Anda di halaman 1dari 15

Daftar Isi

HalamanSampul.

Kata Pengantar

ii

Daftar Isi

iii

BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1
1.1.

Latar Belakang.................................................................................... 1

1.2.

Rumusan masalah................................................................................ 2

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu :.......................2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 2
2.1.

Konsep Masyarakat Madani....................................................................2

2.2.

Karakteristik Masyarakat Madani.............................................................5

2.3.

Peran Umat Islam Dalam Mewujudkan Masyarakat Madani............................6

2.4.

Pengertian Kesejahteraan Umat Islam.......................................................7

2.5.

Cara Membangun Kesejahteraan Umat Islam..............................................8

BAB III PENUTUP........................................................................................ 12


3.1.

Kesimpulan...................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 14

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia buakan hanya sebagai makhluk inividu, tetapi juga sebagai makhluk
social. Dalam kehidupan social manusia medambakan kehidupan yang sejahtera
sesuai dengan fitrah pembawaannya. Dalam dinamika kehidupannya manusia dituntut
untuk mengekspresikan nilai keadaban, nilai kemanusiaan dan nilai ketuhanan untuk
mewujudkan masyarakat yang ideal, yaitu masyarakat madani yang memberikan
kebebasan, toleransi, keadilan dan kebersamaan dalam kemajemukan.
Islam adalah agama rahmatan lil`alamin dalam arti yang sesungguhnya. Sejak
awal diturunkan, agama Ilahiyyah ini telah menjadikan dirinya sebagai satu-satunya
agama yang menginginkan terujudnya rasa keadilan, ketentraman dan kesejahteraan
sosial bagi seluruh pemeluknya. Untuk meraih kesejahteraan sosial dimaksud Allah
telah mempersiapkan seperangkat aturan dan ajaran baik melalui wahyu maupun
hadits rasulullah yang dapat dijadikan acuan bagi kaum muslimin dalam tatanan
kehidupan mereka, baik dalam lingkup kecil maupun dalam skala yang lebih besar.
Dalam perjalanan sejarah umat Islam awal dan beberapa periode setelahnya,
kesejahteraan sosial tersebut berhasil dicapai dalam kehidupan bernegara dan
bermasyarakat. Keniscayaan akan terciptanya kesejahteraan sosial yang
sesungguhnya adalah ketika manusia hidup sesuai dengan tatanan yang telah
ditentukan Allah dan rasul-Nya.
Adanya beberapa kasus penindasan rakyat yang dilakukan oleh penguasa
merupakan realitas yang sering kita lihat dan dengar dalam pemberitaan pers, baik
melalui media cetak maupun elektronik yang menimbulkan dampak yang besar bagi
masyarakat. Bagaimana masyarakat dapat menanggapi masyarakat tersebut adalah hal
yang perlu dikaji bersama. Untuk meninjau hal tersebut Islam memiliki ajaran yang
konkrit untuk menciptakan kondisi masyarakat yang islami, karena islam bukan
hanya sekedar agama yang memiliki konsep ajaran spiritualitas atau ubudiyah semata.
1.2. Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu :
1. Apakah pengertian konsep masyarakat madani?
2. Bagaimana karakteristik masyarakat madani?
3. Bagaimana peran umat islam dalam mewujudkan masyarakat madani?
4. Apakah pengertian kesejahteraan umat islam?
5. Bagaimana cara membangun kesejahteraan umat Islam?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Konsep Masyarakat Madani
Madani satu kata yang indah. Punya arti yang dalam. Kadang kala banyak juga
yang menyalah artikannya. Apa itu sebenarnya madani. Bila diambil dari sisi
pendekatan letterlijk maka madani berasal dari kata m u d u n arti sederhananya m
a j u atau dipakai juga dengan kata modern. Tetapi figurlijknya madani mengandung
kata maddana al-madaina ( ) artinya, banaa-ha ( ) yakni membangun
) yaitu memperadabkan dan tamaddana ( ) maknanya
atau hadhdhara ((
menjadi beradab yang nampak dalam kehidupan masyarakatnya berilmu (periksa,
rasio), memiliki rasa (emosi) secara individu maupun secara kelompok serta memiliki
kemandirian (kedaulatan) dalam tata ruang dan peraturan-peraturan yang saling
berkaitan, kemudian taat asas pada kesepakatan (hukum) yang telah ditetapkan dan
diterima untuk kemashalahatan bersama.
= al hadhariyyu) adalah masyarakat berbudaya
Masyarakat madani ( (
danal-madaniyyah (tamaddun) yang maju, modern, berakhlak dan memiliki
peradaban, melaksanakan nilai - nilai agama (etika religi) atau mengamalkan ajaran
Islam (syarak) dengan benar. Nilai - nilai agama Islam boleh saja tampak pada umat
yang tidak atau belum menyatakan dirinya Islam, akan tetapi telah mengamalkan nilai
Islam itu. Sesunguhnya Agama (Islam) tidak dibatasi ruang-ruang masjid, langgar,
pesantren, majlis talim semata.
Pengamalan nilai - nilai agama sebenarnya menata gerak kehidupan riil.
Memberi acuan pelaksana tatanan politik pemerintahan, sosial ekonomi, seni budaya,
hak asasi manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi. Penerapan nilai etika religi
mewujudkan masyarakat yang hidup senang dan makmur ( = tanaama) dengan
aturan ( = qanun madaniy) yang didalamnya terlindungi hak-hak privacy,
perdata, ulayat dan hak-hak masyarakat lainnya.
Masyarakat madani adalah masyarakat kuat mengamalkan nilai agama (etika
reliji). Seperti dalam tatanan masyarakat Madinah al Munawwarah dimasa hayat Nabi
Muhammad SAW. Sejahtera dalam keberagaman pluralistis ditengah bermacam
anutan paham kebiasaan. Tetapi satu dalam pimpinan. Kekuatannya ada pada nilai
dinul Islam. Mampu melahirkan masyarakat proaktif menghadapi perubahan. Bersatu
di dalam kesaudaraan karena terdidik rohaninya. Pendidikan rohani merangkum
aspek pembangunan sumber daya manusia dengan pengukuhan nilai ibadah dan
akhlak dalam diri umat melalui solat, zikir. Pada akhirnya pendidikan watak atau
domain ruhani ini mencakup aspek treatment. Rawatan dan pengawalan

melalui taubat, tazkirah, tarbiyah, tauiyah. Ditopang dua manazil atau sifat penting,
yaitu Rabbaniah dan Siddiqiah.
Sifat Rabbaniah ditegakkan dengan benar diatas landasan pengenalan (makrifat)
dan pengabdian (`ubudiah) kepada Allah melalui ilmu pengetahuan, pengajaran,
nasihat, menyuruh yang maruf dan mencegahdari yang munkar. Siddiqiah mencakup
enam jenis kejujuran (al-sidq):
1. kejujuran lidah,
2. kejujuran niat dan kemauan (sifat ikhlas),
3. kejujuran azam,
4. kejujuran al-wafa (jujur dengan apa yang diucapkan dan dijanjikan),
5. kejujuran bekerja (prestasi karya), dan
6. kejujuran mengamalkan ajaran agama (maqamat al-din).
Kehidupan Madani terlihat pada kehidupan maju yang luas pemahaman
(tashawwur) sehingga menjadi sumber pendorong kegiatan di bidang ekonomi yang
lebih banyak bertumpu kepada keperluan jasmani (material needs). Spiritnya
melahirkan pemikiran konstruktif (amar makruf) dan meninggalkan pemikiran
destruktif (nahyun anil munkar) melalui pembentukan tata cara hidup yang diajarkan
agama Islam. Mengembangkan masyarakat Madani dimulai dari membangun domain
kemanusiaan atau domain ruhiah melalui pendidikan rohani yang merangkum aspek
preventif. Menjaga umat dari ketersesatan aqidah. Memelihara rakyat dari
ketidakseimbangan emosional dan mental. Agar umat terhindar dari melakukan
perbuatan haram, durjana dan kezaliman. Peningkatan mutu masyarakat dengan basis
ilmu pengetahuan, basis budaya dan agama.
Moralitas Masyarakat Madani, Sikap hati-hati sangat dituntut untuk meraih
keberhasilan. Action planning di setiap lini adalah keterpaduan, kebersamaan,
kesepakatan, dan keteguhan. Langkah awalnya menghidupkan musyawarah. Allah
menghendaki kelestarian Agama secara mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak
bersitegang. Memupuk sikaptaawun saling membantu dengan keyakinan bahwa Allah
Yang Maha Rahman selalu membukakan pintu berkah dari langit dan bumi.
Keterpaduan masyarakat dan pemerintah menjadi kekuatan ampuh membangun
kepercayaan rakyat banyak. Inilah inti reformasi yang dituju di abad baru ini. Tingkat
persaingan akan mampu dimenangkan kepercayaan . Pengikat spiritnya adalah
sikap Cinta kepada Bangsa dan Negara yang direkat oleh pengalaman sejarah. Salah
menerjemahkan suatu informasi, berpengaruh bagi pengambilan keputusan. Sikap
tergesa-gesa akan berakibat jauh bagi keselamatan orang banyak. Masyarakat
majemuk dapat dibina dengan kekuatan etika reliji.
Peran serta masyarakat digerakkan melalui musyawarah dan mufakat.
Kekuatan moral yang dimiliki, ialah menanamkan nawaitu dalam diri masingmasing mengamalkan ajaran agama dengan benar. Sebab, manusia tanpa agama

hakikinya bukan manusia sempurna. Tuntunan agama tampak pada adanya akhlak
dan ibadah. Akhlak melingkupi semua perilaku pada seluruh tingkat kehidupan.
Nyata dalam contoh yang ditinggalkan Rasulullah.
Ketika kehidupan manusia kian bertambah modern dan peralatan teknologi
semakin canggih, makin bertambah banyak masalah hati dan kejiwaan manusia yang
tampil kepermukaan. Tidak segera mudah dapat diselesaikan. Solsusinya hanya
mendekatkan diri kepada Allah SWT semata. Maka tuntutan kedepan harus diawasi
agar umat lahir dengan iman dalam ikatan budaya (tamaddun). Rahasia keberhasilan
adalah tidak terburu-buru dalam bertindak. Selalu ada husnu-dzan (sangka baik)
antara rakyat dan pemimpinnya. Kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani
rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi. Ukurannya adalah adil dan
takarannya adalah kemashlahatan umat banyak. Kemasannya adalah jujur secara
transparan.
Umat perlu dihidupkan jiwanya. Menjadi satu umat yang mempunyai
falsafah dan tujuan hidup (wijhah) yang nyata. Memiliki identitas (shibgah) dengan
corak keperibadian terang (transparan). Rela berpartisipasi aktif dalam proses
pembangunan. Masyarakat Madani yang dituntut oleh syariat Islam menjadi satu
aspek dari Sosial Reform yang memerlukan pengorganisasian (nidzam). Masyarakat
Madani mesti mampu menangkap tanda-tanda zaman perubahan sosial, politik dan
ekonomi pada setiap saat dan tempat dengan optimisme besar. Sikap apatis adalah
selemah-lemah iman (adhaful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan hanya
dapat dihilangkan dengan bekerja sama melalui tiga cara hidup , yakni bantu dirimu
sendiri (self help), bantu orang lain (self less help), dan saling membantu dalam
kehidupan ini (mutual help).
Ketiga konsep hidup ini mengajarkan untuk menjauhi ketergantungan kepada
pihak lain, artinya mandiri. Konsep madaniyah tampak utama didalam pembentukan
watak (character building) anak bangsa. Tentu saja melalui jalur pendidikan. Maka
reformasi terhadap pengelolaan keperluan masyarakat atau birokrasi mesti meniru
kehidupan lebah, yang kuat persaudaraannya, kokoh organisasinya, berinduk dengan
baik, terbang bersama membina sarang, dan baik hasil usahanya serta dapat dinikmati
oleh lingkungannya.
2.2. Karakteristik Masyarakat Madani
Masyarakat madani mempunyai karakteristik,yaitu :
1. Free public sphere (ruang publik yang bebas), yaitu masyarakat memiliki akses
penuh terhadap setiap kegiatan publik, yaitu berhak dalam menyampaikan
pendapat, berserikat, berkumpul, serta mempublikasikan informasikan kepada
publik. Sebagai sebuah prasayarat, maka untuk mengembangkan dan
mewujudkan masyarakat madani dalam sebuah tatan masyarakat, maka free

public sphere menjadi salah satu bagian yang harus dipenuhi, karena akan
memungkinkan terjadinya pembungkaman kebebasan warga Negara dalam
menyalurkan aspirasinya.
2. Demokratisasi, yaitu proses dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak
dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan kepentingankepentingannya. Demokrasi merupakan prasyarat yang banyak dikemukakan
oleh para pakar. Dan demokrasi merupakan salah satu syarat mutlak bagi
penegakan masyarakat madani. Penekanan demokratis disini dapat mencakup
bentuk aspek kehidupan, seperti social, budaya, politik, ekonomi, dan
sebagainya.
3. Toleransi, yaitu sikap saling menghargai dan menghormati pendapat serta
aktivitas yang dilakukan oleh orang atau kelompok lain. Toleransi
memungkinkan adanya kesadaran untuk menghargai serta menghormati
pendapat yang dikemukakan oleh kelompok lainnya yang berbeda. Azyumardi
juga menyebutkan bahwa masyarakat madani bukan hanya sekedar gerakangerakan pro demokrasi. Masyarakat ini mengacu juga pada yang berkualitas
dan civility, civilitas yakni kesediaan induvidu individu untuk menerima
pandangan pandangan politik dan sikap social yang berbeda beda.
4. Pluralisme, yaitu sikap mengakui dan menerima kenyataan mayarakat yang
majemuk disertai dengan sikap tulus. Menurut Nurcholis Madjid, konsep ini
merupakan prasyarat bagi tegaknya masyarakat madani. Menurutnya pluralism
yaitu pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan ikatan keadaban(genuine
engagement ofdiversities within the bonds of civility). Bahkan juga suatu
keharusan bagi keselamatan umat manusia antara lain melalui mekanisme
pengawasan dan pengimbangan (check and balance).
5. Keadilan sosial (social justice), yaitu keseimbangan dan pembagian antara hak
dan kewajiban, serta tanggung jawab individu terhadap lingkungannya.
Keadilan dimaksud untuk menyebutkan keseimbangan dan pembagian yang
proposional terhadap hak dan kewajiban setiap warga Negara. Secara esensial,
masyarakat memiliki hak yang sama dalm memperoleh kebijakan kebijakan
yang ditetapkan oleh penguasa (pemerintah).
6. Partisipasi sosial, yaitu partisipasi masyarakat yang benar-benar bersih dari
rekayasa, intimidasi, ataupun intervensi penguasa atau pihak lain.
7. Supremasi hukum, yaitu upaya untuk memberikan jaminan terciptanya
keadilan.\Sebagai pengembangan masyarakat melalui upaya peningkatan
pendapatan dan pendidikan.
8. Sebagai advokasi bagi masyarakt yang teraniaya dan tidak berdaya membela
hak-hak dan kepentingan.
9. Menjadi kelompok kepentingan atau kelompok penekan.
10. Pilar Penegak Masyarakat Madani

Yang dimaksud dengan pilar penegak masyarakat madani adalah institusiinstitusi yang menjadi bagian dari social control yang berfungsi
mengkritisikebijakan-kebijakan penguasa yang diskriminatif serta mampu
memperjuangkan aspirasi masyarakat yang tertindas. Dalam penegakan
masyarakat madani, pilar-pilar tersebut menjadi prasyarat mutlak bagi
terwujudnya kekuatan masyarakat madani. Pilar-pilar tersebut antara lain
adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Pers, Supremasi Hukum,
Perguruan Tinggi dan Partai politik.
2.3. Peran Umat Islam Dalam Mewujudkan Masyarakat Madani
Dalam sejarah Islam, realisasi keunggulan normatif atau potensial umat Islam
terjadi pada masa Abbassiyah. Pada masa itu umat Islam menunjukkan kemajuan di
bidang kehidupan seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, militer, ekonomi, politik
dan kemajuan bidang-bidang lainnya. Umat Islam menjadi kelompok umat terdepan
dan terunggul. Nama-nama ilmuwan besar dunia lahir pada masa itu, seperti Ibnu
Sina, Imam al-Ghazali, al-Farabi, dan yang lain.
1. Kualitas SDM Umat Islam
Firman Allah SWT dalam QS. Ali Imran ayat 110 yang artinya: Kamu adalah
umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf,
dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan
kebanyakan mereka adalah orang yang fasik.
Dari ayat di atas sudah jelas bahwa Allah menyatakan bahwa umat Islam adalah umat
yang terbaik dari semua kelompok manusia yang Allah ciptakan. Di antara aspek
kebaikan umat Islam itu adalah keunggulan kualitas SDM-nya dibanding umat non
Islam. Keunggulan kualitas umat Islam yang dimaksud dalam Al-Quran itu sifatnya
normatif, potensial, bukan riil.
2. Posisi Umat Islam
SDM umat Islam saat ini belum mampu menunjukkan kualitas yang unggul.
Karena itu dalam percaturan global, baik dalam bidang politik, ekonomi, militer, dan
ilmu pengetahuan dan teknologi, belum mampu menunjukkan perannya yang
signifikan. Di Indonesia jumlah umat Islam 85% tetapi karena kualitas SDM-nya
masih rendah, juga belum mampu memberikan peran yang proporsional. Hukum
positif yang berlaku di negeri ini bukan hukum Islam. Sistem sosial politik dan
ekonomi juga belum dijiwai oleh nilai-nilai Islam, bahkan tokoh-tokoh Islam belum
mencerminkan akhlak Islam.

2.4. Pengertian Kesejahteraan Umat Islam


Kata sejahtera memiliki beberapa arti. Dalam istilah umum, sejahtera menunjuk
pada keadaan yang baik; kondisi saat orang-orang dalam keadaan terkait dengan
pandangan hidup yang makmur. Dalam ekonomi, kata sejahtera terkait dengan
pandangan hidup yang menjadi landasannya. Kapitalisme atau sosialisme mengukur
kesejahteraan dengan capaian-capaian material ( misalnya produk domestic bruto
perkapita), walaupun mereka berbeda tentang cara distribusinya.
Beberapa Negara barat, istilah kesejahteraan umat/sosial menunjuk pada
pelayanan Negara untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Di Amerika Serikat
bahkan hal ini lebih spesifik lagi pada uang yang dibayarkan pemerintah kepada
orang-orang yang membutuhkan bantuan finansial, yakni yang pendapatannya tidak
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
Islam mendefinisikan kesejahteraan umat sebagai kondisi saat seseorang dapat
mewujudkan semua tujuan (maqashid) syariah, yakni:
1.
Terlindung kesucian agamanya
2.
Terlindung keselamatan dirinya
3.
Terlindung akalnya
4.
Terlindung kehormatannya
5.
Terlindung hak milik/hak ekonominya.
Dengan demikian, kesejahteraan tidak cuma merupakan buah suatu sistem
ekonomi. Kesejahteraan adalah juga buah sistem hukum, sistem politik, sistem
budaya dan sistem pergaulan sosial. Karena itulah, ideologi yang mendasari sistemsistem ini sangat menentukan dalam memberikan warna sejahtera seperti apa yang
akan diwujudkan, dan apakah sejahtera seperti itu akan bertahan lama atau berlaku
secara universal.
2.5. Cara Membangun Kesejahteraan Umat Islam
Untuk tercapainya umat islam yang sejahtera ada beberapa system yang dapat
dilalui. Antara lain yaitu:
1. Membangun Kesejahteraan Melalui Sistem Hukum
Surat an-Nisa menyebutkan bahwa sumber hukum dalam Islam yang wajib
dijadikan referensi di dalam segala tindakan dan hukum mereka, yaitu:
Pertama, Al-Quranul Karim, mengamalkannya merupakan ketaatan kepada Allah.
Kedua, Sunnah Rasul, baik qauliyah (perkataan) maupun filiyah (perbuatan) .
mengamalkannya adalah ketaatan kepada Rasul.
Ketiga, Pendapat Ahlul Halli wal Aqdi di dalam umat. Mereka terdiri atas
ulama dan orang-orang yang bertanggung jawab tentang kemaslahatan umum,
seperti tentara, para petani, industriawan dan pendidik yang semuanya menangani

bidangnya masing-masing. Mengamalkan pendapat mereka adalah ketaatan


kepada Ulil Amri.
Sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah Taala dalam surat an-Nisa
ayat 59:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan
ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu,
Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama
(bagimu) dan lebih baik akibatnya.[2]
Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam menafsirkan surat an-Nisa ayat 59 tersebut
adalah perintah wajib yang Allah Taala lontarkan kepada umat islam berupa taat
kepada-Nya dan Rasul-Nya dengan berpegang teguh kepada Al-Quran dan hadits,
dan taatilah penguasa-penguasa kamu, jika mereka beragama islam yang berpegang
teguh kepada syariat Allah, sebab tidak ada ketaatan kepada makhluk, jika dia
durhaka kepada Sang Khalik. Dan dalam firman-Nya terdapat kata minkum (di
antara kamu) merupakan dalil bahwa penguasa-penguasa yang wajib kamu taati
adalah penguasa-penguasa yang muslim lahir dan batinnya, daging dan darahnya,
bukan muslim bentuk dan penampilannya saja. Pada ayat kemudian kemudian jika
kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan
Rasul, maksudnya adalah putuskanlah sesuatu yang menjadi perselisihan tersebut
dari hukum-hukum yang terdapat dalam kitab Allah dan hadits nabi Nya, dan pada
sambungan ayat,jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, ini
adalah syarat yang menghapus jawabnya untuk menunjukkan lafazh yang terdahu;lu.
Jawabnya yang terbuang; maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasul-Nya. Ini
bertujuan memotivasi agar umat islam senantiasa berpegang teguh kepada Al-Quran
(Allah) dan hadits (rasul-Nya). Seperti perkataan,jika kamu anakku maka kamu
jangan menentang aku. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya, ialah kembali kepada Allah dan rasul-Nya melalui Al-Quran dan hadits
merupakan hal yang lebih utama bagi umat dan lebih baik akibat/dampaknya bagi
umat.[3]
Setiap hukum yang berasal dari Al-Quran dan hadits, bila umat muslim tidak
bersandar kepadanya, tidak pula kembali kepada pendapat Ahlul Halli wal
Aqdi (Ijma Ulama) maka hukumnya bathil, yang mengikuti hawa nafsu semata dan
tidak menjamin kemaslahatan hajat hidup orang banyak serta ridha Allah SWT.[4]
Hukum Islam ialah bentuk produk hukum yang sangat menjunjung tinggi
kemaslahatan umat, sebenar-benar hukum yang mengedepankan hak asasi manusia,
adil tanpa memandang pelaku kejahatan apakah kaya atau miskin, dan bukan produk
hukum yang bisa ditawar-tawar serta tidak pula tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

2. Membangun Kesejahteraan Melalui Sistem Ekonomi


Isu ekonomi islam secara internasional telah lama bergulir. Guliran ini
menemukan momentumnya pada awal 1970-an, ketika terjadi perang Arab-Israel
yang membangunkan solidaritas dan kesadaran umat islam dari tidur panjangnya.
Demikian pula halnya di Indonesia , meskipun rembesan-rembesan gairah ekonomi
islam internasional telah masuk ke negeri ini sejak decade 1980-an, tetapi gerakan
ekonomi islam menemukan momentumnya pada saat krisis ekonomi melanda negeri
ini di ujung decade 90-an. Hal itu ditandai dengan maraknya berdiri lembagalembaga syariah dan sejenisnya seperti Baitul Mal wa Tamwil (BMT) dan bank-bank
syariah di sektor praktis.[5]
Perlu dipahami bahwa ekonomi islam merupakan suatu cara atau maksud untuk
memenuhi kebutuhan hajat hidup orang banyak dengan berdasarkan kepada nilai-nilai
kemanusiaan. Perbincangan tentang prinsip moral tersebut dikemukakan Yusuf
Qardhawi, yang mencakup:
Pertama, harus berpegang teguh kepada semua yang dihalalkan Allah dan tidak
melampaui batas. Intinya ekonomi islam, ekonomi yang dicapai secara halal, baik,
adil, saling menguntungkan dan penuh dengan keridhaan Allah SWT.
Kedua, melindungi dan menjaga sumber daya alam karena alam merupakan nikmat
dari Allah kepada hamba-Nya.[6] Dengan demikian orientasi ekonomi islam adalah
mewujudkan kemaslahatan umat yang berdimensi ibadah dan didasari dengan tujuan
mencapai ridho Allah SWT.
Persoalan ekonomi merupakan bagian esensial dari kelangsungan hidup
manusia, sehingga tidak heran jika manusia sangat ekstra keras dalam melakukan apa
saja, agar pemberdayaan ekonominya dapat terjamin. Pemberdayaan ekonomi secara
baik, menjadi kata kunci memelihara dan meningkatkan pertumbuhan hidup secara
baik. Soal bagaimana pemberdayaannya, Rasulullah menyerahkan persoalan
pemberdayaannya kepada manusia karena mereka yang lebih tahu urusan dunianya.
Penyerahan Rasulullah tersebut mengisyaratkan bahwa seseorang memiliki
kebebasan untuk melakukan pemberdayaan terhadap urusan hidup. Dengan catatan
tidak melanggar batas-batas norma hukum yang telah digariskan Allah SWT.
Ini menunjukkan bahwa islam memiliki nilai-nilai prinsipil terhadap aktivitas
kehidupan, begitu juga halnya dengan prinsip pemberdayaan ekonomi islam. Prinsip
pemberdayaan itu sejalan dengan tujuannya antara lain:
1.
Mewujudkan kesejahteraan ekonomi dalam kerangka norma moral islam
2.
Mewujudkan persaudaraan dan keadilan universal
3.
Terwujudnya pendapatan dan kekayaan yang merata
4.
Terwujudnya kebebasan individual dalam konteks kemaslahatan dan
kesejahteraan umat.[7]

Dengan demikian prinsip pemberdayaan ekonomi harus diawali dari beberapa


keyakinan normatif. Keyakinan normatif yang dimaksudkan antara lain:
1.
Manusia merupakan Khalifah dan pemakmur bumi
2.
Setiap harta yang dimiliki terdapat bagian orang lain
3.
Dilarang memakan harta (memperoleh harta) secara bathil
4.
Penghapusan praktik riba dan berbagai hal yang meracuni kebaikan dan
kehalalan harta.[8]
Penolakan terhadap monopoli dan hegemoni yang mengakibatkan hak dan
ruang berkarya orang menjadi sulit. Kekayaan merupakan amanah Allah dan tidak
dimiliki secara mutlak. Islam memberikan ruang gerak yang sangat luas kepada
manusia untuk bermuamalah selama tidak melanggar ketentuan syariah, etika dan
bisnis islam.
3. Membangun Kesejahteraan Melalui Sistem Politik
Manusia adalah human social atau makhluk sosial yang tak bisa berlepas diri
dari hidup orang lain, saling membutuhkan satu sama lain sehingga manusia tak akan
bisa bertahan hidup tanpa keberadaan makhluk lain atau orang lain.
Manusia juga oleh Aristoteles disebutkan zoon politicon yaitu dalam artian
manusia memerlukan tatanan-tatanan peraturan, norma-norma dan sistem dalam
mengatur urusan hidup dan kehidupan serta mengatur kepentingan dan urusan
wilayah/Negara berdasarkan tujuan bersama. Oleh karena itu ada dua poin penting
kontribusi yang dapat ditarik dari penafsiran Quraish Shihab terhadap Al-Quran
tentang kekuasaan, yaitu:
1. Penegakkan Etika dalam Kehidupan Politik
Kekuasaan politik adalah untuk mengatur masalah-masalah umat, maka apapun
proses politik harus dilandasi oleh nilai-nilai moral dan etika yang bersumber pada
ajaran agama. Ini sesuai dengan pesan utama Rasulullah SAW, bahwa ia tidak diutus
kedunia melainkan untuk menyempurnakan etika (makhluk) manusia.
Quraish Shihab menolak pandangan yang mengahalalkan segala cara untuk
mencapai tujuan . Pandangan-pandangan yang mengatakan bahwa politik itu kotor,
dalam politik tidak ada kawan atau lawan yang abadi kecuali kepentingan jangan
bawa-bawa moralitas dalam arena politik, dan jargon-jargon lain yang berusaha
menjustifikasi segala cara untuk mencapai tujuan politik, adalah cara pandangan yang
sesat lagi menyesatkan. Orang boleh saja berupaya untuk menggapai kekuasaan
politik, bahkan yang tertinggi sekalipun, namun ia tidak boleh melupakan nilai-nilai
moral dan etika.[9]
Bagi Quraish, agama harus mampu berperan mengarahkan kehidupan sosial
menuju masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera di bawah
naungan maghfirahAllah,
yang
dalam
bahasa
Al-Quran
diungkapkan

dengan baldatun thoyyibatun wa Robbun Ghofur, menurutnya, ada tiga peran agama
dalam menwujudkan hal demikian, yaitu:
a. Agama hendaknya menjadi kekuatan pendorong bagi peningkatan kualitas
sumber daya manusia
b. Agama hendaknya memberikan kepada individu dan masyarakat sesuatu
kekuatan pendorong untuk meningkatkan partisipasi dalam karya dan kreasi
masyarakat
c. Agama dengan nilai-nilainya harus mampu berperan sebagai isolator yang
menghambat seseorang dari segala penyimpangan.[10]
Menurut Quraish juga, dalam pandangan agama, Tuhan memberi kemampuan
kepada pemerintah untuk meluruskan yang keliru dan mendorong kepada kebenaran
melebihi kemampuan tuntutan-tuntutan-Nya yang termaktub dalam kitab suci. Dalam
konteks ini hadits Nabi menyatakan yang artinya Sesungguhnya Allah mencegah
melalui penguasa apa yang tidak tercegah melalui Al-Qur'an.[11]
Dengan kekuasaan yang dimiliki pemerintah, sekian banyak hal dapat dicapai dan
sekian banyak keburukan dapat tercegah. Dengan demikian, kekuasaan politik yang
dilandasi etika yang kuat tentu akan melahirkan masyarakat yang beretika pula.
2. Pemihakan Terhadap Kepentingan Masyarakat
Seseorang memperoleh kekuasaan politik adalah berdasarkan kontrak sosial.
Masyarakat yang dipimpinnya telah menyerahkan sebagian haknya untuk diatur
urusan-urusannya dan menyatakan kepatuhan kepadanya. Bentuk konkretnya pada
masa lalu diwujudkan ketika rakyat membaiat pemimpin. Dalam masa modern
sekarang hal ini direalisasikan dalam bentuk pemilu. Memang di dalam pemilu tidak
semua orang secara aklamasi memilih seorang penguasa atau dengan kata lain tidak
ada penguasa yang memperoleh suara secara mutlak. Namun dengan mayoritas suara
yang diperolehnya dari masyarakat ia berhak menduduki kursi kepemimpinan.
Meskipun sebagian rakyat tidak memilihnya, ketika ia terpilih secara sah, maka
semua rakyat wajib mematuhinya.
Oleh sebab itu, sebagai imbalannya pemimpin yang terpilih wajib menjalankan
tugas-tugasnya dengan baik dan mengayomi semua masyarakatnya, mengutamakan
kepentingan mereka dan tidak berlaku sewenang-wenang terhadap mereka. Karena
kekuasaan merupakan perjanjian segitiga antara penguasa, rakyat serta penguasa dan
Allah, maka apapun bentuk pelaksanaan kekuasaan akan dipertanggungjawabkannya
di depan Mahkamah Allah kelak. Tidak ada satupun yang lepas dari
pertanggungjawaban.[12]

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat madani adalah masyarakat
berbudaya dan al-madaniyyah (tamaddun) yang maju, modern, berakhlak dan
memiliki peradaban, semestinya melaksanakan nilai-nilai agama (etika reliji) atau
bagi kita mengamalkan ajaran Islam (syarak) dengan benar. Untuk mewujudkan
masyarakat madani dan agar terciptanya kesejahteraan umat maka kita sebagai
generasi penerus supaya dapat membuat suatu perubahan yang signifikan. Selain itu,
kita juga harus dapat menyesuaikan diri dengan apa yang sedang terjadi di
masyarakat sekarang ini. Agar di dalam kehidupan bermasyarakat kita tidak
ketinggalan berita.
Ada dua masyarakat madani dalam sejarah islam yang terdokumentasi sebagai
masyarakat madani, yaitu:
1) Masyarakat Saba, yaitu masyarakat di masa Nabi Sulaiman.
2) Masyarakat Madinah setelah terjadi traktat
Wacana masyarakat madani merupakan konsep yang bersumber dari pergolakan
politik dan sejarah masyarakat Eropa Barat yang mengalami perubahan pola
kehidupan Feodal menuju kehidupan masyarakat industri kapitalis. Perkembangan
wacana masyarakat madani dapat diurutkan dari Cirero sampai pada Antonio Gramsci
dan deTocquiville. Bahkan menurut Manfred Ridel, Cohen, dan Arato serta M.
Dawam Rahardjo, wacana masyarakat madani sudah ada pada masa Aristoteles.
Dilihat dari gagasan diatas berarti masyarakat madani mempunyai
karakteristik,yaitu
:ruang
publik
yang
bebas, Demokratisasi, Toleransi, Pluralisme, Keadilan
sosial, Partisipasi
sosial, Supremetasi hukum, Sebagai pengembangan masyarakat melalui upaya
peningkatan pendapatan dan pendidikan, Sebagai advokasi bagi masyarakat yang
teraniaya dan tidak berdaya membela hak-hak dan kepentingan, Menjadi kelompok
kepentingan atau kelompok penekan, dan Pilar Penegak Masyarakat Madani.
Membangun kesejahteraan umat memang tidaklah mudah, tidak semudah
membalik telapak tangan. Kesejahteraan diindikasikan dengan sejahtera umat secara
sistem hukum, sistem ekonomi, dan sejahtera secara sistem politiknya.
1. Sejahtera secara hukum diukur dengan kesadaran umat dalam mematuhi
tatanan-tatanan hukum syari yang telah ditetapkan oleh Tuhannya melalui
agama islam, bertindak semata beribadah dan mengharap ampunan serta
keridhaan-Nya.

2. Sejahtera secara ekonomi diukur dengan adanya khalifah pemakmur bumi,


setiap harta yang dimiliki ada bagian orang lain, dilarangnya setiap individu
memakan/merampas harta orang lain.
3. Sejahtera secara politik diukur dengan penegakkan etika dalam kehidupan
berpolitik dan pemihakan terhadap kepentingan masyarakat. Karena kekuasaan
merupakan perjanjian segitiga antara penguasa, rakyat serta penguasa dan Allah
SWT.

DAFTAR PUSTAKA
Fadloli, Sri, Abdul. Ramadhan 1432 H. Malang: Aditya Media Publishing.
https://www.academia.edu/7494054/Makalah_Masyarakat_madani_dan_kesejahteraa
n_umat
(16September 2015)
http://makalahkite.blogspot.co.id/2013/12/masyarakat-madani-dan-kesejahteraanumat.html (16September 2015)
http://harumishma.blogspot.co.id/2013/07/masyarakat-madani-dan-kesejahteraanumat.html (16September 2015)
https://id.scribd.com/doc/63185610/Masyarakat-Madani-Dan-Kesejahteraan-UmatKelompok-4 (16September 2015)
http://www.slideshare.net/ajengfaiza/kesejahteraan-umat (16September 2015)
http://azwarammar.blogspot.co.id/2014/03/membangun-kesejahteraan-umat.html
(16September 2015)
[1]Naskah Konferensi Rajab 1432 H, Hidup Sejahtera di Bawah Naungan Khilafah,
(Medan: Hizbut Tahrir Indonesia, 2011), h. 19
[2] Kemenag RI, Al-Quran dan Terjemah, (Bekasi: Cipta Bagus Segara, 2012), h. 87
[3] Syaikh M. Ali Ash-shabuni, Shofwatut Tafasir, (Jakarta Timur: Pustaka AlKautsar, 2011), jilid I, h. 664
[4] Mahmud Syaltut, Terjemahan Tafsir Al-Quranul Karim, (Bandung: CV.
Diponegoro, 1990), h. 399
[5] Ibnu Taimiyah, Al-Hisbah fil Islam au Wazhifah al-Hukumah al-Islamiyyah,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 5
[6] Yusuf Qardhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, (Jakarta: Gema Insani Press,
1995), h. 117-118
[7] Ahmad Sabban Rajagukguk, Berdialog dengan Tuhan, (Bandung: Citapustaka
Media Perintis, 2009), h. 194
[8] Ibid, h. 194
[9] Muhammad Iqbal, Etika Politik Qurani, (Medan: IAIN Press, 2010), h. 113
[10] M. Quraish Shihab, Secercah Cahaya Ilahi, (Bandung: Mizan, 2000), h. 58
[11] M. Quraish Shihab, Menebar Pesan Ilahi, h. 377
[12] Ibid, h. 414