Anda di halaman 1dari 18

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara yang kaya dengan hasil perkebunan. Hasil
perkebunan yang dihasilkan adalah karet, teh, kopi, kakao, tebu, sawit, kelapa,
tembakau dan rempah. Perkebunan karet di Indonesia merupakan salah satu
perkebunan karet terbesar didunia. Pohon karet dapat menghasilkan getah karet
yang disebut dengan lateks. Lateks merupakan bahan utama untuk pembuatan
karet. Menurut Othmers (1987) karet alam adalah polimer yang tersusun dari
sekitar 5000 unit isoprene yaitu rantai polimer (C5H8) m dimana m merupakan
koefisien polimerisasi.
Lateks yang dihasilkan perlu dilakukan penyadapan untuk proses pengambilan
lateks dari pohon yang sudah berumur 5-6 tahun. Karena pohon yang telah
berumur 5-6 tahun memiliki lilitan batang yang cukup untuk proses penyadapan
lateks. Penyadapan lateks dilakukan pada saat pagi hari karena memiliki tekanan
turgor yang sangat tinggi.
Lateks sebelum diolah menjadi bahan jadi seperti ban, lateks dapat diolah
terlebih dahulu menjadi lateks pekat, RSS (Ribbed Smoked Sheet) dan crepe. Hal
tersebut dilakukan untuk mempermudah proses produk bahan jadi dari lateks.
Ribbed Smoket Sheet (RSS) adalah adalah produk yang berasal dari lateks
tanaman karet Hevea brasiliensis yang diolah secara mekanis dan kimiawi dengan
pengeringan menggunakan rumah asap serta mutunya memenuhi standard The
Green Book dan konsisten (Tim Standardisasi Pengolahan Karet, 1997).
Prinsip pengolahan jenis karet ini adalah mengubah lateks segar menjadi
lembaran-lembaran

melalui proses penyaringan, pengenceran, pembekuan,

penggilingan serta pengasapan. Pemanfaatan karet RSS umumnya digunakan


sebagai bahan baku pembuatan ban radial serta beberapa komponen peralatan
mesin industri. Maka dari itu, makalah ini disusun untuk mengetahui proses
pengolahan RSS (Ribbed Smoked Sheet).

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah yang disusun adalah untuk mengetahui proses
pengolahan RSS (Ribbed Smoked Sheet).

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karet
Tanaman karet adalah tanaman daerah tropis. Daerah yang cocok untuk
tanaman karet adalah pada zona antara 15LS dan 15LU, curah hujan yang cocok
tidak kurang dari 2000 mm. Optimal 2500-4000 mm/ tahun. Tanaman karet
tumbuh optimal pada dataran rendah yaitu pada ketinggian 200 m dpl sampai 600
m dpl, dengan suhu 25-30C (Setyamidjaja, 1993).
Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang
cukup besar tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 meter. Batang tanaman
biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi diatas. Batang
tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks. Daun karet
terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai daun
utama 3-20 cm. Panjang tangkai anak daun sekitar 3-10cm dan pada ujungnya
terdapat kelenjar. Biasanya ada tiga anak daun yang terdapat pada sehelai daun
karet. Anak daun berbentuk eliptis, memanjang dengan ujung meruncing. Tepinya
rata dan gundul biji karet terdapat dalam setiap ruang buah. Jadi jumlah biji
biasanya ada tiga kadang enam sesuai dengan jumlah ruang. Ukuran biji besar
dengan kulit keras. Warnanya coklat kehitaman dengan bercak-bercak berpola
yang khas. Sesuai dengan sifat dikotilnya, akar tanaman karet merupakan akar
tunggang. Akar ini mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan
besar (LIPTAN, 1992).
Karet (Hevea brasiliensis.) termasuk dalam famili Euphorbiacea, disebut
dengan nama lain rambung, getah, gota, kejai ataupun hapea. Karet adalah
polimer yang terbentuk dari emulsi kesusuan yang (dikenal sebagai lateks),
dimana diperoleh dari getah beberapa jenis tumbuhan pohon karet tetapi dapat
juga diproduksi secara sintetis.
Dalam dunia tumbuhan tanaman karet tersusun dalam sistematika sebagai
berikut : Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Euphorbiales

Famili

: Euphorbiaceae

Genus

: Hevea

Spesies

: Hevea brasiliensis

(Setyamidjaja,1993).
Karet alam berguna sebagai bahan baku pembuatan berbagai macam
barang dalam industri dan berbagai bidang seperti industri otomotif, industri alat
listrik dan bidang kedokteran. Barangbarang yang terbuat dari karet alam (baik
sebagai bahan tunggal maupun campuran dengan karet sitetis) terdiri dari banyak
jenis. Mulai dari karet dot balita, penghapus, selang, balon, sol sepatu, kasur busa,
membran, karet gelang, ban kendaraan, sabuk pengaman (belt), alas lantai,
pembungkus kabel, dudukan mesin kendaraan maupun kaca mobil semuanya
terbuat dari bahan karet .
Kegunaan

karet

alam

sebagai

bahan

baku

pembuatan

barang

dalamberbagai industri tidak terlepas dari sifat-sifat alami dari karet seperti tahan
panas,tidak dapat mengantarkan arus listrik, elastis, kedap air, menahan gesekan
dankemampuan meredam suara. Sehingga berbagai barang yang dihasilkan
daribahan baku karet alam umumnya memiliki manfaat dasar yang sama
denganmanfaat karet itu sendiri.
Ada beberapa jenis karet alam yang dikenal, diantaranya merupakan bahan
olahan. Bahan olahan ada yang setengah jadi atau sudah jadi.Menurut Budiman,
S. 1974ada karet yang diolah kembali berdasarkan bahan karet yang sudah jadi.
Jenis jenis karet alam yang dikenal luas adalah:
1.

Bahan olah karet (latek kebun, sheet angin, slab tipis, dan lump
segar)

2.

Karet konvensional (ribbed smoked sheet, white crepes dan pale


crepe, estate brown crepe, compo crepe thin brown crepe
remills, thick blacket ambers, flat bark crepe, pure smoked
blanket crepe, dan off crepe)

3.

Lateks pekat

4.

Karet bongkah atau block rubber

5.

Karet spesifikasi teknis atau crumb rubber

6.

Karet siap olah (tdyre rubber)

7.

Karet reklim (rechlaimed rubber)

2.2 Lateks
Lateks

merupakan

cairan

yang

berwarna

putih

atau

putih

kekuningkuningan,yang terdiri atas partikel karet dan bukan karet yang terdispersi
di dalam air (Triwijoso dan Siswantoro,1989). Menurut Goutara, et al. (1985),
lateks merupakan sistem koloid, karena partikel karet yang dilapisi oleh protein
dan fosfolipid terdispersi didalam air. Protein di lapisan luar memberikan muatan
negatif pada partikel. Lateks merupakan suatu dispersi butir-butir karet dalam air,
dimana di dalam dispersi tersebut juga larut beberapa garam dan zat organik,
seperti zat gula, dan zat protein (Lie, 1964).Menurut Suparto (2002), lateks Hevea
terdiri dan karet, resin, protein, abu,gula, dan air dengan komposisi seperti terlihat
pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi Kimia Lateks
Jenis Komponen

Komposisi (%)

Karet

30-35

Resin

0,5-1,5

Protein

1,5-2,0

Abu

0,3-0,7

Gula

0,3-0,5

Air

55-60

Sumber: Suparto (2002)

Secara fisiologi lateks merupakan sitoplasma dan sel-sel pembuluh lateks


yang mengandung partikel karet, lutoid, nukleous, mitokondria,partikel FreyWyssling, dan ribosom. Selain partikel karet, di dalam lateks terdapat bahanbahan bukan karet yang berperan penting mengendalikan sifat lateks dan karetnya
meskipun dalam jumlah yang relatif kecil. Lateks segar yang dipusingkan

(disentrifus) dengan alat pemusing ultra dengan kecepatan 18.000 rpm akan
menyebabkan lateks terpisah menjadi empat fraksi dengan urutan dari atas ke
bawah dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Empat Fraksi Lateks Segar
Fraksi Karet

Fraksi Frey

(35%)

Wyssling (35%)
Karet

Karotenoida

Protein

Lipid

Lipid Ion
Logam

Serum(50%)

Fraksi Dasar
(10%)

Air, Karbohidrat

Lutoid

dan inositot Protein

(vakuolisosom)

dan turunarmya
Senyawa nitrogen
Asam nukleat dan
nukleosida Ion
anorganik Ion
logam

Sumber: Suparto (2002)

Lateks yang diperoleh dari penyadapan bagian antara kambium dan kulit
pohon Hevea brasiliensis, adalah suatu cairan yang berwarna putih atau putih
kekuning-kuningan. Lateks terdiri atas partikel karet dan bahan bukan karet
(nonrubber) yang terdispersi di dalam air. Menurut Nobel (1963) lateks
merupakan suatu larutan koloid dengan partikel karet dan bukan karet yang
tersuspensi didalam suatu media yang mengandung berbagai macam zat. Dalam
penelitiannya, Triwijoso (1995) menyebutkan bahwa di dalam lateks mengandung
25-40% bahan karet mentah (crude rubber) dan 60-75% serum yang terdiri dari
air dan zat yangterlarut. Bahan karet mentah mengandung 90-95% karet murni, 23% protein, 1-2% asam lemak, 0.2% gula, 0.5% jenis garam dari Na, K, Mg, Cn,
Cu,Mn dan Fe. Partikel karet tersuspensi atau tersebar secara merata dalam serum
lateks dengan ukuran 0.04-3.00 mikron dengan bentuk partikel bulat sampai
lonjong Susunan bahan lateks dapat dibagi menjadi dua komponen. Komponen
pertama adalah bagian yang mendispersikan atau memancarkan bahan-bahan yang
terkandung secara merata yang disebut serum. Bahan-bahan bukan karet yang
terlarut dalam air, seperti protein, garam-garam mineral, enzim dan lainnya

termasuk ke dalam serum. Komponen kedua adalah bagian yang didispersikan,


terdiri dari butir-butir karet yang dikelilingi lapisan tipis protein. Bahan bukan
karet yang jumlahnya relatif kecil ternyata mempunyai peran penting dalam
mengendalikan kestabilan sifat lateks dan karetnya.

2.3 Panen Lateks di Kebun


Penyadapan (eksploitasi) tanaman karet adalah suatu teknik memanen
tanaman karet dengan cara membuat irisan pada kulit batang pohon karet untuk
membuka sel-sel pembuluh lateks sehingga memperoleh hasil karet maksimal
sesuai dengan kapasitas produksi tanaman dalam siklus ekonomi yang
direncanakan.
A. Jumlah penyadap
Kebutuhan

jumlah

penyadap

harus

disesuaikan

dengan

jumlah

hanca atau 0,27penyadap x Ha yang akan dibuka sadap.


B. Peralatan sadap
Alat sadap yang ada di pohon karet :

Mangkuk ukuran 500cc (jumlah mangkuk tergantung dari potensi pohon)

Talang sadap

Tali ijuk

Kawat tempat mangkuk

Alat sadap yang dibawa oleh penyadap :

Pisau sadap 2 buah (sodeci untuk sadap bawah dan pacekung untuk sadap
atas

Batu gosok untuk mengasah pisau sadap

Belor (head lamp)

Keranjang tempat scrap/lump dan mangkuk cadangan

Ember untuk pungut lateks ukuran 10 liter

Ember atau karung plastik untuk angkut lateks ukuran 20 liter atau 40 liter

C. Waktu Sadap
Proses penyadapan dilakukan sepagi mungkin atau terang pohon (jam
05.30 WIB)

D. Waktu Pemungutan Hasil


Pemungutan

hasil

pohon

terakhir.Pemungutan

selesai

pemungutan

dilakukan
hasil

jam

setelah

penyadapan

dilakukan

dengan

menyayat

pada
setelah

hasil,penyadap menyetorkan hasilnya ke stasiun tempat

lateks (STL). Hasil yang disetorkan keSTL tidak boleh terkontaminasi oleh benda
lain kecuali lateks. Pada proses pemungutanini lateks sangat mudah terjadi
penggumpalan atau koagulasi sehingga perlu ditambahkanamoniak pada STL
dengan perbandingan 1 liter amoniak cari 5% + air untuk 1000 literlateks. Selain
lateks, ada hasil panen yang sudah mengalami koagulasi pada ember ataukarung
plastik yang disebut scrap serta cup lump jika terjadi koagulasi pada mangkuk di
pohon karet.

2.4 Prakoagulan
Prakoagulasi merupakan pembekuan pendahuluan tidak diinginkan yang
menghasilkan lump atau gumpalan-gumpalan pada cairan getah sadapan. Kejadian
seperti ini biasa terjadi ketika lateks berada di dalam tangki selama pengangkutan
menuju pabrik pengolahan. Hasil sadapan yang mengalami prakoagulasi hanya
dapat diolah menjadi karet dengan mutu rendah seperti karet remah jenis SIR 10
dan SIR 20. Prakoagulasi dapat terjadi karena kemantapan bagian koloidal yang
terkandung di dalam lateks berkurang akibat aktivitas bakteri, guncangan serta
suhu lingkungan yang terlalu tinggi. Bagian-bagian koloidal yang berupa partikel
karet ini kemudian menggumpal menjadi satu dan membentuk komponen yang
berukuran lebih besar dan membeku.
Untuk mencegah prakoagulasi, pengawetan lateks kebun mutlak
diperlukan, terlebih jika jarak antara kebun dengan pabrik pengolahan cukup jauh.
Zat yang digunakan sebagai bahan pengawet disebut dengan zat antikoagulan.
Syarat zat antikoagulan adalah harus memiliki pH yang tinggi atau bersifat basa.
Ion OH- di dalam zat antikoagulan akan menetralkan ion H+ pada lateks,
sehingga kestabilannya dapat tetap terjaga dan tidak terjadi penggumpalan.
Terdapat beberapa jenis zat antikoagulan yang umumnya digunakan oleh

perkebunan besar atau perkebunan rakyat diantaranya adalah amoniak, soda atau
natrium karbonat, formaldehida serta natrium sulfit.
2.5 Senyawa koagulasi

Menurut Ebeling dan Ogden (2004), koagulasi merupakan proses


menurunkan atau menetralkan muatan listrik pada partikel-partikel tersuspensi
atau zeta-potential-nya. Muatan-muatan listrik yang sama pada partikel-partikel
kecil dalam air menyebabkan partikel-partikel tersebut saling menolak sehingga
membuat partikel-partikel koloid kecil terpisah satu sama lain dan menjaganya
tetap berada dalam suspense. Proses koagulasi berfungsi untuk menetralkan atau
mengurangi muatan negatif pada partikel sehingga mengijinkan gaya tarik van der
waals untuk mendorong terjadinya agregasi koloid dan zat-zat tersuspensi halus
untuk membentuk microfloc. Reaksi-reaksi koagulasi biasanya tidak tuntas dan
berbagai reaksi-reaksi samping lainnya dengan zat-zat yang ada dalam air limbah
dapat terjadi bergantung pada karakteristik air limbah tersebut dan akan terus
berubah seiring berjalannya waktu. Semua reaksi dan mekanisme yang terlibat
dalam pendestabilisasian partikel dan pembentukan partikel yang lebih besar
melalui flokulasi perikinetik termasuk sebagai koagulasi. Koagulan adalah bahan
kimia yang ditambahkan untuk mendestabilisasi partikel koloid dalam air limbah
agar flok dapat terbentuk. Flokulasi adalah proses berkumpulnya partikel-partikel
flok mikro membentuk aglomerasi besar melalui pengadukan fisis atau melalui
aksi pengikatan oleh flokulan. Flokulan adalah bahan kimiawi, biasanya organik,
yang ditambahkan untuk meningkatkan proses flokulasi. Menurut Davis dan
Cornwell (1991) dalam Yuliati (2006), ada tiga hal penting yang harus
diperhatikan ketika memilih suatu koagulan, yaitu:
1. kation bervalensi tiga (trivalen) merupakan kation yang paling efektif untuk
menetralkan muatan listrik koloid,
2. tidak beracun.

2.6 Asam format

Asam format merupakan pereduksi kuat dan banyak digunakan sebagai


dekalsifier; digunakan dalam pecelupan warna kain wol, electroplating,
menggumpalkan lateks karet, regenerasi karet tua, penyamakan kulit; digunakan
dalam pembuatan asam asetat, alil alkohol, format selulosa, resin fenolik, dan
oksalat serta digunakan dalam pencucian baju, tekstil, insektisida, pendingin,
industri kertas, dan di industri obat. Asam format memiliki bentuk cairan, tidak
berwarna, mudah terbakar, berbau tajam, berasa asam. Rumus molekul HCOOH;
berat molekul 46,03; titik didih 101C; titik nyala 69oC; Titik lebur 8oC; berat
jenis (air=1) 1,19; mudah larut dalam aseton; Larut dalam air dingin, air panas,
dietil eter, benzen, gliserol. Asam format berbahaya terhadap kesehatan: Dapat
menimbulkan iritasi jika kontak dengan kulit; bersifat iritan dan korosif jika
terkena mata; mengiritasi jika tertelan Organ sasaran: Sistem pernapasan, paruparu, kulit, ginjal, hati, mata, sistem saraf pusat. Asam format dapat disimpan
dalam wadah tertutup rapat dan bersegel, Simpan di tempat berventilasi baik,
Simpan di tempat yang sejuk, dan Hindarkan dari sumber api (percikan atau
nyala).

2.7 Ribbed Smoked Sheet (RSS)


Ribbed Smoket Sheet (RSS) adalah adalah produk yang berasal dari lateks
tanaman karet Hevea brasiliensis yang diolah secara mekanis dan kimiawi dengan
pengeringan menggunakan rumah asap serta mutunya memenuhi standard The
Green Book dan konsisten (Tim Standardisasi Pengolahan Karet, 1997). Prinsip
pengolahan jenis karet ini adalah mengubah lateks segar menjadi lembaranlembaran melalui proses penyaringan, pengenceran, pembekuan, penggilingan
serta pengasapan. Pemanfaatan karet RSS umumnya digunakan sebagai bahan
baku pembuatan ban radial serta beberapa komponen peralatan mesin industri.

2.8 Tahap pengolahan RSS menurut Sucahyo (2010)


1. penerimaan lateks kebun.

Lateks yang berasal dari mangkuk sadap dikumpulkan dalam suatu tempat
kemudian disaring untuk memisahkan kotoran serta bagian lateks yang telah
mengalami prakoagulasi.
2. pengaliran kedalam bak koagulasi
Pengaliran lateks kedalam bak koagulasi dalam bak koagulasi untuk proses
pengenceran dengan air. Air yang digunakan harus air yang bersih dan tidak
mengandung unsur logam, pH air antara 5.8-8.0, kesadahan air maks 6o, serta
kadar bikarbonat tidak melebihi 0.03%. Tujuan pengenceran ini adalah untuk
menyeragamkan KKK sehingga cara pengolahan dan mutunya dapat dijaga tetap
serta memudahkan penyaringan kotoran (Suwarti, 1989). Pengenceran dapat
dilakukan hingga lateks mencapai kadar 12-15%. Air ditambahkan pada bak
koagulum sesuai dengan tabel pengenceran pada instruksi kerja pada setiap pabrik
pengolahan
3. pembekuan lateks yang dilakukan dalam bak
Pembekuan lateks yang dilakukan dalam bak koagulasi dengan menambahkan
zat koagulan. Biasanya digunakan larutan asam format/asam semut atau asam
asetat/asam cuka dengan konsentrasi 1-2% ke dalam lateks yang telah
distandarkan KKK-nya. Tujuan dari penambahan asam adalah untuk menurunkan
pH lateks pada titik isoelektriknya sehingga lateks akan membeku, yaitu pada pH
antara 4.5-4.7 (Zuhra,2006). Penambahan diikuti dengan pengadukan agar asam
tercampur ke dalam lateks secara merata serta membantu mempercepat proses
pembekuan. Pengaduk yang digunakan adalah plat alumunium yang berlubanglubang dengan ukuran 1/4 lebar bak. Pengadukan dilakukan dengan 6-10 kali
maju dan mundur secara perlahan untuk mencegah terjadinya busa. Bila timbul ke
permukaan akibat pengadukan maka harus dibuang sampai bersih untuk
menghindari gelembung udara pada koagulum. Kecepatan penggumpalan dapat
diatur dengan merubah perbandingan lateks, air dan asam sehingga diperoleh hasil
bekuan/koagulum dengan kekuatan yang dikehendaki.
4. pemasangan plat penyekat yang berfungsi untuk

Pemasangan plat penyekat yang berfungsi untuk membentuk koagulum dalam


lembaran yang seragam. Langkah berikutnya adalah penggilingan yang dilakuan
setelah proses pembekuan selesai.
5. Penggilingan Koagulum
Koagulum digiling untuk mengeluarkan kandungan air, mengeluarkan
sebagian serum, membilas, membentuk lembaran tipis danmemberi garis batikan
pada lembaran. Untuk memperoleh lembaran sit, koagulum digiling dengan
beberapa gilingan rol licin, rol belimbing dan rol motif. Di bagian atas mesin
gilingan dilengkapi dengan saluran air bersih yang disemprotkan untuk pencucian
lembaran sit selama penggilingan. Di bawah gilingan terakhir terdapat bak air
pencuci lembaran untuk membersihkan sisa asam. Air dalam bak ini diusahakan
mengalir karena lembaran gilingan masih banyak mengandung serum dan asam
yang harus dicuci.
6. Penggantungan atau penirisan lembaran
Lembaran digantung dalam lori untuk ditiriskan selama 1-2 jam. Penirisan
dilakukan pada tempat teduh dan terlindung dari sinar matahari. Setelah ditiriskan,
lembaran sit diangkut ke dalam kamar asap.
7. Pengasapan
Tujuanpengasapan adalah untuk mengeringkan sit, memberi warna khas
cokelat dan menghambat pertumbuhan jamur pada permukaan. Proses yang terjadi
di kamar asap adalah sebagai berikut :
a. Hari pertama, pengasapan dengan suhu kamar asap sekitar 40-45 oC.
b. Hari kedua, pengasapan dengan suhu kamar asap mencapai 50-55 oC.
c. Hari ketiga sampai berikutnya, pengasapan dengan suhu kamar asap mencapai
55-60 oC.
Pada hari pertama dibutuhkan asap yang lebih banyak untuk pembentukan
warna. Untuk memperbanyak asap dapat digunakan jenis kayu bakar (umumnya
menggunakan kayu karet) yang masih basah. Pada hari kedua lembaran sit harus
dibalik untuk melepaskan lembaran yang lengket terhadap gantar dan juga agar
sisi lain lembaran sit bisa terkena asap sehingga pengasapan merata. Mulai hari
ketiga dan seterusnya yang dibutuhkan adalah panas guna memperoleh tingkat

kematangan yang tepat. Sit yang telah matang dari kamar asap diturunkan
kemudian ditimbang dan dicatat dalam arsip produksi. Proses sortasi dilakukan
secara visual berdasrkan warna, kotoran, gelembung udara, jamur dan kehalusan
gilingan yang mengacu pada standard yang terdapat pada SNI 06-0001-1987 The
Green book.

2.9 Penetapan Kelas Mutu RSS (SNI 06-0001-1987 Karet Konvensional,


1987)
Menurut SNI 06-0001-1987 mengenai karet konvensional, secara umum
sit diklasifikasikan dalam kelas mutu RSS 1, RSS 2, RSS 3, RSS 4, RSS 5 dan
Cutting. Cutting merupakan potongan dari lembaran yang terlihat masih mentah,
atau terdapat gelembung udara hanya pada sebagian kecil sehingga dapat
digunting. Beberapa penjelasan dari masing-masing kelas mutu RSS adalah
sebagai berikut :
1. RSS 1
Kelas ini harus memenuhi persyaratan yaitu, sit yang dihasilkan harus benarbenar kering, bersih, kuat, tidak ada cacat, tidak berkarat, tidak melepuh serta
tidak ada benda-benda pengotor. Jenis RSS 1 tidak boleh ada garis-garis pengaruh
dari oksidasi, sit lembek, suhu pengeringan terlalu tinggi, belum benarbenar
kering, pengasapan berlebihan, warna terlalu tua serta terbakar. Bila terdapat
gelembung-gelembung

berukuran

kecil

(seukuran

jarum

pentul)

masih

diperkenankan, asalkan letaknya tersebar merata. Pembungkusan harus baik agar


tidak terkontaminasi jamur. Tetapi, bila sewaktu diterima terdapat jamur pada
pembungkusnya, masih dapat diizinkan asalkan tidak masuk ke dalam karetnya.
2. RSS 2
Kelas ini tidak terlalu banyak menuntut kriteria. Standar RSS 2 hasilnya harus
kering, bersih, kuat, bagus, tidak cacat, tidak melepuh dan tidak terdapat kotoran.
Sit tidak diperkenankan terdapat noda atau garis akibat oksidasi, sit lembek, suhu
pengeringan terlalu tinggi, belum benar-benar kering, pengasapan berlebihan,
warna terlalu tua serta terbakar. Sit kelas ini masih menerima gelembung udara
serta noda kulit pohon yang ukurannya agak besar (dua kali ukuran jarum pentul).

Zat-zat damar dan jamur pada pembungkus, kulit luar bandela atau pada sit di
dalamnya masih dapat ditorerir. Tetapi bila sudah melebihi 5% dari bandela, maka
sit akan ditolak.
3. RSS 3
Standar karet RSS 3 harus kering, kuat, bagus, tidak cacat, tidak melepuh dan
tidak terdapat kotoran. Bila terdapat cacat warna, gelembung udara besar (tiga kali
ukuran jarum pentul), ataupun noda-noda dari kulit tanaman karet, masih ditorerir.
Namun, tidak diterima jika terdapat noda atau garis akibat oksidasi, sit lembek,
suhu pengeringan terlalu tinggi, belum benar-benar kering, pengasapan
berlebihan, warna terlalu tua serta terbakar. Jamur yang terdapat pada
pembungkus kulit luar bandela serta menempel pada sit tidak menjadi masalah,
asalkan jumlahnya tidak melebihi 10% dari bandela dimana contoh diambil.
4. RSS 4
Standar karet RSS 4 harus kering, kuat, tidak cacat, tidak melepuh serta tidak
terdapat pasir atau kotoran luar. Yang diperkenankan adalah bila terdapat
gelembung udara kecil-kecil sebesar 4 kali ukuran jarum pentul, karet agak rekat
atau terdapat kotoran kulit pohon asal tidak banyak. Mengizinkan adanya
nodanoda asalkan jernih. Sit lembek, suhu pengeringan terlalu tinggi dan karet
terbakar tidak bisa diterima. Bahan damar atau jamur kering pada pembungkus
kulit bagian luar bandela serta pada sit, asalkan tidak melebihi 20% dari
keseluruhan masih mungkin untuk kelas RSS 4.
5. RSS 5
Karet yang dihasilkan harus kokoh, tidak terdapat kotoran atau benda asing,
kecuali yang diperkenankan. Dibanding dengan kelas RSS yang lain RSS 5 adalah
yang terendah standarnya. Bintik-bintik, gelembung kecil, noda kulit pohon yang
besar, karet agak rekat, kelebihan asap dan sedikit belum kering masih termasuk
dalam batas toleransi. Bahan damar atau jamur kering pada pembungkus kulit
bagian luar bandela serta pada sit, asalkan tidak melebihi 30% dari keseluruhan
masih mungkin untuk kelas RSS 5. Pengeringan pada suhu tinggi dan bekas
terbakar tidak diperkenankan untuk jenis kelas ini.

BAB 3. PEMBAHASAN

3.1 Pengolahan RSS


Negara Thailand merupakan negara produsen yang memproduksi RSS.
Produksi lateks di Thailand saat ini berada diskala besar untuk tingkat masyarakat
koperasi karet. Koperasi ini berada ditengah-tengah pohon karet yang ditanam.
Saat ini ada 700 kopersi karet di Thailand, sebagian besar ada di wilayah bagian
selatan negeri Thailad (Furuuchi,2006). Kapasitas dari koperasi tersebut adalah
500-1000 ton setiap tahunnya. Pada koperasi ini menggunakan kayu karet untuk
proses pengeringan lembaran karet.
Dalam proses produksi, karet lateks segar dikumpulkan dalam suatu wadah dan
diencerkan dengan air disaring untuk menghilangkan kotoran yang ada pada lateks
kemudian dicampur dengan asam formiat untuk membentuk padatan seperti tahu. Padatan
ini kemudian dimasukkan kedalam rel mesin yang berisi air yang fungsinya untuk
mempertipis lembaran karet sehingga menjadi lembaran karet dengan ukuran 2-3 mm.
Lembaran karet mentah kemudian digantung selama 1 jam untuk membuang air. Setelah
itu dilakukan pengasapan dengan suhu 50-60oC selama 5 hari yang fungsinya agar
bahan-bahan pengawet yang terdapat dalam asap terserap oleh lembaralembaran karet.
Selain itu, juga membantu penegringan dan menghambat pertumbuhna spora-spora
cendawan atau miroorganisme lainnya. Selam pengasapan suhu, ventilasi dan jumlah
asap harus diatur dan dijaga. Lantai ruangan perlu disemendan dibuat miring agar air
yang masih ada dalam sheet tidak mengumpul di ruangan. Sehingga perlu dibuat parit
pengairan keluar. Pentingnya pengaturan ventilasi dan pengairan disebabkan karena
tempat yang selalu lembab mudah menjadi sarang bakteri. Setelah pengasapan dilakukan
seleksi atau sortirdengan mengontrol kotoran, gembung-gelembung udara, ketebalan,
panjang dan lebar serta warna smoked sheet yang dihasilkan. Biasanya warna smoked
sheet adalah coklat jernih.

Lateks segar dari kebun


Saringan
Bak pencampur
Bak pengencer
(diencerkan dengan air)
Saringan
Bak koagulasi
(penambahan bahan koagulan,
pembekuan selama 3-4 jam)

Gilingan sheet
Lembaran sheet direndam lalu dicuci
hingga bersih
Penggantungan
Rumah pengasapan
(diasap sekitar 5 hari suhu 50-60C)

Sortasi
(pemisahan menurut mutu)

Gambar 1. Diagram alir proses pengolahan RSS

BAB 4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah yang telah dibuat adalah sebagai
berikut:
1. Lateks

merupakan

cairan

yang

berwarna

putih

atau

putih

kekuningkuningan,yang terdiri atas partikel karet dan bukan karet yang


terdispersi di dalam air
2. Penyadapan lateks dilakukan pada saat pagi hari karena memiliki tekanan
turgor yang sangat tinggi.
3. Tahapan

pengolahan

pada

lateks

yaitu

perta

penyaringan,

pengenceran,penambahan bahan koagulasi,penggilingan,pencucian dan


pengasapan.
4. Penambahan asam formiat berfungsi untuk membentuk suatu padatan.

4.2 Saran
Berdasarkan pembahasan makalah yang telah dibuat diharapkan pengolahan
lateks semaksimal mungkin agar hasil yang didapatkan juga berkualitas baik dan
peneliti diharapkan lebih memhami dan meneliti jenis-jenis RSS.

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, S. 1974. Jenis-Jenis Karet Alam dan Karet Sintetis. Kursus Teknologi
Karet. Balai Penelitian Perkebunan Bogor. Bogor.

Furuchi, M., Tekasakul P., Murasete Utami. Y,. 2006. Characterictic Of


Particulates Emmitted From Rubber Wood Burning, Accepted For Publication
Towards Journal Of Tecnology Research.