P. 1
J03 Beny Dkk LHP Pantai Berpasir

J03 Beny Dkk LHP Pantai Berpasir

|Views: 374|Likes:
Dipublikasikan oleh BENY
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Oleh :
Beny Harjadi, Purwanto, Arina Miardini,
Gunawan, Aris Boediyono, dan Siswo

ABSTRAK

Lahan pantai berpasir termasuk lahan marginal yang bersifat dinamis yang terdapat hubungan antara pasokan butir-butir pasir dari hasil abrasi pantai oleh ombak menuju pantai dan dari gisik yang merupakan hasil erosi angin kearah daratan. Peristiwa tersebut menyebabkan lahan pantai berpasir menjadi kritis, baik untuk wilayah itu sendiri maupun wilayah di belakangnya. Berkaitan dengan permasalahan yang ada di wilayah pantai berpasir, dibutuhkan suatu model pengelolaan untuk rehabilitasi dan konservasi yang sesuai dan mampu diterapkan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyediakan sarana pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir yang sesuai, berupa demplot yang representatif serta inovatif. Metode penelitian meliputi: (a) Kegiatan pembuatan rancangan, dan pemetaan lokasi antara lain: patok, meteran, GPS, kompas, peta dasar, (b) Kegiatan pembuatan sarana penahan erosi pasir tanaman TA, antara lain: cemara laut (Casuarina equisetifolia), (c) Bibit tanaman budidaya semusim untuk ditanam di antara jalur tanaman TA antara lain: cabe (Capsicum annuum) dan jagung (Zea mays), (d) Kegiatan perbaikan tanah berupa pupuk kandang dengan dosis 20 ton/ha serta pupuk anorganik ZA, KCl, urea, TSP, insektisida, dan fungisida, (e) Pengelolaan kondisi iklim dan biofisik lahan (f) Kegiatan pengamatan lapangan antara lain: ombrometer, anemometer, termometer, termohidro. Pengembangan tanaman Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) sebagai tanggul angin sudah memasuki tahun kelima sejak tahun 2005 - 2009.
Penanaman cemara laut dilakukan setiap tahun dengan jarak tanam 5 x 5 m. Kriteria bibit cemara laut yang cocok untuk dikembangkan di lahan pantai berpasir adalah bibit yang memiliki batang coklat, daun hijau gelap dan ukuran diameter batang ½ cm atau keliling batang sekitar 2 cm dengan umur bibit sekitar 6 sampai satu tahun. Kelembagaan berupa peran aparat desa dan staf obyek wisata serta anggota kelompok tani cukup baik. Namun tingkat adopsi masih rendah, karena resiko kegagalan yang tinggi penanaman di lahan pantai berpasir juga karena lahan tersebut juga menjadi milik obyek wisata. Partisipasi masyarakat terhadap upaya RLKT lahan pantai berpasir yang mendukung wisata lingkungan terpadu cukup yaitu ditunjukkan dari semangat untuk melakukan penanaman semusim di lahan pantai berpasir dan adanya pertemuan rutin bulanan kelompok tani. Peningkatan tingkat pendapatan masyarakat dengan pengembangan lahan pantai berpasir harus ditunjang partisipasi aktif dari masyarakat dengan merubah persepsi bahan lahan berpasir yang dianggap lahan marjinal menjadi lahan yang memiliki produktivitas tinggi. Data pengunjung wisata tahun 2006-2009 mengalami peningkatan yaitu 66.100 orang menjadi 80250 orang. atau peningkatan pendapatan wisata dari Rp. 136.550.000,- (2006) menjadi Rp. 163.581.150,- (2009).
Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir

Oleh :
Beny Harjadi, Purwanto, Arina Miardini,
Gunawan, Aris Boediyono, dan Siswo

ABSTRAK

Lahan pantai berpasir termasuk lahan marginal yang bersifat dinamis yang terdapat hubungan antara pasokan butir-butir pasir dari hasil abrasi pantai oleh ombak menuju pantai dan dari gisik yang merupakan hasil erosi angin kearah daratan. Peristiwa tersebut menyebabkan lahan pantai berpasir menjadi kritis, baik untuk wilayah itu sendiri maupun wilayah di belakangnya. Berkaitan dengan permasalahan yang ada di wilayah pantai berpasir, dibutuhkan suatu model pengelolaan untuk rehabilitasi dan konservasi yang sesuai dan mampu diterapkan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyediakan sarana pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir yang sesuai, berupa demplot yang representatif serta inovatif. Metode penelitian meliputi: (a) Kegiatan pembuatan rancangan, dan pemetaan lokasi antara lain: patok, meteran, GPS, kompas, peta dasar, (b) Kegiatan pembuatan sarana penahan erosi pasir tanaman TA, antara lain: cemara laut (Casuarina equisetifolia), (c) Bibit tanaman budidaya semusim untuk ditanam di antara jalur tanaman TA antara lain: cabe (Capsicum annuum) dan jagung (Zea mays), (d) Kegiatan perbaikan tanah berupa pupuk kandang dengan dosis 20 ton/ha serta pupuk anorganik ZA, KCl, urea, TSP, insektisida, dan fungisida, (e) Pengelolaan kondisi iklim dan biofisik lahan (f) Kegiatan pengamatan lapangan antara lain: ombrometer, anemometer, termometer, termohidro. Pengembangan tanaman Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) sebagai tanggul angin sudah memasuki tahun kelima sejak tahun 2005 - 2009.
Penanaman cemara laut dilakukan setiap tahun dengan jarak tanam 5 x 5 m. Kriteria bibit cemara laut yang cocok untuk dikembangkan di lahan pantai berpasir adalah bibit yang memiliki batang coklat, daun hijau gelap dan ukuran diameter batang ½ cm atau keliling batang sekitar 2 cm dengan umur bibit sekitar 6 sampai satu tahun. Kelembagaan berupa peran aparat desa dan staf obyek wisata serta anggota kelompok tani cukup baik. Namun tingkat adopsi masih rendah, karena resiko kegagalan yang tinggi penanaman di lahan pantai berpasir juga karena lahan tersebut juga menjadi milik obyek wisata. Partisipasi masyarakat terhadap upaya RLKT lahan pantai berpasir yang mendukung wisata lingkungan terpadu cukup yaitu ditunjukkan dari semangat untuk melakukan penanaman semusim di lahan pantai berpasir dan adanya pertemuan rutin bulanan kelompok tani. Peningkatan tingkat pendapatan masyarakat dengan pengembangan lahan pantai berpasir harus ditunjang partisipasi aktif dari masyarakat dengan merubah persepsi bahan lahan berpasir yang dianggap lahan marjinal menjadi lahan yang memiliki produktivitas tinggi. Data pengunjung wisata tahun 2006-2009 mengalami peningkatan yaitu 66.100 orang menjadi 80250 orang. atau peningkatan pendapatan wisata dari Rp. 136.550.000,- (2006) menjadi Rp. 163.581.150,- (2009).

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: BENY on Mar 18, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/24/2012

pdf

text

original

DEPARTEMEN KEHUTANAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN

BALAI PENELITIAN KEHUTANAN SOLO

LAPORAN HASIL PENELITIAN (LHP) TAHUN ANGGARAN 2009

MODEL REHABILITASI LAHAN DAN KONSERVASI TANAH PANTAI BERPASIR

Penanggung Jawab Kegiatan : Ir. Beny Harjadi, MSc.

SURAKARTA, DESEMBER 2009

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN HASIL PENELITIAN

MODEL REHABILITASI LAHAN DAN KONSERVASI TANAH PANTAI BERPASIR
Tahun 2009

Surakarta, Desember 2009 Diperiksa oleh : Kepala Seksi EvLap Diperiksa oleh : Ketua Kelti KTA, Disusun oleh, Ketua Tim Pelaksana

Ir.Ahmad Agus Munawar, MP
NIP. 19610827.198903.1.002

Ir. Sukresno, MSc
NIP.19580204.198503.1.002

Ir. Beny Harjadi, MSc
NIP.19610317.199002.1.001

Disahkan oleh : Kepala BPK Solo,

Ir. Bambang Sugiarto, MP. NIP. 710.004.775

ii

KATA PENGANTAR Penelitian Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir merupakan kegiatan pengembangan dan sosialisasi hasil penelitian yang pernah dilakukan di Samas, Yogyakarta. Judul ini merupakan bagian dari UKP ”Teknologi dan Kelembagaan Rehabilitasi Lahan Terdegradasi”. Tahun 2009 merupakan kegiatan tahun terakhir di

Kebumen sejak tahun 2005, sehingga LHP (Laporan Hasil Penelitian) tahun ini berisi laporan kumulatif dan komprehensif sejak tahun 2005 sampai 2009. Laporan ini berisikan informasi mengenai kegiatan pengembangan pada lahan pantai berpasir. Pengembangan ini dilakukan dengan menanam tanaman tanggul angin yang terdiri dari cemara laut dan tanaman semusim. Tujuan penelitian ini untuk menyediakan sarana pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir yang sesuai, berupa demplot yang representatif serta inovatif yang memuat kegiatan-kegiatan antara lain : 1) Mengembangkan jalur TA dengan tanaman Casuarina equisetifolia. 2) Mengelola kondisi iklim dan biofisik lahan 3) Mengembangkan pola tanam tanaman budidaya yang sesuai. 4) Meningkatkan tingkat pendapatan masyarakat 5) Meningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata. Dengan tersusunnya laporan akhir Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir tahun dinas 2005-2009 diharapkan dapat dipakai sebagai bahan acuan untuk penelitian berikutnya. Ucapan terimakasih kepada Tim Peneliti dan semua pihak yang selama ini telah membantu sehingga dapat tersusunnya laporan ini. Saran dan kritik dari para pengguna dan pembaca masih ditunggu untuk proses penyempurnaan laporan ini.

Surakarta, Desember 2009 Kepala Balai,

Ir. Bambang Sugiarto, MP. NIP. 710.004.775

iii

Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir Oleh : Beny Harjadi, Purwanto, Arina Miardini, Gunawan, Aris Boediyono, dan Siswo ABSTRAK Lahan pantai berpasir termasuk lahan marginal yang bersifat dinamis yang terdapat hubungan antara pasokan butir-butir pasir dari hasil abrasi pantai oleh ombak menuju pantai dan dari gisik yang merupakan hasil erosi angin kearah daratan. Peristiwa tersebut menyebabkan lahan pantai berpasir menjadi kritis, baik untuk wilayah itu sendiri maupun wilayah di belakangnya. Berkaitan dengan permasalahan yang ada di wilayah pantai berpasir, dibutuhkan suatu model pengelolaan untuk rehabilitasi dan konservasi yang sesuai dan mampu diterapkan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyediakan sarana pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir yang sesuai, berupa demplot yang representatif serta inovatif. Metode penelitian meliputi: (a) Kegiatan pembuatan rancangan, dan pemetaan lokasi antara lain: patok, meteran, GPS, kompas, peta dasar, (b) Kegiatan pembuatan sarana penahan erosi pasir tanaman TA, antara lain: cemara laut (Casuarina equisetifolia), (c) Bibit tanaman budidaya semusim untuk ditanam di antara jalur tanaman TA antara lain: cabe (Capsicum annuum) dan jagung (Zea mays), (d) Kegiatan perbaikan tanah berupa pupuk kandang dengan dosis 20 ton/ha serta pupuk anorganik ZA, KCl, urea, TSP, insektisida, dan fungisida, (e) Pengelolaan kondisi iklim dan biofisik lahan (f) Kegiatan pengamatan lapangan antara lain: ombrometer, anemometer, termometer, termohidro. Pengembangan tanaman Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) sebagai tanggul angin sudah memasuki tahun kelima sejak tahun 2005 - 2009. Penanaman cemara laut dilakukan setiap tahun dengan jarak tanam 5 x 5 m. Kriteria bibit cemara laut yang cocok untuk dikembangkan di lahan pantai berpasir adalah bibit yang memiliki batang coklat, daun hijau gelap dan ukuran diameter batang ½ cm atau keliling batang sekitar 2 cm dengan umur bibit sekitar 6 sampai satu tahun. Kelembagaan berupa peran aparat desa dan staf obyek wisata serta anggota kelompok tani cukup baik. Namun tingkat adopsi masih rendah, karena resiko kegagalan yang tinggi penanaman di lahan pantai berpasir juga karena lahan tersebut juga menjadi milik obyek wisata. Partisipasi masyarakat terhadap upaya RLKT lahan pantai berpasir yang mendukung wisata lingkungan terpadu cukup yaitu ditunjukkan dari semangat untuk melakukan penanaman semusim di lahan pantai berpasir dan adanya pertemuan rutin bulanan kelompok tani. Peningkatan tingkat pendapatan masyarakat dengan pengembangan lahan pantai berpasir harus ditunjang partisipasi aktif dari masyarakat dengan merubah persepsi bahan lahan berpasir yang dianggap lahan marjinal menjadi lahan yang memiliki produktivitas tinggi. Data pengunjung wisata tahun 2006-2009 mengalami peningkatan yaitu 66.100 orang menjadi 80250 orang. atau peningkatan pendapatan wisata dari Rp. 136.550.000,- (2006) menjadi Rp. 163.581.150,- (2009). .

Kata Kunci : Rehabilitasi, Konservasi Tanah, Pantai Berpasir, Kebumen

iv

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .......................................................................................................... iii ABSTRAK............................................................................................................................ iv DAFTAR ISI.......................................................................................................................... v DAFTAR TABEL................................................................................................................ vii DAFTAR GAMBAR .......................................................................................................... viii DAFTAR GAMBAR .......................................................................................................... viii DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................................... viii I. PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1 A. B. Latar Belakang ........................................................................................................... 1 Rumusan Masalah...................................................................................................... 2

C. Tujuan............................................................................................................................ 2 1. Tujuan UKP .....................................................................................................2 2. Tujuan PPTP Tahun 2005-2009 ......................................................................3 3. Tujuan RPTP Tahun 2005-2009 ......................................................................3 D. Sasaran .......................................................................................................................... 3 1. Sasaran UKP ....................................................................................................3 2. Sasaran PPTP Tahun 2005-2009 .....................................................................4 3. Sasaran RPTP Tahun 2005-2009 .....................................................................4 E. F. G. Luaran Tahun 2005-2009........................................................................................... 4 Ruang Lingkup Tahun 2005-2009 ............................................................................. 5 Hasil yang Telah Dicapai........................................................................................... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................................... 8 A. Rehabilitasi Lahan......................................................................................................... 8 B, Konservasi Tanah.......................................................................................................... 9 C. Lahan Pantai Berpasir ................................................................................................. 10 D. Masyarakat Karanggadung ......................................................................................... 13 E. Sosial Ekonomi............................................................................................................ 13 F. Adopsi.......................................................................................................................... 14

v

III. BAHAN DAN METODE .............................................................................................. 16 A. Lokasi Penelitian dan Tata Waktu ............................................................................. 16 B. Bahan dan Metode..................................................................................................... 18 1. Jenis Kegiatan ...............................................................................................19 2. Tahapan Kegiatan .........................................................................................19 3. Parameter ......................................................................................................21 4. Pengambilan Data .........................................................................................24 5. Pengolahan dan Analisa Data .......................................................................26 III. BIAYA DAN ORGANISASI PELAKSANA ............................................................... 27 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................................... 29 A. Pengembangan Jalur TA dengan Tanaman Casuarina equisetifolia....................... 29

B. Pengelolaan Kondisi Iklim dan Biofisik Lahan .......................................................... 30 B.1. Kecepatan dan Arah Angin ........................................................................31 B.2. Curah Hujan ...............................................................................................33 B.3. Kelembaban Ruang dan Udara...................................................................33 B.4. Evaporasi....................................................................................................34 B.5. Suhu Ruang, Udara dan Tanah...................................................................34 B.6. Erosi Angin ................................................................................................37 B.7. Biofisik Tanah ............................................................................................37 C. Pengembangan Pola Tanam Tanaman Budidaya yang Sesuai.................................... 41 D. Peningkatkan Tingkat Pendapatan Masyarakat .......................................................... 43 E. Peningkatkan Kenyamanan Lingkungan Sekitar Wisata ............................................ 44 F. Dampak Demplot terhadap Masyarakat ...................................................................... 47 V. KESIMPULAN.............................................................................................................. 51 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 52 KERANGKA LOGIS PENELITIAN ................................................................................ 125

vi

DAFTAR TABEL Tabel 1. Tanah Lahan Pantai dan Luasannya pada Setiap Propinsi di Indonesia............... 12 Tabel 2. Jadwal Kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir 2009 ...................................................................................................................... 18 Tabel 3. Tim Pelaksana Kegiatan Tahun 2009 .................................................................... 28 Tabel 4. Data Kecepatan Angin di Pantai Karanggadung, Petanahan Tahun 2006-2008 ... 32 Tabel 5. Hasil Analisis Laboratorium Tanah Pantai Berpasir di Kebumen, Samas dan Pemalang Tahun 2007, 2008, dan 2009................................................................ 39 Tabel 6. Hasil Produksi Cabe untuk Kwalitas Baik (A) sampai Kurang (C) ...................... 41 Tabel 7. Analisis Biaya-Pendapatan Usaha Tani di Lahan Pantai Berpasir ........................ 42 Tabel 8. Produksi Semangka di Pantai Berpasir Tahun 2008, Karanggadung Petanahan.. 49

vii

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Lokasi Penelitian Lahan Pantai Berpasir di Karanggadung, Petanahan, Kebumen Sejak Tahun 2005........................................................................... 16 Gambar 2. Areal Penelitian desa Karanggadung dengan nomor Peta RBI (Rupa Bumi Indonesia) 1408-113 (Kreweng), diapit oleh Desa Karangrejo (sebalah Barat) dan desa Tegalretno (Sebelah Timur) ............................................................. 17 Gambar 3. Areal Penelitian Lahan Pantai Berpasir di desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Sejak Tahun 2005 ..................................... 17 Gambar 4. Tata Letak Cemara Laut pada Berbagai Perlakuan........................................... 20 Gambar 5. Tata Letak Stik Bambu untuk Pengamatan Erosi Angin di Pantai Berpasir.. 22 Gambar 6. Tanaman TA (Tanggul Angin) : Bibit dan Cemara Laut.................................. 29 Gambar 7. Pertumbuhan Tinggi Cemara Laut, Keliling dan Diameter Batang................... 30 Gambar 8. Alat Penakar Hujan (Ombrometer), Suhu Tanah (Termometer) dan Erosi Angin (Stik Erosi). ..................................................................................................... 30 Gambar 9. Kecepatan Angin dan Arah Angin di Pantai Berpasir ...................................... 31 Gambar 10. Perubahan Kecepatan Angin pada Pagi dan Siang Hari Bulan November dan Desember 2009. .............................................................................................. 32 Gambar 11. Fluktuasi Curah Hujan Bulanan Tahun 2006-2009 di Karanggadung............. 33 Gambar 12. Kelembaban Ruangan dan Udara pada Pagi (P) dan Siang (S) di Pantai Karanggadung, Kec.Petanahan, Kebumen Tahun 2009. ................................ 34 Gambar 13. Evaporasi di Pantai Karanggadung Dekat Pantai dan Jauh dari Pantai .......... 34 Gambar 14. Suhu Tanah Pantai Karanggadung pada Lapisan Tanah A, B, dan C untuk Malam(M) dan Siang (S) Hari Tahun 2006-2008........................................... 35 Gambar 15. Suhu Tanah Pantai Karanggadung pada Lapisan Tanah A, B, dan C untuk Pagi dan Siang Hari Tahun 2009 .................................................................... 36 Gambar 16. Suhu Ruangan dan Udara di Pantai Karanggadung pada Pagi (P) dan Siang (S) Hari Tahun 2009 ............................................................................................. 36 Gambar 17. Fluktuasi Deposit (+) dan Erosi (-) antara Lembah dan Bukit (Gisik) Akibat Erosi Angin di Karanggadung, Kec. Petanahan, Kebumen ............................ 37 Gambar 18. Pengembangan Budidaya Tanaman Semusim : Semangka dan Jagung di Belakang Tanggul Angin, Cemara Laut ......................................................... 41 Gambar 19. Dampak Cemara Laut Terhadap Kenyamanan Lingkungan Wisata dan Peningkatan Kunjungan Wisata di Pantai Karanggadung .............................. 44 Gambar 20. Puncak Kunjungan Wisata (>75%) Saat Hari Raya Idul Fitri, dan Mengalami Peningkatan Setiap Tahunnya dari Tahun 2006-2009 .................................... 45

viii

DAFTAR LAMPIRAN Tabel Lampiran 1. Data Curah Hujan Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen61 Tabel Lampiran 2. Data Curah Hujan Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen62 Tabel Lampiran 3. Data Curah Hujan Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen63 Tabel Lampiran 4. Data Curah Hujan Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen64 Tabel Lampiran 5. Kecepatan Angin Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen 65 Tabel Lampiran 6. Kecepatan Angin Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen 66 Tabel Lampiran 7. Kecepatan Angin Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen .67 Tabel Lampiran 8. Kecepatan Angin Pagi Hari Tahun 2009, di Petanahan, Kebumen .........68 Tabel Lampiran 9. Kecepatan Angin Siang Hari Tahun 2009, di Petanahan, Kebumen .......69 Tabel Lampiran 10. Arah Angin Pagi Hari Tahun 2009, di Petanahan, Kebumen ................70 Tabel Lampiran 11. Arah Angin Siang Hari Tahun 2009, di Petanahan, Kebumen ..............71 Tabel Lampiran 12. Kelembaban Ruang Pagi Hari Tahun 2009 di Pantai Karanggadung, Petanahan, Kebumen...............................................................................72 Tabel Lampiran 13. Kelembaban Ruang Siang Hari Tahun 2009 di Pantai Karanggadung, Petanahan, Kebumen...............................................................................73 Tabel Lampiran 14. Kelembaban Udara Pagi Hari Tahun 2009 di Pantai Karanggadung, Petanahan, Kebumen...............................................................................74 Tabel Lampiran 15. Kelembaban Udara Siang Hari Tahun 2009 di Pantai Karanggadung, Petanahan, Kebumen...............................................................................75 Tabel Lampiran 16. Pengukuran Tinggi Stik Erosi Angin Bulan November 2008................76 Tabel Lampiran 17. Pengukuran Tinggi Stik Erosi Angin Bulan Februari 2009 ...................77 Tabel Lampiran 18. Pengikisan (-) dan Penimbunan (+) Pasir Akibat Erosi Angin Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen.......................................78 Tabel Lampiran 19. Pengukuran Tinggi Stik Erosi Angin Bulan Maret 2009 .......................79 Tabel Lampiran 20. Pengukuran Tinggi Stik Erosi Angin Bulan Mei 2009 ..........................80 Tabel Lampiran 21. Pengukuran Tinggi Stik Erosi Angin Bulan Juli 2009...........................81

ix

Tabel Lampiran 22. Pengukuran Tinggi Stik Erosi Angin Bulan November 2009................82 Tabel Lampiran 23. Pengikisan (-) dan Penimbunan (+) Pasir Akibat Erosi Angin Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen.......................................83 Tabel Lampiran 24. Data Suhu Udara Malam Hari dan Siang Hari Tahun 2006 - 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen .....................................................84 Tabel Lampiran 25. Suhu Udara Malam Hari Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC). ........................................................................................85 Tabel Lampiran 26. Suhu Udara Malam Hari Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC). ........................................................................................86 Tabel Lampiran 27. Suhu Udara Malam Hari Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC). ........................................................................................87 Tabel Lampiran 28. Suhu Udara Siang Hari Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC). ........................................................................................88 Tabel Lampiran 29. Suhu Udara Siang Hari Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC). ........................................................................................89 Tabel Lampiran 30. Suhu Udara Siang Hari Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC). ........................................................................................90 Tabel Lampiran 31. Suhu Ruang Pagi Hari Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC). ........................................................................................91 Tabel Lampiran 32. Suhu Ruang Siang Hari Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC). ........................................................................................92 Tabel Lampiran 33. Suhu Udara Pagi Hari Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC). ........................................................................................93 Tabel Lampiran 34. Suhu Udara Siang Hari Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC). ........................................................................................94 Tabel Lampiran 35. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan A, B, dan C Tahun 2006 -2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen.......................................95 Tabel Lampiran 36. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen .....................................................96 Tabel Lampiran 37. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen .....................................................97 Tabel Lampiran 38. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen .....................................................98
x

Tabel Lampiran 39. Suhu Tanah Pagi Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen .....................................................99 Tabel Lampiran 40. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Sub Soil (B) Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................100 Tabel Lampiran 41. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Sub Soil (B) Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................101 Tabel Lampiran 42. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Sub Soil (B) Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................102 Tabel Lampiran 43. Suhu Tanah Pagi Hari pada Lapisan Top Soil (B) Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................103 Tabel Lampiran 44. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Bahan Induk (C) Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen...............................................104 Tabel Lampiran 45. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Bahan Induk (C) Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen...............................................105 Tabel Lampiran 46. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Bahan Induk (C) Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen...............................................106 Tabel Lampiran 47. Suhu Tanah Pagi Hari pada Lapisan Top Soil (C) Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................107 Tabel Lampiran 48. Suhu Tanah Hari pada Lapisan A, B, dan C Tahun 2006 -- 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................108 Tabel Lampiran 49. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................109 Tabel Lampiran 50. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................110 Tabel Lampiran 51. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................111 Tabel Lampiran 52. Suhu Tanah Siang Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................112 Tabel Lampiran 53. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Sub Soil (B) Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................113 Tabel Lampiran 54. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Sub Soil (B) Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................114

xi

Tabel Lampiran 55. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Sub Soil (B) Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................115 Tabel Lampiran 56. Suhu Tanah Siang Hari pada Lapisan Top Soil (B) Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................116 Tabel Lampiran 57. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Bahan Induk (C) Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................117 Tabel Lampiran 58. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Bahan Induk (C) Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................118 Tabel Lampiran 59. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Bahan Induk (C) Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................119 Tabel Lampiran 60. Suhu Tanah Siang Hari pada Lapisan Top Soil (C) Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................120 Tabel Lampiran 61. Pertumbuhan Tinggi dan Diameter Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) Juli 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen.........121 Tabel Lampiran 62. Pertumbuhan Tinggi dan Diameter Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) Oktober 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen .122 Tabel Lampiran 63. Usahatani Semangka di Pantai Berpasir, di Obyek Wisata Karanggadung, Petanahan, Kebumen ...................................................123 Tabel Lampiran 64. Kriteria Unsur Hara Tanah dari Rendah sampai Tinggi ......................124 Tabel Lampiran 65. Kerangka Logis Kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir (RPTP 2009) ...................................................125

xii

I. PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah pantai yang luas.

Bentuk lahan (landform) wilayah pantai secara umum dikelompokkan atas wilayah pantai berlumpur (muddy shores), pantai berpasir (sandy shores), dan pantai berbatu karang atau andesit (Bloom, 1979). Pada wilayah pantai berpasir (bergisik), pola penggunaan lahan yang umum merupakan pola berulang cekungan antara beting pantai (swale) dan punggung pantai (beach ridge) yang berupa lahan kosong (tanpa tanaman), bertekstur tanah kasar (pasir), atau diusahakan untuk tegalan (Tim UGM, 1992). Lahan pantai berpasir termasuk lahan marjinal yang bersifat dinamis. Pada lahan ini terdapat hubungan antara pasokan butir-butir pasir dari hasil abrasi pantai oleh ombak menuju pantai dan dari gisik yang merupakan hasil erosi angin ke arah daratan. Peristiwa tersebut menyebabkan lahan pantai berpasir menjadi semakin marjinal, baik untuk wilayah itu sendiri maupun wilayah di belakangnya. Kondisi lahan yang marjinal tersebut disebabkan tidak hanya oleh faktor biofisik semata yang secara alami kurang mendukung untuk dilakukan tindakan budidaya, tetapi juga upaya penanganan yang ada masih belum optimal, sehingga bila tidak segera ditangani, dampak negatif yang akan terjadi akan semakin luas. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10/Men/2002 tentang pedoman umum perencanaan pengelolaan pesisir terpadu; dan UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya; dan pentingnya pesisir pantai yang kaya akan SDA dan jasa lingkungan, hendaknya pemanfaatan lahan pantai berpasir dilakukan secara baik dan benar dan dapat berfungsi ganda. Pemanfaatan lahan pantai berpasir berfungsi untuk mengendalikan erosi (angin) dan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui usaha budidaya tanaman semusim yang sesuai dan bernilai ekonomis. Berkaitan dengan permasalahan yang ada di wilayah pantai berpasir, dibutuhkan suatu model pengelolaan untuk rehabilitasi dan konservasi yang sesuai dan mampu diterapkan. Adanya model pengelolaan tersebut diharapkan dapat mengubah lahan yang terlantar menjadi lahan yang potensial.

B.

Rumusan Masalah Lahan pantai berpasir termasuk lahan marginal yang bersifat dinamis dan terdapat

hubungan antara pasokan butir-butir pasir dari hasil abrasi pantai oleh ombak menuju pantai dan dari gisik yang merupakan hasil erosi angin kearah daratan. Peristiwa tersebut menyebabkan lahan pantai berpasir menjadi kritis, sehingga bila tidak segera ditangani, dampak negatif yang akan terjadi akan semakin luas. Dampak peristiwa erosi pasir yang nyata antara lain : 1) tanah pada lahan pantai bertekstur kasar dan bersifat lepas sehingga sangat peka terhadap erosi angin, 2) hasil erosi berupa endapan pasir (sand dune) dapat menutup wilayah budidaya dan pemukiman di daerah di belakangnya, dan 3) butiran pasir bergaram yang dibawa dari proses erosi angin dapat merusak dan menurunkan produktivitas tanaman budidaya. Adanya pemanfaatan lahan pantai berpasir secara baik dan benar akan berfungsi ganda, yaitu untuk mengendalikan erosi (angin) dan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui usaha budidaya tanaman semusim yang sesuai dan bernilai ekonomis. Dengan model pengelolaan tersebut diharapkan hasilnya dapat mengubah lahan yang tadinya terlantar menjadi lahan yang potensial. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan sumbangan pemikiran kepada: 1). Departemen Kehutanan dan Pemerintah Daerah yang membidangi sektor kehutanan dalam upaya rehabilitasi hutan pantai berpasir, 2). Dinas Pariwisata Kebupaten Kebumen dalam mengembangkan lokasi wisata Karanggadung, Petanahan sebagai lokasi wisata pantai dan hutan pantai, dan 3). Masyarakat Petanahan yang akan memanfaatkan lahan pantai berpasir. C. Tujuan 1. Tujuan UKP Kegiatan ini merupakan bagian dari UKP Teknologi dan Kelembagaan Lahan Terdegradasi. Tujuan kegiatan ini untuk menyediakan informasi dan teknologi tepat guna, kajian sosial ekonomi serta rekomendasi kebijakan/kelembagaan rehabilitasi lahan terdegradasi agar lahan terdegradasi dapat berfungsi kembali sebagai habitat flora, fauna, dan secara keseluruhan sebagai penyangga kehidupan, termasuk didalamnya dapat

2

meningkatkan perekonomian rakyat dengan meningkatkan partisipasi masyarakat dari mulai perencanaan, kegiatan pelaksanaan, dan pengelolaan pada pasca rehabilitasi lahan.

2. Tujuan PPTP Tahun 2005-2009 Tujuan kegiatan pada Proposal Penelitian Tim Peneliti (PPTP) adalah untuk menyediakan sarana pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir yang sesuai, berupa demplot yang representatif dan inovatif serta memuat kegiatan-kegiatan antara lain : 1) 2) 3) 4) 5) Mengembangkan jalur tanaman tanggul angin Mengelola kondisi iklim dan biofisik Mengembangkan pola tanam tanaman semusim dan tahunan Meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat Meningkatkan kenyamanan kawasan wisata dan sekitarnya.

3. Tujuan RPTP Tahun 2005-2009 Tujuan kegiatan dalam Rencana Penelitian Tim Peneliti (RPTP) adalah untuk menyediakan sarana pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir yang sesuai, berupa demplot yang representatif serta inovatif.

D. Sasaran 1. Sasaran UKP Sasaran UKP adalah pengembangan model teknologi dan kelembagaan rehabilitasi lahan terdegradasi, dengan melibatkan peran masyarakat secara aktif. Dampak yang diharapkan yaitu masyarakat sekitar pantai berpasir tetap dapat melanjutkan secara mandiri pemanfaatan lahan pantai untuk usaha produktif sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian alam dan konservasi tanah dan air.

3

2. Sasaran PPTP Tahun 2005-2009 Sasaran kegiatan adalah agar pelaksanaan Kepres No. 32 tahun 1990 tentang kawasan lindung sempadan pantai yang ditentukan minimal 100 m dari titik tertinggi pasang-surut kearah daratan maupun SKB Mentan dan Menhut No. 550/246/Kpts/4/1984 dan No. 082/Kpts-11/1984 tentang pengaturan penyediaan lahan kawasan hutan untuk pengembangan usaha budidaya pertanian dan jalur hijau hutan pantai yang dipertahankan lebarnya 200 m dapat terwujud. Pengembangan dilakukan melalui pengembangan model tanaman tanggul angin Casuarina equisetifolia (pembiakan dan pola tanam), model pengelolaan tanaman budidaya (bawang merah, cabe, semangka, terong, dll) yang ditanam di antara tanaman tanggul angin.

3. Sasaran RPTP Tahun 2005-2009 Sasaran kegiatan tahun 2005-2009 antara lain : 1) 2) 3) 4) 5) Pemeliharaan dan pengembangan jalur tanaman TA permanen Pengelolaan kondisi iklim dan biofisik Pengembangkan pola tanam tanaman budidaya yang sesuai. Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat Peningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata.

E.

Luaran Tahun 2005-2009 Luaran yang diharapkan dapat dihasilkan antara lain : 1. Tersedianya informasi pertumbuhan tanaman C. equisetifolia sebagai tanaman jalur TA dan informasi efektivitas jalur TA sebagai pengendali erosi pasir. 2. 3. Tersedianya informasi sistem pengairan dan pengelolaan data iklim Tersedianya informasi pertumbuhan dan hasil jenis-jenis tanaman semusim yang sesuai untuk lahan pantai berpasir. 4. Tersedianya analisis finansial model rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang dikembangkan pada lahan pantai berpasir. 5. Tersedianya informasi kelembagaan, tingkat adopsi dan partisipasi masyarakat terhadap upaya RLKT (Reboisasi Lahan dan Konservasi Tanah) lahan pantai berpasir yang mendukung wisata lingkungan terpadu.

4

F.

Ruang Lingkup Tahun 2005-2009 Ruang lingkup pengembangan meliputi : 1. Rehabilitasi lahan melalui perbaikan beberapa sifat tanah yang dimungkinkan dicapai dalam waktu yang tidak terlalu lama. 2. Rehabilitasi lahan melalui perbaikan sistem pola tanam pada lahan marginal pantai berpasir. 3. Rehabilitasi lahan melalui perbaikan sistem pola tanam lahan pantai, dengan kombinasi antara tanaman TA: cemara laut, dengan tanaman hortikultura bawang merah, cabe, jagung, semangka dll. 4. 5. Analisis biaya dan pendapatan usahatani dari perlakuan yang dicoba. Tingkat adopsi dan partisipasi masyarakat serta kelembagaan dalam kegiatan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah

G.

Hasil yang Telah Dicapai Penanganan lahan pantai berpasir melalui upaya rehabilitasi lahan dan konservasi

tanah (RLKT) telah dilakukan uji coba oleh BP2TPDAS Surakarta (1997-2000), yaitu dengan menerapkan model tanam tanaman tanggul angin (windbreak) dengan tanaman budidaya (semusim) yang ditanam di antara jalur tanaman tanggul angin (TA). Hasil yang diperoleh berupa Pedoman Teknis Pemanfaatan Lahan Pantai Berpasir, yang memuat antara lain (Sukresno, 1996b) : 1) Jenis tanaman TA permanen yang sesuai adalah jenis tanaman-tanaman bergetah seperti cemara laut (Casuarina equisetifolia), Glirisidae, pandan, dan mete; 2) Jenis tanaman TA sementara yang sesuai adalah tanaman semusim seperti jagung, ketela pohon dan sorghum; 3) Jenis tanaman budidaya yang sesuai untuk ditanam di antara jalur tanaman TA adalah semangka, terong, bawang merah, cabe, dan kacang panjang; 4) Penggunaan pupuk kandang sebanyak 20 ton/ha telah memberikan hasil semangka sebanyak 20 ton/ha pada lahan pantai berpasir yang baru dibudidayakan, 21 ton/ha pada lahan tahun kedua, dan 25 ton/ha pada lahan tahun ketiga; 5) Lahan bekas tanaman semangka yang ditanami terong hasil produksinya sebesar 26 ton/ha; 6) Produksi bawang merah yang ditumpang gilirkan dengan cabe merah keriting dan kacang panjang, hasilnya masing-masing sebesar 7.5 ton/ha, 5 ton/ha, dan 26 ton/ha; 7) Hasil analisis inputoutput atau benefit cost per satuan luas pada tanaman-tanaman budidaya yang dicobakan,

5

pola bawang merah yang ditumpang gilirkan dengan kacang panjang dan cabe merah hasilnya lebih tinggi dibanding dengan pola semangka-terong. Teknik Rehabilitasi Lahan Pantai Berpasir di Desa Sri Gading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bagian Selatan, luas daerah pengembangan + 1-2 ha untuk tanaman semusim dan 500 m untuk tanaman tanggul angin dengan lebar jalur 15 m, yang dilaksanakan tahun 2003 antara lain : a. Tanaman Casuarina equisetifolia terbukti efektif sebagai tanaman tanggul angin permanen di lahan pantai berpasir, dimana bibitnya dapat dikembangkan sendiri oleh masyarakat (petani) setempat dengan cara pembiakan vegetatif metode merunduk (layering). b. Tanaman tanggul angin dan tanaman budidaya yang dikembangkan, sangat nyata dapat mengendalikan erosi pasir dan memperbaiki iklim mikro setempat (kecepatan angin, suhu tanah, dan laju evaporasi lebih rendah). Secara finansial, kombinasi tanaman budidaya yang paling layak dikembangkan adalah kombinasi bawang merah, terong dan ketimun. c. Teknik rehabilitasi lahan pantai berpasir ini akan sulit dikembangkan oleh masyarakat sekitar secara swadaya. Salah satu penyebabnya adalah tingginya biaya untuk pembangunan sarana pendukung (infrastruktur) bagi penerapan teknik rehabilitasi tersebut, sehingga perlu ada campur tangan pemerintah. Namun demikian, sampai saat ini belum terbangun suatu pola pengembangan lahan pantai berpasir yang komprehensif dari berbagai instansi terkait. Jalur tanaman tanggul angin yang dikembangkan di Pantai Petanahan, Desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen berupa Cemara laut cangkok (69,5% hidup) dan biji (98% hidup) serta Pandan (100% hidup), dan tanaman kehutanan Mahoni (100% hidup), Akasia (100% hidup). Curah hujan rata-rata di pasir berpantai Karanggadung, Petanahan, Kebumen adalah 35 mm/hari. .Evaporasi berkisar antara 0,3 mm/hari (Desember) sampai 0,9 mm/hari (September). Suhu tanah semakin dalam maka semakin menurun, pada malam hari suhu tanah 33 oC dan pada siang hari 36 oC. Suhu udara siang hari antara 27 – 36 oC dan pada malam hari 20 oC sampai 24 oC. Kecepatan angin antara 2 sampai 12 km/jam, dengan Erosi angin 0,5 sampai 3,5 g yang tertangkap pada diameter sandtrap 10 cm.

6

Anggota kelompok tani yang sebagian besar bermata pencaharian utama petani mempunyai mata pencaharian sampingan sebagai penderes gula kelapa dan tukang. Mayoritas anggota kelompok tani adalah tenaga produktif, sehingga tidak selalu mempunyai banyak waktu untuk terlibat dalam kegiatan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah di lahan pantai bepasir. Pemahaman tentang konsep Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah di lahan pantai berpasir perlu ditingkatkan, pendampingan dari tenaga penyuluh maupun dari instansi pemerintah kabupaten yang terkait masih sangat diperlukan. Kerjasama Dinas Pariwisata dengan kelompok tani dalam pengelolaan lahan pantai berpasir yang berorientasi konservasi dan dapat meningkatan pendapatan masyarakat, tetap perlu dilaksanakan dan dibina khususnya di sekitar lokasi lahan pantai berpasir di desa Karanggadung, Petanahan.

7

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Rehabilitasi Lahan Rehabilitasi lahan merupakan kegiatan perbaikan lahan yang sudah dalam kondisi rusak atau dalam keadaan kritis atau marjinal. Dalam hal ini program konservasi tanah dan rehabilitasi lahan menurut Douglas (1991) dalam Soemarno (2001) mengikhtisarkan lima prinsip dasar bagi keberhasilannya pada tingkat lapangan, yaitu: (1) program ini harus merupakan bagian integral dari program pembangunan kehutanan dan pertanian yang lebih luas, dan harus dimulai dengan peningkatan produksi, (2) program ini harus bersifat bottom-up yang dirancang dengan melibatkan partisipasi aktif dan kepentingan masyarakat petani, (3) (4) asistensi teknis melalui program jangka panjang dan bukan sesaat, suatu aktivitas konservasi dan pengelolaan lahan harus mampu memberi keuntungan atau menunjukkan benefit jangka pendek, dan (5) degradasi atau kerusakan lahan harus dapat dikendalikan sebelum melampaui batas ambangnya. Dalam rangka rehabilitasi lahan di pantai berpasir dilakukan beberapa penanaman tanaman tanggul angin. Penanaman tanaman tangul angin atau penahan angin dengan cemara laut (Casuarina equisetifolia L.) dan pandan (Pandanus tectorius Parkinson ex Zucc.) dimaksudkan untuk mengeliminir permasalahan yang umum terjadi pada lahan pantai berpasir, antara lain angin laut yang kencang, erosi angin, suhu tinggi, uap air bergaram, dan tanah yang rendah hara (Harjadi dan Octavia, 2008). Dari hasil penelitian Sukresno (1998) menunjukkan bahwa penanaman jalur tanggul angin pada lahan pantai berpasir berdampak positif bagi perbaikan iklim mikro (suhu tanah dan evaporasi), dan menurunkan tingkat erosi pasir. Pertumbuhan tanaman tanggul angin yang dikembangkan di pantai berpasir berupa cemara laut (Casuarina equisetifolia), dari umur satu tahun sampai 7 tahun tahun rata-rata ketinggiannya berurutan : 58,7; 126,4; 130; 125,2; 320, 530, 810 cm (Harjadi et al., 2007).

8

B, Konservasi Tanah Konservasi tanah adalah upaya untuk mengawetkan tanah agar terjadi peningkatan produktivitas lahan dan tidak terjadi degradasi lahan. Konservasi tanah dan air, kendala yang dihadapi adalah erodibilitas tanah dan erosivitas hujan yang sangat tinggi, faktor lereng dan fisiografi (Suwardjo dan Saefudin, 1988). Dalam kondisi seperti ini maka tindakan konservasi tanah harus dibarengi dengan intensifikasi usahatani dan rehabilitasi lahan. Salah satu upaya intensifikasi usahatani lahan kering adalah dengan pemilihan kultivar, pengaturan pola tanam yang melibatkan tanaman semusim dan tanaman tahunan, serta ternak dibarengi dengan penanaman rumput/tanaman hijauan pakan (Anwarhan, Supriadi, dan Sugandi, 1991 dalam Soemarno, 2001). Khusus untuk

mengkonservasi lahan pantai berpasir dari pengaruh kecepatan angin menurut Sukresno (2000) dapat dibuat tanggul angin permanen maupun sementara. Tanggul angin permanen dengan berbagai jenis tanaman, misalnya cemara laut, gamal, mete, akasia, dan pandan tergantung jenis tanaman yang dibutuhkan perdu, semak, pohon secara individu maupun kombinasi. Bebrapa data lingkungan yang diperlukan untuk melakukan tindakan konservasi tanah antara lain kondisi curah hujan rata-rata di pasir berpantai Karanggadung, Petanahan, Kebumen adalah 113 mm/hari dengan total hujan setahun kurang dari 1000 mm. Evaporasi berkisar antara 0,3 mm/hari (Desember) sampai 0,9 mm/hari (September). Suhu tanah semakin dalam maka semakin menurun, pada malam hari suhu tanah 33 oC dan pada siang hari 36 oC. Suhu udara siang hari antara 27 – 36 oC dan pada malam hari 20 oC sampai 24
o

C. Kecepatan angin antara 2 sampai 12 km/jam, dengan Erosi angin 0,5 sampai 3,5 g

(Harjadi et al., 2006). Sebenarnya tanpa adanya upaya penanaman tanaman tanggul angin pantai telah memiliki perlindungan alami menahan serangan gelombang, misalnya pantai berlumpur memiliki hutan mangrove untuk meredam serangan gelombang, untuk pantai berpasir memiliki bukit pasir (sand dune) untuk menyuplai pasir yang hilang terbawa gelombang ke lepas pantai, dan terumbu karang serta padang lamun yang juga dapat mereduksi energi gelombang yang menuju pantai (Surya, 2007). Pengelolaan lahan pantai yang tidak berwawasan konservasi maka terjadi ketidakseimbangan alam seperti berkurangnya ekosistem mangrove sebagai tanah tambak, pemukiman dan daerah industri tanpa

9

memperdulikan sempadan pantai yang merupakan daerah konservasi, akhirnya menimbulkan proses pantai yang bersifat merusak. Permasalahan lahan pantai jika dilihat dari sudut pembangunan berkelanjutan (sustainable development), maka pengelolaan sumber daya pesisir di daerah Jawa telah dimanfaatkan dengan intensif, dengan indikasi telah melampaui daya dukung dari ekosistem pesisir dan lautan, seperti pencemaran, tangkap ikan berlebih (overfishing), degradasi fisik habitat pesisir, dan abrasi pantai (Dahuri et al., 2001).

C. Lahan Pantai Berpasir Pesisir merupakan daerah yang membentang di pedalaman dari laut, umumnya sejauh perubahan topografi pertama di permukaan daratan. Pesisir merupakan sebidang lahan tidak lebar tidak tentu yang membentang dari garis pantai ke arah pedalaman hingga perubahan besar pertama kali pada kenampakan lapangan. Pesisir merupakan mintakat fisioografis yang relatif luas, membentang sejauh ratusan kilometer di sepanjang garis pantai dan seringkali beberapa kilometer ke arah pedalaman dari pantai. Pengertian lain menyebutkan pesisir merupakan sebidang lahan yang membentang di pedalaman dari garis pesisir sejauh pengaruh laut, yang dibuktikan pada bentuk lahannya (Kamija dan Jati, 2003). Garis pesisir adalah garis yang membentuk batas antara pesisir dan pantai. Garis pesisir membatasi pesisir dan pantai yang kedudukannya relatif tetap, garis pesisir akan berimpit dengan garis pantai saat terjadi pasang tertinggi atau gelombang yang relatif besar. Pantai memiliki karakteristik sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Pantai berhubungan langsung dengan laut. Pantai berkedudukan di antara garis air tinggi dan garis air rendah. Pantai dapat terjadi dari material padu, lepas atau lembek. Pantai yang bermaterial lepas dengan ukuran kerikil atau pasir disebut sebagai gisik (beach). 5. Pantai dapat berelief rendah (datar, berombak, atau bergelombang), namun dapat pula berelief tinggi (berbukit atau bergunung). 6. Pantai secara genetik dapat berasal dari bentukan marin, organik, vulkanik, tektonik, fluviomarin, denudasional, atau solusional.

10

Adapun di pantai adanya pasang surut merupakan fenomena pantai landai yang di pengaruhi oleh gaya gravitasi bulan sebagai benda langit terdekat dengan bumi. Hingga ketinggian laut sebagai medium cair bumi pada garis pantai terlihat mencolok oleh gaya tarik tersebut. Sebagai kawasan yang dinamis, kawasan pantai berpasir tidak hanya indah namun unik karena pola pembatasan yang terpilah tersendiri (Kasim, 2005). Lahan pantai dengan potensi kelautan dan pesisir pantai di Indonesia sangat besar dan beragam, yakni memiliki 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000 km dan 5,8 juta km2 laut atau 70% dari luas total Indonesia, yang tercermin dari keanekaragaman hayati, potensi budidaya perikanan pantai dan laut serta pariwisata pantai (Budiharsono, 2001). Lahan pantai yang merupakan tanah mineral mencakup luas 3.654.500 ha didominansi ordo Entisols. Dalam tingkat great group tanahnya didominansi oleh Endoaquents, Sulfaquent, dan Udipsamment. (Nugroho et.al., 2008). Pada umumnya wilayah pantai di Indonesia berada pada altitude (ketinggian tempat) kurang dari 5 mdpl, dengan permukaan daratan landai. Ciri dominan (terutama di daerah tropis) adalah ratarata suhu udara relatif tinggi, lebih dari 26 oC. Daratan landai, jarang pohon-pohonan dan bangunan tinggi mengakibatkan tidak ada hambatan bagi gerakan udara yang berarti, sehingga kecepatan angin relatif tinggi. Di pantai terdapat pola lokal harian yang khas yaitu angin laut terjadi pada siang hari dan angin darat pada malam hari. Lahan pantai yang ada di Jawa Tengah sebagian besar Udipsamment (43.080 ha) dan Endopsamment (28.720 han) dapat dilihat pada Tabel 1 (Tim PPTA, 1996). Lahan pantai merupakan bagian dari dataran pantai (coastal plain) yang berupa daerah peralihan dengan perairan laut, yang biasanya disebut pesisir. Dalam sistem landform dataran pantai mencakup bagian dari grup aluvial, marin, fluvio marin, gambut dan eolin (Marsudi et al., 1994). Salah satu fungsi pasir laut yang terdapat di dasar perairan pesisir adalah meredam energi gelombang sebelum menghempas di pantai yang disebabkan adanya gaya gesekan dengan dasar. Apabila dikeruk (ditambang) akan menjadi lebih dalam dan lereng dasar lebih curam yang akan berdampak makin naiknya tingkat energi gelombang yang menghempas pantai sehingga makin intensif proses abrasi dan erosi pantai (Surya, 2007).

11

Tabel 1. Tanah Lahan Pantai dan Luasannya pada Setiap Propinsi di Indonesia Pesisir Flavio marin Udipsamments Endoaquents Endoaquents Sulfaquents …………………………………(ha)……………………………….. D.I Aceh 87 060 58 040 119 400 79 600 Sumut 134 880 89 920 117 840 78 560 Sumbar 55 920 37 280 Riau 122 460 81 540 199 680 133 120 Jambi 24 120 16 080 50 760 33 840 Sumsel 108 000 72 000 99 180 66 120 Bengkulu 24 540 16 360 Lampung 11 040 7 360 7 200 4 800 DKI 2 880 1 920 Jabar 93 300 62 200 Jateng 43 080 28 720 DIY 5 100 3 400 Jatim 24 540 16 360 Bali 4 080 2 720 NTB 1 140 760 NTT 1 800 1 200 Kalbar 16 020 10 680 324 660 216 440 Kalteng 35 520 23 680 183 120 122 080 Kaltim 13 440 8 960 146 820 97 880 Kalsel 29 340 8 960 86 820 57 880 Sulteng 5 580 3 720 Sultra 1 260 840 Maluku 12 120 8 080 Jumlah 857 220 571 480 Sumber : Puslittanak (2000) Propinsi

Angin darat (dranage flow) dan angin laut (sea breeze) merupakan angin dominan di permukaan. Angin darat bertiup antara pukul 19.00 hingga 12.00 WIB, angin ini dapat berfungsi sebagai pengencer polusi udara dari daratan. Sebaliknya antara pukul 12.00 hingga 19.00 WIB bertiup angin laut. Di antara waktu-waktu tersebut terdapat waktu peralihan lebih kurang 3 jam. Di lapisan atas udara angin monsoon lebih dominan, angin inilah yang membawa musim hujan dan kemarau di Indonesia. Pada saat musim kemarau angin bertiup dari arqah tenggara yang membawa pasir bertiup lebih kencang (Sukresno, 1997).

12

Menurut Suhardjo et al (2000) secara umum lahan pantai dapat diarahkan untuk: 1) lahan pemukiman dan pertanian, 2) lahan tambak, 3) lahan penggaraman, 4) lahan konservasi, 5) lahan rekreasi dan 6) lahan pertambangan.

D. Masyarakat Karanggadung Kebumen adalah salah satu Kabupaten di Propinsi Jawa Tengah. Nama Kebumen berasal dari Ki Bumi yaitu keturunan Kerajaan Mataram Kebumen menawarkan beberapa macam objek wisata, baik kealamiannya, kebudayaannya, pemandangan alam yang indah dan lain-lain. Kebumen dapat ditempuh dengan mudah dari Yogyakarta, Semarang , Bandung, Jakarta ( 110 km sebelah Barat Yogyakarta , 80 km sebelah Barat Candi Borobudur, 180 km sebelah Barat Semarang ). Wisatawan dapat memperoleh bus antar kota, kereta api dari Jakarta, Surabaya, Bandung dan Yogyakarta (Dinas Pariwisata Kebumen, 2008). Dataran obyek wisata pantai desa Karangadung kecamatan Petanahan merupakan daerah landai berpasir yang sangat khas dengan gumuk pasir yang selalu berpindah (Pemda Kebumen, 2008 dan Yulianto, 2009). Daerah ini terletak 17 km ke arah selatan Kebumen, dapat dicapai dengan kendaraan umum atau pribadi. Terdapat fasilitas pendukung seperti taman parkir, taman bermain, sanitasi, warung makan serta panggung hiburan. Di kawasan pantai ini sering digunakan untuk event festival layanglayang. Pada Syawalan hari ke 1 - 7 sangat ramai karena tradisi masyarakat Kebumen untuk berkunjung ke Pantai.

E. Sosial Ekonomi Usaha pemanfaatan lahan pantai berpasir di Samas dari analisis input-output, setelah adanya tanaman tanggul angin yaitu dengan penanaman tanaman budidaya cabe merah, kacang panjang, bawang merah, dan semangka hasil panennya mendapatkan keuntungan bersih per 100 m2 masing-amsing sebesar Rp 53.245,-, Rp 112.995,-, Rp 5.100,-, dan Rp 22.380,- (Sukresno et al, 2000).

13

F. Adopsi Adopsi dalam proses penyuluhan (pertanian), pada hakekatnya dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku baik yang berupa pengetahuan (cognitive), sikap (affective), maupun keterampilan (psychomotor) pada diri seseorang setelah menerima inovasi yang disampaikan oleh penyuluh. Penerimaan disini mengandung arti tidak sekedar tahu, tetapi sampai benar-benar melaksanakan ataupun menerapkan dengan benar serta menghayatinya dalam kehidupan penerimaan inovasi tersebut, biasanya dapatdiamati secara langsung oleh orang lain, sebagai cerminan adanya perubahan sikap, pengetahuan dan keterampilan (Mardikanto, 1993). Soekartawi (1988) menyatakan bahwa pendapatan usahatani yang tinggi seringkali ada hubungannya dengan tingkat difusi inovasi pertanian. Kemauan untuk melakukan percobaan atau perubahan dalam difusi inovasi pertanian yang cepat sesuai kondisi pertanian yang dimiliki oleh petani, maka umumnya hal ini yang menyebabkan pendapatan petani yang lebih tinggi. Dengan demikian petani akan kembali investasi kapital untuk adopsi inovasi selanjutnya. Sebaliknya banyak kenyataan yang menunjukkan bahwa para petani yang berpenghasilan rendah adalah lambat dalam melakukan adopsi inovasi. Disamping pendapatan usia manusia juga berpengaruh terhadap kecepatan mengadopsi teknologi, seperti yang disampaikan Soekartawi (1988) bahwa makin muda petani biasanya mempunyai semangat untuk ingin tahu apa yang belum mereka ketahui, sehingga dengan demikian mereka berusaha untuk lebih cepat melakukan adopsi inovasi walaupun sebenarnya mereka masih belum berpengalaman dalam soal adopsi inovasi tersebut. Faktor yang mempengaruhi tindakan petani juga disampaikan untuk mengadopsi teknologi yaitu sikap petani, luas kepemilikan lahan, keberadaan pembina, dan diperlukan keterlibatan pemerintah untuk memepercepat adopsi teknologi terutama mempersiapkan penyuluh dan memepersiapkan kredit dengan bunga rendah (Herman dkk. 2006). Pengumpulan data tahapan adopsi dilakukan dengan wawancara semi terstruktur dengan pedoman yang disusun oleh Britha (2001): Tim wawancara terdiri dari 2-4 orang dari berbagai disiplin ilmu

14

-

Mulailah dengan salam sesuai dengan adat setempat, dan nyatakan kehadiran tim adalah untuk belajar dari para hadirin

-

Mulailah mengajukan pertanyaan dengan menunjuk seorang atau sesuatu di ruangan itu

-

Ciptakan suasana informal dan pertanyaan diselingi dengan diskusi Bersikap objektir dan terbuka Biarkan setiap peserta menyelesaikan kalimatnya, jangan menginterupsi Secara hati-hati angkat isu-isu positif Mintalah seseorang untuk melakukan pencatatan Perhatikan tanda-tanda bahasa yang non verbal Hindarkan penghakiman atau memberi penilaian Jangan mengajukan pertanyaan yang hanya dijawab dengan ”ya” atau ”tidak” Wawancara pribadi hendaknya tidak lebih dari 45 menit Setiap pewawancara hendaknya menyiapkan pertanyaan kunci atau topik yang telah dicatat pada bukunya masing-masing

Menganalisa data faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam proses adopsi. Menurut Ekawati (2003), sebagai berikut: Mengelompokan Mengurutkan Membandingkan Mencari hubungan sebab akibat

15

III.

BAHAN DAN METODE

A. Lokasi Penelitian dan Tata Waktu Lokasi pengembangan dilakukan pada lahan pantai berpasir yang secara administratif terletak di Desa Petanahan, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah. Secara geografi berdasarkan peta topografi skala 1 : 25.000 terletak pada 109o 35’ 01,9” BT , 07o 46’ 31,3” LS sampai 109o 35’ 34,9” BT , 07o 46’ 39,1” LS (lihat Gambar 1 sampai Gambar 2). Kondisi Geologi berupa endapan alluvium pasiran dan jenis tanah yang terbentuk adalah jenis tanah regosol yang berasal dari endapan pasiran dengan topografi umumnya berombak. Puncak hujan pada bulan Oktober dan November dengan curah hujan rata-rata 3378 mm, bulan basah 8.3 bulan dan bulan kering (hujan < 50 mm/bl) selama 3 bulan. Bulan kering pada bulan Juli, Agustus dan September, bulan lembab Mei dan Juni, untuk bulan lainnya adalah bulan basah mulai dari Oktober. Untuk kegiatan pengembangan dipilih pantai berpasir yang letaknya berdekatan dengan garis pantai pada areal seluas ± 11 Ha.

Gambar 1. Lokasi Penelitian Lahan Pantai Berpasir di Karanggadung, Petanahan, Kebumen Sejak Tahun 2005

16

Gambar 2. Areal Penelitian desa Karanggadung dengan nomor Peta RBI (Rupa Bumi Indonesia) 1408-113 (Kreweng), diapit oleh Desa Karangrejo (sebalah Barat) dan desa Tegalretno (Sebelah Timur)

Gambar 3. Areal Penelitian Lahan Pantai Berpasir di desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Sejak Tahun 2005

17

Kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir tahun 2008 dilaksanakan dengan tata waktu sebagaimana disajikan dalam Tabel 2. Tabel 2. Jadwal Kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir 2009 No KEGIATAN BULAN PELAKSANAAN
1 2 3 4 5 6 7
8

9

10

11

12

A. KEGIATAN KANTOR 1 Persiapan - Pengadaan ATK dan Opers. Komputer - Bahan perlengkapan lapangan - Bahan penelitian B. KEGIATAN LAPANGAN 2. Perjalanan Dinas - Konsultasi/Koordinasi - Orientasi lapangan - Pelaksanaan lapangan 3. Pengamatan & Pengukuran - Pengumpulan data tanm - Data erosi pasir dll C. KEGIATAN LABORAT 4. Analisa data - Analisa data 5. Penyusunan laporan - Ft.copy/penggandaan - Rapat intern B. Bahan dan Metode Bahan dan peralatan kegiatan pengembangan meliputi : a. Kegiatan penetapan lokasi, pembuatan rancangan, dan pemetaan lokasi antara lain : patok, meteran, kompas, peta dasar. b. Kegiatan pembuatan sarana penahan erosi pasir tanaman TA, antara lain : Casuarina equisetifolia (camara laut) dan jagung (Zea mays L.). Bibit tanaman budidaya semusim untuk ditanam di antara jalur tanaman TA antara lain : terong, bawang merah, cabe merah, dan ketimun, dll.

18

d. Kegiatan perbaikan tanah berupa pupuk kandang dengan dosis 20 ton/ha serta pupuk anorganik ZA, KCl, urea, TSP, insektisida, dan fungisida. e. Kegiatan pengelolaan sarana pengairan tanaman budidaya antara lain berupa bak renteng, pralon, gembor, selang, pompa air. f. Kegiatan pengamatan perlakuan, antara lain: Sand trap, evaporimeter, ombrometer, anemometer, termometer udara, dan termometer tanah. g. Kegiatan sosialisasi masyarakat berupa blanko/kuisioner yang relevan.

1. Jenis Kegiatan Kegiatan ini merupakan pengembangan dari hasil penelitian lahan pantai di Samas yang berlangsung sejak tahun 1997. Disamping itu juga merupakan sarana

sosialisasi pada masyarakat di Kebumen dengan menanam tanaman kayu-kayuan kehutanan yang berfungsi sebagai tanggul angin sekaligus juga sebagai tanaman permanen yang membuat kondisi lingkungan semakin nyaman dan iklim mikro semakin baik.

2. Tahapan Kegiatan 2.1. Pemeliharaan jalur tanaman TA permanen Casuarina equisetifolia dan

pengembangan TA di Kebumen Pemeliharaan jalur tanaman TA dilakukan dari tahun 2006-2009. Kegiatan pemeliharaan ini meliputi pendangiran dan pemangkasan. Upaya rehabilitasi lahan pantai berpasir dilakukan untuk mengendalikan erosi angin, memperbaiki iklim mikro dan meningkatkan produktivitas lahan. Berdasarkan uji coba yang telah dilakukan pada lahan pantai berpasir di Desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen tanaman yang tepat sebagai tanggul angin permanen adalah cemara laut (Casuarina equisetifolia), lihat Gambar 4. Cemara laut (Casuarina equisetifolia) sebagai tanaman tanggul angin permanen sepanjang 500 m searah garis pantai dengan lebar 15 m. Tanaman tersebut berfungsi sebagai tanaman penghijauan untuk melindungi tanaman budidaya yang ditanam di

19

antara jalur tanaman tanggul dari pengaruh erosi pasir, tiupan angin dan kadar garam. Metode tanam tanaman tanggul tersebut dilakukan dengan jarak tanam 5 m x 5 m setiap jalurnya, dengan model ‘gigi belalang’ dengan 3 jalur tanam.

Gambar 4. Tata Letak Cemara Laut pada Berbagai Perlakuan 2.2. Pengelolaan kondisi iklim dan biofisik lahan Pengelolaan kondisi iklim dan biofisik dilakukan mulai tahun 2006-2009. Mengingat kondisi iklim yang ekstrim panas, curah hujan yang rendah, kondisi tanah yang kurang subur dan ketersediaan air rendah perlu dilakukan upaya penyediaan air yang cukup bagi tanaman. Adapun penyediaan air dengan sarana pengairan menggunakan bak tampung dari buis beton yang dipasang secara berentengan. Sumur renteng tersebut dipakai untuk persediaan cadangan air tawar sepanjang waktu, khususnya pada masa pertumbuhan tanaman yang diperlukan penyiraman air tawar rutin sehari dua kali pagi dan sore.

2.3. Pengembangan pola tanam tanaman budidaya yang sesuai Pengembangan tanaman budidaya dilakukan mulai tahun 2007-2008. Tanaman budidaya terdiri dari bawang merah, cabe merah, jagung dan semangka dengan beberapa kombinasi. Oleh karena itu, pola yang diterapkan dalam pembuatan demplot untuk upaya

20

pengembangan rehabilitasi lahan pantai berpasir di Desa Patanahan mengacu pada hasil uji coba yang telah dilakukan di pantai Samas, Bantul. Tanaman budidaya di antara jalur tanaman tanggul angin untuk sementara adalah : bawang merah, cabe merah, dan semangka. Adapun kebutuhan bibit per hektar dari masing-masing tanaman budidaya tersebut, yaitu: a) Bawang merah sebanyak 200 kg, b) Cabe merah keriting sebanyak 50 pak (5 kg), dan c) benih jagung 20 kg. Dosis ameliorat pupuk kandang untuk meningkatkan produktivitas tanamantanaman budidaya tersebut sebanyak 20 t/ha untuk MT I, untuk dosis pupuk kimia per hektar seperti ZA, urea, KCl, dan TSP masing-masing sebanyak 200 kg.

2.4. Peningkatkan tingkat pendapatan masyarakat Untuk tanaman budidaya terlebih dahulu akan dilakukan identifikasi untuk mengetahui jenis yang relatif sesuai dengan kondisi fisik, minat masyarakat dan kebutuhan pasar. Demplot akan dibangun pada lahan seluas ± 1 Ha yang akan dibagi dalam blok-blok yang merupakan petak milik petani penggarap dengan luas masing-masing 1.000 m2. Penanaman tanaman budidaya ini dilakukan pada tahun 2007 dan 2008.

2.5. Peningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata Pengamatan mengenai kenyamanan lingkungan sekitar wisata setelah ada tanaman tanggul angin dilakukan pada 2006 sampai 2009. Dengan adanya cemara laut diharapkan mampu menyediakan sarana terpadu dalam bentuk tempat-tempat berteduh para wisatawan yang nyaman untuk menikmati pemandangan pantai dan juga hasil tanaman yang dibudidayakan di sekitar pantai berpasir.

3. Parameter 3.1. Tanaman TA sebagai Pengendali Erosi Pasir Pengembangkan jalur TA antara lain dengan tanaman Casuarina equisetifolia dimaksudkan untuk mengendalikan erosi angin. Parameter biofisik yang dikumpulkan

21

adalah curah hujan, kecepatan angin, erosi pasir (Gambar 5), evaporasi, kandungan garam, suhu tanah, pertumbuhan dan daya tumbuh tanaman cemara laut, serta input dan produksi tanaman budidaya.

Gambar 5. Tata Letak Stik Bambu untuk Pengamatan Erosi Angin di Pantai Berpasir

3.2. Pengelolaan kondisi iklim dan biofisik lahan Mengingat produktivitas lahan yang rendah dan kondisi iklim yang ekstrim panas, maka perlu diupayakan agar kondisi lingkungan baik untuk tanaman, oleh karena itu agar perawatan tanaman dapat berjalan dengan baik perlu disediakan sarana penyediaan air antara lain dalam bentuk pengembangkan sarana pengairan berupa sumur bak renteng. Setiap tandon air dari buis beton diamati berapa kali sehari air harus dipompa untuk mengisi bak-bak penampung, dan berapa volume air yang diperlukan untuk menyiram tanaman tanggul angin dan tanaman semusim setiap harinya. Kebutuhan air tersebut

dibandingkan pada saat musim kemarau (tidak ada hujan) dengan musim penghujan (ada tambahan air dari air hujan). Untuk itu perlu diketahui tinggi hujan setiap hari dengan memasang penakar hujan ombrometer (manual).

22

3.3. Pengembangan pola tanam tanaman budidaya yang sesuai Pengembangkan pola tanam tanaman budidaya yang sesuai dan untuk

meningkatakan produktivitas lahan. Parameter data yang dikumpulkan dari lapangan tentang tanaman budidaya sebagai indikator perubahan tingkat produktivitas lahan, antara lain dengan melakukan pengamatan baik secara : a). vegetatif pertumbuhan tanaman dan b). generatif hasil produksi saat panen.

3.4. Peningkatan tingkat pendapatan masyarakat Peningkatan tingkat pendapatan masyarakat lahan pantai berpasir antara lain juga diamati perubahan kondisi ekonomi masyarakat, yaitu : Investasi awal pengembangan lahan pantai berpasir, jaringan irigasi sumur renteng, pembangunan tanggul angin permanen dan sementara, pembangunan site budidaya pertanian. Input output usahatani (tenaga kerja, bibit, pupuk, racun hama penyakit, output usahatani pokok dan sampingan) dalam volume dan harganya. Kondisi ekonomi masyarakat pantai dan kondisi ekonomi rumah tangga petani pelaksana plot pengembangan. Pemanfaatan lahan pantai selama ini. Minat masyarakat terhadap upaya rehabilitasi dan pemanfaatan lahan pantai berpasir untuk usaha tani. Minat masyarakat terhadap jenis-jenis tanaman budidaya yang akan ditanam dan potensi pasar bagi jenis-jenis tanaman budidaya tersebut.

3.5. Peningkatan kenyamanan lingkungan sekitar wisata Peningkatan kenyamanan lingkungan sekitar wisata antara lain dapat ditinjau dari iklim mikro, keberadaan kelembagaan dan kebijakan yang berlaku : Perubahan kondisi iklim mikro sekitar lokasi pengembangan Akses jalan menuju ke lokasi dalam bentuk sarana dan prasarana yang memadai untuk memudahkan pengunjung wisata Institusi yang terlibat dalam pengembangan lahan pantai selama ini dan peranannya dalam pengembangan lahan pantai.

23

Potensi dan kendala yang dihadapi dalam pengembangan pantai berpasir. Rencana pengembangan lahan pantai berpasir yang ada. Peraturan perundangan dan kebijakan pemerintah daerah dalam pengembangan lahan pantai berpasir. Status lahan pantai berpasir yang akan dikembangkan dan prediksi persoalan yang timbul kedepan. Respon pemerintah daerah dalam pengembangan lahan pantai berpasir.

4. Pengambilan Data Data yang diambil berupa data primer dengan cara pengamatan langsung di lapangan dan wawancara. 4.1. Tanaman TA Casuarina equisetifolia - Prosentase daya tumbuh pembibitan tanaman tanggul angin. - Prosentase daya tumbuh, pertumbuhan dan perkembangan tinggi tanaman tanggul angin dan tanaman semusim. - Produksi hasil tanaman semusim dengan cara ubinan ukuran 1 m2 diulang masingmasing 3 kali. - Pengamatan dilakukan selama lima tahun

4.2. Pengelolaan Kondisi Iklim - Pengukuran tinggi hujan (mm) harian melalui penakar hujan manual (ombrometer) dan diamati pada setiap jam 07.00 pagi. - kebutuhan air setiap jenis tanaman dalam satuan volume air cm3 (cc). - Kecepatan angin, erosi angin, evaporasi, dan suhu tanah, kandungan garam dan lain-lain faktor iklim diukur pada pagi dan sore setiap hari.

4.3. Model Tanaman Budidaya - Pengamatan pertumbuhan tanaman semusim selama lima tahun. Produksi tanaman budidaya dikumpulkan setiap panen, dalam hal ini juga dilakukan pemantauan terhadap volume dan frekuensi pemanenan dari masingmasing jenis tanaman budidaya.

24

- Input tanaman budidaya dikumpulkan mulai tanam sampai dengan panen. Selain itu, juga dihitung input untuk tanam tanaman TA.

4.4. Tingkat Pendapatan Masyarakat Peningkatan tingkat pendapatan masyarakat dengan mengamati kondisi sosial dan budaya masyarakat. Data sosial budaya yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan survei, observasi, diskusi mendalam, dan pendampingan/pengamatan terhadap kelompok tani. Survei dilakukan dengan bantuan kuisioner pada masyarakat sekitar pantai dan petani plot. Pencatatan input output

usahatani dan investasi pengembangan lahan pantai dilakukan secara rutin pada petani contoh. Data sekunder dilakukan dengan pengumpulan data, informasi, perundangan dan sebagainya pada instansi terkait seperti BPS, pemerintah daerah, intansi terkait dan sebagainya.

4.5. Kenyamanan Lingkungan Wisata Peningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata dengan mengamati kondisi ekonomi dan kelembagaan di masyarakat. Data ekonomi yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan survei, observasi, diskusi mendalam, dan pendampingan/pengamatan terhadap kelompok tani. Survei dilakukan dengan bantuan kuisioner pada masyarakat sekitar pantai dan petani plot. Harga input dan output dilakukan dengan observasi dan wawancara di lapangan. Minat masyarakat terhadap upaya rehabilitasi dan pemanfaatan lahan pantai serta jenis yang akan ditanam dilakukan melalui focus group discussion dan wawancara mendalam dengan masyarakat yang akan menjadi peserta dalam pembuatan demplot. Pemantauan terhadap: dinamika kelompok tani (kehadiran, keaktifan, inisiatif) institusi yang terlibat dalam pengembangan lahan pantai selama ini dan peranannya dalam pengembangan lahan pantai. Potensi dan kendala yang dihadapi dalam pengembangan lahan pantai berpasir Peraturan dan kebijakan pemerintah dalam pengembangan lahan pantai berpasir.

25

-

Status lahan pantai berpasir yang akan dikembangkan dan prediksi persoalan yang timbul kedepan.

-

Respon pemerintah daerah dalam pengembangan lahan pantai berpasir.

5. Pengolahan dan Analisa Data 5.1. Tanaman TA Casuarina equisetifolia Data biofisik akan dianalisis secara deskriptif untuk menunjukkan perlakuan yang paling efektif. Dengan mengamati prosentase tumbuh tanaman TA cemara laut (Casuarina equisetifolia) dan mengamati pertumbuhan setiap bulannya. 5.2. Sarana pengairan berupa sumur bak renteng Menyiapkan instalasi saluran irigasi dalam bentuk sumur bak renteng untuk mengairi tanaman semusim, tahunan dan tanaman TA dengan air tawar. Menyediakan sarana penampungan air dan melengkapi peralatan penyiraman tanaman dengan gembor, atau dengan selang plastik. 5.3. Pola tanam tanaman budidaya yang sesuai Pengembangan pola tanam tanaman budidaya dengan tanaman semusim antara lain Semangka (Citrullus vulgaris), Bawang Merah (Allium cepa), Cabe Merah Keriting (Capsicum annuum). Mengamati prosentase tanaman yang tumbuh, dan pengamatan pertumbuhan tanaman setiap bulannya. Setiap masa panen dilakukan pengkuran hasil produksi dengan cara melakukan pengubinan yang berukuran 1 m2 dan diulang 3 kali. 5.4. Tingkat pendapatan masyarakat Data sosial ekonomi dan budaya dianalisis secara deskriptif, untuk data input dan output untuk sementara hanya akan dilakukan analisis biaya pendapatan. Data sosek yang terkumpul selanjutnya ditabulasi dan dianalisis. Data disajikan dalam bentuk tabel dan grafis. Data dianalisis secara kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Analisis yang dilakukan antara lain analisis finansial, analisis kependudukan. 5.5. Kenyamanan lingkungan sekitar wisata Menyediakan kenyamanan rekreasi di sekitar lingkungan pengembangan tanaman sekitar pantai berpasir sebagai sarana informasi kepada khalayak ramai yang berkunjung ke pantai. Penyediaan sarana dengan melibatkan masyarakat sekitar pantai berpasir, dinas pariwisata dan pemerintah daerah. Data yang dikumpulkan berupa tingkat frekuensi

kunjungan masyarakat ke tempat wisata dan lingkungan sekitarnya.

26

III. BIAYA DAN ORGANISASI PELAKSANA Biaya penelitian tahun 2009 sebesar Rp. 67.750.000,- (Enam Puluh Tujuh Juta Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) dengan perincian biaya penelitian tahun 2009 sebagai berikut : A. Belanja Bahan (Rp. 4.000.000,-)
No Jenis Kegiatan Satuan Volume Jumlah Biaya (Rp) Realisasi Keuangan (Rp) 999.000 2.500.000 Fisik (%) 99.9 100 Sisa Dana Keuangan (Rp) 1.000 500.000 Fisik (%) 0.1 100 -

1 2. 3

ATK dan Op. komputer Foto copy dan dokumentasi Bahan operasional penelitian

Paket Paket Paket

1 1 1

1.000.000 500.000 2.500.000

B. Belanja Barang Non Operasional Lainnya (Rp. 2.500.000,-)
No Jenis Kegiatan Satuan Volume Jumlah Biaya (Rp) Realisasi Keuangan (Rp) 0 Fisik (%) 0 Sisa Dana Keuangan (Rp) 2.500.000 Fisik (%) 100

1

Kerjantara di Lapangan

HOK

45

2.500.000

C. Belanja Perjalanan Lainnya (Rp. 42.700.000,-)
No Jenis Kegiatan Satuan Volum e Jumlah Biaya (Rp) Realisasi Keuangan (Rp) 2.604.000 Fisik (%) 96.4 Sisa Dana Keuangan (Rp) 96.000 Fisik (%) 3.5

1

Perjalanan dalam rangka konsultasi dan koordinasi ke Bogor Perjalanan dalam rangka pelaksanaan kegaitan ke Kebumen

OT

1

2.700.000

2

OT

20

40.000.000

28.760.000

71.9

11.240.000

28.1

27

Susunan organisasi pelaksana tugas dalam rangka menyelesaikan kajian tentang Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Tim Pelaksana Kegiatan Tahun 2009 No. Nama Jabatan Pendidikan Bidang Keahlian Pedologi dan Penginderaan Jauh Kedudukan dalam TIM Ketua Tim/ Peneliti

1.

Ir. Beny Harjadi,MSc

Peneliti Madya

S2Penginderaan Jauh

2.

Ir. Purwanto

Peneliti Madya Calon Peneliti

S1Kehutanan S1 – Kehutanan

Ekonomi Sumberdaya Silvikultur

Anggota/ Peneliti Anggota/ Peneliti

3.

Arina Miardini, S.Hut Gunawan

4.

Tek Litkayasa Pelaksana

STM Pertanian

Pertanian

Anggota

5.

Siswo Aris Boediyono

Calon Teknisi Calon Teknisi

SKMA Kehutanan SKMA Kehutanan

Kehutanan

Anggota

6.

Kehutanan

Anggota

28

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pengembangan Jalur TA dengan Tanaman Casuarina equisetifolia Cemara laut (Casuarina equisetifolia) di pantai berpasir Karanggadung, Petanahan, Kabupaten Kebumen sejak tahun 2005-2009, dimaksudkan sebagai tanaman tanggul angin. Tanaman tanggul angin (TA) cemara laut merupakan salah satu teknik konservasi tanah secara vegetatif dan bersifat permanen (Gambar 6). Tanaman TA dimaksudkan untuk mencegah erosi angin, abrasi, penghalang uap air garam, dan memperbaiki iklim mikro.

a. Bibit Cemara Laut

b. Cemara Laut (Casuarina equisetifolia)

Gambar 6. Tanaman TA (Tanggul Angin) : Bibit dan Cemara Laut Pertumbuhan tinggi tanaman cemara laut dari tahun 2005 - 2009, justru tertinggi untuk tanaman tahun 2006 yaitu setinggi 560,4 cm, sedangkan tanaman tahun 2005 hanya 292,4 cm, hal tersebut karena tahun pertama menggunakan bibit dari cangkok. Sehingga kisaran tinggi cemara laut untuk umur satu hingga 5 tahun adalah dari 101,2 – 560,4 cm. Kisaran keliling diameter batang dari umur cemara laut 1 – 5 tahun adalah 0,29 – 8,26 cm, sedangkan keliling batang dari 0,9 – 25,6cm (Gambar 7).

29

30,0
Keliling & Diameter Batang (cm)

25,0 20,0 15,0 10,0 5,0 0,0

2 3 ,6

2 5 ,6

600
560,4

Keliling Diameter Tinggi

500 400 300
Tinggi Pohon (cm)

292,4 8,16 9 ,6 216,8

7,52

200
2 ,7 101,2 0,86 106,8 0 ,9 0,29

3,04

100 0

2005

2006

2007

2008

2009

Tahun Tanam Cemara Laut

Gambar 7. Pertumbuhan Tinggi Cemara Laut, Keliling dan Diameter Batang B. Pengelolaan Kondisi Iklim dan Biofisik Lahan Pengelolaan kondisi iklim dan biofisik lahan pantai berpasir dimaksudkan untuk memantau perubahan yang terjadi dan akan berdampak pada pertumbuhan cemara laut. Beberapa kondisi iklim lahan pantai yang perlu diketahui dan dipantau terus menerus antara lain : (1) kecepatan dan arah angin, (2) curah hujan, (3) kelembaban ruang dan udara, (4) evaporasi, (5) suhu ruang,udara dan tanah (6) erosi angin, dan (7) biofisik tanah (Gambar 8).

a. Ombrometer (Hujan) & Termometer (Suhu)

b. Stik Erosi Angin

Gambar 8. Alat Penakar Hujan (Ombrometer), Suhu Tanah (Termometer) dan Erosi Angin (Stik Erosi).

30

B.1. Kecepatan dan Arah Angin Kecepatan angin sejak tahun 2006 – 2009 memilik kecenderungan yang sama, yaitu kecepatan angin puncak pada bulan Januari dan September (± 9 m/det), dan justru bulan tersebut bulan yang paling baik untuk mulai penanaman bibit cemara laut. Sedangkan arah angin biasanya dari arah timur atau atau timur laut, sedangkan pada bulan Oktober dan November pada pagi hari arah angin berasal dari barat atau barat laut.
10,0

Rerata Kecepatan Angin (m/det)

9,0 8,0 7,0 6,0 5,0 4,0 3,0 2,0 1,0 0,0 Jan Feb Mrt Apr

2006 2007 2008

Mei

Jun

Jul

Ags

Spt

Okt

Nov Des

Bulan Pengamatan 2006, 2007, 2008

a. Kecepatan Angin (Anemometer)

b. Arah Angin Pantai

Gambar 9. Kecepatan Angin dan Arah Angin di Pantai Berpasir Kecepatan angin tertinggi bulan Januari 2008 yaitu 9,3 m/det dan terendah pada bulan Mei 2006 yaitu sebesar 3,8 m/det. Kecenderungan hampir sama rata-rata

kecepatan angin setiap bulannya, yaitu pada bulan Januari dan September kecepaatn angin relatif kencang yaitu berkisar 9 m/det (lihat Gambar 9). Dengan kecepatan angin yang tinggi maka suhu udara sekitar pantai akan menjadi dingin dan cocok untuk memulai penanaman cemara laut. Musim penghujan kecepatan angin akan meningkat dan berakibat air laut akan mengalami peningkatan air pasang yang berakibat garis pantai atau daratan akan berkurang. Sebaliknya pada musim kemarau kecepatan angin akan menurun sehingga air laut pasang akan menurun juga yang berakibat garis pantai atau daratan akan bertambah atau menjorok ke laut (Tabel 4). Penanaman cemara laut sebaiknya sore hari (jam 15.00- 18.00), agar tidak terjadi layu akibat pengeringan mendadak setelah ditanam, dan pagi hari petani sebagian besar sibuk dibidang pertanian, dan ada sebagian sebagai pegawai di pemerintahan

31

Tabel 4. Data Kecepatan Angin di Pantai Karanggadung, Petanahan Tahun 2006-2008 2006 Max Rrt Hari Min 2007 Max Rrt Hari Min 2008 Max Rrt Hari Min Jan Feb Mrt Apr Mei Jun 20 10 8 5 5 8 7,7 5,9 4,6 4,5 3,8 4,9 31 28 31 30 31 30 5 3 3 4 3 3 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun 21 9 9 7 6 9 8,2 5,6 5,4 4,5 4,0 5,0 31 28 31 30 31 30 5 3 3 4 3 3 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun 21 12 10 8 7 10 9,3 6,3 5,3 4,6 4,0 5,0 31 29 31 30 31 30 5 3 3 4 3 3 Jul Ags 10 9 6,0 5,6 31 31 3 3 Jul Ags 11 12 5,8 6,0 31 31 3 3 Jul Ags 12 9 6,1 5,8 31 31 3 3 Spt Okt Nov 12 12 9 8,4 7,9 5,9 30 31 30 5 6 5 Spt Okt Nov 14 12 10 8,8 8,2 5,5 30 31 30 5 7 5 Spt Okt Nov 14 15 10 8,8 8,2 7,0 30 31 30 5 7 5 Des 10 4,8 31 2 Des 12 6,5 31 2 Des 10 6,2 31 3

Kecepatan angin setiap harinya mengalami fluktuasi naik turun berkisar antara 3 – 7 m/det pada siang hari dan 3 – 4 m/det pada pagi hari (Gambar 10).

Gambar 10. Perubahan Kecepatan Angin pada Pagi dan Siang Hari Bulan November dan Desember 2009.

32

B.2. Curah Hujan Pengamatan curah hujan di Pantai Karanggadung dimaksudkan untuk mengetahui pada saat kapan ketersediaan air cukup untuk kebutuhan bibit yang akan ditanam. Curah hujan bulanan sejak tahun 2006 – 2009 di pantai Karanggadung, Petanahan memiliki kecenderungan yang sama yaitu hujan mulai bulan Oktober – April (7 bulan) dan bulan kering selama 5 bulan (Mei – September), dengan puncak tertinggi pada tahun Januari 2006 setinggi 743 mm (Gambar 11). Puncak hujan yang terjadi pada bulan November (547,6 mm) dan Maret (482,6 mm), maka penanaman bibit cemara laut diawali pada bulan September dan Januari, sehingga setelah penanaman masih ada kesempatan bibit cemara laut mendapatkan guyuran hujan yang cukup. Total hujan tahunan di Pantai Karanggadung sejak tahun 2006 – 2009 berurutan adalah : 2246, 2183, 2174, dan 1605 mm.

800 700
Tinggi Hujan Bulanan (mm)

743 547,6

600 500 400 300 200 100 0 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Spt Okt Nov Des

482,6 317,5

CH2006 CH2007 CH2008 CH2009

Bulan Pengamatan 2006, 2007, 2008, 2009

Gambar 11. Fluktuasi Curah Hujan Bulanan Tahun 2006-2009 di Karanggadung

B.3. Kelembaban Ruang dan Udara Pengumpulan data kelembaban ruang dan udara dimaksudkan untuk melihat perubahan kelembaban setiap harinya dan perbandingan antara kelembaban ruang dengan udara (Gambar 12). Kelembaban ruang lebih tinggi dari udara, karena didalam ruangan lebih dingin dan tidak ada pengaruh langsung dari panas matahari. Kelembaban pagi hari lebih tinggi dari siang hari, dengan kisaran kelembaban ruangan antara 55 – 88%. Kelembaban udara memiliki fluktuasi yang tinggi yaitu berkisar antara 35% (minimal siang hari) sampai 80% (maksimal pagi hari).

33

Gambar 12. Kelembaban Ruangan dan Udara pada Pagi (P) dan Siang (S) di Pantai Karanggadung, Kec.Petanahan, Kebumen Tahun 2009. B.4. Evaporasi Pengamatan evaporasi dimaksudkan untuk mengetahui besarnya air yang hilang dari tanah akibat penguapan karena pemanasan matahari, serta untuk menghitung neraca kebutuhan air bagi tanaman (Gambar 13). Evaporasi tertinggi pada bulan September yaitu saat pengukuran malam hari karena ada penguapan siang dan sore hari (0,6 mm), dan terendah juga pada bulan September pada saat pengukuran siang hari (0,1 mm).

Gambar 13. Evaporasi di Pantai Karanggadung Dekat Pantai dan Jauh dari Pantai

B.5. Suhu Ruang, Udara dan Tanah Pencatatan data suhu ruang, udara dan tanah dimaksudkan untuk mengetahui fluktuasi perubahan setiap harinya, karena sangat berpengaruh pada keberhasilan pertumbuhan bibit cemara laut yang mulai ditanam. Pada saat suhu ruang meningkat maka akan berpengaruh juga paa suhu udara dan suhu tanah pada kedalaman tertentu. (Gambar 14).

34

Gambar 14. Suhu Tanah Pantai Karanggadung pada Lapisan Tanah A, B, dan C untuk Malam(M) dan Siang (S) Hari Tahun 2006-2008 Semakin kedalam lapisan tanah maka suhu tanah akan semakin menurun yaitu berkisar dari 32,2 oC ke 30,2 oC pada pagi hari. Pada siang hari suhu lapisan tanah semakin meningkat dari 33,7 oC – 35,3 oC (Gambar 15).

35

Gambar 15. Suhu Tanah Pantai Karanggadung pada Lapisan Tanah A, B, dan C untuk Pagi dan Siang Hari Tahun 2009 Tahun 2009 lapisan A justru lebih rendah dibandingkan lapisan tanah B dan C, dengan kisaran suhu tanah pada pagi hari antara 28 – 33 oC (A), 30 – 32 oC (B), dan 29 – 31,5 oC (C). Pada siang hari suhu lebih tinggi sedikit dengan kisaran antara 28,5 oC (A) dan tertinggi 33,5 oC (B), lihat Gambar 16.

Gambar 16. Suhu Ruangan dan Udara di Pantai Karanggadung pada Pagi (P) dan Siang (S) Hari Tahun 2009 Suhu ruangan dan suhu udara tahun 2009 memiliki kecenderungan yang sama, namun suhu udara jauh lebih tinggi yaitu berkisar antara 22 oC (Juli) - 43 oC (Maret) sedangkan suhu ruangan berkisar antara 23 oC (Agustus) – 33 oC (Maret)..

36

B.6. Erosi Angin Pada Gambar 17 dapat dilihat bahwa pada tempat tertentu akan terjadi penimbunan (+) dan pada tempat lain akan terjadi pengikisan (-) yang ketebalannya bervariasi. Pengikisan tertinggi – 9,6 cm (DT) yaitu dekat dengan pantai yang terletak di timur, sebaliknya terendah – 0,1 cm (JB) yaitu jauh dari pantai sebelah barat pada tanaman semusim. Penimbunan partikel pasir akibat erosi angin tertinggi +2,1 cm (GB) yaitu pada gisik sebelah barat dan terendah = +0,1 cm (GP) yaitu pada gisik ditengah.

4
Pengikisan (-) atau Penimbunan (+), cm

2 0
19 11 P1 3 P1 5 21 7 9 01 03 3 5 JT 2 DP 05 T1 7 DT 0 DT 0 JP 2 DB DB G

-2 -4 -6 -8

G

U T S B

-10 -12

Sampel Pengamatan Erosi Stik

Gambar 17. Fluktuasi Deposit (+) dan Erosi (-) antara Lembah dan Bukit (Gisik) Akibat Erosi Angin di Karanggadung, Kec. Petanahan, Kebumen B.7. Biofisik Tanah Sebagian besar unsur hara pantai berpasir baik yang ada di kebumen (KC, KP, KS), Bantul (BC, BP, BS) dan Pemalanag (PM) semua dalam ketersediaan yang rendah. Namun demikian produktivitas lahan pantai berpasir dapat ditingkatkan dengan cara mengurangi faktor penghambat antara lain ; unsur hara rendah, kadar garam tinggi, angin

G

G

JB

JB

JT 2

B

7

37

yang kencang dari lautan, dan ketersediaan air tanah yang rendah. Produktivitas lahan berpasir dapat ditingkatkan mengingat sifat fisik lahan pantai yang baik antara lain : aerasi yang baik, drainase sangat cepat, porositas tinggi, struktur tanah lepas dan tekstur tanah yang ringan yaitu sand (S) dan loamy sand (LS). Kondisi tanah tersebut sangat sesuai untuk tanaman sayur-sayuran dan hortikultura lainnya yang memiliki nilai komoditi yang tinggi. Bahan organik atau kandungan karbon (C) untuk tanaman semusim paling tinggi di Kebumen dibandingkan lahan pantai berpasir di Bantul maupun di Pemalang. Perbedaan yang menyolok tersebut kemungkinan disebabkan di Kebumen ada tanaman kelapa disekitar tanaman semusim, sehingga timbunan dari daun kelapa ditambah banyak semak belukar yang menutupi lahan pantai berpasir menyebabkan kandungan karbon lebih tinggi. Kandungan Fosfor (P) sangat tinggi (ST) yaitu dari kisaran 250 sampai 450 ppm, dengan kandungan fosfor di Bantul dan Pemalang lebih tinggi dibandingkan yang ada di Kebumen. Kandungan Fosfor akan meningkat pada lahan yang sering diolah atau ada tanaman budidaya seperti tanaman semusim yang ada di Kebumen dan Bantul. Semakin lahan terbukar maka kandungan fsfor dalam tanah berpasir akan semakin menurun karena banyak yang terjadi pengauapan evaporasi dan terurai oleh desintegrasi karena suhu yang panas sebagai katalis. Urutan kandungan fosfor dari yang tertinggi ke terendah di lahan pantai yaitu lahan dengan tanaman semusim, lahan pasir, tanaman cemara. Pada tanaman cemara selain ada evaporasi juga transpirasi dari cemara laut, sehingga kehilangan fosfor akan meningkat dn kandungan fosfor dalam tanah menurun. Kapasitas Pertukaran Kation (KPK) semakin meningkat pada lahan pasir yang populasi tanaman meningkat yaitu berurutan dari yang tertinggi dari tanaman semusim, cemara laut dan lahan pasir terbuka dengan kecenderungan yang sama antara Kebumen dan Bantul. KPK di Pemalang memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi karena pasir di pantai utara lebih banyak bercampur dengan Lumpur atau tanah ameliorat, di pantai selatan dominasi tekstur pasir (sand). Natrium tersedia atau kadar garam akan meningkat pada lahan yang dekat pantai dan kondisi terbuka, sebaliknya semakin jauh dari garis pantai maka kandungan Natrium (Na) akan semakin menurun (Tabel 5).

38

Tabel 5. Hasil Analisis Laboratorium Tanah Pantai Berpasir di Kebumen, Samas dan Pemalang Tahun 2007, 2008, dan 2009

39

40

C. Pengembangan Pola Tanam Tanaman Budidaya yang Sesuai Pengembangan pola budidaya tanaman semusim antara lain cabe, jagung,semangka, bawang merah dan lain-lain (Gambar 18).

Gambar 18. Pengembangan Budidaya Tanaman Semusim : Semangka dan Jagung di Belakang Tanggul Angin, Cemara Laut Pengembangan model penanaman budidaya yang sesuai untuk lahan pantai dengan melakukan penanaman cabe besar dengan hasil yang bervariasi dari yang berkualitas rendah sampai yang berkualitas baik yaitu menghasilkan 4.000 kg/ha sampai 70.000 kg/ha. Pengembangan model penanaman budidaya yang sesuai untuk lahan pantai dengan melakukan penanaman cabe besar dengan hasil yang bervariasi dari yang berkualitas rendah sampai yang berkualitas baik yaitu menghasilkan 4.000 kg/ha sampai 70.000 kg/ha (Tabel 6). Tabel 6. Hasil Produksi Cabe untuk Kwalitas Baik (A) sampai Kurang (C) Kwalitas CABE Rendah Sedang Baik Ubinan 4 ons/m2 11 ons/m2 70 ons/m2 Hasil per Hektar 4000 kg/ha 11000 kg/ha 70000 kg/ha Harga Jula (Rp.) 20.000.000 55.000.000 350.000.000

Sebelum ditanam benih cabe dijemur selama satu hari atau setengah hari jika suhu udara cukup panas yaitu pada pukul 09.00 pagi, selanjutnya disemaikan ditempat yang sudah diberi tanah. Persemaian dpat dilakukan dengan

mengecambahkan bibit cabe yang digulung dengan kain basah atau kertas basah. Dari benih cabe yang berkecambah baru dipindahkan ditempat persemaian. Setelah

20 hari disemaikan maka cabe sudah siap untuk ditanam pada lahan pasir yang sudah disiapkan dalam bentuk bedengan per ubinan ukuran 1 x 14 m dari arah timur ke barat atau arah utara selatan lebih baik. Untuk membuat semangat kerja anggota kelompok tani sebaiknya dibuat regu kerja, untuk kompetitif bersaing saling memberi semangat satu sama lain, sebab kalau hanya satu regu dengan jumlah anggota 30 orang ternyata yang kerja tidak lebih dari 10 orang saja. Berdasarkan hasil analisis finansial, pada tahun pertama usaha tanaman brambang di pantai berpasir Petanahan mengalami kerugian sebesar Rp 2.774.500,-. Pada tahun kedua usaha tersebut mengalami kerugian karena adanya serangan penyakit lodoh dan pada tahun ketiga mengalami keuntungan sebesar Rp. 1.340.000,- (Tabel 7). Bila dibandingkan dengan biayanya maka keuntungannya yakni 68%. Kondisi ini dengan asumsi tersedia air. Tabel 7. Analisis Biaya-Pendapatan Usaha Tani di Lahan Pantai Berpasir
Satuan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 12 13 14 No 1 Pengeluaran Benih Brambang Benih Jagung Pengolahan tanah/nyangkul Pupuk Kandang Tanah TSP KCL ZA Pemeliharaan Pemanenan Benih Lombok Tenaga Nyemai L Penanaman Jml.Pengeluaran Pendapatan Brambang Jml Pendapatan kg kg HOK colt rit kg kg kg HOK HOK kg HOK HOK Vol 150 1 12 3 1 25 50 20 90 9 2006 Harga 5000 27000 15000 20000 500000 1100 1700 1000 15000 15000 2008 Harga Jumlah 30000 510000 45000 90000 15.000 20.000 1300 1700 1000 15.000 15.000 50.000 15.000 15.000 180.000 50.000 0 130.000 85.000 20.000 300.000 135.000 10.000 75000 375000 1.960.000 3.300.000 3.300.000 1.340.000

Jumlah 750000 27000 180000 60000 500000 27500 85000 20000 1350000 135000

Vol 17 2 12 2.5 100 50 20 20 9 0.2 5 25

3.134.500 kg 450 800 360.000 360.000 2.774.500 660 5.000

Untung/Rugi

42

Berdasarkan hasil analisis finansial, pada tahun pertama usaha tanaman brambang di pantai berpasir Petanahan mengalami kerugian sebesar Rp 2.774.500,-. Pada tahun kedua usaha tersebut mengalami kerugian karena adanya serangan penyakit lodoh dan pada tahun ketiga mengalami keuntungan sebesar Rp. 1.340.000,-.

D. Peningkatkan Tingkat Pendapatan Masyarakat Peningkatan pendapatan masyarakat ini merupakan target yang harus dipenuhi jika ada suatu kegiatan baru diperkenalkan kepada masyarakat. Untuk

memudahkan mereka untuk percaya bahwa lahan pasir yang selama ini dianggap tanah marjinal karena banyaknya keterbatasan yang ada maka kegiatan studi banding yang serupa sangat penting. . Berkenaan dengan pemantapan konsep rancangan untuk diterapkan di lapangan perlu ada langkah-langkah dengan selalu melibatkan dengan masyarakat secara penuh, karena memang nantinya yang merawat dan menjaga tanaman tersebut adalah masyarakat. Adapun beberapa hal yang harus dilakukan pada saat

memberdayakan masyarakat untuk partisipatif aktif dari perencanaan sampai pelaksanaan dan evaluasi, antara lain : a. Pemantapan Kelompok Tani (KT) dengan mengadakan pertemuan rutin dengan program yang jelas untuk menyatukan rencana kantor dengan rencana masyarakat setempat dan mengajak praktek melaksanakan kegiatan di lapangan. b. Merubah persepsi masyarakat bahwa lahan yang dulu dianggap lahan marjinal dan tidak akan menghasilkan apa-apa, dengan sentuhan teknologi lahan pantai berpasir dapat menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai komoditi yang tinggi. c. Pendekatan dengan masyarakat atau grounded dengan berinteraksi secara intensif dengan petani atau penduduk setempat dan sering tinggal di lokasi sehingga akan terjalin silaturahmi dan kerjasama yang harmonis. d. Sering beradaptasi dan sosialisasi dengan masyarakat baik yang masuk sebagai anggota kelompok tani maupun yang bukan anggota kelompok tani dengan selalu menceritakan tentang pentingnya melestarikan lingkungan dan samasama mencari terobosan untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat.

43

e. Penggalian potensi masyarakat dan potensi lahan dengan mengumpulkan data primer setiap tahunnya, untuk social ekonomi dan udaya (soseklembud) masyarakat dengan pendepakatan empat mata, wawancara maupun dengan menggunakan kuisioner. f. Pendekatan dengan tokoh kunci di masyarakat maupun tokoh-tokoh yang berpengaruh baik tokoh agama (TOGA) maupun tokoh masyarakat (TOMAS), aparat dan semua lembaga yang ada di desa.

E. Peningkatkan Kenyamanan Lingkungan Sekitar Wisata Selama 4 tahun ada kegiatan penanaman tanaman cemara laut di dekat lokasi wisata sudah mulai menampakkan peningkatan jumlah pengunjung dari tahun ke tahun sejak tahun 2006 – 2009 (Gambar 19). Faktor tersebut mungkin tidak hanya karena adanya kegiatan penelitian tapi bisa juga oleh sebab lain, tapi kalau dilihat kejadian tsunami pada tahun 2006 sempat menurunkan jumlah pengunjung sepanjang pantai selatan.

Gambar 19. Dampak Cemara Laut Terhadap Kenyamanan Lingkungan Wisata dan Peningkatan Kunjungan Wisata di Pantai Karanggadung

44

Gambar 20. Puncak Kunjungan Wisata (>75%) Saat Hari Raya Idul Fitri, dan Mengalami Peningkatan Setiap Tahunnya dari Tahun 2006-2009

Pada Gambar 20 dapat dilihat selain bulan Oktober atau hari raya Idul Fitri kunjungan wisata tertinggi pada bulan Januari 2006 dan Desember 2008. Kunjungan wisata pada bulan Januari 2006 bertepatan dengan tahun baru dan saat awal pergantian tahun tersebut justru musibah datang yaitu adanya tsunami. Tahun 2008 puncak kunjungan jatuh pada bulan Desember 2008 bersamaan dengan hari natal dan menjelang pergantian tahun baru. Begitu juga pada tahun 2007 terjadi puncak

kunjungan pada saat hari Natal bulan Desember dan tahun baru bulan Januari. Pada tahun 2007 pengunjung juga banyak pada bulan Juni dan Juli, walaupun musim panas atau kemarau tetapi pada saat itu ada liburan anak sekolah untuk kenaikan tingkat atau kelulusan. Pengunjung wisata akan meningkat jika ada liburan panjang anak-anak sekolah, yang terjadi pada liburan hari raya idul Fitri karena merayakan satu bulan penuh berpuasa, hari Natal dan tahun baru karena bersuka ria menyambut pergantian tahun, dan liburan sekolah kenaikan kelas atau kelulusan yaitu bulan Juni dan Juli. Objek wisata pantai Petanahan merupakan objek wisata yang potensial dan cukup banyak diminati. Pada tahun 2008 jumlah pengunjung mencapai 113.665 orang yang

45

puncaknya terjadi pada bulan oktober (libur lebaran / iedul fitri) sebanyak 62.122 orang (54,65 %) sebagaimana tersaji pada grafik dibawah ini: Jumlah kunjungan sebanyak itu mampu memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap PAD dari sektor Pariwisata Kab. Kebumen. Pada tahun 2008 pantai petanahan mampu memberikan kontribusi terhadap PAD sebesar Rp. 168.748.300,- yang berasal dari tiket pengunjung, parkir, tiket pedagang asongan, asuransi dan sewa tanah. Namun demikian, pendapatan tersebut masih dibawah target PAD yang dibebankan sebesar Rp. 232.350.000,Apabila dikembangkan, Pantai petanahan mempunyai potensi yang besar untuk memenuhi target tersebut. Konservasi lahan pantai berpasir memungkinkan untuk peningkatan pendapatan Objek Wisata Pantai Petanahan, Indikasinya sebagai berikut: a. Berdasarkan survey terhadap pengunjung, penanaman tanaman cemara laut dapat memberikan kenyamanan pandangan dan juga dapat digunakan untuk berteduh menikmati indahnya pantai. b. Berhasilnya konservasi lahan pantai berpasir memungkinkan tanaman pertanian dapat tumbuh dengan baik. Dengan demikian dapat dikembangkan wisata pertanian / Agrowisata sehingga diharapkan dapat meningkatkan daya tarik objek wisata pantai petanahan. c. Keberhasilan konservasi lahan pantai berpasir yang memungkinkan untuk kegiatan pertanian, akan meningkatkan nilai sewa tanah sehingga pendapatan objek wisata pantai Petanahan akan meningkat. Dampak dari penanaman cemara laut (C. Equisetifolia) adalah

dimanfaatkannya pohon untuk berteduh

46

F. Dampak Demplot terhadap Masyarakat Pada awalnya, kelompok Tani rencananya akan dipimpin langsung oleh Lurah Karang Gadung (terlibat langsung dalam kepengurusan). Ditingkat desa juga akan dibentuk Kelompok tani Gabungan (dipandang perlu dalam pengadaan pupuk). Pertemuan Kelompok sudah berjalan rutin setiap malam kamis minggu pertama sekaligus dengan pertemuan kegiatan Kelompok Ternak karena Kelompok Ternak merupakan kelompok tani Pasir makmur. Dalam hal pertemuan/rapat kelompok telah berjalan cukup demokratis, dalam pertemuan tgl 22 Desember 2008 tidak terlihat adanya pemaksaan kehendak dari Ketua. Namun demikian, nampak kurangnya ketegasan dari kepemimpinan Ketua Kelompok. Dalam pertemuan kelompok tani, anggota cukup aktif meskipun belum semuanya mau mengungkapkan pendapat dalam forum rapat tersebut. Dalam rapat tersebut tampak sekali keaktifan anggota ketika membahas masalah pupuk. Dalam rapat tersebut juga terjadi interaksi yang cukup baik antara pengurus dan anggota maupun sesama anggota. Misalnya; Pada saat membahas rencana pembersihan tanaman cemara laut, meskipun Ketua Kelompok sudah merencanakan ada salah satu anggota (Pak Mudji) mengungkapkan pendapatnya. Menurutnya, kalau cemara laut disiangi maka akan mati saat musim kemarau karena rumput-rumput / gulma yang ada merupakan pendingin untuk cemara laut, disamping itu akses orang akan terlalu mudah sehingga dimungkinkan merusak tanaman cemara laut. Semua anggota kelompok tani Pasir Makmur mengetahui kegiatan di Lahan Pasir (Plot) meskipun belum semua anggota terlibat langsung dalam berbagai kegiatan plot. Anggota kelompok tani Pasir makmur menyadari betul pentingnya cemara laut sebagai tanggul angin atau prasyarat untuk pertanian mereka di lahan pasir dan semua anggota telah berperan aktif dalam hal tersebut. Menurut petani, sebelum ada cemara dan pada waktu cemara masih kecil, tanaman pertanian tidak berhasil, tapi sekarang sudah tumbuh. Belum ada kegiatan lain dari kelopmpok tani di Lahan Pasir selain kegiatan dalam Plot. Anggota kelompok tani juga belum ada yang melakukan kegiatan pertanian dilahan pasir secara perorangan. Kegiatan pertanian masyarakat yang ada di dekat pantai merupakan lahan yang sudah bertanah dengan tanaman besar (kelapa). Kegiatan usaha tani dilahan Pantai Berpasir yang sudah berjalan dan berhasil adalah usaha tani ”Semangka” yang dikelola oleh pengusaha (Pak Ren).

47

Itupun dibelakang lokasi plot dengan kondisi lahan yang sedikit sudah lebih baik. Meskipun kegiatan kelompok tani Pasir Makmur baru sebatas dalam plot, hingga saat ini kelompok tani pasir Makmur merupakan paling berhasil dalam penanaman cemara laut dibanding Desa lain disekitarnya. Menurut mereka ini bukti bahwa mereka sudah merasa memiliki, berbeda dengan Desa lain yang dalam pengerjaannya selalu diborongkan (petani diberi upah dalam setiap pekerjaan tanaman cemara laut tersebut). Lahan milik petani dengan swadaya dan swasembada mengupayakan lahan pantai berpasir didekat tanaman semusim dengan tanaman semangka ternyata hasilnya lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman yang sama pada tanah biasa. Penanaman semangka dilakukan setahun 3 kali dengan hasil bersih setiap kali panen yaitu sebesar Rp23.696.500,000,-/ha (Tabel 8). Panen dilakukan pada malam hari dengan selain alasan keamanan juga alasan kalau siang hari sangat panas.

48

Tabel 8. Produksi Semangka di Pantai Berpasir Tahun 2008, Karanggadung Petanahan

49

Berdasarkan target benefisieris dinas dan institusi yang terkait dengan sektor kehutanan akan diuntungkan dengan adanya damplot. Dari pengamatan lapangan damplot sudah berdampak terhadap lembaga yang terkait dengan sektor kehutanan. Sub Dinas Perhutanan, Dinas Perhutanan dan Pengendalian Dampak Lingkungan (Dinas PPDL) Kabupaten Kebumen telah menanam cemara laut seluas 44 ha. Instansi yang lain juga menanam cemara laut di sebelah barat lokasi penelitian BPK Solo Petanahan yakni Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, seluas 10 ha. Dampak terhadap jumlah dan tingkah laku pengunjung belum begitu nampak. Namun sudah ada pengunjung yang memanfaatkan tanaman cemara laut untuk berteduh. Dari 294 orang pengunjung 5,78% berteduh di bawah pohon cemara dan dari seluruh pengunjung (100%) menyatakan bahwa penanaman pohon cemara laut kan memperbaiki lingkungan karena dalam jangka panjang akan semakin sejuk, indah, dan nyaman untuk kegiatan rekreasi. Terhadap staf Dinas Pariwisata Kabupaten Kebumen, kegiatan uji coba telah mengubah pola pikir. Pada tahun ke satu dan kedua percobaan, staf Dinas Pariwisata mengnggap sinis terhadap percobaan karena ada teknik pendekatan yang keliru karena BPK Solo melakukan ijin melalui Dinas PPDL Kabupaten Kebumen wilayah Pantai Berpasir Petanahan merupakan pemangkuan Dinas Pariwisata Kabupaten kebumen, namun setelah mendapat penjelasan dari tim peneliti dan di masa depan berharap mendapatkan keuntungan karena kondisi lingkungan rekreasi semakin baik maka staf Dinas Pariwisata sangat mendukungnya. Untuk petani peserta plot belum mengadopsi kegiatan penelitian tersebut. Hal ini kemungkinan disebabkan, pada tahun pertama dan kedua mengalami kerugian. Tahun pertama karena investasi masih terlalu mahal dan lahan belum terjadi pembentukan tanah. Tahun kedua gagal panen karena adanya hama embun upas sehingga gagal panen sehingga sampai tahun ketiga masyarakat belum mengadopsi teknik RLKT yang dilakukan dalam kegiatan penelitian ini. Untuk mengatasi masalah tersebut sebaiknya kegiatan konservasi tanah ditujukan untuk mempercepat pembentukan tanah, kegiatan tanaman semusim ditanah pada zona yang tanahnya sudah terbentuk dengan baik

50

V. KESIMPULAN

Pertumbuhan tanaman cemara laut (Casuarina equisetifolia) sebagai tanaman jalur TA (Tanggul Angin) sejak penanaman tahun 2005 sampai 2009 di Kebumen sebagai berikut masing-masing untuk tinggi dan diamaeter cemara laut : tahun 2005 (292,4 cm; 7,52 cm), tahun 2006 (560,4 cm; 8,16 cm), tahun 2007 (216,8 cm; 3,04 cm), tahun 2008 (101,2 cm; 0,29 cm), dan tahun 2009 (106,6 cm, 0,29 cm). Kriteria bibit cemara laut yang cocok untuk dikembangkan di lahan pantai berpasir adalah bibit yang memiliki batang coklat, daun hijau gelap dan ukuran diameter batang ½ cm atau keliling batang sekitar 2 cm dengan umur bibit sekitar 6 sampai satu tahun. Pertumbuhan tanaman semusim masih banyak kendala karena belum

berfungsinya tanaman cemara laut sebagai tanaman tanggul angin secara optimal. Tanaman semusim yang sesuai untuk lahan pantai berpasir yaitu jagung dengan hasil sebanyak 2,8 ton/ha dan cabe merah keriting (Capsicum annuum) dengan hasil 70 ton/ha. Kelembagaan berupa peran aparat desa dan staf obyek wisata serta anggota kelompok tani cukup baik. Namun tingkat adopsi masih rendah, karena lahan pantai berpasir di daerah kajian bukan hak milik masyarakat. Partisipasi masyarakat terhadap upaya RLKT (Reboisasi Lahan dan Konservasi Tanah) lahan pantai berpasir yang mendukung wisata lingkungan terpadu cukup yaitu ditunjukkan dari semangat untuk melakukan penanaman semusim di lahan pantai berpasir dan adanya pertemuan rutin bulanan kelompok tani. Peningkatan tingkat pendapatan masyarakat dengan pengembangan lahan pantai berpasir harus ditunjang partisipasi aktif dari masyarakat dengan merubah persepsi bahan lahan berpasir yang dianggap lahan marjinal menjadi lahan yang memiliki produktivitas tinggi. Berdasarkan data pengunjung sejak tahun 2006 sampai 2009 mengalami peningkatan berurutan yaitu 66.100, 69464, 81665, 81.665, dan 80250 orang. Hal ini menunjukkan bahwa adanya cemara laut di pantai berpasir dapat mempengarui peningkatan jumlah pengunjung.

51

DAFTAR PUSTAKA

Bloom, A. L. 1979. Geomorphology: A Systematic Analysis of Late Cenozoic Landforms. Prentice-Hall of India, ND 110001. Budiharsono, S., 2001. Teknik Analisis “Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan”. PT. Pradnya Paramita, Jakarta. Dahuri, R., Rais, J., Ginting, S.P., dan Sitepu, M.J., 2001. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT. Pradnya Paramita, Jakarta. Dinas Pariwisata Kebumen, 2008. Profil Kebumen.dan Peta Wisata Kabupaten Kebumen. http://www.pariwisata.kebumenkab.go.id/index.php? name= News&file=article&sid=4. 8 April 2009 Ekawati, S. 2003. Kajian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelestarian Penerapan KTA di Jatim. Balai Penelitian dan Pengembaangan Teknologi Pengelolaan DAS IBB. Surakarta (tidak diterbitkan). Harjadi B., Cahyono S.A., Octavia D., Gunawan, Priyanto A., dan Siswo, 2007. Laporan Hasil Proyek (LHP) ”Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir”. DepHut, Balitbanghut, BPK Solo. Harjadi B., Hartono S., Cahyono S.A., Octavia D., Gunawan, Priyanto A., 2006. Laporan Hasil Proyek (LHP) ”Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir”. DepHut, Balitbanghut, BPK Solo. Harjadi, B., dan Octavia, D., 2008. Penerapan teknik konservasi tanah di pantai berpasir untuk agrowisata, Info Hutan Vol. V, No. 2, Tahun 2208. Dephut., Balitbanghut, Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam (P3HKA). Bogor. Herman, M.P. Hutagaol, S.H. Sutjahjo, A. Rauf, dan DS. Priyarsono. 2006. Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Teknologi Pengendalian Hama Penggerek Buah Kakao. Pelita Perkebunan 2006, 22 (3): 222 – 236. Kamija dan Jati, 2003. Laporan Praktikum Ekosistem Pantai. Jurusan Ilmu Lingkungan, Program Studi Antar Bidang, Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta Kasim, M. 2005. Kehidupan di balik “tandusnya” pantai berpasir. http://marufkasim. blog.com/Pantai%20Berpasir/., 20 Oktober 2005.
Mardikanto, T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Sebelas Maret University Press. Solo.

52

Murdiyanto, B. 2009. Rancangan Percobaan. Catatan Kuliah MP, Rancangan Acak Kelompok (Rak), Randomized (Completely) Block Design, p9. Nugroho B., Priyono FDJ, Tetalepta J.,Nurida, N.L., Hidayati R., Rustamsjah dan Wawan. 2008. Pengelolaan Wilayah Pesisir Untuk Pemanfaatan Sumberdaya Alam Yang Berkelanjutan. http://tumoutou.net/3_sem1 012/ke4_012.htm Pemda Kebumen, 2008. Obyek Wisata di Kabupaten Kebumen. Pantai Petanahan, Desa Karanggadung, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, JawaTengah. Pramesti, G. 2008. Aplikasi SPSS 15.0 dalam Model Linier Statistika. Elex Media Komputindo, Jakarta. Rancangan Blok Random Lengkap (RBRL), P35 Sastrosupadi, A., 2008. Rancangan Percobaan Praktis, Bidang Pertanian. Edisi Revisi, CV. Kanisius, Yogyakarta. Sidik Peragam dalam rancangan Acak Kelompok, p224. Soemarno, 2001. Lahan : Sumberdaya Ekonomi Pembangunan. Anggota Dewan Paklar Propinsi Jawa Timur, September 2001 Soemarno, 2009. Prinsip-Prinsip Statistika untuk Penelitian. Rancangan Lingkungan, Rancangan Acak Kelompok (Rak), P14. UNS. Surakarta Suhardjo, H., Suratman, T. Prihartini dan S. Ritung. 2000. Lahan Pantai dan pengelolaannya. dalam A. Abdurahman (Eds.). Sumberdaya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Bogor. p : 97126.
Soekartawi. 1988. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. Penerbit Universitas Indonesia (UIPress). Jakarta.

Sukresno, 1997. Laporan “Studi rehabilitasi Lahan Pantai Berpasir di DIY dan Lahan Pantai Berlumpur di Jepara. Dephut, Balitbanghut, BPTDAS. Solo. Sukresno, 1998. Laporan “Kajian Konservasi Tanah dan Air pada Kawasan Pantai Berpasir dan Berlumpur di Jawa Tengah dan DIY. Dephut, Balitbanghut, BTPDAS. Solo. Sukresno, 2000. Pedoman Teknis “Pemanfaatan Lahan Pantai Berpasir”. Info DAS No. 8 Tahun 2000. Balitbang Kehutanan dan Perkebunan. BTPDAS, Surakarta, Jawa-Tengah. Sukresno, Mashudi, Sunaryo, Subaktini, D., dan Supangat, A.B., 2000. Laporan Hasil Proyek “Kajian Pengembangan Pemanfaatan Lahan Pantai Berpasir dalam rangka Peningkatan Produksi Tanaman Pangan di Pantai Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dephut, Balitbanghutbun, BP2TPDAS. Solo.

53

Surya, 2007. Menggeliatnya Pasir Laut. Kompilasi informasi mengenai berbagai tantangan dan ancaman terhadap ekosistem dan wilayah pesisir Indonesia Destructive Fishing Watch (DFW)Indonesia. http://www.surya.co.id/web/ Wanita-Kesehatan/Page-2999.html; http://coastal-hazard.blogspot.com/2008/ 02 /menggeliatnya-pasir-laut.html. 3 Agustus 2007. Tim PPTA (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat). 1996. Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Dokumen Puslittanak, Bogor. (Tidak dipublikasikan). Tim UGM. 1992. Rencana Pengembangan Wilayah Pantai Jawa Tengah. F. Geografi UGM Yogyakarta-BRLKT Wilayah V, Ditjen RRL, Dephut, Semarang. Wijaya, 2008. Perancangan Percobaan (Bagian 1). Fakultas Pertanian, Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon. Rancangan Acak Kelompok (RAK), p15. Yulianto S., 2009. Investasi Pariwisata di Kebumen, http://sonysaufani.wordpress.com/2009/02/20/investasi-pariwisata-dikebumen-1/peta-kawasan-menganti/, 20 Februari 2009. Yusnandar, ME., 2009. Aplikasi Analisis Rancangan. Informasi Pertanian Volume 11. Balai Penelitian Ternak. Rancangan Acak Kelompok, p17.

54

LAMPIRAN

55

AKTIVITAS HARIAN
HABIS 1 Subuh 2 Dluha WAKTU Fajar Pagi JAM KEGIATAN 05.00 Jalan-jalan pagi, Makan pagi, Mandi 08.00 Ukur tinggi cemara atau stik erosi Pengamatan dan Foto-foto lokasi 3 Luhur Siang 12.00 Sholat dan Makan siang Koordinasi dengan instansi setempat : Lurah/desa, Obyek Wisata, RW/RT 4 Ashar Sore 15.00 Bincang-bincang dengan ketua KT (Kelompok Tani)/KTT (Kelompok Tani Ternak), kontak tani, ToGa (Tokoh Agama), ToMas (Tokoh Masyarakat) 5 Maghrib 6 Isya’ Senja Malam 18.00 Makan malam 19.00 Silaturahmi anggota KT. Pasir Makmur/KTT. Bhakti Usaha, Masyarakat atau Pertemuan KT dan KTT.

56

AGENDA TAHUNAN
KEGIATAN BULANAN DI LAPANGAN A. KEGIATAN LAPANGAN 1. Koordinasi dan konsultasi : - Bappeda - Dinas PEDAL/Kehutanan - Dinas Wisata - BPS (Badan Pusat Statistik) - Dinas Pengairan/Pertanian 2. Konsultasi di desa/daerah : - Kecamatan/Polsek Petanahan - Kelurahan/Desa Karanggadung - Kantor Obyek Wisata Pantai 3. Silaturahmi ke masyarakat - Tokoh Agama (ToGa) - Tokoh Masyarakat (ToMas) - Informan, Kontak Tani dll - Anggota KT. Pasir Makmur - Anggota KTT. Bhakti Usaha - Warung (Pusat Info non-formal) - Masyarakat umum non anggota B. PENGAMATAN 1.Hujan harian, dg Ombrometer 2. Suhu udara pagi (08.00) dan siang hari (14.00) 3. Suhu tanah pada top soil (30 cm), sub soil (90 cm), dan bahan induk (150 cm), pagi dan siang, dengan Termometer 4. Kecepatan angin, pagi dan siang hari, dengan anemometer 5. Kelembaban udara, pagi dan siang hari dengan Termohidro 6. Wisata, jumlah pengunjung dan pendapatan, dari tiket C. PENGUMPULAN DATA 1. Quisioner soseklembud 2. Data input-output semusim 3. Hasil ubinan produksi semusim D.PENGUKURAN SAMPEL 1.Tanggul Angin (Cemara laut) - Tinggi tanaman - Diamater tanaman 2.Pertumbuhan Cemara laut 1 2 BULAN PENGAMATAN DI LOKASI 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

57

- Bantul (2000-2004) - Kebumen (2005- sekarang) 3.Pengambilan sampel tanah : - tanah pantai berpasir - tanah pada cemara laut - tanah pada tanaman semusim 4. Pengukuran stik erosi pantai - Dekat pantai (cemara laut) - Gundukan pasir (Gisik) - Jauh pantai (tanaman semusim) E. PERAWATAN : 1.Perawatan cemara laut - Penanaman dan penyulaman - Pemberian perlakuan tanaman - Pembersihan rumput/gulma 2. Tanaman semusim - Penyiraman - Pemberian pupuk - Penyemprotan hama & penyakit - Penanaman dan penyulaman 3.Perbaikan instalasi air - Inventarisasi kerusakan - Perbaikan instalasi F. KEGIATAN KANTOR 1.Rapat rutin bulanan - Laporan keuangan & anggaran - Rencana yang akan datang - Permasalahan dan solusinya 2.Laporan perjalanan lapangan - Kegiatan yang dilaksanakan - Permasalahan lapangan - Kegiatan yang akan datang 3. Pengumpulan data dan analisis - Rekap data lapangan - Perhitungan dan analisis - Tabulasi dan pembuatan grafik 4. Laporan Kegiatan - Ringkasan dan Akuntabilitas - Laporan Pelaksanaan Kegiatan -Laporan Hasil Proyek -Pembahasan LHP -Perbaikan LHP - Desiminasi : jurnal, juknis, leaflet, poster dll

58

KEGIATAN LAPANGAN
1. ORIENTASI a. SDL (Sumber Daya Lahan) : lokasi penelitian dan diluar lokasi b. SDM (Sumber Daya Manusia) : petani peserta KT dan non KT/KTT c. SDA (Sumber Daya Air) : TMA sumur, kekeringan dan banjir 2. KOORDINASI a. Dinas Pariwisata Kebumen : sebagai pengelola lahan pantai berpasir b. Dinas PEDAL (Perhutanan dan Dampak Lingkungan) c. BPS (Badan Pusat Statistik) : data fisik maupun sosek d. Dinas Pengairan Kebumen : data hujan dan data iklim lainnya e. BAPPEDA/Kantor Bupati : perijinan dan pemberitahuan 3. KONSULTASI a. Kecamatan dan kantor Polsek Petanahan b. Kelurahan/Desa Karanggadung c. Obyek Wisata Pantai Karanggadung d. Toga (Tokoh Agama) dan Tomas (Tokoh masyarakat) e. Ketua RW (Rukun Warga) dan RT (Rukun Tetangga) 4. SILATURAHMI a. Kontak tani, Tokoh berpengaruh, Tokoh partai dll b. Ketua KT (Kelompok Tani) dan Ketua KTT (Kelompok Tani Ternak) c. Semua anggota KT maupun non anggota KT (minimal 3 oang/hari). 5. PENGAMATAN a. Pengamatan atau foto-foto tanaman tahunan dan semusim b. Pengamatan iklim (suhu udara, kelembaban, kecepatan angin, hujan) c. Pengamatan/pengambilan sampel tanah (Pantai, cemara, dan semusim) d. Pengamatan aktivitas harian masyarakat dari pagi sampai malam 6. PENGUKURAN a. Tinggi cemara laut dengan Haga setiap 4 bulan dan diameter (1, 5, 9) b. Tinggi stik erosi dengan mistar/meteran (bulan 2, 6, 10) c. Hasil ubinan setiap panen cabe, jagung dan tanaman semusim lainnya 7. PENGUMPULAN DATA a. Curah hujan harian setiap bulan dengan Ombrometer b. Kecepatan angin harian setiap bulan dengan Anemometer c. Suhu udara dan kelembaban harian setiap bulan dengan Termohydro 8. BANYAK JUMPA WARGA a. Jumpa warga di jalan atau di tempat rekreasi b. Jumpa warga di lokasi penelitian atau di lahan masyarakat c. Jumpa warga di warung atau di tempat2 umum d. Jumpa warga dengan : SENYUM, SALAM, SAPA & SENANG

59

KELOMPOK TANI PASIR MAKMUR, KARANGGADUNG
NAMA UMUR PENDK JML MATA PENCAHARIAN NO LENGKAP (TH) TRKHR KEL UTAMA SAMPINGAN 1 Samikun 30 SLTA 5 Tani Pedagang 2 Hadi Warsito 48 SD 3 Tani Penderes 3 Mujiono 49 SD 5 Tani Pedagang 4 E.Prayim 49 SMP 2 PNS Pedagang 5 Suparman 50 SD 4 Tani Pedagang 6 Saring 40 SD 3 Tani Penderes 7 Tukimin 52 SD 3 Tani Penderes 8 Wiwit 30 SD 3 Tani Penderes 9 Hadiwarno 64 SD 2 Tani Penderes 10 Tukiran 52 SD 4 Tani Penderes 11 Wujiyo 47 SD 5 Tani Penderes 12 Agus Basuki 35 SLTA 4 Tani Pedagang 13 Darso Priyono 35 SMP 4 Tani Pedagang 14 Yusroni 52 SD 2 Tani Pedagang 15 Murgiyanto 32 SMP 3 Tani TKW (istri) 16 Wigiyatno 30 SD 4 Tani Penderes 17 Atmo Suwito 48 SD 6 Tani Pedagang es 18 Sarno 26 SD 3 Tani Pedagang tahu 19 Mahmudin 33 SD 4 Tani Pedagang 20 Sarwono 38 SMA 4 KaDes 21 Sugeng 35 SMP 5 Tani Penderes 22 Dawal 34 SMP 3 Tani Penderes 23 Parwito 32 SMP 4 Tani Penderes 24 S.Puji Prayitno 58 SLTA 5 PNS 25 Yasa Wikromo 65 SD 4 Tani 26 Rusmono 64 SLTA 2 Tani 27 Purwadi 30 SMP 3 Tani 28 Marsidi 45 SD 4 Tani 29 Sacan 49 SD 4 Tani Tukang kayu 30 Sudirdjo 62 SD 4 Tani 31 Muji Mukson 45 SD 4 Tani 32 Rokandi 28 SD 5 Tani 33 Dalwono 30 SD 3 Tani 34 Agung 19 SLTA Tani Pertemuan KT. Pasir Makmur Senin malam (Minggu ke-3), KTT.Rabu malam (Minggu ke-1) RT/ RW 1/III 2/III 2/III 2/III 2/III 2/III 2/III 1/III 1/III 1/III 1/III 2/III 2/III 2/III 2/III 1/II 1/II 1/II 1/II 2/I 2/II 1/III 1/II 2/IIII 2/IIII 2/IIII 1/II 3/II 1/III 1/III 2/I 2/II 2/II 1/I

60

Tabel Lampiran 1. Data Curah Hujan Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

61

Tabel Lampiran 2. Data Curah Hujan Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

62

Tabel Lampiran 3. Data Curah Hujan Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

63

Tabel Lampiran 4. Data Curah Hujan Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

64

Tabel Lampiran 5. Kecepatan Angin Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

65

Tabel Lampiran 6. Kecepatan Angin Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

66

Tabel Lampiran 7. Kecepatan Angin Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

67

Tabel Lampiran 8. Kecepatan Angin Pagi Hari Tahun 2009, di Petanahan, Kebumen

68

Tabel Lampiran 9. Kecepatan Angin Siang Hari Tahun 2009, di Petanahan, Kebumen

69

Tabel Lampiran 10. Arah Angin Pagi Hari Tahun 2009, di Petanahan, Kebumen

70

Tabel Lampiran 11. Arah Angin Siang Hari Tahun 2009, di Petanahan, Kebumen

71

Tabel Lampiran 12. Kelembaban Ruang Pagi Hari Tahun 2009 di Pantai Karanggadung, Petanahan, Kebumen

72

Tabel Lampiran 13. Kelembaban Ruang Siang Hari Tahun 2009 di Pantai Karanggadung, Petanahan, Kebumen

73

Tabel Lampiran 14. Kelembaban Udara Pagi Hari Tahun 2009 di Pantai Karanggadung, Petanahan, Kebumen

74

Tabel Lampiran 15. Kelembaban Udara Siang Hari Tahun 2009 di Pantai Karanggadung, Petanahan, Kebumen

75

Tabel Lampiran 16. Pengukuran Tinggi Stik Erosi Angin Bulan November 2008

76

Tabel Lampiran 17. Pengukuran Tinggi Stik Erosi Angin Bulan Februari 2009

77

Tabel Lampiran 18. Pengikisan (-) dan Penimbunan (+) Pasir Akibat Erosi Angin Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

78

Tabel Lampiran 19. Pengukuran Tinggi Stik Erosi Angin Bulan Maret 2009

79

Tabel Lampiran 20. Pengukuran Tinggi Stik Erosi Angin Bulan Mei 2009

80

Tabel Lampiran 21. Pengukuran Tinggi Stik Erosi Angin Bulan Juli 2009

81

Tabel Lampiran 22. Pengukuran Tinggi Stik Erosi Angin Bulan November 2009

82

Tabel Lampiran 23. Pengikisan (-) dan Penimbunan (+) Pasir Akibat Erosi Angin Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

83

Tabel Lampiran 24. Data Suhu Udara Malam Hari dan Siang Hari Tahun 2006 - 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

84

Tabel Lampiran 25. Suhu Udara Malam Hari Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC).

85

Tabel Lampiran 26. Suhu Udara Malam Hari Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC).

86

Tabel Lampiran 27. Suhu Udara Malam Hari Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC).

87

Tabel Lampiran 28. Suhu Udara Siang Hari Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC).

88

Tabel Lampiran 29. Suhu Udara Siang Hari Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC).

89

Tabel Lampiran 30. Suhu Udara Siang Hari Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC).

90

Tabel Lampiran 31. Suhu Ruang Pagi Hari Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC).

91

Tabel Lampiran 32. Suhu Ruang Siang Hari Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC).

92

Tabel Lampiran 33. Suhu Udara Pagi Hari Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC).

93

Tabel Lampiran 34. Suhu Udara Siang Hari Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen (oC).

94

Tabel Lampiran 35. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan A, B, dan C Tahun 2006 -2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

95

Tabel Lampiran 36. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

96

Tabel Lampiran 37. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

97

Tabel Lampiran 38. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

98

Tabel Lampiran 39. Suhu Tanah Pagi Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

99

Tabel Lampiran 40. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Sub Soil (B) Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

100

Tabel Lampiran 41. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Sub Soil (B) Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

101

Tabel Lampiran 42. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Sub Soil (B) Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

102

Tabel Lampiran 43. Suhu Tanah Pagi Hari pada Lapisan Top Soil (B) Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

103

Tabel Lampiran 44. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Bahan Induk (C) Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

104

Tabel Lampiran 45. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Bahan Induk (C) Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

105

Tabel Lampiran 46. Suhu Tanah Malam Hari pada Lapisan Bahan Induk (C) Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

106

Tabel Lampiran 47. Suhu Tanah Pagi Hari pada Lapisan Top Soil (C) Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

107

Tabel Lampiran 48. Suhu Tanah Hari pada Lapisan A, B, dan C Tahun 2006 -- 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

108

Tabel Lampiran 49. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

109

Tabel Lampiran 50. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

110

Tabel Lampiran 51. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

111

Tabel Lampiran 52. Suhu Tanah Siang Hari pada Lapisan Top Soil (A) Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

112

Tabel Lampiran 53. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Sub Soil (B) Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

113

Tabel Lampiran 54. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Sub Soil (B) Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

114

Tabel Lampiran 55. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Sub Soil (B) Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

115

Tabel Lampiran 56. Suhu Tanah Siang Hari pada Lapisan Top Soil (B) Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

116

Tabel Lampiran 57. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Bahan Induk (C) Tahun 2006, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

117

Tabel Lampiran 58. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Bahan Induk (C) Tahun 2007, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

118

Tabel Lampiran 59. Suhu Tanah Hari pada Lapisan Bahan Induk (C) Tahun 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

119

Tabel Lampiran 60. Suhu Tanah Siang Hari pada Lapisan Top Soil (C) Tahun 2009, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

120

Tabel Lampiran 61. Pertumbuhan Tinggi dan Diameter Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) Juli 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

121

Tabel Lampiran 62. Pertumbuhan Tinggi dan Diameter Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) Oktober 2008, di Karanggadung, Petanahan, Kebumen

122

Tabel Lampiran 63. Usahatani Semangka di Pantai Berpasir, di Obyek Wisata Karanggadung, Petanahan, Kebumen

123

Tabel Lampiran 64. Kriteria Unsur Hara Tanah dari Rendah sampai Tinggi

KERANGKA LOGIS PENELITIAN Tabel Lampiran 65. Kerangka Logis Kegiatan Model Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Pantai Berpasir (RPTP 2009) NARASI Tujuan : Untuk menyediakan sarana pengembangan teknologi rehabilitasi lahan pantai berpasir yang sesuai, berupa demplot yang representatif serta inovatif Sasaran : Mengembangkan jalur TA dengan tanaman equisetifolia. 2 Memantau perubahan iklim dan erosi angin 3 Mengembangkan pola tanam tanaman budidaya yang sesuai. 4 Meningkatkan tingkat pendapatan masyarakat 5 Meningkatkan kenyamanan lingkungan sekitar wisata. Output : 1 Tersedianya demplot teknik rehabilitasi lahan terdegradasi lahan pantai berpasir yang tepat guna dan dapat diadopsi oleh masyarakat. Tersedianya : 1. Informasi kondisi tanaman TA dan pembibitan tanaman TA 2. Informasi hujan dan pengairan, penyiraman tanaman pagi dan sore 3. Informasi pola tanaman budidaya yang sesuai 4. Informasi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat 5. Informasi sarana untuk wisata dan lingkungan secara terpadu 1. Plot-Plot Pengembangan 2. Pengukuran dan Pengamatan lapangan 3. Survey dan evaluasi terhadap masyarakat dan lembaga terkait Kenampakan di lapangan Sumber dana tersedia, ada pertisipasi masyarakat INDIKATOR-INDIKATOR SASARAN CARA VERIFIKASI ASUMSI

Perlakuan pengembangan yang dicobakan berhasil dan sesuai dengan kondisi setempat

1. Tersedianya informasi pertumbuhan 1. tanaman C. equisetifolia sebagai tanaman jalur TA dan informasi efektivitas jalur TA sebagai pengendali erosi pasir . 2. 2. Tersedianya informasi iklim dan erosi angin pada lahan pantai pasir. 3.

Rehabilitasi lahan melalui perbaikan beberapa sifat tanah dalam waktu yang tidak lama. Rehabilitasi lahan melalui perbaikan sistem pola tanam Rehabilitasi lahan dengan

1. Plot-Plot Pengembangan 2. Evaluasi kondisi lapangan

1. Dana dan tenaga tersedia 2. Koordinasi berjalan baik

125

3. Tersedianya informasi pertumbuhan dan hasil jenis-jenis tanaman semusim yang sesuai untuk lahan pantai berpasir. 4. Tersedianya informasi kondisi sosial budaya masyarakat pantai berpasir 5. Tersedianya analisis finansial model rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang dikembangkan pada lahan pantai. 6. Tersedianya informasi kelembagaan, tingkat adopsi dan partisipasi masyarakat terhadap upaya RLKT (Reboisasi Lahan dan Konservasi Tanah) lahan pantai berpasir yang mendukung wisata lingkungan terpadu. Aktivitas : 1.1. Pengembangkan model rehabilitasi lahan 1.2. Pengamatan prosen tumbuh dan pengukuran pertumbuhan tanaman TA 2.1. Penyediaan air tawar untuk perawatan tanaman dengan penyiraman 2.2. Pengumpulan data iklim 3.1. Pengukuran pertumbuhan tanaman cemara laut dan semusim 3.2. Pengukuran produksi tanaman semusim 4.1. Data primer dan sekunder kondisi sosek 5.1. Melakukan wawancara, kuisioner, dll 6.2. Pengumpulan data partisipasi masyarakat dalam rahabilitasi lahan 6.3. Pengumpulan data kelembagaan upaya rehabilitasi lahan

4.

5.

tanaman hortikultura bawang merah, cabe, dll. Analisis biaya dan pendapatan usahatani dari perlakuan yang dicoba. Tingkat adopsi dan partisipasi masyarakat serta kelembagaan dalam kegiatan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah.

1. Perlakuan Rehabilitasi lahan pantai berpasir 2. Data kecepatan angin & erosi angin 3. Data evapotranspirasi 4. Data curah hujan & kadar garam 5. Data pertumbuhan tanaman 6. Data produksi tanaman 7. Analisa biaya dan pendapatan 8. Data tingkat adopsi masyarakat 9. Data partisipasi masyarakat 10. Kelembagaan rehabilitasi lahan

1. Plot Rehabilitasi lahan 2. Pengukuran dan Pengamatan lapangan 3. Survey terhadap masyarakat dan lembaga terkait 4. Diskusi kelompok 5. Temu lapang dengan petani

Data, dana dan tenaga tersedia

126

127

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->