Anda di halaman 1dari 34

Apa itu Pemanasan Global

Email Artikel ini ke Teman Anda

"Panas banget ya hari ini! Seringkah Anda mendengar pernyataan


tersebut terlontar dari orang-orang di sekitar Anda ataupun dari diri Anda
sendiri? Anda tidak salah, data-data yang ada memang menunjukkan
planet bumi terus mengalami peningkatan suhu yang mengkhawatirkan
dari tahun ke tahun. Selain makin panasnya cuaca di sekitar kita, Anda
tentu juga menyadari makin banyaknya bencana alam dan fenomenafenomena alam yang cenderung semakin tidak terkendali belakangan ini.
Mulai dari banjir, puting beliung, semburan gas, hingga curah hujan yang
tidak menentu dari tahun ke tahun. Sadarilah bahwa semua ini adalah
tanda-tanda alam yang menunjukkan bahwa planet kita tercinta ini sedang
mengalami proses kerusakan yang menuju pada kehancuran! Hal ini terkait
langsung dengan isu global yang belakangan ini makin marak dibicarakan
oleh masyarakat dunia yaitu Global Warming (Pemanasan Global). Apakah
pemanasan global itu? Secara singkat pemanasan global adalah
peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi. Pertanyaannya adalah:
mengapa suhu permukaan bumi bisa meningkat?
Penyebab Pemanasan Global
Penelitian yang telah dilakukan para ahli selama beberapa dekade terakhir
ini menunjukkan bahwa ternyata makin panasnya planet bumi terkait
langsung dengan gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktifitas
manusia. Khusus untuk mengawasi sebab dan dampak yang dihasilkan
oleh pemanasan global, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) membentuk
sebuah kelompok peneliti yang disebut dengan International Panel on
Climate Change (IPCC). Setiap beberapa tahun sekali, ribuan ahli dan
peneliti-peneliti terbaik dunia yang tergabung dalam IPCC mengadakan
pertemuan untuk mendiskusikan penemuan-penemuan terbaru yang
berhubungan dengan pemanasan global, dan membuat kesimpulan dari
laporan dan penemuan- penemuan baru yang berhasil dikumpulkan,
kemudian membuat persetujuan untuk solusi dari masalah tersebut . Salah
satu hal pertama yang mereka temukan adalah bahwa beberapa jenis gas
rumah kaca bertanggung jawab langsung terhadap pemanasan yang kita
alami, dan manusialah kontributor terbesar dari terciptanya gas-gas rumah

kaca tersebut. Kebanyakan dari gas rumah kaca ini dihasilkan oleh
peternakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor,
pabrik-pabrik modern, peternakan, serta pembangkit tenaga listrik.
Apa itu Gas Rumah Kaca?
Atmosfer bumi terdiri dari bermacam-macam gas dengan fungsi yang
berbeda-beda. Kelompok gas yang menjaga suhu permukaan bumi agar
tetap hangat dikenal dengan istilah gas rumah kaca. Disebut gas rumah
kaca karena sistem kerja gas-gas tersebut di atmosfer bumi mirip dengan
cara kerja rumah kaca yang berfungsi menahan panas matahari di
dalamnya agar suhu di dalam rumah kaca tetap hangat, dengan begitu
tanaman di dalamnya pun akan dapat tumbuh dengan baik karena memiliki
panas matahari yang cukup. Planet kita pada dasarnya membutuhkan gasgas tesebut untuk menjaga kehidupan di dalamnya. Tanpa keberadaan gas
rumah kaca, bumi akan menjadi terlalu dingin untuk ditinggali karena tidak
adanya lapisan yang mengisolasi panas matahari. Sebagai perbandingan,
planet mars yang memiliki lapisan atmosfer tipis dan tidak memiliki efek
rumah kaca memiliki temperatur rata-rata -32o Celcius.
Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah Karbon Dioksida
(CO2), metana (CH4) yang dihasilkan agrikultur dan peternakan (terutama
dari sistem pencernaan hewan-hewan ternak), Nitrogen Oksida (NO) dari
pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan
(CFC). Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai
penyimpan CO2 juga makin memperparah keadaan ini karena pohonpohon yang mati akan melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam
jaringannya ke atmosfer. Setiap gas rumah kaca memiliki efek pemanasan
global yang berbedabeda. Beberapa gas menghasilkan efek pemanasan
lebih parah dari CO2. Sebagai contoh sebuah molekul metana
menghasilkan efek pemanasan 23 kali dari molekul CO2. Molekul NO
bahkan menghasilkan efek pemanasan sampai 300 kali dari molekul CO2.
Gas-gas lain seperti chlorofluorocarbons (CFC) ada yang menghasilkan
efek pemanasan hingga ribuan kali dari CO2. Tetapi untungnya pemakaian
CFC telah dilarang di banyak negara karena CFC telah lama dituding
sebagai penyebab rusaknya lapisan ozon.

Apa Penyebab Utama Pemanasan Global?


Dalam laporan PBB (FAO) yang berjudul Livestock's Long Shadow: Enviromental
Issues and Options (Dirilis bulan November 2006), PBB mencatat bahwa industri
peternakan adalah penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar (18%), jumlah ini
lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh transportasi di seluruh
dunia (13%). Emisi gas rumah kaca industri peternakan meliputi 9 % karbon
dioksida, 37% gas metana (efek pemanasannya 72 kali lebih kuat dari CO2), 65 %
nitro oksida (efek pemanasan 296 kali lebih kuat dari CO2), serta 64% amonia
penyebab hujan asam. Peternakan menyita 30% dari seluruh permukaan tanah

kering di Bumi dan 33% dari area tanah yang subur dijadikan ladang untuk
menanam pakan ternak. Peternakan juga penyebab dari 80% penggundulan Hutan
Amazon.
Sedangkan laporan yang baru saja dirilis World Watch Institut menyatakan
bahwa peternakan bertanggung jawab atas sedikitnya 51 persen dari pemanasan
global.
Penulisnya, Dr. Robert Goodland, mantan penasihat utama bidang lingkungan
untuk Bank Dunia, dan staf riset Bank Dunia Jeff Anhang, membuatnya
berdasarkan Bayangan Panjang Peternakan, laporan yang diterbitkan pada tahun
2006 oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Mereka menghitung
bidang yang sebelumnya dan memperbarui hal lainnya, termasuk siklus hidup
emisi produksi ikan yang diternakkan, CO2 dari pernapasan hewan, dan koreksi
perhitungan sebenarnya yang menghasilkan lebih dari dua kali lipat jumlah hewan
ternak yang dilaporkan di planet ini.
Emisi metana dari hewan ternak juga berperan sebesar 72 kali lebih dalam
menyerap panas di atmosfer daripada CO2. Hal ini mewakili kenaikan yang lebih
akurat dari perhitungan asli FAO dengan potensi pemanasan sebesar 23 kali.
Meskipun demikian, para peneliti itu memberitahu bahwa perkiraan mereka adalah
minimal, dan karena itu total emisi 51 persen masih konservatif.
Kenaikan Permukaan Laut Dunia
Email Arikel ini ke Teman Anda

Indonesia Kehilangan 26 Pulau


Kerusakan lingkungan, terutama akibat penambangan pasir laut
dan abrasi dianggap sebagai biang keladi lenyapnya secara fisik
26 pulau di Indonesia. Dari 17.506 pulau, kini jumlahnya
melorot menjadi 17.480 pulau. Data ini dihimpun oleh
Departemen Kelautan dan Perikanan, yang masih terus
melakukan pendataan dan akan selesai dirangkum tahun 2009
mendatang. Hilangnya pulau-pulau ini semakin kentara sejak 8
tahunan lalu, pada saat penambangan pasir laut semakin marak.
Yang menjadi kekhawatiran Departemen Kelautan dan Perikanan
adalah jumlah pulau yang hilang diperkirakan semakin menjadi
dengan adanya perubahan iklim. Diperkirakan hingga tahun
2030, akan hilang sekitar 2000 an pulau di Indonesia, bila tidak
dilakukan pencegahan sedini mungkin. Kembali Hutagalung:
Pemanasan global telah mengakibatkan kenaikan air laut. Di
Jakarta saja 5 hinga 8 milimeter tiap tahunnya. Ini serius untuk
masa depan. Diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan 25
tahun ke depan lah, lebih dari 2000 pulau yang akan tenggelam.
Departemen Kelautan dan Perikanan menyatakan perlindungan
laut juga merupakan faktor penting dalam memperlambat
perubahan iklim. Apalagi, terumbu karang, padang lamun, dan
biota laut lainnya dapat menyerap karbondioksida sebanyak 246
juta ton per tahun. Untuk itu, Departemen Kelautan dan

Perikanan akan mengupayakan bantuan perlindungan kelautan


Indonesia dalam Konferensi Iklim Internasional yang akan
berlangsung di Bali Desember mendatang.
http://www.dw-world.de/dw/article/0,2144,2977544,00.html
Desa di Alaska menerima bantuan untuk relokasi karena
perubahan iklim
Desa di Newtok dan 400 penduduk Yupik Eskimo menerima
US$3 juta dari negara bagian Alaska, AS untuk membantu
merelokasi diri mereka ke tanah yang lebih aman dan lebih
tinggi. Dari 213 desa asli di Alaska, kurang lebih 86 persen
daerahnya sudah dapat dilihat fenomena mencairnya es secara
permanen, es abadi yang tenggelam, banjir besar, badai yang
hebat, dan erosi daerah pantai. Enam desa harus mengambil
tindakan segera untuk memastikan keselamatan penduduknya.
Dengan dana bantuan dari negara bagian, penduduk Yupik
Eskimo di Newtok sekarang dapat mulai membangun kembali
desa di tanah yang lebih tinggi dan lebih terlindungi. Pemerintah
mengalokasikan tambahan US$13 juta untuk perlindungan Desa
Yupik yang rapuh di tahun berikutnya.
http://ap.google.com/article/ALeqM5iWeAsairnfC4lqysPZN42yN
HRUgAD91924D00
Selandia Baru membantu penduduk Pulau Kiribati dalam
menghadapi perubahan iklim
Karena kenaikan permukaan air laut, 94.000 orang yang tinggal
di Pulau Kiribati yang ada di daratan rendah harus memindahkan
rumah mereka. Presiden Kiribati, Anote Tong telah
menyampaikan ucapan terima kasihnya atas bantuan Selandia
Baru yang mengizinkan keluarga Kiribati yang terkena dampak
ini untuk berimigrasi dan berharap agar negara lain akan
bertindak sama. Selandia Baru dan Kiribati juga telah
menandatangani deklarasi bersama yang akan menyediakan
Kiribati US$30 juta dalam pendanaan untuk upaya seperti
proyek kota yang berkelanjutan.
http://www.radioaustralia.net.au/news/stories/200806/s2269300.
htm?tab=latest

Orang Kanada di barat daya Kolombia bersiaga terhadap


kenaikan permukaan laut

Laporan baru dari pemerintah federal Kanada mengatakan


bahwa kenaikan permukaan laut satu meter dapat memberi
dampak kepada 220.000 orang yang hidup di area pantai
Vancouver. Permukaan air laut telah naik 4 sampai 5 mm setiap
tahunnya. Laporan juga menyatakan bahwa jika air laut terus
naik, maka 4600 hektar lahan pertanian dan 15.000 hektar area
pemukiman di Kolumbia akan terkena banjir. Lois Jackson,
walikota dari Delta, Kolombia, berkata: Fenomena ini sekarang
telah terjadi, dan bukan teori lagi.
http://www.canada.com/theprovince/news/story.html?
id=9d54cfd8-874f-4c89-bd64-f3f7e2b17bd1&k=25491
Pulau Tuvalu di Jepang Hampir Tenggelam
Ahli lingkungan Jepang, Shuichi Endo sedang mencoba
mengambil photo Pulau Tuvalu yang dihuni oleh 10 ribu orang di
negara kepulauan Pasifik untuk meningkatkan kesadaran akan
ancaman serius dari penduduk di Pulau Tuvalu. Pulau ini terletak
hanya beberapa meter di atas permukaan laut dan terancam
tenggelam karena permukaan air laut naik secara signifikan
karena pemanasan global.
http://www.abc.net.au/ra/news/stories/200803/s2196990.htm?
tab=pacific

Garis Pesisir Pantai Skotlandia Terkikis Akibat Perubahan


Iklim
Pemerintah Skotlandia mengeluarkan laporan yang menyatakan
erosi di pesisir sepanjang 740 mil, bersama dengan naiknya
permukaan air laut. Air yang berubah menjadi semakin asam
juga membahayakan satwa liar. Richard Lochhead, sekretaris
kabinet urusan pedesaan dan lingkungan berkata tentang situasi
darurat ini, Ini terjadi sekarang dan kita harus bertindak.
http://news.scotsman.com/scotland/740-miles-of-Scottishcoast.3960702.jp
Tingkat Kenaikan Air Laut Mungkin Lebih Tinggi Daripada
Prediksi Sebelumnya
Selama konferensi ilmu geologi Eropa, ilmuwan-ilmuwan
memprediksi bahwa mencairnya lapisan es dan memanasnya air
laut bisa menaikkan ketinggian air laut sebesar 1,5 meter.
Ramalan ini tiga kali lebih besar daripada yang dilaporkan oleh
Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim Perserikatan
Bangsa-Bangsa (IPCC) tahun lalu. Temuan ini telah menaikkan
keprihatinan dari para imuwan maupun para pemerintah dari
negara-negara yang ada di tepi pantai dan kepulauan. Dr.
Benjamin Fong Chao adalah Dekan dari Institut Ilmu Bumi di
Universitas Nasional Pusat di Taiwan serta mantan peneliti di
NASA mengatakan: "Salah satu dampak utama dari pemanasan
global adalah peningkatan level air laut. Hal ini benar-benar
menjadi masalah yang serius karena bagian penting dari
peradaban kita berada beberapa meter di atas permukaan laut.
Jadi kenaikan air laut berapa pun dan kapan pun akan
mempunyai dampak yang besar bagi ekonomi dunia dan
kehidupan manusia. Sebagai negara kepulauan, Taiwan
seharusnya sangat bersungguh-sungguh dengan masalah ini.
Selain itu permukaan laut seperti thermometer yang
menunjukkan keseriusan dari pemanasan global. Dalam
pandangan itu, masalah kenaikan air laut harus dimonitor dari
dekat." Berdasarkan analisis terakhir yang dilakukan oleh tim
Inggris-Finlandia, permukaan laut selama 2000 tahun telah
stabil. Pengukuran menunjukkan peningkatan hanya 2 cm di
abad ke-18 dan 6 cm di abad ke-19, tapi tiba-tiba menjadi 19 cm

atau lebih dari setengah kaki di abad yang lalu. Hal ini karena
mencairnya lapisan sungai es. Bagi ahli iklim, angka yang kecil
ini sangatlah berarti, dengan implikasi yang lebih kompleks dari
yang dimengerti sejauh ini.
Kepulauan Torres Strait Dilanda Kenaikan Level Laut
Karena Perubahan Iklim
Setengah dari penduduk kepulauan Torres Strait 18 Australia
mengalami banjir dalam dua tahun terakhir sebagai akibat dari
air pasang yang terus-menerus. Penduduk lokal percaya bahwa
peningkatan banjir yang terus-menerus ini disebabkan oleh
pemanasan global. Dr. Donna Green, seorang ilmuwan di
Universitas New South Wales Australia, telah memulai bantuan
secara pribadi kepada penduduk dengan mengatur lokakarya
dan pertemuan untuk membantu mereka beradaptasi terhadap
pengaruh perubahan iklim. Saat ini ada diskusi tentang
berpindah ke area yang lebih tinggi sebagai satu-satunya cara
melindungi mereka dari naiknya permukaan air laut.
http://www.independent.co.uk/environment/climatechange/sinking-without-trace-australias-climate-change-victims821136.html
Desa-desa Pantai di India Timur Akan Tenggelam
Kenaikan permukaan air laut sehubungan dengan perubahan
iklim telah mengakibatkan lebih dari 100 keluarga dari Desa
Satabhaya dan Kanhupur mencari tempat penampungan di
pedalaman. Air diperkirakan telah naik paling sedikit 9 meter ke
arah Desa Kanhupur hanya tahun ini saja dan telah membanjiri
rumah-rumah, lahan pertanian, sekolah dasar, dan sumur yang
digunakan oleh penduduk setempat. Di Satabhaya, sebuah kuil
berusia 800 tahun yang berdiri dua kilometer dari laut 10 tahun
yang lalu, sekarang berdiri di atas air pada waktu pasang.
Indonesia menduduki peringkat ketiga paling berisiko terhadap perubahan
iklim. Hal ini berdasarkan hasil analisis yang dibuat German Watch.
Penetapan peringkat itu dilakukan dengan ukuran peristiwa bencana alam
terkait perubahan iklim yang terjadi sepanjang tahun 2006.

Sven Harmeling dari German Watch, menjelaskan, Filipina (nilai indeks


4,0) berada di peringkat pertama dalam Indeks Risiko Perubahan Iklim
(CRI), di susul Korea Selatan (5,75) pada peringkat kedua. Indonesia
(5,75) di peringkat ketiga dengan total korban tewas tercatat 1.297 orang.
Peringkat Indonesia itu naik dari tahun sebelumnya, yang berpatokan pada
data peristiwa sepanjang tahun 2005, yaitu di peringkat ke-39.
Ada empat indikator untuk pengukuran itu, yakni total jumlah korban tewas,
kematian per 100.000 penduduk, kehilangan absolut dalam kemampuan
membeli dalam juta dollar AS, dan kehilangan per persentase GDP.
Dalam peta yang lebih besar, yaitu dengan berpatokan pada data
sepanjang tahun 1997 sampai 2006, Indonesia tidak termasuk ke dalam
daftar 10 besar negara paling berisiko terhadap perubahan iklim.
Sementara itu, hasil survei yang dilakukan Globescan bekerja sama
dengan The World Conservation Union (IUCN), Bank Dunia, dan sejumlah
organisasi lainnya, dengan responden para tokoh berpengaruh dan para
pengambil keputusan dari 105 negara, diperoleh gambaran bahwa 87
persen dari responden yang berjumlah 1.000 orang memilih pentingnya
kerangka kerja aksi terkait perubahan iklim adalah demi pembangunan
berkelanjutan.
Secara terpisah, Menteri Lingkungan Hidup Jepang Ichiro Kamoshita
mengatakan bahwa pencapaian target pengurangan emisi gas rumah kaca
seperti ditetapkan pada Protokol Kyoto adalah utang generasi saat ini
kepada generasi-generasi mendatang.
Demikian dikatakan Ichiro Kamoshita berkaitan dengan perayaan ulang
tahun ke-10 Protokol Kyoto di tengah berlangsungnya Konferensi PBB
tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) di Nusa Dua.
"Sepuluh tahun Protokol Kyoto sangat bermakna. Di tengah ketidakpastian
ilmu pengetahuan untuk meramal masa depan, pengurangan emisi karbon
tetap harus dilakukan. Ini adalah utang antargenerasi," kata Ichiro.
Masih di Nusa Dua, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri
pernyataan lintas agama dan perubahan iklim sebagai rangkaian kegiatan
sampingan COP-13/UNFCCC di Bali. Menurut Presiden, seluruh agama
yang diakui di Indonesia merasa punya alasan bersatu padu menempatkan
perubahan iklim sebagai musuh bersama yang harus dicegah dan diatasi

demi menjaga kelangsungan kehidupan. Hal senada disampaikan Ketua


MPR Hidayat Nur Wahid.k(EF)
Pemanasan global
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Anomali suhu permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan
dibandingkan pada suhu rata-rata dari 1940 sampai 1980.
Pemanasan global (Inggris: global warming adalah suatu proses meningkatnya
suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 0.18 C (1.33
0.32 F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate
Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata
global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh
meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui
efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30
badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negaranegara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan
beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu
permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 C (2.0 hingga 11.5 F) antara
tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh
penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca pada
masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun
sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan
kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu

tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan
besarnya kapasitas kalor lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan
yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena
cuaca yang ekstrem,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat
pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya
gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah
pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan, dan bagaimana
pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari
satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik
dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk
mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi
terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negaranegara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang
mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Penyebab pemanasan global
o 1.1 Efek rumah kaca
o 1.2 Efek umpan balik
o 1.3 Variasi Matahari
2 Mengukur pemanasan global
3 Model iklim
4 Dampak pemanasan global
o 4.1 Iklim mulai tidak stabil

o 4.2 Peningkatan permukaan laut


o 4.3 Suhu global cenderung meningkat
o 4.4 Gangguan ekologis
o 4.5 Dampak sosial dan politik
5 Perdebatan tentang pemanasan global
6 Pengendalian pemanasan global
o 6.1 Menghilangkan karbon
o 6.2 Persetujuan internasional
7 Lihat pula
8 Referensi
9 Pranala luar
[sunting] Penyebab pemanasan global
[sunting] Efek rumah kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar
energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak.
Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang
menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan
memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra
merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap
terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara
lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap
gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi
gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di
permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu
rata-rata tahunan bumi terus meningkat.

Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin
meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang
terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di
bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu ratarata sebesar 15 C (59 F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 C (59 F) dari
suhunya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 C sehingga
es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gasgas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.
[sunting] Efek umpan balik
Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan
balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus
pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada
awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer.
Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut
dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan
konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila
dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini
meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembapan relatif udara hampir
konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).[3] Umpan
balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang
panjang di atmosfer.
Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini.
Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke
permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat
dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah
ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya
menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail
tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit
direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila
dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim
(sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan
Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada
peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif
(menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan
Pandangan IPCC ke Empat.[3]

Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya


(albedo) oleh es.[4] Ketika suhu global meningkat, es yang berada di dekat kutub
mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya
es tersebut, daratan atau air di bawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air
memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan
es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan
menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair,
menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku
(permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan.
Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan
balik positif.
Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia
menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona
mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang
merupakan penyerap karbon yang rendah.[5]
[sunting] Variasi Matahari

Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir.


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Variasi Matahari
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan
kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi
dalam pemanasan saat ini.[6] Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan
akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan
stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan
stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960,[7] yang tidak
akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini.

(Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi
penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari
dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek
pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak
tahun 1950.[8][9]
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari
mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuwan dari Duke
University memperkirakan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap
45-50% peningkatan suhu rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar
25-35% antara tahun 1980 dan 2000.[10] Stott dan rekannya mengemukakan bahwa
model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat perkiraan berlebihan
terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari;
mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan
aerosol sulfat juga telah dipandang remeh.[11] Walaupun demikian, mereka
menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap
pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekadedekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.
Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuwan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss
menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat
"keterangan" dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya
memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama
30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan
global.[12][13] Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Frhlich menemukan bahwa
tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun
1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar
kosmis.[14]
[sunting] Mengukur pemanasan global

Hasil pengukuran konsentrasi CO2 di Mauna Loa


Pada awal 1896, para ilmuwan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil
akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan suhu rata-rata global.
Hipotesis ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada
program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel
atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai.
Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbon
dioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan
cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi
peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.
Para ilmuwan juga telah lama menduga bahwa iklim global semakin menghangat,
tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat. Suhu terus
bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya. Perlu
bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh data-data yang menunjukkan
suatu kecenderungan (trend) yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an agak
memperlihatkan kecenderungan penghangatan ini, akan tetapi data statistik ini
hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya.
Stasiun cuaca pada awalnya, terletak dekat dengan daerah perkotaan sehingga
pengukuran suhu akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan
dan kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh material bangunan dan jalan.
Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh
dari perkotaan), serta dari satelit. Data-data ini memberikan pengukuran yang lebih
akurat, terutama pada 70 persen permukaan planet yang tertutup lautan. Data-data
yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa kecenderungan menghangatnya
permukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat pada akhir abad ke-20, tercatat
bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus tahun terakhir terjadi setelah tahun
1980, dan tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dengan 1998 menjadi
yang paling panas.
Dalam laporan yang dikeluarkannya tahun 2001, Intergovernmental Panel on
Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa suhu udara global telah meningkat
0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861. Panel setuju bahwa
pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktivitas manusia yang menambah
gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi peningkatan suhu rata-rata
global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 C (2.0 hingga 11.5 F) antara tahun 1990
dan 2100.

IPCC panel juga memperingatkan, bahwa meskipun konsentrasi gas di atmosfer


tidak bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap terus menghangat selama
periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya. karbon dioksida
akan tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam
mampu menyerapnya kembali.[15]
Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi, konsentrasi
karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad
ke-22 bila dibandingkan masa sebelum era industri. Akibatnya, akan terjadi
perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenarnya peristiwa perubahan iklim
ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah Bumi, manusia akan menghadapi
masalah ini dengan risiko populasi yang sangat besar.
[sunting] Model iklim

Perhitungan pemanasan global pada tahun 2001 dari beberapa model iklim
berdasarkan scenario SRES A2, yang mengasumsikan tidak ada tindakan yang
dilakukan untuk mengurangi emisi.
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Model iklim global
Para ilmuwan telah mempelajari pemanasan global berdasarkan model-model
computer berdasarkan prinsip-prinsip dasar dinamikan fluida, transfer radiasi, dan
proses-proses lainya, dengan beberapa penyederhanaan disebabkan keterbatasan
kemampuan komputer. Model-model ini memprediksikan bahwa penambahan gasgas rumah kaca berefek pada iklim yang lebih hangat.[16] Walaupun digunakan
asumsi-asumsi yang sama terhadap konsentrasi gas rumah kaca pada masa depan,
sensitivitas iklimnya masih akan berada pada suatu rentang tertentu.
Dengan memasukkan unsur-unsur ketidakpastian terhadap konsentrasi gas rumah
kaca dan pemodelan iklim, IPCC memperkirakan pemanasan sekitar 1.1 C hingga

6.4 C (2.0 F hingga 11.5 F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Model-model iklim
juga digunakan untuk menyelidiki penyebab-penyebab perubahan iklim yang
terjadi saat ini dengan membandingkan perubahan yang teramati dengan hasil
prediksi model terhadap berbagai penyebab, baik alami maupun aktivitas manusia.
Model iklim saat ini menghasilkan kemiripan yang cukup baik dengan perubahan
suhu global hasil pengamatan selama seratus tahun terakhir, tetapi tidak
mensimulasi semua aspek dari iklim.[17] Model-model ini tidak secara pasti
menyatakan bahwa pemanasan yang terjadi antara tahun 1910 hingga 1945
disebabkan oleh proses alami atau aktivitas manusia; akan tetapi; mereka
menunjukkan bahwa pemanasan sejak tahun 1975 didominasi oleh emisi gas-gas
yang dihasilkan manusia.
Sebagian besar model-model iklim, ketika menghitung iklim pada masa depan,
dilakukan berdasarkan skenario-skenario gas rumah kaca, biasanya dari Laporan
Khusus terhadap Skenario Emisi (Special Report on Emissions Scenarios / SRES)
IPCC. Yang jarang dilakukan, model menghitung dengan menambahkan simulasi
terhadap siklus karbon; yang biasanya menghasilkan umpan balik yang positif,
walaupun responnya masih belum pasti (untuk skenario A2 SRES, respon
bervariasi antara penambahan 20 dan 200 ppm CO2). Beberapa studi-studi juga
menunjukkan beberapa umpan balik positif.[18][19][20]
Pengaruh awan juga merupakan salah satu sumber yang menimbulkan
ketidakpastian terhadap model-model yang dihasilkan saat ini, walaupun sekarang
telah ada kemajuan dalam menyelesaikan masalah ini.[21] Saat ini juga terjadi
diskusi-diskusi yang masih berlanjut mengenai apakah model-model iklim
mengesampingkan efek-efek umpan balik dan tak langsung dari variasi Matahari.
[sunting] Dampak pemanasan global
Para ilmuwan menggunakan model komputer dari suhu, pola presipitasi, dan
sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model
tersebut, para ilmuwan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak
pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian,
kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.
[sunting] Iklim mulai tidak stabil
Para ilmuwan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian
Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari
daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan

daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara
tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak
akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang
ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam
akan lebih panjang di beberapa area. Suhu pada musim dingin dan malam hari
akan cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembap karena lebih banyak air yang menguap
dari lautan. Para ilmuwan belum begitu yakin apakah kelembapan tersebut malah
akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini
disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya
akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih
banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan
memantulkan cahaya Matahari kembali ke angkasa luar, dimana hal ini akan
menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembapan yang tinggi akan
meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat
Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1
persen dalam seratus tahun terakhir ini)[22]. Badai akan menjadi lebih sering. Selain
itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan
menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan
mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh
kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan
pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan
terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrem.
[sunting] Peningkatan permukaan laut

Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang
stabil secara geologi.

Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat,


sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut.
Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland,
yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia
telah meningkat 10 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuwan
IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat memengaruhi kehidupan di daerah pantai.
Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5
persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan
bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir
akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan
menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya,
sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari
daerah pantai.
Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat memengaruhi ekosistem
pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa
pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di
area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan
menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.
[sunting] Suhu global cenderung meningkat
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih
banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa
tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat
keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di
lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin
tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari
gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim
dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak
bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan
serangga dan penyakit yang lebih hebat.
[sunting] Gangguan ekologis
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek
pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam
pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas

pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah


baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan
manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke
utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian
mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat
berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
[sunting] Dampak sosial dan politik
Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit
yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang
panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan
malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut
akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian
akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan
penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti:
diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan
lain-lain.
Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui
air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vectorborne diseases). Seperti meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena
munculnya ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak. Dengan
adamya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit (eq Aedes
Agipty), Virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu
yang target nya adalah organisme tersebut. Selain itu bisa diprediksi kan bahwa
ada beberapa spesies yang secara alamiah akan terseleksi ataupun punah
dikarenakan perbuhan ekosistem yang ekstreem ini. hal ini juga akan berdampak
perubahan iklim (Climate change)yang bisa berdampak kepada peningkatan kasus
penyakit tertentu seperti ISPA (kemarau panjang / kebakaran hutan, DBD Kaitan
dengan musim hujan tidak menentu)
Gradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga
berkontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne disease. Ditambah pula
dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya
akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran pernapasan seperti asma,
alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain.
[sunting] Perdebatan tentang pemanasan global

Tidak semua ilmuwan setuju tentang keadaan dan akibat dari pemanasan global.
Beberapa pengamat masih mempertanyakan apakah suhu benar-benar meningkat.
Yang lainnya mengakui perubahan yang telah terjadi tetapi tetap membantah
bahwa masih terlalu dini untuk membuat prediksi tentang keadaan pada masa
depan. Kritikan seperti ini juga dapat membantah bukti-bukti yang menunjukkan
kontribusi manusia terhadap pemanasan global dengan berargumen bahwa siklus
alami dapat juga meningkatkan suhu. Mereka juga menunjukkan fakta-fakta bahwa
pemanasan berkelanjutan dapat menguntungkan di beberapa daerah.
Para ilmuwan yang mempertanyakan pemanasan global cenderung menunjukkan
tiga perbedaan yang masih dipertanyakan antara prediksi model pemanasan global
dengan perilaku sebenarnya yang terjadi pada iklim. Pertama, pemanasan
cenderung berhenti selama tiga dekade pada pertengahan abad ke-20; bahkan ada
masa pendinginan sebelum naik kembali pada tahun 1970-an. Kedua, jumlah total
pemanasan selama abad ke-20 hanya separuh dari yang diprediksi oleh model.
Ketiga, troposfer, lapisan atmosfer terendah, tidak memanas secepat prediksi
model. Akan tetapi, pendukung adanya pemanasan global yakin dapat menjawab
dua dari tiga pertanyaan tersebut.
Kurangnya pemanasan pada pertengahan abad disebabkan oleh besarnya polusi
udara yang menyebarkan partikulat-partikulat, terutama sulfat, ke atmosfer.
Partikulat ini, juga dikenal sebagai aerosol, memantulkan sebagian sinar Matahari
kembali ke angkasa luar. Pemanasan berkelanjutan akhirnya mengatasi efek ini,
sebagian lagi karena adanya kontrol terhadap polusi yang menyebabkan udara
menjadi lebih bersih.
Keadaan pemanasan global sejak 1900 yang ternyata tidak seperti yang diprediksi
disebabkan penyerapan panas secara besar oleh lautan. Para ilmuwan telah lama
memprediksi hal ini tetapi tidak memiliki cukup data untuk membuktikannya. Pada
tahun 2000, U.S. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA)
memberikan hasil analisis baru tentang suhu air yang diukur oleh para pengamat di
seluruh dunia selama 50 tahun terakhir. Hasil pengukuran tersebut memperlihatkan
adanya kecenderungan pemanasan: suhu laut dunia pada tahun 1998 lebih tinggi
0,2 derajat Celsius (0,3 derajat Fahrenheit) daripada suhu rata-rata 50 tahun
terakhir, ada sedikit perubahan tetapi cukup berarti.[22]
Pertanyaan ketiga masih membingungkan. Satelit mendeteksi lebih sedikit
pemanasan di troposfer dibandingkan prediksi model. Menurut beberapa kritikus,
pembacaan atmosfer tersebut benar, sedangkan pengukuran atmosfer dari
permukaan Bumi tidak dapat dipercaya. Pada bulan Januari 2000, sebuah panel

yang ditunjuk oleh National Academy of Sciences untuk membahas masalah ini
mengakui bahwa pemanasan permukaan Bumi tidak dapat diragukan lagi. Akan
tetapi, pengukuran troposfer yang lebih rendah dari prediksi model tidak dapat
dijelaskan secara jelas.
[sunting] Pengendalian pemanasan global
Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun.
Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada
yang dapat mencegah pemanasan global pada masa depan. Tantangan yang ada
saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah
untuk mencegah semakin berubahnya iklim pada masa depan.
Kerusakan yang parah dapat di atasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat
dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut.
Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke
daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat
menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur)
habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara.
Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk
menuju ke habitat yang lebih dingin.
Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas
rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan
menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini
disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi
produksi gas rumah kaca.
[sunting] Menghilangkan karbon
Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbon dioksida di udara adalah
dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon,
terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang
sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam
kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang
mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali
karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain,
seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk
mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam
mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.

Gas karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan
menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk
mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan (lihat Enhanced Oil Recovery).
Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam
sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu
anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, dimana karbon dioksida yang
terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke
aquifer sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.
Salah satu sumber penyumbang karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar
fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri
pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk
kemudian digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad
ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi.
Perubahan tren penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung
telah mengurangi jumlah karbon dioksida yang dilepas ke udara, karena gas
melepaskan karbon dioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak
apalagi bila dibandingkan dengan batubara. Walaupun demikian, penggunaan
energi terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi pelepasan karbon dioksida ke
udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan keselamatan dan
limbahnya yang berbahaya, tetapi tidak melepas karbon dioksida sama sekali.
[sunting] Persetujuan internasional
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Protokol Kyoto
Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas
rumah kaca. Pada tahun 1992, pada Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil, 150
negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk
menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun
1997 di Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal
dengan Protokol Kyoto.
Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan kepada 38 negaranegara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas
rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5 persen di bawah emisi
tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012. Pada
mulanya, Amerika Serikat mengajukan diri untuk melakukan pemotongan yang
lebih ambisius, menjanjikan pengurangan emisi hingga 7 persen di bawah tingkat
1990; Uni Eropa, yang menginginkan perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8

persen; dan Jepang 6 persen. Sisa 122 negara lainnya, sebagian besar negara
berkembang, tidak diminta untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi gas.
Akan tetapi, pada tahun 2001, Presiden Amerika Serikat yang baru terpilih, George
W. Bush mengumumkan bahwa perjanjian untuk pengurangan karbon dioksida
tersebut menelan biaya yang sangat besar. Ia juga menyangkal dengan menyatakan
bahwa negara-negara berkembang tidak dibebani dengan persyaratan pengurangan
karbon dioksida ini. Kyoto Protokol tidak berpengaruh apa-apa bila negara-negara
industri yang bertanggung jawab menyumbang 55 persen dari emisi gas rumah
kaca pada tahun 1990 tidak meratifikasinya. Persyaratan itu berhasil dipenuhi
ketika tahun 2004, Presiden Rusia Vladimir Putin meratifikasi perjanjian ini,
memberikan jalan untuk berlakunya perjanjian ini mulai 16 Februari 2005.
Banyak orang mengkritik Protokol Kyoto terlalu lemah. Bahkan jika perjanjian ini
dilaksanakan segera, ia hanya akan sedikit mengurangi bertambahnya konsentrasi
gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu tindakan yang keras akan diperlukan nanti,
terutama karena negara-negara berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini
akan menghasilkan separuh dari emisi gas rumah kaca pada 2035. Penentang
protokol ini memiliki posisi yang sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di
Amerika Serikat terutama dikemukakan oleh industri minyak, industri batubara
dan perusahaan-perusahaan lainnya yang produksinya tergantung pada bahan bakar
fosil. Para penentang ini mengklaim bahwa biaya ekonomi yang diperlukan untuk
melaksanakan Protokol Kyoto dapat menjapai 300 milyar dollar AS, terutama
disebabkan oleh biaya energi. Sebaliknya pendukung Protokol Kyoto percaya
bahwa biaya yang diperlukan hanya sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat lebih
kurang lagi serta dikembalikan dalam bentuk penghematan uang setelah mengubah
ke peralatan, kendaraan, dan proses industri yang lebih effisien.
Pada suatu negara dengan kebijakan lingkungan yang ketat, ekonominya dapat
terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah dikurangi. Akan tetapi
membatasi emisi karbon dioksida terbukti sulit dilakukan. Sebagai contoh,
Belanda, negara industrialis besar yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil
mengatasi berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam
mengurangi produksi karbon dioksida.
Setelah tahun 1997, para perwakilan dari penandatangan Protokol Kyoto bertemu
secara reguler untuk menegoisasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti
peraturan, metode dan pinalti yang wajib diterapkan pada setiap negara untuk
memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoisator merancang sistem dimana
suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil

keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain.
Sistem ini disebut perdagangan karbon. Sebagai contoh, negara yang sulit
meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli kredit polusi di pasar,
yang dapat diperoleh dengan biaya yang lebih rendah. Rusia, merupakan negara
yang memperoleh keuntungan bila sistem ini diterapkan. Pada tahun 1990,
ekonomi Rusia sangat payah dan emisi gas rumah kacanya sangat tinggi. Karena
kemudian Rusia berhasil memotong emisinya lebih dari 5 persen di bawah tingkat
1990, ia berada dalam posisi untuk menjual kredit emisi ke negara-negara industri
lainnya, terutama mereka yang ada di Uni Eropa.
Pekanbaru(infobidannia), Perubahan cuaca dan lautan dapat berupa peningkatan
temperatur secara global (panas) yang dapat mengakibatkan munculnya penyakitpenyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian, terutama
pada orang tua, anak-anak dan penyakit kronis. Temperatur yang panas juga dapat
menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi.
Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat
mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian
akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan
penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti:
diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan
lain-lain.
Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui
air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vectorborne diseases). Mengapa hal ini bisa terjadi? Kita ambil contoh meningkatnya
kejadian Demam Berdarah. Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit ini
memiliki pola hidup dan berkembang biak pada daerah panas. Hal itulah yang
menyebabkan penyakit ini banyak berkembang di daerah perkotaan yang panas
dibandingkan dengan daerah pegunungan yang dingin. Namun dengan terjadinya
Global Warming, dimana terjadi pemanasan secara global, maka daerah
pegunungan pun mulai meningkat suhunya sehingga memberikan ruang
(ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak.
Degradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga
berkontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne disease. Ditambah pula
dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya
akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran pernafasan seperti asma,
alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain.

Demikian besar pengaruh pemanasan global terhadap kesehatan kita. Masihkah


kita menutup mata terhadap semua ancaman ini? Lets take action now!
BUMI MEMANAS,
KUMAN PENYAKIT MENGGANAS
Pemanasan Global (Global Warming), terjadi disebabkan meningkatnya suhu ratarata permukaan bumi.
Karena bumi menyerap lebih banyak energi matahari, daripada yang dilepas
kembali ke atmosfer (ruang angkasa).
Menyebabkan terjadinya peningkatan emisi gas.
Menimbulkan peningkatan panas bumi dan pencairan kutub es.
Pemicu utamanya adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan energi
fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya). Penghasil terbesarnya adalah
negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang,
China, dll. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negeranegara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan.
Perubahan iklim memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk
diantaranya kesehatan. Pemanasan global dapat meningkatkan faktor resiko dan
penyakit yang mengancam kesehatan manusia secara global, diantaranya;
malnutrisi mengakibatkan kematian 3,7 juta jiwa per tahun,
diare mengakibatkan kematian 1,9 juta jiwa,
dan malaria mengakibatkan kematian 0,9 juta jiwa.
Suhu yang lebih panas juga berpengaruh pada produksi makanan, ketersediaan air
dan penyebaran vektor penyakit. BADAN Kesehatan Dunia (WHO)
memperingatkan bahwa pemanasan global (global warming) akan banyak
berdampak bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan. Perubahan temperatur dan
curah hujan yang ditimbulkan memberikan kesempatan berbagai macam virus dan
bakteri penyakit tumbuh lebih luas. WHO mengatakan, selain virus dan bakteri
penyakit berkembang pesat, secara tidak langsung pemanasan global juga dapat
menimbulkan kekeringan maupun banjir.

Kekeringan mengakibatkan penurunan status gizi masyarakat karena panen


yang terganggu
Banjir menyebabkan meluasnya penyakit diare.
Yang paling nyata, antara lain :
1. Kerusakan lingkungan
2. Penyakit yang ditimbulkan oleh perubahan iklim akibat pemanasan global
3. Banjir
4. Kebakaran hutan
Hal ini berdampak terhadap kesehatan manusia, misalnya :
kwalitas air yang kita minum
Udara yang kita hirup
Makanan yang kita makan
a. Banjir (Paradoks Korban Banjir )
Pemanasan global membuat penumpukan uap air di udara semakin besar.
Ketika daerah perkotaan tergenang, muncul paradoks yang khas. Penduduk
kehausan di tengah genangan air.
Dari situlah berjangkit penyakit diare dan Leptospirosis
b. Kebakaran hutan
Kebakaran hutan itu mengusik ekosistem bumi dari dua segi. Material kayu
dan serasah yang terbakar itu menghasilkan gas-gas rumah kaca yang
menimbulkan pemanasan global. Sedangkan asap hitamnya menganggu
secara langsung kehidupan manusia.
Asap yang mengandung debu halus dan berbagai oksida karbon itu
menyebabkan gangguan pernapasan dan infeksi saluran pernapasan akut

(ISPA), mulai asma, bronkhitis hingga penyakit paru obstruktif kronis


(COPD).
Asap tersebut juga membawa racun dioksin yang bisa menimbulkan kanker
paru dan gangguan kehamilan serta kemandulan pada wanita.
1. Dampak secara langsung
Pada suhu panas manusia rentan sakit, Penyakit Saluran Pernafasan
2. Dampak tidak langsung
Meningkatnya penyakit menular, antara lain : Malaria, DBD, Chikungunya,
Penyakit yang ditularkan melalui udara dan air
3. Dampak jangka panjang
Terjadinya konflik psikologi, mis. stress.
4. Penyakit lama timbul kembali
Penyakit Malaria.
5. Penyakit degeneratif
Penyakit jantung, Penyakit paru-paru.
6. Dampak penipisan ozone antara lain meningkatnya intensitas sinar ultra
violet
Kanker kulit, Katarak, penurunan daya tahan tubuh, dan pertumbuhan
mutasi genetik.
7. Memperburuk penyakit-penyakit umum
Asma dan alergi.
8. Meningkatkan kasus-kasus kardiovaskular
Kematian yang disebabkan penyakit jantung dan stroke. gangguan jantung
dan pembuluh darah

Pada kondisi cuaca sepetri ini maka Nyamuk akan berkembang:


Udara panas dan lembab itu paling cocok buat nyamuk malaria (Anopheles),
dan nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti). Dulu, jenis kedua nyamuk
penebar maut ini lebih sering muncul di musim pancaroba, transisi antara
musim hujan dan kemarau.
Kini rentang waktu serangan kedua serangga itu hampir di sepanjang tahun.
Udara panas dan lembab berlangsung sepanjang tahun, ditambah dengan
sanitasi buruk yang selalu menyediakan genangan air bening untuk mereka
bertelur. Maka, kini virus malaria yang dibawa Anopheles dan virus dengue
yang dibawa nyamuk Aedes aegypti dapat menyerang sewaktu-waktu secara
ganas.
Akibat pemanasan global, siklus inkubasi ekstrinsik virus penyebab Demam
Berdarah Dengue (DBD) di tubuh nyamuk Aedes aegyti dan siklus inkubasi
ekstrinsik virus penyebab Malaria di tubuh nyamuk Anopheles menjadi lebih
pendek dan Masa inkubasi kuman lebih singkat. Populasi mereka lebih
mudah meledak. Akibatnya, kasus demam berdarah lebih mudah meningkat
dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Karena itu, upaya pencegahan penyakit harus dilakukan secara menyeluruh.
Tidak hanya menangani penyakitnya saja, tetapi Faktor lingkungan fisik
dan biologis harus pula dikendalikan dengan cara memodifikasi lingkungan
agar vektor malaria dan demam berdarah tak bisa berkembang biak,
Dampak pemanasan global juga mempengaruhi penipisan ozone antara lain
meningkatnya intensitas sinar ultra violet yang mencapai permukaan bumi
menyebabkan gangguan terhadap kesehatan, seperti kanker kulit, katarak,
penurunan daya tahan tubuh, dan pertumbuhan mutasi genetik.
1. Sektor kesehatan harus menyiapkan langkah guna mengantisipasi dampak
perubahan iklim dan pemanasan global karena kedua faktor tersebut
memengaruhi pola penyebaran dan penularan penyakit.
2. Menurut WHO sebagian besar resiko kesehatan dapat ditekan melalui
intervensi program kesehatan, tindakan terencana untuk memperkuat sistem
kesehatan maupun promosi kesehatan guna melindungi dan meningkatkan
kesehatan masyarakat yang rentan di masa mendatang.

Transportasi
1. Hindari menggunakan pesawat terbang untuk jarak kurang dari 500 km.
2. Tinggalkan mobil di rumah untuk jarak yang tidak terlalu jauh.
3. Gunakan kendaraan umum, kurangi polusi.
4. Gunakan sepeda untuk perjalanan jarak pendek.
5. Matikan mobil jika menunggu lebih dari 30 detik.
6. Panaskan mobil seperlunya.
7. Periksa tekanan ban mobil. Kurangnya tekanan menyebabkan boros bahan
bakar.
8. Turunkan barang dari bagasi jika tidak dibutuhkan.
9. Rawatlah sistem pengeluaran polusi kendaraan bermotor Anda.
Di Kantor dan Sekolah
1. Matikan perangkat kantor di malam hari dan saat libur.
2. Matikan monitor komputer saat istirahat.
3. Matikan lampu jika tidak digunakan.
4. Gunakan perangkat kantor hemat energi.
5. Lakukan audit energi untuk penghematan.
6. Jangan tinggalkan alat-alat elektronik dalam keadaan stand-by.
7. Hemat kertas dengan mencetak bolak-balik.
8. Hemat pemakaian tisu.
9. Mengurangi pemakaian AC, gunakan kipas angin.
10.Menanam pohon di sekitar pekarangan Anda.

11.Ikut mendukung kampanye pelestarian alam.


Di Rumah
1. Tutup kran air dengan rapat.
2. Hemat air untuk mandi.
3. Gunakan mesin cuci hanya jika cucian banyak.
4. Matikan lampu dan alat elektronik jika tidak digunakan.
5. Panaskan air untuk minum seperlunya.
6. Pilih alat elektronik hemat energi.
7. Gunakan lampu hemat energi.
8. Pasang pemanas bertenaga matahari di atap rumah.
9. Ganti tisu dengan lap kain.
10.Mengurangi pemakaian AC, gunakan kipas angin.
11.Menanam pohon di sekitar pekarangan Anda.
12.Ikut mendukung kampanye pelestarian alam.
Gas Rumah Kaca Lepas ke Udara, Saat Kita
1. Menyalakan televisi.
2. Memasang AC.
3. Menyalakan lampu.
4. Menggunakan pengering rambut.
5. Mengendarai mobil/motor.
6. Bermain video game.

7. Menyalakan radio.
8. Menggunakan microwave/oven.
9. Mencuci atau mengeringkan pakaian dengan mesin.
10.Membuang sampah ke tempat penimbunan sampah.
11.Menggunakan batu bara sebagai bahan bakar.
12.Menggunakan barang-barang produksi pabrik.