Anda di halaman 1dari 17

BAB 1

PENDAHULUAN

Tranfusi darah mempunyai peran yang penting dalam menyelamatkan kehidupan, terlebih
dalam kasus-kasus yang gawat darurat, perawatan neonatus prematur yang intensif modern,
anak dengan kanker, dan penerima cangkok organ yang tidak mungkin tanpa transfusi.
Tranfusi darah merupakan tindakan pengobatan pada pasien (anak, bayi dan dewasa) yang
diberikan atas indikasi. Kesesuaian golongan darah antara resipien dan donor merupakan
salah satu hal mutlak. 1,2
Tranfusi darah adalah salah satu rangkaian proses pemindahan darah donor ke dalam
sirkulasi darah resipien sebagai upaya pengobatan. Tranfusi darah mulai di uji coba sejak abad
ke 15 dan hingga pertengahan abad ke 17, namun berakhir dengan kegagalan, karena pada
waktu itu dipakai sebagai sumber donornya adalah darah hewan. Melalui berbagai percobaan
dan pengamatan kemudian disimpulkan bahwa manusia yang semestinya menjadi sumber
darah. Namun demikian pada masa ini, karena masih banyaknya kegagalan yang berakibat
kematian, tranfusi darah sempat dilarang dilakukan. Pada masa ini, tranfusi darah telah
dikerjakan langsung dari arteri ke dalam vena resipien.1,3
Pemikiran dasar pada tranfusi darah adalah cairan intravaskuler dapat diganti atau
disegarkan dalam cairan pengganti yang sesuai dari luar tubuh. Pada tahun 1901, Landsteiner
menemukan golongan darah sistem ABO dan kemudian sistem antigen Rh (rhesus) ditemukan
oleh Levine dan Stetson di tahun 1939. Kedua sistem ini menjadi dasar penting bagi tranfusi
darah modern. Meskipun banyak sistem penggolongan lain tetapi tetap sistem ABO dan Rh
yang selalu digunakan secara klinis. Namun tranfusi bukanlah tanpa resiko, meskipun telah
dilakukan berbagai upaya untuk memperlancar tindakan tranfusi, namun efek samping reaksi
tranfusi atau infeksi akibat tranfusi tetap mungkin terjadi. Maka bila diingat dan dipahami
mengenai keamanannya, indikasinya perlu diperketat.1,4 Pemberian komponen-komponen
darah yang diperlukan saja lebih dibenarkan dibandingkan dengan pemberian darah lengkap
(whole blood). 2,5
Banyak hal yang harus diperhatikan dan dipersiapkan sehingga tranfusi dapat
dilaksanakan secara optimal. Oleh karena itu, salah satu tugas besar dimasa yang akan datang

adalah

meningkatkan

pemahaman

akan

penggunaan

tranfusi

darah

sehingga

penatalaksanaannya sesuai dengan indikasi dan keamanannya dapat ditingkatkan. 1,6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Darah
2.1.1 Darah sebagai Organ
Darah yang semula dikategorikan sebagai jaringan tubuh, saat ini telah
dimasukkan sebagai suatu organ tubuh terbesar yang beredar dalam system
kardiovaskular, tersusun dari (1) komponen korpuskuler atau seluler, (2) komponen
cairan. Komponen korpuskuler yaitu materi biologis yang hidup dan bersifat
multiantigenik, terdiri dari sel darah merah, sel darah putih, dan keping trombosit, yang
kesemuanya dihasilkan dari sel induk yang senantiasa hidup dalam sumsum tulang.
Ketiga jenis sel darah ini memiliki masa hidup terbatas dan akan mati jika masa hidupnya
berakhir. Agar fungsi organ darah tidak ikut mati, maka secara berkala pada waktu-waktu
tertentu, ketiga butiran darah tersebut akan diganti, diperbaharui dengan sel sejenis yang
baru. Komponen cair yang juga disebut plasma menempati lebih dari 50% volume organ
darah, dengan bagian terbesar dari plasma (90%) adalah air, bagian kecilnya terdiri dari
protein plasma dan elektrolit. Protein plasma yang penting diantaranya adalah albumin,
berbagai fraksi globulin serta protein untuk faktor pembekuan dan untuk fibrinolisis.1,7
2.1.2 Fungsi Darah
Darah mempunyai beberapa fungsi, antara lain:
a. Sebagai organ transportasi, khususnya oksigen (O2), yang dibawa dari paruparu dan diedarkan ke seluruh tubuh dan kemudian mengangkut sisa
pembakaran (CO2) dari jaringan untuk dibuang keluar melalui paru-paru.
Fungsi pertukaran O2 dan CO2 ini dilakukan oleh hemoglobin yang
terkandung dalam sel darah merah. Protein plasma ikut berfungsi sebagai
sarana transportasi dengan mengikat berbagai materi yang bebas dalam
plasma untuk metabolisme organ-organ tubuh.
b. Sebagai organ pertahanan tubuh (imunologik), khususnya dalam menahan
invasi berbagai jenis mikroba pathogen dan antigen asing. Transfusi darah
adalah salah satu rangkaian proses ppemindahan darah donor ke dalam
sirkulasi darah resipien sebagai upaya pengobatan. Mekanisme pertahanan ini

dilakukan oleh leukosit (granulosit dan limfosit) serta protein plasma khusus
(immunoglobulin).
c. Peranan darah dalam menghentikan perdarahan (mekanisme homeostatis)
sebagai upaya untuk mempertahankan volume darah apabila terjadi kerusakan
pada pembuluh darah. Fungsi ini dilakukan oleh mekanisme fibrinolisis,
khususnya juka terjadi aktifitas homeostasis yang berlebihan.2,8
Apabila terjadi pengurangan darah yang cukup bermakna dari komponen darah
korpuskuler maupun non korpuskuler akibat kelainan bawaan ataupun karena penyakit
yang didapat, yang tidak dapat diatasi oleh mekanisme homeostasis tubuh dalam waktu
singkat maka diperlukan penggantian dengan jalan transfusi darah, khususnya dari
komponen yang diperlukan.2,4
2.2 Transfusi darah
2.2.1 Definisi Transfusi Darah
Transfusi darah adalah suatu rangkaian proses pemindahan darah donor ke dalam
sirkulasi dari resipien sebagai upaya pengobatan. Bahkan sebagai upaya untuk
menyelamatkan kehidupan. Berdasarkan asal darah yang diberikan, transfuse darah dapat
dikelompokan menjadi 2, yaitu:
1. Homologous atau allogenic transfusion yaitu transfusi yang menggunakan darah dari
orang lain.
2. Autologous transfusion yaitu transfusi dengan menggunakan darah resipien itu sendiri
yang diambil sebelum transfusi dilakukan.1
2.2.2 Tujuan Transfusi Darah
Tujuan transfusi darah antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.
2.2.3

Mengembalikan dan mempertahankan volume yang normal peredaran darah.


Menggantikan kekurangan komponen seluler atau kimia darah
Meningkatkan oksigenasi jaringan
Memperbaiki fungsi homeostasis
Tindakan terapi khusus
Indikasi transfusi darah

Transfusi darah umumnya >50% diberikan pada saat perioperatif dengan tujuan
untuk menaikkan kapasitas pengangkutan oksigen dan volume intravascular. Kalau hanya
menaikkan volume intravascular saja cukup dengan koloid atau kristaloid.
Indikasi transfusi darah ialah:
a. Perdarahan akut sampai Hb <8 g/dL atau Ht <30%. Pada orang tua, kelainan
paru, kellainan jantung Hb <10 g/dL.
b. Bedah mayor kehilangan darah >20% volume darah.
Di bawah ini merupakan klasifikasi untuk indikasi pemberian cairanpada
perdarahan akut menurut American College of Surgeon.
Tabel 1. Klasifikasi Perdarahan Akut dari American College of surgeon
Faktor
Kehilangan

Kelas I
750

Kelas II
750 = 1500

Kelas III
1500-2000

Kelas IV
2000 atau lebih

darah (mL)
Kehiilangan

15

15 30

30 40

40 atau lebih

100

120

140 atau lebih

Menurun

darah

volum darah)
Denyut nadi 100
(denyut/meni
t)
Tekanan

Menurun

darah
CRT
RR
Output Urin
Penggantian

N
14 20
30
Kristaloid

+
20 30
20 30
Kristaloid

+
30 40
5 10
Kristaloid

cairan

Darah

+
35
Negligible
+ Kristaloid

Darah

Selain ketentuan diatas terdapat guideline lain yang direkomendasikan dari


American Society of Anesthesiologists, yaitu :
1. Transfusi jarang diindikasikan saat konsentrasi Hb > 10 g/dL dan hampir selalu
diindikasikan saat nilai Hb 6g/dL, terutama pada kondisi anemia yang akut.
2. Pada pasien dengan kadar Hb 6g/dL, Transfusi darah bergantung pada risiko komplikasi
akibat oksigenisasi yang tidak adekuat.
3. Pemberian transfusi darah perlu mempertimbangkan fisiologi tubuh dan oksigenisasi
jaringan.
5

4.

Jika tersedia, pemberian transfusi darah autolog prabedah, intrabedah dan pascabedah
pada hemodilusi normovolemik akut dan kehilangan darah yang mengakibatkan hipotensi

5.

dapat memberikan manfaat pada pasien.


Indikasi transfusi sel darah merah autolog lebih banyak dibandingkan dengan sel darah
erah alogenik karena risiko lebih rendah.
Pada tahun 1998, Habibie dkk. merekomendasikan indikasi transfusi darah mengikuti

rule of thumb, bahwa administrasi dari 1 unit PRC akan meningkatkan nilai hematokrit sebesar
35%:
1. Kehilangan darah lebih dari 20% volume darah (>100mL)
2. Kadar Hb < 8g/dL
3. Kadar Hb <10g/dL dengan penyakit mayor (misalnya : emfisema, penyakit jantung iskemik).
4. Kadar Hb < 10g/dL setelah transfusi dengan darah autolog.
5. Kadar Hb < 12g/dL dan pasien yang bergantung dengan ventilator.
2.2.4

Dasar-dasar transfusi darah

Antigen eritrosit dan antibodi golongan darah


Sejak ditemukan sistem ABO oleh Landsteiner pada tahun 1900, sampai saat ini
terdapat 25 sistem golongan darah dan lebih dari 250 antigen golongan darah yang telah
diidentifikasi menurut International Society of Blood Transfusion. Sistem golongan darah
terdiri atas satu atau lebih antigen yang ditentukan baik oleh gen tunggal atau dari dua
atau lebih gen homolog yang berkaitan erat. Simbol untuk kedua puluh lima system
golongan darah tersebut adalah ABO,MNS, P, RH, LU(Lutheran), KEL (Kell), LE
(Lewis), FY(Duffy), JK (Kidd), DI, YT, XG, SC, DO, CO, LW, CH/RG, H, XK, GE,
CROM, KN, IN, OK, dan RAPH
Makna klinis golongan darah dalam suatu transfusi darah adalah bahwa individu
yang tidak mempunyai antigen golongan darah tertentu akan menghasilkan antibodi yang
bereaksi dengan antigen tersebut yang kemungkinan akan menyebabkan reaksi transfusi.
Di bawah ini akan di bahas mengnai golongan darah yang penting digunakan secara
klinis yaitu ABO dan Rhesus.
Berikut ini akan dijelaskan mengenai 2 sistem penggolongan darah yang
bermakna secara klinis :
-

Sistem ABO
6

Sistem ini terdiri dari 3 gen alel: A, B, dan O. Gen A dan B mengandalkan sistesis
enzim spesifik yang bertanggung jawab untuk penambahan residu karbohdirat
tunggal pada glikoprotein dan glikolipid antigenic dasar dengan gula terminal LFruktosa pada eritrosit, yang dikenal sebagai substansi H. Gen O adalah gen amorf
dan tidak mentransformasi substansi H. Antibodi alamiah terhadap antigen A dan/atau
B ditemukan dalam plasma individu yang eritrositya tidak mempunyai antigen
tersebut.
Tabel 2. Penggolongan Darah Berdasarkan Sistem ABO

Fenotipe

Genotipe

Antigen

Antibodi Alamiah

OO

Anti-A
Anti-B

AA/AO

Anti-B

Anti-A

AB

AB

AB

Tidak Ada

Sistem Rh
Lokus golongan darah Rh tersusun atas dua gen struktural yang saling terkait (RhD
dan RhCE) yang mengkode protein membrane yang membawa antigen D, Cc, dan Ee.
Antibodi Rh jarang timbul secara alamiah, dihasilkan dari transfusi atau kehamilan
sebelumnya. Anti-D bertanggung jawab untuk sebagian besar gangguan klinis yang
terkait dengan sistme Rh. Karena itu penggolongan subyek dalam system Rh dibagi
menjadi Rh D positif dan Rh D negatif.

2.2.5 Mekanisme Transfusi Darah


Darah Alogenik(homolog)
Transfusi darah diberikan untuk meningkatkan kepasitas transportasi O2 dan
volume intravaskular. Sebenernya meningkatkan volume intrvaskular bukan
merupakan indikasi transfusi darah. kondisi seperti ini dapat diatasi dengan
pemberian cairan intravena, kristaloid maupun koloid. Akan tetapi pada kasus
perdarahan, darah mungkin merupakan pilihan utama untuk meningkatkan kapasitas
transport O2 sekaligus mengembalikan volume intravaskular.
7

Darah Autologus
Penggunaan darah autolog diasumsikan lebih aman dibandingkan dengan darah
alogenik, juga lebih efektif pada pasien dengan kadar Hb <10g/dL. Hal ini berkaitan
dengan rendahnya risiko infeksi akibat transfusi. Akan tetapi transfusi darah autolog
tidak lepas dari beberapa komplikasi yang dapat terjadi, antara lain: anemia, iskemia
miokardial prabedah, kesalaham jumlah pemberian darah, demam dan reaksi alergi.
2.2.6

Prosedur Transfusi Darah


1. Tentukan indikasi
2. lengkapi formulir mengenai identitas diri donor beserta Informed Consent
3. Lakukan uji crossmatch pada sample darah donor.

Uji Kompabilitas
Skrining golongan darah ABO-Rh, crossmatch dan antibody kerap kali digunakan
untuk uji kompatibilitas. Uji ini dilakukan untuk melihat secara in vtiro terdapat
reaksi antigen-antibodi yang membahayakan, sehingga reaksi antigen-antibodi ini
dapat dicegah secara in vivo. Darah donor yang digunakan untuk transfusi emergensi
sebelumnya harus dilakukan skrining antibody hemolitik Anti-A atau Anti-B atau
keduanya. Semua darah donor harus diuji golongan darah dan tipe Rh serta dilakukan
skrining untuk antibody tertentu. Resipien juga harus mejalani pemeriksaan golongan
darah dan Rh. Pemeriksaan inilah yang dikenal sebagai uji crossmatch.
Pemeriksaan golongan darah tipe Rh penting sekali dilakukan untuk mencegah
terjadinya reaksi serius akibat transfusi darah ABO yang inkompatibel dengan darah
resipien. Reaksi ini terjadi akibat kandungan antibody dalam darah(missal : AntiA/Anti-B) yang mengaktivasi komplemen dan menyebabkan hemolisis intravaskular.
Antibodi Anti-A atau Anti-B, atau keduanya, dapat timbul jika seseorang individu
memiliki kadar antigen A maupun Antigen B yang rendah

Uji Crossmatch
Uji crossmatch dilakuakn sebelum transfusi dengan menggukana tabung tertentu,
dimana sel darah emrah donor dicampurkan dengan serum darah resipien untuk
mendeteksi adanya reaksi transfusi potensial yang mungkin terjadi. Hasil uji
8

crossmatch dapat dilihat setelah 45-60 menit dan dibagi menjadi 3 fase: Fase segera,
fase inkubasi dan fase antiglobulin.
a. Fase pertama
Dilakukan pada suhu ruangan dengan tujuan untuk mendeteksi inkompatibilitas
ABO. berlangsung sekitar 1-5 menit.
b. Fase kedua
Yaitu termasuk inkubasi reaksi fase pertama pada suhu 37oC pada albumin atau
larutan low-ionic strength salt. Penggunaan larutan tersebut bertujuan untuk
mendeteksi incomplete antibody atau antibody yang menempel pada antigen spesifik
tetapi tidak mampu menyebabkan aglitunasi pada suspensi sel darah merah. FAse ini
turut mendeteksi antibody Rh. Inkubasi berlangsung selama 30-45 menit untuk
larutan albumin sedangkan untuk larutan low-ionic strength salt selama 10-20 menit.
c. Fase ketiga/fase crossmatch/fase antiglobulin
Yaitu fase crossmatch, uji antiglobulin indirek, dengan memberikan antiglobulin
sera pada tabung uji yang telah diinkubasi. dengan penambahan antiglobulin ini,
antibody anti-manusia yang terdapat pada sera menjadi menempel pada antibody
globulin pada sel darah merah, menyebabkan aglutinasi. Fase antiglobulin ini
mendeteksi incomplete antibody pada seluruh system klasifikasi darah,ermauk sistem
Rh, Kell, Kidd, dan Duffy.
4. Jika sesuai, pendonor dapat mendonorkan darah.
2.2.7

Penyimpanan Dan Produk Darah


Sebelum dilakukan transfusi, dilakukan pemeriksaan golongan darah ABO-Rh,

antibodi eritrosit dan pemeriksaan serolohi untuk menyangkal sifilis, antigen permukaan
hepatitis B(HBsAg), virus hepatitis C(HCV), serta HIV 1 dan 2. Darah disimpan pada
suhu 4-6oC selama 35 hari, bergantung pada pengawetnya. Setelah 48 jam pertama,
terjadi kehilangan K+ dari eritrosit ke dalam plasma. Darah kemudia diproses dan
dipisahkan menjadi komponen-komponennya sebelum digunakan. Komponen tersebut
antara lain :
1.Whole blood
Produk darah ini berisi sel darah merah, leukosit, trombosit, dan plasma, setiap
kantong berisi 250 mL darah dan 37mL antikoagulan. Lama penyimpanan bervariasi, jika

menggunakan sitrat fosfat dekstrosa(CPD) adalah 21 hari lalu jika menggunakan CPD
Adenin(CPDA) 35 hari.
Whole blood digunakan unruk meningkatkan jumlah sel darah merah dan volume
plasma dalam waktu yang bersamaan. transfusi dengan larutan ini di kontraindikasikan
untuk pasien penderita aemia kronik normovolemik. Transfusi 1 unit darah lengkap akan
meningkatkan Hb sekitar 1 g/dL atau hematokrit 3-4%. Pada anak-anak, darah lengkap 8
mL/Kg akan meningkatkan Hb sekitar 1 g/dL.
2. Packed red blood cell
Cairan ini berisi eritrosit, trombosit, leukosit dan sedikit plasma, dengan nilai
hematokrit 60-70%. Volume cairan ini sekitar 150-300 mL dengan massa sel darah merah
100-200 mL. Lama penyimpanan sama dengan penyimpanan Whole blood. Ttransfusi ini
bertujuan untuk meningkatkan jumlah sel darah merah pada pasien anemia, sayangnya
pemberian PRBC dapat menyebabkan hipervolemia jika diberikan dalam jumlah banyak
pada waktu yang singkat.

3. Packed red blood cell leukocytes reduced


Kandungan leukosit pada produk darah ini kurang dari 5 x 10 6 leukosit/unit.
Pemberian PRBC leucocytes reduced bertujuan untuk pasien anemia.
4. Packed red blood cell washed
Sel darah merah yang dicuci dengan NS dan memiliki 70-80% dengan volume
180mL. Pencucian dengan larutan NS dapat membuang hampir seluruh plasma,
menurunkan konsentrasi leukosit, trombosit dan debris. Komponen ini hanya bisa
disimpan dalam waktu 24 jam. Untuk pasien dewasa produk darah ini digunakan untuk
pasien alergi yang berat, dapat pula digunakan pada transfusi neonatal atau transfusi
intrauterine.
5. Packed red blood cell frozen, packed red blood cell deglycerolized.
Sel darah merah beku dibuat dengan penambahan gliserol, suatu sedian
krioprotektif terhadap darah yang usianya kurang dari 6 hari. Darah akan dibekukan pada
suhu -65oC sampai -200oC dan dapat disimpan selama 10 tahun. Tekhnik ini digunakan

10

untuk menyimpan darah langka, tetapi tidak menutup kemingkinan adanya kontaminasi
bakteri.
6. Konsentrat trombosit
Produk ini berisi trombosit dan sedikit leukosit, eritrosit serta plasma. Satu
kantung darah trombosit memiliki volume 50 mL dan berasal dari seorang donor.
Transfusi

ini dilakukan pada kasus pendarahan karena trombositopenia atau

trombositopati, pada operasi dengan kadar trombosit <50.000/uL. profilaksis diberikan


pada semua kasus dengan jumlah trombosit 50.00-100.00/uL yang berhubungan dengan
hipoplasia sumsum tulang akibat kemoterapi, invasi tumor atau aplasia primer sumsum
tulang.
Transfusi ini pada umumnya kurang efektif untuk kasus destruksi trombosit yang
cepat seperti ITP, pada saat pemberian produk darah ini mungkin terjadi reaksi menggigil,
panas atau alergi, pada kondisi ini antipiretik yang di berikan hendaknya bukan dari
golongan aspirin karena akan menghambat agregasi dan fungsi trombosit.
7. Fresh-frozen plasma
Komponen ini digunkana untuk mengganti kekurang faktor koagulasi. produk ini
digunakan untuk pasien dengan gangguan proses pembekuan bila tidak tersedia
kriopresipitat, misalnya pada defisiensi faktor pembekuan multipel.

8. Kriopresipitat faktor anti hemofilik.


Produk darah ini ditujukan untuk pasien pasien yang mengalami defisiensi faktor
pembekuan seperti hemophilia dan penyakit von Willebrand.
9. Granulocytes pheresis
Produk ini diperoleh dengan cara sitoferesis dari donor tunggal, berisi granulosit,
limfosit, trombosit, beberapa sel darah merh dan sedikit plasma. komponen ini digunakan
untuk meningkatkan jumlah granulosit pada pasien sepsis dengan leucopenia yang tidak
menunjukan perbaikan dengan antibiotic dan pada pemeriksaan sumsum tulang
menunjukan hipoplasi.
10. Albumin

11

Terdiri dari 96% akbumin dan 4% globulin serta beberapa protein lain. Pemberian
albumin digunakan untuk meningkatkan volume sirkulasi. Namun, sekarang dengan
tersedianya banyak cairan sintetik pengganti volume tubuh sudah sangat selektif. selain
harganya mahal, albumin berpotensi menyebabkan banyak kerugian.
11. Imunoglobulin
Komponen ini berisi IgG dengan sedikit IgM dan IgA. Pemberian digunakan
secara IM dan IV. digunakan untuk profulaksis antibodi secara pasif pada orang yang
rentan terhadap penyakit tertentu dan sebagai terpi pengganti pada orang dengan
imunodefisiensi primer.
Dibawah ini tabel yang mengklasifikasikan produk darah menurut komponennya
Tabel 3. Produk darah
Komponen darah
Selular

Non selular
Derivat plasma

Jenis Produk
Whole blood
Packed red cell
Konsentrat trombosit
Granulocytes pheresis
Kriopresipitat
Albumin
Factor VIII concentrats
Factor IX concentrats
Imunoglobulin

2.2.8 Transfusi emergensi


Pada situasi tertentu, kadang dibutuhkan transfusi darah segera sebelum uji
kompatibilitas terlaksana, untuk situasi dimana terdapt keterbatasan waktu, perlu
dilakukan beberapa uji yang dapat segera dilakukan:
1. Type-spesific, Partially crossmatched blood
Merupakan fase segera dari uji crossmatched yaitu dengan cara menambahkan
serum pasien ke sel darah merah donor pada temperature kamar, lalu lihat apakah ada
aglutinasi makroskopik. Waktu yang diperlukan adalah 1 5 menit.
2. Type-spesific, uncrossmatched blood
Pemeriksaan golongan darah ABO-Rh tanpa uji crossmatch. penggunaan
pemeriksaan ini aman pada pasien yang belum pernah di transfusi, meskipun tidak
menutup kemungkinan terjadi suatu reaksi transfusi yang serius(1 : 1000). Sebaliknya
12

pada orang yang mempunyai riwayat terpajan dengan antigen sel darah merah asing,
transfusi tanpa pemeriksaan crossmatched dapat berakibat buruk
2.2.9 Komplikasi transfusi darah
1. Demam
Peningkatan suhu saat transfusi darah dapat disebabkan oleh interaksi antibody
leukosit atau trombosit terhadap antigen sel darah donor serta senyawa pirogen. Untuk
mencegah terjadinya komplikasi ini terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan, antara
lain:

Sebelum dilakukan transfusi penting sekali dilakukan uji crossmatch untuk melihat reaksi

anatar antigen dengan antibody.


Memberikan produk darah dengan jumlah leukosit minimal.
Memasang mikrofiltrasi yang memiliki pori-pori berukuran 40 mm.

2. Reaksi alergi
Syok anafilaktik dapat terjadi pada 1 dari 20.000 kasus transfusi. reaksi alergi
ringan seperti urtikaria timbul pada 3% kasus transfusi. Reaksi anafilaktik yang berat
umumnya disebabkan oleh interaksi antara IgA pada donor dengan anti IgA spesifik pada
plasma resipien.
3. Reaksi hemolitik
Reaksi yang terjadi biasanya adalah penghancuran sel darah merah donor oleh
antibodi resipien dan biasanya terjadi karena ketidakcocokan golongan darah ABO yang
dapat disebabkan oleh kesalahan mengidentifikasikan pasien, jenis darah atau unit
transfusi. Pada orang sadar, gejala yang dialami berupa menggigil, demam, nyeri dada
dan mual. Pada orang dalam keadaan tidak sadar atau terbius, gejala berupa peningkatan
suhu tubuh, jantung berdebar-debar, tekanan darah rendah dan hemoglobinuria. Berat

13

ringannya gejala tersebut tergantung dari seberapa banyak darah yang tidak cocok
ditransfusikan.
4. Reaksi non hemolitik
Reaksi ini terjadi karena sensitisasi resipien terhadap sel darah putih, trombosit
atau protein plasma dari donor. Gejalanya antara lain demam, urtikaria yang ditandai
dengan kemerahan, bintik-bintik merah dan gatal tanpa demam, reaksi anafilaksis, edema
paru, hiperkalemia dan asidosis.
5. Infeksi
Resiko penularan penyakit infeksi melalui transfusi darah bergantung pada
berbagai hal antara lain; angka kejadian penyakit di masyarakat, keefektifan skrining
yang dilakukan, kekebalan tubuh resipien dan jumlah donor tiap unit darah. Beberapa
infeksi yang biasa terjadi adalah virus hepatitis, HIV, Citomegalovirus, bakteri
stafilokokus, yesteria dan parasit malaria.
6. Transfusion-related acute lung injury(TRALI)
TRALI merupakan diagnosis klinis berupa hipoksemia akut dan edema pulmonal
bilateral yang terjadi dalam waktu 6 jam setelah trasfusi dilakukan. Manifestasi klinis
yang ditemui adalah dispnea, takipnea, demam, takikardia, hipotensi atau hipertensi dan
leucopenia akut sementara. Beberapa mekanisme diperkarikan menjadi penyebab
terjadinya kondisi ini. Salah satunya adalah reaksi antara neutrofil resipien dengan
antibody donor yang mempunyai HLA atau antigen neutrofil spesifik. Akibatnya terjadi
peningkatan permeabilitas kapiler pada mikrosirkulasi paru.4
Tabel 4. Klasifikasi komplikasi menurut onset
Dini
Reaksi hemolitik
-segera atau lambat

Lanjut
Transmisi penyakit
-Virus(hepatitis A,B,C , HIV,
CMV,)
-Bakteri( Treponema pallidum,
brucella, salmonella)
-Parasit( Malaria, toxoplasma,

Reaksi yang terjadi akibat darah

microfilaria)
Kelebihan timbunan Fe+ atau besi

yang terinfeksi
Reaksi alergi terhadap

akibat transfusi
Sensitisasi imun, misalnya
14

leukosit,trombosit atau protein

terhadap eritrosit,trombosit, atau

Reaksi pirogenik

antigen RhD
Penyakit cangkok melawan
pejamu yang terkait dengan
transfusi

Kelebihan beban sirkulasi


Emboli udara
Tromboflebitis
Toksisitas sitrat
Hiperkalemia
Kelainan pembekuan
Cedera paru akut yang terkait
transfusi
Penanggulangan komplikasi transfusi :
1. Stop transfusi
2. Naikan tekanan darah dengan cairan infus, jika perlu tambahkan obat-obatan.
3. Berikan oksigen 100%
4. Pemberian obat-obatan diuretik manitol atau furosemid
5. Obat-obatan antihistamin
6. Obat-obatan steroid dosis tinggi
7. Periksa analisa gas dan pH darah.

15

BAB III
KESIMPULAN
Transfusi darah merupakan bentuk terapi yang dapat menyelamatkan jiwa. Berbagai
bentuk upaya telah dan hampir dapat dipastikan akan dilaksanakan, agar transfusi menjadi
makin aman, dengan resiko yang makin kecil. Meskipun demikian, transfusi darah belum
dapat menghilangkan secara mutlak resiko dan efek sampingnya. 3 Untuk itulah indikasi
transfusi haruslah ditegakkan dengan sangat hati- hati, karena setiap transfusi yang tanpa
indikasi adalah suatu kontraindikasi.
Penggantian darah dapat optimal apabila pemilihan darah yang digantikan tepat dan
sesuai kondisi pasien saat itu, dengan mempertimbangkan komplikasi yang dapat terjadi
dalam reaksi transfusi darah, penggantian darah ataupun komponen-komponen darah
merupakan suatu tindakan yang sangat berarti bagi pasien sesuai dengan tujuan utama
transfusi yaitu memelihara dan mempertahankan kesehatan donor, memelihara keadaan
biologis darah atau komponen agar lebih bermanfaat, memelihara dan mempertahankan
volume darah yang normal pada peredaran darah (stabilitas peredaran darah), mengganti
kekurangan komponen seluler atau kimia darah, meningkatkan oksigenasi jaringan,
memperbaiki fungsi hemostasis.

16

DAFTAR PUSTAKA
1. Latief SA, Suryadi KA, Cachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi. 2nd ed. Jakarta :
Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI, 2002.
2. Ramelan S, Gatot D. Transfusi Darah Pada Bayi dan Anak dalam Pendidikan Kedokteran
berkelanjutan (Continuing Medical Education) Pediatrics Updates. Jakarta: IDAI cabang
3.

Jakartav2005.p.21-30.
Hoffbrand, A.V. Kapita selekta Hematologi. In: Iyan Darmawan, editor. 2nd ed. Jakarta:

EGC 1996.
4. Gary, R Strange, William R, Steven L. Pediatric Emergency Medicine, 2nd ed. Boston: Mc
Graw Hill 2005.p.527-529.
5. Soenarto RF, Chandra S. Buku Ajar Anestesiologi. Jakarta: Departemen Anestesiologi
dan Intensive care Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2012. p.259-73.
6. E. Shannon cooper. Clinic in Laboratory Medicine. Philadelphia: WB Saunders Company
1992; 12(4):655-665.
7. C Waittt, P Waitt, M Pirmohamed. Intravenous Therapy. Postgard. Med. J. 2004;80:1-6
8. Sudoyo AW, Setiohadi B. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II.4th ed. Jakarta :
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI 2006.

17