya makrofag pada respon DTH penting dalam
pertahanan host terhadap parasit dan bakteri yang hidup dalam sel, di mana
antibodi yang beredar di sirkulasi tidak dapat mencapainya. Aktivitas fagositik
yang tinggi dan penumpukan enzim litik dari makrofag di daerah infeksi
menyebabkan kerusakan sel yang tidak spesifik, dan demikian juga patogen
intraseluler. Umumnya, patogen dibersihkan dengan cepat melalui kerusakan kecil
jaringan. Namun, dalam beberapa kasus, terutama jika antigen tidak mudah
dibersihkan, respon DTH yang berkepanjangan dapat bersifat destruktif ke host
karena respon inflamasi yang intens berkembang menjadi reaksi granulomatosa
yang tampak. Sebuah granuloma berkembang saat aktivasi terus menerus dari
makrofag yang menginduksi makrofag untuk menempel erat satu sama lain,
dianggap bentuk epithelioid dan kadang-kadang fusi untuk membentuk sel-sel
raksasa berinti. Sel raksasa ini menggantikan sel-sel jaringan normal, membentuk

palpable noduls, dan melepaskan enzim litik dengan konsentrasi tinggi, yang
memusnahkan jaringan di sekitarnya. Dalam kasus ini, respon dapat merusak
pembuluh darah dan menyebabkan nekrosis jaringan yang luas. Respon terhadap
Mycobacterium tuberculosis menggambarkan sifat bermata dua dari respon DTH.
Kekebalan terhadap bakteri intraseluler ini melibatkan respon DTH dimana
makrofag yang teraktivasi memerangkap organisme di paru-paru dan mengisinya
dalam suatu granuloma-type lesion yang disebut tuberkulum.

Gambar 2. Pembentukan granuloma pada respon DTH yang


berkepanjangan