Anda di halaman 1dari 7

PENGAUDITAN DAN ATESTASI

Nama Anggota Kelompok :


Danny Indi P (1406514984)
Fransiska ( xxx)
Dian Permata Sari (1406515021)
Naida Nur Alfisyahri (1406515274)

MAGISTER AKUNTASI FAKULTAS EKONOMI


UNIVERSITAS INDONESIA
APRIL 2015

Statement of Authorship

Kami yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah
murni hasil pekerjaan saya/kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya/kami
gunakan tanpa menyebut sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada
mata ajaran lain, kecuali kami menyatakan dengan jelas bahwa kami menggunakannya.
Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Mata Ajaran

: Pengauditan dan Atestasi

Tanggal

: September 2015

Dosen

: Yulius Bayu Susilo Harto, MBA, CPA

Nama
: Danny Indi P
NPM
: 1406514984
Tanda Tangan :

Nama
: Fransiska
NPM
:
Tanda Tangan :

Nama
NPM

Nama
NPM

: Dian Permatasari
: 1406515021

Tanda Tangan :

: Naida Nur Alfisyahri


: 1406515274

Tanda Tangan :

An example of judgemental sampling: Broomfield plc


Broomfield plc memiliki 500 debitur pada 30 September 2007 dengan total piutang outstanding sebesar
4.352.636. Selama penugasan audit, auditor telah menganalisis debitur berdasarkan jumlah seperti yang
ditampilkan pada tabel di bawah:
No Jumlah Debitur
Total % Nilai debit/piutang
% nilai piutang
1
105
21
233.562
6
2
70
14
298.110
7
3
80
16
339.726
8
4
58
12
364.145
8
5
70
14
343.973
8
6
48
9
408.733
9
7
28
6
433.151
10
8
18
4
550.355
13
9
18
3
636.986
14
10
5
1
743.895
17
Total 500
100
4.352.636
100
Question:
Berikan saran bagaimana sampel seharusnya diseleksi dari para debitur pada tabel di atas dengan tujuan
melakukan konfirmasi bahwa penjualan Broomfield plc dan system penagihan piutang beroperasi dengan
baik dan bahwa para neraca piutang debitur dicatat secara akurat dalam system akuntansi Broomfield!
Jawab:
Dua hal yang harus dipastikan oleh auditor terkait piutang/debitur yaitu system pencatatan
piutang (merupakan bagian dari uji control) dan akurasi nilai piutang debitur (merupakan bagian dari
prosedur substantive). Hal pertama yang harus dilakukan oleh auditor adalah menganalisis para debitur
untuk menentukan berapa debitur yang akan dipilih sebagai sampling.
Penentuan yang dapat dilakukan auditor yaitu membagi kelompok debitur berdasarkan persentase jumlah
debitur dan sampling berdasarkan jumlah piutangnya:

Misalnya berdasarkan jumlah piutang, dari total 4.352.636, 44% nilai piutang berasal dari 41
debitur dengan persentase 8% (poin nomor 8 sd 10)

Sehingga dari poin 1 sd 7, terdapat 459 debitur dengan persentase total piutang sebesar 56% dari
total 4.352.636.
Kemudian auditor melakukan pengujian terhadap sampling untuk memastikan apakah operasional

Broomfield telah dilakukan dengan baik dengan memilih sampel yang dipilah di atas. Apabila para
debitur mengkonfirmasi bahwa pencatatan Broomfield telah akurat, makan auditor akan memperoleh
bukti melalui test control tersebut bahwa system operasional Broomfiled telah berjalan dengan baik.

Dengan judgement bahwa uji control Broomfield telah baik, Auditor kemudian melakukan judgement
untuk memilih 50 di antara 500 sampel debiturnya.
Langkah selanjutnya adalah Metode Sampling. Auditor pertama kali perlu memperhatikan
homogenitas populasi sampel sebelum menentukan representative sampel. Beberapa hal yang harus
dipertimbangan untuk mengurangi homogenitas sampling:

Transaksi-transaksi yang tidak dilakukan dalam periode yang relevan seharusnya tidak disaukkan
sebagai komponen yang homogeny, misalnya beberapa jenis transaksi penjualan dikontrol dengan
cara yang berbeda, transaksi dalam jumlah besar berbeda dengan transaksi dengan jumlah kecil;

Neraca dalam populasi bisa jadi memiliki perbedaan nilai yang besar, misalnya beberapa nilai
piutang debitur Broomfield adalah besar, merepresentasikan proporsi yang tinggi dalam total,
namun jumlah debitur tersebut sebenarnya kecil.
Sample baru dapat benar-benar merepresentasikan hal yang sebenarnya apabila sampel tersebut

diambil dari keseluruhan populasi. Misalnya jika auditr hanya mengambil sampel dalam 1 minggu di satu
bulan, maka mereka hanya melakukan pengujian untuk minggu itu saja, namun bukan untuk satu tahun
periode audit, karena transaksi tersbeut tidak mewakili keseluruhan sepanjang tahun berjalan.
Metodologi pemilihan sampel yang dapat dilakukan yaitu:

Random sampling
Metode ini berusaha memastikan masing-masing item dalam populasi memiliki peluang yang
sama untuk dipilih. Auditor mengalokasikan indentifikasi untuk masing-masing sampling
kemudian menggunakan prosedur yang sama untuk menentukan unit sampel yang dipilih untuk
diuji;

Systematic/Interval Sampling
Metode ini memungkinkan mempekerjakan awal yang random kemudian memilih secara reguler
setiap beberapa itemnya. Kemungkinan memiliki efek yang sama seperti random sampling.

Block/Cluster Sampling
Metode ini tidak berusaha untuk memilih sampel yang representative (mewakili), tetapi
mencakup pemilihan dari blok transaksi dan pengujian untuk beberapa criteria. Auditor biasanya
menggunakan metode ini untuk menguji system.

Haphazard Sampling
Melalui metode ini, sampel dipilih menggunakan mata tertutup, pin ataupun hal lainnya.
Sampling ini bukan bagian dari metode statistika dalam pemilihan sampel.

Dalam proses audit, sangat penting bagi auditor untuk mengumpulkan kecukupan bukti audit,
yang artinya besaran sampel menjadi penting pula. Bagaimana pun, jumlah faktor penentu harus
dipertimbangkan dalam menentukan besarnya sampel untuk pengujian yang lebih detail. Hal ini
mencakup 3 hal yaitu:

Tingkat kepercayaan auditor dalam menentukan pengujian sampelstatistik


Hal ini dipengaruhi beberapa faktor seperti penilaian inherent dan control risk. Penilaian inherent
risk akan mempengaruhi seberapa percaya auditor terhadap eror atau misstatement dalam
transaksi yang merupakan aplikasi internal control.

Tingkat eror yang diperkirakan atau jumlah eror dalam populasi


Ketika melakukan pengujian internal control perusahaan, auditor menggunakan apa yang disebut
attribute sampling. Ketika melakukan pengujian neraca, auditor harus memperhatikan bahwa nilai
akun harus tepat. Semakin tinggi kemungkinan tingkat eror, semakin besar sampel size yang
harus digunakan.

Tingkat eror yang dapat ditolerir atau jumlah yang dapat diterima auditor
Auditor harus menentukan tingkat eror yang dapat ditolerir dari jumlah populasi.Ketika uji
control menggunakan atribut sampling, tingkat eror yang dapat ditolerir adalah tingkat deviasi
maksimum dari sampel. Pengujian terhadap jumlah eror yang dapat ditolerir berhubungan dengan
level materiality yang ditentukan oleh auditor. Semakin rendah toleransi erornya, makan semakin
besar jumlah sampel yang digunakan.
Rumus dari sample size = Reliability factor/tolerable error rate

Misalnya dengan tabel Reliability Factor di bawah ini:


Number of Sample
Errors
0
1
2
3

70%

80%

Confidence Level
90%

95%

99%

1.21
2.44
3.62
4.77

1.61
3.00
4.28
5.52

2.31
3.89
5.33
6.69

3.00
4.75
6.30
7.76

4.61
6.64
8.41
10.05

Misalnya auditor menentukan toleransi eror sebesar 3%. Berdasarkan pengalaman-pengalaman


sebelumnya dan penilaian auditor terhadap system internal control, auditor memperkirakan akan
menemukan 1 eror. Pada confident level 70%, dan number of sampel eror 1, maka reliability factornya
adalah 2,44, sehingga sample size nya adalah: 2.44/3% yaitu sebesar 81 sampel.
Maka total sampel yang digunakan oleh auditor adalah 81 sampel dari 500 sampel debitur.

MONETARY UNIT SAMPLING (MUS)


Dalam analisis final, auditor harus percaya diri bahwa eror dalam populasi tidak berjumlah cukup
besar untuk menyebabkan akun-akun jauh dari nilai yang sebenarnya. Artinya auditor tidak hanya
berkepentingan dalam tingkat eror namun juga dalam nilai moneter yang disebabkan oleh eror tersebut.
Monetary Unit Sampling (MUS) adalah metode sampling yang membolehkan auditor untuk mengestimasi
populasi yang diuji

di mana jumlahnya kemungkinan besar akan mengalami eror (most likely

error/MLE) dan likely upper error limit (UEL) dalam nilai moneternya.
Ada 2hal yang mendasari Monetary Unit Sampling (MUS):

Populasi dibagi/diklasifikasi bukan berdasarkan transaksi (seperti invoice penjualan), namun


berdasarkan sekian harga unit-unit, dan auditor memilih dari unit tersebut

Ketika kesalahan ditemukan dalam transaksi atau saldo dimana US$ 1


ditempatkan, transaksi atau saldo tersebut akan dianggap mengandung
kesalahan berdasarkan persentasi error dari nilai transaksi atau saldo. Jadi,
jika saldo tercatat sejumlah US$ 100 tetapi nilai yang benar adalah US$ 80,
makah nilai saldo yang akan dianggar error sebanyak 20%.

MUS hanya dapat digunakan ketika populasi dapat secara spesifik dinilai dalam
satuan mata uang (US$) dan kumulif dari nilai amount tersebut dapat dihitung. Jadi,
jika auditor memilih debitur untuk dijadikan sampel, auditor diwajibkan menghitung
total amount dari debitur terkait dan menjumlahkan unit moneter yang spesifik
terhadap akun debitur tertentu. Karena populasi dalam satuan unit US$1, maka
artinya sample yang dipilih merupakan US$1 dari populasi. US$1 ini terkait dengan
akun individual debitur yang akan diaudit. Berdasarkan US$1 spesifik yang dipilih,
auditor mendapatkan sebuah sampel dari debitur untuk disirkulasi.
Untuk menentukan proses penentuan sample adalah sebagai berikut :
Petama, auditor harus menentukan confidence level dan tolerable error (jumlah
kesalahan dari akun yang diaudit yang dikombinasikan dengan kesalahan dari akun
lain yang dapat menyebabkan laporan keuangan tidak disajikan secara wajar).
Dengan menggunakan confidence level, tolerable error dan estimasi dari
kemungkinan terjadinya error lengkap dengan table sample statistic yang sesuai,
auditor dapat menentukan ukuran sampel yang sesuai.
Ketika mengevaluasi hasil sampel, pertamakali auditor menghitung point perkiraan
estimasi korespondensi terhadap kemungkinan kesalahan (most likely error) dalam
populasi. Hal ini didapat dari perhitungan estimate dari batas atas error dalam
populasi. Kemudian, auditor dapat membuat pernyataan kemungkinan terjadinya
error dan tingkat keyakinan (confidence level) yang digunakan dan batas atas error
dalam populasi.

Jika batas atas error (upper error limit) lebih kecil dari tolerable error, maka auditor
dapat menerima populasinya. Namun, apabila batas atas error melebihi tolerable
error, maka auditor dapat melakukan penyesuaian batas atas error tersebut dan
error yang ditemukan (dengan menggunakan asumsi bahwa klien memiliki
keinginan untuk melakukan adjustment perbaikan). Jika batas atas error tetap
berada diatas tolerable error, maka auditor harus menggunakan prosedur lain yang
ditentukan oleh Kantor Akuntan Publik untuk mengatasi hal tersebut. Prosedur
tersebut dapat berupa memperbanyak testing atau juga melakukan alternative
prosedur audit lainnya.