Anda di halaman 1dari 26

MANAJEMEN KEUANGAN

MAKALAH
MANAJEMEN PERSEDIAAN
(Inventory Management)
Dosen Pembimbing :

Dr. Husnah, S.E.,M.Si

Oleh:
Kelompok 4
UKAR SUMIJANA
GUSSTIAWAN RAIMANU
MUHAMMAD RAFIQ
EKA PUTRA IDRIS

C20215032
C20215014
C20215004
C20215099

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS TADULAKO
2015

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
DAFTAR ISI ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................................... 1
B. Tujuan Penulisan ....................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Manajemen Persediaan ........................................................... 3
B. Karakteristik Persediaan............................................................................ 3
C. Fungsi Persediaan ..................................................................................... 4
D. Tujuan Persediaan ..................................................................................... 4
E. Pengendalian Persediaan ........................................................................... 6
F. Tujuan Pengendalian Persediaan............................................................... 6
G. Sistem Pengedalian Persediaan ................................................................. 7
H. Keputusan dalam Manajemen Persediaan ................................................. 7
I. Model Model Tingkat Persediaan Optimal ............................................... 10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 23

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan
penyertaan-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan
tepat waktu.
Makalah ini disusun secara berkelompok untuk memenuhi salah satu tugas
dari mata kuliah Manajemen Keuangan. Makalah ini diharapkan dapat
mempertajam wawasan serta kajian mengenai Manajemen Keuangan secara khusus
mengenai Manajemen Persediaan.
Ahirnya, kami selaku penyusun makalah berharap agar makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi para pembaca. Tiada gading yang tak retak, kami
menyadari bahwa penulisan makalah ini masih memiliki kekurangan di dalamnya,
meskipun telah diusahakan semaksimal mungkin. Untuk itu, seluruh saran dan
kritik yang membangun untuk penyempurnaan makalah ini sangat diharapkan.

Palu, September 2015

ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu fungsi manajerial yang sangat penting dalam operasional suatu
perusahaan adalah pengendalian persediaan (inventory control), karena kebijakan
persediaan secara fisik akan berkaitan dengan investasi dalam aktiva lancar di satu
sisi dan pelayanan kepada pelanggan di sisi lain. Pengaturan persediaan ini
berpengaruh terhadap semua fungsi bisnis (operation, marketing, dan finance).
Berkaitan dengan persediaan ini terdapat konflik kepentingan diantara fungsi bisnis
tersebut. Finance menghendaki tingkat persediaan yang rendah, sedangkan
Marketing dan operasi menginginkan tingkat persediaan yang tinggi agar
kebutuhan konsumen dan kebutuhan produksi dapat dipenuhi.
Persediaan dapat diartikan sebagai stok barang yang akan dijual atau
digunakan untuk periode tertentu. Tanpa adanya persediaan, perusahaan akan
dihadapkan pada sebuah risiko, tidak dapat memenuhi keinginan para
konsumennya. Persediaan dapat muncul secara sengaja maupun tidak disengaja.
Secara sengaja berarti adanya perencanaan untuk mengadakan persediaan,
sedangkan secara tidak sengaja biasanya terjadi apabila persediaan ada akibat
barang tidak terjual yang disebabkan rendahnya permintaan.
Masalah persediaan termasuk masalah yang cukup krusial dalam
operasional perusahaan. Sebab apabila terjadi kekurangan persediaan, proses
produksi sebuah perusahaan dapat terhenti. Sebaliknya apabila terlalu banyak
persediaan (over stock) dapat berakibat meningkatnya beban biaya guna
menyimpan dan memelihara bahan selama penyimpanan di gudang padahal barang
tersebut masih mempunyai opportunity cost (dana yang bisa diinvestasikan pada
hal yang lebih menguntungkan). Sasaran sebuah perusahaan sebenarnya bukanlah
untuk mengurangi atau meningkatkan persediaan (inventory), tetapi untuk
memaksimalkan keuntungan.
Berkaitan dengan kondisi di atas, maka perlu ada pengaturan terhadap
jumlah persediaan, baik bahan-bahan maupun produk jadi, sehingga kebutuhan
1

proses produksi (perusahaan) maupun kebutuhan konsumen dapat dipenuhi. Tujuan


utama dari pengendalian persediaan adalah agar perusahaan selalu mempunyai
persediaan dalam jumlah yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dalam spesifikasi
atau mutu yang telah ditentukan sehingga kontinuitas usaha dapat terjamin (tidak
terganggu). Hal ini sejalan dengan prinsip manajemen persediaan yaitu besarnya
jumlah investasi (bahan baku) yang tepat dan waktu pemesanan yang tepat.
Manajemen persediaan dianggap vital untuk memberikan informasi yang
berguna bagi perusahaan. Apabila terjadi kesalahan dalam pencatatan persediaan,
maka akan mengakibatkan kesalahan dalam menentukan besarnya laba perusahaan
yang diperoleh. Jika persediaan akhir dinilai terlalu rendah dan mengakibatkan
harga pokok barang yang dijual terlalu rendah, maka pendapatan bersih akan
mengalami penurunan. Begitu juga dengan lamanya persediaan yang tersimpan di
gudang akan mempengaruhi besar/kecilnya biaya. Segala kemungkinan dapat
terjadi diantarnaya kerusakan yang mengakibatkan kerugian dan hingga persediaan
yang kadaluarsa sehingga tidak dapat dijual.
Dari penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa manajemen persediaan sangat
penting artinya bagi perusahaan. Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk lebih
mengetahui dan memahami bagaimana teori-teori manajemen persediaan
diapliasikan secara benar dalam suatu perusahaan agar membawa manfaat yang
baik dalam pencapaian laba yang diinginkan. Oleh sebab itu penulis akan mengkaji
lebih dalam mengenai manajemen persediaan melalui sebuah studi pustaka yang
dituangkan dalam makalah.

B. Tujuan Penulisan

Mengetahui pengertian dari manajemen persediaan dan fungsinya.

Mengetahui karakteristik persediaan.

Mengetahui pengendalian persediaan.

Mengetahui model-model tingkat persediaan yang optimal.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Manajemen Persediaan
Persediaan merupakan sejumlah bahan/barang yang disediakan oleh
perusahaan, baik berupa bahan jadi, bahan mentah, maupun barang dalam proses
yang disediakan untuk menjaga kelancaran operasi perusahaan guna memenuhi
permintaan konsumen setiap waktu (Margaretha, 2014).
Persediaan juga dapat didefinisikan sebagai suatu aktiva yang meliputi
barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode
usaha tertentu untuk memnuhi permintaan dari konsumen atau pelanggan setiap
waktu (Rangkuti, 2007). Sementara Hani Handoko (2000) mengemukakan bahwa
persediaan (inventory) adalah suatu istilah umum yang menunjukkan segala sesuatu
atau sumber daya-sumber daya organisasi yang disimpan dalam antisipasinya
terhadap pemenuhan permintaan baik internal maupun eksternal.
Nasution (2003) menyatakan bahwa persediaan adalah sumber daya
menganggur yang menunggu proses lebih lanjut. Yang dimaksud proses lebih lanjut
adalah berupa kegiatan produksi pada sistem manufaktur, kegiatan pemasaran pada
sistem distribusi ataupun kegiatan konsumsi pangan pada sistem rumah tangga.
Dapat dikatakan bahwa tidak ada perusahaan yang beroperasi tanpa
persediaan, meskipun persediaan hanyalah suatu sumber dana yang menganggur,
karena sebelum persediaan digunakan berarti dana yang terikat didalamnya tidak
dapat digunakan untuk keperluan yang lain. Begitu pentingnya persediaan ini
sehingga para akuntan memasukannya dalam neraca sebagai salah satu bagian dari
aktiva lancar oleh karena itu dibutuhkan manajemen persediaan yang efektif agar
perusahaan dapat menjalankan usahanya dengan lancar.

B. Karakteristik Persediaan
Persediaan sebagai kekayaan perusahaan, memiliki peranan penting
dalam operasi bisnis. Persediaan memiliki dua karakteristik penting, yakni:
1. Persediaan tersebut merupakan milik perusahan.
3

2. Persediaan tersebut siap dijual kepada para konsumen.


Persediaan dimiliki oleh perusahaan dagang dan perusahaan industri.
1. Perusahaan dagang (merchandise inventory) hanya ada persediaan barang
dagangan (finished goods).
2. Perusahaan industri (manufacturing) memiliki persediaan yang terdiri atas:
a) Persediaan bahan baku (raw materials), yaitu persediaan yang diperoleh
dari sumber-sumber alam, atau dibeli dari para supplier dan atau dibuat
sendiri oleh perusahaan untuk diproses/dirubah menjadi barang
setengah jadi dan akhirnya barang jadi atau produksi akhir dari
perusahaan.
b) Barang dalam proses (work in process), yaitu keseluruhan barang yang
digunakan dalam proses produksi, tetapi masih membutuhkan proses
lebih lanjut untuk menjadi barang yang siap dijual (barang jadi).
c) Barang jadi (finished goods), yaitu persediaan barang-barang yang telah
selesai diproses oleh perusahaan, tetapi masih belum terjual.
d) Barang pembantu (supplies), yaitu persediaan barang-barang yang
diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak merupakan bagian atau
komponen barang jadi.
e) Persediaan

suku

cadang

(purchased/components

parts),

yaitu

persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang


diperoleh dari perusahaan lain, dimana secara langsung dapat dirait
menjadi suatu produk.

C. Fungsi Persediaan
Tujuan manajemen persediaan adalah menentukan keseimbangan antara
investasi persediaan dengan pelayanan pelanggan. Persediaan dapat melayani
beberapa fungsi yang akan menambahan fleksibilitas operasi perusahaan. Fungsi
persediaan menurut Rangkuti (2007), yaitu:
1. Fungsi Decoupling, untuk membantu perusahaan agar bisa memenuhi
permintaan langganan tanpa tergantung pada supplier.

2. Fungsi Economic Lot Sizing, persediaan ini perlu mempertimbangkan


penghematan-penghematan (potongan pembelian, biaya pengangkutan per
unit lebih murah dan sebagainya) karena perusahaan melakukan pembelian
dalam kuantitas yang lebih besar, dibandingkan dengan biaya-biaya yang
timbul karena besarnya persediaan (biaya sewa gudang, investasi, risiko dan
sebagainya)
3. Fungsi Antisipasi, untuk mengantisipasi dan mengadakan permintaan
musiman (seasonal inventories), menghadapi ketidakpastian jangka waktu
pengiriman dan untuk menyediakan persediaan pengamanan (safety stock).

D. Tujuan Persediaan
Pada prinsipnya semua perusahaan yang melaksanakan proses produksi akan
menyelenggarakan persediaan bahan baku untuk kelangsungan proses produksi
dalam

perusahaan

tersebut.

Beberapa

hal

yang

menyangkut

tujuan

menyelenggarakan persediaan bahan baku adalah:


1) Bahan yang akan digunakan untuk melaksanakan proses produksi
perusahaan tersebut tidak dapat dibeli atau didatangkan secara satu per satu
dalam jumlah unit yang diperlukan perusahaan serta pada saat barang
tersebut akan dipergunakan untuk proses produksi perusahaan tersebut.
Bahan baku tersebut pada umumnya akan dibeli dalam jumlah tertentu,
dimana jumlah tertentu ini akan dipergunakan untuk menunjang
pelaksanaan proses produksi perusahaan yang bersangkutan dalam
beberapa waktu tertentu pula. Dengan keadaan semacam ini maka bahan
baku yang sudah dibeli oleh perusahaan namun belum dipergunakan untuk
proses produksi akan masuk sebagai persediaan bahan baku dalam
perusahaan tersebut.
2) Apabila perusahaan tidak mempunyai persediaan bahan baku, sedangkan
bahan baku yang dipesan belum dating, maka proses produksi dalam
perusahaan tersebut akan terganggu. Ketiadaan bahan baku tersebut akan
mengakibatkan terhentinya pelaksanaan proses produksi pengadaan bahan
baku dengan cara tersebut akan membawa konsekuensi bertambah

tingginginya harga beli bahan baku yang dipergunakan oleh perusahaan.


Keadaan tersebut tentunya akan membawa kerugian bagi perusahaan.
3) Untuk menghindari kekurangan bahan baku tersebut, maka perusahaan
dapat menyediakan bahan baku dalam jumlah yang banyak. Tetapi
persediaan bahan baku dalam jumlah besar tersebut akan mengakibatkan
terjadinya biaya persediaan yang semakin besar pula. Semakin besarnya
biaya ini berarti akan mengurangi keuntungan perusahaan. Disamping itu,
risiko kerusakan bahan juga akan bertambah besar apabila persediaan bahan
bakunya besar (Ahyari, 2003).

E. Pengendalian Persediaan
Pengendalian persediaan bahan baku merupakan suatu kegiatan untuk
menentukan tingkat dan komposisi dari persediaan bahan baku dan barang hasil
produksi dengan efektif dan efisien.
Semakin tidak efisien pengendalian persediaan, semakin besar tingkat
persediaan yang dimiliki oleh suatu perusahan. Oleh karena itu perlu
dipertimbangkan dua aspek yaitu keluwesan dan tingkat persediaan dalam
mengendalikan persediaan.
Pengendalian persediaan merupakan serangkaian kebijakan pengendalian
untuk menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan waktu yang tepat
melakukan pesanan untuk menambah persediaan dan berapa besar pesanan yang
harus diadakan.

F. Tujuan Pengendalian Persediaan


Assauri (2000) mengemukakan bawa pengawasan persediaan bahan baku
bertujuan untuk:
1) Menjaga agar jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan yang dapat
mengakibatkan terhentinya proses produksi
2) Menjaga agar persediaan tidak berlebihan sehingga biaya yang ditimbulkan
tidak menjadi lebih besar pula.

3) Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karena


mengakibatkan biaya pemesanan yang tinggi.
Pengendalian persediaan bertujuan untuk menentukan dan menjamin
tersedianya persediaan yang tepat dalam kuantitas dan waktu yang tepat.

G. Sistem Pengendalian Persediaan


Margaretha (2014) menjelaskan 4 sistem dalam pengendalian persediaan,
yaitu:
1) Red line method
Red line method adalah pengendalian persediaan dengan cara menggambar
suatu garis merah di sekeliling bagian dalam peti/kotak tempat penyimpanan
persediaan untuk menandai titik pemesanan ulang.
2) Two-bin method
Two-bin method adalah pengendalian persediaan yang titik pemesanan ulang
dicapai jika salah satu dari dua peti penyimpanan persediaan kosong.
3) Computerized inventory control system
Computerized inventory control system adalah sistem pengendalian persediaan
dengan menggunakan komputer untuk menentukan titik pemesanan ulang dan
untuk mengatur keseimbangan persediaan.
4) Just-in-time system
Just-in-time system adalah sistem pengendalian persediaan yang produsen
mengkoordinasikan produksinya dengan pemasok sehingga bahan baku dan
komponen-komponen lain tiba dari pemasok tepat pada saat dibutuhkan dalam
proses produksi.

H. Keputusan dalam Manajemen Persediaan


Sasaran akhir dari manajemen persediaan adalah untuk meminimumkan biaya
dalam perubahan tingkat persediaan. Untuk mempertahankan tingkat persediaan
yang optimum, diperlukan jawaban atas dua pertanyaan mendasar sebagai berikut:
1) Kapan melakukan pemesanan?
2) Berapa jumlah yang harus dipesan dan kapan melakukan pemesanan kembali?

Untuk menjawab pertanyaan kapan melakukan pemesanan, dapat dilakukan


dengan tiga pendekatan, yaitu:
1) Pendekatan titik pemesanan kembali (reorder point approach)
2) Pengekatan tinjauan periodik (periodic review approach)
3) Material requitment planning (MRP)
Adapun biaya dalam keputusan persediaan terdapat lima kategori, sebagai
berikut:
a. Biaya pemesanan (ordering cost)
Biaya pemesanan (ordering cost) merupakan biaya untuk melakukan
pemesanan dan menerima barang pesanan, tidak dipengaruhi oleh jumlah
persediaan rata-rata (biaya tetap). Ordering akan semakin kecil jika jumlah
yang dipesan makin besar.
-

Ket : O = Jumlah FC untuk setiap pemesanan


N = Frekuensi pemesanan /tahun

Total Ordering Cost:

TOC = =

T = Jumlah unit yg dijual /tahun

Q = Kuantitas Pemesanan

b. Biaya Penyimpanan (Carrying cost)


Biaya yang dinyatakan dan dihitung sebesar peluang yang hilang apabila
nilai persediaan digunakan untuk investasi (Cost of capital). Carry cost
meliputi biaya gudang, asuransi, dan pajak (Cost of storage). Biaya ini
berubah sesuai dengan nilai persediaan. Carrying cost makin kecil jika
jumlah yang dipesan makin kecil.
-

Total biaya penyimpanan :

TCC = C . P . A

Ket : Q = Kuantitas Pesanan


S = Penjualan Tahunan

Persediaan Rata rata :

N = Frekuensi Pemesanan

C = Biaya Penyimpanan

A=Q/2
=(S/N)/2

P = Harga beli per unit

c. Biaya kekurangan persediaan (stock-out cost)


Adalah biaya yang terjadi apabila persediaan tidak tersedia di gudang ketika
dibutuhkan untuk produksi atau ketika langganan memintanya.
d. Biaya yang dikaitkan dengan kapasitas
Adalah biaya yang terjadi karena perubahan dalam kapasitas produksi.

e. Biaya bahan atau barang itu sendiri


Adalah harga yang harus dibayar atas item yang dibeli. Biaya ini akan
dipengaruhi oleh besarnya diskon yang diberikan oleh supplier.

Tingkat Perputaran Persediaan


Persediaan barang sebagai pos utama dari modal kerja merupakan aktiva yang
selalu dalam keadaan berputar, dimana secara terus menerus selalu mengalami
perubahan. Apabila perusahaan kurang tepat dalam menentukan jumlah investasi
dalam persediaan, maka akan berakibat ganda dalam laporan keuangan, yaitu pada
asset perusahaan dan pada profitabilitas.
Adanya over investment akan memperbesar beban bunga, memperbesar biaya
penyimpanan dan pemeliharaan di gudang, memperbesar kerugian karena
kerusakan, turunnya kualitas, keusangan dan semuanya ini menentukan
profitabilitas. Sebaliknya adanya under investment mempunyai efek yang menekan
keuntungan juga, karena kekurangan raw material perusahaan tidak akan bekerja
dengan full-capacity, sehingga capital asset dan direct labor tidak dapat
diberdayakan dengan seoptimal mungkin. Hal ini tentunya menyebabkan tingkat
profitabilitas tidak maksimal.
Dengan demikian, salah satu pendekatan yang bias dipakai untuk mengetahui
apakah jumlah investasi dalam persediaan termasuk dalam kategori over investment
atau under investment, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
1. Inventory turnover =

2. Average days inventory =


3. Raw material turnover =

360

4. Work in process turnover =

Semakin tinggi turnover persediaan suatu perusahaan, berarti semakin cepat


perputaran persediaan tersebut. Sebaliknya, semakin rendah turnover persediaan,
berarti semakin lambat perputaran persediaan tersebut.

I. Model-model Tingkat Persediaan Optimal


A) Persediaan Pengaman (Safety Stock)
Safety stock atau disebut juga persediaan besi (iron stock) bermakna persediaan
minimum yang harus ada dalam perusahaan untuk menjaga kontinuitas perusahaan.
Untuk menentukan persediaan pengaman ini dipergunakan alanilisis statistic
dengan melihat dan memperhitungkan penyimpangan-penyimpangn yang sudah
terjadi antara perkiraan bahan baku dengan pemakaian sesungguhnya sehingga
dapat diketahui besarnya standar dari penyimpangan tersebut. Manajemen
perusahaan akan menentukan seberapa jauh penyimpangan-penyimpangan yang
terjadi tersebut agar dapat ditolelir. Jika persediaan pengaman terlalu banyak akan
mengakibatkan perusahaan menanggung biaya penyimpanan terlalu mahal. Oleh
keran itu, perusahaan harus dapat menentukan besarnya safety stock secara tepat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya safety stock adalah :
1.
2.
3.
4.

Sulit/tidaknya bahan/barang tersebut diperoleh.


Kebiasaan pemasok menyerahkan barang/bahan.
Besar/kecilnya jumlah barang/bahan yang dibeli setiap saat.
Sering/tidaknya mendapatkan pemesanan mendadak.

Untuk menaksir besarnya safety stock, dapat menggunakan rumus berikut ini:
Safety stock = (Pemakaian Maksimum Pemakaian Rata-rata) Lead Time

B) Metode ABC
Merupakan pendekatan sederhana dalam manajemen persediaan dengan ide
dasar adalah membagi persediaan menjadi tiga atau lebih kelompok. Dibalik ide ini
adalah bahwa perusahaan dapat menggunakan bahan baku yang relatif mahal (high
tech) dan beberapa bahan baku yang relatif murah juga. Misalnya kelompok A :
tingkat persediaan dibiarkan rendah, C: karena bahan mentah relatif murah, maka
tingkat persediaan tinggi, B: rata-rata.
Sudana (2011) mengatakan bahwa klasifikasi ABC merupakan konsep untuk
mengendalikan persediaan, yang mana persediaan barang yang mahal memerlukan
pengendalian yang lebih ketat dibandingkan dengan persediaan yang murah. Pada
umumnya, perusahaan memiliki jenis persediaan yang sangat beragam ditinjau dari
harga maupun kontribusinya terhadap penjualan. Tidak ada satu metode

10

manajemen persediaan pun yang diterapkan untuk semua jenis persediaan. Oleh
karena itu, penerapan suatu metode manajemen persediaan terntentu perlu
disesuaikan dengan jenis persediaannya. Agar manajemen persediaan dapat
dilakukan dengan tepat, persediaan tersebut perlu dikelompokkan berdasarkan
harga

dan

kontribusinya

terhadap

penjualan.

Salah

satu

cara

untuk

mengelompokkan persediaan dikenal dengan nama klasifikasi ABC.


Prinsip manajemen persediaan menerapkan klasifikasi ABC adalah semua
persediaan harus bias dimasukkan ke dalam salah satu kelompok persediaan, yaitu:
a) Kelompok A, merupakan persediaan yang harga per satuannya tinggi dan
kontribusi terhadap penjualan juga tinggi.
b) Kelompok B, merupakan persediaan yang harganya lebih rendah dari
kelompok A dan kontribusi terhadap penjualan sedang.
c) Kelompok C, merupakan persediaan yang harganya rendah dan kontribusinya
terhadap penjualan juga rendah.

Grafik di atas menunjukkan bahwa sekitar 15% komponen persediaan yang


termasuk kelompok A nilainya mencapai 70% dari nilai total persediaan, 30%
komponen persediaan berikutnya adalah termasuk dalam kelompok B yang nilainya
mencapai 20% dari nilai total persediaan, dan lebih dari 55% komponen persediaan
termasuk dalam kelompok C dengan nilai hanya 10% dari nilai total persediaan.
Berdasarkan pengelompokan tersebut, ada sebagian kecil kelompok
persediaan yang nilainya merupakan sebagian besar dari nilai total persediaan, dan
sangat beralasan bagi perusahaan untuk melakukan pengendalian lebih ketat atas
persediaan tersebut. Untuk pengendalian kelompok A, perusahaan dapat

11

menggunakan metode fixed order quantity, yaitu model EOQ. Dengan


menggunakan model EOQ, perusahaan dapat mempertahankan jumlah persediaan
yang paling ekonomis, sehingga menghindari investasi dalam persediaan yang
terlalu besar nilainya.
Persediaan yang termasuk dalam kelompok C dapat dikendalikan dengan
menggunakan metode fixed period order. Perusahaan dapat melakukan pemesanan
misalnya setiap semester atau sekali setahun, jumlah yang dipesan tergantung
pemakaian. Jika pemakaian dalam satu semester meningkat, maka jumlah yang
dipesan juga akan bertambah banyak dan sebaliknya. Contohnya seperti pengadaan
berbagai macam mur atau baut pada sebuah bengkel.
Persediaan yang termasuk dalam kelompok B merupakan komponen
perusahaan yang memiliki karakteristik antara kelompok A dan C. untuk
pengendalian persediaan yang termasuk dalam kelompok B, perusahaan dapat
menggunakan kombinasi antara fixed order quantity dan fixed periode order,
tergantun apakah karakteristik persediaan mendekati kelompok A atau C.
Dalam penerapan klasifikasi ABC, perlakuan pengendalian persediaan untuk
masing-masing kelompok berbeda-beda. Oleh karena itu dalam melakukan
klasifikasi persediaan diperlukan informasi yang cukup dan akurat, agar tidak
terjadi kesalahan. Kesalahan dalam klasifikasi akan berakibat kesalahan pula dalam
perlakuan masing-masing kelompok persediaan, sehingga persediaan tidak dapat
dijalankan secara efektif dan efisien.

C) Mengelola Persediaan dengan Menggunakan Turunan Permintaan


Model ini digunakan untuk mengelola persediaan yang menggunakan
turunan permintaan, artinya permintaan untuk jenis persediaan tergantung pada
kebutuhan akan jenis persediaan lainnya.
Sebagai contoh : permintaan produk jadi tergantung pada permintaan
pelanggan, program pemasaran dan faktor lain yang mempengaruhi penjualan.
Sehingga permintaan persedian bahan mentah akan ditentukan oleh jumlah produk
jadi yang direncanakan (sangat erat kaitannya antara sales dan inventory). Terkait

12

dengan masalah ini, maka perlu dibahas mengetai Material Requirement Planning
(MRP) dan Just in Time (JIT).
a) MRP
Adalah seperangkat prosedur yang digunakan untuk menentukan tingkat
persediaan untuk permintaan yang tergantung jenis persediaannya
seperti raw material atau work in process. Ide dasarnya adalah ketika
tingkat persediaan barang jadi ditentukan maka dapat ditentukan berapa
tingkat persediaan barang setengah jadi yang harus disediakan juga agar
kebutuhan barang jadi dapat terpenuhi. Dari sini dapat pula ditentukan
berapa persediaan bahan mentah yang harus dimiliki perusahaan.
b) JIT
Sering disebut kanban sistem adalah pendekatan modern untuk
mengelola persediaan yang dipengaruhi besarnya permintaan barang
jadi yang dapat meminimumkan persediaan perusahaan. Hasil dari JIT
adalah bahwa persediaan akan dipesan secara periodic dan lebih sering
Pendekatan JIT dipelopori oleh Toyota di Jepang. Toyota
menjaga persediaan suku cadang seminimum mungkin dengan hanya
memesan persediaan sesuai kebutuhan. Maka pengiriman suku cadang
ke pabrik dilakukan sepanjang hari dengan interval sependek 1 jam.
Toyota mampu sukses beroperasi dengan persediaan yang rendah
semacam itu karena Toyota telah menentapkan rencana untuk menjami
pemogokan, kemacetan lalu lintas, atau bahaya lain yang tidak akan
menghentikan aliran suku cadang dan menghambat produksi. Banyak
perusahaan di Amerika Serikat belajar dari contoh Toyota. Tiga puluh
tahun yang lalu Ford selalu memutar persediaannya sebanyak 5 kali
dalam setahun, sekarang mereka memutarnya lebih dari 20 kali.
Perusahaan juga menemukan bahwa mereka dapat mengurangi
persediaan barang jadi mereka dengan memproduksi barang sesuai
dengan pesanan. Misalnya, Dell Computer menemukan bahwa mereka
tidak perlu sejumlah stok

barang jadi. Pelanggannya dapat

menggunakan internet untuk menentukan fitur apa yang mereka

13

inginkan untuk personal computer (PC) mereka. Komputer kemudian


dirangkai sesuai dengan pesanan dan dikirimkan kepada pelanggan.
Tujuan dasar metode JIT adalah untuk menghasilkan atau
menerima item yang diminta pada saat dibutuhkan atau tepat waktu, atau
dengan perkataan lain mengurangi persediaan yang menghasilkan
kualitas produk dan flesibilitas yang berkesinambungan. Oleh karena
itu, dalam sistem JIT semua jenis persediaan akan dikurangi sampai
batas minimum (jika memungkinkan sampai pada titik tidak ada
persediaan sama sekali), namun walaupun persediaan barang atau bahan
tidak dapat dikurangi sampai titik nol, harus dilakukan secara ketat,
sehingga persediaan dapat diminimalkan seminimal mungkin. Hasil
pengurangan biaya persediaan merupakan hasil paling nyata dari sistem
JIT, sehingga memberikan hasil perbaikan dalam produktivitas, kualitas
produk, dan fleksibilitas.
Proses produksi yang menggunakan pengawasan persediaan JIT
idealnya adalah:
a) Membutuhkan sistem informasi perediaan dan produksi yang
tepat.
b) Pembelian dengan efisiensi tinggi.
c) Pemasok yang dapat diandalkan.
d) Sistem pengelolaan yang efisien.
Perbedaan EOQ dengan JIT terletak pada jumlah persediaan yang
paling minimal yang harus disediakan. Dalam sistem JIT persediaan akan
dikurangi sampai titik minimum yang mendekati nol. Disamping itu,
dalam sistem JIT tidak dibenarkan biaya pemesanan yang bersifat tetap.
Mereka yang mendukung pendekatan JIT berpendapat bahwa persediaan
yang banyak tidak akan memecahkan masalah, tetapi hanya
menyamarkan atau menutupi masalah. Kebanyakan dari pengentian
produksi terjadi karena salah satu dari tiga alasan : kegagalan mesin,
kerusakan bahan, dan ketidaksertaan bahan baku, sehingga memiliki
persediaan merupakan salah satu solusi tradisional atas semua maslah

14

tersebut. Namun, JIT dapat memecahkan ketiga masalah tersebut dengan


menekankan pada pemeliharaan total dan pengendalian mutu total serta
membina hubungan baik dengan pemasok.
Untuk menghitung JIT dapat menggunakan rumus :
X1 =

+1+2 . 2

Ket : X1 = Unit produk yang harus dijual untuk

mencapai laba tertentu.


I = Laba Sebelum Pajak (EBT)
F1 = Total Biaya Tetap
X2 = Jumlah kualitas non unit
V2 = Biaya Variabel Non Unit
V1 = Biaya Variabel Per Unit
P = Harga Jual Per Unit

D) Metode EOQ (Economic Order Quantity)


EOQ berarti jumlah unit barang/bahan yang harus dipesan setiap kali
mengadakan pemesanan agar biaya-biaya yang berkaitan dengan pengadaan
persediaan minimal. EOQ juga bermakna jumlah unit pembelian yang paling
optimal. Metode ini dapat digunakan baik untuk barang-barang yang dibeli maupun
yang diproduksi sendiri. EOQ adalah nama yang biasa digunakan untuk barangbarang yang dibeli, sedangkan ELS (economic lot size) digunakan untuk barangbarang yang diproduksi secara internal.
Perbedaan pokoknya adalah bahwa, untuk ELS biaya pemesanan (ordering
cost) meliputi biaya penyiapan pesanan untuk dikirim ke pabrik dan biaya
penyiapan mesin-mesin (setup cost) yang diperlukan untuk mengerjakan pesanan.
Metode EOQ digunakan untuk menentukan kualitas pesanan persediaan yang
meminimumkan biaya langsung penyimpanan persediaan dan biaya kebalikannya
(inverse cost) pesanan persediaan (Handoko, 2000)
Menurut Husnan (2006), model Economic Order Quantity adalah model
yang sering dibicarakan dalam berbagai buku teks. Model ini mendasarkan
pemikiran yang sama dengan waktu kita membicarakan model persediaan pada
pengelolaan kas. Pemikirannya adalah:
a) Jika perusahaan memiliki rata-rata persediaan yang besar, untuk jumlah
kebutuhan yang sama daam satu periode, berarti perusahaan tidak perlu

15

melakukan pembelian terlalu sering. Jadi mengemat biaya pembelian


(pemesanan).
b) Namun apabila perusahaan membeli dalam jumlah besar sehingga bias
menghemat pembelian, perusahaan akan menanggung persediaan dalam
jumlah yang besar pula. Hal ini berarti, menanggung biaya penyimpanan
terlalu tinggi.
c) Karena itu, perlu dicari jumlah yang membuat biaya persediaan terkecil.
Biaya persediaan adalah biaya persediaan ditambah biaya pesanan.
Sudana (2011) mengemukakan bahwa dalam model EOQ biaya persediaan
yang dipertimbangkan adalah biaya penyimpanan dan biaya pemesanan. Biaya
penyimpanan persediaan sama dengan biaya pemesanan persediaan. Total biaya
persediaan sama dengan total biaya penyimpanan persediaan ditambah dengan total
biaya pemesanan persediaan.
Total biaya persediaan (TC) = CP (Q/2)+F(S/Q)
TC = C x P(Q/2) + FSQ

Jika persamaan tersebut dideferensial terhadap Q dan hasilnya sama dengan


nol, maka akan diperileh Q yang optimal, yaitu jumlah pesanan dengantotal biaya
yang minimal atau dikenal dengan EOQ.
EOQ dapat dihitung menggunakan formula:
2
=

Ket : D = Penggunaan atau permintaan yang


diperkirakan per periode waktu
S = Biaya Pesanan
C = Biaya Penyimpanan per unit per tahun

Kebaikan EOQ:

Q = Kuantitas Pemesanan

a) Menyeimbangkan biaya persiapan, biaya pemesanan dan biaya


penyimpanan yang memaksimukan laba atau meminimumkan biaya.
b) Saat biaya persiapan tinggi jadi lebih baik buat produk dengan jumlah
besar.
c) Sangat baik saat mengatasi masalah yang berkaitan dengan ketidakpastian.
EOQ adalah model yang meminimumkan Total Inventory Cost (TIC) atau total
biaya persediaan dan untuk menyederhanakan perhitungan persediaan atau pesanan

16

barang yang optimal. Untuk menyederhanakan perhitungan persediaan tersebut,


dalam model EOQ diperlukan asumsi. Asumsi dari model EOQ ini adalah:
1) Biaya yang relevan untuk perhitungan adalah ordering cost dan carrying
cost.
2) Pesanan untuk mengganti persediaan barang yang dijual selalu dating pada
awal bulan.
3) Untuk sementara stock out tidak diperbolehkan.
4) Permintaan barang dapat diketahui dengan tingkat pemakaian atau
pengeluaran tetap.
Berdasarkan asumsi tersebut, masalah biaya atas persediaan barang akan
ditentukan oleh berapa banyak barang yang dipesan, biaya pesanan, biaya
pemeliharaaan dan biaya penyimpanannya. Banyaknya barang yang dipesan antara
satu pesanan dengan pesanan lain akan sama, dan ditentukan oleh model.
Sedangkan pemakaian atau permintaan barang yang bersifat tetap, menyebabkan
pola tingkat persediaan menyerupai gigi gergaji.
Perilaku ordering cost dan carrying cost ini dapat digambarkan dalam grafik
sebagai berikut:

Besarnya carrying cost adalah rata-rata tingkat persediaan barang dikalikan


dengan biaya pemeliharaan dan penyimpanan per unit barang dalam setahun.
Sedangkan besarnya ordering cost per tahun adalah pesanan dalam setahun
dikalikan dengan biaya pesanan untuk setiap kali pesan barang. Sehingga total
biaya persediaan barang pertahun adalah jumlah dari carrying cost dan ordering
cost.
Model yang diterapkan berikut ini dapat dilaksanakan apabila kebutuhankebutuhan permintaan pada masa yang akan dating memiliki jumlah yang konstan
dan relatif memiliki fluktuasi perubahan yang sangat kecil.

17

Apabila jumlah persediaan telah diketahu, dapat diasumsikan bahwa jumlah


permintaan dan masa tenggang merupakan bilangan yang konstan dan diketahui.
Berdasarkan asumsi ini dapat dihitung dengan mudah reorder point.
Mempertajam pengertian dan analisis EOQ diberikan contoh kasus sebagai
berikut: Perusahaan ABC akan melakukan pemesanan material sebanyak 1.200 unit
dengan harga Rp. 1.000 per unit. Total biaya pemesanan sebesar Rp. 15.000 untuk
setiap kali pemesanan. Biaya penyimpanan diketahui sebesar 40% dari harga beli.
2

2 15.000 12.000

0,4 1.000

= 300 unit

Untuk membuktikan bahwa persediaan barang pada tingkat economic orde


quantity ini total biayanya paling minimum, dapat ditunjukkan dengan analisis pada
tabel berikut ini:
Tabel Analisis EOQ
Frekuensi pembelian (1)
Berapa bulan sekali
pesanan dilakukan (2)
Jumlah unit setiap kali
pemesanan (3)
Nilai inventory (4) = Rp.
1000 (3)
Nilai inventory rata-rata
(5) = (4)/2
Penyimpanan setahun (5)
= 40% x (5)
Pesanan setahun (7) = (1)
x Rp. 15000
Total biaya seluruhnya (8)
= (6) + (7)

1x

2x

3x

4x

6x

10 x

12 x

12

1,2

1.200

600

400

300

200

120

100

Rp. 1.200.000

600.000

400.000

300.000

200.000

180.000

100.000

600.000

300.000

200.000

150.000

100.000

90.000

50.000

240.000

120.000

80.000

60.000

40.000

36.000

20.000

15.000

30.000

45.000

60.000

90.000

150.000

180.000

255.000

150.000

125.000

120.000

130.000

186.000

200.000

Sumber : Margaretha (2014 : 158)


Hubungan antara Biaya Pesanan, Biaya Penyimpanan dan Jumlah biaya
seluruhnya dalam satu periode

18

Sumber : Margaretha (2014:158)


Tabel analisis EOQ menunjukkan bahwa tingkat pesanan material sebanyak
1.200 atau dengan sekali pesan memiliki biaya terbesar. Tingkat pesanan 300
adalah pesanan yang memiliki biaya terkecil. Persediaan material sebesar 300 unit
ini adlah persediaan paling minimum atau pada tingkat economic order quantity.
E) Reorder Point (ROP)
Untuk melengkapi uraian mengenai safety stock dan economic order quantity
perlu diuraikan mengenai reorde point. Reorde pont adalah saat/titik dimana
pemesanan harus dilakukan lagi untuk mengisi persediaan. ROP juga dapat
digunakan untuk menentukan waktu tunggu yang optimal apabila jangka waktu
antara pemesanan bahan baku dengan datangnya bahan ke dalam perusahaan
cenderung berubah-ubah, sehingga risiko perusahaan dapat ditekan seminimal
mungkin.
Model persediaan sederhana menggunakan asumsi bahwa penerimaan sebuah
pesanan akan diterima dengan segera jika tingkat persediaan bahan di dalam
perusahaan dalam titik nol. Bagaimanapun waktu antara penempatan dan
penerimaan pesanan disebut dengan waktu tunggu (lead time). Margaretha (2014)
memperjelas pengerian lead time yaitu waktu yang diperlukan sejak dimulainya
pelaksanan usaha-usaha yang diperlukan untuk memesan barang/bahan sampai
barang/nahan tersebut diterima dan ditempatkan dalam gudang perusahaan.
Dalam penentuan waktu dikenal dua macam biaya, yaitu:

19

1. Biaya penyimpanan tambahan, yaitu biaya yang harus dibayar karena


adanya surplus bahan baku.
2. Biaya kekurangan bahan, yaitu biaya yang harus dibayar karena kekurangan
bahan untuk keperluan proses produksi (biaya untuk bahan baku pengganti).
Agar pembelian bahan yang sudah ditetapkan dalam EOQ tidak mengganggu
kelancaran kegiatan produksi, maka diperlukan waktu pemesanan kembali bahan
baku. Faktor-faktor yang mempengaruhi reorder point adalah:
1. Lead time
2. Tingkat pemakaian bahan baku rata-rata persatuan waktu tertentu.
3. Persediaan pengaman (safety stock)
Berdasarkan ketiga faktor tersebut maka reorder point dapat dihitung menggunakan
rumus berikut ini:
Ket : LD = Lead Time

= ( ) +

AU = Average usage = pemakaian rata-rata


SS = Safety Stock

Perhitugan ROP ini mengikutsertakan hasil perhitungan safety stock untuk


mengantisipasi ketidakpastian dari titik pemesanan kembali. Hal ini untuk
meminimalisasikan kemungkinan terjadinya kehabisan persediaan sehingga titik
pemesanan kembali mengakumulasi jumlah persediaan pengaman sebagai
persediaan ekstra yang akan disimpan sebagai jaminan atas fluktuasi permintaan.
Mempertajam pemahaman ROP diberikan ilustrasi. Sebuah perusahaan
nasional membutuhkan persediaan sebanyak 3.600 unit setiap tahun. Bahan baku
tersebut diperoleh secara impor dengan harga USD30 perunit. Biaya penyimpanan
25% pertahun dari harga beli persediaan. Biaya pemesanan variabel sebesar
USD125 per pesanan.
Berdasarkan informasi tersebut, besarnya jumlah pesanan ekonomis adalah:
(2)

EOQ =

(2$1253.600)

15

= 90.000
= 300 unit per pesanan
Frekuensi pesanan dalam satu tahun = D/EOQ atau 3.600/300 = 12 kali. Jika
satu tahun 360 hari, maka pemesanan dilakukan setiap 30 hari (360/12).
Jika perusahaan membutuhkan waktu delapan hari (lead time) untuk
melakukan pesanan sampai persediaan yang dipesan diterima di perusahaan, dan
agar perusahaan tidak kehabisan persediaan, maka perusahaan sudah harus
melakukan pemesanan kembali (reorder) ketika jumlah persediaan mencapai 80

20

unit, dengan perkataan lain reorder point = lead time x pemakaian persediaan
perhari
ROP

= LD x AU
= 8 x 300/30
= 80 unit
Contoh tersebut dalam kondisi yang bersifat pasti, ketika pesanan datang,
jumlah pesanan adalah sama dengan jumlah pesanan yang ekonomis (EOQ),
pemesanan harus dilakukan sebelum persediaan habis, karena perusahaan harus
selalu memiliki persediaan untuk memperkecil risiko kehabisan persediaan, dan
dibutuhkan waktu untuk melakukan pemesanan sampai barang yang dipesan tiba di
perusahaan. Dengan asumsi bahwa jangka waktu pemesanan (lead time) dan
pemakaian persediaan adalah pasti, maka pesanan persediaan akan datang tepat
ketika jumla persediaan adalah habis atau nol.
Gambar EOQ dengan ROP

21

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manajemen persediaan sangat penting dalam sebuah perusahaan.
Merencanakan jumlah persediaan untuk di simpan di gudang hingga melakukan
pengontrolan terhadap barang persediaan yang akan digunakan harus dapat di atur
dengan baik sehingga tujuan dapat tercapai. Salah satu alasan perusahaan agar
memiliki persediaan adalah untuk memenuhi permintaan pelanggan, misalnya
menepati tanggal pengiriman.
Persediaan sebagai kekayaan perusahaan, memiliki peranan penting dalam
operasi bisnis. Persediaan memiliki dua karakteristik penting, yakni: Persediaan
tersebut merupakan milik perusahan dam Persediaan tersebut siap dijual kepada
para konsumen.
Pengendalian persediaan sangat penting dalam sebuah perusahaan karena
jika persediaan terlalu banyak maka biaya penyimpanan dan pemeliharaan pun akan
meningkat dan resiko kerusakan pun akan meningkat sehingga menyebabkan
kualitas barang akan menurun. Dan jika jumlah persediaan terlalu sedikit maka
akan menyebabkan proses produksi dapat terganggu dan pesanan tidak daapat
terpenuhi.
Untuk mengendalikanv tingkat persediaan sampai pada tingkat optimal,
dapat digunakan berbagai model diantaranya : Persediaan Pengaman (Safety Stock),
Metode ABC, Just In Time, Metode EOQ (Economic Order Quantity), dan Reorder
Point (ROP).

22

DAFTAR PUSTAKA

Arman Hakim, Nasution. 2003. Perencanan dan Pengendalian Produksi, Edisi


Pertama, Guna Widya, Surabaya.
Assauri, 2000. Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi Keempat. Jakarta.
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Ahyari, Agus. 2003. Manajemen Produksi & Perencanaan Sistem. Produksi Buku
I. BPFE. Yogyakarta.
Handoko, Hani T. 2000. Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi Kedua. PT
Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
I Made, Sudana. 2011. Manajemen Keuangan Perusahaan Teori dan Praktek.
Erlangga. Jakarta.
Margaretha, Farah. 2014. Dasar-dasar Manajemen Keuangan, PT. Dian Rakyat,
Jakarta.
Rangkuti, Freddy. 2004. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, PT.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
_______. 2007. Strategi Promosi Yang Kreatif dan Analisis Kasus Integrated
Marketing Communciation, PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Suad Husnan dan Eny Pudjiastuti, 2006. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan,
Edisi 5, UPP STIM YKPN, Yogyakarta.

23