Anda di halaman 1dari 18

VERMES DAN MOLLUSCA

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Faza Haitami
: B1J013067
: IV
:3
: Ria Cahya Lani

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Identifikasi adalah mengenali dan mencari mengenali ciri-ciri taksonomik
individu yang beraneka ragam dan memasukkannya dalam suatu takson. Prosedur
identifikasi berdasarkan pemikiran yang bersifat deduktif. Pengertian identifikasi
berbeda sekali dengan pengertian klasifikasi. Identifikasi berhubungan dengan ciriciri taksonomik dalam jumlah sedikit (idealnya satu ciri), akan membawa spesimen
kedalam satu urutan kunci identifikasi; sedangkan klasifikasi berhubungan dengan
upaya mengevaluasi jumlah besar ciri-ciri (Indarmawan, 2010).
Klasifikasi adalah penataan hewan-hewan ke dalam kelompok yang
didasarkan atas kesamaan dan hubungan mereka (Mayr, 1982). Identifikasi memiliki
arti penting bila ditinjau dari segi ilmiahnya, sebab seluruh urutan pekerjaan
berikutnya sangat tergantung kepada hasil identifikasi yang benar dari suatu spesies
yang sedang diteliti. Peranan buku kunci identifikasi dalam melakukan identifikasi
adalah mutlak diperlukan (Saanin, 1984). Pengelompokkan makhluk hidup
dibedakan menjadi dua kelompok berdasarkan hubungan kekerabatannya, yaitu in
group dan out group. In group adalah kelompok organisme yang sedang dikaji. Out
group adalah kelompok organisme yang sedang tidak dikaji namun memiliki
kekerabatan yang dekat dengan kelompok organisme yang sedang dikaji (Simpson,
1961).
Klasifikasi makhluk hidup bertujuan untuk membantu dalam mengenali atau
mempelajari makhluk hidup yang begitu banyak dan beraneka ragam sifat serta ciricirinya. Manfaat klasifikasi adalah mengetahui jenis-jenis makhluk hidup dan
hubungan didalamnya sehingga lebih mudah diketahui kekerabatan yang beraneka
ragam. Makhluk hidup yang diklasifikasikan dalam satu kelompok atau takson
tertentu memiliki persamaan-persamaan sifat dan ciri-ciri (Kottelat et al., 1993).
Pentingnya karakter morfologis

adalah ditimbang dalam hal nilai-nilai

numerik dan dirumuskan dalam bentuk matriks. Memperoleh data dari spesimen
mempelajari berbagai data yang sedang ditabulasi dan digunakan untuk phenogram
konstruksi dengan menggunakan MVSP perangkat lunak. Pengaruh lingkungan
seperti ketinggian, luas permukaan dan beberapa aspek ekologi sangat signifikan

terhadap perubahan morfologi, fisiologi. Sehingga nantinya terjadi variasi spesies


dan diferensiasi tempat tinggal dari menetas hingga anakan (Dewi et al, 2011)
Analisis kekerabatan dapat dilakukan dengan dengan beberapa metode,
diantaranya adalah metode fenetik dan metode filogenetik. Pendekatan fenetik
taksonomi yang dilakukan melalui pengelompokkan organisme berdasarkan
kemiripan karakter fenotip, yang mungkin dapat berhubungan atau tidak
berhubungan dengan pengelompokkan secara evolusioner (Widiyadi, 2009). Analisis
ini tidak memerlukan pengetahuan mengenai hubungan evolusinya. Kelemahan dari
metode ini adalah sulit membedakan karakter yang terlihat sama atau menunjukan
kemiripan.
B. Tujuan
Tujuan praktikum acara Vermes dan Moluska kali ini, antara lain :
1. Mengenal beberapa anggota Phylum Vermes dan Moluska
2. Mengetahui beberapa karakter penting untuk identifikasi dan klasifikasi anggota
Phylum Vermes dan Moluska.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


Identifikasi spesimen biologi idelanya mengguanakan perbandingan
langsung dengan spesimen asli. Pendekatan perbandingan dapat dikerjakan dengan
mudah apabila tipe local spesimen diketahui secara akurat, spesimen sudah
dipersiapkan dengan baik dan deskripsi spesies mudah di akses. Kekuatan
identifikasi dari kelompok organisme yang setipe menggunakan pernyataan
mengenai karakter mofologi yang mencolok, dikenal sebagai kunci identifikasi,
pertama kali disadari oleh Lamarck (Linzey, 1993).
Ada berbagai cara untuk menyusun sebuah kunci. Susunan yang paling
praktis adalah kunci dengan deskripsi umum dan singkat yang disusun secara
berpasangan (dikotom). Kunci ini berisi karakter morfologi dan dapat digunakan
untuk memilih satu diantara dua kemungkinan yang ada. Jika spesimennya sangat
unik, biasanya salah satu diantara dua pilihan deskripsi yang diberikan kunci akan
cocok. Kunci identifikasi merupakan alat bantu yang sangat penting dalam
taksonomi. Sebuah spesimen yang unik atau menyimpang dari karakteristik umum
akan sulit teridentifikasi oleh kunci yang bersifat umum (Jasin, 1989).
Hasil identifikasi dapat divalidasi melalui analisis hubungan kekerabatan.
Pengertian kekerabatan yaitu suatu gambaran hubungan antar organisme, baik yang
hidup dan punah. Kekerabatan dibedakan menjadi filogenetik dan fenetik.
Kekerabatan filogenetik didasarkan pada jumlah karakter yang diturunkan pada
masing-masing takson dan digambarkan dalam bentuk pohon/filogram. (Linzey,
1993). Penentuan kekerabatan filogenetik berhubungan erat dengan evolusi dan
mutlak diperlukan fosil yang dapat memberikan gambaran hubungan antara suatu
takson dengan takson lain. Kekerabatan filogenetik sulit dipelajari tanpa tersedianya
fosil yang representatif tersebut. Fenogram merupakan diagram dalam bentuk
dendrogram yang menunjukkan kesamaan fenetik antar kelompok organisme
(populasi, tanaman kompleks, taksa). Penentuan kekerabatan fenetik dapat dilakukan
secara kualitatif dan kuantitatif. Kekerabatan fenetik secara kualitatif umumnya
dengan membandingkan persamaan dan perbedaan suatu ciri-ciri taksonomik yang
dimiliki oleh masing-masing takson (Walter, 1959).

Annelida adalah filum luas yang terdiri dari cacing bersegmen, dengan sekitar
15.000 spesies modern, antara lain cacing tanah, pacet dan lintah. Annelida
ditemukan di sebagian besar lingkungan basah, seperti air tawar dan di laut. Panjang
anggotanya mulai dari di bawah satu milimeter sampai tiga meter. Annelida
dikelompokkan menjadi tiga kelas yaitu Polychaeta, Oligochaeta, dan Hirudinea.
Berikut ciri-ciri Annelida :
Bentuk tubuh bulat panjang, bersegmen segmen.
Dikenal juga sebagai Annulata ( cacing bersegmen ).
Setiap segmen dipisahkan oleh septum / sekat
Bersifat metameri ( antara segmen yang satu dengan yang lainnya sama baik
bentuk luar maupun alat alat tubuhnya.
Memiliki sistem saraf.
Reproduksi secara seksual dan aseksual, termasuk hewan hermaprodit.
Mempunyai rongga tubuh sejati.
Bersifat bebas dan bersifat parasit.
Memiliki tiga lapisan penyusun tubuh yaitu endoderma, mesoderma, ektoderma.
Dinding luar kantong melekat pada ektoderma, disebut lapisan somatik dan
dinding dalamnya melekat pada endoderma disebut lapisan splanknik.
Memiliki otot yang terdiri dari otot melingkar ( sirkuler ) dan otot memanjang
(longitudinal).
Mollusca (Hewan Bertubuh Lunak) memilki ciri-ciri sebagai berikut :
1.

Tubuhnya lunak, tidak beruas-ruas, umumnya dilindungi cangkang

2.

Mempunyai kelenjar lendir sehingga banyak mengeluarkan lender

3.

Triploblastik selomata

4.

Habitatnya berada di laut, air tawar, air payau dan daratan.

5.

Tubuh terdiri atas tiga bagian utama, yaitu kaki, massa visceral, dan
mantel (dapat berupa cangkang atau cangkok)

6.

System syaraf terdiri atas cincin saraf, memiliki esophagus dengan


serabut saraf yang menyebar

7.

System pencernaannya lengkap, terdiri atas mulu, esophagus, lambung, usus


dan anus.
Aschelminthes dibagi menjadi dua subfilum yaitu Trochelminthes dan

subfilum Nemathelminthes. Pada Phylum Ashelminthes, bentuk umum agak panjang

dan silindris terutama kelompok Nematoda. Tidak mempunyai bentuk kepala yang
nyata. Ciri khas Aschelminthes sebagai berkiut:
1. Tubuh dilindungi lapisan cuticula scleroprotein, pada beberapa hewan berupa
cangkang
2. Saluran pencernaan lengkap
3. Susunan pernafasan dan peredaran darah tidak ada, karena merupakan hewan
air yang sangat kecil
4. Protonefhridia kadang-kadang ada (Anderson, 1998)
Platyhelminthes mencakup lebih dari 20.000 spesies dan merupakan filum
hewan terbesar keempat setelah arthropoda, moluska dan chordata, selain itu,
platyhelminthes memainkan peran kunci dalam hipotesis mengenai bauplan
evolution, terutama asal simetri bilateral. Platyhelminthes dinamai oleh ahli zoologi
Jerman Karl Gegenbaur (1859), guru dan rekan kerja dari Ernst Haeckel, tahun yang
sama bahwa The Origin of Species diterbitkan. Platyhelminthes terdiri dari dua kata
Yunani platy, yang berarti "datar", dan cacing berarti cacing; dengan demikian, itu
adalah terjemahan langsung dari nama vernakular mereka, "cacing pipih". Praktikum
vermes dan moluska kali ini memakai preparat Tubifex sp. dan Dugesia sp. sebagai
perwakilan vermes. Dugesia adalah genus kaya spesies dan mencakup sekitar 75
spesies dengan distribusi lebar, yaitu Afrotropical, Palearctic, Oriental, dan wilayah
biogeografi Australia. Dari 75 spesies ini, lebih dari 20 ada di Eropa dan di daerah
Mediterania, menunjukkan radiasi macam genus di daerah ini. Namun, beberapa
faktor membuat jumlah dan distribusi spesies dugesia tidak menentu di Mediterania.
Pertama, anggota Dugesia secara eksternal sangat mirip. Kedua, banyak dari
populasi Dugesia triploid dan bereproduksi secara aseksual dengan pembelahan
(bentuk fissiparous). Dikarenakan tidak berkembanganya sistem reproduksi atau
corpulatory apparatus yang merupakan satu-satunya sumber karakter taksonomi
diagnostik maka pekerjaan terkait spesies dari genus Dugesia tidak mungkin berjalan
(Marta, 2012).
Dugesia sp. tinggal di air dangkal, bening dan bergerak pada substrat mulai
dari kerikil, berbatu dan batu-batu hingga kayu dan vegetasi air dengan suhu 15-20oC
dan pH 7-8. Spesies yang termasuk genus Dugesia menunjukkan dua keadaan untuk
dua sifat yaitu rangkaian saluran ejakulasi dan pembukaan saluran ejakulasi,
rangkaian saluran ejakulasi adalah pusat atau ventral, dan pembukaan saluran
ejakulasi yaitu terminal atau subterminal. Sebagian besar spesies ditandai dengan:

(1) outer bilayered pharyngeal musculature; (2) adanya penguatan ectal; (3) bukaan
simetris saluran telur; (4) bukaan posterior vasa deferentia; (5) bentuk kerucut dari
papilla; (6) program pusat ejakulasi tersebut; (7) pembukaan terminal dari saluran
ejakulasi; (8) adanya struktur ketat terkait dengan penial apparatus seperti lipatan
penial, adenodactyls dan katup penial (Stocchino, 2005). Berikut klasifikasi Dugesia
sp. menurut WoRMS :
Kingdom : Animalia
Phylum

: Platyhelminthes

Class

: Rhabditophora

Subclass

: Trepaxonemata

Infraclass : Euneoophora
Order

: Tricladida

Infraorder : Paludicola
Family

: Dugesiidae

Genus

: Dugesia

Spesies

: Dugesia sp.

Tubifex sp. biasanya ditemukan di lingkungan dengan materi berlimpah


organik, sedimen halus, dan rendah. Tubifex sp. toleran terhadap oksigen rendah,
kekeringan, dan suhu. Tubifex adalah anggota penting dari ekosistem perairan, dan
mereka memainkan peran penting dalam penguraian bahan organik dan menelan
sedimen. Meskipun Tubifex sp. dianggap kosmopolitan, tetapi nyatanya tidak umum
dan identifikasinya dapat menjadi rumit. Identifikasi positif didasarkan pada
morfologi struktur reproduksi seperti selubung penis, vas deferens, dan atrium.
Cacing harus matang secara seksual harus agar dapat diidentifikasi secara tepat
(Leyla, 2007). Berikut klasifikasi Tubifex sp. menurut WoRMS :
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Annelida

Class

: Clitellata

Subclass

: Oligochaeta

Order

: Haplotaxida

Suborder

: Tubificina

Family

: Tubificidae

Subfamily

: Tubificinae

Genus

: Tubifex

Spesies

: Tubifex sp.

Praktikum Vermes dan Mollusca kali ini menggunakan tiga preparat yang
mewakili Mollusca yaitu Chiton sp, Anadara granosa dan Sepia officinalis. Studi
filogenetik menunjukkan bahwa Chiton (Polyplacophora) mempertahankan banyak
fitur yang plesiomorphic. Chiton yang hidup terkandung dalam subclass Neoloricata,
yang memiliki catatan fosil dari 350 Mya. Namun, terlepas dari catatan fosil yang
mendalam ini, sebagian besar spesies fosil yang dikenal bersifat terisolasi (Julia,
2009). Polyplacophora, hidup di substrat keras: terutama batu, batu, kerikil, atau
kerang. Namun, beberapa Chiton hidup pada substrat yang tidak biasa, yaitu kayu
cekung dan daun dari darat yang terletak di dasar laut berlumpur. Lebih dari 200
spesies Chiton yang berbeda menghuni tanaman di laut dalam dan sekitar 50 spesies
memanfaatkan sisa-sisa tanaman sebagai substrat, sedangkan jumlah yang lebih kecil
dikenal mampu hidup dan memakan sisa-sisa tanaman (Boris, 2003). Berikut
klasifikasi Chiton sp. menurut WoRMS :
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Mollusca

Class

: Polyplacophora

Subclass

: Neoloricata

Order

: Chitonida

Family

: Chitonidae

Genus

: Chiton

Spesies

: Chiton sp.

Sepia officinalis adalah necto-benthic, dengan mode hidup intermediate dan


tidak hanya memiliki serat raksasa yang memungkinkan propulsi efisien (seperti
cumi-cumi pelagis) tetapi juga banyak kromatofora untuk menyembunyikan atau
berkomunikasi seperti gurita bentik. Kalsifikasi cangkang dari S. officinalis adalah
internal dan membantu pergerakan hewan dengan memfasilitasi daya apung. Rentang
hidup dari S. officinalis tidak melebihi dua tahun. Betina menjalani hanya satu
putaran reproduksi dan kemudian mati. Di lapangan, telur diletakkan dekat pantai di
musim semi. Telur terlekat dalam batch dan dikelilingi oleh selubung tebal agar-agar
hitam (kapsul) yang berpotensi melindungi embrio dari agresi lingkungan.
Perkembangan semua cephalopoda, termasuk Sepia officinalis, adalah langsung:
tahap dewasa dicapai dengan tidak melalui tahap larva atau metamorfosis dalam

kapsul telur. Dalam kapsul telur pembelahan zigot menimbulkan embrio berbentuk
cakram di kutub, sedangkan kutub vegetal menunjukkan lapisan tipis sel ektoderm
'ekstra-embrio' yang mencakup kuning telur. Organ pertama mulai tertata ketika
kutub hewan berbentuk seperti disk. Lengan dan mulut terletak di mantel pusat.
Kemudian, embrio memperluas dirinya dan sumbu anterior-posterior dewasa mulai
muncul tetapi dalam bentuk mantel dan semua massa visceral muncul saat calon
kepala masih menghadap yolk (Yann et al. 2013).
Di antara kelas Cephalopoda, Sepiida (atau sotong) ditandai dengan
cuttlebone internal yang merupakan struktur komposit aragonitic-organik yang
digunakan sebagai kerangka struktural yang juga berfungsi sebagai alat kontrol daya
apung. Cuttlebone internal terdiri dari phragmocone berkapur dan mengandung
beberapa septae, dipisahkan oleh pilar vertikal kecil dan dinding membentuk ruang.
Ruang tersebut mengandung gas dan digunakan untuk mengatur posisi vertikal di air.
Daya apung sotong disesuaikan dengan pergerakan cairan baik keluar ataupun masuk
dari ruang cangkang melalui pompa osmotik Ruang-ruang pertama cuttlebone
disintesis selama fase embrionik. Di antara Sepiida, Sepia officinalis adalah salah
satu cumi yang paling melimpah di sepanjang pantai Eropa, termasuk laut
Mediterania. Spesies ini secara komersial penting dengan penangkapan mencapai
50.000 ton per tahun di Eropa. Setelah hidup relatif pendek (1-2 tahun), sotong
dewasa bertelur di perairan dangkal (30-40m) pada akhir musim dingin sampai awal
musim panas (Narimane, 2013). Berikut klasifikasinya menurut WoRMS :
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Mollusca

Class

: Cephalopda

Subclass

: Coleoidea

Superorder

: Decapodiformes

Order

: Sepiida

Family

: Sepiidae

Genus

: Sepia

Spesies

: Sepia officinalis

Kerang darah (Anadara granulosa) merupakan hewan avertebrata yang


berhabitat akuatik, dicirikan oleh adanya dua keping cangkang beralur dan kepala

tereduksi. Penamaan darah pada kerang ini didasari adanya hemoglobin dalam cairan
yang dihasilkannya. Cangkang pada bagian dorsal tebal dan bagian ventral tipis.
Cangkang ini terdiri atas 3 lapisan, yaitu :
1. Periostrakum adalah lapisan terluar dari kitin sebagai pelindung.
2. Lapisan prismatic tersusun dari kristal-kristal kapur prisma,
3. Lapisan nakreas atau sering disebut lapisan induk mutiara, tersusun dari
lapisan kalsit (karbonat) yang tipis dan parallel (Anderson, 1998). Berikut klasifikasi
Anadara granulosa menurut WoRMS :
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Mollusca

Class

: Bivalvia

Subclass

: Pteriomorphia

Order

: Arcoida

Superfamily

: Arcoidea

Family

: Arcidae

Genus

: Anadara

Spesies

: Anadara granulosa

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Gambar 4.1. Murex sp.
3
1

4
Keterangan :
1. Operculum

4. Columella

2. Apex

5. Sutura

3. Granula
Klasifikasi Murex sp. menurut WoRMS :
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Mollusca

Class

: Gastropoda

Subclass

: Caenogastropoda

Order

: Neogastropoda

Superfamily

: Muricoidea

Family

: Muricidae

Subfamily

: Muricinae

Genus

: Murex

Spesies

: Murex sp.

Gambar 4.2. Sepia officinalis

Keterangan :
1. Lengan cengkram 4. Fin
2. Tentakel

5. Mata

3. Mulut
Berikut klasifikasi Sepia officinalis menurut WoRMS :
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Mollusca

Class

: Cephalopda

Subclass

: Coleoidea

Superorder

: Decapodiformes

Order

: Sepiida

Family

: Sepiidae

Genus

: Sepia

Spesies

: Sepia officinalis

Gambar 4.3. Chiton sp.


4
6

3
7
Keterangan :

1. Radula

4. Ctenidia

7. Lempeng anterior

2. Mulut

5. Headfoot

8. Lempeng posterior

3. Mantel
6. Anus
Berikut klasifikasi Chiton sp. menurut WoRMS :
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Mollusca

Class

: Polyplacophora

Subclass

: Neoloricata

Order

: Chitonida

Family

: Chitonidae

Genus

: Chiton

Spesies

: Chiton sp.

Gambar 4.4. Anadara granulosa

6
5
1

Keterangan :
1. Umbo

4. Bekas otot aductor

2. Valve

5. Garis palial

3. Gigi lateral

6. Lengkung palial

Berikut klasifikasi Anadara granulosa menurut WoRMS :


Kingdom

: Animalia

Phylum

: Mollusca

Class

: Bivalvia

Subclass

: Pteriomorphia

Order

: Arcoida

Superfamily

:Arcoidea

Family

: Arcidae

Genus

: Anadara

Spesies

: Anadara granulosa

Dugesia memiliki karakter aselomata. Berikut klasifikasi Dugesia sp.


menurut WoRMS :
Kingdom : Animalia
Phylum

: Platyhelminthes

Class

: Rhabditophora

Subclass

: Trepaxonemata

Infraclass : Euneoophora
Order

: Tricladida

Infraorder : Paludicola
Family

: Dugesiidae

Genus

: Dugesia

Spesies

: Dugesia sp.

Tubifex sp memiliki karakter selomata dan metamer. Berikut klasifikasi


Tubifex sp. menurut WoRMS :
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Annelida

Class

: Clitellata

Subclass

: Oligochaeta

Order

: Haplotaxida

Suborder

: Tubificina

Family

: Tubificidae

Subfamily

: Tubificinae

Genus

: Tubifex

Spesies

: Tubifex sp.

B. Pembahasan
Identifikasi dilakukan secara morfologi dan bertujuan mengetahui hubungan
kekerabatan antar anggota. Preparat yang digunakan yaitu Dugesia sp, Tubifex sp,
Anadara granulosa, Chiton sp dan Sepia officinalis. Khusus rombongan 4 terdapat
tambahan preparat Cerax sp. Parameter yang digunakan yaitu ada tidaknya selomata,
ada tidaknya metamer, letak cangkang, ada tidaknya lempeng dorsal dan kepala
tereduksi atau tidak. Kelompok 3 rombongan IV mendapati hasil pengamatan
morfologi sebagai berikut : semua preparat selomata kecuali Dugesia sp., hanya
Tubifex sp. yang metamer, cangkang dalam hanya dimiliki Sepia officinalis, lempeng
dorsal hanya dimiliki Chiton sp., dan kepala tereduksi hanya dimiliki Anadara
granulosa sedangkan Murex sp. kepalanya tidak tereduksi.
Preparat kemudian diamati bagian-bagian tubuhnya. Dugesia sp. memiliki
auricle, yaitu bagian lateral dari kepala dan juga terdapat eyespot. Tubifex sp.
memiliki cetae, metamer, protostomium (bagian paling anterior) dan anus (bagian
paling posterior). Sepia officinalis memiliki lengan cakram (untuk mencengkram
mangsa), tentakel (untuk menangkap mangsa), mulut, mantel, fin (membantu
pergerakan) dan mata. Murex sp. memiliki operculum, apex, granula, columella dan
sutura.
Chiton sp. merupakan salah satu spesies yang termasuk
dalam kelas gastropoda. Ciri khas kelas Gastropoda adalah adanya
head foot dan massa visceral. Chiton sp merupakan Gastropoda
perairan, oleh karena memiliki insang. Chiton sp memiliki karakter
lain seperti mulut, anus, mantel, anterior valve, dan posterior
valve, dan lempeng yang berbentuk pipih sebanyak delapan buah.

Spesies yang termasuk kelas moluska selanjutnya adalah Anadara


sp. Anadara sp. memiliki kepala yang tereduksi dan cangkang luar
yang berjumlah dua buah dan tidak pipih. Bagian-bagian dari
Anadara sp dianataranya, umbo, ventral, dorsal, anterior, posterior,
bekas otot abductor, garis palial, dan celah palial.
Praktikum vermes dan moluska kali ini menggunakan bantuan program di
internet untuk identifikasi. Kelompok 4 mendapat preparat yang belum diketahui
nama spesiesnya. Identifikasi cangkang spesies didapati hasil bentuk cangkang
terdapat granula yang menonjol dan pola cangkang yang seperti duri-duri. Penentuan
spesies akhirnya mendapatkan hasil bahwa preparat yang diidentifikasi adalah Murex
sp.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Contoh anggota Vermes adalah Dugesia sp. dan Tubifex sp. dan anggota
Moluska contohnya Anadara granulosa, Chiton sp, Sepia officinalis dan Murex
sp.
2. Karakter penting untuk identifikasi dan klasifikasi anggota Phylum Vermes dan
Moluska diantaranya selomata, metamer, letak cangkang, ada tidaknya lempeng
dorsal dan kepala tereduksi atau tidak
B. Saran

Saran untuk praktikum Vermes dan Moluska kali ini yakni jumlah preparat
diperbanyak agar setiap praktikan dapat belajar mengidentifikasi

DAFTAR REFERENSI
Anderson, D.T. 1998. Invertebrate Zoology. England : Oxford University Press.
Boris S. 2003. The ancient origin and persistence of chitons (Mollusca,
Polyplacophora) that live and feed on deep submerged land plant matter
(xylophages). Bollettino Malacologico, Supplemento 5: 111-116.
Dewi, I.R & Putra, S. 2011. Morphological divergences among three sympatric
populations of Silver Sharkminnow (Cyprinidae: Osteochilus hasseltii C.V.)
in West Sumatra. Biodiversitas. 12(3) : 141-145.
G. A. Stocchino. 2005. Endemic freshwater planarians of Sardinia: Redescription of
Dugesia hepta (Platyhelminthes, Tricladida) with a comparison of the
Mediterranean species of the genus. Journal of Natural History, 39(22):
19471960.
Indarmawan., A. Nuryanto., D. Bhagawati., M. N. Abudilias. 2010. Lectures Notes
Mata Kuliah Taksonomi Hewan. Purwokerto : Fakultas Biologi Unsoed.
Jasin, Maskoeri. 1989. Zoologi vertebrata. Surabaya : Sinar Wijaya.
Julia D. 2009. Morphological cladistic analysis as a model for character evaluation in
primitive living chitons (Polyplacophora, Lepidopleurina). Amer. Malac. Bull.
27: 95-104
Kottelat, M., J. A. Whitten., N. S. Kartikasari dan S. Wirjoatmodjo, 1993. Freshwater
Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Canada : Dalhousie University.
Leyla. 2007. Tubifex From Alaska and Their Susceptibility To Myxobolus Cerebralis.
J. Parasitol., 93(6) : 13321342.

Linzey, Donald. 1993. Vertebrate Zoology. New York : McGraw Hill.


Marta. R. 2012. Evolutionary history of the Tricladida and the Platyhelminthes: an
up-to-date phylogenetic and systematic account. Int. J. Dev. Biol. 56: 5-17.
Mayr, Ernest. 1969. Principles of Systematic Zoology. New York : Tata Mc Graw.
Hill Publishing Company.
Narimane D. 2013. Ocean acidification and temperature rise: effects on calcification
during early development of the cuttlefish Sepia officinalis. Mar Biol 160:
20072022.
R. Manconi et al. 2013. Biodiversity in South East Asia: an overview of freshwater
sponges (Porifera: Demospongiae: Spongillina). J. Limnol (72) : 313-326.
Saanin, 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Volume I dan II. Jakarta, Bina
Rupa Aksara.
Simpson, R. 1961. Basic Concept of Taxonomy. London : Greenhil Publishing.
Walter, H. 1959. Biology of the Vertebrates. America : The Mac Millan Company.
Widiyadi, K. 2009. Analisis Kekerabatan Mahluk Hidup. Bandung : Cipta Ilmu.
www.Marinespecies.org (World Register of Marine Species)
Yann et al. 2013. Sepia officinalis: A new biological model for eco-evo-devo studies.
Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 447: 413