Anda di halaman 1dari 7

KASUS POSISI

A. Para Pihak dalam Sengketa


1. Penggugat:
Karaha Bodas Company L.L.C (KBC)
Adalah suatu perseroan terbatas yang didirikan dan bergerak berdasarkan hukum
Kepulauan Cayman yang berkedudukan di Gedung Plaza Aminta Suite 901, Jl. T.B.
Simatupang, Kav. 10, Jakarta 12310, Indonesia.
2. Tergugat
a. Tergugat 1
Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (P.T. Pertamina)
P.T. Pertamina adalah suatu perusahaan yang didirikan berdasarkan Undang-Undang
No. 8 Tahun 1971 Tentang Pertamina dan dimiliki oleh Pemerintah Republik
Indonesia.
b. Tergugat 2
P.T. Perusahaan Listrik Negara (P.T. PLN)
P.T. PLN adalah suatu perusahaan negara yang tunduk pada Undang-Undang No. 12
Tahun 1998 adalah perusahaan yang mengusahakan penyediaan listrik kepada
masyarakat umum di Indonesia.

B. Latar Belakang Sengketa


Pada tanggal 28 November 1994, disepakati dua kontrak sebagai bagian dari Proyek
Karaha. Kedua kontrak tersebut adalah:
1) Kontrak Operasi Bersama (Joint Operation Contract/ JOC)
Kontrak ini menetapkan bahwa Pertamina bertanggung jawab untuk mengelola
pengoperasian geothermal di dalam proyek karaha tersebut dan KBC berperan
sebagai kontraktor. KBC diwajibkan untuk mengembangkan energy gheotermal di
daerah proyek dan membangun, memiliki dan mengoperasikan tenaga listrik.
2) Kontrak Penjualan Energi (Energy Sales Contract/ ESC)
Berdasarkan kontrak ini PLN setuju untuk membeli tenaga listrik dari Pertamina
yang diproduksi, dipasok, dan disediakan oleh pembangkit tenaga listrik yang
dibangun oleh KBC. Sebagai kontarktor bagi Pertamina berdasarkan JOC, KBC, atas
nama Pertamina dan berdasarkan ESC, berhak untuk memasok dan menjual tenaga
listrik berkapasitas sampai 400 Mw kepada PLN dari Proyek Karaha.
Pada Tahun 1997 timbul krisis moneter dan menimpa Indonesia. International
Monetary Fund (IMF) meminta kepada pemerintah Republik Indonesia untuk
meninjau kembali proyek-proyek pembangunan. Selain itu harus diteliti lebih lanjut,

apakah

pembayaran

dipertahankan.
Pada tanggal

20

proyek

dengan

September

1997

valuta

asing

Pemerintah

US

dollar

Republik

masih

dapat

Indonesia

telah

mengeluarkan Keputusan Presiden No. 39 Tahun 1997. Berdasarkan Kepres tersebut


sebanyak 75 proyek ditunda termasuk Proyek Karaha. Selanjutnya pada tanggal 1
November 1997 dikeluarkan Keputusan Presiden No. 47 Tahun 1997 yang berisi
perintah agar beberapa proyek yang tertunda termasuk Proyek Karaha dilanjutkan
kembali. Pada tanggal 10 Januari 1998, Keputusan Presiden No. 5 Tahun 1998
dikeluarkan. Keputusan ini membatalkan kepres sebelumnya dan mengkomfirmasi
penundaan Proyek Karaha.
Pertaminan telah menyetujui untuk membantu KC dalam usaha melanjutkan
kembali proyek ini, akan tetapi ternyata dua minggu setelah diajukan permohonan
oleh Pertamina, pihak KBC telah menyatakan berlakunya klausula force majeure
dan telah menghentikan pelaksanaan kontrak yang bersangkutan. Pada tanggal 30
April 1998, KBC telah memberitahukan kepada Pertamina dan PLN bahwa mereka
akan mengajukan suatu klaim kepada arbitrase berdasarkan JOC dan ESC.
C. Jalannya Sengketa
KBC mengajukan klaim kepada arbitrase Jenewa Swiss sebagaimana yang
disepakati oleh para pihak mengenai forum yang dipilih para pihak untuk
menyelesaukan sengketa dalam JOC. Pendirian KBC sebagai penggugat adahaf
sebagai berikut:
- KBC menuduh bahwa tergugat melanggar kewajiban mereka membayar menurut
JOC dan ESC dengan cara antara lain mencegah KBC untuk menyelesaiakan
pembangunan unit-unit pembangkit listrik tenaga secara keseluruhan dengan
kapsitas 400 Mw.
- KBC menyatakan

tergugat

berdasarkan

JOC

dan

ESC

telah

menyetujui

menanggung risiko tindakan pemerintah dan oleh sebab itu Kepres No. 30 Tahun
1997 dan Kepres No. 5 Tahun 1998 bukan merupakan alasan untuk tidak memenuhi
kontrak.
Adapun KBC menuntut ganti rugi akibat pelanggaran kontrak yaitu kerugian yang
termnasuk dalam pembayaran atas kerugian sebesar US$ 96.000.000 kemudian
kompensasi akibat kehilangan keuntungan sebesar US$ 512.500.000, selanjutnya
sebagai alternative ganti rugi untuk keuntungan diperhitungkan jumlah pembayaran
yang harus diterima adalah US$ 437.000.000. Secara alternatif diminta pembatalan
kontrak dan kerugian secara alternative dan pelaksanaan secara khusus.

Pengadilan Arbitrase Jenewa pada tanggal 18 Desember 2000 membuat putusan


agar Pertamina dan PLN membayar ganti rugi kepada KBC skurang lebih sebesar
US$ 270.000.000 yang terdiri ganti rugi atas hilangnya kesempatan mendapatkan
keuntungan (opportunity lost) sebesar US$ 111.100.000 dan bunga 4% sejak tahun
2001 sebesar US$ 150.000.000. KBC mengajukan permohonan untuk melaksanakan
putusan arbitrase di pengadilan beberapa negara di mana aset-aset Pertamina
berada, kecuali di Indonesia yaitu:
- Pada tanggal 21 Februari 2001, KBC meminta U.S District Court for The Southern
District Court of Texas untuk melaksanakan putusan arbitrase Jenewa;
- KBC mengajukan permohonan agar semua aset anak perusahaan Pertamina yang
berada di Singapura disita termasuk Petral;
- Pada tanggal 30 Januari 2004, KBC meminta Pengadilan New York untuk menahan
aset Pertamina dan Pemerintah Republik Indonesia yang besarnya hingga 1, 044
miliar dollar USA. Adapun permintaan tersebut ditolak dan hakim menetapkan agar
Bank of America dan Bank of New York melepaskan kembali dana sebesar US$
350.000.000 kepada Pemerintah RI sedangkan yang tetap ditahan adalah dana 15
rekening adjucated account di Bank of America sebesar US$ 296.000.000 untuk
jaminan.
PUTUSAN ARBITRASE
Kasus Karaha Bodas Company (Pemohon Banding dahulu Tergugat) vs Perusahaan
Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (PERTAMINA) (Termohon Banding
dahulu Penggugat). Dalam perkara ini tergugat sedang berusaha melaksanakan
putusan arbitrase internasional yang telah diputus di Jenewa, Swiss tanggal 18
Desember 2000, berdasarkan putusan arbitrase UNCITRAL, yang telah menghukum
penggugat untuk membayar kepada tergugat ganti rugi sejumlah US $ 266.166.654
berikut 4% setahun, bukti P-1 antara lain dengan memblokir asset-aset yang
menurut tergugat menjadi milik dari penggugat
yang terletak dalam wilayah Amerika Serikat. Bukti P-2: perjanjian kerja sama
antara penggugat dengan tergugat (Joint Operation Contract) yang menentukan
bahwa penggugat bertanggung jawab untuk pengurusan operasi di bidang
geothermal dan bahwa tergugat akan bertundak sebagai kontraktor dimana
tergugat

diwajibkan

untuk

mengembangkan

energi

geothermal

dan

untuk

membangun dan menjalankan fasilitas generating. Kemudian penggugat dan


tergugat dalam perjanjian P-2 telah sepakat mengenai pilihan forum dan pilihan

hukum dalam pasal 13: bahwa dalam hal timbul sengketa antara para pihak maka
akan diselesaikan dengan arbitrase berdasarkan ketentuan UNCITRAL dan dalam
pasal 20: bahwa terhadap kontrak P-2 ini akan berlaku hukum Indonesia. Bukti P-3
Kontrak Jual Beli antara penggugat, turut tergugat, dengan tergugat berdasarkan
nama turut tergugat setuju untuk membeli dari penggugat tenaga listrik yang
dihasilkan oleh fasilitas pembangkitan listrik yang dibangun oleh tergugat,
kemudian penggugat, turut tergugat dan tergugat dalam kontrak bukti P-3,
mengenai pilihan forum dan pilihan hukum telah sepakat dalam pasal 8 ayat (2)
bahwa dalam hal timbul sengketa antara para pihak tersebut diatas maka akan
diselesaikan dengan arbitrase berdasarkan ketentuan arbitrase UNCITRAL. Bukti P4: keputusan presiden no. 39/1997 tanggal 20 September 1997 yang antara lain
menentukan

harus

ditangguhkan

proyek

PLTP

Karaha

Bodas,

demi

untuk

menanggulangi gejolak moneter. Bahwa kemudian proyek ini dengan keputusan


presiden no. 47/1997 tanggal 1 November 1997 (bukti P-5) dinyatakan dapat
diteruskan ; Bahwa akan tetapi, kemudian dengan keputusan presiden no. 5/1998
proyek bersanggkutan ditangguhkan kembali (bukti-6).
Adapun alasan-alasan untuk meminta pembatalan putusan arbitrase luar negeri
aquo adalah karena melanggar ketentuan-ketentuan Konvensi New York maupun
ketentuan undang-undang arbitrase tahun 1999 no.30 serta klausula arbitrase yang
menjadi sumber utama wewenang team arbitrase bersangkutan, antara lain karena:
I. Majelis arbitrase dalam bukti P-1 telah melampaui wewenangnya karena tidak
mempergunakan hukum Indonesia, padahal hukum Indonesia adalah yang harus
dipergunakan.
II. Putusan arbitrase tanggal 18 desember 2000 tidak mengindahkan/secara keliru
menafsirkan ketentuan tentang force majeure menurut hukum Indonesia.
Keberatan-keberatan yang diajukan oleh pemohon banding/tergugat dalam memori
banding tersebut pada pokoknya ialah :
1. Bahwa pemohon banding keberatan atas putusan :
a. Bahwa berdasarkan UU arbitrase menyatakan

terhadap

putusan

(pembatalan) dari pengadilan negeri dapat diajukan permohonan banding ke


MA. Oleh karena itu upaya hukum yang diajukan pemohon banding/tergugat
terhadap putusan dengan mengajukan banding kepada MA sudah tepat dan
sesuai dengan UU arbitrase.

b. Bahwa oleh karena UU arbitrase tidak ada ketentuan yang mengatur


mengenai batas waktu pengajuan banding dan memori banding.
c. Bahwa
pertimbangan
hukum
judex
factie
dalam
putusan

no.

86/PDT.g/2002/PN.JKT.PST. tanggal 27 Agustus 2002 adalah keliru dan tidak


berdasarkan fakta dan tidak adil.
2. Bahwa termohon kasasi menurut hukum tidak dapat mengajukan pembatalan
terhadap

putusan

arbitrase

internasional

dengan

menggunakan

format

gugatan melainkan harus menggunakan format permohonan.


3. Bahwa Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak berwenang baik
secara kompetensi absolute maupun secara kompetensi relative untuk mengadili
perkara aquo.
4. Bahwa dari segi Kompetensi Absolute Pengadilan Jakarta Pusat tidak berwenang
untuk mengadili perkara ini, karena pembatalan putusan arbitrase internasional
hanya dapat dilakukan oleh pengadilan Swiss.
5. Bahwa gugatan Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional yang diajukan oleh
termohon kasasi/penggugat tidak memiliki dasar hukum untuk dapat diajukan.

Terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :


a. Bahwa gugatan penggugat pada pokoknya adalah gugatan pembatalan
putusan arbitrase yang diputusakan di Jenewa, Swiss pada tanggal 18
Desember 2000.
b. Bahwa menurut pasal satu butir 9 UU no. 30 tahun 1999 putusan yang
dijatuhkan oleh suatu lembaga arbitrase atau arbiter perorangan diluar
wilayah hukum RI , seperti halnya putusan arbitrase yang dimohonkan
pembatalannya oleh penggugat adalah putusan arbitrase internasional.
c. Bahwa mengenai Arbitrase Internasional, UU no. 30 tahun 1999 hanya
mengaturnya dalam pasal 65 - pasal 69 yang selain mengatur syarat-syarat
dapat diakui dan dilaksanakannya suatu putusan Arbitrase Internasional di
Indonesia, juga mengatur proses permohonan pelaksanaan putusan arbitrase
tersebut.
d. Bahwa pasal V ayat (1) e Konvensi New York 1958 yang disahkan dan
dinyatakan berlaku dengan Keppres no. 34 tahun 1981.
e. Bahwa apalagi dari bukti P-5 terlihat bahwa kuasa hukum penggugat dan
turut tergugat telah mengajukan permohonan banding terhadap putusan

arbitrase yang disengketakan (bukti P-1) kepada MA Swiss sesuai dengan UU


f.

Hukum Perdata Internasional Negara Swiss.


Bahwa oleh karena itu Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak berwenang
untuk memeriksa dan memutus gugatan pembatalan putusan Arbitrase
Internasional
Menimbang,

yang
bahwa

diajukan

berdasarkan

oleh

penggugat.

pertimbangan-pertimbangan

tersebut

diatas, dengan tidak perlu mempertimbangkan pertimbangan-pertimbangan


lainnya, maka menurut pendapat Mahkamah Agung terdapat cukup alasan
untuk mengabulkan permohonan banding dari pemohon banding Karaha
Bodas Company L. L. C., tersebut dan membatalkan putusan Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat tanggal 27 Agustus 2003 no. 86/PDT.G/2002/PN.JKT.PST.

ANALISIS PUTUSAN ARBITRASE


Upaya hukum yang dilakukan oleh Pertamina adalah:
- Mengajukan penolakan terhadap keputusan Pengadilan Arbitrase Jenewa
- Mengajukan penolakan pelaksanaan Putusan Pengadilan Arbitrase Jenewa di
pengadilan-pengadilan di negara mana KBC mengajukan permobonan pelaksanaan
putusan Pengadilan Arbitrase Swiss
- Mengajukan pembatalan putusan Pengadilan Arbitrase Jenewa kepada Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat, Indonesia.
Pada tanggal 27 Agustus 2007, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
memenangkan
gugatan Pertamina. Putusan tersebut memerintahkan kepada tergugat atau
siapapun yang dapat hak
daripadanya untuk tidak melakukan tindakan apapun termasuk pelaksanaan
putusan pengadilan
arbitrase yang ditetapkan di Jenewa Swiss tanggal 18 Desember 2000. Adapun
putusan Pengadilan
Arbitrase Jenewa, Swiss dnyatakan batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum.
BERDASAR ANALISIS YANG TELAH SAYA BUAT, MAKA SAYA SETUJU TERHADAP
PUTUSAN AKHIR DARI PENGADILAN NEGERI JAKARTA PUSAT. SEBAB,
PT.PERTAMINA HANYA SEBAGAI SUPPLIER ENERGY GHEOTERMAL. SELEBIHNYA,
PIHAK KBC LAH YANG SEHARUSNYA BERTANGGUNG JAWAB PENUH ATAS
PENGOPERASIAN ENERGY GHEOTERMAL.