Anda di halaman 1dari 13

ETIKA DALAM PENELITIAN PSIKOLOGI

Kajian terhadap Kode Etik Psikologi dari American Psychological


Association (APA)
dan Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi)

Makalah yang disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian

Disusun Oleh:
Ugung Dwi Ario Wibowo (190220090001)
Barry Adhitya (190220090003)
Nyimas Dian (190220090004)
Muwaga Musa
Rosi Hernawati (190420090063)
Alda Imelda Istivani Kusmono (190420090064)
Eka Susanty (190420090068)

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS PADJADJARAN
PROGRAM PASCA SARJANA
FAKULTAS PSIKOLOGI
PROGRAM MAGISTER PROFESI PSIKOLOGI
PROGRAM MAGISTER SAINS PSIKOLOGI

Januari 2010
ETIKA DALAM PENELITIAN PSIKOLOGI
Kajian terhadap Kode Etik Psikologi dari American Psychological
Association (APA)
dan Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi)

Kode etik tidak terlepas dari setiap aktivitas profesional. Penyusunan kode
etik bertujuan untuk menetapkan standar perilaku atau pedoman bagi para
profesional, khususnya dalam hal ini di bidang Psikologi, dalam menjalankan
fungsinya dengan mengacu pada kesejahteraan orang-orang yang terlibat dalam
aktivitas tersebut. Tidak terkecuali dalam aktivitas penelitian ilmiah, di mana
kegiatan penelitian tersebut hampir selalu melibatkan manusia sebagai
responden. Guna melindungi hak dan kesejahteraan responden, serta
melindungi peneliti dari hal-hal yang dapat mempengaruhi hasil penelitian dan
reputasinya sebagai seorang profesional, maka disusunlah kode etik yang
berfungsi sebagai safeguard (pelindung), dan mengatur responsibility dari
profesional yang bertindak sebagai peneliti.
Dalam melakukan pengambilan data sebagai salah satu bagian dari
kegiatan penelitian, Graziano (2000) mengatakan bahwa seorang peneliti tidak
hanya melakukan persiapan yang bersifat teknis seperti memilih partisipan,
kontrol, pengukuran, dan sebagainya, namun juga melakukan persiapan yang
berkaitan dengan etika penelitian. Etika penelitian, dalam hal ini berkaitan
dengan bagaimana seorang peneliti akan memperlakukan organisme, manusia
dan hewan, untuk tujuan penelitian. Pedoman etika penelitian meliputi penelitian
yang dilakukan terhadap manusia maupun hewan, yang menekankan pada
perlakuan yang manusiawi dan sensitif terhadap partisipan yang seringkali
menghadapi berbagai tingkat risiko dan ancaman dalam menjalani prosedur
penelitian. Sebelum meminta kesediaan partisipan, peneliti harus yakin bahwa
prosedur penelitiannya telah sesuai dengan nilai-nilai etis.
Dalam kode etik yang mengatur aktivitas penelitian, terdapat isu-isu yang
terkait dengan deception (penipuan), invasion of privacy (pelanggaran terhadap
rahasia pribadi), dan hak partisipan untuk memperoleh informasi yang terkait
dengan penelitian serta kebebasan memilih, yang umum diterapkan. Deception
atau ‘penipuan’ umum dilakukan dalam penelitian meski sifatnya ringan,
misalnya ketika peneliti tidak memberitahukan maksud sebenarnya dari
treatment yang diberikan kepada responden. Invasion of privacy potensial terjadi
dalam penelitian yang melibatkan area sensitif yang terkait dengan penyesuaian
psikologis seperti perilaku seksual, sikap atau pikiran tertentu terhadap
kelompok sosial tertentu yang mungkin berdampak pada rasa aman secara
sosial yang dialami oleh responden, atau hubungan dengan pasangan. Akses
peneliti terhadap data rekam medis pasien atau data perkembangan prestasi
belajar siswa yang bersifat rahasia, juga berpotensi terhadap terjadinya
pelanggaran tersebut. Hal lainnya yaitu hak partisipan untuk memperoleh
informasi yang terkait dengan penelitian, menuntut peneliti untuk memperoleh
persetujuan baik secara lisan maupun tertulis mengenai kesediaan partisipan
untuk berpartisipasi dalam penelitian. Dalam hal ini, peneliti tidak diperkenankan
untuk memaksa orang lain untuk berpartisipasi dalam kegiatan penelitian yang
dilakukan.
Isu-isu tersebut di atas juga berkaitan dengan situasi-situasi dilematis
yang dihadapi peneliti dalam menjalankan kegiatan penelitian, di antaranya
adalah adanya konflik kepentingan. Di satu sisi, peneliti berupaya untuk
memenuhi tuntutan masyarakat akan solusi dari permasalahan yang terjadi,
namun di sisi lain, upaya yang ia lakukan untuk memperoleh solusi tersebut
dapat melanggar hak individu atas rahasia pribadi. Permasalahan moral (moral
2
problem) juga seringkali muncul, di mana dalam upaya memperoleh informasi
yang akurat, beberapa peneliti melakukan deception yang dapat membuat
partisipan merasa tidak nyaman. Selain itu, penelitian juga berpotensi
menyebabkan partisipan mengalami kerugian sebagai akibat dari partisipasinya
tersebut.
Untuk mengurangi kerugian yang mungkin akan dialami oleh partisipan,
maka disusunlah kode etik penelitian sebagai pedoman bagi peneliti untuk
meminimalisir dampak yang merugikan terhadap partisipan.

I. Ethical Conduct as Guidelines


Dalam menjalankan penelitian yang melibatkan manusia sebagai
partisipan, penting untuk diingat bahwa partisipanlah yang memutuskan untuk
berpartisipasi dalam penelitian. Peneliti harus memperoleh persetujuan secara
lisan maupun tertulis yang menyatakan kesediaan mereka untuk menjadi bagian
dalam kegiatan penelitian. Jika dalam penelitian deception harus digunakan
sebagai metoda yang dapat meningkatkan kemurnian hasil penelitian, maka
peneliti harus yakin bahwa deception yang dilakukan tidak menimbulkan risiko
yang serius atau bersifat jangka panjang kepada partisipan, dan peneliti wajib
menjelaskan tentang tujuan deception tersebut kepada partisipan dalam sesi
debriefing, di akhir penelitian. Selain itu, peneliti harus menjaga kerahasiaan
data hasil penelitian, terutama yang terkait dengan identitas partisipan.
Tanggung jawab secara etika dalam penelitian terletak di pihak peneliti.
Karenanya, dalam menjalankan penelitian yang melibatkan manusia, maka
peneliti harus:
1. Menilai kegunaan penelitian terhadap ilmu pengetahuan.
2. Mempertimbangkan tingkat risiko terhadap partisipan, apakah keuntungan
penelitian yang diperoleh dapat mengatasi kerugian yang diakibatkan oleh
proses penelitian, dan apakah pedoman-pedoman etika telah diikutsertakan
untuk meminimalisir risiko.
3. Jika risiko terhadap partisipan lebih besar dari manfaat yang diperoleh
penelitian, maka peneliti harus merancang ulang atau menghentikan
penelitian.
Selain melibatkan manusia sebagai partisipan, peneliti juga seringkali
melibatkan hewan sebagai bagian dari penelitian yang dilakukan. Sama halnya
dengan penelitian yang dilakukan terhadap manusia, terdapat etika yang
berkaitan dengan bagaimana seharusnya peneliti memperlakukan hewan-hewan
tersebut, mengingat hewan adalah captive participant yang tidak memiliki
kemampuan untuk memberikan persetujuannya untuk berpartisipasi dalam
penelitian. Penelitian yang dilakukan terhadap hewan umumnya lebih bersifat
invasive dibandingkan dengan penelitian terhadap manusia, dan karenanya
tingkat risiko yang dihadapi hewan lebih serius dibandingkan dengan manusia.
Untuk meminimalisir risiko yang berdampak kerugian bagi partisipan,
maka berbagai asosiasi atau masyarakat profesional menyusun kode etik
sebagai pedoman bagi para profesional, khususnya dalam melakukan penelitian.
Dalam makalah ini, akan dikaji kode etik yang terkait dengan penelitian, yang
disusun oleh American Psychological Association (APA) dan Himpunan Psikologi
Indonesia (Himpsi).

II. American Psychological Association (APA) – Ethical Standards on


Research and Publication
Etika yang terkait dengan penelitian dan publikasi diatur di dalam suatu
section tersendiri dalam kode etik yang disusun oleh APA, sebagai berikut:

3
8.01 Institutional Approval
Bilamana persetujuan institusi dipersyaratkan, maka psikolog harus memberikan
informasi akurat mengenai proposal penelitian mereka dan memperoleh
persetujuan terlebih dahulu untuk melakukan penelitian. Penelitian dilakukan
dengan mengacu pada protokol penelitian yang telah disetujui.

8.02 Informed Consent to Research


a. Untuk memperoleh persetujuan, maka psikolog memberikan informasi kepada
partisipan mengenai:
1. Tujuan penelitian, durasi, dan prosedur.
2. Hak partisipan untuk menolak berpartisipasi atau mengundurkan diri pada
saat pelaksanaan penelitian.
3. Konsekuensi yang berkaitan dengan penolakan atau pengunduran diri
partisipan.
4. Faktor-faktor yang diperkirakan dapat mempengaruhi kesediaan partisipan,
seperti risiko, ketidaknyamanan, dan dampak yang merugikan.
5. Manfaat dari penelitian yg dilakukan.
6. Batas-batas kerahasiaan.
7. Insentif atas partisipasi dalam penelitian.
8. Pihak-pihak yang dapat dihubungi mengenai penelitian dan hak-hak
partisipan.
b. Psikolog yang melakukan penelitian intervensi dengan menerapkan
experimental treatments terhadap partisipan, maka di awal penelitian harus
menjelaskan mengenai:
1. Dasar-dasar eksperimental dari treatment yang akan diberikan.
2. Perlakuan yang akan dan tidak akan diberikan kepada control group.
3. Cara-cara penerapan perlakuan terhadap treatment dan control group.
4. Alternatif treatment yang tersedia jika individu tidak ingin berpartisipasi
dalam penelitian, atau jika ia mengundurkan diri ketika penelitian
berlangsung.
5. Kompensasi terkait dengan partisipasi mereka dalam penelitian, termasuk
reimbursement dan pembayaran oleh pihak ketiga.

8.03 Informed Consent for Recording Voices and Images in Research


Psikolog harus memperoleh persetujuan dari partisipan sebelum dilakukan
perekaman terhadap suara atau tampilan keseluruhan untuk kepentingan
pengambilan data, kecuali jika:
1. Penelitian terkait dengan natural observation di ruang publik, dan tidak
ditujukan untuk hal-hal yang merugikan akibat identifikasi individu-individu
yang terlibat dalam penelitian.
2. Desain penelitian melibatkan deception, dan persetujuan untuk menggunakan
alat rekam diperoleh dalam proses debriefing.

8.04 Client/Patient, Student, and Subordinate Research Participants


a. Bilamana psikolog melakukan penelitian terhadap klien/pasien, mahasiswa,
atau bawahan sebagai partisipan, maka psikolog harus mengambil langkah
untuk melindungi partisipan dari konsekuensi merugikan akibat menolak atau
mengundurkan diri dari keikutsertaan dalam penelitian.
b. Bilamana partisipasi dalam penelitian merupakan persyaratan mata kuliah
tertentu, maka psikolog harus memberikan pilihan aktivitas alternatif yang
setara.

8.05 Dispensing With Informed Consent for Research


4
Psikolog dapat melakukan penelitian tanpa memperoleh persetujuan partisipan,
hanya jika:
1. Penelitian diyakini tidak akan menimbulkan tekanan atau kerugian, serta
melibatkan:
a. Studi mengenai pelaksanaan pendidikan normal, kurikulum, metode
pengelolaan kelas yang dilakukan dalam setting pendidikan.
b. Penggunaan kuesioner anonim, naturalistic observation, atau archival
research di mana pengungkapan data tidak memberi risiko yang
mempengaruhi keuangan, status pekerjaan, dan reputasi partisipan karena
dijaga kerahasiaannya.
c. Studi mengenai faktor-faktor yang berkaitan dengan efektivitas tugas atau
organisasi, yang dilakukan dalam setting organisasi, di mana tidak terdapat
risiko terhadap status pekerjaan partisipan, karena dijaga kerahasiaannya.
2. Diijinkan oleh aturan hukum atau federal atau institusi.

8.06 Offering Inducements for Research Participation


1. Psikolog harus menghindari pemberian atau bujukan dalam bentuk uang dan
yang lainnya secara berlebihan dalam rangka mengajak pihak lain untuk
berpartisipasi dalam penelitian, jika pemberian tersebut cenderung bersifat
memaksa keikutsertaan partisipan.
2. Bilamana psikolog menawarkan pelayanan profesional sebagai ‘upah’
keikutsertaan partisipan dalam penelitian, maka ia harus menjelaskan jenis
pelayanan yang diberikan, serta risiko, kewajiban dan batasan.

8.07 Deception in Research


1. Psikolog tidak melakukan penelitian yang melibatkan deception, kecuali jika
penggunaan teknik deception yang dilakukan dibenarkan oleh nilai-nilai
ilmiah, pendidikan, dan terapan, di mana prosedur non-deceptive tidak
memberikan hasil yang setara.
2. Psikolog tidak menutupi kebenaran kepada partisipan, jika penelitian dapat
mengakibatkan sakit secara fisik atau tekanan emosional yang parah.
3. Psikolog menjelaskan penggunaan deception sebagai bagian dari rancangan
penelitian sesegera mungkin, dikehendaki pada akhir partisipasi mereka.

8.08 Debriefing
1. Psikolog memberi kesempatan pada partisipan untuk memperoleh informasi
mengenai tujuan, hasil, dan kesimpulan dari penelitian, dan mengambil
langkah untuk mengoreksi kesalahpahaman partisipan.
2. Bilamana nilai-nilai ilmiah dan manusiawi membenarkan penundaan informasi,
psikolog mengambil tindakan untuk mengurangi risiko yang merugikan.
3. Bilamana psikolog menyadari bahwa prosedur penelitian telah membawa
kerugian bagi partisipan, maka psikolog mengambil langkah untuk
meminimalisir kerugian tersebut.

8.09 Humane Care and Use of Animals in Research


1. Psikolog memperoleh, merawat, menggunakan dan ‘membuang’ hewan
dengan mengacu pada hukum dan aturan federal, negara bagian dan lokal,
dan berdasarkan standar profesional.
2. Psikolog yang ahli dalam metode penelitian serta berpengalaman dalam
menangani hewan laboratorium, mengawasi seluruh prosedur yang
melibatkan hewan, dan bertanggung jawab untuk memastikan kenyamanan,
kesehatan, dan perlakuan yang semestinya.
5
3. Psikolog memastikan mereka yang berada di bawah pengawasan dan
menggunakan hewan, telah menerima instruksi yang berkaitan dengan
metode penelitian, perawatan, pemeliharaan, dan penanganan spesies yang
digunakan, sesuai dengan perannya.
4. Psikolog melakukan upaya untuk meminimalisir ketidaknyamanan, infeksi,
penyakit, dan rasa sakit yang dialami hewan.
5. Psikolog melakukan prosedur yang menyebabkan rasa sakit, stres, atau
penderitaan pada hewan, bilamana tidak terdapat prosedur alternatif, dan
tujuannya dibenarkan oleh nilai-nilai ilmiah, pendidikan, dan terapan.
6. Psikolog melakukan prosedur pembedahan dengan menggunakan anestesi
yang sesuai serta menjalani teknik-teknik untuk mencegah infeksi dan
meminimalisir rasa sakit selama dan setelah pembedahan.
7. Bilamana dinilai perlu dilakukan terminasi terhadap hewan, maka psikolog
melakukan proses secara cepat, dengan upaya untuk meminimalisir rasa sakit
serta mengacu pada prosedur yang berlaku.

8.10 Reporting Research Results


1. Psikolog tidak mengarang data.
2. Bilamana psikolog menemukan kekeliruan yang signifikan pada data mereka
yang dipublikasikan, maka psikolog melakukan langkah-langkah untuk
mengoreksi kekeliruan tersebut melalui koreksi, penarikan kembali, meralat
atau sarana publikasi lainnya.

8.11 Plagiarism
Psikolog tidak mengajukan bagian dari hasil penelitian atau data pihak lain
sebagai data miliknya, meski sumber data atau hasil penelitian tersebut dikutip
sesekali.

8.12 Publication Credit


1. Psikolog bertanggung jawab dan memberi credit, termasuk penghargaan
dalam penulisan (authorship credit), hanya terhadap pekerjaan atau kontribusi
mereka dalam penelitian.
2. Penulis utama dan publication credit lainnya secara akurat merefleksikan
kontribusi pihak yang terlibat secara ilmiah dan profesional, tanpa
memandang status mereka. Seseorang dalam posisi tertentu, seperti ketua
jurusan, tidak memberikan justifikasi terhadap authorship credit. Kontribusi
sekecil apapun terhadap penelitian atau publikasi diakui dengan semestinya,
seperti dalam catatan kaki atau dalam pernyataan pendahuluan.
3. Terkecuali dalam situasi tertentu, mahasiswa dinyatakan sebagai penulis
utama dalam suatu artikel yang ditulis bersama yang didasarkan pada
disertasi doktoral mahasiswa yang bersangkutan. Pihak fakultas, dalam hal ini
mendiskusikan publication credit dengan mahasiswa di awal maupun selama
proses penelitian dan publikasi.

8.13 Duplicate Publication of Data


Psikolog tidak menerbitkan, sebagaimana data asli, data yang telah
dipublikasikan sebelumnya. Hal ini tidak menghalangi pempublikasian kembali
data bilamana disertai oleh ijin dari pemilik data sebelumnya.

8.14 Sharing Research Data for Verification


1. Setelah hasil penelitian dipublikasikan, psikolog tidak menahan data yang
menjadi dasar kesimpulan mereka dari ahli/profesional lain yang ingin
melakukan verifikasi terhadap pernyataan psikolog melalui analisis ulang,
memastikan kerahasiaan partisipan dapat terjaga, terkecuali jika hukum yang
6
terkait dengan kepemilikan data menghalangi pengeluaran data tersebut. Hal
ini tidak menghalangi psikolog untuk menuntut individu atau kelompok agar
bertanggung jawab terhadap kerugian yang terkait dengan dikeluarkannya
informasi tersebut.
2. Psikolog yang meminta data dari psikolog lain untuk melakukan verifikasi
terhadap pernyataan yang bersangkutan melalui analisa ulang dapat
menggunakan data yang dapat dibagi hanya untuk kepentingan terkait. Pihak
yang meminta data menerima perjanjian tertulis sebelumnya untuk
penggunaan lain dari data tersebut.

8.15 Reviewers
Psikolog yang melakukan review terhadap materi yang diajukan untuk
presentasi, publikasi, hibah, atau usulan penelitian, menghormati kerahasiaan
dan hak kepemilikan informasi oleh pihak yang mengajukan materi tersebut.

III. Kode Etik Psikologi Indonesia


Dalam Kode Etik Psikologi Indonesia, dibahas mengenai kode etik yang
terkait dengan kegiatan penelitian ilmiah di Bidang Psikologi. Hanya saja,
berbeda dengan Ethical Standards yang dikeluarkan oleh APA, kode etik yang
terkait dengan kegiatan penelitian tersebut tidak disusun ke dalam suatu cluster
tertentu secara sistematis, namun merupakan salah satu pasal dari Bab
Pemberian Jasa/Praktik Psikologi. Adapun Kode Etik Psikologi Indonesia yang
terkait dengan kegiatan penelitian adalah sebagai berikut:

7.2. Pasal 7 b: Menghormati hak orang/lembaga/organisasi/institusi lain


1. Ilmuwan Psikologi dan Psikolog dalam memberikan jasa/praktik psikologi
menghormati hak dalam melaksanakan kegiatan di bidang pengajaran,
pelatihan, dan pendidikan.

Dalam melaksanakan pekerjaannya, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog wajib


mengembangkan desain program pengajaran, pelatihan, pendidikan. Desain
tersebut menggambarkan kemampuannya, baik dalam hal pengetahuan maupun
pengalaman yang dimilikinya. Desain yang dibuatnya sesuai dengan persyaratan
yang berlaku, sertifikasi, atau tujuan lainnya yang ditentukan oleh program.

Program pengajaran, pelatihan, pendidikan yang meliputi tujuan, isi, metoda,


dan aspek lain yang terkait dalam penggarapan program secara utuh harus
diuraikan dalam bentuk informasi yang dapat menjadi bahan pegangan bagi
semua pihak yang menggunakannya. Informasi tersebut harus disiapkan dan
selalu tersedia bagi semua pihak yang memerlukannya, sejauh terkait dalam
pelaksanaan program tersebut.

Ilmuwan Psikologi dan Psikolog berusaha meyakinkan pihak terkait tentang garis
besar dan kerangka pelatihan agar bisa dipahami dengan jelas, tidak
disalahtafsirkan, terutama mengenai subyek yang akan dibahas. Pemikiran
tersebut harus dituangkan dalam formulasi yang memungkinkan dilakukannya
evaluasi karena ada data dasarnya, selain kesan yang diperoleh dari
pelaksanaan pengajaran, pelatihan, dan pendidikan tersebut.

Dalam upaya mempromosikan, baik dalam bentuk pengumuman, pembuatan


dan penyebaran katalog atau brosur, pengiklanan, penyelenggaraan
seminar/lokakarya untuk tujuan ini maka Ilmuwan Psikologi dan Psikolog
bertanggung jawab terutama untuk meyakinkan bahwa sasaran memahaminya
7
dengan benar. Dalam hal ini perlu diperhatikan kejelasan tentang tujuan
pelaksanaannya, pembicaranya, waktunya, tempat, perlengkapan/fasilitas yang
diperoleh, dan biaya yang diperlukan.

Ilmuwan Psikologi dan Psikolog bertanggung jawab atas akurasi dan tujuan
pengajaran, pelatihan, pendidikan yang diselenggarakannya. Tingkat
obyektivitas yang logis dan realistis perlu diperhatikan. Dalam melakukan
kegiatan pengajaran, pelatihan, pendidikan tersebut Ilmuwan Psikologi dan
Psikolog menyadari bahwa kekuasaan yang dimilikinya atas peserta atau
supervisi yang dilakukannya adalah dalam hubungan profesional. Hal ini perlu
disadari untuk menghindarkan kemungkinan munculnya hubungan personal
dengan siswa atau orang yang dibimbingnya.

Dalam menyelenggarakan kegiatan pengajaran, pelatihan, pendidikan


hendaknya disadari adanya keterbatasan kemampuan yang dimiliki, baik dalam
hal kompetensi maupun kewenangan. Ilmuwan Psikologi dan Psikolog tidak
mengajarkan teknik atau prosedur yang memerlukan pelatihan khusus, izin, atau
keahlian tertentu, yang tidak diperolehnya secara langsung dalam
pendidikannya. Termasuk tapi tidak terbatas pada contoh ini adalah kemampuan
mengajarkan/melatih/mendidik peserta untuk belajar hipnosis, biofeedback, dan
teknik proyeksi. Ilmuwan Psikologi dan Psikolog juga memperhatikan kompetensi
dan kewenangan peserta, sehingga membatasi hanya memberikan kepada
mereka yang secara profesional memang berhak. Pelatihan semacam itu tidak
akan diberikan kepada mereka yang tidak berhak karena tidak terlatih dan
mendapat kewenangan untuk itu.

Dalam hubungan akademis dan hubungan supervisi, Ilmuwan Psikologi dan


Psikolog membangun proses untuk memungkinkan terjadinya pemberian umpan
balik bagi peserta didik, orang yang dibimbingnya. Pembinaan hubungan itu
termasuk upaya mengenali peserta didik dan kinerjanya. Upaya evaluasi
terhadap peserta didik atau orang yang dibimbing dilakukan oleh Ilmuwan
Psikologi dan Psikolog berdasarkan kinerjanya secara nyata dan ada
relevansinya dengan persyaratan yang ditentukan dalam program.

2. Ilmuwan Psikologi dan Psikolog dalam memberikan jasa/praktik psikologi


menghormati hak dalam melaksanakan kegiatan di bidang riset.

Dalam terapan keahlian di bidang penelitian, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog


menyusun rencana penelitian secara rinci, sehingga dapat dipahami oleh pihak
lain yang berkepentingan dengan kegiatan penelitian tersebut. Ilmuwan
Psikologi dan Psikolog yang melakukan penelitian, membuat desain,
melaksanakan, dan melaporkan hasilnya yang disusun sesuai dengan standar
atau kompetensi ilmiah dan etik riset. Rancangan riset ini juga dimaksudkan
untuk menghindari salah tafsir atau kesalahpahaman lainnya.

Dalam merancang riset, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog memperhatikan etika.


Kalau etiknya tidak jelas, atau ternyata belum ada untuk keperluan tersebut,
dapat dilakukan upaya lain, seperti berkonsultasi dengan pihak-pihak yang
kompeten dan berwenang, misalnya badan-badan resmi pemerintah atau
swasta, organisasi profesi lain, komite khusus, kelompok sejawat yang seminat
dalam bidang tertentu, atau mekanisme lainnya.

8
Ilmuwan Psikologi dan Psikolog bertanggung jawab dalam hal langkah-langkah
yang diperlukan untuk memberi perlindungan terhadap hak dan kesejahteraan
peserta penelitian, atau pihak lain yang mungkin terkena dampak pelaksanaan
riset, termasuk kesejahteraan hewan yang digunakan dalam penelitian. Ilmuwan
Psikologi dan Psikolog melakukan penelitian secara kompeten, sesuai
kemampuan dan kewenangannya, dan memperhatikan harkat martabat serta
kesejahteraan pihak-pihak yang dilbatkan dalam penelitiannya.

Ilmuwan Psikologi dan Psikolog bertanggung jawab atas etika ketika melakukan
penelitian yang dilakukannya atau yang dilakukan pihak lain di bawah
bimbingannya. Dalam hal penelitian tersebut dilakukan bersama rekan peneliti
dan asistennya, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog menyadari bahwa izin untuk
melakukan kegiatan oleh rekan peneliti dan asisten harus sesuai dengan batas
kemampuan dan kewenangannya, berdasarkan yang telah dipelajarinya.
Konsultasi dengan kolega yang lebih ahli di bidang penelitian yang dilakukannya
merupakan bagian dari proses dalam impelementasi riset, terutama untuk hal-
hal yang sekiranya terpengaruh dengan wilayah penelitian yang sedang
dilakukannya.

Dalam melakukan riset, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog harus memenuhi aturan
hukum dan ketentuan yang berlaku dalam hubungan sebagai warga negara, baik
dalam perencanaan maupun pelaksanaannya. Izin penelitian dari instansi terkait
dan dari wilayah yang menjadi lokasi penelitian harus diperoleh sesuai degan
aturan yang berlaku, sejalan dengan aturan profesional yang harus diikutinya,
terutama dalam kaitan dengan pelibatan orang atau hewan yang digunakan
dalam penelitian. Selain izin penelitian, persetujuan dari badan setempat untuk
melakukan riset juga harus diperoleh Ilmuwan Psikologi dan Psikolog, dengan
memberikan informasi akurat tentang riset yang tertuang dalam proposal dan
protokol penelitian.

Ilmuwan Psikologi dan Psikolog harus membuat perjanjian dengan pihak yang
dilibatkan, yang dilakukan sebelum riset, melalui penjelasan tentang macam
kegiatan riset dan tanggung jawab masing-masing pihak. Dikecualikan dari
ketentuan ini adalah macam penelitian yang tidak memerlukan identitas yang
jelas, seperti survei anonimous dan pengamatan alamiah. Keterusterangan
kepada pihak yang terlibat atau dilibatkan harus dilakukan. Ilmuwan Psikologi
dan Psikolog sama sekali tidak boleh menipu atau menutupi, yang kalau saja
calon/peserta itu tahu dapat mempengaruhi niatnya untuk ikut serta dalam
penelitian tersebut, misalnya kemungkinan mengalami cedera fisik, rasa tidak
menyenangkan, atau pengalaman emosional yang tidak disukai. Penjelasan
tersebut harus diberikan sedini mungkin, dalam bentuk uraian tentang maksud
dan tujuan riset, prosedur, proses yang akan dijalani, agar calon/peserta dapat
mengambil kesimpulan dari riset tersebut dan memahami kaitannya dengan
dirinya.

Dalam pelaksanaan riset tertentu diperlukan ‘informed consent’ yang dinyatakan


secara formal. Selain tertulis, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog menjelaskan secara
lisan agar dapat dipahami dengan benar. Dalam menyampaikan penjelasan
tersebut, baik lisan maupun tertulis, digunakan bahasa atau istilah yang
dipahami oleh peserta riset. Pernyataan persetujuan itu didokumentasikan
sesuai keperluannya. Dalam hal peserta riset tidak bisa membuat informed
consent secara legal, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog setidaknya melakukan
upaya pemberian penjelasan, mendapatkan persetujuan, dan mendapatkan izin
dari pihak yang berwenang mewakili peserta riset, atau menggantinya dengan
9
bentuk lain (formal) jika memang ada pengganti consent yang diatur menurut
hukum. Informed consent tidak diperlukan untuk penelitian yang menggunakan
kuesioner anonim, pengamatan alamiah, dan sejenisnya. Meskipun demikian
setidaknya Ilmuwan Psikologi dan Psikolog berusaha mengikuti aturan yang
berlaku dan mengkonsultasikannya dengan badan yang berwenang, atau
membicarakannya dengan kolega.

Ilmuwan Psikologi dan Psikolog menguraikan tentang riset yang akan


dilakukannya kepada peserta riset dengan menggunakan bahasa dan istilah
yang bisa dipahami calon peserta/peserta penelitian. Termasuk dalam uraian ini
adalah asas kesediaan yang menyatakan bahwa kesertaan dalam penelitian
bersifat sukarela, sehingga memungkinkan untuk mengundurkan diri atau
menolak dilibatkan. Dalam hal ini kepada calon/peserta penelitian dijelaskan
faktor-faktor yang signifikan, yang mungkin terjadi dan bisa mempengaruhi
keputusan mereka untuk ikut atau tidak, baik sejak awal maupun ketika
penelitian berlangsung. Faktor-faktor tersebut adalah kemungkinan adanya
risiko, ketidaknyamanan, efek merugikan, atau keterbatasan dalam menjaga
kerahasiaan. Lamanya keterlibatan dalam penelitian, terutama untuk riset yang
dilakukan dalam jangka panjang termasuk dalam uraian yang harus dijelaskan
kepada peserta riset. Asas kesediaan yang yang harus dipenuhi dalam pelibatan
peserta riset adalah ketentuan untuk tidak membujuk atau memberikan
pancingan dalam upaya menarik minat agar peserta mau dilibatkan. Ilmuwan
Psikologi dan Psikolog tidak memberikan imbalan dalam bentuk uang atau
lainnya yang bisa ditafsirkan sebagai keterpaksaan. Penjelasan kepada peserta
riset tentang studi yang dilakukan merupakan peluang kepada peserta untuk
mendapatkan informasi yang benar tentang situasi, hasil, dan kesimpulan
penelitian. Dalam hal ini Ilmuwan Psikologi dan Psikolog perlu memperhatikan
agar tidak terjadi pemahaman konsep yang keliru dari peserta. Ilmuwan
Psikologi dan Psikolog tidak melakukan riset yang menggunakan cara-cara yang
dapat dianggap sebagai kecurangan atau bersifat mengelabui, kecuali hal itu
memang diperlukan untuk kepentingan pengembangan ilmu, baik untuk
kepentingan pendidikan atau kepentingan ilmiah lainnya, yang tidak mungkin
dilakukan tanpa cara tersebut.

Pada pelaksanaan riset yang melibatkan mahasiswa atau orang yang


dibimbingnya, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog melakukan sesuatu yang
diperlukan untuk melindungi kesertaan yang sifatnya mengikat. Untuk riset yang
berlangsung lama dan mengambil waktu, seperti mengikuti pelatihan terlebih
dulu, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog harus memberikan pilihan kepada
mahasiswa atau orang yang dibimbingnya agar dapat tetap melakukan
kegiatannya dan dapat memperoleh biaya hidup yang diperlukannya.

Apabila dalam pelaksanaan riset dilakukan pengambilan rekaman, baik dalam


bentuk audio maupun visual, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog perlu mendapatkan
izin dari peserta riset sebelum memfilmkan atau merekam dalam bentuk
apapun. Ketentuan ini dikecualikan untuk hal-hal yang sifatnya alamiah atau
diambil di lokasi publik yang terbuka, dengan tetap menghiraukan kaidah dan
etika untuk tidak sampai memunculkan identitas tertentu atau khusus yang bisa
dikenali.

Dalam hal pemanfaatan dan penyebarannya, sehubungan dengan publikasi hasil


penelitian, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog menginformasikan kepada peserta
riset, dengan tujuan agar peserta riset membantunya dalam mengantisipasi

10
berbagai kemungkinan di masa mendatang, misalnya kemungkinan pemunculan
identitas atau hasil riset untuk berbagai kepentingan lainnya.

Dalam kaitan dengan upaya meminimalkan pelanggaran dalam melaksanakan


penelitian, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog berinteraksi dengan peserta
penelitian, atau pihak lain, di lingkungan tempat pengambilan data, hanya dalam
hal yang sesuai dengan rancangan desain studi, yang konsisten dengan peran
psikolog sebagai peneliti ilmiah. Apabila riset yang dilakukan secara ilmiah
menuntut tidak dibukanya informasi karena alasan kemanusiaan, Ilmuwan
Psikologi dan Psikolog bertanggung jawab untuk mencari pengukuran lain yang
bisa menurunkan atau mengurangi risiko.

7.2.3. Penggunaan hewan dalam penelitian

Apabila dalam penelitian yang dilakukan menggunakan hewan sebagai obyek


riset, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog diharapkan dapat memperlakukan hewan
tersebut dengan baik. Mereka diharapkan mengikuti aturan profesional maupun
aturan hukum kenegaraan dalam mendapatkan, merawat, memanfaatkan, dan
membuang hewan yang digunakan sesuai dengan standar yang berlaku.
Ilmuwan Psikologi dan Psikolog yang melakukan penelitian dengan
menggunakan hewan harus sudah terlatih dan mendapat sertifikat khusus, yang
memungkinkannya untuk memperlakukan hewan tersebut dengan baik. Mereka
juga meyakinkan bahwa dalam memimpin kegiatan tersebut ia telah
memberikan penjelasan kepada semua anggota tim yang terlibat, baik mengenai
riset itu sendiri maupun dalam hal perawatan hewan dan perlakuan yang baik,
sebatas keperluan penelitian dan bersifat konsisten, sesuai dengan
kemampuannya.

Penggunaan hewan dalam riset yang dilakukan harus disertai dengan upaya
untuk meminimalkan rasa tidak enak, sakit, infeksi, atau penyiksaan yang
menimpa hewan yang digunakan dalam penelitian. Diperlukan prosedur yang
jelas untuk dapat menangani seberapa jauh hewan itu “boleh” disakiti, atau
merasa tertekan, atau privasi untuk menghindarkan perlakuan semena-mena.
Perlakuan yang menyakiti itu hanya bisa diterima sejauh memang diperlukan
untuk pembuktian ilmiah yang diperlukan untuk tujuan perkembangan
pendidikan, pengembangan ilmu, atau terapan lainnya.

Apabila dalam prosedur penelitian diperlukan pembedahan yang diperlukan


sesuai prosedur dilakukan di bawah pembiusan, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog
melakukannya dengan menggunakan metoda untuk menghilangkan rasa sakit,
atau minimal dapat mengurangi rasa sakitnya selama ataupun sesudahnya.
Seandainya harus mengakhiri hidup hewan tersebut maka harus dilakukan
dalam waktu yang sangat cepat, dengan upaya untuk meminimalkan rasa sakit,
dan sejalan dengan prosedur yang bisa diterima menurut aturan dan hukum.
Dalam hal ini Ilmuwan Psikologi dan Psikolog bekerjasama dengan pihak yang
berwenang (dokter hewan).

IV. Contoh Kasus Penelitian

Berikut contoh kasus pelanggaran kode etik dalam melakukan penelitian yang
melibatkan manusia sebagai partisipan :

11
1. Penelitian “When animals attack: The effects of mortality salience,
infrahumanization of violence, and authoritarianism on support for war” yang
dilakukan oleh Matt Motyl, Joshua Hart, dan Tom Pyszczynski dari University of
Colorado pada tahun 2009.
Latar Belakang Penelitian:
Penelitian dilakukan berdasarkan fakta sejarah yang terkait dengan genocide,
misalnya pembunuhan besar-besaran terhadap etnis Bosnia dalam Perang
Balkan, pemusnahan Bangsa Yahudi dalam holocaust, serta pemusnahan etnis
Tutsi dalam konflik Rwanda, di mana pelaku pembuhunan melihat korban
sebagai infrahuman (subhuman creature). Penelitian menemukan bahwa
terdapat berbagai cara manusia dalam melakukan infrahumanisasi terhadap
manusia lain, terutama yang digolongkan ke dalam out group member dan
bagaimana kecenderungannya ini berkaitan dengan mistreatment dan
perilaku negatif lainnya.
Terror Management Theory (TMT) menyebutkan bahwa manusia termotivasi
untuk memposisikan diri mereka lebih tinggi dibandingkan dengan hewan.
Berdasarkan hal ini, penelitian mengukur kekerasan yang terkait dengan
infrahumanisasi dengan menekankan pada persamaan dengan agresi hewani
yang diharapkan dapat mengurangi dukungan terhadap perang, khususnya
jika berdampak pada kematian. Dugaan ini muncul pada kelompok partisipan
dengan skor tinggi pada Right Wing Authoritarianism (RWA), yaitu pada
mereka yang rentan untuk melakukan infrahumanisasi terhadap mereka yang
berada dalam out group dan secara umum mendukung agresi militer yang
dilakukan terhadap out group. RWA dikaitkan dengan dukungan agresi
terhadap Iran, kecuali jika hal ini dikaitkan dengan pemahaman bahwa
kekerasan dan kematian merupakan perilaku yang menggambarkan
infrahuman. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa menggambarkan
kekerasan sebagai sifat instingtif maka diharapkan dapat mengurangi perilaku
kekerasan terhadap kelompok out group.
Partis
Penelitian ini melibatkan 136 orang mahasiswa yang berpartisipasi untuk
memperoleh extra credit dari universitas, di mana mahasiswa diberitahu bahwa
mereka akan menyelesaikan suatu studi mengenai “Personality and Social
Attitudes”. Partisipan diminta untuk mengisi kuesioner RWA yang terdiri dari 20
item yang masing-masing terdiri dari 9 skala. Partisipan lalu diberi 2 tugas yang
berbeda, masing-masing mengerjakan 1 dari 2 independen variabel yang
dimanipulasi. Pertama, terdiri dari 2 pertanyaan terbuka yang meminta
partisipan menuliskan perasaan yang dialami terkait dengan kematian, di mana
hal ini diyakini dapat mengungkapkan worldview yang terkait secara kultural.
Kedua, partisipan diminta untuk menuliskan paragraph yang menggambarkan
perilaku kekerasan manusia adalah sama atau berbeda dengan perilaku hewan.
Selanjutnya, partisipan diminta untuk melengkapi kuesioner Positive and
Negative Affect Schedule (PANAS) untuk menguji apakah perilaku yang
ditampilkan dipengaruhi oleh afek, dan terakhir, partisipan diminta untuk
mengisi kuesioner Rothschild (2008) yang terdiri dari 11 item untuk mengukur
kesediaan mereka untuk mendukung agresi militer terhadap pihak asing yang
mengancam keselamatan Amerika Serikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
memandang kekerasan sebagai tindakan infrahuman dapat menurunkan
dukungan terhadap agresi militer AS terhadap Iran.

12
13