Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG

TATALAKSANA CYSTOTOMY SEBAGAI UPAYA PENANGANAN GANGGUAN VESIKA URINARIA PADA ANJING DI KLINIK HEWAN DRH. IMAN SETYOWATI K. MALANG

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG TATALAKSANA CYSTOTOMY SEBAGAI UPAYA PENANGANAN GANGGUAN VESIKA URINARIA PADA ANJING DI KLINIK

Oleh FIRDAUS KUSUMAWATI

:

NIM. 115130101111063

PROGRAM STUDI KEDOKTER HEWAN PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2015

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG

TATALAKSANA CYSTOTOMY SEBAGAI UPAYA PENANGANAN GANGGUAN VESIKA URINARIA PADA ANJING DI KLINIK HEWAN DRH. IMAN SETYOWATI K. MALANG

Malang, 30 Juni 2015

Oleh :

FIRDAUS KUSUMAWATI

NIM. 11513010111063

Menyetujui Komisi Pembimbing PKL

Pembimbing I

Pembimbing II

drh. Dyah Ayu Oktavianie A. P. M. Biotech

NIP. 19841026 200812 2 004

drh. Analis Wisnu Wardhana. M. Biotech

NIP. 19800904 200812 1 001

Mengetahui, Ketua Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya

Prof. Dr. Aulanni’am, drh., DES

NIP. 19600903 198802 2 001

ii
ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas rahmat, karunia, dan hidayah-Nya,

laporan Praktek Kerja Lapang saya yang berjudul “Tatalaksana Cystotomy

Sebagai Upaya Penanganan Gangguan Vesika Urinaria Pada Anjing Di Klinik

Hewan Drh. Iman Setyowati K. Malang” dapat selesai disusun.

Pada penulisan laporan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih

kepada:

  • 1. Keluarga penulis, Bapak Moh. Sucahyono, Ibu Yistutik, dek Arif, dan dek Yafa tercinta yang senantiasa memberikan kepercayaan, semangat, arahan, dan doa yang tiada henti.

  • 2. Dr. Agung Pramana Warih M, M. Si, selaku Ketua Program Kedokteran Hewan dan Prof. Dr. Aulanni’am, drh., DES, selaku ketua program studi pendidikan dokter hewan yang atas dukungan, bimbingan dan kesabarannya untuk kemajuan Program Kedokteran Hewan UB.

  • 3. drh. Dyah Ayu Oktavianie A. P. M. Biotech selaku dosen pembimbing I dan drh. Analis Wisnu Wardhana M.Biomed selaku dosen pembimbing II atas bimbingan, kesabaran, waktu, koreksi, kritik, dan saran dalam penulisan laporan Praktik Kerja Lapang ini.

  • 4. drh. I Dewa Putu Anom Adnyana M. Vet selaku penguji atas waktu, dan koreksi dalam penulisan laporan Praktik Kerja Lapang ini.

  • 5. drh. Iman Setyowati K. selaku pembimbing di tempat Praktek Kerja Lapang dan sebagai pemilik Klinik Hewan Jl. Maninjau Barat B2/A34 Sawojajar, Malang atas waktu, kesabaran dan bimbingannya yang menjadikan penulis mengetahui dan memahami kegiatan-kegiatan dalam dunia klinik hewan kecil.

iii
iii

6.

Teman-teman Clever angkatan 2011, terutama teman-teman angkatan

2011C dan kolega Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya atas

semangat, dukungan, kritik dan sarannya.

  • 7. Teman kos Efektif MT. Haryono No. 81 dan ibu kos atas semangat, dukungan, kesabarannya yang sudah dengan senang hati menunggu saat penulis pulang malam, dan membantu merawat pada saat penulis sakit disela pelaksanakan Praktek Kerja Lapang.

  • 8. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penulisan karya tulis ini yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan Praktek Kerja Lapang

ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis membuka diri untuk segala

saran dan kritik yang membangun untuk penulisan selanjutnya.

Malang, 30 Juni 2015

Penulis

iv
iv

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL................................................................................

i

HALAMAN PENGESAHAN.................................................................

ii

KATA PENGANTAR..............................................................................

iii

DAFTAR ISI...........................................................................................

v

DAFTAR TABEL..................................................................................

vii

DAFTAR GAMBAR.............................................................................

viii

DAFTAR LAMPIRAN.........................................................................

ix

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................

1

1.1Latar Belakang

........................................................................

1

  • 1.2 Rumusan Masalah ..................................................................

2

  • 1.3 Tujuan ....................................................................................

2

Manfaat

  • 1.4 ..................................................................................

2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA............................................................

3

Anjing

  • 2.1 ....................................................................................

3

  • 2.2 Sistem Urinaria pada Anjing ................................................

3

  • 2.3 Gangguan pada Vesika Urinaria Anjing

................................

4

  • 2.4 Diagnosa Penentuan Gangguan Vesika Urinaria

...................

7

  • 2.5 Penanganan pada Gangguan Vesika Urinaria Anjing

............

10

  • 2.6 Cystotomy..............................................................................

14

BAB 3 METODE KEGIATAN.............................................................

18

  • 3.1 Waktu dan Lokasi Kegiatan

...................................................

18

  • 3.2 Metode Pengambilan Data

.....................................................

18

  • 3.3 Rencana Kegiatan

..................................................................

18

  • 3.4 Biodata Peserta PKL

..............................................................

19

BAB 4 PELAKSANAAN KEGIATAN................................................

20

  • 4.1 Tempat dan Waktu

.................................................................

20

  • 4.2 Aktivitas Kerja Lapang

..........................................................

20

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................

23

  • 5.1 Gambaran Umum Tempat Praktek Kerja Lapang

..................

23

  • 5.2 Temuan Kasus yang Mengarah pada Prosedur Cystotomy

....

25

  • 5.3 Proaedur Penanganan Cystotomy

..........................................

27

BAB 6 PENUTUP..................................................................................

35

Kesimpulan

  • 6.1 ...................................................................

........

35

Saran

  • 6.2 ......................................................................................

36

DAFTAR PUSTAKA............................................................................

37

v vi
v vi

23

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3. 1 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan PKL Mahasiswa Program

Kedokteran Universitas Brawijaya

........................................

...................................

19

Tabel 4. 1 Tabel Aktivitas Praktek Kerja Lapang

21

vii
vii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2. 1 Sistem Urinari Anjing Jantan dan Anjing Brtina

...............

Gambar 2. 1 Vesika Urinaria Anjing

...................................................... Gambar 2. 3 Gambaran calculi yang ditemukan pada vesika urinaria

anjing. a). Struvite, b). Cystine, c). Calcium oxalate dhydrate, d). Ammonium urate, e). Calcium oxalate monohydrate, f). Silica....................................................... Gambar 2.4 Tumor pada vesika urinaria

................................................ Gambar 2.5 Tampak calculi radiopaque(putih) pada vesika urinaria. Gambar 2.4 Calculi pada vesika urinaria tampak hyperechoic (putih) dimana pada bagian distal tampak bayangan gelap dan tampak adanya bayangan gelap pada bagian distal di

apex vesika urinaria (Langston, 2008) Gambar 5.1 Denah Klinik drh. Iman Setyowati K

...............................

................................. Gambar 5.2 Hasil rongten menunjukkan adanya Calculi pada anjing poodle betina .....................................................................

Gambar 5.3 Pengambilan calculi pada uretra

......................................... Gambar 5.4 Gambaran persiapan pasien dalam posisi rebah dorsal

dan dipasangkan drapes..................................................... Gambar 5.5 Beberapa gambar pada saat operasi a)Vesika urinaria. b.)Menampung urin pada nierbeken. c.) Calculi

4

4

5

6

9

10

24

25

27

29

dikeluarkan dari vesika urinaria dengan pinset. d.) Calculi dari anjing poodle betina. e.) vesika urinaria setelah dijahit dengan pola inverting suture. f.) Calculi

dari anjing campuran jantan

............................................... Gambar 5.6 Anjing dipasangkan perban dan catheter........................... Gambar 5.7 Pemasangan dress dan elizabeth colar .............................

30

32

33

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Rekam Medis Pasien

.........................................................

40

Lampiran 2. Perhitungan Dosis Pemberian Tiletamin-Zolazepam

..................

........

41

Lampiran 3. Dokumentasi Kegiatan Praktek Kerja Lapang

42

ix

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Berdasarkan data epidemiologi dari Langston et.al. (2008), menyebutkan bahwa kasus urolithiasis pada anjing berkisar antara 80% dan 90% dengan jenis calculi berupa struvite dan calcium oxalate. Pada anjing ditemukan bahwa jenis kelamin mempengaruhi jenis calculi dimana pada betina lebih sering ditemukan calculi jenis struvit dan pada jantan dsering ditemukan adanya calculi jenis oxalate, serta pada anjing muda lebih banyak ditemukan calculi jenis struvit dibandingkan dengan jenis oxalate. Pada vesika urinaria dapat terjadi berbagai gangguan yang dapat menimbulkan adanya obstruksi, berupa kondisi urolithiasis, cystic calculi dapat berada pada vesika urinaria dengan ukuran atau jumlah yang cukup untuk menghalangi urin menuju urethra sehingga perlu dilakukan tindakan pembedahan untuk mengambil batu dengan teknik cystotomy. Selain itu tindakan cystotomy dapat dilakukan untuk menangani adanya gangguan lain pada vesika urinaria berupa cystitis, tumor pada vesika urinaria, ruptur pada vesika urinaria atau trauma dan perbaikan pada kasus ectopic ureter (Brown, 2011; Noviana dkk., 2012). Gangguan vesika urinaria tersebut dapat disebabkan oleh banyak faktor meliputi manajemen pemberian pakan, kurangnya exercise, adanya infeksi virus, infeksi bakteri, infeksi protozoa, congenital dan trauma (Hill’s Pet Nutrition, 2011; Brown, 2011; Noviana dkk., 2012 ). Diagnosa pada kasus vesika urinaria selain menggunaakan pemeriksaan fisik, umumnya dilakukan juga dengan pemeriksaan laboratorium atau pencitraaan untuk memperkuat diagnosa. Penanganan pada gangguan vesika urinaria dapat dilakukan dengan beberapa cara meliputi penggunaan obat atau suplemen, chateterisation, cystotomy, cystectomy, tube cystotomy, dan diet makanan. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, Program Kerja Lapang akan dilaksanakan untuk mengetahui lebih lanjut tatalaksana cystotomy atau pembedahan pada vesika urinaria yang dilakukan dengan

melakukan pembedahan pada vesika urinaria untuk menangani gangguan yang terjadi pada vesika urinaria anjing, seperti mengeluarkan calculi, pengangkatan tumor dan perbaikan vesika urinaria akibat trauma atau radang.

  • 1.2 Rumusan Masalah

1

 
 

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan

diatas, maka rumusan

 

masalah yang dapat diambil, yaitu

bagaimana tatalaksana cystotomy sebagai

upaya penanganan gangguan vesika urinaria pada anjing di Klinik Hewan drh. Iman Seyowati K., Malang.

  • 1.3 Tujuan

 
 

Program Kerja Lapang ini memiliki tujuan untuk mengetahui tatalaksana cystotomy sebagai upaya penanganan gangguan vesika urinaria pada anjing di Klinik Hewan drh. Iman Setyowati K., Malang.

4

Manfaat

 

Pelaksanaan Program Kerja Lapang ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu :

1

Mahasiwa dapat menambah pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan terhadap prosedur cystotomy pada penanganan gangguan vesika urinaria anjing.

2

Pembaca

dapat

mendapatkan

wawasan

dan

pengetahuan

tentang

 

tatalaksana cystotomy pada anjing, selain itu sebagai informasi tempat Program Kerja Lapang maupun kerjasama lain dengan klinik.

 

2

 

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anjing

Anjing merupakan hewan yang didomestikasi sebagai hewan penjaga dan penggembala pada awalnya, kemudian anjing dikembangkan untuk olahraga, dan sebagai hewan kesayangan. Dalam perkembangannya saat ini jenis anjing sudah mencapai 100 jenis lebih dimana anjing dapat dikelompokkan menjadi

tiga bagian yaitu anjing miniatur atau mainan, anjing sedang, dan anjing besar seperti St. Bernard dan Dalmation. Anjing muda memiliki kisaran suhu 37,53 ± 0,29C dan anjing dewasa 38,23 ± 0,73C. Pernapasan pada anjing dewasa 28,21 ± 14,34 inspirasi/menit dan pada anjing muda 26,50 ± 7,93 inspirasi/menit. Sedangkan untuk denyut jantung pada anjing dewasa 93,95 ± 23, 70 denyut/menit dan anjing muda 152,50 ± 14,76 denyut/menit. Perbedaan nilai fisiologis dari anjing dewasa dan anjing muda merupakan akibat dari adanya perbedaan proses pertumbuhan fisik dan tingkat metabolisme antar individu (Suprayogi dkk., 2009). Berdasarkan data laporan milik Interagency Taxonomic Information System (2015), menyebutkan bahwa anjing domestik memiliki klasifikasi sebagi berikut :

Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Class

: Mammalia

Ordo

: Carnivora

Family

: Canidae

Genus

: Canis Linneaeus

Spesies

: Canislupus familiaris Linneaeus (domestic dog).

2. 2 Sistem Urinaria pada Anjing

Anjing memiliki sistem urinaria yang terdiri dari sepasang ginjal, sepasang ureter, vesika urinaria, dan uretra. Berikut adalah gambaran sistem urinaria anjing jantan dan anjing betina.

3

17

Gambar 2.1 Sistem urinari anjing jantan dan anjing betina (Saragih, 2009). Berdasarkan darta dari Hill’s Pet

Gambar 2.1 Sistem urinari anjing jantan dan anjing betina (Saragih, 2009).

Berdasarkan darta dari Hill’s Pet Nutrition (2004), anjing memiliki gambaran vesika urinaria seperti dibawah ini.

Gambar 2.1 Sistem urinari anjing jantan dan anjing betina (Saragih, 2009). Berdasarkan darta dari Hill’s Pet
Gambar 2.1 Sistem urinari anjing jantan dan anjing betina (Saragih, 2009). Berdasarkan darta dari Hill’s Pet

Gambar 2.2 Vesika Urinaria Anjing (Hill’s Pet Nutrition, 2004 ).

  • 3 Gangguan pada Vesika Urinaria Anjing

2.3.1 Urolithiasis Urolithiasis adalah adanya cystic calculi pada sistem urinaria yang dapat terjadi pada hewan kecil. Pada anjing dapat ditemukan beberapa

jenis batu seperti pada gambar berikut.

4
4
a b c f d e
a
b
c
f
d
e

Gambar 2.3 Gambaran calculi yang ditemukan pada vesika urinaria anjing. a). Struvite, b). Cystine, c). Calcium oxalate dhydrate, d). Ammonium urate, e). Calcium oxalate monohydrate, f). Silica (Hill’s Pet Nutrition , 2004).

Batu yang ditemukan pada vesika urinaria dapat didiagnosa mengguanakan metode diagnostic plan yaitu, anamnesa, pemeriksaan fisik berupa palpasi pada vesika urinaria, uji laboratorium dan pencitraan pada saluran urinaria. Pada anjing, kasus urolithiasis umumnya terdapat pada vesika urinaria dimana Langston et al., (2009) menyebutkan bahwa pada anjing betina memiliki kecenderungan calculi yang ditemukan berupa Struvite dan pada anjing jantan tiga kali cenderung ditemukan jenis

calculi oxalate, serta pada anjing muda lebih sering ditemukan adanya jenis calculi struvite dibandingkan dengan oxalate. Struvite calculi merupakan kristal yang terbentuk dari Magnesium, Ammonium, dan Phosphate. Struvit crysral merupakan benda asing pada urin dan umumnya terbentuk akibat adanya infeksi bakteri yang memproduksi enzim urea pada kondisi alkaline. Sedangkan oxalate stone terbentuk akibat pemberian diet rendah sodium dan potasium dan pemberian diet pakan yang dapat menyebabkan terjadinya asidifikasi urin secara maksimal (Goldstein, 2005).

Gejala

klinis

dari

urolithiasis

berupa

adanya

hematuria,

pollikisuria, disuria, strangurian dan cystitis. Urolith kecil dapat menyebabkan adanya penyumbatan pada urethra yang akan mengarah pada distensi vesika urinaria, rasa sakit pada abdomen, stranguria dan

adanya azotemia postrenal (anoreksia, depresi, vomit), serta dapat

terjadi ruptur vesika urinaria yang menyebabkan terjadinya uroabdomen

(Langston et al., 2008).

  • 2 Cystitis

Ditandai dengan adanya peradangan yang menunjukkan adanya

akumulasi sel-sel radang dari bentukkan fibrin sampai adanya jarinagn

ikat pada vesika urinaria. Gabungan dari kondisi tersebut dapat

menyebabkan adanya perkejuan. Cystitis dapat terjadi pada kasus feline

5 terdapat
5
terdapat

lower urinary tract disease

juga

gejala

berupa

adanya

penebalan dinding vesika urinaria.

neoplasma yang tumbuh dan dapat

  • 3 Tumor vesika urinaria

Merupakan kondisi adanya

menyebabkan penebalan dinding vesika urianria juga adanya edema.

Pada kasus tumor yang berada pada vesika urinaria, cystotomy

merupakan tindakan yang sering dilakukan untuk dapat mengekspose

lumen vesika urinaria.

terjadi ruptur vesika urinaria yang menyebabkan terjadinya uroabdomen (Langston et al., 2008). 2 Cystitis Ditandai dengan

Gambar 2.4 Tumor pada vesika urinaria (Veterinary Specialist of Alaska,-)

  • 4 Perbaikan pada kasus ectopic ureter

Ectopic ureter

merupakan kasus kongenital dimana salah satu

ureter pada masuk pada sistem urinaria dengan lokasi yang tidak

normal. Pada kondisi tersebut perlu dilakukan pemasangan bypass pada

vesika urinaria. Pasien dengan penyakit ini mennjukkan adanya urinary

incontinece karena urin dari ginjal tidak ditampung dalam vesika

urinaria melainkan didistribusikan langsung ke uretra (Veterinary

Specialist of Alaska,-).

  • 5 Ruptur pada vesika urinaria

Ruptur pada vesika urinaria merupakan kejadian yang banyak

6
6

terjadi pada anjing dan kucing akibat adanya benda tumpul atau benda

tajam yang menekan abdomen sehingga menyebabkan vesika urinaria

robek dan terjadi uroabdomen (Fossum, 2009).

  • 4 Diagnosa Penentuan Gangguan Vesika Urinaria

Diagnosa

dalam

gangguan

vesika

urinaria

diperoleh

dari

beberapa

prosedur yaitu anamnesa, pemeriksaan fisik, uji laboraturium, dan pencitraan

berupa radiografi dan ultrasonografi abdomen.

1

Anamnesa

Menurut

Widodo

dkk.

(2011),

anamnesa

adalah

keterangan

keluhan pemilik hewan terhadap keadaan hewan pada saat dibawa

datang berkonsultasi untuk pertama kali atau berupa sejarah perjalanan

penyakit hewan apabila pemilik telah sering berkonsultasi. Anamnesa

pada gangguan vesika urinaria anjing berupa ketidakmampuan dalam

melakuakan urinasi, sedikitnya volume urin yang keluar, adanya rasa

sakit saat melakukan urinasi, adanya uremiadapat ditemukan pada saat

calculi di vesika urinaria memblokir uretra(Langston, 2011).

 

2

Pemeriksaan Fisik

 

Menurut Widodo dkk. (2011), pemeriksaan fisik dilakukan dengan

inspeksi dibagian hypogastrium ventral. Adanya obstruksi uretra akibat

bladder calculi yang menghalangi keluarnya urin dan adanya

peradangan pada vesika urinaria dapat menimbulkan rasa sakit pada

daerah hypogastrium ventral sehingga anjing akan bergerak lebih hati-

hati dengan kaki dilebarkan untuk menghindari sentuhan antara vesika

urinaria dan dinding abdomen. Selanjutnya dapat ditemukan adanya

tanda punggung kifosis, abdomen membesar pada bagian hipogastrium,

kesakitan seperti rintihan pada saat urinasi dan defekasi, posisi urinasi,

dan jumlah urin yang dikeluarkan.

Pemeriksaan

selanjutnya

dengan

palpation profundal berupa

pemberian penekanan pada daerah abdomen bagian hipogastrium

medial sinistra et dextra yang salah satu kompartemennya merupakan

vesika urinaria. Palpasi dilakukan dengan jari untuk mendapatkan

adanya timbunan urin pada vesika urinaria dan reaksi urinasi. Vesika

urinaria yang kosong terletak pada kompartemen hipogastrikus ventral,

tidak dapat teraba dengan mudah karena tersembunyi pada basis depan

dari pelvis, sedangkan pada kondisi penuh oleh urin vesika urinaria

akan teraba pada bagian depan dari pelvis inlet vesika urinaria akan

terasa kencang, berdinding, dan memiliki struktur membulat globuler

(Widodo dkk. 2011).

7

Pada anjing jantan dilakukan palpasi rektal untuk melihat adanya

Kateterisasi dilakukan untuk melihat adanya

perbesaran pada prostat.

calculi dibelakang os penis uretra yang umum terjadi pada anjing

jantan dengan kasus kesulitan dalam urinasi. Pemeriksaan lanjutan

seperti uji laboraturium dan imaging pada sistem urinaria diperlukan

apabila terdapat keraguan pada pemeriksaan fisik dan ditemukan

adanya penyimpangan terhadap volume urinasi, sikap urinasi, serta

adanya darah pada urin (Langston, 2008; widodo dkk. 2011).

  • 3 Uji Laboraturium

Pemeriksaan

profil

biokimia

dan

pemeriksaan

darah

lengkap

umumnya menunjukkan hasil yang normal. Beberapa kasus urolithiasis

dengan ditemukan adanya hiperkalsemia menunjukkan adanya calculi

oxalate atau calcium phosphate. Pada kasus obstruksi pada daerah

upper atau lower urinary tract dapat menyebabkan azotemia. Urinalisis

dilakukan untuk melihat adanya kristal yang dipengaruhi oleh pH yaitu

pada kasus struvite urolith urin umumnya dibentuk oleh urin alkalin,

calcium phosphate pada urin alkalin dan netral, calcium oxalate dan

silica pada urin netral ke asam, dan urat, xanthine, dan cystine

dibentuk oleh urin asam. Pemeriksaan sedimen urin dapat ditemukan

adanya pyuria atau bakteriuria (Langston, 2008).

  • 4 Pencitraan

Tidak semua kasus dengan gejala penyakit urinaria memerlukan

pencitraan, seperti pada

anjing dengan kasus pollakiuria dalam jangka

8

waktu yang pendek dapat diberikan antibiotik untuk menyembuhkan

simple infection pada vesika urinaria. Radiografi dapat dilakukan untuk

mendeteksi adanya calculi pada saluran urinaria. Posisi yang umum

digunaan untuk melihat adanya kelainan pada saluran urinaria adalah

lateral recumbency seperti gambar berikut.

Gambar 2.5 Tampak calculi radiopaque (putih) pada vesika urinaria (Birchard, 2014) Ultrasonografi dapat digunakan untuk melihat

Gambar 2.5 Tampak calculi radiopaque (putih) pada vesika urinaria (Birchard, 2014)

Ultrasonografi dapat digunakan untuk melihat adanya calculi yang

dilakukan dengan posisi dorso recumbency dan ditunjukkan dengan

interpretasi vesika urinaria yang tampak yperechoid (warna putih

terang) yang membentuk bayangan dibawah calculi dan anechoid untuk

menggambarkan adanya urin. Pengamatan ultrasonografi calculi dapat

dilakukan pada saat terjadi dilatasi pada vesika urinaria (Langston,

2008).

9
9
Gambar 2.5 Tampak calculi radiopaque (putih) pada vesika urinaria (Birchard, 2014) Ultrasonografi dapat digunakan untuk melihat

Gambar 2.6 Calculi pada vesika urinaria tampak hyperechoic (putih) dimana pada bagian distal tampak bayangan gelap dan tampak adanya bayangan gelap pada bagian distal di apex vesika urinaria (Langston, 2008)

Pada kasus gangguan vesika urinaria dilakuakan berbagai tindakan

penanganan seperti penggunaan obat, kateterisasi, operasi dan diet.

Pemberian penanganan pada kasus vesica urinaria dapat dipilih berdasarkan

kondisi pasien yang akan dijelaskan berdasarkan jenis tindakan, sebagai

 

berikut :

1

Obat

Penelitian Stevenson et.al (2000), menyebutkan bahwa pasien

dengan jenis struvite dan oxalate diberikan suplemen potassium citrate

pada anjing diberikan dengan jumlah 150 mg/kg BB sebanyak dua kali

sehari selama 8 hari dapat meningkatkan pH sebanyak 0,2 pada tiga

pasien miniatur Schnauzers dan tingginya pH urin dapat menyebabkan

adanya calcium oxalate supersaturation. Pemberian suplemen

sebaiknya bersamaan dengan diet pakan. Obat diuterik diberikan untuk

meningkatkan produksi urin. Pemberian obat diuretik seperti kelas

thiazide yang dapat mengurangi calcium pada urine.

2

Katererisasi

Urinary obstruction merupakan kasus yang umum disebabkan oleh

calculi, diversion dapat dilakukan dengan melakukan dislodging dan

melakukan flushing untuk memasukkan calculi ke vesika urinaria

dengan retrograde hidropultion. Apabila flushing tidak dapat dilakukan

maka digunakan kateter urinaria yang digunakan untuk menggeser atau

melewati calculi, dapat masuk hingga vesika urinaria maka dapat

dilakukan cystocentesis hingga pasien dioperasi. Cystocentesis

dilakukan pada saat hewan dianastesi dan pelaksanaannya dengan

menggunakan jarum 18 gauge dan cairan normal saline yang

diinjeksikan dari abdomen menuju vesika urinaria dengan tujuan

mengurangi volume urin pada vesika urinaria. Retrograde hydopulsion

merupakan teknik yang dilakukan dibawah anastesi, sebelum

melakukan teknik ini sebaiknya dilakukan cystocentesis untuk

menghindari over-distention dan kemungkinan ruptur pada vesika

urinaria. Teknik ini dilakukan dengan menggunakan cairan sterile

saline dan sterile lubricant. Kateter yang digunakanberupa high density

polypropylene urinary catheter yang disambungkan ke syringe 60 cc,

kateter dimasukan ke uretra atau os penis. Kateter dimasukan hingga

menyentuh calculi, kemudian dorong dan tarik kateter perlahan sambil

memasukkan cairan untuk lubrikasi (hati-hati terhadap kemungkinan

uretral rupture). Pada kasus hewan yang memiliki penyebab obstruksi

selain calculi teknik ini

10
10

dapat dilakukan untuk dislodging calculi dan

memudahkan dilatasi uretra selama operasi pada sistem urinaria

(Hottinger, 2013).

Sumbatan pada saluran urinari, mengurangi timbunan urin pada

vesika urinaria untuk mempercepat kesembuhan pada luka operasi,

membantu pengambilan sampel urin, memperkirakan volume urin dan

mengurangi resiko adanya agen infeksius (leptospirosis) yang dapat

ditemukan pada urin (Kibble, 2012).

  • 3 Operasi Vesika Urinaria

Operasi umumnya dilakuakan untuk indikasi pemindahan cystic

calculi, neoplasma, trauma berupa ruptur vesika urinaria dan

congenital abnormalities. Tindakan operasi dalam penanganan

gangguan vesika urinaria dapat dilakukan dengan berbagai pilihan

berdasarkan jenisangguan untuk memberikan penanganan yang tepat

11

dengan meminimalkan morbiditas pasien.

2.5.3.1 Cystotomy

Cystotomy dilakukan dengan indikasi paling banyak adalah

untuk mengangkat adanya urinary calculi. Pelaksanaan operasi

dilakukan terlebih dahulu dengan membuka daerah ventral

midline approach, mengidentifikasi vesika urinaria dan

mengisolasinya dari abdomen dengan laparotomy sponges.

Setelah itu dipasangkan jahitan pada bagian apex dan caudal

dari daerah vesika urinaria yang dijadikan daerah operasi untuk

mengurangi adanya urin yang masuk pada rongga abdomen dan

untuk menstabilkan lapangan pandang pada vesika urinaria.

Sebelum melakukan cystotomy, terlebih dahulu vesika urinaria

dikosongkan dengan mengguanakan katerisasi, intraoperativ

cystocentesis dengan syringe 22 gauge dan dengan menginsisi

vesika urinaria (Cornell, 2000).

Insisi diakukan dengan menginsisi daerah dorsal maupun

ventral tergantung dari letak kebocoran urin, trauma dan letak

cystic calculi. Insisi pada vesika urinaria diberikan seminimal

mungkin untuk memindahkan calculi, pindahkan dengan

bantuan forcep atau sendok lalu pasang urinary chateter hingga

vesika urinaria untuk menekan calculi ke vesika urinaria.

Setelah itu pasang urinary normograde chateter sambil

melakukan flushing untuk memastikan tidak adanya calculi.

Pada penutupan vesika urinaria digunakan jahitan two-layer

inverting pattern untuk menghindari adanya kebocoran urin.

Selanjutnya bagian anbdomen diberikan steril saline pada

rongga abdomen dan rongga andomen ditutup (Cornell, 2000).

2.5.3.2 Partial Cystectomy

Pertimbangan partial cystectomy dilakukan dengan adanya

laporan bahwa lebih dari 75% vesika urinaria dapat melebar dan

fungsinya dapat pulih mendekati normal. Indikasi adanya

neoplasma pada

trauma

akibat

operasi dilakukan

vesika urinaria yang dapat disebabkan oleh

12

kateterisasi

maupun

puncture. Pelaksanaan

dengan membuang 2 cm jaringan yang sehat

disekitar neoplasma. Trauma pada vesika urinaria merupakan

kasus yang umum dengan penyebab kecelakaan yang

menyebabkan patahnya tulang pelvis, luka tusuk atau urinary

entrapment akibat hernia (Cornell, 2000).

Cystectomy dilakukan dengan mengisolasi vesika urinaria

sesuai dengan prosedur yang dijelaskan pada cystotomy. Operasi

dilakukan dengan mengisolasi daerah trauma dengan

laparotomy sponges dan stay suture. Kemudian tutup daerah

yang telah diisolasi, selanjutnya daerah vesika urinaria yang

dijahit dijahitkan pada jejunum dengan pola continous dengan

jarak sekitar 5 mm dari daerah jahitan pada vesika urinaria.

Jahitan dilakukan pada daerah submukosa tanpa menembus

lumen vesika urinaria (Cornell, 2000).

2.5.3.3 Tube Cystotomy

Indikasi pelaksanaan tube cystotomy berupa perlunya

pemasangan temporary urine diversion atau permanen urine

diversion. Pemasangan temporary urine diversion dilakukan

dengan kondisi trauma pada uretra, operasi perbaikan uretra dan

adanya penyumbatan urinaria. Sedangkan pada permanen urine

diversion umumnya dilakukan pada pasien dengan neoplasma,

namun pada pemakaiannya tidak dianjurkan karena dapat

meningkatkan resiko infeksi. Tube cystotomy dilakukan dengan

memasukkan tube dari ventral midline celiotomy setelah

memasangkan stay suture pada vesika urinaria. Lubang

diperoleh dari tusukan dari insisi sampai melewati dinding tubuh

sekitar 2 cm dari ventral midline incision. Kemudian pasangkan

mushroom-tip urinary catheter melewati insisi paramedian, lalu

kencangkan dan ikat dengan purse string suture. Ikatkan vesika

urinaria pada dinding ventral abdominal dengan benang jahit

 

nonabsorbable.

Tutup

ventral

midline

incision

dan ikatkan

 

13

 
 

urinary chateter

dengan

kulit

menggunakan

benang jahit

nonabsorbable (Cornell, 2000).

 

4

Diet

 

Pemberian diet pakan terhadap pasien urolithiasis merupakan

metode terakhir dalam menangani kasus urolithiasis terutama dalah

struvite calculi antibiotik juga diperlukan dalam penanganan kasus

struvite crystals untuk menangani bakteri. Pemberian pakan yang

diberikan berupa diet pakan tinggi protein dan lembeb untuk pasien

dengan jenis calculi calcium oxalat dan untuk pasien dengan jenis

calculi struvite diberikan diet berupa makanan rendah sodium dan

potassium, diet yang menyebabkan asidifikasi urin secara maksimal dan

diet makanan yang tinggi lemak. Penghancuran calculi umumnya

memerlukan waktu sekitar 3-5 bulan dan satu bulan kemudian untuk

memastikan bahwa calculi telah hancur dengan bantuan radiografi serta

dilakukan diet reguler untuk mencegah terbentuknya calculi pada

vesika urinaria (Goldstein, 2005).

2. 6 Cystotomy

  • 2.6.1 Tindakan Pre Operasi

Pertimbangan yang dilakukan sebelum melakukan tindakan operasi

adalah pasien sudah didiagnosa terlebih dahulu dengan pemeriksaan

lanjutan seperti radiografi dan ultrasonografi. Umumnya prosedur

cystotomy dilakukan untuk pengangkatan cystic calculi, neoplasia, dan

reimplantasi pada vesika urinaria (Birchard and Sherding, 1994).

Pasien dipersiapkan dengan memberikan premedikasi berupa

atropine sulphate dengan dosis 0,08-0,16 ml/Kg BB SC. pasien

dipreparsi situs pembedahan dengan mencukur pada daerah abdomen

dari daerah xiphoid ke arah pubis. Setelah 15 menit pasien diberikan

kombinasi 1:1 anestesi umum berupa kombinasi dari Tiletamin-

Zolazepam dengan perbandingan 1:1 memiliki dosis 5-7 mg/kg BB IM.

Kombinasi dari Tiletamin-Zolazepam dapat meningkatkan kualitas dari

efek kerja obat seperti Tiletamin yang memiliki efek kataleptik dan

14

lipofilik sehingga dapat sampai ke organ bervaskularisasi tinggi lebih

cepat terutama otak dan Zolazepam yang merupakan turunan dari

Benzodiazepin yang memiliki efek antikonvulsi dua sampai tiga kali

dibandingkan golongan diazepin. Hal ini menyebabkan (Widyaputri

dkk., 2014; Gorda dkk., 2010).

Kemudian pasien diposisikan pada posisi dorsal recumbency dan

pasien diberikan surgical drapes yang difiksasi dengan towel clamp

pada sisi lateral. Selanjutnya pada bagian yang akan dilakukan

pembedahan diberi alkohol dan povidon iodine untuk keaseptisan

operasi (Al-Asadi and Khwaf, 2013).

  • 2.6.2 Prosedur Operasi

Pelaksanaan dari cystotomy dilakukan dengan menyiapkan terlebih

dahulu peralatan operasi standar, retraktor Balfour, laparotomy spoges.

Dipreparasi bagian ventral abdomen dan area vulva pada pasien betina

untuk keaseptisan operasi. Preputium diirigasi dengan antiseptik dan

apabila dibutuhkan pasien diberikan urinary catheter. Kemudian insisi

kulit dan jaringan subkutan pada bagian ventral abdomen midline dan

jaringan subkutan. Selanjutnya insisi linea alba dari umbilicus ke arah

pubis (jika perlu lakukan abdominal exploration secara penuh).

Selanjutnya posisikan retractor Balfour dan dilakukan eksplorasi

abdomen untuk menemukan vesika urinaria. Isolasi vesika urinaria

dengan meletakkan laparotomy spoges untuk meminimalisir masuknya

urin ke rongga abdomen. Buat jahitan sementara pada kedua ujung

dinding vesika urinaria untuk retraksi dan memudahkan insisi.

Keluarkan urine dari vesika urinaria menggunakan cystocentesis.

Setelah itu lakukan insisi dengan menghindari pembuluh darah besar

(Birchard and Sherding, 1994).

Lakukan insisi vesika urinaria untuk eksplorasi secara optimal

dapat dilakukan pada daerah dorsal atau ventral pada vesika urinaria

untuk mengeluarkan cystic calculi. Pada insisi ventral umumnya

dilakukan untuk membuka jalan keluar dari uretra (pada tindakan

15
15

ventral cystotomy incision tidak memiliki

resiko adanya kebocoran

yang besar daripada dorsal incision. Sebagai tambahan, ureter

sebaiknya ditempatkan jauh dari daerah ventral vesika urinaria untuk

mengurangi resiko yang tidak diinginginkan). Setelah dilakukan insisi,

panjangkan insisi dengan gunting metzenbaum. Usahakan trauma insisi

lurus dan hindari trigone ureter. Keluarkan cystic calculi dengan

gallbladder scoop atau sendok teh steril. Retrogade flushing dapat

digunakan untuk memindahkan calculi yang berukuran kecil dari daerah

proximal uretra. Lewatkan urinary chatheter sampai penis atau vulva,

selanjutnya dapat dilakukan flushing. Jangan tutup vesika urinaria

sampai yakin cystyc calculi sudah habis. Setelah operasi pasien dapat

diberikan urinary catheter untuk monitoring keluarnya urin (Birchard

and Sherding, 1994).

Menurut Khan et. al (2013), pola jahitan yang dapat dilakukan

untuk menutup vesika urinaia pada tindakan cystotomy pada anjing

memiliki banyak pilihan diantaranya one-layer (simple continous

sutures), two-layar (simple continous dan lembert sutures(inverting

suture)) dan three-layer (simple continous sutures dan seromuscular

layer by two layer, cushing sututes pattern overlapped by lambert

suture), teknik penutupan dilakukan berdasarkan tujuan dari operator

utama, misal untuk mempercepat jahitan dapat dilakukan penutupan

dengan pola simple continous suture selain itu juga dapat memposisikan

jaringan lebih rapi dan dapat menyembuhkan luka dari

cystotomy.Sedangkan pola two-layer dan three-layer dapat digunakan

untuk mengurangi perdarahan pada luka cystotomy.

Penutupan vesika urinaria dilakukan dengan menggunakan benang

sintetik absorbabel ukuran 3/0 sampai 4/0 dengan jarum tapper point

untuk mempermudah pada saat penusukkan jaringan. Sebelum

menempatkan vesika urinaria kembali pada rongga abdomen, terlebih

dahulu lepaskan jahitan sementara pada masing-masing jahitan

sementara dan laparotomy sponges dari vesika urinaria (Birchard and

Sherding, 1994). Tutup dinding abdomen dengan rapi dengan terlebih

16

dahulu diberikan antibiotiki berupa Penicilin Propain G (PPG) pada

setiap daerah insisi yang dijahit. Muskulus dijahit dengan catgut

chromic 3/0 dengan pola

simple continous memakai jarum bulati. Pada

subcutan dijahit dengan catgut plain 3/0

pola simple continous.

15

dengan jarum bulat memakai

Kemudian kulit dijahit dengan benang silk 2/0

dengan jarum segitiga memakai pola martras silang. Luka diberikan

povidon iodine dan dibandage (Widyaputri dkk., 2014).

2.6.3 Tindakan Post Operasi

Setelah

dilakukan

Operasi

pada

leher

pasien

perlu

diberikan

Elizabethan collar untuk menghindari pasien menyentuh luka (Al-

Asadi and Khwaf, 2013). Selain itu pasien diberikan antibiotik 4

minggu. Pemberian antibiotik Amoxicillin dengan dosis 20 ml/kg BB

yang diberikan PO dan jahitan dapat dibuka pada hari ke 10 setelah

operasi dengan kondisi luka sudah tertutup (Widyaputri dkk., 2014;

Birchard and Sherding, 1994). Amoxicillin memiliki kelebihan dapat

melawan penisilin, sensitif terhadap gram positif dan gram negatif.

17

Amoxillin pada gram psitif sensitif terhadap alfa dan beta hemolitik

Streptococcus, beberapa Staphylococcus, Clostridia, dan beberapa

Bacillus antraxis. Sedangkan pada gram negatif, Amoxicillin sensitif

terhadap Escherichia coli, Salmonella dan Pasteurella multocida.

Kelebihan ini dapat membantu mencegah dan mengurangi adanya

infeksi pada daerah sekitar operasi (Pharmacopeial Convention, 2007).

Foto rongten disarankan untuk melihat ada tidaknya cystic calculi

yang tersisa. Komplikasi yang dapat terjadi pasca operasi seperti

terjadinya inflamasi pada area insisi (Al-Asadi and Khwaf, 2013).

Hematuria dapat terjadi 12-36 jam pasca operasi merupakan kejadian

umum dan dapat terjadi kebocoran urin dari vesika urinaria ke rongga

abdomen umumnya juga terjadi sehingga harus dilakukan pengamatan

terhadap urinasi pasien (Birchard and Sherding, 1994).

18

BAB III

METODE KEGIATAN

3.1 Waktu dan Lokasi Kegiatan

Praktek Kerja Lapang dilaksanakan di Klinik Hewan drh. Iman

Setyowati K., Jl. Danau Maninjau Barat B2/A34 Sawojajar, Malang.

Pelaksanaan PKL dilaksanakan selama satu bulan yaitu pada 13 Januari 2015

hingga 18 Februari 2015.

3.2 Metode Praktek Kerja Lapang dan Pengambilan Data

Pengumpulan bahan kajian dilakukan dengan mengumpulkan data

primer dan sekunder, yaitu :

  • 3.2.1 Data Primer

Data primer diperoleh dengan ikut serta membantu kegiatan klinik

dan melakukan observasi pada pasien yang mendapatkan penanganan

Cystotomy pada saat Praktek Kerja Lapang sehingga diperoleh data.

  • 3.2.2 Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari jurnal, buku dan pemanfaatan

teknologi internet.

3.3. Rencana Jadwal Kegiatan

Jadwal kegiatan Praktek Kerja Lapang Program Kedokteran Hewan

Universitas Brawijaya dilaksanakan seperti yang tertera pada tabel di bawah

ini :

ix

v
v

18

Tabel 3. 1 Jadwal pelaksanaan kegiatan PKL mahasiswa Program Kedokteran

Universitas Brawijaya

Bulan No. Kegiatan Mar Nov Des Jan Feb 1 2 3 4 1 2 3 4
Bulan
No.
Kegiatan
Mar
Nov
Des
Jan
Feb
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
Penulisan
1.
Proposal PKL
Pengesahan
2.
Proposal PKL
Pelaksanaan
3.
PKL
Penyusunan
4.
Laporan PKL
Presentasi Hasil
5.
PKL

3.4 Biodata peserta PKL

Berikut adalah data peserta yang telah melaksanakan kegiatan PKL di

Klinik Hewan drh. Iman Setyowati K. Jl. Danau Maninjau

Sawojajar, Malang:

Barat B2/A34

Nama

: Firdaus Kusumawati

NIM

: 115130101111063

Program Studi

: Kedokteran Hewan

Universitas

: Universitas Brawijaya

Alamat Kos

: Jl. MT. Haryono No. 81, Malang

No. HP

: 087 752 168 353

Email

: 115130101111063@mail.ub.ac.id

BAB IV

19
19

PELAKSANAAN KEGIATAN

4.1

Tempat dan Waktu

Praktek Kerja Lapang dilaksanakan di Klinik Hewan Dokter Hewan drh.

Iman Setyowati K., Jl. Danau Maninjau Barat B2/A34 Sawojajar, Malang.

Pelaksanaan dilakukan pada 13 Jaunari 2015 hingga 18 Februari 2015.

  • 4.2 Aktifitas Praktek Kerja Lapang

Tabel 4.1 Tabel Aktivitas Praktek Kerja Lapang

No

     

.

Waktu

 

Kegiatan

Petugas

  • 1. Minggu I

Briefing

drh. Iman

Membantu menerima klien dan pasien

Setyowati K. dan

Membantu pengamatan dan pemberian

Asisten paramedis

obat pasien rawat inap

 

Membantu pelaksanaan Rongten

Asistensi pelaksanaan Operasi :

  • 1 Ovariohisterectomy pada

 

kucing

  • 2 Enterotomy pada anjing Chow-

 

chow konstipasi

  • 3 Cystotomy pada Anjing Poodle

 

Betina

  • 4 Ovariohisterectomy pada anjing

 

kintamani

  • 5 Operasi pada Hernia Inguinalis

 

anjing

  • 6 Sectio caesar pada Anjing

 

Chorgi

Membantu Grooming

 
  • 2. Minggu II

Membantu menerima klien dan pasien

drh. Iman

Membantu pengamatan dan pemberian

Setyowati K. dan

obat pasien rawat inap

 

Asisten paramedis

Membantu pelaksanaan Rongten

 

Asistensi pelaksanaan Operasi :

20

 
  • 1 Pemasangan Catheter pada

kucing persia urolith

     
   
  • 2 Ovariohisterectomy pada

 
 

kucing

Membantu Grooming

 
  • 3. Minggu III

Membantu menerima klien dan pasien

drh. Iman

Membantu pengamatan dan pemberian

Setyowati K. dan

obat pasien rawat inap

 

Asisten paramedis

Membantu pelaksanaan Rongten

Asistensi pelaksanaan Operasi :

  • 1 Jahit pada luka Laserasi anjing

 

Chorgi

  • 2 Penanganan kasus Prolaps

 

rektum pada Kucing

Membantu Grooming

 
  • 4. Minggu IV

Membantu menerima klien dan pasien

drh. Iman

Membantu pengamatan dan pemberian

Setyowati K. dan

obat pasien rawat inap

 

Asisten paramedis

Membantu pelaksanaan Rongten

Asistensi pelaksanaan Operasi :

  • 1 Orchiectomy pada kucing

  • 2 Sectio Caesar pada anjing

  • 3 Uretrhostomy dan Cystotomy

 

pada Anjing Campuran (Golden

dan Rottweiler) Jantan

  • 4 Pemasangan Catheter pada

 

kucing persia urolith

  • 5 Ovariohisterectomy pada

 

kucing pyometra

  • 6 Sectio caesar pada anjing Pom

  • 7 Extirpatio bulbi pada anjing

 

Shih Tzu

 

pada

  • 8 Pengangkatan tumor

21

 

abdomen Anjing Rottweiler

 

Membantu Grooming

     

22

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Gambaran Umum Tempat Praktek Kerja Lapang

5.1.1 Nama dan Lokasi Instansi

Lokasi Praktek Kerja Lapang dengan judul “Tatalaksana

Cystotomy sebagai Upaya Penanganan Gangguan Vesika Urinaria pada

Anjing di Klinik Hewan drh. Iman Setyowati K. Malang” dilakukan di

Klinik Hewan drh. Iman Setyowati K., klinik ini terletak di Jl. Danau

Maninjau Barat B2/A34 yang berjarak sekitar 30 meter dari jalan raya

Sawojajar, Malang.

5.1.2 Deskripsi Klinik Hewan drh. Iman Setyowati K.

Klinik Hewan drh. Iman Setyowati K. didirikan pada tahun 1990 an

di jalan Danau Maninjau Barat B2/A34. Klinik ini memberikan

pelayanan berupa unit usaha klinik, house call, penitipan hewan sehat

dan grooming dengan tenaga dokter hewan satu orang yaitu drh. Iman

Setyowati K. dan 2 orang asisten paramedis yang membantu pada saat

operasi, handling¸ grooming, menjaga kebersihan klinik, membantu

perawatan hewan rawat inap dan hewan yang dititipkan.

Waktu operasional dari Klinik Hewan drh. Iman Setyowati K.

yaitu pada hari senin sampai sabtu pada pukul 08.00-12.00 dan 17.00-

20.00, hari minggu/libur/sesuai perjanjian. Fasilitas yang dimiliki

berupa ruang tunggu klien, ruang periksa, ruang rawat inap sehat dan

sakit, ruang isolasi bagi hewan yang belum divaksin dan menderita

penyakit menular, ruang rongten, ruang gelap, ruang operasi, ruang

grooming, dapur, halaman untuk mencuci kandang, toilet, dan ruang

obat serta ruang untuk pakan hewan. Berikut denah klinik drh. Iman

Setyowati K.

23
23
Keterangan : a Ruang tunggu klien Ruang periksa hewan b c Ruang rongten d Ruang gelap

Keterangan :

a Ruang tunggu klien Ruang periksa hewan

b

c

Ruang rongten

d

Ruang gelap

e

Ruang rawat inap

  • 1 Ruang rawat inap kucing

  • 2 Ruang rawat inap anjing dan kucing

  • 3 Ruang rawat inap : isolasi pasien non vaksin

  • 4 Ruang rawat inap anjing besar

  • 5 Ruang rawat inap anjing kucing dengan penyakit menular

  • 6 Ruang rawat inap : isolasi pasien non vaksin

f

  • 7 Ruang penitipan anjing dan kucing sehat Ruang operasi

g

Toilet

h

Ruang obat dan pakan

i

Tempat cuci kandang dan menjemur

j

Dapur

Gambar 5.1 Denah Klinik Hewan drh. Iman Setyowati K.

Prosedur yang dilakukan apabila pasien datang adalah dengan

melakukan pendataan dari klien berupa nama, alamat, nomer telepon

dan data pasien berupa jenis hewan, jenis kelamin, spesies, dan umur.

Dilakukan pemeriksaan fisik dengan mengukur suhu, berat badan dan

19

menanyakan anamnesa atau keluhan klien terhadap kondisi pasien,

selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik oleh drh. Iman Seyowati K.

Setelah melakukan pemeriksaan, pasien yang mendapat pengobatan

rawat jalan diberikan obat maupun resep obat. Bagi pasien yang

membutuhkan penanganan lebih lanjut seperti rongten, rawat inap

maupun operasi dilakukan dengan persetujuan personal dari pemilik

24
24

hewan dengan drh. Iman Setyowati K.

5.2 Temuan Kasus yang Mengarah pada Prosedur Cystotomy

5.2.1 Kasus I

Kasus I yang ditemukan pada anjing betina poodle usia 9 tahun

bernama Desy berwarna putih dengan berat 3,4 kg. Oleh pemilik

ditemukan gejala berupa anuria sekitar satu minggu. Setelah dilakukan

pemeriksaan fisik berupa palpasi pada daerah hypogastrium ventral

ditemukan adanya pembesaran pada vesika urinaria. Selanjutnya

dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa rongten untuk mengetahui

adanya kelainan pada sistem urinaria. Menurut Barrett (2014), rongten

atau radiografi yang ditujukan pada bagian abdominal dilakukan

dengan nilai kVp sedang antara 75-80 kVp agar dapat menunjukkan

adanya perbedaan antara organ dan jaringan lunak serta lemak pada

abdomen dengan nilai mAs lebih tinggi untuk menghindari adanya

atenuasi yang disebabkan oleh adanya organ abdominal.

menanyakan anamnesa atau keluhan klien terhadap kondisi pasien, selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik oleh drh. Iman Seyowati

Gambar 5.2 Hasil rongten menunjukkan adanya poodle betina

calculi pada anjing

25

Hasil rongten pada Gambar 5.2 dengan posisi lateral recumbency

diperoleh dengn menggunakan nilai mAs sebanyak 7,5 dan kVp antara

75-80 yang menunjukkan adanya calculi pada vesika urinaria sehingga

perlu dilakukan pengangkatan calculi dengan cystotomy. Kasus

urolithiasis umumnya memiliki tanda stranguria dan anjing tampak

ingin terus menerus urinasi serta adanya rasa sakit saat urinasi serta

dapat ditemukan adanya uremia. Calculi dapat ditemukan pada uretra

yang dapat menyebabkan blockage. Obstruksi tersebut dapat

menyebabkan urin tidak keluar dan menyebabkan abdominal pain

(Cornell, 2000; Hottinger, 2013). Kasus cystotomy akibat kasus urolith

pada betina umumnya ditemukan struvite calculi (Langston, 2008).

5.2.1 Kasus II

Kasus II ditemukan pada anjing jantan campuran (Golden dan

Rottweler), usia 5 bulan bernama Rockie berwarna hitam dengan berat

20 kg. Oleh pemilik ditemukan gejala berupa hewan tidak mau makan,

muntah warna kuning, hematuria, dan diare. Dibawa keklinik dalam

keadaan lemas dan tidak dapat berdiri. Setelah dilakukan pemeriksaan

fisik berupa palpasi pada daerah hypogastrium medial, vesika urinaria

terasa kencang, berdinding dan berbentuk bulat. Pada saat palpasi

ditemukan adanya hematuria dan stranguria disertai adanya respon

sakit, hal ini sesuai dengan pernyataan Widodo dkk. (2011).

Pemeriksaan lanjutan dilakukan dengan pencitraan dengan rongten

dan gambaran hasil tidak ditemukan adanya calculi pada vesika urinaria

serta tidak ada pembesaran pada prostat (dapat dilihat gambar pada

lampiran 2). Pemasangan catheter dilakukan untuk merasakan adanya

sumbatan pada uretra dan melancarkan aliran urin dari vesika urinaria.

Pada saat pemasangan catheter terasa calculi pada uretra. Setelah

melakukan usaha kateterisasi, calculi tidak dapat dilakukan disloging

dan dilakukan bypassed kearah vesika urinaria, maka perlu dilakukan

tindakan lanjutan berupa uretrostomy untuk mengeluarkan calculi.

Setelah mendapat persetujuan dari pemilik uretrostomy merupakan

tindakan pembuka uretra untuk mengeluarkan calculi (Fletcher, 2012).

Setelah dilakukan uretrostomy ditemukan beberapa calculi calcium

oxalate seperti yang ditunjukan gambar pada lampiran, catheter masih

belum bisa masuk ke vesika urinaria sehingga dilaksanakan cystotomy.

Kasus urolithiasis pada anjing muda umumnya ditemukan jenis

calculi struvit daripada oxalat. Urolith dapat menyumbat uretra

sehingga menyebabkan obstruksi vesika urinaria, obstruksi tersebut

dapat menyebabkan abdominal pain, stranguria dan gejala azotemia

(anorexia, vomit, dan depresi). Pada beberapa kasus dapat ditemukan

adanya ruptur pada vesika urinaria yang mencemari pada uroabdomen

(Widodo dkk., 2011; Langston, 2008). Setelah dibandingkan dengan

literatur jenis batu yang ditemukan berupa calcium oxalate.

26
26

Gambar 5.3 Pengambilan calculi pada uretra

5.3 Prosedur Penanganan Cystotomy

5.3.1 Diagnosa Penentuan Tindakan Cystotomy

Sebelum melakukan tindakan Cystotomy dilakukan beberapa

pemeriksaan seperti pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lanjutan dengan

foto rongten untuk memperjelas diagnosa yang timbul dari anamnesa

berupa keluhan klien berupa gejala anuria. Pemeriksaan fisik dilakukan

dengan terlebih dahulu melakukan palpasi pada daerah vesika urinaria

untuk melihat adanya distensi atau perbesaran pada vesika urinaria,

selanjutnya dilakukan pemasangan kateter untuk mengatahui ada

tidaknya sumbatan dan letak dari sumbatan pada uretra. Seperti yang

disebutkan oleh Langston (2011), bahwa rongten merupakan

pemeriksaan lanjutan yang dilakukan untuk melihat adanya kelainan

seperti melihat posisi dan memperkirakan jumlah calculi pada vesika

urinaria. Kasus urolith yang menyebabkan obstruksi urinaria

merupakan kasus emergency dan perlu dilakukan tindakan secepatnya

untuk mengurangi rasa sakit pada bagian abdomen pasien.

Pada pelaksanaan Praktek Kerja Lapang di Klinik Hewan drh. Iman

Setyowati gangguan vesika urinaria yang terjadi pada anjing dilakukan

pemeriksaan lanjutan berupa pencitraan rongten sedangkan untuk

pemeriksaan laboraturium dan pencitraan ultrasonografi tidak dilakukan

dengan pertimbangan tidak adanya alat pada klinik. Akurasi diagnosa

menggunakan rongten lebih baik daripada menggunakan ultrasonografi.

Hal ini didasarkan dengan hasil pencitraan rongten terhadap calculi

27
27

lebih jelas.

5.3.2 Manajemen Pre Operasi

Pelaksanaan operasi pada anjing dilakukan dengan terlebih dahulu

melakukan premedikasi berupa atropin sulfat sediaan cair dengan dosis

0,1 mg/Kg SC, IM dan IV. Atropin sulfat memiliki kegunaan dalam

premedikasi yang dapat mengurangi sekresi saliva dan bronkial,

melindungi jantung dari efek vagal inhibition dan mencegah efek

muskarinik anticholinesterase seperti neostigmin, menurunkan

peristaltik intestinal dan menyebabkan dilatasi pupil (Sardjana dan

Kusumawati, 2004). Atropin sulfat dipilih berdasarkan adanya

kegunaannya dalam mengurangi salivasi akibat penggunaan kombinasi

obat anesthesi tiletamin dan zolazepam. Setelah 15 menit pasien

diberikan obat anestesi berupa Tiletamin-Zolazepam dengan dosis 5

mg/Kg BB IM. Tiletamin dapat menyebabkan efek kataleptik dan

zolazepam menyebabkan efek antikonvulsi dimana gabungan dari

keduanya dapat menimbulkan efek ardiostimulator (Gorda dkk., 2010).

Pemilihan obat anestesi kombinasi dari Tiletamin-Zolazepam

berdasarkan kelebihannya dalam waktu induksi yang relatif pendek,

dosis rendah, tingkat keamanan tinggi, waktu immobilisasi yang cukup

konstan dan pemulihannya yang baik.

28

Setelah anjing sudah berkurang kesadarannya, anjing dipreparasi

bagian abdomen hingga daerah pubis. Hewan yang sudah diberikan

anastesi ditempatkan diruang operasi dengan posisi rebah dorsal pada

meja operasi yang telah disiapkan. Daerah abdomen dan vulva (penis

untuk jantan) diberikan antiseptik (povidon iodine) yang diratakan

secara sirkuler dan tempatkan drapes.

Pada pasien cystotomy jantan preputium difiksasi menggunakan

stay suture atau artery clamp untuk kemudian penis diposisikan

kesamping untuk mempermudah pelaksanaan operasi (Houston, 2013;

Hottinger, 2013; Cornell, 2000). Sedangkan pada pelaksanaan Praktek

Kerja Lapang pada teknik yang dilakukan untuk handling penis pada

pasien Rockie dilakukan dengan tangan untuk efisiensi.

Setelah anjing sudah berkurang kesadarannya, anjing dipreparasi bagian abdomen hingga daerah pubis. Hewan yang sudah diberikan

Gambar 5.4 Gambar persiapan pasien dalam posisi rebah dorsal dan dipasangkan drapes

Pelaksanaan cystotomy di Klinik Hewan dilakukan tanpa

menggunakan tahapan stay suture pada preoutium pasien jantan

dikarenakan pertimbangan efisiensi dan gaya operasi pada setiap dokter

hewan berbeda.

5.3.3 Operasi

Cystotomy dilakukan pada anjing dengan kasus I dan II dengan

terlebih dahulu dilakukan laparotomy pada daerah medial midline

caudal abdomen ke arah pubis yang dilanjutkan dengan subcutan dan

linea alba. Setelah abdomen terbuka, vesika urinaria dikeluarkan dari

rongga abdomen melalui rongga laparotomy. Selanjutnya tempatkan

handuk steril yang berfungsi sepertii laparotomy sponges. Hal tersebut

sesuai dengan Al-Asadi (2014) bahwa laparotomy sponges digunakan

untuk meminimalisir kontaminasi dan mengurangi urine yang tumpah

kedalam abdomen.

a b c 29 d e f
a
b
c
29
d
e
f

Gambar 5.5 Gambar pada saat operasi a) Vesika urinaria. b.)pasang nierbeken c.) Calculi dikeluarkan dari vesika urinaria dengan pinset. d.) calculi dari anjing poodle betina. e.) calculi dari anjing campuran jantan. f.) vesika urinaria setelah dijahit dengan pola inverting suture.

Nierbeken ditempatkan pada sisi insisi sebagai tempat untuk

menampung urin pada saat vesika urinaria diincis. Insisi dilakukan pada

daerah dorsal vesika urinaria dengan scalpel, sebelum menginsisi perlu

dipastikan untuk menghindari daerah yang memiliki pembuluh darah

besar, agar posisi daerah yang akan diinsisisi tidak bergeser, vesika

dihandling dengan telunjuk dan ibu jari. Dalam pelaksanaan cystotomy

tidak dilakukan jahitan stay suture pada vesika urinaria sebagai bentuk

dari metode operasi dari drh. Iman Setyowati K. dengan menggunakan

tangan sebagai handler agar pelaksanaan operasi lebih mudah. Pada

pelaksanaan operasi cystotomy umumnya menggunakan jahitan stay

suture untuk menghandling vesika urinaria sehingga dapat terkuak dan

memperluas lapangan pandang. Setelah urin dikeluarkan dilakukan

eksplorasi lumen vesika urinaria dengan pinset anatomis untuk

membantu mengambil calculi. Calculi yang diperoleh seperti pada

Gambar 5.5 d dan e yang diketahui merupakan jenis struvite dan

calcium oxakate. Pada calculi yang memiliki ukuran yang lebih kecil

atau tidak dapat diambil dengan pinset maka pembersihan calculi dapat

dilakukan dengan flushing. Flushing dilakukan dengan catheter yang

dipasang dari uretra menuju vesika urinaria. Flushing yang dilakukan

menggunakan cairan normal saline atau biasa disebut dengan Sodium

chloride 0,9% yang memiliki kemampuan untuk mencegah blood clot

formation sehingga tidak menyebabkan adanya clot retention catheter

blockage) pada lower urinary tract, sedangkan air tidak digunakan

untuk flushing karana dapat diserap dalam proses osmosis jaringan dan

sinus vena yang terbuka dimana hal tersebut dapat menyebabkan dilusi

dari elektrolit pada sistem sirkulasi (McLeod and McDonald, 2012).

Setelah vesika urinaria telah dipastikan bersih dari calculi,

selanjutnya diberikan

antibiotik. 30
antibiotik.
30

Antibiotik

dipilih berdasarkan

kemampuan dalam melawan bakteri gram positif dan gram negatif yaitu

penicillin procaine G yang merupakan antibiotik yang dapat melawan

bakteri aerobik dan anaerobik gram-positif serta pada bakteri yang

memiliki resistensi oleh mekanisme lain dan dapat melawan

staphylococci dan bakteri gram-negatif. Penicillin G yang dapat

diberikan pada daerah superfisial dari luka. Antibiotik ini bekerja

dengan menghasislkan efek bakterisidal dan masuk dalam bakteri

melalui dinding sel yang kemudian akan mengikat protein spesifik pada

membran dalam bakteri sehingga mengganggu produksi peptidoglikan

dan sekuensi lisis sel sehingga menghambat pertumbuhan sel. Penicillin

procaine G bersifat long acting (Nurs et al., 2009). Sediaan Penicillin

procaine G berupa serbuk yang diberikan topikal pada daerah insisi

pada vesika urinaria dan pada situs laparotomi. Pemberian hanya

dilakukan satu kali yaitu pada saat penutupan situs insisi.

Vesika urinaria ditutup menggunakan jarum dengan ujung round

dan benang absorbable catgut dengan pola inverting suture yaitu pola

lembert yang dilanjutkan dengan cushing dengan benang yang

digunakan adalah absorbable ukuran 3/0 hal ini sesuai dengan Al-Asadi

dan Cornell (2014 dan 2000). Vesika urinaria merupakan organ yang

memiliki tingkat penyembuhan luka hingga100% selama 14-21 hari

paska operasi dan membutuhkan waktu 30 hari untuk waktu

reepitelisasi. Benang jahit yang digunakan saat ini adalh benang

 

31

 
 

31

absorbable alami dan

sintetis. Benang alami seperti catgut chromic

memiliki resiko terjadinya inflamasi daripada produk benang sintetis

(seperti polydioxane, polyglactin-910, dan polyglactin acid). Namun

kekurangan benang alami

jahitan

tersebut dibantu oleh penggunaan pola

yang bertujuan untuk

inverting suture dan lembert suture

merapatkan jaringan incisi dan merapatkan jahitan pertama sehingga

tidak terjadi kebocoran (Khan et al, 2013; Abbas et al, 2011).

Setelah selesai menjahit bagian vesika urinaria daerah jahitan

dilakukan flushing untuk memastikan vesika urinaria bersih dari calculi

dan darah serta dicuci abdomen dengan normal saline untuk

menghindari cloting darah didalamnya. Selanjutnya ditutup bagian

laparotomy dan dipasang bandage dan catheter. Catheter difiksasi

dengan benang nonabsorbable silk 3/0 jarum triangle pada vulva atau

preputium (pada anjing jantan), chatheter selanjutnya dipotong hingga

panjangnya sekitar 2 cm dari vulva atau preputium, pemotongan

dilakukan untuk menghindari hewan menggigit dan menarik catheter.

Menurut Cornell (2000), luka pada vesika urinaria umumnya dapat

sembuh pada hari ke 5 dan kekuatan dinding vesika urinaria dapat

kembali normal pada hari ke 14 hingga 21 hari.

digunakan adalah absorbable ukuran 3/0 hal ini sesuai dengan Al-Asadi dan Cornell (2014 dan 2000). Vesika

Gambar 5.6 Anjing dipasangkan perban dan catheter

32

5.3.4 Post Operasi

Pasien dipasangkan dress dan colar. Pasien cystotomy umumnya

dilakukan rawat inap, selama perawatan pasien diberikan minum dan

pakan halus. Selama dilakukan rawat inap dilakukan Pasien yang

menjalani rawat inap diberikan pengobatan berupa pemberian antibiotik

berupa enrofluxacin. Enrofluxacin bekerja sebagai antibiotik broad

spectrum untuk bakteri gram positif, gram negatif dan mikoplasma.

Enrofluxacin pada anjing dan kucing digunakan sebagai penanganan

pada kasus infeksi bakteri organ pencernaan, pernafasan, dan saluran

urogenital. Dosis pemberian 1 mg/5kg BB SC yang diulang setiap 3-5

hari dan dihentikan setelah pasien lepas jahitan (Bayer, 2015).

Pengulangan dilakukan untuk mencegah agar bakteri tidak resisten.

Selanjutnya hewan dikontrol baik kondisi maupun jahitan sampai hari

ke 7-10 (Al-Asadi, 2014). Kontrol secara umum dilakukan dengan

melihat nafsu makan dan minum, serta perilaku pasien. Jahitan

dikontrol setiap hari untuk melihat ada tidaknya komplikasi pada luka

yang dijahit, kontrol jahitan dapat dilakukan dengan melihat adanya

pembengkakan ataupun erithrema pada daerah jahitan.

5.3.4 Post Operasi Pasien dipasangkan dress dan colar . Pasien cystotomy umumnya dilakukan rawat inap, selama

Gambar 5.7 Pemasangan dress dan colar

Sebagai upaya penurunan resiko terjadinya urolithiasis, dilakukan

pemberian diet pasca operasi, pada kasus sruvite diberikan diet rendah

sodium dan potasium, diet pakan yang dapat meningkatkan asidifikasi

urin maksimal serta diet pakan tnggi lemak. Sedangkan untuk kasus

pasien oxalate calculi diberikan diet pemberian pakan tinggi protein

dan lembab (Goldstein, 2005)

Pada saat perawatan Desy tidak ditemukan adanya komplikasi yang

berarti sedangkan pada Rockie terjadi hematuria dalam kurun waktu 12

jam yang diduga terjadi akibat kondisi fisik dari kondisi tubuh yang

kurang stabil akibat diare dan muntah yang sebelumnya yang sudah

diderita oleh pasien menjadi penyebab kematian. Menurut Al-Asadi dan

33
33

Cornell (2014, 2000), komplikasi dapat terjadi pada daerah jahitan

berupa adanya hematuria

yang disebabkan oleh trauma pasca operasi.

Hematuria akan berhenti kira-kira pada hari ke 2 tanpa diberikan

penanganan. Bengkak juga ditemukan pada daerah tepi jahitan setelah

efek anastesi hilang yang mengarah pada terjadainya inflamasi.

Inflamasi terjadi pada saat peningkatan permiabilitas vaskular yang

dapat melepaskan vasodilatator seperti prostaglandin, bradikidin, dan

histamin, yang dapat menyebabkan adanya reaksi inflamasi pasca

operasi. Umumnya bengkak akan sembuh pada hari keempat secara

spontan tanpa pemberian penanganan.

3434

6.1 Kesimpulan

BAB VI

PENUTUP

Pada pelaksanaan tatalaksana dari cystotomy di Klinik Hewan drh. Iman

Setyowati diperoleh kesimpulan laporan sebagai berikut :

a Pelaksanaan diagnosa pasien dengan penanganan Cystotomy di Klinik

Hewan drh. Iman Setyowati K, Malang dilakukan dengan melakukan

anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lanjutan berupa rongten

sehingga dapat diperoleh diagnosa yang mengarah pada tindakan

 

Cystotomy.

b

Cystotomy

di Klinik Hewan drh. Iman Setyowati K. dilakukan

berdasarkan adanya obstruksi uretra akibat bladder calculi dan temuan

adanya calculi pada vesika urinaria setelah dilakukan rongten serta

adanya kesulitan dalam membuka aliran uretra dengan cathereter.

c

Tatalaksana Cystotomy di Klinik Hewan drh. Iman Setyowati K.

dilakukan dengan memberi anasthesi umum dan dilakukan laparotom,

selanjutnya vesika urinaria dikeluarkan dan diisolasi dengan laprotomy

sponges, vesika urinaria diinsisi pada daerah dorsal vesika urinaria.

Penutupan vesika urinaria dilakukan dengan menggunakan pola jahitan

inverting suture, selanjutnya abdomen diligasi dan diberikan antibiotik

serta penutupan daerah laparotomy. Post operasi dilakukan dengan

memasang kateter, pemberian antibiotik enrofloksasin dan pemberian

gurita.

d

Kasus penyakit yang ditemukan di Klinik drh. Iman Setyowati K. yang

memerlukan tindakan Cystotomy adalah urolithiasis pada satu anjing

jantan dan satu anjing betina.

35
35

6.2 Saran

Saran yang diberikan di Klinik Hewan drh. Iman Setyowati K. Malang

sebagai rekomendasi guna meningkatkan kualitas pelayanan untuk

melaksanakan prosedur Cystotomy adalah :

a Temuan perlakuan yang berbeda dengan teori pada tatalaksana cystotomy

adalah tidak digunakannya stay suture pada preputium penis pada saat

dilakukan cystotomy pada anjing jantan pertimbangan dari ukuran penis

yang kecil sehingga lebih mudah dihandling dengan tangan. Penggunaan

tangan sebagai handling vesika urinaria juga dilakukan berdasarkan

pertimbangan kemudahan dalam menghandling. Pengguanaan scope untuk

mengambil calculi tidak dilakukan dengan alasan calculi dapat diambil

dengan menggunakan pinset, jari tangan dan melakukan

flussing.Berdasarkan hal tersebut pelaksanaan cystotomy selanjutnya

sebaiknya perlu dilakukan tahapan berupa penggunaan stay suture untuk

mempermudah operasi yaitu tidak menghalangi lapangan pandang operasi

(dignakan untuk stay suture di preputium) dan untuk handling pada saat

menginsisi dan menjahit vesika urinaria. Penggunaan scope dapat

membantu dalam menggambil calculi yang memiliki ukuran yang lebih

kecil dimana ukuran tersebut sulit diambil dengan pinset.

b Perlu dilakukan edukasi pada pasien berupa pemberian gambaran

perawatan paska operasi melalui manajemen pakan, pemberian air minum

dan pelatihan fisik untuk exercise hewan serta edukasi terkait kapan hewan

harus diperiksakan ke dokter hewan.

363236

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, B. T, D. M. T. M. Amin, and A. H. Hassan. 2011. Cystotomy Closure

Using a Single-Layer Simple Continous Versus Continous Cushing Suture

Pattern in Dogs. Al-Anbar J. Vet. Sci., Vol.: 4 No.(2)

Al-Asadi, R. N. dan N. B. Khwaf. 2014. Comparative Study Between Inverting

and Appositional Suture Patterns for Cystotomy Closure in Dog. The Iraqi

Journal of Veterinary Medicine, 38(1): 40-47.

Barrett, E. 2014. Abdominal Radiology Mini Series: Session 1 : Getting The Best

Out of Your Abdominal Radiographs and Evaluating the Abdominal

Space, Liver and Spleen. RCVS and European Specialist in Veterinary

Diagnostic Imaging.

Bayer. 2015. Baytril 2,5% solution for Injection. Bayer plc. Berkshire

Birchard, S. J. 2014. Cystotomy Removal of Cystic and Urethral Calculi in Dogs:

Are

you

getting

them

ALL

out?

<http://drstephenbirchard.blogspot.com/2014/10/cystotomy-for-removal-

of-cystic-and.html> [Diakses tanggal 17 April 2014]

Birchard, S. J. and R. G. Sherding. 1994. Saunders Manual of Small Animal

Practice Volume 2, 2 nd Edition. WB. Saunders comp. Philadelphia. Pp 959,

960, 961.

Brown, C. (2011). Urolithiasis and Cystotomy in the Rabbit. Lab Animal (NY).

40(3): 73-74.

Cornell, K. K. 2000. Cystotomy, Partial Cystectomy and Tube Cytotomy. Chnical

Techniques in Small Animal Pracbce, Vol 15, No 1 (February), pp 11-16

Fletcher, T. F. 2012. Applied Anatomy and Physiology of Dog-Cat Lower Urinary

Tract. University of Minnesota.

Fossum, T. W. 2009. Surgery of The Urinary System. Proceeding of the 34th

World Small Animal Veterinary Congress (WSAVA 2009). Brazil.

Goldstein, R. E. 2005. Struvite Versus Calcium Oxalate-The Dilema. Proceeding

of The NAVC. North American Veterinary Confrence

Gorda, I. W., G. J. Wardhita, A. A. G. O. Dharmayudha. 2010. Perbandingan Efek

Pemberian Anestesi Xylazin-Ketamin Hidroklorida dengan Anestesi

Tiletamin-Zolazepam terhadap Capilary Refill Time(CRT) dan Warna

Selaput Lendir Pada Anjing. Buletin Veteriner Udayana. Vol. 2 No. 1. :21-

27

Hill’s Pet Nutrition. 2004. Feline Lower Urinary Tract Disease. Division of

Cogate-Palmovile Company. Veterinary Publishing Company, Inc. USA.

Pp 66-68

Hottinger, H. 2013. Basics of Bladder Surgery and Techniques to Remove all the

Stones. Western Veterinary. Houston-USA.

37
37

ITIS (Interagency Taxonomic Information System). 2015. Cannis lupus familiaris

Lineaeus,

1758.

TSN

726821.

search_topic=TSN&search_value=726821> [Diakses tanggal 2 Maret 2015]

Khan, I. U, M. A. Khan, A. S. Chaudhary, M. M. Ali, M. Imran, M. Ijaz and H.

Saleem. 2013. Evaluation of Different Sutring Techniques for Cystotomy

Closure in Canines. The Journal of Animal and Plant Sciences, 23(4) :

page 981-985.

Kibble. 2012. Urinary Catheters. Blue Pearl Veterinary Partners. Lexington KY.

Page 1-2

Langston, C. E. 2011. Bladdder Stones in Dogs. Mc Farlan Animal Hospital.

Saunders, an imprint of Elsevier

Langston, C., K. Gisselman, D. Palma

and

J.

McCue. 2008.

Diagnosis of

Urolithiasis. Animal Medical Center. Compendium. New York

McLeod, P and. C, McDonald. 2012. Bladder Irrigation Guidlines. ACI(formerly

GMCT) Urology Nursing Members.

Noviana, D., S. H. Aliambar, M. F. Ulum dan R. Siswandi. 2012. Diagnosis

Ultrasonografi pada Hewan Kecil. IPB Press. Bandung. hlm 61, 65-68

Nurs

R.

B. B., LLB, DipLegPrac.

2009. Review

The Efficacy of Procaine

Benzylpenicillin in Neonates. Report of 17th Expert Committee on

Selection and Use of Essential Medicines. New South Wales-Australia.

Pharmacopeial Convention. 2007. Amoxicillin and Clavunalate(Veterinary-

Sistemic). The United States Pharmacopeial Convention. Page 1

Saragih,

C.

2009.

DOKTER

HEWAN:

Anatomi

Anjing.

<http://vetandsociety.blogspot.com/2009_04_01_archive.html> [Diakses

tanggal 2 Maret 2015]

Sardjana, I. K. dan Kusumawati, D. 2004. Anastesi Veteriner Jilid 1. Gadjah

Mada University Press. Hal 11 dan 93.

Stevenson, A. E, D. J. Wringglessworth and P. J. Marwell. 2000. Effect of Dietary

Potassium Citrate Supplementation on Urine pH and Urinary Relative

Supersaturation of Calcium Oxalate and Struvite in Healthy Dogs. Am J

Vet Res: 61(4):430-5.

Suprayogi, A., H. S. Darusman, dan I. Ngabdusani. 2009. Perbandingan Nilai

Fisiologis Kardiorespirasi dan Suhu Rektal Anjing Kampung Dewasa dan

Anak. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Vol 14 No. 3. Hlm 141-148

Veterinary Specialist of Alaska. Urinary Bladder Surgery. Alaska

Widodo, S., D. Sajuthi, C. Choliq, A. Wijaya, R. Wulansari, dan Rp. A. Lelana.

2011. Diagnostik Klinik: Hewan Kecil. IPB Press. Bogor. Hal 13, 29, 168,

170, 186-189

 

38

34 38

Widyaputri, T., A. Fauzi, A. Aeka N., D. Prasetyo

& M. A. Lesamana. 2014.

Penuntun Praktikum Ilmu Bedah Khusus. Bagian Bedah dan radiologi

Program Kedokteran Hewan Unibersitas Brawijaya. Malang. Hlm. 14-18

39 26
39
26

LAMPIRAN

Lampiran 1. Rekam Medis Pasien

  • 1 Pasien Cystotomy 1

Tanggal

:

Nama Hewan

:

Jenis

:

Sinyalmen

:

BB

:

Anamnesa

:

Pemeriksaan Fisik

:

Pemeriksaan Lanjutan

:

Diagnosa

:

Tindakan

:

Pasca Operasi

tanggal

terapi

  • 15 Enrofluxacin

Jan 2015

  • 16 Jan 2015

  • 17 Enrofluxacin

Jan 2015

  • 18 Jan 2015

  • 19 Enrofluxacin

Jan 2015

  • 19 Jan 2015

  • 19 Jan 2015

  • 2 Pasien Cystotomy 2

Tanggal

:

Nama Hewan

:

Jenis

:

Sinyalmen

:

BB/Suhu

:

Anamnesa

:

Pemeriksaan Fisik

:

Pemeriksaan Lanjutan

:

Diagnosa

:

Tindakan

:

15 Januari 2015

Desy

Anjing

Poodle, betina, white, 9 tahun

3,4 Kg

tidak urinasi kurang lebih 1 minggu

Palpasi Vesika Urinaria : Distensi

Foto rongten : terdapat batu sekitar 5 atau 6

Urolithiasis

Operasi Cystotomy

jalur

dosis

ket

IM

2,5 mg/kg BB IM

Hematuria

IM

2,5 mg/kg BB IM

IM

2,5 mg/kg BB IM

 

Luka sudah

menutup

6 Februari 2015

Rockie

Anjing

Campuran(Rottweiler dan Golden), Jantan,

Black, 5 bulan

20 kg/39,1 0 C

Tidak mau makan, Hematuria, Vomit, diare

Palpasi Vesika Urinaria : Distensi. Setelah

40

dirongten dilakukan pemeriksaan uretra

dengan kateter, ditemukan adanya sumbatan.

Foto rongten : tidak tampak batu pada vesika

urinaria

Urolithiasis, uremia

Operasi Urethrostomy Operasi Cystotomy

Pasca Operasi

tanggal

terapi

Jalur

dosis

ket

  • 6 Enrofluxacin

Feb 2015

IM

2,5 mg/kg BB IM

Hematuria

Feb 2015

  • 7 -

-

-

Mati,

 

Diagnosa :

Uremia

Lampiran 2. Perhitungan Dosis Pemberian Tiletamin-Zolazepam

Dosis Tiletamin-Zolazepam

: 5-7 mg/Kg BB

BB Pasien 1

: 3,4 Kg

Sediaan

: dalam 1 ml terdapat 50 mg Tiletamin-Zolazepam

Jika dalam 1 ml terdapat 50 mg Tiletamin-Zolazepam maka apabila dosis yang

dipakai adalah 5 mg, jumlah sediaan Tiletamin-Zolazepam yang dipakai berapa

ml?

50 : 1

= 5 : X

50X = 5

 
  • X = 5 : 50

  • X = 0,1

Jadi dalam 0,1 ml sediaan terdapat Tiletamin-Zolazepam sebanyak 5 mg

Dosis Pemberian

= (BB x Dosis) x 0,1

= (3,4 x 5)x 0,1

= 1,7 ml

41

Lampiran 3. Dokumentasi Kegiatan Praktek Kerja Lapang

Tidak adanya batu pada VU Rockie Vesika urinaria Flushing pada vesika urinaria Pola inverting suture Pemeriksaan
Tidak adanya batu pada VU Rockie Vesika urinaria Flushing pada vesika urinaria Pola inverting suture Pemeriksaan
Tidak adanya batu pada VU Rockie Vesika urinaria Flushing pada vesika urinaria Pola inverting suture Pemeriksaan

Tidak adanya batu pada VU Rockie

Vesika urinaria

Tidak adanya batu pada VU Rockie Vesika urinaria Flushing pada vesika urinaria Pola inverting suture Pemeriksaan
Tidak adanya batu pada VU Rockie Vesika urinaria Flushing pada vesika urinaria Pola inverting suture Pemeriksaan

Flushing pada vesika urinaria

Pola inverting suture

Tidak adanya batu pada VU Rockie Vesika urinaria Flushing pada vesika urinaria Pola inverting suture Pemeriksaan
Tidak adanya batu pada VU Rockie Vesika urinaria Flushing pada vesika urinaria Pola inverting suture Pemeriksaan

Pemeriksaan pasien

Salah satu ruang Rawat inap

Tidak adanya batu pada VU Rockie Vesika urinaria Flushing pada vesika urinaria Pola inverting suture Pemeriksaan
Tidak adanya batu pada VU Rockie Vesika urinaria Flushing pada vesika urinaria Pola inverting suture Pemeriksaan

Grooming

Menimbang pasien

42

Mengukur suhu pasien Catheterisasi pasien FUS Diskusi dengan drh. Iman Setyowati K.
Mengukur suhu pasien Catheterisasi pasien FUS Diskusi dengan drh. Iman Setyowati K.

Mengukur suhu pasien

Catheterisasi pasien FUS

Mengukur suhu pasien Catheterisasi pasien FUS Diskusi dengan drh. Iman Setyowati K.

Diskusi dengan drh. Iman Setyowati K.

43