Anda di halaman 1dari 15

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan

Kesehatan Kontemporer

70

BAB XVI
TRANSEKSUAL,, WARIA,, GUY,, DAN
OPERASI GANTI KELAMIN
Tuhan menciptakandan mentakdirkan manusia dengan
berbagai ragam bentuk phisik, psikis, dan karakter. Di
antaranya ada laki-laki dan ada perempuan, ada pula
yang terlahir memiliki kelamin ganda (hermaprodite), atau
tidak jelas kelelakian atau keperempuanannya. Di sisi lain,
ternyata di antaranya ada yang terlahir membawa sifat
berlainan dengan jenis biologis kelaminnya, sehingga yang
bersangkutan ingin menjadi lain jenis fisik biologisnya.
Keinginan tersebut tumbuh, antara lain, karena sifat
bawaan yang ada pada dirinya, pengaruh, atau bentukan
lingkungannya. Bagaimana ulama menetapkan hakikat
status kelaminnya dalam kasus-kasus seperti ini, sebab,
dalam batasan syariat Islam yang terkait dengan warisan,
aurat, pernikahan, dan lainnya hanya dikenal ada dua
jenis kalamin, laki-laki dan perempuan. Alasan yang
dikemukakan Ulama untuk menetapkan hukumnya, karena
termasuk mengubah fitrah atau ciptaan Allah,
menyerupakan diri dengan lain jenis, dan termasuk bentuk
penipuan. Di sisi lain, kadang seseorang berargumen
bahwa itulah sifat asli bawaan atau fitrahnya, bagaimana
sebenarnya batasan syariat Islam tentang fitrah, ciptaan
Allah, menyerupakan diri dengan lain jenis. dan penipuan.
Jika demikian, siapakah yang memiliki otoritas untuk
menentukan arah jenis kelamin yang dapat dijadikan
sebagai rekomendasi bagi pihak terkait untuk menentukan
arah operasi dilakukan. Di sisi lain, jika seseorang sudah
dioperasi menjadi jenis lain dari sebelumnya, apa
statusnya pasca-operasi?

Transeksual, WARIA, Guy,dan Operasi


Ganti Kelamin

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan


Kesehatan Kontemporer

71

2. Pengertian Transeksual
Transeksual adalah kondisi seseorang yang secara biologis
adalah normal, namun ia merasa dirinya benar-benar sebagai
anggota dari lawan jenis kelaminnya, kendati secara kenyataan
anatomisnya berlawanan. Dalam The New Encyclopedia
Britannica disebutkan Transsexualism is a condition in which a
biologically normal person believes himself (or herself) to be
truly a member of opposite sex, despite anatomical evidence to
the contrary). Kelainan ini lebih umum muncul pada kalangan
laki-laki. Tidak seperti lelaki, homoseksual yang keperempuanperempuanan atau perempuan lesbian yang kelaki-lakian yang
tidak merasa ingin mengubah kelamin anatomisnya, seorang
transeksual ini ingin hidup sebagai anggota lain jenis. Pada
transeksual, ia merasa dirinya dilahirkan dalam bentuk fisik
tubuh dan jenis yang dianggapnya salah. Kondisi ini berbeda
dengan kaum homo atau lesbi, mereka puas dengan anatominya
dan menganggap diri mereka benar-benar laki-laki atau
perempuan, hanya saja mereka menyukai sesama jenis kelamin.
3. Larangan Menjadi WADAM dan Menyerupai Lain
Jenis
Ulama sepakat mengharamkan seseorang menjadi WARIA,
WADAM, atau Guy. Dalam sejumlah hadis Nabi terdapat
larangan bagi laki-laki meniru-niru perilaku wanita, demikian
pula sebaliknya, perempuan meniru-niru perilaku laki-laki.
Perilaku demikian termasuk yang dikutuk oleh Rasulullah saw.,
sebagaimana dinyatakan dalam hadis Nabi:

Dari Ibnu 'Abbs, ia berkata: Rasulullah saw. melaknat


kaum laki-laki yang menyerupakan dirinya dengan
perempuan, juga kaum perempuan yang menyerupakan
dirinya dengan laki-laki" (HR. al-Bukhri, Abu Dwud, atTurmudzi, Ibnu Mjah, Ahmad, dan ad-Drimi).

Transeksual, WARIA, Guy,dan Operasi


Ganti Kelamin

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan


Kesehatan Kontemporer

72

Juga dalam hadis yang menunjukkan bahwa Rasulullah saw.


tidak suka terhadap laki-laki yang bersikap kewanita-wanitaan,
atau sebaliknya, sehingga beliau, demikian juga 'Umar bin alKhaththab pernah mengusir orang seperti itu, sebagaimana
disebutkan dalam hadis sahih:









( )

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah saw melaknatlakilaki yang kebanci-bancian dan perempuan kelaki-lakian.
Dan Beliau bersabda: Keluarkan mereka dari rumahmu,
dan Nabi pernah mengusir seseorang, demikian juga 'Umar
pernah mengusir seseorang (HR. al-Bukhri, Abu Dwud,
Ahmad, dan al-Drimi).
Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dari Ayyasy bin Abi
Rabiah ra, bahwa pada masa Rasulullah saw, ada tiga orang
mukhannats, yaitu; Mati, Hidm, dan, Hit. Mati adalah budak
Fakhitah binti Amr, bibi Rasul. Dulu, mati sering masuk ke
rumah Nabi dan bertemu dengan istri-istri beliau, sebelum
akhirnya dilarang.
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan
Al-Baihaqi dari Abu Hurairah disebutkan:











( )





Dari Abi Hurairah, Rasulullah saw pernah didatangi oleh


seorang laki-laki yang keperempuan-perempuanan, ia
mencat kuku tangan dan kaki dengan pohon inai, maka Nabi
saw berkata: Ada apakah ini? Maka dikatakan: Ya
Rasulullah, ia ingin menyerupakan diri dengan wanita,

Transeksual, WARIA, Guy,dan Operasi


Ganti Kelamin

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan


Kesehatan Kontemporer

73

maka Nabi menyuruh membawanya keluar ke an-Naqi'


(suatu tempat sejauh perjalanan kaki dua malam dari
Madinah), mereka bertanya: Ya Rasulullah, apakah kami
harus membunuhnya? Nabi menjawab: Aku dilarang
membunuh orang-orang yang mengerjakan shalat (HR.
Abu Dawud).
Pengusiran tiga orang keluar dari kota Madinah dan tidak
boleh kembali lagi di atas dimaksudkan karena kekhawatiran
akan adanya fitnah dan kerusakan yang berlindung di balik niat
yang baik dengan tingkah lakunya itu. Di samping itu, dampak
kutukan bagi tindakan mereka tidak saja khusus bagi pelakunya,
orang yang berada di sekitarnya, termasuk penguasa ikut
bertanggung jawab atas perilaku mereka, sebab, penguasa akan
dimintai pertanggungjawabannya atas urusan yang menjadi
tanggung jawabnya. Orang tua yang anaknya berlaku demikian
juga termasuk terkutuk, atau suami yang isterinya berlaku
demikian dan ia tidak melarangnya juga kena kutukan itu.
Keperempuan-perempuanan yang dimaksud dalam hadis di
atas meliputi akhlak, gaya bicara, dan gerakan, seperti berjalan
lenggak-lenggok bergaya wanita, pakaian, bicara, memakai gelang
tangan dan atau kaki, model rambut dengan memanjangkannya,
memakai perhiasan aksesoris wanita, seperti memakai anting,
gelang, kalung dan sejenisnya.Tidak termasuk di dalamnya dalam
hal pendapat maupun keilmuan. Menyangkut jenis pakaian, ada
model-model khusus bagi laki-laki dan khusus bagi perempuan.
Di sisi lain ada yang biasa dipakai bagi laki-laki dan perempuan,
di antaranya celana panjangyang pernah menjadi trend pakaian
bagi wanita di awal perkembangan Islam, bahkan hingga dewasa
ini. Di berbagai negara muslim, kaum muslimahnya biasa
bercelana panjang sebagai pakaian sehari-hari, seperti di India,
Bangladesh, Pakistan, dan lain-lain.
Menurut hadis-hadis di atas, orang yang meniru-niru
perilaku lawan jenisnya dilaknat, berarti sangat dilarang, maka
menjadi WADAM, WARIA, maupun guy termasuk di dalamnya.
4. Khunts/Hermaprodite
Dalam literatur hukum Islam dikenal sebutan khunts.
Sering kali kata khunts termasuk dalam satu catatan almasalah (problem hukum), yang sering digunakan kata jika
dan seterusnya. Di samping Al-khuntsa dalam hadis juga
dikenal al-mukhannats. Al-khuntsa, secara umum para ulama

Transeksual, WARIA, Guy,dan Operasi


Ganti Kelamin

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan


Kesehatan Kontemporer

74

mendefinisikannya sebagai orang yang mempunyai dua alat


kelamin, laki-laki dan perempuan. Atau, bahkan tidak
mempunyai alat kelamin, baik kelamin laki-laki maupun
perempuan. Artinya, dia bukan laki-laki juga bukan perempuan.
Al-khuntsa ada dua jenis, yaitu: al-khuntsa ghairul
musykil (tidak sulit) dan al-khuntsa al-musykil (sulit).
Khuntsa ghairu musykil adalah orang yang ditakdirkan
memiliki phisik yang mendua sejak lahir, memiliki kelamin lakilaki dan wanita sekaligus, salah satu alat kelaminnya lebih
dominan. Misalnya, alat kelamin laki-laki lebih dominan dan
alat kelamin wanitanya meski ada tetapi tidak terlalu berfungsi,
atau sebaliknya. Dalam hukum Islam, kedudukan hukum
khuntsa ghairu musykil ini ditempatkan sesuai dengan ciri
yang paling dominan, apakah laki-laki atau wanita. Adapun
khuntsa musykil adalah orang yang memiliki phisik yang
mendua, memiliki kelamin laki-laki dan sekaligus wanita sejak
lahir.Kedua jenis alat kelamin sama dominan, atau tidak ada
yang lebih dominan dari lainnya. Dalam hukum Islam, khuntsa
musykil ini menimbulkan kerancuan, karena itu para ulama
berbeda pendapat dalam menentukan kedudukan hukumnya.
Jadi perbedaannya, pada khuntsa ghairu musykil, salah satu
jenis kelaminnya ada yang lebih dominan, sedangkan pada
khuntsa musykil tidak ada yang dominan.
Adapaun al-Mukhannats (yang kewanita-wanitaan) yaitu
orang yang secara fisik adalah lelaki tulen, dan memiliki satu alat
kelamin, yakni kelamin laki-laki. Tetapi, dia berperilaku layaknya
perempuan atau menyerupai perempuan dalam tingkah lakunya,
gerak-gerik, suara, dan gaya bicaranya. Adapun untuk
perempuan yang menyerupai laki-laki, disebut sebagai almutarajjil (yang kelelaki-lakian). Al-mukhannats sering disebut
sebagai banci atau bencong atau waria. Sedangkan al-mutarajjil,
biasa disebut sebagai tomboy, seperti laki-laki dalam hampir
segala hal.
Menurut para ulama, sebagaimana dikatakan Imam AnNawawi, al-Mukhannats terbagi dua:

1.

Orang yang pada dasarnya tercipta sebagai laki-laki tetapi


membawa sifat keperempuanan. Dia tidak mengada-ada
atau berlagak dengan bertingkah laku meniru perempuan,
baik gaya, cara berbicara, atau gerak-geriknya. Semuanya

Transeksual, WARIA, Guy,dan Operasi


Ganti Kelamin

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan


Kesehatan Kontemporer

75

alami. dia tidak tercela, tidak boleh disalahkan, tidak


berdosa, dan tidak dihukum.

2.

Mukhannats yang pada dasarnya laki-laki, tetapi, dia


membuat-buat dan bertingkah laku layaknya perempuan
dalam gerakan, dandanan, cara bicara, dan gaya berpakaian.
Mukhannats jenis ini tergolong yang tercela.

Ulama fikih sepakat menyatakan bahwa hukum yang


diberlakukan kepada seseorang, seperti pembagian warisan,
perkawinan, diyat pembunuhan, shaff dalam shalat, menutup
aurat, yang membatalkan wudlu, dan lain-lain sangat bergantung
pada jenis kelamin yang dimilikinya. Untuk menentukan
kesejatian diri jenis kelamin seseorang yang dikategorikan
khuntsa, ulama sepakat menetapkannya didasarkan pada tandatanda biologis yang tampak atau terjadi, jika tampak tanda-tanda
keluarnya sperma, ada kemampuan untuk menghamili
perempuan, atau urinenya hanya keluar dari penis, maka ia
dikategorikan sebagai laki-laki dan hukum yang diberlakukan
kepadanya sama dengan laki-laki normal. Sebaliknya, jika
seorang khunts memiliki tanda-tanda haid yang keluar dari
vagina atau tanda-tanda dapat hamil, maka ia dikatakan wanita
dan hukum yang berlaku padanya sama dengan yang berlaku
pada wanita normal. Namun, jika tidak tampak indikasi apapun
sebagaimana yang disebutkan di atas, maka ulama fikih sepakat
mengatakan itulah yang disebut khunts musykil.
Berdasarkan uraian di atas, bagi seseorang penderita
hermaprodite, pada kategori khuntsa ghairu musykil untuk
menentukan kesejatian jenis kelaminnya, ditetapkan
berdasarkan pada kecenderungan tanda-tanda phisik yang
dominan. Jika kewanitaannya lebih dominan maka dikategorikan
pada wanita, dan sebaliknya jika kelelakiannya lebih dominan
maka dikategorikan pada laki-laki. Jika sulit menentukan jenis
kelaminnya, misalnya pada saat buang air secara bersamaan atau
karena telah menginjak dewasa atau remaja sehingga sulit atau
tidak mungkin mengamatinya dengan melihat langsung alat
kelamin mana yang digunakan, ulama fikih cenderung
menentukan jenis kelaminnya berdasarkan indikasi fisik, bukan
kepada kejiwaannya (psikis). Misalnya, pada laki-laki
menunjukkan adanya tanda-tanda suara membesar, memiliki

Transeksual, WARIA, Guy,dan Operasi


Ganti Kelamin

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan


Kesehatan Kontemporer

76

kumis, jenggot, jakun, sedangkan pada wanita terdapat payudara,


mengalami haid, dan sebagainya.
5. Perkawinan WARIA
Dalam bidang perkawinan, status hukum menikah bagi
WARIA terkait dengan dasar hukum perkawinan itu sendiri,
seperti wajib jika sudah mampu dan dikhawatirkan akan
terjerumus dalam zina sekiranya tidak menikah. Sunnah jika
sudah mampu tetapi dapat menahan diri. Mubah jika belum ada
minat kuat dan dapat menahan diri. Haram jika dipastikan akan
mendatangkan kemudaratan pada pasangannya, dan makruh
jika tidak ada kemauan untuk kawin.
Di antara syarat sah dan rukun pernikahan dalam Islam
adalah dilaksanakan antara laki-laki yang jelas kelelakiannya dan
perempuan yang jelas pula keperempuannya berdasarkan
indikasi biologis lahiriahnya. Karena itu, jika terjadi pernikahan
antara WARIA yang sejatinya dia adalah laki-laki dengan seorang
pria, hukumnya haram dan pernikahannya tidak sah, dan tidak
ada pernikahan antara pria dengan pria atau wanita dengan
wanita dalam syariat Islam. Hubungan seksual yang terjadi
antara pasangan yang menikah tersebut, jika dilakukan sesama
lelaki maka termasuk liwath, yang dalam ketentuan syariat Islam
termasuk dosa besar dan pelakunya dapat dikenai hukuman
(jarimah) homoseksual atau liwath. Ulama sepakat hukumannya
mati, hanya mereka berbeda pendapat tentang bentuk eksekusi
matinya seputar dirajam, dilemparkan ke jurang, dibakar
jenazahnya, dan sebagainya. Jika dilakukan sesama wanita, dapat
dikenai sanksi hukuman lesbianisme yang dapat dikenai
hukuman tazir.
Bagi mereka yang jenis kelaminnya belum jelas, perlu
dipastikan dulu jenis kelaminnya menurut para ahli di bidang
terkait. Dalam menentukan hukum status kelaminnya, yang
dilihat adalah bagian yang nampak secara biologis, bukan sisi
batin atau psikisnya.

6. Fatwa tentang Transgender (Ganti Kelamin)


Dalam Alquran dan hadis dan hukum Islam hanya dikenal
dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan sebagai fitrah. Ayat
Alquran yang menyebutkan manusia diciptakan sebagai laki-laki
dan perempuan, antara lain:

Transeksual, WARIA, Guy,dan Operasi


Ganti Kelamin

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan


Kesehatan Kontemporer

77

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang


telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari
padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada
keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan
perempuan yang banyak (Q.s. an-Nisa (4):1)

Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang


Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada
siapa yang Dia kehendaki, (Q.s. asy-Syura (42):49)

lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan


perempuan (Q.s. al-Qiyamah (42):39).
Ayat-ayat di atas, seluruhnya hanya menyebutkan dua jenis
kelamin, laki-laki dan perempuan, sehingga jika ada seseorang
hermaprodit atau memiliki kelamin ganda atau tidak memiliki
jenis yang jelas, maka hakikinya dia laki-laki atau perempuan,
karenanya perlu dilakukan penelitian dan pemeriksaan secara
mendalam yang melibatkan berbagai spesialisasi untuk
menentukan kesejatian jenis kelaminnya, dan selanjutnya
dilakukan operasi sesuai arah yang dominan dari jenis
kelaminnya.
Imam al-Kasani berpendapat bahwa seorang manusia tidak
bisa menjadi laki-laki dan perempuan secara bersamaan. Dia
mesti laki-laki, atau mesti perempuan.
Majlisul Majmail Fiqhil Islami, di bawah Rabithah Alam
Islami (Liga Muslim Dunia), pada pertemuan ke-11, yang
diselenggarakan di Mekah al-Mukarramah, selama 13 20 Rajab
1409 H, bertepatan dengan 19 26 Februari 1989 M., telah
membahas masalah transgender, antara lain, dinyatakan:
1. Bahwa yang disebut laki-laki jika anggota tubuh kelelakiannya
sempurna, dan yang disebut perempuan jika anggota tubuh
kewanitaannya sempurna, tidak boleh mengubah jenis
kelaminnya dengan jenis lainnya. Pengubahan tersebut
termasuk satu jarimah (kejahatan) bagi pelakunya dapat
dikenai sanksi hukum, termasuk tindakan mengubah ciptaan
Allah yang diharamkan sesuai dengan Q.s. an-Nisa (4): 119
yang mengutip kata syetan:

Transeksual, WARIA, Guy,dan Operasi


Ganti Kelamin

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan


Kesehatan Kontemporer

78

dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu


benar-benar mereka meubahnya
dan HR. Muslim dari Ibnu Masud:

Semoga Allah melaknat tukang tato dan orang yang minta


ditato, tukang mencabut bulu wajah dan orang yang minta
dicabut bulu wajahnya, dan orang yang merenggangkan
gigi untuk kecantikan, mereka mengubah ciptaan Allah.
Kemudian Ibnu Masud mengatakan: Aku akan melaknat
orang yang dilaknat oleh Rasulullah saw., dan itu telah
disebutkan dalam kitab Allah Azza wa jalla, yaitu firman
Allah:

... Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah.


Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ...

Adapun jika dalam tubuhnya terhimpun dua tanda kelelakian dan


keperempuanan sekaligus, maka yang dilihat adalah sisi
kebiasannya, jika yang dominan kelelakiannya maka boleh
berobat ke dokter untuk menghilangkan yang merancukan
kelelakiannya, dan jika keperempuanannya dominan boleh
berobat ke dokter untuk menghilangkan unsur yang
merancukan keperempuanannya. Penghilangannya tersebut
dapat dilakukan dengan bedah atau hormonal, karena
dianggap sebagai sakit, merupakan tidakan pengobatan dan
.penyembuhan, bukan mengubah ciptaan Allah Azza wa Jalla
Para ulama menetapkan operasi untuk menghidupkan alat
kelamin luar yang berlawanan dengan alat kelamin dalam
hukumnya haram, karena hal tersebut membawa bencana dari
sisi hukum Islam dan tidak ada alasan kuat yang dibenarkan
syarak terhadap tindakan tersebut. Mengenai status jenis
kelaminnya, sesuai dengan penetapan oleh para ahlinya.
Menyangkut bidang yang bukan wilayah keilmuan ulama, dalam
hal ini mereka menyerahkan penentuannya kepada ahlinya, yaitu

Transeksual, WARIA, Guy,dan Operasi


Ganti Kelamin

.2

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan


Kesehatan Kontemporer

79

tim dokter ahli. Syeikh Jd al-Haqq Ali Jad al-Haqq (ulama


Mesir) membolehkan operasi penyempurnaan kelamin
sepanjang direkomendasikan oleh dokter ahli dalam rangka
pengobatan karena adanya tanda-tanda yang meyakinkan
tentang jenis kelamin sesungguhnya.
Ulama mengharamkan operasi ganti kelamin yang termasuk
kategori operasi transseksual dengan alasan utama, termasuk
mengubah ciptaan Allah yang diharamkan dalam Alquran:

:

dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan


membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan
akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga
binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya,
dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu
benar-benar mereka mengubahnya". Siapa orang yang
menjadikan syetan menjadi pelindung selain Allah, maka
sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata" (Q.s. alNisa (4):119).
Operasi perbaikan atau menyempurnakan kelamin (tahsin
atau takmil) terhadap Khuntsa dan Hermaprodite, jika dilakukan
sesuai dengan arah perkembangan jenis kelaminnya secara
alamiah karena pasti salah satunya ada yang dominan
hukumnya dibolehkan menurut hukum Islam, dinilai sebagai
salah satu bentuk pengobatan, menyempurnakan alat kelamin
yang dominan dan membuang yang tidak dominan, apalagi jika
keberadaan salah satu organ kelamin itu akan menimbulkan atau
menyebabkan bahaya dan kesakitan. Ulama juga menyatakan,
jika para dokter ahli menetapkan, jika tidak dioperasi akan dapat
mengakibatkan terjadinya kematian, maka hukumnya menjadi
wajib, sebagian yang lain menyatakan sunnah, dengan alasan
menolak sesuatu yang membahayakan.
7. Upaya Preventif
Di antara upaya preventif yang perlu dilakukan, agar setiap
orang muslim ridha dan menerima takdir jenis kelamin yang
telah dianugerahkan Allah swt. Dalam Alquran ditegaskan, Allah
telah menciptakan jenis kelamin yang dikehendaki-Nya, ada lakilaki, perempuan, atau mandul, antara lain, disebutkan dalam
ayat:

Transeksual, WARIA, Guy,dan Operasi


Ganti Kelamin

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan


Kesehatan Kontemporer

80


[50 49 :
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia
menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan
anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki
dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia
kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki
dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan
Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa
(Q.s. al-Syura (42): 49-50).
Setiap orang seharusnya ridha terhadap takdir jenis
kelaminnya, dan pasti ada hikmah di dalamnya, melihatnya
dengan kaca mata syukur atas kelebihannya. Misalnya, tercipta
sebagai laki-laki, bersyukur menjadi laki-laki yang diciptakan
lebih baik dan lebih tinggi kedudukannya daripada perempuan,
serta dilebihkan dalam agama, sehingga dinyatakan dalam
Alquran:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh


karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (lakilaki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena
mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta
mereka (Q.s. an-Nisa (4): 34).
Jika seseorang telah ditakdirkan diciptakan membawa sifat
tertentu, maka itu menjadi ujian baginya, yang harus disikapi
dengan bersabar, bersyukur, atau tidak. Jika sifat bawaan tidak
normal atau tidak sesuai dengan keinginan batinnya, maka ia
mesti berjuang keras untuk menghilangkannya.
Namun demikian, jika kelainan itu dapat dinilai sebagai
'penyakit' maka diperkenankan mengobatinya. Jika terlahir
sebagai lelaki tetapi membawa sifat kewanita-wanitaan, maka ia
harus berusaha mendominankan kelelakiannya, dan sebaliknya,
jika terlahir sebagai wanita tetapi membawa sifat-sifat kelakilakian maka ia harus berusaha mendominankan kewanitaannya.
Caranya, misalnya dengan melakukan suntikan hormon,

Transeksual, WARIA, Guy,dan Operasi


Ganti Kelamin

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan


Kesehatan Kontemporer

81

olahraga yang sesuai dengan jenis kelaminnya, termasuk


mengenakan pakaian yang sesuai.Di sisi yang lain, menghindari
bergaul dengan kelompok orang yang dapat mendorong
mengembangkan sifat-sifat kewanitaannya. Di samping itu,
mengusahakan menerima keadaan seadanya dan menyukurinya
dengan mencari sisi-sisi positif dan kelebihan dari
ditakdirkannya membawa sifat lain jenis sehingga menjadi
ladang amal perjuangan (jihad).
Menghindarkan diri memakai pakaian dan perhiasan lain
jenis sangat membantu untuk menormalkan kelamin. Hal ini
sejalan dengan pernyataan al-Syaukani yang berkesimpulan,
bahwa hadis-hadisNabi tentang larangan memakai pacar kuku,
larangan memakai emas dan suterabagi laki-laki dimaksudkan
agar tidak berpengaruh kepada jiwa kewanitaan.
8. Fatwa Ulama Indonesia
Fatwa tentang hukum penggantian kelamin telah
dikeluarkan oleh ulama Indonesia. Fatwa pertama datang dari
Bahtsul Masail, diputuskan pada Muktamar XXVI tahun 1979,
diberikan dalam kalimat yang sangat pendek, yang menegaskan
bahwa: 'Penggantian kelamin hukumnya haram. Penggantian
kelamin yang dimaksud dalam keputusan ini adalah mengganti
jenis kelamin berbeda dari sebelum dioperasi, dari laki-laki
menjadi perempuan, atau sebaliknya. Dalil yang digunakan,
berdasarkan pada teks dalam kitab Tafsr al-Shwi, tentang
'mengubah ciptaan Allah dalam Q.s. an-Nisa (4):119 di atas.
Berdasarkan ayat ini, mereka sepakat bahwa operasi ganti
kelamin termasuk tindakan mengubah ciptaan Allah yang
diharamkan dan mengecoh orang lain'.
Keputusan pendek ini kemudian ditindaklanjuti oleh
PWNU Jatim dengan menyelenggarakan seminar ilmiah pada
tanggal 26-28 Agustus 1989, bertitel 'Tinjauan Syariat Islam
tentang Operasi Ganti Kelamin'. Ada empat permasalahan yang
ditentukan hukumnya saat itu:
1. Seorang laki-laki atau perempuan yang normal, karena sesuatu
hal minta dioperasi agar kelamin luarnya diubah menjadi jenis
kelamin yang berbeda atau berlawanan, ditetapkan hukumnya
haram. Alasannya, termasuk mengubah ciptaan Allah dan
mengecoh orang lain. Juga merujuk pada sejumlah teks dalam
kitab-kitab tafsir Alquran, syarhul Hadts, kitab Hadis dan
fiqh.

Transeksual, WARIA, Guy,dan Operasi


Ganti Kelamin

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan


Kesehatan Kontemporer

82

2. Hukum operasi bagi seorang laki-laki atau perempuan yang


kelamin dalamnya normal, kelamin luarnya berlawanan
dengan kelamin dalam, untuk disamakan dengan kelamin
dalam. Maka ditetapkan: "Hukumnya mubah atau boleh
apabila ada hajat syariyyah atau hajat yang sangat penting".
Dasarnya adalah teks dalam kitab tafsr at-Thabari, Fathul
Bri, dan sejumlah kitab Fiqh.
3. Operasi bagi seseorang yang kelamin dalamnya normal, tetapi
kelamin luarnya tidak normal, bentuknya tidak sempurna,
untuk disempurnakan. Hukumnya boleh, bahkan lebih utama.
Dasarnya adalah teks dalam kitab tafsr al-Qurthubi, beberapa
kitab syarhul Hadts dan fiqh.
4. Operasi kepada seseorang yang mempunyai kelamin luar dua
jenis (hermaprodit) untuk mematikan salah satunya,maka
ditetapkan, bahwa setelah ahlul Hibrah (tim ahli) melakukan
penelitian dan menentukan jenis kelaminnya, maka
ditetapkan bahwa:
a. Operasi mematikan alat kelamin luar yang berlawanan
dengan alat kelamin dalamnya, hukumnya boleh. Dasar
hukumnya sama dengan jawaban soal dari nomer dua dan
tiga.
b. Operasi untuk menghidupkan alat kelamin luar yang
berlawanan dengan alat kelamin dalam, maka hukumnya
haram, karena hal tersebut membawa bencana dan tidak
ada hajat terhadap hal tersebut. Adapun status hukum
dari kelaminnya, sesuai dengan penetapan ahlul Hibrah.
Dasar penetapannya, sama dengan dasar hukum nomer
satu (1) di atas.
MUI telah mengeluarkan fatwa mengenai hukum operasi
ganti kelamin, difatwakan pada tahun 1980. Isi fatwa MUI
tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Mengubah jenis kelamin laki-laki menjadi
perempuan, atau sebaliknya, hukumnya haram. Karena
bertentangan dengan Q.s. an-Nisa (4):119, bertentangan
pula dengan jiwa syarak.
2.
Orang yang kelaminnya diganti, kedudukan hukum
jenis kelaminnya sama dengan jenis kelamin semula
sebelum diubah.
3.
Seorang khunts yang kelaki-lakiannya lebih jelas
boleh disempurnakan kelaki-lakiannya. Demikian pula
sebaliknya dan hukumnya menjadi positif.

Transeksual, WARIA, Guy,dan Operasi


Ganti Kelamin

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan


Kesehatan Kontemporer

83

Terhadap operasi yang diharamkan, maka semua orang


yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam operasi
penggantian kelamin,ikut menanggung dosa, termasuk dokter
dan orang-orang yang memberi fasilitas terhadap terlaksananya.
Batasan ini sejalan dengan kaidah hukum Islam:

"Rela (memberi dukungan) terhadap sesuatu, berarti rela


pula terhadap risiko (dosa) yang ditimbulkannya".
9. Kesimpulan
Dari jabaran dan uraian di atas, dapat disimpulkan hal-hal
sebagai berikut:
1. Islam menghalalkan operasi medis dan operasi plastik
rekonstruksi, termasuk salah satu bentuk pengobatan yang
dianjurkan Nabi, juga merupakan bentuk menjaga amanah
sekaligus bentuk syukur atas nikmat Allah, menjaga dan
menggunakannya untuk kebaikan sebagaimana dimaksud
oleh Tuhan Pemberi nikmat.
2. Operasi medis untuk menormalkan fungsi organ tubuh
tertentu agar berfungsi normal, memperbaiki, menormalkan,
atau menyempurnakan bentukatau fungsinya karena adanya
kelainan sejak lahir, atau sebab lain, dapat dibenarkan
menurut hukum Islam, termasuk dalam anjuran umum agar
berobat.
3. Mengubah jenis kelamin laki-laki menjadi perempuan, atau
sebaliknya, hukumnya haram, dikutuk oleh Allah dan
Rasulullah, termasuk tindakan mengubah ciptaan Allah, hal
itu bertentangan pula dengan jiwa syarak.
4. Bagi seorang khunts atau hermaprodite boleh dilakukan
operasi perbaikan atau penyempurnaan kelamin. Operasi
dilakukan terhadap arah jenis kelamin yang dominan
menurut ketetapan para ahli yang terkait. Jenis operasi ini
termasuk yang sangat dianjurkan untuk memastikan jenis
kelamin seseorang sehingga posisinya di depan hukum Islam
dan sosial menjadi jelas.
5. Orang yang kelaminnya diganti, hakikat dan kedudukan
hukum jenis kelamin pasca-operasi adalah sama dengan jenis
kelamin semula sebelum diubah. Pengubahan tersebut tidak
dibenarkan dalam Islam, maka wujud akibat tindakan yang
dilarang tersebut tidak dianggap ada dalam perspektif hukum
Islam.

Transeksual, WARIA, Guy,dan Operasi


Ganti Kelamin

Pandangan dan Respon Islam terhadap Berbagai Isu Kedokteran dan


Kesehatan Kontemporer

84

6. Orang-oarang yang terlibat langsung atau tidak langsung


dalam operasi penggantian kelamin ikut menanggung dosa,
termasuk dokter dan orang-orang yang memberi fasilitas
terhadap terlaksananya operasi.

Transeksual, WARIA, Guy,dan Operasi


Ganti Kelamin