Anda di halaman 1dari 13

Artikel Kesehatan

Penyalahgunaan Alkohol dan Ketergantungan

Obat
Obat dapat digunakan untuk membantu mengobati ketergantungan
alkohol dan penyalahgunaan. Beberapa obat-obatan mengurangi
gejala penarikan selama detoxification. Obat-obatan lainnya
membantu Anda tinggal seadanya panjang selama proses
pemulihan.
Obat Choices
Obat-obatan lebih sering digunakan untuk mengobati gejala
penarikan selama detoxification termasuk:
* Antianxiety obat-obatan (benzodiazepines seperti diazepam),
yang merawat dengan gejala seperti igauan tremens (DTS).
* Penyitaan obat-obatan untuk mengurangi atau menghentikan
parah gejala penarikan selama detoxification.

Kecanduan Alkohol
Topik ini adalah tentang penyalahgunaan alkohol dan ketergantungan
pada orang dewasa. Untuk informasi tentang masalah alkohol dalam
teens atau anak-anak, lihat topik Teen Alcohol and Drug Abuse. Untuk
informasi tentang penyalahgunaan narkoba di dewasa, lihat topik
Penyalahgunaan Narkoba dan ketergantungan.
Apakah penyalahgunaan alkohol dan ketergantungan alkohol?
Penyalahgunaan alkohol berarti tidak sehat atau mempunyai kebiasaan
minum yang berbahaya, seperti minum setiap hari atau minum terlalu
banyak pada suatu waktu. Penyalahgunaan alkohol dapat
membahayakan hubungan Anda, menyebabkan Anda kehilangan
pekerjaan, dan mengakibatkan masalah hukum seperti saat
mengemudi mabuk (teler). Bila Anda penyalahgunaan alkohol, Anda
terus minum walaupun Anda tahu Anda minum menyebabkan masalah.

ARTIKEL KESEHATAN
KELUARGA
Ada banyak cara menurunkan berat badan, mulai dari bermacam metode diet,
olahraga, operasi sedot lemak, tusuk jarum, sampai minum obat pelangsing. Manakah yang
aman dan efektif ?
Merujuk pada badan kesehatan dunia, WHO, disebutkan bahwa penurunan berat badan yang
baik tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi merupakan terapi jangka panjang. Yang
dibutuhkan untuk mengurangi berat badan bukan sekadar mengurangi porsi makan, tetapi
juga diperlukan bimbingan dari ahli gizi sebelum melakukan perubahan pola makan, disertai
aktivitas fisik serta terapi perilaku.
Untuk mencari tahu cara pelangsingan mana yang sehat, aman, sekaligus efektif, bacalah
uraian berikut sampai tuntas.

Sedot lemak
Cara membuang lemak yang kini sedang tren adalah operasi liposuction dan tummy-tuck.
Operasi ini banyak dipilih karena berat badan bisa turun secara drastis tanpa perlu capek
berolahraga dan melakukan diet, hal itu dibuktikan oleh kesaksian seorang artis ternama. Tapi
mengapa ya meski lemaknya sudah dibuang, badannya masih juga melar ?
Pada dasarnya liposuction adalah operasi untuk mengeluarkan lemak di bawah kulit, dan
dilakukan untuk mencapai keserasian bentuk tubuh, bukan untuk menurunkan berat badan.
Sedangkan tummy-tuck adalah proses pembuangan jaringan lemak yang berlebih dan kulit di
atasnya untuk membentuk tubuh lebih estetis. Lemak yang dikurangi pun tak boleh lebih dari
3-5 kg sekali operasi
Menurut dokter spesialis gizi, dr.Johanes Chandrawinata, MND,SpGK, kedua jenis operasi
tersebut biasa dilakukan dokter terhadap pasien yang memiliki tubuh bergelambir setelah
berat badan tubuhnya susut. Jadi, menurunkan berat dulu baru dioperasi, bukan operasi
untuk menurunkan berat karena setelah 3 bulan tubuh akan gemuk kembali.

TIPS

Coklat untuk Kecantikan

Manfaat lain dari coklat adalah untuk kecantikan, karena antioksidan


dan katekin yang ada di dalamnya dapat mencegah penuaan dini, maka
tidak heran bila saat ini berkembang lulur coklat yang sangat baik untuk
kecantikan kulit.

Jenis Cokelat Paling Sehat


Banyak jenis coklat yang tersedia di pasaran. Ada yang harganya mahal, ada
pula yang harganya murah. Apa saja perbedaannya? Berikut ini perbandingan
jenis coklat dan manfaat masing-masing.

Dark Chocolate
Dark Chocolate memiliki kandungan biji coklat (kakao) yang paling tinggi
yaitu paling sedikit 70% mengandung kakao. Dark chocolate memiliki
kandungan kakao atau biji cokelat terbanyak, tanpa banyak gula dan tanpa
lemak jenuh atau minyak sayur terhidrogenasi (HVO).

White Chocolate
Sedangkan white chocolate hanya memiliki 33% kandungan coklat atau
kakao, sisanya adalah gula, susu dan vanila. Kandungan gula inilah yang
dapat memberikan efek diabetes.

Milk Chocolate atau Coklat Susu


Milk chocolate atau coklat susu merupakan campuran kakao dengan
susu dan ditambah gula. Coklat jenis ini juga sangat digemari karena
rasanya yang nikmat.

Hati-hati Makan Sembarang Coklat


Kesalahan yang sering dilakukan pada saat memilih coklat adalah memilih coklat
"bermerk" yang murah atau sangat murah. Coklat demikian memiliki kandungan kakao
(biji coklat) sedikit yaitu rata-rata kurang dari 20%, bahkan ada yang kurang dari 7%.
Coklat jenis ini juga memiliki kandungan gula yang tinggi, kandungan lemak jenuh tinggi
dan keburukan lainnya seperti minyak sayur terhidrogenasi (HVO) sehingga
mengakibatkan kerusakan gigi dan gangguan kesehatan seperti penyakit diabetes.
Produk coklat lainnya yang juga berbahaya dan buruk untuk kesehatan khususnya yang
berupa fondant (biasanya digunakan untuk mendekorasi kue) dan praline. Fondant
sebenarnya mengandung 100% pemanis dan praline juga sama buruknya.

Sebisa mungkin pilihlah coklat dengan kandungan gula sedikit agar Anda dapat
menikmati manfaat besar yang dimiliki coklat. Anda akan merasakan manfaat jika Anda
mengkonsumsi cokelat dengan kandungan kakao atau biji coklat yang tinggi. Selamat
menikmati coklat Anda!

TIPS
S

Atasi Jerawat dengan Madu dan


Jeruk Nipis
Tidak ada salahnya, Anda mencoba menggunakan bahan-bahan
alami untuk mengatasi jerawat di wajah. Misalnya, dengan menggunakan
masker madu dan jeruk nipis. Dalam madu, terdapat kandungan zat
antiseptik yang berguna untuk membunuh bakteri yang ada pada wajah
yang dapat menyebabkan jerawat semakin meradang. Sedangkan, air
jeruk nipis dapat mengurangi minyak pada wajah sehingga dapat
mencegah kotoran menempel di wajah.

Berikut langkah-langkah untuk membuat


masker dari jeruk nipis:

Ambil jeruk nipis dan peras airnya sebanyak 1 sendok teh.

Campur air jeruk nipis tadi dengan 1 sendok teh madu.


Oleskan pada wajah dan diamkan selama 30 menit.
Bilas dengan menggunakan air dingin.

Semoga dengan menggunakannya secara teratur, jerawat dapat


pergi dari wajah Anda.

Naskah pidato singkat tentang Pendidikan


Wajib Belajar 9 Tahun

Assalamualikum Warohmatullohi Wabarokatuh


Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. Pertama-tama, Marilah kita ucapkan puji
syukur kehadirat Allah SWT, karena hanya atas perkenanNya, Kita semua dapat hadir pada
pagi hari ini. Terima kasih tidak lupa Saya ucapkan kepada Bapak Bowo serta teman-teman
X6 yang telah memberikan Saya kesempatan berpidato diruang yang megah ini.
Pada kesempatan kali ini, Saya akan membahas pidato tentang
Wajib Belajar 9 Tahun yang merupakan salah satu program yang gencar digalakkan oleh
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Program ini mewajibkan setiap warga negara
untuk bersekolah selama 9 (sembilan) tahun pada jenjang pendidikan dasar, yaitu dari
tingkat kelas 1 Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga kelas 9 Sekolah
Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Seperti Kita ketahui bersama, Pendidikan merupakan satu aspek penting bagi pembangunan
bangsa. Karena itu, hampir semua bangsa menempatkan pembangunan pendidikan sebagai
prioritas utama dalam program pembangunan nasional. Sumber daya manusia yang
bermutu, yang merupakan produk pendidikan, merupakan kunci keberhasilan pembangunan
suatu negara.
Program ini dilatar belakangi dari munculnya Program Wajib Belajar 6 Tahun pada tahun
1984. Kemudian pada tahun 1994 melalui Inpres Nomor 1 Tahun 1994 ditingkatkan menjadi
Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun. Hal ini berarti bahwa setiap anak Indonesia
yang berumur 7sampai 15 tahun diwajibkan untuk mengikuti Pendidikan Dasar 9 Tahun.
Pada awalnya, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) akan menuntaskan program
wajib belajar (wajar) 9 tahun pada pendidikan dasar (SD dan SMP) paling lambat tahun
2008. Namun ternyata Program Wajib Belajar 9 Tahun yang ditargetkan Departemen
Pendidikan Nasional diraih tahun 2008 terancam gagal. Itu semua terjadi karena masih
banyaknya kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraannya, khususnya berkait dengan
akses pendidikan yang masih relatif rendah, serta mutunya pendidikan, dalam hal ini
mencakup tenaga kependidikan, fasilitas, pembiayaan, manajemen, proses dan prestasi
siswa masih rendah.
Untuk penuntasan Wajib Belajar 9 Tahun, disamping pemberian dana atau subsidi yang lain,
ada BOS. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) merupakan Salah satu dana kompensasi untuk
mengurangi beban masyarakat, khususnya masyarakat miskin, dalam membiayai
pendidikan. Dan Salah satu upaya menuntaskan wajar 9 tahun, antara lain menambah daya
tampung SMP dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dengan membangun unit sekolah baru (USB)
di daerah yang belum memiliki SMP/MTs dan menambah ruang kelas bagi daerah memiliki
SMP/MTs,
Sebenarnya tujuan diadakannya program Wajib Belajar 9 Tahun, diharapkan jumlah anak
putus sekolah (drop-out) bisa diminimalisir dan juga sebagai salah satu strategi untuk
meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia serta penuntasan wajib belajar yang tidak
hanya merupakan upaya agar anak masuk ke sekolah, akan tetapi sekolah dengan sistem
pembelajaran yang berkua-litas. Namun rendahnya partisipasi sebagian kelompok
masyarakat dalam mendukung wajib belajar, sebagai akibat adanya hambatan geografis,
sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat mengakibatkan program ini terhambat.
Terkait dengan itu semua sebagai masyarakat yang baik, Kita harus ikut berpatisipasi atau
ikut serta dalam mendukung Wajib Belajar 9 Tahun ini. Karena program ini sangat baik untuk
meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat terhadap masa depan generasi
penerus bangsa yang berkualitas serta upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Cukup
sekian pidato dari Saya. Terima Kasih atas perhatiannya.

Akhir kata Wabillahi Taufik Wal Hidayah


Wassalamu Alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah pidato singkat tentang Pendidikan


Wajib Belajar 9 Tahun

Assalamualikum Warohmatullohi Wabarokatuh


Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. Pertama-tama, Marilah kita ucapkan puji
syukur kehadirat Allah SWT, karena hanya atas perkenanNya, Kita semua dapat hadir pada
pagi hari ini. Terima kasih tidak lupa Saya ucapkan kepada Bapak Bowo serta teman-teman
X6 yang telah memberikan Saya kesempatan berpidato diruang yang megah ini.
Pada kesempatan kali ini, Saya akan membahas pidato tentang
Wajib Belajar 9 Tahun yang merupakan salah satu program yang gencar digalakkan oleh
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Program ini mewajibkan setiap warga negara
untuk bersekolah selama 9 (sembilan) tahun pada jenjang pendidikan dasar, yaitu dari
tingkat kelas 1 Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga kelas 9 Sekolah
Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Seperti Kita ketahui bersama, Pendidikan merupakan satu aspek penting bagi pembangunan
bangsa. Karena itu, hampir semua bangsa menempatkan pembangunan pendidikan sebagai
prioritas utama dalam program pembangunan nasional. Sumber daya manusia yang
bermutu, yang merupakan produk pendidikan, merupakan kunci keberhasilan pembangunan
suatu negara.
Program ini dilatar belakangi dari munculnya Program Wajib Belajar 6 Tahun pada tahun
1984. Kemudian pada tahun 1994 melalui Inpres Nomor 1 Tahun 1994 ditingkatkan menjadi
Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun. Hal ini berarti bahwa setiap anak Indonesia
yang berumur 7sampai 15 tahun diwajibkan untuk mengikuti Pendidikan Dasar 9 Tahun.
Pada awalnya, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) akan menuntaskan program
wajib belajar (wajar) 9 tahun pada pendidikan dasar (SD dan SMP) paling lambat tahun
2008. Namun ternyata Program Wajib Belajar 9 Tahun yang ditargetkan Departemen
Pendidikan Nasional diraih tahun 2008 terancam gagal. Itu semua terjadi karena masih
banyaknya kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraannya, khususnya berkait dengan
akses pendidikan yang masih relatif rendah, serta mutunya pendidikan, dalam hal ini
mencakup tenaga kependidikan, fasilitas, pembiayaan, manajemen, proses dan prestasi
siswa masih rendah.
Untuk penuntasan Wajib Belajar 9 Tahun, disamping pemberian dana atau subsidi yang lain,
ada BOS. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) merupakan Salah satu dana kompensasi untuk
mengurangi beban masyarakat, khususnya masyarakat miskin, dalam membiayai
pendidikan. Dan Salah satu upaya menuntaskan wajar 9 tahun, antara lain menambah daya
tampung SMP dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dengan membangun unit sekolah baru (USB)
di daerah yang belum memiliki SMP/MTs dan menambah ruang kelas bagi daerah memiliki
SMP/MTs,
Sebenarnya tujuan diadakannya program Wajib Belajar 9 Tahun, diharapkan jumlah anak
putus sekolah (drop-out) bisa diminimalisir dan juga sebagai salah satu strategi untuk
meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia serta penuntasan wajib belajar yang tidak
hanya merupakan upaya agar anak masuk ke sekolah, akan tetapi sekolah dengan sistem
pembelajaran yang berkua-litas. Namun rendahnya partisipasi sebagian kelompok
masyarakat dalam mendukung wajib belajar, sebagai akibat adanya hambatan geografis,
sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat mengakibatkan program ini terhambat.
Terkait dengan itu semua sebagai masyarakat yang baik, Kita harus ikut berpatisipasi atau
ikut serta dalam mendukung Wajib Belajar 9 Tahun ini. Karena program ini sangat baik untuk
meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat terhadap masa depan generasi
penerus bangsa yang berkualitas serta upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Cukup
sekian pidato dari Saya. Terima Kasih atas perhatiannya.

Akhir kata Wabillahi Taufik Wal Hidayah


Wassalamu Alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Naskah pidato singkat tentang Pendidikan


Wajib Belajar 9 Tahun

Assalamualikum Warohmatullohi Wabarokatuh


Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. Pertama-tama, Marilah kita ucapkan puji
syukur kehadirat Allah SWT, karena hanya atas perkenanNya, Kita semua dapat hadir pada
pagi hari ini. Terima kasih tidak lupa Saya ucapkan kepada Bapak Bowo serta teman-teman
X6 yang telah memberikan Saya kesempatan berpidato diruang yang megah ini.
Pada kesempatan kali ini, Saya akan membahas pidato tentang
Wajib Belajar 9 Tahun yang merupakan salah satu program yang gencar digalakkan oleh
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Program ini mewajibkan setiap warga negara
untuk bersekolah selama 9 (sembilan) tahun pada jenjang pendidikan dasar, yaitu dari
tingkat kelas 1 Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga kelas 9 Sekolah
Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Seperti Kita ketahui bersama, Pendidikan merupakan satu aspek penting bagi pembangunan
bangsa. Karena itu, hampir semua bangsa menempatkan pembangunan pendidikan sebagai
prioritas utama dalam program pembangunan nasional. Sumber daya manusia yang
bermutu, yang merupakan produk pendidikan, merupakan kunci keberhasilan pembangunan
suatu negara.
Program ini dilatar belakangi dari munculnya Program Wajib Belajar 6 Tahun pada tahun
1984. Kemudian pada tahun 1994 melalui Inpres Nomor 1 Tahun 1994 ditingkatkan menjadi
Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun. Hal ini berarti bahwa setiap anak Indonesia
yang berumur 7sampai 15 tahun diwajibkan untuk mengikuti Pendidikan Dasar 9 Tahun.
Pada awalnya, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) akan menuntaskan program
wajib belajar (wajar) 9 tahun pada pendidikan dasar (SD dan SMP) paling lambat tahun
2008. Namun ternyata Program Wajib Belajar 9 Tahun yang ditargetkan Departemen
Pendidikan Nasional diraih tahun 2008 terancam gagal. Itu semua terjadi karena masih
banyaknya kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraannya, khususnya berkait dengan
akses pendidikan yang masih relatif rendah, serta mutunya pendidikan, dalam hal ini
mencakup tenaga kependidikan, fasilitas, pembiayaan, manajemen, proses dan prestasi
siswa masih rendah.
Untuk penuntasan Wajib Belajar 9 Tahun, disamping pemberian dana atau subsidi yang lain,
ada BOS. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) merupakan Salah satu dana kompensasi untuk
mengurangi beban masyarakat, khususnya masyarakat miskin, dalam membiayai
pendidikan. Dan Salah satu upaya menuntaskan wajar 9 tahun, antara lain menambah daya
tampung SMP dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dengan membangun unit sekolah baru (USB)
di daerah yang belum memiliki SMP/MTs dan menambah ruang kelas bagi daerah memiliki
SMP/MTs,
Sebenarnya tujuan diadakannya program Wajib Belajar 9 Tahun, diharapkan jumlah anak
putus sekolah (drop-out) bisa diminimalisir dan juga sebagai salah satu strategi untuk
meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia serta penuntasan wajib belajar yang tidak
hanya merupakan upaya agar anak masuk ke sekolah, akan tetapi sekolah dengan sistem
pembelajaran yang berkua-litas. Namun rendahnya partisipasi sebagian kelompok
masyarakat dalam mendukung wajib belajar, sebagai akibat adanya hambatan geografis,
sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat mengakibatkan program ini terhambat.
Terkait dengan itu semua sebagai masyarakat yang baik, Kita harus ikut berpatisipasi atau
ikut serta dalam mendukung Wajib Belajar 9 Tahun ini. Karena program ini sangat baik untuk
meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat terhadap masa depan generasi
penerus bangsa yang berkualitas serta upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Cukup

sekian pidato dari Saya. Terima Kasih atas perhatiannya.


Akhir kata Wabillahi Taufik Wal Hidayah
Wassalamu Alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Biografi Presiden Soekarno


Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno,
lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970.
Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai.
Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari
istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan
Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna
Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak
Kartika..
Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di Blitar.
Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar
Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjutkan
sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah
menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke
Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi
yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar "Ir" pada 25 Mei 1926.
Kemudian, beliau merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai
Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya,
Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929.
Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia
Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda, bangsa yang mengaku lebih
maju itu.
Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI
pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan
Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda
dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke
Bengkulu.
Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, Bung Karno dan Bung Hatta
memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI
tanggal 1 Juni 1945, Ir.Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang
disebutnya Pancasila. Tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad
Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dalam sidang PPKI, 18 Agustus
1945 Ir.Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang
pertama.
Sebelumnya, beliau juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi
dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau berupaya
mempersatukan nusantara. Bahkan Soekarno berusaha menghimpun bangsa-bangsa
di Asia, Afrika, dan Amerika Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada

1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.


Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan
penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto
sebagai Pejabat Presiden. Kesehatannya terus memburuk, yang pada hari Minggu,
21 Juni 1970 ia meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta
dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai.
Pemerintah menganugerahkannya sebagai "Pahlawan Proklamasi".

Biografi Chairil Anwar (1922 1949)


Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup
berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu,
saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi
kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan
terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak
yang luar biasa pedih:
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu
setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa
membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu.
Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil
juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul
Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil.
Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan,
baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya.
Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluapluap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.
Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. Kami pernah bermain bulu tangkis
bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus.
Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.
Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat,
dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan
masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah
menikahinya.
Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil
yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi
duda.
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa
versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.

Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi
perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang
tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat
anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat
mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, Saya minta maaf, karena kini saya hidup di
suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.

ES

A
ISastra

Esai

Banjar, Ngalih Banar

(Tanggapan untuk Jamal T. Suryanata)


Oleh Sainul Hermawan
Ada beberapa kesimpulan yang dapat kita tarik kalau kita sempat membaca esai Jamal T. Suryanata,
Senyum Nurdin dan Sastra Banjar, di Cakrawala (Radar Banjarmasin, 26/06/05). Sebuah esai bergaya
cung parahu, siapa kana kada tahu. Konon gaya retorika semacam ini bermakna serius sekaligus main-main.
Serius karena isu itu dilemparkan kepada sesuatu yang berpotensi membentur segala sesuatu di sekitarnya.
Main-main karena ada semacam ignorance, ketakacuhan, dan tak mau menanggung akibatnya jika yang
terkena lemparan itu sakit. Dengan kata lain, esai ini sudah sejak awal pasang kuda-kuda kultural yang
mapan dengan secara tidak langsung ingin mengatakan: jangan sarik, ini hanya main-main. Atau, konon,
dengan cara demikian, penulisnya menyadari adanya sesuatu yang mungkin keliru, karenanya sejak awal dia
perlu mengakhiri tulisannya dengan cung..., dalam pengertian, maaflah kalau aku salah.
Pertama, dia risau, resah, dan gelisah melihat proses alienasi yang sedang berlangsung di kalangan generasi
muda Banjar terhadap realitas budaya dan kearifan lokal mereka. Alienasi itu antara lain, menurut Jamal,
diakibatkan oleh gempuran dahsyat budaya Barat dengan beragam variannya yang menggoda hasrat gaya
hidup baru (new life style). Di samping itu budaya selebritis Jakarta (budaya nasional?) yang menyusup
samar-samar masuk ke rumah-rumah orang Banjar melalui kotak ajaib yang bernama TV juga, oleh penulis
sakindit kisdap Banjar ini, dianggap sebagai faktor lain yang ikut mengikis identitas kebanjaran orang
Banjar (lihat paragraf 2 dan 3).
Mencurigai atau menyalahkan orang/budaya lain (Barat, Jakarta) semacam ini adalah sikap klise yang
sering didengungkan dengan menyederhanakan persoalan yang sesungguhnya rumit. Ada nuansa sikap
pembenaran diri sendiri, penyederhanaan Barat atau Jakarta secara negatif, dan lupa bahwa potensi
sikap kultural yang buruk sebenarnya juga berakar di sini. Kompleksitas bagaimana beragam pikiran
orang Banjar menyerap, menerjemahkan, budaya luar agak kurang dihiraukan. Bukankah apa yang ada
di segala sektor kehidupan orang Banjar dulu, kini, dan esok tidak sepenuhnya berasal dari Banjar? Tidak
wajarkah ini sebagai proses silang budaya? Banjar belajar Barat dan Barat belajar Banjar.
Kedua, salah satu pihak yang pantas dituding sebagai pihak yang bertanggungjawab atas perlindungan
budaya, terutama dalam hal cagar alam sastranya adalah lembaga pendidikan yang telah mengikrarkan
dirinya sebagai lembaga pendidikan yang memberikan perhatian terhadap keberadaan bahasa dan sastra
Indonesia dan daerah. Sayangnya, menurut narator imajiner dalam esai Jamal (yang bisa saya saja
dibaca sebagai representasi suara penulis esai itu sendiri), kajian sastra Banjar di Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PS PBSID) yang ada di Banjar kurang mendalam
dan terkesan sebagai disiplin tempelan belaka. Secara paradigmatik, kritik ini sangat jelas diarahkan oleh
penulisnya ke almamaternya, di mana si penulis secara intens pernah mengkaji sastra Banjar dan
menghasilkan tesis yang relatif monumental, berjudul Cerpen Banjar 1980-2000, Tinjauan Struktur, Isi
dan Konteks Sosialnya. Menurut narator dalam esai Jamal, skripsi sastra si perpustakaan PS-nya, masih
didominasi oleh kajian sastra Indonesia. Jamal (atau naratornya?) meninggalkan pertanyaan bagi kita:
ketika sastra Banjar tak diminati mahasiswa, apa atau siapa yang salah, sastra Banjar, mahasiswa,
dosennya atau pertanyaan yang semacam ini? (lihat paragraf 5).
Tidak ada yang patut disalahkan. Perkembangan minat dan perhatian terhadap sastra Banjar akan turut
ditentukan waktu. Lagi pula posisi sastra daerah dalam PS PBSID tidak bermakna lokal tetapi sangat
nasional. Artinya, mahasiswa dari daerah-daerah lain di Indonesia dapat mempelajari sastra Banjar,
sastra daerahnya sendiri, ataupun sastra daerah lain di Indonesia.
Ketiga, ada kritik pedas bagi karya sastra yang ditulis oleh mahasiswa di Banjar. Mungkin dia merespons
beberapa cerpen KCPM 2005 yang sempat hadir di Cakrawala setiap Minggu. Mungkin juga tidak.

Menurutnya, cerpen karya mahasiswa itu jelek dan menggelikan. Tetapi dia harus tetap bersikap
apresiatif agar generasi penerus tradisi sastra Banjar tak berkecil hati dan berhenti berkreasi (lihat
paragraf 7). Tetapi, dalam logika tulisan cung parahu, kritik seacam itu tidak semata ditujukan kepada
karya mahasiswa yang jelek, tetapi juga dilempakan kepada karya sastrawan Banjar yang kualitas
tulisannya masih setaraf dengan karya mahasiswa. Anjuran baiknya, siapapun sastrawan itu, jika ingin
karyanya dibaca dan berbobot, harus banyak membaca karya-karya sastra dunia. Pendeknya, seniman
tak boleh koler dan arogan (puas dengan apa yang telah dicapainya di situ-situ saja).
Keempat, dia mengaku punya serangkaian kiat untuk menulis sastra Banjar yang berbobot. Menurutnya,
dalam kiatnya, sastra Banjar yang baik harus ditulis dalam bahasa Banjar yang baik, dalam pengertian
bahasa Banjar yang kaya, variatif, kontemplatif, berwawasan, dan sebagainya, dan seterusnya. Dengan
kata lain dia ingin mengatakan, sastrawan Banjar jangan sampai koler membaca jika karyanya ingin
bermakna dalam, bermutu tinggi, dan akhirnya mampu menstimulasi minat pembaca, dan sekaligus
penelitian sastra Banjar (lihat paragraf 8).
Dari keempat kesimpulan yang dapat saya catat ini, ada satu generalisasi utama yang agak gegabah
dalam mendefinisikan sastra Banjar jika yang dimaksud oleh esai itu hanya sastra yang ditulis dalam
bahasa Banjar. Esai Jamal tersebut tampaknya mampu melepaskan penulisnya dari kegalauan ketika dia
harus mencoba mendefinisikan sastra Banjar untuk kepentingan akademik yang pernah dilaluinya.
Mengapa tiba-tiba dia berbalik arah dan dengan mantap mengatakan bahwa bahasa Banjarlah identitas
utama sastra Banjar.
Keyakinan ini jelas mengeksklusi, menyingkirkan, sekelompok karya sastra yang ditulis oleh sastrawan
Banjar dalam bahasa Indonesia. Asumsi teoretis ini mengingkari pengetahuan penulisnya sendiri tentang
kompleksitas mendefiniskan sastra Banjar seperti pernah dia tuliskan dalam tesisnya. Dalam tesisnya
dia mengakui bahwa ada tiga kategori yang dapat digunakan untuk mendefinisikan sastra dalam
hubungannya dengan persoalan hakikat identitasnya (seperti kategori bahasa, kewarganegaraan, dan
orientasi sosiokultural).
Ketiganya merupakan realitas rumit yang saling terkait dan tidak bisa berdiri sendiri. Artinya, hakikat
sastra Banjar tak semata dapat ditentukan secara mati dan pasti oleh faktor bahasanya saja, seperti
halnya sinetron atau film yang berbahasa Indonesia tidak serta merta dapat dianggap sebagai karya
sinema Indonesia. Penonton paling awam pun akan menolak menyebut film India sebagai film Indonesia
meski seluruh tokoh dalam film itu telah mahir berbahasa Indonesia berkat jasa dubber (juru sulih
suara).
Mengapa bisa demikian? Karena penonton bukan realitas pasif. Penonton pun punya pikiran aktif yang
mampu mengidentifikasi ciri-ciri visual yang mereka tangkap sebagai bukan bagian dari realitas visual
lokal mereka. Bahkan masih terbuka bagi kemungkinan-kemungkinan lain untuk menggagas kategori
lain dalam memahami definisi sastra Banjar demi kepentingan praktis tertentu.
Demikian pula dalam mendefiniskan sastra Banjar. Karya sastra berbahasa Banjar juga memiliki peluang
untuk disebut bukan sebagai sastra Banjar. Seperti halnya Jamal mengatakan bahwa Si Palui itu bukan
sastra Banjar karena ia hanyalah pembanjaran cerita dalam bahasa Indonesia. Pelajaran tentang
bagaimana seharusnya kita menghadapi definisi sastra yang memang selalu berpotensi kabur dapat kita
baca melalui penelitian George Quinn (1992) ketika dia meneliti novel berbahasa Jawa dalam
disertasinya yang berjudul The Novel in Javanese.
Dalam seluruh uraiannya dia sama sekali tidak berani menyebut novel-novel yang ditelitinya sebagai
novel Jawa, tetapi dengan penuh kehati-hatian dia menyebut novel-novel tersebut dengan istilah the
novel in Javanese atau novel berbahasa Jawa. Untuk konsumsi pembaca koran, mungkin tidak ada
bahaya sama sekali jika istilah sastra Banjar yang agak semena-mena itu ditawarkan. Tetapi, untuk
penggunaan akademik, Quinn telah memberikan teladan agar jangan terlalu mudah menyimplifikasi
persoalan yang sebenarnya rumit sebelum segala aspek evaluatif mengenai sastra Banjar yang
sesungguhnya dipaparkan secara lengkap.
Sebenarnya sudah lama Terry Eagleton (dalam Literary Theory, An Introduction, 1988: 5-7)
menjelaskan betapa rapuhnya jika kita mendefiniskan sastra dengan berlandaskan pada faktor bahasa
semata. Secara metaforik, cara mendefiniskan sastra Banjar yang dilandaskan pada bahasa dapat
dianalogikan dengan upaya mendefinisikan apa yang dimaksud dengan sastra dan bukan sastra yang
ngalih banar.
Eagleton menyimpulkan bahwa faktor bahasa sastra yang khas dan bahasa keseharian yang biasa adalah
konsep yang bermasalah karena bahasa biasa yang dimaksud di sini diposisikan sebagai entitas homogen
sehingga apa yang dianggap biasa menjadi ilusi. Batas antara bahasa yang biasa dan yang khas
sebenarnya juga kabur karena bahasa sesungguhnya terdiri atas beragam variasi dan wacana, mengikuti
keberagaman kelas sosial, daerah, dan jenis kelamin (Eagleton, 5-7).
Kenyataan semacam ini pun akan dihadapi oleh sastra Banjar. Penghuni sastra Banjar itu juga tidak
sehomogen yang dibayangkan Jamal. Dalam konstelasi pemahaman sastra sebagai realitas bersama,
pembaca yang aktif juga punya peran otoritatif untuk menyebut karya sastra yang seperti apa di banua
ini yang layak disebut sebagai sastra Banjar. Dalam esainya Jamal telah memainkan peran otoritatifnya
sebagai penulis yang relatif terkenal dan ingin mengidentikkan sastra Banjar dengan bahasa Banjar. Jika
dipaksakan demikian, sastra Banjar menjadi rumah yang sangat eksklusif dan ngalih banar dimasuki oleh
karya sastra berorientasi sosiokultural Banjar dan ditulis oleh warga Banjar dalam bahasa Indonesia

Esai : Hubungan Antara Pendidikan &


Kemajuan IpTek

Sampai sekarang ini, pendidikan & IpTek di Indonesia masih jauh tertinggal
ooleh Negara-negara lain. Padahal di Indonesia sistem pendidikannya sudah
cukup bagus. Cuma mungkin harus lebih digalakkan lagi, sehingga
kualitasnya emakin meningkat.
Pendidikan & kemajuan IpTek itu sangat berhubungan erat. Karna IpTek itu
takkan bisa maju kalau pendidikan gitu-gitu aja terus. Oleh karna itu kualitas
dari pendidikan di Indonesia harus ditingkatkan sehingga banyak orang
Indonesia yang nantinya jadi orang-orang pinter/ilmuwan yang bisa
memajukan IpTek, jadi IpTek bisa maju sejalan dengan pendidikan.
Dan lagi pendidikan harus disamaratakan pada semua orang. Maksudnya
bukan cuma orang berduit aja yang bisa sekolah. Semua orang pantes untuk
ikut program wajib belajar 9 tahun. Sebab belum tentu dari orang-orang
berduit itulah orang-orang pinter/ilmuwan muncul karna bisa aja orangorang pinter itu muncul dari orang-orang yang ga mampu.
Mereka ga bisa menyalurkan kepinteran mereka karan ketidakmampuan
mereka dalam hal biaya.
Jadi pada intinya kalau Indonesia mau jadi Negara yang maju, kualitas dari
pendidikan harus disamaratakan sampai ke orang-orang yang ga mampu,
sehingga orang-orang pinter/ilmuwan banyak yang muncul & IpTek di
Indonesia bisa maju...
Cia You Indonesia....

Anda mungkin juga menyukai