Anda di halaman 1dari 11

PENDEKATAN PERILAKU KEPEMIMPINAN

(BEHAVIOR LEADERSHIP)
By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I
(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki
Malang)
A.

Latar Belakang

Kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam membimbing sesuatu


kelompok sedemikian rupa, sehingga tercapailah tujuan dari kelompok
itu. Sudarwan Danim mengutip beberapa definisi kepemimpinan yang
dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut: D.E. McFarland
mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana
pimpinan dilukiskan akan memberi perintah atau pengaruh, bimbingan
atau proses mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memilih dan
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. J.M.Pfiffner mengemukakan
bahwa kepemimpinan adalah seni mengkoordinasi dan memberi arah
kepada individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Oteng Sutisna mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan
mengambil inisiatif dalam situasi sosial untuk menciptakan bentuk dan
prosedur baru, merancang dan mengatur perbuatan, dan dengan berbuat
begitu membangkitkan kerja sama ke arah tercapainya tujuan.
Sudarwan Danim sendiri mendefinisikan kepemimpinan adalah setiap
tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk
mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain
yang tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya.
Islam memandang bahwa kepemimpinan harus dipegang oleh sosok
yang mampu dan dapat menempatkan diri sebagai pembawa obor
kebenaran dengan memberi contoh teladan yang baik, karena
dia uswatun hasanah. Dalam asas dan prinsip ajaran Islam; pemimpin

adalah hamba Allah, membebaskan manusia dari ketergantungan kepada


siapa pun, melahirkan konsep kebersamaan antar manusia, menyentuh
aspek hubungan manusia dengan manusia dengan manusia dan alam
sekitar, membenarkan seseorang taat kepada pemimpin selama tidak
bermaksiat dan melanggar aturan Allah, mengajarkan bahwa kehidupan
dunia adalah bagian dari perjalanan akhirat, memandang kekuasaan dan
kepemimpinan adalah bagian integral ibadah. Kepemimpinan
merupakan tanggung beban dan tanggung jawab, bukan kemuliaan.
Kepemimpinan membutuhkan keteladanan dan wujud, bukan kata dan
retorika, serta senantiasa bertutur santun, sekalipun itu perkataan Nabi
Musa kepada Firaun yang jahat. Dari situ, maka dapat dikatakan bahwa
seorang pemimpin itu dilihat dari perilakunya sehari-hari. Bagaimana
cara seorang pemimpin itu memimpin bawahannya dan bagaimana
seorang pemimpin memerintah dan menjalankan perannya.
B.

Konsep Perilaku Kepemimpinan

Selama tiga dekade, dimulai pada permulaan tahun 1950-an, penelitian


mengenai perilaku pemimpin telah didominasi oleh suatu fokus pada
sejumlah kecil aspek dari perilaku. Kebanyakan studi mengenai perilaku
kepemimpinan selama periode tersebut menggunakan kuesioner untuk
mengukur perilaku yang berorientasi pada tugas dan yang berorientasi
pada hubungan. Beberapa studi telah dilakukan untuk melihat bagaimana
perilaku tersebut dihubungkan dengan kriteria tentang efektivitas
kepemimpinan seperti kepuasan dan kinerja bawahan. Peneliti-peneliti
lainnya menggunakan eksperimen laboratorium atau lapangan untuk
menyelidiki bagaimana perilaku pemimpin mempengaruhi kepuasan dan
kinerja bawahan.
Teori perilaku kepemimpinan (behavioral theory of leadership) didasari
pada keyakinan bahwa pemimpin yang hebat merupakan hasil bentukan
atau dapat dibentuk, bukan dilahirkan (leader aremade, nor born).
Berakar pada teori behaviorisme, teori kepemimpinan ini berfokus pada
tindakan pemimpin, bukan pada kualitas mental atau internal. Menurut
teori ini, orang bisa belajar untuk menjadi pemimpin, misalnya, melalui
pelatihan atau observasi.

Pendekatan perilaku ini memandang bahwa kepemimpinan dapat


dipelajari dari pola tingkah laku, dan bukan dari sifat-sifat (traits)
pemimpin. Alasannya sifat seseorang sukar untuk diidentifikasi.
Beberapa ahli berkeyakinan bahwa perilaku dapat dipelajari, hal ini
berarti orang yang dilatih dalam perilaku kepemimpinan yang tepat akan
dapat memimpin secara efektif. Namun demikian, keefektifan perilaku
kepemimpinan ini dipengaruhi oleh beberapa variabel. Jadi perilaku
tidak mutlak menentukan keberhasilan suatu kepemimpinan.
Konsep perilaku kepemimpinan ini muncul karena menganggap bahwa
konsep sifat kepemimpinan tidak mampu menghasilkan kepemimpinan
yang efektif, karena sifat sulit untuk diidentifikasi. Yulk sebagaimana
yang dikutip Marno dkk, menjelaskan bahwa perilaku pemimpin
terhadap bawahan ada 4 bentuk perilaku, yakni 1) ada yang lebih
menekankan pada tugas; 2) ada yang lebih mementingkan pada
hubungan; 3) ada yang mementingkan kedua-duanya; dan 4) ada yang
mengabaikan kedua-duanya.
Ada juga peneliti yang mengatakan bahwa perwujudan perilaku
pemimpin dengan orientasi bawahan ialah 1) penekanan pada hubungan
atasan-bawahan, 2) perhatian pribadi pimpinan pada pemuasan
kebutuhan para bawahannya, dan 3) menerima perbedaan-perbedaan
kepribadian, kemampuan dan perilaku yang terdapat dalam diri dari para
bawahan.
Dalam penjabaran lebih lanjut, analisis perilaku kepemimpinan ini
menghasilkan beberapa teori kepemimpinan sebagaimana yang akan
dijelaskan di bawah ini secara lebih detail.
C. Teori Kepemimpinan Berdasarkan Analisis Pendekatan
Perilaku
Dalam menggerakkan orang lain guna mencapai tujuan, pemimpin
biasanya menampakkan perilaku kepemimpinannya dengan bermacammacam. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Usman, para peneliti telah
mengidentifikasi dua gaya kepemimpinan yang berpijak dari perilaku
kepemimpinan ini, yaitu 1) yang berorientasi pada tugas (task oriented)

dan 2) yang berorientasi pada bawahan atau karyawan (employee


oriented).
Gaya yang berorientasi pada tugas lebih memperhatikan pada
penyelesaian tugas dengan pengawasan yang sangat ketat agar tugas
selesai sesuai dengan keinginannya. Hubungan baik dengan bawahannya
diabaikan yang penting bawahan harus bekerja keras, produktif dan tepat
waktu. Sebaliknya gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan
cenderung lebih mementingkan hubungan baik dengan bawahannya dan
lebih memotivasi karyawannya daripada mengawasi dengan ketat. Gaya
ini sangat sensitif dengan perasaan bawahannya. Jadi pada prinsipnya
yang dipakai pada gaya kepemimpinan yang ini bukan otak tapi rasa
yang ada dalam hati. Pemimpin berusaha keras tidak menyakiti
bawahannya. Penjabaran perilaku pemimpin terhadap bawahan tersebut
dapat dirinci sebagai berikut:
1.

High-high berarti pemimpin tersebut memiliki hubungan tinggi


dan orientasi tugas yang tinggi juga.

2.

High task-low relation, pemimpin tersebut memiliki orientasi


tugas yang tinggi, tetapi rendah hubungan terhadap bawahan.

3.

Low task-high relation, pemimpin tersebut lebih mementingkan


hubungan dengan bawahan, dengan sedikit mengabaikan tugas. Teori ini
disebut dengan Konsiderasi yaitu kecenderungan seorang pemimpin
yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala
yang ada dalam hal ini seperti: membela bawahan, memberi masukan
kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi dengan bawahan

4.

Low task-low relation, orientasi tugas lemah, hubungan dengan


bawahan juga lemah.
Dari keempat macam gaya kepemimpinan, kepemimpinan yang paling
fatal akibatnya adalah yang keempat. Seorang pemimpin apabila
memimpin dengan gaya yang keempat ini, lebih baik turun saja dari
kepemimpinannya sebelum hancur organisasi yang dipimpinnya tersebut.

Dari hasil penelitian terdapat beberapa teori kepemimpinan berdasarkan


perilaku yang terkenal di kalangan para peneliti. Teori tersebut antara
lain studi lowa, studi ohio, studi Michigan, Rensis Likert, dan Reddin.
1.

Studi Lowa. Studi ini meneliti kesukaan terhadap 3 macam gaya


kepemimpinan, yaitu gaya otoriter, gaya demokratis dan gaya laizes
faire. Hasil penelitian mengatakan bahwa kebanyakan suka gaya
kepemimpinan demokratis.

2.

Studi Ohio. Studi ini berusaha mengembangkan angket deskripsi


perilaku kepemimpinan. Peneliti merumuskan bahwa kepemimpinan itu
sebagai suatu perilaku seseorang yang mengarah pada pencapaian tujuan
tertentu, yang terdiri dari dua dimensi, yaitu struktur pembuatan inisiatif
dan perhatian. Struktur pembuatan inisiatif menunjukkan pada
pencapaian tugas. Perhatian menunjukkan perilaku pemimpin pada
hubungan dengan bawahannya.

3.

Studi Michigan. Penelitian ini mengidentifikasi dua konsep gaya


kepemimpinan, yaitu berorientasi pada bawahan dan berorientasi pada
produksi. Pemimpin yang berorientasi pada bawahan menekankan
pentingnya hubungan dengan pekerja dan menganggap setiap pekerja
penting. Pemimpin yang berorientasi pada produksi menekankan
pentingnya produksi dan aspek teknik-teknik kerja.

4.

Empat sistem kepemimpinan dalam manajemen Likert. Menurut


Likert, pemimpin itu dapat berhasil jika bergaya participatif
management. Gaya ini menekankan bahwa keberhasilan pemimpin
adalah jika berorientasi pada bawahan dan komunikasi. Likert
merancang empat sistem kepemimpinan dalam manajemen sebagai
berikut:

1.

Exploitative Authoritative (Otoriter yang Memeras)

2.

Benevolent Authoritative (Otoriter yang baik)

3.

Cosultative (Konsultatif)

4.

Participatif (Partisipatif).

Likert menyimpulkan bahwa penerapan sistem 1 dan 2 akan


menghasilkan produktivitas kerja yang rendah, sedangkan penerapan
sistem 3 dan 4 akan menghasilkan produktivitas kerja yang tinggi.
Memahami gaya kepemimpinan seseorang sangatlah kompleks, sehingga
memunculkan berbagai gaya yang bervariasi satu sama lain. Dari
berbagai kombinasi gaya kepemimpinan lahir gaya kepemimpinan dasar
yang terdapat pada diri seorang pemimpin (Hersey dan Blanchart, 1977)
seperti dikutip oleh Nanang Fattah.
1.

Tiga dimensi gaya kepemimpinan menurut Reddin.


Sedangkan menurut Reddin (1970) dalam bukunya Manajerial
Effectiveness dijelaskan bahwa penambahan komponen efektivitas pada
dua dimensi kepemimpinan yang sudah ada (dimensi tugas dan dimensi
hubungan) sistem misi manajerial (manajerial Grid) dari Blake dan
Mounton yang disarikan oleh Nanang Fatah (1996:94)
mengidentifikasikan selang perilaku manajemen atas dasar berbagai cara
yang membuat gaya berorientasi kepada tugas dan gaya yang
berorientasi kepada karyawan, masing-masing dinyatakan sebagai suatu
rangkaian kesatuan pada skala 1 sampai 9 yang berinteraksi satu sama
lain tentang kisi-kisi manajerial(manajerial Grid).
Gaya kepemimpinan yang dibawah tergolong pemimpin miskin
(impoverished management) dengan perhatian yang rendah orang dan
rendah terhadap tugas. Gaya kepemimpinan di atas adalah kekeluargaan
(country club) perhatian yang tinggi kepada karyawan, tetapi rendah
perhatian terhadap tugas. Gaya pemimpin di atas tapi keras adalah
manajemen tugas atau gaya otoriter yakni perhatian tinggi terhadap
tugas, tetapi rendah perhatian pada orang. Gaya pemimpin landai/tengahtengah adalah gaya manajemen jalan tengah (middle road) sedangsedang saja pada tugas maupun pada orang. Gaya demokratis adalah
gaya manajemen kelompok atau demokratis yakni perhatian yang tinggi
baik kepada tugas maupun pada orang dan gaya ini biasanya lebih efektif
dan mendapat dukungan kuat dari anggota organisasi.

D. Perilaku Kepemimpinan Kepala Madrasah Menuju


Kepemimpinan Efektif
Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menggunakan gaya yang
dapat mewujudkan sasarannya, misalnya dengan mendelegasikan tugas,
mengadakan komunikasi yang efektif, memotivasi bawahannya,
melaksanakan kontrol dan seterusnya. Kepemimpinan yang efektif
merupakan kepemimpinan yang mampu menggerakkan pengikutnya
untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan bersama. Hasil kajian
terhadap beberapa referensi menemukan 6 karakteristik kepemimpinan
yang baik. Keenam karakter tersebut antara lain:
1.

Pemahaman otentitas sejarah keberadaan organisasi.

2.

Memahami otentitas sumber-sumber organisasi.

3.

Memahami otentitas struktur organisasi.

4.

Memahami otentitas kekuatan organisasi.

5.

Memahami otentitas misi organisasi.

6.

Memahami otentitas makna organisasi.


Hodge mengatakan, sebagaimana yang dikutip Danim, ciri atau
karakteristik seorang pemimpin yang efektif dikelompokkan menjadi dua
sifat penting, yaitu mempunyai visi dan bekerja dari sudut efektifitas
mereka. Berikut ini adalah perincian pendapat Hodge tentang sepuluh
karakteristik pemimpin yang efektif.

1.

Memiliki misi.

2.

Pemimpin yang efektif memiliki fokus untuk mencapai tujuantujuan yang akan membuat misi menjadi kenyataan.

3.

Pemimpin yang efektif memenangi dukungan untuk visinya


dengan memanfaatkan gaya dan aktivitas yang paling cocok untuk
mereka sebagai individu.

4.

Pemimpin yang efektif secara alami lebih terfokus untuk menjadi


daripada melakukannya.

5.

Pemimpin yang efektif secara alami tahu bagaimana mereka


bekerja paling efisien dan efektif.

6.

Pemimpin yang efektif secara alami tahu bagaimana


memanfaatkan kekuatan mereka untuk mencapai tujuan.

7.

Pemimpin yang efektif tidak mencoba menjadi orang lain.

8.

Pemimpin yang efektif secara alami mencari orang-orang dengan


berbagai ciri efektifitas alam.

9.
10.

Pemimpin yang efektif menarik orang lain.


Pemimpin yang efektif terus mengembangkan kekuatan dalam
rangka memenuhi kebutuhan baru dan mencapai tujuan yang baru.
Dalam upaya menuju kepemimpinan pendidikan Islam yang efektif,
setidaknya para pemimpin harus dilatih sesuai dengan corak pendekatan
perilaku. Latihan-latihan itu dapat diwujudkan melalui:
Meneladani Seorang Tokoh (Al-Qudwah)
Yaitu melalui magang dengan seorang pemimpin yang berpengaruh,
melihat sikap dan perilakunya. Tetapi dengan metode seperti itu akan
timbul dua catatan, pertama, bahwa kesalahan dapat berpindah secara
terselubung yang kadang dapat membunuh atau menghancurkan, karena
ketidak mampuan sosok yang dilatih ini merupakan tanggung jawab sang
tokoh. Kedua, merealisir apa yang dinamakan personifikasi, yang
merupakan penjelmaan potret pemimpinnya. Oleh karena itu, kita tidak
dikatakan telah mendidik seorang pemimpin baru, tetapi itu seperti
seseorang yang berhenti berjalan untuk beberapa saat dan tidak dapat
melangkah walau satu langkah serta tidak tahu penyebabnya. Karena kita
hanya menjiplak seorang pemimpin teladan secara bulat dengan seluruh
aspek positif dan negatifnya.

Latihan Bersikap.
Yaitu melalui pemberian tanggung jawab pada sesorang yang dilatih
untuk memimpin sebuah diskusi, mengurus kepanitiaan, mengelola
pekerjaan atau melaksanakan sebuah tugas penting. Ia dipantau oleh
panitia khusus yang akan mengevaluasi, memperbaiki atau
memepersiapkan kader pemimpin tersebut untuk mengikuti kursus
kepemimpinan.
Sehingga dari upaya itu setidaknya ia akan dijamin dapat merealisasikan
dua hal:
1.

Memiliki kemahiran memimpin.

2.

Mampu mentransfer informasi.


Dari Ath-Thabrani, seseorang berkata: Rasulullah SAW menugaskan
seorang sahabat untuk memimpin sebuah pasukan kavaleri. Setelah
selesai ia kembali dan Rasulullah SAW bertanya kepadanya:
Bagaimana engkau mendapatkan kepemimpinan itu? Ia berkata: Aku
seperti bagian kaum. Jika aku menaiki kendaraanku, mereka ikut naik,
dan jika aku turun mereka iktut turun. Maka Nabi SAW bersabda:
Sesungguhnya kekuasaan itu berada diambang kesulitan, kecuali orang
yang dipelihara Allah. Dan lelaki itu berkata: Demi Allah, aku tidak
akan mau lagi bekerja (sebagai pemimpin) untukmu atau orang lain.
Lalu tersenyumlah Rasulullah SAW hingga terlihat gerahamnya. Dalam
riwayat lain lelaki itu adalah Miqdad bin Al-Aswad r.a. (Al-Haitsami:
5/201).
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW selalu memotivasi para
sahabatnya untuk memimpin melalui sikap dan beliau terus mengontrol
perkembangannya. Kepemimpinan harus dilakukan dengan penuh
kesabaran dan dimulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil dan
mulai saat ini. Pemimpin hendaknya jangan menunda suatu pekerjaan
karena hal itu akan mengakibatkan terbengkalainya suatu pekerjaan
Latihan Memilih.

Dalam konsepsi kepemimpinan, seorang pemimpin terpilih melalui


beberapa cara:
1.

Pemimpin yang memenangkan dengan jumlah suara terbanyak.

2.

Pemimpin yang terpilih secara langsung.

3.

Pemimpin yang diangkat, dan

4.

Pemimpin tanpa menggunakan cara-cara di atas dikarenakan tidak


ada pemimpin yang definitif.
Hasil studi menyatakan bahwa yang terbik dalam pelaksanaan tugas
adalah pemimpin yang dipilih secara langsung, selanjutnya pemimpin
yang memegang suara terbanyak, lalu selanjutnya pemimpin
yang diangkat.Oleh karena itu, pelatihan adalah cara yang terbaik dalam
penggemblengan sosok pemimpin. Sosok yang terbaik adalah sosok
yang dipilih, karena bawahan akan menerima sang pemimpin jika
mereka memilihnya sebagai orang yang layak di posisi tersebut karena
kemampuannya. Ia terpilih secara spontanitas tanpa harus berambisi
besar dan berkopetensi dengan yang lain untuk meraih tampuk
kepemimpinan. Karenanya seluruh sarana pengaruh efektif lebih
bermanfaat baginya. Atas dasar itulah ia sangat peduli dengan watak dan
perilakunya.
REFERENSI
Ametembun, N.A., Kepemimpinan Pendidikan, Malang: IKIP Malang,
1975.
Danim, Sudarwan, Kepemimpinan Pendidikan: Kepemimpinan Jenius
(IQ+EQ), Etika, Perilaku Motivasional, dan Mitos,Bandung: Alfabeta,
2010.
Kayo, Khatib Pahlawan, Kepemimpinan Islam dan Dawah, Jakarta:
Amzah, 2005.

Multitama Comunication, The Power of Leader: Potret Kepemimpinan


Islam yang Diteladani dan Dinantikan, Jakarta: Akbar Media Eka
Sarana, Mei 2007.
Fattah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2004.
Marno, Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan
Islam, Bandung: Refika Abditama, 2008.
Usman, Husaini, Manajemen Teori, Praktik dan Riset
Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
Madhi, Jamal, Menjadi Pemimpin yang Efektif dan Berpengaruh
Tinjauan Manajemen Kepemimpinan Islam, terj. Anang Syafruddin dan
Ahmad Fauzan, Bandung : PT. Syaamil Cipta Media, 2004.

Anda mungkin juga menyukai