Anda di halaman 1dari 21

1

DEFINISI SISTEM STRUKTUR DAN


KONSTRUKSI BANGUNAN BERLANTAI 2-4
A. Definisi Sistem Struktur dan Konstruksi Bangunan
1. Sistem Struktur
Defenisi sederhana mengenai system struktur dalam hubungannya dengan bangunan
ialah bahwa struktur merupakan sarana untuk menyalurkan beban akibat penggunaan dan
atau kehadiran bangunan ke dalam tanah. Struktur dapat juga didefenisikan sebagai suatu
entitas fisik yang memiliki sifat keseluruhan yang dapat dipahami sebagai suatu organisasi
unsur-unsur pokokyang ditempatkan dalam ruang yang didalamnya karakter keseluruhan
mendominasi interelasi bagian-bagiannya. Secara singkat system struktur pada bangunan
merupakan bagian utama yang demndkung bangunan agar dapat berdiri kokoh.
Sistem struktur pada bangunan berlantai dapat ditempatkan pada bagian:
a. Sub Struktur berupa pondasi yang diberada pada bagian bawah pondasi atau di
dalam tanah, fungsi pondasi sebagai penerima gaya yang akan disalurkan ke
tanah.
b. Super Struktur berupa kolom, balok, plat lantai. Bagian ini berada pada bagian
badan bangunan yang mana fungsinya sebagai penyalur gaya di dalam bangunan.
c. Up Struktur berupa kuda-kuda yang berfungsi sebagai penopang material penutup
yaitu atap dan kuda-kuda juga berguna sebagai penyalur beban dari atap.
2. Sistem Konstruksi
Defenisi system konstruksi dalam bangunan merupakan bagian atau elemen yang
menempel pada system struktur utama, sedangkan fungsi dari system konstruksi adalah
elemen yang dapat menyebarkan gaya dan penerma beban secara langsung. Penempatan
system konstruksi pada bangunan berlantai berada pada:
a. Super Struktur berupa tangga, dinding, plafond. Fungsi system konstruksi yang
beraada pada bagian super struktur adalah menyalurkan gaya-gaya ke system
struktur bangunan.
b. Up Struktur berupa atap, listplank, talang air. Fungsi system konstruksi yang
berada pada bagian up struktur adalah penerima beban secara langsung. Beban
yang diterima berupa beban angin dan hal ini terjadi pada system konstruksi atap,
sedangkan listplank berfungsi sebagai penrima beban angin dari arah samping
atap sedangkan talang air berfungsi sebagai penyalur air hujan pada atap dan
talang air juga dapat berfungsi sebagai pembentuk atap.
B. Sistem Struktur dan Konstruksi Bangunan Dalam Arsitektur

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 1

Dalam bangunan berlantai system struktur dan konstruksi merupakan bagian yang
memikul beban dan gaya-gaya baik dari luar yang terjadi pada atap, lantai dan dinding
melalui mekanisme pemikulan beban dalam ke tanah. Struktur dapat dijadikan sebagai
prinsip perancangan yang dapat diatur dalam mekanisme pemikulan beban. Dalam hal
tersebut dapat mengandung arti tindakan menetapkan hirarki dan tatanan sekaligus dari
segi perwujudan ruang arsitektural dan tenaga fisik. Sistem struktur dan konstuksi pada
bangunan dalam bentuk arsitektur, memiliki fungsi sebagai penerima beban dan penyalur
beban. Jenis-jenis beban yag diterima dan disalurkan dalam system struktur dan
konstruksi pada bangunan, adalah:
1. Beban Statis dan Dinamis
Beban statis biasa juga disebut beban stasioner atau beban bangunan yang tak
bergerak/diam. Beban ini dapat berupa beban yang bisa diperkirakan oleh arsitek
dalam merancang bangunan. Beban dinamis atau beban yang bergerak, seperti dalam
hal angin atau sebuah lokomotif yang melintasi jembatan, mengemukakan tugas-tugas
perancangan structural yang lebih sulit karena baik besarnya maupun lamanya usia
beban dapat diramalkan hanya dalam batas-batas tertentu.
2. Beban Hidup
Beban hidup adalah beban rencana yang menyatakan anggapan statistic berdasarkan
pengalaman mengenai penggunaan masa depan yang diperkirakan dari suau ruang
yang direncanakan. Beban hidup meliputi semua beban selain berat struktur bangunan
penghuni, meubel, perlengkapan dan mesin-mesin. Hujan, angin, gempa bumi dan
tekanan air merupakan beban hidup yang besar dan lamanya berubah-ubah.
3. Beban Mati
Beban mati adalah berat bahan-bahan struktural dan komponen-komponen yang
merupakan system tanggap gaya.
4. Beban Angin
Beban angin merupakan beban dinamis tapi dalam analisis diperlukan sebagai beban
statis ekivalen, yaitu sebagai asumsi rata-rata statistic gaya pada bangunan.
5. Beban Gempa
Beban gempa biasanya berintesnsitas tinggi dan berlangsung singkat. Jadi beban
gempa cenderung mempunyai dampak yang lebih besar terhadap suatu struktur
daripada beban yang sama dan digunakan selama masa yang lebih lama.
6. Beban Termal.
Beban termal disebabkan oleh perubahan-perubahan suhu, yang cenderung mengubah
bentuk dan dimensi elemen-elemen structural sesuai dengan waktu dan musim.
Dalam penetuan arah dan besar beban yang terjadi dalam suatu bangunan dapat
mempengaruhi kondisi bangunan sehingga strategi pemikulan beban dapat disesuaikan
dengan pengaturan bentangan (horizontal) dan tumpuan (vertical) agar bagian-bagian
dalam bangunan dapat member suatu rangka ruang untuk mengalihkan semua beban ke
tanah. Dalam menyelesaikan system pembebanan dalam bangunan maka system struktur
yang berperan aktif dalam penyaluran gaya dari beban, sehingga penerima beban dpat
dikategorikan ke dalam dua system tumpuan, yaitu tumpuan linear dan tumpuan tak
menerus.

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 2

1. Sistem tumpuan linear, yaitu suatu rakitan pendukung beban dimana sebagian besar
tembok eksterior digunakan untuk penutup maupun terus menerus menunjang lantai
dan atap.
2. Sistem tumpuan tak menerus, yaitu rakitan pendukung beban dimana beban-beban
bentangan horizontal dialihkan pertama-tama ke tumpuan-tumpuan titik (kolom atau
tiang) dan kemudian vertical ke tanah.
Dari system pemikulan beban dan penyaluran gaya maka elemen-elemen struktur
dan konstuksi dapat memperlihatkan bahwa system stumpuan linear dan system tumpuan
tak menerus memiliki karakteristik yang menonjol diantaranya dinding-dinding yang
menonjol sebagai system konstruksi bangunan tidak memikul beban secara langsung
tetapi menyalurkan gaya dari beban yang terjadi pada kolom yang merupakan system
struktur bangunan, kemudian gaya yang terjadi pada kolom di salurkan ke pondasi yang
merupakan system struktur bangunan berupa tumpuan linear atau titik.

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 3

2
PERAN ARSITEK DI DUNIA KONSTRUKSI
Kesadaran masyarakat perlahan dan pasti mulai tumbuh terhadap profesi
arsitek. Keahlian arsitek tidak lagi dibutuhkan dalam perencanaan bangunan berskala
besar yang diselenggarakan baik itu oleh pihak swasta (korporasi) maupun pemerintah
saja, tapi bangunan lain yang dianggap sederhana ataupun berskala kecilpun arsitek
mulai dilibatkan. Artinya, kebutuhan klien makin beragam.Untuk itu bagi yang
berencana menggunakan jasa seorang arsitek didalam kegiatan rancang bangun
tentunya perlu mengetahui apa sebenarnya tugas dan peran arsitek didalam proyek
tersebut.Secara utuh, tugas dan peran arsitek dalam kegiatan rancang bangun adalah
sebagai berikut :
Pertama, arsitek berperan menginterprestasikan kebutuhan klien. Melakukan kegiatan
konsultasi hingga perencanaan dan perancangan arsitektur. Dalam kegiatan ini arsitek
akan mengolah data rinci mengenai potensi site, kebutuhan bangunan, fungsi
bangunan, perilaku pengguna dan sebagainya untuk melihat konsep besar yang
diinginkan. Data inilah yang kemudian diolah menjadi usulan wujud bangunan.
Penghayatan arsitek terhadap kebutuhan riil klien akan menjadikan usulan wujud
bangunan itu menjadi bangunan yang dapat beradaptasi dengan kebutuhan-kebutuhan
klien kedepan.
Kedua, arsitek turut memaksimalkan investasi yang dikeluarkan klien. Menjadi
kordinator atas tiap pekerjaan yang akan dilaksanakan berdasarkan metode
pelaksanaan pekerjaan. Menerapkan batasan anggaran berdasarkan rencana anggaran
biaya yang dibuat dan punya pemahaman terhadap karakteristik material sehingga
penggunaan material dan teknologi terukur dan terencana.
Ketiga, Arsitek berperan dalam menghemat waktu pelaksanaan berdasarkan time
schedule yang dibuat. Arsitek menjadi kordinator yang mengatur elemen-elemen
penting di proyek sehingga setiap bagian pekerjaan yang dikerjakan menjadi lebih
efisien dan tepat waktu. Arsitek melakukan pengawasan pelaksanaan pekerjaan agar

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 4

setiap pekerjaan sesuai bestek dan sesuai perjanjian yang telah dibuat antara klien
dengan kontraktor pelaksana. Bilamana terjadi penyimpangan di lapangan, arsitek
berhak menghentikan, memerintahkan perbaikan atau membongkar bagian yang tidak
memenuhi persyaratan yang disepakati.
Tentunya peran diatas terjadi apabila klien membutuhkan keterlibatan arsitek dari
proses awal yakni kegiatan pra disain hingga proses akhir yakni selesainya kegiatan
pembangunan sampai masa pemeliharaan berakhir. Ini tidak mutlak. Bagi klien yang
membutuhkan disain dan belum berencana memulai pembangunan atau membutuhkan
konsep saja, saat ini banyak arsitek yang menawarkan layanan yang disesuaikan
dengan kebutuhan tersebut.
Bagi arsitek, bangunan tingkat dua tidak hanya berkaitan degan masalah
keindahan dan bentuk bangunan semata, tetapi juga bangunan selain bentuknya indah
juga berfungsi dengan optimal dan dapat memberikan keamanan dan kenyamanan
pada penggunanya dan lingkungan di sekitarnya.

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 5

3
ASPEK PERENCANAAN DAN
PERANCANGAN STRUKTUR &
KONSTRUKSI BANGUNAN DUA LANTAI
A. SUPER STRUCTURE
1. TANGGA
Tangga merupakan system transportasi dalam bangunan yang berbentuk vertical.
Pada umumnya tangga ditempatkan sedemikian rupa, sehingga tidak banyak
menggunakan ruangan, mudah ditemukan oleh setiap orang dan diusahakan memperoleh
penyinaran matahari pada siang hari. Untuk keamanan biasanya bangunan-bangunan
bertingkat dilengkapi dengan tangga tambahan berupa tangga kebakaran yang diletakkan
menempel pada dinding bagian luar. Bahan-bahan untuk pembuatan tangga terdiri dari
bahan kayu, baja, beton tulang, batu/ Bata merah dan lain-lainnya.
Secara garis besarnya tangga itu terdiri dari bagian-bagian seperti berikut:
Tangga adalah merupakan salah satu bagian dan suatu bangunan yang berfungsi sebagai alat
penghubung lantai bawah dengan lantai yank ada di atasnya pada bangunan bertingkat dalam
kegiatan tertentu.
Anak tangga (trede) adalah bagian dari tangga yang berfungsi untuk rnemijakkan/
melangkahkan kaki ke arah vertikal maupun horisontal (datar). Bidang trede datar yang
merupakan tempat berpijaknya telapak kaki dinamakan: Aantrede (langkah datar),
sedangkan bidang trede tegak yang merupakan selisih tinggi antara dua trede yang
berurutan dinamakan Optrede (langkah tegak/naik). Pada tangga kayu di bagian langkah
datar atau Aantrede biasa dibuat bagian yang disebut Wel ukurannya maksimum 5 cm.
Satu langkah datar (Aantrede) + Wel dinamakan trede sehingga lengkapnya menjadi
demikian : Lebar anak tangga untuk satu orang berjalan dibuat 60-90 cm dan untuk dua
orang berjalan dibuat 80-120 cm, 150 130 cm.

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 6

Gambar 1. Posisi tangga, aantrade & optrade, well-wellat-stootboard

Stootbord (bidang sentuh), adalah system penguatan yang terbuat dari papan dimana berfungsi
sebagai penguatan pada trede. Untuk menutupi celah antara trede dan stootbord dipasang wellat
dengan ukuran 1,5 x 2 cm atau 2 x 3 cm, selain itu wellat dapat menguatkan stootbord.
Ibu Tangga (Boom) adalah bagian tangga berupa dua batang atau papan miring yang
berfungsi menahan kedua ujung anak tangga (trede). Salah satu batang boom yang
menempel pada tembok dinamakan Boom Tembok atau Boom Luar, sedangkan batang
yang lain berdiri miring bebas dinamakan Boom Bebas atau Boom Dalam. Kemiringan
boom sesuai dengan besarnya kelandaian tangga (). Bagian ujung dari anak tangga,
wellat dan stootbord dihubungkan dengan alur pada sisi dalam boom, dengan dalam
takikan 1 cm. Sedangkan lebar boom yang diizinkan pada tangga kayu adalah minimal 3
4 cm.

Gambar 2. Ibu tangga/boom

Bordes adalah bagian dari tangga yang merupakan bidang datar yang agak luas dan berfungsi
sebagai tempat istirahat bila terasa lelah. Bordes ini dibuat apabila jarak tempuh tangga sangat
panjang yang mempunyai jumlah trede lebih dari 20 buah dan atau lebar tangga cukup akan
tetapi ruangan yang tersedia untuk tangga biasa/tusuk lurus tidak mencukupi. Bordes yang
berada di sudut tembok dinamakan bordes sudut sedangkan bordes yang berada di tengah-tengah
tinggi tangga (bukan di sudut) dinamakan bordes tengah/antara. Untuk menentukan panjang
bordes (L) digunakan pedoman ukuran satu langkah normal datar pada hitungan (ln) ditambah
dengan satu atau dua langkah panjat datar (Aantrede = a). Biasanya panjang bordes diambil
antara 80 150 cm.

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 7


Gambar 3. Borders

L= ln + a s/d 2.a
Pelengkap, adalah bagian dari tangga agar tangga yang dilalui
aman. Bagian dari pelengkap terdiri dari:
- Tiang sandaran adalah tiang yang berdiri tegak yang
ujung bawahnya tempat memanjatkan boom dan ujung
atasnya sebagai tempat menumpangnya sandarari
(rimbat tangan, pegangan). Bila menggunakan kayu
berpenampang bujursangkir dapat diambil ukuran 88 @
1010 cm.
- Sandaran (pegangan) adalah batang yang berfungsi
sebagai pegangan tangan bagi yang melintasi tangga
yang mempunyai posisi sejajar dengan sisi atas boom.
Sandaran ini dipasang setinggi 75 @ 90 cm terhitung
dari sisi boom, sandaran yang menempel pada tembok dinamakan sandaran tembok
(sandaran luar) sedangkan yang satu lagi dinamakan sandaran bebas (sandaran dalam).
Kayu sandaran dipakai kayu bulat dengan 4 @ 5 cm atau kayu 4 x 6 cm atau 6 @ 8 cm.
- Ruji (balustrade) merupakan susunan barisan papan-papan tegak yang berfungsi sebagai
pagar pengaman agar orang yang menjalani tangga, bila terpgleset tidak langsung jatuh
ke samping.
2. PLAFOND
Suatu lapisan atau bidang yang membatasi tingginya suatu ruang dan berfungsi
untuk keamanan kenyamanan serta keindahan suatu ruangan disebut langit-langit
(plafond). Tinggi langit-langit diukur dari sisi atas muka lantai sampai dengan sisi bawah
muka bidang pembatas/langit-langit. Tinggi langit-langit ini minimal 3.00 m, untuk
rumah tinggal dengan ukuran sedang dapat diambil tingginya 3.00 @ 4.00 m. Bila langitlangit dipasang terlalu rendah (kurang dari 2,80 m) maka ruangan akan terasa
pengap/sesak dan siklus udara kurang baik. Begitu pula bila langit-langit dipasang terlalu
tinggi maka terasa asing bagi penghuninya atau kurang "Bersahabat".
Secara umum di atas telah dikemukakan bahwa langit-langit/plafond berfungsi
untuk keamanan, kenyamanan dan keindahan (estetika) suatu ruangan. Adapun fungsi
langit-langit secara rinci adalah:
a. Menahan berbagai kotoran kecil yang jatuh dari celah-celah genteng seperti: debut
percikan air, binatang-binatang kecil yang membahayakan.
b. Menetralisir rasa panas dan dingin yang berasal dari bidang atap (sebagai isolator).
c. Untuk menutup konstruksi rangka atap agar tidak terlihat dari bawah, sehingga
ruangan tampak rapih dan bersih.
d. Turut meredam suara akibat air hujan yang jatuh pada bidang atap.
e. Sebagai pembatas tingginya suatu ruangan.
f. Untuk menggantung komponen penerangan (bola lampu, kabel) dan tempat
menggantungkan kipas angin.
3. KOLOM

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 8

Kolom merupakan bagian dari super struktur yang terletak di atas sloef. Kolom
berfungsi sebagai penyalur gaya dari beban yang berasal dari atap, ringbalk, dinding.
Kolom juga merupakan elemen vertical yang sangat banyak digunakan. Kolom dapat
juga disebut sebagai elemen struktur berarah miring asalkan memenuhi defenisi kolom,
yaitu beban (aksial) hanya diberikan di ujung-ujungnya dan tidak ada beban transversal.
Kolom dalam bangunan dapat di klasifikasikan, yaitu:
1. Kolom Pendek
Kolom pendek adalah jenis kolom yang kegagalan material (ditentukan oleh kekuatan
material) atau merupakan elemen struktur yang mempunyai nilai perbandingan antara
panjangnya dengan dimensi penampang melintang relative kecil. Kapasitas pikul
bebankolom pendek tidak tergantung pada panjang kolom dan apabila mengalami
beban berlebihan, kolom pendek pada umumnya akan gagal karena hancurnya
material.
2. Kolom Panjang
Kolom panjang adalah elemen struktur tekan yang semakin
panjang akan semakin langsing yang disebabkan oleh
proporsinya. Perilaku kolom langsing yang mengalami beban
tekan sangat berbeda dengan perilaku kolom pendek.
Karakteristik dari kolom panjang adalah apabila beban tekuk
pada kolom mencapai beban tekuk kritis, kolom akan berada
dalam keadaan keseimbangan netral. Dan apabila kolom
mengalami deformasi dari konfigurasi linear, maka akan
Gambar 4. Kolom
tetap pada konfigurasi baru (tidak kembali pada konfigurasi
linear). Beban tekuk adalah beban maksimum yang dapat
dipikul oleh kolom.
Sistem perhitungan untuk menentukan besaran kolom pada bangunan berlantai,
yaitu: 110 sampai dengan 112 dari bentangan modul. Modul adalah sistem grid yang
dipergunakan dalam penempatan modul atau batasan bentangan untuk penempatan
kolom. Untuk bangunan 2 (dua) lantai dalam menentukan besaran kolom yang dipakai
120 dari bentangan modul.
4. BALOK
Balok dalam system struktur bangunan berlantai merupakan system struktur yang
berada pada bagian super struktur, dengan fungsi sebagai penyalur gaya dari kolom
atasnya dan plat lantai. Desain balok dalam bangunan merupakan struktur statis tak tentu,
adalah struktur yang reaksi, gaya geser, dan momen lenturnya tidak dapat ditentukan
secaralangsung dengan hanya menggunakan persamaan keseimbangan statika dasar Fx
= 0, Fy = 0, Fz = 0. Struktur statis tak tentu adalah ari tinjauan desain, yaitu besar
reaksi, gaya geser dan momen lentur bergantung pada karakteristik fisik penampang
melintang, juga jenis material yang digunakan pada struktur tersebut, selain juga tentunya
bergantung pada bentang dan beban yang bekerja.
Pada bangunan berlantai klasifikasi balok terbagia 2 (dua), yaitu:
a. Balok induk, adalah balok yang berada pada tengah kolom di setiap lantainya.
Fungsi dari balok induk menerima gaya dari kolom atasnya, ringbalk, plat lantai dan

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 9

dinding. Besaran balok induk lebih besar dari balok anak. Untuk menentukan besaran
balok induk ditentukan 110 120 dari bentangan.
b. Balok anak, adalah balok yang berada dibawah plat lantai di bangunan berlantai.
Fungsi balok anak sebagai penerima gaya dan beban dari plat lantai yang kemudian
menyalurkan gaya dan beban tersebut ke balok induk. Besaran balok anak lebih kecil
dari balok induk. Untuk menentukan besaran balok anak maka sebaiknya bentangan
di bagi dua untuk menentukan as atau garis tengahnya, ini berfungsi untuk
memberikan keseimbangan dari bentangan, maka 110 - 112 dari as bentangan.
5. PLAT LANTAI
Plat adalah struktur planar kaku yang secara khas terbuat dari material monolit
yang tingginya kecil dibandingkan dengan dimensi-dimensi lainnya. Beban yang umum
bekerja pada plat mempunyai sifat banyak arah dan tersebar. Plat dapat ditumpu di
seluruh tepinya atau hanya pada titik-titik tertentu (misalnya oleh kolom-kolom) atau
campuran antara tumpuan menerus dan titik. Ketebalan plat lantai untuk bangunan
berlantai adalah 10 cm 12 cm. Secara umum tipe plat lantai bangunan berlantai terdiri
dari 3 (tiga) macam, yaitu:
1) Lantai Plat (Slab-Floor)
Pada jenis plat lantai ini, dikenal 2 (dua) macam, yaitu:
a. Lantai plat tanpa balok anak, dimana jarak kolom 2 4 meter.
b. Lantai plat dengan balok anak, dimana jarak kolom > 4 meter.

Gambar 5. Plat Slab-Floor

2. Lantai Berusuk 1 Arah (Rib-Floor)


Lantai berusuk 1 arah merupakan jenis plat lantai dimana balok rusuknya atau balok
anak hanya dalam satu arah saja dan memiliki jarak-jarak balok rusuk/balok anak.

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 10

Gambar 6. Plat Rib-Floor

3. Lantai Berusuk 2 Arah/Bersilangan (Grid Floor/Waffle Floor)


Jenis plat lantai ini hampir sama dengan system papan catur, karena arah balok
rusuk/balok anak dari dua arah.

Gambar 7. Plat Grid-Floor

B. UPPER STRUCTURE
1. ATAP
Atap adalah bagian dari suatu bangunan yang berfungsi sebagai penutup seluruh
ruangan yang ada di bawahnya terhadap pengaruh panas, hujan, angin, debu atau untuk
keperluan perlindungan. Atap merupakan bagian dari sistem struktur yang berada pada
bagian up struktur. Syarat-syarat atap yang harus dipenuhi antara lain:

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 11

a. Konstruksi atap harus kuat menahan beratnya


sendiri dan tahan terhadap tekanan maupun
tiupan angin atau bebah-beban lain, seperti
berat air hujan.
b. Pemilihan bentuk atap yang akan dipakai
hendaknya sedemikian rupa, sehingga
menambah keindahan serta kenyamanan
bertempat tinggal bagi penghuninya.
c. Agar rangka atap tidak mudah diserang oleh
rayap/bubuk, perlu diberi lapisan pengawet
(lapisan tir).
d. Bahan penutup atap harus tahan terhadap
pengaruh perubahan cuaca.
e. Kemiringan atau sudut lereng atap harus
disesuaikan dengan jenis bahan penutupnya.
Bentuk-bentuk atap diantaranya adalah
sebagai berikut:
a. Atap datar
b. Atap standar
c. Atap pelana
d. Atap perisai
e. Atap tenda
f. Atap menara
g. Atap joglo
h. Atap setengah bola
i. Atap gergaji
j. Atap silang
k. Atap gabungan

Gambar 8. Bentuk-bentuk atap

2. KUDA-KUDA
Konstruksi Rangka Atap / Kuda-kuda
Suatu susunan rangka batang yang berfungsi untuk mendukung beban atap
termasuk juga beratnya sendiri dan sekaligus dapat memberikan bentuk pada atapnya
dinamakan Kuda-kuda (Rangka atap). Jarak kuda-kuda yang satu dengan yang lainnya
biasanya diambil berkisar 3 @ 4 m dari sumbu ke sumbu. Pada dasarnya ukuran kayu
untuk konstruksi kuda-kuda tergantung pada:
- Lebar bentang (l) yaitu: Jarak dari sumbu tembok ke sumbu tembok yang lain.
- Besarnya beban dan tegangan yang akan dipikul (misalnya beban tarik, tekan maupun
lentur).

Bentuk Konstruksi Rangka Atap / Kuda-kuda


Kuda-kuda ini diletakkan di atas dua tembok selaku tumpuannya. Perlu
diperhatikan bahwa tembok diusahakan tidak menerima gaya horisontal maupun
momen, karena tembok hanya mampu menerima beban vertical. Bentuk dasar
konstruksi kuda-kuda:

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 12

Akibat adanya beban maka titik pertemuan kedua kaki kuda-kuda bagian atas (P)
mengalami perubahan letak yaitu turun ke P', sehingga kaki kuda-kuda menekan ke
dua tembok ke arah samping.
Untuk mencegah agar kaki kuda-kuda tidak bergerak ke samping perlu dipasang
balok horisontal untuk menahan kedua ujung bawah balok kaki kuda-kuda tersebut.
Balok yang horisontal ini dinamakan balok tarik. (AB).
Karena bentangan cukup besar dan beratnya sendiri, mak' balok tank AB akan
melentur. Titik, P bergerak turun ke titik P'.
Untuk mengatasi adanya penurunan pada balok tank di ujung atas kaki kuda-kuda
dipasangi tiang dan ujung bawah tiang menggantung tengah-tengah balok tank AB.
Oleh karenanya dinamakan tiang gantung.
Bentangan makin besar, praktis kaki kuda-kuda yang miring, ini bertambah besar
pules Dan oleh adanya beban kaki ini dapat melentur.
Untuk mencegah adanya pelenturan pada ka.ki kuda-kuda perlu dipasangi batang
sokong/skoor di mana ujung bawah skoor memancad pada bagian bawah tiang
ganttmg ujung atas skoor menopang kira-kira bagian tengah kaki kuda-kuda.
Pada bangunan-bangunan yang berukuran besar, kemungkinan konstruksi kudakuda melentur pada bidangnya karena kurang begitu kaku. Untuk itu perlu
diperkuat dengan dua batang kayu horisontal yang diletakkan kira-kira di tengahtengah tinggi tiang gantung.

Batang-batang pelengkap kuda-kuda dan bubungan/jurai pada konstruksi atap


antara lain, sebagai berikut:
Balok ternbok (plat tembok), yaitu: balok yang dipasang di sepanjang tembok
atau di atas tumpuan beberapa tiang penyangga yang berfungsi untuk menahan usuk
bagian bawah.
Balok gording (gording), yaitu: batang memanjang yang sejajar balok tembok
yang diletakkan di atas kaki kuda-kuda untuk menumpu usuk dari sambungannya.
Balok bubungan (nok), yaitu: balok memanjang yang diletakkan di atas puncak
kaki kuda-kuda dan sejajar balok gording (pada atap pelana) dan sekaligus.
berfungsi untuk menahan pertemuan usuk bagian atas.
Papan bubungan, yaitu: lembaran papan yang diletakkan berdiri di atas balok
bubungan yang berfungsi untuk menahan genteng bubungan dan adukannya
Balok kunci, yaitu: balok yang dipasang di atas atau di samping balok tarik yang
berfungsi untuk mengunci/menahan sambungannya.
Balok angin (ikatan silang), yaitu: balok yang dipasang saling menyilang di antara
tiang-tiang gantung yang diperkuat dengan baut mur.
Balok topang, yaitu: balok yang dipasang miring di mana ujung atasnya menopang
balok bubungan dan ujung-bawahnya memancad pada tiang gantung. Balok ini
berfungsi untuk menahan pelenturan balok bubungan.
Usuk (kasau-kasau), yaitu: kayu yang berukuran 7 cm atau 1 cm yang menumpang
di atas balok bubungan, balok gording dan balok tembok yang diletakkan berjejer di
atas balok gording dengan jarak 50 cm dari. sumbu ke sumbu (kecuali pada jurai
luar/dalam atap perisai).

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 13

Reng, yaitu kayu yang berukuran 2cm atau 3/4 cm yang dipasang di atas usuk.
Jarak reng tidak pasti ini disesuaikan dengan ukuran panjang genteng yang
digunakan.
Balok bubungan miring (jurai luar), yaitu: balok yang berada pada pertemuan
dan bidang atap yang menjorok ke luar.
Balok lembahan (balok jurai dalam = balok jurai talang), yaitu: balok yang
berada pada pertemuan dua bidang atap yang menjorok ke dalam membentuk
lernbahan/talang..
Tiang pincang, yaitu: tiang yang ujung atasnya menopang balok bubungan miring
pada jarak spanjangnya dari sudut tembok, dan ujung bawahnya menumpang di atas
batang tunjang atau batang pikul.
Batang tunjang (batang pikul), yaitu: batang diagonal yang dipasang di atas atau
di bawah balok tembok yang berfungsi memikul tiang pincang. Panjang batang
tunjang maksimal 3 m atau dipasang lebih kurang 1,5 m dari sudut tembok.
Batang pincang (batang-batang apit), yaitu: dua batang kayu yang mengapit
ujung bawah tiang pincang dan balok bubungan miring.

C. SUB STRUCTURE
1. PONDASI
Pondasi merupakan bagian dari struktur bangunan yang termasuk dalam sub
struktur bangunan. Pondasi berfungsi sebagai penerima beban dari bangunan, kemudian
beban tersebut dialirkan ke dalam tanah di bawah bangunan tersebut. Pondasi adalah
bagian terendah dari bangunan yang meneruskan beban bangunan ke tanah atau batuan
yang berada di bawahnya. Terdapat klasifikasi pondasi, yaitu:
1. Pondasi Dangkal
Pondasi dangkal adalah pondasi yang mendukung bebannya secara langsung.
Pondasi dangkal biasanya dipergunakan pada bangunan sederhana/bangunan yang tidak
berlantai serta pada bangunan 2 lantai. Jenis pondasi dangkal pada bangunan terbagia atas
dua jenis, yaitu:
a. Pondasi Batu (Pondasi Garis)
Pondasi batu/garis biasa juga disebut sebagai pondasi memanjang. Pondasi
batu/garis adalah jenis pondasi yang mendukung dinding secara memanjang atau
digunakan untuk mendukung sederetan kolom yang berjarak dekat. Pondasi batu/garis
memiliki kedalaman 1 1,5 meter. Pondasi ini tidak dipergunakan pada struktur
vertical/bangunan tinggi.
b. Pondasi Plat Kaki (Pondasi Foot-Plate)
Pondasi plat kaki biasa juga disebut sebagai pondasi telapak. Pondasi telapak
adalah pondasi yang berdiri sendiri dalam mendukung kolom. Pondasi telapak memiliki
kedalaman 1,5 2 meter, bias dipakai untuk bangunan vertical. Pondasi ini haeus
bertumpu pada tanah keras atau pada tiang pancang.
2. Pondasi Dalam
Pondasi dalam adalah pondasi yag meneruskan beban bangunan ke tanah keras
atau batu yang terletak relative jauh dari permukaan. Adapun jenis-jenis pondasi dalam,
yaitu:
a. Pondasi Rakit

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 14

Pondasi rakit biasa juga disebut raft foundation, adalah pondasi yang digunakan
untuk mendukung bangunan yang terletak pada tanah lunak atau digunakan bila susunan
kolom-kolom jaraknya yang sedemikian dekat di semua arahnya. Prinsip penepatan
pondasi rakit adalahpondasi ini sebaiknya mendapatkan daya dukung yang besar dan
memperluas bidang sentuh tanah dengan pondasi.
b. Pondasi Sumuran
Pondasi sumuran biasa juga disebut dengan nama pier foundation, adalah pondasi
yang merupakan bentuk peralihan antara pondasi dangkal dengan pondasi tiang, pondasi
ini dipergunakan bila tanah dasar yang kuat dan terletak pada kedalaman yang relative
dalam.
c. Pondasi Caisson
Pondasi caisson merupakan pondasi dengan bentuk persegi empat dan dasar dari
pondasi caisson diletakkan pada lapisan tanah yang cukup keras untuk memikul beban
struktur. Pondasi ini juga biasa dipakai/dipergunakan pada bangunan yang berada pada
daerah/site yang berair.
d. Pondasi Sarang Laba-Laba
Pondasi sarang laba-laba merupakan pondasi kotak terbalik, dimana pada bagian
bawah kotak tidak tertutup. Kotak yang kosong diisi dengan tanah atau pasir + batu. Plat
lantai terdiri dari beberapa kotak kecil yang sama, dimana setiap sudut kotak ditempatkan
tiang. Tiang dalam kotak dihubungkan dengan bidang diagonal. Seluruh dinding pondasi
merupakan dinding beton bertulang dan tingginya sama dengan dinding luar. Ruang
kosong dalam kotak setiga diisi dengan tanah atau pasir + batu sebelum diadakan
pengecoran pada lantai dasar.
e. Pondasi Tiang
Pondasi tiang biasa juga disebut dengan nama pile foundation yang digunakan bila
tanah pondasi pada kedalaman yang normal tidak mampu mendukung bebannya, dan
tanah keras terletak pada kedalaman yang sangat dalam. Dan juga bila pondasi bangunan
terletak pada tanah timbunan yang cukup tinggi, sehingga bila bangunan diletakkan pada
timbunan akan dipengaruhi oleh penurunan yang besar. Pondasi tiang bentuknya hampir
sama dengan pondasi sumuran akan tetapi pondasi tiang umumnya berdiameter lebih kecil
dan lebih panjang serta lebih padat.
D. BAHAN BANGUNAN
Dalam pelaksanaan pembangunan baik itu rumah, gedung maupun bangunan struktur
lainya kita membutuhkan material bangunan sebagai bahan untuk pelaksanaanya. Untuk
dapat membangun sebuah bangunan berkualitas maka diperlukan upaya khusus dalam
memilih bahan bangunan yang bagus, caranya bisa dengan melihat kondisi penampakan fisik
material atau melakukan tes uji bahan di laboratorium.Contoh material bangunan yang sering
digunakan adalah:

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 15

Beton, merupakan batu buatan yang terdiri dari campuran pasir, semen, batu atau bahan
lainya yang di cetak menjadi bagian dari sebuah bangunan. beton mempunyai tingkat
kuat tekan yang berbeda-beda misalnya dinamakan dengan simbol K-250 yang berarti
beton tersebut mempunyai kuat tekan sebesar 250 kg/m2.

Semen, di gunakan sebagai bahan pengikat agregat agregat sehingga dapat dibentuk
menjadi batu beton. semen dapat dibeli di toko bangunan dengan satuan Zak atau kg, 1
zak semen ada yang berisi berat 40 kg atau 50 kg.

Besi Beton, di gunakan sebagai penahan gaya tarik pada konstruksi beton. besi
bangunan banyak diproduksi dlam bentuk batangan dengan penampang lingkaran, untuk
melihat daftar berat besi per m dapat melakukan download tabel berat besi.

Bekisting, bisa dibuat dari kayu, atau seng, bekisting digunakan untuk mencetak beton
sesuai bentuk yang di inginkan. Gambar diatas adalah sebuah contoh bekisting kolom
yang digunakan pada pembangunan struktur gedung bertingkat tinggi.

Pasir, digunakan segai campuran material pengikat adukan baik beton maupun
pemasangan material lainya. pasir yang baik dan layak digunakan sebagai bahan
bangunan sebelumnya dilakukan tes pasir terlebih dahulu yaitu tes besar butiran, tes
kadar lumpur dan organik.

Batako, adalah beton atau batu lain yang dicetak jadi, sehingga memudahkan dalam
pelaksanaanya, batako dapat digunakan pada dinding, lantai halaman, taman maupun
tempat lainya. di pasaran dapat ditemukan batako dengan ukuran 10x20x40 cm.

Material lainya seperti ubin keramik, material pintu dan jendela, cat, dan material lainya.

E. FUNGSI BANGUNAN
Fungsi bangunan adalah aspek yang akan diwadahi dalam struktur sehingga
pembahasannya wajib dilakukan untuk mengetahui persyaratan-persyaratan tertentu yang
harus dipenuhi oleh ruang. Karena menentukan ruang maka struktur dan konstruksi yang
dibentuk oleh bangunan harus memperhatikan persyaratan ruang. Bangunan tidak akan
berhasil mewadahi fungsi jika kegiatan di dalamnya tidak difasilitasi oleh ruang. Fasilitasfasilitas ini akan berupa sistem-sistem utilitas pada bangunan yang sangat bergantung dengan
faktor lainnya.
Adapun jenis bangunan dilihat dari fungsinya adalah sebagai berikut:
Residensial
Komersial
Infrastucture public
Office

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 16

KLASIFIKASI BANGUNAN GEDUNG


karakter,
kompleksitas
dan
Sederhana
teknologi sederhana
karakter,
kompleksitas
dan
Tingkat Kompleksitas
Tidak Sederhana
teknologi tidak sederhana
penggunaan
dan
persyaratan
Khusus
khusus
Permanen
umur layanan di atas 20 tahun
Tingkat Permanensi
Semi Permanen
umur layanan 5 s/d 10 tahun
Darurat / Sementara
umur layanan s/d 5 tahun
Resiko kebakaran tinggi mudah terbakarnya tinggi
Resiko
kebakaran
Tingkat Resiko
sedang
mudah terbakarnya sedang
Kebakaran
Resiko
kebakaran
rendah
mudah terbakarnya rendah
Zona 1
daerah sangat aktif
Zona 2
daerah aktif
Zona 3
daerah lipatan dengan retakan
Zonasi Gempa
Zona 4
daerah lipatan tanpa retakan
Zona 5
daerah gempa kecil
Zona 6
daerah stabil
Lokasi Padat
di pusat kota
Lokasi
Lokasi Sedang
di daerah pemukiman
Lokasi Renggang
di daerah pinggiran kota
Bertingkat Tinggi
lebih dari 8 lantai
Ketinggian
Bertingkat Sedang
5 s/d 8 lantai
Bertingkat Rendah
s/d 4 lantai
Milik Negara
Kepemilikan
Milik Badan Usaha
Milik Perorangan
Suatu bangunan gedung dapat memiliki lebih dari satu fungsi atau kombinasi fungsi
dalam bangunan gedung, misalnya kombinasi fungsi hunian dan fungsi usaha, seperti bangunan
gedung rumah-toko (ruko), rumah-kantor (rukan), apartemen-mal, dan hotel-mal, atau kombinasi
fungsi-fungsi usaha, seperti bangunan gedung kantor-toko dan hotel atau mal.

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 17

Agar pemenuhan persyaratan teknis setiap fungsi bangunan gedung lebih efektif dan
efisien, fungsi bangunan gedung tersebut diklsifikasikan berdasarkan tingkat kompleksitas,
tingkat permanensi, tingkat resiko kebakaran, zonasi gempa, lokasi, ketinggian, dan
kepemilikan. Pengklasifikasian bangunan gedung ini diatur dalam Pasal 5 Peraturan
Pemerintah No 36 Tahun 2005 tentang Bangunan Gedung.
Fungsi dan Klasifikasi bangunan gedung harus sesuai dengan peruntukan lokasi yang
diatur dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota, Rencana Detail Tata
Ruang Kawasan Perkotaan (RDTRKP), dan/atau Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan
(RTBL). Fungsi dan Klasifikasi bangunan gedung diusulkan oleh pemilik bangunan dalam
pengajuan permohonan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).
F. SITE / LOKASI BANGUNAN
Site atau lokasi bangunan juga akan berpengaruh pada aspek lain yang mempengaruhi
lingkungan beserta aspek lain yang terkait semacam iklim mikro lingkungan, keadaan tanah
termasuk kekuatan dan topografinya, ketersediaan bahan bangunan, ketetanggaan dengan
bangunan lain, dan sebagainya. Informasi pada site ini juga sangat menetukan tindakan-tindakan
yang akan diambil dalam perancangan struktur. Bentuk bangunan seperti apa,sistem struktur
yang mana yang sesuai, pemakaian bahan yang teapat, akan sangat berpengaruh pada
perancangan arsitekturnya.
G. SISTEM-SISTEM BANGUNAN
Sistem-sistem yang bekerja pada bangunan di antaranya:

Pengudaraan
Pencahayaan
Distribusi air bersih
Sanitasi
Struktur
Transportasi
Elektrikal, dan lain sebagainya.

Adapun sistem struktur pada bangunan secara garis besar menggunakan beberapa sistem
utama, yaitu:
a) Struktur Rangka atau Skeleton
Struktur kerangka atau skeleton terdiri atas komposisi dari kolomkolom dan balok-balok. Kolom
sebagai unsur vertikal berfungsi sebagai penyalur beban dan gaya menuju tanah, sedangkan
balok adalah unsur horisontal yang berfungsi sebagai pemegang dan media pembagian beban dan

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 18

gaya ke kolom. Kedua unsur ini harus tahan


terhadap tekuk dan lentur. Selanjutnya dilengkapi dengan
lantai,

dinding,

dan

komponen

lain

sistem

untuk

melengkapi kebutuhan bangunan untuk pembentuk


ruang. Sistem dan komponen tersebut diletakkan
dan ditempelkan pada kedua elemen rangka
bangunan. Dapat dikatakan bahwa elemen yang menempel
rangka bukanlah elemen struktural (elemen non-struktural). Bahan
umumnya dipakai pada sistem struktur rangka
adalah kayu, baja, beton termasuk beton pra-

pada
yang

Gambar 9. Tipikal strukture gedung berlantai


banyak

cetak . Semua bahan tersebut harus tahan


terhadap gaya-gaya tarik, tekan, puntir dan lentur. Saat ini bahan yang paling banyak digunakan
adalah baja dan beton bertulang karena mampu menahan gaya-gaya tersebut dalam skala yang
besar. Untuk bahan pengisi non-strukturalnya dapat digunakan bahan yang ringan dan tidak
mempunyai daya dukung yang besar, seperti susunan bata, dinding kayu, kaca dan lainnya.
Sistem rangka yang dibentuk dengan elemen vertikal dan horisontal baik garis atau bidang, akan
membentuk pola satuan ukuran yang disebut grid. Grid berarti kisi-kisi yang bersilangan tegak
lurus satu dengan lainnya membentuk pola yang teratur. Berdasarkan pola yang dibentuk serta
arah penyaluran pembebanan atau gayanya, maka sistem rangka umumnya terdiri atas dua
macam yaitu: sistem rangka dengan bentang satu arah (one way spanning) dan bentang dua arah
(two way spanning). Bentuk grid persegi panjang menggunakan sistem bentang satu arah, dengan
penyaluran gaya ke arah bentang yang pendek. Sedangkan untuk pola grid yang cenderung
bujursangkar maka penyaluran gaya terjadi ke arah kedua sisinya, maka sistem struktur yang
digunakan adalah sistem bentang dua arah. Aksi struktur dua arah dapat diperoleh jika
perbandingan dimensi bentang panjang dengan bentang pendek lebih kecil dari 1,5.
Sistem struktur rangka banyak berkembang untuk aplikasi pada bangunan tinggi (multistorey structure) dan bangunan dengan bentang lebar (long-span structure)
b) Struktur Rangka Ruang

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 19

Sistem rangka ruang dikembangkan dari sistem struktur rangka batang dengan penambahan
rangka batang kearah tiga dimensinya (gambar 4.21). Struktur rangka ruang adalah komposisi
dari batang-batang yang masing-masing berdiri sendiri, memikul gaya tekan atau gaya tarik yang
sentris dan dikaitkan satu sama lain dengan sistem tiga dimensi atau ruang. Bentuk rangka ruang
dikembangkan dari pola grid dua lapis (doubel-layer grids), dengan batang-batang yang
menghubungkan titik-titik grid secara tiga dimensional.

H. EKONOMI BANGUNAN
Pengenalan aspek-aspek ekonomi bangunan pada perancangan bangunan, meliputi:
hubungan biaya dengan lokasi dan kondisi lahan, biaya dengan bentuk bangunan, biaya dengan
elemen bangunan, biaya dengan waktu, biaya dengan unsur ekonomi lainnya, dan hubungan
arsitek dengan pihak penentu biaya, sehingga keputusan rancangan menjadi lebih optimal sesuai
tujuannya.

KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh dari berbagai pembahasan di atas, yaitu:
1. Sistem struktur dan konstruksi bangunan merupakan bagian yang terpenting dalam suatu
gedung atau rumah. Sistem struktur dalam bangunan terbagi tiga yaitu sub struktur, super
struktur dan up struktur. Dan system struktur merupakan elemen-elemen utama dalam
bangunan yang berfungsi sebagai penyalur gaya dari beban - beban dan penerima beban
secara langsung yang terjadi pada struktur dan konstruksi bangunan. Sedangkan system
konstruksi merupakan elemen-elemen yang menempel pada system struktur bangunan,
system konstruksi ini berfungsi sebagai penyalur gaya dari beban yang diterima dari setiap
system struktur seperti kolom,dan kuda-kuda. Sistem struktur dalam bangunan biasanya juga
dijadkan sebagai system tumpuan beban seperti tumpuan linear sedangkan system konstruksi

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 20

merupakan system penyalur gaya dari beban yang terjadi pada tumpuan tak menerus,
contonya dinding pada bangunan.
2. Bagi arsitek, bangunan tingkat dua tidak hanya berkaitan degan masalah keindahan dan
bentuk bangunan semata, tetapi juga bangunan selain bentuknya indah juga berfungsi dengan
optimal dan dapat memberikan keamanan dan kenyamanan pada penggunanya dan
lingkungan di sekitarnya.
3. Aspek-aspek dalam perencanaan dan perancangan struktur dan konstruksi bangunan, yaitu:
Struktur dan konstruksi
Bahan bangunan
Fungsi bangunan
Site/ lokasi bangunan
Sistem-sistem bangunan
Ekonomi bangunan

***

Struktur & Konstruksi Bangunan 2 - 21