Anda di halaman 1dari 89

BATUAN SEDIMEN

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk pada permukan bumi,


pada temperatur rendah, oleh proses fisis, kimia dan biologi.
Pada umumnya batuan sedimen diklasifikasikan berdasar ukuran fragmen,
bentuk fragmen dan komposisi partikel atau fragmen pembentukannya.
Dengan dasar tersebut, batuan sedimen di kelompokkan menjadi dua
kelompok besar yaitu:
1. Batuan sedimen silisiklastik, yaitu batuan yang terbentuk dari fragmenfragmen batuan yang lain atau batuan asli. Batuan asal dapat berupa batuan
beku, metamorf atau sedimen. Fragmentasi batuan asal tersebut dimulai dari
pelapukan mekanis (disintegrasi) maupun secara kimiawi (dekomposisi),
kemudian tererosi dan tertransportasi menuju suatu cekungan pengendapan.
Setelah pengendapan berlangsung, sedimen mulai mengalami diagenesa,
yakni proses perubahan-perubahan yang berlangsung pada temperatur
rendah didalam suatu sedimen, selama dan sesudah litifikasi terjadi (W.T.
Huang, 1962)
a. Batuan Sedimen Silisiklastik Volkaniklastik

Piroklastik
Akumulasi masterial piroklastik atau sering pula disebut sebagai tephra
merupakan hasil banyak proses yang berhubungan dengan erupsi vulkanik
tanpa memandang penyebab erupsi dan asal dari materialnya. Fragmen
piroklastik merupakan fragmen seketika yang terbentuk secara langsung
dari proses erupsi vulkanik. Material piroklastik saat dierupsikan gunung api
memiliki sifat fragmental, dapat berujud cair maupun padat, dan setelah
menjadi massa padat material tersebut disebut sebagai batuan piroklastik.

o piroklastik aliran

adalah aliran panas dengan konsentrasi tinggi, dekat permukaan, mudah


bergerak, berupa gas dan partikel terdispersi yang dihasilkan oleh erupsi
volkanik. Dilihat dari lapisan yang dibentuk menunjukkan sortasi yang buruk
dengan ketebalan lapisan yang tidak teratur dan menipis pada tinggian dan
menebal pada cekungan. Biasanya dijumpai lapisan yang sudah masif
dengan gradasi normal pada endapan yang berasal dari suspensi turbulen
dan menutupi bagian laminasi.

o piroklastik jatuhan
Piroklastik yang dilontarkan secara ledakan ke udara sementara akan
tersuspensi yang selanjutnya jatuh ke bawah dan terakumulasi membentuk
endapan piroklastik jatuhan. Dilihat dari lapisan pada endapan piroklastik ini
menunjukkan sortasi yang baik (well sorted) dengan ketebalan lapisan yang
teratur dan mengikuti permukaan yang ditutupi (mantle bedding). Biasanya
jarang dijumpai lapisan yang masif, bahkan juga jarang ditemukan gradasi
normal.
o piroklastik surge
dibentuk secara langsung oleh erupsi freatomagmatik maupun freatik dan
asosiasinya dengan piroklastik aliran.

Breksi volkanik : tersusun dari fragmen yang diameternya >32mm


bentuknya runcing
Agglomerat : Fragmennya berupa bomb dengan ukuran .> 32mm
Lapilli : Fragmen tersusun atas lapilli dengan ukuran 4-32mm
Tuf kasar : Fragmen tersusun atas babu kasar dengan ukuran 0,25-4mm
Tuf halus : Fragmen tersusun oleh abu halus dengan ukuran , 0,25mm

Hidroklastik
Material ini dihasilkan oleh suatu erupsi hidrovulkanik yaitu erupsi yang
terjadi karena kontak air dengan magma. Berdasarkan cara transportasi
sebelum diendapkan, akumulasi material hidroklastik dapat dibedakan
menjadi 2, yaitu:

o Endapan Hidroklastik Jatuhan


Adalah endapan yang terjadi dari akumulasi material hidroklastik yang
dilemparkan dari pusat erupsi ke udara dan kemudian jatuh di tempat
pengendapannya. Cara transportasi material hidroklastik jatuhan dapat
dibedakan menjadi 2 yaitu transportasi gerak peluru (trajectory) dan turbulensi
awan erupsi.
o Endapan Hidroklastik Aliran
Endapan ini terjadi dari akumulasi material hidroklastik yang terlempar
dari pusat erupsi, kemudian bergerak sepanjang permukaan bumi menuju
tempat pengendapannya

Autoklastik
Biasanya dijumpai sebagai breksi vulkanik autoklastik yaitu bentuk
fragmentasi padat karena letusan gas-gas yang ada di dalamnya karena oleh
penghancuran lava. Jadi material ini merupakan gesekan penghancuran lava
sebagai hasil dari perkembangan lanjut dari pembekuan.

Alloklastik
Biasanya disebut dengan breksi vulkanik alloklastik yaitu breksi yang
dibentuk oleh fragmentasi dari beberapa batuan preexisting oleh proses
vulkanik bawah permukaan. Jadi proses breksiasi dari batuan ini terjadi di
dalam gunung api, baru kemudian ekstrusi sebagai aliran breksi. Breksiasi ini
mungkin dihasilkan oleh pengembangan gas atau oleh runtuhnya gunung api
yang kemudian terbentuk rongga-rongga dan akhirnya diikuti erupsi. Aliran
breksi pada type ini terjadi pada derajat kemiringan dan bergerak dari gunung

api dengan media iar menjadi lahar. Ciri breksi ini adalah ketebalannya yang
besar dan tidak berlapis, material penyusunnya sangat kasar dan tidak
tersortasi. Fragmen mempunyai ukuran beraneka ragam, namun fragmen
yang berupa pumis, skoria dan batuan afanitik jarang dijumpai.

Epiklastik
Merupakan hasil dari pelapukan dan erosi dari batuan vulkanik dan
umumnya bukan merupakan hasil vulkanisme yang seumur. Karena endapan
epiklastik ini merupakan hasil proses rework dan telah mengalami
transportasi, maka pada umumnya fragmennya lebih rounded. Fragmenfragmen tersebut dapat terbentuk oleh proses-proses non vulkanik atau
proses epigenik sehingga membentuk modifikasi butiran yang agak
membulat. Material epiklastik di alam sering dijumpai sebagai breksi laharik.

b. Batuan Sedimen Silisiklastik nonvulkanik


Batuan sedimen jenis ini didominasi oleh detrital grain(mineral silika dan
fragmen batuan khusunya). Batuan yang termasuk jenis ini antara lain:

Konglomerat
Adalah batuan yang terbentuk dari endapan gravel yang sudah
terkonsolidasi dengan campuran pasir atau lumpur pada ruang antar butirnya.
Umumnya

batuan

ini

berukuran cobbleatau pebble yang well

rounded (membulat baik). Kebanyakan konglomerat menunjukkan perlapisan


yang kurang baik dan kadang-kadang juga terdapat lensa batupasir.
Konglomerat yang terbentuk saat ini terakumulasi di atas rangkaian
pegunungan,

di

pantai

dan

pada

kanal

sungai.

Secara

petrologis

menunjukkan tekstur kemas terbuka dengan sortasi buruk, dengan fragmen


berukuran kerikil sampai boulder (2 - >256 mm) sedangkan untuk matriknya
berukuran lempung sampai pasir (< 1/256 2 mm)

Breksi

Adalah batuan yang terbentuk dari material vulkanik yang kemudian


mengalami konsolidasi dengan fragmen-fragmen batuan beku lainnya yang
juga hasil dari vulkanik. Secara petrologis batuan ini menunjukkan kemas
terbuka dengan sortasi buruk, dengan fragmen berukuran kerikil sampai
boulder (2 - >256 mm) dan biasanya fragmen berupa batuan beku dengan
bentuk yang meruncing (angular), sedangkan untuk masa dasarnya berupa
batuan beku yang berukuran afanit. Jika dilihat dengan bantuan mikroskop,
masa dasar dapat berupa glass vulkanik

Batupasir
Adalah batuan sedimen klastik yang paling banyak dijumpai. Sejak
tersingkap di permukaan bumi, batuan ini sangat mudah dikenali karena
biasanya batuan ini tahan terhadap pelapukan. Pada dasarnya batupasir bisa
disusun oleh material apa saja, tetapi kenyataanya butiran kuarsa selalu
paling melimpah. Hal ini disebabkan karena kuarsa merupakan mineral utama
dalam batuan beku, sedimen maupun metamorfik, selain itu mineral ini tahan
terhadap abrasi dan pelapukan kimiawi. Partikel pasir pada kebanyakan
batupasir disemen oleh kalsit atau oksida besi.
Komposisi

batupasir

merupakan

kunci

penting

tentang

sejarah

pengendapannya. Selama tertransportasi yang jauh, fragmen batuan (kecil)


dan mineral-mineral tertentu yang siap mengalami dekomposisi (pelapukan
kimiawi), seperti hanlnya olivin, piroksen, feldspar dan mika akan hancur
menjadi partikel yang lebih halus dan kemudian tertampi (winnowed) keluar,
terpisah dengan mineral kuarsa yang ultra stabil. Batupasir yang bersih,
terpilah dengan baik dengan komposisi kuarsa yang membundar baik, berarti
batupasir tersebut telah tertransport jauh atau telah berulang kali mengalami
siklus erosi dan deposisi. Secara petrologis batuan ini mempunyai tekstur
kemas tertutup dan sortasi yang baik, sedangkan komposisinya berupa

material-material sedimen berukuran pasir ( 1/16 2 mm) dengan bentuk


butir rounded.

Arkose
Secara petrologis arkose menunjukkan kemas terbuka dengan sortasi
yang buruk. Matriks biasanya berukuran pasir ( 1/16 2 mm) yang berupa
material-material sedimen berukuran pasir, sedangkan untuk fragmen
berukuran pasir kerikil ( 1/16 4 mm ) dengan fragmen berupa mineralmineral seperti Chert, Muscovite, Biotite, Kuarsa, Ortoklas. Pembundaran
angular-subangular.

Batulanau
Adalah batuan sedimen klastik berbutir halus ( antara 1/16 mm 1/256
mm). Batulanau umumnya berstruktur laminasi (perlapisan < 1 mm) dan
sering mengandung struktur burrow. Siltstone ini merupakan hasil
konsolidasi material berbutir halus yang terbawa secara susupensi oleh air
(sungai, laut) dan diendapkan pada dataran banjir atau delta.

Serpih
Merupakan lumpur dan lempung yang telah terkonsolidasi. Batuan ini
sangat melimpah di alam, kebanyakan berstruktur laminasi. Serpih hitam
mengandung material karbon dan terakumulasi pada air tenang seperti halnya
lagoon, laut dangkal, daerah pasang surut (tidal flat). Sedang serpih merah
menandakan banyak mengandung oksida besi yang berarti teroksidasi pada
lingkungan terbentuknya (streem channels, flood plain, tidal plan)
Sumber: http://cogangeologist.blogspot.com/2010/12/batuan-sedimen_16.html

Blog Kevin Ho

Beranda

facebook

Twitter

Contact

About
Kamis, 06 Juni 2013

Batuan Sedimen

Batuan Sedimen

Batuan yang terbentuk akibat lithifikasi dari hancuran batuan


induk. Lithifikasi batuan meliputi proses kompaksi autigenik dan
diagenesa (proses terubahnya material-material lepas menjadi
batuan yang kompak).

Batuan sedimen sangat banyak jenisnya dan tersebar luas


dengan ketebalan dari beberapa cm sampai beberapa km. Secara
lateral penyebaran batuan sedimen mencapai 70 % dari batuan
yang

ada

dipermukaan

akan

tetapi

batuan

sedimen

hanya

merupakan

dari

batuan

yang

ada

di

bumi.

Secara umum batuan sedimen terbagi atas dua kelompok


besar yaitu :

1. Batuan Sedimen Silisiklastik

Batuan sedimen silisiklastik merupakan batuan ekstrabasinal


yang pembentukannya melibatkan proses epigen dari batuan sumber
atau pre-existing rock.
Batuan silisiklastik berdasarkan besar butirnya dikelompokkan
menjadi kelompok mudrock, batupasir dan konglomerat atau breksi.
Fragmen rombakan bisa jadi terdiri dari fragmen batuan tetapi
pada umumnya tersusun atas mineral kuarsa yang merupakan mineral
paling stabil dan felspar sedangkan butiran yang berukuran halus
akan menjadi batulanau, batulempung maupun sebagai matrik dalam
batuapasir, breksi dan konglomerat.
Butir-butiran klastik pada batuan ini terbentuk setelah
mengalami proses-proses pelapukan mekanik atau kimiawi maupun
keduanya, proses transportasi serta pengendapan.
Transportasi sedimen dapat terjadi oleh adanya air, angin, es,
arus pasang-surut dan arus turbidit.
Kenampakan umum yang sangat penting dalam batuan
silisiklastik adalah struktur sedimen dan tekstur terutama yang
terbentuk selama proses pengendapan, post depositional atau saat
diagenesis.

2. Batuan karbonat

Batuan karbonat adalah batuan sedimen yang mempunyai


komposisi yang dominan (>50 %) terdiri dari garam-garam karbonat
yang secara umum meliputi batugamping dan dolomit.
Batuan karbonat merupakan batuan intrabasinal yang
pembentukannya tidak mengalami erosi dan transportasi tetapi
butiran-butiran karbonat mencerminkan produktivitas organik.
Proses pembentukannya dapat terjadi secara insitu yang
berasal dari larutan yang mengalami proses kimiawi maupun biokimia
pada proses tersebut organisme turut berperan, dapat pula terjadi
dari butiran rombakan yang telah mengalami transportasi secara
mekanik dan kemudian diendapkan pada tempat lain dan
pembentukannya dapat pula terjadi akibat proses diagenesa dari
batuan karbonat yang lain seperti dalam proses dolomitisasi dimana
kalsit berubah menjadi dolomit.

Sedangkan berdasarkan proses pembentukkannya batuan sediment


terbagi atas:
1.
2.

Sedimen Klastik
Sedimen non klastik Sedimen kimiawi
Sedimen biologic

Sedimen klastik
Mengalami transportasi dengan media fluida (air, angin, gletser)
sehingga pengendapannya tidak pada tempat terdapatnya batuan
induk.
Contoh : Batupasir, konglomerat

Sedimen non klastik

Umumnya insitu atau

tidak

mengalami

transportasi

sehingga

pengendapannya relative dekat dengan batuan induk.

1.

Sedimen organik
Batuan sedimen yang dihasilkan oleh aktivitas organisme, terdapat
sebagai sisa organisme yang biasanya tetap tinggal di tempatnya.
Contoh : Batugamping terumbu, batubara

2.

Sedimen kimia
Batuan sedimen yang dihasilkan oleh proses penguapan, terutama di
daerah aride.
Batuan ini umumnya hanya tersusun atas satu komposisi mineral
dengan kilap yang umumnya non-metalik.
Contoh : Gipsum,

Komposisi batuan sedimen dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :


1. Fragmen Butiran pembentuk batuan yang berukuran paling
besar. Fragmen dapat berupa butiran mineral, batuan atau fosil.

2. Matrik Bagian dari butiran pembentuk batuan yang berukuran


lebih kecil dari fragmen. Biasanya berkomposisi sama dengan
fragmen.

3. Semen Bahan pengikat antara fragmen dengan matrik.

Dalam sediment klastik dikenal 3 macam semen yaitu :

Silisiklastik

Karbonat : Kalsit, dolomite


Silikat : Kalsedon, Kuarsa
Oksida Besi : Hematit, limonit

Komposisi batuan silisiklastik terdiri atas fragmen, matrik dan


semen.
Batuan sedimen klastik tersusun oleh butiran-butiran hasil
rombakan atau detrital grains sebagai pembentuk kerangka utama
batuan sedimen.
Matriks yang terdiri dari butiran halus menempati ruang antar
butiran, sedangkan mineral autogenic dan semen terbentuk pada saat
diagenesa.
Komposisi mineral yang dominan pada batuan silisiklastik adalah
mineral-mineral stabil yang tahan terhadap proses pelapukan dan
transportasi.
Mineral yang sering dijumpai pada batuan sedimen silisiklastik
diantaranya adalah kuarsa sebagai mineral paling stabil, feldspar
yang berasal dari batuan induk yang sama dengan kwarsa, mika dan
mineral lempung.
Butiran-butiran tersebut selanjutnya akan diikat oleh semen
yang dapat berupa semen silika, semen karbonat dan oksida besi.

Karbonat

Pada dasarnya komposisi batuan karbonat sangat bervariasi


tetapi secara umum dapat dikelompokkan menjadi non skeletal grains,
skeletal components, micrite dan cement.
Butiran tersebut merupakan butiran karbonat dan bagian dari
sisa organisme yang dibagi berdasarkan bentuk butir dan ukuran
butirnya.

Karena lingkungan pembentukan batuan karbonat yang sangat


khas maka detritus asal darat sangat sedikit bahkan tidak ada dalam
batuan karbonat.
Menurut Pettijohn (1975) tekstur adalah suatu kenampakan yang
berhubungan dengan ukuran dan bentuk butir serta susunannya.
Secara umum tekstur batuan sedimen mencerminkan proses-proses
yang terjadi pada saat pengendapan.

Tekstur batuan sedimen Klastik


1.

Ukuran butir
Ukuran butir pada batuan sediment klastik menggunakan
skala wenthworth sebagai parameternya.
Tabel 1. Skala wenthworth
Wentworth Size Scale

Boulder

>256 mm

Cobble

64-256 mm

Pebble

2-64 mm

Sand

Conglomerate

1/16-2 mm

Sandstone

Silt

1/256-1/16 mm

Siltstone

Clay

<1/256 mm

Shale

1.

Derajat pemilahan (sortasi)


Merupakan gambaran tingkat keseragaman dari butiran
pembentuk batuan sediment.

1.
2.
3.
2.
1.
2.
3.
4.
5.
3.

Pemilahan baik (well sorted)


Pemilahan sedang (moderately sorted)
Pemilahan buruk (poorly sorted)
Derajat Pembundaran (Roundness)
Menyudut (angular)
Menyudut tanggung (sub-angular)
Membulat tanggung (sub rounded)
Membulat (rounded)
Membulat baik (well rounded)
Kemas
Menunjukkan hubungan kerapatan antara butiran penyusun
dalam batuan sediment.

1.
2.

Kemas
terbuka
:
kerapatan
antar
butiran
kecil/renggang
Kemas tertutup : kerapatan antar butiran besar/rapat

Pada
batuan silisiklastik
butirannya
akan dibedakan
berdasarkan ukurannya yaitu mulai dari ukuran yang paling halus
hingga paling kasar.
Pada umumnya pembagian ukuran butir pada sedimen klastik
menggunakan skala Wentworth yang selanjutnya akan menjadi dasar
penamaan batuan sedimen silisiklastik seperti : batupasir,
batulempung, batulanau dan sebagainya.
Ukuran butir pada batuan silisiklastik akan berhubungan
langsung dengan porositas dan permebilitas batuan karena butiranbutiran tersebut yang membentuk rongga-rongga pori.
klasifikasinya menggunakan parameter tekstur seperti ukuran
butir, bentuk butir, sortasi dan kemas.
Tekstur terutama ukuran butir dalam batuan sedimen
silisiklastik akan menunjukkan tingkat kedewasaan dari sedimen
tersebut dan menggambarkan dinamika transportasi sedimen.

Nonklastik
A. Sedimen Organik
Pada batuan karbonat klasifikasi yang digunakan berhubungan
dengan matrik dan partikel yang menyusun batuan yang dikenal
dengan istilah Allochem, mikrit dan sparit.
Bentuk butir dalam batuan karbonat akan sangat khas jika
merupakan unsur dari organisme seperti cangkang dan
fragmen kerangka.
Bentuk butir dalam batuan karbonat akan menunjukkan energi
dalam lingkungan pengendapannya.
Pada batuan karbonat partikel-partikel karbonat dibagi menjadi
dua yaitu butiran (>0,02 mm) dan lime mud (<0,02 mm).
Karena sifatnya yang mudah larut ukuran butir pada batuan
karbonat tidak berhubungan langsung dengan besarnya
porositas dan permeabilitas batuan.
Pada batuan karbonat tekstur akan menunjukkan unsur-unsur
organik sebagai komponen karbonat yang terdeposisi.
Unsur-unsur organik yang menyusun batuan karbonat dapat
terdiri dari komponen organisme dengan ukuran kecil hingga
besar yang dapat pula menjadi indikasi kedewasaan suatu
batuan karbonat.

B. Sedimen Kimiawi
Pemerian sediment kimiawi meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.

Warna batuan
Komposisi
Kilap
Ukuran butir
Mineral

Teksturnya :
1.
2.
3.
4.

Kristalin
Amorf
Gelas
Fibrous

Struktur batuan sedimen (struktur primer) umumnya tidak banyak


yang dapat diamati di laboratorium karena umumnya mempunyai
skala yang cukup besar.

Struktur batuan sediment diantaranya :


Struktur perlapisan
Merupakan struktur utama
1.

menunjukkan

adanya

batuan

bidang-bidang

sedimen

klastik

yang

perlapisan

sebagai

hasil

proses pengendapan.

Faktor-faktor yang menyebabkan adanya struktur perlapisan :


Perbedaan
Perbedaan
Perubahan
Perbedaan
Perbedaan
Perubahan

1.
2.
3.
4.

warna
ukuran butir
struktur sediment
komposisi mineral
kekompakan
macam batuan

Cross-bedding
Graded bedding
Ripple marks
Mud cracks

Dalam

klasifikasinya

pembentukannya,
ataupun

batuan

apakah

sedimen

termasuk

mengacu
dalam

sedimen

pada

proses

sediment

klastik

non

klastik.

Klasifikasi batuan sediment klastik umumnya lebih sederhana


karena penamaannya dapat didasarkan pada ukuran butirnya.

Sedangkan

untuk

komposisinya

batuan

non

klastik

masih

harus

secara

dilihat

menyeluruh.

Tabel 2. Klasifikasi batuan sediment berdasarkan proses


pembentukannya

Sedimentary Rock Identification Chart


TEXTUR
E

GRAIN
SIZE
>2 mm

Clastic

Chemical

1/16 - 2

COMPOSITION
rock fragments, quartz,
feldspar

ROCK NAME

Conglomerate

quartz, feldspar

Sandstone

<1/16 mm

quartz, clay minerals

Mudstone

>1/16 mm

feldspar, quartz

Arkose

calcite

Limestone

mm

silica (quartz)

Chert

gypsum

Rock Gypsum

halite

Rock Salt

organic material, plant


fragments
Biologic

Bituminous Coal

calcite, shell and skeletal


fragments
calcite with some fossils

Coquina
Fossiliferous
Limestone

Tabel 3. Penamaan batuan klastik

Name of
Rock
Breccia
Conglomerate

Fragment Type
Coarse Fragments of Angular Gravel and Rocks
Coarse Fragments of Rounded Gravel and Rocks

Sandstone

Sand Sized Particles that are 90 % Quartz

Arkose

Sandstone composed of 25 % Feldspar Grains

Shale

Clay Particles

Siltstone

Silt Particles

Mudstone

Mixture of Clay and Silt

Limestone

Mixture of Shells, Coral, and Other Marine


Skeletons

Tabel 4. Deskripsi Batuan Sedimen


SEDIMEN KLASTIK
Perlapisan
Fosil tidak utuh
Fragmen butiran

1. Ciri

2.
Struktur

1mm)

Perlapisan
Laminasi (perlapisan <
Crossbedding
Graded bedding

SEDIMEN
NONKLASTIK
Monomineralik
Fosil utuh

Masif
Fosiliferous

Ukuran butir
Sortasi
Roundness

Amorf
Kristalin

Komposisi

Fragmen
Matrik
Semen

Monomineralik

5. Contoh

Batupasir

Rijang

3. Tekstur
4.

Lanau
lempungPerlapisan
Fosil tidak utuh
Fragmen butiran

Batubara
Batugamping
terumbu
Batugamping merah
Batugamping
kristalin

Tabel 5. Batuan sediment hasil presipitasi kimia


Name of Rock

Precipitate Type

Halite

Sodium and Chlorine

Gypsum

Calcium, Sulfur, and Oxygen

Silcretes

Silica

Ferricretes

Iron

Limestone

Calcium Carbonate

Dolomite

Calcium Magnesium Carbonate

Diposkan oleh Kevin Hasan di 07.58


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Reaks
i:

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar
Posting Lebih BaruBeranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Arsip Blog

2013 (3)
Juni (3)

Makalah Geologi

Dasar - Dasar Geologi

Batuan Sedimen
Mengenai Saya

Kevin Hasan
Lihat profil lengkapku
Share It

Gambar template oleh centauria. Diberdayakan oleh Blogger.

MUDROCK nih..
Posted on April 30, 2012by seni mencintai batuan apa adanya

dibalik cadar ada senyuman yang setajam tatapan pemiliknya.


kurang lebih begini ilustrasinya kawan.

ada senyuman yang setajam tatapan pemiliknya.

Mudrock merupakan batuan sedimen yang paling melimpah di bumi yaitu bisa
mencapai 50% dari total sedimen dalam rekaman sedimentologi (Raymond, 2002;
Boggs, 2006).
Beberapa penulis menyebutnya sebagai shale tapi ada juga yang mudrock, keduanya
sama aja mau pilih yang mana terserah. Blatt, Middleton, Murray (1980) make
istilah mudrock begitu juga Raymond (2002). Tapi Boggs menyebutnya Shale.
Distingsi menurut Boggs mudrock disebut shale bila berlapis (berlaminasi) dan
mudstonme (bila laminasi tidak ada/ massive) (Boggs, 2006).
Biar gak berantem kita pake bahasa indonesia saja huehuehue
Batulempung adalah jenis batuan sedimen (umumnya silisiklastik) yang disusun
oleh butiran yang sangat halus berupa lempung dengan ukuran <1/256 mm. bila
ukurannya pada kisaran 1/16-1/256 mm dinamakan silt (lanau) kalau jadi batu
namanya siltstone. (Boggs, 2006). menurut Raymond mudrock adalah siltsone
(batulanau), mudstone, mudshale, claystone, dan clayshale. shale sendiri dibedakan
dengan modstone dan claystone karena laminasinya (berarti penulis ini juga setuju
dengan terminologinya Boggs).

bentonit adalah tipe calystone atau clayshale yang komposisi utama penyusunnya
adalah smektit (montmorillonite) dari kelompok lempung (Raymond, 2002).
sementara Loess adalah jenis mudrock yang porous, friable, umumnya calcareous
silststone yang merupakan endapan penutup endapan lainnya material halus
penyusunnya ini (untuk loess) oleh Raymond dikatakan kemungkinan dibawa oleh
transport angin. adapun bentonit merupakan jenis lempung yang terbentuk akibat
altrasi abu vulkanik yang siliceous (kaya silika), bentonit ini banyak ditambang buat
bahan baku semen karena daya rekatnya yang oke.
selain bentonit diatas sana studi mengenai mudrock banyak dilakukan oleh ahli,
karena manfaatnya sebagai batuan penyekat (seal rock) yang juga sangat oke (karena
memiliki permeabilitias sangat buruk) untuk menyekat minyak (atau air tanah) pada
reserovior. studi geoteknik dan ketahanan pondasi juga dipelajari oleh ahli geotek
dan sipil yang juga mempelajari perilaku dari mudrock ini. pokoknya di gak kalah
sexy dari batuan silisiklastik lainnya.
KOMPOSISI
Berbicara komposisi batuan artinya kita ngobrolin mineralogi dan kimia dari batuan
itu.. aiiih.. kata kedua itu begitu membosankan.. haha
Mineralogi
Sebelum mebicarakan lempung terlalu jauh dan mineral pengisinya perlu diketahui,
kaerna bentuknya yang super imut similikiti weleh weleh ini sangat sulit
mengidentifikasi komposisi penyusun lempung (mineraloginya) paling mungkin dan
gampang menggunakan bantuan mikroskop elektron, adapun pengamatan pake
mikroskop polarisasi di lab yahh.. yang tampak tampak ajalah berikut ini
pendekatan dari berbagai penulis tentang mineralogi batulempung (or mudrock or
shale) ini.
Shale (mudrock) secara umum disusun oleh mineral mineral lempung, dan mineral
lain seukuran lempung. Apa saja mineral lempung itu? Secara umum ada 4
kelompok utama yaitu smektit, ilit, kaolinit, dan klorit (ini yang tipe sekunder paling
banyak di alam) yang primer adalah kelompok kelompok mika (item biotit, dan putih
muskovit dari rock forming mineral bowen).
Sebelum membicarakan mineral penyusun lainnya mari fokus pada mineral
lempungnya saja dulu, apa sih mineral lempung itu?

Secara sederhana mineral lempung itu masuk ke dalam kelompok phylosilicate


(mineral yang berlembar lembar) bentuk struktur dari mineral ini adalah berlembar
lembar dan beruikuran sangat halus (makanya coba perhatiin simbol lempung di
peta geologi mana aja pasti berupa garis putus-putus berlapis gitu kan?? Mungkin
kesan ini yang menunjukan bahwa ia itu berlember.. hehe sekedar perspektif jangan
dianggap serius.. eh tapi bener loh..).

Perhatiian struktur internal mineral lempung disamping. Coba liat bagaimana perlapisan perlapisan dari mineral
lempung ini disusun oleh ion ion air dan ion logam lain (Mg or Ca), jadi jelas sekali mengapa mineral lempung
ini adalah tipe mineral yang sangat mampu menahan air, bahkan gak mau lepas itu air. Sehingga batulempung
ini sangat sulit ditembus air (seal yang oke) dan bila dalam fase sedimen lepas (belum jadi batu) dia juga kuat
nahan air (makanya jangan heran daerah daerah rawan longsor adalah daerah yang kaya formasi lempung
(air tertahan dalam masa lempung akibatnya massa formasi lempung bertambah berat, kalo posisinya ada di
lereng atau tempat yang miring.. jebreeeet longsor deh)

Shale (mudrock) ini disusun oleh material kristal halus seperti disebutin diatas
adalah mineral mineral lempung (ukuran <1/256 atau antara 1/16-1/256 mm), selain
itu ada juga mineral lain seperti karbonat (kalsit, dolomit, siderit), sulfida (pirit,
markasit), oksida besi (geotit), mienral berat, juga beberapa karbon organik (Boggs
Jr, 2006). Kalo kata gue mineral apa aja bisa sih asal ukurannya segitu.
mineral lain seperti oksida alumunium (selain oksida besi diatas), hidrokseida,
zeolit, sulfat dan sulfida, apatit, mineral berat seperti hornblenda, selain itu ada gelas
vulkanik dan material organik (P.E Potte, Maynard, Prior, 1980; Scheiber et al.,
2000 dalam Raymond, 2002).

Contoh sample batuan Mineral mineral penyusun batulempung dari berbagai tempat versi OBrien dan Slatt,
1990. Untuk kelompok mineral lempung pada kolom kedua diatas (clay minerals) kemungkinan empat
kelompok utama mineral lempung (illit, smektit, kaolinit, dan klorit). (dalam Boggs, Jr, 2006).

Yang ini tabel versi raymond hasil berbagai peneliti (Raymond, 2002)

mineral pengisi lempung (mud) modern dan batulempung (mudrock) ancient; dalam Raymond (2002)

Mineral lempung dalam mudrock termasuk kaolinit; smektit, termasuk


montmorilonit, beidelite (aluminous smectite), dan nontronite (iron smectite);
chamosite; ilmenite, mixed layer (I/S) clay; Mg-bearing clay, termasuk corrensite,
sepiolite, dan attapulgite (palygorskite). Tiap individu lempung yang terbentuk pada
kondisi tertentu. Diantra mineral mineral lempungi ni ada yang teralterasi menjadi
illite, klorit, muskovityaitu kelompok mineral yang mencirikan suatu alterasi
diagenetik dan memarfisme lemah dari mudrock. Sebasgai contoh montmorilonit
terubah menjadi illilte, yang mana dapat terreksritalisasi membentuk muskovit
seiring meingkatnya diaganesisi atau metamorfisme. Corrensite teralterasi menajdi
kloirt.

Mineral karbonat hadir pada kondisi tertentu seperti kaslit, dolomit, sideerit, dan
ankerite. Seperti halnya mika setiap mineral ini hadir pada kondisi tertentu.
Mienral lain dan material non mineral juga bisa hadir. Zeolit dijumpai pada
batulempung termasuk mineral mienral seperti phillipsite, clinoptilolite, dan
analcite. Oksida besi dan alumunium atau hidroksidanya seperti hematit, geotit,
limonite, gibsite juga bisa hadir. Sulfida yang umum adalah pyrite dan marcasite,
dan sulfat contonya kayak gipsm dan anhidrit. Terus ada juga mineral asesoirs
seperti apatit, plus horndblenda, zirkon dan mineral berat lainnya menjadi
komposisi minor dalam lempung. Gelas volcanic juga umum dalam lumpur, tapi
sedikit dalam mudrock, karena mudah terkonversi menjadi zeolite, lempung dan
mineral lainnya.(Raymond, 2002 p 344) (mmmmm pantesan banyak zeolit di
Tasik ya pak dhe.. ini sebabnya di kavling sahabat saya master of literature Reza
marza dan manzur DJ banyak dijumpai zeolite yang berasosiasi dengan tuff).
Transportasi, setting tektonik, dan lingkungan pengendapan juga mempengaruhi
kelimpahan mineral dakn komposisi kimia dari sedimen (Raymond, 2002).
Untuk syarat lingkungan diatas, air teroksigenasi akan menghasilkan mineral
teroksidasi sepreti hamtit dan manganoan calcite, sementara air anoxic (eweuh
oksigen na) akan menghasilkan mineral sulfidic seperti pyrite. Khususnya pad
alingkungan saline (banyak larutan garam kayak air laut lah contonya ya pak dhe)
kemuungkinan hadirnya zeolit seperti erionite, chabazite, dan phillipsite terbentuk
(Sheppard dan Gude, 1968; Surdam dan Eugster, 1976). Secara umum, kaolinit
cenderung mendominasi ke arah shoreward (proximal) menuju basin (cekungan),
dan palygorkskite (Parham, 1960). Kuarsa dan feldspar juga cenderung melimpah ke
arah proks8imal karena sifat proksimitas source terrain (semakin melimpah).
Jumlah signifikan dari kuarsa, bagaimanapun juga dapat mengalami proses
diagenetis dan dueerrr terubah lagi.. (Scheiber et al., 2000 gak pake dueer sob).
Perbedaan transportasi versus ujan sedimen (sediment rain) ditunjukan oleh aksi
aurs trubditit dan hemipelagic mud yang mengisi abysal plain (laut dalam).
Hemiplagic mud mengandung lempung dan mineral Mg carbonate, termasuk
dolomit, semenatra mudrock pada perlapisan turbidit, kaya akan illite, kuarsa dan
kalsit.
Cekungan marin dan kontinental dari berbagai jenis yang mana juga menghasilkan
arus turbidit dapat bekerja (darat di danau contohnya laut ya lereng laut ojaaaan)
terbentuk sebagai fungsi setting tektonik (syarat kedua diatas), setting tektonik

mengontorl source dari sedimen, juga lingkungan pengendapan dan recycle dari
sedimen. Sebagai contoh Garver dan Scott (1995) menemukan bahwa, pada
lingkungan yang secara tektonik aktif seperti pada mesozoic pacific northwest (barat
laut pasifik), migrasi crustal block (source area nya) menghasilkan perubahan
komposisi shale dari waktu ke waktu pada cekungan yang berdekatan (menempati
daerah tersebut). Semetnara itu Cox et al (41995) mengamati mudrock di Colorado
Province (Amrik) mengemukakan bahwa komposisi mudrock berubah dari waktu ke
waktu bukan hanya sebagai respon terhadap evolusi (erosi) dari source terrain, tapi
juga sebagai respon terhadap pelapukan dan recycle dari material sedimen yang
lebih tua.
Berikut ini adalah bukti umum komposisi mudrock berubah seiring perubahan
(berjalannya) waktu geologi. Smektit melimpah pada mud dan shale kuarter, tapi
pada era kenozoik yang melimpah justru illite (>50%) dan smektit hanya sedikit saja
(kata pak raymond, 2002). Sementara itu variasi kimia dari berbagai jenis lempung
juga signifikan, termasuk perubahan kandungan K2O yang kaya pada batulempung
lebih tua dibandingin sama yang lebih muda, terus kadar CaO yang banyak di yang
muda dan habis gak ada di lempung yang lebih tua. Perubahan perubahan ini
merupakan respon proses diagensis dalam batuan yang mana unsur unsur dan
senyawa tidak stabil akan hilang dan terganti yang baru. Smektit yang mendaung
kalsium terkonversi menjadi illite yaitu jenis mineral baru yang membawa larutan
(bearing) oksida potasium (K2O). penjelasan lain yang mengontrol perubahan kimia
ini (selain diagentic process) adalah perubahan kontrol giologi dari pelapukan
seiring waktu berjalan dan perbuahan kontrol tektonisme, vulkanisme, dan iklim
(E.G dan Blatt, 1982p291ff.; C.E Weaver, 1989, 1989 p 563ff.).
Sementara menurut Boggs, Jr (2006) selain proses diagensis (burial diagensisi
khususnya), setting tektonik, lingkungan pengendapan dan provenance (source),
udah disebutin semua diatas ditambah lagi ukuran butir. kuarsa, feldspar dan
mineral lempung umumnya merupakan mineral detritus (terrigen), namun beberapa
bagian dari mineral ini juga terbentuk selama proses diagensis terjadi (grain contact,
dissolution, dll sudah dijelaskan sebasgain kecil sebelumnya mudah mudahan
detailnya nanti di postingan berikutnya), secara khusus mineral lempung hadir
secara kuat dipnegaruhi oleh proses diagentis (Boggs, Jr 2006). Mungkin maksud
kontrol ukuran butir menurut Boggs ini lebih ke arah proses diagensis, masih ingat
kan pelajaran kimia SMA?? Apa saja yang mempercepat reaksi kimia? Ada
temperatur (semakin meningkat) dan bidang sentuh permukaan reaktan semakin
halus semakin mudah bereaksi bukan?? Ketika detritus yang diendapkan kasar maka
proses diagensisi yang bekerja pada bidang kontak akan semakin lama berbeda

dengan ukuran butiran yang lebih kecil maka ketika ada larutan fluida yang larut
melewati pori (antar ruang butir) maka reaksi perubahan (alterasi) mineral lain
menjadi lempung akan semakin cepat.
Mari perhatikan skema perubahan dari kelimpahan relatif mineral lempung yang
umum terhadap fungsi skala umur geologi menurut Singer A dan G. Muller, 1983
(dalam Boggs, Jr hal 142).

perhatikan kelimpahan lempung kaolinit dan smektit yang berkurang pada kala mesozoik dan porsi klorit dan
illite cukup stabil dan melimpah (mengalmai pengayaan) hal ini menjelaskan stabilitas dua mineral lempung
yang mengalterasi mineral sebelumnya dan mampu bertahan pada kondisi diagenetis yang lebih intens.

Kimia
Pembahasan mengenai kimia mudrock dibagi dua yaitu kimia organik dan anorganik
dalam kompsisi kimianya dan warna dari lempung itu sendiri yang mencirikan
karakterisitik kimianya. Penulisnya ini bodoh dibagi tiga maksudnya komposisi

kimia inorganik dan organik dari mudrock, dan warna dari mudrock. Sebentar
kenapa dibagi dua inorganic dan organic?? Karena karakter kimia dari dalam
mudrock ini merupakan fungsi dari komposisi mienraloginya (Raymond, 2002). Jika
ternyata isinya karbonnya banyak (batubara) kan beda atuh genetiknya sama yang
kaya fosfat atau kaya feldspar. Kenapa warna itu penting kan dibatuan lain gak
begitu dibahas? Begini pak dhe yang suka garuk garuk di belangkon rumah sambil
ngipas ngipas pake kipas batiknya :D mudrock itu kan komponennya super imut
bin halus artinya susaaaaah sekali diamati komposisi mineraloginya secara teliti
kayak batuan silisiklastik laennya.. nah karena ukurannya yang begitu halus dan
seragam kemungkinan unsur yang terkandung di dalammnya dapat memberikan
kesan dari warna yang tampak, dari hasil analisis kimia para ahli sedimentografer
dan geokemis mudah-mudahan dapat diketahui hubungan empiris dari komposisi
kimia dan impresi warna yang dibawa oleh lempung yang diamat..
Tapi ternyata eh ternyata lempung ini berbeda dari sedimen lain, komposisi
mineralogi penyusunnya super komplek (bervariasi), dan tentu saja sangat gampang
teralterasi (jangan heran yang originnya langsung diabawa saat pengendapan gak
begitu banyak dibandingin sama yang berasal dari proses diagensis kemudian
merombak komposisi kimia di dalamnya) menjadi tantangan tersendiri bagi para
peneliti. Meski gak begitu memuaskan, setiaknya usaha-usaha para ahli dalam
menghubungkan aspek geokimia dari lempung terhadap sejarah dan source area
provenancenya patut diacungkan jempol dan palu geologi heolohi!! Heolohi!!
heolohi!!
Kimia inorganik
Mudrock adalah batuan silisiklastik. Maka kandungan kimia inorganiknya dominan
SiO2 (Raymond, 2002). Menurut Boggs, kandugnan kedua yang umum dari senyawa
oksida dalam lempung adalah Al2O3 yang kelimpahannya nomer dua paling banyak
setelah SiO2. Sama kayak batupasir menurut Boggs, SiO2 ini berasal dan mengalami
pengayaan dari butiran kuarsadan mineral silikat lainnya semetnara pengayaan
Al2O3 secara umum kaya pada mineral lempung (filosilikat) dan feldspar. Fe dalam
shale berasal dari mineral oksida besi (hematit, geotit), biotit, dan beberapa mineral
seperti siderit, ankerit, dan smektit (semuanya mineral lempung). Kelimpahan K2O
dan MgOberhubungan dengan kelimpahan mineral lempung dalam komposisinya,
meskipun Mg dpaat berasal dari dolomit dan K dari feldspar. Kelimpahan Na
berhubungan dengan mineral lempung (seperti smektit) dan sodium plagioklas (Na
plag).

Kimia lempung dari berbagai sumber (dalam Boggs, Jr, 2006)

Menurut Raymond keberagaman jenis material dalam batulempung kelimpahan


kuarsa, organic debris, carbonate mineral, evaporite mineral seperti halit dan
gipsum, matrerial fosfatik, dan oksida dan hidroksida besimenunjukan bahwa
kimia mudrock variasinya cukup luas seperti pada tabel tabel yang ditunjukin
dibawah ini.

oksida oksida yang hadir dalam lempung (Raymond, 2002)

Variabilitas kimia yang besar dalam mudrock diketahui dari analisis yang disajikan
pada tabel diatas, silika kadarnya bisa dari 40% sampai 80%. Sama juga aluminanya
dari 1-22%. Oksida besi (ferrous dan ferric) bisa saja banyak jika digabungin
keduanya bisa mencapai 1-30%. MnO dan Na2O umumnya kurang banyak
kelimpahannya kurang dari 1%, tapi kisarannya bisa mencapai 5% pada jenis batuan
tertentu. Potas (K) umumnya mencapai 1%hingga lebih,karena kandungan illit, ika,
dan alkali feldspar. CaO dan MgO variasinya uas, bergantung pada kelimpahan
komponen mineral karbonat. Kelimpahan Kalsit dan atau dolomit mengingkatkan
kandungan CaO dan/atu MgO, nilai tinggi dari MgO juga dipengaruhi oleh
kelimpahan klorit. Fosfor tinggi dalam phosphatic shales (Heckel, 1977; Giresse,
1980).
Analisis unsur jejak pada shale juga menunjukan bahwa jumlah unsur jejak ii cukup
signifikan dalam lempung. Gila asli gila kenapa gila? Kalau batuan beku atau yang

butirannya lebih kasar gak apa apa lah jelas.. ini udah bervariasi komposisi
mineralnya, kecil kecil, lagi belum lagi alterasi sana sini.. kok banyak geokemis yang
gila yah.. salut salut..
Banyak sedimetary petrologist dan geochemist telah berusaha mencari hubungan
khusus antara kimia unsur major dan trce dalam mudrock khususnya untuk cari
tahu jenis shale, lingkungan pengendaan, kondisi lingkungan (purba)nya, atau
source areanya. Perjuangan mereka ini direkam oleh Raymond halaman
346 :p :D :D.
Vine dan Tourtelot (1970) telah mencoba mencari karakterisitik black shale
berdasarkan kandungan unsurnya dan Quinby-Hunt dan Wilde (1996)
menggunakan kandungan Ca, Mn, dan V untuk membagi black shale kedalam
berbagai jenis lingungan pengendapan yang oxic atau anoxic.
Bhatia (1985b) menggunakan pola REE utntuk membedakan setting tektonik dari
cekungan sedimennya. Leventhal (1983, 1987) dan Frost (1996) membedakan
lingkungan laut normal (oxygenated environment), oxygen-poor (dysaerobic)
environment, dan euxinic (anoxic) depositional environment berdasarkan rasio C/S
dalam mudrock.
Walters et al (1987) menggunakan unusr major dan jejak, ermasuk fosfor, besi,
Vanadium, Chromium, nickel, dan zinc, dalam menghubungkan mineraloginya dan
unsur unsur tersebut untuk membedakan mana mudrock yang marine dan nonmarine.
Usaha usaha nini telah memberikan sedikit kesuksesan meski belum cukup
meuaskan, tapi setidaknya unsur jejak ini sekiranya bisa dipakai dan cukup berguna
untuk membedakan unit batuan yang berbeda kelompok fasiesnya, dalam unit
stratigrafi yang berdada dalam suatu cekungan (Amajor, 1987; Stow dan Atkinn,
1987; Walters et al., 1987).
Studi isotop juga dipake untuk mencirikan sedimen dan lingkungan
pengendapannya. Oleh Maynard (1980)dan Gautier (1986) menemukan bahwa rasio
isotop sulfur berhubungan dengan sedimentation rate. Gautier (1986) juga
menghubungkan komposisi isotop terhadap kondisi lingkungan tertentu. Dia juga
menjelaskan persebaran pirit dalam mudrock yang mengandung sedikit sulfur
hadir dalam batuan yang kaya kandungan karbon organik. Batuan ini terlaminasi
(tapi bukan akibat bioturbasi) dan muds rupanya diendapakan pada lingkungan
anoxic (eweuh oksigen). Sedangkan mudrock terbioturbasi (nonlaminated)

kemungkinan diendapkan pada air yang teroksigenasi dengan kandungan karbon


organik yang rendah dan hal I dtunjukan oleh suatu kisaran tertentu dari nilai isotop
sulfur.
Kimia Organik
Karbon organik, oleh Gautier (1986) menggunakan hubungan sulfur untuk
mengetahui karakteristik mudrock, yang mana sulfur ini merupakan suatu
kandungan yang umum dalam mudrock. shale, memiliki kandungan organik 2.1 %
(Degens, 196, p 202), tapi bisa mencapai hingga kisaran 35% (Bradley, 1948;
Simoneit, 1974; Claypool, Love, dan maugham (1978) dan lain lain). Karbon organik
ini menghasilkan endapan batubara (berasal material tumbuhan yang terkonsentrasi
dalam jumlah besar) dan minyak (dimana material organik amophous melimpah).
Apapun sumber asal dari sumber organik dari organik debris, terdapat juga aksi
mikroba yang dihasilkan oleh bakteri dan fungi yang merubah komposisi kimia dari
material (Ourrion, Albrecht, danRohmer, 1984).
Kandungan organik dari sedimen beragam. Termasuk senyawa amino, karbohidrat
dan turunanya, lipid, isoprenoid, steroid, senyawa heterocyclic, fenol, quinones,
senyawa basah, hidrokarbon, dan aspal (Degens, 1965 hal 2). Lipid merupakan
rantai panjang dari asam karboksil, khususnya pada tumbuhan dan lemak hewan.
Sementara kerogen merupakan suatu senyawa yang halus, berwaran coklat (brown)
sampai hitam, tidak laurt, secara umum disusun oleh karbon, hidrogen, oksigen, dan
nitrogen, plus or minus sulfur. Baik lipid maupun kerogen merupakan dua jenis
material organik yang penting dalam mudrock. (Fporsman dan Hunt, 1958)
Khususnya jenis senyawa organik dan rasio senyawa ini berguna untuk mencirkan
sumber sedimen dan sejaarah pemanasan (thermal history) dari mudrock. dalam
material keseluruhan dari mudrock (diantara lipid dan kerogen), indikator molekul
penyusunnya dapat menjadi ciri atau indikator untuk menentukan source dari
mudrock. sebagai contoh lipid perlene dapat menjadi indikator untuk origin terigen
(Aizenshtat, 1973; Simoneit, 1976). Sama halnya, rasio pirstane/phytane mencirikan
laminasi mudrock dari derivasi kontental (L.M Pratt, Claypool, dan King, 1986).
Simoneit (1986) menyimpulkan bahwa asal muasal dari material organic debris pada
batuan cretaceous di laut, adalah terrestrial (darat) dan marine. Adal muasal ini
semakin susah diuraikan lagi seiring meningkatnya kontrol diagensisi, yang bisa
mempengaruhi perubahan rasio unsur dan karena penambahan lipid (Ourrison,
Albrecht, dan Rohmer, 1984).

Perbedaan antara batuan mudrock yang kaya akan karbon organik (dengan mudrock
lain) yang akaya karbon ini dinamakan black shale. Secara luas didistribusikan
dalam rekaman geologi, dan secara khusus merupakan produk dari pengendapan
amrin cretaceous. Dan pengendapan devon marine di antartika utara. Hipotesis
bahwa shale dari matrial sedimen kaya organik merupakan anoxic bottom dari tubuh
air secara umum telah dapat diterima. Bukti karbon biomolekular, dihasilan oleh
bakteri sulfur hijau, dalam black shale yang terbentuk pada utara samudra atlantik,
mendukung hiptoesis ini bahwa pada pertengahan cretaceous di laut ini merupakan
anoxic (Sinninghe Damste dan Koster, 1998) dan black shale pada atlantik jurassik
dan cretaceous black shale diidentifikasi kedalam tiga tipe matrial organik (Tasot et
al, 1980; B.J Katz dan Pheifer, 1986):
1. material organik marine yang terpreservasi baik, dengan nilai tinggi secara relatif
dari rasio Hidrogen/karbon (H/C) berada pada kisaran 1.2 dan nilai Oksigen/karbon
(O/C) dalam kerogen yaitu kurang dari 0.15
2. material organik terpreservasi secara moderat dari terresrial origin (dari darat
atau kontinen) dengan nilai H/C sekitar 0.85 dan nialai O/C dalam kerogen yang
bisa mencapai 0.3
3. matrial organik terdaur (recycled) atau teralterasi, dengan nilai H/C kurang dari
0.7 dan O/C yang bervariasi, dan variasi ini cukup luas sifatnya.
Fakta yang menunjukan proporsi relatif dari tipe ini berbeda dari satu lokasi ke
lokasi lain pada level stratigrafi tertentu, mengindikasikan bahwa origin dari
kandungan sedimen dalam mudrock juga bervariasi. Menurut B.J Katz dan Pheifer
(198/6) bahwa kondisi anoxic tidak diperlukan bagi formasi black shale. Pendapat
ini diterima secara luas. Rapid burial, aktivitas organik yang tinggi, kondisi rekduksi,
dan senyawa organik yang presisten serta metastabil dapat menjadi komponen yang
melimpah secara lokal dalam membentuk formasi blackshale yang besar. (Raymond,
2002).
Warna
Kenapa warna begitu penting pada mudrock? ingat pelajaran sma kelas 1 (kalo
sekarang mah kelas 10 yah hahaha makin gede aja angkanya), apa saja yang menjadi
ciri terjadinya reaksi kimia? ada bau, ada zat baru, ada perubahan suhu, ada
WARNA.. loh warna?? Iya warna.

Perubahan warna pada batulempung mengambarkan mineralogi dan kandungan


organik di dalamnya (Raymond, 2002). Kisaran warna yang umum muncul pada
mudrock sekitar putih sampai abu abu dan hitam, dan termasuk kilap yang
diadalmnya berada pada kisaran violet, biru, hijau, kuning, orange, coklat, dan
merah.
tiga warna yang paling umum dalam mudrock adalah coklat, abu abu, dan hitam.
Tiga warna ini umumnya dipengaruhi oleh warna material organik di dalamnya,
khususnya yang kandungan material organiknya banyak maka warnanya akan
semakin gelap. Sebagai contoh Sheu dan Presley (1986) menemukan bahwa laminasi
shale dengan warna abu abu gelap dan hitam pada Orca Basin di teluk meksiko
mengandung >1% organic carbon, sementara yang mengandung material organik
<1% akan berwarna abu abu terang.

diagram perubahan warna pada mudrock berhubngandengan kandungan mateiral organik dan tingkat oksidasi
besi (Potter, Maynard, dan Pryor,. 1980 dalam raymond 2002)

Proses pengendapan dan diagensis mungkin dapat lebih penting dari warna material
detritus yang mempengaruhi warna mudrock. proses lainnya adalah proses oksidasi
dan reduksi yang terjadi. Oksidasi menghasilkan rasio ferik dan ferus yang tinggi
(Fe3+/Fe2+) dan formasi dari batuan hematitik yang berwarna merah. Reduksi
meningkatkan jumlah besi ferus (Fe2+), reduksi akan mengikatkan jumlah karbon
organik. Pada batuan ini ummnya akan ada kandungan pirit danmarkasit yang
merupakan fase senyawa besi yang umum.

Yang menarik Tomlinson (1916) melakukan studi mengenai warna pada slate
(batuan metamorf dengan protlit mudrock), hasil penelitiannya menunjukan bahwa
perubahan warna hadir sebagai fungsi dari perbedaan rasio besi feric terhadap
ferous. Rasio yang tinggi (>2:1), dalam batuan memiliki total besi 3 sampai 6% dari
toal besi menghasilkan red slate. Kemudian warna purple (ungu) pada purple slate,
memiliki nilai rasio dua ion besi ini dengan nilai lebih rendah 1:1. Hijau dan hitam
(green dan black slate) memiliki rasio dua ion besi 1:2. Sementara itu Thomson
(1970) mempelajari perilaku warna batuan pada formasi Bald Eagle dan Juniata di
Pennsylvania, ia menemukanbahwa kandungan hematit memberikan kesan merah,
sementara pyrite dan chloirte menjadi fase penting dalam memberikan warna abu
abu-hijau pada batuan. McBride (1974) memperluas observasi ini dengan
mempelajari multiwarna pada shale yang berasal dari berbagai source terrane, ia
menemukan suatu penurunan nilai Ferric/Ferrous menghasilkan urutan warna dari
merah ke kuning ke hijau, dan ia menemukan bahwa (1) shale merah dan coklat
mengandung oksida besi pada selimut butirannya, (2) shale hijau dicirkan oleh
kehadiran mineral kloirt dan illite, tapi kurang signfikan jumlah hematit, mateiral
organik, dan sulfidanya, (3) shale olive (biru) dan kuning mengandung campuran
klorit illite, material organik, dan sulfda besi, da (4) shale abu abu memiliki wrana
ini karena kandungan material organik dan sulfida. Meskipun terdapat bukti bahwa
pada beberapa kasusu warna hijau dan abu dalam batuan mengandung sedikit total
besi dibandingin sama area warna yang menempatinya, hal ini tidak diperlukan
dalam perkembangan kolorasi hijau pada shale.
Struktur sedimen yang berkembang
struktur yang paling umum pada mudrock adalah bedding dan lamination. struktur
ini dapat hadir secara paralel, bergelombang, atau lenticular. stratifikasi paralel
dalam mudrock merupakan hasil dari sediment rain dari mekanisme arus supensi
pada pengendapan normal, pengendapan oleh storm (badai) dan flood (banjir),
pengendapan oleh contour current, dan varve deposition (pengendapan sedimen
halus oleh aktivitas glasial menghasilkan endapan ritmik berupa material sedimen
halus berukuran pasir sangat halus sampai lempung) (D.L Reedet al, 1987; R.Y
Anderson dan Dean, 1988). preservasi dari laminasi kemungkinan hadir akibat: (1)
kondisi bottom anoxic, toxic hingga tidak ada kehidupan organisme, dan hal ini
bersifat preventif (terjaga) oleh aktivitas organisme (karena laminasi gampang rusak
oleh aktivitas biogenik yang membuat struktur jejak), (2) tingkat sedimentasi yang
tinggi (Leithold, 1993). Wavy lamination, termasuk flasaer lamination hadir sebagai
akibat : (1) pengendapan (dari arus suspensi) dari kombinasi arus traks, dengan
struktur lokal scour (erosional), dan sediment rain, (2) deformasi ringan dari

sedimen lunak, atau (3) pertumbuhan kristal postdepositional. struktur laminasi


lenticular hadir pada interval fasies Tc dari mudrock turbidite, dimana pada bagian
ini juga menunjukan adanya ripple marks, dan arus traksi yang bekerja juga
memegang andil dalam pengendapan.
berbagai struktur lainnya yang dijumpai pada mudrock. struktr primer termasuk
ripple mark, flame structure, slat crystal cast, graded bedding, struktur sekunder,
termasuk struktur diagenetik dan deformasional, hadir seperti konkresi, crystal cast,
load cast, rain print, mudcracks, color banding (termasuk lisegang rings) burrows,
bioturbated, disrupted, dan covoluted bedding, escape structure (fluid escape ex:
dish and pillar), soft sedimen fold (slump), soft sediment fault, clastic dikes, fold,
joint, faults, dan slickenside (saya juga heran kenapa yang terkahir ini dimasukin
kategori struktur sedimen oleh raymond padahal dia kan hasil deformasi tektonik
tapi begitu adanya di bukunya halaman 348).
fissilitas (kecenderungan shale untuk terpisah menjadi lembaran lembaran bahasa
indonesianya kemenyerpihan kali yah hahaha gak tau sob), mungkin akan
memberikan ciri enigmatik dari origin (asal muasal) dari mudrock yang
berhubungan dengan kombinasi pengaruh sedimentasi, kompaksi, dan pelapukan.
secara khas hadir pada batuan yang muncul dipermukaan (fisilitas itu) (Lundegard
dan Samuels, 1980).
Tekstur
ini bagian yang rumit diceritakan karena batuan murock dan segala macam jenisnya
memerlukan mikroskop khusus untuk mengamati hubungan butirannya yang super
imut itu.
rekstur pada mudrock biasanya bertekstur epiklstik. batuan kaya clay, namun
memiliki foliasi lemah karena kemelurusan saat pengendapan terjadi. (Raymond,
2002). karena ukuran butiranya yang sangat halus, hampir semua mudrock memiliki
sortasi yang baik sampai sangat baik. adapaun siltstone mengandung komponen pasi
ryang cukp signifikan jadi kemungkinan terpilah sedang dan adapun pebbly
mudstone bila hadir sifat teksturnya terpilah buruk. butiran umumnya angular,
kecuali untuk silt, sand, atau klas berukuran lebih kasar, yang man a secara lokal
mungkin membundar (Amazzulo dan Peterson, 1989 dalam Raymond, 2002).
rekristalisasi selama diagenesis menunjukan tekstur kristalin dalam mudrock, yang
hadir dari ukuran ekigranular teranyam (sutured equigranular). hingga tipe
poikilotopik.

Lingkungan Pengendapan dan keterdapatan Shale (mudrock)


mudrock dapat hadir pada setting lingkungan apapun dimana sedimen halus
melimpah dan energi air cukup lemah sehingga memudahkan settling (terendapnya)
material suspensi halus ini berupa silt dan clay (Boggs, Jr., 2006 144). shale secara
khsusu mencirikan lingkungan laut yang dekat dengan kontinen dimana lantai laut
berada dibawah storm wave base. tapi bisa juga hadir di danau dan air tenang pada
bagian tertentu di lingkungan sungai, dan di lagoon, tidal-flat, dan lingkungan
deltaik (Boggs, Je p 145).
sedimen silisiklastik halus yang merupakan produk langsung hasil pelapukan
jumlahnya melebihi partikel sedimen yang lebih kasar saat pelapukan terjadi. karena
kelimpahan jumlah sedimen halus ini maka sedimen halus ini dapat diendapkan
pada lingkungan manapun dimuka bumi dengan arus yang tenang, selama ini
diketahui shale merupakan jenis sedimen yang paling banyak jumlahnya mengisi
permukaan bumi perkiraan kasarnya mencapai 50% total sedimen yang menutupi
permukaan bumi, umumnya berselang seling dengan batupasir atau batugamping
pada unit ketebalan yang bervariasi mulai dari beberapa milimiter hingga puluan
meter. bahkan ada yang mendekati satu unit masif shale dapat mencapai ratusan
meter tebalnya. unit shale pada lingkungan laut cukup luas secara lateral
persebarannya (terutama laut dalam).
menurut Raymond (2002) mudrock ini dapat terbentuk di kontinen pada daerah
fluvial floodplains, alluvial fans, playa lake, playa dan sabkhas, swamps, caves, dan
lake yang menunjukan varasi klimatik, topografik, dan lingkungan tektonik tertentu.
pada lingkungan transisi mudrock umumnya terbentuk pada estuari, lagoon, dan
marshes. mudrock terdistribusi secara luas pada daerah shelf dan endapan lerng,
juga pada daerah rise (continental rise), trench, dan basin plain. (Raym0nd, 2002 p
341) bayangin aja hampir semua lingkungan pengendapan disebutin artinya..
mudrock adalah jenis batuan sedimen terbanyak yang mengisi permukaan bumi.
mantaaab..

terminologi struktur tebal perlapisan pada shale dan siltstone (dalam boggs, 2006)

jadi meski suatu lingkungan memiliki arus yang kuat karena mud pasti ada dimana
kemungkinan terendapkannya mud ini bisa saja terjadi meski berupa layer yang
tipis. pada lingkungan shelf yang dekat kontinen dimana arus pasang surut terjadi
mud bisa saja dibawa oleh arus tidal (pasang). shelf mud contoh kontemporer
(modern) adalah di selatan teksas pada teluk meksiko. seperti ilustrasi dibawah ini.

ilustrasi perserbaran sedimensilisiklastik halus di shelf texas selatan

Sisanya adalah galeri tambahan

gulf of mexico, dimana bagian barat lautnya ada tesas shelf. dan shelf shelf lain yang mengelilinginya. disini
juga ada foramasi mud yang terbentuk.

contoh distribusi sedimen di Nazca plate yang dibatasi oleh tinggian (rift) di sekelilingnya, perhatikan lokasi
formasi shale yang mengisi tengah cekungan dibagian yang paling dalam.

peta distribusi persebaran sedimen di muka bumi (perhatikan bagaimana begitu luasnya formasi mudrock
mengisi hampir semua posisi dari margin (shelf) sampai laut dalam dan disepanjang batas batuan karbonat
dan lain sebagainya)

diskriminasi zonasi anoxic dan oxic (zona tidak ada oksigen dan ada oksigen)

contoh gambar shale (perhatikan struktur laminasi pada tububh batuan batasan ini yang membedakannya
dengan terminologi mudstone meski materialnya sama sama aja)

mudstone (jenis mudrock yang tidak memiliki fisilitas kayak shale padahal materialnya sama sama aja.. :D)

Sedimentologi dan Sedimentasi

Sedimentologi :

adalah

cabang

ilmu

Geologi

yang

mempelajari

mengenai

Batuan

sedimen,cara

terbentuknya,lingkungan terbentuknya,proses dan faktor-faktor yang berperan dan komponen-komponen pada

batuan

sedimen.

Sedimentasi : adalah proses penimbunan atau terakumulasinya partikel atau komponen sedimen dalam suatu
tempat yang

biasanya

berbentuk

pembagian

cekungan

dengan

mengalami beberapa

batuan

proses

terlebih

dahulu.

sedimen:

- Terrigenous Clastic Sedimentary Rock

konglomerat

- Chemical Sedimentary Rock

Rijang

- Bio-Chemical Sedimentary Rock

Coquina

- Precipitate Sedimentary Rock

Iron

- Volcanoclastic Sedimentary Rock

stone

Tuffa

adapun lingkungan pengendapan dibagi menjadi tiga wilayah:

1.

Lingkungan
yaitu

lingkungan

2.

pengendapan

pengendapan

yang

Lingkungan
yaitu

lingkungan

3.

pengendapan

proses-proses
1. Pelapukan

lingkungan

yang

di

daratan

atau

pengendapan
yang

berada

Lingkungan
yaitu

berada

Continental

di

Transitional

batas

antara

daratan

dan

pengendapan
pengendapan

berperan

yang

benua

laut
Marine

berada

dalam

di

laut

sedimentasi

Batuan asal atau Source rock yang dapat berupa batuan Beku,Sedimen,Metamorf yang mengalami pelapukan
yang

di
-

sebabkan
faktor
-

oleh

beberapa

fisik
faktor

faktor,

antara

suhu(baik

kimia

lain,faktor

panas
:

maupun

kadar

fisik,faktor

kimia

dingin),tekanan

dan
dan

faktor

biologi.

kelembaban

keasaman/pH,hidrolisis,oksidasi

dll

- faktor biologi : pelapukan akibat adanya aktifitas makhluk hidup seperti akar tanaman yang masuk kedalam
batuan

dan

pembuatan

lubang

oleh

binatang.

2. Erosi

Setelah batuan asal melapuk,kemudian sedikit demi sedikit terjadi penggerusan atau erosi pada surface.
3. Transportasi

Batuan yang telah tergerus dan menghasilkan butiran atau partikel, kemudian partikel tersebut di bawa/di
transportkan

menuju

lingkungan

pengendapan

oleh

beberapa

faktor,

yaitu

air,angin

dan

es.

4. Sedimentasi

Yaitu
5. Litifikasi

peristiwa

terakumulasinya

partikel-partikel

pada

suatu

tempat.

Peristiwa

pembatuan

atau

pemadatan

sedimen

yang

di

pengaruhi

oleh

tekanan.

Lingkungan Pengendapan Sedimen


I. Konsep Tentang Lingkungan Pengendapan

Lingkungan pengendapan adalah tempat mengendapnya material sedimen beserta


kondisi fisik, kimia, dan biologi yang mencirikan terjadinya mekanisme pengendapan
tertentu (Gould, 1972). Interpretasi lingkungan pengendapan dapat ditentukan dari struktur
sedimen yang terbentuk. Struktur sedimen tersebut digunakan secara meluas dalam
memecahkan beberapa macam masalah geologi, karena struktur ini terbentuk pada tempat
dan waktu pengendapan, sehingga struktur ini merupakan kriteria yang sangat berguna
untuk interpretasi lingkungan pengendapan. Terjadinya struktur-struktur sedimen tersebut
disebabkan oleh mekanisme pengendapan dan kondisi serta lingkungan pengendapan
tertentu.
Beberapa aspek lingkungan sedimentasi purba yang dapat dievaluasi dari data
struktur sedimen di antaranya adalah mekanisme transportasi sedimen, arah aliran arus
purba, kedalaman air relatif, dan kecepatan arus relatif. Selain itu beberapa struktur
sedimen dapat juga digunakan untuk menentukan atas dan bawah suatu lapisan.
Didalam sedimen umumnya turut terendapkan sisa-sisa organisme atau tumbuhan,
yang karena tertimbun,terawetkan. Dan selama proses Diagenesis tidak rusak dan turut
menjadi bagian dari batuan sedimen atau membentuk lapisan batuan sedimen. Sisa-sia
organisme atau tumbuhan yang terawetkan ini dinamakan fossil. Jadi fosill adalah bukti atau
sisa-sisa kehidupan zaman lampau. Dapat berupa sisa organisme atau tumbuhan, seperti
cangkang
kerang,
tulang
atau
gigi
maupun
jejak
ataupun
cetakan.
Dari studi lingkungan pengendapan dapat digambarkan atau direkontruksi geografi purba
dimana pengendapan terjadi.
Lingkungan pengendapan merupakan keseluruhan dari kondisi fisik, kimia dan
biologi pada tempat dimana material sedimen terakumulasi. (Krumbein dan Sloss, 1963)
Jadi, lingkungan pengendapan merupakan suatu lingkungan tempat terkumpulnya material
sedimen yang dipengaruhi oleh aspek fisik, kimia dan biologi yang dapat mempengaruhi
karakteristik sedimen yang dihasilkannya.
Secara umum dikenal 3 lingkungan pengendapan, lingkungan darat transisi, dan
laut. Beberapa contoh lingkungan darat misalnya endapan sungai dan endapan danau,
ditransport oleh air, juga dikenal dengan endapan gurun dan glestsyer yang diendapkan

oleh angin yang dinamakan eolian. Endapan transisi merupakan endapan yang terdapat di
daerah antara darat dan laut seperti delta,lagoon, dan litorial. Sedangkan yang termasuk
endapan
laut
adalah
endapan-endapan
neritik,
batial,
dan
abisal.
Contoh Lingkungan Pengendapan Pantai : Proses Fisik : ombak dan akifitas gelombang
laut, Proses Kimia : pelarutan dan pengendapan dan Proses Biologi : Burrowing. Ketiga
proses tersebut berasosiasi dan membentuk karakteristik pasir pantai, sebagai material
sedimen yang meliputi geometri, tekstur sedimen, struktur dan mineralogy.

II. Parameter Lingkungan Pengendapan


Parameter fisik meliputi elemen static dan dinamik dari lingkungan pengendapan.
1. Elemen fisik
-

Elemen fisik statis meliputi geometri cekungan(Basin); material yang diendapkan seperti
kerakal silisiklastik, pasir, dan lumpur; kedalaman air; suhu; dan kelembapan.

Elemen fisik dinamik adalah faktor seperti energy dan arah aliran dari angin, air dan es; air
hujan; dan hujan salju.
2. Parameter kimia termasuk salinitas, pH, Eh, dan karbondioksida dan oksigen yang
merupakan bagian dari air yang terdapat pada lingkungan pengendapan.
3. Parameter biologi dari lingkungan pengendapan dapat dipertimbangkan untuk meliputi
kedua-duanya dari aktifitas organism, seperti pertumbuhan tanaman, penggalian,
pengeboran, sedimen hasil pencernaan, dan pengambilan dari silica dan kalsium karbonat
yang berbentuk material rangka. Dan kehadiran dari sisa organism disebut sebagai material
pengendapan.
III. Proses Sedimentasi dan Produknya
Tiap lingkungan sedimen memiliki karakteristik akibat parameter fisika, kimia, dan
biologi dalam fungsinya untuk menghasilkan suatu badan karakteristik sedimen oleh tekstur
khusus, struktur, dan sifat komposisi. Hal tersebut biasa disebut sebagai fasies. Istilah fasies
sendiri akan mengarah kepada perbedaan unit stratigrafi akibat pengaruh litologi, struktur,
dan karakteristik organik yang terdeteksi di lapangan. Fasies sedimen merupakan suatu unit
batuan yang memperlihatkan suatu pengendapan pada lingkungan.

Proses Pengendapan Di Air Dan Darat


Proses pengendapan di air, terbentuknya berupa timbunan di laut dan akan berakhir
di air hangat. Namun pada kenyataan yang sering dijumpai, beberapa dikarenakan oleh
aliran sungai. Ini juga termasuk timbunan di danau dan delta. Keseluruhan proses

pengendapan hingga saat ini dapat diamati dalam berbagai bentuk walaupun ada beberapa
aspek pengendapan yang tidak sempurna. Kemungkinan ini digunakan untuk
mengklasifikasikan cara utama dimana material mengendap karena perpindahan air.
Proses pengendapan di daratan, sebagai tempat awal, tertransportasikan oleh arus sungai
yang deras. Batuan yang terpisah / tanah yang tererosi akan dibawa oleh aliran sungai,
mulai dari dasar hingga menuju puncaknya. Selama arus bergerak membelok dan
memasuki area, kecepatannya akan menurun dan semakin banyaknya muatan yang dibawa
akan terendap pada kerucut aluvial atau kipas aluvial. Endapan akan dapat dibedakan
disekitar pegunungan dan sering dijumpai pada derah yang luas dan dalam. Banyak
material sedimen ditemukan di daratan pesisir di Amerika dan kemungkinan terbentuk di
daerah tersebut. Timbunan menunjukkan stratigrafi yang berasal dari formasi alaminya, dan
karena perubahan volume aliran sungai yang deras, lapisan yang ada di dekatnya akan
menjadi sangat berubah. Timbunan kerucut aluvial selalu menunjukkan perbedaan utama
dari endapan kasar [termasuk bongkahan] di puncak dengan lempung di luarnya. Jika
proses erosi terus berlanjut tanpa adanya pergerakan bumi, material yang ada di kerucut
alivisl akan tererosi sendirinya.
Tingkat akhir dalam proses pertumbuhan sungai juga menjadi faktor proses pengendapan.
Setelah sungai mencapai tingkat dewasa, akan bertambah volume pengangkatan material
sedimennya. Natural leeves akan terbentuk pada saluran sungai dan pada saat itu juga air
meluap, mengisi area lain disetiap sampingnya dimana proses pengendapannya lambat.
Area ini lebih dikenal sebagai alluvial / plain. Timbunan material di area tersebut juga akan
terstratigrafikan.
Didaerah padang pasir, sungai mengalir menuju ke cekungan dalam yang kering / terisi air
yang dangkal. Pengendapannya terjadi di bebrapa daerah dimana ketika air meluap
membawa banyak material. Jika pergerakan bumi mendukung proses pengendapan,
dalamnya timbunan akan menjadi seimbang dan kejadian ini ternyata sudah berlangsung
dari waktu yang cukup lama. Material akan terstratigrafikan, namun banyak juga yang
hilang. Material tersebut bervariasi, biasanya mencakup lapisan garam dan gypsum. Sungai
mengalir menuju danau dan membawa timbunan kemudian menuju delta dan laut.
Pengendapan di laut biasanya terbentuk dalam 3 daerah, yaitu :
1. Zona pantai
2. Zona dangkalan
3. Zona laut dalam
Material pada zona pantai memiliki keadaan alami secara sementara, sejak timbul di garis
pantai dan akan berubah secara tetap. Material ini didominasi oleh materioal kasar [pasir
dan kerikil].
Transportasi

Proses transprtasi adalah proses perpindahan / pengangkutan material yang


diakibatkan oleh tenaga kinetis yang ada pada sungai sebagai efek dari gaya gravitasi.
Sungai mengangkut material hasil erosinya dengan berbagai cara, yaitu
a. Traksi, yaitu material yang diangkut akan terseret pada dasar sungai.
b. Rolling, yaitu material akan terangkut dengan cara menggelinding pada dasar sungai.
c. Saltasi, yaitu material akan terangkut dengan cara meloncat pada dasar sungai.
d. Suspensi, yaitu proses pengangkutan material secara mengambang dan bercampur dengan
air sehingga menyebabkan air sungai menjadi keruh.
e. Solution, yaitu pengangkutan material larut dalam air dan membentuk larutan kimia.
Sedimentasi
Proses sedimentasi adalah proses pengendapan material karena aliran sungai tidak
mampu lagi mengangkut material yang dibawanya. Apabila tenaga angkut semakin
berkurang, maka material yang berukuran besar dan lebih berat akan terendapkan terlebih
dahulu, baru kemudian material yang lebih halus dan ringan. Bagian sungai yang paling
efektif untuk proses pengendapan ini adalah bagian hilir atau pada bagian slip of slope pada
kelokan sungai, karena biasanya pada bagian kelokan ini terjadi pengurangan energi yang
cukup besar. Ukuran material yang diendapkan berbanding lurus dengan besarnya energi
pengangkut, sehingga semakin ke arah hilir, energi semakin kecil, material yang
diendapkanpun
semakin
halus.
Sedimentasi adalah terbawanya material hasil dari pengikisan dan pelapukan oleh air, angin
atau gletser ke suatu wilayah yang kemudian diendapkan. Semua batuan hasil pelapukan
dan pengikisan yang diendapkan lama kelamaan akan menjadi batuan sedimen. Hasil
proses sedimentasi di suatu tempat dengan tempat lain akan berbeda.
Pengendapan oleh air laut
Batuan hasil pengendapan oleh air laut disebut sedimen marine. Pengendapan oleh
air laut dikarenakan adanya gelombang. Bentang alam hasil pengendapan oleh air laut,
antara lain pesisir, spit, tombolo, dan penghalang pantai. Pesisir merupakan wilayah
pengendapan di sepanjang pantai. Biasanya terdiri dari material pasir. Ukuran dan
komposisi material di pantai sangat bervariasi tergantung pada perubahan kondisi cuaca,
arah angin, dan arus laut. Arus pantai mengangkut material yang ada di sepanjang pantai.
Jika terjadi perubahan arah, maka arus pantai akan tetap mengangkut material material ke
laut yang dalam. Ketika material masuk ke laut yang dalam, terjadi pengendapan material.
Setelah sekian lama, terdapat akumulasi material yang ada di atas permukaan laut.
Akumulasi material itu disebut spit. Jika arus pantai terus berlanjut, spit akan semakin
panjang. Kadang kadang spit terbentuk melewati teluk dan membetuk penghalang pantai
(barrier beach).

Pengendapan oleh angin


Sedimen hasil pengendapan oleh angin disebut sedimen aeolis. Bentang alam hasil
pengendapan oleh angin dapat berupa gumuk pasir (sand dune). Gumuk pantai dapat
terjadi di daerah pantai maupun gurun. Gumuk pasir terjadi bila terjadi akumulasi pasir yang
cukup banyak dan tiupan angin yang kuat. Angin mengangkut dan mengedapkan pasir di
suatu tempat secara bertahap sehingga terbentuk timbunan pasir yang disebut gumuk pasir.
Pengendapan oleh gletser
Sedimen hasil pengendapan oleh gletser disebut sedimen glacial. Bentang alam hasil
pengendapan oleh gletser adalah bentuk lembah yang semula berbentuk V menjadi U. Pada
saat musim semi tiba, terjadi pengikisan oleh gletser yang meluncur menuruni lembah.
Batuan atau tanah hasil pengikisan juga menuruni lereng dan mengendap di lembah.
Akibatnya, lembah yang semula berbentuk V menjadi berbentuk U.
1. Deposisi
Pengendapan Terjadi saat pengangkutan partikel yang membutuhkan energi dan terjadi
pada waktu yang relatif singkat. Endapan tersusun atas butiran butiran mineral. Dapat juga
menghasilkan endapan kimia pada kondisi yang berbeda.
2. Litifikasi
Terjadi dalam beberapa tahap, All
a. Kompaksi - Squeezing out of water.

taken

together

are

termed

Diagenesis.

b. Sementasi - Precipitation of chemical cement from trapped water and circulating water.
c.

Rekristalisasi-Growth

of

grains

in

response

to new equilibrium

conditions

IV.
Hubungan
Lingkungan
Sedimentasi
dan
Fasies
Sedimentasi
Walaupun para ahli geologi setuju pada hasil pengertian dari lingkungan pengendapan,
mereka ternyata menemukan kesulitan dalam penyusunan pengertian yang tepat dari
lingkungan pengendapan ini. Sebagai ilustrasinya, lingkungan sedimen telah digambarkan
dalam beberapa variasi yaitu :
1.Tempat pengendapan dan kondisi fisika, kimia, dan biologi yang menunjukkan sifat khas dari
setting pengendapan [Gould, 1972].
2. Kompleks dari kondisi fisika, kimia, dan biologi yang tertimbun [Krumbein dan Sloss, 1963].
3. Bagian dari permukaan bumi dimana menerangkan kondisi fisika, kimia, dan biologi dari
daerah yang berdekatan [Selley, 1978].
4. Unit spasial pada kondisi fisika, kimia, dan biologi scara eksternal dan mempengaruhi
pertumbuhan sedimen secara konstan untuk membentuk pengendapan yang khas [Shepard
dan Moore, 1955].

Definisi tersebut memang berbeda, tetapi pada umumnya memberikan tekanan pada kondisi
fisika, kimia, dan biologi. Pada konteks ini, lingkungan pengendapan mengarah pada unit
geomorfik dimana terjadi pengendapan. Lingkungan ini dibentuk dari parameter khusus
fisika, kimia, dan biologi yang sesuai terhadap unit geomorfik dari geometri dan ukuran
partikular. Proses ini akan mengoperasikan tingkat dan ntensitas yang menghasilkan tekstur
khas, struktur, dan sifat lainnya, sehingga pengendapan yang khusus akhirnya terbentuk.
Sebagai contohnya, pantai akan mempertimbangkan unit geomorfik dari ukuran dan bentuk
tertentu, proses fisika tertentu [gelombang dan aktivitas arus], proses kimia [solusi dan
presipitasi], dan proses biologi [penggalian, sedimen ingestion, dan aktivitas serupa] yang
terjadi untuk menghasilkan badan pasir pantai yang khas oleh partikular geometri, tekstur
dan struktur sedimen, dan mineralogi.
Fasies menunjukkan unit stratigrafi yang mengacu pada aspek litologi, struktural, dan
karakter
organisme
yang
dapat
dikenali
di
lapangan.
Tiap lingkungan sedimen memiliki karakteristik akibat parameter fisika, kimia, dan biologi
dalam fungsinya untuk menghasilkan suatu badan karakteristik sedimen oleh tekstur
khusus, struktur, dan sifat komposisi. Hal tersebut biasa disebut sebagai fasies. Istilah fasies
sendiri akan mengarah kepada perbedaan unit stratigrafi akibat pengaruh litologi, struktur,
dan karakteristik organik yang terdeteksi di lapangan. Fasies sedimen merupakan suatu unit
batuan
yang
memperlihatkan
suatu
pengendapan
pada
lingkungan
Interpretasi lingkungan umumnya menghambat karena adanya suatu kenyataan mengenai
kecenderungan fasies yang sama yang dihasilkan pada setting lingkungan yang berbeda.
Hal tersebut sering terjadi sehingga akan membuat suatu penyajian lingkungan yang khas
pada suatu dasar fasies pengendapan tunggal. Sebagai contohnya, perlapisan silang siur
dari batupasir dapat dibentuk karena transportasi angin dan air. Jika terendap pada air,
mereka akan terbentuk pada suatu pantai, sungai, pada saluran pasang surut, pada
dangkalan samudera, atau pada lingkungan yang lain dimana proses traksi dapat
berlangsung. Interpretasi lingkungan akan dapat kita kuasai jika kita mampu mempelajari
hubungan fasies dengan urutan yang benar dibandingkan dengan fasies tunggal. Hubungan
suatu fasies dapat digagaskan dalam pembagian grup fasies yang terjadi secara bersama
sama yang selanjutnya akan berkaitan dengan lingkungan. Sebagai contohnya, jika pada
perlapisan silang siur batupasir asosiasi terdekatnya adalah dengan terkandungnya tanah,
batubara, atau serpih lanauan yang mengandung akar, daun, dan batang, kita bisa
membuat interpretasi pengendapannya pada sistem sungai. Dalam mempelajari hubungan
fasies dan urutannya, kita harus benar benar memperhatikan keadaan alami dari kontak
hubungan antara fasies dan derajat urutan baik acak maupun tidak. Dengan adanya aplikasi
dari prinsip stratigrafi, kita dapat menduga hubungan dari dua fasies karena kontak derajat
atau penggambaran batas dari pendekatan lateral. Sementara itu, hubungan fasies karena
kenaikan atau akibat erosi perbatasan yang mungkin dapat menggambarkan lingkungannya
ataupun tidak, pada pendekatan lateral. Pada kenyataannya, fasies karena kontak erosi
umumnya menandakan perubahan dari kondisi pengendapan dan menjadi permulaan siklus
sedimentasi yang baru. Fasies di dalam hubungan partikular akan tersebar vertikal pada

suatu cara pengacakan yang nyata atau mungkin menunjukkan pola tertentu dari perubahan
vertikal. Dua tipe umum dari perubahan fasies vertikal yaitu Coarsening Upward Sequence
dan Fining Upward Sequence.
Coarsening-upward sequences menunjukkan adanya penambahan kenaikan ukuran butir
dari dasar erosi atau kenaikannya. Hal ini menunjukkan peningkatan energi arus
pengendapan.
fining-upward sequences sendiri merupakan kebalikannya, yaitu ukuran butir akan
semakin halus dari puncak erosinya. Menunjukkan penurunan energi arus pengendapan

V. Dasar-dasar Analisis Lingkungan


Pengenalan
lingkungan
sedimen
didasarkan
1. Kriteria berdasarkan komponen pengendapan primer

pada

dua

kriteria

pokok:

a. Kriteria fisik
- Geometri unit fasies, menunjukkan bentuk 3 dimensi dari tubuh sedimen, antara lain:
bentuk equidimensional, seperti lembaran atau selimut, prisma
bentuk elongate, seperti pods, rebbon atau shoestring, dendroids (Potter, 1962).
- litologi, unit sedimen gross litologi merupakan indicator lingkungan pengendapan yang
sangat umum. Contohnya, tend batugamping menjadi deposit karena suhu hangat. shelves
laut dangkal.
- asosiasi fasies menyamping dan vertikal, hubungannya dengan pengamatan outcrop atau
penentuan data bagian permukaan, sangat penting untuk membedakan lingkungan
- struktur sedimen, penting untuk indikator lingkungan karena dibentuk oleh proses
pengendapan, terutama yang terbentuk di lingkungan pengendapan.

b. Kriteria geokimia
Komposisi unsur utama batuan sedimen silisiklastik berfungsi sebagai komposisi kimia
partikel
silisiklastik
yang
membentuk
batuan.
c. Kriteria biologi
Digunakan untuk rekonstruksi paleoenvironmental, fosil adalah salah satu yang sangat
berguna.

2. Kriteria berdasarkan kenampakan sedimen


a. Kenampakan ukuran dari log sumur mekanik, meliputi resistivity, sonic velocity, dan
radioaktivity.
b. Kenampakan interpretasi dari pengukuran sumur log meliputi density/porosity, ukuran
butir, litologi, dip perlapisan.
3. Karakteristik dari interpretasi darai reakaman refleksi seismic, antara lain hubungan
kontak utama (uniformity, comformity), strata kontinuitas, dip strata, identifikasi unit fasies
seismik.

VI. Klasifikasi Lingkungan Pengendapan


Klasifikasi
lingkungan
pengendapan
dapat
dibedakan
menjadi:
a. kontinetal, antara lain gurun atau eolian, fluvial termasuk braided river dan point bar river,
dan limnic
b. peralihan, termasuk delta. lobate, esturine, litoral (pantai, laguna, dan barrier islands,
offshore bar, tidal flat.
c.

marine,

meliputi

neritis

atau

laut

dangkal,

deep

neiritis,

batial,

abisal.

VII. Fasies Model


Model fasies adalah miniatur umum dari sedimen yang spesifik. Model fasies dapat
diiterpretasikan sebagai urutan ideal dari fasies dengan diagram blok atau grafik dan
kesamaan. Ringkasan model ini menunjukkan sebagaio ukuran yang bertujuan untuk
membandingkan framework dan sebagai penunjuk observasi masa depan. model fasies
memberikan prediksi dari situasi geologi yang baru dan bentuk dasar dari interpretasi
lingkungan. pada kondisi akhir hidrodinamik. Model fasies merupakan suatu cara untuk
menyederhanakan, menyajikan, mengelompokkan, dan menginterpretasikan data yang
diperoleh secara acak.
Ada bermacam-macam tipe fasies model, diantaranya adalah :
a)

Model Geometrik berupa peta topografi, cross section, diagram blok tiga dimensi, dan
bentuk
lain
ilustrasi
grafik
dasar
pengendapan
framework
Model Geometrik empat dimensi adalah perubahan portray dalam erosi dan deposisi oleh
waktu .

b)

Model statistik digunakan oleh pekerja teknik, seperti regresi linear multiple, analisis trend
permukaaan dan analisis faktor. Statistika model berfungsi untuk mengetahui beberapa
parameter lingkungan pengendapan atau memprediksi respon dari suatu elemen dengan
elemen lain dalam sebuah proses-respon model.

Provenance, Proses, dan Diagenesis Sedimen

Batuan sedimen berasal dari pelapukan dan erosi batuan yang telah ada sebelumnya. Sedimen
tertransportasi oleh bermacam-macam agen termasuk gravitasi, air yang mengalir, angin dan es yang bergerak
(gletser). Sediment tersebut akan berpindah dari asalnya ke tempat-tempat pengendapan yang beragam. Di
tempat tersebut sedimen diendapkan dalam berbagai macam litofasies yang karakternya tergantung pada
lingkungan pengendapannya. Setelah pengendapan dan terjadinya timbunan sedimen, akumulasi sedimen itu
mengalami diagenesis. Proses-peroses fisika, kimia dan biologi mengakibatkan: (1) perubahan dari sediment
menjadi batuan sediment, (2) terjadinya modifikasi pada tekstur dan mineralogi pada batuan. Diagenesis
berlawanan dengan pelapukan karena proses pelapukan merupakan perubahan dari batuan menjadi tanah. Arah
reaksi keduanya berlawanan. Pada pelapukan terjadi degradasi dan proses yang mengakibatkan batuan menjadi
lepas, terdiri dari mineral yang stabil pada permukaan bumi, sedangkan pada diagenesis material sedimen
berubah menjadi lebih padu.

Pelapukan dan Provenance

Sifat endapan sediment pada berbagai lingkungan tergantung pada beberapa faktor yaitu :

1. Sumber atau tempat sediment itu berasal, yang mengontrol jenis material yang terdapat sebagai
sedimen

2. Pelapukan dan transportasi, yang mengontrol perubahan-perubahan yang terjadi pada material
sedimen
3. Keadaan lingkungan pengendapan sedimen.

Pelapukan
Pelapukan secara umum terbagi menjadi proses yaitu:

1. Proses fisika yang disebut sebagai disintegrasi


2. Proses kimia yang disebut dekomposisi.

Prinsip disintegrasi pada pembentukan tanah atau sedimen yaitu berkurangnya ukuran butir tanpa
perubahan pada komposisi kimianya. Hal ini terjadi akibat penghancuran secara fisika melalui:
Abrasi, yaitu proses penggerusan batuan oleh agen transport seperti air dan es.
Frost Action, yaitu proses pembekuan air dalam batuan. Hal ini mengakibatkan batuan terpecah
akibat bertambahnya volume air ketika membeku.
Aktivitas biologi, di antaranya rekahan pada batuan karena pertumbuhan akar.
Berkurangnya ukuran butir mengakibatkan bertambahnya luas permukaan partikel, hal ini tentunya
akan meningkatkan laju reaksi kimia yang terjadi selama proses dekomposisi.

Proses dekomposisi diantaranya oksidasi, reduksi, solusi (larut), hidrasi, dan hidrolisis. Oksidasi
adalah proses dimana bilangan oksidasi (valensi) suatu ion meningkat sedangkan reduksi adalah
kebalikannya. Salah satu proses oksidasi yang umum pada pelapukan yaitu oksidasi pada besi.
Contohnya adalah magnetit, suatu mineral yang umum ditemukan pada batuan beku, sedimen dan
metamorf yang berubah menjadi mineral hasil pelapukan yang umum yaitu hematite.

4Fe2O3.FeO + O2 ---> 6 Fe2O3


Magnetit + Oksigen hematite
(Contoh proses reduksi yaitu pembentukan pirit pada kondisi anaerobik.)

Air berperan sangat penting dalam proses dekomposisi sebagai pelarut atau reaktan. Contohnya air
dan asam pada larutan merupakan dua agen pelarut utama. Pelarutan adalah proses yang mana
material yang dapat larut terlarut, atau pecah menjadi ion. Contohnya yaitu dekomposisi pada
piroksen:

(Mg, Fe, Ca)SiO3 + 2 H+ + H2O ---> Mg2+ + Fe2+ + Ca2+ + H4SiO4


Piroksen + Ion Hidrogen + air Ion Mg, Fe, Ca + molekul silicic acid

Reaksi yang sama terjadi pada mineral ferromagnesian silicates yang lain. Ion Ca, Mg dan silicic acid
yang dihasilkan pada reaksi ini tertransportasikan jauh melalui larutan, sedangkan ion Fe mungkin
mengalami oksidasi atau hidrasi atau keduanya dan terpresipitasi sebagai hematite atau geotit. Hal
yang sama, mineral karbonat terlarutkan menghasilkan ion Ca, Mg dan molekul bikarbonat, yang
semuanya tertransportasi sebagai larutan.

Air juga penting dalam hidrasi dan hidroslisis. Hidrasi adalah reaksi air dan komponen yang lain yang
menghasilkan fase lain. Contohnya, goetit yang dihasilkan dari hematite melalui reaksi hidrasi:

Fe2O3 + H2O ---> 2 FeOOH

Hidrolisis adalah reaksi kelebihan H+ atau OH- yang dihasilkan reaksi yang bersangkutan. Reaksi
hidrolisis terlihat sebagai reaksi penggantian kation suatu struktur mineral oleh hydrogen. Contohnya,
pelapukan olivine menjadi silicic acid, ion Fe dan Mg, dimana hydrogen menggantikan Mg dan Fe.

(Mg, Fe)2SiO4 + 4 H2O ---> xMg2+ + 2-xFe2+ + H4SiO4 + 4 (OH)-

Hal yang sama terjadi pada hidrolisis feldspar dan segera setelah itu membentuk mineral lempung
kaolinit:

KAlSi3O8 +H2O ---> HAlSi3O8 + K+ + OH-

2 HAlSi3O8 + 9 H2O ---> Al2Si2O5(OH)4 + 4 H4SiO4

Setiap proses dekomposisi adalah perubahan mineral yang tidak stabil pada permukaan bumi
berubah menjadi mineral, molekul, atau ion yang lebih stabil dibawah kondisi permukaan. Produk
utama pada proses ini yaitu kuarsa, mineral lempung, oksida besi, dan ion seperti Ca2+ dan Mg2+.
Tiga produk hasil pelapukan karbonat berupa ion Ca dan Mg-, Mineral lempung, dan kuarsa serta
opal dihasilkan dari proses yang kira-kira sama dengan umur bumi yaitu 4,5 miliar tahun.

Kestabilan relatif dari mineral selama proses pelapukan dikemukakan oleh Goldich (1938) yang
merupakan kebalikan dari Deret Bowen. Dia menemukan bahwa Olivine, Augite (klinopiroksen), dan
Ca-plagioklas lebih mudah terlapukan dibandingkan dengan kuarsa dan muskovit. Walaupun secara
umum hal ini benar, proses pelapukan lebih rumit dari perkiraan. Hal lain yang mempengaruhi adalah
iklim, mikroba dan tanaman dan asam yang dihasilkannya. Olivine, augite, dan plagioklas
mengandung unsur Mg, Na, K, Ca, yang mudah telepas melalui pemecahan ikatan ion dengan
oksigen. Si, Al, dan Ti membentuk ikatan kovalen dengan oksigen yang lebih sulit untuk pecah, yang
mencegah pemecahan mineral seperti kuarsa.

Provenance

Provenance adalah sumber material sedimen, yang merupakan faktor utama yang menentukan
komposisi sedimen. Faktor provenance mengontrol proses pelapukan dan sifat sedimen yang dapat
disuplai oleh berbagai macam agen. Faktor ini diantaranya relief dan elevasi yang merupakan fungsi
dari setting tektonik, iklim dan vegetasi yang bersangkutan, serta komposisi dari batuan asal. Pada
komposisi batuan asal kita bisa mengambil contoh yang sederhana, bila batuan asalnya banyak
mengandung kuarsa maka sedimen yang dihasilkan akan banyak mengandung kuarsa juga. Bila
batuan sumbernya kaya akan feldsfar maka sedimen yang dihasilkan akan banyak mengandung
feldsfar dan mineral lempung tergantung dari tingkat pelapukan batuannya.

Relief dan elevasi dari provenance akan berpengaruh pada dekomposisi dan disintegrasi, dan
transportasinya. Relief adalah perbedaan ketinggian didalam cekungan erosional, yang mengontrol
laju erosi. Secara umum, daerah yang memiliki relief yang tinggi, yang merupakan daerah uplift yang
aktif, akan mengalami laju erosi yang tinggi. Sebaliknya pada daerah yang berelief rendah yang
umumnya datar memiliki laju erosi yang rendah. Daerah yang datar merupakan daerah metastabil
dimana energi potensial minimum. Konsekuensinya material tidak bisa turun dan mengakibatkan laju
disintegrasi rendah, hal ini akan mengakibatkan proses dekomposisi berlangsung cukuip lama.

Elevasi provenance juga penting, karena elevasi akan mempengaruhi iklim, dimana pada gilirannya
akan mempengaruhi proses disintegrasi dan dekomposisi. Pada elevasi yang tinggi air akan

membeku, hal ini tentunya akan menyebabkan proses disintegrasi terutama frost action berperan
cukup dominan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada elevasi yang tinggi proses
disintegrasi cukup dominan sedangkan pada elevasi yang rendah terutama daerah tropis proses
dekomposisi cukup dominan.

Iklim dan vegetasi juga memiliki peran yang penting. Pada iklim dingin laju proses dekomposisi akan
rendah sedangkan laju proses disintegrasi akan tinggi. Sebaliknya pada iklim hangat proses
dekomposisi akan lebih dominan daripada proses disintegrasi dan pada iklim panas proses yang
dominan adalah disintegrasi sama seperti pada iklim dingin. Vegetasi akan banyak pada iklim hangat,
basah dari pada iklim dingin dan panas. Vegetasi dapat menghasilkan asam organik dan senyawa
lain yang dapat menyebabkan proses dekomposisi. Contohnya lava muda di Hawaii yang ditutupi oleh
tumbuhan (lichens, yang banyak mengandung besi, terlapukan lebih tinggi daripada batuan yang
sama dan seumur. Hal ini dapat menjawab pertanyaan mengenai proses disintegrasi dan
dekomposisi pada pre-Devonian yang vegetasinya kurang, dimana pada pre-Devonian proses
disintegrasi lebih penting dari pada dekomposisinya sehingga sedimennya sedikit mengandung
lempung.

Produk hasil pelapukan

Fenomena yang terpampang pada gambar ini adalah bagian dari proses hancurnya/lapuknya batuan
beku pada sebuah tebing yang berkemiringan hampir 90 derajat di kaki gunung Semeru, di
perbatasan Kabupaten Lumajang dengan Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Produk yang dihasilkan dari pelapukan yaitu kuarsa, mineral lempung dan oksida besi dan hidrat yang
merupakan material residu yang tertinggal di tanah yang dihasilkan dari batuan yang terdekomposisi
tinggi. Silicic acid dan kation berbagai logam (termasuk Ca, Mg, Fe, Mn, Na, dan K) dan P akan
tertransportasikan jauh dari sumbernya.

Transportasi sediment

Transportasi sedimen dimulai ketika material terlapukan dan ion terlarut. Transportasi material yang
terlarut disebut transportasi larutan, sedangkan material padat tertransportasi melalui transportasi
mekanik. Transportasi mekanik di antaranya falling, sliding, rolling, bouncing(saltation), flowing dan
transportasi supensi.

Transportasi sedimen tergantung pada sifat fisik dari agen transportasi, sifat material, sifat fisik dari
campuran agen transportasi dan material, dan gaya yang menyebabkan transportasi.

Agen transportasi diantaranya gravitasi, air mengalir, angin dan es yang bergerak. Gravitasi tidak
hanya menyebabkan pergerakan material tetapi juga menggerakan arus air dan es untuk bergerak
turun.

Transportasi mekanik, di antaranya:

Transportasi gravitasi
Gravitasi merupakan agen utama yang mengakibatkan transportasi pada landslides dan massflow.
Pada pergerakan masa subaeria (falls, slides, slumps, avalanches, mudflowa, dan subaerial debris
flows) dan submarine debris flow transportasi terjadi ketika gaya yang menahan (resisting force)
terlampaui.

Pada falls, slides, slumps dan avalanches, retakan dihasilkan ketika batuan kehilangan gaya kohesi
antara partikelnya yang kemudian bergerak dan berhenti ketika energinya habis. Sedimen yang
dihasilkan berupa breksi atau diamicite yang terpilah buruk, tidak berlapis.

Pada debris flows, mudflows dan olisostrom seluruh masa diendapkan sekali. Pergerakannya
biasanya berlangsung ketika terdapat air yang mengakibatkan gaya gesek antar partikel mengecil dan
mengakibatkan masa meluncur dan terendapkan dengan kacau. Produk yang dihasilkan terpilah
buruk, banyak material Lumpur dan lapisan biasanya tebal dan massive.

Grain flow adalah aliran dari butiran sediment yang inkohesif yang terdapat pada lereng yang curam.
Aliran terjadi ketika akumulasi sedimen melebih gaya gesek antar partikel dan ketika gempa bumi.
Endapan yang dihasilkan berupa pasir yang terpilah baik, tak berstruktur sampai berlaminasi secara
lokal.

Transportasi glacial

Transportasi ini dihasilkan oleh gaya gravitasi terhadap aliran fluida, tetapi laju alirannya sangat
lambat. Glacier membawa partikel melalui penggusuran sepanjang dasar dan sisinya. Partikel yang
besar biasanya tertinggal dan yang lebih kecil akan terbawa lebih jauh. Sedimen yang terpilah baik,
berukuran halus diendapkan sebagai outwash dan yang terpilah buruk dan kasar diendapkan sebagai
till.

Transportasi air dan udara

Ketika air dan udara bergerak terjadi gesekan antara fluida dengan sekitarnya. Turbulensi dimulai
dekat batas dengan sekitarnya, seperti dekat dasar sungai sebagai hasil dari interaksi gaya di tempat
tersebut. Faktor yang menentukan bergeraknya partikel adalah ukuran, densitas dan bentuk partikel,
kecepatan aliran, viskositas fluida dan batas gaya gesek.

Sedimentasi akan terjadi ketika fluida melambat. Masing-masing ukuran partikel jatuh keluar dari
suspensi dan menjadi bagian dari pergerakan bed load. Pada unit pengendapan dari suspensi
biasanya berupa laminasi tabular, ketebalan bervariasi tetapi biasanya tipis saja. Lapisan dari bed
load yang terendapkan melalui traksi mungkin tipis tetapi cenderung sedang sampai tebal dan
membentuk cross bedding, imbrikasi butir dan ripple marks.

Transportasi kimia

Ion dan molekul yang dihasilkan dari dekomposisi akan menjadi bagian dari larutan dalam air tanah
dan

air

permukaan.

Selama

perpindahan

larutan

mungkin

mengalami

pengenceran,

pengkonsentrasian dan perubahan dalam kimianya karena reaksi dengan batuan yang dilaluinya. Jika
bereaksi dengan batuan atau sediment, batuan dan sediment mengalami perubahan diagenesis.
Presipitasi kimia yang terjadi selama diagenesis merupakan salah satu bentuk pengendapan kimia.

Diagenesis

Setelah sedimen terendapkan, diagenesis adalah proses yang bekerja pada sedimen tersebut.
Diagenesis merupakan proses fisika, kimia dan biologi yang secara umum mengubah sedimen
menjadi batuan sedimen. Diagenesis kemungkinan berlanjut bekerja setelah sedimen menjadi
batuan, mengubah tekstur dan mineraloginya.

Tujuh proses diagenesis yang terjadi yaitu :


1. Kompaksi
2. Rekristalisasi
3. Pelarutan
4. Sementasi
5. Autigenisasi
6. Replacement

7. Bioturbasi

Kompaksi adalah proses yang menyebabkan volume sedimen berkurang. Ini dihasilkan oleh tekanan
penutup (overburden), yang diakibatkan oleh berat dari sedimen dan batuan di atasnya. Tekanan ini
mengakibatkan penyusunan kembali butiran dan pengeluaran fluida, hal ini menghasilkan
pengurangan porositas batuan sedimen. Kemungkinan tingkat kompaksi merupakan fungsi dari
ukuran butir, bentuk butir, pemilahan, porositas awal dan jumlah fluida yang terdapat dalam sedimen.
Sedimen dengan pemilahan yang baik, membundar akan kurang kompak bila dibandingkan dengan
sedimen yang terpilah buruk dan menyudut. Pada sedimen yang terpilah buruk ukuran butir yang kecil
akan mengisi rongga antar butiran yang besar dan pada sedimen yang menyudut, ikatan antar
butirnya akan sangat kuat karena bersifat saling mengunci. Pada pasir porositas awalnya sekitar 25%
- 50%, pada sedimen karbonat kemungkinan cukup tinggi yaitu sekitar 50% - 75% dan pada lumpur
lempung lebih dari 85%. Pada batuan sedimen porositas kecil yaitu 0% - 2% hal ini dikarenakan
kompaksi dan proses diagnesis lain terutama sementasi.

Rekristalisasi adalah proses di mana kondisi fisika dan kima menyebabkan pengorientasian kembali
kristal lattice pada butir mineral. Rekristalisasi bekerja melalui pelarutan dan presipitasi dari fase
mineral yang terdapat pada batuan. Ketika fluida melewati batuan atau sedimen, komponen pada
sedimen yang tidak stabil karena tekanan, pH, temperature akan mengalami pelarutan. Kemudian
material yang terlarut itu akan mengalami transportasi dan akan terpresipitasi pada pori-pori sediment
yang memiliki kondisi yang berbeda. Hal yang penting yaitu tekanan pelarutan, yaitu suatu proses di
mana tekanan terkonsentrasi pada satu titik antara dua butir yang menyebabkan pelarutan dan
migrasi ion atau molekul yang menjauhi titik itu. Lewat proses ini massa tertransportasi dari titik
kontak menuju tempat dengan tekanan yang lebih rendah yang memungkinkan presipitasi dari larutan
itu. Tentunya rekristalisasi ini akan menyebabkan pengurangan porositas sedimen dan memfasilitasi
rekristalisasi tekstur.

Sementasi adalah proses di mana terjadi presipitasi kimia pada pembentukan kristal baru, terbentuk
didalam pori-pori sedimen atau batuan yang mengikat satu butir dengan butir lainnya. Semen yang
umum yaitu kuarsa, kalsit dan hematite, tetapi jenis semen secara luas di antaranya aragonite, Mg
kalsit, dolomite, gypsum celesite, goethite, dan todorit. Tekanan pelarutan secara local dapat
menghasilkan semen, tetapi banyak semen merupakan material baru (allochemical material) yang

masuk melalui larutan. Jelas bahwa proses sementasi akan mengakibatkan berkurangnya porositas
dan menghasilkan tekstur baru seperti spherulitic, comb texture, dan poikilotopic texture.

Autigenesis (neocrystalitation) adalah proses yang mana fase mineral baru mengalami kristalisasi
didalam sediment atau batuan selama proses diagenesis ataupun setelahnya. Mineral baru mungkin
terbentuk melalui reaksi di dalam fase yang terdapat dalam sedimen atau batuan, mungkin juga
muncul karena presipitasi dari material yang masuk melalui fase fluida, atau dihasilkan dari kombinasi
sedimen primer dan material yang masuk. Autigenesis operlap dengan pelapukan, sementasi dan
biasanya rekristalisasi, dan kemungkinan menghasilkan replacement. Jenis dari fasa autigenesis jauh
lebih beragam dibandingkan dengan mineral semen. Fase autigenesis termasuk silikat seperti kuarsa,
K-feldspar, lempung,dan zeolite; carbonat seperti kalsit, dolomite dan carbonat besi; evaporate
mineral seperti halit, sylvite, gypsum dan anhidrit;oksida seperti hematite, goetit, todorokit; dan
mineral samping lainnyatermasuk sulfat, sulfide dan fosfat.

Replacement yaitu proses yang mana mieral baru menggantikan (secara kimia dan fisika) in situ pada
endapan mineral. Replacement mungkin bersifat neomorphic, yang mana butiran yang baru memiliki
fase yang sama dengan asalnya atau polimorpisme dari fase asalnya. Pseudomorfic yang mana fase
baru merupakan tiruan dari bentuk eksternal dari fase yang digantikan tetapi fasenya berbeda,
allomorphic yaitu replacement dalam bentuk fase baru yang biasanya berbeda bentuk kristalnya dan
menggantikan sepenuhnya fase sediment asal. Fase replacement sama beragamnya dengan fase
autigenesis, tetapi fase replacement yang penting yaitu dolomite, opal, kuarsa dan ilite.

Bioturbasi adalah aktifitas biologis yang terjadi dekat permukaan, termasuk burrowing, boring dan
pencampuran sedimen oleh organisme. Pada beberapa kasus proses ini dapat meningkatkan
kompaksi, menghancurkan laminasi dan perlapisan. Selama proses bioturbasi beberapa organisme
mempresipitasikan material yang berfungsi sebagai semen.

Daigenesis biasanya dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:


1. Eogenesis, proses awal diagenesis yang terdapat di antara endapan dan timbunan, atau dekat
permukaan,
2. Mesogenesis, tahap tengah dari proses diagenesis yang terjadi setelah penimbunan,

3. Telogenesis, tahap akhir dari proses diagenesis.

Mekanisme Transportasi Sedimen


Batuan sedimen memiliki banyak hal menarik untuk dibahas. Selain bentuknya
yang unik dan beragam serta jumlahnya yang melimpah di muka bumi (hampir
75% kulit bumi terdiri atas batuan sedimen), proses-proses yang terjadi juga
sangatlah menarik untuk dibahas. Salah satu proses yang menarik adalah
bagaimana sedimen sebagai penyusun batuan sedimen dapat terangkut
dan diendapkan menjadi batuan sedimen.

Sebelum mengetahui bagaimana sedimen terangkut dan terendapkan dalam


suatu cekungan mungkin ada baiknya kita dapat memahami prinsip apa saja
yang bisa kita temukan dalam batuan sedimen. Prinsip-prinsip tersebut
sangatlah beragam diantaranya prinsip uniformitarianism. Prinsip penting
dari uniformitarianism adalah proses-proses geologi yang terjadi sekarang
juga terjadi di masa lampau. Prinsip ini diajukan olehCharles Lyell di tahun
1830. Dengan menggunakan prinsip tersebut dalam mempelajari proses-proses
geologi yang terjadi sekarang, kita bisa memperkirakan beberapa hal seperti
kecepatan sedimentasi, kecepatan kompaksi dari sediment, dan juga bisa
memperkirakan bagaimana bentuk geologi yang terjadi dengan proses-proses
geologi tertentu.
Lapisan horizontal yang ada di batuan sedimen disebut bedding. Bedding
terbentuk akibat pengendapan dari partikel-partikel yang terangkut oleh air atau
angin. Kata sedimen sebenanrya berasal dari bahas latin sedimentum yang
artinya endapan. Batas-batas lapisan yang ada di batuan sedimen adalah bidang
lemah yang ada pada batuan dimana batu bisa pecah dan fluida bisa mengalir.
Selama susunan lapisan belum berubah ataupun terbalik maka lapisan termuda
berada di atas dan lapisan tertua berada di bawah. Prinsip tersebut dikenal
sebagai prinsip superposition. Susunan lapisan tersebut adalah dasar dari skala
waktu stratigrafi atau skala waktu pengendapan. Pengamatan pertama atas
fenomena ini dilakukan oleh Nicolaus Steno di tahun 1669.Beliau mengajukan
beberapa prinsip berkaitan dengan fenomena tersebut. Prinsip-prinsip itu adalah
prinsip horizontality, superposition, dan original continuity.

Prinsiphorizontality menjelaskan bahwa semula batuan sedimen diendapkan


dalam posisi horizontal. Pembentuk batuan sedimen adalah partikel-partikel
atau sering disebut sedimen yang terbentuk akibat hancuran batuan yang telah
ada sebelumnya seperti batuan beku, batuan metamorf, dan juga batuan
sedimen sendiri. Berdasarkan ukuran partikel dari sedimen klastik, sedimensedimen dapat dibedakan sebagai berikut:

Klasifikasi- Berdasarkan ukuran partikel dari sedimen klastik


Nama Partikel

Ukuran

Sedimen Nama batu

Boulder/Bongka >256 mm
h

Gravel

Cobble/Kerakal

64 256 mm

Gravel

Pebble/Kerikil

2 64 mm

Gravel

Sand/Pasir

1/16 2mm

Sand

Sandstone

Silt/Lanau

1/256 1/16
mm

Silt

Batu lanau

Clay/Lempung

<1 mm="mm" Clay


nbsp="nbsp"
span="span">

Konglomerat dan Breksi (tergantung


kebundaran partikel)

Batu lempung

Faktor-faktor yang mengontrol terbentuknya sedimen adalah iklim, topografi,


vegetasi dan juga susunan yang ada dari batuan. Sedangkan faktor yang
mengontrol pengangkutan sedimen adalah air, angin, dan juga gaya grafitasi.
Sedimen dapat terangkut baik oleh air, angin, dan bahkan salju. Mekanisme
pengangkutan sedimen oleh air dan angin sangatlah berbeda. Pertama, karena
berat jenis angin relatif lebih kecil dari air maka angin sangat susah mengangkut
sedimen yang ukurannya sangat besar. Besar maksimum dari ukuran sedimen
yang mampu terangkut oleh angin umumnya sebesar ukuran pasir. Kedua,
karena sistem yang ada pada angin bukanlah sistem yang terbatasi (confined)
seperti layaknya channel atau sungai maka sedimen cenderung tersebar di
daerah yang sangat luas bahkan sampai menuju atmosfer.

Sedimen-sedimen yang ada terangkut sampai di suatu tempat yang disebut


cekungan. Di tempat tersebut sedimen sangat besar kemungkinan terendapkan
karena daerah tersebut relatif lebih rendah dari daerah sekitarnya dan karena
bentuknya yang cekung ditambah akibat gaya grafitasi dari sedimen tersebut
maka susah sekali sedimen tersebut akan bergerak melewati cekungan tersebut.
Dengan semakin banyaknya sedimen yang diendapkan, maka cekungan akan
mengalami penurunan dan membuat cekungan tersebut semakin dalam
sehingga semakin banyak sedimen yang terendapkan. Penurunan cekungan
sendiri banyak disebabkan oleh penambahan berat dari sedimen yang ada dan
kadang dipengaruhi juga struktur yang terjadi di sekitar cekungan seperti
adanya patahan.

Sedimen dapat diangkut dengan tiga cara:

a. Suspensi

Dalam teori segala ukuran butir sedimen dapat dibawa dalam suspensi, jika arus cukup kuat. Akan
tetapi di alam, kenyataannya hanya material halus saja yang dapat diangkut suspensi. Sifat
sedimen hasil pengendapan suspensi ini adalah mengandung prosentase masa dasar yang tinggi
sehingga butiran tampak mengambang dalam masa dasar dan umumnya disertai memilahan butir
yang buruk. Cirilain dari jenis ini adalah butir sedimen yang diangkut tidak pernah menyentuh
dasar aliran.

b. Bedload transport

Berdasarkan tipe gerakan media pembawanya, sedimen dapat dibagi menjadi:

endapan arus traksi

endapan arus pekat (density current) dan

endapan suspensi.

Arus traksi adalah arus suatu media yang membawa sedimen didasarnya. Pada umumnya gravitasi
lebih berpengaruh dari pada yang lainya seperti angin atau pasang-surut air laut. Sedimen yang
dihasilkan oleh arus traksi ini umumnya berupa pasir yang berstruktur silang siur, dengan sifatsifat:

pemilahan baik

tidak mengandung masa dasar

ada perubahan besar butir mengecil ke atas (fining upward) atau ke bawah (coarsening
upward) tetapi bukan perlapisan bersusun (graded bedding).

Di lain pihak, sistem arus pekat dihasilkan dari kombinasi antara arus traksi dan suspensi. Sistem
arus ini biasanya menghasilkan suatu endapan campuran antara pasir, lanau, dan lempung dengan
jarang-jarang berstruktur silang-siur dan perlapisan bersusun. Arus pekat (density) disebabkan
karena perbedaan kepekatan (density) media. Ini bisa disebabkan karena perlapisan panas,
turbiditi dan perbedaan kadar garam. Karena gravitasi, media yang lebih pekat akan bergerak
mengalir di bawah media yang lebih encer. Dalam geologi, aliran arus pekat di dalam cairan
dikenal dengan nama turbiditi. Sedangkan arus yang sama di dalam udara dikenal dengan nuees
ardentes atau wedus gembel, suatu endapan gas yang keluar dari gunungapi. Endapan dari
suspensi pada umumnya berbutir halus seperti lanau dan lempung yang dihembuskan angin atau
endapan lempung pelagik pada laut dalam.

c.

Saltation

Dalam bahasa latin artinya meloncat umumnya terjadi pada sedimen berukuran
pasir dimana aliran fluida yang ada mampu menghisap dan mengangkut
sedimen pasir sampai akhirnya karena gaya grafitasi yang ada mampu
mengembalikan sedimen pasir tersebut ke dasar.
Pada saat kekuatan untuk mengangkut sedimen tidak cukup besar dalam
membawa sedimen-sedimen yang ada maka sedimen tersebut akan jatuh atau
mungkin tertahan akibat gaya grafitasi yang ada. Setelah itu proses sedimentasi
dapat berlangsung sehingga mampu mengubah sedimen-sedimen tersebut
menjadi suatu batuan sedimen.

Asal

Sedimen

di

Dasar

Laut

Sedimen yang di jumpai di dasar lautan dapat berasal dari


beberapa sumber yang
menurut Reinick (Dalam Kennet,
1992)
dibedakan
menjadi
empat
yaitu
:
1. Lithougenus sedimen yaitu sedimen yang berasal dari erosi
pantai dan material hasil erosi daerah up land. Material ini dapat
sampai ke dasar laut melalui proses mekanik, yaitu tertransport
oleh arus sungai dan atau arus laut dan akan terendapkan jika
energi
tertrransforkan
telah
melemah.
2.
Biogeneuos sedimen yaitu sedimen yang bersumber dari
sisa-sisa organisme yang hidup seperti cangkang dan rangka
biota laut serta bahan-bahan organik yang mengalami
dekomposisi.
3. Hidreogenous sedimen yaitu sedimen yang terbentuk karena
adanya reaksi kimia di dalam air laut dan membentuk partikel
yang tidak larut dalam air laut sehingga akan tenggelam ke dasar
laut, sebagai contoh dan sedimen jenis ini adalah magnetit,
phosphorit
dan
glaukonit.
4.
Cosmogerous sedimen yaitu sedimen yang bersal dari
berbagai sumber dan masuk ke laut melalui jalur media
udara/angin. Sedimen jenis ini dapat bersumber dari luar
angkasa, aktifitas gunung api atau berbagai partikel darat yang
terbawa angin. Material yang bersal dari luar angkasa merupakan
sisa-sisa meteorik yang meledak di atmosfir dan jatuh di laut.
Sedimen yang bersal dari letusan gunung berapi dapat berukuran
halus berupa debu volkanin, atau berupa fragmen-fragmen
aglomerat. Sedangkan sedimen yang bersal dari partikel di darat
dan terbawa angin banyak terjadi pada daerah kering dimana
proses eolian dominan namun demikian dapat juga terjadi pada
daerah sub tropis saat musim kering dan angin bertiup kuat.
Dalam hal ini umumnya sedimen tidak dalam jumlah yang

dominan
dibandingkan
sumber-sumber
yang
lain.
Dalam suatu proses sedimentasi, zat-zat yang masuk ke laut
berakhir menjadi sedimen. Dalam hal ini zat yang ada terlibat
proses biologi dan kimia yang terjadi sepanjang kedalaman laut.
Sebelum mencapai dasar laut dan menjadi sedimen, zat tersebut
melayang-layang di dalam laut. Setelah mencapai dasar lautpun ,
sedimen tidak diam tetapi sedimen akan terganggu ketika hewan
laut dalam mencari makan. Sebagian sedimen mengalami erosi
dan tersusfensi kembali oleh arus bawah sebelum kemudian jatuh
kembali dan tertimbun. Terjadi reaksi kimia antara butir-butir
mineral dan air laut sepanjang perjalannya ke dasar laut dan
reaksi tetap berlangsung penimbunan, yaitu ketika air laut
terperangkap di antara butiran mineral. (Agus Supangat dan Umi
muawanah)

Macam-macam

Sedimen

Laut

Era oseanografi secara sistematis telah dimulai ketika HMS


Challenger kembali ke Inggris pada tanggal 24 Mei 1876
membawa sampel, laporan, dan hasil pengukuran selama
ekspedisi laut yang memakan waktu tiga tahun sembilan bulan.
Anggota ilmuan yang selalu menyakinkan dunia tentang
kemajuan ilmiah Challenger adalah John Murray, warga Kanada
kelahiran Skotlandia. Sampel-sampel yang dikumpulkan oleh
Murray merupakan penyelidikan awal tentang sedimen laut
dalam. Sedimen laut dalam dapat di bagi menjadi 2 yaitu
Sedimen Terigen Pelagis dan Sedimen Biogenik Pelagis.
1.
Sedimen
Biogenik
Pelagis
Dengan menggunakan mikroskop terlihat bahwa sedimen
biogenik terdiri atas berbagai struktur halus dan kompleks.
Kebanyakan sedimen itu berupa sisa-sisa fitoplankton dan
zooplankton laut. Karena umur organisme plankton hannya satu
atau dua minggu, terjadi suatu bentuk hujan sisa-sisa organisme
plankton yang perlahan, tetapi kontinue di dalam kolam air untuk
membentuk lapisan sedimen. Pembentukan sedimen ini
tergantung pada beberapa faktor lokal seperti kimia air dan
kedalaman serta jumlah produksi primer di permukaan air laut.
Jadi, keberadan mikrofil dalam sedimen laut dapat digunakan
untuk menentukan kedalaman air dan produktifitas permukaan
laut
pada
zaman
dulu.
2.
Sedimen
Terigen
Pelagis
Hampir semua sedimen Terigen di lingkungan pelagis terdiri atas
materi-materi yang berukuran sangat kecil. Ada dua cara materi

tersebut sampai ke lingkungan pelagis. Pertama dengan bantuan


arus turbiditas dan aliran grafitasi. Kedua melalui gerakan es
yaitu materi glasial yang dibawa oleh bongkahan es ke laut lepas
dan mencair. Bongkahan es besar yang mengapung, bongkahan
es kecil dan pasir dapat ditemukan pada sedimen pelagis yang
berjarak beberapa ratus kilometer dari daerah gletser atau
tempat
asalnya.
Selain pengertian sedimen di atas ada pengertian lain tentang
sedimen yaitu batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk
oleh proses sedimentasi. Sedangkan sedimentasi adalah proses
pengendapan sediemen oleh media air, angin, atau es pada suatu
cekungan pengendapan pada kondisi P dan T tertentu.

STRUKTUR

SEDIMEN

Struktur merupakan suatu kenampakan yang diakibatkan oleh


proses pengendapan dan keadaan energi pembentuknya.
Pembentukannya dapat pada waktu atau sesaat setelah
pengendapan. Struktur berhubungan dengan kenampakan batuan
yang lebih besar, paling bagus diamati di lapangan misal pada
perlap[isan
batuan.(Sugeng
Widada
:
2002)
Struktur sedimen umumnya dibedakan menjadi 3 golongan yaitu :
1. Struktur anorganik terutama pelapisan, contoh : graded beds,
cross
beds,
mudcraks.
2.
Struktur biogenik terdiri dari struktur jejak dan boring
3.
Struktur deformasi terdiri dari convolute bedding, ball and
pillow
dan
diapiric.
Berbagai sifat fisik sedimen ditelaah sesuai dengan tujuan dan
kegunaannya. Diantaranya adalah tekstur sedimen yang meliputi
ukuran butir (grain size), bentuk butir ( partikel shape), dan
hubungan antar butir (fabrik), struktur sedimen, komposisi
mineral, serta kandungan biota. Dari berbagai sifat fisik tersebut
ukuran butur menjadi sangat penting karena umumnya menjadi
dasar dalam penamaan sedimen yang bersangkutan serta
membantu analisa proses pengendapan karena ukuran butir
berhubungan erat dengan dinamika transfortasi dan deposisi
(Krumbein dan Sloss (1983)). Berkaitan dengan sedimentasi
mekanik ukuran butir akan mencerminkan resistensi butiran
sedimen
terhadap
proses
pelapukan
erosi/abrasi
serta
mencerminkan kemampuan dalam menentukan transfortasi dan
deposisi.
Transfor
Sedimen

Dengan melihat cara transfor sedimen dapat dilihat melalui :


1.
Transfor
Sedimen
pada
Pantai
Pettijohn (1975), Selley (1988) dan Richard (1992) menyatakan
bahwa cara transfortasi sedimen dalam aliran air dibedakan
menjadi tiga jenis, yaitu :

Sedimen merayap (bed load) yaitu material yang terangkut


secara menggeser atau menggelinding di dasar aliran.

Sedimen loncat (saltation load) yaitu material


meloncat-loncat bertumpu pada dasar aliran.

Sedimen layang (suspended load) yaitu material yang


terbawa arus dengan cara melayang-layang dalam air.

yang

2.
Transfor
Sedimen
Sepanjang
Pantai
Transfor sedimen sepanjang pantai merupakan gerakan sedimen
di daerah pantai yang disebabkan oleh gelombang dan arus yang
dibangkitkannya (Komar : 1983). Transfor sedimen ini terjadi di
daerah antara gelombang pecah dan garis pantai akibat sedimen
yang dibawanya (Carter, 1993). Menurut Triatmojo (1999) transfor
sedimen sepanjang pantai terdiri dari dua komponen utama yaitu
transfor sedimen dalam bentuk mata gergaji di garis pantai
Transfor sedimen pantai banyak menimbulkan fenomena
perubahan dasar perairan seperti pendangkalan muara sungai
erosi pantai perubahan garis pantai dan sebagainya (Yuwono,
1994). Fenomena ini biasanya merupakan permasalahan
terutama pada daerah pelabuhan sehingga prediksinya sangat
diperlukan dalam perencanaan ataupun penentuan metode
penanggulangan. Menurut Triatmojo (1999) beberapa cara yang
biasanya
digunakan
antara
lain
adalah
:
a. Melakukan pengukuran debit sedimen pada setiap titik yang
ditinjau, sehingga secra berantai akan dapat diketahui transfor
sedimen
yang
terjadi.
b.
Menggunakan peta/ foto udara atau pengukuran yang
menunjukan perubahan elevasi dasar perairan dalam suatu
periode tertentu. Cara ini akan memberikan hasil yang baik jika di
daerah pengukuran terdapat bangunan yang mampu menangkap
sedimen seperti training jetty, groin, dan sebagainya.
c. Rumus empiris yang didasarkan pada kondisi gelombang dan
sedimen
pada
daerah
yang
di
tinjau.

Transpor sedimen di perairan umumnya terdiri dari 3 mekanisme,


yaitu
suspended
load,
bed
loaddan
dissolved
load.
Suspended
load
mekanisme transpor dimana partikel tersebut dibawa bersamasama dengan air secara keseluruhan, ukuran partikel bergantung
dari kepadatan mereka dan kecepatan arus, dimana kecepatan
arus yang lebih tinggi dapat membawa lebih besar dan partikel
yang
lebih
padat.
Bed
load
merupakan mekanisme transpor dimana partikel yang lebih kasar
dan padat bergerak sepanjang dasar perairan baik secara
menggelinding, bergeser maupun meloncat-loncat karena
pengaruh tumbukan diantara partikel dan turbulensi tetapi selalu
kembali ke dasar. Mekanisme transpor dapat berubah dari
suspended loadmenjadi bed loaddan sebaliknya karena adanya
perubahan
kecepatan
aliran.
Dissolve
load
dimana berbagai ion masuk ke perairan melalui proses
weathering, mekanisme transpor ini tidak terlihat (invisible)
dimana ion-ion tersebut larut di dalam air. Dissolve loadsebagian
besar terdiri dari HCO-3(ion bikarbonat), Ca+2, SO4-2, Cl-, Na+,
Mg+2, dan K+. Ion ini akhirnya terbawa ke lautan dan umumnya
menyusun
kadungan
garam
di
lautan.

The Boulders Moeraki adalah batu besar berbentuk bola yang


tersebar di pantai-pantai berpasir, tetapi mereka tidak seperti
batu bulat biasa yang telah dibentuk oleh sungai dan laut
berdebar-debar. Batu-batu tersebut diklasifikasikan sebagai
concretions septarian, dan dibentuk pada sedimen dasar laut
kuno. Mereka diciptakan oleh proses yang sama dengan

pembentukan tiram mutiara, di mana lapisan materi mencakup


nukleus atau inti. Untuk tiram, inti ini merupakan butir pasir
menjengkelkan.Untuk batu-batu besar, itu adalah fosil kerang.

Sebuah foto yang diambil oleh Nasa atas salah satu tambang
batubara terbesar di Asia bernama Tambang Panian di Pulau
Semirara, Filipina, yang batubaranya dipakai sebagai tenaga
listrik di Filipina dan sisanya diekspor ke India dan China.
Letaknya kira-kira 280 Km selatan Manila. Foto yang diambil
tanpa halangan awan ini menunjukkan kerusakan lingkungan
akibat pertambangan terbuka oleh satu dari tiga areal
pertambangan batubara di Pulau itu. Selain permukaan tanah
yang dibongkar, tampak pula aliran sedimen di laut Sulu yang
berasal darioverburden tambang. Padahal perusahaan tambang
batubara itu selalu menyangkal pertambangannya merusak lepas
pantai
Pulau
Semirara.

sedimen itu diperkirakan bisa memberikan informasi rinci tentang


cuaca buruk atau kegiatan seismik utama pada masanya. Juga

bisa memberikan wawasan tentang migrasi manusia di dalam dan


luar daerah.
Sedimentasi Sungai di Indonesia
Sumber: Berita Iptek Topik: Lingkungan Tags: erosi, Sedimentasi Sungai, sungai
Barito,sungai
Citandui

Problem erosi di Indonesia sudah mencapai tahap kritis. Bagaimana tidak?.


Lihat saja kondisi sedimentasi di sungai Citandui yang mencapai 5 juta m2 kubik.
Rekor tertinggi dibanding sungai-sungai lainnya namun juga masih dengan
kisaran angka yang tinggi. Jadi, jangan berharap untuk melihat kebeningan
sungai ataupun pantai, apalagi di kawasan pulau Jawa.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Sub Direktorat Pengendalian Pencenmaran


Laut, Departemen Kelautan dan Perikanan, Subandono Diposantono,
sebagaimana ditulis Media Indonesia. Akibat sedimentasi ini merupakan salah
satu penyebab terjadinya erosi di pantai-pantai. Sedimentasi bahkan semakin
tahun semakin meningkat. Hal ini menyebabkan beberapa muara sungai di
Sumatra, Kalimantan dan Jawa menjadi dangkal.
Sungai Citandui, Jawa Barat memecahkan rekor dengan sedimentasi pertahun
yang terbawa aliran sungai ini mencapai 5 juta m 2 kubik. Sementara, sungai
Cikonde mencapai 770 ribu meter kubik yang diendapkan di Segara
Anakan. Sedimentasi sungai Barito mencapai mencapai 733 ribu m 2 kubik yang
diendapkan di pelabuhan pelabuhan Banjarmasin, Kalimantan. Sedang sungai
Mahakam, Kalimantan sedimentasinya mencapai 2,2 juta m 2 kubik.
Tinnginya sedimentasi ini mengakibatkan upaya pengerukan di pantai-pantai,
terutama yang berfungsi untuk pelabuhan jadi membutuhkan dana
besar. Contohnya, pengerukan di pelabuhan Tanjung Perak , Surabaya sampai
sepanjang 25.000 meter, pelabuhan Belawan, Medan mencapai 13.500 meter,
Palembang 28.000 meter, Banjarmasin 15.000 meter, Samarinda 20.000 meter,
Pontianak 11.250 meter, Jambi 17.000 meter, Sampit 27.000 meter dan
pelabuhan Pulai Pisa 19.000 meter. Akibat sedimentasi yang tinggi di sungaisungai di Indonesia ini disamping juga adanya erosi, tak kurang dari 124 pantai
di Indonesia akhirnya mengalami kerusakan.
Pantai di Aceh, contohnya tak kurang dari 34 pantainya mengalami
kerusakan. Selain karena sedimentasi, juga karena adanya pemukiman,
pariwisata dan pembukaan tambak. Di Jawa Barat, pantai yang mengalami erosi
mencapai 28 pantai. Sedang DKI Jakarta, tak kurang 8 pantai yang mengalami
erosi. Memang, erosi pantai tak semata-mata karena sedimentasi. Namun,
sedimentasi sungai mempunyai pengaruh besar terhadap erosi pantai. Keadaan
ini sebenarnya amat memprihatinkan. Sayang, pemerintah kita kurang peduli
terhadap peristiwa ini. Pemda DKI saja sanggup untuk merenovasi Patung
Selamat datang di bundaran HI dalam rangka menyambut HUT DKI bulan ini
dengan biaya tak kurang dari 14 miliar. Namun, sayang tak ada dana untuk
mejernihkan sungai Ciliwung yang coklat kelam ataupun kanal-kanal lainnya di
pinggiran Jakarta yang tak lagi cokelat, tapi telah hitam kelam , bahkan. Mungkin
bau tak sedap Ciliwung tak sempat terhirup para pejabat, hingga kurang dirasa
perlu untuk membuatnya jernih kembali.

Banjir di Cirebon Akibat Sedimentasi Sungai Cisanggarung

SUMBER, (PRLM).- Sering terjadinya banjir di wilayah Kabupaten Cirebon bagian


timur selama ini, dipastikan akibat dari endapan lumpur yang cukup tinggi di alur
Sungai Cisanggarung yang melintasi daerah tersebut. Namun, hingga saat ini
pemerintah melalui dinas terkait belum melaksanakan pengerukan di sungai yag
berhulu di Kabupaten Kuningan tersebut.
Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pengelolaan Sumber Daya Air (PU-PSDA)
Kab. Cirebon, Achsanudin Adhi, salah satu penyebab bencana banjir di sejumlah
kecamatan yang ada di wilayah bagian timur Kab. Cirebon itu yang sering terjadi
yaitu karena sudah tingginya sedimentasi di Sungai Cisanggarung maupun anakanak dari sungai tersebut. Untuk melakukan normalisasi (pengerukan-red) secara
total agar tidak terjadi banjir, tentunya diperlukan anggaran yang sangat besar.
"Akibat pengendapan lumpur yang setiap tahunnya mencapai 50 cm, sungai
tidak mampu menahan debit air yang meningkat pada saat musim hujan

sehingga air pun gampang meluap dan bisa menjebol tanggul sungai," kata Adhi,
Senin (22/3).
Diakui Adhi, banjir yag terjadi belum lama ini mengakibatkan tanggul sungai di
yang melintasi Desa Cilengkrang, Kecamatan Pasaleman, jebol memanjang
hampir sepanjang 500 meter. Sementara di Desa Tawangsari, Kecamatan Losari,
tanggul yang jebol jauh lebih parah, yakni mencapai hampir 3 km.
PU PSDA Kab. Cirebon sebetulnya telah melakukan koordinasi dengan Balai Besar
Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung (BBWS-CC) untuk memperbaiki
infrastruktur irigasi yang rusak tersebut, namun, karena bukan kewenangannya,
dan membutuhkan anggaran yang sangat besar hingga belum terealisasi.
Disebutkan, saat ini hampir 60 persen sarana irigasi di Kabupaten Cirebon
kondisinya sudah rusak. Dengan adanya anggaran yang hanya Rp 12 miliar, Adhi
mengaku kesulitan untuk melakukan rehabilitasi, pemeliharaan maupun
melakukan penanggulangan darurat pada sekitar 60 KM saluran irigasi yang ada
di Kab.