Anda di halaman 1dari 9

SPHEROMETER

A. DEFINISI
Spherometer adalah alat untuk mengukur kelengkungan permukaan sebuah benda.
Misalnya mengukur jari-jari kelengkungan benda yang berbentuk bidang bola (lensa dan
cermin). Selain itu, spherometer juga dapat digunakan untuk megukur ketebalan bendabenda yang tipis.
Spherometer memiliki 4 kaki, dengan 3 kaki yang permanen dan satu kaki tengah
yang dapat diubah-ubah ketinggiannya. Ketelitian spherometer bisa mencapai 0,01 mm.
Alat ini mempunyai dua macam skala, yaitu skala utama pada mistar M yang tegak dan
skala nonius pada piringan P yang dapat berputar bersama sekrup putar S.
B. BAGIAN-BAGIAN SPHEROMETER
Spherometer terdiri dari mikrometer sekrup berulir ke tripod kecil dengan skala
vertikal diikat. Kepala sekrup memiliki disk lulus digunakan untuk mengukur putaran
fraksional dari sekrup. Skala vertikal digunakan untuk mengukur tinggi atau kedalaman
kelengkungan permukaan. Pembagian skala vertikal berada di 1 mm, yang merupakan
pitch dari benang sekrup. Kepala sekrup yang lulus ke dalam 100 divisi. Spherometer
mempunyai sekup yang bergerak ditengah-tengah dan mempunyai 3 kaki yang ujungnya
merupakan titik sudut sama. sisi atasnya berbentuk piringan berbentuk lingkaran melekat
pada sekrup dan pembagian skalanya pada pinggir piringan,batang skala sejajar dengan
skrup.
Secara umum spherometer terdiri dari: A. Sebuah lingkaran dasar tiga kaki luar,
cincin, atau setara, memiliki radius yang diketahui dari lingkaran dasar. Perhatikan bahwa
kaki luar spherometer ditampilkan dapat dipindahkan ke bagian dalam lubang set untuk
mengakomodasi lensa kecil. B. kaki pusat, yang dapat menaikkan atau menurunkan. C.
perangkat pembaca untuk mengukur jarak pusat kaki dipindahkan.
C. PRINSIP KERJA SPHEROMETER
Spherometer ini dapat mengukur kedalaman sebuah lengkungan. Saat spherometer
diletakkan pada lensa (permukaannya lengkung) maka pada skrup pusat akan berputar
naik atau turun sesuai dengan kelengkungan yang dimiliki lensa tersebut. Sedangkan 3
kaki yang sama sisi lainnya memantapkan posisi spherometer pada lensa agar tidak mudah
bergeser. Pada saat skup pusat berputar mengikuti lengkungan lensa, maka piringan yang
terletak pada kepala skup akan ikut berputar. Sehingga dapat terbaca skala kelengkungan
lensa dengan memperhatikan skala yang ada dipinggir piringan dengan skala 0 10,0 m
ke atas jika lensa yang diuku lengkung ke atas dan 0 10,0 ke bawah jika lensa yang
diukur lengkung ke bawah dan ditambah dengan skala piringan yang bernilai 0,01 m.
Cara pemakaian spherometer adalah sebagai berikut:
a. Menentukan titik nol alat, yaitu spherometer diletakkan di tempat (alas) yang rata dan
sekrup S diputar sampai ujung sekrup U menyentuh alas tersebut. Jika menggunakan
alas dari kaca plan parallel, maka pada saat bayangan ujung sekrup berhimpit dengan
ujung sekrup itu menandakan bahwa ujung sekrup sudah tepat menyinggung/
menyentuh alas jika tidak menggunakan kaca plan parallel, maka pada saat sekrup S
diputar ternyata kaki spherometer K akan ikut berputar berarti ujung sekrup U sudah
menyentuh alas.
b. Sekrup S diputar sehingga jarak antara ujung sekrup dengan alas dapat ditempati oleh
benda yang mau diukur tebal atau kelengkungannya. Benda yang akan diukur tebal
atau kelengkungannya diletakkan di antara alas dan ujung sekrup U.

c. Sekrup S diputar sampai ujung sekrup tepat menyentuh permukaan benda yang
diukur. Tebal atau kelengkungan benda dapat ditentukan dengan menghitung selisih
penunjukan pada langkah 4 dan langkah 1.
Benda yang dapat diukur tebal atau kelengkungannya dengan spherometer adalah
benda yang ukurannya lebih kecil dari jarak antara kaki-kaki spherometer. Spherometer
yang masih baik digunakan adalah spherometer yang ujung-ujung piringannya tidak peot
dan ujung sekrup U benar-benar runcing.

1. Sebuah
lingkaran
dasar
tiga
kaki
luar
, cincin atau setara. Bola memiliki radius lingkaran dasar. Perhatikan bahwa luar
kaki dari spherometer ditampilkan dapat di pindahkan kebagian dalam set
lubang untuk mengakomodasi lensa kecil. Hal ini juga berlaku dari spherometer
tua dilaboratorium.
1. Sebuah kaki pusat, yang dapat dinaikkan atau menurunkan.
2. Sebuah perangkat membaca untuk mengukur jarak kaki sentral pindah pada
spherometer baru, skala vertical ditandai dalam satuan 0,5 mm. salah lengkap
pergantian tombol juga sesuai dengan 0,5 mm dan setiap wisuda kecil ini
merupakan 0,005 mm. Kecil pada tua spherometer adalah 0,001 mm.
Dalam mengukur panjang suatu benda ,selain memperhatikan ketelitian alat ukur juga
memperhatikan jenis dan macam benda yang akan diukur alatnya seperti spherometer.

Bagian bagian spherometer :


1. Keping skala tegak
2. Keping skala datar
3. Tiga kaki tetap
4. Pemutar keping skala datar
5. Ujung kaki bergerak
1. Skala utama
2. Skala nonius
III,

IV,

.Ujung

kaki

tetap

PERHITUNGAN JARI-JARI BOLA DENGAN MENGGUNAKAN SPHEROMETER


Jika pada spherometer akan mengukur diameter bola maka : Pertimbangkan lingkaran dimana
DE jarak diameter yang membagi dua AC. Lihat gambar di samping Jika kita mengetahui
jarak BC dan DB kita dapat menemukan jari-jari lingkaran sebagai berikut:

Maka
dapat
disimpulkan
bahwa
R=
Dimana,
R
=
jari-jari
h
=
ukuran
yang
diperoleh
r = jarak pusat skrup dengan skrup yang disampingnya

r^2/2h+
oleh

h/2h

bola
Spherometer

Jenis -jenis spherometer

Spherometer
Digital
Spherometer Analog
Cara menghitung hasil pegukuran tingkat kelangkungan menggunakan spherometer

2. Cara kerja
Cara
pemakaian
spherometer
adalah
sebagai
berikut:
Menentukan titik nol alat, yaitu spherometer diletakkan di tempat (alas) yang rata dan
sekrup S diputar sampai ujung sekrup U menyentuh alas tersebut. Jika menggunakan
alas dari kaca plan parallel, maka pada saat bayangan ujung sekrup berhimpit dengan
ujung sekrup itu menandakan bahwa ujung sekrup sudah tepat menyinggung/
menyentuh alas jika tidak menggunakan kaca plan parallel, maka pada saat sekrup S
diputar ternyata kaki spherometer K akan ikut berputar berarti ujung sekrup U sudah
menyentuh alas.
Sekrup S diputar sehingga jarak antara ujung sekrup dengan alas dapat
ditempati oleh benda yang mau diukur tebal atau kelengkungannya.
Benda yang akan diukur tebal atau kelengkungannya diletakkan di antara alas dan
ujung sekrup U.
Sekrup S diputar sampai ujung sekrup tepat menyentuh permukaan benda
yang diukur. Tebal atau kelengkungan benda dapat ditentukan dengan menghitung
selisih penunjukan pada langkah 4 dan langkah 1.
Benda yang dapat diukur tebal atau kelengkungannya dengan spherometer
adalah benda yang ukurannya lebih kecil dari jarak antara kaki-kaki spherometer.
Spherometer yang masih baik digunakan adalah spherometer yang ujung-ujung
piringannya tidak peot dan ujung sekrup U benar-benar runcing.
3.Contoh perhitungan
Misal
mengukur
Radius
Lengkung,
R
The (tetap) luar kaki spherometer yang menentukan jarak SM.
Ini hanyalah jari-jari lingkaran yang dibentuk oleh kaki. Untuk menemukan ini radius,
mengukur jarak dari kaki pusat (bila coplanar dengan yang lain
kaki) ke salah satu kaki luar. Jarak ini ditampilkan dalam diagram skema
r
=
SM
BD
Jarak
ditentukan
dari
kejauhan
bergerak
kaki
pusat.
Pertama menentukan posisi kaki sentral ketika coplanar dengan kaki luar dengan
menggunakan flat disediakan. (Untuk spherometer baru, "goyang" teknik disarankan
Kaki spherometer pusat adalah tekanan sensitif dan mekanis menggerakkan lengan
tuas
yang
menimbulkan
sepotong
kawat.
Selanjutnya, temukan posisi kaki pusat di permukaan yang diukur. Perbedaan antara

dua posisi ini adalah perubahan dari h kaki pusat yang sama dengan DB pada diagram
perhitungan.
Persamaan kami sekarang berbunyi: R = r2/2h + h / 2

Secara
umum
spherometer
terdiri
dari:
1. Meja berkaki tiga (biasanya terbuat dari logam). Jika dihubungkan dengan garis, maka
ketiga
kaki
tersebut
membentuk
segitiga
sama
sisi.
2. Sekrup yang terletak pada lubang ditengah-tengah meja kecil berkaki tiga.
3.
Pangkal
sekrup
4.
Pemutar
sekrup
5. Piringan spherometer yang memiliki 100 skala, berbentuk lingkaran, dan melekat pada
sekrup. Satu putaran piringan menyebabkannya naik atau turun 1 mm.
6. Skala utama (dalam mm) berupa batang yang letaknya sejajar dengan sekrup. Skala ini
sebagai indeks untuk membaca skala pada piringan spherometer dan juga untuk menandai
banyaknya
putaran
penuh
sekrup.
Pada spherometer yang baru, skala utama dimulai dari 0,5 mm dengan skala terkecil 0,005
mm. Namun, pada spherometer yang lama skala terkecilnya adalah 0,001 mm.

C.

Kalibrasi

Kalibrasi adalah proses dalam membandingkan suatu acuan lokal kepada standar yang
berlaku untuk memastikan ketelitian suatu alat ukur. Pengkalibrasian pada spherometer yaitu
dengan menghimpitkan angka nol pada skala utama dan angka nol pada piringan
spherometer. Berarti, spherometer telah terkalibrasi jika angka nol pada skala utama berimpit
dengan
angka
nol
pada
piringan
spherometer.

D.

Ketelitian

Spherometer memiliki tingkat ketelitian yang lebih tinggi daripada mistar, jangka sorong, dan
mikrometer.
Ketelitian
spherometer
yaitu
0,01
mm.

E.

Prinsip

Kerja

Prinsip kerja spherometer hampir sama dengan prinsip kerja mikrometer. Spherometer
memiliki dua jenis skala, yaitu skala utama dan skala pada piringan spherometer (skala
geser). Pembacaan hasil ukur pada sperometer, yaitu dengan melihat skala yang saling
berhimpit (skala utama berhimpit dengan skala pada piringan spherometer). Untuk pegukuran

jari-jari

(radius)

permukaan

suatu

lensa,

digunakan

persamaan:

Sebelum menggunakan spherometer untuk mengukur jari-jari (radius) permukaan suatu lensa
dan ketebalan suatu lempengan atau pelat tipis, pastikan spherometer dalam keaadan layak
pakai, dan sudah terkalibrasi supaya pengukuran yang dilakukan akurat.

F.

Prosedur

Pengukuran

1.
Pengukuran
Jari-jari
(Radius)
Permukaan
Suatu
Lensa
Untuk mengukur radius permukaan suatu lensa, spherometer ditempatkan di atas suatu
tempat yang tepat (rata) permukaannya. Setelah itu, lensa yang akan diukur radiusnya dijepit
dengan ketiga kaki spherometer. Selanjutnya, putar sekrup sampai menyentuh permukaan
lensa tersebut. Amati skala utama yang berhimpit dengan skala pada piringan spherometer
(sebagai h), dan mengukur jarak antar kaki spherometer (sebagai a).
Dengan persamaan di bawah ini, radius permukaan suatu lensa dapat diketahui:

2.
Pengukuran
Ketebalan
Suatu
Lempengan
atau
Pelat
Tipis
Untuk mengukur ketebalan suatu lempengan atau pelat tipis, spherometer
ditempatkan di atas suatu tempat yang tepat (rata) permukaannya. Selanjutnya, putar sekrup
sampai menyentuh permukaan tersebut. Amati skala utama yang berhimpit dengan skala pada
piringan spherometer, kemudian membaca hasil bagi skala utama dengan skala pada piringan
spherometer. Setelah itu, sekrup diputar hingga tidak lagi menyentuh permukaan tersebut.
Selanjutnya, selipkan lempengan atau pelat tipis yang akan diukur ketebalannya, putar
kembali sekrup hingga menyentuh permukaan lempengan atau pelat tipis tersebut. Amati
kembali skala utama yang berhimpit dengan skala pada piringan spherometer, kemudian
membaca hasil bagi skala utama dengan skala pada piringan spherometer. Perbedaan (dalam
hal ini selisih) dari kedua hasil pembacaan tersebut adalah ketebalan lempengan atau pelat
tipis
yang
diukur.

G.

Cara

Membaca

dan

Menuliskan

Hasil

Pengukuran

1.
Pengukuran
Jari-jari
(Radius)
Permukaan
Suatu
Lensa
Untuk cara pembacaan, skala utama (dalam mm) berhimpit dengan skala pada piringan
spherometer (sebagai h). Skala pada piringan spherometer dikalikan ketelitian spherometer
(0,01 mm). Sedangkan jarak antar kaki spherometer (sebagai a). Setelah hasil pembacaan

skala tersebut dimasukkan ke dalam suatu persamaan R, didapatlah hasil pengukuran jari-jari
(radius)
permukaan
lensa.
2.
Pengukuran
Ketebalan
Suatu
Lempengan
atau
Pelat
Tipis
Untuk cara pembacaan, skala utama (dalam mm) berhimpit dengan skala pada piringan
spherometer. Skala pada piringan spherometer dikalikan ketelitian spherometer (0,01 mm).
Hasil pengukuran ketebalan lempengan atau pelat tipis adalah perbedaan (dalam hal ini
selisih) hasil bagi skala utama dan skala pada piringan spherometer sebelum diselipkan
lempengan atau pelat tipis dengan hasil bagi skala utama dan skala pada piringan
spherometer sesudah diselipkan lempengan atau pelat tipis.