Anda di halaman 1dari 77

Pendahuluan

A. Sistem Tenaga Listrik


1. Umum
Sistem tenaga listrik adalah suatu sistem yang berfungsi untuk
mengubah dan memindahkan tenaga listrik dari sumber tenaga pembangkit
ke distribusi (beban) melalui saluran transmisi. Suatu sistem tenaga listrik
terdiri dari tiga bagian utama yaitu pembangkit, saluran transmisi, dan
distribusi (beban).

Gambar 1.1. Single line diagram sistem tenaga listrik secara sederhana

Pembangkit merupakan sentral-sentral dari listrik (electrical power


stations), terdiri dari turbin (prime mover), generator-generator, peralatan
pengaturan frekuensi, serta transformator-transformator tegangan tinggi.
Dalam pembangkitan ini tegangan yang dibangkitkan adalah 1124 kV.
Saluran transmisi atau subtransmisi adalah pemberian nama yang
didasarkan pada fungsinya dalam operasi, di mana:

a. Transmisi, yang menyatukan daya besar dari pusat-pusat pembangkit


ke daerah beban, atau antara dua atau lebih sistem. Yang terakhir
disebut sebagai saluran interkoneksi atau tie line.
b. Subtransmisi, transmisi percabangan dari saluran yang tinggi ke
saluran yang lebih rendah.
Dalam saluran transmisi terdiri atas saluran-saluran transmisi
tegangan tinggi, transformator-transformator pengatur daya aktif dan
reaktif. Untuk saluran transmisi ini tegangan yang disalurkan adalah
70 kV, 150 kV, dan 500 kV (standar tegangan transmisi di Indonesia).
Distribusi atau beban adalah penghubung semua beban yang
terpisah satu dengan yang lain ke saluran transmisi. Di Indonesia telah
ditetapkan bahwa tegangan distribusi adalah 20 kV.
2. Saluran Transmisi
Menurut panjangnya saluran transmisi dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
a. Saluran transmisi pendek (kurang dari 80 km).
b. Saluran transmisi menengah (antara 80 km sampai 240 km).
c. Saluran transmisi panjang (lebih dari 240 km).
Rangkaian pengganti saluran transmisi terdiri dari parameterparameter saluran yaitu resistansi, induktansi, kapasitansi, dan konduktansi
yang terdistribusi sepanjang saluran dan dapat digambarkan sebagai
berikut.

Gambar 1.2. Rangkaian ekuivalen pada saluran transmisi yang terdistribusi secara
menyeluruh

Rangkaian ekivalen (diagram pengganti) saluran transmisi


pendek dengan mengabaikan parameter kapasitansi ditunjukkan dalam
Gambar 1.3.

Gambar 1.3. Rangkaian ekuivalen suatu saluran transmisi pendek

3. Mesin Serempak
Mesin serempak (synchronous machine) sebagai suatu generator ac
yang digerakkan turbin adalah suatu alat yang mengubah energi mekanis
menjadi energi listrik. Kedua bagian utama sebuah mesin serempak adalah
susunan ferromagnetik. Bagian yang diam pada dasarnya adalah sebuah
silinder kosong dinamakan stator dan mempunyai alur (slots) memanjang
yang di dalamnya terdapat lilitan kumparan stator. Sedangkan bagian yang
berputar dinamakan rotor yang terpasang pada poros dan berputar di dalam
stator yang kosong. Lilitan pada rotor dinamakan lilitan medan (field
winding) yang dicatu dengan arus searah menghasilkan medan magnet
yang berasal dari arus yang mengalir pada belitan rotor.
Prinsip kerja dari generator serempak adalah rotor yang dicatu oleh
sumber arus searah menghasilkan medan magnet yang berasal dari arus
yang mengalir pada belitan rotor. Rotor tersebut diputar oleh turbin
sehingga medan magnet yang dihasilkan rotor tersebut memotong
kumparan-kumparan pada stator, akibatnya tegangan diinduksi pada
kumparan stator tersebut. Frekuensi dari tegangan yang diinduksikan pada
kumparan stator tersebut adalah:
f=

P N
2 60

(1.1)

di mana
f
= Frekuensi dalam Hz
P
= Jumlah kutub-kutub rotor
N
= Kecepatan rotor dalam rpm
Tegangan yang dibangkitkan pada kumparan stator tersebut adalah
tegangan beban nol. Generator tiga fasa dengan belitan stator yang
seimbang tiga fasa membangkitkan tegangan tiga fasa seimbang. Bila
suatu beban tiga fasa seimbang dihubungkan ke generator maka akan
mengalir arus tiga fasa seimbang pada belitan-belitan stator tiga fasa
(belitan jangkar). Arus tersebut menimbulkan mmf dari reaksi jangkar
sehingga medan magnet di dalam air gap merupakan resultan dari mmf
yang dihasilkan rotor dan reaksi jangkar tersebut kemudian mmf tersebut
membangkitkan tegangan pada tiap-tiap fasa dari kumparan stator.
4. Transformator
Transformator adalah suatu peralatan yang berfungsi untuk
memindahkan energi listrik arus bolak-balik dari sirkuit yang satu ke
sirkuit yang lain tanpa merubah frekuensi berdasarkan prinsip induksi
elektromagnet.
Dalam bidang sistem tenaga listrik, pemakaian transformator dapat
dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

a. Transformator daya berfungsi untuk menaikkan tegangan


pembangkitan menjadi tegangan transmisi atau dari tegangan transmisi
ke tingkat tegangan lebih tinggi atau lebih rendah.
b. Transformator distribusi berfungsi untuk menurunkan tegangan
transmisi menjadi tegangan distribusi.
c. Transformator instrumen berfungsi sebagai pengukur yang terdiri dari
transformator tegangan dan transformator arus, dipakai untuk
menurunkan tegangan dan arus agar dapat masuk ke meter-meter
pengukur.
Cara kerja transformator yang berdasarkan induksi elektromagnet
menghendaki adanya gandengan dari sirkuit yang satu ke sirkuit yang lain.
Gandengan magnet ini berupa inti besi tempat melakukan fluks gandeng.
Pada Gambar 1.4 menunjukkan suatu rangkaian transformator dua belitan,
di mana jumlah belitan primer sebesar N1 dan N2 pada belitan sekunder.

Gambar 1.4. Transformator dua gulungan

Besarnya tegangan dari teori tentang transformator didapatkan


hubungan sebagai berikut:
N2
E1 =
E2
(1.2)
N1
N1
I1 =
I2
(1.3)
N2
di mana
E1
E2
I1
I2
N1
N2

=
=
=
=
=
=

Tegangan sisi kumparan primer (Volt)


Tegangan sisi kumparan sekunder (Volt)
Arus sisi kumparan primer (Ampere)
Arus sisi kumparan sekunder (Ampere)
Jumlah lilitan primer transformator
Jumlah lilitan sekunder transformator

Persamaan di atas diperoleh dengan menganggap bahwa arus


penguat dapat diabaikan terhadap arus yang mengalir pada saat
transformator mendapat beban normal dan rugi-rugi tegangan diabaikan.
Hubungan tegangan dan arus di atas merupakan hubungan pada
transformator ideal. Transformator ideal didefinisikan sebagai suatu
transformator yang mengabaikan rugi-rugi. Transformasi untuk
transformator ideal adalah:
N2
K=
(1.4)
N1
Gambar 1.5 adalah representasi skema sebuah transformator dan
memberikan keterangan yang sama tentang transformator tersebut seperti
yang diberikan pada Gambar 1.4.

Gambar 1.5. Representasi skema transformator dua gulungan

5. Beban
Dalam menganalisis suatu sistem tenaga listrik, beban tidak
diberikan secara lengkap. Untuk mempresentasikan suatu sistem tenaga
listrik sangat penting untuk mengetahui variasi daya aktif dan daya reaktif
terhadap reaksi tegangannya. Pada sistem, suatu bus beban terdiri dari:
a. Motor-motor induksi.
b. Pemanas (heating) dan penerangan (lighting).
c. Motor-motor sinkron.
Dalam mempresentasikan beban terdapat tiga cara, yaitu:
(1) Representasi beban dengan daya tetap
Dalam hal ini daya aktif (MW) maupun daya reaktif (MVAR)
mempunyai nilai tetap.
(2) Representasi beban dengan arus tetap
Dalam hal ini arus dihitung sebagai
I=

P jQ
= I < (0 )
V*

(1.5)

di mana
V=V<
= tan-1 (Q/P) adalah sudut daya

(1.6)

Besar arus dianggap konstan.


(3) Representasi beban dengan impedansi tetap
Untuk mempresentasikan suatu beban dengan impedansi tetap,
maka daya yang diserap oleh beban dikonversikan ke dalam bentuk
impedansi seri atau paralel. Jika daya aktif (MW) dan daya reaktif
(MVAR) dari beban diketahui dan tetap maka impedansi dihitung
dengan
Z=

V
V2
=
P jQ
I

(1.7)

P jQ
I
=
V
V2

(1.8)

atau

B. Komponen Simetris
1. Komponen-komponen Simetris
Untuk menganalisis rangkaian tiga fasa, tegangan dan arus nya
mempunyai fasa yang seimbang (magnitude sama dan fasanya berbeda
120) dapat diselesaikan secara langsung dengan rangkaian setara fasa
tunggal. Jika terjadi ketidakseimbangan antara fasa-fasanya akibat adanya
beban yang tidak seimbang atau pada saat terjadi gangguan yang
menyebakan fasanya tidak seimbang. Maka sulit untuk menyelesaikan
dengan metode komponen simetris yang mana menguraikan setiap
komponen seimbang dalam sistem tiga fasa (misal tegangan dan arus)
menjadi tiga kelompok fasor yang seimbang.
a. Fasor urutan positif terdiri dari tiga fasor yang sama besarnya di mana
antara satu fasor dengan fasor yang lainnya berbeda 120 dan
mempunyai urutan yang sama dengan fasor aslinya.
b. Fasor urutan negatif terdiri dari tiga fasor yang sama besarnya di mana
antara satu fasor dengan fasor lainnya berbeda 120 dengan urutan
yang berlawanan dengan fasor semula.
c. Fasor urutan nol terdiri dari tiga fasor yang sama besar dan
mempunyai beda fasa antara satu dengan yang lain sebesar 0.

Gambar 1.6. Tiga himpunan fasor seimbang yang merupakan komponen dari tiga fasor
yang tak seimbang

Menganalisis dengan metode komponen simetris sangat berguna


untuk menentukan secara tepat dan cermat kelakuan suatu sistem tenaga
listrik selama mengalami gangguan yang menyebabkan sistem tidak
seimbang.
2. Besaran Per Satuan (Per Unit)
Definisi nilai per unit suatu besaran adalah perbandingan
kuantitas tersebut terhadap nilai dasarnya yang dinyatakan dengan
desimal. Perbandingan (ratio) dalam persentasi adalah 100 kali nilai dalam
per unit. Metode per unit mempunyai sedikit kelebihan dari metode
persentasi karena hasil perkalian dari besaran yang dinyatakan dalam per
unit telah berlangsung diperoleh dalam per unit juga, sedang hasil
perkalian dari dua besaran dalam persen masih harus dibagi dengan 100
untuk mendapat hasil dalam persen.
Besaran per satuan =

Besaran Sebenarnya
Besaran Dasar

(1.9)

Empat besaran dalam sistem tenaga listrik adalah:


a. Arus dalam satuan Ampere.
b. Tegangan dalam satuan Volt.
c. Daya dalam satuan Volt-Ampere.
d. Impedansi dalam satuan Ohm.
Dengan menentukan besaran dasar maka besaran per satuan
dapat dihitung. Selain itu dengan menentukan dua besaran dasar yang lain
dapat ditentukan.
Dalam analisis sistem tenaga listrik, tegangan dan daya dasar
ditentukan sedangkan besaran dasar yang lain (arus dan impedansi)
dihitung. Rumus-rumus untuk menentukan arus dasar dan impedansi dasar
adalah sebagai berikut:

Arus dasar, Id =

kVAdasar 1
kVdasarLN
( kVdasarLN ) 2 x1000

Impedansi dasar, Zd =

kVdasarLN 1
( kVdasarLN ) 2
MVAdasar 1

(1.10)
(1.11)
(1.12)

Dengan menggunakan data tiga fasa:


Arus dasar, Id =

kVAdasar 3
3kVdasarLL
( kVdasarLL ) 2

Impedansi dasar, Zd =

MVAdasar 3

(1.13)
(1.14)

Untuk mengubah impedansi per satuan dengan suatu dasar yang


diberikan menjadi impedansi per satuan dengan dasar yang baru adalah:
kVbo kVAb n
Zb (pu) = Zo (pu)
(1.15)

kVbn kVAb o
di mana
Zb
Zo
kVbn
kVbo
kVAbn
kVAbn

=
=
=
=
=
=

Impedansi (pu) dengan base baru


Impedansi (pu) dengan base lama
Tegangan dasar (kV) baru
Tegangan dasar (kV) lama
Daya dasar (kVA) baru
Daya dasar (kVA) lama

C. Pemilihan Pemutus Rangkaian (Circuit Breaker)


Kapasitas dari pemutus (circuit breaker) biasanya ditentukan dengan
menggunakan reaktansi sub peralihan untuk generator dan reaktansi peralihan
untuk motor sinkron. Pengaruh dari motor induksi diabaikan.
Dalam perhitungan arus gangguan, yang ditentukan adalah harga
efektif arus hubung singkat awal simetris (initial symmetrical rms current)
dengan mengabaikan komponen dc.
Besar arus hubung singkat pada saat kontak pemutus (circuit
breaker) membuka, mungkin lebih besar dari arus hubung singkat simetris
yang diperoleh dalam perhitungan akibat adanya komponen dc. Untuk
memperhitungkan pengaruh komponen dc, harga efektif arus hubung singkat
awal simetris dikalikan dengan faktor pengali yang besarnya tergantung pada
kecepatan pemutus untuk membuka kotak kontaknya.

Kapasitas (rating) pemutus dari suatu pemutus (circuit breaker)


ditentukan sebagai berikut:
Si = 3 (V pf )( I ' ' ) x10 6 MVA
(2.16)
di mana
Vpf
= Tegangan (LL) sebelum gangguan pada titik gangguan.
I
= Harga efektif arus hubung singkat awal simetris (Ampere).

= Faktor pengali.
Kemampuan dari suatu pemutus untuk mengatasi akibat dari
mengalirnya arus hubung singkat (momentary duty / rating) dinyatakan
sebagai berikut:
Si = 3 (V pf )( I ' ' )(1,6) x10 6 MVA
(2.16)
Di Amerika, rating dari pemutus ditentukan dengan standar ANSI
(American National Standard Institution) berdasarkan gangguan yang ada
ditentukan dengan menggunakan besaran-besaran tegangan nominal, tegangan
kerja maksimum, faktor daerah tegangan kerja K, arus kerja kontinyu, dan
arus hubung singkat.

Stabilitas dalam Sistem Tenaga Listrik


A. Faktor-faktor Utama dalam Masalah Kestabilan
Dalam keadaan operasi yang stabil dari sistem tenaga listrik terdapat
keseimbangan antara daya input mekanis pada prime mover dengan daya
output listrik (beban listrik) pada sistem.
Dalam keadaan ini semua generator berputar pada kecepatan sinkron.
Hal ini terjadi bila setiap kenaikan dan penurunan beban harus diikuti dengan
perubahan daya input mekanis pada prime mover dari generator-generator.
Bila daya input mekanis tidak cepat mengikuti dengan perubahan
beban dan rugi-rugi sistem maka kecepatan rotor generator (frekuensi sistem)
dan tegangan akan menyimpang dari keadaan normal terutama jika terjadi
gangguan, maka sesaat terjadi perbedaan yang besar antara daya input
mekanis dan daya output listrik dari generator. Kelebihan daya mekanis
terhadap daya listrik mengakibatkan percepatan pada putaran rotor generator
atau sebaliknya bila gangguan tersebut tidak dihilangkan segera maka
percepatan (acceleration) dan perlambatan (deceleration) putaran rotor
generator akan mengakibatkan hilangnya sinkronisasi dalam sistem.
Stabilitas sistem tenaga listrik adalah suatu kemampuan sistem
tenaga listrik atau bagian komponennya untuk mempertahankan sinkronisasi
dan keseimbangan dalam sistem. Batas stabilitas sistem adalah daya-daya
maksimum yang mengalir melalui suatu titik dalam sistem tanpa

10

menyebabkan hilangnya stabilitas. Berdasarkan sifat gangguan masalah


stabilitas sistem tenaga listrik dibedakan atas:
1. Stabilitas tetap (steady state).
2. Stabilitas peralihan (transient).
3. Stabilitas sub peralihan (dinamis).
Stabilitas stedy state adalah kemampuan suatu sistem tenaga listrik
mempertahankan sinkronisasi antara mesin-mesin dalam sistem setelah
mengalami gangguan kecil (fluktuasi beban).
Stabilitas transient adalah kemampuan suatu sistem tenaga listrik
mempertahankan sinkronisasi setelah mengalami gangguan besar yang bersifat
mendadak sekitar satu ayunan (swing) pertama dengan asumsi bahwa pengatur
tegangan otomatis belum bekerja.
Stabilitas dinamis adalah bila setelah ayunan pertama (periode
stabilitas transient) sistem mampu mempertahankan sinkronisasi sampai
sistem dalam keadaan seimbang yang baru (stabilitas transient bila AVR dan
governor bekerja cepat dan diperhitungkan dalam analisis).
Pengertian hilangnya sinkronisasi adalah ketidakseimbangan antara
daya pembangkit dengan beban menimbulkan suatu keadaan transient yang
menyebabkan rotor dari mesin sinkron berayun karena adanya torsi yang
mengakibatkan percepatan atau perlambatan pada rotor tersebut. Ini terjadi
bila torsi tersebut cukup besar maka salah satu atau lebih dari mesin sinkron
tersebut akan kehilangan sinkronisasinya, misalnya terjadi ketidakseimbangan
yang disebabkan adanya daya pembangkit yang berlebihan, maka sebagian
besar dari energi yang berlebihan akan diubah menjadi energi kinetik yang
mengakibatkan percepatan sudut rotor bertambah besar walaupun kecepatan
rotor bertambah besar, tidak besar bahwa sinkronisasi dari mesin tersebut akan
hilang, faktor yang menentukan adalah perbedaan sudut rotor atau daya
tersebut diukur terhadap referensi putaran sinkronisasi.
Faktor-faktor utama dalam masalah stabilitas adalah:

Gambar 2.7. Diagram segaris dan faktor-faktor utama dalam masalah kestabilan
Keterangan:
PM= Prime Mover
G = Generator sinkron
X = Reaktansi saluran
SL = Sumbu beban

A. Faktor mekanis dapat berupa:

11

a. Torsi input prime beban.


b. Inersia dari prime mover dan generator.
c. Inersia motor dan sumbu beban.
d. Torsi input sumbu beban.
e.
B. Torsi elektris berupa:
a. Tegangan internal dari generator sinkron.
b. Reaktansi sistem.
c. Tegangan internal dari motor sinkron.
B. Dinamika Rotor Dan Persamaan Ayunan
Persamaan yang mengatur gerakan rotor suatu mesin serempak
didasarkan pada prinsip dasar dinamika yang menyatakan bahwa momen putar
percepatan (accellerating torque) adalah hasil kali dari momen-momen
kelembaman (momen of inertia) rotor dan percepatan sudutnya. Dalam sistem
unit-unit MKS dan untuk generator serempak, persamaan ini dapat ditulis
dalam bentuk:

d 2 m
= Ta = Tm Te
(2.18)
dt 2
simbol-simbol di atas mempunyai arti sebagai berikut:
J
= Momen kelembaman total dari massa rotor dalam kg-m2
m
= Pergeseran sudut dari rotor terhadap suatu sumbu yang diam
(stationary), dalam radian mekanis
t
= Waktu, dalam detik
Ta
= Momen putar percepatan bersih, dalam Nm
Tm
= Momen putar mekanis atau poros (penggerak) yang diberikan
oleh penggerak mula dikurangi dengan momen putar
perlambatan (retarding) yang disebabkan oleh rugi-rugi
perputaran, dalam Nm
Te
= Momen putar elektris atau elektromagnetis bersih, dalam Nm
J

Momen putar mekanis Tm dan momen putar elektris Te dianggap


positif untuk generator serempak. Ini berarti bahwa Tm adalah resultan momen
putar poros yang mempunyai kecenderungan untuk mempercepat rotor dalam
arah putaran yang m yang positif seperti ditunjukkan Gambar 2.8a. Untuk
generator yang bekerja dalam keadaan tetap, Tm dan Te adalah sama sedangkan
momen putar Ta sama dengan nol. Dalam keadaan ini tidak ada percepatan
atau perlambatan terhadap massa rotor dan kecepatan tetap resultan adalah
kecepatan serempak. Massa yang berputar meliputi rotor dari generator dan
penggerak mula dikatakan dalam keadaan serempak dengan mesin lainnya
yang bekerja pada kecepatan serempak dalam sistem daya tersebut. Penggerak

12

mulanya mungkin berupa suatu turbin air atau turbin uap dan untuk masingmasing turbin sudah ada model dengan bermacam-macam tingkat kesulitan
untuk melukiskan pengaruh pada Tm.

Gambar 2.8. Representasi suatu rotor mesin yang membandingkan arah perputaran serta
momen putar mekanis dan elektris untuk (a) generator dan (b) motor

Tm dianggap konstan pada setiap keadaan kerja yang diberikan.


Anggapan ini cukup baik untuk beberapa generator meskipun masukan dari
penggerak mulanya diatur oleh regulator (governor). Regulator tidak bekerja
sebelum dirasakan perubahan pada kecepatan. Momen putar elektris Te
bersesuaian dengan daya bersih celah udara mesin. Dengan demikian adalah
daya keluaran total dari generator ditambah dengan rugi-rugi I2 R dalam
gulungan jangkar. Dalam motor serempak arah aliran daya berlawanan dengan
generator. Oleh karena itu untuk motor, Te dan Tm pada persamaan 2.18 akan
terbalik tandanya seperti ditunjukkan dalam Gambar 2.8b. Di sini Te adalah
daya celah udara yang diberikan oleh sistem tenaga listrik untuk
menggerakkan rotor, sedangkan Tm merupakan momen putar tandingan
(counter torque) beban dan rugi putaran yang cenderung untuk memperlambat
rotor.
Karena m diukur terhadap sumbu pedoman yang diam pada stator
maka m adalah ukuran absolut sudut rotor. Karena itu pula m akan terus
bertambah dengan waktu bahkan pada kecepatan serempak yang konstan.
Karena itu menaruh perhatian pada kecepatan rotor relatif terhadap kecepatan
serempak adalah lebih mudah untuk mengukur posisi sudut rotor terhadap
sumbu pedoman yang berputar dengan kecepatan serempak.
Dengan demikian
m = sm t + m
(2.19)
di mana
sm
m

= Kesepatan serempak mesin dalam radius mekanis per detik


= Pergeseran sudut rotor dalam radius mekanis dari sumbu
pedoman yang berputar dengan kecepatan serempak dalam
radian mekanis

13

Dengan menurunkan persamaan (2.19) terhadap waktu diperoleh


d m
d m
= sm +
(2.20)
dt
dt
dan

d 2 m
d 2 m
=
dt 2
dt 2
di mana
d m
dt
d m
dt

(2.21)

= Kecepatan sudut rotor dalan radian mekanis per detik


= Penyimpangan kecepatan rotor dari keadaan rotor keadaan
serempak dan unit ukurannya adalah radian mekanis per detik

Persamaan (2.21) memberikan kecepatan rotor yang diukur dalam


radian mekanis per detik pangkat dua. Dengan mensubstitusikan persamaan
(2.20) dan (2.21) diperoleh

d 2 m
J
= Ta = Tm Te
dt 2

Nm

(2.22)

Untuk mempermudah notasinya


d m
sm =
(2.23)
dt
Daya adalah perkalian antara momen putar dengan kecepatan sudut,
maka
d 2 m
J m
= Pa = Pm Pe
Nm
(2.24)
dt 2
di mana
Pm
= Masukan daya poros ke mesin dikurangi dengan rugi-rugi
perputaran dalam Watt.
Pe
= Daya listrik pada celah udaranya dalam Watt.
Pa
= Daya percepatan yang memperjelas ketidakseimbangan antara
kedua daya dalam Watt.
J m = Momentum sudut (anguler momentum) rotor pada kecepatan
serempak.
Biasanya rugi-rugi perputaran dan rugi-rugi I2 R jangkar dapat
diabaikan sehingga Pm dapat dianggap sebagai daya yang dicatu oleh
penggerak mula Pa sebagai keseluruhan daya listrik.
Koefisien jm adalah momentum sudut (anguler momentum) rotor
pada kecepatan serempak sm. Momen ini dapat dinyatakan dengan M dan
disebut konstanta kelembaman (inertia constant) dari mesin tersebut. Jelas
bahwa unit-unit yang menyatakan M harus sesuai dengan unit untuk j dan m.

14

Dengan meneliti unit pada masing-masing suku persamaan (2.24) diperoleh M


dinyatakan dalam joule-detik per-radian dan dapat dituliskan dengan
M

d 2 m
= Pa = Pm Pe
dt 2

(2.25)

Meskipun menggunakan M dalam persamaan ini, koefisien tersebut


bukanlah suatu konstanta dalam arti yang sebenarnya karena m tidak sama
dengan kecepatan serempak pada semua keadaan kerja, tetapi dalam praktik
m tidak berlaku berbeda dari kecepatan serempak bila mesin stabil dan
karena daya lebih memudahkan perhitungan dari momen putar, persamaan
2.25 lebih banyak dipilih. Dalam data mesin yang diberikan untuk keperluan
studi kestabilan, suatu konstanta yang hubungannya dengan kelembaman,
konstanta dinamakan H yang didefinisikan sebagai
H=

Dayakinetisyangdisimpandalammegajoulepadakecepa tan serempak


RatingdalamMVA

Dan
1
1
J 2 sm
M sm
H= 2
= 2
= MJ / MVA
S match
S match

di mana
Smatch
H

(2.26)

= Batas kemampuan kerja (rating) tiga fasa dalam MVA.


= Konstanta yang berhubungan dengan kelembaman.
Dengan menyelesaikan untuk M pada persamaan (2.17) diperoleh
M=

2H

sm

Smatch

MJ/radian mekanis

(2.27)

dan dengan memasukkan persamaan (2.18) diperoleh


Pa
P Pe
2 H d 2
=
= m
2
s dt
S match
S match

(2.28)

Bahwa m pada pembilang persamaan (2.28) dinyatakan dalam radian


mekanis sedangkan m pada penyebut dinyatakan dalam radian mekanis per
detik. Oleh karena itu dapat ditulis
2 H d 2

di mana
s

dt 2

= Pa = Pm Pe

per unit

(2.29)

= Kecepatan serempak dalam satuan listrik untuk suatu sistem


dengan frekuensi sebesar Hz

15

Asal saja maupun s mempunyai satuan konsisten yang mungkin


dalam derajat mekanis, listrik, atau radian. H dan t mempunyai satuan
konsisten karena megajoule per megavoltampere adalah dalam satuan detik
dan Pa, Pm, dan Pe harus dalam satuan dengan dasar yang sama seperti H. Bila
subskrip M dihubungkan pada , s, dan , itu berarti bahwa yang digunakan
adalah satuan mekanis, jika tidak demikian yang dimaksud adalah daya listrik.
Persamaan (2.29) menjadi
H d 2
f dt 2

= Pa = Pm Pe

per unit

(2.30)

Bila dinyatakan dalam radian listrik sedangkan


H
d 2
180 f dt 2

= Pa = Pm Pe

per unit

(2.31)

Persamaan (2.31) disebut persamaan ayunan mesin merupakan


persamaan dasar yang mengatur dinamika (gerak) putar mesin serempak.
Dalam studi kestabilan persamaan tersebut adalah persamaan differensial orde
kedua yang dapat dituliskan sebagai dua buah persamaan differensial orde
pertama di mana , s
2 H d
= Pm Pe
s dt

d
= s
dt

per unit

(2.32)

(2.33)

dan adalah menyangkut radian listrik dan derajat listrik. Berbagai bentuk
ekuivalen dari persamaan akan digunakan untuk menentukan sebuah mesin
dalam sistem daya. Bila persamaan tersebut diselesaikan maka diperoleh
rumusan untuk sebagai fungsi waktu. Grafik penyelesaian ini disebut kurva
ayunan (swing curve) mesin dan dengan meneliti kurva ayunan semua mesin
dalam sistem akan terlihat bahwa mesin akan serempak meskipun terjadi
gangguan.

C. Persamaan Sudut Daya


Pada persamaan ayunan untuk generator masukan daya mekanis dari
penggerak mula Pm akan dianggap konstan karena keadaan pada jala-jala
listrik itu diharapkan berubah sebelum regulator pengatur dapat menyebabkan
turbin memberikan reaksinya. Karena Pm pada persamaan (2.22) konstan,
keluaran daya Pe akan menentukan apakah rotor akan mengalami percepatan,

16

perlambatan, atau tetap pada kecepatan serempak. Bila Pe sama dengan Pm


mesin bekerja pada kecepatan serempak, keadaan tetap bila Pe berubah dari
nilai rotornya menyimpang dari kecepatan serempak.

Gambar 2.9. Diagram fasor mesin serempak untuk studi-studi kestabilan peralihan
Keterangan:
E = Tegangan dalam peralihannya (transient internal voltage) dalam Volt
Xd = Reaktansi peralihan dalam Ohm
Vt = Tegangan terminal dalam Volt

Perubahan Pe ditentukan oleh keadaan jala-jala transmisi, distribusi,


dan beban pada sistem ke mana generator mencatu daya. Gangguan jaringan
listrik yang disebabkan oleh perubahan yang hebat, atau oleh bekerjanya
pemutus rangkaian dapat menyebabkan keluaran generator Pe berubah cepat
sehingga menimbulkan peralihan (transients) elektromekanis. Pengandaian
yang mendasar adalah bahwa pengaruh perubahan kecepatan mesin pada
tegangan yang dibangkitkan dapat diabaikan sehingga cara Pe berubah-ubah
ditentukan oleh persamaan aliran beban yang berlaku pada jaringan listrik
tersebut dan bagi model yang dipilih untuk setiap mesin serempak diwakili
tegangan dalam peralihannya (transient internal voltage) E yang terhubung
seri dengan reaktansi peralihan Xd seperti yang ditunjukkan Gambar 2.9a di
mana Vt adalah tegangan terminal. Hal ini sesuai dengan representasi keadaan
tetap di mana reaktansi serempak Xd terhubung seri dengan tegangan dalam
serempak atau tegangan tanpa beban E. Reaktansi jangkar dapat diabaikan
dalam banyak hal sehingga diagram fasor Gambar 2.9b berlaku. Karena setiap
mesin harus ditinjau relatif terhadap sistem di mana mesin tersebut merupakan
suatu bagian, sudut fasor kuantitas mesin diukur terhadap pedoman (reference)
bersama sistem itu.
Gambar 2.9 adalah skema generator yang mencatu daya melalui
sistem transmisi ke sistem ujung penerima pada rel 2 segi empat terlihat
mewakili sistem transmisi yang terdiri dari komponen pasif linier seperti
transformator, saluran transmisi kapasitor, dan termasuk juga reaktansi
peralihan generator tersebut. Oleh karena itu tegangan Et mewakili tegangandalam-peralihan motor serempak yang reaktansi peralihannya sudah

17

dimasukkan ke dalam jaringan. Admitansi rel untuk jala-jala atau jaringan


yang telah diperkecil menjadi dua simpul di samping simpul pedoman adalah
Yrel

Y11
Y21

Y12
Y22

(2.35)

Persamaan yang diperoleh


N

Ph jQk = Vk*

Y
n 1

Vn

(2.36)

kn

di mana
P = Daya nyata dalam Watt
Q = Daya reaktif dalam Watt
V = Tegangan rel tak terhingga dalam Volt
E1 = Tegangan peralihan generator pada rel 1 dalam Volt
E2 = Tegangan pada ujung penerima dalam Volt

Gambar 2.10. Diagram skema untuk studi-studi kestabilan, reaktansi peralihan yang
berhubungan dengan E1 dan E2 dimasukkan ke dalam saluran transmisi

Dengan membuat k dan N berturut-turut sama dengan 1 dan 2 dengan


menggantikan V dengan E2 dapat ditulis
P1 + jQ1 = E1 (Y11 E1)* + E1 (Y12 E2)*
(2.37)
atau bila
E1 = E '1 < 1
E1 = E '1 < 1
(2.38)
Y11 = G11 + jB11
Y12 = Y12 < 12
(2.39)
maka diperoleh
P1 = E '1 2 G11 + E '1 E ' 2 Y11 cos (1 2 12)
(2.40)
2
E
'
E
'
E
'
Y
Q1 =
B11 +
sin (1 2 12)
(2.41)
1
1
2
12
Persamaan yang sama berlaku pada rel 2 dengan saling menukarkan
subskripnya pada kedua persamaan tersebut.
Jika dibuat
1 = 1 2
yang didapat persamaan sudut sedemikian rupa

(2.42)

18

= 12

diperoleh dari persamaan (2.40) dan (2.41)


P1 = E '1 2 G11 + E '1 E ' 2 Y11 sin ( )
Q1 = E '1 2 B11 + E '1 E ' 2 Y12 cos ( )
Persamaan (2.43) dapat disederhanakan menjadi
Pe = Pc + Pmaks sin ( )
sehingga didapat
Pc = E '1

G11

Pmaks =

E '1

E '2

(2.43)
(2.44)

(2.45)

(2.46)

Y12

di mana
P1 = Keluaran daya listrik dari generator (rugi jangkar diabaikan)
Pe = Daya kritis dalam Watt
= Lengkung (kurva) sudut daya
G = Daya listrik yang dikeluarkan generator dalam Watt
Grafik yang dibuat sebagai fungsi parameter Pc, Pmaks, dan adalah
konstanta untuk konfigurasi jaringan tertentu dan besar tegangan E1dan
E2 konstan. Bila jaringan dianggap tanpa resistansi, semua unsur Yrel
adalah suseptansi sehingga G11 dan keduanya adalah nol. Persamaan sudut
daya yang kemudian berlaku untuk jala-jala reaktansi hanya merupakan
persamaan.
D. Koefisien Daya Sinkronisasi
Suatu persyaratan yang masuk akal untuk titik kerja yang dapat
diterima adalah bahwa generator tidak akan kehilangan keserempakan bila
terjadi perubahan kecil yang sifatnya sementara pada saluran listrik dari
mesin. Persyaratan ini untuk daya masukan mekanis Pm yang tetap
= 0
Pe = Pe0 + Pe
Keterangan:
= Perubahan kecil terhadap nilai tersebut
0 = Nilai mula-mula sebelum ada perubahan

(2.47)

di mana
SP =
Keterangan:
SP

dPe
d

= Pmaks cos 0

(2.50)

= Koefisien daya sinkronisasi

19

Pmaks cos 0 = Kemiringan slop dari lengkung sudut daya pada sudut 0

Gambar 2.11. Bandul piringan berputar untuk melukiskan suatu rotor yang berayun
terhadap suatu rel tak terhingga

Bila SP digunakan persamaan ayunan yang mengatur perubahanperubahan kecil sudut rotor dapat ditulis dalam bentuk

d 2
S
+ s P = 0
2H
dt 2

(2.51)

Dapat disimpulkan bahwa penyelesaian persamaan (2.50) merupakan


osilasi sinusoida asal koefisien daya sinkronisasi SP adalah positif. Frekuensi
sudut osilasi tanpa redaman diberikan oleh

sSP
rad listrik/detik
2H

n =

(2.52)

yang sesuai dengan frekuensi osilasi yang diberikan oleh


fn =

1
2

sSP
Hz
2H

(2.53)

di mana
n = Frekuensi sudut isolasi tanpa redaman dalam rad listrik/detik
fn = Frekuensi isolasi dalam Hz

20

Metode Kriteria Luas Sama


A. Kurva dan Persamaan Sudut Daya
Dalam bagian persamaan ayunan telah dikembangkan persamaan
ayunan yang sifatnya tidak linier. Persamaan formal semacam itu tidak dapat
diperoleh dengan tegas. Bahkan suatu keadaan di mana mesin tunggal berayun
terhadap rel tak terhingga, sangat sulit untuk mendapatkan penyelesaian dalam
bentuk biasa saja dan untuk itu digunakan komputer digital.
Sistem yang terlihat pada Gambar 3.1 sama seperti yang dibahas
sebelumnya, kecuali adanya tambahan saluran transmisi pendek. Mula-mula
pemutus rangkaian A tertutup tetapi rangkaian B terbuka pada ujung saluran
pendek. Jadi, keadaan kerja awal dapat dianggap tidak berubah. Pada titik P
yang dekat dengan rel suatu gangguan tiga fasa muncul dan dalam waktu
singkat memutuskan rangkaian A. Oleh karena itu sistem transmisi efektif
tidak berubah kecuali pada saat terjadi gangguan efektif berada dalam rel
sehingga keluaran daya listrik dari generator adalah nol sampai gangguan itu
berhasil dihilangkan. Keadaan fisik sebelum maupun sesudah terjadinya
gangguan dapat dipahami dengan menganalisis lengkungan (kurva) sudut daya
dalam Gambar 3.2.
Mula-mula generator tersebut bekerja pada kecepatan serempak
dengan sudut rotor sebesar 0 dan daya mekanis Pm sama dengan daya lsitrik
keluaran Pe seperti ditunjukkan Gambar 3.2a. Ketika terjadi gangguan pada
saat t = 0 keluaran daya listrik mendadak menjadi nol sementara daya mekanis
masukan tidak berubah seperti Gambar 3.2b. Perbedaan daya ini harus dapat
dijelaskan oleh kecepatan perubahan energi kinetis yang tersimpan pada massa
motor. Ini hanya dapat dicapai dengan meningkatkan kecepatan yang
dihasilkan.

Gambar 3.1. Diagram segaris untuk sistem dengan tambahan transmisi pendek

21

Gambar 3.2. Lengkung-lengkung sudut daya untuk generator pada Gambar 3.1.
Luas A1 dan A2 adalah sama dan demikian pula luas A3 dan A4

Dengan meningkatkan kecepatan dari daya percepatan Pm harus


konstan. Jika waktu pemutusan diperlukan untuk pemutusan gangguan
dinyatakan dengan tc maka waktu t kurang dari tc, percepatan adalah konstan.

s
d 2
Pm
=
2
2H
dt

(3.1)

gangguan sedang berjalan, pertambahan kecepatan di atas kecepatan serempak


diperoleh dengan mengintegrasikan persamaan ini sehingga
1
s
s
d 2
Pm dt =
Pm t
=
(3.2)

2
2H
2H
dt
0
lebih lanjut integral terhadap waktu menghasilkan
P
= s m t 2 + 0
4H
untuk kedudukan sudut rotor.

(3.3)

Persamaan (3.2) dan (3.3) menunjukkan bahwa kecepatan rotor


relatif terhadap kecepatan serempak bertambah secara linier dengan waktu,
sedangkan sudut rotor maju dari 0 ke sudut pada pemutus c yang berarti
dalam Gambar 3.2 sudut-sudut berubah dari b ke c. Pada saat diputuskannya
gangguan, peningkatan kecepatan rotor dan pemisah sudut antar generator dan
rel tak terhingga diberikan oleh

22

d
dt

t tc

s Pm

dan
(t )

t t c

tc

(3.4)

s Pm 2
t c + 0
4H

(3.5)

2H

bila gangguan dihitung pada sudut c, keluaran daya lsitri mendadak naik ke
nilai yang bersesuaian dengan titik d pada lengkung sudut daya. Pada d
keluaran daya listrik melebihi masukan daya mekanis sehingga daya
percepatan adalah negatif. Akibatnya kecepatan rotor menurun sementara Pe
berubah dari d ke e dalam Gambar 3.2c. Pada e kecepatan rotor kembali
serempak meskipun sudut rotor sudah maju sampai x. Sudut x ditentukan
oleh kenyataan bahwa luas A1 dan A2 harus sama seperti yang akan dijelaskan
kemudian. Daya percepatan pada e masih negatif (memperlambat) sehingga
rotor tidak dapat tetap dalam kecepatan serempak dan harus terus mengurangi
kecepatannya. Kecepatan relatif sekarang menjadi negatif dan sudut rotor
bergerak kembali dari x pada e melalui lengkung sudut daya dalam Gambar
3.2c ke titik a di mana kecepatan rotor adalah kurang dari kecepatan
serempak. Dari a ke f daya mekanis melebihi daya listrik dan kecepatan motor
naik lagi menjadi kecepatan serempak pada f. Titik f terletak sedemikian
sehingga luas A3 dan A4 sama. Jika tidak ada redaman rotor akan terus
berosilasi dalan urutan f-a-e, e-a-f, dan seterusnya dengan kecepatan serempak
pada e dan f.
Seperti yang telah dijelaskan bahwa daerah yang diarsir A1 dan A2
dalam Gambar 3.2c, luas A3 dan A4 harus sama. Dalam suatu sistem di mana
satu mesin berayun terhadap rel tak terhingga dapat digunakan prinsip
persamaan luas yang dinamakan kriteria luas sama (equal area criterion)
untuk menentukan kestabilan sistem dalam keadaan peralihan (transient)
tanpa harus menyelesaikan persamaan ayunan. Meskipun tidak untuk beberapa
sistem dengan mesin banyak, metode ini dapat membantu dalam memahami
bagaimana faktor tertentu mempengaruhi kestabilan peralihan pada setiap
sistem.
Penurunan kriteria luas sama telah dibuat untuk satu mesin dan suatu
rel tak terhingga, tetapi metode ini dapat disesuaikan untuk dua mesin yang
umum. Persamaan ayunan untuk mesin yang dihubungkan ke suatu rel adalah
2 H d 2
= Pm Pe
s dt 2

(3.6)

Kecepatan sudut rotor relatif terhadap kecepatan serempak


didefinisikan sebagai

23

r =

d
= s
dt 2

(3.7)

Differensial persamaan (3.7) terhadap t dan memasukkannya ke


dalam persamaan (3.6) adalah
2 H d r
= Pm Pe
s dt

(3.8)

jelas bahwa kecepatan tersebut serempak, sama dengan s dan r adalah nol
dengan mengalikan kedua sisi persamaan
d R
H
d
2 r
= Pm Pe
s
dt
dt

(3.9)

sisi sebelah kiri persamaan dapat ditulis kembali untuk memberikan

H d ( 2 R )
d
= Pm Pe
dt
s dt

(3.10)

dengan mengalikannya dengan dt dan mengintegrasikannya, diperoleh


2

H
( 2 r 2 2 r1 ) =
s

(Pm Pe) d

(3.11)

Subskrip untuk suku r bersesuaian dengan batas , yaitu kecepatan


rotor r1 bersesuaian dengan kecepatan sudut 1 dan r2 bersesuaian
dengan 2. Karena r mewakili persimpangan (devisi) kecepatan rotor dan
kecepatan serempak dengan mudah dapat dilihat bahwa bila kecepatan rotor
tersebut serempak pada 1 dan 2 maka r1 = r2 = 0. Dalam keadaan ini
persamaan 3.11 menjadi
2

(Pm Pc) d = 0

(3.12)

Persamaan ini berlaku untuk titik 1 dan 2 pada diagram sudut daya,
asal pada titik tersebut kecepatan rotor serempak. Dalam Gambar 3.2b dua
titik itu adalah a dan e yang bersesuaian dengan 0 dan x. Jika dilakukan
integrasi dalam dua langkah dapat dituliskan
x

(Pm Pc) d +

(Pm Pc) d = 0

(3.13)

atau

24

(Pm Pc) d =

(Pm Pc) d

(3.14)

Integral yang berada di sebelah kiri berlaku pada periode gangguan


sedangkan yang di sebelah kanan dengan periode segera setelah terjadinya
gangguan sampai pada titik ayunan maksimum x. Dalam Dambar 3.2b Pe
adalah nol selain terjadinya gangguan. Luas A1 yang diarsir diberikan oleh sisi
di sebelah kiri dari persamaan (3.14) dan luas A2 yang diarsir diberikan oleh
sisi sebelah kanan. Jadi luas A1 dan A2 harus sama.
Karena kecepatan rotor pada x dan y dalam Gambar 3.2c adalah
serempak. Alasan yang sama seperti di atas menunjukkan bahwa A3 sama
dengan A4. Luas yang mengalami percepatan, sedangkan luas A2 dan A3
sebanding dengan penurunan energi kinetis selama rotor itu diperlambat. Hal
ini dapat dilihat dengan memeriksa kedua sisi persamaan (3.11). Persamaan
luas sama sebenarnya hanya menyatakan bahwa berapa pun energi kinetis
yang ditambahkan pada rotor setelah terjadinya gangguan untuk
mengembalikan rotor pada kecepatan serempak berakhir.
Luas A1 yang diarsir tergantung pada waktu yang diperlukan untuk
menghilangkan gangguan. Jika ada keterlambatan dalam pemutusan gangguan
ini, sudut c akan bertambah demikian pula dengan luas A1 bertambah dan
kriteria luas sama menghendaki bahwa A2 juga meningkat untuk
mengembalikan rotor pada kecepatan serempak pada sudut ayunan maksimum
x yang lebih besar. Jika keterlambatan tersebut di atas diperpanjang
sedemikian rupa sehingga sudut berayun melebihi sudut maks dalam
Gambar 3.2 maka kecepatan rotor pada titik itu dalam lengkung sudut daya
adalah lebih besar dari kecepatan serempak ketika didapatkan lagi percepatan
positif. Dengan adanya pengaruh percepatan daya positif ini, sudut akan
meningkat tanpa batas dan terjadilah kestabilan. Oleh karena itu akan
ditemukan sudut kritis untuk pemutus (clearing) gangguan agar persyaratan
kriteria luas sama untuk kestabilan dapat terpenuhi. Sudut ini dinamakan sudut
pemutusan kritis cr (critical clearing angle) dan diperlihatkan dalam
Gambar 3.2. Waktu yang bersesuaian diperlukan untuk menghilangkan
gangguan dinamakan waktu pemutusan kritis tcr (critical clearing time).

25

Gambar 3.3 Lengkung sudut daya menunjukkan sudut pemutus kritis cr luas A1
dan A2 adalah sama

Dalam hal khusus pada Gambar 3.3 sudut pemutusan kritis dan
waktu pemutus kritis keduanya dapat dihitung sebagai berikut. Luas segiempat
A1 adalah
x

A1 =

d = Pm (cr 0)

(3.15)

sedangkan luas A2 adalah


maks

A2 =

maks

sin Pm )d

(3.16)

cr

= Pmaks(cos cr cos maks) Pm (maks cr)


dengan menyatakan rumus untuk A1 dan A2 serta memindahkan suku-sukunya
akan menghasilkan
cos cr = (Pm / Pmaks) (maks 0) + cos maks

(3.17)

Lengkung sudut daya sinusoida adalah


maks = 0 rad listrik

(3.18)

dan
Pm = Pmaks sin 0

(3.19)

Dengan memasukkan maks dan Pm ke dalam persamaan (3.17),


menyederhanakan hasilnya dan menyelesaikannya untuk cr, diperoleh
cr = cos-1 [ ( - 20) sin 0 cos 0 ]
(3.20)
Untuk sudut pemutus kritis, nilai cr yang dihitung dari persamaan ini
bila dimasukkan ke sisi sebelah kiri persamaan (3.20) akan menghasilkan
cr =

s Pm 2
t cr + 0
4H

(3.21)

26

dan dari sini diperoleh


tcr =

4 H ( cr 0 )
s Pm

(3.22)

B. Algoritma
Studi dilakukan pada sistem yang menggunakan parameter sebagai
berikut:
c. Daya yang diserap oleh beban (daya rata-rata) dalam p.u.
d. Faktor daya yang diserap oleh beban dalam p.u.
e. Tegangan infinitif bus dalam p.u.
f. Impedansi (reaktansi trafo) dalam p.u.
g. Impedansi (reaktansi saluran transmisi) bus 1 dalam p.u.
h. Impedansi (reaktansi saluran transmisi bus 2 dalam p.u.
i. Rating yang digunakan base generator dalam MVA base.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan simulasi
perhitungan gangguan dengan metode kriteria luas sama adalah:
a. Analisis Data
1. Analisis stabilitas transient sebelum terjadi gangguan (prefault)
Menghitung reaktansi total saluran.
Menghitung arus.
Menghitung tegangan generator pada saat sebelum terjadi
gangguan dan sudut mula-mula.
Menghitung persamaan daya elektris.
2. Analisis pada saat terjadi gangguan
Mengetanahkan saluran yang terkena gangguan.
Menghitung impedansi saluran dengan transformasi Y.
Menghitung reaktansi saluran dengan transformasi Y .
Menghitung persamaan daya elektris pada saat terjadi gangguan.
3. Analisis setelah terjadi gangguan
Menghitung reaktansi total saluran.
Menghitung persamaan daya elektris untuk mencari sudut daya.
Mencari sudut delta setelah terjadi gangguan.
4. Analisis gangguan dengan persamaan luas sama menggunakan
asumsi c = cc
Menghitung luasan A1.
Menghitung luasan A2.
Menghitung sudut kritis dengan metode kriteria luas sama.

27

5. Analisis persamaan ayunan (swing equation)


b. Pengujian
1. Bila breaker terbuka dengan sudut clearing (clearing angle) lebih kecil
dari sudut kritis c < cc.
a. Pada saat terjadi gangguan temporer
Menghitung luasan A1.
Menghitung luasan A2.
Menghitung persamaan luas sama.
Mencari sudut ayunan maksimum dengan cara iterasi.
b. Pada saat terjadi gangguan permanen
Menghitung luasan A1.
Menghitung luasan A2.
Menghitung persamaan luas sama.
Mencari sudut ayunan maksimum dengan cara iterasi.
2. Bila breaker terbuka dengan sudut clearing (clearing angle) lebih besar
dari sudut kritis c > cc.
a. Pada saat terjadi gangguan temporer
Menghitung luasan A1.
Menghitung luasan A2.
Menghitung persamaan luas sama.
Mencari sudut ayunan maksimum dengan cara iterasi.
b. Pada saat terjadi gangguan permanen
Menghitung luasan A1.
Menghitung luasan A2.
Menghitung persamaan luas sama.
Mencari sudut ayunan maksimum dengan cara iterasi.
C. Simulasi
Model sistem tenaga listrik yang menyangkut masalah stabilitas diambil dari
Gross (1979: 459). Dalam sistem tenaga listrik terdiri dari dua buah mesin
yang mana mesin 1 sebagai pembangkit daya mesin 2 dipasang pada infinite
bus, dua buah transformator masing-masing trafo 1 sebagai penaik tegangan
dan trafo 2 sebagai penurun tegangan, saluran transmisi terdiri dari saluran
ganda yang bertujuan bila terjadi gangguan pada salah satu saluran transmisi
tetap dapat menyalurkan teangan sebagai kontinuitas saluran tetap lebih baik.
Infinite bus pada sistem di bawah menyerap daya sebesar S = 1,0 + j0,2 p.u.
2

28

TR1
Mesin 1

XST = j0,30

CB 3

TR 2
CB4

Mesin 2

1,0
Xq= Xd= j0,15
XTR1 = j0,10

CB 1
XTR1 = j0,10

00

CB 2
XST3 = j0,05

Gambar 3.1 Model sistem yang digunakan dalam studi stabilitas transient
Keterangan gambar:
Xq
= Reaktansi mesin 1
XTR 1 = Reaktansi trafo 1
XTR 2 = Reaktansi trafo 2
XT
= Reaktansi pada saluran transmisi
TR 1 = Trafo 1

TR 2
B1
B2
B4
F

= trafo 2
= Circuit Breaker 1
= Circuit Breaker 2
= Circui Breaker 3
= Fault

Tabel 3.1 Parameter-parameter


Parameter
Reakansi generator
Reaktansi Trafo 1
Reaktansi Trafo 2
Reaktansi Saluran Transmisi 1
Reaktansi Saluran Transmisi 2
Reaktansi Saluran Transmisi 3
Tegangan Referensi Beban

Reaktansi (X)
( p.u)
j0,05
j0,05
j0,05
j0,01
j0,02
j0,03
1,00 0

Dengan infinite bus pada sistem menyerap daya sebesar S = 1,0 + j0,2 maka
kita akan menentukan sudut clearing critical (Sudut delta krisis) jika terjadi
gangguan 3 phasa pada titik F (fault) serta gangguan terbukanya breaker B1
dan B2 dan tegangan Eq, dengan cara sebagai berikut:
1. Analisis stabilitas trabnsient sebelum terjadi gangguan (prefault)

29

Gambar 3.4. Diagram reaksi sebelum terjadinya gangguan (prefault)

a.

Menghitung reaktansi total saluran sebelum terjadi gangguan

jX X q X T 1

X ST 1 X ST 3 X ST 2
X ST 1 X ST 3 X ST 2

jX j 0,15 j 0,05

XT2

j 0,30 j 0,20

j 0,10
j 0,05
j 0,03 j 0,20 j 0,10

= j 0,15 j 0,05 j 0,15


= j 0,4 pu
b.

Menghitung arus
I

S
V

1,0 j 0,2
1 j0
= 1,0 j 0,2 pu
I 1,0 j 0,2

1,0198 11,310 pu

c.

Menghitung tegangan generator pada waktu sebelum gangguan


dan sudut mula-mula
E ' q V I ( jX )

I (1,0198 11,310 )(0,490 0 )

= I j 0 0,0799 j 0,4
= j1,0799 j 0,4 pu
= 1,151620,32 0 pu
Jadi kita dapatkan E = 1,1516 dan 0 = 20,320
d.

Menghitung persamaan daya elektris


E qV

sin
X
(1,1516)(1)
Pe
sin
j 0,4

Pe

= 2,8800 sin
2. Analisa stabilitas transient pada saat terjadi gangguan (fault)

30

a. Mengetanahkan saluran yang terkena gangguan

Gambar 3.5. Diagram reaktansi ketika terjadi gangguan semua saluran ditanahkan dan
dihubungkan bintang untuk mencari impedansi pengganti

b. Menghitung impedansi saluran dengan transformator - Y


( X ST 1 )( X ST 2 )
ZT
X ST 1 X ST 3 X ST 2
( j 0,3)( j 0,1)
j 0,3 j 0,2 j 0,1
0.03
= j 0,6

ZT

= j 0,05 pu
( X ST 1 )( X ST 3 )
Z2
X ST 1 X ST 3 X ST 2
( j 0,3)( j 0,2)
j 0,3 j 0,2 j 0,1
0.06
= j 0,6

ZT

= j 0,01 pu
( X ST 2 )( X ST 3 )
Z3
X ST 1 X ST 3 X ST 2
( j 0,1)( j 0,2)
j 0,3 j 0,2 j 0,1
0,02
= j 0,6

ZT

= j 0,0333 pu

Gambar 3.6. Diagram reaktansi ketika saluran telah dihubung bintang

31

Gambar 3.7. Diagram reaktansi untuk reaktansi pengganti

c. Menghitung reaktansi saluran dengan transformasi - Y


jX =

( X q X T 1 )( Z 3 ) ( X q X T 1 )( Z 2 X T 2 ) ( Z 2 X T 2 )( Z 3 )

jX

Z3
( j 0,25)( j 0,0333) ( j 0,25)( j 0,15) ( j 0,15)( j 0,0333)
j 0,0333

= j 0,25 j 0,15

( j 0,25)( j 0,15)
j 0,0333

= j1,5261 pu

Gambar 3.8. Diagram reaktansi setelah reaktansi transformasi Y-

d. Menghitung persamaan daya elektris pada saat terjadi gangguan


Pe

E q' V
jX

sin

(1,152)(1)
sin
1,5261
= 0,7549 sin

3. Analisa stabilitas transient setelah terjadi gangguan (post fault) CB (Circuit


Breaker) B1 B2 terbuka

32

Gambar 3.9. Diagram reaktansi setelah terjadi gangguan (post fault) B1 dan B2 terbuka

a. Menghitung reaktansi total saluran setelah terjadi gangguan


jX = Xq + X11 + XST1 + XT2
= j0,15 + j0,05 + j0,03 + j0,05
= j0,55
b. Menghitung persamaan daya elektris untuk mencari sudut daya
Pe

Pe

E q' V
jX

sin

(1,1516)(1)
sin
j 0,55

= 2,0945 sin
Pe = Pm
1= 2,0945 sin
1

sin = 2,0945
= sin -1 (0,4774)
= 28,520 dan = (180) 28,520) = 151,480

2.8800
Sebelum
gangguan

2.0945

Setelah
gangguan

A2
Pm

1.0000

A1

0.7549

Saat
gangguan

d
20.3

90

dKritis

151.48

180

33

Gambar 3.10. Kurva yang menunjukkan kriteria=cc

4. Analisis persamaan luas sama dengan asumsi krtis = cc


a. Menghitung luas A1

A1 V ( cc

cc

0 )
Pe sin d
180
0

cc


0,7549 sin d
A1 = (1)(cc 20,3 )
180
20 , 3
0


0
cc 0,3543 0,7549 cos cc cos 20,3
180

= (1,7453 x 10-2)cc 0,3543 + 0,7549 cos cc 0,7080


= -1,0623 + (1,7453 x 10-2)cc + 0,7549 cos cc
b. Menghitung luas A2


A2 Pe sin d V ( cc )

180
cc
151, 48

A2 2,0945

sin d V (151,48

cc


cc )

180

0
= -2,0945 cos151,48 cos cc 2,6438


cc
180

= 1,8403 2,0945 cos cc 2,6438 (1,7453 10 ) cc


= -0,8035(1,7453 x 10-2)cc + 2,0945 cos cc
c. Menghitung sudut kritis dengan metode kriteria luas sama, maka luas
A1=A2 diperoleh persamaan seperti
-1,0623 + (1,7453 x 10-2) cc + 0,7549 cos cc = -0,8035 (1,7453 x 10-2) cc
+ 2,0945 cos cc
-1,0623 + 0,8035 = 2,0945 cos cc 0,7549 cos cc
-0,2588 = 1,3396 cos cc
2

0,2588

cos cc = 1,3396
cc = cos-1(-0,1932) = 101,120
Jadi sudut kritis cc = 101,120
5. Menghitung persamaan ayunan (swing equation)
2 Hd 2
Pa Pm Pc
s dt 2

dimana arti dari simbol di atas:

34

= konstanta yang berhubungan dengan kelembaman dalam mega joule per


MVA
s = kecepatan serempak dalam satuan listrik, untuk suatu sistem dengan
frekuensi sebesar Hertz
d = perubahan sudut daya derajat
dt = perubahan waktu dalam detik pada saat ayunan
a. Menghitung persamaan ayunan sebelum terjadi gangguan
2 Hd 2
= 1.0 2.8800 sin
s dt 2
= 1,0 2,8800 sin 20,30 = 0,0008 pu
d 2 s
Percepatan awal

(0,0008) derajat listrik/detik2


2
2h
dt
b. Menghitung persamaan ayunan pada saat terjadi gangguan
2 Hd 2
= 1.0 0,7549 sin
s dt 2
= 1,0 0,7549 sin 20,30 = 0,7381 pu
d 2 s
Percepatan awal

(0,7381) derajat listrik/detik2


2
2
h
dt
c. Menghitung persamaan ayunan setelah terjadi gangguan
2 Hd 2
= 1.0 2,0945 sin
s dt 2
= 1,0 0,0945 sin 20,30 = 0,2733 pu
d 2 s
Percepatan awal

(0,2733) derajat listrik/detik2


2
2h
dt
Analisis
Bila breaker terbuka dengan sudut clearing (clearing angle) lebih kecil dari
sudut kritis c<cc

35

2.8800
Sebelum
gangguan

2.0945

Setelah
gangguan

A2
Pm

1.0000

A1

0.7549

Saat
gangguan

d
20.3

90

dKritis

151.48

180

Gambar 3.11 Kurva yang menunjukkan gangguan temporer pada saat CB (circuit breaker)
terbuka dengan sudut clearing (clearing angle) lebih kecil dari sudut kritis c<cc

a. Pada saat terjadi gangguan tidak tetap (temporer)


1. Menghitung luasan A1

cc

A1 V ( cc 0 )

Pe

sin d
180
0

A1 (1)( cc

cc

20,3 )
0,7549 sin d
180
20 , 3


0
0
0,7549cos 60 cos 20,3
180
= 0,6929 0,3775 0,7080 = 0,3624

0
0
= (1)(60 20,3 )

2. Menghitung luasan A2
R

180

A2 Pe sin d - V ( cc )
c

72


A2 2,0945 sin d - V ( R cc )

180
60
0
0
0
0
= -2,0945 cos 72 cos 60 (1)(72 60 )

180

= -0,6472 + 1,0473 0,2094 = 0,1907


3. Menghitung persamaan kriteria luas sama (equal area equation) yang
mana: A1 = A2 +A3
A3 = A1 A2
= 0,3624 0,1907 = 0,1717

36

4. Menghitung luasan A3 untuk memperoleh persamaan guna menetukan


sudut ayun maksimum
s

180

A3 Pe sin d - V ( S R )
R

180

A3 2,8800 sin d - (1)( R cc )


R



0
S
72
180
180


s + 0,8900 -
s + 1,2566
0,1717 = -2,8800 cos s -
180
180

s
= 2,1466 2,8800 cos s -
180

= -2,8800(cos s-cos 720) -


s = 1,9749
180
5. Mencari sudut ayun maksimum dengan cara iterasi.

2,8800 cos s +

Untuk:

800 = 0,5001 + 1,3963 = 1,8964
180

770 = 0,6479 + 1,3439 = 1,9918
s = 770 2,8800 cos 770 +
180

77,90 = 0,6037 + 1,3596 = 1,9633
s = 77,90 2,8800 cos 77,90 +
180


790 = 0,5495 + 1,3788 = 1,9283
s = 790 2,8800 cos 790 +
180

780 = 0,5988 + 1,3614 = 1,9602
s = 780 2,8800 cos 780 +
180

77,60 = 0,6184 + 1,3543 = 1,9727
s = 77,60 2,8800 cos 77,60 +
180


77,50 = 0,6233 + 1,3526 = 1,9759
s = 77,50 2,8800 cos 77,50 +
180

77,550 = 0,6209 + 1,3535 = 1,9749
s = 77,550 2,8800 cos 77,550 +
180

77,540 = 0,6214 + 1,3533 = 1,9747
s = 77,540 2,8800 cos 77,540 +
180


77,530 = 0,6218 + 1,3532 =1,9750
s = 77,530 2,8800 cos 77,530 +
180
dibulatkan mendekati 1,9749

s = 800 2,8800 cos 800 +

37

Jadi sudut maksimum adalah = 77,530


b. Pada saat terjadi gangguan permanen
1. Menghitung luasan A1

cc

A1 V ( cc 0 )

Pe

sin d
180
0

A1 (1)( cc

cc

20,3 )
0,7549 sin d
180
20 , 3


0
0
0,7549cos 60 cos 20,3
180
= 0,6929 0,3775 0,7080 = 0,3624

0
0
= (1)(60 20,3 )

2. Menghitung luasan A2
R

180

A2 Pe sin d - V ( cc )
c

72


A2 2,0945 sin d - (1)( R 60 0 )

180
60

cc 1,0472
180

= -2,0945 cos 1,0473


s + 2,0945
180

= -2,0945 cos s -

3. Menghitung dengan metode Kriteria Luas Sama, maka luas A1 = A2


diperoleh persamaan seperti di bawah,

s + 2,0945
180

s = 1,7321
persamaan -2,0945 cos s -
180
4. Mencari nilai sudut ayun maksimum sesuai persamaan dengan iterasi:

850 = 0,1810 + 1,4850 = 1,6660
s = 850 2,0945 cos 850 +
180


800 = 0,3637 + 1,3963 = 1,7600
s = 800 2,0945 cos 800 +
180

84,50 = 0,2007 + 1,4748 = 1,6755
s = 84,50 2,0945 cos 84,50 +
180

80,50 = 0,3456 + 1,4050 =
s = 80,50 2,0945 cos 80,50 +
180

1,7507

0,3624 = -2,0945 cos s -

38


83,50 = 0,2371 + 1,4573 = 1,6944
180

830 = 0,2551 + 1,4486 = 1,7037
s = 830 2,0945 cos 830+
180

820 = 0,2914 + 1,4312 = 1,7227
s = 820 2,0945 cos 820+
180

810 = 0,3277 + 1,4137 = 1,7414
s = 810 2,0945 cos 810+
180

81,50 = 0,3096 + 1,4224 = 1,7320
s = 81,50 2,0945 cos 81,50 +
180
dibulatkan mendekati 1,7321
Jadi sudut ayunan maksimum adalah = 81,50

s = 83,50 2,0945 cos 83,50 +

Bila CB terbuka dengan sudut clearing (clearing angle) lebih


besar dari sudut kritis c>cc
a. Pada saat terjadi gangguan sementara (temporer)

Gambar 3.12. Kurva yang menunjukkan gangguan temporer pada saat CB (circuit
breaker) terbuka dengan sudut clearing (clearing angle)
lebih besar dari sudut kritis c>cc
Keterangan:
Bila breaker terbuka pada sudut clearing c = 1100
Dan breaker menutup pada sudut Re-closer R = 1220

1. Menghitung luasan A1

A1 V ( cc

cc

0 )
Pe sin d
180
0

A1 (1)( cc

cc

20,3 )
0,7549 sin d
180
20 , 3

39


0
0
0,7549cos110 cos 20,3
180
= 1,5656 0,2582 0,7080 = 0,5994

0
0
= (1)(110 20,3 )

2. Menghitung luasan A2
R

180

A2 Pe sin d - V ( cc )
c

122


A2 2,0945 sin d - V ( R cc )

180
110

180

= -2,0945[cos1220 cos1100] -(1)(1220 1100) +


= 1,1099 0,7164 - 0,2094 = 0,1841

3. Menghitung persamaan luas sana (equal area equation) yang mana:


A1 = A2 + A3
A3 = A1 A2
= 0,5994 0,1841 = 0,4153
4. Menghitung luasan A3
R


A3 Pe sin d - V ( S R )

180

180

A3 2,8800 sin d - (1)( R cc )


C



0
S
122
180
180

= -2,8800(cos S cos 1220) -


S + 2,1293
180

S
= 0,631 2,8800 cos S -
180

0,4153 = -28800 cos S -


S = 0,6031 0,4153
180

S = 0,1878
Persamaan 2,8800 cos S +
180

2,8800 cos S +

5.

Mencari sudut ayun maksimum dengan cara iterasi


Untuk:

1460 = -2,3876 + 2,5482 = 0,1606
180

s = 1460 2,8800 cos 1460 +

40


1400 = -2,2062 + 2,4435 = 0,2373
180

1450 = -2,3591 + 2,5307 = 0,1716
s = 1450 2,8800 cos 1450 +
180

1410 = -2,2381 + 2,4608 = 0,2227
s = 1410 2,8800 cos 1410 +
180

1420 = -2,2695 + 2,4784 = 0,2089
s = 1420 2,8800 cos 1420 +
180

1440 = -2,2330 + 2,5133 = 0,1833
s = 1440 2,8800 cos 1440+
180

1430 = 2,3000 + 2,4958 = 0,1953


s = 1430 2,8800 cos 1430+
180

143,50 = -2,3151 + 2,5045 =
s = 143,50 2,8800 cos 143,50+
180
0,1947

143,70 = -2,3211 + 2,5080 =
s = 143,70 2,8800 cos 143,70 +
180
0,1869

143,650 = -2,3196 + 2,5072 =
s = 143,650 2,8800 cos 143,650+
180

0,1878
jadi sudut maksimum adalah 143,650

s = 1400 2,8800 cos 1400 +

2.8800
Sebelum
gangguan

2.0945

Setelah
gangguan

A2

Pm

1.0000

A1

0.7549

Saat
gangguan

d
20.3

dC

dS

90

dKritis

151.48

180

Gambar 3.13. Kurva yang menunjukkan gangguan permanen


Keterangan:
Jika CB terbuka pada sudut Breaker Open C = 1100
Sudut ayun max S = ?
Karena tidak mungkin diperoleh luasan yang sama A1 dan A2
Maka dari itu sistem menjadi tidak akan stabil

41

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan mensetting


sudut clearing (breakers open) lebih kecil dari sudut kritis (critical angle)
c < cc dapat diperoleh hasil yang lebih baik karena gangguan yang timbul
dapat dihilangkan dengan cepat sehingga tidak berakibat fatal pada sistem
tenaga listrik tersebut.

Metode Langkah demi Langkah


A. Kurva dan Persamaan Sudut Daya
Metode penyelesaian persamaan ayunan dengan memakai lengkung
lengkung ayunan untuk berbagai waktu pemutusan, sehingga diperoleh

42

besarnya waktu pemutusan yang diijinkan sebelum diputuskan suatu


gangguan dinamakan metode langkah demi langkah. Dalam metoda untuk
perhitungan dengan tangan, perubahan posisi sudut rotor selama suatu
interval waktu yang pendek dihitung dengan membuat pengandaian
pengandaian sebagai berikut:
1. daya Pa yang dihitung pada permulaan suatu interval adalah konstan mulai
dari pertengahan sebelum sampai pertengahan interval tersebut
2. kecepatan sudut adalah konstan untuk keseluruhan interval, dan
nilainya sama dengan yang dihitung paeda tengah tengah imterval
tersebut. Pengandaian initidak seluruhnya benar, karena berubah secara
terus menerus sedangkan Pa dan adalah fungsi dari , dengan
menambah kecilnya interval waktu yang ditinjau, lengkung ayuinan yang
dihitung akan lebih mendekati pada posisi lengkungan yang sebenarnya.
Untuk membantu dalam mamahami pengandaian tersebut, maka dapat dilihat
Gambar 4.1

Gambar 4.1. Nilai-nilai yang sebenarnya dan yang diandaikan dari Pa, r dan fungsi waktu

Daya percepatan dihitung untuk titik titik yang dilingkari pada ujung
interval yang ke (n-2), (n-1) dan n yang juga merupakan permulaan interval
yang ke-(n-1), n dan (n+1). Lengkung Pa yang berbentuk tangga dalam
Gambar 4.1 adalah akibat dari pengandaian bahwa Pa adalah konstan diantara

43

titik tengah interval. Demikian pula r , diperlihatkan lengkung berbentuk


tangga yang memepunyai nilai konstan untuk keseluruhan setiap interval,
yaitu sebesar nilai yang dihitung untuk titik tengah tersebut. Diantara ordinat
ordinat n-3/2 dan n-1/2 terdapat perubahan kecepatan yang disebabkan oleh
daya percepatan Pa konstan. Perubahan kecepatan ini adalah hasil kali
percepatan dan interval waktu, oleh karena itu :

r ( n 1 / 2) r ( n 3 / 2 )

d 2
180 f
t
Pa , ( n 1) t
2
dt
H

(4.1)
Perubahan pada setiap interval adalah hasil kali dari r untuk interval
tersebut dan waktu dari interval. Jadi perubahan dalam interval n -1 adalah :
n 1 n 1 n 2 t r ( n 3 / 2 )

(4.2)
dan dalam interval ke n :
n n n 1 t r ( n 1 / 2 )

(4.3)

dengan mengurangi persamaan (4.2) dan persamaan (4.3) dan memasukkan


persamaan (4.1) ke dalam persamaan hasilnya yang menghilangkan semua nilai

r , diperoleh:

n n 1 kI , n ( n 1)
(4.4)
dimana : k

180 f
( t ) 2 ,
H

(t ) 2
M

(4.5)

dari persamaan (4.3), (4.4) dan (4.5) besarnya sudut rotor :


n n 1 n n 1 n 1

( t ) 2
Pn ( n 1)
M

(4.6)

Persamaan (4.6) adalah sangat penting untuk penyelesaian langkah


demi langkah dari persamaan ayunan dengan seluruh pengandaian yang
diperlukan, karena persamaan ini menunjukkan bagaimana menghitung
perubahan dalam suatu unterval, jika perubahan pada interval
terdahulu dan daya percepatan untuk interval yang sedang ditinjau diketahui.
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa bertolak dari pengandaian-

44

pengandaian yang telah ditetapkan, perubahan sudut momen-putar (torque


angle) selama suatu interval tertentu adalah sama dengan perubahan sudut
momen-putar selama interval yang terdahulu plus daya percepatan pada
permulaan interval tersebut dikalikan dengan k. daya percepatan dihitung
pada permulaan setiap interval yang baru. Penyelesaian ini berlangsung
melalui interval-interval yang cukup banyak untuk memperoleh titik-titik
guna membuat grafik lengkung ayunan. Ketelitian yang lebih besar
didapatkan bila interval-interval tersebut singkat waktunya. Suaatu interval
sebesar 0,05 detik biasanya sudah cukup memberikan hasil yang memuaskan.

B. Algoritma Metode Langkah demi Langkah


Langkah-langkah yang dilakukan dalam simulasi perhitungan gangguan
dengan metode Langkah demi Langkah adalah:
1.
a.

Analisa data
Analisa Sebelum Terjadi Gangguan (pre fault)

1)
2)
3)
4)

membuat diagram raktansi dari single line diagram


menghtung reaktansi total saluran (jX) sebelum gangguan
menghitung arus, tegangan generator dan sudut mula-mula.
Menghitung persamaan daya elektris
S
, E q V I ( jX ), 0
V
E qV
Pe
sin
X

b.
1)
2)
3)
4)

Analisa Selama Terjadi Gangguan (during fault)


mentanahkan saluran yang mengalami gangguan
menghitung impedansi saluran dengan transformasi - Y
menghitung reaktansi saluran (jX) dengan transformasi Y
menghitung persamaan daya elektris
Pe

c.
1)

2)

E qV
X

sin

Analisa Setelah Gangguan (past fault)


menghitung reaktansi total saluran (jX) setelah terjadi
gangguan
menghitung persamaan daya elektris untuk mencari sudut daya

45

3)
4)

d.

Pe

E qV
X

sin

menggambar kurva ayunan P vs yang menunjukkan


ee

kritis

Analisis Gangguan Dengan Metode Langkah demi


Langkah
1) menghitun sudut kritis dengan persamaan berikut :
( P IP )(
0 ) r2 cos max r1 cos 0
cos 0 m max max
r2 r1
2) analisis persamaan ayunan (swing equation)
2 Hd 2
Pa Pm Pe
s dt 2

e.

Pengujian
1)

Analisis Gangguan Temporer, System Stabil


a) menhitung persamaan ayunan dari kurva ayunan Langkah
demi Langkah, tiap interval waktu yang ditentuka.
b) Menghitung besarnya sudut clearing ( e) saat gangguan
terjadi (breakers open) dan waktu pemutusan (clearing time
(te)) CB (breakers open)
c) Menghitung besarnya sudut R (re-closer on) saat gangguan
berangsur-angsur hilang dan waktu penyambungan kembali
CB (re-closer time (tR) setelah gangguan hilang
d) Menggambar kurva ayunan vs t dari data analisis

2)

Analisis Gangguan Temporer, System Tidak Stabil


a) menghitung persamaan ayunan dari kurva ayunan Langkah
demi Langkah, tiap interval waktu yang ditentukan
b) menghitung besarnya sudut clearing ( e) saat gangguan
terjadi (breakers open) dan waktu pemutusan (clearing time
(te)) CB (breakers open)
c) menghitung besarnya sudut R (re-closer on) saat gangguan
berangsur-angsur hilang dan waktu penyambungan kembali
CB (re-closer time((tg)) setelah gangguan hilang
d) menggambar kurva ayunan vs t dari hasil analisis

3)

Analisis Gangguan Permanent, System Tidak Stabil


a) menghitung persamaan ayunan dari kurva ayunan Langkah
demi Langkah, tiap interval waktu yang ditentukan

46

b) menghitung besarnya sudut clearing ( c) saat gangguan


terjadi (breakers open) dan waktu pemutusan (clearing time
(te)) CB (breakers open)
c) menggambar kurva ayuann vs t dari data hasil analisis
4)

Analisis Gangguan Permanen, System Stabil


a) menghitung persamaan ayunan dari kurva ayunan Langkah
demi Langkah, tiap interval waktu yang ditentukan.
b) Menghitung besarnya sudut clearing ( e) saat gangguan
terjadi (breakers open) dan waktu pemutusan (clearing time
(te)) CB (breakers open)
c) Menggambar kurva vs t rati data analisis
Jadi proses iterasi (pengulangan) dilakukan untuk menghitung
persamaan ayunan pada tiap-tiap jenis gangguan.

C. Simulasi
Model sistem tenaga listrik yang menyangkut masalah stabilitas diambil
dari Gross, C.A (1979). Dalam sistem tenaga listrik terdiri dari dua buah
mesin yang mana 1 sebagai pembangkit daya (generator ) dan mesin 2
dipasang pada bus infiniti, ddua buah transformator masing-masing trafo 1
sebagai penaik dan trafo 2 sebagai penurun tegangan. Bus infinite (bus 4) pada
sistem dibawa menyerap daya sebesar S = 1,0 + j0,2 p.u
2

TR1
Mesin 1

XST = j0,30
CB 3

TR 2
CB4

Mesin 2

1,0
Xq= Xd= j0,15
XTR1 = j0,10

CB 1
XTR1 = j0,10

00

CB 2
XST3 = j0,05

Gambar 4.2 Model sistem yang digunakan dalam studi stabilitas transient
Keterangan
M1 , M2 = Generator dan infinite bus
TR1, TR2 = Transformator daya
CB1, 2, 3, 4 = Circuit breaker pada saluran transmisi
1,2,3,4
= Bus
F
= Saluran yang mengalami gangguan

47

Tabel 4.1 Parameter-parameter


Parameter
Reakansi generator
Reaktansi Trafo 1
Reaktansi Trafo 2
Reaktansi Saluran Transmisi 1
Reaktansi Saluran Transmisi 2
Reaktansi Saluran Transmisi 3
Tegangan Referensi Beban

Reaktansi (X)
( p.u)
j0,05
j0,05
j0,05
j0,01
j0,02
j0,03
1,00 0

Dengan infinite bus pada sistem menyerap daya sebesar S = 1,0 + j0,2 maka
kita akan menentukan sudut kritis (clearing critical angle) jika terjadi gangguan
tiga fasa pada titik F (fault) serta gangguan terbukantha breaker CB1 dan CB2 dan
tegangan E q dengan cara sebagai berikut
1. Analisa stabilitas transient sebelum terjadi gangguan (prefault)
a. Diagram reaktansi
2
Xg = j0,15 1

XST1 = j0,30

XT1 = j0,05

X2 = j0,05 4

XST2 = j0,10 XST3 = j0,10

1,0 0o

Eq

Gambar 4.3 Diagram reaktansi sebelum terjadi gangguan (prefault)

b. Menghitung reaktansi total saluran sebelum terjadi gangguan


'

( X )( X ST 2 X ST 2 )
XT 2
JX = X d X T 1 ST 1
X ST 1 X ST 2 X ST 2

(0,03)(0,20 0,10)

0,05
= j 0,15 0,05
0,30 0,20 0,10

= j 0,15 + j 0,05 +j 0,015


= j 0,4 p.u
c. Menghitung arus
I (conjugate) =

S P2 Q2

V
V3

48

1,0 j 0,2
1 j0

= 1,0 j0,2
I = 1.0 j0,2 = 1,0198 -11,31 0 p.u
d. Menghitung tegangan generator sebelum terjadi gangguan dan sudfut mulamula .
'

E q = V + I (jX)
= 1+ (0,0198 -11,31 0 (0,4 + 90 0 )
= 1 + j0 + 0,0799 + j0,4
= 1,0799 + j0,4 p.u
= 1,1516 20,32 0 p.u
Jadi nilai E = 1,1516 p.u dan 0 = 20,32 0 = 0,3549 radian
e. Menghitung persamaan daya elektris
Eq' .V
Pe=
sin
X
=

(1,1516)(1)
sin
0,4

= 2,8800 sin p.u


f. Diagram phasor
ER

I jX

= 20,320
VR = 1,0
0 - 11,31

00

1
Gambar 4.4. Diagram phasor

2. Analisa Stabilitas transient selama gangguan (during fault)


a.

Mentanahkan saluran yang terkena gangguan


2
j0,15

3
j0,05

j0,10
Eq

j0,30

j0,05

j0,20
1,0

00

49

Gambar 4.5 Diagram reaktansi selama gangguan semua saluran di ketanahkan dan dihubung Y
untuk mencari impedansi gangguan
j0,2

j0,05

j0,1

j0,05

j0,0333
Eq

1,0

00

Gambar 4.6 Diagram reaktansi ketika saluran dihubung bintang

b.

Menghitung impedansi total saluran dengan transformasi - Y (Gb 4.3)


Z1 =

( X ST 1 )( X ST 2 )
X ST 1 X ST 2 X ST 3
( jo,3)( j 0,1)

Z 1 = j 0,3 j 02 j 0,1
Z1 =

0,03
j 0,6

Z2 =

( X ST 1 )( X ST 3 )
X ST 1 X ST 2 X ST 3

= j0,05 p.u

( j 0,3)( j 0,2)

Z 2 = j 0,3 j 0,2 j 0,1


Z2 =

0,06
j 0,1 p.u
j 0,6

Z3=

( X ST 1 )( X ST 2 )
X ST 1 X ST 2 X ST 3
( j 0,1)( j 0,2)

Z 3 = j 0,3 j 0,2 j 0,1


Z3=

0,02
j 0,0333 p.u
j 0,6
jX

50

Gambar 4.7 Diagram reaktansi untuk reaktansi pengganti

Transformasi Y - :

JX =
=

( X q X T 1 ) ( X q X T 2 )( Z 2 X T 2 )( Z 2 X T 3 )
Z3
( j 0,25)( j 0,0333) ( j 0,25)( j 0,15) ( j 0,15)( j 0,0333)
j 0,0333

= j0,25 + j0,15 +

( j 0,25)( j 0,15)
= j 1,5261 p.u
j 0,0333

j1,5261

Gambar 4.8 Diagram reaktansi setelah ditransformasikan Y -

c.

Menghitung persamaan daya elektris


Pe=

Eq' .V
jX

sin

51

(1,152)(1)
sin
1,5261

= 0,7549 sin p.u


3. Analisis stabilitas transient setelah gangguan (postfault), CB1 , dan CB2
terbuka
1

j0,15

j0,05

j0,30

Eq

j0,05

1,0

00

Gambar 4.9 Diagram reaktansi sebelum terjadi gangguan (post fault) dan breakers open

a. Menghitung reaktansi total saluran sdsebelum terjadi gangguan


JX = X q X T 1 X T 2 X T 3
= j0,15 + j0, 05 + j0,05
= j0,55 p.u
b. Menghitung persamaan daya elektris untuk mencari sudut daya
Pe =
=

Eq' .V
jX

sin

(1,1516)(1)
sin
j 0,55

= 2,0945 sin
Pm =Pe
1 = 2,0945 sin
1

sin = 2,0945

= sin 1 (0,4774)
= 28,52 0 dan =(180 0 - 28,52 0 ) = 151,48 0
Penggambaran klurva P vs sistem keadaan stabil

52

Gambar 4.10 Kurva P vs

saat sistem keadaan stabil

Keterangan :
1) Titik kerja awal (sebelum terjadi gangguan)
2) Pada

= 20,3 0 l, timbul gangguan yang mengakibatkan daya elektris P e

menurun drastis mencapai nilai 0,7549 p.u


3) Pada saat

l , CB CB terbuka dan gangguan hilang, daya elektris

kembali naik lebih besar dari daya mekanis. Penyelesaian Penyelesaian


Pe>Pm yang mengakibatkan pada rotor generator.
4) Menentukan sudut ayun kritis (

kritis

r1 =

= cos

( Pm / Pmax )( max 0 ) r2 cos max r1 cos 0

r2 r1

0,7549
0,261
2,88

kritis

kritis

r2=

2,0945
0,7273
2,88

= cos

(1,0 / 2,88)(2,6440 0,3543) 0,7273 cos151,480 0,2621c 0 s 20,30

0,7273 0,2621

= cos 1 (0,1931) = 101,132 0 = 1,7665 rad


t kritis =
=

4 H ( kritis 0 )

S .Pm

4.2,5(1,7665 0,3543)
(314,6)(1,0)

14,122
0,0449 0,2119 det ik
314,6

53

Nilai t kritis ekuivalen

Jadi sudut kritis

kritis

kritis

0,2119

= 0,025 8,4748cycle

= 101,132 0

Persamaan sudut daya dan sudut ayunan yang diperoleh :


1) Sebelum gangguan (prefault)
Pmax sin = 2,8800 sin per unit

Pm = 1,0 per unit 0 = 20,3 0

2) Selama gangguan (during fault)


Y1 Pmax sin = 0,75493 sin per unit
3) Setelah gangguan (post fault)
r 2 Pmax sin = 2,0945 sin per unit
4) Sudut-sudut ayunan rotor :
0 = 20,3 0 = 0,3543 radian

kritis

max

= 101,132 0 = 1,7665 radian


= 151,48 0 =2,6440 radian

5) Menghitung persamaan ayunan (swing equation)


2 H d 2
=P = Pm Pe

dt 2

dimana arti dari simbol diatas :


H = Konstanta yang berhubungan dengan kelembaman, dalam MJ / MVA
S = kecepatan serempak, dalam satuan listrik, untuk suatu sistem dengan

frekuensi Herz
d = perubahan sudut daya dalam detik pada saat ayunan
a.

Menghitung persamaan ayunan sebelum terjadi gangguan :


2 H d 2
= 1,0 2,8800 sin
2

dt

= 1,0 2,88 sin 20,3 0 = derajat listrik / detik

b. Menghitung persamaan ayunan selama terjadi gangguan

54

2 H d 2
= 1,0 0,7549 sin
2

dt

= 1,0 0,7549 20,3 0 = 0,7381 p.u

Percepatan awal

d 2

S (0,7381) derajat listrik / detik 2


2
dt
2H

c. Menghhitung persamaan ayunan setelah gangguan


2 Hd 2
= 1,0 2,0945 sin
s dt 2

= 1,0 2,0945 sin 20,30 = 0,2733p.u


Percepatan awal

s
d 2
=
(0,273) derajat listrik/detik2
2
2H
dt

4. Pengujian
a. Penggambaran kurva vs t untuk gangguan temporer, sistem stabil

Gambar 4.11.kurva yang menunjukkan gangguan temporer sistem stabil

Keterangan
Pada saat 1 = 20,30 terjadi gangguan hubung singkat ke tanah
Pada saat 2 = 109,110 CB-CB terbuka (trip) dan gangguan masih
berlangsung, beban hanya disuplai melalui satu saluran

55

Pada saat 3 = 1220 CB-CB menutup (recloser bekerja) dan


gangguan hilang, sistem kembali stabil
H = 2,5 MJ/MVA, dan f = 50 Hz
Persamaan daya p vs

Sebelum gangguan
P1 = P1m.sin = 2,8800 sin per unit, Pm = 1,0 p.u

1 = 20,30 = 0,3543 radian

Selama gangguan
P3 = P3m.sin = 0,7549 sin per unit

Setelah gangguan
P2 = P2m.sin = 2,0945 sin per unit
GH
(1,0)( 2,5)
M = 180. f =
2,78.10-4 sec2/0l
180.50

b. Analisa perhitungan iterasi Langkah demi Langkah


Diasumsikan t = 0,02 sec.
Hubungan untuk perhitungan kurva ayunan langkah per langkah
dilakukan seperti di bawah ini:
Pa(n-1) = Psh Pm sin
n = n 1 +

n-1

( t 2 )
pa(n-1)
M

n = n 1 + n

Harga rata-rata Pa harus digunakan pada awal interval.


t = 0 sec
Pa (0-) = 0 p.u
Pa (0+) = 1,0 0,7549 sin (20,30) = 0,7381 p.u
Pa (0rata-rata) = (0 + 0,7381)/2 = 0,3691 p.u
(0sec) = 20,30 = 0,3543 radian

Sin (0sec) = sin 20,30 = 0,3469

56

(0,02) 2
(t ) 2
=
= 1,4388
2,78.10 4
M

(0,025 sec) = 0 + (1,4388 . 0,3691) = 0,53110


t = 0,02 sec
n = n 1 + n

(0,02 sec) = 20,3 + 0,5311 = 20,830 = 0,3638 rad

Sin (0,02 sec) = sin 20,830 = 0,3556


Pm = 0,7549 p.u
Pe = Pm Sin = (0,7549)(0,3556) = 0,2684 p.u
Pa = Psh Pe = 1,0 0,2684 = 0,7316 p.u
n = n 1 +

( t 2 )
pa(n-1)
M

(0,04 sec) = 0,5311 + (1,4388 . 0,7316) = 1,58360


t = 0,04 sec
n = n 1 + n

(0,04 sec) = 20,83 + 1,5836 = 22,410 = 0,3915 rad

Sin (0,04 sec) = sin 22,410 = 0,3812


Pm = 0,7549 p.u
Pe = Pm Sin = (0,7549)(0,3812) = 0,2878 p.u
Pa = Psh Pe = 1,0 0,2878 = 0,7122 p.u
n = n 1 +

( t 2 )
pa(n-1)
M

(0,06 sec) =1,5836 + (1,4388 . 0,7122) = 2,60830


t = 0,06 sec
n = n 1 + n

(0,06 sec) = 22,41 + 2,6083= 25,020 = 0,4370 rad

Sin (0,06 sec) = sin 25,020 = 0,4229


Pm = 0,7549 p.u
Pe = Pm Sin = (0,7549)(0,4229) = 0,3193 p.u

57

Pa = Psh Pe = 1,0 0,3193 = 0,6807 p.u


n = n 1 +

( t 2 )
pa(n-1)
M

(0,08 sec) = 2,6083 + (1,4388 . 0,6807) = 3,58770


t = 0,08 sec
n = n 1 + n

(0,08 sec) = 25,02 + 3,5877 = 28,610 = 0,4997 rad

Sin (0,08 sec) = sin 28,610 = 0,4788


Pm = 0,7549 p.u
Pe = Pm Sin = (0,7549)(0,4788) = 0,3615 p.u
Pa = Psh Pe = 1,0 0,3615 = 0,6385 p.u
n = n 1 +

( t 2 )
pa(n-1)
M

(0,1 sec) =3,5877 + (1,4388 . 0,6385) = 4,50640


Harga delta yang lain dapat dilihat pada tabel perhitungan Tabel 4.2.
c. Menghitung sudut clearing c dan sudut Re-Closer On
fault clering angle c (Breakers open)
Cos c =

1
r2 r1

( max 0 ) sin 0 r2 cos r1 cos max

Cos c =

(2,6459 0,5343) sin 20,3

0,7273 cos 20,30 0,2621cos151,480


0,7273 0,2621
0

c = cos-1(-3274) = 109,110

fault clering time tc =


=

4 H ( c 0 )
=
s .Psh
0,0493

4.2,5(1,9058 0,3543)
314,6.1,0

= 0,2221sec

58

0,2221
= 11,15cycles
0,02

Re-closer on R = 1220 = 2,1310 radian


4 H ( R 0 )
=
s .Psh

Re-closer time tR =
=
=

0,0565

4.2,5( 2,131 0,3543)


314,6.1,0

= 0,2376sec

0,2376
= 11,88 cycles
0,02

Tabel 4.2. Tabel perhitungan untuk fault cleared 11,15 cycless (0,2221 detik)
k=(t2)/M = 1,4388 derajat listrik
T
Sec
0+
00rata-rata
0.02
0.04
0.06
0.08
0.1
0.12
0.14
0.16
0.18
0.2
0.22
0.24
0.26
0.28
0.3
0.32
0.34
0.36
0.38
0.4
0.42
0.44
0.46
0.48
0.5
0.52

Pm
p.u
2.88
0.7549
0
0.7549
0.7549
0.7549
0.7549
0.7549
0.7549
0.7549
0.7549
0.7549
0.7549
0.7549
2.0945
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88

Sin
0.3469
0.3469
0.3469
0.3559
0.3816
0.4233
0.4792
0.5467
0.6224
0.7023
0.7816
0.8553
0.9183
0.966
0.9941
0.9999
0.9956
0.9922
0.9941
0.9989
0.998
0.9759
0.9121
0.7865
0.5893
0.3312
0.0462
-0.222
-0.437

Pe
p.u
0.9992
0.2619
0
0.2687
0.2881
0.3195
0.3617
0.4127
0.4699
0.5302
0.59
0.6457
0.6933
0.7293
2.082
2.8796
2.8673
2.8576
2.8629
2.8769
2.8742
2.8106
2.6269
2.2652
1.6971
0.954
0.1331
-0.638
-1.257

Pa
p.u
0.0008
0.7381
0.3691
0.7313
0.7119
0.6805
0.6383
0.5873
0.5301
0.4698
0.41
0.3543
0.3067
0.2707
-1.082
-1.88
-1.867
-1.858
-1.863
-1.877
-1.874
-1.811
-1.627
-1.265
-0.697
0.046
0.8669
1.6379
2.2573

k.Pa
deg
0
0
0.5311
1.0523
1.0243
0.9791
0.9183
0.845
0.7627
0.676
0.5899
0.5098
0.4413
0.3896
-1.557
-2.704
-2.687
-2.673
-2.68
-2.7
-2.697
-2.605
-2.341
-1.82
-1.003
0.0662
1.2473
2.3567
3.2479

Deg
0
0
0.5311
1.5833
2.6077
3.5867
4.505
5.3501
6.1128
6.7888
7.3787
7.8885
8.3298
8.7194
7.1625
4.4581
1.7714
-0.901
-3.582
-6.282
-8.979
-11.58
-13.92
-15.74
-15.75
-16.68
-15.43
-13.08
-9.83

deg
20.3
20.3
20.3
20.83
22.41
25.02
28.61
33.11
38.46
44.58
51.37
58.74
66.63
74.96
83.68
90.84
95.3
97.07
96.17
92.59
86.31
77.33
65.75
51.82
36.08
19.33
2.647
-12.8
-25.9

Rad
0.3543
0.3543
0.3543
0.3639
0.3915
0.4371
0.4997
0.5784
0.6719
0.7786
0.8972
1.0261
1.1639
1.3094
1.4617
1.5868
1.6647
1.6956
1.6799
1.6173
1.5076
1.3507
1.1484
0.9052
0.6302
0.3376
0.0462
-223
-0.452

59

Keterangan tabel
1. Sistem dalam keadaan stabil pada saat t = 0 +detik dengan sudut daya 0 = 20,30l dan daya
pm= 2,88 p.u
2. Sistem mengalami gangguan pada saat t = 0 -detik s/d t = 0,22 detik yang menyebabkan
daya output generator turun mencapai nilia sebesar p m = 0,7549 p.u. dan rotor generator
mengalami percepatan, sehingga sudut daya bertambah besar, sebesar (0,22) = 74,960l
3. Sistem setelah mengalami gangguan pada t = 0,24 detik dan sudut daya (0,24) = 83,680l
sehingga daya output generator pulih kembali seperti pada saat sebelum mengalami
gangguan, sehingga sistem kembali dalam keadaan stabil.

d.

Penggambaran kurva vs t untuk gangguan temporer, sistem stabil.

Gambar 4.12. Kurva vs t untuk gangguan temporer, sistem stabil

Dari tabel data dan penggambaran kurva vs t hasil analisis diperoleh:


jika sudut clearing lebih besar dari sudut kritis c > cc, dengan mensetting
c = 109,110 dan cc = 101,130, maka sudut ayun rotor maksimum s =
97,070
2. Penggambaran kurva vs t untuk gangguan temporer, system tak stabil
a. Gambar kurva P vs

60

Gambar 4.13. Kurva yang menunjukkan gangguan temporer system tak stabil

Keterangan:
Pada saat 1 = 20,30 terjadi gangguan hubung singkat ke tanah.
Pada saat 2 = 1200 CB-CB terbuka (trip) dan gangguan masih berlangsung, beban hanya
disuplai melalui satu saluran.
Pada saat 3 = 1320 CB-CB menutup (recloser) bekerja dan gangguan hilang.
H = 2,5 MJ/MVA dan f = 50 Hz

Persamaan daya P vs
Sebelum gangguan
P1 = P1m . sin = 2,8800 sin per unit, Pm = 1,0 p.u
1 = 20,30 = 0,3543 radian
Selama gangguan
P3 = P3m . sin = 0,7549 sin per unit
Setelah gangguan
P2 = P2m . sin = 2,0945 sin per unit

G.H (1,0)(2,5)

2,78.10 4 sec 2 / 0
180. f
180.50

b. Analisa Perhitungan iterasi Langkah demi Langkah


Diasumsikan t = 0,2 sec. Hubungan untuk perhitungan kurva ayunan langkah
per langkah dilakukan seperti di bawah ini:

61

Pa(n-1) = Psh Pm sin n-1


n = n-1 +

( t ) 2
Pa ( n 1)
M

n = n-1 + n
Harga rata-rata Pa harus digunakan pada awal interval.
t = 0 sec
Pa(0-) = 0 p.u
Pa(0+) = 1,0 0,7549 sin (20,30) = 0,7381 p.u
Pa (0rata-rata) = (0 + 0,7381)/2 = 0,3691 p.u
(0 sec) = 20,30 = 0,3543 radian
sin (0 sec) = sin 20,30 = 0,3469
( t ) 2
(0,02) 2

1,4388
M
2,78.10 4

(0,02 sec) 0 + (1,4388 . 0,3691) = 0,53110


t = 0,02 sec
n = n 1 + n
(0,02 sec) = 20,3 + 0,5311 = 20.830 = 0,3638 rad
sin (0,02 sec) = sin 20,380 = 0,3556
Pm = 0,7549 p.u
P e = Pm . sin = (0,7549 )(0,3556) = 0,2684 p.u
P a = Psh Pe = 1,0 0,2684 = 0,7316 p.u
n = n-1 +

( t ) 2
p a ( n 1)
M

(0,04 sec) = 0,5311 + (1,4388 . 0,7316) = 1,58360


t = 0,04 sec
n = n 1 + n
(0,04 sec) = 20,83 + 1,5836 = 22.410 = 0,3915 rad
sin (0,04 sec) = sin 22,410 = 0,3812
Pm = 0,7549 p.u
P e = Pm . sin = (0,7549)(0,3812) = 0,2878 p.u

62

P a = Psh Pe = 1,0 0,2878 = 0,7122 p.u


n = n-1 +

( t ) 2
p a ( n 1)
M

(0,06 sec) = 1,5836 + (1,4388 . 0,7122) = 2,60830


t = 0,06 sec
n = n 1 + n
(0,06 sec) = 22,41 + 2,6083 = 25.020 = 0,4371 rad
sin (0,06 sec) = sin 25,020 = 0,4229
Pm = 0,7549 p.u
P e = Pm . sin = (0,7549)(0,4229) = 0,3193 p.u
P a = Psh Pe = 1,0 0,3193 = 0,6807 p.u
n = n-1 +

( t ) 2
p a ( n 1)
M

(0,08 sec) = 2,6083 + (1,4388 . 0,6807) = 3,58770


t = 0,08 sec
n = n 1 + n
(0,08 sec) = 25.02 + 3.5877 = 28,610 = 0,4997 rad
sin (0,08 sec) = sin 28,610 = 0,4788
Pm = 0,7549 p.u
P e = Pm . sin = (0,7549)(0,4788) = 0,3615 p.u
P a = Psh Pe = 1,0 0,3193 = 0,6807 p.u
n = n-1 +

( t ) 2
p a ( n 1)
M

(0,08 sec) = 3,5877 + (1,4388 . 0,6385) = 4,50640


Nilai delta yang lain dapat dilihat pada tabel perhitungan Tabel 4.3.
c.

Menghitung sudut celaring dan sudut Re-Closer On


Sudut kliring ( fault clearing angle) c =1200 (Breakers open)

63

Waktu kliringm (fault clearing time), tc =


4 H ( c 0 )
4.2,59( 2,0961 0,3543

s .Psh
314,6.1,0

0,0666

= 0,2580 sec

0,2580
=12,90 cycles
0,02

Re-Closer on R = 1320 = 2,3057 radian

Re-Closer time tR =

4 H ( R 0 )
4.2,59(2,0961 0,3543

s .Psh
314,6.1,0

0,062

= 0,249 sec
0,249

= 0,02 =12,90 cycles


Tabel 4.3. Tabel hasil perhitungan untuk fault cleared at 12,90 cycles(0,2580 detik)
T
Sec
0+
00rata2
0,02
0,04
0,06
0,08
0,10
0,12
0,14
0,16
0,18
0,20
0,22
0,24
0,26
0,28
0,30
0,32
0,34
0,36
0,38
0,40
0,42
0,44
0,46
0,48
0,50
0,52

p.u
2,88
0,7549
0
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88
2.88

Sin
0,3469
0,3469
0,3469
0,3559
0,3816
0,4223
0,4792
0,5467
0,6224
0,7023
0,7816
0,8553
0,9183
0,966
0,9941
0,9988
0,9871
0,9746
0,97
0,9758
0,9889
0,9995
0,9912
0,9416
0,8266
0,6321
0,366
0,0639
-0,224

Pe
p.u
0,9992
0,2619
0
0,2687
0,2881
0,3195
0,3617
0,4127
0,4699
0,5302
0,59
0,6457
0,6933
0,7293
0,7504
2,8765
2,8424
2,8068
2,7935
2,8104
2,8479
2,8785
2,8548
2,7117
2,3807
1,8204
1,0542
0,1839
-0,6466

Pa
p/u
0,0008
0,7381
0,3691
0,7313
0,7119
0,6805
0,6383
0,5873
0,5301
0,4698
0,41
0,3543
0,3067
0,2707
0,2496
-1,876
-1,843
-1,807
-1,794
-1,81
-1,848
-1,879
-1,855
-1,712
-1,381
-0,82
-0,054
0,8161
1,6466

1,4388.pa
Deg
0
0
0,5311
1,0523
1,0243
0,9791
0,9183
0,845
0,7627
0,676
0,5899
0,5098
0,4413
0,3896
0,3591
-2,7
-2,651
-2,6
-2,581
-2,605
-2,659
-2,703
-2,669
-2,463
-1,987
-1,18
-0,078
1,1742
2,3691

D
Deg
0
0
0,5311
1,5833
2,6077
3,5867
4,505
5,3501
6,1128
6,7888
7,3787
7,8885
8,3298
8,7194
9,0785
6,3786
3,7272
1,1276
-1,453
-4,058
-6,716
-9,419
-12,09
-14,55
-16,54
-17,72
-17,8
-16,62
-14,25

Deg
20,3
20,3
20,3
20,83
22,41
25,02
28,61
33,11
38,46
44,58
51,37
58,74
66,63
74,96
83,68
92,76
99,14
102,9
104
102,5
98,48
91,77
82,35
70,26
55,71
39,17
21,45
3,658
-13

Rad
0,3545
0,3543
0,3543
0,3639
0,3915
0,4371
0,4997
0,5784
0,6719
0,7786
0,8972
1,0261
1,1639
1,3094
1,4617
1,6203
1,7317
1,7968
1,8165
1,7911
1,7202
1,6029
1,4384
1,2272
0,9731
0,6842
0,3747
0,0639
-0,226

Keterangan tabel:

64

1. Sistem dalam keadaan stabil pada saat t = 0, detik dengan sudut daya 0 = 20,30l dan daya
Pm =2,88 p.u
2. Sistem mengalami gangguan pada saat t =0, detik s/d t =0,24 detik yang menyebabkan daya
output generator turun mencapai nilai sebesar Pm =0,7549 p.u dan rotor generator
mengalami percepatan, sehingga sudut daya bertambah besar, sebesar (0,24) = 83,680l.
3. Sistem setelah mengalami gangguan pada t =0,26 detik dan sudut daya (0,26) = 92,760l,
sehingga daya output generator pulih kembali seperti pada saat sebelum mengalami
gangguan, sehingga system kembali dalam keadaan stabil.

d. Pengambaran kurva dan t gangguan temporer untuk sistem tidak stabil

Gambar 4.12. Kurva vs t gangguan temporer untuk sistem tak stabil

Dari tabel data dan pengambaran kurva vs t hasil analisis diperoleh:


Jika sudut clearing lebih besar dari sudut kritis c > cc, dengan menseting
c =1200 dan cc = 101,130, maka sudut ayun rotor maksimum s = 1040
3.

Pengambaran kurva dan t gangguan permanen, system tidak stabil

65

Gambar 4.13. Kurva vs t gangguan permanen untuk sistem tak stabil


Keterangan

Pada saat 1 = 20,30 terjadi gangguan hubung singkat ke tanah


Pada saat 2 = 109,110 CB-CB terbuka (trip) dan gangguan masih berlangsung,
beban hanya disuplai melalui satu saluran
Pada saat 3 = 1220 CB-CB menutup (recloser bekerja) dan gangguan hilang,
sistem kembali stabil
H = 2,5 MJ/MVA, dan f = 50 Hz

Persamaan daya P vs
Sebelum gangguan
P1 = P1m . sin = 2,8800 sin per unit, Pm = 1,0 p.u
1 = 20,30 = 0,3543 radian
Selama gangguan:
P3 = P3m.. sin = 0,7549 sin per unit
Setelah gangguan
P2 = P2m . sin = 2.0945 sin per unit
M=

GH
(1,0)(2,5)

2,78.10 4 sec 2 / 0 l
180 f
180.50

b.Analisa Perhitungan iterasi Langkah demi Langkah


Diasumsikan t = 0,2 sec. Hubungan untuk perhitungan kurva ayunan langkah
per langkah dilakukan seperti di bawah ini:
Pa(n-1) = Psh Pm sin n-1

66

n = n-1 +

( t ) 2
Pa ( n 1)
M

n = n-1 + n
Harga rata-rata Pa harus digunakan pada awal interval.
t = 0 sec
Pa(0-) = 0 p.u
Pa(0+) = 1,0 0,7549 sin (20,30) = 0,7381 p.u
Pa (0rata-rata) = (0 + 0,7381)/2 = 0,3691 p.u
(0 sec) = 20,30 = 0,3543 radian
sin (0 sec) = sin 20,30 = 0,3469
(0,02) 2
(t ) 2
=
= 1,4388
2,78.104
M

(0,2 sec) = 0 + (1,4388.0,3691) = 0,5311o

t = 0,02 sec

n-1

(0,02 sec) = 20,3+0,5311 = 20,8311 = 20,83o = 0,3638 rad


sin (0,02) = sin 20,83o = 0,3556
Pm = 0,7549 p.u
Pe = Pm.sin = (0,7549)(0,3556) = 0,2684 p.u
Pa = Psh-Pe = 1,0-0,2684 = 0,7316 p.u
n=

n-1

( t ) 2
Pa ( n 1)
M

o
(0,04 sec) = 0,5311 + (1,4338.0,7316) = 1,5836

t = 0,04 sec

n-1

(0,04 sec) = 20,83+1,5836 = 22,41o = 0,3915 rad


sin (0,04sec) = sin 22,41o = 0,3812

67

Pm = 0,7549 p.u
Pe = Pm.sin = (0,7549)(0,3812) = 0,2878 p.u
Pa = Psh-Pe = 1,0-0,2878 = 0,7122 p.u
n=

n-1 +

( t ) 2
Pa ( n 1)
M

o
(0,06 sec) = 1,5836 + (1,4388.0,7122) = 2, 6083

t = 0,06 sec

n-1

(0,06 sec) = 22,41+2,6083 = 25,02o = 4370 rad


sin (0,06sec) = sin 25,02o = 0,4229
Pm = 0,7549 p.u
Pe = Pm.sin = (0,7549)(0,4229) = 0,3193 p.u
Pa = Psh-Pe = 1,0-0,3193 = 0,6807 p.u
n=

n-1

( t ) 2
Pa ( n 1)
M

o
(0,08 sec) = 2,6083 + (1,4388.0,6807) = 3, 5877

t = 0,08 sec

n-1

(0,08 sec) = 25,02+3,5877 = 28,61o = 0,4997 rad


sin (0,08sec) = sin 28,61o = 0,4788
Pm = 0,7549 p.u
Pe = Pm.sin = (0,7549)(0,4788) = 0,3615 p.u
Pa = Psh-Pe = 1,0-0,2878 = 0,6385 p.u
n=

n-1

( t ) 2
Pa ( n 1)
M

o
(0,1 sec) = 3,5877 + (1,4388.0,6385) = 4, 5064

Nilai delta yang lain dapat dilihat pada tabel perhitungan Tabel 4.4

68

c. Perhitungan sudut elearing dan dan sudut Re-Closer On


fault clearing angle c (breakers Open)
cos

c=

cos

1
r2 r1 [ ( max - 0) sin 0 r 2 cos 0 + r 1 cos max ]

c=

[ ( 2,6459 - 0,5343) sin 20,3 0 - 0,7273 cos 20,3 0 + 0,2621 cos 151,48 0 ]
0,7273 0,2621

= cos1 (-0,3274) = 109,110

fault clearing time tc =

4 H ( c 0 )
s . Psh
=

0,0493

=
=

4.2,5(1,9058 0,3543)
314,6.1,0

0,2221sec

0,221
0,02 = 11,5 cycles

Tabel 4.4. Tabel perhitungan untuk fault cleared at 11,15 cycles(0,2221) konstanta k.= 1,4388
T
Sec
0+
00 rata2
0,02
0,04
0,06
0,08
0,1
0,12
0,14
0,16
0,18
0,2
0,22
0,24
0,26
0,28
0,3
0,32
0,34
0,36
0,38

pm
pu
2.88
0,7549
0
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
0,7549
2,7549
2,7549
2,7549
2,7549
2,7549
2,7549
2,7549
2,7549

sin

Pe

0,3469
0,3469
0,3469
0,3469
0,3816
0,4233
0,4792
0,5467
0,6224
0,7032
0,7816
0,8553
0,9183
0,966
0,9941
0,9999
0,9936
0,9831
0, 9741
0,97
0,972
0,9795

p.u
0,99992
0,2619
0
0,2687
0,2881
0,3195
0,3617
0,4127
0,4699
0,5302
0,59
0,6457
0,6933
0,7293
2.082
2.942
2.081
2.0591
2.0404
2.0317
2.0358
2.0515

Pa
p.u
0,0008
0,7381
0,3691
0,7313
0,7119
0,6805
0,6383
0,5873
0,5301
0,4698
0,41
0,3543
0,3067
0,2707
-1.082
-1.094
-1.081
-1.059
-1.04
-1032
-1.036
-1.051

K.Pa

deg

deg

0
0
0.5311
1.0523
1.0243
0.9791
0.9183
0.845
0.7627
0.676
0.5899
0.5098
0.4413
0.3896
-1.557
-1.574
-1.555
-1. 524
-1. 497
-1. 484
-1. 49
-1. 513

0
0
0.5311
15833
2.6077
3.5867
4.505
5.3501
6.1128
6.7888
7.3787
7.8885
8.3298
8.7194
7.1625
5.5881
4.0328
2.5089
1.0121
-0.472
-1.963
-3.475

deg
20.3
20.3
20.3
20.83
22.41
25.02
28.61
33.11
38.46
44.58
51.37
58.74
66.63
74.96
83.68
90.84
96.43
100.5
103
104
103.5
101.6

rad
0.3543
0.3543
0.3543
0.3639
0.3915
0.4371
0.4997
0.5784
0.6719
0.7786
0.8972
1.1261
1.1639
1.3094
1.4617
1.5868
1.6844
1.7549
1.7987
1.8164
1.8081
1.7738

69

0,4
0,42
0,44
0,46
0,48
0,5
0,52

2,7549
2,7549
2,7549
2,7549
2,7549
2,7549
2,7549

0,9899
0,9985
0,9982
0,9795
0,9316
0,8447
0,713

2.0733
2.0914
2.0907
2.0515
1.951
1.7692
1.4935

-1.073
-1.091
-1.091
-1.051
- 0.951
- 0.769
- 0.493

-1. 544
-1. 57
-1. 569
-1. 513
-1.369
-1.107
-0.71

-5.02
-6.59
-8.159
-9.672
-11.04
-12.15
-12.86

98.08
93.06
86.47
78.31
68.63
57.59
45.45

1.7131
1.6254
1.5103
1.3678
1.1989
1.006
0.7938

Keterangan dari tabel :


1.
2.

3.

sistem dalam keadaan setabil pada saat t=0, detik dengan sudut daya 0 =20,3 l dan
daya Pm = 2,88 p.u.
sistem mengalami gangguan pada saat t=0, detik s/dan t=0,22 detik menyebabkan daya
output generator mengalami percepatan, sehingga sudut daya bertambah besar, sebesar
0
(0,22) = 74,96 l.
sistem seteleah mengalami gangguan pada t = 0,24 detik sudut daya (0,24) = 83,680l
sehingga daya output generator naik kembali mencapai nilai Pm = 2.0945 p.u, akan tetapi
sistem tidak dapat kembali dalam keadaan stabil.

d. Penggambaran kurva

vs t untuk gangguan permanen, sistem tidak stabil.

Gambar 4.14. Kurva

vs t gangguan permanen sistem tak stabil.

Dari tabel data dan penggambaran kurva

vs t hasil analisis diperoleh:

jika sudut clearing lebih besar daripada sudut kritis c > cc , dengan

70

mensetting c =109,110 dan cc = 101,130

maka sudut ayun rotor

maksimum s = 104 .
0

4.

a. Gambar kurva Pvs


Penggambaran kurva

vs t untuk gangguan permanen, sistem stabil.

Gambar 4.15. kurva yang menunjukkan gangguan permanen sistem stabil

Keterangan ;
pada saat 1 = 20,30 terjadi gangguan hubung singkat ketanah
pada saat 21 = 600 CB-CB terbuka (trip) dan gangguan masih
berlangsung beban hanya di suplay melalui satu saluran.
H = 2,5 MJ/MVA dan f =50 HZ
Persamaan daya P vs .
- Sebelum gangguan
P1=P1m sin = 2,8800 sin per unit, Pm=1,0 p.u.

1 = 20,30 = 0,3543 radian


- Selama gangguan
P3 = P3m .sin =0,7549 sin per unit
- Setelah gangguan
P2= P2m.sin =2,0945 sin per unit
G.H

M = 180. f =

(1,0)( 2,5)
2,78. 104 sec2lol
180,50

b. Analisis perhitungan iterasi Langkah demi Langkah

71

Jika diasumsikan t 0,2 sec. Hubungan untuk perhitangan kurva ayunan


langkah perlangkah dilakukan seperti dibawa ini :
Pa(n-1)= Psh- Pm sin n 1

n = n 1 +

( t ) 2
Pa ( n 1)
M

n = n 1 + n

harga rata rat proses harus digunakan pada interval.


t=0 sec
Pa(0-)=0p.u
Pa(0+)= 1.0-0,7549 sin (20,30)=0,7381 p.u
Pa (0rata-rata)= (0+0,7381)/2 =0,3691 p.u
(0 sec) = 20,30 =0,3543 radian
sin (0 sec) = sin 20,30 = 0,3469
(0,02) 2
(t ) 2
=
= 1,4388
2,78.10 4
M
(0,2 sec) = 0 + (1,4388.0,3691) = 0,5311o

t = 0,02 sec

n-1

(0,02 sec) = 20,3+0,5311 = 20,8311 = 20,83o = 0,3638 rad


sin (0,02) = sin 20,83o = 0,3556
Pm = 0,7549 p.u
Pe = Pm.sin = (0,7549)(0,3556) = 0,2684 p.u
Pa = Psh-Pe = 1,0-0,2684 = 0,7316 p.u
n=

n-1 +

( t ) 2
Pa ( n 1)
M

o
(0,04 sec) = 0,5311 + (1,4338.0,7316) = 1,5836

t = 0,04 sec

n-1

72

(0,04 sec) = 20,83+1,5836 = 22,41o = 0,3915 rad


sin (0,04sec) = sin 22,41o = 0,3812
Pm = 0,7549 p.u
Pe = Pm.sin = (0,7549)(0,3812) = 0,2878 p.u
Pa = Psh-Pe = 1,0-0,2878 = 0,7122 p.u
n=

n-1 +

( t ) 2
Pa ( n 1)
M

o
(0,06 sec) = 1,5836 + (1,4388.0,7122) = 2, 6083

t = 0,06 sec
n= n-+

( 0,06 sec ) = 22,41 + 2,6083 = 25,02o = 4370 radian

sin ( 0,06 sec) = sin 25,02o = 0,4229


Pm = 0,7549 p.u
Pe = Pm . sin = (0,7549) (0,4229) = 0,3193 p.u
Pa = Psh Pe = 1,0 0,3193 = 0,6807 p.u
n=

n-1

( t ) 2
P1( n 1)
M

(0,08 sec) = 2,6083 + (1,4388. 0,6807) = 3,5877o


t=0,08 sec

n= n-+

( 0,08 sec ) = 25,02 + 3,5877 = 28,61o = 0,4997 radian


sin ( 0,08 sec) = sin 28,61o = 0,4788
Pm = 0,7549 p.u
Pe = Pm . sin = (0,7549) (0,4788) = 0,3615 p.u
Pa = Psh Pe = 1,0 0,3615 = 0,6385 p.u
n=

n-1

( t ) 2
P1( n 1)
M

(0,01 sec) = 3,5877 + (1,4388. 0,6385) = 4,5064o


Hasil perhitungan delta yang lain dapat dilihat pada Tabel 4.5.

73

c. Perhitungan sudut clearing dan Re-closer On


fault clearing angle c = 60o (Breakers open)
fault clearing time tc=
=

4 H ( c u
=
s .Psh
0,022

4.2,5(1,0480 0,3543
314,6.1,0

= 0,1484 sec
0,1484

= 0,02

=7,42 cycles

Tabel 4.5. Tabel perhitungan untuk fault cleared = 7,42 cycles (0,1484 detik) k= 1,4388
t
Sec
0+
00 rata2
0.02
0.04
0.06
0.08
0.1
0.12
0.14
0.16
0.18
0.2
0.22
0.24
0.26
0.28
0.30
0.32
0.34
0.36
0.38
0.4
0.42
0.44
0.46
0.48

Pm
p.u
2.88
0.7549
0
0.7549
0.7549
0.7549
0.7549
0.7549
0.7549
0.7549
2.9045
2.9045
2.9045
2.9045
2.9045
2.9045
2.9045
2.9045
2.9045
2.9045
2.9045
2.9045
2.9045
2.9045
2.9045
2.9045
2.9045

sin
0.3469
0.3469
0.3469
0.3559
0.3816
0.4233
0.4792
0.5467
0.6224
0.7023
0.7816
0.8414
0.8835
0.9108
0.9263
0.9321
0.929
0.9167
0.8932
0.8559
0.8018
0.7286
0.6357
0.5254
0.4032
0.2771
0.1564

Pe
p.u
0.9992
0.2619
0
0.2687
0.2881
0.3195
0.3617
0.4127
0.4699
0.5302
1.637
1.7622
1.8504
1.9077
1.9401
1.9522
1.9458
1.92
1.8708
1.7927
1.6794
1.5259
1.3314
1.1005
0.8446
0.5804
0.3276

Pa
p.u
0.0008
0.7381
0.3691
0.7313
0.7119
0.6805
0.6383
0.5873
0.5301
0.4698
-0.637
-0.762
-0.85
-0.908
-0.94
-0.952
-0.946
-0.92
-0.871
-0.793
-0.679
-0.526
-0.331
-0.101
0.1554
0.4196
0.6724

Deg

deg

0
0
0.5311
1.0523
1.0243
0.9791
0.9183
0.845
0.7627
0.676
-0.917
-1.097
-1.224
-1.306
-1.353
-1.37
-1.361
-1.324
-1.253
-1.141
-0.977
-0.757
-0.477
-0.145
0.2236
0.6037
0.9674

0
0
0.5311
1.5833
2.6077
3.5867
4.505
5.3501
6.1128
9.7888
5.8722
4.7755
3.552
2.246
0.8933
-0.477
-1.838
-3.161
-4.414
-5.555
-6.532
-7.289
-7.766
-7.91
-7.687
-7.083
-6.116

k.Pa

deg
20.3
20.3
20.3
20.83
22.41
25.02
28.61
33.11
38.46
44.58
51.37
57.24
62.01
65.57
67.81
68.7
68.23
66.39
63.23
58.81
53.26
46.73
39.44
31.67
23.76
16.08
8.992

Rad
0.3543
0.3543
0.3543
0.3639
0.3915
0.4371
0.4997
0.5784
0.6719
0.7786
0.8972
0.9998
1.0832
1.1452
1.1845
1.2001
1.1917
1.1597
1.1044
1.0273
0.9303
0.8162
0.6889
0.5532
0.4151
0.2808
0.1571

74

Keterangan :
1.
2.

3.

Sistem dalam keadaan stabil pada saat t = 0 detik dengan sudut daya o = 20,3o l da
daya Pm = 2.88 p.u
Sistem mengalami gangguan pada saat t=0 detik s/d t= 0.14 detik yang mengakibatkan
daya output generator turun mencapai nilai sebesar Pm= 0.7549 p.u dan rotor generator
mengalami percepatan,sehingga sudut daya bertambah besar,sebesar (0.14)= 44,58ol
Sistem mengalami gangguan padqa saat t=0,16 detik dan sudut daya (0,16) = 51,37ol,
sehingga daya output generator naik kembali mencapai nilai P m = 2.0945 p.u,system dapat
kembali dalam keadaan stabil.

d. Penggambaran kurva vs t untuk gangguan permanent,sistem stabil

Gambar 4.16.Kurva vs t gangguan permanent system stabil

Dari tabel data dan penggambaran kurva vs t hasil analisis diperoleh


jika sudut clearing lebih besar dari sudut kritis
mensetting c = 600 dan

cc

<

cc

,dengan

= 101,13o ,maka sudut ayun rotor maksimum

s = 68,7o.

D. Kesimpulan
Dengan menggunakan model system tenaga listrik yang terdiri dari dua
mesin dengan saluran transmisi ganda dimana gangguan tiga fasa terjadi pada
salah satu saluran maka dengan menggunakan metode Langkah demi Langkah
dalam proses analisa dan perhitungan dapat disimpulkan :
1. Untuk system keadaan stabil yang mengalami gangguan temporer
Didapatkan sudut clearing (breakers open ) c= 109,11o dan recloser on
pada

= 1220, maka sudut ayun maksimum

= 97,07

sedangkan

75

besarnya sudut ayun maksimum perhitungan criteria luas sama dengan

= 143,65o.Bertambahnya sudut ayun generator yang mengalami percepatan


pada rotornya dapat menimbulkan adanya daya output generator dengan
daya output turbin.gangguan akan hilang bila terdapat torsi lawan yang
cukup

untuk

mengimbangi

percepatan

yang

terjadi

selama

gangguan,system akan stabil setelah ayunan (swing) yang pertama dan


kembali ketitik kerjanya dalam waktu sesuai perhitungan t = 0,26 detik
2. Untuk system keadaan stabil yang mengalami gangguan permanen
Didapatkan sudut clearing (breakers open) c = 60 o ,maka sudut ayun
maksimum

= 68,7o.sedangkan sudut ayun maksimum dengan

perhitunga criteria luas sama

=77,5o.bertambahnya sudut daya

generator yang mengalami percepatan pada rotornya dapat menimbulkan


adanya

selisih

antara

daya

output

generator

dan

daya

output

turbin.Gangguan akan hilang bila torsi lawan yang cukup untuk


mengimbangi percepatan yang terjadin selama gangguan, system akan
stabil setelah ayunan(swing) yang pertama dan kembali ketitik kerjanya
dalam waktu sesuai perhitungan t = 0,26 detik
3. Untuk system tidak stabil yang mengalami gangguan temporer
Didapatkan sudut clearing (breakers open) c=120o dan Re-closer on
pada

= 132o ,maka sudut ayun maksimum

= 104o.serdangkan

sedangkan sudut ayun maksimum dengan perhitungan criteria luas sama


tidak terdefinisikan.be4rtambahnya sudut daya generator yang mengalami
percepatan pada rotornya dapat menimbulkan danya selisih antara daya
output generator dan daya output turbin. Gangguan akan hilang bila
terdapat torsi lawan yang cukup untuk mengimbangi percepatan yang
terjadi selama gangguan,system akan stabil setelah ayunan(swing).
4. Untuk system tidak stabil yang mengalami gangguan permanen
Didapatkan sudut clearing (breakers open)
ayun maksimum

= 109,11o , maka sudut

= 140o.sedangkan sudut ayun meksimum dengan

76

perhitungan criteria luas sama

= 81,5o.Berrtambahnya sudut daya

generator yang mengalami percepatan pada rotornya dapat menimbulkan


adaqnya selisih antara daya output gegerator dan daya output turbin.
Gangguan akan hilang bila terdapat torsi lawan yang cukup untuk
mengimbangi percepatan yang terjadi selama gangguan karena system
yang tidak stabil,maka setelah gangguan hilang system tidak dapat
kembali pada keadaan stabil.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan mensetting sudut
clearing (breaker s open) lebih kecil dari sudut kritis (critical angle)

cc

dapat diperoleh hasil yang lebih baik,karena gangguan yang

timbul dapat dihilangkan dengan cepat sehingga tidak berakibat fatal pada
system tenaga listrik tersebut.

77