Anda di halaman 1dari 23

Tutorial Susah Kencing

Modul 1 Skenario 1
Kelompok 1 & 5

TUGAS TUTORIAL UROLOGI


MODUL I SKENARIO 1
SUSAH KECING

Oleh :
Kelompok 1 dan V
Andi Nur Rahmat
Wahyuni Tahir
Ni Luh Putu Rintho A. Dewi
Andi Junaidah
Maria Gorety Bahi

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


JALUR KERJASAMA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR
2015

1 | Page

Tutorial Susah Kencing


Modul 1 Skenario 1
Kelompok 1 & 5
SKENARIO 1

Tn SJ Umur 57 tahun, masuk Rumah Sakit / RS dengan keluhan Susah


kencing. Keluhan ini pasien rasa sejak 6 bulan yang lalu, pasien selalu merasakan
kencing tidak puas, dan tampak menetes setelah akhir kencing. Saat ini pasien
terpasang kateter. Jumlah urin tertampung pada urin bag 350 cc/ 8 jam.
Konsistensi urin keruh, berwarna kuning, hasil laboratorium menunjukkan HB 12
gr/dl. Ht 39%, Leukosit 9 rb/ul. Pasien memiliki riwayat Hipertermia.
A. KATA KUNCI
1. Jenis kelamin
2. Usia 57 tahun
3. Susah kencing
4. Kencing tidak puas
5. Keluhan dirasakan sejak 6 bulan lalu
6. Urin menetes setelah akhir kencing
7. Terpasang kateter
8. Urin tertampung pada urin bag 350 cc / 8 jam
9. Konsistensi urin keruh
10. Urin berwarna kuning
11. Hematokrit 39 %
12. Riwayat hypertermi
13.
14.

2 | Page

B. KLARIFIKASI KATA KUNCI


1. Susah Kencing
15. Dimana seseorang harus benar-benar memaksa diri untuk dapat buang air
kecil. Beberapa orang merasakan bahwa mereka harus membuang air seni
mereka. Namun ketika mereka benar-benar ingin melakukannya, jumlah
urin yang mengalir sangat sedikit. Kondisi ini dapat menyakitkan dan
membuat tidak nyaman dalam berkemih.
2. Kencing Tidak Puas
16.

Suatu keadaan dimana seseorang masih ingin mengeluarkan urin

namun sudah berhenti.


3. Urin Menetes Stelah akhir kencing
17.

Suatu keadaan dimana seseorag pada saat sudah selesai

mengeluarkan urin namun uretra masih mengeluarkan urin beberapa ml.


4. Terpasang Kateter
18. Suatu keadaan dimana pasien menunjukkan bahwa pasien tersebut
mengalami gangguan sistem perkemihan.
5. Urin Tertampung Pada Urin Bag 350 cc / 8 jam
19. Urin meupakan sisa metabolisme yang diekskresikan oleh ginjal yang
kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh melalui uretra. Urin yang
dikeluarkan 350 cc / 8 jam menunjukkan adanya gangguan sistem
perkemihan karena urin yang dikeluarkan volumenya kurang dari normal.
6. Konsistensi keruh
20. Urin yang berubah warna menjadi keruh merupakan salah satu indikator
seseorang mengalami infeksi pada saluran kemih
7. Hematokrit 39 %
21. Hematokrit merupakan suatu hasil pengukuran yang menyatakan
perbandingan sel darah merah terhadap volume darah. Kata hematokrit
berasal dari yunani yaitu hema (darah) krite (menilai atau mengukur)
secara harfiah hematokrit berarti mengukur atau menilai darah. Dalam
kasus di atas hematokrit
pasienKencing
menunjukkan39% yang berarti bahwa
Susah
hematokrit pasien di bawah normal. Normal hematokrit pada orang
dewasa adalah 40%- 50%.
Manifestasi klinik
8. Hypertermi
22. Hipertermi adalah suatu keadaan dimana

seseorang

mengalami

peningkatan suhu tubuh. Suhu tubuh dikatakan meningkat jika hasil


Hesistensi
Retensi Urin
pengukuran suhu tubuh seseorang di atas 37 C.
C. PROBLEM TREE
Masalah Keperawatan

ASKEP

23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
D. PERTANYAAN PENTING
1. Mengapa pada usia lanjut lebih sering mengalami susah kencing ?
2. Mengapa pada laki-laki bisa terjadi susah kencing ?
3. Bagaimanakah mekanisme susah berkemih dan mengapa urin menetes
setelah akhir miksi ?
4. Bagaimana mekanisme kencing tidak puas ?
5. Mengapa tindakan pemasangan kateter harus dilakukan pada pasien yang
mengalami susah kencing ?
6. Jelaskan :
a. Bagaimanakah proses pembentukan urin dan berapakah jumlah urin
dikandung kemih yang menyebabkan rangsangan untuk berkemih ?
b.
Bagaimana proses berkemih pada kasus susah kencing?
7. Apa yang menyebabkan konsistensi urin menjadi keruh ?
8. Apa saja manifestasi klinik yang dapat timbul pada pasien yang
mengalami susah kencing ?
9. Apa saja data penunjang yang diperlukan untuk pasien yang mengalami
susah kencing ?
10. Apa hubungan Hipertermi dengan Susah Kencing ?
E. JAWABAN PERTANYAAN PENTING
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.

39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
2. Laki-Laki lebih sering mengalami susah kencing
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
81.
82.
83.
84.
3. Mekanisme Susah Kencing

85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
95.
96.
97.
98.
99.
100.
101.
102.
103.
104.
105.
106.
107.
108.
109.
110.
111.
112.
113.
114.
4. Bagaimana mekanisme kencing tidak puas

115.
5. Pemasangan kateter harus dilakukan pada pasien yang mengalami susah
kencing
116.

117.
118.
119.
120.
121.
122.
123.
124.
125.
126.
127.
128.
129.
130.
131.
132.
133.
134.
135.
136.
137.
138.
139.
140.
141.
142.
6. Proses pembentukan urin dan jumlah urin dikandung kemih yang
menyebabkan rangsangan untuk berkemih dan proses berkemih pada kasus
susah kencing
143.
144.
145.
146.
147.
148.
149.
150.
151.
152.
153.
154.
155.
156.
157.
158.
159.
160.

161.
162.
163.
164.
165.
166.
167.
168.
169.
170.
171.
172.
173.
174.
175.
176.
177.
178.
179.
180.
181.
182.
183.
184.
185.
186.
187.
188.
189.
190.
191.
192.
193.
194.
195.
196.
197.
198.
199.
200.
201.
7. Proses Terjadinya Urin Keruh
202.
203.
204.
205.
206.
207.

208.
209.
210.
211.
212.
213.
214.
215.
216.
217.
218.
219.
220.
221.
222.
223.
224.
225.
226.
227.
228.
229.
230.
231.
8. Manifestasi Klinis Susah Kencing
a. Kesulitan memulai berkemih
b. Perasaan berkemih tidak puas atau kandung kemih terasa tidak kosong
c. Ketidakmampuan untuk mengosongka kandung kemih
d. Nyeri abdomen bagian bawah dan distensi serta spasme abdomen
e. Sering berkemih dg jumlah sedikit
f. Diawali dengan urin mengalir lambat.
g. Terasa ada tekanan
h. Kadang terasa nyeri dan rasa ingin BAK
i. Sensasi kandung kemih penuh
j. Tidak ada haluaran urin
k. Mengedan bila miksi
l. Ketidaknyamanan daerah pubis
9. Pemeriksaan penunjang pada klien yang mengalami susah kencing
a. Darah rutin
232.
Menilai adanya gangguan pada sistem perkemihan. Hb
menurun menandakan penurunan produksi eritropoitin. Peningkatan
leukosit menandakan adanya proses inflamasi.
b. Analisis urin
233.
PH kurang dari normal kemungkinan terdapat infeksi oleh
bakteri pemecah urea, sedangkan jika ph meningkat kemungkinan
terdapat asidosis pada tubulus ginjal

c. Fungsi ginjal
234.
Pemeriksaan kadar BUN untuk menilai adanya gangguan
fungsi ginjal.
d. Foto polos abdomen
235.
Untuk menilai adanya batu saluran kemih
e. IVP
236.
Untuk melihat adanya komplikasi pada ureter dan ginjal
f. PSA ( Prostat Spesifik Antigen )
237.
Untuk menilai keganasan pada prostat
g. Erytouretroscope
238.
Untuk mengamati uretra, kandung kemih dan ukuran
prostat
10. Hubungan antara hipertermi dengan susah kencing
239. Jawab:
240. Hubungan secara langsung mungkin tidak ada tapi hipertermi
memiliki hubungan yang sangat erat dengan salah satu penyebab susah
241.

kencing,yaitu infeksi saluran kemih. Mekanisme terjadinya adalah :


Skema Pathofisiologi Hubungan Susah Kncing dengan Hipertermi:
242.
243.
244.
245.
246.
247.
248.
249.
250.
251.
252.
253.
254.
255.
256.
257.
258.
259.
260.
261.
262.
263.

264.
F. TUJUAN PEMBELAJARAN SELANJUTNYA
1. Mahasiswa mampu mengetahui definisi retensi urin
2. Mahasiswa mampu mengetahui etiologi retensi urin
3. Mahasiswa mampu menjabarkan patofisiologi retensi urin

Peningkatan
kehilangan cairan dan

4. Mahasiswa mampu mengetahui manifestasi klinik retensi urin


5. Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan retensi urin
6. Mahasiswa mampu menyebutkan diagnosa keperawatan yang dapat
muncul dari retensi urin
G. INFORMASI TAMBAHAN
1. pasien mengejan saat memulai miksi
2. distensi abdomen
3. Tidak ada haluan urin
4. Ketidaknyamanan daerah pubis
5. Sensasi kandung kemih penuh
6. Kadang rasa nyeri dan perasaan ingin berkemih
7. Pemeriksaan penunjang
8. Fungsi ginjal
9. Potopolos abdomen
10. Ivp
11. PSA
H. ANALISA & SINTESIS
265.
Dari analisis kelompok kami, skenario diatas lebih
mengarah pada terjadinya retensi urin yang dicurigai dikarenakan pasien
mengalami BPH. namun masih membutuhkan beberapa data-data penunjang
lainnya seperti,pemeriksaan laboratorium lengkap dan beberapa pemeriksaan
penunjang lain yang lebih memfokuskan untuk dapat menegakkan diagnosa
keperawatan dan diagnosa medis.
266.
267.
268.
269.
270.
271.
272. Definisi
273.

Retensi Urine

Retensi Urin (akut dan kronik) Ketidak Mampuan

Melakukan urinasi meskipun terdapat keinginan ataudorongan terhadap


hal tersebut.
274.

Retensi Urin adalah ketidak mampuan seseorang untuk

mengeluarkan urin

yang terkumpul dalam buli-buli hingga kapsitas

maksimal buli-buli terlampaui. Proses miksi terjadi kerena adanya


koordinasi harmonik antara otot detrusor buli-buli sehingga penampang
pemompa urin dengan Uretra yang bertindak sebagai penyalur urin.

275.

Adanya penyumbatan pada uretra, kontraksi buli-buli yang

tidk adekuat, atau tidak adanya koordinasi antara buli-buli dan uretra dapat
menimbulkan terjadinya retensi urin.
276.
Etiologi
1.
2.
3.
4.

Adanya penyumbatan pada uretra


Kontraksi buli buli tidak adekuat
Tidak ada kontraksi buli buli dan uretra
Kelainan medula spinalis, misalnya meningkokel, tabes dosalis, atau
spasmus sfingter yang di tandai dengan rasa sakit yang hebat. Vesikal
berupa kelemahan otot detrusor karena lama tegang, atoni pada pasien DM

atau penyakit neurolgit divertikel yang besar


5. Dapat disebabpakan oleh kecemasan, pembesaran prostat, kelainan
patologi urethra(infeksi, tumor, kalkul), Trauma, disvungsi neurologi
kandung kemih
6. Beberapa obat mencakup preparat antikolinergik,
antispasmotik(fenotiazin), preparat antihistamin (pseudoefedrin
hidroklrida = sudafet).
277.

Manifestasi Klinik:

1. Diawali dengan urin mengalir lambat


2. Kemudian terjadi poliuri yang makin lama menjadi parah karena
pengosongan kandung kemih tidak efesien
3. Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih
4. Terasa ada tekanan
5. Kadang terasa nyeri dan merasa ingin BAK
6. Pada retensi berat bisa mencapai 2000-3000 cc
7. Sensasi kandung kemih penuh
8. Tidak ada haluaran urin
9. Mengedan bila miksi
10. Hesistansi
11. Nokturia atau pancaran kurang kuat
12. Ketidak nyamanan daerah pubis
278.
279.
280.
281.
282.
283.
284.
285.
286.

287.
288.
289.
290.
291.
292.
293.
294.
295.
296.
297.
298.
299.
300.
301.
302.
303.
304.
305.
306.
307.
308.
309.
310.
311.
312.
313.
314.
315.
316.
317.
318.
319.
320.
321.
322.
323.
324.
325.
326.
327.
328.
329.
330.

Patway Susah Kencing

ASKEP SESUAI DENGAN SCENARIO

A. PENGKAJIAN:
331.
332.

SIIRKULASI:
Tanda: peninggian TD (efek pembesaran ginjal)

333.
334.

ELIMINASI:
Gejala:

1) Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan


2)
3)
4)
5)
335.

lengkap
dorongan dan frekuensi berkemih
penurunan kekuatan/dorongan aliran urine;tetesan.
Disuria
hematuria
Tanda:

1) massa padat dibawah abdomen bawah (distensi kandung kemih),


2) nyeri tekan kandung kemih
336.
337.
1)
2)
3)
4)
338.

MAKANAN/CAIRAN:
Gejala:

anoreksia
mual
muntah
Penurunan berat badan
KEAMANAN:
339.
Gejala: demam .
340.

B. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK:
- Urinalisa: warna kuning, coklat gelap, merah gelap atau terang
(berdarah); penampilan keruh; pH7 atau lebih besar (menunjukkan
-

infeksi); bacteria, SDP,SDM mungkin ada secara mikroskopis.


Kultur urine: dapat menunjukkan Staphylococcus aureus, proteus,

klebisella, pseudomonas, atau Escherichia coli.


Sitologi urine: untuk mengesampingkan kanker kandung kemih.
BUN/ kreatinin: Meningkatkan bila fungsi ginjal dipengaruhi.
Asam fosfat serum/antigen khusus prostatic: peningkatan karena
pertumbuhan selular dan pengaruh hormonal pada kanker prostat (dapat

mengindikasikan metastase tulang).


SDP: mungkin lebih besar dari 11.000, mengindikasikan infeksi bila

pasien tidak imunosupresi.


Penentuan kecepatan aliran urine: Mengkaji derajat obstruksi kandung

kemih.
IVP dengan film pasca-berkemih: menunjukkan pelambatan pengosongan
kandung kemih, membedakan derajat obstruksi kandung kemih dan
adanya pembesaran prostat, divertikuli kandung kemih dan penebalan
abnormal otot kandung kemih.

Sistouretrografi

berkemih:

digunakan

sebagai

ganti

IVP

untuk

memvisualisasikan kandung kemihdan uretra karena ini menggunakan


-

bahan kontras local.


Sistogram: mengukur tekanan dan volume dalam kandungan kemih untuk

mengidentifikasi disfungsi yang tak berhubungan dengan BHP.


Sistouretroskopi: untuk menggambarkan derajat pembesaran prostat dan
perubahan dinding kandung kemih (kontraindikasi pada adanya ISK akut
sehubungan dengan risikosepsis gram negatif).
Sistometri: mengevaluasi fungsi otot detrusor dan tonusnya.
Ultrasound transrektal; mengukur ukuran prostat, jumlah residu urine;

melokalisasi lesi yang tak berhubungan dengan BHP.


C. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
1. Retensi urine
2. Nyeri
3. Eliminasi urine
4. Ansietas
5. Kurang Pengetahuan
341.
342.
343.

INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Retensi urine
344.
No
347. 348.

345.

Intervensi

346.

Dorong pasien untuk berkemih 349.

Rasional

Meminimal

kanretensi

urine

1.
tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan distensi berlebihan pada kandung kemih
350. 351. Tanyakan
pasien
tentang 353. Tekanan
ureteral
tinggi
2.

inkontinensia stress

menghambat

352.

pengosongan

kandung

kemih atau dapat menghambat berkemih


sampai tekanan abdominal meningkat
cukup untuk mengeluarkan urine secara

354. 355.

Observasi

tidak sadar
urine, 356. Berguna

aliran

untuk

mengevaluasi

3.
perhatikan ukuran dan kekuatan
obstruksi dan pilihan intervensi
357. 358. Awasi dan catat waktu dan 359. Retensi urine meningkatkan
4.

jumlah

tiap

penurunan

berkemih.
haluaran

perubahan beratjenis

Perhatikan tekanan dalam saluran perkemihan atas,


urine

dan yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal


adanya deficit aliran darah ke ginjal

mengganggu
memfilter

kemampuannya
dan

mengkonsentrasi

substansi
362. Distensi kandung kemih dapat

360. 361.

Perkusi/palpasi area suprapubik

5.
363. 364.

dirasakan di area suprapubik


Dorong masukan cairan sampai 365. Peningkatan
aliran

6.

3000 ml sehari, dalam toleransi jantung, mempertahankan


bila diindikasikan

366. 367.

kandung

perfusi

kemih

dari

bakteri
Berikan/dorong kateter lain dan 368. Menurunkan

7.
perawatan perineal
asendens
369. 370. Berikan rendam duduk sesuai 371. Meningkatkan
8.

indikasi

untuk

penurunan

edema,

cairan

ginjal

dan

pertumbuhan

risiko

infeksi

relaksasi

otot,

dan

dapat

meningkatkan upaya berkemih


375. Menghilangkan spasme kandung

372. 373. Berikan obat sesuai indikasi:


374. Antispasmodic,
contoh;
9.
kemih sehubungan dengan iritasi oleh
oksibutin inklorida (ditropan)
kateter
376.
377.
378.
379.
380.

2. Nyeri
3.

4.

Intervensi

5.

No
6.

7.

Kajinyeri,

perhatikanlokasi, 8.

1.
9.

intensitas(skala 0-10)
pilihan/keefektifan intervensi
10.
Plester selang drainase pada paha dan 11.
Mencegah penarikan kandung kemih dan erosi pertemuan penis-

2.

kateter

12.

diperlukan)
13.
Perhatikan tirah baring bila diindikasikan

pada

abdomen

(bila

traksi

Rasional
Memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan

tidak skrotal

3.

14.

Tirah baring mungkin diperlukan pada awal selama retensi akut.

Namun, ambulasi dini dapat memperbaiki pola berkemih normal dan


menghilangkan nyerikolik
Berikan tindakan kenyamanan, contoh 17.
Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian, dan

15.

16.

4.

pijatan punggung; membantu pasien melakukan dapat meningkatkan kemampuan koping


posisi yang nyaman; mendorong penggunaan
relaksasi/

latihan

napas

dalam;

aktivitas

18.

teraupetik
19.
Dorong menggunakan rendam duduk, 20.

Meningkatkanrelaksasiotot

5.
21.

sabun hangat untuk perineum


22.
Masukkan kateter dan dekatkan untuk 23.

Pengaliran kandung kemih menurunkan tegangan dan kepekaan

6.
24.

kelancaran drainase
25.
Lakukan masase prostat

kelenjar
26.
Membantu dalam evakuasi duktus kelenjar untuk menghilangkan

7.
27.
8.

28.
29.

Berikan obat sesuai indikasi:


Narkotik, conto heperidin

kongesti/inflamasi. Kontraindikasi bila infeksi terjadi


30.
Diberikan untuk menghilangkan nyeri berat, memberikan
(Demerol)

Antibacterial, contoh metenamin hipurat (Hiprex)

relaksasi mental danfisik


31.
Menurunkan adanya bakteri dalam traktus urinaryus juga yang
dimasukkan melalui system drainase

32.
33. Eliminasi urine
34.
No
37.

38.

1.

dan karakteristik urine

35.

Intervensi

36.

Awasi pemasukan dan pengeluaran 39.

Rasional

Memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi,

contoh infeksi dan perdarahan. Perdarahan dapat mengindikasikan

peningkatan obstruksi atau iritasi ureter


Tentukan pola berkemih normal pasien 42.
Kalkulus dapat menyebab kaneksi tabilitas saraf, yang menyebabkan

40.

41.

2.

dan perhatikan variasi

sensasi kebutuhan berkemih segera. Biasanya frekuensi dan urgensi

meningkat bila kalkulus mendekati pertemuan uretrovesikal


Periksa semua urine. Catat jika adanya 45.
Penemuan
batu
memungkinkan
identifikasi

43.

44.

3.
46.

keluaran batu
danmempengaruhipilihanterapi
47.
Observasi perubahan status mental, 48.
Akumulasi sisa uremik dan ketidak seimbangan elektrolit dapat

4.
49.

perilaku atau tingkat kesadaran


menjadi toksik pada SSP
50.
Awasi pemeriksaan laboratorium, 51.
Peniinggian BUN,

5.

elektrolit, BUN, Kreatinin


52.
53. Ansietas

disfungsi ginjal

kreatinin

dan

elektrolit

tipe

batu

mengindikasikan

54.
No
57.

55.
58.

Selalu

ada

Intervensi
untuk

56.

pasien.

Rasional

1.

Buat 59.
60.
hubungan saling percaya dengan pasien/orang

Menunjukkan perhatian dan keinginan untu kmembantu


Membantu dalam diskusi tentang subjek sensitive

61.

terdekat
62.
Berikan informasi tentang prosedur 63.

2.

dan teskhusus dan apa yang akan terjadi, mengurangi masalah karena ketidak tahuan, termasuk ketakutan akan kanker.

Membantu pasien memahami tujuan dari apa yang dilakukan, dan

contoh kateter,urin berdarah, iritasi kandung Namun kelebihan informasi tidak membantu dan dapat meningkatkan
kemih. Ketahui seberapa banyak informasi ansietas.
64.

yang diinginkan pasien


65.
Pertahankan perilaku nyata dalam 66.

3.

melakukan

67.

Lindungi privasi pasien.


68.
Dorong pasien/orang terdekat untuk 69.

4.
70.

menyatakan masalah/perasaan
pertanyaan, memperjela skesalahan konsep, dan solusi pemecahan masalah
71.
Beri penguatan informasi pasien yang 72.
Memungkinkan pasien untuk menerima kenyataan dan menguatkan

5.

telah diberikan sebelumnya

prosedur/menerima

Menyatakan penerimaan dan menghilangkan rasa malupasien.

pasien.
Mendefinisikan masalah, memberikan kesempatan untuk menjawab

kepercayaan pada pemberian perawatan dan pemberian informasi

73.
74. Kurang pengetahuan
75.
No
78. 79.

76.
Kaji

ulang

Intervensi
proses

77.
penyakit, 80.

Rasional

Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan

1.
81.

pengalaman pasien
82.
Dorong menyatakan

2.
84.

perasaan dan perhatian


vital
85.
Berikan informasi bahwa kondisi tidak 86.

Mungkin merupakan ketakutan yang tak dibicarakan

3.
87.

ditularkan secara seksual


88.
Anjurkan
menghindari

Dapat menyebabkan iritasi prostat dengan masalah kongesti.

4.

berbumbu, kopi, alcohol, mengemudikan Peningkatan tiba-tiba pada aliran urine dapat menyebabkan distensi kandung
mobil

lama,

pemasukan

rasa

informasi terapi
takut/ 83.
Membantu pasien mengalami perasaan dapat merupakan rehabilitasi

makanan 89.

cairan

cepat kemih dan kehilangan tonus kandung kemih, mengakibatkan episode retensi

90.

(terutama alcohol)
urinaria akut
91.
Bicarakan masalah seksual, contoh 92.
Aktivitas seksual dapat meningkatkan nyeri selama episode akut tetapi

5.

bahwa selama episode akut prostatitis, koitus dapat memberikan sesuatu massase pada adanya penyakit kronis
dihindari tetapi mungkin membantu dalam

93.

pengobatan kondisi kronis


94.
Berikan informasi tentang anatomi 95.

6.

dasar

96.

tingkatkan dialog tentang masalah


97.
Kaji
ulang
tanda/gejala

7.

memerlukan evaluasi medik, contoh urine

seksual.

Dorong

pertanyaan

Memiliki informasi tentang anatomi membantu pasien memahami

dan implikasi tindakan lanjut, sesuai dengan afek penampilan seksual


yang 98.

Intervensi cepat dapat mencegah komplikasi

keruh, penurunan haluaran urine, adanya


99.

demam/ menggigil
100. Diskusikan perlunya pemberitahuan 101.

Menurunkan resiko terapi tak tepat, contoh penggunaan dekongestan,

8.

pada perawat kesehatan lain tentang diagnose

102. 103.
9.

anti kolinergik, dan anti depresan meningkatkan retensi urin dan dapat

mencetuskan episode akut


Beri penguatan pentingnya evaluasi 104. Hipertrofi berulang dan/infeksi (disebabkan oleh organisme yang

medic untuk sedikitnya 6 bulan - 1tahun, sama atau berbeda) tidak umum dan akan memerlukan perubahan terapi untuk
termasuk pemeriksaan rektal, urinalisa
105.

mencegah komplikasi serius.

106.

DAFTAR PUSTAKA

107.

Purnomo, Basuki B. (2011). Dasar-Dasar urologi. Jakarta: Sagung Seto

108.

Corwin, E. (2009). Buku saku patofisiologi edisi revisi 3. Jakarta: EGC.

109.

Hopkins, T. (2014). Intisari medikal bedah edisi 3. Jakarta: EGC.

110.

Muttaqim, A., & Kumala, S. (2011). Asuhan keperawatan gangguan


sistem perkemihan. Jakarta: Salamba medika.

111.

Price, Sylvia A dan Wilson, Lorraine. (2006). Patofisiologi. Jakarta: EGC.

112.

Sari, N. (n.d.). Konsep dasar benigna prostat hiperplasia. Unimus.

113.

Smetzer, C., & Bare, B. (2013). Buku ajar keperawatan medikal bedah
edisi 8. Jakarta: EGC.
114.

115.
116.