Anda di halaman 1dari 2

BAB IV

PEMBAHASAN
1. bagaimana cara mendiagnosis pasien dari menometroragia?
Dari anamnesis
-

pasien datang dengan keluhan tiba-tiba keluar darah banyak


Perdarahan disertai dengan nyeri perut
Perdarahan berlangsung selama 2 hari

Pada pemeriksaan fisik


-

a/i/c/d
Tanda Vital

: +/-/-/-

Tensi : 130/80 mmHg


Nadi : 80 kali/menit
Pernafasan
: 28 kali/menit
Suhu : 36C
Pada pemeriksaan penunjang
Hemoglobin
: 8,6 g/dl
Hasil dari kuret PA : tidak ditemukan tanda-tanda keganasan
Pada pemeriksaan penunjang didapatkan Hb 8,6 g/dl yang tandanya adalah pasien
mengalami anemis karena mengelurkan darah yang banyak.
Pada kepustakaan untuk mendapatkan diagnosis menometroragia perlu ditanyakan
bagaimana mulainya perdarahan, apakah didahului oleh siklus yang pendek atau oleh
oligomenorea/amenorea, sifat perdarahan (banyak atau sedikit-sedikit, sakit atau tidak), lama
perdarahan, dan sebagainya.
Penyebab dari gangguan haid disebabkan oleh kelainan organik dan anorganik, yaitu :

Untuk menegakkan diagnosis pada perdarahan ovulatoar, perlu dilakukan kerokan


pada masa mendekati haid, etiologinya:
o Korpus luteum persistens. Dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang-kadang
bersamaan dengan ovarium membesar. Sindrom ini harus dibedakan dengan
kehamilan ektopik. Korpus luteum persisten dapat pula menyebabkan
pelepasan endometrium tidak teratur (irregular Shedding). Diagnosis irregular
shedding dibuat dengan kerokan yang tepat pada waktunya, menurut
McLennon pada hari ke-4 mulainya perdarahan.
o Insufisiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spotting,
menoragia atau polimenorea. Dasarnya ialah kurangnya produksi progesteron
oleh gangguan LH releasing faktor.
o Apopleksia uteri : pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya
pembuluh darah dalam uterus.
19

20

o Kelainan darah, seperti anemia, purpura trombositopenik, dan gangguan dalam


mekanisme pembekuan darah.
o Karena pada hasil PA tidak didapatkan tanda-tanda keganasan, pasien ini

bukan termasuk pada kelainan organik (anatomi).


Stimulasi estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium. Fluktuasi kadar estrogen
ada sangkut-pautnya dengan jumlah folikel yang pada suatu waktu fungsional aktif.
Pada wanita dalam masa pramenopause proses terhentinya fungsi ovarium tidak selalu

berjalan lancar.
Pada pemeriksaan juga tidak ditemukan hiperplasia endometrium pada pasien ini.
Yang artinya tidak ada gangguan fungsi hormon. Namun yang dialami pasien ini

adalah Pre menopause bleeding.


Jadi diagnosis yang tepat untuk pasien ini adalah Pre menopause bleeding.

2. bagaimana cara penatalaksanaan menometroragia?


Pada kasus ini, dilakukan :
-

Prebaikan Keadaan umum


Tranfusi WB 2 x 1 hari sampai Hb 10 g/dl
Persiapan kuret jika Hb sudah 10 g/dl
Kadang-kadang pengeluaran darah pada perdarahan disfungsional sangat banyak. Dalam

hal ini penderita harus istirahat baring dan diberi tranfusi darah. Perdarahan untuk sementara
waktu dapat dipengaruhi dengan hormon steroid. Dapat diberikan terapi hormonal :
a. Estrogen dalam dosis tinggi, supaya kadarnya dalam darah meningkat dan perdarahan
berhenti.
b. Progesteron. Pemberian progesteron untuk mengimbangi pengaruh estrogen terhadap
endometrium. Karena sebagai pertimbangan sebagian besar perdarahan fungsional
bersifat anovulatoar.
c. Androgen memiliki efek baik terhadap perdarahan disebabkan oleh hiperplasia
endometrium. Terapi ini tidak dapat diberikan terlalu lama mengingat bahaya
virilisasi.
d. Pada wanita dalam masa pubertas, terapi yang paling baik adalah dilatasi dan kerokan.
Tindakan ini baik untuk terapi maupun untuk diagnosis.
Sebagai tindakan terakhir pada wanita dengan perdarahan disfungsional terus-menerus
(walaupun sudah dilakukan kerokan beberapa kali, dan yang sudah mempunyai anak
cukup) ialah histerektomi.
Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien ini sudah tepat dan sesuai dengan
kepustakaan.