Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kelapa sawit termasuk tumbuhan pohon dan ketinggiannya dapat mencapai 24 m.
Bunga dan buahnya berupa tandan, serta bercabang banyak. Buahnya kecil, apabila
masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya
mengandung minyak. Agar kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai minyak secara
maksimal, maka perlu dilakukan proses pengolahan kelapa sawit dari TBS (Tandan
Buah Segar) hingga dihasilkan CPO (Crude Palm Oil). Hasil sebagi CPO dapat
dimanfaatkan sebagai minyak goreng, sabun dan lilin.

Proses pengolahan TBS di setiap pabrik umumnya bertujuan untuk memperoleh minyak
dengan kualitas yang baik. Dalam pengolahan TBS, proses perebusan merupakan salah
satu proses yang paling mendasar. Proses perebusan yang optimal akan memudahkan
proses selanjutnya, seperti pemipilan dalam efesiensi, kualitas dan perolehan rendemen
minyak CPO. Dalam proses perebusan selalu terjadi kehilangan minyak. Setiap pabrik
kelapa sawit berusaha untuk memperkecil kehilangan minyak pada setiap stasiun, salah
satunya adalah stasiun perebusan. Angka kehilangan minyak pada pabrik pengolahan
kelapa sawit merupakan ukuran efisiensi ekstraksi pabrik. Oleh karena itu, setiap sisa
buangan dari proses pengolahan harus dianalisa dengan teliti untuk memastikan
pengutipan minyak berjalan optimal.

PT Anugerah Energitama merupakan perusahaan yang mengolah buah kelapa sawit


menjadi CPO (Crude Palm Oil) dan kernel. PT Anugerah Energitama memiliki Pabrik
pengolahan kelapa sawit (PKS) yaitu Tepian Langsat Mill (TLSM) yang merupakan
salah satu pabrik dengan sistem perebusan horizontal dan menerapkan sistem FI-FO
(first in- first out). Selain itu lokasi pabrik yang tidak jauh dari pelabuhan malloy
mempermudah transportasi untuk pengangkutan CPO (Crude Palm Oil) dan kernel.

1.2 Tujuan Praktek Kerja Lapangan

Tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan praktek kerja lapangan ini adalah sebagai
berikut:
1. Mengetahui kapasitas produksi dan hasil produksi di PKS PT Anugerah Energitama
2. Mengetahui proses pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) hingga menjadi produk
CPO (Crude Palm Oil) dan kernel di PKS PT Anugerah Energitama.
3. Mengetahui analisa-analisa yang dilakukan di Laboratorium PKS PT Anugerah
Energitama.

1.3 Ruang Lingkup Praktek kerja Lapangan

Manfaat yang dicapai dari Praktek Kerja Lapangan meliputi:


1. Bagi mahasiswa
a. Memperoleh pengalaman kerja dan mengenal lebih jauh relevansi ilmu yang
diterima selama kuliah, dimana merupakan pengembangan dari teori-teori yang
diterima selama kuliah, serta lebih mengenal sistem proses dan produksi PKS PT
Anugerah Energitama.

2. Bagi Perguruan Tinggi


a. Sebagai masukan untuk mengevaluasi sampai sejauh mana mahasiswa Teknik
Kimia memahami dan mempraktikkan apa yang telah diterima diperkuliahan
untuk diaplikasikan atau digunakan diperusahaan.
b. Sarana untuk menjembatani hubungan kerja sama antara perusahaan dengan
Universitas Mulawarman Samarinda, khususnya mengenai rekruitmen tenaga
kerja.
c. Mencetak

sarjana yang terampil,

kreatif,

dinamis, profesional, jujur dan

bertanggung jawab dalam melakukan suatu pekerjaan.

3. Bagi Perusahaan
a. Memperoleh gambaran mengenai calon sumber daya manusia yang memiliki
kompetisi dan kemampuan bagi masa depan perusahaan.

b. Sarana untuk menjembatani hubungan kerja sama antara perusahaan dengan


Universitas Mulawarman Samarinda, khususnya mengenai rekruitmen tenaga
kerja.

1.4 Ruang Lingkup Praktik Kerja Lapangan (PKL)

Ruang lingkup kegiatan ini meliputi :


a. Mempelajari dan memahami proses pembuatan CPO dan kernel di PKS PT
Anugerah Energitama.
b. Mempelajari dan memahami sistem pengendalian dan peralatan penunjang
lainnya yang berhubungan dengan pengolahan CPO kernel di PKS PT
Anugerah Energitama.

BAB II
ORGANISASI PERUSAHAAN

2.1

Profil PTAnugerahEnergitama

2.1.1

SejarahPerkembangan Perusahaan

Sejarah berdirinya PT Anugerah Energitama diawali pendirian PT Anugerah Bara


Kaltim sebagai perusahaan tambang batubara pada tahun 1997, dengan tingkat produksi
terbesar di Indonesia.

PT Anugerah Bara Kaltim mulai melakukan eksplorasi

pertambangan batubara di Kalimantan timur. Sampai dengan akhir tahun 2007. Pada
tahun 2008, pimpinan dan manajemen PT Anugerah Bara Kaltim memutuskan untuk
melakukan investasi dengan mendirikan PT Anugerah Energitama sebagai perusahaan
perkebunan kelapa sawit dan menjadi bagian dari PT Palma Serasih Group. Hinggakini,
PT Anugerah Energitama telah memiliki Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yaitu Tepian
Langsat Mill (TLSM) yang didirikan pada maret 2013 dan diresmikan pada 2 desember
2014.

2.1.2

Lokasi Perusahaan

Perkebunan

PT Anugerah Energitama

terletak

di desa

tepian langsat,

gunung

kudungdan kabupaten Berau serta memiliki pabrik pengolahan kelapasawit yang


terletak di desa tepian langsat kecamatan Bengalon, Kalimantan Timur. PT Anugerah
Energitama memiliki beberapa estate dengan luas kebun masing masing dapat dilihat
pada Tabel 2.1
Tabel 2.1 Total area kebun PT Anugerah Energitama
Estate
Tepian Langsat Estate (TLSE)
Gunung Karunia Alfa Estate ( GKAE)
Gunung Karunia Omega Estate (GKOE)
Sungai Bengalon Estate (SBGA)
Gunung Kudung Aifa (GKNA)
Sumber: PT Anugerah Energitama, 2015

Total Area (Hectares)


4.085
2.154
1.682
2.449
699

2.1.3

Untuk

Fasilitas Pendukung

mendukung kegiatan produksi di PTAnugerahEnergitamaterdapat beberapa

fasilitas pendukung, antara lain:


1. Kantor Besar yang terletak di Jakarta.
2. Kantor Cabangterletak diSamarinda, Bengalon, danSangatta.
3. Helipad untuk mendukung jalur

transportasi petinggi perusahaan terutama yang

berasal dari luar daerah ke lokasi kerja.

2.1.4

Struktur Organisasi TLSM

Adapun struktur organisasi di PT Anugerah Energitama khususnya di pabrik Tepian


Langsat Mill dapat dilihat pada Gambar 2.1.
STRUKTUR ORGANISASI
PT. ANUGERAH ENERGITAMA - TEPIAN LANGSAT MILL TAHUN 2015
MANAGER PABRIK
RIDWAN SALAMPESSY

ASISTEN KEPALA
TONY D. SITUMORANG

ASISTEN
PEMELIHARAAN / BENGKEL
MAINTENANCE
A ANANG F
ELEKTRIK
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

HENDRI JHON S

KARY. BENGKEL
Supervisor
Mandor Maintenance
Grade 1 Fitter
Grade 2 Fitter
Grade 3 Fitter
Maintenance Helper
Operator mesin bubut
Grease/Oil Man
Foreman Electrick
Grade 1 Fitter Electrick
Grade 2 Fitter Electrick
Grade 3 Fitter Electrick
Shift Fitter
Maintenance Clerk
Civil Engineering
SUB TOTAL 1

JLH
1
1
2
2
2
1
1
1
1
1
1
2
1
2
19

DRIVER
Manager Driver
Askep Driver
Logistic Pool Driver
Dump Truck Driver
Pool Driver
Loader Operator
Tanki Hino 1

1
1
1
1
1
2
1

Tanki Hino 2
Tanki Hino 3
Tanki Hino 4
Tanki Hino 5
Tanki Hino 6
Tanki Hino 7
Tanki Hino 8
Truck Bak Kayu 1
Truck Bak Kayu 2
SUB TOTAL 2
Total

1
1
1

ASISTEN
PROSES / PENGOLAHAN
1. SLAMET MA'RUF

ASISTEN
LAB / QC & LINGKUNGAN
EVI ARDINA RITONGA

ASISTEN
FFB & LOGISTIC
ASNA NASTOLIH

ASISTEN
GRADING
MAHDIYANTO

KTU & KASIE


1. CHOERUDIN YUSUF

2. ROFIANTO
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

2. MASRIANI

KARY. PROSES
JLH
Mandor Proses
1 2
Ramp top
4
Ramp Bottom
0
Ramp Capstan / Trolley
0
Sterilizer Operator
2
Sterilizer Attendant
0
Tippler
2
Transfer Cariage Operator
2
Press Operator
4
Clarification Operator
4
Kernel Operator
4
UnStripped Bunch Recycling
2
Empty Bunch Hopper Opr.
0
Boiler
8
Engine Room
3
Power Supply
2
Water Supply
2
Effluent Treatment
2
Oil Despatch Attendant
2
Kernel Despatch/Pengarungan
2
Kerani Proses
1
Spare man
2
TOTAL

50

No
1
2
3
4

KARY. LAB / QC

JLH
1
4
1
6
12

Analyst
Sampel Boy
Kerani Produksi / Sorter
Mill Compound
Total

KARYAWAN
STAFF
1. Manager Pabrik
2. Asisten Kepala
3. Asisten Pemeliharaan
4. Asisten Proses
5. Asst Lab / QC
6. Asst Logistik
7. Asst Grading
8. KTU & Kasie
Total

Jlh

KARYAWAN
NON STAFF
1. Proses/Operasional
2. Laboratorium
3. Bengkel & Driver
4. Kantor & Keamanan

Jlh

5. Pengiriman
6. Grading
Total Budget Karyawan

1
1
2
2
1
1
1
2
11

KARY. PENGIRIMAN
No
1 Jaga Dermaga
2 Opr Tug Boat
3 Sopir Truk Tangki
TOTAL

JLH

No GRADING
1 Mandor
2 Grader
TOTAL

JLH
1
10
11

KARY. KANTOR & UMUM


Pembukuan
Payroll / Personalia
Kasir
Kepala Gudang
Kerani Gudang
Operator Timbangan
Office Boy
SUB TOTAL 1
SECURITY
1 Danru
2 Anggota
SUB TOTAL 2
TOTAL

No
1
2
3
4
5
6
7

50
12
36
20
0
11
129

1
1
1
1
1
1
17
36

Gambar 2.1 Struktur Organisasi PT Anugerah Energitama-Tepian Langsat Mill


Sumber : PT Anugerah Energitama

JLH
1
1
1
1
1
2
1
8
1
11
12
20

BAB III
LANDASAN TEORI

3.1 Sejarah Kelapa Sawit


Kelapa Sawit (E. guineensis) diusahakan secara komersial di Afrika, Amerika Selatan,
Asia Tenggara, Pasifik Selatan, serta beberapa daerah lain dengan skala yang lebih
kecil. Tanaman kelapa sawit berasal dari Afrika dan Amerika Selatan tepatnya Brasila.
Di Brasilia, tanaman ini dapat ditemukan tumbuh secara liar di sepanjang tepi sungai.
Kelapa sawit yang termasuk dalam subfamili Cocoaideae adalah tanaman asli Afrika.
Zeven (1965) memastikan asal E.guineensis berdasarkan hasil deskripsi para ahli botani
sebelumnya dan para penjelajah bahasa daerah di kedua sisi lautan Atlantik mengacu
pada nama Afrika (Pahan, 2010).

Awal mulanya, di Indonesia, kelapa sawit sekadar berperan sebagai tanaman hias
langka di Kebun Raya Bogor, dan sebagai tanaman penghias jalanan atau perkarangan.
Itu terjadi mulai tahun 1848 hingga beberapa puluh tahun sesudahnya. Ketika itu, tahun
1848, Pemerintah Kolonial Belanda mendatangkan empat batang bibit kelapa sawit dari
Mauritius dan Amsterdam (masing-masing mengirimkan dua batang) yang kemudian
ditanam di Kebun Raya Bogor. Selanjutnya hasil anakannya dipindahkan ke Deli,
Sumatera Utara. Di tempat ini, selama beberapa puluh tahun, kelapa sawit yang telah
berkembangbiak hanya berperan sebagai tanaman hias di sepanjang jalan di Deli
sehingga potensi yang sesungguhnya belum kelihatan (Tim Penulis PS, 1997).

3.2 Tanaman Minyak Sawit


Tanaman kelapa sawit (Elais guinensisJacq.) adalah tanaman berkeping satu. Kelapa
sawittermasuk genus Elais, family Palmae, kelas divisio Monocotyledonae, sub divisio
Angiospermaedengan divisio Spermatophyta. Elaeis berasal dari Elaionyang berarti
minyak, dalam bahasa Yunani, guinensisberasal dari Guinea (Pantai Barat Afrika), dan

Jacqberasal dari nama botanisAmerika yang menemukannya, yaitu Jacquin (Lubis,


1992).

Varietas kelapa sawit dibedakan berdasarkan warna kulit buah dan bentuk buah.
Varietas berdasarkan warna kulit buah setelah masak yaitu varietas nigrescensberwarna
merah

kehitaman,varescens

Sedangkan

berdasarkan

dura(bentuk buah
tempurung

berwarna

bentuk buahnya

tidak teratur

tebal),

merah terang,

varietas kelapa sawit

dan tempurungtebal),

tenera(penampang

dan albescensberwarna

bulat

terdiri

delidura(penampang
dan

hitam.

dari varietas
bulat

tempurungtipis),

dan
serta

pisifera(penampangbulat dan inti kecil).Buah kelapa sawit terdiri dari serabut buah
(perikarp) dan inti (kernel). Serabut buahkelapa sawit terdiri dari tiga lapis yaitu lapisan
luar atau kulit buah yang disebut perikarp, lapisansebelah dalam disebut mesokarp atau
pulp, dan lapisan paling dalam disebut endokarp. Intikelapa sawit terdiri dari lapisan
kulit biji (testa), endosperm dan embrio. Mesokarp mengandungkadar minyak rata-rata
sebanyak 56%, inti(kernel) mengandung minyak sebesar 44%, danendokarp tidak
mengandung minyak (Pasaribu, 2004).

Panen

kelapa sawit dilakukan pada saat kadar minyak

mesokarp

maksimum

dankandungan asam lemak bebas minimum. Pembentukan minyak mulai terjadi pada
buah berumur 10 minggu dan akan maksimum pada saat buah berumur 16 minggu
(tua/matang). Kadar lemak akan menurun sampai umur 20 minggu. Jadi, sebaiknya
panen dilakukan pada saat buah berumur 15-16 minggu karena kadar lemak sudah
menurun dan tidak terjadi peningkatan asam lemak bebas (Muchtadi, 1992).

Kriteria kematangan dapat dilihat dari warna kulit buah dan jumlah buah yang rontokpa
datiap tandan. Kenaikan jumlah buah yang rontok 5-74% menunjukkankenaikan
kandungan minyak pada mesokarp sebesar 5% dan kadar asam lemak bebas
meningkatdari 0.5% menjadi 2.9% (Ketaren, 1986).

3.3 Minyak kelapa sawit


Minyak kelapa sawit berasal daribuah tanaman kelapa sawit yang didapat dengan
caramengekstraksi buah tersebut. Kelapa sawit menghasilkan dua jenis minyak yang
berlainansifatnya, yaitu Crude Palm Oil atau CPO dan Palm Kernel Oil atau PKO. CPO
adalah minyak yang berasal dari sabut (mesokarp) kelapa sawit, sedangkan PKO adalah
minyak yang berasaldari inti (kernel) kelapa sawit (Somaatmadja, 1981).

Perbedaan kedua jenis minyak ini terletak pada kandungan asam lemaknya. Minyak inti
sawit mengandung asam kaproat dan asam kaprilatyang tidak terdapat dalam minyak
sawit (Muchtadi, 1992).

Seperti jenis minyak yang lain, minyak sawit tersusun dari unsur-unsur C, H dan O.
Minyak sawit ini terdiri dari fraksi padat dan fraksi cair dengan perbandingan yang
seimbang. Penyusun fraksi padat terdiri dari asam lemak jenuh, antara lain asam miristat
(1%), asam palmitat (45%) dan asam stearat. Sedangkan fraksi cair tersusun dari asam
lemak tidak jenuh yang terdiri dari asam oleat (39%) dan asam linoleat (11%).
Komposisi tersebut ternyata agak berbeda jika dibandingkan dengan minyak inti sawit
dan minyak kelapa. Secara lebih terinci, komposisi asam lemak jenuh dan asam lemak
tidak jenuh yang terdapat dalam ketiga jenis minyak nabati tersebut, akan disajikan
dalam tabel 3.1.

Tabel 3.1 Komposisi beberapa as am lemak dalam tiga jenis minyak nabati
Asam Lemak

Jumlah
Atom C

Asam lemak jenuh


Oktanoat
8
Dekanoat
10
Laurat
12
Miristat
14
Palmitat
16
Stearat
18
Asam lemak tidak jenuh
Oleat
18
Linoleat
18
Linolenat
18
Sumber : Tim Penulis, 1997

Minyak Sawit
(%)

Minyak Inti
Sawit (%)

Minyak Kelapa
(%)

1
12
32 47
4 10

24
37
41 55
14 19
6 10
14

8
7
48
17
9
2

38 50
5 14
1

10 20
15
15

6
3
-

Menurut Choo et al., (1989) minyak sawit kasar terdiri dari gliserida yang tersusun oleh
serangkaian asam lemak. Komponen utamanya adalah trigliserida dengan sebagian kecil
digliserida dan monogliserida. Minyak sawit kasar juga mengandung komponen minor
lain seperti asam lemak bebas dan komponen nongliserida. Komponen non trigliserida
pada minyak sawit kasar menyebabkan bau dan rasa tidak enak pada minyak,
berpengaruh terhadap warna minyak, dan mempercepat proses ketengikan minyak. Oleh
karena itu, kandungan komponen non trigliserida yang terlalu tinggi pada minyak dapat
mempersingkat umur simpan minyak. CPO mengandung lebih kurang 1% komponen
minor yang terdiri dari karotenoid, tokoferol, tokotrienol, sterol-sterol, fosfolipid dan
glikolipid, terpen dan gugus hidrokarbon alifatik, serta kotoran. Komponen terbesar dari
karotenoid adalah-karoten dan - karoten yang mencapai 90% dari total karotenoid
(Ong et al., 1990). Komposisi komponen-komponen minor dalam minyak sawit secara
lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2Komponen minor dari minyak sawit kasar (CPO)
Komponen Minor
Karotenoid
Tokoferol dan tokotrienol
Sterol
Fosfolipid
Triterpen alkohol
Metil sterol
Squalen
Alkohol alifatik
Hidrokarbon alifatik

Kandungan (ppm)
500-700
600-1000
326-527
5-130
40-80
40-80
200-500
100-200
50

Sumber: Choo et al., (1989)

Bentuk semi padat minyak sawit mentah disebabkan oleh kandungan asam lemak jenuh
yang tinggi. Sekitar 50% asam lemak pada minyak sawit merupakan asam lemak jenuh
dengan komponen utama asam palmitat, sekitar 40% asam lemak tidak jenuh tunggal
(asam oleat) dansekitar 10% asam lemak tidak jenuh jamak (asam linoleat). Kandungan
asam palmitat yang tinggi ini membuat minyak sawit lebih tahan terhadap oksidasi
(ketengikan) dibandingkan jenis minyak lain. Asam palmitat yang berbentuk bebas dan
berbentuk terikat sebagai monopalmitin, dipalmitin dan tripalmitin memiliki titik leleh
yang relatif tinggi (diatas 60o C), sehingga pada suhu ruang senyawa tersebut berbentuk
padat. Asam oleat merupakan asam lemak tidak jenuh rantai panjang dengan panjang

rantai C18 dan memiliki satu ikatan rangkap. Titik cair asam oleat lebih rendah
dibandingkan asam palmitat yaitu 14o C (Ketaren, 1986).

Secara alami minyak sawit berwarna kemerahan karena kandungan karotena yang
tinggi, termasuk alfa-karotena, beta-karotena, dan likopen. Nutrisi yang sama juga
memberikan warna merah pada tomat, wortel dan buah serta sayur lainnya. Minyak
sawit murni mengandung setidaknya 10 jenis karotena, bersama dengan tokoferol dan
tokotrienol (anggota famili vitamin E),fitosterol dan gikolipid.

Ada 3 parameter yang menentukan kualitas dari minyak sawit:


1. Asam Lemak Bebas (FFA),
Kandungan asam lemak bebas pada minyak sawit adalah salah satu penentu utama
mutu minyak sawit yang diperdagangkan, Terbentuknya asam lemak bebas ini pada
minyak sawit adalah aktifitas enzim Lipase. enzim ini pada umumnya terdapat pada
produk - produk pertanian penghasil minyak atau lemak, salah satunya buah kelapa
sawit. Pada waktu buah sawit masih di pohon, enzim ini berperan dalam
pembentukan minyak tetapi setelah buah sawit tersebut dipanen enzim ini akan
memecah

minyak/lemak

yang

dikandungnya,

perombakan ini disebut reaksi

hidrolisa.
Reaksi Hidrolisa
Minyak/Lemak(Trigliserida) + air

Gliserol + Asam Lemak Bebas.........(3.1)

Hal hal yang perlu diperhatikan agar menjaga kadar FFA adalah:
1. Mengusahakan agar buah yang dipanen diminimalkan kerusakannya.
2. Buah yang dipanen segera mungkin untuk direbus dan diolah.
3. Diusahakan minyak yang dihasilkan tetap dalam kondisi panas (suhu sekitar
50o C).
2. Moisture
Moisture adalah viskositas (density) air yang dibutuhkan untuk menilai kandungan
zat menguap dalam minyak.
3. Dirt,
Dirt adalah kadar kotoran pada minyak produksi berupa zat organik yang tidak larut
dalam pelarut organik yang telah ditentukan.

10

3.4 Pengolahan Minyak

Ketaren (1986) menggambarkan pengolahan minyak sawit secara umum dengan


beberapa

tahap,

yaitu

ekstraksi, pemurnian, dan winterisasi

adalah suatu cara untuk mendapatkan minyak atau

lemak

dari

(fraksinasi).
bahan

Ekstraksi

yang

diduga

mengandung minyak atau lemak. Adapun cara ekstraksi yaitu rendering, mechanical
expression, dan solvent extraction. Tujuan utama dari proses pemurnian adalah untuk
menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, warna yang tidak menarik, dan
memperpanjang masa simpan minyak sebelum dikonsumsi atau digunakan sebagai
bahan mentah dalam industri. Pada umumnya minyak untuk tujuan bahan pangan
dimurnikan melalui tahapan proses sebagai berikut:
1. Pemisahan bahan berupa suspensi dan dispersikoloid dengan cara penguapan,
Degumming dan pencucian dengan asam;
2. Pemisahan asam lemak bebas dengan cara netralisasi;
3. Dekolorisasi dengan pemucatan;
4. Deodorisasi, dan
5. Pemisahan gliserida jenuh (stearin) dengan cara pendinginan (chilling).

Winterisasi adalah bagian dari pemurnian

minyak

hasil

ekstraksi.

Winterisasi

yaitu

proses pemisahan bagian gliserida jenuh atau bertitik cair tinggi dari trigliserida bertitik
cair rendah. Pada suhu rendah, trigliserida padat tidak dapat larut dalam trigliserida cair
(Ketaren, 1986).

11

BAB IV
TUGAS KHUSUS

4.1 Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi CPO (Crude Palm Oil) pada PT
Anugerah Energitama adalah berupa buah kelapa sawit atau Tandan Buah Segar (TBS)
yang diperoleh dari kebun sendiri dan ada pula dari kebun masyarakat sekitar, adapun
pembelian Tandan Buah Segar yang dimaksud adalah buah kelapa sawit yang dibeli dari
koperasi desa. Produk akhir yang dihasilkan oleh pabrik

kelapa sawit PT Anugerah

Energitama adalah Minyak Kelapa Sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dan kernel. Selain
itu, cangkang, tandan kosong, fiber, yang merupakan produk sampingan yang masih
digunakan. Fiber dan cangkang digunakan sebagai bahan bakar pada boiler sedangkan
tandan kosong dimanfaatkan menjadi pupuk bagi perkebunan PT Anugerah Energitama.

4.2 Proses Penerimaan dan Sortasi

Tanda

Buah

Segar

denganmenggunakan

yang

truk

berasal

pengangkut

dari
untuk

kebun-kebun
diolah.

diangkut

Pengangkutan

ke

pabrik

secepatnya

dilakukan setelah pemanenan (diterima di pabrik maksimum 24 jam setelah dipanen).


Hal ini bertujuan untuk mencegah kenaikan kadar Asam Lemak Bebas (ALB) karena
keterlambatan pemprosesan.

4.2.1

Timbangan

Proses pengolahan dimulai dari penimbangan buah, bertujuan untuk mengetahui jumlah
TBS yang masuk baik dari kebun sendiri maupun pembelian TBS. Timbangan juga
berguna untuk mengetahui produksi keluar (pengiriman Crude Palm Oil dan Kernel).
Jenis timbangan yang digunakan adalah merek indodacin weight bridge

dengan jenis

timbangan jembatan elektronik berkapasitas 40.000 kg dengan menggunakan sistem


Indikator/load cell dan sistem komputer.Adapun prosedur penimbangannya adalah

12

menimbang berat truk masuk (bruto) yang akan dikurangi berat truk kosong keluar
(tarra) maka akan diperoleh berat bersihnya (netto). Dengan kata lain (bruto tara =
netto). Barang yang ditimbang di jembatan penimbangan mulai dari penerimaan FFB,
pengiriman CPO dan kernel.

4.2.2

Sortasi Buah (Grading)

Setelah dilakukan penimbangan, truk TBS yang telah melakukan penimbangan di


weight

bridgeakan

dibongkar

muatannya

di grading

areas sebelum akhirnya

dimasukkan kedalam loading ramp. Grading merupakan perlakuan awal terhadap TBS,
yaitu dengan melakukan pensortiran TBS sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan
perusahaan yang dimuat dalam standard operating procedure (SOP).

Kualitas hasil dari proses sangat dipengaruhi oleh bahan baku yang diolah, yaitu : TBS
(tandan buah segar). Untuk itulah ada kriteria-kriteria khusus yang diberlakukan untuk
TBS yang masuk dipabrik. Dengan adanya perlakuan grading ini diharapkan bahan
baku yang diolah sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Grading haruslah selektif dan
mewakili.

Kriteria tandan buah segar di PT Anugerah Energitama :


a) Buah matang
Buah dengan berondolan lepas mencapai standar minimum (dalam 1 kg buah
terdapat 1yang berondol)
b) Buah lewat matang
Buah dengan berondolan lepas dari janjangan 25%-50%.
c) Buah Partenocarpi
Terdapat 50% berondolan kecil-kecil, dan buah tidak memiliki nut.
d) Janjang kosong
Buah dengan berondolan dalam jajangan tinggal tersisa hanya 50%-0% perjanjang.
e) Tangkai panjang
Apabila tangkai pada janjang lebih dari batas lebar permukaan janjangan (maksimal
2,5 cm.)

13

f) Buah mentah
Buah tidak ada yang membrondol.
g) Buah kecil
Buah kecil adalah buah yang memiliki berat TBS < 3 kg / buah pasir.

h) Buah batu
Ujung berondolan berwarna hitam dan pecah-pecah (terbelah empat). Brondolan
susah lepas dari janjangan.

4.3 Proses Pengolahan Kelapa Sawit

Proses pengolahan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit untuk dijadikan minyak sawit
melalui proses pengolahan yang sesuai dengan standar operasi prosedur pabrik dan
bahan baku (raw material) yang sesuai mutu kriteria panen yang baik. Selain itu, perlu
instalasi yang baik dan memadai untuk memperoleh minyak sawit yang bermutu baik.
Untuk mendapatkan CPO dari kelapa sawit ada beberapa tahap yang dilakukan
dibeberapa stasiun utama yaitu:
1. Stasiun Penerimaan buah (Loading Ramp Station)
2. Stasiun Perebusan (Sterilizer Station)
3. Stasiun Penebah (Treshing Station)
4. Stasiun Pelumatan &Pengepresan (Digester &Presser Station)
5. Stasiun Pemurnian (Clarification Station)
6. Stasiun Pengolahan nut (Nut and Kernel Station)

4.4 Loading Ramp Station

Loading Ramp station berfungsi sebagai tempat penampungan sementara TBS sebelum
dimasukkan kedalam lori buah (fruit cages). Loading ramp di PT Anugerah Energitama
terdiri dari 24 pintu dengan masing-masing berkapasitas 15 ton dengan kemampuan
penampungan 360

ton.

Loading

rampdidesain dengan kemiringan

27o untuk

memudahkan TBS meluncur masuk kedalam FFB (Fresh FruIt Bunch) conveyor.
Tandan Buah Segar dari Loading Ramp ini kemudian dimasukkan kedalam lori-lori
yaitu tempat meletakkan buah kelapa sawit untuk proses perebusan,yang berkapasitas

14

15 ton TBSper lorinya. Tandan Buah Segar dimasukkan kedalam lori dengan membuka
PintuLoading yang diatur dengan sistem hidrolik. Empat lori yang diisi penuh dengan
total 60 ton Tandan Buah Segar dimasukkan kedalam Sterilizer, dengan menggunakan
indexeryang berfungsi untuk mengerakkan lori masuk dan keluar dari Sterilizer

4.4.1 Bagian-bagian loading ramp dan fungsinya

a) Pintu Loading
bekerja dengan sistem hidrolik berfungsi sebagai pintu keluar TBS
b) Lori
Berfungsi sebagai penampungan TBS saat di rebus dalam bejana sterilizer
c) FFB conveyor 1
Berfungsi untuk mentransfer TBS dari loading ramp menuju FFB conveyor 2
berfungsi untuk mendistribusikan TBS ke dalam lori
d) Feeding door
Berfungsi sebagai tempat keluarnya TBS ke dalam lori yang dapat diatur buka
tutupnya.
e) Panel
Berfungsi sebagai pengerak / pengontrol indexer, transfer carriage secara manual
maupun automatis
f) Hydraulic power pack
Berfungsi sebagai pembuka atau penutup pintu sliding door
g) Transfer carriage
Berfungsi untuk memindahkan lori dari lajur loading ramp menuju lajur sterilizer

4.5 Stasiun Perebusan (Sterilizer Station)

Sterilisasi adalah proses perebusan dalam suatu bejana uap bertekanan yang disebut
dengan bejanasterilizer.

Terdapatdua unit sterilizer di PT Anugerah Energitama,

dimana tiap sterilizerdapat memuat empat lori, satu lori dapat menampung 15 ton TBS.
Sehingga kapasitas sterilizer adalah 60 ton. Proses perebusan tandan buah segar (TBS)
menggunakan uap panas (steam) dilakukan selama 90 menit.

15

4.5.1

Tujuan Perebusan

Adapun proses perebusan bertujuan antara lain untuk:


a. Menonaktifkanenzim
Buah kelapa sawit mengandung enzim Lipase yang terus bekerja dalam buah
kelapa sawitsebelum enzim tersebut dinonaktifkan. Enzim Lipase bertindak
sebagai katalisator dalam pembentukan asam lemak bebas(ALB),pada umumnya
enzim lipase tidak aktif lagi pada suhu 500 C. Oleh karena itu,perebusan pada suhu
tinggi akan menghentikan aktivitas enzim tersebut.
b. Mempermudah pelepasanbuah dari tandan
Zat-zat Polisakarida yang terdapat dalam buah kelapa sawit yang bersifat sebagai
perekat, apabila diberi uap panas maka akan terhidrolisa dan pecah menjadi
Monosakarida yang larut. Hidrolisa tersebut berlangsung pada buat saat menjadi
buah matang dan proses hidrolisa ini dipercepat dalam proses perebusan.
c. Memudahkan pemisahan minyak dari daging buah
Daging buah yang telah direbus akan menjadi lunak dan akan mempermudah pada
proses pengepresan. Dengan demikian minyak yang ada dalam daging buah dapat
dipisahkan dengan mudah.
d. Menurunkan kadar air dalam buah
Perebusan buah dapat menyebabkan penurunan kadar air dalam buah dan inti
buah, yaitu dengan penguapan yang baik pada saat perebusan maupun sebelum
pemipilan.

Penurunan

kandungan

air

buah menyebabkan penyusutan buah

sehingga terbentuk rongga-rongga kosong pada daging buah yang mempermudah


proses pengepresan.
e. Memudahkan penguraian serabut pada nut
Perebusan yang tidak sempurna dapat menimbulkan kesulitan pelepasan serabut
dari nut dalam polishing drum yang menyebabkan pemecahan nut lebih sulit
dalam Ripple Mill.
f. Memisahkan antara inti dan cangkang
Perebusan yang sempurna akan menurunkan kadar air pada nut hingga 15% yang
menyebabkan intisusut dan cangkang nut tetap, sehingga inti akan lepas dari
cangkang.

16

4.5.2

Proses perebusan

a) Lori yang telah dimuat dengan TBS dimasukkan ke dalam bejana sterilizer.
b) Pintu sterilizer ditutup dan dikunci dengan baik.
c) Tiap sterilizer dapat mengolah 4 lori dengan kapasitas 60 ton.
d) Waktu perebusan selama 90 menit (sistem normal) dengan sistem 3 peak dan 16
step.

Adapun langkah-langkah dalam proses perebusan secara aktual dapat dilihat pada tabel
4.1

Table 4.1 Langkah-langkah dalam proses perebusan buah

Peak I

Peak II

Peak III

4.5.3

Step

Waktu

Condensate

Exhaust

Main Inlet

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

3 menit
11 menit
1 menit
5 menit
1 menit
15 menit
1 menit
6 menit
1 menit
13 menit
1 menit
11 menit
1 menit
12 menit
3 menit
5 menit

Tekanan
(bar)
0
1,50
1,00
0,10
0,10
2,50
2,00
0,10
0,10
3,00
2,50
3,00
2,50
3,00
2,00
0

Metode Perebusan

Untuk mendapatkan hasil terbaik, maka perlu diperhatikan cara perebusan. Metode
perebusan yang digunakan oleh PT Anugerah Energitama ini adalah sistem tiga puncak
(Triple Peak).Adapun prinsip Triple Peak adalah tiga kali pemasukan uap (uap basah)
ke dalam sterilizer dan tiga kali pembuangan uap (blow down).Sistem perebusan Triple
peak ( tiga puncak ), terdiri dari :
a) Pembuangan uap awal

3 menit

17

b) Pemasukan uap puncak I (0 1.5 kg/cm2)

: 11 menit

c) Pembuangan uap I

d) Pemasukan uap puncak II (0 2.5 kg/cm2)

: 15 menit

e) Pembuangan uap II

f) Pemasukan uap puncak III (0 2.9 kg/cm2)

: 13 menit

g) Masa penahanan tekanan 3 kg/cm2

: 25 menit

h) Pembuangan uap terakhir

Total waktu perebusan

7 menit

8 menit

8 menit

: 90 menit

Tahap perebusan dengan pola Triple Peak adalah tahap pencapaian puncak I, II dan
IIIyang dapat diatur secara manual atau otomatis. Adapun tujuan tujuan pada setiap
puncak yaitu:
1. Puncak pertama ( Daerasi )
Puncak pertama berfungsi sebagai daerasi, udara merupakan penghantar panas
yang lambat dan berpengaruh negatif terhadap perebusan. Udara yang terdapat
dalam rebusan akan dapat memperlambat pencapaian tekanan.
2. Puncak Kedua ( kondensasi )
Uap air yang terkondensasi berada didasar bejana rebusan, hal ini merupakan
penghambat

proses

perebusan.

Air

yang

terdapat

dalam rebusan

akan

mengabsorbsi panas sehingga jumlah air semakin bertambah. Pertambahan yang


tidak diimbangi dengan pengeluaran air kondensat akan memperlambat usaha
steam untuk mencapai tekanan puncak.
3. Puncak Ketiga (Holding / pematangan)
Pada puncak ketiga ini adalah masa penahanan atau pematangan buah. Lama
perebusan yang akan menjadi penentudan

berpengaruh terhadap efisiensi

ekstraksi serta mutu minyak. Perebusan membutuhkan waktu penetrasi uap hingga
ke bagian yang paling dalam buah. Penetrasi uap semakin cepat apabila tekanan
uap semakin tinggi

18

4.5.4

Bagian bagian sterilizer beserta fungsinya:

1.

Bagian dalam
a) Steam spreader
Berfungsi untuk membagi steam secara merata kedalam sterilizer.
b) Strainer
Berfungsi

sebagai

penyaring

brondolan

agar

tidak

terikut

kedalam

kondensat
2.

Bagian luar
a) Inlet valve / katup masuk steam
Merupakan katup untuk memasukan steam, katup ini berada di dalam pipa
pemasukan dengan ukuran pipa 8.
b) Condensate valve / katup pembuangan air kondensat
Merupakan katup yang digunakan untuk membuang kondensat. Di dalam
pabrik ini memiliki 4 pipa kondensat

dengan ukuran masing masing 8

dan ukuran header 12.


c) Exhaust valve / katup pembuangan steam
Merupakan katup yang berada dalam exhaust pipe yang berfungsi untuk
membuang steam dari sterilizer
d) Preassure gauge
Merupakan alat yang berfungsi untuk mengukur besarnya tekanan steam
yang ada dalam sterilizer
e) Safety valve/ katup pengaman
Katup yang berfungsi sebagai pengaman dari tekanan berlebih. Valve ini di
setting dengan tekanan 3,2 bar.
f) Door lock/ pengunci pintu
Merupakan pengunci pintu sterilizer
g) Control panel
Merupakan panel yang berfungsi untuk mengatur jalannya sterilizer dan
semua unit alat yang terpasang pada sterilizer.
h) Exhaust chamber
Cerobong pembuangan steam

19

i) Blowdown chamber
Cerobong

keluaran

kondensat,

berfungsi

menerima

kondensat

hasil

perebusan dari semua sterilizer untuk selanjutnya dibuang ke condensate pit.


j) Purge valve open
Untuk memastikan tekanan di dalam sterilizer dalam keadaan nol.
k) (draw bridge) / jembatan
Berfungsi sebagai jembatan untuk masuk dan keluarnya lori buah

4.5.5

Hal yang perlu diperhatikan dalam pengoprasian Sterilizer antara lain:

a) lamanya waktu perebusan, karena jika terlalu lama merebus maka kehilangan
minyak dalam kondensat semakin tinggi. Jika terlalu sebentar, maka buah akan
kurang matang.
b) Perhatikan waktu deaerasi agar tekanan yang diinginkan tercapai
c) Lakukan pembuangan air kondensatpada saat proses pencapaian puncak
satudandua.
d) Lakukan pembuangan uap sesuai dengan sistem yang dilakukan.
e) Pengangkutan buah rebus harus segera dilakukan jika buah telah matang agar
kapasitas olah sterilizer tetap terjaga, dan kapasitas produksi pabrik dapat
tercapai.

4.6 Stasiun Penebah (Tresher Station)

Setelah proses perebusan TBS selama 90 menit di sterilizer, TBS yang sudah matang
di dalam lori diarahkan menuju ke tippler. Kemudian di tippler dilakukan penuangan
dengan cara membalikkan tippler secara bertahapagar buah didalam lori keluar jatuh ke
hoppertidak terlalu banyak yang bisa membuat beban conveyor terlalu berat. Estimasi 1
lori selama 15 menit. KemudianTBR (Tandan Buah Rebus)tersebut dibawa dengan
sterilized fruit bunch(SFB) conveyor1 menuju ke SFB conveyor 2 lalu TBR masuk
kethresher, selanjutnya lori yang sudah kosong didorong kembali ke Loading Ramp.

20

Buah yang ditransfer dari SFB conveyor 2, jatuh kedalam thresher drum. Drum ini
berbentuk silinder yang dibentuk dari platestrip yang disusun dengan jarak 4 cm
sehingga membentuk kisi kisi dansiku pelempar yang memanjang sepanjang drum.
Dengan bantuan kisi-kisi dan siku pelempar ini buah terangkat dan jatuh terbanting,
sehingga brondolan buah terlepas dari tandannya. Prinsip kerjanya adalah dengan
adanya gayasentrifugal akibat putaran drum (23rpm). Tandan yang masuk akan
terbanting pada dinding drum yang sedang berputar. Kemudianjatuh karena adanya
gravitasi.

Bantingan yang dilakukan secara berulang-ulang akan menyebabkan brondolan terlepas


dari tandannya, kemudian brondolan jatuh melalui celah-celah drumkebagian bawah
drum yaitu ke Under Cross Cenveyor. Sedangkan tandan kosong akan terlempar keluar
dan jatuh kehorizontal Empty Bunch Conveyor, laludibawa ke inclinedBunch
conveyordan dibuang ke empty bunch area.

Brondolan yang berada pada Under Cross Conveyor dikirim ke Bottom Cross
Conveyorsetelah itu brondolan dibawa ke atas denganFruit Elevator kemudian
diteruskan ke Fruit Distribution Conveyor untuk dibagi dalam tiap-tiap digester.
Didalam proses perontokan buah, terkadang dijumpai brondolan yang tidak lepas dari
tandannya, hal ini disebabkan TBS masih mentah karena kurangnya lama perebusan,
terutama jika TBS disusun sangat rapat dan padat sehingga uap tidak dapat mencapai
kebagian dalam tandan.

4.6.1

Bagian-bagian stasiun thresher dan fungsinya

Pada stasiun ini terdapat beberapa alat beserta fungsinya masing-masing, yaitu:
a)

Tippler
Berfungsi untuk menuang buah yang sudah direbus ke hopper.

b) Hopper
Merupakan tempat penampungan tandan buah rebus yang di tuangkan dari lori
sebelum masuk kesterilized fruit bunch conveyor 1.
c) Auto Feeder

21

Untuk mengatur banyaknya buah yang masuk ke SFB conveyor 1, sehingga


coveyor tidak kelebihan beban.
d) Drum thresher
Thresher merupakan peralatan utama dalam proses pemisahan berondolan dari
janjangannya dengan sistem bantingan.
e) Conveyor
Pada dasarnya conveyor merupakan peralatan bantu untuk sarana transportasi
buah

dan janjangan.

Sehubungan dengan situasi dan kondisi konstruksi

peralatan-peralatan utama dari rangkaian proses maka conveyor mempunyai


fungsi/kegunaan masing- masing. Kegunaan dari conveyor antara lain:
Sterilizer fruit bunch (SFB) conveyor
Terdapat 2 SFB, yang mana berfungsi untuk mendistribusikan tandan buah
rebus dari hooper ke dalam tresher drum
Under cross conveyor
Menampung berondolan yang jatuh dari thresher drum dan mentransfer
menuju ke bottom cross conveyor.
Bottom Cross Conveyor
Menampung dan memindahkan berondolan menuju ke fruit elevator.
Horizontal Empty bunch conveyor
berfugsi membawa tandan kosong menuju ke inclined empty buch conveyor
Inclined Empty bunch conveyor
Berfungsi untuk membawa tandan kosong menuju ke penampungan janjang
kosong.

4.7 Stasiun Pelumatan dan Pengepresan(Digester and Press Station)


4.7.1

Digester

Brondolan dari bottom cross conveyor akan ditransferkan kefruit elevator. Dari fruit
elevator, brondolan akan dibagikan ke digester denganfruit distributing conveyor. Dari
fruitdistributing conveyor inilah brondolanakan dibagikan untuk masuk ke dalam
tabung digesteruntuk kemudian dilakukan proses pelumatan. Tujuan pelumatan agar
mesocarp terlepas dari nut dan menghancurkan sel-sel yang mengandung minyak,

22

sehingga mesocarp dapat diperas pada proses pengepresan. Pelumatan dilakukan dalam
digester yang berbentuk silinder.Pada PT Anugerah Energitama terdapat 5 unit Digester,
masing- masing berkapasitas 4.000 L.

Didalam digesterterdapat enam pisau pengaduk, lima pisau pengaduk stirring arm (long
arm dan short arm) dan satu pisau pelempar (expeller arm). Brondolan diaduk dan
dilumatkan oleh long arm dan short arm di digester.Long arm dan short arm bekerja
dengan fungsi yang berlawanan, yaitu mengangkat dan menekanbrondolan di dalam
digesteragar bisa terlumat. Proses pengoperasian pada digesterpun harus terkontrol dan
tabung digesterpun harus terisi minimal dari volume digester.Hal ini bertujuan agar
brondolan mendapatkan efek pelumatan yang maksimal.Expeller arm pada dasar tabung
digesterberfungsi pada proses pengumpanan brondolan yang sudah lumat ke mesin
press. Pada pengadukkan dilakukan pemanasan untuk memudahkan pelumatan buah
dengan menggunakan steam bersuhu sekitar 90-95 0 C.

4.7.1.1 Tujuan pengadukan


1. Memisahkan mesocarp (daging buah) dengan nut.
2. Mempermudah proses pengepresan di pressing agar minyak mudah dipisahkan
dengan mesocarpnya.
3. Memecahkan sel-sel minyak dari mesocarpnya.

4.7.1.2 Bagian-bagian digester dan fungsinya


a) Stirring arm
Stirring arm ada dua jenis yaitu long arm dan short armberfungsi untuk melumatkan
brondolan pada digester
b) Expeller arm
Berfungsi untuk mengumpankan brondolan yang sudah lumat ke mesin press untuk
di kempa
c) Elektromotor
Berfungsi sebagai alat pengerak pada stirer
d) Oil gutter

23

Berfungsi sebagai penampung minyak yang keluar dari digester untuk di alirkan ke
sand trap tank
e) Gear box
Berfungsi untuk menurunkan putaran pada gear box ke putaran yang diinginkan
untuk memutar stirer

4.7.1.3 Hal-hal yang perlu diperhatikan selama proses pelumatan adalah sebagai
berikut:
a) Tabung digester harus berisi minimal dari volume agar proses pelumatan lebih
sempurna karena tekanan yang ditimbulkan lebih besar sehingga lebih mampat.
b) Suhu digester harus dijaga 90 95o C
c) Drain digester secara kontinyu, untuk mengalirkan minyak yang keluar pada saat
proses pelumatan sehingga tidak terbawa ke mesin press.
d) Kontrol ampere motor pada digester.

4.7.2

Presser

Hasil dari proses pelumatan dalam digester masuk kedalam mesin press yang bertujuan
untuk memeras daging buah sehingga dihasilkan minyak kasar. Pada mesin press, hasil
pelumatan diekstraksi dengan mengunakan sistem tekanan. Tekanan tersebut didapat
dari gerakan doublescrew press yang berputar berlawanan arah serta dibantu oleh
tekanan adjusting cone yang berasal dari hydraulic packyang dapat digerakkan maju
mundur secara sistem hidrolik. Tekanan hidrolik dapat disetel berdasarkan hasil visual
dari press cakepada proses pengepresan.

Tekanan pengepresan sangat berpengaruh pada proses ini, karena tekanan pengepresan
terlalu tinggi dapat menyebabkan nut pecah (hancur),

sebaliknya jika tekanan

pengepresan terlalu rendah akan mengakibatkan losses (kerugian) minyak pada ampas
press akan bertambah.Pada PT Anugerah Energitama terdapat 5 unit Screw Press yang
berkapasitas 15 ton dengan tekanan pengepresan 50 - 60 Kg/cm2 . Minyak yang keluar
dari hasil pengepresanakan mengalir ke oil gutter dan ditambahkan air panas dari water
dilution untuk menurunkan viskositas dan mempermudah proses pemisahan minyak

24

Hasil pengepresan adalah minyak kasar yang keluar dari pori-pori press cage, melaluioil
gutterakan menuju ke sandtrap tankuntuk awal pengendapan minyak kasar.Hasil lain
adalah ampas press (terdiri dari nut dan serabut).

4.7.2.1 Bagian-bagian press dan fungsinya


a) Press Cage
Berfungsi sebagai tempat keluarnya minyak
b) Worm Screw
Terdapat dua screw press yang berfungsi sebagai pengempa yang bekerja
dengan cara yang memutar berlawanan arah
c) Adjusting Cone
Adjusting cone dapat bergerak maju mundur secara sistem hidrolik yang
berfungsi untuk menekan press cake pada proses pengempaan
d) Elektomotor
Berfungsi sebagai pengerak screw press
e) Gear Box
Berfungsi untuk menurunkan putaran pada elektromotor yang di atur sesuai
kebutuhan putaran pada mesin press
f) Coupling
Berfungsi sebagai pengaman pada elektomotor pada saat beban terlalu berat
g) Pulley
Berfungsi sebagai bantalan pada belting, dapat juga mengatur besarnya putaran
h) V-belt
Berfungsi sebagai karet penghubung antara elektromotor dengan gear box
i) Hydrolic Cilinder
Berfungsi sebagai mesin penghubung antara hydrolic power pack dengan
adjusting cone, agar dapat digerakkan maju mundur

25

4.7.2.2 Hal-hal yang perlu diperhatikan selama proses pengepressan adalah sebagai
berikut:
1. Tekanan pengepresan harus diperhatikan, karena tekanan pengepresan terlalu tinggi
dapat

menyebabkan

inti pecah

(hancur),

losses

(kerugian)

inti tinggi,

dan

mempercepat terjadi keausan pada Screw Press. Sebaliknya jika tekanan pengepresan
terlalu rendah akan mengakibatkan losses (kerugian) minyak pada ampas pressakan
bertambah.
2. Kontrol ampere motor 39 41 A.
3. Kontrol tekanan hidrolik cone
4. Kontrol kualitas press cake secara visual.

4.8 Stasiun Pemurnian (Clarification Station)

Stasiun klarifikasi atau biasa disebut sebagai stasiun pemurnian minyak berfungsi untuk
memurnikan minyak kasar hasil ekstraksi dari stasiun digester & presser.Minyak kasar
dari stasiun pengepresan masih banyak mengandung kotoran kotoran yang berasal dari
daging buah seperti pasir, sludge, air dan lain-lain. Keadaan ini menyebabkan minyak
mudah mengalami penurunan mutu. Dalam mendapatkan minyak yang memenuhi
standar, maka perlu dilakukan pemurnian terhadap minyak tersebut. Pada stasiun ini
terdiri dari beberapa unit alat pengolah untuk memurnikan minyak produksi.

Untuk memurnikan minyak agar sesuai dengan standar mutu, terdapat beberapa prinsip
kerja yang digunakan, seperti: penyaringan, pengendapan, sentrifugasi, penurunan kadar
air, dan pemurnian.

4.8.1 Sand Trap Tank

Minyak kasar hasil pengepressan dialirkandari oil gutter di masukkan ke sand trap tank.
Sand trap tankberfungsi untuk memisahkan minyak kasar hasil ekstraksi pada mesin
press dari pasir serta benda-benda lain yang terikut dalam minyak kasar. Proses
pemisahan berlangsung dengan menggunakan prinsip perbedaan berat dari minyak dan
pengotor,minyak yang lebih ringanakannaik keatas dan keluar melalui pipa over flow

26

menuju crude oilvibrating screen.Temperatur pada sand trap tankadalah 90o -95o C
dengan bantuan steam coil dan steam inject. Kapasitas sand trap tank 20 m3 , lebih
jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1Sand trap tank PT Anugerah Energitama

4.8.2 Crude Oil Vibrating Screen

Setelah dipisahkan dari pasir,crude oil dialirkan ke crude oil vibrating screenuntuk
dipisahkan lagi minyak dengan kotoran-kotoran seperti fiber halus (ampas) yang terikut
ke vibrating screen. Di vibrating screen pemisahan terjadi dengan adanya getaran
dimana fase yang lebih berat akan terdorong ke pinggir screen kemudian akan
dimasukkan kembali ke digester, sedangkan minyak mentah (crude oil) fase yang lebih
ringan akan turun ke bawah. Vibrating screen (saringan getar) model bulat terdiri dari
dua buah saringan dengan 20 mesh dan 40 mesh yang terbuat dari bahan stainless steel.
Bentuk aktual dari vibrating screensepeti ditunjukkan pada Gambar 4.2

Gambar 4.2 Vibrating screen PT Anugerah Energitama

27

4.8.3

Crude Oil Tank

Setelah proses sentrifugasi di vibrating screen minyak mentah dialirkan ke crude oil
tank. Crude oil tank (tangki minyak mentah) berfungsi untuk mengendapkan pasir dan
serat-serat halus (non oil solid) yang masih terikut di vibrating screen. Crude oil tank
adalah tempat penampungan sementara sebelum dipompakan ke CST (Clarifier Settling
Tank). Pada Crude oil tank terdapat dua sekat sehingga membentuk tiga kolom.Crude
oil akanoverflow melewati sekat. Temperatur pada crude oil tank adalah 90o -95o C
dengan bantuan steam yang diijeksikan kedalam tanki. Kapasitas crude oil tank 20 m3 .
Bentuk aktual dari crude oil tankseperti ditunjukkan pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3 Crude oil tank PT Anugerah Energitama

4.8.4 CST (Continuous Settling Tank)

Dari Crude Oil Tank, crude oil dipompakan ke

Continuous Settling Tankdengan

kapasitas 240 m3 untuk pemisahanminyak dengan sludge dan kotoran berdasarkan


perbedaan massa jenis serta pengadukan dengan stirring arm (3 rpm) secara perlahan
untuk mempercepat proses pemisahan. Massa jenis yang lebih besar (lumpur, pasir, dan
lain-lain)akan mengendap ke dasar tangki, sedangkan minyak yang mempunyai massa
jenis yang lebih ringan akan naik ke permukaan bagian atas CST.Minyak dikutip
melalui bantuan oil skimmer (corong) yang bisa diatur naik turun, minyak masuk
kedalamnya menuju ke Oil Tank, sedangkan sludge (masih mengandung minyak) yang
massa jenis lebih berat turun ke bagian bawah keluar secara under flow di alirkan

28

kesludge vibrating screen.Temperatur pada CST adalah 90o -95o C dengan bantuan steam
coil dan steam inject. Bentuk aktual dari CST seperti ditujukkan pada Gambar 4.4.

Gambar 4.4 Continuous settling tank PT Anugerah Energitama

4.8.5 Pure Oil Tank

PureOil Tank dapat dilihat pada Gambar 4.5. Minyak dari CST menuju ke PureOil
Tank untuk ditampung sementara waktu, sebelum dialirkan ke purifier. Minyak
dialirkan ke purifier secara overflow. Dalam PureOil Tank juga terjadi pemanasan (90950 C). Kapasitas pure oil tank 40 m3 .

Gambar 4.5 Pure oil tankPT Anugerah Energitama

4.8.6 Purifier

Purifierberfungsi

untuk

mengurangi

kadar

kotoran.Didalam

purifier

dilakukan

pemurnian berdasarkan atas perbedaan densitas dengan menggunakan gaya sentrifugal


dengan kecepatan putarannya 3.000 rpm.Kotoran yang memiliki densitas yang besar

29

akantertahan pada disk-disk yang ada di dalam purifier, flushing dilakukan setiap
10menit sekali untuk membuang kotoran-kotoran yang melekat pada disk secara
otomatis. Kotoran dibuang ke fat pit untuk dikutip kemungkinan ada minyak yang
terikut terbuang.Sedangkan minyak yang densitasnya lebih kecil akan mengumpul
ditengah dan akan dipompakan ke luar menuju ke vacum drier. Kapasitas purifier 10
m3 . Bentuk aktual Purifier dapat dilihat pada Gambar 4.6.

Gambar 4.6 Purifier PT Anugerah Energitama

4.8.7 Vacuum Drier

Minyak yang keluar dari purifier masih mengandung air, maka untuk mengurangi kadar
air tersebut, minyak melalui pompa purifierdipompakan ke vacum drier. Disini minyak
masuk ke float tank, kemudian mengalir keluar melalui nozzle yang ada di dalam tabung
vacuum drier. Campuran butir-butir air dan minyak tersebut akan pecah, hal ini akan
mempermudah pemisahan air dalam minyak. Kapasitas vacuum drier 15 m3 , untuk
vacuum drier PT Anugerah Energitama dapat dilihat pada Gambar 4.7.

Gambar 4.7Vacuum drier PT Anugerah Energitama

30

4.8.8 Sludge Vibrating Screen

Sludge yang masih mengandung minyak pada bagian CST di kutip dengan sludge
skimmer kemudian alirkan ke sludge vibrating screen. Pada sludge vibrating screen
dilakukan pemisahan antara sludge padat dengan sludge cair. Sludge padat akan
dibuang ke effluent pit melalui sludge waste conveyor, sedangkan sludge cair yang
mengandung minyak masuk ke dalam sludge tank.
4.8.9 Sludge Tank

Sludge cair yang masih mengandung minyakakanmasuk ke sludge tank. Sludgetank ini
berfungsi sebagai tempat penampungan sludge sementara sebelum dialirkan ke sludge
sentrifuge. Tangki ini dipanaskan dengan suhu 90950 C dengan menggunakan steam
inject. Kapasitas sludge tank 30 m3 . Untuk sludge tankPT Anugerah Energitama dapat
dilihat pada Gambar 4.8.

Gambar 4.8Sludge tankPT Anugerah Energitama

4.8.10

Sludge Sentrifuge

Sludge sentrifuge berfungsi untuk mengutip minyak yang masih terkandung dalam
sludge. Pada sludge sentrifuge ini terjadi dua fase pemisahan yaitu minyak kasar dan
sludge. Sludge sentrifuge mengunakan prinsip gaya sentrifugal. Fase berat (heavy
phase) akan terlempar keluar melalui nozzle dengan ukuran 1,9 mmmelalui saluran
pembuangan menuju effluent pit, sedangkan minyak/fase ringan (light phase) akan

31

terkumpul ditengah bowl dan dialirkan melalui

discharge pipe untuk dikirim ke

collection oil tank. Kapasitas sludge centrifuge 6.000 L. Bentuk aktual dari Sludge
sentrifuge seperti pada Gambar 4.9.

Gambar 4.9Sludge sentrifuge PT Anugerah Energitama

4.8.11 Collection Oil Tank

Minyak hasil pemisahan di sludge sentrifuge ditampung sementara di collection oil


tankdengan kapasitas 4,5 m3 sebelum dipompakan kecrude oil tank.

4.8.12 Fat Pit

Fat-Pit adalah bak penampungan terakhir seluruh buanganair-air hasil pencucian lantai
PKS,sludge hasil drain( sand trap tank, crude oil tank, clarifier settling tank, reclaimed
oil tank, collection oil tank), dan buangan purifier. Kemudian dipanaskan dengan steam
untuk

mempermudah proses pemisahan minyak

dengan kotoran

dengan cara

pengendapan. Minyak yang terapung pada bagian atas yang ada di permukaan kemudian
dikutip ke sludge pit, kemudian di pompa ke reclaimed oil tankuntuk dikirim ke sand
trap tank.

32

4.8.13 Reclaimed Oil Tank

Minyak dari sludge pit kemudian dipompakan ke reclaimed oil tank untuk ditampung
sementara sebelum dipompakan ke sand trap tank.Reclaimed oil tank juga berfungsi
untuk menampung drain dari sludge tank dan pure oil tank. Kapasitas reclaimed oil
tank15m3 .

4.8.14 Hot process water tank

Hot process water tank adalah penyuplai air panas yang dibutuhkan sludge sentrifuge,
purifier, water dilution, dan vacuum drier, dimana air dalam tangki ini dipanaskan
sampai temperatur 90-95o . Kapasitas hot water tank3,5 m3 .

4.8.15 Hot Water Tank

Hot water tank berfungsi untuk mensuplai air panas ke hot process water tank. Hot
water tank memdapatkan air dari turbin cooling water dan treated tank. Hot water tank
memiliki kapasitas 10 m3 .

4.8.16 Effluent pit

Final effluent adalah tempat penampungan limbah cair hasil pengolahan yang tidak
digunakan lagi. Limbah tersebut berasal dari sludge dari penampungan fat pit dan juga
dari sludge waste conveyor. Pada proses selanjutnya limbah dari effluent pit akan
dikirimkan ke kolam limbah.

4.8.17 Storage Tank

Minyak setelah melalui vacum drierdipompa melalui oil transfer pump ke Storage Tank
(tangki timbun), dengan suhu 45-60o C. Setiap hari dilakukan pengujian mutu minyak
sawit untuk mengetahuikadar FFA, moisture, dan dirt. Pada PT Anugerah Energitama
terdapat dua unit storage tank dengan kapasitas 2.000 ton per unit.

33

4.9 Stasiun Nut and Kernel

Tujuan dari pengolahan ini adalah untuk memisahkan inti (kernel) dari cangkangnya.
Pengolahan nut pada dasarnya adalah sebagai berikut :
1.

Pemisahan serabut dari nut

2.

Pemeraman nut

3.

Pemisahan inti cangkangnya.

4.

Pengeringan

4.9.1Cake Breaker Conveyer (CBC)

Ampas pengepresan dari mesin pressyang terdiri dari serat dan nut yang masih
menggumpal masuk ke CBC. CBC merupakan conveyor yang berbentuk Ribbon Blade
yang

berputar

pada

porosuntuk

mempermudah pemisahan nut dan serat dan

membawanya ke Depericarper.
4.9.2 Depericarper

Depericarper adalah alat untuk memisahkan ampas dengan nut serta memisahkan nut
dari sisa-sisa serabut yang masih melekat pada nut. Seperti pada Gambar 4.10alat ini
terdiri dari separating columndan fibre cyclone. Ampas dan nut dari CBC masuk dari
separating column. Disini material ringan berupa fiber akan terhisap dan masuk kefibre
cyclone, melalui air lockjatuh kefibre and sheel conveyor sebagai bahan bakar boiler.
Sedangkan material yang lebih berat seperti nutataupun batu yang terikut turun kebawah
masuk ke polishing drum.

34

Gambar 4.10DepericarperPT Anugerah Energitama

4.9.3 Polishing Drum

Polishing Drum berputar dengan kecepatan 26 rpm, dilengkapi lubang berukuran kecil
dan besar. Akibat dari perputaran,nut yang kecil akan jatuh melewati lubang kecil
kemudian ditransfer ke nut hopper dengan crackedmixture transport Fan, nut yang
berukuran lebih besar akan jatuh melalui lubang yang besar menuju nut auger conveyor,
sedangkan material seperti batu dan material lain yang tidak dibutuhkan yang tidak
lewat lubang akan terdorong keujung polishing drum, kemudianakan diambil dan
dibuang.

4.9.4

Destoner

Nut

yang

lewat

dari

lubang

besar

dipolishing

drum

kemudian

menuju

destonermelaluinut auger conveyor. Destoner berfungsi untuk memisahkan nut dari


material-material yang terikut melewati lubang di polishing drum (batu, besi, dll). Disini
material yang ringan berupa nut akan terhisap naik oleh cyclone fan dan melalui nut
separating colom, nut jatuh masuk ke nut grading. Sedangkan material yang lebih berat
seperti nut yang besar, batu, ataupun potongan besi akan jatuh kebawah kemudian akan
dibuang. Bentuk aktual destoner PT Anugerah Energitama dapat dilihat pada Gambar
4.11.

35

Gambar 4.11Destoner PT Anugerah Energitama

4.9.5 Nut grading

Nut grading berfungsi untuk memilah / menyortir nut sesuai ukuran. Pada nut grading,
nut diklasifikasikan menjadi 4 ukuran. Nut dipisahkan menurut ukurannya melalui drum
berputar, yang pada drumnya terdapat lubang-lubang dari kecil sampai besar menurut
pengklasifikasiannya. Kemudian nut tersebut ditampung pada nut hopper sesuai
klasifikasinya. Bentuk aktual nut grading PT Anugerah Energitama dapat dilihat pada
Gambar 4.12

Gambar 4.12Nut grading PT Anugerah Energitama

4.9.6 Nut hopper

Nut hopper berfungsi penampungan sementara sebelum nut dipecah di ripple mill. Nut
hopper dibagi 4 klasifikasi ukuran pada nut. Pada nut hopper terdapat air lock, air

36

lockberfungsi sebagai pengatur keluaran nut agar pengumpanan kontinyu dan stabil.
Bentuk aktual nut hopper PT Anugerah Energitama dapat dilihat pada Gambar 4.13

Gambar 4.13Nut hopper PT Anugerah Energitama

4.9.7 Ripple Mill

Nut dari Nut hopper masuk ke Ripple Mill untuk dipecah sehingga inti terpisah dari
cangkang. Nut masuk ke ripple mill akan tergilas, efek penggilasan didapat dari stator
bar dan perputaran rotor bar. Disini terdapat 4 unit Ripple Mill. Setelah dipecahkan,
kernel dan cangkang yang masih bercampur dibawa ke LTDS (Light Tenera Dry
Separation) 1melalui cracked mixture conveyor dan cracked mixture elevator. Bentuk
aktual Ripple Mill PT Anugerah Energitama dapat dilihat pada Gambar 4.14

Gambar 4.14 Ripple mill PT Anugerah Energitama

37

4.9.8 LTDS (Light Tenera Dry Separation) 1

Hasil dari pemecahan nut di ripple mill berupa cangkang, kernel utuh, kernel pecah, dan
cangkang halus. Kemudian campuran tersebut dipisahkan di LTDS 1. Pada LTDS 1
kernel utuh ataupun kernel pecah yang massanya lebih berat akan jatuh ke wet kernel
elevator, sedangkan massa yang lebih ringan akan terhisap oleh LTDS 1 cyclone fan dan
jatuh ke fiber and shell conveyor untuk bahan bakar boiler. Material yang tidak terpisah
di LTDS 1 akan masuk ke LTDS 2 melalui separating coloumn untuk dipisahkan lebih
lanjut. Bentuk aktual dari LTDS PT Anugerah Energitama dapat dilihat pada Gambar
4.15

Gambar 4.15LTDS 1& 2PT Anugerah Energitama

4.9.9

LTDS(Light Tenera Dry Separator) 2

Kernel pecah, cangkang, dan cangkang halus yang tidak terpisah dari LTDS 1,
kemudian dipisahkan lagi di LTDS 2 menurut massanya. Massa yang lebih berat yaitu
kernel pecah akan jatuh ke wet kernel conveyor, dan material yang lebih ringan jatuh
kefiber and shell conveyor untuk bahan bakar boiler. Material yang tidak terpisah di
LTDS 2 akan masuk ke claybath melalui separating coloumn untuk dipisahkan lebih
lanjut.

38

4.9.10 Claybath

Kernel pecah dan cangkang yang masuk ke dalam claybath akan dipisahkan menurut
specific gravity menggunakan larutan kalsium karbonat (CaCO 3 ). Kernel memiliki
specificgravity 1,06 1,09 sedangkan cangkang 1,16 1,25, sehingga specific gravity
larutan kalsium karbonat 1,12 1,14. Ketika dilakukan pemisahan, kernel akan
mengapung dan cangkang akan tenggelam. Kernel akan jatuh ke vibrating screen untuk
diambil kembali larutannya dengan ukuran mesh 10, begitu pula dengan cangkang.
Kernel yang telah disaring akan jatuh ke wet kernel elevator, dan cangkang akan masuk
ke

wet

shell

karbonatdigunakan

conveyor

menuju

ke

bak

cangkang.

Setelah

larutan

kalsium

dalam beberapa waktu, larutan akan mengalami kejenuhan. Indikasi

larutan jenuh adalah kernel losses tinggi meskipun SG larutan sudah tercapai 1,12
1,14. Jenuhnya larutan kalsium karbonat disebabkanoleh tercampurnya kontaminan
kedalam larutan sehingga menyebabkan kernel dan cangkang tidak terpisah. Contoh
kontaminan adalah kandungan minyak

dalam kernel dan cangkang, fiber yang

menempel pada cangkang. Jenuhnya larutan menyebabkan tidak terpisahnya kernel dan
cangkang, oleh sebab itu larutan perlu diganti dengan cara membuat larutan baru.
Claybat PT Anugerah Energitama dapat dilihat pada Gambar 4.16. Selama operasional,
SG larutan harus dikontrol menggunakan SG meter.

Gambar 4.16ClaybathPT Anugerah Energitama

39

4.9.11 Kernel Silo

Kernel silo digunakan untuk menampung kernel produksi untuk dipanaskan dengan
tujuan mengurangi kadar air di kernel. Kapasitas kernel silo adalah 50 m3 . Pengeringan
di kernel silo menggunakan udara panas dengan cara meniupkan udara panas yang
dialirkan melalui elemen panas (heating element). Temperature di kernel silo dijaga
dengan suhu 60 80o C. kemudian kernel yang sudah kering akandiumpankan ke dried
kernel conveyor kemudian dikirim ke kernel bunker dengan dried kernel transport
fan.Bentuk aktual dari kernel silo PT Anugerah Energitama dapat dilihat pada Gambar
4.17

Gambar 4.17Kernel siloPT Anugerah Energitama

4.9.12 Kernel bunker

Kernel yang telah kering dari kernel silo kemudian dikirim ke penampungan

kernel

(kernel bunker) untuk disimpan sebelum dijual. Kapasitas kernel bunker adalah 250 ton
per bunker.

4.10 Laboratorium

Laboratorium merupakan tempat untuk melakukan analisa atau kontrol terhadap proses
produksi. Kontrol yang dilakukan mulai dari kualitas minyak, kualitas kernel, limbah,
losses sampai kualitas air sebagai kebutuhan pokok produksi. Untuk peningkatan proses
produksi, diperlukan analisa selama proses produksi berlangsung, maka dari itu perlu

40

diambil sampel baik padatan maupun cairan dan dilakukan analisa, dimana hasil analisa
akan dijadikan sebagai dasar bagi operasional untuk melakukan perbaikan.

Pada divisi laboratorium Tepian Langsat Mill terdapat manpower berjumlah 7 orang
yang terdiri dari 2 orang analyst shift I dan II, 4 orang sample boy shift I dan II serta 1
orang

kerani produksi.

Dalam kegiatan sehari-hari divisi laboratorium bertugas

menganalisa dan mengontrol mutu proses produksi meliputi :

4.10.1 Mutu Air

Merupakan analisa yang dilakukan untuk memastikan kualitas air yang digunakan
masih berada pada batas control yang telah ditetapkan terutama kualitas air boiler. Hasil
analisa tersebut sangat berpengaruh terhadap penggunaan dosis chemicaldengan tujuan
untuk menghasilkan air dengan baku mutu yang diharapkan baik untuk kebutuhan
domestic maupun air boiler.
Tabel 4.3 Analisa sample air
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Nama sampel
raw water
Clarifier water tank
Send filter
Cation
Anion
Boiler feed waater tank
Boiler water

Analisa
pH, TDS, turbidity, total hardness
pH, TDS, turbidity.
pH, TDS, turbidity.
pH,TDS, total hardness
pH, TDS, Silika
pH. TDS, Total hardness, Silika dan Fe
pH, TDS, Total hardness, Sulfite, Phospat, Cloride, PAlkalinity, M-Alkalinity, O-Alkalinity

4.10.2 Kerugian (Losses) dalam proses pengolahan

Analisa losses ini dilakukan untuk mengetahui berapa banyak kehilangan minyak dan
kernel selama produksi.
1. Analisa losses minyak
a) USB
Merupakan janjang kosong yang masih ada brondolannya > 30%. Brondolan
yang terdapat pada janjang kosong mengandung minyak yang tidak dapat lagi

41

dikutip. Sampel ini dari 1.000 janjang, sehingga berdasarkan perhitungan


sebagai berikut dapat diketahui presentasi USB yang ada.

..........................(4.1)
Contoh:
USB = 3, sehingga (3/1000) x 100% = 0,3 % USB.
b) Empty bunch
Janjang kosong yang akan dibuang ke limbah padat.Untuk mengetahui kadar
minyak di dalamnya, dilakukan analisa denga mengambil sampel secara acak
sebanyak 5 janjang. Sampel diambil 1 janjang dari 10 janjang. Sampel dihitung
beratnya lalu diekstraksi untuk

mengetahui kadar minyak

yang terdapat

didalamnya.
c) Fiber press
Merupakan fiber yang berasal dari mesin press. Sampel fiber diambil tiap dua
jam selama proses dan dicampur menjadi satu dan diekstraksi untuk mengetahui
kadar minyak didalamnya
d) Nut press
Merupakan nutyang berasal dari mesin press. Sampel nut diambil tiap dua jam
selama proses dan dicampur menjadi satu dan diekstraksi untuk mengetahui
kadar minyak didalamnya.
e) FinalEffluent
Final effluent merupakan limbah hasil buangan yang tidak dapat dikutip lagi
minyaknya, final effluentberasal dari sludge waste. Tujuan menganalisa final
effluent untuk mengetahui berapa banyak minyak yang terbuang.

2. Analisa losses kernel


a. USB
Merupakan janjang kosong yang masih ada brondolannya > 30%. Brondolan
yang terdapat pada janjang kosong mengandung kernel yang ikut terbuang ke
limbah padat.
b. LTDS 1 &2

42

Merupakan sampel yang diambil dari output LTDS 1 dan LTDS 2, berupa kernel
dan cangkang. Sampel diambil 1kg setiap dua jam lalu disortasi untuk
mengetahui losses kernel yang ada pada sampel.
c. Claybath
Merupakan sampel yang diambil dari outputclaybath, berupa kernel dan
cangkang. Sampel diambil 1kg setiap dua jam lalu disortasi untuk mengetahui
losses kernel yang ada pada sampel.
d. Fiber cyclone
Sampel berupa fiber hasil pemisahan di unit fiber cyclone. Sampel diambil
seberat 1kg setiap dua jam, lalu disortasi untuk mengetahui losseskernelyang
terdapat pada sampel.

4.10.3 Mutu Produksi

Produk akhir dari pengolahan kelapa sawit berupa Crude Palm Oil (CPO) akan
dianalisa mutunya, yaitu terhadap; FFA (Free Faty Acid),moisture (kadar air), dan
dirt(kotoran). Tujuan analisa sampel ini adalah untuk mengetahui kualitas minyak yang
nantinya siap untuk dipasarkan, tentunya agar minyak yang diproduksi di PT. Anugerah
Energitama memenuhi standar dan

memiliki kualitas yang baik. Adapun sampel yang

dianalisa untuk mengetahui mutunya, adalah:


a. Pure oil tank
Sampel minyak yang diambil sebelum melewati proses pemurnian di unit
purifier. Sampel diambil dan di campur tiap dua jam. Lalu di analisa untuk
mengetahuimoisture (kadar air) dan dirt atau kotoran yang terdapat dalam
minyak yang tersimpan didalamnya.
b. Exhaust purifier
Sampel minyak yang diambil setelah melewati proses pemurnian di unit purifier.
Sampel diambil dan di campur tiap

dua jam.

Lalu di analisa untuk

mengetahuimoisture (kadar air) dan dirt atau kotoran yang terdapat dalam
minyak yang tersimpan didalamnya.
c. Minyak produksi

43

Sampel minyak yang diambil sebelum dimasukkan ke dalam storage tank.


Sampel diambil dan di campur tiap dua jam. Lalu di analisa untuk mengetahui
kadar FFA (asam lemak bebas), moisture (kadar air) dan dirt atau kotoran yang
terdapat dalam minyak produksi.
d. Storage tank
Sampel CPO yang terdapat di storage tank dan siap dipasarkan. Sampel diambil
satu kali setiap hari. Tujuan menganalisa adalah untuk mengetahui kualitas dari
CPO yang ada di storage tank dengan menguji tingkat FFA (asam lemak bebas)
,moisture (kadar air) serta dirt atau kotoran yang terkandung dalam minyak.
e. Kernel silo
Sampel berupa kernel yang diambil dari unit kernel silo. Sampel diambil 1kg
tiap dua jam selama proses berlangsung, kemudian dihitung kandungan moisture
nya agar memenuhi standar dari kualitas pada kernel.

4.10.3 Komposisi minyak

Merupakan analisa dari sampel minyak yang diambil pada sand trap tank, dan COT,
CST dan sludge tank. Sampel tersebut diuji untuk mengetahui komposisinya, yaitu;
minyak, emulsi (busa), moisture, dan NOS (non oil solid).

4.10.4 Mutu limbah cair

Merupakan analisa dari sampel yang diambil pada kolam limbah cair pabrik. Sampel
diambil satu kali setiap harinya. Tujuan menganalisa adalah untuk mengetahui nilai dari
pH dan total alkalinity yang terkandung dalam air limbah. Karena syarat limbah baru
dapat dibuang ke lingkungan harus memiliki nilai total alkalinity <2000 dan pH =7.

44

BAB V
PENUTUP

5.1

Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh setelah megikuti program PKL yang
dilaksanakan di PT Anugerah Energitama Tepian Langsat Mill antara lain:
1. Kapasitas olah di PKS PT Anugerah Energitama adalah 60 ton TBS/jam dan
produk akhir berupa Crude Palm Oil dan Kernel
2. PT Anugerah Energitama memiliki tujuh stasiun utama dalam produksi CPO dan
kernel yaitu: Stasiun Penerimaan buah (Fruit Reception Station), Stasiun
Rebusan (Sterilizer Station) Stasiun Penebah (Threshing Station), Stasiun
Pelumatan dan Pengepresan (Digester and Presser Station), Stasiun Pemurnian
(Clarification Station) dan Stasiun Pengolahan kernel (Nut and Kernel Plant
Station).
3. Analisa yang dilakukan di Laboratorium PKS PT Anugerah Energitama
meliputi: Mutu air, Mutu produksi, Kerugian (losses), Minyak komposisi dan
Mutu limbah cair

5.2

Saran

Setelah mengikuti dan mengamati jalannya proses pengolahan saran yang dapat
diberikan antara lain :
1. Keamanan atau safety dalam bekerja hendaknya perlu ditingkatkan seperti
pemakaian helm dan earplug
2. Hendaknya

dapat

melakukan

pengembangan

terhadap

pengolahan

limbah

produksi kususnya limbah cair. Sebagai contohnya pengolahan limbah cair untuk
dijadikan biogas yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan energi listrik.

45

DAFTAR PUSTAKA

1. Choo, Y. M., Yap, Ong, S.C.A., Ooi, C.K. and Gog, S. H.. 1989. Palm Oil
Carotenoid: Chemistry and Technology. Kuala Lumpur Proc. of Int. Palm Oli Conf.
PORIM.

2. Ketaren, S. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta : Universitas Indonesia

3. Lubis, AU. 1992. Kelapa Sawit (Elais Guenensis Jacq) di Indonesia. Sumatera
Utara : Pusat Penelitian Perean Marihat Pematang Siantar.

4. Muchtadi, T.R, dan Sugiono. 1992. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Tinggi Pusat Antar Universitas
Pangandan Gizi. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

5. Pasaribu, Nurhida. 2004. Minyak Buah Kelapa Sawit. Medan :Universitas Sumatera
Utara.

6. Pahan, Iyung. 2010. Paduan Lengkap Kelapa Sawit. Jakarta :Penebar Swadaya.

7. Somaatmadja, D. 1981. Minyak Sawit untuk Persediaan Minyak Makan di


Indonesia. Departemen Perindustrian, Balai Penelitian dan Pengembangan Industri.

8. Tim Penulis PS. 1997. Kelapa Sawit. Jakarta :Penebar Swadaya.

46