Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Hukum Islam

Kopertais Wilayah IV Surabaya

MENAKAR ILLEGAL LOGGING;


Fiqih Lingkungan Hidup
Sholihin Hasan
Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (NU) JATIM.
Alamat: Tanjungsari, Gg. Mawar 18, Sukomanunggal, Surabaya. Hp. 085230772136

Abstrak: Illegal logging is a complex problem, and has negative effects on the environment. This article
investigates the issue of illegal logging recently arising in Indonesia from the perspective of Islamic legal theory
(fiqh). The article argues that fiqh forbids illegal logging for its breaching three key principles, daruriyah,
qatiyah and kulliyah. For this reason, the article particularly argues, fiqh firmly regards illegal loggers as
criminals who deserve punishment. Above all, fiqh calls on people to deal with the forest in a way that
supports the conservation of the nature.
Keywords: Hutan, konsep maslahat, illegal logging

PENDAHULUAN
Pada era modern ini, isu illegal logging
(pembalakan liar) tidak lagi semata-mata menjadi isu
domestik tetapi telah menjadi bagian dari isu global.
Bahkan isu illegal logging merupakan salah satu isu
publik yang sangat serius mengancam kualitas
lingkungan hidup. Dalam konteks Indonesia, illegal
logging bisa dibilang telah berada pada titik yang
sangat mengkhawatirkan. Menurut data olahan Tempo
(22 Juli 2007) bahwa sejak tahun 2001 hingga 2006
jumlah penebangan illegal berkisar antara 19 hingga
27 juta meter kubik per tahun, atau rata-rata 23 juta
meter kubik per tahun dalam 5 tahun terakhir. Angka
tersebut jika dianalogikan dengan luas hutan yang
ditebang, maka mencapai 27 kilometer persegi setiap
tahunnya, dan setara dengan 40 kali luas Jakarta.
Dalam hal ini Negara dirugikan hingga Rp 45 trilyun
per tahun.
Bahkan ada data yang menjelaskan bahwa
setiap tahunnya kerusakan hutan di Indonesia akibat
illegal logging mencapai 1,6 juta hingga 2,4 juta
hektar. Sedangkan menurut Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM) konservasi lingkungan,
Wetlands International, ada sekitar 48% lahan
gambut di Indonesia sudah dirusak, dan sebagian
besar pengrusakan disebabkan penebangan hutan
secara liar. Bahkan dari pembersihan sampah dalam
penebangan liar di lahan gambut saja, Indonesia
menghasilkan 632 juta ton CO2 setiap tahunnya.1
Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa
keberadaan hutan dari sisi ekologis memiliki posisi
strategis dalam menciptakan keseimba ngan alam,
karena hutan sangat berperan penting dalam
menghambat pelepasan gas-gas yang menyebabkan
terjadinya polusi. Lebih jelasnya lagi bahwa pohon,

terutama pohon yang masih muda dan cepat pertumbu


hannya adalah penyerap karbondioksida yang sangat
efektif, memecahnya melalui fotosintesis, dan
menyimpan karbon dalam kayunya.
Oleh karena itu, ketika luas hutan berkurang
secara drastis, maka fungsi yang tadinya dapat
mendukung kehidupan manusia dalam berbagai
aspek, seperti kebutuhan air, oksigen (O2),
kenyamanan, keindahan, penghasil kayu, rotan,
penyerapan karbon, pangan dan obat-obatan,
sekarang ini sudah sulit didapatkan lagi. Bahkan bila
luas hutan semakin hari semakin menyempit, maka
pemanasan global tidak bisa dibendung lagi, dan
bencana alam lainnya seperti banjir dan tanah longsor
akan meningkat tajam.
Sebagai bahan renungan kita bersama atas
bahaya illegal logging, penulis akan menyuguhkan
data-data terkait dengan dampak yang
ditimbulkannya. Dalam hal ini tidak mungkin penulis
menyebutkan seluruh kejadian bencana banjir di
seluruh dunia, karena di Indonesia saja jumlahnya
sangat banyak.
Pada 3 November 2003 terjadi banjir di
kawasan Bahorok-Langkat, Sumatera Utara. Air
bah yang datangnya dari hulu sungai Bahorok telah
memakan korban jiwa. Pada waktu itu korban yang
meninggal dunia mencapai ratusan orang dengan
kerugian materi yang sangat banyak. Bencana ini
tidak lepas dari praktek illegal logging.
Bencana alam di Indonesia ternyata tidak berhenti
pada tahun 2003, tetapi berlanjut pada tahun-tahun
berikutnya. Pada 25 dan 26 Desember tahun 2007
terjadi banjir dan tanah longsor di Jawa Tengah yang
menimpa 8 kabupaten atau kota. Banjir dengan
ketinggian air mencapai 50 200 cm itu terjadi di

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025

60

Sholihin Hasan :
Menakar Illegal Logging; Sebuah Perspektif Fiqih Lingkungan Hidup

Kabupaten Grobogan, Pekalongan, Sukoharjo,


Pemalang, Sragen, Blora, Cilacap, Kudus dan kota
Surakarta. Sedangkan banjir dan tanah longsor terjadi
di Kabupaten Karanganyar, Wonogiri dan Banyumas.
Akibatnya jumlah korbanmeninggalmencapai78 orang,
20 orang menjalani rawat inap, 7.234 rawat jalan,
12.751 orang pengungsi dan 9 orang dinyatakan hilang.2
Sedangkan selama tahun 2008, bencana banjir
dan tanah longsor di Indonesia menyebabkan 92
orang meninggal, 9.740 rumah rusak, dan 184.203
rumah terendam banjir. Kejadian bencana tersebut
terjadi di 27 provinsi dari 33 provinsi yang ada di
Indonesia.3 Bahkan kejadian serupa masih tetep
berlangsung hingga tahun 2009.
Di sinilah kemudian diperlukan sebuah sikap fiqih
secara kongkrit dalam mencermati permasalahan yang
terkait dengan illegal logging. Hal ini penting karena
fiqih sebagai kajian keislaman yang terfokus pada
wilayah parktis harus lebih berperan aktif dalam
menyikapi masalah tersebut. Untuk itu
mendinamisasikan fiqih merupakan langkah awal guna
menjadikan syariat Islam yang dinamis, inklusif dan
egalitarianistik. Sehingga, bagaimanapun fiqih harus bisa
menyikapi persoalan kemanusiaan seperti illegal
logging agar tercipta sebuah tatanan yang berujung pada
kemaslahatan bersama. Hal ini sangat terkait dengan
tujuan fiqih yang memelihara kemaslahatan manusia,
sekaligus menghindari mafsadat (bencana), baik di
dunia maupun di akhirat.4 Dalam bahasa Wahbah alZuhaili disebut dengan maslahat yang berjangka pendek
maupun berjangka panjang.5
PEMBAHASAN
Mengurai Akar
Saya teringat denganEmileDurheim, sosiolog Prancis
yang pernahmengatakan bahwa sebuah fakta sosialselalu
dipicu olehfaktasosialyang lain.6Artinya, ketika ada sebuah
kejadian, maka kejadian tersebut tidak muncul dengan
sendirinya, tetapi disebabkan kejadian yang lain. Contoh
yang paling sederhana adalah anak kecil yang sedang
menangis.Anak kecilyang sedang menangis merupakan
sebuah fakta sosial, dan fakta sosialtersebut tidak muncul
dengan sendirinya, tetapi ia ada karena terjadinya fakta
sosial yang lain. Fakta sosial lain yang dimaksud sepertiia
sedang lapar, sakit, dimarahi, atau yang lainnya.
Dalam konteks ini, illegal logging merupakan
sebuah fakta yang dipicu oleh fakta lain. Fakta lain yang
dimaksud bisa berupa beberapa hal, seperti kebutuhan
yang sangat besar terhadap bahan baku untuk industri
kayu, dan kertas. Bayangkan, industri kertas
membutuhkan setidaknya 27,71 juta meter kubik kayu
setiap tahunnya, sedangkankondisihutantanaman industri
untuk kertas hanya mampu menyuplai 29,9 persen dari

totalkebutuhannya. Tentunya industriiniakanmeneruskan


aktivitas pembalakandiatas hutan alamdengan kebutuhan
per tahun mencapai 21,8 juta meter kubik.7
Kondisi ini pada gilirannya memicu nafsu serakah
cukong-cukong untuk menjadikan illegal logging
sebagai salah satu cara dalam mengeruk keuntungan
ekonomi yang sangat potensial. Bahkan hal ini
diperparah dengan lemahnya penegakan hukum dalam
penyelesaian kasus illegal logging karena
menjamurnya praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme
yang berkelindan dengan kepentingan sesaat aparat
penegak hukum (bahkan pejabat birokrasi) di seluruh
jenjang peradilan, mulai polisi, jaksa, hingga hakim.
Akibatnya illegal logging masih marak terjadi di
belahan bumi Indonesia.
Menimbang Maslahat
Melihat begitu besarnya peran hutan dalam
menunjang sektor industri yang menjanjikan materi
berlimpah, pada gilirannya membutakan sebagian orang.
Artinya, ada sebagian orang atau kelompok yang
berkepentingan didalamnya menganggap illegal logging
sebagai salah satu bentuk maslahat karena memiliki
dampak ekonomis terhadap pelaku dan bisa membuka
lapangan kerja bagi masyarakat bawah walaupun juga
menimbulkan dampak ekologis.
Untuk itulah, kita perlu memahami persoalan ini
secara jernihdalambingkaifiqih. Nah, ketika kita memulai
berbicara tentang maslahat, maka ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan, pertama, maslahat ditinjau dari sisi
cakupannya. Kedua, maslahat ditinjau dari sisi dampak
terhadap eksistensi masyarakat, dan ketiga, maslahat
ditinjau darisisirealitasnya. Halinipenting untuk diketahui
agar kita bisa memilah dan memilih serta bisa terhindar
dari persepsiyang keliru.
1. Cakupan maslahat
Maslahat bila dilihat dari sisi cakupannya maka
akan terpolarisasi menjadi dua, yaitu maslahah
kulliyah, dan maslahah juziyah. Maslahah kulliyah
adalah maslahat yang kembali pada seluruh
masyarakat atau kelompok mayoritas.8 Contoh yang
sangat sederhana dari maslahah kulliyah adalah
seperti menjaga teritorial sebuah negara dari
gangguan musuh, menjaga persatuan dan kesatuan
bangsa, melindungi agama, dan lain-lain. Bentuk dari
perlindungan tersebut, manfaatnya tidak hanya
kembali kepada satu atau dua orang saja, tetapi bisa
dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sedangkan maslahah juziyah adalah maslahat yang
kembali pada individu atau kelompok minoritas.
Contoh dari maslahah juziyah seperti pembangunan
lapangan sepak bola. Pembangunan lapangan sepak
bola merupakan bentuk maslahat, karena ia bisa

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025

61

Jurnal Hukum Islam


Kopertais Wilayah IV Surabaya
digunakan untuk kebugaran jasmani. Namun
maslahah daruriyah, penulis terlebih dahulu akan
cakupan maslahatnya termasuk kategori maslahah
mengupas lima cakupan maslahah daruriyah.
juziyah, karena hanya bisa digunakan oleh minoritas
Pertama, melindungi agama. Maksud dari
masyarakat.
melindungi terhadap agama (hifzu al-din) adalah
Dalam konteks pelestarian hutan, maka
melindungi agama setiap orang muslim dari hal-hal
keberadaan hutan merupakan bentuk maslahah
yang bisa merusak aqidah dan amaliyah yang terkait
kulliyah, karena hutan setidaknya memiliki dua
dengan agama Islam.
fungsi, yaitu fungsi ekologis dan ekonomis yang
Perlu diketahui bahwa keberadaan agama bagi
manfaatnya bisa kembali pada seluruh masyarakat
manusia merupakan satu hal yang sangat fundamental,
atau kelompok mayoritas.
artinya agama menuntun manusia untuk mendapatkan
2. Dampak maslahat
kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, karena agama
Bila maslahat dilihat dari sisi dampak terhadap
tidak hanya mengajarkan urusan ubudiyah, yaitu
eksistensi masyarakat, maka maslahat bisa
hubungan vertikal, tetapiagama juga mengajarkan urusan
diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu daruriyah,
muamalah, yaitu hubungan horizontal yang
hajiyah, dan tahsiniyah.
mencerminkan terciptanya tatanan masyarakat yang
Daruriyah atau biasa disebut dengan kemaslahatan
baik.
yang bersifat primer merupakan sebuah kemaslahatan
Kedua, melindungi jiwa. Maksud dari melindungi
yang sangat esensial bagi kehidupan manusia.Artinya,
jiwa (hifzu al-nafs) adalah melindungijiwa individu atau
ketika kemaslahatan ini tidak terwujud maka
jiwa seluruh manusia dari hal-hal yang mencederainya.
kehidupan manusia menjadi tidak berarti. Contoh
Jiwa merupakan salah satu dari pemberianAllah yang
yang paling mudah adalah keberadaan akal. Akal
tidak ada bandingannya di dunia. Karena ketika jiwa
merupakan sesuatu yang sangat esensial, karena
seseorang melayang, maka ia tidak akan bisa berbuat
dengan akal manusia bisa berbeda dengan makhluk
apa-apa lagi. Ia tidak akan bisa menggunakan fasilitas
lainnya. Bahkan dengan akal, manusia bisa menjadi
yang dimilikinya, dan ia juga tidak bisa beraktifitas untuk
terhormat. Begitu juga sebaliknya ketika manusia tidak
kepentingan keluarga, kelompok dan lain-lain. Untuk
memiliki akal, maka prilakunya tidak ubahnya seperti
itulah jiwa harus dipelihara dan dijaga dari hal-hal yang
hewan. Ia tidak memiliki kepekaan sosial, ia tidak
bisa melenyapkannya.
memiliki sifat malu, dan ia tidak memiliki masa depan.
Bahkan menurut IbnuAsyur, halyang demikian
Kategori kedua adalah hajiyah, yaitu kemaslahatan
juga berlaku pada perlindungan atas anggota badan
yang dibutuhkan manusia untuk mendapatkan
lainnya. Anggota badan yang dimaksud adalah anggota
kemudahan danterhindar darikesulitan.9 Hak iniseperti
badan yang statusnya sama seperti jiwa dalam hal tidak
kebolehan mengkonsumsi makanan, minuman dan
adanya manfaat ketika tercederai.10
tempat tinggal yang berkualitas atau berkelas. Artinya,
Ketiga, melindungi akal manusia dari
keberadaanmakanan, minumandan tempat tinggalyang
masuknya hal-hal yang bisa mencederai fungsi akal,
berkualitas atau berkelas bukan merupakan sesuatu
karena berfungsi tidaknya akal akan mempengaruhi
yang esensial(daruriyah), tetapimerupakan kebutuhan
terhadap kualitas kehidupan manusia. Sebagai contoh,
sekunder (hajiyah). Sehingga ketika seseorang tidak
ketika akal seseorang berfungsi secara optimal, maka
bisa memiliki tempat tinggal yang berkelas, minuman
anggota badan lainnya bisa digunakan secara optimal
dan makanan yang mahal, maka hal tersebut tidak
pula, sehingga ia bisa bekerja, berinteraksi dengan
sampai membuat seseorang celaka atau meninggal.
sesama, berkreasi dan bertanggung jawab atas
Sedangkan kategori ketiga adalah tahsiniyah
keluarga, dan lingkungan sekitar.
atau kemaslahatan yang bersifat suplementer, yaitu
Keempat, melindungi keturunan. Untuk
kemaslahatan yang memberikan perhatian pada
melindungi keturunan (hifzu al-nasab) dan kehormatan,
masalah estetika dan etika. Bahkan Wahbah Zuhayli
Islam mensyariatkan pernikahan dan melarang
mendefinisikan al-tahsiniyah dengan kemaslahatan
perbuatan zina. Bahkan Islam juga melarang tindakanyang menuntut tercapainya harga diri.
tindakan yang mengarah pada tercederainya reproduksi
Dengan melihat beberapa kategori dalam cakupan
laki-laki, maupun perempuan.
maslahat, maka keberadaan hutan tergolong maslahat
Perlindungan terhadap keturunan dianggap
daruriyah atau biasa disebut dengan kemaslahatan yang
esensial karena keturunan sebagai bentuk mata rantai
bersifat primer, karena ia merupakan sebuah
perjuangan manusia di muka bumi sebagai khalifah
kemaslahatan yang sangat esensial atas kehidupan
Allah. Adanya keturunan memungkinkan manusia
manusia. Artinya, ketika hutan tidak ada maka
untuk menggapai masa depan. Untuk itu terpeliharanya
kehidupan manusia menjadi tidak berarti. Sebelum
keturunan merupakan satu hal esensial.
mengurai lebih dalamtentang keberadaan hutan sebagai
Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025
62

Sholihin Hasan :
Menakar Illegal Logging; Sebuah Perspektif Fiqih Lingkungan Hidup

Kelima, melindungi harta. Melindungi harta


(hifzu al-mal) adalah melindungi harta manusia dari
prilaku dhalim yang akan menyebabkan hilang atau
rusaknya harta benda. Untuk itu Allah selalu menyuruh
manusia untuk mendapatkan rizqi dengan cara halal,
dan memberi sanksi atas prilaku yang bisa mencederai
harta benda orang lain dengan cara dhalim.
Perlindungan terhadap harta dianggap sebagai
satu hal yang asasi karena harta bisa menjadikan hidup
manusia lebih berarti, dan memungkinkannya
bertanggung jawab terhadap keluarga dan lingkungan
sekitar, sehingga dalam fiqih ada ajaran bahwa bila ada
seseorang yang hendak merusak atau menghilangkan
harta walaupun sedikit, maka pemilik harta
diperkenankan untuk mencegah atau menghadapinya.11
Dengan melihat lima cakupan maslahah
daruriyah diatas, maka sangat rasionalbila memasukkan
keberadaan hutan kedalam maslahah daruriyah, dengan
beberapa alasan: Pertama, kerusakan hutan bisa
berakibat padahilangnya nyawa manusia. halinibisa dilihat
dari banyaknya korban ketika terjadi tanah longsor dan
banjir di berbagai tempat, baik di Indonesia, maupun di
negara lain. Dalam catatan Wahana Linkungan Hidup
(WALHI), pada tahun 1998-2003 di Indonesia terdapat
302 bencana banjir dan 245 bencana tanah longsor. Banjir
menelan korban jiwa sebanyak 1066 orang, sedangkan
tanah longsor menelan korban jiwa sebanyak 645 orang.12
Kedua, di samping berakibat pada hilangnya
nyawa manusia, banjir dan tanah longsor yang
disebabkan oleh kerusakan hutan juga menghancurkan
harta benda. Karena setiap ada bencana banjir dan
tanah longsor, banyak rumah rusak, areal perkebunan
rusak, dan masih banyak harta benda lainnya yang ikut
rusak.
Ketiga, kerusakan hutan bisa memperparah
terjadinya pemanasan global, padahal dampak
pemanasan global sangat bisa mengancam eksistensi
seluruh makhluk hidup, termasuk manusia.
3. Realitas maslahat
Dalam tinjauan fiqih, bila maslahat dilihat dari
realitasnya atau nyata dan tidaknya sebuah
kemaslahatan, maka terdapat tiga karakteristik.
Pertama, maslahat qati, yaitu kemaslahatan yang
berasal dari dalil shari yang qati (pasti). Maslahah
qati juga bisa berarti sebuah kemaslahatan yang
ditopang oleh dalil-dalil dengan cara disandarkan pada
hasil penelitian shariah, sepertilima kemaslahatan yang
bersifat primer (al-daruriyat al-khamsah) yang telah
diurai di depan. Atau maslahat qati juga berarti sebuah
kemaslahatan yang menurut akal akan memberi
pengaruh positif yang sangat besar. Begitu juga
sebaliknya, bila ditinggalkan akan memberi dampak
negatif yang sangat besar pula.

Kedua, maslahat danni, yaitu kemaslahatan


yang berasal dari dalil shari yang bersifat danni,
atau sebuah kemaslahatan yang bersumber dari
dugaan akal, dan ketiga, maslahat wahmi, yaitu
kemaslahatan fiktif. Artinya, dalam kemaslahatan
tersebut terkandung dampak negatif yang sangat
besar, sehingga hal tersebut tidak layak untuk
disebut kemaslahatan. Contohnya seperti
mengkonsumsi NARKOBA. Orang yang
mengkonsumsi NARKOBA terkadang menilai
bahwa NARKOBA bermanfaat baginya, padahal
NARKOBA sangat berdampak negatif terhadap
kesehatan, kejiwaan dan kehidupannya.
Dalam kontrks eksistensi hutan, maka ia tergolong
maslahat qati, karena eksistensi hutan akan memberi
pengaruh positif yang sangat besar, dan sebaliknya bila
hutan tidak ada atau semkin menipis, maka akan
memberi dampak negatif yang sangat besar pula. Di
samping itu, peran hutan sebagaimana di uraidi atas bisa
menopang eksistensi al-daruriyat al-khamsah. Hal ini
tentunya bertolak belakang dengan illegal logging,
karena illegal logging yang selama ini dianggap oleh
sebagian orang sebagai bentuk maslahat, ternyata pada
dasarnya merupakan maslahat wahmi atau kemaslahatan
fiktif. Terbukti dampak negatifyang ditimbulkannya lebih
besar dari pada manfaatnya.
Mempertegas Sikap
Ketika posisi hutan dalam prespektif fiqih sebagai
maslahat daruriyah, kulliyah, dan juga tergolong
maslahat qati, maka ada dua hal yang harus dilakukan,
pertama mewujudkan kemaslahatan tersebut, dankedua
memproteksi atas hal-hal yang akan merusak dan
mentiadakan eksistensi maslahat tersebut (hutan).13
Mewujudkan kemaslahatan hutan berarti
memperkokoh fungsi hutan sebagai penyerap CO2,
penahan banjir, pensuplai air, oksigen dan lain-lain. Hal
ini dengan cara menggalakkan kembali penghijauan
hutan, dan penataan kembali areal hutan yang rusak.
Prilaku yang demikian sebenarnya sejak lama telah
dikenal dalam Islam dengan konsep hima, yaitu
kawasan yang dilindungi oleh pemerintah untuk
kemaslahatan umum.14
Dalam catatan sejarah terungkap bahwa Nabi
pernah membuat hima Naqi, dan sahabat Umar
membuat hima Sharaf dan al-Rabadah ketika menjadi
khalifah penggantiAbu Bakar. Bahkan hima yang dibuat
oleh Nabi Muhammad diakui Organisasi Pangan dan
Pertanian Dunia (FAO) sebagai contoh pengelolaan
kawasan lindung yang paling tua bertahan di dunia.15
Dengan demikian, upaya penghijauan hutan, danpenataan
kembali arealhutan yang rusak merupakanprilaku mulia
yang mencontoh tindakan Nabi Muhammad.

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025

63

Jurnal Hukum Islam


Kopertais Wilayah IV Surabaya
Sedangkan memproteksi terhadap hal-hal yang
akan merusak dan mentiadakan eksistensi hutan berarti;
pertama, illegal logging harus dihentikan, karena di
samping bisa menimbulkan mafsadah (bencana)
terhadap manusia dan makhluk lainnya, ia juga
merupakan tindakan yang merugikan negara. Kedua,
pemanfaatan hutan yang legal sekalipun harus
mempertim-bangkan dampak ekologis, karena
pemanfaatan hutan yang legal merupakan maslahah
juziyah, yaitu maslahah yang kembali pada individu
atau kelompok minoritas,16 padahal eksistensi hutan
termasuk maslahah daruriyah. Sehingga maslahah
daruriyah harus didahulukan dari pada maslahah
juziyah..
Sekedar mengingatkan bahwa diIndonesia, sektor
kehutanan merupakansalah satu sektor yang selama lebih
dari tiga dasawarsa memiliki peran signifikan terhadap
proses pembangunan nasional. Pengelolaan hutan dan
pengolahan hasilhutanyangberorientasieksportelahmampu
menyumbangkan devisa terbesar kedua darisektor non
migas setelah industri tekstil dan produk turunannya.
Sebagai contoh pada tahun 2000 sektor
kehutanantelahmenghasilkandevisaUSD 8milyar, dengan
rincian; dari produk kayu lapis USD 3 milyar, produk
pulp dan kertas USD 3,5 milyar dan produk lainnya
sebesar USD 1,5 milyar. Bahkan industrialisasi
kehutanan juga telah memberikan nilai tambah yang
signifikan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,
antara lainmelaluipenyerapantenaga kerjadanterbukanya
peluang usaha. Halinibisa dilihat darisumber daya manusia
yang terlibat langsung dalamsektor usaha kehutanan yang
melebihi 2,5 juta orang, serta sumber daya manusia yang
tidak terlibat langsung yang melebihi1,5 juta orang.17
Walaupun demikian bukan berarti pengelolaan
industri perhutanan bisa melampaui batas dan
menghalalkan semua cara yang berakibat pada kerusakan
lingkungan hidup. Karena kerusakan lingkungan lebih
mahal harganya dari pendapatan materiyang berasaldari
eksploitasi hutan. Dalam surat al-Araf ayat 56 Allah
melarang manusia untuk berbuat hal yang berdampak
pada kerusakan.
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka
bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah
kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akanditerima) dan
harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah
amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.18
Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang
berjunjungdanyangtidak berjunjung, pohonkurma, tanamtanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan
delima yang serupa (bentuk danwarnanya) dan tidak sama
(rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacammacam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di
harimemetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir

miskin), dan janganlah kamu berlebih-lebihan.


SesungguhnyaAllah tidak menyukaiorang yang berlebihlebihan.19
Ayat 141 surat al-Anam tersebut menjelaskan
bahwa tumbuh-tumbuhan maupun pepohonan
merupakan karunia Allah yang diperuntukkan pada
manusia, sehingga manusia bisa menggunakannya untuk
makan, minum diperjual belikan, dan lain-lain. Namun
penggunaannya tidak sampai melampaui batas, karena
akan merugikanmanusia sediri. Untuk itu dalam konteks
industrialisasi hutan dan pemanfaatan hutan secara legal
merupakan satu hal yang tidak dilarang tetapi tentunya
tidak sampai melaupaui batas, seperti penebangan
pohon tanpa diimbangi dengan penanaman pohon
kembali, atau penebangan pohon melebihi aturan yang
menjurus pada kerusakan lingkungan, dan lain-lain.
Hal yang demikian telah direspon oleh Nahdlatul
Ulama (NU) dalam Muktamar ke 29 di Cipasung tahun
1994. Di Muktamar tersebut diputuskan bahwa
pembangunan di bidang industri perlu dijamin
kelangsungannya, namun harus dapat menghindari
pengaruh negatif yang ditimbulkannya. Karena Nabi
dengan tegas bersabda jangan ada di antara kamu
melakukan aniaya dan jangan pula ada yang
teraniaya.20 Bahkan dalambahtsul masail di muktamar
tersebut diputuskan bahwa pengrusakan terhadap
lingkungan hidup tergolong prilaku kriminal.21
Di sinilah kemudian dibutuhkan supremasi
hukum dan undang-undang yang tegas dalam
pemanfaatan hutan, karena dalam kaidah fiqih
disebutkan tasharruf al-imam ala al-raiyyah
manuthun bi al-mashlahah artinya pemerintah
selalu dituntut untuk membuat kebijakan yang
berorientasi pada kemaslahatan rakyat.22 Di samping
itu di dalam Islam ditegaskan bahwa setiap pemimpin
akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyat yang
dipimpinnya. Hal ini sebagaimana hadits Nabi berikut
ini.
Ingatlah setiap dari kamu sekalian adalah pemimpin
dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung
jawaban atas yang dipimpin, dengan demikian maka
pemerintah adalah pemimpin yang akan dimintai
pertanggung jawaban atas rakyatnya.23
Dengan demikian apapun alasannya, pemerintah
dan aparat penegak hukum harus mendahulukan atau
pro terhadap kepentingan yang berorientasi pada
penyelamatan hutan, karena hal tersebut termasuk
maslahat daruriyah, kulliyah, dan juga tergolong
maslahat qati.

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025

64

Sholihin Hasan :
Menakar Illegal Logging; Sebuah Perspektif Fiqih Lingkungan Hidup

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Dari beberapa paparan di atas dapat digaris
bawahi bahwa posisi hutan sangat esensial bagi
keberlangsungan eksistensi manusia. Tidak berlebihan
bila kemudian keberadaan hutan dari sisi realitas
maslahat dianggap sebagai maslahat qati, Dari sisi
cakupan maslahat sebagai maslahat kulliyah dan dari
sisi dampak maslahat sebagai maslahat daruriyah.
Dalam tinjauan fiqih juga dipertegas bahwa illegal
logging merupakan bentuk perusakan terhadap
eksistensi maslahat tersebut. Padahal kita tahu bahwa
kemaslahatan tersebut merupakan sebuah kemaslahatan
yang sangat esensial bagi kehidupan manusia baik yang
bersifat duniawi atau ukhrowi. Artinya, ketika
kemaslahatan initidak terwujud maka kehidupan manusia
menjadi tidak berarti.
Nah, untuk itulah fiqih kemudian menuntut kita
untuk melakukan dua hal yaitu; pertama
mewujudkan kemaslahatan tersebut, seperti dengan
cara memberi pemahaman yang benar bahwa hutan
tidak hanya merupakan kawasan yang hanya
mempunyai makna ekonomi jika kayu yang ada di
dalamnya bisa dijual atau dimanfaatkan untuk
bangunan. Tetapi hutan memiliki posisi yang sangat
strategis dalam keseimbangan kosmos.
Kedua, memproteksi terhadap hal-hal yang akan
merusak dan mentiadakan eksistensi maslahah, seperti
dengan cara mempertegas undang-undang yang pro
terhadap kemaslahatan umum, menegakkan supremasi
hukum, dan ikut mengawasi terciptanya kemaslahatan
tersebut.
Saran
Pembahasan dalam Artikel ini telah dipaparkan
secara maksimal. Ini adalah titik awal untuk
melakukan penelitian dan kajian yang akan datang
tentang tema tersebut selayaknya tetap diusahakan.
Namun penulis menyadari terhadap kekurangan
artikel inibaik dalam hal penelaahan, analisa, penggalian
data, serta aspek akademis lainnya. Oleh karena itu dari
seluruh pihak dan pembaca penulis harapkan kritik
konstruktif pada tulisan ini. Dengan memandang hasil
penelitian ini, kami menyarankan pada peneliti untuk
mengkaji ulang pembahasan ini, dan juga melengkapi
segala kekurangan karena setiap penelitian adalah cermin
kesetiaan manusia kepada pengetahuan. Wallahu Alam
(Endnotes)
1
http://f4iqun.wordpress.com/2007/04/28/bumiyang-makin-panas.
2
http://www.depkes.go.id/
index.php?option=news&task=viewarticle&sid=2950&Itemid=2.
3
Kompas, 27 Provinsi Rawan Banjir, 15
November, 2008, 13.

Fathurrahman Djamil, Filsafat Hukum Islam


(Jakarta: Logos , 1999),125.
5
Wahbah Al-Zuhaili, Usul al-Fiqh al-Islami, vol.
2 (Beirut: Dar al-Fikr, 1998), 1045.
6
George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori
Sosiologi Modern, ter. Alimandan ( Jakarta:
Prenada Media, 2005), 21-22.
7
http://www.walhi.or.id/kampanye/hutan/jeda/
070328_pmblkn_liar_cu.
8
Al-Zuhaili, Usul al-Fiqh.., vol. 2, 1056.
9
Ibid., 1050.
10
Ibnu Asyur, Maqasid al-Shariah (Oman: Dar
al-Nafais, 2001), 303.
11
Ibrahim Al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri ala
Ibni Qasim, ,vol. 2 (Surabaya: Nur Asia, t.t.) 249250.
12
http://www.walhi.or.id/kampanye/bencana/
banjirlongsor/sejuta_bencana.
13
Al-Zuhaili, Usul al-Fiqh , vol 2, 1049.
14
Sayyid Sabiq, Fiqhu al-Sunnah, vol. 3 (Bairut:
Dar al-Fikr, 2006), 879.
15
Fachruddin Majeri Mangunjaya, Lingkungan
Hidup dan Konservasi Alam dalam Perspektif
Islam, Islamia, Vol. III, no 2, 94.
16
Al-Zuhaili, Usul al-Fiqh , vol 2, 1056.
17
http://ambudaya.blogspot.com/2006/09/prospekglobalisasi-usaha-kehutanan-di.html.
18
Al-Quran, 7: 56.
19
Ibid., 6: 141.
20
Imam Ghazali Said (ed), Solusi Hukum Islam
(Surabaya: Diantama, 2006), 665.
21
Ibid, 498.
22
Abdurrahman al-Suyuti, al-Ashbah wa alNadhair (Bairut: Dar al-Fikr, t.t), 84.
23
HR. Muslim, No.3408, CD Hadits Kutub alTisah
DAFTAR PUSTAKA

1. Abdurrahman Al-Suyuti, (t.t) al-Ashbah wa alNadhair, Bairut: Dar al-Fikr.


2. CD Hadits Kutub al-Tisah
3. Fachruddin Majeri Mangunjaya, Lingkungan
Hidup dan Konservasi Alam dalam Perspektif
Islam, Islamia, Vol. III, no 2.
4. Fathurrahman Djamil, (1999) Filsafat Hukum
Islam, Jakarta: Logos.
5. George Ritzer dan Douglas J. Goodman, (2005)
Teori Sosiologi Modern, ter. Alimandan, Jakarta:
Prenada Media.
6. http://ambudaya.blogspot.com/2006/09/
prospek-globalisasi-usaha-kehutanan-di.html.
7. http://f4iqun.wordpress.com/2007/04/28/bumiyang-makin-panas.
8. http://www.walhi.or.id/kampanye/bencana/
banjirlongsor/sejuta_bencana.

Vol. 01, No.01, Maret 2009 - ISSN 2085-3025

65