Anda di halaman 1dari 16

Konsep pasien safety

Ditulis pada Mei 11, 2012 oleh azmwin


BAB I
PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Keamanan dan keselamatan pasien merupakan hal mendasar yang perlu diperhatikan oleh tenaga
medis saat memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Keselamatan pasien adalah suatu sistem
dimana rumah sakit memberikan asuhan kepada pasien secara aman serta mencegah terjadinya
cidera akibat kesalahan karena melaksanakan suatu tindakan atau tidak melaksanakan suatu tindakan
yang seharusnya diambil. Sistem tersebut meliputi pengenalan resiko, identifikasi dan pengelolaan hal
yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari
insiden, tindak lanjut dan implementasi solusi untuk meminimalkan resiko (Depkes 2008).
Setiap tindakan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien sudah sepatutnya memberi
dampak positif dan tidak memberikan kerugian bagi pasien. Oleh karena itu, rumah sakit harus
memiliki standar tertentu dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Standar tersebut bertujuan
untuk melindungi hak pasien dalam menerima pelayanan kesehatan yang baik serta sebagai pedoman
bagi tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan kepada pasien. Selain itu, keselamatan pasien juga
tertuang dalam undang-undang kesehatan. Terdapat beberapa pasal dalam undang-undang kesehatan
yang membahas secara rinci mengenai hak dan keselamatan pasien.
Keselamatan pasien adalah hal terpenting yang perlu diperhatikan oleh setiap petugas medis yang
terlibat dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. Tindakan pelayanan, peralatan
kesehatan, dan lingkungan sekitar pasien sudah seharusnya menunjang keselamatan serta
kesembuhan dari pasien tersebut. Oleh karena itu, tenaga medis harus memiliki pengetahuan
mengenai hak pasien serta mengetahui secara luas dan teliti tindakan pelayanan yang dapat menjaga
keselamatan diri pasien.

1.2
1.
2.
3.
4.
1.3

TUJUAN
Untuk
Untuk
Untuk
Untuk

mengetahui
mengetahui
mengetahui
mengetahui

MANFAAT

pengertian dari patient safety.


standar keselamatan pasien rumah sakit.
patient safety dalam tinjauan hukum.
aplikasi patient safety saat memberikan pelayanan kesehatan.

1.
2.
3.
4.

Mampu
Mampu
Mampu
Mampu

memahami
memahami
memahami
memahami

pengertian dari patient safety.


standar keselamatan pasien rumah sakit.
patient safety dalam tinjauan hukum.
aplikasi patient safety saat memberikan pelayanan kesehatan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1
PATIENT SAFETY DAN CLINICAL RISK MANAGEMENT
Menurut penjelasan Pasal 43 UU Kesehatan No. 36 tahun 2009 yang dimaksud dengan keselamatan
pasien (patient safety) adalah proses dalam suatu rumah sakit yang memberikan pelayanan kepada
pasien secara aman termasuk didalamnya pengkajian mengenai resiko, identifikasi, manajemen resiko
terhadap pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti
insiden, dan menerapkan solusi untuk mengurangi serta meminimalisir timbulnya risiko. Yang
dimaksud dengan insiden keselamatan pasien adalah keselamatan medis (medical errors), kejadian
yang tidak diharapkan (adverse event), dan nyaris terjadi (near miss).
Menurut Institute of Medicine (IOM), Patient Safety didefinisikan sebagai freedom from accidental
injury. Accidental injury disebabkan karena error yang meliputi kegagalan suatu perencanaan atau
memakai rencana yang salah dalam mencapai tujuan. Accidental injuryjuga akibat dari melaksanakan
suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil
(omission). Accidental injury dalam prakteknya berupa kejadian tidak diinginkan atau hampir terjadi
kejadian tidak diinginkan (near miss). Near miss ini dapat disebabkan karena:
1.
Keberuntungan
Contoh : pasien menerima suatu obat kontra indikasi, tetapi tidak timbul reaksi obat.
1.
Pencegahan
Contoh : suatu obat dengan overdosis lethal akan diberikan, tetapi staf lain mengetahui dan
membatalkannya sebelum obat tersebut diberikan.
1.
Peringanan
Contoh : suatu obat dengan overdosis lethal diberikan, tetapi diketahui secara dini lalu diberikan
antidotenya.

Resiko terjadinya kesalahan atau kecelakaan kerja saat memberikan pelayanan kesehatan kepada
pasien dapat diminimalisir dengan pengorganisasian risiko atau risk managementsecara benar. Risk
management tersebut meliputi :
1.
Identifikasi risiko.
Bertujuan untuk mengidentifikasi konsekuensi serta kemungkinan risiko yang akan terjadi serta untuk
membagi penanganan terhadap suatu risiko berdasarkan tingkat prioritas atau kebutuhan.
1.
Analisis risiko.
Bertujuan untuk menganalisis serta memisahkan risiko kecil yang dapat diterima dengan risiko besar
yang tidak dapat diterima. Selain itu, analisis risiko juga bertujuan untuk mengumpulkan data yang
dapat bermanfaat dalam proses evaluasi dan perencanaan penanganan risiko.
1.
Evalausai terhadap risiko yang terjadi.
Bertujuan untuk membandingkan tingkat atau level dari suatu risiko yang ditemukan dengan kriteria
risiko yang tidak dapat dihindari. Hasil akhir dari tahap ini adalah menyusun prioritas risiko sebagai
dasar dalam melakukan tindakan yang lebih lanjut.
1.
Penanganan terhadap risiko yang terjadi
Bertujuan untuk mengidentifikasi atau menentukan pilihan tindakan yang dapat dilakukan untuk
menangani suatu risiko, mengkaji pilihan tindakan tersebut, merencanakan persiapan untuk
penanganan risiko, dan melakukan pilihan tindakan tersebut.
1.
Pengamatan secara terus menerus
Bertujuan untuk menjamin atau memastikan bahwa pengorganisasian tindakan yang telah
direncanakan bermanfaat dan dapat mengontrol pelaksanaan dari penganganan risiko tersebut.
1.

Komunikasi

2.2
STANDAR KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT
Dalam melakukan prosedur perawatan pada pasien, terdapat tujuh standar keselamatan.
Standar ini mengacu pada Hospital Patient Safety Standards yang dikeluarkan oleh Joint
Commision on Accreditation of Health Organizations, Illinois, USA,tahun 2002. Tujuh standar
tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Hak pasien
Standar :
Pasien dan keluarga mempunyai hak untuk mendapatkan informasi mengenai rencana dan hasil
pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya KTD (Kejadian Tidak Diharapkan).
Kriteria :
1.
Harus ada dokter sebagai penanggung jawab pelayanan
2.
Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan

3.

Dokter sebagai penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan yang jelas dan
benar kepada pasien dan keluarga tentang rencana dan hasil pelayanan, pengobatan atau
prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan terjadinya kejadian tidak diharapkan.

1.
Mendidik pasien dan keluarga
Standar :
Rumah sakit harus mampu mendidik pasien dan keluarga mengenai kewajiban dan tanggung jawab
pasien dalam asuhan pasien.
Kriteria :
Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dengan keterlibatan pasien dimana
pasien berperan sebagai partner dalam proses pelayanan. Karena itu, rumah sakit harus memiliki
sistem dan mekanisme untuk mendidik pasien dan keluarga mengenai kewajiban dan tanggung jawab
pasien dalam asuhan pasien. Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dan keluarga memiliki
kemampuan untuk :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Memberikan info yang benar, jelas, lengkap dan jujur


Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab
Mengajukan pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti
Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan
Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan rumah sakit
Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa
Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati

1.
Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
Standar :
Rumah sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar
unit pelayanan.
Kriteria :
1.
Koordinasi pelayanan secara menyeluruh
2.
Koordinasi pelayanan disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber daya
3.
Koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi
4.
Komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan

1.

Penggunaan metode-metode dalam peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan


program peningkatan keselamatan pasien
Standar :
Rumah sakit harus mendesain proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan
mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif kejadian tidak
diharapkan, dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja.

Kriteria :
1.
Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan yang baik sesuai dengan Tujuh
Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
2.
Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja
3.
Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif
4.
Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil analisis

1.
Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
Standar :
1.
Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan pasien melalui
penerapan Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
2.
Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk mengidentifikasi risiko
keselamatan pasien dan program mengurangi kejadian tidak diharapkan.
3.
Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi serta koordinasi antar unit dan individu
berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang keselamatan pasien.
4.
Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk mengukur, mengkaji, dan
meningkatkan kinerja rumah sakit serta meningkatkan keselamatan pasien.
5.
Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam meningkatkan kinerja
rumah sakit dan keselamatan pasien
Kriteria :
1.
Terdapat tim pendisiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.
2.
Tersedia program proaktif untuk mengidentifikasi risiko keselamatan dan program
meminimalkan insiden atau kejadian tidak diharapkan.
3.
Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari rumah sakit
terintegrasi dan berpartisipasi.
4.
Tersedia prosedur cepat-tanggap terhadap insiden termasuk asuhan kepada pasien yang
terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain, dan penyampaian informasi yang benar dan
jelas untuk keperluan analisis.
5.
Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan insiden.
6.
Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden.
7.
Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan antar pengelola
pelayanan.
8.
Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan.
9.
Tersedia sasaran terukur, serta pengumpulan informasi menggunakan kriteria objektif untuk
mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien.

1.
Mendidik staf tentang keselamatan pasien
Standar :
1.
Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk setiap jabatan
mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien secara jelas.
2.
Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan untuk
meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisiplin
dalam pelayanan pasien.
Kriteria :

1.
2.
3.

Memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik mengenai
keselamatan pasien
Mengintegerasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan inservice trainingdan
memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden.
Menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok guna mendukung pendekatan
interdisiplin dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien.

1.
Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.
Standar :
1.
Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi keselamatan pasien
untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal.
2.
Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.
Kriteria :
1.
Tersedia anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses manajemen untuk memperoleh
data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien.
2.
Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi manajemen
informasi yang ada.

2.3

PATIENT SAFETY DALAM TINJAUAN HUKUM

Perlindungan kepentingan manusia merupakan hakekat hukum yang diwujudkan dalam bentuk
peraturan hukum, baik perundangan-undangan maupun peraturan hukum lainnya. Peraturan hukum
tidak semata dirumuskan dalam bentuk perundang-undangan, namun berlaku dan mempunyai
kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh perundangan-undangan. Undang-undang
sebagai wujud peraturan hukum dan sumber hukum formal merupakan alat kebijakan pemerintah
negara dalam melindungi dan menjamin hak-hak masyarakat sebagai warga negara.

UU Rumah Sakit No. 44 tahun 2009 menyatakan pelayanan kesehatan yang aman merupakan hak
pasien dan menjadi kewajiban rumah sakit untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang aman
(Pasal 29 dan 32). UU Rumah Sakit secara tegas menyatakan bahwa rumah sakit wajib menerapkan
standar keselamatan pasien. Standar tersebut dilakukan dengan cara melaporkan insiden,
menganalisa dan menetapkan pemecahan masalah. Untuk pelaporan, rumah sakit menyampaikannya
kepada komite yang membidangi keselamatan pasien yang ditetapkan oleh menteri (Pasal 43). UU
Rumah Sakit juga memastikan bahwa tanggung jawab secara hukum atas segala kelalaian yang
dilakukan tenaga kesehatan berada pada rumah sakit bersangkutan (Pasal 46).

Organisasi untuk melindungi keselamatan pasien di rumah sakit lengkap karena UU Rumah Sakit
menyatakan pemilik rumah sakit dapat membentuk dewan pengawas. Dewan pengawas yang terdiri
dari unsur pemilik, organisasi profesi, asosiasi perumahsakitan, dan tokoh masyarakat tersebut

bersifat independen dan non struktural. Salah satu tugas dewan adalah mengawasi dan menjaga hak
dan kewajiban pasien. Pada level yang lebih tinggi, UU Rumah Sakit juga mengamanatkan
pembentukan badan pengawas rumah sakit Indonesia. Badan tersebut bertanggung jawab kepada
menteri kesehatan dan berfungsi untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap rumah sakit.
Komposisi badan tersebut terdiri dari unsur pemerintah, organisasi profesi, asosiasi perumahsakitan,
dan tokoh masyarakat (Pasal 57).

Ketentuan mengenai keselamatan pasien juga diatur dalam UU Kesehatan No. 36 tahun 2009.
Beberapa pasal yang berkaitan dengan keselamatan pasien dalam UU Kesehatan tersebut adalah :
1.
2.
3.

4.
5.

Pasal 5 ayat 2, menyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh
pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau.
Pasal 19, menyatakan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan segala bentuk
upaya kesehatan yang bermutu, aman, efisien, dan terjangkau.
Pasal 24 ayat 1, menyatakan bahwa tenaga kesehatan harus memenuhi ketentuan kode etik,
standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan standar prosedur
operasional.
Pasal 53 ayat 3, menyatakan pelaksanaan pelayanan kesehatan harus mendahulukan
keselamatan nyawa pasien.
Pasal 54 ayat 1, menyatakan bahwa penyelenggaraan pelayanan kesehatan dilaksanakan
secara bertanggung jawab, aman, bermutu, serta merata dan non diskriminatif.

Selain ituu, tanggung jawab hukum keselamatan pasien diatur dalam Pasal 58 UU Kesehatan No. 36
tahun 2009. Pasal tersebut berbunyi sebagai berikut :
1.

2.

Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau
penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam
pelayanan kesehatan yang diterimanya.
Tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat 1 tidak berlaku bagi tenaga kesehatan
yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam
keadaan darurat.

Tanggung jawab hukum rumah sakit terkait keselamatan pasien diatur dalam
Pasal 46 UU Rumah Sakit No. 44 tahun 2009, dimana dikatakan bahwa rumah sakit bertanggung jawab
secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas kelalaian yang dilakukan tenaga
kesehatan di rumah sakit. Selain itu, terdapat pula batas tanggung jawab rumah sakit yang tertuang
dalam UU Rumah Sakit Pasal 45 No. 44 tahun 2009. Pasal tersebut menyatakan bahwa :
1.

Rumah sakit tidak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien dan/atau keluarganya
menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien setelah adanya
penjelasan medis yang komprehensif.

2.

2.4

Rumah sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka menyelamatkan
nyawa manusia.

SAFETY AND NURSING PROCESS

Definisi dari keselamatan pasien adalah prinsip paling fundamental dalam pemberian pelayanan
kesehatan maupun keperawatan, dan sekaligus aspek yang paling kritis dari manajemen kualitas.
Dalam proses keperawatan terdapat lima tahapan :
1.

Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Dalam proses
pengkajian, seorang perawat bertugas untuk mengumpulkan informasi berkenaan dengan
kondisi pasien, baik melalui pasien pribadi atau melalui keluarga, rekam medis, tenaga
kesehatan, dan lainnya. Informasi yang dikumpulkan oleh seorang perawat haruslah berupa
fakta dan aktual.

Keselamatan awal seorang pasien ditentukan dari cara seorang perawat melakukan proses pengkajian.
Seorang perawat harus mampu mengunpulkan informasi mengenai kondisi pasien secara akurat,
tepat, dan aktual. Jika seorang perawat melakukan kesalahan pada tahap awal ini, maka akan terjadi
pula kesalahan pada tahap selanjutnya yang dapat mengancam keselamatan nyawa pasien. Oleh
karena itu, pada tahap ini perawat harus mampu mengidentifikasi secara benar dan meningkatkan
komunikasi secara efektif agar tidak terdapat informasi yang salah dimengerti oleh perawat atau
informasi yang tidak tepat dan tidak cukup.

1.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah menganalisis data subjektif dan objektif untuk membuat diagnosa
keperawatan. Diagnosa ini merupakan dasar untuk seorang perawat merumuskan tindakan
keperawatan. Analisis data yang telah didapat oleh perawat merupakan kunci keberhasilan dari proses
keperawatan. Seorang perawat harus mampu mendiagnosa kondisi tubuh pasien dan kebiasaan pasien
secara tepat dan teliti. Jika terdapat kesalahan pada saat perawat melakukan proses diagnosa atau
terdapat hal yang terlewatkan oleh perawat, maka rencana tindakan yang akan disusun menjadi tidak
tepat. Oleh karena itu, dalam melakukan proses diagnosa, seorang perawat harus mampu berpikir
secara kritis dan tepat sehingga tidak terjadi kesalahan yang dapat mengancam nyawa pasien.

1.

Intervensi
Rencana tindakan keperawatan merupakan serangkaian tindakan yang dapat mencapai tiap
tujuan khusus. Perencanaan keperawatan meliputi perumusan tujuan, tindakan, dan penilaian
rangkaian asuhan keperawatan pada klien berdasarkan analisis pengkajian. Perencanaan

merupakan dasar bagi seorang perawat dalam melaksanakan implentasi. Oleh karena itu, pada
tahap ini, perawat harus mampu menyusun rencana tindakan yang akan diberikan kepada
pasien secara sistematis dan tepat. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kekurangan yang dapat
mengancam keselamatan pasien saat proses implementasi dijalankan.

1.

Implementasi
Implementasi adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun
pada tahap perencanaan (Effendi, 1995). Jalannya proses implementasi harus mendukung
keselamatan pasien. Perawat saat melakukan proses implentasi harus menjamin bahwa
tindakan yang akan dilakukan adalah tindakan yang tepat. Perawat juga harus mampu menilai
kemampuan secara pribadi dalam melaksanakan proses impelentasi agar tidak terjadi
kesalahan saat memberikan tindakan pada pasien. Selain itu, keselamatan pasien juga
ditentukan dari peralatan medis dan lingkungan sekitar pasien. Hal tersebut perlu diperhatikan
agar pasien dapat terhindar dari infeksi lain akibat melakukan kontak dengan benda asing atau
lingkungan di luar tubuhnya.

1.

Evaluasi
Evaluasi mengacu kepada penilaian, tahapan, dan perbaikan. Pada tahap ini perawat
menemukan penyebab mengapa suatu proses keperawatan dapat berhasil atau gagal. Proses
evaluasi merupakan cermin bagi seorang perawat terhadap setiap tindakan yang telah
dilakukannya. Jika pada saat melakukan proses evaluasi perawat menemukan tindakan atau
kejadian yang salah, maka hal-hal tersebut dapat segera diperbaiki sehingga mencegah
terjadinya kondisi buruk pada pasien serta menjaga keselamatan pada pasien.

Oleh karena, proses keperawatan sangat berhubungan dengan patient safety atau keselamatan
pasien. Proses tersebut dikatakan berhubungan karena apabila seorang perawat melakukan kesalahan
saat menjalani salah satu proses keperawatan dalam menangani pasien, maka kesalahan tersebut
akan memungkinkan timbulnya kecelakaan kerja yang dapat mengancam keselamatan pasien.

2.5

APLIKASI PATIENT SAFETY

Pelayanan keperawatan yang baik adalah pelayanan keperawatan yang memperhatikan keselamatan
pasien. Setiap tindakan keperawatan yang dilakukan beserta dengan peralatan dan lingkungan sekitar
sudah seharusnya dikondisikan secara sempurna untuk menunjang keselamatan pasien. Oleh karena
itu, diperlukan pengkajian terhadap keselamatan pasien. Pengkajian tersebut meliputi pengkajian
dalam bidang sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Struktur
Lingkungan
Peralatan dan teknologi
Proses
Orang

6.

Budaya

Mengacu kepada enam bidang tersebut, maka aplikasi keselamatan pasien dapat dilakukan pada
tempat dan dengan standar aplikasi sebagai berikut.
1.
Kamar operasi
Kamar operasi adalah suatu unit khusus di dalam rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat untuk
melakukan tindakan pembedahan, baik elektif maupun akut. Secara umum, lingkungan kamar operasi
terdiri dari tiga area, yaitu :
1.
Area bebas terbatas (unrestricted area)
Pada area ini petugas dan pasien tidak perlu menggunakan pakaian khusus kamar operasi.
1.
Area semi ketat (semi restricted area)
Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi yang terdiri atas topi, masker,
baju dan celana operasi.
1.
Area ketat atau terbatas (restricted area).
Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi lengkap dan melaksanakan
prosedur aseptik. Selain itu, petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi lengkap yang
berupa topi, masker, baju dan celana operasi.

Pelaksanaan atau aplikasi patient safety dalam kamar operasi dapat berupa hal sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

5.
6.

Semua peralatan yang ada di dalam kamar operasi harus beroda dan mudah dibersihkan.
Untuk alat elektrik, petunjuk penggunaaanya harus menempel pada alat tersebut agar mudah
dibaca.
Sistem pelistrikan harus aman dan dilengkapi dengan elektroda untuk memusatkan arus listrik
mencegah bahaya gas anestesi.
Air yang tersedia dalam kamar operasi harus bersih, yaitu air yang tidak berwarna, tidak
berbau, tidak berasa, tidak mengandung kuman pathogen, tidak mengandung zat kimia, dan
tidak mengandung zat beracun.
Setiap petugas medis yang akan melakukan tindakan operasi wajib mengenakan pakaian
khusus operasi.
Petugas medis wajib melaksanakan prosedur aspetik, salah satu contohnya adalah mencuci
tangan.

1.
Unit Gawat Darurat
Unit Gawat Darurat (UGD) adalah suatu unit di dalam rumah sakit yang menyediakan penanganan
awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera yang dapat mengancam kelangsungan
hidupnya. Sifat pasien yang mendapatkan perawatan di UGD adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Perlu mendapatkan pertolongan segera, cepat, tepat, dan aman


Mempunyai masalah patologis, psikologis, lingkungan, dan keluarga
Perlu mendapatkan informasi secara cepat dan tepat
Unik

Selain itu, pasien yang mendapatkan perawatan di UGD, diklasifikasikan berdasarkan kondisi atau
keadaan jasmani pasien. Klasifikasi tersebut meliputi :
1.
Pasien TGDG false emergency (Label Hijau)
Merupakan pasien yang memerlukan tindakan medis tidak segera
1.
Pasien DTG (Label Kuning)
Merupakan korban tidak gawat tetapi memerlukan pertolongan medik untuk mencegah keadaan yang
lebih gawat atau mencegah cacat.
1.
Pasien GD (Label Merah)
Merupakan korban yang berada dalam keadaan nyawa terancam apabila tidak memperoleh
pertolongan dengan segera.
1.
Pasien GTD (Label Putih)
Merupakan pasien dalam keadaan parah yang tidak memiliki harapan atau harapan yang tipis jika
diberikan pertolongan.
1.

Pasien yang meninggal atau death on arrival (Label Hitam)

Aplikasi keselamatan pasien dalam unit gawat darurat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Fasilitas yang terdapat dalam UGD terlah tersedia dengan lengkap.


Peralatan medis yang terdapat pada UGD adalah alat yang steril.
Menggunakan alat injeksi sekali pakai.
Petugas medis harus menerapkan komunikasi antar petugas dengan baik saat melakukan
serah terima pasien sehingga tidak terjadi kesalahan saat melakukan tindakan kepada pasien.
Petugas medis harus mampu mengatasi pasien secara cepat dan tepat.
Petugas medis harus memiliki kognitif yang baik dalam menangani pasien.
Petugas medis wajib melaksanakan prosedur aseptik mencegah infeksi nosokomial.

1.
Intensif Care Unit (ICU)
Intensive Care Unit (ICU) atau Unit Perawatan Intensif (UPI) adalah tempat atau unit tersendiri di dalam
rumah sakit yang menangani pasien-pasien gawat karena penyakit, trauma atau komplikasi penyakit
lain. Intensive Care Unit (ICU) merupakan cabang ilmu kedokteran yang memfokuskan diri dalam
bidang life support atau organ support pada pasien-pasien sakit kritis yang membutuhkan monitoring
intensif.

Pasien yang perlu mendapatkan perawatan di ruang ICU adalah pasien yang dalam keadaan terancam
jiwanya sewaktu-waktu karena kegagalan atau disfungsi satu ataumultiple organ atau sistem dan
masih ada kemungkinan dapat disembuhkan kembali melalui perawatan, pemantauan dan pengobatan
intensif. Pasien yang memperoleh perawatan di ruang ICU berbeda dengan pasien yang memperoleh
perawatan di ruang rawat inap biasa. Pasien yang dirawat di ruang ICU mempunyai ketergantungan
yang sangat tinggi terhadap perawat dan dokter. Pasien yang berada di ruang ICU adalah pasien yang
berada dalam keadaan kritis atau kehilangan kesadaran atau mengalami kelumpuhan sehingga segala
sesuatu yang terjadi dalam diri pasien hanya dapat diketahui melalui monitoring yang baik dan teratur.

Pengelolaan pasien yang mendapatkan perawatan di ruang ICU adalah sebagai berikut.
1.

Pendekatan Pasien ICU


A.
Anamnesis
Merupakan tindakan pengobatan sebelum diagnosis definitif ditegakkan.
1.
Serah Terima Pasien
Bertujuan untuk mengetahui riwayat tindakan pengobatan sebelumnya dan sebagai bentuk aspek
legal.
1.
Pemeriksaan Fisik
Meliputi pemeriksaan fisik secara umum, penilaian neurologis, sistem pernafasan, kardiovaskuler,
gastro intestinal, ginjal dan cairan, anggota gerak, haematologi dan posisi pasien.
1.
Kajian hasil pemeriksaan
Meliputi biokimia, hematologi, gas darah, monitoring TTV, foto thorax, CT scan, efek pengobatan.
1.
Identifikasi masalah dan strategi penanggulangannya
2.
Informasi kepada keluarga
3.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang diberikan kepada pasien meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.

ABC
Jalan nafas dan kepala
Sistem pernafasan
Sistem sirkulasi
Sistem gastrointestinal

6.
Anggota gerak
7.
Monitoring rutin
8.
Intubasi dan Pengelolaan Trakhea
9.
Cairan
Diberikan pada pasien dengan kondisi dehidrasi.
1.
Perdarahan Gastrointestinal
Stress ulcer dapat merupakan kompensasi dari penyakit akut.
1.

Nutrisi

Berdasarkan penjelasan diatas, maka aplikasi keselamatan pasien dalam ICU dapat dilakukan dengan
cara sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Fasilitas dalam ruang ICU tersedia lengkap sehingga monitoring terhadap kondisi pasien dapat
berjalan dengan baik.
Tenanga medis harus berhati-hati saat hendak melakukan pemasangan kateter dan slang
atau tube sehingga tida terjadi kesalahan.
Menggunakan alat injeksi sekali pakai.
Peralatan medis yang tersedia harus dalam kondisi steril.
Petugas medis wajib melakukan prosedur aseptik.
Tenaga kesehatan harus menerapkan komunikasi yang baik antar petugas sehingga tidak
terjadi kesalahan saat serah terima pasien dilakukan.
Tenaga kesehatan harus mampu melaksanakan prosedur pengelolaan pasien secara tepat dan
aman.

BAB III
KESIMPULAN
3.1

KESIMPULAN

Keselamatan pasien adalah proses dalam suatu rumah sakit yang memberikan pelayanan pasien
secara aman. Proses tersebut meliputi pengkajian mengenai resiko, identifikasi, manajemen resiko
terhadap pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti
insiden, dan menerapkan solusi untuk mengurangi serta meminimalisir timbulnya risiko. Pelayanan
kesehatan yang diberikan tenaga medis kepada pasien mengacu kepada tujuh standar pelayanan
pasien rumah sakit yang meliputi hak pasien, mendididik pasien dan keluarga, keselamatan pasien
dan kesinambungan pelayanan, penggunaan metode- metode peningkatan kinerja untuk melakukan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien, peran kepemimpinan dalam meningkatkan
keselamatan pasien, mendidik staf tentang keselamatan pasien, dan komunikasi merupakan kunci bagi
staf untuk mencapai keselamatan pasien. Selain mengacu pada tujuh standar pelayanan tersebut,
keselamatan pasien juga dilindungi oleh undang-undang kesehatan sebagaimana yang diatur dalam
UU Kesehatan No. 36 tahun 2009 serta UU Rumah Sakit No. 44 tahun 2009.
Tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien sudah seharusnya menunjang keselamatan pada
pasien karena proses keperawatan tersebut sangat berhubungan denganpatient safety atau
keselamatan pasien. Proses keperawatan tersebut meliputi proses pengkajian, diagnosa, perencanaan,
implementasi, dan evaluasi. Jika terjadi kesalahan saat menjalani salah satu proses keperawatan,
maka kesalahan tersebut akan memungkinkan timbulnya kecelakaan kerja yang dapat mengancam
keselamatan pasien. Aplikasi keselamatan pasien dapat diterapkan pada beberapa tempat yang
terdapat di rumah sakit, seperti kamar operasi, ICU, dan UGD. Aplikasi keselamatan pasien tersebut
diterapkan dengan memperhatikan sisi struktur, lingkungan, peralatan dan teknologi, proses, orang,
dan budaya.

https://kuatkitabersama.wordpress.com/2012/05/11/konsep-pasien-safety/

Anda mungkin juga menyukai