Anda di halaman 1dari 21

LBM 4

BAYIKU SUSAH KELUAR


STEP 1

Partograf
Catatan grafik berupa kemajuan dari persalinan untuk memantau keadaan ibu dan janin.
Partus tak maju
Tidak ada pembukaan serviks dalam 2 jam dan penurunan janin dalam 1 jam pada kala I
Fase aktif memanjang
Fase pembukaan serviks dimana setelah fase laten yang terjadi pembukaan serviks dari 4
cm-lengkap. Normalnya fase aktif 6 jam.
Garis waspada
Pada fase aktif dimulai pembukaan serviks 4-lengkap yang diharapkan laju pembukaan 1
cm/jam
Linea inominata
Nama lain dari linea terminalis. Salah satu pembentuk PAP
Osborn test
Tes yang digunakan untuk mengetahui disporportion kepala panggul pada 36 minggu
untuk menentukann CPD

STEP 2
1. Jelaskan Fase persalinan!
2. Faktor apa saja yang mempengaruhi Persalinan?
3. Apa hubungan riwayat persalinan ibu pada inpartu kala 1 fase aktif dengan partus
tak maju?
4. Mengapa persalinan berlangsungg > 10 jam tanpa kemajuan proses persalinan?
5. Apa definisi, tujuan, dan komponen yang dinilai dari Partograf! Mengapa
didapatkan dilatasi serviks berada sebelah kanan garis waspada?
6. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan fisik (VT Obstetri) dari Skenario!
7. Apa faktor yang menyebabkan edem pada portio serta prognosis dan
penanganannya?
8. Bagaimana cara dan interpretasi dari px.osborn test?
9. Penanganan selanjutnya yang dilakukan dokter Sp.Og untuk penanganan
selanjutnya?
10. DD! Beda Partus Macet, Partus lama, Partus tak maju (Definisi, etiologi, faktor
resiko, tata laksana)

STEP 3

1. Jelaskan Fase persalinan!


KALA I Mulai inpartu dengan HIS yang teratur, ada PPV (darah+lendir),
pembukaan Primi (2 cm) dam Multi (3 cm), lama kala I primi (13-14 jam) dan multi
(7-8 jam), lakukan pengawasan 10P (KU, T, N, RR, S, PPV, DJJ, HIS, TTK II, BR)
KU, T, S, PPV, BR 4 jam
N, DJJ, HIS 30 menit
Ada 2 fase yaitu
fase laten (pembukaan serviks <4cm, lamanya 8 jam) terdapat kelainan inersia
uteri.
1) inersia uteri primer/hypotonic uterin contaction fundus lebih kuat dari corpus
uteri
fase aktif (pembukaan 4-lengkap, kecepatannya 1cm/jam, lamanya untuk primi: 6
jam) ada 3 (akselerasi, dilatasi dan deselerasi)
1) akselerasi setelah 2 jam akan ada pembukaan dari 3 ke 4
2) dilatasi maksimal : setelah 2 jam akan ada pembukaan dari 4 ke 9
3) deselerasi: terjadi dalam 2 jam dan lebih lambat, pembukaan dari 9 ke 10
4) inersia uteri sekunder terjadi jika setelah HIS yang lebih lama dan kuat.

KALA II pembukaan lengkap, ibu ingin mengejan, perineum menonjol, vulva dan
anus membuka, HISnya dalam 10 menit 3-4x lamanya 1 HIS 40-60x, lama kala II
untuk multi (1 jam) dan prini (2 jam)
KALA III pengeluaran plasenta, lama kala III 15-30 menit
KALA IV lakukan pengawasan selama 2 jam setelah persalinan kemungkinan ada
laserasi perineum, perdarahan postpartum
2. Faktor apa saja yang mempengaruhi Persalinan?
POWER kekuatan ibu untuk mengejan. Yang dinilai adalah HIS, Diameter
pelvisnya, Kekuatan mendorong dan lama persalinanannya
PASSANGER yang dinilai letak, posisi, POD, dan Plasenta
PASSAGE ukuran dan tipe panggul, kemampuan serviks untuk membuka,
kemampuan vagina dan introitus vagina
PSIKIS persiapan fisik untuk persalinan, pengalaman dalam persalinana,
dukungan dari orang tua.
PENOLONG penolong dalam persalinan
3. Apa hubungan riwayat persalinan ibu pada inpartu kala 1 fase aktif yang
memanjang dengan partus tak maju?
Persalinan lama/Distosia (masuk ke Kala berapa?) kelambatan atau kesulitan
dalam jalannya persalinan. Penyebabnya:
1) HIS tidak memadai dan terkondisi dengan baik
2) kontraksi otot abdomen terganggu
3) presentasi posisi dari janin janin besar
4) kelainan jalan lahir meliputi jaringan keras dari pelvisnya CPD (CephaloPelvico
Disproportion)
5) kelainan dari jaringan lunak dari saluran reproduksi ibunya

4. Mengapa persalinan berlangsung > 10 jam tanpa kemajuan proses persalinan pada
kasus ini?
Bisa dari power, passanger, dan passage
5. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan fisik (VT Obstetri) dari Skenario!
KU lemah
Tinggi Badan Ibu 150 cm (Normal)
Kontraksi uterus inersia uteri
Portio edema komplikasi dari tanda dari partus lama karena mengejan disaat tidak
ada HIS
Promontorium tidak teraba (Normal)
Tanda panggul sempit:
1) Promontorium teraba
2) Linea inominata <1/3 lingkaran
3) Spina ischiadica menonjol
6. Apa definisi, tujuan, dan komponen yang dinilai dari Partograf! Mengapa
didapatkan dilatasi serviks berada sebelah kanan garis waspada?
PARTOGRAF kala I,II
Definisi
:
Catatan grafik berupa kemajuan dari persalinan untuk memantau keadaan ibu dan janin,
untuk mengetahui CPD dan persalinan macet
Tujuan
:
1) Mencatat hasil observasi dari kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan
serviks melalui pemeriksaan dalam
2) Untuk mengetahui persalinannya norma/tidak
3) Untuk mendeteksi dini terjadinya partus lama/tidak
Komponen :
1) Info ibunya (nama, umur, gravida, abortus, tanggal dan waktu persalinan dilihat saat
pecah selaput ketuban serta kondisi janin)
2) DJJ
3) Kemajuan persalinan dinilai dari pembukaan serviks, penurunan terbawah dari
janin, presentasi janin, garis waspada.
4) Jam dan waktu persalinan
5) Kontraksi uterus/HIS
Setiap jam yang dinilai DJJ, Nadi, HIS
Setiap 4 jam dinilai pembukaan serviks, penurunan bawah janin, Tekan darah, dan
temperatur ibu
Jika ada penyulit eklamsi, pre eklapsia maka Setiap 2-4 jam dinilai Pengeluaran
urin, keton
7. Apa faktor yang menyebabkan edem pada portio serta prognosis dan
penanganannya?
8. Bagaimana cara dan interpretasi dari px.osborn test?

9. Penanganan selanjutnya yang dilakukan dokter Sp.Og untuk penanganan


selanjutnya?
10. DD! Beda Partus Macet, Partus lama, Partus tak maju (Definisi, etiologi, faktor
resiko, tata laksana, komplikasi)

STEP 7

1. Jelaskan Fase persalinan!


Tahap Persalinan
kala 1 ( pembukaan )
In partu ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah (bloody
show), karena serviks mulai membuka ( dilatasi ) dan mendatar
( effacement ). Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah
kapiler sekitar kanalis servikalis krn pergeseran ketika serviks
mendatar dan terbuka.
Kala I dibagi atas 2 fase :
fase laten : pembukaan servik berlangsung lambat,
pembukaan 3 cm. selama 7-8 jam
fase aktif : berlangsung selama 6 jam.
a. fase akselerasi : 2 jam, cepat, pembukaan sampai 4 cm
b. fase dilatasi maksimal : 2 jam, pembukaan sampai 9 cm, cepat
c. fase deselerasi : 2 jam, 9 cm sempurna, lambat

Primigravida serviks mendatar dulu baru dilatasi,

berlangsung 13 14 jam.
Multigravida serviks mendatar dan membuka bisa
bersamaan, berlangsung 6 7 jam

Dalam buku2, proses pembukaan servisc disebut dengan


berbagai istilah: melembek (softening), menipis (thined
out),obliterasi, mendatar dan tertarik keatas dan membuka.

Fase fase yang dikemukanan diatas dijumpai pada


primigravisa. Bedanya dengan multi gravida adalah:
Primi

Multi

Servik mendatar dulu

Mendatar dan membuka

baru dilatasi

bisa bersamaan

Berlangsung 13-

Berlangsung 6-7 jam

14jam

kala II ( pengeluaran janin )

his terkoordinir, kuat, cepat, dan lebih lama, kira kira 2 3


menit sekali

kepala janin telah turun masuk ruang panggul shg terjadilah


tekanan pd otot2 dasar panggul yang secara reflektoris
menimbulkan rasa mengedan

tekanan pd rektum ibu merasa spt mau buang air besar,


dgn tanda anus terbuka

waktu his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka dan


perineum menegang

primigravida : 1,5 2 jam, pd multigravida : 0,5 1 jam

kala III ( pengeluaran uri )

setelah bayi lahir, kontraksi rahim istirahat sebentar

uterus teraba keras dengan fundus uteri setinggi pusat, berisi


plasenta yg menjadi tebal 2x sebelumnya

beberapa saat kemudian, timbul his pelepasan dan


pengeluaran uri

dlm waktu 1 5 menit seluruh plasenta terlepas, terdorong ke


dalam vagina dan akan lahir spontan atau dengan sedikit
dorongan dari atas simfisis atau fundus uteri

seluruh proses berlangsung 5 30 menit setelah bayi lahir

pengeluaran plasenta dgn pngeluaran adrah kira2 100 200


cc

kala IV ( pengawasan )

pengawasan selama 1 jam setelah bayi dan uri lahir untuk


mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya
perdarahan postpartum

Lamanya persalinan pada primi dan multi adalah:


primi

Multi

Kala 1

13 jam

7 jam

Kala 2

1 jam

0,5 jam

Kala3

0,5 jam

0,25 jam

Lama

14,5 jam

7,75 jam

persalina
n
( Sinopsis Obstetri, Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH )

2. Faktor apa saja yang mempengaruhi Persalinan?


Faktor yang mempengaruhi persalinan :

Passage (jalan lahir): rongga panggul, dasar panggul, serviks dan


vagina.
Power: his (kontraksi otot uterus), kontraksi otot-otot dinding perut,
kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan, ketegangan dan
ligmentous action terutama ligamentum rotundum.

Passanger (janin): kepala janin dan ukuran-ukurannya, sikap (habitus),


letak janin, presentasi, posisi.
Psikis (psikologis): psikologis ibu, emosi dan persiapan intelektual.
Penolong: kemampuan skill dan kesiapan penolong dalam menghadapi
proses persalinan.
Cunningham F. Gary dkk. Obstetri Williams,Edisi 21, Jakarta, EGC;
2006.

3. Apa hubungan riwayat persalinan ibu pada inpartu kala 1 fase


aktif yang memanjang dengan partus tak maju?
Kala I : Dinamakan kala pembukaan, pada kala ini serviks membuka
sampai terjadi pembukaan 10 cm. Proses membukanya serviks dibagi
atas 2 fase :
a.
Fase laten berlangsung selama 7-8 jam pembukaan terjadi
sangat lambat sampai mencapai ukuran diameter 3 cm.
b.
Fase aktif dibagi dalam 3 fase yaitu fase akselerasi dalam waktu
2 jam, pembukaan 3 cm tadi menjadi 4 cm dan fase dilatasi
maximal dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat
cepat dari 4 menjadi 9 cm dan fase deselerasi pembukaan
menjadi lambat kembali dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9
cm menjadi lengkap 10 cm. Kala I ini selesai apabila pembukaan
serviks uteri telah lengkap. Pada primigravida kala I berlangsung
kira-kira 12 jam sedang pada multigravida 8 jam. Pembukaan
primigravida 1 cm tiap jam dan multigravida 2 cm tiap jam.
SUMBER : UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
Fase laten: 1-3 cm0-8 jam
Fase aktif: 4-10 cm
Akselerasi: 3-4 cm2 jam
Dilatasi maksimal: 4-9 cm2 jam
Deselerasi: 9-10 cm2 jam
Persalinan lama, disebut jg distosiapersalinan yg abnormal / sulit.
Sebab-sebabnya dpt dibagi dlm 3 golongan berikut ini:
1. Kelainan tenaga (kelainan his)
2. Kelainan janin
3. Kelainan jalan lahir

Gangguan fase aktif menurut Friedman:

1. Gangguan protractionberkepanjangan/ berlarutlarut=Kecepatan pembukaan atau penurunan yang lambat.


2. Arrest of dilatationtidak adanya perubahan serviks dlm 2 jam.
3. Arrest of descenttidak adanya penurunan janin dalam 1 jam.
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists:
1. Protraction disorderpartus lama.
2. Arrest disorderpartus macet.
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. ILMU KEBIDANAN. Jakarta: PT Bina
Pustaka.

Prawirohardjo, Sarwono. 2010. ILMU KEBIDANAN. Jakarta: PT Bina


Pustaka.
Definisi
Distosia adalah suatu persalinan yang sulit, ditandai dengan kemajuan
persalinan yang lambat. Untuk menentukan adanya distosia dapat
menggunakan batasan waktu ataupun kelajuan proses. Distosia dapat
terjadi pada kala I ataupun kala II persalinan. Distosia pada kala I aktif
persalinan dapat dikelompokkan menjadi proses persalinan yang lambat
(protraction disorder) ataupun tidak adanya kemajuan persalinan sama
sekali (arrest disorder). American college of Obstetricians dan
Gynecologist (ACOG) memiliki definisi sendiri mengenai gangguan
kemajuan persalinan ini (tabel 1), yang diadaptasi dari definisi awal pada
tahun 1983 (tabel 2). Distosia pada kala II persalinan ditandai dengan:
Pada nulipara tanpa anestesi regional kala II lebih dari 2 jam
Pada nulipara dengan anestesi regional kala II lebih dari 3 jam
Pada multipara tanpa anestesi regional kala II lebih dari 1 jam
Pada multipara dengan anestesi regional kala II lebih dari 2 jam

Menurut ACOG (1995) klasifikasi kelainan persalinan adalah menjadi lebih


lambat daripada normal (partus lama, protraction disorders) atau
penghentian total kemajuan (partus macet, arrest disorder). Ibu harus
berada dalam fase aktif persalinan (serviks membuka 3-4 cm atau lebih)
untuk mendiagnosis salah satu di antara keduanya.
Sebelum ditegakan diagnosis kemacetan pada persalinan kala satu, kedua
kriteria ini harus dipenuhi :
1. Fase laten telah selesai, dengan serviks membuka 4 cm atau
lebih
2. Sudah terjadi pola kontraksi uterus sebesar 200 satuan
Montevideo atau lebih dalam periode 10 menit selama 2 jam
tanpa perubahan pada serviks

Faktor Partus Tak Maju :


1. Kelainan tenaga (kelainan his)
His yg tdk normal dlm kekuatan atau sifatnyakerintangan pd jalan
lahirjika tdk dpt diatasipersalinan mengalami hambatan atau
kemacetan.
Ex.: Inersia uteri, His terlampau kuat, Incoordinate uterine action.
2. Kelainan janin
Kelainan letak atau bentuk janinperalinan mengalami gangguan atau
kemacetan.
Ex.: hidrocefalus, kembar siam, prolaps tali pusat, letak sungsang, letak
melintang.
3. Kelainan jalan lahir
Kelainan ukuran atau bentuk jalan lahirmenghalangi kemajuan
persalinankemacetan.
Ex.: Kelainan bentuk panggul yang tidak normal gynecoid (Naegele,
Rachitis, Scoliosis, Kyphosis, Robert dll), Panggul sempit (pelvic
contaction).
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. ILMU KEBIDANAN. Jakarta: PT Bina Pustaka.

Kelainan pada ibu:


1. Distosia karena kelainan panggul: kesempitan PAP, PTP, PBP.
2. Distosia karena kelainan jalan lahir lunak:
a. Abnormalitas vulva (atresia vulva, inflamasi vulva, tumor
dekat vulva)
b. Abnormalitas vagina (atresia vagina, seeptum
longitudinalis vagina, striktur anuler)
c. Abnormalitas serviks (atresia dan stenosis serviks, ca
serviks)
d. Kelainan letak uterus (antefleksi, retrofleksi, mioma uteri,
mioma serviks)
e. Tumor ovarium
4. kelainan keluaran his dan meneran:
a.
Inersia uteri
b.
His yang terlalu kuat
c.
Kekuatan uterus yang tdak terkoordinasi
5. Pimpinan persalinan yang salah
6. Primi tua primer atau sekunder
Kelainan pada janin:
1. Hidrocefalus
2. kembar siam / gemelli
3. prolaps tali pusat
4. letak sungsang
5. letak melintang
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. ILMU KEBIDANAN. Jakarta: PT Bina
Pustaka.

Tanda Tanda PTM :


1. Partus tak maju adalah suatu persalinan dengan his yang adekuat yang
tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan servik, turunnya kepala
dan putar paksi selama 2 jam terakhir. (Muctar R. 1998:384)
2. Partus tak maju adalah his yang tidak normal dalam kekuatan atau
sifatnya menyebabkan bahwa rintangan pada jalan lahir yang lazim
terdapat pada setiap persaiinan, tidak dapat diatasi sehingga persalinan
mengalami hambatan atau kematian (prawirohardjo, 2005).
3. Partus lama adalah pembukaan serviks yang kurang dari 1 cm/jam selama
minimal 4 jam (WHO)
4. Tanda-tanda:
a. Terjadi pada pembukaan lebih dari 4 cm atau pada fase aktif kala I
b. Servik tidak mengalami kemajuan dalam pembukaan dan

c. Tidak adanya penurunan kepala selama 2 jam terakhir dengan his


yang adekuat.
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. ILMU KEBIDANAN. Jakarta: PT Bina
Pustaka.
Friedman :
Pada fase aktif bahwa kecepatan penurunan janin di perhitungkan selain
kecepatan pembukaan serviks, dan keduanya berlangsung bersamaan.
Penurunan dimulai pada tahap akhir dilatasi aktif, dimulai pada sekitar 78 cm pad anullipara dan paling cepat setelah 8 cm.
Friedman membagi masalah fase aktif menjadi gangguan protraction
(berkepanjangan/berlarut-larut) dan arrest (macet, tak maju)
- Protaksi : kecepatan pembukaan atau penurunan yang lambat.
Nullipara : kecepatan pembukaan kurang dari 1,2 cm/jam atau
penurunan kurang dari 1 cm/jam
Multipara : kecepatan pembukaan kurang dari 1,5 cm/jam atau
penurunan kurang dari 2 cm/jam
Terdapat sekitar 30 % ibu dengan persalinan
mengalami disporposi sefalopelvik
-

berkepanjangan

Arrest : berhentinya secara total pembukaan atau penurunan.


Kemacetan Pembukaan (arrest of dilatation) : tidak adanya
perubahan serviks dalam 2 jam
Kemacetan Penurunan (arrest of descent) : tidak ada penurunan
janin dalam jam
Terdapat sekitar 45 % ibu yang mengalami gangguan kemacetan
persalinan mengalami disporposi sefalopelvik
Sumber : Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo

Persalinan lama/Distosia (masuk ke Kala berapa?)


CPD (CephaloPelvico Disproportion)
4. Mengapa persalinan berlangsung > 10 jam tanpa kemajuan
proses persalinan pada kasus ini?
5. Bagaimana interpretasi dari pemeriksaan fisik (VT Obstetri)
dari Skenario!
KU lemah
Tinggi Badan Ibu 150 cm (Normal)

Kontraksi uterus
Portio edema
Promontorium
Tanda panggul sempit:
1) Promontorium teraba
2) Linea inominata <1/3 lingkaran
3) Spina ischiadica menonjol
6. Apa definisi, tujuan, dan komponen yang dinilai dari Partograf!
Mengapa didapatkan dilatasi serviks berada sebelah kanan garis
waspada?
Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama persalinan. Pencatatan
pada partograf dimulai dari fase aktif ketika pembukaan serviks 4 cm
Garis wasapada dimulai pada pembukaan serviks 4 cm dan berakhir
pada titik dimana pembukaan lengkap diharapkan terjadi jika laju
pembukaan 1 cm per jam.
Jika pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada
(pembukaan < 1cm per jam), maka harus dipertimbangkan pula
adanya tindakan intervensi yang diperlukan, misalnya: amniotomi,
infus oksitosin atau persiapan2 rujukan (ke RS atau puskesmas) yang
mampu menangani penyulit kegawatdaruratan obstetrik.
Garis bertindak tertera sejajar dg garis waspada, dipisahkan oleh 8
kotak atau 4 jalur ke sisi kanan.
Jika pembukaan serviks berada di sebelah kanan garis bertindak, maka
tindakan utk menyelesaikan persalinan harus dilakukan.
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. ILMU KEBIDANAN. Jakarta: PT Bina
Pustaka.

Fungsi partograf :
1. mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan
2. mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal
3. deteksi secara dini kemungkinan partus lama

4. membantu penolong persalinan untuk mencatat kemajuan


persalinan, kondisi ibu dan janin, secara dini mengidentifikasi
adanya penyulit persalinan, dan membuat keputusan klinik
yang sesuai dan tepat waktu
5. memastikan ibu dan janin telah mendapatkan asuhan
persalinan secara aman dan tepat waktu
6.
mencegah terjadinya penyulit yang mengancam
keselamatan jiwa

7. Apa faktor yang menyebabkan edem pada portio serta prognosis


dan penanganannya?
8. Bagaimana cara dan interpretasi dari px.osborn test?
Disproporsi sefalopelvik (pelvis sempit atau janin besar)
Keadaan panggul merupakan faktor penting dalam kelangsungan
persalinan, tetapi yang penting ialah hubungan antara kepala janin
dengan panggul ibu. Besarnya kepala janin dalam perbandingan
luasnya panggul ibu menentukan apakah ada disproporsi
sefalopelvik atau tidak.
Disproporsi sefalopelvik adalah ketidakmampuan janin untuk
melewati panggul. Panggul yang sedikit sempit dapat diatasi
dengan kontraksi uterus yang efisien, letak, presentasi, kedudukan
janin yang menguntungkan dan kemampuan kepala janin untuk
mengadakan molase. Sebaliknya kontraksi uterus yang jelek,
kedudukan abnormal, ketidakmampuan kepala untuk mengadakan
molase dapat menyebabkan persalinan normal tidak mungkin.28
Kehamilan pada ibu dengan tinggi badan < 145 cm dapat terjadi
disproporsi sefalopelvik, kondisi luas panggul ibu tidak sebanding
dengan kepala bayi, sehingga pembukaannya berjalan lambat dan
akan menimbulkan komplikasi obstetri.
Disproporsi sefalopelvik terjadi jika kepala janin lebih besar dari
pelvis, hal ini akan menimbulkan kesulitan atau janin tidak mungkin
melewati pelvis dengan selamat. Bisa juga terjadi akibat pelvis
sempit dengan ukuran kepala janin normal, atau pelvis normal
dengan janin besar atau kombinasi antara bayi besar dan pelvis
sempit. Disproporsi sefalopelvik tidak dapat didiagnosis sebelum
usia kehamilan 37 minggu karena sebelum usia kehamilan tersebut
kepala belum mencapai ukuran lahir normal.
Disproporsi sefalopelvik dapat terjadi :
Marginal (ini berarti bahwa masalah bisa diatasi selama
persalinan, relaksasi sendi-sendi pelvis dan molase kranium
kepala janin dapat memungkinkan berlangsungnya kelahiran
pervaginam).

Moderat (sekitar setengah dari pasien-pasien pada kelompok


lanjutan ini memerlukan kelahiran dengan tindakan operasi).
Definit (ini berarti pelvis sempit, bentuk kepala abnormal atau
janin mempunyai ukuran besar yang abnormal, misalnya
hidrosefalus, operasi diperlukan pada kelahiran ini).

Perkiraan Kapasitas Panggul Sempit


Perkiraan panggul sempit dapat diperoleh dari pemeriksaan umum dan
anamnesa. Misalnya pada tuberculosis vertebra, poliomyelitis, kifosis.
Pada wanita dengan tinggi badan yang kurang dari normal ada
kemungkinan memiliki kapasitas panggul sempit, namun bukan berarti
seorang wanita dengan tinggi badan yang normal tidak dapat memiliki
panggul sempit. Dari anamnesa persalinan terdahulu juga dapat
diperkirakan kapasitas panggul. Apabila pada persalinan terdahulu
berjalan lancar dengan bayi berat badan normal, kemungkinan panggul
sempit adalah kecil.4
Pengukuran panggul (pelvimetri) merupakan salah satu cara untuk
memperoleh keterangan tentang keadaan panggul. Melalui pelvimetri
dalama dengan tangan dapat diperoleh ukuran kasar pintu atas dan
tengah panggul serta memberi gambaran jelas pintu bawah panggul.
Adapun pelvimetri luar tidak memiliki banyak arti.4
Pelvimetri radiologis dapat memberi gambaran yang jelas dan
mempunyai tingkat ketelitian yang tidak dapat dicapai secara klinis.
Pemeriksaan ini dapat memberikan pengukuran yang tepat dua diameter
penting yang tidak mungkin didapatkan dengan pemeriksaan klinis yaitu
diameter transversal pintu atas dan diameter antar spina iskhiadika.6
Tetapi pemeriksaan ini memiliki bahaya pajanan radiasi terutama bagi
janin sehingga jarang dilakukan.4 Pelvimetri dengan CT scan dapat
mengurangi pajanan radiasi, tingkat keakuratan lebih baik dibandingkan
radiologis, lebih mudah, namun biayanya mahal. Selain itu juga dapat
dilakukan pemeriksaan dengan MRI dengan keuntungan antara lain tidak
ada radiasi, pengukuran panggul akurat, pencitraan janin yang lengkap.
Pemeriksaan ini jarang dilakukan karena biaya yang mahal.3 Dari
pelvimetri dengan pencitraan dapat ditentukan jenis panggul, ukuran
pangul yang sebenarnya, luas bidang panggul, kapasitas panggul, serta
daya akomodasi yaitu volume dari bayi yang terbesar yang masih dapat

dilahirkan spontan.6
Pada kehamilan yang aterm dengan presentasi kepala dapat dilakukan
pemeriksaan dengan metode Osborn dan metode Muller Munro Kerr.
Pada metode Osborn, satu tangan menekan kepala janin dari atas
kearah rongga panggul dan tangan yang lain diletakkan pada
kepala untuk menentukan apakah kepala menonjol di atas
simfisis atau tidak.Metode Muller Munro Kerr dilakukan dengan
satu tangan memegang kepala janin dan menekan kepala ke arah
rongga panggul, sedang dua jari tangan yang lain masuk ke vagina
untuk menentukan seberapa jauh kepala mengikuti tekanan tersebut dan
ibu jari yang masuk ke vagina memeriksa dari luar hubungan antara
kepala dan simfisis.4
Winkjosastro H. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga. Jakarta: YBP-SP, 2007.

9. Penanganan selanjutnya yang dilakukan dokter Sp.Og untuk


penanganan selanjutnya?
Indikasi SC:
1. Indikasi medis:
a. Power: daya mengejan lemah, ibu berpenyakit jantung
atau penyakit menahun lain yang mempengaruhi tenaga.
b. Passanger: anak terlalu besar, anak mahal dengan
kelainan letak lintang, primi gravida diatas 35 tahun
dengan letak sungsang, anak tertekan terlalu lama pada
pintu atas panggul, dan anak menderita fetal distress
syndrome (denyut jantung janin kacau dan melemah).
c. Passage: Kelainan ini merupakan panggul sempit, trauma
persalinan serius pada jalan lahir atau pada anak, adanya
infeksi pada jalan lahir yang diduga bisa menular ke anak,
umpamanya herpes kelamin (herpes genitalis), condyloma
lota (kondiloma sifilitik yang lebar dan pipih), condyloma
acuminata (penyakit infeksi yang menimbulkan massa
mirip kembang kol di kulit luar kelamin wanita), hepatitis B
dan hepatitis C.
(Dewi Y, 2007, hal. 11-12)
2. Indikasi Ibu:
a. Usia: 35 th atau > 40 th.
b. Tulang Panggul: Cephalopelvic diproportion (CPD).

c. Persalinan Sebelumnya dengan sectio caesarea


d. Faktor Hambatan Jalan Lahir
e. Kelainan Kontraksi Rahim
f. Ketuban Pecah Dini
g. Rasa Takut Kesakitan
3. Indikasi janin:
a. Ancaman Gawat Janin (fetal distress)
b. Bayi Besar (makrosemia)
c. Letak Sungsang
d. Faktor Plasenta
e. Kelainan Tali Pusat
(Cendika, dkk. 2007, hal. 126).

Partus percobaan:
Persalinan percobaan atau trial of labor berasal dari dua kata
yaitu trial yang berarti telah mencoba, dan labor yang berarti
persalinan. Oleh itu, persalinan percobaan di sini bermaksud
melakukan suatu persalinan normal di mana ada keraguan
apakah kepala janin akan melewati pintu atas panggul. Hal ini
terjadi pada wanita yang panggulnya relatif sempit yaitu panggul
dengan ukuran konjugata vera antara 8,5 10 cm. Semua situasi
dalam persalinan percobaan harus dipantau dan dinilai secara
hati-hati untuk menghindari gawat janin atau ibu.
Persalinan percobaan adalah percobaan persalinan yang
dilakukan untuk membuktikan apakah persalinan dapat
berlangsung per vaginam atau harus dilakukan melalui seksio
sesarea dengan memperhatikan penurunan kepala janin dan
terjadinya moulage kepala janin terhadap panggul ibu. Persalinan
percobaan hanya dilakukan dengan memperhatikan beberapa
hal yang penting yaitu persalinan hanya dilakukan di rumah sakit
dengan fasilitas operasi, dilakukan setelah persalinan dimulai,
dilakukan hanya pada letak kepala dan tidak boleh dilakukan
pada kehamilan lewat waktu. Alasan untuk ketentuan terakhir ini
adalah kepala janin bertambah besar dan lebih sukar untuk
mengadakan moulage. Selain itu, janin pada kehamilan lebih tua
memiliki disfungsi plasenta yang mungkin kurang mampu untuk
untuk mengatasi kesukaran yang dapat timbul pada persalinan
percobaan.

Pemilihan kasus-kasus untuk persalinan percobaan harus


dilakukan dengan cermat. Semua kondisi ibu yang merupakan
indikasi untuk seksio sesarea elektif merupakan kontraindikasi
untuk persalinan percobaan. Adapun indikasi seksio sesarea
elektif adalah disporposi janin-panggul, gawat janin, plasenta
previa, riwayat seksio sesarea sebelumnya, kelainan letak janin,
incoordinate uterine action, pre eklampsia dan hipertensi.
Dalam istilah bahasa Inggris, ada 2 macam persalinan percobaan yaitu:
1. Trial of labor: serupa dengan persalinan percobaan yang diterangkan di
atas
2. Test of labor: merupakan fase terakhir dari trial of labor. Dimulai pada
saat pembukaan sudah lengkap dan berakhir satu jam sesudahnya.
Jika dalam 1 jam setelah pembukaan lengkap dan kepala turun sampai
Hodge III, test of labor dikatakan berhasil. Tetapi apabila upaya
persalinan buatan per vaginam gagal, berlaku ketentuan seperti pada
partus percobaan. Test of labor jarang dilakukan lagi karena sering kali
pada panggul sempit pembukaan tidak sampai lengkap dan resiko
kematian janin terlalu tinggi.
Mosby. Mosby's Medical Dictionary 8th edition. United States of
America: Elsevier; 2009
Sastrawinata, S., Martaadisoebrata D., Wirakusumah F., Obstetrik
Patologi Edisi 2. Fakultas
Kedokteran Universitas Padjajaran. Jakarta: EGC, 2004. Peel J,
Chamberlain G. Caesarean Section in BJOG: An International Journal
of Obstetrics and Gynecology Vol. 75 Issue 12, December 1968, pg
1282-1286.

Persalinan Percobaan
Setelah dilakukan penilaian ukuran panggul serta hubungan antara
kepala janin dan panggul dapat diperkirakan bahwa persalinan dapat
berlangsung per vaginan dengan selamat dapat dilakukan persalinan
percobaan. Cara ini merupakan tes terhadap kekuatan his, daya
akomodasi, termasuk moulage karena faktor tersebut tidak dapar
diketahui sebelum persalinan.4

Persalinan percobaan hanya dilakukan pada letak belakang kepala, tidak


bisa pada letak sungsang, letak dahi, letak muka, atau kelainan letak
lainnya. Ketentuan lainnya adalah umur keamilan tidak boleh lebih dari
42 mingu karena kepala janin bertambah besar sehingga sukar terjadi
moulage dan ada kemungkinan disfungsi plasenta janin yang akan
menjadi penyulit persalinan percobaan.4
Pada janin yang besar kesulitan dalam melahirkan bahu tidak akan selalu
dapat diduga sebelumnya. Apabila dalam proses kelahiran kepala bayi
sudah keluar sedangkan dalam melahirkan bahu sulit, sebaiknya
dilakukan episiotomy medioateral yang cukup luas, kemudian hidung dan
mulut janin dibersihkan, kepala ditarik curam kebawah dengan hati-hati
dan tentunya dengan kekuatan terukur. Bila hal tersebut tidak berhasil,
dapat dilakukan pemutaran badan bayi di dalam rongga panggul,
sehingga menjadi bahu depan dimana sebelumnya merupakan bahu
belakang dan lahir dibawah simfisis. Bila cara tersebut masih juga belum
berhasil, penolong memasukkan tangannya kedalam vagina, dan
berusaha melahirkan janin dengan menggerakkan dimuka dadanya.
Untuk melahirkan lengan kiri, penolong menggunakan tangan kanannya,
dan sebaliknya. Kemudian bahu depan diputar ke diameter miring dari
panggul untuk melahirkan bahu depan.4
Persalinan percobaan ada dua macam yaitu trial of labour dan test of
labour. Trial of labour serupa dengan persalinan percobaan di atas,
sedangkan test of labour sebenarnya adalah fase akhir dari trial of labour
karena baru dimulai pada pembukaan lengkap dan berakhir 2 jam
kemudian. Saat ini test of labour jarang digunakan karena biasanya
pembukaan tidak lengkap pada persalinan dengan pangul sempit dan
terdapat kematian anak yang tinggi pada cara ini.7
Keberhasilan persalinan percobaan adalah anak dapat lahir sontan per
vaginam atau dibantu ekstraksi dengan keadaan ibu dan anak baik.
Persalinan percobaan dihentikan apabila pembukaan tidak atau kurang
sekali kemajuannnya, keadaan ibu atau anak kurang baik, ada lingkaran
bandl, setelah pembukaan lengkap dan ketuban pecah kepala tidak
masuk PAP dalam 2 jam meskipun his baik, serta pada forceps yang
gagal. Pada keadaan ini dilakukan seksio sesarea.7

Seksio Sesarea
Seksio sesarea elektif dilakukan pada kesempitan panggul berat dengan
kehamilan aterm, atau disproporsi sephalopelvik yang nyata. Seksio juga
dapat dilakukan pada kesempitan panggul ringan apabila ada komplikasi
seperti primigravida tua dan kelainan letak janin yang tak dapat
diperbaiki.4
Seksio sesarea sekunder (sesudah persalinan selama beberapa waktu)
dilakukan karena peralinan perobaan dianggap gagal atau ada indikasi
untuk menyelesaikan persalinan selekas mungkin sedangkan syarat
persalinan per vaginam belum dipenuhi.4
Simfisiotomi
Tindakan ini dilakukan dengan memisahkan panggul kiri dan kanan pada
simfisis. Tindakan ini sudah tidak dilakukan lagi.4
Kraniotomi dan Kleidotomi
Pada janin yang telah mati dapat dilakukan kraniotomi atau kleidotomi.
Apabila panggul sangat sempit sehingga janin tetap tidak dapat
dilahirkan, maka dilakukan seksio sesarea.4
Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. Obstetri
Patologi. Bandung: Elstar, 1982.
Winkjosastro H. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga. Jakarta: YBP-SP, 2007.

10. DD! Beda Partus Macet, Partus lama, Partus tak maju
(Definisi, etiologi, faktor resiko, tata laksana, komplikasi)

Anda mungkin juga menyukai