Anda di halaman 1dari 85

SKRIPSI

PENGARUH JUMLAH KUNJUNGAN WISATAWAN


TERHADAP PENERIMAAN RETRIBUSI DESTINASI
WISATA, PENDAPATAN ASLI DAERAH DAN ANGGARAN
PEMBANGUNAN KOTA TANGERANG

Disusun oleh
Thomas Edy Rahardjo
NIM : 511100077
Jurusan : Hospitality

JURUSAN HOSPITALITY
SEKOLAH TINGGI PARIWISATA AMPTA
YOGYAKARTA
2015

HALAMAN PENGESAHAN

SKRIPSI

PENGARUH JUMLAH KUNJUNGAN WISAT


WISATAWAN
AWAN
TERHADAP PENERIMAAN RETRIBUSI DESTINASI
WISATA,PENDAPATAN ASLI DAERAH DAN ANGGARAN
PEMBANGUNAN KOTA TANGERANG
Disusun oleh
Thomas Edy Rahardjo
NIM : 511100077
Jurusan : Hospitality

Telah Disetujui oleh :

Pembimbing I

( Drs. Santosa, MM )

Pembimbing II

( Mona Erythrea Nur Islami, Sip, M.A )

NIDN. 0519045901

NIDN. 0516097101

Mengetahui
Ketua Jurusan Hospitality

(
(ARIF
DWI SAPUTRA,SS,M.M)
NIDN. 0525047001
ii

BERITA ACARA UJIAN

PENGARUH JUMLAH KUNJUNGAN WISATAWAN


TERHADAP PENERIMAAN RETRIBUSI DESTINASI
WISATA, PENDAPATAN ASLI DAERAH DAN ANGGARAN
PEMBANGUNAN KOTA TANGERANG
Disusun oleh
Thomas Edy Rahardjo
NIM : 511100077
Jurusan : Hospitality
Telah dipertahankan di depan penguji
dan dinyatakan : Lulus
pada tanggal 09 Oktober 2015
Penguji

: Dra. Sri Larasati, MM


NIDN. 0511095401

Pembimbing I

: Drs. Santosa, MM
NIDN. 0519045901

Pembimbing II

: Mona Erythrea Nur Islami, Sip, M.A (


NIDN. 0516097101

Mengetahui
Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Ampta

Drs. Santosa, MM
NIDN. 0519045901
iii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Yang bertandatangan di bawah ini,


Nama: Thomas Edy Rahardjo
NIM: 511100077
Program Studi: Sarjana/ S1 Pariwisata
Judul Skripsi: Pengaruh Jumlah Kunjungan Wisatawan Terhadap Penerimaan
Retribusi Destinasi Wisata, Pendapatan Asli Daerah dan Anggaran Pembangunan
Kota Tangerang
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan
Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Yogyakarta,25 September 2015
Penulis,

Thomas Edy Rahardjo


NIM. 511100077

iv

MOTTO

Kesuksesan itu bukanlah akhir segalanya, tetapi hanya sebuah pencapaian.


(Penulis)
Kecerdasan bukanlah tolak ukur kesuksesan, tetapi dengan menjadi cerdas
kita bisa menggapai kesuksesan. (Penulis)
Jangan menunda-nunda untuk melakukan suatu pekerjaan karena tidak
ada yang tahu apakah kita dapat bertemu hari esok atau tidak. (Penulis)
Rahasia terbesar mencapai kesuksesan adalah tidak ada rahasia besar,
siapapun Anda akan menjadi sukses jika Anda beusaha dengan sungguhsungguh. (Penulis)
Aku bukanlah orang yang hebat, tapi aku mau belajar dari orang orang
yang hebat.
Aku adalah orang biasa tapi aku ingin menjadi orang yang luar biasa.
Dan aku bukanlah orang yang istimewa, tapi aku ingin membuat seseorang
menjadi istimewa. (Penulis)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Sang Juru Selamat Tuhan Yesus Kristus,


Tuhan seluruh makhluk yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. Karena atas
kuasa-Mu hingga kini anugerah dan karunia masih dapat kunikmati, sehat lahir
maupun batin.
Kupersembahkan karya ku ini untuk:
1. Bapak dan Ibuku, Yohanes Avilla Tulus dan Maria Cecillia Tumiyah,
sembah sungkem rasa hormat baktiku, terimakasih doa dan restunya.
2. Mbak Florentina Nancy, dan Mas F.X. Jhony yang selalu menyayangiku,
terimakasih nasehat dan dukungannya.
3. Keponakan tercinta Felicia Cristabel Jovena yang selalu menemani dan
mewarnai hari hariku dengan senyum dan tawa indahnya.
4. Keluarga besar yang ada di Cawas sekalian yang tidak henti hentinya
member semangat dan masukan yang berharga.
5. Keluarga besar yang ada di Naga Sari dan Yogyakarta yang selalu
memotivasi.
6. Sang Penjaga Hatiku Rosalina Simanjuntak yang selalu setia menemani
dan member semangat di saat aku terjatuh selama menyelesaikan skripsi.
Terima kasih sayang. I will always Loving You.
7. Teman teman Angkatan 2011 yang selalu menjadi sahabat dari awal
masuk kuliah hingga sekarang. Thanks a lot of for you all guys.

vi

8.

Kepala Badan Kesbang Dan Politik Provinsi Banten Bapak Hedy Utomo
beserta seluruh staf yang telah memberikan pengantar penelitian skripsi.
Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Dan Politik Kota Tangerang Bapak

9.

Drs. H. Habibullah, M.Si beserta seluruh staf yang telah memberikan


surat rekomendasi penelitian skripsi.
10. Kepala Kesbanglinmas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang
diwakili oleh Kabid Kesbang

Ibu Dra. Amiarsi Harwani, SH., MS.

beserta staf yang telah mengeluarkan rekomendasi penelitian lintas


provinsi.
11. Ibu Dewi selaku staf Perencanaan yang mewakili Kepala Dinas Pemuda,
Olah Raga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kota Tangerang yang telah
berkenan memberikan data dokumen kepada penulis beserta Seluruh Staf
Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kota Tangerang
yang telah membantu dalam kelancaran pencarian data Skripsi.
12.

Bapak H. Mohamad Arfan, SH, MM. selaku Kepala Bidang Pajak


Daerah Dan Pendapatan Lainnya beserta staf Dinas Pengelolaan
Keuangan Daerah Kota Tangerang yang telah membantu dalam
kelancaran pencarian data Skripsi.

13.

Semua pihak yang telah membantu dan memberikan dorongan


sertasemangat yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu.

Semoga amal amal kebaikan yang telah mereka berikan kepada penulis
mendapat balasan dan pahala dari Tuhan Yang Maha Esa.

vii

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Sang Juru Selamat Tuhan
Yesus Kristus, yang telah melimpahkan rahmat- Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan Skripsi ini. Skripsi ini adalah sebagai tugas dalam
memenuhi salah satu persyaratan memperoleh Strata-1 Kepariwisataan jurusan
Hospitality dan Pariwisata di STP AMPTA Yogyakarta.
Dalam penulisan Skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan dari
berbagai pihak sejak awal sampai akhir penyusunan. Untuk itu perkenankan
penulis menghaturkan ucapan terima kasih kepada yang terhormat :
1. Bapak Drs. Santoso, MM selaku Dosen Pembimbing I yang selalu
memberikan bimbingan kepada penulis selama ini.
2.

Ibu Mona Erythrea Nur Islami, Sip. selaku Dosen Pembimbing II


yang selalu memberikan bimbingan kepada penulis selama ini.

3. Ibu Dra. Sri Larasati,MM selaku Dosen Penguji yang telah berkenan
meluangkan waktu untuk melakukan pengujian skripsi ini.
4. Bapak Arif Dwi Saputra, SS.,MM.. selaku Ketua Jurusan Hospitality
STP AMPTA Yogyakarta.
Penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk
itu saran dan masukan sangat penulis hargai. Akhirnya semoga Skripsi ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak yangmembutuhkan.
Tangerang, 25 September 2015
Penulis

Thomas Edy Rahardjo

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PENGESAHAN

ii

BERITA ACARA UJIAN

iii

HALAMAN PERNYATAAN

iv

MOTTO

HALAMAN PERSEMBAHAN

vi

KATA PENGANTAR

viii

DAFTAR ISI

ix

DAFTAR TABEL

xiii

DAFTAR GAMBAR

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

xv

ABSTRAKSI

xvi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Batasan Masalah

D. Tujuan Penelitian

E. Kegunaan Penelitian

ix

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Kajian Pustaka

1. Pariwisata

a. Definisi Wisata

b. Definisi Pariwisata

c. Jenis Pariwisata

2. Pengertian Wisatawan

3. Pengertian Retribusi

10

4. Pengertian Pendapatan Asli Daerah

12

5. Pengertian Anggaran Pembangunan Daerah

18

B. Kerangka Pemikiran

19

C. Hipotesis Penelitian

21

BAB III METODE PENELITIAN


A. Lokasi dan Waktu Penelitian

22

B. Populasi Penelitian

22

C. Teknik Pengambilan Sampel

23

D. Jenis Sumber Data

23

E. Variabel Penelitian

25

F. Teknik Pengumpulan Data

25

G. Definisi Konseptual

26

H. Definisi Operasional

27

I. Teknik Analisis Data

28

1. Analisis Korelasi

28

2. Koefisien Parsial

30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Deskripsi Lokasi

31

1. Kondisi Umum Wilayah Penelitian


x

31

2. Kondisi Fisik

32

3. Pariwisata Kota Tangerang

34

4. Aksesbilitas

39

B. Analisis dan Pembahasan

41

1. Analisis Produk Moment

41

a. Analisis Produk moment Variabel Wisatawan

41

dan Variabel Retribusi


b. Analisis Produk moment Variabel Wisatawan

42

dan Variabel PAD


c. Analisis Produk moment Variabel Wisatawan

44

dan Variabel Anggaran


d. Analisis Produk moment Simultan

47

Variabel Wisatawan Terhadap Variabel Retribusi,


Variabel PAD dan Variabel Anggaran
2. Analisis Parsial

49

a. Analisis Parsial Variabel Retribusi dan Variabel PAD

49

sebagai variabel kontrol dengan Variabel Wisatawan


dan Anggaran
b. Analisis Parsial Variabel PAD

51

dan Variabel Wisatawan sebagai variabel kontrol


dengan Variabel Retribusi dan Anggaran
c. Analisis Parsial Variabel Retribusi
dan Variabel Wisatawan sebagai variabel kontrol
terhadap Variabel PAD dan Anggaran

xi

53

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan

56

B. Saran

57

DAFTAR PUSTAKA

58

LAMPIRAN

xii

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 : Kriteria Penilaian Korelasi

29

Tabel 4.1 : Destinasi Wisata dan Persebarannya

35

di Wilayah Kota Tangerang


Tabel 4.2 : Hasil Korelasi Produk Moment Variabel Wisatawan

41

dan Variabel Retribusi


Tabel 4.3 : Hasil Korelasi Produk Moment Variabel Wisatawan

43

dan Variabel PAD


Tabel 4.4 : Hasil Korelasi Produk Moment Variabel Wisatawan

45

dan Variabel Anggaran


Tabel 4.5 : Hasil Korelasi Produk Moment Variabel Wisatawan terhadap

47

Variabel Retribusi, Variabel PAD, dan Variabel Anggaran


Tabel 4.6 : Hasil olah data analisis parsial antara Variabel Retribusi

49

dan Variabel PAD sebagai variabel kontrol terhadap


Variabel Wisatawan dan Anggaran
Tabel 4.7 : Hasil olah data analisis parsial antara Variabel PAD

51

dan Variabel Wisatawan sebagai variabel kontrol


dengan Variabel Retribusi Variabel Wisatawan dan Anggaran
Tabel 4.8 : Hasil olah data analisis parsial antara Variabel Retribusi
dan Variabel Wisatawan sebagai variabel kontrol
terhadap Variabel PAD dan Anggaran

xiii

53

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 : Kerangka Pemikiran Penelitian .. 20
Gambar 4.1 : Peta Administrasi Wilayah Kota Tangerang .. 34

xiv

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. : Surat Pengantar Penelitian Lintas Provinsi dari Kesbangpol Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta
Lampiran 2. : Surat Pengantar Penelitian Lintas Provinsi dari Kesbangpol Provinsi
Banten
Lampiran 3.: Surat Pengantar Penelitian Lintas Provinsi dari Kesbanglinmas
Kota Tangerang
Lampiran 4. : Surat Keterangan Penelitian Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah
Kota Tangerang
Lampiran 5. : Hasil dan Pembahasan Analisis Produk Moment
Lampiran 6. : Hasil dan Pembahasan Analisis Parsial
Lampiran 7. : Data Dokumen Jumlah Wisatawan Tahun 2010 - 2014
Lampiran 8. : Data Dokumen PAD dan Retribusi Kota Tangerang 2010 - 2014
Lampiran 9. : Data Dokumen Anggaran Disporparekraf Kota Tangerang 2010
2014
Lampiran10. : Daftar Riwayat Hidup
Lampiran 11.: Lembar Bimbingan

xv

ABSTRAK

Sektor pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan sebagai


salah satu sumber pendapatan daerah. Kota Tangerang yang dengan keterbatasan
sumber daya alam memiliki beberapa sektor yang dapat di kembangkan salah satunya
adalah sektor pariwisata. Dari kontribusi tersebut, pula diharapkan dapat memacu
pembangunan dan pertumbuhan ekonomi sehingga kota Tangerang nantinya bisa
dikatakan sebagai kota yang maju dalam bidang pariwisata. Dengan semakin besar
kontribusi dari sektor-sektor tersebut maka PAD Kota Tangerang akan meningkat
sehingga dengan sendirinya Kota Tangerang mampu membiayai setiap kegiatan
pembangunan yang ada di Kota Tangerang.
Penelitian ini memiliki tujuan adalah untuk:
1. Mengetahui pengaruh jumlah kunjungan wisatawan terhadap penerimaan
retribusi destinasi wisata Kota Tangerang.
2. Mengetahui pengaruh jumlah kunjungan wisatawan terhadap pendapatan asli
daerah (PAD) Kota Tangerang.
3. Mengetahui pengaruh jumlah kunjungan wisatawan terhadap anggaran
pembangunan daerah Kota Tangerang.
4. Mengetahui pengaruh jumlah wisatawan terhadap jumlah total antara
penerimaan retribusi destinasi wisata, pendapatan asli daerah (PAD) Kota
Tangerang, dan anggaran pembangunan Kota Tangerang?
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan melalui analisis korelasi dan parsial
maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Jumlah wisatawan secara langsung berpengaruh positif terhadap jumlah
retribusi yaitu 0,141 sehingga bertambahnya jumlah wisatawan akan
meningkatkan penerimaan retribusi destinasi wisata.
2. Jumlah wisatawan secara langsung berpengaruh negatif terhadap PAD yaitu 0,535 sehingga bertambahnya jumlah wisatawan belum tentu akan
meningkatkan PAD karena kecilnya kontribusi dari penerimaan retribusi yang
berasal dari sektor pariwisata.
3. Jumlah wisatawan secara langsung berpengaruh negatif terhadap anggaran
pembangunan yaitu -0,696. Walaupun jumlah wisatawan meningkat belum
tentu akan meningkatkan jumlah anggaran pembangunan dikarenakan
kecilnya pendapatan yang diterima dari pungutan retribusi destinasi wisata.
4. Jumlah wisatawan secara langsung berpengaruh negatif terhadap Retribusi,
PAD dan Variabel anggaran pembangunan yaitu 0,496. Hal ini dikarenakan
belum dimanfaatkannya potensi wisata yang ada di Kota Tangerang sebagai
salah satu penerimaan daerah secara optimal.
Penelitian ini menyiratkan bahwa Pemerintah Kota Tangerang harus mendongkrak
peningkatan pembangunan pariwisatanya yang secara koefisien korelasi berpengaruh
negatif dan tidak signifikan agar dapat jauh lebih baik dari periode 2010-2014 ini. Dalam
pemungutan retribusi dan pendataan jumlah destinasi yang terdapat di Kota Tangerang
juga sebaiknya diperbaiki dan diperlukan keterlibatan langsung Disporparekraf Kota
Tangerang dalam pemungutan retribusi tersebut agar tidak terjadi kebocoran didalam
pemungutan retribusi destinasi wisata.

Kata Kunci : wisatawan, retribusi, PAD, dan


Anggaran pembangunan

xvi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sektor pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk
dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Usaha
memperbesar pendapatan asli daerah, maka program pengembangan dan
pendayagunaan sumber daya dan potensi pariwisata daerah diharapkan
dapat memberikan sumbangan bagi pembangunan ekonomi. Secara luas
pariwisata dipandang sebagai kegiatan yang mempunyai multidimensi dari
rangkaian suatu proses pembangunan.
Hal tersebut sejalan dengan yang tercantum dalam Undang-Undang
Nomor 10 tahun 2009 Tentang Kepariwisataan yang menyatakan bahwa
Penyelenggaraan

Kepariwisataan

ditujukan

untuk

meningkatkan

pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan


kemakmuran rakyat, memperluas, memeratakan kesempatan berusaha
dan lapangan kerja, mendorong pembangunan daerah, memperkenalkan
dan mendayagunakan daya tarik wisata di Indonesia serta memupuk rasa
cinta tanah air dan mempererat persahabatan antar bangsa
Perkembangan pariwisata juga mendorong dan mempercepat
pertumbuhan ekonomi. Kegiatan pariwisata menciptakan permintaan, baik
konsumsi maupun investasi yang pada gilirannya akan menimbulkan
kegiatan produksi barang dan jasa. Sejalan dengan hal tersebut dampak
1

pariwisata

terhadap

kondisi

sosial

ekonomi

masyarakat

lokal

dikelompokan oleh Cohen dalam Pitana dan Diarta (2009:185) menjadi


delapan kelompok besar, yaitu (1) dampak terhadap penerimaan devisa,
(2) dampak terhadap pendapatan masyarakat, (3) dampak terhadap
kesempatan kerja, (4) dampak terhadap harga-harga, (5) dampak terhadap
distribusi masyarakat atau keuntungan, (6) dampak terhadap kepemilikan
dan kontrol, (7) dampak terhadap pembangunan pada umumnya dan (8)
dampak terhadap pendapatan pemerintah.
Pelaksanaan desentralisasi di Indonesia yang diimplementasikan di
dalam Undang-Undang Nomor 32 dan Nomor 33 Tahun 2004 mempunyai
konsekuensi pelimpahan keuangan dari pemerintah pusat ke pemerintah
daerah, yang mana pemerintah daerah memperoleh perimbangan keuangan
untuk menjalankan fungsi-fungsinya.
Kota Tangerang yang dengan keterbatasan sumber daya alam
memiliki beberapa sektor yang dapat dikembangkan yaitu sektor
pariwisata. Sektor pariwisata lewat tempat-tempat wisata yang terkenal ke
mancanegara seperti Masjid Kali Pasir, Bendungan Pintu Air Sepuluh
Sungai Cisadane, Museum Benteng, Situ Babakan, dan Situ Cipondoh
merupakan bagian yang dapat diandalkan dari kota Tangerang yang
berkontribusi sangat besar terhadap sektor perdagangan dan pariwisata
yang nantinya diharapkan dapat berimbas pada meningkatnya jumlah
wisatawan yang berkunjung sehingga meningkatkan penerimaan retribusi
dan pendapatan asli daerah. Wisatawan yang mengunjungi destinasi wisata

di Kota Tangerang dikenakan retribusi sebagai upaya untuk menggali


potensi daerah dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dari

kontribusi

tersebut,

pula

diharapkan

dapat

memacu

pembangunan dan pertumbuhan ekonomi sehingga kota Tangerang


nantinya bisa dikatakan sebagai kota yang maju dalam bidang pariwisata.
Dengan semakin besar kontribusi dari sektor-sektor tersebut maka PAD
Kota Tangerang akan meningkat sehingga dengan sendirinya Kota
Tangerang mampu membiayai setiap kegiatan pembangunan terutama
pembangunan di sektor pariwisata yang ada di Kota Tangerang.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang dijelaskan tersebut maka menjadi focus
penelitian adalah : Pengaruh Jumlah Kunjungan Wisatawan Terhadap
Penerimaan Retribusi Destinasi Wisata, Pendapatan Asli Daerah dan
Anggaran Pembangunan Kota Tangerang . Adapun rumusan masalah
penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Apakah jumlah kunjungan wisatawan berpengaruh terhadap
penerimaan retribusi destinasi wisata Kota Tangerang ?
2. Apakah jumlah kunjungan wisatawan berpengaruh terhadap
pendapatan asli daerah (PAD) Kota Tangerang ?
3. Apakah jumlah kunjungan wisatawan berpengaruh terhadap
anggaran pembangunan Kota Tangerang?

4. Apakah jumlah wisatawan berpengaruh terhadap jumlah total


antara, penerimaan retribusi destinasi wisata, pendapatan asli
daerah (PAD) Kota Tangerang, dan anggaran pembangunan
Kota Tangerang?

C. Batasan Masalah
Untuk menjawab dan memecahkan permasalahan dalam rumusan
masalah diatas, maka batasan masalah penelitian Pengaruh Jumlah
Kunjungan Wisatawan Terhadap Penerimaan Retribusi Destinasi Wisata,
Pendapatan Asli Daerah dan Anggaran Pembangunan Kota Tangerang ini
adalah :
1. Dalam

mengidentifikasi

Pengaruh

Jumlah

Kunjungan

Wisatawan Terhadap Penerimaan Retribusi Destinasi Wisata,


Pendapatan Asli Daerah dan Anggaran Pembangunan Kota
Tangerang batasan masalah penelitian ini secara substansi
memfokuskan pada kajian identifikasi jumlah wisatawan yang
berkunjung baik domestik maupun mancanegara ke seluruh
destinasi wisata yang ada di Kota Tangerang pertahunnya.
2. Peneliti membatasi pada sumbangan terhadap penerimaan
daerah yang bersumber dari retribusi tempat rekreasi atau dapat
mendatangkan devisa dari para wisatawan mancanegara yang
berkunjung.

3. Secara substansi dalam batasan mengenai pengaruh sumbangan


retribusi

destinasi

wisata

terhadap

pembangunan

Kota

Tangerang terutama dalam sektor pariwisata yang tertuang di


dalam anggaran pembangunan.

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya,
maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui pengaruh jumlah kunjungan wisatawan terhadap
penerimaan retribusi destinasi wisata Kota Tangerang.
2. Mengetahui pengaruh jumlah kunjungan wisatawan terhadap
pendapatan asli daerah (PAD) Kota Tangerang.
3. Mengetahui pengaruh jumlah kunjungan wisatawan terhadap
anggaran pembangunan daerah Kota Tangerang.
4. Mengetahui pengaruh jumlah wisatawan terhadap jumlah total
antara penerimaan retribusi destinasi wisata, pendapatan asli
daerah (PAD) Kota Tangerang, dan anggaran pembangunan
Kota Tangerang?

E. Kegunaan Penelitian.
1. Bagi Objek Penelitian
Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan
bagi pemerintah daerah Kota Tangerang khususnya dalam rangka

menggali potensi dan sumber-sumber peningkatan Pendapatan Daerah


dalam rangka pembangunan daerah Kota Tangerang.
2. Bagi STP AMPTA
Secara akademis, penelitian ini diharapkan memiliki kegunaan
dalam memberikan acuan, informasi dan rangsangan kepada pihak lain
untuk melakukan penelitian lebih lanjut terutama di kalangan
mahasiswa mahasiswi STP AMPTA.
3. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi
peneliti mengenai pengaruh jumlah kunjungan wisatawan terhadap
penerimaan retribusi Destinasi wisata, pendapatan asli daerah dan
anggaran pembangunan Kota Tangerang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka
1. Pariwisata
a. Definisi Wisata
Istilah wisata menurut Murphy dalam (Sedarmayanti, 2014:3)
berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya perjalanan atau
bepergian. Kata wisata (tour) secara harfiah dalam kamus berarti:
Perjalanan dimana si pelaku kembali ke tempat awalnya; perjalanan
sirkuler yang dilakukan untuk tujuan bisnis, bersenang senang,
atau pendidikan, pada berbagai tempat dikunjungi dan biasanya
menggunakan jadwal perjalanan terencana Sedangkan definisi lain
Norval ( dalam Kesrul, 2003: 3 ) wisata adalah kegiatan yang
berhubungan dengan masuk, tinggal dan bergeraknya penduduk
asing di dalam atau luar suatu negara atau wilayah
b. Definisi Pariwisata
Dari definisi wisata juga terdapat istilah pariwisata dengan
penambahan kata pari (bahasa sansekerta) yang berarti berulangulang. Menurut Sedarmayanti (2014:3), meskipun pariwisata telah
lama menjadi perhatian, baik dari segi ekonomi, politik,
administrasi kenegaraan, maupun sosiologi, sampai saat ini belum

ada kesepakatan mengenai apa itu wisatawan dan pariwisata.


Macintosh dalam (Sedarmayanti, 2014: 3) menyebut pariwisata
adalah The sum of the phenomena and relationships arising from
the interaction of tourist, businesses, hostgoverment, and
comunities, in the process of attracting and hosting these tourist
and other visitors. Menurut Undang- Undang Nomor 10 tahun
2009, yang dimaksud Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan
wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang
disediakan

oleh

masyarakat,

pengusaha,

pemerintah,

dan

pemerintah daerah.
Spillane dalam ( Maulana, 2014:129), menerangkan bahwa
jenis jenis pariwisata yang terdapat di daerah tujuan wisata yang
menarik wisatawan untuk mengunjunginya sehingga dapat pula
diketahui

jenis

pariwisata

yang

mungkin

layak

untuk

dikembangkan dan mengembangkan jenis sarana dan prasarana


yang mendukung kegiatan pariwisata tersebut.
c. Jenis Pariwisata
Pendit (2006:38) merinci penggolongan pariwisata menjadi
beberapa 13 jenis wisata antara lain wisata budaya, wisata
kesehatan, wisata olah raga, wisata komersil, wisata industri,
wisata politik, wisata konvensi, wisata sosial, wisata pertanian,

wisata maritim (marina) atau bahari, wisata cagar alam, wisata


buru, wisata pilgrim, wisata bulan madu.
2. Pengertian Wisatawan.
Menurut Undang- Undang Nomor 10 tahun 2009 Wisatawan
adalah orang-orang yang melakukan kegiatan wisata. Jadi menurut
pengertian ini, semua orang yang melakukan perjalanan wisata
dinamakan wisatawan. Apapun tujuannya yang penting, perjalanan itu
bukan untuk menetap dan tidak untuk mencari nafkah di tempat yang
dikunjungi. Pacific Area Travel Association dalam (Pendit, 1994:38)
memberi batasan bahwa wisatawan sebagai orang-orang yang sedang
mengadakan perjalanan dalam jangka waktu 24 jam dan maksimal 3
bulan di dalam suatu negeri yang bukan negeri di mana biasanya ia
tinggal, mereka ini meliputi:
a. orang-orang yang sedang megadakan perjalanan untuk
bersenang-senang, untuk keperluan pribadi, untuk keperluan
kesehatan,
b. orang-orang yang sedang mengadakan perjalanan untuk
pertemuan, konferensi, musyawarah atau sebagai utusan
berbagai badan/organisasi,
c. orang-orang yang sedang mengadakan perjalanan dengan
maksud bisnis,
d. pejabat pemerintahan dan militer beserta keluarganya yang di
tempatkan di negara lain tidak termasuk kategori ini, tetapi bila

10

mereka mengadakan perjalanan ke negeri lain, maka dapat


digolongkan wisatawan
3. Pengertian Retribusi
Pendapatan Asli Daerah merupakan salah satu sumber penerimaan
daerah

yang

dapat

digunakan

untuk

membiayai pelaksanaan

pemerintahan, disamping dana perimbangan, pinjaman daerah dan


penerimaan lain-lain yang sah. Peranan pemerintah dalam sistem
perekonomian negara adalah melakukan pemungutan pajak/retribusi.
Masalah pajak atau retribusi sulit dihindari, namun setiap orang wajib
membayar pajak. Dengan demikian masalah pajak atau retribusi adalah
masalah setiap orang dalam suatu masyarakat dan negara. Setiap orang
yang hidup dalam suatu negara harus atau pasti berurusan dengan
pajak atau retribusi. Oleh sebab itu, setiap orang sebagai anggota
masyarakat wajib mengetahui segala permasalahan yang berhubungan
dengan pajak atau retribusi. Para ahli dalam bidang perpajakan yang
memberikan pengertian atau definisi berbeda-beda mengenai pajak,
namun demikian mempunyai arti atau tujuan yang sama.
Menurut UU No. 34 tahun 2000 tentang perubahan UU No. 18
tahun 1997 bahwa Pajak Daerah dan Retribusi Daerah merupakan
salah satu sumber pendapatan Daerah yang penting guna membiayai
penyelenggaraan pemerintahan Daerah dan pembangunan Daerah.
Pajak Daerah atau yang disebut pajak adalah iuran wajib yang
dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada Daerah tanpa imbalan

11

langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan


peraturan perundang-undangan
untuk

membiayai

yang

penyelenggaraan

berlaku,

yang

pemerintahan

digunakan
Daerah

dan

pembangunan Daerah.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa bagian yang
mudah dalam menyusun retribusi yaitu menghitung dan menetapkan
tarif. Bagian tersulitnya adalah meyakinkan masyarakat (publik) tanpa
diluar kesadaran mereka tarif tetap harus diberlakukan.
Beberapa

atau

sebagian

besar

pemerintah

daerah

belum

mengoptimalkan penerimaan retribusi karena masih mendapat dana


dari pemerintah pusat. Upaya untuk meningkatkan Pendapatan Asli
Daerah perlu dikaji pengelolaannya untuk mengetahui berapa besar
potensi yang riil atau wajar, tingkat keefektifan dan efisiensi.
Peningkatan retibusi yang memiliki potensi yang baik akan
meningkatkan pula Pendapatan Asli Daerah. Pemerintah daerah tidak
harus berdiri sendiri dari segi keuangan agar dapat memiliki tingkat
otonom yang berarti, yang penting adalah wewenang di tepi artinya
memiliki penerimaan daerah sendiri yang cukup sehingga dapat
mengadakan perubahan di sana-sini.
Perbedaan mendasar antara pajak dan retribusi adalah terletak pada
timbal balik langsung. Pada pajak tidak ada timbal balik langsung
kepada para pembayar pajak, sedangkan untuk retribusi ada timbal
balik langsung dari penerima retribusi kepada penerima retribusi.

12

Defenisi retribusi daerah menurut Peraturan Pemerintah Nomor 66


tahun 2001 tentang retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai
pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus
disediakan dan/atau

diberikan oleh

pemerintah

daerah

untuk

kepentingan orang pribadi atau badan. Kebijaksanaan memungut


bayaran untuk barang dan layanan yang disediakan pemerintah pada
masyarakat berpangkal pada efisiensi ekonomis.
Menurut Koho (2001:154) bahwa retribusi yang diserahkan kepada
daerah cukup memadai, baik dalam jenis maupun jumlahnya. Namun
hasil rill yang dapat disumbangkan sektor ini bagi keuangan daerah
masih sangat terbatas karena tidak semua jenis retribusi yang dipungut
Kabupaten atau Kota memiliki prospek yang cerah. Lebih lanjut Koho
memberikan ciri-ciri pokok retribusi daerah sebagai berikut :
a. Retribusi dipungut daerah
b. Dalam pungutan retribusi terdapat prestasi yang diberikan
daerah yang langsung dapat ditunjuk
c. Retribusi dikenakan kepada siapa saja yang memanfaatkan atau
mengenyam jasa yang disediakan daerah.
4. Pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan sumber penerimaan
daerah yang berasal dari sumber-sumber dalam daerah sendiri, yang
dipungut berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Hal tersebut
menuntut daerah untuk meningkatkan kemampuan dalam menggali

13

dan mengelola sumber-sumber penerimaan daerah khususnya yang


bersumber dari Pendapatan Asli Daerah.
Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) mutlak harus
dilakukan oleh Pemerintah Daerah agar mampu untuk membiayai
kebutuhannya sendiri, sehingga ketergantungan Pemerintah Daerah
kepada Pemerintah Pusat semakin berkurang dan pada akhirnya daerah
dapat mandiri. Menurut Koswara (2000:50) bahwa ciri utama yang
menunjukkan suatu daerah otonom mampu berotonomi terletak pada
kemampuan keuangan daerah. Daerah otonom harus memiliki
kewenangan

dan

kemampuan

untuk

menggali sumber-sumber

keuangan sendiri, mengelola, dan menggunakannya untuk membiayai


penyelenggaraan pemerintahan daerahnya
Ketergantungan kepada bantuan pusat harus seminimal mungkin,
sehingga Pendapatan Asli Daerah dapat menjadi bagian sumber
keuangan terbesar, yang didukung oleh kebijakan perimbangan
keuangan pusat dan daerah sebagai prasyarat mendasar dalam system
pemerintahan Negara. Menurut Mahi (2000:58 - 59) Pendapatan Asli
Daerah masih belum bisa diandalkan sebagai sumber pembiayaan
dalam mengantisipasi desentralisasi dan proses otonomi. Hal tersebut
dikarenakan oleh beberapa hal yaitu :
a. Relatif rendahnya basis pajak/retribusi daerah.
b. Peranannya yang tergolong kecil dalam total penerimaan
daerah.

14

c. Kemampuan administrasi pemungutan di daerah yang masih


rendah.
d. Kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan yang
lemah.
Ketidakmampuan Pendapatan Asli Daerah sebagai sumber
pembiayaan

penyelenggaraan

pemerintahan

dan

pembangunan

disebabkan karena selama ini pemerintah belum mampu untuk


menggali dan mengembangkan sumber - sumber penerimaan yang
terdapat di daerahnya. Hal tersebut terlihat banyaknya potensi
penerimaan daerah yang belum digali dan dipungut sebagaimana
mestinya.
Selama ini daerah dalam pemungutan sumber penerimaan daerah
menggunakan sistem target yang hendak dicapai dalam pemungutan.
Target yang ditetapkan oleh daerah cenderung tidak berdasarkan pada
potensi riil yang terdapat di daerah, melainkan berdasarkan pada target
tahun lalu ditambah dengan tunggakan tahun tersebut. Pemerintah
daerah secara umum masih menghadapi permasalahan dalam
pengelolaan penerimaan daerah terutama yang bersumber dari
Pendapatan Asli Daerah. Permasalahan tersebut disebabkan oleh
kurangnya sumber daya manusia dalam mengelola penerimaan di
daerah. Menurut Mardiasmo (2002:146), masalah- masalah tersebut
sebagai berikut :

15

a. Tingginya tingkat kebutuhan daerah yang tidak sesuai dengan


kapasitas fiskal yang dimiliki daerah, sehingga menimbulkan
fiskal gap.
b. Kualitas

layanan

publik

yang

masih

memprihatinkan

menyebabkan produk layanan publik yang sebenarnya dapat


dijual kepada masyarakat direspon secara negatif, sehingga
menyebabkan keengganan masyarakat untuk taat membayar
pajak dan retribusi daerah.
c. Lemahnya infrastruktur prasarana dan sarana umum.
d. Berkurangnya dana bantuan dari pusat ( DAU dari pusat yang
tidak mencukupi )
e. Belum diketahuinya potensi PAD yang mendekati kondisi riil.
Sumber-sumber Penerimaan Pendapatan Asli Daerah Kota
Tangerang adalah sebagai berikut :
a. Pajak Daerah
1) Pajak Hotel
2) Pajak Restoran
3) Pajak Hiburan
4) Pajak Reklame
5) Pajak Penerangan Jalan
6) Pajak Pengambilan dan Pengolahan
7) Pajak Parkir
b. Retribusi Daerah

16

1) Retribusi Jasa Umum


2) Retribusi Pelayanan Kesehatan
3) Retribusi Pelayanan Lab. Kesehatan
4) Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan
5) Retribusi Penggantian Biaya KTP
6) Retribusi Parkir di tepi Jalan
7) Retribusi Pelayanan Pasar
8) Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor
9) Retribusi Jasa Umum Lainnya
c. Retribusi Jasa Usaha
1) Retribusi Terminal
2) Retribusi Tempat Rekreasi dan Olah Raga
d. Retribusi Perizinan Tertentu
1) Retribusi Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
2) Retribusi Izin Gangguan (HO)
3) Retribusi Izin Trayek
4) Retribusi Perizinan Tertentu Lainnya
e. Hasil Pengolahan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan
1) Bagian Laba

atas Penyertaan Modal Pada Perusahaan

Milik Daerah ( BUMD )


a) Bank Pembangunan Daerah Banten
b) PDAM
f. Lain - Lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah

17

1) Penerimaan Jasa Giro


2) Lain lain Pendapatan.
Dalam Undang - Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dijelaskan bahwa sumber pendapatan daerah
terdiri atas:
a. pendapatan asli daerah, yaitu 1) hasil pajak daerah, 2) hasil
retribusi daerah, 3) hasil perusahaan milik daerah, dan hasil
pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan 4) lain-lain
pendapatan asli daerah yang sah,
b. dana perimbangan,
c. pinjaman daerah,
d. lain-lain pendapatan daerah yang asli.
Kemampuan daerah dalam melaksanakan otonominya sangat
ditentukan atau tergantung dari sumber - sumber pendapatan asli
daerah (PAD). Pemerintah daerah dituntut untuk dapat menghidupi
dirinya sendiri dengan mengadakan pengelolaan terhadap potensi yang
dimiliki, untuk itu usaha untuk mendapatkan sumber dana yang tepat
merupakan

suatu

keharusan.

Terobosan-terobosan

baru

dalam

memperoleh dana untuk membiayai pengeluaran pemerintah daerah


harus dilakukan, salah satunya adalah sektor pariwisata.
Pendapatan asli daerah (PAD) adalah salah satu sumber
pendapatan daerah yang dituangkan dalam anggaran pendapatan dan

18

belanja daerah (APBD) dan merupakan sumber murni penerimaan


daerah yang selalu diharapkan peningkatannya.
Penambahan ini bisa dilihat dari meningkatnya pendapatan dari
kegiatan usaha yang dilakukan masyarakat, berupa penginapan,
restoran, dan rumah makan, pramuwisata, biro perjalanan dan
penyediaan cinderamata. Bagi daerah sendiri kegiatan usaha tersebut
merupakan potensi dalam menggali PAD, sehingga perekonomian
daerah dapat ditingkatkan, (b) membuka kesempatan kerja, industri
pariwisata merupakan kegiatan mata rantai yang sangat panjang,
sehingga banyak membuka kesempatan kerja bagi masyarakat di
daerah tersebut, (c) menambah devisa negara, semakin banyaknya
wisatawan yang datang, maka makin banyak devisa yang akan
diperoleh, (d) merangsang pertumbuhan kebudayaan asli, serta
menunjang gerak pembangunan daerah.
5. Pengertian Anggaran Pembangunan Daerah
Menurut Bawasir (1994:40), Anggaran secara umum dapat
diartikan sebagai rencana keuangan yang mencerminkan pilihan
kebijaksanaan untuk suatu periode di masa yang akan datang. Struktur
anggaran mencerminkan

pengelompokan

komponen-komponen

anggaran berdasarkan suatu kerangka tertentu. Secara sempit


pengertian anggaran adalah suatu pernyataan tentang perkiraan
pengeluaran suatu daerah yang dialokasikan untuk membangun yang
diharapkan akan terjadi pada suatu periode yang akan datang, serta

19

data pengeluaran untuk membangun yang sungguh-sungguh terjadi


saat ini dan masa yang akan datang.
Anggaran Pembangunan suatu daerah merupakan alokasi dana
yang diperlukan

untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan daerah.

Anggaran pembangunan daerah dapat dilihat dari besarnya belanja


daerah yang dilakukan.
Sejarah anggaran pembangunan dari tahun 1991 sampai tahun
2010, dapat dijelaskan sebagai berikut. Anggaran Pembangunan Tahun
1990 2003 dinamakan pengeluaran pembangunan, Tahun 2004
2006 dinamakan anggaran belanja pelayanan publik. Tahun 2006
dengan ditetapkannya Permendagri No. 13 Tahun 2006 maka anggaran
pembangunan dinamakan Belanja Langsung.

B. Kerangka Pemikiran
Kepariwisataan dikembangkan tidak hanya untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi, tetapi mempunyai tujuan yang luas meliputi aspek
sosial-budaya, politik dan hankamnas. Walaupun demikian tujuan
ekonomis sangat menonjol, lagi pula aspek non ekonomis pembangunan
pariwisata sangat erat terkait dengan tujuan ekonominya. Sektor pariwisata
juga diharapkan sebagai lokomotif (penggerak) dan magnit (pemicu)
dalam memperbaiki kondisi ekonomi.
Pemerintah Kota Tangerang sebagai salah satu Kota yang termasuk
di dalam provinsi Banten berusaha menggali sumber-sumber keuangan

20

sendiri, mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup


memadai untuk membiayai penyelengaraan pemerintah daerah, salah satu
sektor yang potensial untuk dikembangkan adalah sektor pariwisata.
Peningkatan pendapatan di sektor pawisata berjalan melalui kunjungan
wisatawan ke Destinasi wisata sehingga memberikan sumbangan retribusi
Destinasi wisata dan nantinya akan memberikan sumbangan/pemasukan
bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Tangerang itu sendiri.
Meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan memberikan
posisi yang lebih baik untuk pengelolaan penyelenggaraan Pemerintah
Daerah Kota Tangerang dalam rangka pelaksanaan pembangunan,
sehingga dari hasil Pendapatan Asli Daerah (PAD) diharapkan dapat
meningkatkan anggaran pembangunan Kota Tangerang
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Penelitian
Penerimaan
Retribusi Destinasi
Wisata ( Y1 )

Jumlah Kunjungan
Wisatawan ke
Destinasi Wisata ( X )

Pendapatan Asli
Daerah ( Y2 )
Anggaran Pembangunan
Daerah ( Y3 )

21

C. Hipotesis Penelitian
1. Terdapat pengaruh positif dan signifikan jumlah kunjungan wisatawan
terhadap penerimaan retribusi Destinasi wisata Kota Tangerang.
2. Terdapat pengaruh positif dan signifikan jumlah kunjungan wisatawan
terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Kota Tangerang.
3. Terdapat pengaruh positif dan signifikan jumlah kunjungan wisatawan
terhadap anggaran pembangunan Kota Tangerang.
4. Terdapat pengaruh positif dan signifikan jumlah wisatawan terhadap
jumlah total antara penerimaan retribusi destinasi wisata, pendapatan
asli daerah (PAD), dan anggaran pembangunan Kota Tangerang?

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian dilaksanakan dari tanggal 25 Februari 2015 02
Oktober 2015 dengan alasan Pemerintahan Kota Tangerang belum
pernah melakukan penelitian tentang Pengaruh Jumlah Kunjungan
Wisatawan Terhadap Penerimaan Retribusi Destinasi Wisata dan
Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta Anggaran Pembangunan Kota
Tangerang.

B. Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Menurut Sugiyono
(2008: 15), populasi didefinisikan sebagai Wilayah generalisasi yang
terdiri dari objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik
kesimpulan.

Sesuai dengan penelitian yang dilakukan yaitu

Pengaruh Jumlah Kunjungan Wisatawan Terhadap Penerimaan


Retribusi Destinasi Wisata dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta
Anggaran Pembangunan Kota Tangerang, maka yang menjadi
populasi sasaran dalam penelitian ini adalah data laporan realisasi
pendapatan daerah tahunan dan saluran saluran distribusinya
pemerintah Kota Tangerang sejak tahun 2010 - 2014.

22

23

C. Teknik Pengambilan Sampel


Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan teknik non probability sampling, menurut Sugiyono
(2008) teknik tersebut merupakan Teknik pengambilan sampel yang
tidak memberikan peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap
unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Jenis
sampling yang dipilih adalah Purposive sampling, yaitu teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Sesuai dengan objek
penelitiannya, sampel penelitian ini adalah laporan realisasi anggaran
pemerintah Kota Tangerang 2010 - 2014.

D. Jenis Sumber Data


1. Jenis Data menurut sifatnya
Jenis data menurut sifatnya dalam penelitian ini adalah :
a. Data Kuantitatif
Adalah data yang berbentuk angka-angka dan dapat
dihitung dengan satuan hitung (Data ini didapatkan melalui
Studi kepustakaan atau library research), yaitu dengan cara
mempelajari buku-buku, karangan ilmiah, jurnal serta dokumen
yang berkaitan dengan judul penelitian. Dalam hal ini data
yang digunakan antara lain : jumlah kunjungan wisatawan,
retribusi Destinasi wisata di Kota Tangerang, Pendapatan Asli

24

Daerah Kota Tangerang dan Anggaran Pembangunan Kota


Tangerang.
b. Data Kualitatif
Adalah

data

yang

bukan

angka-angka,

melainkan

keterangan variabel - variabel yang ada serta faktor-faktor yang


mempengaruhi untuk argumentasi dari data.
Data ini didapatkan dari penelitian lapangan atau field
research, yaitu dengan cara melakukan penelitian di lapangan
dan wawancara langsung dengan para pegawai yang terkait.
2. Jenis data menurut sumbernya
Bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan
dilakukan menggunakan sumber data sekunder dimana sumber data
sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan
data kepada pengumpul data. Data sekunder yang digunakan
adalah data runtun waktu (time series) 5 ( lima ) tahun. Sumber sumber data sekunder diperoleh melalui Instansi Pemerintah
Daerah Kota Tangerang terutama dari Dinas Pariwisata Daerah
Kota Tangerang, Dinas Pendapatan Kota Tangerang, Badan
Perencanaan

Daerah

Kota

Tangerang,

Bagian

Keuangan

Sekretariat Kota Tangerang dan Badan Pusat Statistik Propinsi


Banten.

25

E. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi
titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2002: 96). Dalam penelitian
ini terdapat satu variabel bebas ( X ) dan tiga variabel terikat ( Y ) yaitu
:
1.

Variabel Bebas / Independent Variabel ( X )


Yaitu variabel yang mempengaruhi variabel lain atau yang

diselidiki pengaruhnya. Yang menjadi variabel bebas dalam


penelitian ini adalah Variabel Jumlah Kunjungan Wisatawan,
2.

Variabel Terikat / Dependent Variabel ( Y )


Variabel terikat adalah gejala atau unsur variabel yang

dipengaruhi variabel lain. Yang menjadi variabel terikat dari


penelitian ini adalah :
1. Variabel Penerimaan retribusi Destinasi Wisata,
2. Variabel Pendapatan Asli Daerah,
3. Anggaran Pembangunan Kota Tangerang.

F. Teknik Pengumpulan Data


Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini
digunakan teknik pengumpulan data berupa data dokumentasi yang
dilakukan dengan cara mengumpulkan data atau dokumen-dokumen

26

dari instansi terkait seperti Dinas Pariwisata Daerah Kota Tangerang,


Dinas Pendapatan Kota Tangerang, Badan Perencanaan Daerah Kota
Tangerang, Bagian Keuangan Sekretariat Kota Tangerang dan Badan
Pusat Statistik Propinsi Banten.

G. Definisi Konseptual
1. Wisatawan adalah orang-orang yang melakukan kegiatan wisata
(Undang- Undang Nomor 10 tahun 2009).
2. Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran
atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan
dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan
orang pribadi atau badan ( Peraturan Pemerintah Nomor 66
tahun 2001 tentang retribusi daerah ).
3. Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan sumber penerimaan
daerah yang berasal dari sumber-sumber dalam daerah sendiri,
yang dipungut berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.
4. Anggaran secara umum dapat diartikan sebagai rencana
keuangan yang mencerminkan pilihan kebijaksanaan untuk
suatu periode di masa yang akan datang ( Bawasir 1994:40 ).

27

H. Definisi Operasional
1. Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Destinasi Wisata merupakan
besarnya

jumlah

wisatawan

baik

mancanegara

maupun

nusantara yang berkunjung ke Destinasi wisata yang berada di


Kota Tangerang yang dirangkum dalam data dokumen yang
dimiliki Pemerintah dari tahun 2010 2014.
2. Penerimaan Retibusi Destinasi Wisata yaitu penerimaan
retribusi Destinasi wisata dengan penerimaan total Pendapatan
Asli Daerah (PAD) yaitu seberapa besar sumbangan retribusi
Destinasi wisata terhadap Pendapatan Asli Daerah seperti
retribusi karcis atau tiket masuk tempat rekreasi dan olah raga,
retribusi izin mendirikan bangunan seperti izin pendirian hotel
kelas melati dan berbintang, restoran, dan tempat hiburan.
3. Pendapatan Asli Daerah, selanjutnya disebut PAD adalah
pendapatan yang diperoleh dari daerah sendiri yang dipungut
berdasarkan peraturan daerah yang berasal dari pajak dan
retribusi sektor pariwisata berupa pajak hotel kelas melati dan
berbintang, pajak restoran, dan hiburan, retribusi karcis atau
tiket masuk tempat rekreasi dan olah raga, retribusi izin
pendirian bangunan hotel kelas melati dan berbintang, restoran,
dan tempat hiburan.

28

4. Anggaran Pembangunan Daerah, merupakan persentase jumlah


alokasi dana dari sektor pariwisata yang digunakan untuk
pembangunan daerah.

I. Teknik Analisis Data


1. Analisa Korelasi
Analisis data yang digunakan untuk melihat hubungan antara
Variabel Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Destinasi Wisata,
Penerimaan Retibusi Destinasi Wisata, Pendapatan Asli Daerah,
dengan

Anggaran

Pembangunan

Daerah

adalah

dengan

menggunakan korelasi product moment dari Karl Pearson.


Penghitungan korelasi dilakukan dengan menggunakan program
SPSS. Kegunaan dari korelasi ini adalah yaitu untuk menguji dua
signifikansi dua variabel, mengetahui kuat lemah hubungan, dan
mengetahui besar retribusi.
Rumus paling sederhana untuk menghitung korelasi adalah
sebagai berikut:

Keterangan:
= Koefisiensi korelasi anatara variabel X dan variabel Y : dua
variabel yang dikorelasikan ( x = X - M ) dan( y = Y - M).

= Jumlah perkalian x dengan y


= Kuadrat dari x (deviasi x)

29

=Kuadrat dari y (deviasi y)


Dalam penelitian ini analisis korelasi pearson digunakan untuk
menjelaskan derajat hubungan antara variabel bebas (independent)
dengan variabel terikat (dependent) dengan nilai : -1 rs 1,
dimana :
a. Bilai nilai rs = -1 atau mendekati -1, maka korelasi kedua
variabel dikatakan sangat kuat dan negatif artinya sifat
hubungan dari kedua variabel berlawanan arah, maksudnya jika
nilai X naik maka nilai Y akan turun atau sebaliknya.
b.

Bila nilai rs = 0 atau mendekati 0, maka korelasi dari kedua


variabel sangat lemah atau tidak terdapat korelasi sama sekali.
c. Bila nilai rs = 1 atau mendekati 1, maka korelasi dari

kedua variabel sangat kuat dan positif, artinya hubungan dari kedua
variabel yang diteliti bersifat searah, maksudnya jika nilai X naik
maka nilai Y juga naik atau sebaliknya.
Adapun kriteria penilaian korelasi menurut Sugiyono (2003 ;
216) yaitu :
Tabel 3.1
Kriteria Penilaian Korelasi
Interval Koefisian

Tingkat Hubungan

0.00 0.199

Sangat Rendah

0.20 0.399

Rendah

0.40 0.599

Sedang

30

0.60 0.799

Kuat

0.80 1.000

Sangat Kuat

2. Korelasi Parsial
Analisis korelasi parsial (Partial Correlation) digunakan untuk
mengetahui hubungan antara dua variabel dimana variabel lainnya
yang dianggap berpengaruh dikendalikan atau dibuat tetap (sebagai
variabel kontrol). Nilai korelasi (r) berkisar antara 1 sampai -1, nilai
semakin mendekati 1 atau -1 berarti hubungan antara dua variabel
semakin kuat, sebaliknya nilai mendekati 0 berarti hubungan antara
dua variabel semakin lemah. Nilai positif menunjukkan hubungan
searah (X naik maka Y naik) dan nilai negatif menunjukkan hubungan
terbalik (X naik maka Y turun). Data yang digunakan biasanya
berskala interval atau rasio.
Menurut Sugiyono (2007) pedoman untuk memberikan
interpretasi koefisien korelasi sebagai berikut:
a. 0,00

- 0,199

= sangat rendah

b. 0,20

- 0,399

= rendah

c. 0,40

- 0,599

= sedang

d. 0,60

- 0,799

= kuat

e. 0,80

- 1,000

= sangat kuat

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi
1. Kondisi Umum Wilayah Penelitian
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1993 tentang
Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Tangerang yang terbentuk pada
tanggal 28 Februari 1993, merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten
Tangerang. Pembentukan daerah ini berfungsi sebagai salah satu daerah
penyangga Ibukota Negara DKI Jakarta dan memiliki letak yang strategis
karena berada di antara DKI Jakarta, Kota Tangerang Selatan dan
Kabupaten Tangerang. Kondisi ini sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor
13 Tahun 1976 tentang Pengembangan Jabotabek ( Jakarta, Bogor,
Tangerang, Bekasi ), dan diatur pula dalam Perpres No. 54 Tahun 2008
tentang Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang,
Bekasi, Puncak, Cianjur.
Kota Tangerang memiliki motto seperti yang tercantum dalam
lambang daerahnya yaitu Bhakti Karya Adhi Kertaraharja yang memiliki
arti sebagai semangat pengabdian dalam bentuk karya pembangunan untuk
kebesaran negeri dan kemakmuran serta kesejahteraan wilayah. Kota
Tangerang berada pada posisi yang strategis sehingga menjadikan
perkembangan Kota Tangerang berjalan dengan pesat. Pada satu sisi,
menjadi daerah limpahan dari berbagai kegiatan di Kota Jakarta, di sisi
31

32

lainnya Kota Tangerang menjadi daerah pengembangan wilayah Kabupaten


Tangerang sebagai daerah dengan sumber daya alam yang produktif.
Pesatnya perkembangan Kota Tangerang, didukung pula dari
tersedianya

sistem

jaringan

transportasi

terpadu

dengan

wilayah

Jabodetabek, serta aksesibilitas dan konektivitas berskala nasional dan


internasional yang baik sebagaimana tercermin dari terdapatnya Bandara
Soekarno-Hatta, Pelabuhan Tanjung Priok, serta Pelabuhan Bojonegara
sebagai gerbang maupun outlet nasional. Bandara Soekarno-Hatta
melambangkan semangat pacu dalam mencapai cita-cita Pembangunan yang
luhur sebagai daerah penyangga Ibu Kota Republik Indonesia. Kedudukan
geostrategis Kota Tangerang tersebut telah mendorong berkembangnya
aktivitas

industri,

perdagangan

dan

jasa

yang

merupakan

basis

perekonomian Kota Tangerang yang ditandai dengan semakin pesatnya


pertumbuhan sektor perindustrian saat ini.
2. Kondisi Fisik
a. Letak Geografis
Kota Tangerang memiliki luas wilayah berdasarkan data Badan
Pusat Statistik (BPS) Tahun 2014, seluas 184,24 km2 (termasuk
Bandara SoekarnoHatta seluas 19,69 km2), yang secara administratif
terdiri dari 13 Kecamatan dan 104 Kelurahan dengan 970 Rukun Warga
(RW) dan 4.820 Rukun Tetangga (RT). Kota Tangerang berjarak 60
km dari Ibu Kota Provinsi Banten dan berjarak 27 km dari Ibu Kota

33

DKI Jakarta. Kota Tangerang secara geografis terletak pada 106036


106042 Bujur Timur (BT) dan 6066013 Lintang Selatan (LS), dengan
batas wilayah administrasi sebagai berikut:
1) Sebelah Utara

: Berbatasan dengan Kecamatan Teluknaga,


Kecamatan Kosambi dan Kecamatan Sepatan
di Kabupaten Tangerang;

2) Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Curug di


Kabupaten Tangerang serta Kecamatan Serpong
Utara dan Kecamatan Pondok Aren di Kota
Tangerang Selatan;
3) Sebelah Timur : Berbatasan dengan Jakarta Barat dan Jakarta
Selatan di DKI Jakarta;
4) Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Pasar Kemis dan
Kecamatan Cikupa di Kabupaten Tangerang.
Diantara ke-13 kecamatan, Kecamatan Larangan merupakan
kecamatan terjauh dari Ibukota Tangerang (sekitar 14 km) dan
Kecamatan Tangerang merupakan kecamatan terdekat dari Ibukota
Tangerang. Jarak paling jauh antar kecamatan adalah antara Kecamatan
Larangan dengan Kecamatan Benda yaitu sekitar 21 km dan Jarak paling
dekat antar kecamatan adalah antara Kecamatan Cibodas dengan
Kecamatan Jatiuwung yaitu sekitar 1 km. Untuk lebih jelasnya, gambaran
kondisi geografis Kota Tangerang bisa dilihat pada gambar 4.1

34

Gambar 4.1
Peta Administrasi Wilayah Kota Tangerang

Sumber: Dinas Tata Kota, 2014


3. Pariwisata Kota Tangerang
Kota Tangerang memiliki beberapa lokasi objek wisata, baik wisata
alam, wisata budaya, maupun wisata rohani. Kota Tangerang memiliki 12
objek wisata yang dikelompokkan menjadi Objek Wisata Alam, Budaya,
Kuliner dan Rekreasi dimana diantaranya ada 4 objek wisata unggulan yang
pengembangan dan pengelolaannya dibina dan didampingi Pemerintah Kota
Tangerang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang.
Keempat objek wisata unggulan tersebut adalah Kawasan wisata Sungai
Cisadane, Benteng Heritage ( Rumah Arsitektur Cina ), Mesjid Jami' dan

35

Makam Kalipasir, Kawasan Kuliner Laksa Tangerang. Potensi pariwisata di


Kota Medan dapat terlihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1
Destinasi Wisata dan Persebarannya di Wilayah Kota Tangerang
NO

Nama Objek Wisata

Jenis

.
1.

Obyek Lokasi

Wisata
Kawasan

wisata

Sungai Rekreasi

Sungai Cisadane

Cisadane
2.

Kawasan wisata Situ Cipondoh

Rekreasi

Kec.

Cipondoh

dan Kec. Pinang


3.

Kawasan wisata Situ Bulakan

4.

Kawasan

kampung

Pinang
5.

Rekreasi

Kec. Periuk

wisata Rekreasi

/ Kec. Pinang

Edukatif

Kawasan

agrowisata

Tengah

Karang Rekreasi
Edukatif

6.

Mesjid Raya Al-A'zhom

7.

Kawasan

Kuliner

Karang

Tengah
Kec. Tangerang

Laksa Kuliner

Tangerang
8.

/ Kec.

Kel.

Babakan

Kec. Tangerang

Bendungan Pasar Baru

Rekreasi

Jl. KS. Tubun Koang Jaya, Kec.


Karawaci

9.

Mesjid

Jami'

dan

Makam Budaya / Sejarah

Kampung

36

Kalipasir

Kalipasir,

kel.

Sukasari - Kec.
Tangerang
10.

Klenteng Boen San Bio

Budaya / Sejarah

Jl.

KS.

Tubun

No.43. Kel. Pasar


Baru,

Kec.

Karawaci
11.

Benteng

Heritage

Rumah Budaya / Sejarah

Arsitektur Cina )

Jl. KS. Tubun Koang Jaya, Kec.


Karawaci

12.

Lapas Anak Pria Tangerang

Budaya / Sejarah

Jln. Daan Mogot


No.

29C,

Kec.

Tangerang
Sumber : Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan, dan Pariwisata ( 2014 )
Kepariwisataan Kota Tangerang memiliki potensi obyek dan daya tarik
wisata baik alam maupun budaya. Keberadaan alam yang saat ini mendukung
Kota Tangerang adalah Sungai Cisadane, Situ Cipondoh, Situ Bulakan dan
Hutan Kota yang tumbuh dengan asri baik di sepanjang Sungai Cisadane
maupun di pusat pusat kota, telah memberikan kesejukan dan menangkal
kebisingan dan hiruk pikuk kota.
Sungai Cisadane, Situ Cipondoh dan Situ Bulakan saat ini masih belum
dimanfaatkan secara optimal sebagai daya tarik wisata. Sungai Cisadane lebih
cenderung menjadi hiasan Kota Tangerang dan belum dapat memberikan

37

warna pariwisata. Wisatawan yang datang ke Kota Tangerang lebih banyak


melakukan bisnis, ritual, olahraga dan pertemuan / Konferensi / seminar
ketimbang untuk berekreasi. Daya tarik wisata yang terdapat di Kota
Tangerang antara lain Situ Cipondoh, Situ Bulakan, pusat tanaman hias di
kecamatan Karang Tengah, pintu air Sepuluh dan pusat perbelanjaan.
Disamping itu Kota Tangerang memiliki objek dan daya tarik wisata
religi dan budaya seperti Mesjid kuno Kali Pasir, Mesjid Pintu Seribu, Mesjid
Raya Al-Azhom , Kelenteng Boen Tek Bio (1684) dan Kelenteng Boen San
Bio (1689) sebagai tempat ritual bagi umat Budha dan Konghucu. Kedua
kelenteng tersebut merupakan kelenteng tertua di Provinsi Banten. Pada saat
acara keagamaan, para penganut agama Budha dan umat Konghucu banyak
yang datang ke Kota Tangerang dari berbagai kota di Indonesia.
Kota Tangerang memiliki sarana olahraga yang cukup besar dan modern
yaitu Padang Golf Modern Land dan Padang Golf Cengkareng. Padang Golf
Modern Land dapat digunakan untuk kegiatan bermain golf pada malam hari
yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti kolam renang, sauna, Jacuzzi
dan fasilitas restaurant dan fasilitas olahraga lainnya. Kedua lapang golf ini
telah menarik banyak pengunjung baik Nusantara maupun Mancanegara
terutama pada saat diselenggarakan turnamen / pertandingan baik yang bersifat
Nasional maupun Internasional.
Perkembangan industri pariwisata di Kota Tangerang lebih di dominasi
oleh usaha restaurant, rumah makan, hotel baik bintang maupun non bintang.

38

Jumlah hotel berbintang di Kota Tangerang tahun 2014 sebanyak 5 hotel


bintang yaitu hotel bintang lima 1 hotel, bintang empat 1 hotel dan hotel
bintang tiga sebanyak 3 hotel sedangkan hotel non bintang / melati sebanyak
17 hotel. Restaurant berkembang di pusat kota dengan menyajikan masakan
Indonesia dan masakan khas daerah serta restaurant siap saji / fast food seperti
Kentucky Fried Chicken (KFC), Mc Donald. Kota Tangerang memiliki
beberapa usaha perjalanan wisata terutama usaha perjalanan yang mengatur
perjalanan haji.
Kesenian khas Kota Tangerang adalah Cokek, music Gambang
Kromong, Lenong, Rebana, Tanjidor, Ketimpring dan Marwis. Beberapa jenis
kesenian Kota Tangerang banyak dipengaruhi oleh seni masyarakat etnis
Tionghoa seperti Cokek, Barongsai, Gambang Kromong.
Kota Tangerang memiliki beberapa pagelaran kesenian yang sering
dipertunjukan dalam festival Cisadane yang diisi pula dengan berbagai
kegiatan olah raga, penampilan aneka masakan khas Kota Tangerang seperti
Sayur Besan, Laksa, Gecom, Sayur Gabus, Pindang Bandeng, Kecap Benteng,
Dodol dan Cinderamata Kota Tangerang dalam bentuk kerajinan tangan yang
terbuat dari eceng gondok serta pelepah pisang dan yang lain terbuat dari daun
pandan serta bambu. Obyek-obyek wisata tersebut perlu dikelola dengan
profesional sehingga bukan hanya mencapai tujuan-tujuan ekonomis seperti
meningkatkan arus kunjungan wisatawan, tetapi juga dapat memelihara cagar
budaya dan sejarah yang sangat penting dalam perkembangan Kota Tangerang.
Selain itu, Kota Tangerang juga memiliki berbagai tempat dan agenda budaya

39

yang jika dikelola lebih baik akan mendatangkan arus wisatawan dan
mendorong perekonomian wilayah, serta akan meningkatkan apresiasi
masyarakat terhadap pariwisata, seni, dan budaya, serta akan memperkokoh
karakter dan jati diri masyarakat Kota Tangerang.
4. Aksesbilitas
Pola pengembangan jalan dan pola pengembangan transportasi di Kota
Tangerang akan berpengaruh kepada pola perjalanan wisata yang akan menuju
ke daerah tujuan wisata di Kota Tangerang. Di samping itu, akan berpengaruh
pula kepada pola penyusunan program/itinerary tour dan paket wisata.
Meskipun Kota Tangerang belum memiliki obyek dan daya tarik wisata
unggulan, namun di masa yang akan datang Kota Tangerang akan menjadi
daerah tujuan wisata yang memiliki beberapa kawasan wisata yang diharapkan
dapat berkembang dan dibangun baik oleh usaha swasta, usaha masyarakat dan
usaha pemerintah.
Pembangunan dan pengembangan kawasan wisata, perlu disertai dengan
perencanaan pola jalan, pola transportasi dan pola pelayanan terminal. Ketiga
unsur tersebut saling berkaitan menunjang dalam kemudahan pelayanan kepada
para wisatawan yang datang ke Kota Tangerang dari berbagai arah.
Kedatangan wisatawan baik dari Jakarta, Kota Kabupaten bertetangga yaitu
Bogor, Serang, Pandeglang, Rangkasbitung maupun kedatangan wisatawan
dari Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta. Bahkan dari sisi regional,
Kota Tangerang adalah pintu gerbang masuknya para pengguna jalan yang
akan memasuki Provinsi Banten dengan sekaligus merupakan pintu gerbang

40

kedatangan wisatawan yang akan mengadakan perjalanan ke daerah tujuan


wisata Provinsi Banten.
Posisi strategis dari Kota Tangerang ini, perlu ditunjang dengan
kemudahan para wisatawan untuk memasuki Kota Tangerang baik untuk
tujuan perjalanan wisata maupun tujuan bisnis. Kemudahan memasuki satu
kota adalah dasar kuat untuk meningkatkan citra satu kota, seperti Kota
Tangerang perlu ditata jalur masuk kota yang mudah dilalui oleh para
pengguna jalan atau mereka yang akan berwisata ke Kota Tangerang.
Dilintasi oleh jalur transportasi darat bebas hambatan Jakarta-Merak
sepanjang 100 Km yang menghubungkan penduduk Pulau Jawa dan Pulau
Sumatra. Dengan jalur tol tersebut jarak antara Jakarta-Kota Tangerang
sepanjang 30 Km dapat ditempuh sekitar 20 menit. Kini dilengkapi dengan
armada buslane melayani rute Terminal Poris Plawad Kota Tangerang menuju
Terminal Kalideres Jakarta Barat.
Dilengkapi pula dengan tiga ruas jalan Negara sepanjang 16,85 Km, jalan
provinsi sebanyak tujuh ruas sepanjang 25,10 Km sebanyak 247 ruas jalan kota
sepanjang 335,26 Km. Titik-titik rawan kemacetan di beberapa ruas jalan telah
dilakukan pelebaran serta dibangun fly over dan underpass di persimpangan
Jalan Jend. Sudirman dan Jalan MH Thamrin.

41

B. Analisis dan Pembahasan


1. Analisis Produk Moment
a. Analisis Produk moment Variabel Wisatawan ( X ) dan Variabel
Retribusi ( Y1 )
Untuk melihat hasil olah data produk moment antara Variabel Wisatawan
( X ) dan Variabel Retribusi ( Y1 ), akan terlihat hasilnya di dalam tabel di
bawah ini :
Tabel 4.2.
Hasil Korelasi Produk Moment Variabel Wisatawan dan Retribusi
Correlations

Wisatawan

Wisatawan

retribusi

.141

Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N

retribusi

.821
5

.141

Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)

.821

Pada hasil output spss di atas terlihat Korelasi antara variable jumlah
wisatawan dan retribusi adalah positif, rendah, dan tidak signifikan. Angka
koefesien korelasi hasilnya positif, yaitu 0,141. Rendah artinya nilai
variabel mendekati 0 yang dalam hitungan statistik besar korelasi adalah

42

0,141. Tidak signifikan artinya hubungan kedua

variabel karena nilai

signifikan 0,821 > nilai probabilitas 0,05. Maka Ho diterima yang berarti
tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel Wisatawan dengan
variabel Retribusi.
Jumlah wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata yang terdapat di
Kota Tangerang akan berpengaruh terhadap penerimaan retribusi obyek
wisata di Kota Tangerang. Semakin banyak wisatawan baik domestik
maupun mancanegara yang berkunjung ke obyek wisata akan meningkatkan
penerimaan retribusi obyek wisata yang terdapat di Kota Tangerang.
Berdasarkan analisis yang dilakukan bahwa jumlah kunjungan wisatawan
berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap retribusi obyek wisata.
Nilai koefisien korelasi sebesar 0,141 menunjukan pengaruh tersebut sangat
lemah, Hal ini menunjukan jumlah kunjungan wisatawan memiliki
hubungan yang positif dan berpengaruh tidak signifikan terhadap
penerimaan retribusi destinasi wisata atau dapat ditafsirkan secara teoritis
bahwa penerimaan retribusi destinasi wisata akan meningkat jika jumlah
kunjungan wisatawan ke destinasi wisata di Kota Tangerang meningkat.
b. Analisis Produk moment Variabel Wisatawan ( X ) dan Variabel
PAD ( Y2 )
Untuk melihat hasil olah data produk moment antara Variabel Wisatawan
( X1 ) dan Variabel PAD ( X3 ), akan terlihat hasilnya di dalam tabel di
bawah ini :

43

Tabel 4.3
Hasil Korelasi Produk Moment Variabel Wisatawan dan Variabel
PAD
Correlations

Wisatawan PAD

Wisatawan Pearson
1

-.535

Correlation

Sig. (2-tailed)

PAD

.353

-.535

Pearson
Correlation

Sig. (2-tailed)

.353

Pada hasil output spss di atas terlihat korelasi dari variabel wisatawan
dan PAD adalah negatif, rendah, tidak signifikan. Angka koefisien korelasi
hasilnya negatif yaitu - 0,535; maka korelasi kedua variable bersifat tidak
searah. Rendah karena mendekati 0 dalam hitungan statistik dan besar
korelasi adalah -0.535. Tidak signifikan hubungan kedua variabel karena
nilai signifikan 0.353 > nilai probabilitas 0,05. Maka Ho ditolak artinya
hubungan antara variabel wisatawan
bepengaruh secara signifikan.

( X1 ) dan variabel PAD ( X3 ) tidak

44

Usaha peningkatan pendapatan asli daerah melalui jumlah kunjungan


wisatawan ke destinasi wisata di Kota Tangerang yang secara langsung akan
memberikan kontribusi terhadap penerimaan retribusi obyek wisata itu
sendiri, sehingga nantinya akan meningkatkan pendapatan asli daerah
(PAD) dan juga akan mempengaruhi kegiatan perekonomian masyarakat
sekitarnya. Analisisis yang dilakukan bahwa jumlah kunjungan wisatawan
berpengaruh negatif dan berpengaruh tidak signifikan terhadap pendapatan
asli daerah. Nilai koefisien korelasi jumlah kunjungan wisatawan sebesar
0,535 menunjukan variabel jumlah kunjungan wisatawan memiliki
hubungan yang negatif terhadap pendapatan asli daerah atau dapat
ditafsirkan secara teoritis walaupun pendapatan asli daerah meningkat
sedangkan jumlah kunjungan wisatawan ke obyek wisata di Kota Tangerang
menurun. Hal itu disebabkan penerimaan PAD berasal bukan hanya melalui
sektor pariwisata tetapi dari sektor industri yang telah lama menjadi andalan
pemasukan Kota Tangerang.
c. Analisis Produk moment Variabel Wisatawan ( X ) dan Variabel
Anggaran ( Y3 )
Untuk melihat hasil olah data produk moment antara Variabel Wisatawan
( X ) dan Variabel Anggaran ( Y3 ), akan terlihat hasilnya di dalam tabel di
bawah ini :

45

Tabel 4.4
Hasil Korelasi Produk Moment Variabel Wisatawan dan Variabel
Anggaran
Correlations

Wisatawan

Pearson Correlation

Wisatawan

anggaran

-.696

Sig. (2-tailed)

anggaran

.192

Pearson Correlation

-.696

Sig. (2-tailed)

.192

Pada hasil output spss di atas terlihat korelasi dari variabel wisatawan
dan Anggaran adalah memiliki hubungan negatif, rendah, dan tidak
signifikan. Angka koefisien korelasi hasilnya negatif yaitu -0,696. Artinya
ketika jumlah Wisatawan naik maka jumlah anggaran naik. Rendah karena
mendekati 0 dalam hitungan statistik dan besar korelasi adalah -0,696.
Tidak signifikan hubungan kedua variabel karena nilai signifikan 0.192 >
nilai probabilitas 0,05.

Maka Ho diterima artinya tidak ada hubungan

signifikan antara variabel wisatawan ( X ) dan variabel anggaran ( Y3 ).


Kunjungan wisatawan ke destinasi wisata di Kota Tangerang akan
memberikan

pengaruh

langsung

terhadap

retribusi

obyek

wisata.

Peningkatan retribusi destinasi wisata akan meningkatkan pendapatan asli

46

daerah Kota Tangerang. Meningkatnya pendapatan asli daerah diharapkan


akan meningkatkan alokasi anggaran pembangunan Kota Tangerang.
Analisis korelasi pengaruh jumlah kunjungan wisatawan terhadap anggaran
pembangunan yang dilakukan tidak menunjukan hubungan yang signifikan.
Hal ini berarti bahwa jumlah kunjungan wisatawan tidak berpengaruh
langsung secara signifikan terhadap anggaran pembangunan.
Tidak signifikannya pengaruh jumlah kunjungan wisatawan terhadap
anggaran

pembangunan

disebabkan

oleh

kecilnya

kontribusi

atau

sumbangan retribusi destinasi wisata terhadap pendapatan asli daerah (PAD)


sehingga berpengaruh terhadap anggaran pembangunan.
Berdasarkan data dokumen jumlah wisatawan dalam 5 tahun terakhir
mengalami kenaikan dan penurunan yang apabila hal ini tidak dicermati
oleh Pemerintah Kota Tangerang melalui Disporparekraf Kota Tangerang
akan membuat kontribusi dari retribusi destinasi wisata mengalami
penurunan. Hal tersebut akan mempengaruhi kontribusi sektor pariwisata
terhadap PAD Kota Tangerang menjadi kecil. Sehingga jumlah pemasukan
untuk alokasi pembangunan terutama di sektor pariwisata menjadi kecil.
Apabila hal ini dibiarkan terus akan membuat sektor pariwisata tidak
akan menjadi sektor andalan Pemerintah Kota Tangerang selain sektor
industri yang selama ini menjadi andalan utama pemasukan daerah. Dengan
begitu tentunya akan membuat Pemerintah Kota Tangerang akan beralih

47

kepada sektor yang lain untuk menggantikan sektor pariwisata yang lebih
menjanjikan untuk dijadikan andalan pemasukan daerah.
d. Analisis Produk moment Simultan Antara Variabel Wisatawan (X),
terhadap Variabel Retribusi (Y1), Variabel PAD (Y2) Variabel
Anggaran (Y3)
Untuk melihat hasil olah data produk moment antara Variabel Wisatawan
terhadap Variabel Retribusi, Variabel PAD, Variabel Anggaran, akan
terlihat hasilnya di dalam tabel di bawah ini :
Tabel 4.5
Hasil Korelasi Produk Moment Variabel Wisatawan terhadap
Variabel Retribusi, Variabel PAD dan Variabel Anggaran
Correlations

Wisatawan
Wisatawan

Pearson Correlation

total
1

Sig. (2-tailed)

N
total

Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)

-.496
.395

-.496

.395
5

Pada hasil output spss di atas terlihat korelasi dari variabel wisatawan,
terhadap variabel total ( variabel retribusi, variabel PAD dan variabel
Anggaran) adalah memiliki hubungan negatif, rendah, dan tidak signifikan.

48

Angka koefisien korelasi hasilnya negatif yaitu 0,496. Rendah karena


mendekati 0 dalam hitungan statistik dan besar korelasi adalah 0,496.
Tidak signifikan hubungan kedua variabel karena nilai signifikan 0.395 >
nilai probabilitas 0,05. Tidak signifikannya pengaruh jumlah kunjungan
wisatawan terhadap retribusi, PAD dan anggaran disebabkan oleh kecilnya
kontribusi atau sumbangan retribusi destinasi wisata terhadap pendapatan
asli daerah (PAD) sehingga berpengaruh terhadap anggaran pembangunan.
Berdasarkan data dokumen jumlah wisatawan dalam 5 tahun terakhir
mengalami kenaikan dan penurunan yang apabila hal ini tidak dicermati
oleh Pemerintah Kota Tangerang melalui Disporparekraf Kota Tangerang
akan membuat kontribusi dari retribusi destinasi wisata mengalami
penurunan. Hal tersebut akan mempengaruhi kontribusi sektor pariwisata
terhadap PAD Kota Tangerang menjadi kecil. Sehingga jumlah pemasukan
untuk alokasi pembangunan terutama di sektor pariwisata menjadi kecil.
Apabila hal ini dibiarkan terus akan membuat sektor pariwisata tidak
akan menjadi sektor andalan Pemerintah Kota Tangerang selain sektor
industri yang selama ini menjadi andalan utama pemasukan daerah. Dengan
begitu tentunya akan membuat Pemerintah Kota Tangerang akan beralih
kepada sektor yang lain untuk menggantikan sektor pariwisata yang lebih
menjanjikan untuk dijadikan andalan pemasukan daerah.

49

2. Analisis Parsial
a. Analisis Parsial Variabel Retribusi dan Variabel PAD sebagai
variabel kontrol dengan Variabel Wisatawan dan Anggaran
Untuk melihat hasil olah data analisis parsial antara Variabel Retribusi
dan Variabel PAD yang berfungsi sebagai variabel kontrol dengan Variabel
Wisatawan dan Anggaran, akan terlihat hasilnya di dalam tabel di bawah
ini:
Tabel 4.6
Hasil olah data analisis parsial antara Variabel Retribusi dan
Variabel PAD yang berfungsi sebagai variabel kontrol terhadap
Variabel Wisatawan dan Anggaran
Correlations
Control Variables
Retribusi & PAD

Wisatawan
Wisatawan

Anggaran

Correlation

Anggaran

1.000

-.735

Significance (2-tailed)

.474

df

-.735

1.000

.474

Correlation
Significance (2-tailed)
df

Pada hasil output spss di atas terlihat bahwa variabel Retribusi dan
variabel PAD sebagai variabel kontrol terhadap variabel Wisatawan dan
variabel Anggaran memiliki hubungan negatif, rendah, dan tidak signifikan.
Angka analisis parsial hasilnya negatif yaitu - 0,735. Rendah karena
mendekati 0 dalam hitungan statistik dan besar korelasi adalah 0.474. Tidak

50

signifikan hubungan kedua variabel karena nilai signifikan 0.474 > nilai
probabilitas 0,05. Maka Ho diterima artinya tidak ada hubungan signifikan
antara variabel Retribusi dan variabel PAD sebagai variabel kontrol
terhadap variabel Wisatawan dan variabel Anggaran.
Kunjungan wisatawan ke destinasi wisata di Kota Tangerang akan
memberikan

pengaruh

langsung

terhadap

retribusi

obyek

wisata.

Peningkatan retribusi destinasi wisata akan meningkatkan pendapatan asli


daerah Kota Tangerang. Meningkatnya pendapatan asli daerah diharapkan
akan meningkatkan alokasi anggaran pembangunan Kota Tangerang.
Analisis parsial antara variabel Retribusi dan variabel PAD sebagai variabel
kontrol terhadap variabel Wisatawan dan variabel Anggaran yang dilakukan
tidak menunjukan hubungan yang signifikan. Hal ini berarti bahwa jumlah
kunjungan wisatawan tidak berpengaruh langsung secara signifikan
terhadap anggaran pembangunan.
Tidak signifikannya pengaruh jumlah kunjungan wisatawan terhadap
anggaran

pembangunan

disebabkan

oleh

kecilnya

kontribusi

atau

sumbangan retribusi destinasi wisata terhadap pendapatan asli daerah (PAD)


sehingga berpengaruh terhadap anggaran pembangunan.
Berdasarkan data dokumen jumlah wisatawan dalam 5 tahun terakhir
mengalami kenaikan dan penurunan yang apabila hal ini tidak dicermati
oleh Pemerintah Kota Tangerang melalui Disporparekraf Kota Tangerang
akan membuat kontribusi dari retribusi destinasi wisata mengalami

51

penurunan. Hal tersebut akan mempengaruhi kontribusi sektor pariwisata


terhadap PAD Kota Tangerang menjadi kecil. Sehingga jumlah pemasukan
untuk alokasi pembangunan terutama di sektor pariwisata menjadi kecil.
b. Analisis Parsial Variabel

PAD dan Variabel Wisatawan sebagai

variabel kontrol dengan Variabel Retribusi dan Anggaran


Untuk melihat hasil olah data analisis parsial antara Variabel PAD
dan Variabel Wisatawan yang berfungsi sebagai variabel kontrol dengan
Variabel Retribusi dan Anggaran, akan terlihat hasilnya di dalam tabel di
bawah ini :
Tabel 4.7
Hasil olah data analisis parsial antara Variabel PAD dan Variabel
Wisatawan yang berfungsi sebagai variabel kontrol dengan Variabel
Retribusi dan Anggaran

Control Variables
PAD & Wisatawan

Anggaran
Anggaran

Retribusi

Retribusi

Correlation
1.000

.599

Significance (2-tailed)

.591

df

Correlation

.599

1.000

Significance (2-tailed)

.591

df

Pada hasil output spss di atas terlihat bahwa Variabel PAD dan Variabel
Wisatawan yang berfungsi sebagai variabel kontrol dengan Variabel

52

Retribusi

dan Anggaran memiliki hubungan positif, rendah, dan tidak

signifikan. Angka analisis parsial hasilnya positif yaitu 0,599. Rendah


karena mendekati 0 dalam hitungan statistik dan besar korelasi adalah 0.591.
Tidak signifikan hubungan kedua variabel karena nilai signifikan 0.591 >
nilai probabilitas 0,05. Maka Ho diterima artinya tidak ada hubungan
signifikan antara variabel PAD dan Variabel Wisatawan yang berfungsi
sebagai variabel kontrol terhadap Variabel Retribusi Variabel Wisatawan
dan Anggaran.
Hal ini berarti apabila jumlah variabel wisatawan dan variabel PAD yang
didapat akan meningkatkan jumlah variabel retribusi dan PAD Kota
Tangerang. Sehingga sektor pariwisata dapat menjadi pendongkrak PAD
untuk kedepannya. Hal itu juga akan meningkatkan anggaran pembangunan
terutama pembangunan seluruh destinasi wisata yang dimiliki Kota
Tangerang.
Pemerintah Kota Tangerang dituntut untuk selalu berinovasi dalam upaya
menarik jumlah wisatawan dengan harapan jumlah wisatawan yang
berkunjung selalu meningkat dan tentunya akan meningkat retribusi bagi
daerah sehingga keinginan Pemerintah Kota Tangerang untuk menjadikan
sektor pariwisata sebagai andalan sumber pemasukan daerah selain dari
sektor industri yang selama ini menjadi andalan utama akan menjadi
kenyataan.

53

Inovasi yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangerang salah


satunya adalah melakukan promosi yang gencar dengan memperkenalkan
destinasi wisata yang ada di Kota Tangerang melalui media internet, bekerja
sama dengan stakeholder bidang pariwisata.
c. Analisis Parsial Variabel

Retribusi dan Variabel Wisatawan

sebagai variabel kontrol terahadap Variabel PAD dan Anggaran


Untuk melihat hasil olah data analisis parsial antara Variabel Retribusi
dan Variabel Wisatawan yang berfungsi sebagai variabel kontrol terahadap
Variabel PAD dan Anggaran, akan terlihat hasilnya di dalam tabel di bawah
ini :
Tabel 4.8
Hasil olah data analisis parsial antara Variabel Retribusi dan
Variabel Wisatawan yang berfungsi sebagai variabel kontrol terahdap
Variabel PAD dan Anggaran
Correlations
Control Variables
Wisatawan & Retribusi

Anggaran
Anggaran

PAD

Correlation

PAD

1.000

-.475

Significance (2-tailed)

.685

df

-.475

1.000

.685

Correlation
Significance (2-tailed)
df

Pada hasil output spss di atas terlihat bahwa Variabel Retribusi dan
Variabel Wisatawan yang berfungsi sebagai variabel kontrol terhadap

54

Variabel PAD dan Anggaran memiliki hubungan negatif, rendah, dan tidak
signifikan. Angka analisis parsial hasilnya negatif yaitu 0,475. Rendah
karena mendekati 0 dalam hitungan statistik dan besar korelasi adalah 0.685.
Tidak signifikan hubungan kedua variabel karena nilai signifikan 0.685 >
nilai probabilitas 0,05. Maka Ho diterima artinya tidak ada hubungan
signifikan antara Variabel

Retribusi dan Variabel Wisatawan yang

berfungsi sebagai variabel kontrol terahadap Variabel PAD dan Anggaran.


Usaha peningkatan pendapatan asli daerah melalui jumlah kunjungan
wisatawan ke destinasi wisata di Kota Tangerang yang secara langsung akan
memberikan kontribusi terhadap penerimaan retribusi destinasi wisata itu
sendiri, sehingga nantinya akan meningkatkan pendapatan asli daerah
(PAD) dan juga akan mempengaruhi kegiatan perekonomian masyarakat
sekitarnya. Analisis yang dilakukan bahwa jumlah kunjungan wisatawan
berpengaruh negatif dan berpengaruh tidak signifikan terhadap pendapatan
asli daerah. Nilai koefisien korelasi jumlah kunjungan wisatawan sebesar
0,475 menunjukan variabel jumlah kunjungan wisatawan memiliki
hubungan yang negatif terhadap pendapatan asli daerah atau dapat
ditafsirkan secara teoritis walaupun pendapatan asli daerah meningkat
sedangkan jumlah kunjungan wisatawan ke obyek wisata di Kota Tangerang
menurun. Hal itu disebabkan penerimaan PAD berasal bukan hanya melalui
sektor pariwisata tetapi dari sektor industri yang telah lama menjadi andalan
pemasukan Kota Tangerang.

55

Berdasarkan data dokumen jumlah wisatawan dalam 5 tahun terakhir


mengalami kenaikan dan penurunan yang apabila hal ini tidak dicermati
oleh Pemerintah Kota Tangerang melalui Disporparekraf Kota Tangerang
akan membuat kontribusi dari retribusi destinasi wisata mengalami
penurunan. Hal tersebut akan mempengaruhi kontribusi sektor pariwisata
terhadap PAD Kota Tangerang menjadi kecil. Sehingga jumlah pemasukan
untuk alokasi pembangunan terutama di sektor pariwisata menjadi kecil.
Apabila hal ini dibiarkan terus akan membuat sektor pariwisata tidak
akan menjadi sektor andalan Pemerintah Kota Tangerang selain sektor
industri yang selama ini menjadi andalan utama pemasukan daerah. Dengan
begitu tentunya akan membuat Pemerintah Kota Tangerang akan beralih
kepada sektor yang lain untuk menggantikan sektor pariwisata yang lebih
menjanjikan untuk dijadikan andalan pemasukan daerah.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan sebagaimana telah diuraikan
terdahulu, maka kesimpulan yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut.
1.

Jumlah wisatawan secara langsung berpengaruh positif terhadap jumlah


retribusi yaitu 0,141 sehingga bertambahnya jumlah wisatawan akan
meningkatkan penerimaan retribusi destinasi wisata.

2.

Jumlah wisatawan secara langsung berpengaruh negatif terhadap PAD


yaitu - 0,535 sehingga bertambahnya jumlah wisatawan belum tentu akan
meningkatkan PAD karena kecilnya kontribusi dari penerimaan retribusi
yang berasal dari sektor pariwisata.

3.

Jumlah wisatawan secara langsung berpengaruh negatif terhadap anggaran


pembangunan yaitu -0,696. Walaupun jumlah wisatawan meningkat belum
tentu akan meningkatkan jumlah anggaran pembangunan dikarenakan
kecilnya pendapatan yang diterima dari pungutan retribusi destinasi
wisata.

4.

Jumlah wisatawan secara langsung berpengaruh negatif terhadap


Retribusi, PAD dan Variabel anggaran pembangunan yaitu 0,496. Hal
ini dikarenakan belum dimanfaatkannya potensi wisata yang ada di Kota
Tangerang sebagai salah satu penerimaan daerah secara optimal.

56

57

B. Saran
1. Pemerintah Kota Tangerang harus lebih meningkatkan fasilitas dan
perawatan destinasi wisata.
2. Pemerintah Kota Tangerang dapat menciptakan wisata baru untuk
menambah pemasukan daerah.
3. Dinas Pariwisata atau pengelola harus memiliki data lengkap tentang catatan
pemasukan di destinasi wisata.
4. Perwujudan dari RIPPDA harus benar benar terwujud.

DAFTAR PUSTAKA

Bawazier, Said dan Jati P. Sitanggang, 1994, Memilih Saham Untuk Portofolio
Optimal, Usahawan Tahun XXIII, No.1, Januari, hal 34-40.
Kesrul, M. 2003. Penyelenggarakan Operasi Perjalanan Wisata. Jakarta:
Grasindo.
Koho. 2001. Prospek Otonomi Daerah di Negara RI. Cetakan ke 5 PT. Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
Koswara, E, 2000. Menyongsong Pelaksanaan Otonomi Daerah Berdasarkan
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999; Suatu Telaahan Menyangkut
Kebijaksanaan, Pelaksanaan dan Kompleksitasnya, Analisis CSIS Tahun
XXIX/2000, No. 1,36 53. Kunarjo. 1996. Perencanaan dan Pembiayaan.
Mahi. 2000. Prospek Desentralisasi di Indonesia ditinjau Dari Segi Pemerataan
Antar Daerah dan Peningkatan Efesiensi Analisis CSI 8 Tahun XXIX/2000
Nomor I, 55 66.
Mardiasmo. 2002. Perhitungan Potensi Pajak Dan Retribusi Daerah Di
Kabupaten Magelang, Laporan Akhir, Kerjasama Pemerintah Daerah
Kabupaten Magelang dengan Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Maulana, Addin. 2014. Strategi Pengembangan Wisata Spiritual di Kabupaten
Badung, Provinsi Bali. Jurnal Kepariwisataan Indonesia. Edisi Juni 2014, Vol.
9, No. 2.
Nyoman S. Pendit. 2006. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta:
PT Pradnya Paramita.
Pitana, IG & Diarta, IKS 2009, Pengantar Ilmu Pariwisata, penerbit Andi,
Yogyakarta.
Sedarmayanti. 2014. Membangun dan Mengembangkan Kebudayaan Industri
Pariwisata.Bandung: PT Refika Aditama.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung:
Alfabeta.
Salah Wahab. 2003. Industri Pariwisata Dan Peluang Kesempatan Kerja, PT.
Pertja Jakarta.

58

59

Undang-Undang
Instruksi Presiden Nomor 13 Tahun 1976 tentang Pengembangan Jabotabek
(Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi ).
Peraturan Mentri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 Tentang Retribusi Daerah.
Perpres No. 54 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor,
Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur.
Republik Indonesia, 1999, Undang-Undang Otonomi Daerah, Kuraiko Pratama
Bandung.
Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Citra
Umbara, Bandung.
Undang Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 Tentang
Kepariwisataan.
Undang Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Primbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, Citra Umbara, Bandung.
Undang-Undang Nomor 2, Tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II
Tangerang.
Undang-Undang Nomor 34, Tahun 2000 Tentang Perubahan Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Correlations

Wisatawan

Pearson Correlation

Wisatawan

retribusi

.141

Sig. (2-tailed)

retribusi

.821

Pearson Correlation

.141

Sig. (2-tailed)

.821

Correlations

Wisatawan

Pearson Correlation

Wisatawan

anggaran

-.696

Sig. (2-tailed)

anggaran

.192

Pearson Correlation

-.696

Sig. (2-tailed)

.192

Correlations

retribusi

Pearson Correlation

retribusi

PAD

.700

Sig. (2-tailed)

PAD

.188

Pearson Correlation

.700

Sig. (2-tailed)

.188

Correlations

Wisatawan

Pearson Correlation

Wisatawan

PAD

-.535

Sig. (2-tailed)

PAD

.353

Pearson Correlation

-.535

Sig. (2-tailed)

.353

Correlations

retribusi

Pearson Correlation

retribusi

anggaran

.259

Sig. (2-tailed)

anggaran

.674

Pearson Correlation

.259

Sig. (2-tailed)

.674

Correlations

PAD

Pearson Correlation

PAD

anggaran

.562

Sig. (2-tailed)

anggaran

.324

Pearson Correlation

.562

Sig. (2-tailed)

.324

Correlations

Anggaran

Pearson Correlation

Anggaran

Total

.551

Sig. (2-tailed)

Total

.336

Pearson Correlation

.551

Sig. (2-tailed)

.336

Correlations
Control Variables
Retribusi & PAD

Wisatawan
Wisatawan

Anggaran

Correlation

Anggaran

1.000

-.735

Significance (2-tailed)

.474

df

-.735

1.000

.474

Correlation
Significance (2-tailed)
df

Correlations
Control Variables
PAD & Wisatawan

Anggaran
Anggaran

Retribusi

Correlation

Retribusi

1.000

.599

Significance (2-tailed)

.591

df

Correlation

.599

1.000

Significance (2-tailed)

.591

df

Correlations
Control Variables
Wisatawan & Retribusi

Anggaran
Anggaran

PAD

Correlation

PAD

1.000

-.475

Significance (2-tailed)

.685

df

-.475

1.000

.685

Correlation
Significance (2-tailed)
df

DATA PRIBADI
NAMA

: THOMAS EDY RAHARDJO

TEMPAT / TANGGAL LAHIR

: DUMAI / 08 JANUARI 1987

STATUS PERKAWINAN

: BELUM MENIKAH

NOMOR INDUK MAHASISWA

: 511100077

ALAMAT ASAL

: PERUM TERATAI GRIYA ASRI BLOK


F3/12 LEGOK, KAB.TANGERANG

ASAL SLTA / TAHUN

: SMA NEGERI 2 DUMAI / 2005

NAMA ORANG TUA

: TULUS

NOMOR TELEPHONE

: 081365349539

DOSEN PEMBIMBING
1. MATERI
2. PENULISAN
PEMBIMBING AKADEMIK

: Drs. Santoso, MM
: Mona Erythrea Nur Islami, Sip
: Drs. Santoso, MM

JUDUL LAPORAN

: Pengaruh Jumlah Kunjungan Wisatawan


Terhadap Penerimaan Retribusi Wisata,
Pendapatan Asli Daerah Terhadap
Anggaran Pembangunan Kota Tangerang

INDEKS PRESTASI

: 3.23