Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemenjaraan sebagai muara terakhir dari sistem peradilan pidana yang mulai dari
penyelidikan, penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di pengadilan dan akhirnya
pemidanaan yang dikenal dengan integrated criminal justice system merupakan
proses agar seseorang mendapatkan keadilan yang sesungguhnya, dan ini bisa
terwujud ketika peraturan yang ada benar-benar dilaksanakan dengan konsisten.
Dalam pentahapan sistem peradilan pidana inilah maka lembaga Kepolisian,
Kejaksaan, Pengadilan sampai Lembaga Pemasayarakatan merupakan empat pilar
yang memungkinkan penegakan hukum dan keadilan yang menghargai hak azasi
manusia bisa diwujudkan. Terkhusus lembaga pemasyarakatan dari realitas yang
ada, maka bisa dikatakan cita-cita ideal yang diharapkan masih sangatlah jauh,
terutama yang menyangkut pemenuhan hak dasar narapidana.
Terabaikannya pemenuhan hak-hak dasar warga binaan pemasyarakatan (WBP),
baik yang tercantum dalam UU No. 12 tahun 1995, yang didalamnya juga
mencamtumkan sepuluh prinsip pemasyarakatan, kemudian adanya beberapa
hukum internasional seperti Konvensi Hak-hak Sipil dan Politik, Konvensi
Menentang Penyiksaan dan Perlakuan Lain Yang Kejam, Tidak Manusiawi dan
Merendahkan Martabat Manusia, bahkan PBB pada tahun 1955 telah
mengeluarkan apa yang Standard Minimum Rules for Treatment of Prisoners atau
Peraturan-Peraturan Standar Minimum bagi Perlakuan terhadap Narapidana.
Tidak dipenuhinya secara ideal hak-hak napi ini sesungguhnya merupakan efek
kesekian dari begitu kompleksnya masalah yang ada dalam lembaga
pemasyarakatan.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalh yang dihadapi adalah:
1.Apa saja yang dihadapi oleh lembaga pemasyarakatan untuk menanggulangi
narapidana ?
2.Apa hak-hak bagi narapidana dalam lembaga pemasyarakatan ?
1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam makalah ini adalah lembaga pemasyarakatan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Beberapa Masalah Internal Lapas
Salah satu yang menjadi akar masalah adalah di kalangan internal Lapas
(birokrasi) sendiri yang menjadikan ketenangan, keamanan sebagai ukuran atau
parameter keberhasilan dan kinerja Lembaga pemasyarakatan, sehingga mau tidak
mau pendekatan yang dilakukan masih pendekatan yang diterapkan dalam sistem
kepenjaraan yaitu security approach semata yang berkarakter repressif dan punitif,
bukan lagi pendekatan pemasyarakatan yaitu pembinaan, pembimbingan dan
pengayoman dengan karakter korektif, edukatif dan rehabilitatif. Jenis pendekatan
inilah yang kemudian memberikan efek domino yaitu terjadinya secara terusmenerus pengingkaran hak-hak dasar warga binaan sebagimana tercantum dalam
pasal 14 UU No 12 1995, ini masalah yang pertama.
Masalah kedua adalah kelebihan penghuni (over capacity), Secara nasional data
dari DitJend Pemasyarakatan menunjukkan, prosentase peningkatan penghuni LP
lebih tinggi dibanding perkembangan bangunan LP. Pada tahun 2003 penghuni LP
(Tahanan dan Narapidana) 71.587 orang kapasitas 64.345 orang, tahun 2004
penghuni 86.450 orang kapasitas untuk 66.891 orang, tahun 2005 penghuni
97.671 orang kapasitas untuk 68.141 orang, tahun 2006 penghuni 118.453 orang
kapasitas 76.550 orang, dan tahun 2007 sekitar 116.000 penghuni Lapas dengan
kapasitas yang sama, Berarti terdapat kelebihan penghuni sekitar 54,73 persen
dari kapasitas yang semestinya, dari jumlah ini kasus yang menempati urutan

pertama adalah kasus narkoba sekitar 30 persen atau 32.000 , khusus untuk DKI
Jakarta jumlahnya lebih tinggi lagi menghampiri 60 persen atau 4.068 dari total
6.742 narapidana.
Persoalan over capacity ini sesungguhnya bukan masalah baru, melainkan
masalah klasik yang sudah sangat sering diberitakan di media massa, diangkat
menjadi tema-tema seminar, menjadi kajian penelitian, dan tentunya menjadi
keluhan sebahagian besar Lapas itu sendiri yang dituding sebagai biang kerok
penyebab kesemrawutan pengelolaan Lembaga pemasyarakatan. Jika ditelisik
secara sederhana lembaga kepolisian menjadi salah satu penyumbang terbesar
dalam memenuhi hunian Lapas karena memasukkan sebanyak mungkin orang ke
dalam Lapas adalah sebuah prestasi tersendiri, begitupun dengan para hakim
dituntut untuk lebih jeli dalam menangani kasus-kasus narkoba karena selama ini
sebahagian besar semua orang yang ditangkap pasti divonis hukuman penjara,
padahal hakim dapat menggunakan Pasal 47 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 22
Tahun 1997 tentang Narkotika di mana pasal ini menyebutkan bahwa hakim yang
memeriksa perkara pecandu narkotika dapat memutuskan untuk memerintahkan
yang bersangkutan menjalani pengobatan dan atau perawatan apabila terbukti
bersalah. Hal ini semakin diperparah dengan sistem kepidanaan kita yang belum
mengakomodir secara maksimal apa yang disebut restorative justice system di
mana pelaku sebuah tindak pidana kejahatan tidak serta merta harus dimasukkan
ke dalam penjara sebagai upaya penjeraan, namun ada alternatif-alternatif lain
seperti kerja-kerja sosial seperti di banyak negara lain yang sebenarnya bisa
diadopsi dalam sistem yang ada, tentunya setelah melakukan klasifikasi kejahatan
seperti apa yang bisa diterapkannya sistem restoratif ini.
Masalah ketiga adalah lemahnya pengawasan. Pengawasan yang ada selama ini
dalam organisasi Lapas minimal ada dua yaitu pengawasan melekat dan
pengawasan fungsional, pengawasan melekat yang dilakukan oleh pejabat internal
lapas belum bisa diharapkan mengingat tidak adanya mekanisme kontrol yang
jelas terutama dari masyarakat. Terlebih lagi pengawasan fungsional yang
diserahkan kepada inspektorat jenderal Depkumham, bagaimana mungkin
pengawasan yang dilakukan orang dalam bisa diharap transparan dan akuntabel.
Keberadaan Badan Pertimbangan Pemasyarakatan (BPP) yang mayoritas diisi

oleh masyarkat sipil dan akademisi diperhadapkan pada masalah yang serupa
mengingat badan ini hanya memberikan berbagai macam masukan dan
pertimbangan kepada menteri, dan sepertinya sampai sekarang masyarakat umum
tidak pernah mengetahui kinerja dan aktivitasnya. Sebenarnya jika badan ini
diperkuat dengan mereformasi tugas dan kewenangannya maka pengawasan yang
dilakukan bisa efektif dan memiliki taring.
Masalah keempat adalah kualitas dan kuantitas sumber daya. Kualitas yang
dimaksud di sini adalah tingkat pemahaman kalangan petugas pemasyarakatan
(gaspas) yang lemah dalam mengimplementasi dan mengakselerasi sepuluh
prinsip pemasyarakatan termasuk pemenuhan hak-hak napi. Untuk meningkatkan
kualitas para gaspas maka pendidikan dan pelatihan yang sesuai dan lebih spesifik
dengan kebutuhan lapas (pembinaan kemandirian dan kepribadian) harus lebih
intensif diberikan mengingat selama ini diklat yang ada masih berputar pada halhal yang bersifat umum dan peruntukannya pun hanya bagi para pejabat Lapas.
Kualitas dan kuntitas sarana dan fasilitas dalam rangka pembinaan kemandirian
berupa pelatihan-pelatihan masih sangat jauh dari harapan. Kuantitas dari segi
jumlah petugas jika dibandingkan dengan peta hunian lapas jelas lebih
memprihatinkan. Jika dirata-ratakan hampir di setiap lapas satu petugas keamanan
berbanding tujuh puluh napi bahkan di beberapa lapas tertentu perbandingannya
satu banding seratus.
Masalah kelima adalah anggaran. Minimnya anggaran adalah masalah klasik
lainnya sekaligus sebagai penyebab utama culnya berbagai macam persolan
krusial dalam pengelolaan Lapas. Dari sisi napi besarnya uang makan (Rp. 1000
per napi per hari, uang kesehatan (Rp. 750 per napi per hari) terasa begitu miris,
dari sisi petugas, uang tunjangan, uang kesejahteraan, dan gaji juga miris
dirasakan dan tidak sebanding dengan resiko yang mereka hadapi di dalam lapas
yang tidak jarang mempertaruhkan keselamatan mereka. Munculnya dugaan
pungli atau pungutan, kebiasaan memperlama napi dalam penjara dengan
menghambat proses pemberian pembebasan bersyarat, asimilasi, cuti menjelang
bebas, cuti mengunjungi keluarga dan hak napi lainya, adalah akibat dari sangat
minimnya tunjangan yang diberikan sehingga mereka secara kreatif mencari
pemasukan dari napi itu sendiri bahkan yang lebih ironis lagi tidak sedikit petugas

kemasyarakatan yang menjadi perantara supplay narkoba dari luar ke dalam Lapas
dengan bayaran sekitar Rp. 500.000 sekali transaksi.
Dari akumulasi lima persoalan di atas maka yang terjadi kemudian adalah
gelobang kematian warga binaan dan tahanan yang tidak bisa dikatakan sedikit di
sejumlah Lapas yang mengalami fluktuasi yang fantastis, Sebanyak 440 napi (312
napi dan 128 tahanan) meninggal sepanjang tahun 2007, tahun 2006 napi yang
meninggal sebanyak 813 orang (Kompas, 20 Oktober 2007), banyaknya korban
jiwa yang mati sia-sia dan luka-luka akibat tawuran yang melibatkan antar sesama
napi seperti yang terjadi di LP Cipinang (dua napi tewas, dua luka berat lima luka
ringan.) maupun di LP Kesambi (satu napi tewas dan tujuh lainnya luka-luka),
Cirebon, kasus kaburnya enam napi di LP Padang, termasuk yang kabur dari LP
Pasir Putih (satu orang) dan LP Permisan (dua orang) di pulau Nusakambangan
yang menerapkan Super maximum security, banyaknya petugas LP (empat kasus)
yang ditangkap karena kasus menyelundupkan narkoba ke dalam Lapas, dan
rentetan kasus lain yang tentunya bisa memberikan gambaran bagaimana kondisi
lembaga pemasyarkatan kita di Idonesia.
Last but not least, pertanyaannya kemudian adalah adakah good and political will
dari para pengambil kebijakan di lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif di
negara ini untuk secara serius dan segera melakukan perubahan dan terobosonterobosan cerdas dan signifikan terhadap persoalan yang melanda lembaga
pemasyarakatan kita yang begitu kompleks, kalau tidak maka kita masih tetaplah
menganut sistim kepenjaraan dan lembaga pemasyarakatan yang semestinya ideal
tetap berada di lubang hitam yang menganga.