P. 1
KRISTUS YANG TIADA TARA - John Stott

KRISTUS YANG TIADA TARA - John Stott

5.0

|Views: 3,105|Likes:
Dipublikasikan oleh alanlejac
Setiap orang memiliki pendapat masing-2 tentang Yesus. Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini kita menemukan berbagai pandangan, sebagian meresahkan iman, sebagian terasa tidak masuk akal. John Stott, salah seorang tokoh injili terkemuka selama setengah abad ini, dalam buku ini memberikan pandangan yang begitu kaya secara alkitabiah dan historis tentang Yesus Kristus
Setiap orang memiliki pendapat masing-2 tentang Yesus. Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini kita menemukan berbagai pandangan, sebagian meresahkan iman, sebagian terasa tidak masuk akal. John Stott, salah seorang tokoh injili terkemuka selama setengah abad ini, dalam buku ini memberikan pandangan yang begitu kaya secara alkitabiah dan historis tentang Yesus Kristus

More info:

Published by: alanlejac on Mar 18, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/24/2015

pdf

text

original

111(1 orang rnemiliki pendapar masing-masing tentang

"u. Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini kita me" IIIUknll berbagai pandangan, sebagian meresahkan 111111, sebegian terasa tidak masuk akal. John Stott, utili c rang tokoh Injill terkemuka selama setengah

ltili\ 1 inr, dalam Kristus yang Tiada Tara memberikan 1 I1ll.dn kita pandangan yang begitu kaya secara Iklll1biah dan historis tenrang Yes-us Kristus.

H ,IJlnl buku ini, Stort menguodang kita unruk meUI-1IJl(l ng Yesus dari empat aspek:

)~.\IIS yallg Seben(mJya

Hilg,uimnna PerjanJian Baru bersaksi tentang Yes-us ,Ii dalam Kitab-kitab Injil, Kisah Para Rasul, dan

IH< 1- urat,

" l".n/.\· menurut Gereja

Hugairnana gereja telah mermnjnkkan Yews seeaIi.! historis, mulai dan Justinus Martir. Beuediktus drm Anselmns sampai kepada Thomas a Kempis, Marlin Luther. dan Thomas Jefferson, sampai keparill Gustavo Gutierrez. N T. Wright dan konfesiknnfesi misionaris di Edinburgh dan Lausanne di n had kedua puluh,

k II. yang Berpengaruh

Ungaimana tokob-rokoh dunia, mulai dari FransiskU6 sampai Tolstoy, dan Gandhi sampal Roland \lIcn. dan Pastor Damien sampai William Wllberlon' '. telah tennsphasi oleh-Nya,

• k\;u.~ )lllffg Kek{ll

ltngairnana ki~ terus-menerns ditantang oleh-Nya piHla saat ini melalui sepuluh penglihatan yang

I «ubil di dalam Kitab Wahyu. -

111.11111 Y<. 'us Kristus yang tiada laranya-layak ldta nb II! irnani, dan taati seiring 'kita menapak kc rnasa lit( akan datang bersama-Nya,

,1(llm Stott adalah seorang pengkhorbab, penginjil, , rn P!!1l1l I';m Alkitab yang telah terkenal til seluruh hHlla Buku-hukunya-cantera lain Basic Christiamtj '" I dllllilitem do" Karva Kristus-« \'KBK'OMF dan nil (,m's oj Chris: telah (erJual jutaan jilid dan direrjL'lIIf 11k. n k dnlam berbugar bahasa,

KRISTUS Y AN G TIADA TARA

JOHN STOTT

PENERBIT MOMENTUM 2007

Kristus yang Tiada Tara Oleh: John Stott

Penerjemah: Ina Elia Editor: Irwan Tjulianto

Pengoreksi: Jessy Siswanto dan Irenaeus Herwindo Tata Letak: Djeffry

Desain Sampul: Ricky Setiawan Editor Umum: Solomon Yo

DAFTAR lSI

Originally published in English under the title, The Incomparable Christ

Copyright © 2001 by John R. W. Stott

All rights reserved. This translation of The Incomparable Christ

first published in 2001 is published by arrangement with Inter-Varsity Press, Leicester, United Kingdom.

Hak cipta terbitan bahasa Indonesia © 2005 pada Penerbit Momentum (Momentum Christian Literature)

Andhika Plaza C/5-7, JI. Simpang Dukuh 38-40, Surabaya 60275, Indonesia. Telp.: +62-31-5472422; Faks.: +62-31-5459275

e-mail: momentum-cl@indo.net.id

Prakata oleh George Carey, Uskup Agung Canterbury xi

Sambutan Ketua Xlll

Ucapan Terima Kasih xv

Pendahuluan

1. Sentralitas Yesus

2. Sejarah dan Theologi 4

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT)

Bagian I: Yesus yang Sebenarnya

(atau Bagaimana Perjanjian Baru Bersaksi mengenai Dia)

Stott, John R. W.,

Kristus yang tiada tara / John Stott, terj. Ina Elia - cet. 1 - Surabaya:

Momentum, 2007.

xvi + 262 him.; 15,5 cm. ISBN 979-3292-41-5

KEEMPAT KITAB INJIL 9

1. Injil Matius: Kristus Penggenapan Kitab Suci 9

2007

232-dc21

2. Injil Markus: Kristus Hamba yang Menderita

3. Injil Lukas dan Kisah Para Rasul: Kristus luruselamat Dunia

4. Injil dan Surat Yohanes: Kristus Firman yang Menjadi Manusia

5. Injil Empat Berganda

6. Yesus dan Paulus

13 18 24 29 31

1. Yesus Kristus - Sejarah Doktrin

Cetakan pertama: April 2007

Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang. Dilarang mengutip, menerbitkan kembali, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun dan dengan cara apa pun untuk tujuan komersial tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali kutipan untuk keperluan akademis, resensi, publikasi. at au kebutuhon nonkomersial dengan jumlah tidak sampai satu bab.

KETIGA BELAS SURAT PAULUS

7. Surat Polemik (Surat Galatia): Kristus Sang Pembebas

8. Surat-surat Awal (1-2 Tesalonika):

Kristus Sang Hakim yang Akan Datang

35 36

38

vi

>I< J..:HISTtiS Y,\N(, 11.\1),\ 1\11 \

9. Surat-surat Utama (Roma, 1-2 Korintus):

Kristus Sang Juruselamat

10. Surat-surat Penjara (Kolose, Filemon,

Efesus dan Filipi): Kristus Tuhan Tertinggi

11. Surat-surat Pastoral (1 Timotius, Titus, dan 2 Timotius):

Kristus Sang Kepala Gereja

SURAT-SURAT UNTUK ORANG-ORANG YAHUDI

12. Surat Yakobus: Kristus Sang Guru Moral

13. Surat Ibrani: Kristus Imam Besar Agung Kita

14. Surat-surat Petrus: Kristus Sang Penderita Teladan

Kesimpulan: Keberbedaan dalam Kesatuan

Bagian II: Yesus menurut Gereja (atau Bagaimana Gereja Memaparkan Dia)

"YESUS YANG LAIN"

1. Kristus Penggenapan yang Lengkap: Justinus Martir Para nabi dan para filsuf

2. Kristus Allah-Manusia yang Unik: Konsili-konsili Awal Pentingnya Kristologi

3, Kristus Biarawan yang Sempurna: Benediktus Dua pe~tanyaan ten tang monastisisme

4, Kristus dan Pengutang Feodal: Anselmus Theologi penebusan Abad Pertengahan

5. Kristus Sang Mempelai Laki-laki Sorgawi: Bernard dari Clairvaux Mistisisme Kristen

6. Kristus Sang Teladan Etika: Thomas it Kempis

Suatu peneladanan yang asketis terhadap Kristus

7. Kristus Sang Juruselamat yang Penuh Kemurahan: Martin Luther Pembenaran hanya oleh iman

8. Kristus Sang Guru Manusia: Ernst Renan dan Thomas Jefferson Skeptisisme Pencerahan

,II

I) K IINIlI', Snllp, Kurhun yallp, THI~',IS: John Mackay .11/1/11// :lg"">: /1//1/'1/ /'II,I/,1I1t

I () "II~IIIS Sallg I'l'lIlhehas Sosial: Gustavo Gutierrez ":1//1,,,, hlill. /lllgl kaum papa

II ""sIIiS Sang Mesias Kaurn Yahudi: N. T. Wright /'l'lIthllllllgall dan eksodus

I}, Krixtus Tuhan alas Dunia: Misi pada Abad Kedua Puluh l tari /~'dillh"rgh (IV/O) sampai Lausanne (1974)

55

61 61 64 67

Kcsimpulun: Autcntisitas Versus Akomodasi

Bagian III: Yesus yang Berpengaruh (atau Bagaimana Dia Telah Mengilhami Manusia)

70

KISAH TENTANG YESUS

75

I. Kandang Binatang Betlehem: Fransiskus dari Asisi Kelahiran sang raja miskin

2. Bangku Panjang Si Tukang Kayu: George Lansbury Keagungan pekerja kasar

3. Pelayanan Penuh Kemurahan: Pastor Damien dan Wellesley Bailey Menyentuh yang tak tersentuh

4. Khotbah di Bukit:

Leo Tolstoy, Mahatma Gandhi, dan Martin Luther King Jr. Tantangan dari sikap tidak melawan

5. Kasih untuk Anak-anak: Thomas Barnardo

"Sebuah pintu yang selalu terbuka "

6. Peristiwa Pembasuhan Kaki: Samuel Logan Brengle Sebuah pelajaran penting dalam kerendahan hati 7. Salib: Toyohiko Kagawa

Penyataan kasih Allah

8. Kebangkitan: Joni Eareckson Tada

"Aku akan menari dengan kakiku sendiri" 9. Pemuliaan: Henry Martyn

Semangat untuk kehormatan nama Kristus

77

79

82

86

89

92

96

98

vII

101

106

111

115

119

125

126

129

134

138

142

146

150

153

156

viii

{. KRISTliS Y;\N<; 11;\11,\1/\1(/\

Ix

10. Pengaruniaan Roh: Roland Allen Roh Kudus adalah Roh Misi

11. Kedatangan Kedua: Anthony Ashley Cooper (Lord Shaftesbury) Sebuah program reformasi sosial

12. Penghakiman Terakhir: William Wilberforce Penghapusan perbudakan dan perdagangan budak

1 o Kusrus 1 )alallg sl'ilagai Mcmpclai l.uki-laki

1I11111k Mcndapatkan Mcmpclai Perernpuan-Nya (Wahyu 21-22) A /11111 .\'('111('.\'1(/. kola, dan taman baru

233

161

I':pilog (Wahyu 22:6-21)

240

164

Kcsimpulan: Satu Buku dalam Empat Bagian

247

Kesimpulan: Natur Radikal dari Pengaruh Kristus

167

( 'atatan

251

Bagian IV: Yesus yang Kekal

(atau Bagaimana Dia Menantang Kita Hari Ini)

"W AHYU YESUS KRISTUS"

173

1. Kristus Mengklaim sebagai Yang Pertama dan Yang Terakhir dan Yang Hidup (Wahyu 1)

Penglihatan ten tang Kristus yang bangkit dan kekal 178

2. Kristus Menilik lemaat-jemaat-Nya di Bumi (Wahyu 2-3)

Tujuh tanda dari jemaat yang ideal 182

3. Kristus Berbagi Takhta Allah di Sorga (Wahyu 4-5)

Takhta, gulungan Kitab, dan Anak Domba 188

4. Kristus Mengendalikan Jalannya Sejarah (Wahyu 6-7)

Ketujuh meterai dan dua kumpulan orang 193

5. Kristus Memanggil Dunia menuju Pertobatan (Wahyu 8-11)

Ketujuh terompet, gulungan kitab kecil, dan kedua saksi 197

6. Kristus Mengalahkan Iblis dan Para Pengikutnya (Wahyu 12-13)

Perempuan, naga, anak laki-laki, dan kedua binatang 206

7. Kristus Berdiri di atas Bukit Zion dengan Umat Tebusan-Nya

(Wahyu 14:1-15:4)

Pilihan yang radikal: keselamatan dan penghakiman 213

8. Kristus Datang Bagaikan Pencuri di Waktu Malam (Wahyu 15:5-19:10)

Panggilan agar bersiap 217

9. Kristus Menunggang Kuda Putih dalam Kemenangan

(Wahyu 19:11-20:15)

Hukuman bagi binatang buas dan Iblis 227

PRAKATA

Sebagai Uskup Agung Canterbury, saya berkeyakinan bahwa tugas terbesar dan terpenting kita sebagai umat Kristen mas a kini, apa pun denominasi kita, adalah menyebut Nama itu, dan melakukannya bukan hanya dengan penghormatan tertinggi terhadap keyakinan orang lain melainkan juga dengan suatu keyakinan bahwa pribadi Kristus tetap terus memenuhi kerinduan dan pengharapan setiap hati manusia.

Dr. John Stott telah menjadikan topik tentang Yesus Kristus sebagai pusat karya dan studi hidupnya. Melalui penanya mengalirlah karyakarya yang tajam yang menggabungkan kecendekiawanan dengan komitmen yang kuat selama bertahun-tahun kepada tugas penggembalaan dan penginjilan gereja. Dari mulutnya mengalirlah pemaparan yang penuh kuasa dan meyakinkan tentang relevansi Kristus untuk masa kini.

Namun sekalipun John merupakan seorang cendekiawan yang brilian dan memiliki pengetahuan luas, dia tidak pernah menjadi seorang theolog menara gading. Dalam tradisi Anglikan klasik, dia termasuk "pendeta yang mengajar." Ruang kelasnya yang pertama adalah ruang paroki, baru kemudian dunia. Dia tidak mencari posisi akademis atau kenaikan jenjang di gereja. Dan sekalipun demikian, menu rut pengamatan tokoh berotoritas seperti David Edwards, "dengan perkecualian William Temple, John Stott adalah seorang gerejawan yang paling berpengaruh di Church of England pada abad kedua puluh."

John, yang adalah seorang hamba Allah yang rendah hati, pasti merasa tidak nyaman dengan kata-kata ini. Tetapi saya pun ingin menyampaikan rasa hormat atas pelayanan luar biasa yang telah ia berikan kepada gereja pada saat ini.

xii

of KRISTUS YANG TIADA TARA

Keempat tujuan utama dari London Lectures adalah "menjelaskan dengan terperinci sejumlah aspek dari Kekristenan alkitabiah yang historis; menghubungkannya dengan persoalan kontemporer di dalam gereja atau dunia; terpelajar dalam isinya, namun tetap cukup populer dalam daya tarik dan gayanya untuk menarik kaum terdidik; dan memaparkan setiap topiknya sedemikian sehingga menarik minat kaum sekuler sekaligus masyarakat Kristen."

Keempat sasaran ini, menurut pendapat saya, adalah suatu garis besar yang sesungguhnya dari pelayanan John sendiri, sejak mula ketika beliau menjadi asisten pendeta di gereja All Souls, Langham Place, sampai peranannya sebagai duta intemasional Yesus Kristus. Penulis biografinya, Uskup Timothy Dudley-Smith, merangkum pelayanannya dengan kata-kata ini: "Tak seorang pun bisa membaca tulisan-tulisan John Stott tanpa menyadari bahwa perhatiannya yang terutama adalah mengajar dan menjelaskan dengan terperinci suatu iman yang dinyatakan, dan menafsirkan Kitab Suci yang berotoritas dan tak terbatas oleh waktu ini kepada dunia kontemporer." John, sebagai pendeta, pengkhotbah, cendekiawan, penulis, apologet, penginjil, dan saudara dalam Kristus, kami bersyukur kepada Allah atas diri Anda, dan pelayanan Anda yang lama dan penuh kasih karunia.

London Lectures in Contemporary Christianity, yang John sendiri dirikan pada tahun 1974, jelas tak pemah menjadikan pendirinya sebagai penceramah sampai kini. Karena itu, beliaulah yang paling tepat untuk menyampaikan ceramah tersebut pada tahun milenium ini. Temanya juga merupakan tema yang paling tepat, yang selama ini telah menjadi pusat pelayanan John: Kristus yang tiada tara.

SAMBUTAN KETUA

George Carey, Uskup Agung Canterbury

Tampaknya tepat bagi London Lectures Management Committee bahwa pada tahun milenium ini kita seharusnya memusatkan perhatian kita pada Yesus, dan terutama sangat tepat bahwa John Stott, yang visi dan energinya tercurah penuh pada seri-seri ceramah tersebut, yang seharusnya diundang untuk menyampaikan ceramah.

Pengharapan kami tidak salah. Sekelompok orang yang bersemangat menghadiri ceramah-ceramah tersebut, dan All Souls Church di London hampir penuh pada setiap hari Kamis keempatnya. Ceramah terakhimya disampaikan di hadapan Yang Mulia Putri Alexandra dan diperkenalkan oleh Uskup Agung Canterbury. Pembahasan-pembahasan yang disampaikan sangat menstimulasi pikiran dan menghangatkan hati. Kecendekiawanan dan semangat pribadi dari sang penceramah begitu jelas, sebab heliau mengambil materi dari hasil karya dan studi yang begitu luas dan dalam yang telah dilakukannya seumur hidup, yang selama ini selalu berIokus dan berpusat pada Kristus.

Saya, mewakili London Lectures Committee, dengan senang hati, mcrckomendasikan studi tentang Yesus yang membangkitkan dan mengi1hami pikiran ini.

John (Trays/on. Ketua, London Lectures Committee

U CAP AN TERIMA KASIH

Saya sangat berterima kasih kepada London Lectures Committee atas undangan kepada saya untuk menyampaikan ceramah-ceramah tahun 2000 dan atas pernyataan bahwa satu-satunya topik yang sesuai hanyalah Yesus sendiri, yang hari ulang tahun milenial-Nya seharusnya kita rayakan. Sesudah membuat kedua keputusan tadi, Komite tersebut memberikan kebebasan kepada saya untuk mengembangkan tema yang telah dipilih tersebut menurut kebijaksanaan saya. Tetapi mereka tidak hentihentinya memberi semangat kepada saya, dengan menyediakan John Grayston, seorang ketua yang hebat, dan Betty Baker, seorang sekretaris yang teliti dan efisien.

Saya juga merasa bersyukur atas sejumlah ternan yang meminjamkan buku-buku kepada saya, memberi saran kepada saya, dan membantu saya menyusun sebuah bibliografi. Saya teringat terutama pada Richard Bewes, Dick France, Timothy Dudley-Smith, Paul Barnett, Paul Blackham, John W. Yates III, Rene Padilla, dan Eunice Burton.

Selanjutnya, saya berterima kasih kepada penerbit saya, kepada penyunting buku saya, Stephanie Heald, dan kepada Steve Motyer dan David Wright. Mereka ditunjuk sebagai pembaca naskah resmi dan memberikan sejumlah komentar yang menggugah.

Namun terutama saya ingin berterima kasih kepada Corey Widmer, asisten studi saya saat ini, yang cakrawalanya terikat pada ceramah-ceramah ini selama kira-kira delapan belas bulan. Dengan cara yang sangat pribadi dia telah menyimpan ceramah-ceramah ini dalam hatinya. Dia telah menunjukkan keteguhannya yang luar biasa dalam menjelajahi Internet, dalam menelusuri referensi-referensi yang tidak dapat saya temukan, dalam mencari buku-buku yang saya butuhkan untuk konsultasi dan

xvi

'I' KRISTlJS YAN(; TIAII,\ TAIII\

baca, dan dalam memanfaatkan sepenuhnya fasilitas-fasilitas pcrpustak aan British Library yang baru dibuka. Sedangkan untuk teks ccrarnahceramah ini, dia pasti sudah membacanya setidaknya sepuluh kali pada tahap-tahap yang berbeda. Saran-sarannya senantiasa positif dan bermanfaat, dan dia juga menulis panduan-panduan belajar yang menyertai rangkaian empat rekaman video dari ceramah-ceramah tersebut. Untuk semuanya ini saya sungguh sangat berterima kasih kepadanya.

Kemudian kami berdua sangat mengandalkan Frances Whitehead: kegigihannya yang unik sebagai sekretaris pribadi saya selama empat puluh lima tahun, kemahirannya dalam komputer dan kerelaannya untuk meneliti naskah selama ketiga jenjang utamanya - edisi aslinya, ringkasannya untuk ceramah-ceramah lisan, dan konversinya ke dalam buku ini. Ketika pada tahun 2001 diumumkan dalam sebuah pertemuan publik bahwa Uskup Agung Canterbury telah memutuskan untuk menganugerahkan kepadanya gelar Lambeth MA., hadirin dengan seketika dan spontan memberikan penghormatan kepadanya dengan berdiri.

Maka saya meluncurkan buku ini, dengan harapan dan doa kiranya banyak pembaca akan mengakui Yesus Kristus sebagai objek yang tepat dari ibadah, kesaksian, dan pengharapan kita, dan sebagai sosok yang layak mendapatkan sebutan sebagai yang tiada tara. Sebab Dia tidak pernah memiliki lawan maupun kawan yang setara dengan-Nya.zs

PENDAHULUAN

1. Sentralitas Yesus

"Tidak peduli apa pun yang mungkin dipikirkan atau diyakini setiap orang secara pribadi tentang Dia, Yesus dari Nazaret selama ini adalah sosok yang do min an dalam sejarah budaya Barat selama hampir dua puluh abad." Begitulah yang ditulis oleh Jaroslav Pelikan pada awal bukunya yang bercakupan luas yang berjudul Jesus Through the Centuries. I

Karena itu, tampaknya tepat bahwa London Lectures in Contemporary Christianity pada tahun milenium ini seharusnya berkaitan dengan Yesus Kristus, karen a inilah perayaan ulang tahun-Nya (berapa pun tanggal tepatnya). Perhatikanlah pengaruh-Nya dalam tiga bidang.

Pertama, Yesus adalah pusat dari sejarah. Sedikitnya satu porsi besar umat manusia terus membagi sejarah menjadi Sebelum Masehi dan Sesudah Masehi dengan merujuk kepada kelahiran-Nya. Pada tahun 2000, populasi dunia mencapai 6.000 juta jiwa, sedangkan jumlah orang Kristen diperkirakan sebesar 1.700 juta jiwa, atau .sekitar 28 persen,' Maka hampir sepertiga umat manusia mengaku mengikut Dia.

Kedua, Yesus adalah fokus dari Kitab Suci. Alkitab bukanlah kumpulan acak dari dokumen-dokumen agama. Seperti yang Yesus sendiri katakan, "Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku" (Yoh. 5:39). Dan para cendekiawan Kristen selalu mengakuinya. Misalnya, Jerome, bapa gereja yang besar dari abad keempat dan kelima, menulis bahwa "tidak men genal Kitab Suci sarna dengan tidak mengenal Kristus. ,,3

Pada abad keenam belas, patut dicatat bahwa baik Erasmus dari Renaisans maupun Luther dari Reformasi sarna-sarna menekankan sentrali-

"

,I

tas Kristus. Alkitab "ukan mcrnbcrikun Kristus kcpada Andu" lulls lrnx mus, "dalarn suatu keakraban yang begitu crat schingga Dia hahkan ukan kurang terlihat oleh Anda jika Dia berdiri di depan mata Anda."·' Dcrnikian pula halnya dengan Luther, dalam Lectures on Romans, mcnjcluskan bahwa Kristus merupakan kunci ke Kitab Suci. Dalam komentarnya tentang Roma 1:5 dia menulis: "Di sini pintunya didorong agar terbuka Icbar bagi pemahaman terhadap Kitab Suci, yakni, bahwa segala sesuatu harus dipahami berkaitan dengan Kristus." Dan kemudian dia menulis "bahwa keseluruhan Kitab Suci berkenaan hanya dengan Kristus di semua ba-

. ,,5

giannya.

Ketiga, Yesus adalah inti dari misi. Mengapa ada sebagian orang Kristen menyeberangi daratan dan lautan, benua dan budaya, sebagai misionaris? Apakah yang sesungguhnya mendorong mereka? Tujuan mereka bukanlah untuk mengabarkan ten tang suatu peradaban, atau lembaga, atau suatu ideologi, melainkan tentang satu pribadi, Yesus Kristus, yang mereka yakini sebagai pribadi yang unik. Ini tampak sangat jelas dalam misi Kristen kepada dunia Islam. "Tujuan kami," tulis misionaris dan cendekiawan Uskup Stephen Neill, "adalah terus menyampaikan kepada kaum Muslim dengan kesabaran yang tanpa batas, 'Pak, pikirkanlah tentang Yesus.' Kami tidak punya pesan lain.... Masalahnya bukanlah bahwa kaum Muslim pemah melihat Yesus dari Nazaret dan menolak Dia; melainkan bahwa mereka tidak pemah melihat-Nya.:"

Tetapi mereka yang benar-benar melihat Yesus dan takluk kepadaNya mengakui Dia sebagai pusat dari pengalaman pertobatan mereka. Sebut saja misalnya Sadhu Sundar Singh. Lahir pada tahun 1889 dalam sebuah keluarga Sikh yang berpengaruh di India, dia tumbuh besar dengan kebencian kepada Kekristenan sebagai (menurut pandangannya) sebuah agama asing. Bahkan dia mengungkapkan permusuhannya saat berusia lima belas tahun dengan membakar sebuah kitab Injil di muka umum. Namun tiga hari sesudah itu, dia bertobat melalui sebuah penglihatan tentang Kristus, dan sekalipun masih remaja, dia memutuskan untuk menjadi seorang sadhu, seorang manusia suci dan pengkhotbah yang mengembara.'

Pada suatu kesempatan Sundar Singh mengunjungi sebuah kolese Hindu dan ditegur dengan agak sengit oleh seorang dosen yang bertanya kepada dia apa yang telah ditcmukannya dalam Kekristenan yang tidak dimilikinya dalam agamanya yang terdahulu.

"Saya memiliki Kristus," jawabnya.

"YII. ~IIYII tuhu." Iilllpil dOSl'1I itu dcngan lak sabar, "tctapi prinsip ntnu doktriu kllll~lI~ "1'" yallg tclah Anda temukan yang tidak Anda miliki schc III 11111 ya 'l"

"Hal khusus yang sudah saya temukan," jawab Sundar Singh, "ada-

lah Kristus.:"

Tetapi Yesus yang mana yang sedang kita bahas? Karena kenyataannya, ada banyak Yesus di tengah keramaian pasar agama. Pada akhir abad pcrtama Kristen, telah ada kecenderungan dari para guru untuk menciptakan suatu gambaran tentang Yesus menurut pendapat dan khayalan mereka. Maka Paulus harus memperingatkan umat Kristen di Korintus bahwa dia telah mempertunangkan mereka "kepada satu laki-laki, kepada Kristus," dengan maksud supaya akhimya dia boleh mempersembahkan mereka "sebagai perawan suci kepada Kristus." Tetapi dia takut, begitu lanjutnya, membiarkan pikiran mereka disesatkan dari "kesetiaan sejati kepada Kristus" (2Kor. 11 :2-3).

Karena itu, rencana saya adalah menyelidiki (dalam bagian pertama dan keempat dari buku ini) tentang Kristus dari kesaksian Perjanjian Baru dan untuk memperhatikan dalam sejarah gereja, bagaimana sejumlah orang memaparkan tentang Dia (bagian kedua) dan bagaimana orang lain telah dipengaruhi oleh-Nya (bagian ketiga).

Dalam mengembangkannya, perhatian saya adalah mengajukan dan menjawab empat pertanyaan hakiki tentang Kristus.

Pertama, bagaimana Perjanjian Baru bersaksi ten tang Dia? Saya harap bisa menunjukkan bahwa meskipun kesaksian Perjanjian Baru tentang Yesus, sekalipun patut diakui begitu kaya dalam ragamnya, pada saat yang sarna harus diakui sebagai satu kesaksian yang menyatu. Saya menamai bagian pertama sebagai "Yesus yang Sebenamya."

Kedua, bagaimana gereja telah menggambarkan Yesus Kristus sepanjang abad-abad ini'l Saya menamai bagian kedua "Yesus menurut Gereja" karena saya ingin menyelidiki bagaimana gereja pada masa-rnasa yang berbeda, yang adakalanya setia, dan adakalanya tidak setia, memaparkan Kristus kepada dunia.

Ketiga, pengaruh apa yang Kristus miliki dalam sejarah? Bagian ketiga ini merupakan pelengkap bagi bagian kedua, ketika kita berpindah dari presentasi gereja tentang Kristus menuju tantangan Kristus kepada gereja. Akan tetapi, perspektif kita pada bagian ini bukanlah tahap-tahap berurutan dari sejarah gereja, melainkan tahap-tahap berurutan dari karier Kristus dan bagaimana setiap tahap tersebut (berikut penekanannya yang

4

of KRISTUS YANG TIADA TARA

'" l't'llIlahuluilll

.,

berbeda) telah mengilhami berbagai manusia. Saya menyebut bagian ini "Yesus yang Berpengaruh."

Keempat, apa sesungguhnya arti Yesus Kristus bagi kita hari ini?

Dalam bagian keempat kita akan mengingatkan kepada diri kita sendiri bahwa Yesus Kristus bukan hanya sosok yang historis (memang Dia adalah sosok yang ada dalam sejarah) melainkan juga kekal (bahkan "sarna kemarin, hari ini dan selamanya") dan karena itu, juga merupakan sosok dari zaman kita. Dia mengonfrontasi setiap generasi, abad, dan milenium baru dalam peran-Nya sebagai Juruselamat, Tuhan, dan Hakim. Konteks untuk pelajaran keempat dan terakhir ini adalah kitab terakhir dari Perjanjian Baru, yakni Kitab Wahyu, yang merupakan kitab apokaliptis Kristen. Karena, pada ayatnya yang paling awal, kitab ini bukan mengklaim sebagai nubuat, melainkan "wahyu Yesus Kristus." Kita akan memusatkan perhatian pada kesepuluh visi utama Kristus dalam Kitab Wahyu.

Karena itu, buku ini akan menjadi perpaduan antara Kitab Suci dan sejarah. Kita akan memperhatikan pemaparan gereja tentang Kristus dan pengaruh Kristus pada gereja, dengan latar belakang Perjanjian Baru secara umum dan Kitab Wahyu secara khusus. Dengan demikian gambaran Alkitab tentang Kristus dianggap normatif. Dialah Yesus yang sebenarnya, yang oleh-Nya segala gambaran yang bisa meleset yang dibuat manusia tentang diri-Nya harus dihakimi. Harapan saya adalah agar studistudi dalam Alkitab dan sejarah gereja ini akan dipandang sebagai penjustifikasian bagi judul yang saya berikan, Kristus yang Tiada Tara. Tidak ada seorang pun yang seperti Dia; tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada.

1I11'II)l1l1l hnnyn lI'III11111J. Y ('~IIS dari kitab-kitab Injil; surat-surat dan jemaat iuulu-mulu plldn 1I1111111111yn tclah diabaikan.?"

Akan tctupi, dalum hikmatnya, jemaat mula-mula meletakkan kecmpat Injil puda hagiun awal karena, sekalipun diterbitkan lebih belakungan, peristiwu-pcristiwa yang tercatat dalam kitab-kitab Injil tersebut ILTI'Idi terlcbih dahulu. Lagi pula, jika kita tcrlebih dahulu membaca kitah-kitab Injil, kita langsung diperhadapkan dengan sosok Yesus yang historis. Namun apakah gambaran-Nya dalam kitab-kitab Injil benarhcnar merupakan sejarah yang autentik?

Pcnekanan abad kedua puluh di kalangan para sarjana theologis adalah pada pencarian akan Yesus yang historis. Yang disebut-sebut sebagai pcnyclidikan pertama atau orisinal dikaitkan dengan Albert Schweitzer, yang bukunya dengan judul ini diterbitkan pada tahun 1906.10 Buku ini mcrupakan survei yang monumental atas seluruh karya abad kesembilan hclas yang romantik tentang "kehidupan Yesus." Schweitzer sendiri rncnggambarkan Yesus sebagai seorang nabi eskatologis yang pengharapannya akan kiamat yang segera terjadi tak pemah terwujud. Pencarian ini, yang dilontarkan mula-mula oleh Schweitzer, diakhiri oleh Rudolf Bultmann, yang merupakan theolog abad kedua puluh dan yang mcngakui bahwa membuktikan historisitas Yesus bukan hanya mustahil tctapi juga (jika memang bisa) tidak bersifat niscaya (keharusan) bagi rrnan.

Maka sesudah Perang Dunia II, pencarian baru tentang Yesus yang historis dimulai. Pencarian kedua ini ditandai oleh satu ceramah yang diberikan pada tahun 1953 oleh Ernst Kasernann, seorang mantan murid Bultmann, yang berjudul "The Problem of the Historical Jesus." Dia mcnyatakan diri tidak puas dengan skeptisisme Bultmann yang sangat bcsar. Dia dan kaum "post-Bultmannian" mendesakkan suatu pandangan yang lebih positif atas sejarah dan cenderung menganggap Yesus sebagai scorang guru yang bijak, seorang genius dalam hal agama, atau seorang rcvolusioner dalam bidang sosial - konstruksi-konstruksi yang memaparkan Yesus sebagai sosok yang terlalu lemah untuk memprovokasi penyalihan-Nya maupun untuk meluncurkan gerakan Kristen ke seluruh dunia.

Dan kini, sejak tahun 1980-an, sejumlah sarjana terus mengumumkan lahirnya pcncarian ketiga akan Yesus yang historis. II Salah satu ciri yang paling penting dalam pcncarian ketiga ini adalah bahwa baik para surjana Kristen maupun Yahudi yang terlihat di dalamnya menekankan kcyahudiun Ycsus maupun misi-Nya untuk rncrnbchaskan dan mcrnulih-

2. Sejarah dan Theologi

Ba~ya~ orang menasihati kita untuk memulai penelitian apa pun tentang Perjanjian Baru dengan surat-surat, bukan kitab-kitab Injil, sebab suratsurat ada lebih dulu. Surat pertama Paulus kepada jemaat di Tesalonika ditulis dari Korintus pada atau segera sesudah tahun 50 M, hanya dua puluh tahun sesudah kematian dan kebangkitan Yesus, sedangkan kitabkitab Injil diterbitkan setidaknya satu atau dua dekade berikutnya. Uskup Paul .Barnett menuai kritik berkepanjangan atas kecenderungannya memul~1 dengan kitab-kitab Injil. "Banyaknya literatur yang berupaya memulihkan Yesus 'yang historis' telah membatasi bidang penyelidikan

6

>} KRISTUS YANG TIADATARA

kan Israel. Pencarian ketiga ini mengungkapkan suatu keyakinan yang lebih besar atas reliabilitas (keterandalan) gambaran dari kitab-kitab Injil ten tang Yesus.

Akan tetapi, keyakinan ini tidak bersifat universal, sebagaimana yang terbukti dari "Jesus Seminar" di Amerika Serikat. Didirikan pada tahun 1985 oleh Robert W. Funk dan John Dominic Crossan, kurang lebih ketujuh puluh lima "rekan" dalam seminar tersebut mengadakan dua kali pertemuan setiap tahun dengan maksud menilai autentisitas semua perkataan yang dianggap diucapkan oleh Yesus. Mereka menggunakan kode wama: merah untuk perkataan yang autentisitasnya tidak diragukan lagi, merah muda untuk perkataan yang mungkin autentik, abu-abu untuk perkataan yang tidak autentik namun mendekati, dan hitam untuk yang sarna sekali tidak autentik namun merupakan tradisi yang muncul kemudian. Buku mereka The Five Gospels: What Did Jesus Really Say? (yang kelima adalah Injil Thomas yang merupakan kitab apokrifa) menyimpulkan bahwa menurut pandangan mereka, "82 persen dari perkataan yang dianggap diucapkan Yesus dalam kitab-kitab Injil sebenamya tidak diucapkan oleh-Nya." Kini mereka telah beralih dari penelitian terhadap perkataan Yesus kepada penelitian terhadap karya-karya-Nya. Sekalipun begitu, penelitian mereka sarna sekali tidak bermanfaat, sebab kriteria mereka sangat subjektif. 12

Sebelum kita sendiri memperhatikan kitab-kitab Injil, kita perlu memperhatikan suatu pengalihan penekanan yang signifikan yang terjadi di kalangan sarjana, yaitu dari sejarah menuju theologi. Jika "kritik bentuk" sangat memperhatikan jemaat mula-mula, sebaliknya "kritik redaksi" sangat memperhatikan masing-masing penulis kitab-kitab Injil. Sekalipun kami sangat yakin bahwa para penulis kitab-kitab Injil adalah para sejarawan yang teliti (seperti klaim Lukas dalam Lukas I: 1-4), juga penting untuk melihat bahwa mereka adalah penginjil, yang secara sadar memberitakan Injil, dan theolog, yang mengembangkan penekanan khusus mereka sendiri. Dengan demikian, jelas bahwa proses pengilhaman ilahi tidak meniadakan kepribadian dari penulis manusia. Karena penulisan Kitab Suci ini adalah karya ganda, Allah memilih untuk berbicara melalui kata-kata man usia. Roh Kudus memilih, membentuk, mempersiapkan, dan memperlengkapi penulis manusia dengan maksud mengomunikasikan melalui masing-masing penulis suatu pesan yang tepat sckal igus khas.zs

Bi\CIAN PERTAMA

YESUS YANG SEBENARN)l A

(at au Baqa ima n a Pe ria njia r1 Hll ru Bersaksi menqen ai Diu)

KEEMPAT KITAB INJIL

1. Injil Matius: Kristus Penggenapan Kitab Suci

Hctapa kita seharusnya merasa bersyukur karen a dalam providensi AlIah kita memiliki empat kitab Injil! Sebab Yesus Kristus adalah sosok yang tcrlalu besar dan terlalu mulia untuk bisa dipahami oleh seorang penulis at au digambarkan hanya dari satu perspektif. Yesus dalam kitab-kitab Injil merupakan suatu gambaran dengan empat wajah, satu permata dcngan empat faset.

Jika begitu, apakah ciri utama dari Yesus menurut Matius? Ini bisa dinyatakan dengan satu kata: penggenapan. Dengan asal usul dan budaya Yahudi yang begitu kuat, Matius menggambarkan Yesus sebagai penggenapan Perjanjian Lama. Injil-Nya berlaku sebagai suatu jembatan antara kedua Kitab Perjanjian, antara persiapan dan penggenapan.

Perhatikanlah kata-kata Yesus yang dicatat dalam Matius 13: 16-17 ini: "Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengamya." Dengan kata lain, para nabi Perjanjian Lama hidup pada mas a antisipasi; para rasul hidup pada zaman penggenapan. Mata para rasul sungguhsungguh melihat dan telinga mereka sungguh-sungguh mendengar apa yang para pendahulu mereka telah rindukan untuk lihat dan dengar. Maka Matius tidak menggambarkan Yesus sebagai seorang nabi, sebagai seorang pelihat lain yang melanjutkan para nabi dari abad-abad sebelumnya, tetapi sebaIiknya sebagai penggenapan seIuruh nubuat. Di dalam dan

10

oJ. J(RISTliS L\N(; '1'1;\1):\ TAI{A

+ """1111111' ""ld, 111111

II

dengan pelayanan Yesuslah kerajaan Allah yang sudah lama dinantinantikan itu tiba.

Maka, pertama-tama, Kristus menurut Injil Matius merupakan pcnggenapan nubuat. Hal ini ditunjukkan kepada kita melalui silsilah yang menjadi awal kitab Injil tersebut (Mat. I: 1-17). Sebab Matius menelusuri garis keturunan Yesus kembali kepada Abraham, bapa umat pilihan, yang melaluinya Allah berjanji memberkati dunia, dan kepada Daud, raja terbesar Israel, yang merupakan gambaran dari sang raja agung yang akan datang kelak. Maka Matius memberikan silsilah dari garis keturunan rajaraja. Maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah "anak Daud" (sebuah gelar yang dia gunakan lebih sering daripada ketiga penulis kitab-kitab Injil lainnya sekaligus), yang berhak untuk mewarisi takhta Daud.

Rumusan favorit Matius adalah "Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi." Rumusan ini muncul sebelas kali. Keinginannya yang besar adalah untuk menunjukkan bahwa segal a sesuatu yang terjadi sudah diprediksi dan bahwa segala sesuatu yang diprediksikan sudah digenapi. Selain itu, Matius melihat dalam kisah tentang Yesus suatu rekapitulasi kisah Israel. Sebagaimana Israel ditindas di Mesir di bawah pimpinan Firaun yang lalim, demikian pula halnya bayi Yesus menjadi pengungsi di Mesir di bawah pemerintahan Herodes yang lalim. Sebagaimana Israel melintasi Laut Merah dengan maksud untuk diuji di padang belantara selama empat puluh tahun, demikian pula Yesus melewati air baptisan Yohanes di Sungai Yordan untuk diuji selama empat puluh hari. Sekali lagi, sebagaimana Musa dari Gunung Sinai memberikan hukum Taurat kepada Israel, begitu juga halnya Yesus dari Bukit Ucapan Bahagia memberikan kepada para pengikut-Nya penafsiran dan penjelasan tambahan yang benar tentang hukum tersebut.

Tema penggenapan paling jelas dipaparkan dalam pengukuhan kerajaan Allah oleh Yesus. Keempat penulis kitab-kitab Injil menulis bahwa Dia memproklamasikan kerajaan tersebut, namun Matius memiliki penekanannya yang khusus. Karena menghargai keseganan kaum Yahudi dalam mengucapkan nama Allah yang kudus, sebagai gantinya Matius mcmakai penyebutan "kerajaan sorga" (kira-kira lima puluh kali). Dia juga memahami bahwa kerajaan tersebut merupakan kenyataan masa kini, scbab kerajaan itu "sudah datang" kepada mereka, Mat. 12:28) dan suatu pcngharapan masa depan (sebab pada akhir sejarah, Sang Raja akan duduk di atas takhta-Nya yang mulia dan menghakimi bangsa-bangsa,

Milt .''1 II ,Ih) I kllHlI1I S('IIIIIa ('ala "Ii haik dcngan silsilah, dcngan 11111111'11111 luvont MatHIS, dl'lIgall rckupitulasi kisah Israel, dan dengan f"'"Kllllllilllllya 1l'lIlallg Kcrajaun Allah Kristus mcnurut lnjil Matius ""ill,,h 1ll'1I)!'f-',l'lIap:1I1 nubuat.

Kvdun, Kristus mcnurut Injil Matins adalah penggenapan hukum 1,1111"111 Y ('SIIS uunpak bugi orang-orang sezaman-Nya sebagai sosok yang urlnk 1I1l'II~',honllati hukum Taurat: misalnya, melanggar hukum Sabat, III('IIl'I'1I11lIlh hukum-hukurn pernurnian ritual, dan mengabaikan hukum 1l('ll'lIasa, Scpcrtinya Dia lalai, sedangkan mereka menaatinya dengan ke- 1111 Nnmun Ycsus bcrsikukuh bahwa Dia setia kepada hukum Taurat. Sl'l'llIllah sarjana bcranggapan bahwa Matius sengaja menggambarkan V"SIIS schagni Musa baru. Sebab sarna seperti ada lima kitab Musa dalam l'cntatcukh, bcgitu juga ada lima kumpulan pengajaran Yesus dalam Injil Matins. yang merupakan sejenis Pentateukh Kristen.

I{agaimanapun juga, Matius mencatat ucapan Yesus ini: "Janganlah k.unu mcnyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat at au kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sel.unn bclum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak nkun ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. ... Maka Aku bcrkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesung)',uhnya kamu tidak akan mas uk ke dalam Kerajaan Sorga" (Mat. 5: 17-18, 20).

Para murid pasti tercengang oleh ucapan Yesus, sebab kaum Farisi adalah kaum yang paling benar di dunia. Bagaimana mungkin para pengikut Yesus bisa lebih benar ketimbang kaum yang paling benar di bumi? Guru pasti sedang bergurau! Namun kebenaran Kristen lebih agung daripada kebenaran orang Farisi bukan hanya dalam ucapan dan perilaku saja, tetapi terutama dalam pikiran dan motivasi (lih. Mat. 5:21-30). Dengan pengertian inilah Yesus merupakan penggenapan hukum Taurat. Dia membawa hukum Taurat kepada kesimpulan logisnya. Dia melihat melampaui pemahaman yang harfiah semata kepada tuntutan hukum Taurat yang radikal akan kebenaran hati.

Ketiga, Kristus menurut Matius adalah penggenapan Israel. Penggenapan ini merupakan yang paling tidak kentara dari ketiga penggenapan tersebut. Kita bisa saja membaca Matius tetapi tidak melihat adanya penggenapan ketiga ini. Matius melihat Yesus mengonfrontasi Israel de-

12

'I, J.:IUSTIIS VAN(; 1It\1lt\ li\l{A

.!. K('('IIIJl<l1 KlloIlI 111.111

ngan suatu seruan terakhir untuk bertobat. Maka Ycsus mcngatakun kepada para rasul bahwa Dia diutus "hanya kepada domba-domha yang hiIang dari umat Israel" (Mat. 15:24) dan bahwa mereka harus pcrgi hanya "kepada domba-domba yang hiIang dari umat Israel" (Mat. 10:6). Kelak, tentu saja, amanat agung Yesus akan membuka horison para rasul kepada dunia bangsa non-Yahudi; namun begitu, semasa pelayanan-Nya di bumi, Israel diberi satu lagi kesempatan. Namun mereka bersikeras dalam pemberontakan mereka. Maka Yesus meratapi kota itu, rnengungkapkan kerinduan-Nya untuk mengumpulkan penduduknya di bawah nau~gan sayap-sayap-Nya, dan memperingatkaan kota itu bahwa penghakiman-Nya akan jatuh atas angkatan itu juga, yang terjadi tentunya pada tahun 70 M (Mat. 23:36-39).

.Maka Yesus menganggap diri-Nya sendiri sebagai satu-satunya wakil Israel yang autentik yang masih ada. Hanya Dia yang tetap setia: sebaliknya seluruh bangsa telah murtad. Pada waktu yang bersarnaan. Dialah awal dari suatu Israel baru. Maka Dia sengaja memilih dua belas rasul yang setara dengan dua belas suku dan sebagai awal dari Israel baru. Kepad~ mereka Kerajaan Allah akan dipindahkan (Mat. 21 :43). Selanjutnya, Dia menyebut umat ini "jemaat"-Nya, suatu komunitas yang melawan budaya populer dan yang ditandai oleh nilai-nilai dan stan darstan dar Kerajaan-Nya, sebagaimana yang dipaparkan dalam Khotbah di Bukit.

Yesus juga menjelaskan bahwa Israel yang baru ini akan terdiri dari berbag~i ras ~an bangsa, dan menjadi garam dan terang dunia. Sangat perlu diperhatikan bahwa Matius, yang paling Yahudi di antara keempat penuli~ kitab.~kitab Injil, bagaimanapun menggambarkan pada bagian awal kitab Injilnya tentang kunjungan orang-orang majus yang misterius wakil dari bangsa non- Yahudi, dan pada akhimya, amanat dari Tuhan yang bangkit kepada para rasul untuk pergi dan memuridkan bangsaba~gsa. Maka komunitas kerajaan-Nya akan tumbuh bagaikan biji sesawi dan awal yang keeil dan tidak megah sampai memenuhi bumi: "Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga" (Mat. 8: 11).

~, Injll Mlu'kus: Krlstus Hamba yang Menderita

Illo.n Mutius mcmaparkun Ycsus scbagai Kristus yang dinyatakan oleh 1\ IIl1h Suri, Markus mcmaparkan Dia sebagai Hamba Tuhan yang Mentlnllll. YUllg mali hagi dosa-dosa umat-Nya. Salib itu merupakan pusat P('lIlIIhlllllatl Markus akan Yesus.

l'cnulis lnjil Markus, seperti ketiga kitab Injillainnya, jelas tidak di- 10."11111. l'cnulisnya tidak membuka identitasnya, tetapi ada suatu tradisi plII'llu yang mcnyebut Markus sebagai penulis dari kitab Injil kedua. Pada '411111 yang hersamaan, konon ada hubungan yang sangat erat antara Mark liS dun Rasul Petrus. Papias, seorang uskup di Hierapolis pada awal abad kvdun, menyebut Markus sebagai "penafsir"-nya Petrus, yang meneatat uwnyut hidup dan khotbah-khotbah Petrus. Tentunya ada lebih banyak rujukan kepada Petrus dalam Injil Markus daripada dalam kitab-kitab lnjil lainnya, dan Markus menyampaikan dengan lebih lengkap dan lebih ludup ten tang kebodohan, kelemahan dan penyangkalan Petrus daripada para pcnulis kitab-kitab Injil lainnya. Sejumlah orang mengatakan bahwa 1I1i mcmberi Markus rasa senasib dengan Petrus, sebab Markus pun peruuh gaga!. Jika anak muda yang melarikan diri dalam keadaan telanjang di Taman Getsemani adalah Markus (Mrk. 14:51-52), maka itu menuniukkan bahwa dia juga ikut melarikan diri. Dan semasa perjalanan misi Paulus yang pertama, dia melarikan diri untuk kedua kalinya (Kis. 13:13; I :'i:37-38). Namun meskipun Markus pemah menyangkali Yesus, sebav,aimana yang pemah dilakukan Petrus, dia juga dipulihkan seperti Petrus pun dipulihkan. Sebab dalam surat-surat Perjanjian Baru kelak, kita mcncmukan Markus yang memberi pelayanan yang setia kepada Petrus maupun Paulus. Misalnya, "Markus ... pelayanannya penting bagiku," tulis Paulus (2Tim. 4:11).

Perhatikanlah kini satu perikop penting dari Injil Markus, yang mengumpulkan tiga dari tern a favoritnya: siapa Yesus, apa yang telah Dia lakukan, dan apa yang Dia tuntut dari para pengikut-Nya. Bagian ini merupakan titik balik dalam Injil Markus sebab ini merupakan titik balik dalam pelayanan Yesus. Sebelum insiden ini, Yesus dihormati sebagai guru dan tabib yang terkenal; namun sejak saat itu, Dia memperingatkan murid-rnurid-Nya tentang salib yang akan datang.

Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Dia bertanya kepada murid-rnuridNya, kata-Nya: "Kata orang, siapakah Aku ini?"

14

·r· J-.:RISTIIS Y AN(; TIAI)A TARA

·1, ".'I'IIlPi,I "".,11 111.111

I',

Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohancs Pcmbaptis, ada jugu yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: scorang dari para nabi."

Ia bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"

Maka jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!" Lalu Yesus melarang merekadengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya:

"Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karen a Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab barangsiapa malu karen a Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus." (Mrk. 8:27-38)

~I'hnh Mnrkus ~Ildllh mcmbcrikun dun contoh perintah untuk diam. SCSlIdllh uu-nvcmbuhknn sl'mall)!, pendcrita kusta, Y csus berkata kcpadanya, "11l~lItlllh, jllll)!,lIlllah cngkau mcmhcritahukan apa-apa tentang hal ini kepndn ~illpa pun" (Mrk I :44). Dan scsudah scorang tuli-gagap disembuhk nn, Y I'SIIS "bcrpcsun kcpuda orang-orang yang ada di situ supaya jangan Illl'lll·l'ritakanllya kcpada siapa pun juga" (Mrk. 7:36). Tetapi mengapa mcrckn hurus tutup mulut? Alasannya adalah orang banyak memiliki penduput politik yang keliru tcntang Mesias. Selama lebih dari tujuh ratus tahun Israel ditindas oleh kuk asing, kecuali satu masa kemerdekaan yang slllgkat dan mcnggembirakan di bawah pemerintahan dinasti Makabe. Telupi kini rakyat sedang memimpikan bahwa Yahweh akan campur tangan kcmhnl], hahwa rnusuh-musuh mereka akan dihancurkan, bahwa umatNva akan dibebaskan, dan bahwa masa mesianis akan tiba. Galilea merupukun lahan subur bagi berkembangnya harapan-harapan nasionalis seIll'lli itu.

Ycsus jelas tidak menghendaki orang banyak akan menernpatkanNya ke dalam peran revolusioner ini, dan Dia memiliki alasan kuat untuk mcnghindari hal ini. Sesudah memberi makan lima ribu orang, menu rut Y ohanes, orang banyak "hendak datang dan hendak membawa Dia dcngan paksa untuk menjadikan Dia raja" (Yoh. 6: 15). Tetapi Dia tidak datang untuk menjadi mesias politik. Sebaliknya, Dia datang untuk mati, dan melalui kematian itu mendapatkan kebebasan rohani bagi umatNya. Maka (Mrk. 8:31) begitu para murid mengenali Dia sebagai Mesias, "Kcmudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit scsudah tiga hari." Selanjutnya, Dia berbicara "terus terang" tentang hal ini (Mrk. 8:32), yakni, secara terbuka dan di hadapan orang banyak; tidak ada rahasia mengenai Mesias seperti apakah Dia.

Kedua, perhatikanlah apa tujuan kedatangan Yesus. Markus meniclaskan bahwa begitu kedua belas murid mengenali jati diri-Nya, Dia mcletakkan segala penekanan-Nya pada salib. Pada tiga kesempatan lain yang berbeda, Yesus dengan terus terang memprediksikan penderitaanpcnderitaan dan kematian-Nya (Mrk. 9:31; 10:33,45). Memang sepertiga dari keseluruhan Injil Markus diberikan untuk kisah salib.

Ketiga frasa dalam prediksi Yesus berharga untuk diperhatikan. Pertarna, "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ... dibunuh" (Mrk. 8:31). Catatan tentang keharusan ini diberikan. Mengapa

Pertama, perhatikanlah siapa Yesus. Dia tahu ada perbedaan antara persepsi umum tentang identitas-Nya dan keyakinan pribadi para rasul yang mulai muncul. Menurut pendapat orang ban yak Dia adalah Y ohanes Pembaptis, Elia, atau seorang nabi yang lain; menurut kedua belas murid, Dia bukanlah seorang nabi yang lain, melainkan "Kristus," penggenapan dari semua nubuat. Matius menambahkan "Anak Allah," mungkin maksudnya bukan bahwa Dia adalah Anak yang kekal melainkan (sebagaimana dalam Mzm. 2:7-8) Sang Mesias.

Segera setelah para murid mengucapkan pengakuan iman ini, "Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia" (Mrk. 8:30) tetapi agar tetap diam dan merahasiakan identitas-Nya, Perintah untuk diam dan merahasiakan ini menimbulkan teka-teki pada banyak pembaca. Namun tidaklah sulit memahaminya,

Hi

'r KRIST US YANG TIADA TARA

,I' 1\""11111.11 I\llilll Inlll

1/

"Anak manusia" melambangkan pengumuman pemuliaan tertinggi yang dapat dibayangkan dalam Yudaisme; ebed Yahweh (hamba Tuhan) adalah ungkapan kerendahan/kehinaan yang terdalam .... lni adalah tindakan Yesus yang tidak pernah terjadi sebelumnya, yaitu bahwa Dia menyatukan kedua tugas yang jelas saling bertentangan ini dalam kesadaran diriNya, dan bahwa Dia menyatakan kesatuan tersebut dalam kehidupan dan pengajaran-Nya.'

11111111. Illl'Il'pasl,all tuwnuuu. Muka YL'SIIS 1I1L'lIgajarkan bahwa manusia ""lIldll duhnu pcuawuuun (tcrut.uua di dalam dosa, kcsalahan, dan peng- 1t1l"11I1i1l1) dun haltwa kita tiduk hisa mcnyclamatkan diri. Maka Dia akan 1IIt'IIIIll'IIkall diri-Nya sebagai tcbusan scbagai ganti bagi banyak orang. SlIllh nkau mcnjnd: snrana bagi pcmbcbasan kita. Hanya karen a Dia mati 111t'11~'J'.alltlkall kitu, barulah kita bisa dibebaskan. Menurut Markus, semua 1111 nu-rupakun hagian dari pcrnaharnan Yesus Kristus tentang salib.

Kl'tiga, pcrhatikanlah apa yang Yesus minta dari kita. Sesudah berhtl'ala ten tang kcmatian-Nya yang akan terjadi, Yesus memanggil orang hnuyak kcpada-Nya dan berkata: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, I" harus mcnyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku" (Mrk X:34). Artinya, Yesus pindah seketika dari salib-Nya menuju salib 1,lla dan mcnggambarkan pemuridan Kristen dalam pengertian penyangkulun diri dan bahkan kematian.

Kita baru bisa memahami signifikansi memikul salib hanya dengan mcmahami latar belakang budaya di Palestina yang dijajah Romawi. ()rang Romawi memberlakukan penyaliban untuk para pelaku kejahatan lcrhcsar dan memaksa mereka yang dihukum mati dengan penyaliban itu untuk memanggul salib mereka sendiri menuju temp at eksekusi. Maka iika kita mau mengikut Kristus dan memikul salib, hanya ada satu temp at yang bisa kita datangi, dan itu adalah temp at hukuman mati.

Pcmuridan Kristen jauh lebih radikal daripada sekadar campuran berbagai keyakinan, perbuatan baik, dan praktik-praktik keagamaan. Tidak ada gambaran yang bisa memberi kebenaran yang tepat bagi pemuridan ini kecuali kematian dan kebangkitan. Sebab ketika kita kehilangan diri, k ita menernukan diri, dan ketika kita mati, kita hidup (Mrk. 8:35).

Di sini ada tiga tema penting dalam Markus. Siapakah Yesus? Dia adalah Kristus. Untuk apakah Dia datang? Untuk melayani, menderita, dan mati. Apakah yang Dia minta dari para murid-Nya? Memikul salib mcreka sendiri dan mengikut Dia melalui kematian penyangkalan diri mcnuju kemuliaan kebangkitan.

Di sepanjang sejarah gereja, pertanyaan-pertanyaan krusial yang muncul selalu bersifat Kristologis. Pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan identitas, misi, dan tuntutan-tuntutan Yesus. Dalam upaya menemukan hal-hal ini, kita harus wasp ada terhadap opini publik ("Kata orang, siapakah Aku ini?") dan terhadap para pemimpin gereja yang herpegang pada pendapatnya sendiri (yang seperti Petrus yang lancang sampai berani bertolak belakang denganYesus). Sebaliknya, kita harus men-

Dia harus menderita dan mati? Jawabannya: sebab Kitab Suci harus digenapi. Mendengar prediksi Yesus tentang salib, Petrus dengan lancang mencela Dia, maka Yesus berpaling dan menegur Petrus (Mrk. 8:32-33). Tidak ada hal apa pun yang boleh dibiarkan meremehkan keniscayaan salib.

Frasa kedua yang perlu diperhatikan adalah bahwa "Anak Manusia"» lah yang harus menderita. Sekalipun "anak manusia" adalah ungkapan yang umum dipakai dalam percakapan bangsa Ibrani untuk manusia dan sering dipakai juga dengan cara demikian dalam Kitab Suci, tampak jelas bahwa Yesus menggunakan frasa ini untuk menyebut diri-Nya dengan merujuk kepada penglihatan dalam Daniel 7. Di sini "seorang seperti anak manusia" (yakni, suatu sosok manusia) datang dengan awan-awan dari langit, datang kepada Yang Lanjut Usianya (Allah yang mahakuasa) di takhta-Nya, dan diberi kuasa, kemuliaan dan kuasa yang berdaulat, sehingga semua orang, bangsa dan manusia dari segala bahasa menyembah Dia. Kekuasaan-Nya, demikian Daniel menambahkan, adalah kekuasaan yang kekal yang tidak akan lenyap, dan kerajaan-Nya adalah kerajaan yang takkan pernah dihancurkan (Dan. 7:13-14). Tetapi kini Yesus memberikan pernyataan yang mengejutkan bahwa Anak Manusia harus menderita. Ini berarti Yesus menggunakan gelar tersebut tetapi mengganti perannya. Menurut Daniel segal a bangsa akan melayani Dia. Menurut Yesus, Dia tidak akan dilayani, melainkan akan melayani. Maka Yesus melakukan apa yang tidak pernah dilakukan orang lain. Dia melebur kedua gambaran dari Perjanjian Lama - hamba yang akan menderita (Yes. 53) dengan anak manusia yang akan memerintah (Dan. 7). Oscar Cullmann menulis:

Frasa ketiga yang Yesus gunakan berkaitan dengan kematian-Nya adalah "Karen a Anak Manusiajuga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mrk. 10:45). Tebusan adalah harga yang dibayar

IH

,r· KRISTUS YANt; TI;\J)!\ TARA

,I, )..1'1'111)1"1 1\11,,11 111.111

l!l

3. Injil Lukas dan Kisah Para Rasul:

Kristus Juruselamat Dunia

1II'IIIItlllllli para saksl Illata. Lukas scndiri tclah mcnyelidikinya, dan kini dlil ""dullg mcnuhskan scmuanya itu, agar para pembacanya boleh meIIW·tuhlll kcpnsunn upa yang sudah mcreka pe!ajari dan percayai.

Kupankah Lukas mcngerjakan penyelidikan-penyelidikannya sendill'! I )Ia hukunlah salah satu dari kedua belas murid, dia sendiri juga hukunlnh scorang saksi mata. Meskipun demikian, kelak pada permulaan ~"kltar tahun 57, dia menikmati tinggal dua tahun lamanya di Palestina. 11111 uba dcngan kapal bersama Paulus, yang segera sesudah itu ditangkap dun dipcnjarakan. Ketika itu, sementara Paulus tinggal di penjara di Kuisarca sclarna dua tahun, Lukas adalah seorang manusia bebas (Kis, .11.17; 24:27). Bagaimanakah dia mengisi waktunya selama masa itu? "Ita t idak tahu, tetapi masuk akal jika kita menduga bahwa dia menghnhixkan masa itu dengan menjelajahi seluruh penjuru negeri, dengan uu-ngunjungi situs-situs sakral yang berkaitan dengan Yesus, belajar mcngcnal kebiasaan-kebiasaan orang Yahudi, dan mewawancarai para 'iuksi mata. Ini semua mungkin termasuk Maria, yang saat itu pasti sudah lu-rusia lanjut. Karena ketika Lukas menceritakan kisah Maria, dan rinciall scputar kelahiran dan masa kecil Yesus secara begitu intim, yang Lukas bagikan kepada para pembacanya, semua itu pastilah bersumber dan Maria.

Karena itu, Lukaslah - yang adalah seorang dokter dan sejarawan, dan hukan seorang Yahudi, yang sangat memenuhi syarat untuk menulis dua kitab tentang asal mula Kekristenan, yang panjangnya lebih dari sepcrcmpat Perjanjian Baru dan yang membuat kita mempelajarinya deligan penuh keyakinan terhadap keterandalan isinya.

lika demikian, apakah berita Injil Lukas? Pesan ini terangkum dalam Nunc Dimittis atau Nyanyian Simeon, yang mengaku,

dengarkan Dia yang memberikan kesaksian tentang diri-Nya scndiri, tcrutama seperti Markus yang mencatat penekanan-Nya pada masalah sal ill. Tidak ada iman atau hidup Kristen yang autentik kecuali jika salih I11CIljadi pusatnya.

Ada hubungan yang hakiki antara siapa para penulis kitab-kitab Injil tersebut dengan bagaimana mereka memaparkan Yesus Kristus. Sebab ilham ilahi membentuk tetapi tidak menghapus kepribadian para penu!isnya. Contoh terbaik dari prinsip ini dalam Perjanjian Baru adalah Lukas. Dia adalah satu-satunya kontributor Perjanjian Baru yang bukan orang Yahudi. Maka sangatlah cocokjika dia memaparkan Yesus bukan sebagai Kristus Penggenapan Kitab Suci (seperti yang Matius lakukan) dan bukan pula sebagai Hamba yang Menderita (seperti yang Markus lakukan), melainkan sebagai luruselamat dunia, yang tidak memandang ras atau kebangsaan, derajat, jenis kelamin, kekayaan, atau usia.

Pertama, Lukas seorang dokter (Kol. 4:14). Maka dia adalah seorang yang terdidik, seorang yang berbudaya (yang menulis dengan menggunakan bahasa Yunani yang halus), dan seorang manusia yang penuh empati (yang mungkin sudah mengucapkan Sumpah Hippokrates).

Kedua, Lukas bukanlah seorang Yahudi, sebab Paulus membedakan Lukas dari "hanya ketiga orang ini dari antara mereka yang bersunat yang menjadi temanku sekerja" (Kol. 4:11). Maka dia termasuk warga negara Romawi, yang begitu !uas wilayahnya. Selama sedikitnya tiga periode (bagian "kita" dari Kisah Para Rasul) Lukas mendampingi Paulus dalam perjalanan-perjalanannya. Dia adalah seseorang yang memiliki cakrawala yang !uas dan lapang dada. Sementara ketiga penulis kitab-kitab Injillain menyebut Danau Galilea sebagai "Sea of Gali!ee," hanya Lukas yang menyebutnya sebagai sebuah danau. Dibandingkan dengan Laut Besar, Laut Mediterania yang telah dia layari, Danau Galilea tidak lebih dari sebuah kolam.

Ketiga, Lukas seorang sejarawan. Kita harus sangat menghargai apa yang dia tulis tentang metodenya dalam pendahuluannya terhadap Injilnya. Yang dia tulis bukanlah mitos maupun midrash; dia mengklaim menulis kebenaran sejarah. Sebab peristiwa-peristiwa seputar kelahiran, pelayanan, kematian, dan kebangkitan Yesus telah ditulis berdasarkan

mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, ... yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel. (Luk. 2:30-32)

Rujukan kepada keselamatan bagi kaum kafir diulang dalam Lukas '\:6: "dan semua orang akan mehhat keselamatan yang dari Tuhan." Kecmpat Penulis Injil merujuk kepada pelayanan Yohanes Pembaptis dan mengutip dari Yesaya 40 mengenai "suara yang berseru-seru di padang gurun," tapi hanya Lukas yang meneruskan mengutip sampai ke pemyataan bahwa "sernua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan."

zo

>1< KRIST! IS YAN(; TIAIJA TAII;\

.'1

Jadi, pertama-tama berita Lukas adalah kabar baik tentang kescla matan. Keselamatan merupakan sebuah kata kunci dalam Inj il Lukas. Dia tahu dengan jelas bahwa keselamatan meliputi dua komponcn. Secara negatif, keselamatan berarti penghapusan kesalahan (yang mcmbawa pengampunan). Secara positif, keselamatan adalah pencurahan Roh Kudus (mengaruniakan kelahiran baru). Keduanya mengemuka dalam kisah yang ditulis Lukas dalam kedua kitab.

Misalnya saja tentang pengampunan. Hanya Lukas yang mencatat nubuat Zakharia bahwa putranya, Y ohanes, akan "mernberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka" (Luk. 1 :77). Hanya Lukas yang menceritakan bagaimana Yesus memberikan pengampunan kepada perempuan yang telah mengurapi kaki-Nya dengan minyak urapan dan membasahinya dengan air matanya (Luk. 7:48). Hanya Lukas yang menceritakan perumpamaan yang tidak ada bandingannya tentang anak yang hilang, yang bertobat dan pulang, dan disambut dengan pelukan, ciuman, dan pesta perayaan (Luk. 15:11-32). Hanya Lukas yang mencatat Amanat Agung dalam pengertian bahwa "pertobatan dan pengampunan dosa" harus disampaikan kepada segala bangsa (Luk. 24:47). Dan hanya Lukas yang melukiskan bagaimana Paulus di Antiokhia Pisidia mengumumkan "oleh karena Dialah maka diberitakan kepada kamu pengampunan dosa" (Kis. 13:38).

Aspek komplementer dari keselamatan adalah pencurahan Roh Kudus untuk memberikan kelahiran baru dan hidup baru. Dari semua penulis kitab-kitab Jnjil, Lukas menunjukkan minat terbesar pada karya Roh Kudus. Dia melukiskan Yesus yang telah diurapi oleh Roh dan yang menjalankan pelayanan-Nya dengan kuasa Roh (Luk. 3:22; 4:1, 14, 18). Dan hanya Lukas yang menggambarkan datangnya Roh pada Hari Pentakosta dan perkembangan misi Kristen sesudah itu (mis., Kis. 2: 1-12; 13:2).

Jadi inilah kedua komponen keselamatan. Pengampunan menghapuskan masa lalu kita, dan Roh mengubah masa depan kita. Petrus merangkumnya pada penutup khotbahnya pada Hari Pentakosta, yaitu bahwa kepada mereka yang bertobat, percaya, dan dibaptis, Dia menjanjikan pengampunan dosa sekaligus karunia Roh Kudus (Kis. 2:38). Selanjutnya, keselamatan besar ini mendatangkan sukacita besar. Lukas memulai Jnjilnya dengan pengumuman tentang "berita kesukaan bcsar" (Luk. 2: 10) dan mengakhirinya dengan pemyataan bahwa para rasul "pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita" (Luk. 24:52). Sesungguhnya, di

'11'1'"111111111. kcduu VOlll1l11' kurya l.ukus, sukacita mcngiringi karunia kcsc- 1111111111111 •. 'i('11I111 IIda xukncilu bexar di sorga atas satu orang berdosa yang Iwllllllilt (luk. 1'1:'/, 10; 1111. juga Kis, X:X, 39).

Kvrluu. IWl'lta I .ukas adalah kabar baik keselamatan melalui Kristus. 1\I'III'IIIII'all 1111 jclas dalam kisah Simeon, sebab dia menggendong bayi V"SIIS dun mcnuucapkun apa yang sudah dia lihat. Apa yang sebenamya dill I iluu udaluh scorung bayi; apa yang katanya telah dilihatnya adalah k('sl'lalllatal1 dari Allah (Luk 2:28, 30), sebab Yesus memang adalah ke',l'Ialllatall dari Allah. Maka Lukas menceritakan dengan caranya sendiri YIIII)'. allggun kisah yang tiada taranya tentang Yesus Kristus; bagaimana 1)1:1 lahir dari Anak Dara Maria di kota Daud untuk menjadi Juruselamat kua: hagaimana Dia mengatakan kepada Zakheus bahwa keselamatan trluh datang ke rumahnya hari itu juga, sambil menambahkan bahwa Anuk Manusia telah datang "untuk mencari dan menyelamatkan yang lnlung" (Luk. 19:9-10); bagaimana Dia berdoa bagi pengampunan para cksckutornya, dan menjanjikan pada penjahat besar di salib sebuah tempat IIi firdaus hari itu juga (Luk. 23:34, 43); dan bagaimana, sesudah Dia d I t i nggikan ke temp at otoritas tertinggi di sebelah tangan kanan Allah, I )Ia mcngutus Roh Kudus dan tetap mencurahkan keselamatan pada hari 1111 (Kis. 2:33).

Sclanjutnya, karena Yesus unik dalam ke1ahiran, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya, keselamatan-Nya juga unik. Karena Allah mcnjadi manusia, mati, bangkit dari kematian, dan naik ke sorga bukan di dalam diri orang lain, maka tidak ada Juruselamat lain, sebab tidak ada scorang pun yang memiliki persyaratan-persyaratan-Nya. Lukas mencatat pcnegasan Rasul Petrus bahwa "keselamatan tidak ada di dalam siapa pun selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kis. 4: 12).

Ketiga, berita Lukas adalah kabar baik keselamatan melalui Kristus bagi seluruh dunia. Lukas sengaja menempatkan pada bagian awal dari masing-masing kedua kitabnya sebuah pemyataan universalitas: di satu sisi "semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan" (3 :6), dan di sisi lain "Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia" (Kis, 2: 17). Kedua ayat ini mengandung ungkapan pas a sarx, yang berarti "segala daging" atau "semua orang." Kedua ayat ini berlaku sebagai penunjuk arah kepada kisah berikutnya, sebab Lukas melukiskan Yesus sebagai sosok yang menghormati mereka yang dihina dunia, yang

'I' KRISTUS YANG TIADA TARA

+ """11111,1' ""uh 111.111

~.I

bersahabat dengan yang tidak memiliki sahabat, dan yang menyertakan mereka yang dikucilkan.

Pertama, orang yang sakit dan yang menderita. Tentu saja, scmua penulis kitab-kitab Injil menggambarkan pelayanan penyembuhan yang dilakukan Yesus, tetapi Dr. Lukas menunjukkan min at khusus terhadap hal ini. Pada tahun 1882, buku karya W. K. Hobart yang berjudul The Medical Language of St. Luke diterbitkan. Dia mencatat lebih dari empat ratus kata yang sarna-sarna digunakan oleh Lukas dan para penulis risalah medis Yunani pada masa-masa itu. Sekalipun kasusnya dilebih-lebihkan, sebagian bukti masih ada. Sebagaimana William Barclay pemah menulis, "secara naluriah Lukas menggunakan istilah-istilah medis.?" Dia menunjukkan perhatiannya sebagai dokter terhadap gejala, diagnosis, dan pengobatan. Hal yang menarik adalah bahwa sekalipun Markus berkata bahwa perempuan yang mengalami sakit pendarahan telah sangat banyak menderita di bawah penanganan para dokter dan menguras seluruh uangnya, namun dia bukannya makin membaik malah semakin memburuk, Lukas sepertinya sangat melindungi reputasi profesinya dan puas hanya dengan menu lis bahwa perempuan itu "tidak berhasil disembuhkan oleh siapa pun" (Luk. 8:43).

Kedua, wan ita dan anak-anak. Di dunia kuno, wanita umumnya direndahkan dan ditindas, dan anak-anak yang tidak diharapkan ditinggalkan atau dibunuh. Namun Lukas menegaskan bahwa Yesus mengasihi dan menghargai keduanya. Hanya Dia yang menyampaikan kisah-kisah tentang Elisabet dan Maria, tentang Maria dan Marta, tentang janda di Nain yang kehilangan putra tunggalnya (Luk. 7: 11-17), tentang para wan ita yang mendukung Yesus dengan kekayaan mereka sendiri (Luk. 8:3), dan tentang para wanita yang menyaksikan di bawah salib dan yang datang pagi-pagi sekali pada hari pertama ke kubur (Luk. 23:49, 55-56; 24: 1). Sedangkan untuk anak-anak, baik Matius maupun Markus mencatat undangan Yesus: "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku," tetapi Lukas menyebut mereka sebagai "bayi-bayi" dan menambahkan bahwa Yesus "mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya" (Luk. 9:47; 18:15-17).

Ketiga, kaum miskin dan tertindas. Lukas lebih tertarik daripada para penulis kitab-kitab Injil lainnya kepada pertanyaan-pertanyaan tentang kekayaan dan kemiskinan. Dia peduli terhadap persamaan hak dan menegaskan bahwa Yesus telah diurapi "untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin" (Luk. 4: 18). Dia menyampaikan tiga perum-

111111111 klllllll." IIl1l1g dan Illcliggalllharkall kcmuruhan hati jcmaat Y crusa- 11'111 11111111-11111111 duluiu mcmbagi-bagikun milik mcrcka kepada orangIIIIIlIg yllll}!. mcmbutuhkan.

Kccmpnt, pcmungut cukai dan orang berdosa. Kedua kelompok ter·whlll adalah mcrcka yang dikucilkan masyarakat: "pemungut cukai" (pe- 1I}!,1I11 ipu I pnjnk) karcna mercka dipekerjakan oleh penjajah Romawi yang dllwllci. dan "orang-orang bcrdosa" sebab mereka tidak mengindahkan hukum dan tradisi Yahudi. Tetapi Lukas menyampaikan kepada kita huhwa pemungut cukai dan orang berdosa berkumpul di sekeliling Yesus ( 1.11 k. 15: I), bahwa bukannya mengkritik, Yesus bahkan makan bersama ,il-llgan mcrcka (Luk. 5 :30; 15 :2) dan bahwa Dia disebut sebagai sahabat mcrcka (Luk. 7:34). Ini adalah antisipasi yang jelas terhadap jamuan makun mcsianis.

Kclima, orang Samaria dan non-Yahudi. Karena orang-orang Samana adalah orang-orang campuran, setengah Yahudi dan setengah nonYuhudi, yang merupakan keturunan dari populasi campuran dari abad kcdclapan SM, orang-orang Yahudi tidak bergaul dengan mereka. Namun Y csus mencela Yakobus dan Y ohanes karen a in gin - seperti Elia - memunggil api turun dari langit untuk membinasakan sebuah desa Samaria (l.uk. 9:54-55); Dia menyampaikan perumpamaan yang berkesan tentang orang Samaria yang baik, yang di dalamnya seorang Samaria melakukan hagi seorang Yahudi apa yang orang Yahudi tidak pemah perbuat bagi scorang Samaria (Luk. 10:25-34); dan Dia memerintahkan kepada umatNya untuk menjadi saksi-saksi-Nya sesudah Pentakosta dengan wilayah yang semakin luas, dengan menyertakan Samaria (Kis. 1 :8). Sedangkan mcngenai orang-orang non- Yahudi, Lukas tentu saj a merupakan salah satu di antaranya. Maka dia menelusuri silsilah Yesus kembali kepada Adam, dan dalam Kisah Para Rasul dia mengikuti tersebamya Injil dari Y crusalem, pusat bangsa Yahudi, sampai ke Roma, pusat dunia zaman itu, Aktor utama manusia dalam drama yang menarik ini adalah Paulus, yang merupakan rasul untuk orang-orang non- Yahudi dan pahlawan bagi Lukas.

Maka Lukas menyusun peristiwa-peristiwa utama dari ketiga perjalanan misi Paulus, yang mula-mula menginjili kota-kota di daerah Galatia, kemudian menjangkau Eropa, dan kemudian menghabiskan kira-kira lima tahun lamanya di Efesus dan Korintus. Penangkapan atas dirinya di Yerusalem, berbagai sidang pengadilan dan pelayaran yang berbahaya menuju Roma, dan diakhiri dengan penahanannya di sana, di mana dia

L4

'I' KRISTlJS Y ANt; T1AIlA TAHA

-I- 1\1'1'11111111 1\ II,Ih 111111

I' • I

4. Injil dan Surat Yohanes:

Kristus Firman yang Menjadi Manusia

Masing-masing dari keempat kitab Injil memiliki awal yang berbeda. Matius memulai dengan silsilah Yesus, dengan menelusuri pohon keluarga-Nya kembali kepada Abraham, dan Lukas dengan Yesus dalam kandungan, kelahiran, dan masa kanak-kanak-Nya. Markus memulai dengan pelayanan Yohanes Pembaptis, sedangkan Yohanes langsung kembali menuju awal mula waktu: "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah" (Y oh. 1: 1). Firman yang berpribadi dan kekal ini juga merupakan Agen penciptaan,

\'1I11~ 11.1,,1, 1'1'1111111 IIll'lIll1ggalkulI duma yallg sudah dijadikun-Nya, dan VIIII~ 11.11111111 Inallg dan ludup dan scluruh umat manusia.

1-111111111 Allah uuluh, ungkapan yang scmpurna dari kcberadaan 11111'", vallg suutu han kclak "rncnjadi manusia dan diam di antara kita" 1\'011 1.14). l lntuk Dialah Yohancs hcrsaksi. Itu bukan lawatan melain""11 urkurnuxr. I nu mcnjadi manusia dalam diri Yesus dari Nazaret. Paradobllva Illl'lIgaglllllkan. Sang Pcncipta mengenakan kelemahan manusiaWI dan ciptuan-Nya. Yang Kekal masuk ke dalam waktu. Yang Mahakunsu mcmbuat diri-Nya bisa diserang. Yang Mahakudus membiarkan .1111 Nya dicobai. Dan pada akhimya, Dia yang tidak fana harus mati.

Apakuh tujuan Yohanes menuliskan Injilnya? Dia berkata kepada 1,,101. "Mcrnang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata 11I11I1l1'll1urid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang h'll';111111111 di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mcsius, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dulum nama-Nya" (Yoh. 20:30-31).

Tiga tahap yang jelas diberikan: (1) Yohanes memilih dan mencatat "Iallda-Ianda" tertentu (2) agar para pembacanya boleh percaya kepada \'(,SlIS, dan (3) agar dengan percaya mereka boleh menerima hidup mc lalui Dia. Jadi kesaksian memimpin kepada iman, dan iman kepada

ludup.

Scsungguhnya Yohanes melihat Injilnya sebagai kesaksian tentang

K nstus. Injil ini hampir seperti adegan sidang pengadilan di mana Yesus .hhakimi dan berturut-turut para saksi dipanggil, dimulai dengan Yohaill'S Pcmbaptis, yang "datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian icntang terang itu" (Yoh. 1 :6-7). Apakah kesaksiannya? Kesaksiannya .ulalah "Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yoh. 1.2l» dan "Dia .. , yang akan membaptis dengan Roh Kudus" (Yoh. I 1.1). Kemudian para saksi lain tampil berikutnya, baik saksi manusia maupun ilahi. Sebab Allah Bapa sendiri bersaksi tentang Anak-Nya melalui suatu gabungan perkataan maupun karya-Nya (Yoh. 5:31-40; 8:12, 14). Perkataan-Nya menafsirkan karya-Nya, dan karya-Nya mendramatisasi perkataan-Nya. Dan sesudah kematian Yesus, Roh kebenaran [uga akan bersaksi tentang Dia (Yoh. 15:26-27).

Banyak sarjana yakin bahwa Yohanes sengaja mengumpulkan tujuh saksi dalam bentuk tujuh mujizat besar. Mujizat-mujizat ini didefinisi haik sebagai "kuasa-kuasa" (dunameis), sebab mereka merupakan ungkapan kuasa Allah yang kreatif, maupun sebagai "keajaiban-keajaiban"

mengatakan kepada para pemimpin orang Yahudi "bahwa keselamatan yang dari pada Allah ini disampaikan kepada bangsa-bangsa lain," dan selama dua tahun penuh "dengan terus terang dan tanpa rintangan apaapa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus" (Kis. 28:28-3 I).

Ada tiga alasan untuk membenarkan penambahan Kisah Para Rasul kepada Injil Lukas dalam bagian ini. Pertama, Lukas adalah penulis dari kedua kitab tersebut. Kedua, dia sendiri menegaskan kesinambungan hakiki antara keduanya; karya pertamanya (InjiJ) berisi semua yang Yesus "rnulai" lakukan dan ajarkan semasa pelayanan- Nya di bumi (Kis. 1: 1) dan karyanya yang kemudian (Kisah Para Rasul) jelas-jelas berisi semua yang terus Yesus lakukan dan ajarkan melalui para rasul yang ditunjukNya. Ketiga, kedua kitab tersebut berfokus pada pesan yang sarna, yakni keselamatan dari Allah kepada seluruh dunia melalui Kristus (Luk. 2:30- 32; Kis. 28:28).

Maka, semua ini merupakan parameter dari kisah Lukas yang terdiri dari dua kitab: keselamatan (yang terdiri dari pengampunan dan Roh), Kristus (yang melalui kelahiran, kematian, dan kebangkitan-Nya memiliki kompetensi yang unik untuk menyelamatkan), dan dunia yang Dia selamatkan dengan kedatangan-Nya, tanpa memandang kesukuan, derajat, jenis kelamin, usia, atau kekayaan. Kasih Allah dalam Kristus mencakup setiap orang, terutama kaum pinggiran dalam masyarakat. Dia menjangkau keluar untuk menyentuh mereka yang dianggap oleh orang lain sebagai kaum yang tak tersentuh. Kristus menurut Injil Lukas adalah Juruselamat dunia.

o{o Kt't'III(l1l1 "II,lh 111111

) , ,-I

(terata), sebab mereka menyebabkan kckaguman. Namun istilah fuvorit Yohanes untuk itu adalah "tanda-tanda" (semeia), scbab yang lchih penting daripada fenomena material adalah signifikansi rohaninya. Mujizat-mujizat Yesus berlaku sebagai perumpamaan, yang seeara kasatmata mendramatisasi klaim-klaim-Nya dan melaluinya kemuliaan-Nya disingkapkan (Yoh. 2:11). Setiap tanda mendukung para saksi yang Yohancs kumpulkan, mendukung gambaran yang sedang dia lukiskan.

Mujizat 1. Yesus mcngubah air menjadi anggur, sebagai tanda bahwa Dia telah mcngukuhkan suatu tatanan baru. Keenam tempayan air di pesta di Kana, yang digunakan untuk pembasuhan scremonial, bisa dianggap sebagai lambang-lambang dari tatanan lama, yaitu Yudaisme. Namun Yesus mengubah air mcnjadi anggur scbagai tanda bahwa di dalam dan bcrsama kedatangan-Nya, Kerajaan Allah telah tiba. Kebenaran hakiki yang sarna dikembangkan kctika Dia membersihkan bait Allah (Yoh. 2: 13-23), kctika Dia mcnyampaikan kcpada Nikodemus tcntang kcniseayaan kclahiran baru (Yoh. 3: 1-21) dan kctika Dia menawarkan air hidup kepada percmpuan Samaria (Yoh. 4: 1-42). Ycsus sudah memulai suatu awal yang baru.

Mujizat 2 dan 3. Ycsus melakukan dua mujizat pcnyembuhan, sebagai tanda-tanda dari klaim-Nya untuk membcri hidup yang baru. Mulamula Dia mcnycmbuhkan anak laki-laki scorang pegawai istana di Kapemaum (Yoh. 4:43, 54). Ini adalah tanda-Nya yang kedua. Kemudian, di Kolam Bctesda di Yerusalem, Dia mcnyembuhkan seorang lakilaki yang sudah eaeat selama tiga puluh delapan tahun (Yoh. 5: 1-9). Menyusul tanda-tanda ini, Yohanes mencatat pembiearaan Ycsus yang lain yang di dalarnnya Dia mengklaim bahwa Allah Bapa membcri-Nya kuasa untuk mengaruniakan hidup dan melaksanakan penghakiman. Baik melaksanakan penghakiman maupun memberi hidup merupakan hak prerogatif Allah (Yoh. 5 :24-27).

Mujizat 4. Yesus seeara ajaib mernberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, sebagai tanda bahwa Dia mengklaim sebagai roti hidup. Pemberian makan kepada lima ribu orang merupakan satusatunya mujizat yang dieatat oleh kcempat penulis kitab-kitab Injil, tctapi hanya Y ohanes yang menambahkan ucapan, yang di dalarnnya Yesus mengumumkan, "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa pcreaya kcpada-Ku, ia tidak akan haus lagi" (Yoh. 6:35). Ada rasa lapar dalam hati manusia yang tidak bisa dipuaskan oleh siapa pun keeuali Kristus, ada suatu dahaga yang

tuluk hlsa ddl'gakan olch siapa pun kccuali olch Dia. Pcrnbcrian makan "('pada Illlla ribu orang merupakan suatu perumpamaan yang didramakan dan k laun ini.

Muji:at 5. Ycsus berjalan di atas air, sebagai tanda dari klaim-Nya hahwa kckuutan-kckuatan alam tunduk kcpada otoritas Kerajaan-Nya. Kctika Y csus naik ke atas gunung untuk berdoa dan kedua belas muridNya naik pcrahu untuk menyeberangi danau, mcreka kewalahan karcna badui yang dahsyat. Mcreka mcrasa sendirian dan ditinggalkan. Namun kcmudian, dalarn kcgelapan dan hujan badai, Ycsus mendatangi mereka, dcngan berjalan di atas air. Mereka ketakutan, tetapi Dia berkata kepada mcrcka, "Aku ini, jangan takut!" (Yoh. 6: 16-21).

Mujizat 6. Yesus meneelikkan mata seorang laki-laki yang terlahir buta scbagai tanda dari klaim-Nya sebagai terang dunia. "Akulah terang dunia," kata-Nya, "barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai tcrang hidup" (Yoh. 8: 12). Kctika Y ohanes menuturkan kisah ini, dia menarik suatu kontras antara orang-orang Farisi dan orang yang tcrlahir buta itu. Kaum Farisi dapat melihat tctapi buta sceara rohani, sedangkan orang yang terlahir buta dicclikkan kembali dan pada saat yang sarna menjadi pcreaya.

Mujizat 7. Yesus mcmbangkitkan Lazarus, yang sudah mati selama cmpat hari, sebagai tanda dari klaim-Nya sebagai kebangkitan dan hidup. Dalam kisah ini, perasaan-perasaan yang kuat dari Firman yang menjadi manusia disingkapkan. Sebab Dia "masygul" dengan amarah dan murka dalam menghadapi kematian (Yoh. 11 :33, secara harfiah; "sangat terharu,") dan "menangis" karena belas kasihan kepada kedua perempuan bersaudara, Maria dan Marta, yang sedang berduka (Yoh. 11 :35). Kemudian Dia berkata, "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang pereaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya" (Yoh. 11 :25-26). Dengan kata lain, Yesus adalah hidup bagi orang-orang yang masih hidup dan akan menjadi kebangkitan bagi orang-orang yang telah mati. Sebab mereka yang hidup tidak akan pemah mati, dan mereka yang mati akan hidup kembali.

Inilah tujuh tanda yang Yohanes pilih, yang masing-masingnya mendramatisasi salah satu klaim-Nya. Inilah Yesus yang untuk-Nya Yohanes bersaksi dan yang kepada-Nya kita tclah pcreaya. Dia sudah mcngukuhkan sebuah tatanan baru. Dia adalah pemberi hidup sekaligus hakim. Dia

-r· KRISTUS Y ANt; TIAI)A TARA

'" 1\""1111'11' Id,"1t 111111

,Ill

mengendalikan kekuatan-kekuatan alam. Dia adalah roti hidup, tcrung dunia, dan kebangkitan dan hidup,

Namun ada satu sisi lain dari kesaksian Yohanes untuk Yesus. Kctujuh tanda tadi merupakan tanda kuasa dan otoritas, dan semuanya tcrcatat dalam paruh pertama dari Injilnya. Pada paruh kedua, Yohanes mencatat tanda-tanda kerendahan hati dan kelemahan. Dia memulai di ruang atas ketika Yesus melepas jubah-Nya, mengikatkan sehelai hand uk di sekeliling badan-Nya, dan, sambil berlutut, membasuh kaki kedua belas murid-Nya, Di atas segalanya terdapat salib. Menurut Yohanes, sekaJipun Yesus menyingkapkan kemuliaan-Nya melalui tanda-tanda kuasa (Yoh. 2:11), sarana utama dari kemuliaan-Nya adalah salib. "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan" (Yoh. 12:23).

Jika tujuan Yohanes dalam Injilnya adalah untuk bersaksi bagi Kristus supaya para pembaca mau percaya kepada-Nya dan menerima hidup (Yoh. 20:31), tujuannya dalam surat-suratnya, yang tepat untuk dirujuk secara ringkas di sini, adalah untuk membawa para pembacanya selangkah lebih jauh. Dia menulis "supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal" (1 Yoh. 5:13). Sebab menerima hidup adalah satu hal; mengetahui bahwa kita sudah menerimanya adalah hal lain.

Maka sesudah mengumpulkan ketujuh tanda yang bersaksi bagi Kristus, Yohanes kini .mengernbangkan tiga ujian yang membongkar keyakinan yang salah yang dimiliki orang-orang Kristen palsu dan memperkuat keyakinan yang benar dari orang-orang Kristen yang sejati. Dia tidak memperhalus ucapannya. Dia menunjukkan adanya tiga pendusta. Pertama, siapa saja yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus yang menjadi manusia adalah pendusta (1Yoh. 2:22). Ini adalah uji doktrinal. Kedua, siapa saja yang mengaku menikmati persekutuan dengan Allah tetapi masih berjalan dalam kegelapan adalah pendusta (1 Yoh 1:6). Ini adalah uji moral. Ketiga, siapa saja yang berkata bahwa mereka mengasihi Allah namun membenci saudaranya adalah pendusta (1 Yoh. 4:20). Ini adalah uji sosial.

Sebaliknya, (1) kita mengenal Roh Allah sebab Dia mengakui Kristus (1 Yoh. 4:2; bdk. 2Yoh. 9); (2) kita tahu bahwa kita mengenal Dia sebab kita taat kepada perintah-perintah-Nya (1Yoh. 2:3); dan (3) kita tahu bahwa kita sudah berpindah dari kematian ke dalam hidup karen a kita mengasihi saudara-saudara Kristen kita (1 Yoh. 3: 14). Yohanes bahkan mengumpulkan tiga kata kerja yang menjadi ciri umat Allah: mereka

IWII'IIyn hl'u"u KII',IlI", uu-rcku sallllg nH'ngasllll, dan mcrcka mcnauti 1IJ'IIIIInh 1'1'IIIIllIh Nyu ( I Y oh,\:1.' ·2il),

0. lnjil Empat Berganda

SIIIIII"" sl'lallh jni kitu suduh mclihat sepintas lalu empat wajah Kristus, IIHl'lI"fJ, musing dcngan ckspresi wajah yang berbeda. Kini kita perlu III1'III'I!.askan hahwa kccmpat-cmpatnya tidak saling bertentangan. SebaV,1I1111:U1Ol yang ditulis lJskup Stephen Neill, "Pesan inti dari keempat kitab 111111 hukanlah ajaran Ycsus melainkan Yesus sendiri.,,3 Secara pribadi ~"Y" scndir: mcrasakan manfaat dari menemukan di dalam diri keempat IlI'lIIIIIs k ituh-kitab Injil adanya empat dimensi dari tujuan Allah menyelum.ukun: panjangnya, dalamnya, lebamya, dan tingginya. Matius meuvmuknpkan panjangnya, sebab dia menggambarkan Kristus Kitab Suci v"ng mcl ihat kembali kepada masa-masa penantian panjang selama Ill'rahad-abad. Markus menekankan dalamnya, sebab dia menggambarkan l lumba yang Menderita yang memandang kedalaman kehinaan yang hurus dipikul-Nya. Dalam Lukas yang muncul adalah lebamya tujuan Allah, scbab dia menggambarkan Sang Juruselamat dunia yang dalam kr-murauan hati-Nya melihat kepada umat manusia sampai kepada "pcktrllm yang paling luas. Kemudian Yohanes menyingkapkan tingginvu, scbab dia menggambarkan Firman yang menjadi manusia yang melihal kc atas kepada ketinggian yang darinya Dia datang dan kepadanya I >Ia herrnaksud mengangkat kita.

Tidak heran Paulus berdoa agar bersama seluruh umat Allah kita dapat "memahami, betapa lebamya dan panjangnya dan tingginya dan .la lamnya kasih Kristus" (Ef. 3: 18) - dimensi-dimensi yang dianggap olch sejumlah bapa gereja mula-mula dilambangkan dalam bentuk salib.

Beberapa upaya telah dilakukan di sepanjang sejarah gereja untuk mcnyusun suatu keselarasan keempat Kitab Injil. Yang pertama sangat mungkin adalah Tatian, yang bertobat kepada Kristus ketika mengun[ungi Roma pada pertengahan abad kedua dan menjadi seorang murid dari Justinus Martir. Keselarasannya kemudian dikenal sebagai Diatessaran, yang aslinya merupakan istilah musik untuk keselarasan empat bagian, Karya ini merupakan penjalinan keempat Injil dengan begitu luar biasa piawainya, tanpa tambahan-tambahan editorial sedikit pun dari Tatian.4

30

'1< KRISTUS YANG TIADA TARA

,I, """1111'111 ""ilh 111.111

II

Upaya serius selanjutnya untuk menyelaraskan keempat kitab Injil dilakukan oleh Augustinus. Tujuan utamanya adalah untuk mernbuktikan kebenaran keempat kitab Injil tersebut terhadap kritikan-kritikan yang berbau fitnah dari para filsuf kafir. Dia dengan sistematis membandingkan catatan oleh para penulis kitab-kitab Injil ten tang ucapan dan karya Yesus, dengan teguh mengatakan bahwa ada suatu "keselarasan" atau "konsistensi" yang sesungguhnya di antara mereka, dan tidak ada "perselisihan" atau "kontradiksi.i"

Ketegangan an tara satu-satunya Yesus yang otentik dan keempat wajah-Nya sebagaimana digambarkan dalam keempat kitab Injil merupakan tema dari sebuah buku yang menarik yang berjudul Four Gospels, One Jesus? oleh Richard Burridge, dekan dari King's College, London University. Burridge memiliki imajinasi yang hidup, iman yang tulus, dan semangat yang bersungguh-sungguh. Dia mengambil keempat "makhluk hidup" dari Ychezkiel 1 :10 dan Wahyu 4:7, yang wajah-wajahnya dikatakan menyerupai seorang manusia, seekor singa, seekor lembu, dan seekor rajawali, yang berturut-turut adalah raja atas segala makhluk (manusia), atas binatang-binatang buas (singa), atas hewan-hewan peliharaan (lembu), dan atas burung-burung (rajawali). Para bapa gereja menerapkan lambang-Iambang ini pada keempat penulis kitab-kitab Injil, pada Injil mereka, dan juga pada Kristus yang mereka gambarkan. Hal ini sangat biasa dalam seni Kristen. Maka Yesus menurut Injil Markus menyerupai seekor singa yang melompat-lompat ("bergegas berkeliling dan mengaum dengan penuh misteri, dan mati benar-benar sendirian"). Kristus menu rut Injil Matius memiliki wajah manusia (sebab Dia adalah Musa baru, mahaguru Israel, yang menolak ajaran-Nya, dan dengan demikian membuka jalan bagi orang-orang non-Yahudi). Yesus menurut Lukas menyerupai seekor lembu (karen a dia kuat, sabar menanggung beban mereka yang miskin, menderita, dan terpinggirkan). Akhimya Yesus menurut Injil Yohanes adalah seekor "rajawali yang terbang tinggi, melihat jauh, mahatahu" (sebab Dia datang dari ketinggian sorga untuk tinggal dengan kita di bumi dan kemudian membawa kita bersama-Nya menuju kemuliaan).

Jadi, apakah hubungan "antara keempat kitab Injil dengan Yesus yang satu?" Burridge menjawab bahwa kita harus membiarkan setiap pcnulis kitab-kitab Injil melukiskan gambamya sendiri dan menyampaikan kisahnya sendiri. Kita tidak memiliki kebebasan untuk mengubah kccmpat kitab Injil menjadi satu dengan meniadakan individualitas dari

III""IIIM IIHI"III).t klllll! 1111111 IIll'IIKlIl!lIh yllllg sutu IIICII.ladi cmpat dcngun IIlt'lI-hlh lcluhkun indrviduulitu» dari mnsing-musing kitab, schingga me- 11I1I"llIllIlklln udnnyu sutu gumhar yang kornposit. Tidak, "ada cmpat kitab 111111, ,It-IIp-"n cmpa! g:lIllhar, yang mcnyampaikan empat versi dari satu 10.1111111 1t'lIll1l1g YcsIIS." Dan kisah yang satu ini di dalam keempat versinya "'IIIP nornuuif: itu merupakan kriteria yang dipakai untuk menilai otenII'HIIIS !Inri SCl11l1:t upaya untuk merekonstruksi Yesus-Yesus yang lain."

6. Yesus dan Paulus

Kctika kita bcrgcrak dari kitab-kitab Injil kepada surat-surat, dan dengan ,klnikian dari Yesus kepada Paulus, suatu masalah langsung menghadang k itu. Apakah Paulus berhubungan dengan Yesus dalam suatu kesinamhllngan atau ketidaksinambungan? Diawali pada pertengahan abad kescmhilan belas, sejumlah sarjana menggambarkan Paulus sebagai pendiri "kcdua" atau bahkan pendiri yang "sebenarnya" dari Kekristenan. Dia dianggap merusak agama Yesus yang sederhana dan tidak rumit menjadi pcnthcologisasian yang rumit yang cenderung kita hubungkan dia. Paulus mcngutuk barangsiapa yang menyesatkan Injil Kristus (Gal. 1 :6-9); apakuh dia bersalah karena dia sendiri menyesatkannya? Albert Schweitzer mcnyatakan bahwa dia tidak melihat adanya kesinambungan yang jelas anima Kristus dan Paulus.7 Dia menyebut Paulus "orang aneh yang tidak waras" yang menyesatkan Injil yang sejati dengan dogma-dogmanya. Demikian juga pada masa kita sekarang, A. N. Wilson menulis, "Jika ada orang yang bisa disebut sebagai 'penggagas' Kekristenan .,. itu adalah Paulus. ,,8 Akibatnya, suatu gerakan "kembali dari Paulus kepada Yesus" berkernbang pada awal abad kedua puluh dan masih bergemuruh sampai hari ini.

Memang benar Paulus mengutip ucapan Yesus hanya pada empat kesempatan (IKor. 7:10; 9:14; 11:23-25; ITes. 4:15). Juga benar bahwa dalam surat-surat Paulus, secara mengejutkan ada bagian-bagian yang tidak disebutkan. Misalnya, surat-surat tidak menunjuk langsung kepada baptisan atau transfigurasi Yesus, perumpamaan atau mujizat-Nya. Tetapi, ada ban yak bukti, sering kali dengan alusi ketimbang kutipan, yang menunjukkan Paulus sangat mengenal pengajaran dan kisah Yesus. Yesus memproklamasikan Kerajaan Allah sebagai kenyataan masa kini maupun pengharapan masa depan, dengan implikasi bahwa kita hidup pada mas amasa di antaranya, antara aspek "yang sudah" dan "yang belum" dari

·r· KRIS,(,lJS Y AN(; ,(,IAIM ,(,ARA

,I' 10-""111)111110-11,111 111111

1\

keselamatan. Paulus mengajarkan perspektif ganda yang sarna. Ycsus juga mengklaim menikmati suatu hubungan yang unik dcngan Allah sebagai "Ya, Abba, ya, Bapa," yang Paulus tegaskan dengan rnenycbut Dia Anak Allah (Rm. 1:3A).

Di atas segal any a, Yesus menekankan keniscayaan penderitaan dan kematian-Nya, yang menggenapi Kitab Suci, sebagai tebusan untuk orang-orang berdosa, yang diikuti dengan kebangkitan. Dan salib dan kebangkitan merupakan inti Injil Paulus. Karena salib dan kebangkitan, orang berdosa dibenarkan hanya oleh iman tanpa perbuatan-perbuatan mereka, seperti Paulus tekankan dan seperti Yesus juga tegaskan dalam perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai. Yesus melukiskan gaya hidup yang sesuai dengan para murid-Nya, ketika Dia menyuruh mereka untuk berjaga-jaga terhadap kemunafikan dan ketamakan dan menegaskan prioritas kasih, yang tidak mendendam, yang menggenapi hukum, dan terungkap melalui pelayanan yang rendah hati. Semuanya ini selaras dengan pengajaran etika oleh Paulus. W. D. Davies bahkan sampai berkata bahwa "Paulus dipenuhi dengan pikiran dan ucapan Tuhannya.?" Ini tidak terlalu mengherankan, sebab "Kristus merupakan topik keseluruhan dari pemikiran dan Injil Paulus."'o

Jika seseorang mengalihkan pengajaran Yesus kepada keseluruhan hidup dan pelayanan-Nya, "kisah"-Nya, terbukti bahwa Paulus bukannya tidak mengetahui atau tidak memedulikan karier Yesus di bumi, sebab di dalam surat-suratnya Paulus merujuk kepada kelahiran Yesus (Gal. 4:4), garis keturunan-Nya dari Abraham dan Daud (Rm. 1 :3; 9:5), dan keluarga manusiawi-Nya (IKor. 9:5; Gal. 1:19). Paulus tahu bahwa Yesus "tidak mengenal dosa" (2Kor. 5 :21), lemah lembut (2Kor. 10: 1), rendah hati dan taat (Flp. 2:8), dan, di atas segalanya, rela mengorbankan diri bagi sesama (2Kor. 8:9). Jika Paulus tahu tentang kehidupan Yesus, dia secara khusus mengetahui dan menekankan kematian-Nya, yang didahului dengan jamuan malam yang ditetapkan-Nya (IKor. 10:16; 11 :23-26), dan diikuti oleh penguburan, kebangkitan, kenaikan, dan pengaruniaan Roh-Nya. Selanjutnya, Dia mengutus para rasul-Nya untuk menginjili mula-mula bangsa Yahudi, kemudian bangsa non- Yahudi, dan mengumpulkan umat-Nya dari setiap ras (Gal. 3:28). Misi mereka akan mengisi kesenjangan antara kedatangan-Nya yang pertama dengan yang kedua. Kemudian Dia akan datang bagaikan seorang pencuri, seperti yang diajarkan Yesus maupun Paulus, untuk menyempumakan keselamatan dan pcnghakiman-Nya.

111I\ld Wruluuu prr nuh mcuulrs suutu pcnrlnian yallg komprchcnsif "'lIllIlIg 11"111111"'1:111 ucupun d.m kisah YCSlIS olch Paulus. yang bcrjudul ,'",t! F"l/tllI"'I' n] .1,',\11,\ III' /0'11111/1/('1' (if' christianity?" Kcsimpulannya, ""',lIdlih 1)('111'1111:111 yallg sangat mcnycluruh tcrhadap masalah tersebut, IIdillah hahwn "ada tumpang-tindih yang bcsar" antara Yesus dan PauIII', I' Ada pl'rhcdaan-pcrbcdaan fokus theologis, namun semua ini tidak

h kiki ,,13 H '

hl'l art I ada pcrhcdaan pandangan yang all. ampir semua mencer-

uunkan pcruhahan situasi yang sudah terjadi. Yesus mengajar kaum Yahlldl di l'alcstina tcntang kematian dan kebangkitan-Nya, yang akan "'qadi kclak Paulus menulis kepada jemaat-jemaat yang sebagian besar adalah orang-orang non-Yahudi di dunia Yunani-Romawi tentang salib .l.tn kchangkitan. yang sudah terjadi.

Muka Wenham sudah berhasil memperlihatkan "bahwa Paulus jauh k-hih balk dilukiskan sebagai 'pengikut Yesus' daripada sebagai 'pendiri Kl'kristenan. ,,,14 Sebagaimana di antara keempat kitab Injil, demikian I"ga di antara Yesus dan Paulus, kita juga mendapatkan kesatuan dalam lll'rbcdaan.RS

KETIGA BELAS SURAT PAULUS

K ita bcrpindah dari hubungan antara Paulus dan Yesus kepada penelitian alas diri Paulus sendiri. Dia menunjukkan suatu keserbabisaan yang luar hiasa dalam surat-suratnya, yang semuanya merupakan seperempat isi dari Perjanjian Baru. Tiga belas surat dianggap sebagai tulisannya (kecuali Surat Ibrani), namun hanya tujuh di antaranya yang dianggap pasti mcrupakan tulisan Paulus, yakni Galatia, Roma, 1-2 Korintus, Filipi, lilcmon, dan 1 Tesalonika. Yang paling banyak dipertanyakan adalah Surat-surat Pastoral, sekalipun pada abad kedua puluh, suatu pembelaan yang penuh semangat terhadap keasliannya diajukan oleh banyak sarjana Pcrjanjian Baru. Saya sendiri berusaha merangkum argumen yang mendukung maupun melawan kepenulisan Paulus, dan yakin bahwa variasi gaya dan perbendaharaan kata dalam Surat-surat Pastoral, paling baik dijclaskan dengan pandangan bahwa Paulus memakai seorang juru tulis pribadi."

Maka untuk tujuan saya (yaitu menyurvei seluruh Perjanjian Baru) saya akan mengasumsikan kepenulisan Paulus atas ketiga belas surat yang dianggap merupakan tulisannya. Tidak mudah memberi penilaian atas kesaksiannya bagi Yesus Kristus, tetapi sekali lagi saya berharap untuk bisa menunjukkan bahwa ini merupakan suatu kombinasi antara kesatuan dan keragaman. Saya mengusulkan untuk mengelompokkan surat-suratnya menurut penanggalannya selama kurun waktu dua puluh tahun, dimulai dengan perjalanan misi pertama (kira-kira tahun 48-49) dan berakhir dengan kematiannya sebagai martir di Roma, yang mungkin terjadi paling lambat tahun 68. Di dalam setiap lima pengelompokan, Kristus digambarkan dengan terang yang sedikit berbeda (lih. tabel 1).

J(i

.!. J-:RISTI IS Y,\N(; TIAIJA T!\R!\

'i

Tabel 1. Ketiga belas surat Paulus

IIInd'it 1111 III;II1W;ta .uuu 1I1:11:IIkat utuu hnhkun sang rusul scndiri, mcrcku Vitlll' II 11'1 I)',al>al k;1I1 1111 II yang hcrhcda dcngan lnj il rasuli yang sejati ","Iilllg ;III1I).',n:1I1 layuk .lihakin» Allah (Gal. I :g-9). Bcgitu tajamnya 1',111111" d:ll:llll I\lnilsilkan kcbutuhan untuk setia kepada "kebenaran Injil" 1111 sl'lllll~',gil dl<\ slap hahkan untuk mengalami konfrontasi yang IIll'III:lllikan dl muka umum dcngan rekan rasulnya, Petrus, berkenaan

IIl'lIp,an l11asalah ini (Gal. 2: 11-14).

Munukin ayat kunci dari Galatia adalah Galatia 5:1, di mana Paulus

1I1(,IIIlIIS, "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerlkbkall kita. Karcna itu, berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk pnhambaan." Dengan demikian, Paulus menggambarkan Kristus seh;I)';1I Pcmbcbas tertinggi, dan keselamatan dalam pengertian kemerde-

ball. Apakah kcmerdekaan ini?

Pcrtama, kemerdekaan Kristen adalah kemerdekaan dari hukum

l'aurat. Paulus menulis tentang "kutuk hukum Taurat," yang dimaksudkan olch ungkapan ini bukanlah hukum Taurat itu sendiri melainkan pcnghakiman yang diumumkan oleh hukum Taurat atas mereka yang

t idak menaatinya. Sebab semua orang yang menyandarkan keselamatan pada pelaksanaan hukum Taurat sudah berada di bawah kutuk Allah (t iul. 3:10). Namun Kristus sudah menebus kita dari penghakiman ini dengan menjadi kutuk bagi kita (Gal. 3:13). Dia menggantikan kita, menanggung kutuk kita, dan mati sebagai ganti kita. Namun jemaat Galatia ("orang-orang Galatia yang bodoh," demikian sang rasul membcri nama panggilan kepada mereka, Gal. 3:1), bukannya menaruh kepercayaan pada Kristus yang disalibkan, melainkan percaya pada diri mereka sendiri bahwa mereka benar, dan dengan begitu mereka membelakangi salib. "Sebab sekiranya ada kebenaran [pembenaran] oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus" (Gal. 2:21). Tidak heran Paulus berketetapan untuk tidak bermegah dalam apa pun kecuali salib (Gal. 6: 14).

Akan tetapi, kemerdekaan dari hukum Taurat dan kutuknya tidak memberi kita kebebasan untuk tidak menaati hukum moral atau untuk memanjakan natur kita yang berdosa (Gal. 5: 13). Sebaliknya, kemerdekaan Kristen berarti bebas untuk melayani, bukan bebas untuk berdosa (Gal. 5:13). Bahkan "seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: 'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!'" (Gal.

5: 14; bdk. 6:2).

Kedua, kemerdekaan Kristen adalah kemerdekaan dari daging

(sarx), dari natur kita yang terjatuh dan menyenangkan diri. Paulus

7. Surat Polemik (Surat Galatia):

Kristus Sang Pembebas

Saya termasuk di kalangan mereka yang yakin bahwa Surat Galatia merupakan surat pertama yang Paulus tulis. Alasan utama saya adalah bahwa surat tersebut tidak berisi rujukan ten tang sidang di Yerusalem yang sangat berpengaruh tersebut beserta keputusan-keputusannya, yang menyatakan ba~wa orang-orang non-Yahudi yang bertobat tidak perlu disunat atau menjalankan hukum seremonial. Sekalipun argumen berdasarkan tidak adanya pembahasan mengenai suatu hal harus diwaspadai, tidak disebutkanny~ keputusan-keputusan sidang Yerusalem dalam Surat Galatia pasti berarti bahwa keputusan-keputusan itu belum diumumkan. Inilah ~ang memb~ktikan bahwa Surat Galatia ditulis pada tahun 49, antara perjalanan m1S1 yang pertama dan yang kedua.

Perkiraan Masa Kelompok Surat Pemaparan
Waktu Kristus
48-49 Akhir Surat Galatia Kristus Sang
perjalanan polemik Pembebas
misi nertama
50-52 Selama Surat-surat 1-2 Tesalonika
Kristus
perjalanan awal Sang Hakim
misi kedua
yang
akan datang
53-57 Selama Surat-surat Roma, Kristus Sang
perjalanan utama 1-2 Korintus Juruselamat
misi ketiga
60-62 Selama Surat-surat Kolose,
Kristus Tuhan
pemenjaraan penjara Filemon, Tertinggi
pertama Efesus, dan
diRoma Filipi
62-67 Selama Surat-surat 1 Timotius,
bebas dan Kristus Sang
pastoral Titus, dan Kepala Gereja
pemenjaraan 2 Timotius
kedua Galatia wajar disebut sebagai surat "polernik " ka

. . ' rena orang merasa-

kan di sepanjang surat tersebut amarah Paulus yang membara terhada guru-g~ru palsu yang mengacaukan jemaat dengan menyesatkan Inj~ (Gal. l.7). Paulus mengutuk perbuatan seperti itu. Tidak peduli apakah

38

-r· KRISTliS YAN(; '1'1;\1);\ T;\R!\

I')

menulis dalam Surat Galatia bahwa bahkan mereka yang sudah dihcuur kan oleh anugerah melalui iman di dalam Kristus tcrlibat (II dalan: xuntu perang yang terus berlangsung antara daging (natur kita yang lcluh terjatuh) dan Roh (Roh Kudus yang berdiam di dalam diri orang percaya). Perbuatan natur berdosa kita me lip uti imoralitas, pcnycmbahan berhala, kebencian, iri hati, dan ambisi yang mementingkan diri ( ial. 5: 19-21). "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtcra, kcsabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal. 5:22-23). Pemenang dalam konflik internal ini tergantung pada sikap yang kita ambil terhadap rna sing-rna sing pihak. Di satu sisi, jika kita adalah milik Kristus, kita sudah "menyalibkan" (yakni, menolak secara radikal) "natur berdosa kita dengan segala hawa nafsu dan keinginannya" (Gal. 5:24). Di sisi lain, kita harus "hidup oleh Roh" dan "dipimpin oleh Roh" (Gal. 5: 16, 25), yakni, mengikuti dorongan Roh, sebab dengan begitu daging akan tunduk pada Roh, dan buah Roh akan menjadi matang dalam karakter kita.

Kesaksian Paulus tentang Kristus sebagai Pembebas dalam Surat Galatia adalah bahwa melalui salib-Nya kita bisa ditebus dari kutuk hukum Taurat dan bahwa me1alui Roh-Nya kita bisa bebas dari kuasa natur kita yang telah jatuh. Akibatnya, kita bukan lagi budak, melainkan keturunan Abraham dan anak-anak Allah (Gal. 3:29; 4:7).

IIV.II'.illi IIl1l1k 1111111\ 1IIl'n'b (I Tl'S, 2:7, II) dan inuin sckali mcnolong 1III'II'kil Yllllg slIlIgal uu-uu-rluknn pcrtolongan. Sckalipun dia mcndesak 1III'II'ko! IIgl11 "xnhar tcrhadup scmua orang," dia rncnunjukkan tiga kate- 1'.1111 khuxux dan orang yang dimuksud. Orang-orang percaya di Tesaloni- 1\11 lturus "[mcncgor [ tucrckn yang hidup dengan tidak tertib, [mengjhibur IlIl'll'k:l yang Iawar hati, [mcmlbela mereka yang lemah" (1 Tes. 5: 14). l umpaknyn ada kcmungkinan, seperti yang dikatakan oleh sejumlah kuuu-nuuor. hahwa "yang lcmah" di sini adalah mereka yang lemah terIlIIdap cobaun scksual, yang dinasihatkan oleh Paulus agar mengendalikun din dalam I Tcsalonika 4:1-8; bahwa "yang hidup dengan tidak tcruh" tcuaktoi), yang mengabaikan pekerjaan mereka, perlu ditegur agar nu-mpcrhatikan urusan mereka dan bekerja dengan tangan mereka sendiri (ill's. 4:9-12); dan bahwa "yang tawar hati" adalah orang-orang yang hcrduka yang diliputi kesedihan yang amat sangat (l Tes. 4: 13-18).

Narnun penekanan utama dari surat-surat Tesalonika berkaitan deligan kcdatangan Kristus untuk menyelamatkan dan menghakimi. Masmg-masing dari delapan pasal yang membentuk 1 dan 2 Tesalonika berlSI rujukan kepada parousia (kedatangan Kristus kembali)." Pengharapan akan masa depan adalah unsur penting dalam pemuridan Kristen, yang hukan hanya dicirikan oleh iman dan kasih, tetapi juga oleh "pengharapan" (I'I'es, 1:3). Dan sesudah berpaling dari berhala-berhala kepada Allah, kita melayani Allah yang hidup sekaligus "menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga" (1 Tes. 1: 10).

Sebagaimana yang selalu terjadi, Paulus menyebutkan tentang masalah-masalah pastoral yang hanya bisa diatasi oleh doktrin yang benar. Surat-surat kepada jemaat di Tesalonika berisi empat bagian eskatologi utama, yang setiap bagiannya ditujukan kepada kelompok orang tertentu.

Pertama, mereka yang sedang berdukacita (1 Tes. 4: 13-18). Mereka takut bahwa ternan atau kerabat mereka yang sudah meninggal akan berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan ketika Kristus datang, dan bahkan kehilangan berkat-berkat yang akan Dia berikan. Jawaban Paulus memberikan suatu pengakuan eskatologis yang sederhana, "Kita percaya, bahwa .. , maka kita percaya juga .... Ini kami katakan kepadamu" (1 Tes 4:14-15): (1) Tuhan Yesus sendiri akan datang dari sorga, (2) orang Kristen yang mati akan menjadi yang pertama bangkit dari kematian, (3) Allah akan membawa mereka dengan Kristus, (4) kemudian orang-orang Kristen yang hidup, tidak akan mendahului orang-orang Kristen yang telah mati, tetapi akan dipersatukan kembali dengan mereka dan dengan

8. Surat-surat Awal (1-2 Tesalonika):

Kristus Sang Hakim yang Akan Datang

Paulus dan rekan-rekannya mengunjungi Tesalonika semasa perjalanan misinya yang kedua, dan suratnya yang pertama kepada mereka terbukti ditulis dan dikirmkan hanya dalam waktu beberapa bulan, bahkan beberapa minggu, dari waktu kunjungannya. Dan suratnya yang kedua menyusuI segera sesudah itu. Jadi kedua surat tersebut ditujukan kepada sejumlah orang yang baru bertobat. Mereka baru saja "berbalik dari berhalaberhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar" (l Tes. 1 :9).

Tujuan langsung Paulus dalam surat pertamanya adalah untuk membela diri terhadap fitnah dari orang-orang yang terus berkata bahwa dia melarikan diri dari kota mereka dan tidak peduli terhadap orang-orang percaya Tesalonika yang imannya masih baru tumbuh. Tujuan keduanya bersifat pastoral. Dia mengasihi mereka sebagaimana ayah dan ibu me-

40

+ KRISTtlS \\N(; IIAllA IAlll\

II

Tuhan, dan (5) dengan demikian, kita semua akan bcrsama dcngan Tuhan selama-lamanya. Ini tidak menjawab semua pertanyaan kita, tetapi mL'I11- beri kita inforrnasi dasar tentang kembalinya Kristus, kebangkitan, pcngangkatan, dan reuni.

Kedua, sebagian orang penasaran dengan kronologi (1 Tcs. 5: I_I I).

Mereka tampaknya khawatir tentang apakah mereka siap berdiri di hadapan Kristus pada saat kedatangan-Nya, dan mereka berpikir bahwa cara terbaik untuk bersiap sedia adalah dengan mengetahui tanggalnya. Namun ini merupakan solusi yang salah terhadap masalah mereka. Sebab mereka tahu bahwa kedatangan Tuhan adalah tiba-tiba dan tak terduga (seperti pencuri di waktu mal am) dan mendadak dan tak terhindarkan (seperti persalinan pada akhir masa mengandung). Cara yang benar untuk mempersiapkan adalah dengan mengingat bahwa kita sudah menjadi anak-anak terang. Karena kita milik hari itu, kita harus terus berjaga-jaga, agar jangan sampai terlelap, Maka kita tidak akan terkejut.

Ketiga, sebagian orang mengalami aniaya-aniaya besar (2Tes 1 :4- 10). Ketekunan dan iman mereka di tengah ujian mereka bagaimanapun juga membuktikan penghakiman Allah yang benar. Sebab barangsiapa ikut menderita bersama Kristus, dia juga akan ikut berbagian di dalam kemuliaan-Nya. Lebih dari itu, Allah itu adil, dan suatu hari nanti akan membuktikan kebenaran umat-Nya di hadapan orang banyak. Pada saat yang sarna, Dia akan menghukum mereka yang sengaja menolak kebenaran, yang "tidak mau mengenal Allah dan ... tidak mentaati Injil" (ay. 8). Pilihan takdir di sorga dan neraka dipaparkan dengan penggambaran yang hidup. Di satu sisi, Tuhan Yesus akan dimuliakan umat-Nya (ay. 10). Di sisi lain, mereka yang menolak Dia akan dijauhkan dari "hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya" (ay. 1:9).

Keempat, sebagian orang bingung dengan rumor bahwa hari Tuhan sudah datang. Paulus membuktikan hal ini salah dengan menyingkapkan filsafat sejarah Kristen (2Tes. 2:1-12). Parousia (kedatangan Kristus) tidak bisa terjadi, jelasnya, sampai pemberontakan (datangnya Antikristus) terjadi, dan pemberontakan ini tidak akan terjadi kecuali apa yang mengekangnya disingkirkan. Jati diri dari pengaruh yang mengekang (2Tes. 2:6), yang diwujudkan dalam 2 Tesalonika 2:7, te1ah lama menyita perhatian orang-orang yang mempelajari Alkitab. Tetapi rekonstruksi yang paling mungkin adalah bahwa hal ini berhubungan dengan Roma dan kuasa pemerintahan. Sebab "apakah rintangannya," tanya Tertullian, "kecuali pemerintah Romawi?"!" Memang setiap pemerintah, yang men-

pllll 1H'1l1Cldlara Il'SIlIl alas hukum dan pcraturan, kcadilan dan kcdamaian 111I1·.Y;II01kOlI, dimaksudkan olch Allah untuk mcngckang kcjahatan.

SI'Illl'nlara itu, sckalipun daJam mas a pengekangan, dan sebelum ma- 1111'0101 .lurhaku (Antikristus) itu dinyatakan, "secara rahasia kedurhakaan u-Iuh mulai bckcrja" (2Tes. 2:7). Gerakannya yang antisosial, antihukum, clOI11 OII1II-Allah kini sangat banyak dilakukan dengan diam-diam. Kita meI usnkan pcngaruh subversifnya dalam atheisme, totalitarianisme, mateuuhsmc, rcJativisme moral, dan ke1onggaran-kelonggaran dalam masyaI aka!. Namun suatu hari kelak, subversi rahasia akan menjadi pemberonrakun tcrbuka, ketika manusia durhaka tersebut terungkap. Ketika itu kita luxa mcngharapkan tibanya masa kekacauan politik, sosial, dan moral (yallg untungnya hanya untuk masa yang singkat) yang di dalamnya baik Allah maupun hukum benar-benar diinjak, sampai tiba-tiba Tuhan Yesus dOl lang dan melemparkan dia.

Maka di sini terdapat tiga adegan dalam drama eskatologis. Sekarang .idaluh masa pengekangan, di mana manusia durhaka sedang ditahan. Selanj utnya akan datang masa pemberontakan, di mana kontrol hukum akan disingkirkan dan manusia durhaka akan terungkap. Akhimya akan tiba masa retribusi, di mana Tuhan Kristus akan mengalahkan dan menghancurkan si Antikristus. Inilah program Allah. Sementara itu jemaat Tesalonika harus berdiri teguh dalam pengajaran yang sudah mereka terima sebclumnya dari sang rasul. Apa pun kesulitan mereka, Paulus mengarahkan mereka kepada Kristus yang akan datang itu.

9. Sur-at-sur-at Utama (Rom a, 1-2 Korintus):

Kristus Sang Juruselamat

Selama apa yang disebut sebagai perjalanan misi ketiga Paulus, dia menghabiskan dua tahun lamanya di Korintus dan tiga tahun di Efesus. Di kedua kota tersebut, dia memulai di rumah-rumah ibadat orang Yahudi, dan hanya ketika kaum Yahudi menolak Injillah maka dia pindah ke tempat-tempat umum: di Korintus ke rumah Titius Justus, dan di Efesus ke ruang kuliah Tiranus.

Sekalipun selama lima tahun dia sibuk dalam pelayanan penginjilan, apologetika, dan pengajaran, setidaknya Paulus tidak bepergian. Jadi sepcrtinya dia memiliki waktu utnuk menulis. Dalam masa inilah dia menulis suratnya kepada jemaat di Roma (yang bahannya mungkin telah dia

+ I\IUSTI IS \AN(; TIAI)/\ TAHA

+ 1\1'11g" !It'lilS Sill'''' l'aulus

·11

uji cobakan di ruang kuliah Tiranus) dan kcdua suratnya yang mas II 1 tersisa kepadajemaat di Korintus.

lsi dari ketiga "surat utama" ini lengkap dan beragam, karena scuap suratnya ditulis untuk menanggapi kebutuhan dan masalah tertcntu. Mcskipun demikian, tidak adil rasanya jika menyebutkan "keselamatan" scbagai tema yang dominan dari ketiganya. Berikut ini ayat-ayat kuncinya:

• Roma 1: 16: "Aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapijuga orang Yunani."

• 1 Korintus 1 :21: "Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil."

• 1 Korintus 15:1-2: "Aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima .... Oleh Injil itu kamu diselamatkan."

• 2 Korintus 6:2: "Pada hari AIm menyelamatkan, Aku akan menolong engkau."

,1111I'lrHllllk:tl1 d(,lIgall Krixlus (rnclalui baptisan) dalarn kcmatiun dan kc- 1111111',"111111 Nyu, maka mcskipun mcmang tidak mustahil jika kita masih "'IIIP lusu hcrdosu. tctupi sangat tidak bisa dibayangkan jika kita sengaja 11'111', hl'lllllsa. Hagallmll1a mungkin kita masih hidup dalam apa yang di ,llIlalllllya k itu sudah mati?

1 )alalll Rorna 7 Paulus menjawab kritik kedua, bahwa hukum Taurat

YlIlIg harus dipcrsalahkan dalam hal dosa. Sebaliknya, Paulus mempersalnhkun "daging" kita, yakni natur manusiawi kita yang telah terjatuh. 1{llllla "I hcrbicara penuh tentang kuasa dosa yang ada dalam diri ini, na- 1111111 Rorna X berkaitan dengan Roh yang berdiam dalam diri, yang IIH'I:IIIII Diu saja kita bisa "mematikan perbuatan-perbuatan tubuh" dan klla akan hidup (Rm. 8:13). Sang rasul juga menantikan penebusan bagi 011:1111 scmcsta (Rm. 8: 18-27) dan mengungkapkan keyakinannya yang tak u-rpatahkan akan keselamatan ultimat kita, karen a tidak ada sesuatu pun yang hisa memisahkan kita dari kasih Allah (Rm. 8:28-39).

Rorna 9-11 jelas bukan selipan seperti yang disangka sebagian pemhaca, melainkan suatu bagian integral dari argumen Paulus. Sepanjang paruh pertama suratnya, Paulus tidak lupa pada beragamnya etnis di dalam jemaat Roma ("pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Y unani," Rm. 1: 16; 2:9-10) maupun ketegangan yang terus mengemuka antara orang Kristen Yahudi yang minoritas dan Kristen non-Yahudi yang mayoritas. Kini tiba saatnya untuk berbicara langsung tentang masalah theologis yang mendasar. Bagaimana orang-orang Yahudi sebagai satu keutuhan bisa menolak Mesias mereka? Dan bagaimana dimasukkannya orang-orang non-Yahudi adalah sesuai dengan reneana Allah? Pada awal setiap pasal, Paulus membuat suatu pemyataan yang emosional tentang kerinduannya akan keselamatan orang-orang Yahudi dan pada kesinambungan keyahudiannya sendiri (Rm. 9: 1-6; 10: 1; 11: 1).

Di Roma 9, Paulus membela kesetiaan Allah pada kovenan dengan dasar bahwa janji-janji-Nya tidak dibuat untuk seluruh keturunan Yakuh, melainkan kepada orang-orang Israel di dalam bangsa Israel, yakni kaum tersisa yang merupakan umat pilihan. Namun, dalam Roma 10, kctidukpereayaan bangsa Israel tidak dilihat sebagai akibat tujuan Allah dulum memilih (sebagaimana dalam Rm. 9) melainkan karena kesombonuau, ketidakpedulian, dan kekerasan hati. Maka, dalam Roma 11, Paulus 111(' natap ke masa depan. Dia mengumumkan bahwa dosa Israel tiduk 1111111 (karena ada suatu kaum tersisa yang percaya), dan juga tiduk IltHli (karena akan ada suatu pemulihan). Penglihatannya adalah hahwu 1IIIIIIIIh

Sural Roma. Dalam Surat Roma, sesudah pendahuluan singkat yang berpusat pada Kristus (Rm. 1: 1-5), kebutuhan seluruh dunia akan keselamatan dipaparkan dengan kuat. Pertama-tama kaum kafir yang bermoral buruk, kemudian kaum moralis yang kritis, dan kemudian kaum Yahudi yang puas diri didakwa, sampai seluruh umat manusia didapati bersalah dan tidak dapat berdalih (Rm. 1: 18-3 :20). "Tetapi sekarang," lanjut Paulus, dengan kuat dia membalikkan, "kebenaran Allah" (yakni, jalan kebenaran Allah untuk "membenarkan" orang-orang yang tidak benar) sudah dinyatakan dalam Injil (Rm. 3:21-31), harus diterima hanya dengan iman saja, seperti yang jelas terjadi dalam kasus Abraham (Rm. 4). Akibatnya, sesudah dibenarkan oleh iman, kita menikmati damai sejahtera dengan Allah, kita berdiri dalam anugerah, dan kita bergembira dalam menantikan keberbagianan kita di dalam kemuliaan Allah (Rm. 5:1-11).

Sekarang sudah ada dua kelompok manusia yang digambarkan, satu ditandai oleh dosa dan kesalahan, yang lain oleh anugerah dan iman. Pemimpin kelompok manusia yang lama adalah Adam, pemimpin kelompok yang baru adalah Kristus. Dengan ketepatan yang hampir matematis, Paulus membandingkan dan mengontraskan keduanya (Rm. 5: 12-21).

Selanjutnya Paulus menanggapi dua kritik. Dalam Roma 6, dia melawan fitnah bahwa Injil mendorong muneulnya dosa. Karena kita sudah

·r· KIUSTlJS Y;\N<; '1'1;\»;\ T;\IL\

yang penuh yang terdiri dari orang-orang Yahudi maupun non- Yahudi akhimya akan dikumpulkan (Rm. 11: 12, 25). Tak heran jika prospck 1111 menyebabkan dia menyerukan suatu doksologi, yang di dalarnnya dia memuji Allah karenadalarnnya kekayaan maupun hikmat-Nya (Rm. 11 :33-36).

Dalam Roma 12 Paulus beralih dari doktrin kepada etika. Berdasarkan rahmat Allah, yang telah dia jabarkan sebelurnnya, dia menycrukan pengudusan tubuh kita dan pernbaruan akal budi kita. Pilihannya antara rnenjadikan diri sarna dengan gaya dunia atau diubahkan sesuai dengan kehendak Allah.

Selanjutnya, kehendak Allah berkenaan dengan relasi-relasi kita - yang sernuanya diubah secara radikal oleh Injil. Paulus rnembicarakan tujuh di antaranya: pertama-tama relasi kita dengan Allah (Rm. 12: 1-2), kemudian dengan diri kita sendiri untuk mengevaluasi karunia-karunia kita (Rm. 12:3-8) dan ketiga dengan sesama (Rm. 12:9-16) dalam suatu kasih yang mempersatukan keluarga Kristen. Keempat, ada relasi kita dengan musuh kita dan dengan pelaku kejahatan, yang menggemakan panggilan Yesus agar kita tidak membalas (Rm. 12:17-21), dan kelima dengan pemerintah, yaitu dengan mengakui otoritas dan pelayanan yang Allah berikan (Rm. 13: 1-7). Dalam Roma 13: 8-1 0, Paulus membicarakan kembali tentang kasih, dengan menegaskan bahwa kasih kepada sesama kita rnerupakan suatu utang yang belum terbayar dan penggenapan hukum Taurat. Relasi keen am ini lebih mendesak karena akhir zaman semakin mendekat (Rm. 13:11-14).

Relasi ketujuh dan yang terakhir yang Paulus bicarakan dengan cukup panjang lebar berkenaan dengan perilaku kita terhadap orangorang "yang lemah," yang memiliki hati nurani yang terlampau peka yang tidak boleh kita injak-injak (Rm. 14:1-15:13). Sebaliknya, mereka harus disambut ke dalam keluarga sebagaimana Kristus telah rnenerima kita.

1'1111111'. IlIl'lIgllklllll hagwlI 1111 dcngun suatu pcnglibutun yang 1I1<.Iah h'II111111-t Olllllg pcrcuyu Yuhudi dan nOIl-Yahudi yang disatukan oleh "kei ukunuu" yall)!, drkuruniukun Allah schingga "dcngan satu hati dan satu •• IHIIII"IH'ISilll1a~SaIl1<l mcrcka I11cl11uliakan Allah.

Sill 011 n-rschut (1iIUluP dcngan kabar tentang rencana perjalanan

l'uulus. sulam-salam pribadi kcpada dan dari sejumlah pribadi yang diseluukun numunyu. suatu pcringatan terhadap guru-guru palsu, da~ doksoIlIgl u-rakhir yang scrupa dengan pendahuluan surat, yang menymggung 1111'1 Kristus, arnanat dari Allah, peri hal menjangkau bangsa-bangsa, dan

«-ruun kcpada kctaatan iman (Rm. 15:14-16:27). .

Sural Rorna merupakan penjabaran tentang keselamatan yang palmg

mcnycluruh dalam Perjanjian Baru, yang meng~ambarkan pentingnya, hl'llluknya, dan maknanya, menunjukkan implikasl-lmphkasmya yang radrkul dalarn komunitas rnultirasial yang baru, dan merayakan Yesus Kns~ Ius yang disalibkan, bangkit, bertakhta, dan yang akan datang sebagai

satu-satunya Juruselamat.

I Korintus. Surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus kira~ kira sarna panjangnya dengan suratnya kepada jemaat di Roma, tetapi isinya sangat berbeda. Surat Roma merupakan suatu pemaparan tentang Injil yang teratur dan tersusun, sedangkan I Korintus isinya beragam, yaitu terdiri dari dua puluh tema yang berbeda, yang di dalarnnya Paulus mcnanggapi baik kebutuhan-kebutuhan pastoral yang telah dirasakan perIII ketika dia melayani di Korintus maupun pertanyaan-pertanyaan ya~g icmaat Korintus ajukan kepadanya. Meskipun demikian, setiap tO~lk .ditangani dengan cermat, sehingga surat tersebut mengandung petunJ~k yang sangat berharga tentang masalah-masalah doktrin, etika~ ~an sosial yang masih perlu dipertimbangkan oleh jemaat-jemaat mas~ kl.m. .

Paulus memulai dengan suatu pengakuan tentang amblgmtas jemaat, Dia rnenggambarkannya sebagai jernaat yang kudus sekaligus yang dipanggil untuk menjadi kudus, ("jemaat Allah," lKor. 1 :2), yang bersatu sekaligus terbagi-bagi, lengkap sekaligus tidak lengkap. Secara .kh~sus sang rasul merasa ngeri dengan perselisihan-perselisihan yang terjadi dalam jemaat dan dengan penyanjungan pribadi tertentu yang beradu til balik perselisihan-perse1isihan tersebut. Ini membawa Paulus mcngcm bangkan tema "kekuatan melalui kelemahan" yang begitu dibutuhknn dalarn dunia kontemporer kita yang haus kuasa. Paulus melihat hnhwlI kekuatan ini sedang bekerja di dalam Injil salib (1 Kor. 1: 18-25). til 11"1",,,

Hal yang paling perlu diperhatikan dari ajaran-ajaran praktis Paulus tentang orang-orang yang lemah ini adalah bahwa dia mendasarkan ajaran-ajaran tersebut pada Kristologinya, dan terutarna pada kematian, kebangkitan, danparousia Yesus. Orang-orang yang lemah adalah saudarasaudara kita yang untuknya Kristus mati. Kristus bangkit untuk menjadi Tuhan mereka, dan kita tidak memiliki kebebasan untuk ikut campur dengan para hamba-Nya. Dia juga akan datang sebagai hakim kita; kita sendiri tidak boleh memainkan peran sebagai hakim.

4G

·r, KRIS,(,llS Y ANt; ,(,IA])A ,(,ARA

1/

diri orang-orang Korintus yang bertobat (lKor. 1 :26-31), dan dalarn dll'i nya sendiri sebagai pengkhotbah (IKor. 2: 1-5), ketika dia membawakan suatu pesan yang lemah dalam kelemahannya sendiri namun rncndasurkan percayanya pada kuasa Roh.

Sejajar dengan "kuasa melalui kelemahan" adalah prinsip "hikrnat melalui kebodohan." Sekalipun "pemberitaan tentang salib rnernang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa" (lKor. 1:18), Injil tctap adalah kuasa dan hikmat Allah. Dan Paulus tetap menulis tentang hikmat sejati yang sudah dinyatakan oleh Allah melalui pengilhaman Roh Kudus (lKor.2:6-16).

Sang rasul melihat dengan jelas bahwa perselisihan-perselisihan yang terjadi di dalam jemaat Korintus pada dasarnya disebabkan oleh pandangan-pandangan mereka yang salah tentang jemaat dan tentang pelayanan pastoral. Ketika kita memiliki pandangan yang rendah hati tentang jemaat, kita juga akan memiliki pandangan yang rendah hati tentang kepemimpinan Kristen. Maka dalam 1 Korintus 3 Paulus memberikan kepada kita suatu pemahaman trinitarian tentang jemaat sebagai "ladang Allah" di mana Allah adalah pengusahanya, sebagai "bangunan Allah" yang di dalamnya Kristus adalah fondasinya, dan sebagai "bait Allah" yang didiami oleh Roh Kudus. Jika pasal ini memberi kita suatu gambaran tentang jemaat, 1 Korintus 4 memberikan kepada kita suatu gambaran tentang gembala (tentu saja mula-mula sang rasul, tetapi dalam pengertian kedua adalah para pemimpin Kristen masa kini). Mereka adalah pelayan Kristus, para penatalayan penyataan Allah, sampah dunia (lKor. 4:13), dan para pemimpin ke1uarga jemaat. Setiap model atau gambaran ini adalah model yang rendah hati.

Pada pasal-pasal berikutnya, Paulus memberikan pengajaran rasuli tentang pendisiplinan, dan bahkan pengucilan, terhadap anggota jemaat yang melakukan pelanggaran besar (lKor. 5); tentang tidak memperkarakan saudara-saudara Kristen kita ke pengadilan (lKor. 6: 1-8); tentang imoralitas seksual dan pandangan Kristen tentang tubuh manusia (IKor. 6:9-20); dan tentang perkawinan, hidup melajang, dan perceraian (lKor. 7). Pengajarannya keras dan langsung pada sasaran. Paulus tidak memberi ruang untuk mengikuti budaya masa kini, sebab dia tahu bahwa gereja dipanggil untuk melawan budaya. Kita bukan dipanggil untuk secara naif menjadi sarna dengan dunia, melainkan untuk secara radikal membedakan diri dari dunia di sekeliling kita.

1 )11111111 I 1\ Olllilwi X dun I) l'nulux 1I1l"II11dal pcmbuhasan tcntanu ISll y~IIIH 111'1\11 1('IIIt1l1g hnk kuu dun pcnuubuiannyu. Contoh pcrtarna yang dihl'llknll hl'l ":11 I un dClIgall daglllg yallg tclah dipcrscmhahkan kcpada bcrhuln Yukiu, hok-hkul: orang Kristen mcrnbcli dan mcmakan daging yang ,.1'111'111111 duunl til toko daging, sudah digunakan dalam ritual persem- 1111111111 korbun kalir? Tidakkah daging seperti itu sudah tercemar? Sebagai Olllllg pcrcuya yang bcrpcngctahuan luas, Paulus bisa mengumumkan d(,lIgall lantung bahwa hanya ada satu Allah yang esa, bahwa berhala itu tuluk ada apa-apanya dan bahwa karen a itu, tidak ada alasan untuk tidak nu-uyuntup daging herhala. Namun bagaimana seharusnya kita bersikap 1('1 hadap scsarna orang Kristen, yang mungkin baru saja bertobat, yang tulnk mcmiliki pcngetahuan yang sarna ini, dan oleh karena itu memiliki 1I111alli yang lcmah atau terlalu berlebihan? Jika dia melihat kita makan, dla 1I11111gkin mcrnberanikan diri mengikuti teladan kita dengan melawan uuruninya dan dengan demikian melukainya, dan bahkan berdosa terluulup Kristus. Jika tindakanku memakan daging itu bisa menyebabkan suudaraku jatuh ke dalam dosa, Paulus menambahkan dengan hiperbola yang khas, "AIm untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging Llgi" ( I Kor. 8: 13). Maka prinsipnya jelas: pengetahuan membawa kemer.k-kuun, namun kasih membatasinya, sebab kasih lebih besar daripada peIIgctahuan (lKor. 8: 1; 13:2, bdk. 10:23-33).

Contoh Paulus yang kedua lebih pribadi baginya dan terbuka dalam I Korintus 9. Dia adalah seorang rasul, sebab dia sudah melihat Tuhan yang bangkit (salah satu syarat sebagai rasul). Seperti telah diketahui, dia punya hak untuk menikah dan menerima dukungan. Bagaimanapun, tenlara, petani, dan gembala tidak bekerja tanpa imbalan. Dan hukum Perianjian Lama berkata bahwa lembu boleh makan biji-bijian yang diiriknya dan bahwa para imam di Bait Allah boleh mendapat bagian dari korhan persembahan. Dan sebagai argumen ketiga, Tuhan Yesus sendiri mernerintahkan agar "mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu" (lKor. 9: 14). Maka tidak ada keraguan lagi tentang prinsip itu. Tetapi, Paulus melanjutkan (lKor. 9: 12, 15), dia tidak menggunakan haknya, tidak pula dia menuntutnya sekarang, Dia lebih memilih mati daripada dihalangi dari kebanggaannya bahwa dia memberitakan Injil tanpa menuntut imbalan. Selain itu, sikapnya bukanlah kebanggaan melainkan karena keharusan: "Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!" (l Kor. 9:16). Dia membuat dirinya menjadi budak bagi semua orang agar memenangkan sebanyak mungkin manusia (I Kor. 9: 19).

-I< 1\){ISTt IS YAN(; TIAIJA T,\I{A

1'1

Kedua contoh tersebut menggambarkan prinsip hakiki yang sa lila , sekalipun kita mungkin memiliki hak, sepertinya ada alasan yang bark bagi kita untuk mengabaikannya.

Dalam I Korintus 10-14, sang rasul melanjutkan dengan pcrnbahasan pertanyaan-pertanyaan penting tentang hidup dan ibadah jemaat. Dia memulai dengan suatu peringatan dari sejarah Israel bahwa gereja yang kasatmata dan yang mempunyai pengakuan mungkin saja bukan umat Allah yang tulus. Karena semua orang Israel sudah dibaptis di Laut Merah, dan semua sudah berbagian dalam makanan dan minuman yang sarna. Dengan kata lain, mereka semua sudah menjadianggota yang sudah dibaptis dari jemaat yang kasatmata. Meskipun demikian, Allah tidak berkenan dengan kebanyakan mereka, dan penghakiman-Nya jatuh atas diri mereka di padang gurun (lKor. 10:1-13). Sesudah membuat pembedaan menyeluruh yang penting antara jemaat nominal dan jemaat sejati (yang tetap perlu dibuat hari ini), sang rasul melanjutkan kepada aneka aspek ibadah umum.

Pertama, mereka harus menjauhkan diri dari penyembahan berhala, sebagaimana Israel pun harus begitu, karena mengambil bagian dalam tubuh dan darah Kristus tidak setara dengan perjamuan-perjamuan dan pengorbanan kepada berhala kafir. "Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan," Paulus menyatakan, "dan juga cawan roh-roh jahat" (IKor. 10:21).

Selanjutnya, Paulus memberikan pengajaran mengenai ibadah umum di Korintus, yang sudah dicemari oleh perilaku yang tidak pada tempatnya. Yang pertama berkaitan dengan masalah jenis kelamin. Kesulitan yang kita miliki dalam menafsirkan pengajaran Paulus adalah bahwa dia menggabungkan persoalan theologis dan budaya dalam bagian yang sarna. Kebanyakan kita akan setuju bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang panjangnya rambut dan mengenakan cadar merupakan budaya, yang mungkin beragam di tempat-tempat yang berbeda dan pada masa-masa yang berbeda. Namun pengajaran Paulus tentang "kepala" (AllahKristus-laki-Iaki-perempuan) mengandung makna theologis yang mendalam. Lagi pula, sebagaimana antara Allah dan Kristus, begitu pula antara laki-Iaki dan perempuan: "kekepalaan" bukanlah tidak bisa diselaraskan dengan kesetaraan.

Situasi kedua yang Paulus bicarakan adalah Perjamuan Tuhan. Dia sangat sedih karena perselisihan-perselisihan di dalam jemaat Korintus muncul bahkan di meja Tuhan, sehingga sebagian umat tetap lapar se-

dlltll1,hllll \'11111', 111111 1I1111111k Mnku Paulus uu-mpcrmgntkun para pcmbu,,111\,11 1!'1I111t1g pt'lH'lilPilll I':kal'lsll xclnma l'crjamuun Malam Tcrakhir 111\111 11.'1)(,), Kurcna 1I1I, dia mcncgaskan scriusnya makan dan mi- 1111111 "I'llgall earn yang tiduk layak dan mendcsak perlunya memeriksa till I ~1'I'l'hlll1 dulang kc meja, agar mereka tidak mengalami lebih banyak Il('lIghilk unun Allah.

Scltuuulnyu, dalum I Korintus 12-14, Paulus menanggapi pertanya- 1111 1ll'llanYilan mcrcka tentang charismata, karunia-karunia rohani. Bagi,III un mcrupakan schuah contoh yang terkenal dari tema keberbedaan .lnl.uu kcsaiuan. l-mpat kali Paulus menekankan kesatuan hakiki jemaat 1\ oruitus. schagai latar belakang untuk menghargai keberagaman mereka. l'crt.una, mcrcka semua sudah menerima Roh Kudus, sebab "tidak ada '.I'llIang pun, yang dapat mengaku: 'Yesus adalah Tuhan,' selain oleh I{lIh Kudus" (lKor. 12:3). Kedua, mereka memiliki pengalaman akan lruutus yang sarna, scbab di ba1ik karunia dan pelayanan mereka yang hcrbcda tcrdapat "satu Roh," "satu Tuhan," "Allah adalah satu" (IKor. I.' :4-(,). Ketiga, sesudah menyebutkan sembilan karunia (yang lain terdapal dalam daftar lain), Paulus menyimpulkan, "Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama" (IKor. 12:7-11). Dan keempat, Paulus menggunakan metafora kesukaannya, vakni tubuh manusia, yang "satu dan anggota-anggotanya banyak ... demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua telah dibaptis [olch Kristus] menjadi satu tubuh dan kit a semua diberi minum dari [dcngan] satu Roh" (lKor. 12:12-13).

Di se1uruh sisa dari I Korintus 12, sang rasul mengembangkan model "satu tubuh, banyak anggota." Semua anggota tubuh berrnanfaat dalam berbagai hal. Maka kita tidak boleh meremehkan karunia kita sendiri ataupun tidak menghargai karunia sesama. Orang sombong yang berkata, "Saya tidak membutuhkan Anda," dan orang yang rendah hati yang berkata "Anda tidak membutuhkan saya," merupakan sikap-sikap yang mcrusak, Secara perlahan-lahan keduanya merusak kesatuan-dalam-perbcdaan tubuh. Mereka perlu mendengar penegasan "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya" (lKor. 12:27).

Sesudah memperhatikan kemungkinan bahaya bahwa keberbedaan bisa menimbulkan perpecahan, Paulus menunjukkan kepada jemaat Korintus apa yang disebutnya "jalan yang lebih utama." Hirnne kasihnya tiada taranya dalam sastra dunia. Kasih lebih besar daripada lidah dan

50

'I' 1\){ISTliS Y;\N(; '1'1;\));\ TAil A

',J

nubuat, lebih besar daripada pengetahuan dan iman, lcbih bcsar duripndu kasih sayang manusia (filantropi) dan kepahlawanan (lKor. 13:1-3). Kasih adalah hal teragung di dunia. Kasih itu sabar dan murah hati; itu sebabnya kasih tidak cemburu maupun memegahkan diri, tidak sornbong maupun kasar, tidak mencari keuntungan diri maupun pemarah. Kasih bersukacita bukan dalam kejahatan tetapi dalam kebenaran. Kasih selalu melindungi, percaya, berharap, dan memelihara (l Kor. 13 :4-7). Dan kasih tidak berkesudahan (lKor. 13:8-13). Kasih seperti ini menyambut keberbedaan dari tubuh Kristus. Kasih tidak merasa kesal dan angkuh. Kasih adalah suasana yang penting yang di dalamnya karunia-karunia rohani bisa bekerja.

Dalam 1 Korintus 14 Paulus kembali membicarakan tentang karuniakarunia roh dan khususnya tentang bemubuat, yang dinyatakannya lebih menguntungkan ketimbang karunia berbahasa roh karen a memberi pengetahuan dan memberi kekuatan, dorongan dan penghiburan kepada manusia (lKor. 14:3). Hal ini sesuai dengan prinsip sang rasul: "Hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat" (l Kor. 14: 12).

Surat ini dimulai dengan perselisihan yang memecah belah jemaat Korintus. Sebaliknya, 1 Korintus 15 (pasalnya yang terakhir, yang mengandung isi utama, terpisah dari pesan pribadi di lKor. 16) merupakan suatu pemaparan Injil yang sangat luar biasa yang, lebih dari apa pun juga, diperhitungkan untuk mempersatukan jemaat.

Paulus berkata bahwa dia hendak mengingatkan jemaat Korintus tentang Injil, yang dia anggap sebagai pesan yang dapat dikenali oleh seluruh dunia. Dia sendiri sudah memberitakan Injil itu kepada mereka, dan mereka sudah menerimanya. Dan, mereka sudah berdiri teguh di atasnya. Dan mereka diselamatkan olehnya, selama mereka teguh berpegang padanya, karen a jika tidak, maka sia-sialah kepercayaan mereka. Apakah Injil ini? Injil ini adalah tradisi rasuli yang sudah diterimanya dan diteruskannya. Dan inti dari Injil adalah empat peristiwa: kematian, penguburan, kebangkitan, dan penampakan Tuhan Yesus.

Meskipun demikian, mungkin lebih jelas apabila kita menjadikan eksplisit apa yang sudah pasti tersirat, yaitu bahwa keempat peristiwa ini tidak memiliki arti penting yang setara. Kejadian yang memiliki arti penting tertinggi, sebagaimana yang kita tahu dari referensi yang berulang dalam Perjanjian Baru, adalah kematian dan kebangkitan Yesus; arti penting dari penguburan dan penampakan ada dalam hubungan dengan ini.

Mllkll KnNIII~ 1111111 hllgl dosu-dosu kitu mcnurut Kituh Suci dan kcmudian .lrkulnn kuu 1IIIIIIk nu-mpcrlihutkan kcnyataan kcmatian-Nya. Sclanjutnya, Kw.IIIN hllngkll pndu han kcliga scsuai dcngan Kitab Suci dan kemudian 1111111'11 dan uunpuk. mcmpcrlihatkan kcnyataan kebangkitan-Nya.

l'uulus mclunjutkun dan mernberikan daftar penampakan setelah kehllllgkilan, haik secant rcsmi rnaupun pribadi, kepada kelompok maupun pnbudi-prihadi, dengan mcncmpatkan dirinya sendiri pada akhir daftar tcrschut: Bcbcrapa hal perlu dibicarakan tentang pengalaman di jalan mcnuju I )amsyik.

l'crtama, itu mcrupakan suatu penampakan setelah kebangkitan yang slingguh-sungguh terjadi, bukan semacam penglihatan atau aparisi. Kita tuhu ini karena Paulus memasukkannya dengan penampakan-penampakan lain yang dia tulis dan karena apa yang "dibangkitkan" adalah apa yang sudah "dikubur," yakni tubuh Kristus. Lagi pula, Paulus beralih langsung dari "Ia menampakkan diri juga kepadaku" menuju "aku adalah yang paling hina dari semua rasul," sebab suatu penampakan setelah kehangkitan merupakan syarat mutlak bagi kerasulan (lih. Kis. 1 :21-22,25; IKor.9:1).

Kedua, sekalipun itu merupakan suatu penampakan setelah kebangkitan yang sungguh-sungguh terjadi, penampakan ini tidak lazim karen a tidak terjadi selama empat puluh hari (seperti semua lainnya), melainkan sesudah kenaikan.

Ketiga, itu merupakan penampakan terakhir, yang terjadi "paling akhir dari semuanya." Apa pun penglihatan tentang Yesus yang sebagian orang akui terjadi sejak saat itu, kita tidak boleh menganggapnya sebagai penampakan setelah kebangkitan.

Sesudah memberikan daftar penampakan ini, Paulus kini menyimpulkan dengan pemyataan penting tentang Injil (IKor. 15:11): "Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya." Keempat pemyataan ini sangat jelas: Aku, mereka, kami, dan kamu. "Aku" adalah Rasul Paulus dan "mereka" adalah para rasul Yerusalem. "Kami" adalah segenap rasul sekalian, yang memberitakan Injil yang sarna, dan "kamu" adalah para anggota jemaat Korintus yang semuanya sudah menerimanya. Itu merupakan klaim tentang kesatuan proklamasi para rasul maupun iman jemaat, sejalan dengan keberbedaan mereka dalam hal karunia.

Seluruh sisa 1 Korintus 15 merupakan suatu pemyataan yang dengan argumentasi yang ketat tentang aspek-aspek yang berbeda dari kebangkit-

-I- KI{ISTIIS rAN(; TIAJ)A Ti\I{A

" \

an: akibat-akibat yang mengerikan jika Kristus tidak dibangkitkan (I Kor. 15:12-19); kenyataan bahwa Kristus sudah bangkit, dengan demikian memulai program eskatologis (IKor. 15:20-28); lebih banyak pertanyaan tentang situasinyajika tidak ada kebangkitan (l Kor, 15:29-34); pengajaran tentang natur dari tubuh kebangkitan, yang menggabungkan kesinambungan dengan tubuh duniawi kita maupun dengan ketidaksinambungan (IKor. 15:35-49); suatu keyakinan bahwa mereka yang mati akan dibangkitkan dan bahwa mereka yang tetap hidup sampai kedatangan Kristus akan diubahkan, sehingga kematian akan ditelan dalam kemenangan (lKor. 15:50-57); dan suatu nasihat terakhir kepada para pembacanya agar berdiri teguh dan bekerja keras, karena mengetahui bahwa dalam terang kebangkitan, pekerjaan mereka tidak sia-sia (lKor. 15:58).

2 Korintus. Relasi-relasi sang rasuI dengan jemaat Korintus (baik kunjungan-kunjungan maupun surat-suratnya) rumit dan tidak perlu kita perhatikan di sini. Namun saya mencatat bahwa 2 Korintus merupakan surat yang paling pribadi dari semua surat Paulus, karena dia perlu membela diri terhadap banyak kritik dari orang-orang yang menganggap diri mereka sebagai "rasul-rasuI yang tak ada taranya" (2Kor. 11 :5), sekalipun kenyataannya mereka adalah "rasul-rasul palsu" (2Kor. 11: 13). Sebaliknya, Paulus melukiskan inti-inti dari suatu pelayanan Kristen yang autentik.

Dia memulai dengan suatu rujukan kepada kesulitan-kesulitan dan kesukaran-kesukaran yang dihadapinya. Di dalam dan melalui Kristus, dia mengumumkan, dia sudah men gal ami penghiburan dalam penderitaan dan bahkan kehidupan kebangkitan melalui kematian (2Kor. 1:3-11). Dalam menanggapi kritik, Paulus kini memberikan pembelaan bagi pergantian rencananya. Dia tidak bersalah karena bimbang, atau karen a berubah pikiran secara serampangan atau duniawi, atau berkata ya sekaligus tidak. Perilaku semacam itu pasti tidak sesuai dengan kesetiaan Allah dan dengan kebenaran bahwa semua janji Allah adalah "ya" di dalam Kristus (2Kor. 1: 12-22).

Ini menyebabkan Paulus membela diri dan para rekannya sebagai "pelayan-pelayan dari sebuah perjanjian [kovenan] baru" (2Kor. 3:6). Tentu saja, pelayanan kovenan lama memiliki kemuliaan sampai taraf tertentu; namun pelayanan kovenan baru adalah "lebih besarnya lagi kemuliaan," karena itu adalah pe1ayanan Roh (bukan kematian), suatu pela-

VUIIIIII 1""11111""1111'1 (bukuu 1ll'llghuklllllall), dan pcrmnncn (tiduk Il1Cl11l1- .1111 .'KII' \ 1 1 X),

• KlI'l'lIlI kitu suduh mcucrima pclayanan yang mulia ini, kita "tidak

In\\'11I hnu" (lKor. 4: 1-(,), mclainkan schaliknya, kita "senantiasa tabah" UKII' 'dl, X), lllgatlah, ada alasan-alasan yang kuat yang bisa menyehuhk"ll kua kchilungun kehcranian. Yang pertama adalah "selubung" YlIlIg nu-nutupi pikiran orang yang belum percaya agar mereka tidak me- 111t"I ICI'iIlI)!, II1Jil kcmuliaan Kristus (2Kor. 3:12-18; 4:3-4). Yan~ k~dua IItllllah "tubuli," yaitu tubuh kita yang lemah dan fana yang seperti bejana tunuh lint yang di dalamnya tersimpan harta karun Injil (2Kor. 4:7). Sarna .wkali mustahil bagi kita untuk mengatasi salah satu dari kedua masalah 1111 dcnuan kckuatan sendiri. Hanya Allah yang sanggup menyingkirkan «-lubung tcrscbut dengan membiarkan terang be~cahaya ke dalam,~eg~lnpun manusia (2Kor. 4:6). Hanya Allah yang bisa menyebabkan kehidupun Ycsus" dinyatakan dalam tubuh-tubuh kita yang fana s.eka~ang (.'.Kor. 4: 10-11), dan pada akhir zaman nanti "membangkitkan [kita] Juga hnsama-sama dengan Yesus" (2Kor. 4:14-5:10). Tidak heran kita menpldi sangat berani dan menolak menjadi tawar hati!

Pclayanan dalam kovenan baru juga merupakan suatu pe1.ayanan pcndamaian, dan 2 Korintus 5: 18-21 merupakan salah satu bagian teragung dalam Perjanjian Baru tentang topik pendamaian. Pertama, ~llah adalah pemrakarsa ("semuanya ini dari Allah ... Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus," 2Kor. 5: 18-19); tidak pernah ada pcmikiran apa pun bahwa Kristus mengambil alih inisiatif un~uk melakukan pendamaian itu dari satu Allah yang enggan. Kedua, Knstu~ adalah agen pendamaian. Dalam dua pernyataan Paulus ~ang beram, Allah menolak untuk memperhitungkan dosa kepada manusia yang melakukannya, melainkan membuat Kristus yang tak berdosa menjadi dosa demi kita (2Kor. 5:19, 21). Ketiga, kita adalah duta pendamaian, sebab b~lk pelayanan maupun pesan pendamaian telah dipercayakan. ~epada kita, dan kini Allah sedang mengundang orang berdosa kepada diri-Nya melalui kita, yang dalam nama Kristus, memohon manusia agar diperdamaikan dengan Allah (2Kor. 5: 18-20; bdk. 6: 1-2).

Paulus melanjutkan permohonannya pada awal 2 Korintus 6 dan kemudian melanjutkan dengan menggambarkan tentang pelayanannya. Di satu sisi, dia berketetapan untuk tidak menjadi batu sandungan bagi siapa pun, sehingga pelayanannya tidak bisa dicela. Di sisi lain, dia juga berketetapan untuk menjadikan pelayanannya layak dipuji dengan segala

-I< KRISTIJS YAN(; '1'11\1>1\ TAI('\

, , , ,

cara, dengan bertahan dalam segal a kesulitannya dan dcngan kuulitus kualitas moral seperti kemumian dan kasih. Paradoks dari 2 Korintus 6:8-10 (misalnya, "berdukacita, namun senantiasa bersukacita" dan "orang miskin, namun memperkaya banyak orang") mengontraskan antara penampakan dan kenyataan, apa pandangan manusia terhadap diriNya dan apa pandangan Allah.

Surat 2 Korintus pasal 8 dan 9 berbicara tentang pengumpulan bantuan yang Paulus organisasikan di antara jemaat-jemaat Yunani yang berkecukupan untuk jemaat-jemaat Yudea yang miskin. Dia memberikan setiap argumen yang dimungkinkan untuk membujukjemaat-jemaat Yunani untuk memberi dengan murah hati. Namun argumen yang terkuat dari semuanya adalah "kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus." Apakah itu? Itu adalah "bahwa la, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun la kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya" (2Kor. 8:9). Paulus tidak pemah melupakan Kristus; dia terus kembali kepadaNya, bahkan dalam hal menyampaikan alasan untuk mengumpulkan bantuan keuangan.

Dalam seluruh sisa suratnya (2Kor. 10-13) sang rasul kembali kepada pembelaannya bagi pelayanannya sendiri terhadap tuduhan para rasul palsu. Dia tidak yakin seberapa keras dia dapat atau seharusnya menjawab mereka. Karena dia adalah rasul Kristus yang sejati, yang disahkan oleh mujizat yang dialaminya dan oleh penginjilan kepada jemaat ?i ~orintus yang dirintisnya (2Kor. 10:8; 12:12), sebagian dari dirinya mgm menyatakan kekuasaan kerasulannya. Namun bagian lain dari dirinya sangat ragu-ragu. Dia tahu bahwa jauh lebih cocok untuk menarik jemaat Korintus "demi Kristus yang lemah lembut dan ramah" (2Kor. ~ 0: 1). Dalam semua peristiwa, motivasinya mumi. Dia cemburu pada jemaat Korintus "dengan cemburu ilahi." Dia telah mempertunangkan mereka kepada satu laki-Iaki, yakni Kristus, namun dia takut mereka disesatkan dari "kesetiaan yang sejati kepada Kristus" (2Kor. 11:1-3).

Paulus merasa sebagai seorang bodoh, sebab dia tahu bahwa dengan bermegah berdasarkan keyakinan diri, dia "bukan ... berkata menurut firman Tuhan" (2Kor. 11: 17). Namun musuh-musuhnya mendesak dia masuk ke dalanmya (2Kor. 11 :8). Maka dia maju terus. Dia menyebutkan asal usulnya sebagai orang Yahudi, dan kesetiaannya kepada Kristus sek~lipun dicambuk dan dipenjarakan, belum lagi semua bahaya yang berisiko dialaminya di laut dan sungai, dari para penyamun dan musuh, di kota dan pedesaan, dalam lapar dan haus, telanjang dan tidak tidur. Dan

ijl'Iill1I 1;,'1111111 hili uu. dill pcuruh 1I1(,II).',IIlallll rckunan dan kqmhalll1annya IPlhllllll1' (l'III11111 (lOIlIlIIlI (lKo!'. II :21-.U). Dan kcmudian ada "pcnglihat- 1111 1'",,""111111111 dan (lcnyalaan-pcnyalaan .. , dari 'luhan" (2Kor. 12: 1). AMill ,1111 IlIlIIk nll'''(:HII sombong kurcna scmua ini, dia mclanjutkan, "aku .11111'11 SIIIIII! dun dl dulurn dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk 1II1'III1.f.\Ill'lIh uku" (2Kor. 12:7). Duri ini sangat mungkin adalah semacam I.rkllillhilli tuhuh. Sckalipun dia memohon tiga kali agar duri itu dising- 1.111,1111, 'luhun Y L'SUS mcngatakan kcpadanya bahwa kasih karunia-Nya 11I!.IIP haglllya, scbab kuasa-Nya nyata di dalam kelemahan. Maka dia 111'111(:11 untuk bcrsukacita dalam kelemahannya, sebab ketika dia lemah, ruuku dla kuat (2Kor. 12:7-10). Dia sudah kembali kepada paradoks keklllllan mclalui kelcmahan. Itu merupakan tema utama surat-surat Paulus J.."pada jcmaat di Korintus. lni nyata dalam Kristus dan dalam Paulus;

IlIp,a nyata dalam diri kita.

10. Surat-surat Penjara (Kolose, Filemon, Efesus, dan Filipi):

Kristus Tuhan Tertinggi

Bahwa Paulus beberapa kali dipenjarakan sebagai "orang yang dipenjarakan karena Tuhan" (Ef. 4:1, bdk 2Kor. 11:23) merupakan fakta yang terkcnal. "Aku dipenjarakan karena Kristus," tulisnya (Flp. 1:13, 17). Sekali lagl, "ingatlah akan belengguku" (Kol. 4:18; Flm. 10, 13). Namun tidak scmua sarjana setuju tentang kapan atau di mana pemenjaraan-pemenjaraan ini terjadi. Saya mau mengikuti pandangan tradisional bahwa dia mcnderita dua masa pengurungan utama di Roma dengan beberapa tahun

kcbebasan di antaranya (Kis, 28:30-31).

Apa yang tampaknya merupakan perkiraan yang masuk akal adalah

bahwa ketika berada di dalam penj ara, dan dengan demikian tidak bisa melakukan aktivitas gaya hidup misionarisnya yang begitu sibuk, Paulus memiliki waktu ekstra untuk merenung. Dia menyatakan bahwa pada satu kesempatan semasa pembelaannya yang pertama, tidak ada seorang pun yang datang memberikan dukungan, sebab semua orang meninggalkan dia. Sekalipun begitu, dia menambahkan, "Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku" (2Tim. 4: 16-17). Lukas mengatakan kepada kita bahwa peristiwa yang serupa pemah terjadi sebelunmya, baik sesudah penangkapannya di Yerusalem (Kis. 23: 11) maupun ketika dia tengah berlayar menuju Roma (Kis. 27:23). Maka tidak ada alasan mengapa ini

·r, 1\ IUSlllS YAN(; llAIIA I AI(·\

'1/

tidak terjadi pada kesempatan-kcscmpatan lainnya juga. Hclcnugubc lenggu penjara dapat mengurung tubuh Paulus, tetapi tidak daput mcnuurung jiwanya. Sepertinya selama tahun-tahun tersebut, sckalipun dill tidak bisa menginjili lebih banyak kota maupun mengunjungi jcmautjemaat, pikirannya melambung tinggi ke sorga.

Surat Efesus dan Kolose saling berkaitan erat. Naskah dan topiknya sejajar dalam beberapa hal penting. Khususnya, keduanya mengungkapkan suatu Kristologi yang sangat agung.

Dalam Efesus 1:15-23, Paulus berdoa agar mata hati para pembacanya boleh dicerahkan untuk memahami kuasa Allah yang besar dan tiada tara yang ditunjukkan-Nya ketika Dia membangkitkan Kristus dan menempatkan Dia di sebelah kanan-Nya di tempat paling terhormat, jauh mengatasi semua saingan yang dapat dibayangkan. Sungguh "segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu" (Ef. 1:22-23).

Surat Kolose berisi satu perikop yang serupa tentang keunggulan mutlak dari Kristus yang mengatasi alam semesta, hanya saja perikop ini dimulai dengan penciptaan dan mencakup salib. Dengan menandai Yesus sebagai gambar yang kasatmata dari Allah yang tidak kasatmata, Paulus selanjutnya (dalam menentang semua bentuk dualisme gnostis) menyebut-Nya sebagai yang sulung atas semua ciptaan, pengantara yang mel alui-Nya semua benda diciptakan dan kini berpadu, dan pewaris yang bagi-Nya segal a sesuatu dijadikan. Dengan demikian, Dia adalah "yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan," baik dalam hal waktu maupun tingkatan. Dia adalah kepala tubuh (jemaat), dan yang sulung dari antara orang mati, "sehingga Ia yang lebih utama dalam segal a sesuatu." Sebab seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Kristus, dan melalui Kristus, Allah memperdamaikan segal a sesuatu dengan diriNya, dengan mengadakan perdamaian melalui darah-Nya yang tercurah di atas salib (Kol. 1: 15-20).

Perspektif ini sungguh mengagumkan, sebab Yesus dipandang sebagai kepala tertinggi atas ciptaan, alam semesta, dan j emaat.

Namun ada yang lebih. Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus bukan sekadar peristiwa-peristiwa penyelamatan yang objektif; tujuan Allah adalah supaya kita mau berpartisipasi secara pribadi dalam realitas peristiwa-peristiwa terse but. Paulus menegaskan ini baik dalam Surat

I I nil'. I iii II II II III SllIill Kulosc. I )Ia IlIl'II11IIS dalarn Sural l.Icsus hahwa (\111111 ,,·11111 "1I1l"1I)!.IIIdllpkall kua hcrsama-suma dcngun Kristus ... dan ... .II .lulnm KIISIIIS )'CSIIS Ia tclah mcmbangkitkan kita juga dan mem- 111"111\1111 Il'lIlpal bcrsnmu-sama dcngan Dia di sorga" (Ef. 2:5-6). Persatuan III III If!. orallg pcrcuya dcngan Kristus ini bahkan lebih kuat terungkap rlulnm SIII'al Kolosc, di mana cmpat kali kata keterangan sun (yang 111'1 alii "dcngun") digunakan: "Kamu telah mati bersama-sama dengan K ustus ... kumu dibangkitkan bersama dengan Kristus ... hidupmu 11'1 sl'lllhllnyi bcrsarna dcngan Kristus ... kamu pun akan menyatakan diri !In.sama dengcu) Dia dalam kemuliaan" (Kol. 2:20; 3: 1, 3-4).

xckulipun dcmikian, Surat Efesus dan Kolose tidak menggambarkan kcludupan orang Kristen hanya pada tingkat yang mulia ini, yaitu berpar- 11'.lpasl di dalam Kristus di dalam dunia sorgawi. Kedua surat tersebut 1"I~a tcrkcnal karen a nasihat-nasihat yang membumi berkaitan dengan jeIII:lal, masyarakat Allah yang baru, yang kesatuan, kebenaran, dan keku.lusannya Paulus gambarkan, dan berkaitan dengan keluarga atau seisi III111ah yang di dalarnnya kehidupan kita yang baru menuntut relasi-relasi haru. Ini digambarkan dengan indah dalam surat pendek kepada Filemon.

Surat kepada jemaat di Filipi juga menggabungkan tingginya iman yang Kristologis dengan perbuatan baik yang lahir dari perilaku orang Kristen. Telah diterima secara luas bahwa apa yang disebut sebagai curtnen Christi ("Nyanyian Kristus") dalam Filipi 2 merupakan hirnne Kristen purba yang telah Paulus pinjam. Namun, perkara apakah hirnne itu disusun sendiri atau dipinjam, tidaklah begitu penting karena kemungkinan mana pun yang benar, nyanyian ini telah mendapat pengesahan rasuli dari Paulus. Dengan mengutip epigram dari Yesus "Siapa yang mercndahkan diri akan ditinggikan," hirnne terse but menggambarkan tentang dalarnnya perendahan yang Yesus alami dalam inkamasi dan penebusan yang dilakukan-Nya ("Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib") dan betapa tingginya Allah Bapa meninggikan Dia sebagai konsekuensinya, dengan memberiNya "nama di atas segala nama," yakni, di atas semua yang lain, sebagaimana terimplikasi dalam gelar Tuhan, sehingga dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada, dan segala lidah mengaku Dia sebagai Tuhan (Flp. 2:9-11).

Seperti Surat Efesus dan Kolose, demikian pula halnya dengan Surat Filipi, ketuhanan Yesus tertinggi tidak terbatas pada theologi menara gading. Paulus juga menulis tentang komitmen pribadinya kepada Kristus.

-r, I\IHS'I'IIS YAN(; '1'1/\1 Ii\ lAllA

'" ",·ItVon IIC'1,,', SIII,II !',,,e1I1S

','I

Dia menarik semacam perhitungan untung rugi. Di satu sisi ncraca dill menempatkan segala sesuatu yang bisa dianggap "menguntungkan" asal usulnya, pendidikannya, budaya Ibraninya, serta meterai kcagamaan dan kebenarannya yang legalistis. Di kolom satunya dia rncnulis "Kristus." Kemudian dia membuat suatu perhitungan yang cermat dan menyimpulkan: "Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku" (Flp. 3:7-8). Lagi pula, ketuhanan Kristus ini terungkap dalam hidup-Nya sehari-hari - dalam sukacita dan kelemahlembutan, kebebasan dari kecemasan

,

damai sejahtera dalam hati, dalam suatu kehidupan pikiran yang disiplin, dan dalam kecukupan diri dalam segala keadaan (Flp. 4:4-13). Mengapa? Sebab "Tuhan sudah dekat" (Flp. 4:5).

Pendirian tentang Tuhan Yesus, yang begitu ditinggikan namun sekaligus dekat, memenuhi surat-surat dari penjara.

IIVIlIlf.!gllh kl'lll'1I1111111 IIII dClIgall kuat dan llallg 1I11111k mcncgakkun kcbc- 111111111 1111 111I~,)1.1 IllIg)!.1.

I )01101111 I 'lunouus. Paulus mcmbcrikan pctunjuk ten tang doktrin VIIIIp' hcnar. ibadah II I11U 111, pcngawasan pastoral, kepemimpinan lokal, 111111',)1.1111).'. iuwuh xosial, dan kcpcrnilikan harta materi - yang semuanya 'ollll,~al pCllllllg bagl jcmaat lokal. Dalam suratnya kepada Titus, Paulus IIl1'llgarahkan dia Icntang hagaimana memilih dan menunjuk para penilik Wllwa! dan bagaimana menghubungkan kewajiban dengan doktrin dalam kcludupan bcrjcrnaat maupun di masyarakat umum. Surat kedua kepada 11I1I()lius scpcrtinya ditulis tidak lama sebelum Paulus dihukum mati. Mungk in surat tcrsehut merupakan surat yang paling akrab dan penuh knsih sayang. Dengan mengetahui bahwa kematiannya semakin dekat, l'uulus mcndorong Timotius agar tidak malu karen a Kristus, melainkan waspada dalam hidup dan pelayanannya, agar terus berpaut baik pada kitab-kitab Perjanjian Lama maupun pada pengajaran para rasul ketika mcnghadapi masa-masa yang sulit, dan agar memberitakan Firman.

Mungkin ayat yang merangkumkan dengan paling baik berita utama dari keseluruhan tiga surat pastoral adalah 2 Timotius 2:2: "Apa yang tclah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah I!U kcpada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain." Inilah empat tingkat dalam menangani kebenaran.

Pertama, ada Paulus sendiri, "Rasul Kristus Yesus," yang kesadarannya akan otoritas rasuli tampak dalam surat-suratnya. Dia berulang kali mengacu kepada apa yang disebutnya - tanpa membeda-bedakan - sebagai "kebenaran," "iman," "ajaran yang sehat," "pengajaran" atau "harta." Implikasinya yang jelas adalah bahwa terdapat suatu doktrin yang rasuli, yang telah diajarkan oleh Paulus.

Kedua, ada Timotius dan Titus. Mereka berdiri di an tara sang rasul dan jemaat, dalam pengertian bahwa mereka mewakili dia dan menyampaikan pengajarannya kepada jemaat. Semasa ketidakhadiran sang rasul secara pribadi, otoritasnya diperantarakan melalui surat-suratnya. Sebanyak sepuluh kali dalam 1 Timotius dan Titus, Paulus menulis "Beritakanlah." "Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu" atau "Ajarkanlah dan nasihatkanlah," "Ingatkanlah hal-hal itu kepada saudara-saudara kita." Mereka harus menyampaikan dengan penuh kesetiaan kepada orang lain kebenaran-kebenaran yang telah sang rasul ajarkan kepada mereka.

11. Surat-surat Pastoral

(1 Timotius, Titus, dan 2 Timotius):

Kristus Sang Kepala Gereja

Keaslian surat-surat pastoral kepada Timotius dan Titus selama ini terus dipertanyakan sejak F. C. Baur dari Tubingen menolaknya pada tahun 1835. Namun semasa paruh kedua abad kedua puluh, sejumlah sarjana mengemukakan pandangan-pandangan yang mendukung kepenulisan oleh Paulus. Pihak-pihak yang tetap menolak keasliannya sering sangat kasar dalam evaluasi mereka terhadap theologi surat-surat tersebut, atau malah mengatakan (berdasarkan pendapat mereka) bahwa tidak ada theologi dalam surat-surat tersebut. A. T. Hanson, misalnya, menyatakan bahwa "sarna sekali tidak ada kesatuan tema di dalam surat-surat tersebut "

,

bahkan "tidak ada kesan mengenai adanya kesetaraan relasi.?"

Namun, yang lain punya pendapat yang jelas-jelas berbeda. Perhatian utama Paulus di dalam ketiga Surat Pastoral adalah jemaat. Sebab Kristus mati "untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat" (Tit. 2: 14). Sebagai konsekuensinya, Paulus menaruh perhatian pada kehidupan jemaat lokal dan khususnya pada tanggung jawab jemaat untuk memelihara dan mengajarkan kebenaran. Sebab dia mendcfinisikan jemaat sebagai "tiang penopang dan dasar kebenaran" (1 Tim. 3: 15); dasar untuk me-

(iO

,1, I\RISTIIS YAN(; TIAI>A TARA

Ketiga, Timotius dan Titus harus menunjuk para pcnilik jcmaut yang benar dan bisa diandalkan. Baik dalam 1 Timotius maupun Titus, Paulus menetapkan syarat-syarat bagi para penilik jemaat. Selain karaktcr yang konsisten dan hidup berumah tangga, mereka harus setia kepada pcngajaran para rasul dan memiliki karunia untuk mengajarkannya (Tit. 1 :<); ITim.3:2).

Keempat, para penilik jemaat ini juga "cakap mengajar orang lain."

Inilah suksesi rasuli yang sejati - yakni penyampaian ajaran para rasul dari generasi ke generasi melalui Perjanjian Baru.

Dalam masa postmodern kita, rasa percaya diri Zaman Pencerahan sudah sirna, konsep tentang "kebenaran" yang objektif ditolak, dan yang tertinggal hanyalah pendapat-pendapat pribadi dan subjektif. Maka lega rasanya mendengar perkataan Rasul Paulus. Bukan saja dia menyebut dirinya rasul "untuk ... pengetahuan akan kebenaran" (Tit. 1: 1) dan mendefinisikan jemaat dalam hubungan dengan kebenaran, tetapi dia juga menggambarkan para guru palsu sebagai orang-orang yang "telah menyimpang dari kebenaran" (2Tim. 2: 18) dan bahkan "menentang kebenaran" (2Tim. 3:8). Tidak ada yang lebih perlu untuk kehidupan, kesehatan, dan pertumbuhan jemaat daripada mengajarkan kebenaran dengan setia.

SlJRAT-SURAT UNTUK ORANG-ORANG YAHUDI

Kesimpulan

Survei ringkas atas surat-surat Paulus ini memperlihatkan secara meyakinkan ten tang keterpusatan iman, kehidupan, dan pelayanannya pada Kristus. "Karena bagiku hidup adalah Kristus," dia bisa berkata (Flp. 1 :21), dan kembali, "apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus" (Flp. 3:7). Setiap surat atau kelompok surat, yang menanggapi situasi-situasi yang berbeda, bersumbangsih dalam membentuk gambaran yang komposit akan Kristus - Sang Pembebas, Hakim, Juruselamat, Tuhan yang tertinggi dan Kepala gereja. Paulus tidak berkontradiksi dengan dirinya sendiri. Alur-alur yang beraneka warna terjalin di dalam permadaninya tentang Kristus.zs

Scsudah mempe1ajari ketiga bel as surat yang berhubungan dengan Paulus, kita beralih kepada surat-surat yang masih tersisa dalam Perjanjiun Baru: Surat Yakobus, Surat Ibrani, dan kedua Surat Petrus (ditambah Surat Yudas, yang sangat mirip dengan 2 Petrus). Paulus adalah rasul yang diakui sebagai rasul bagi orang-orang non-Yahudi (mis., Rm. 15:16; Gal. 1: 16; 2:7), sedangkan ketiga surat yang kesaksiannya bagi Kristus ukan kita perhatikan sekarang (Yakobus, Ibrani dan 1 Petrus), dengan pcrspektif-perspektif yang berbeda, dimaksudkan untuk pembaca Yahudi. Saya membahas Surat Yakobus terlebih dahulu karen a adanya dugaan ketidaksepakatan antara dirinya dan Paulus.

12. Surat Yakobus:

Kristus Sang Guru Moral

Yakobus ini adalah salah satu saudara dari Tuhan kita, yang sekalipun tidak percaya semasa Yesus masih hidup, sepertinya kemudian menjadi percaya melalui penampakan setelah kebangkitan (Mrk. 6:3; Yoh. 7:5; lKor. 15:7). Kelak dia menjadi pemimpin yang diakui dari jemaat Yerusalem dan umat Kristen Yahudi (Kis. 12:17; Gal. 1:18-19). Dia memimpin Sidang Yerusalem (Kis. 15:13-21) dan terus menekankan bahwa sekalipun sunat tidak diperlukan bagi para petobat non-Yahudi, umat percaya Yahudi harus terus menunjukkan rasa hormat yang besar kepada hukum seremonial Musa (mis., Kis. 21:17-26).

G2

>1< KHISTIIS YAN(; TI;\I>;\ TAI!i\

,I, ',111 ill ',111111 11111111- ()I IIIIH onllifl \ Ill1l1dl

II I

Yakobus menjadi terkenal sebagai "Yakobus yang Adil" kurcna kcbenaran dan kesalehannya sendiri. Hegesippus, menjelang akhir abad kcdua, dikutip pemah mengatakan, "Dia memiliki kebiasaan untuk masuk sendirian ke dalam bait suci, dan sering didapati bertelut memohon pcngampunan bagi umat, sehingga lututnya menjadi keras bagaikan lutut unta, akibat terus bertelut dalam menyembah Allah.,,19

Karena kekudusan Yakobus si Adil ini, tidak heran jika suratnya (yang sebenamya merupakan risalah atau traktat) yang ditujukan kepada "kedua belas suku di perantauan" (Yak. 1:1) berfokus pada perihal menjalani kehidupan yang memperkenan Allah. Jika demikian, kesaksian seperti apakah yang Yakobus berikan tentang Yesus? "Sedikit sekali," sebagian orang akan menjawab. Dan memang nama Yesus hanya disebut dua kali, satu kali pada ayat pertama, di mana Yakobus menyebut dirinya sebagai "hamba .,. Tuhan Yesus Kristus," dan ketika para pembacanya disebut "orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia" (Yak. 2: 1). Pembacanya ini juga disebut sebagai orang-orang yang menyandang "Nama yang mulia" (Yak. 2:7), dan ada delapan kali atau lebih ketika kata "Tuhan" muncul, lebih sering yang dimaksud adalah Yesus (Yak. 1:7; 4:10,15; 5:7-8,10-11,15).

Namun secara tidak langsung Yakobus bersaksi tentang Yesus di seluruh suratnya. Sebab salah satu ciri yang paling menarik dari suratnya adalah fakta bahwa dia sering merujuk dengan jelas kepada pengajaran Yesus yang tercatat, dan terutama Khotbah di Bukit, seakan-akan dia hadir di sana dan mendengarkan sendiri - yang sebenamya tidaklah mustahil. Ada sedikitnya dua puluh gema, seperti mewarisi kerajaan yang dijanjikan; kebahagiaan para pembawa damai, kebahagiaan dari mereka yang menderita karen a kebenaran, dan mereka yang menunjukkan kemurahan; masalah tentang kekayaan dan kemiskinan; tidak menjelek-jelekkan orang lain atau menghakimi mereka; dan bersabar sampai Tuhan datang. Karena itu, tidak bisa dibantah bahwa Yakobus pada dasamya memaparkan Yesus sebagai seorang guru moral.

Penekanan ini dengan sendirinya membawa kita kepada kontradiksi yang je1as antara dirinya dan Paulus. Paulus mengajarkan bahwa Abraham dibenarkan bukan karen a perbuatan melainkan oleh iman (Rm. 4:2- 3). Tetapi Yakobus bertanya di sini: "Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya?" (Yak. 2:21). Perbedaan tersebut tampakjelas dan menyebabkan Luther menolak Surat Yakobus dan menyebutnya sebagai surat "jerami." Namun Perjanjian Baru memapar-

~IIII huhwn kcdun lH'llIl1l1JlIII tcrscbut saling mcnghormati. Yukobus meII \,11 II Ihlll III1~H l'nulus kcpadu orung-orung non-Yahudi (Gal. 2:9), dan I'llIdll" I1U'Ill'II11ll1 pcrhutiun Yakohus tcrhadap pcrasaan kaum Yahudi 11\1" 1 .. ;1} \(); 21:172(,).

SlIalli kcsclnrasan alumi di an tara mcreka muncul ketika kita men'111111 buhwa uicrcka mcnanggapi situasi-situasi yang berbeda, dan memhutuhkun pcnckunan theologis yang berbeda. Paulus sedang menulis 11111111, nn-lawan bum Yudais yang mengajarkan pembenaran oleh per- 1I111lla1l mcnurut hukurn Taurat, Yakobus melawan kaum intelektual yang 1I11"1I~',;lIarkan pcrnbcnaran oleh "iman" dalam pengertian ortodoksi yang 111:11111111. Kcdua kclompok ini salah. Untuk melawan kaum Yudais, Paulus uu-ucknnkan pcmbcnaran hanya oleh iman tanpa embel-embel perbuatan; 1IIII1Ik mclawan kaum intelektual, Yakobus menekankan pembenaran hukun olch iman menurut ortodoksi yang mandul (karena setan-setan pun 1H"II'aya akan hal itu dan mereka gemetar, Yak. 2:19), tetapi oleh suatu lilian yang hidup yang berbuah dalam perbuatan yang baik. Jadi kedua I usul tcrscbut mengajarkan jalan keselamatan yang sarna, yakni pembeuaran olch iman yang menghasilkan perbuatan yang baik. Paulus menulis u-ntang "irnan yang bekerja oleh kasih" (Gal. 5:6), dan Yakobus menulis, "uku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku" (Yak. 2: 18). Jadi, Paulus menekankan iman yang dinyatakan di dalam pcrbuatan, sementara Yakobus menekankan perbuatan yang menyatakan unnn.

Rangkuman terbaik dari maksud Yakobus mungkin terdapat dalam Yakobus 1 :26-27, di mana "ibadah yang mumi dan yang tak bercacat" dik.uakan memiliki tiga ciri: (1) mengekang !idah, (2) memelihara para ya- 11111 piatu dan para j anda yang mengalami kesulitan, dan (3) menj aga diri agar tidak dicemari oleh dunia. Inilah kewajiban etika kita yang berlapis uga, untuk diri sendiri, untuk sesama kita, dan untuk Allah kita. Pengendalian lidah merupakan petunjuk dari pengendalian diri. Perhatian terhadap para janda dan yatim piatu merupakan contoh kasih terhadap sesama. Menjaga diri agar tidak dicemari oleh dunia sejalan dengan menyembah Allah demi nama-Nya. Surat Yakobus selanjutnya berisi variasi-variasi yang menantang berdasarkan tema berlapis tiga ini.

oJ. 'l1l1l,1 ~HII"I 111111110. «)1'111111 01'111'11 Y"lIlIdl

13. Surat Ibrani:

Kristus Imam Besar Agung Kita

Surat Ibrani tidak diketahui penulisnya, dan perdebatan torus bcrlanjut ~engenaI .kep~nulisannya. Akan tetapi, meskipun jati diri pcnul isnya tidak pasti, tujuannya pasti. Dia menulis surat atau risalahnya kcpada jemaat lokal yang terdiri dari orang-orang Yahudi, mungkin di dalam atau di de~at Yerusalem, agar mereka tidak murtad. Karena aniaya yang mereka tenma (Ibr. 10:32-39), dan terutama karena mereka bingung dalam masalah theologi, mereka jelas-jelas menghadapi bahaya akan kembali ke dalam Yudaisme. Penulis berharap membangun mereka di dalam Kristus dengan memperlihatkan ketegasannya.

Bahwa si penulis sangat memenuhi syarat untuk melakukan tugas ini terbukti dari pengetahuannya yang mendalam tentang Perjanjian Lama maupun ki~ah .:entang Yesus. Dia merujuk kurang lebih tujuh puluh kali kepada Perjanjian Lama dan dua puluh lima kali kepada kisah Perjanjian Baru .. Karena sangat mengenal keduanya, dia sanggup menunjukkan supenontas Perjanjian Baru atas Perjanjian Lama, dan dengan demikian, anggu~ b~ru telah merobek kantong anggur yang lama. Argumentasinya berlapis tiga: bahwa keimaman Kristus, pengorbanan-Nya, dan perjanjian-Nya sempurna dan tidak tergantikan.

Sebelum mengembangkan tema ini, penulis Surat Ibrani mengawali dengan suatu pernyataan Kristologis yang singkat namun luar biasa. Allah yang sarna, begitu pernyataannya, yang berbicara kepada nenek moyang melalu.i para nabi, berulang kali dan dengan berbagai cara, pada akhir zaman rru berbicara kepada kita melalui Anak-Nya, yang menjadikan, menopang, dan mewarisi ciptaan. Sedangkan sebagai manusia, Allah Anak adalah "cahaya kemuliaan Allah" (yang menjamin kesamaan naturN_y~ de~gan Allah Bapa) dan "gambar wujud Allah" (yang menjamin distingsi ?alam hal pribadi-Nya). Dan Yesus Kristus yang unik, yang pada bagian pendahuluan ini belum disebutkan nama-Nya, duduk di sebelah kanan Allah Bapa setelah Dia mengadakan penyucian dosa. Dengan. demik~an, Dia yang melampaui segala nabi, melampaui pula semua malaikat, Di dalam Allah Anak yang ditinggikan inilah, yang tidak ada taranya dalam martabat pribadi dan karya-Nya, penyataan yang tertinggi dari Allah diberikan.

Sesuda~ pendah~lu~n ini, penulis beralih kepada tema besarnya yang pertama, yaitu supenontas keimaman Kristus. Dia menegaskan bahwa

""till!! 11I1'IIHIIIIP,PoIII, Muxn mnupun l lurun. Hahkan kcimuman-Nya bukunluh k"llIlillllllll 1111.1111 (schnh I)ta hukun kcturunan suku l.cwi) mclainkan "1111'11111111 pcruturun Mclkiscdck." Mclkiscdck merupakan suatu sosok 1"'1 PIIII"'" Lama yang mcmbcrkuti Abraham namun tidak diketahui latar Iwlukllllgnya, dun yang kcimamannya yang kekal disebut-sebut dalam MII/.II1111' I I (l:4. Para Imam Lcwi yang tua harus terus-menerus diganti, tll'IlI,h kvmatiun mcmbuat mereka tidak bisa terus menjabat sebagai 111111111, uamun YCSlIS tctap memegang keimaman-Nya sebab Dia hidup ~I'IIIII1:I-lal11anya.

Scsuduh mcmbangun supremasi ultimat dari keimamatan Yesus, si Pl'III1ItS mcmbahas apa yang dicapai Kristus dengan pengorbanan-Nya. Sl'llIang imam harus punya sesuatu untuk dipersembahkan. Jika demikuui. upakah yang harus Yesus persembahkan? Jawabannya adalah daI ah-Nya sendiri - yakni, diri-Nya sendiri yang diserahkan dalam kematiall yang mengerikan. Maka Dia adalah korban sekaligus imam, dan pcnulis Surat Ibrani menjelaskan superioritas pengorbanan-Nya. Hanya unum besar yang boleh masuk ke tempat mahakudus; tetapi Yesus sudah mcndapatkan jalan masuk ke hadirat Allah bagi seluruh umat-Nya. Ilanya satu kali setahun (pada Hari Penebusan) imam besar Israel boleh masuk; tetapi Yesus sudah mendapatkan bagi kita jalan masuk yang tcrus-menerus. Imam Besar Israel harus masuk dengan membawa darah korban hewan; tetapi Yesus masuk dengan darah-Nya sendiri. Korbankorban Perjanjian Lama hanya mendapatkan penyucian bagi kenajisan scrcmonial; namun Yesus mendapatkan pengampunan bagi dosa-dosa kita. Hanya dengan korban yang terus-menerus orang-orang Israel bisa tctap bersih; tetapi Yesus mati sekali dan untuk selamanya. Sedikit demi scdikit penulis menunjukkan penggenapan bayangan yang tidak sempurna dari ritual Perjanjian Lama di dalam diri Kristus.

Penulis sekarang memperkenalkan tema utamanya. Imam yang unik ini, melalui pengorbanan-Nya yang unik, sudah membangun suatu kovenan yang unik. Kovenan baru ini adalah suatu perjanjian "yang lebih kuat" (Ibr. 7:22) sebab kovenan ini diwujudkan pada "janji yang lebih tinggi" (Ibr. 8:6). Ini disampaikan sebelumnya oleh Allah melalui Yeremia (Yer. 31 :31-34), dan penulis mengutipnya dua kali. Allah berjanji (1) menuliskan hukum-Nya dalam hati kita, (2) menyatakan diri-Nya kepada setiap kita secara pribadi, dan (3) mengampuni dosa-dosa kita dengan tidak lagi mengingat-ingatnya. Janji-janji tentang kesucian hati, penge-

(i(;

'" '-.111111 '.111'111 11111111, ()nIlIH 11I''''lg '.IIlIldl

nalan secara pribadi, dan pengarnpunan scpcnuhnya ini sudah dl)',('lIapl melalui Kristus.

Begitu kita memahami finalitas dari keimarnan, pcngorbanan, dan kovenan Kristus, kita tidak bisa lagi memikirkan altcrnatif lain. Tiduk ada lagi pertanyaan tentang imam-imam lain yang bcrkorban, scbah melalui Imam Besar Agung kita, kita menikmati jalan untuk elatang langsung kepada Allah. Tidak akan ada lagi pertanyaan tentang korbankorban lain bagi dosa, sebab keselamatan kita sudah dicapai melalui pengorbanan Kristus yang unik; korban kita adalah korban pujian dan ucapan syukur. Tidak akan ada lagi pertanyaan tentang kovenan lain, sebab kovenan baru ini adalah kovenan yang terakhir, dan kovenan yang lebih kuat itu adalah yang terbaik. Kovenan itu tidak akan pemah tergantikan. Kekekalan dari keselamatan kita yang final dan sempuma memenuhi pikiran penulis. Kristus adalah Imam "untuk selama-lamanya," yang telah "mernpersembahkan hanya satu korban saja karena dosa" dan dengan demikian membangun suatu "perjanjian [kovenan] yang kekal" yang memberikan kepada umat Allah suatu "keselamatan yang abadi" (lbr. 5:9), suatu "kelepasan yang kekal" (lbr. 9:12) dan suatu "bagian kekal yang dijanjikan" (lbr. 9: 15).

Umat Kristen Yahudi terse but berada dalam bahaya akan murtad.

Diperhadapkan pada aniaya besar dan perdebatan yang seakan-akan benar, mereka terombang-ambing dalam iman Kristen mereka dan mempertimbangkan untuk kembali kepada Yudaisme. Jika mereka bisa memahami finalitas mutlak Yesus Kristus, mereka tidak mungkin mundur.

Sesudah menyimpulkan pemaparannya ten tang pribadi, karya, dan kovenan Kristus yang unik, penulis melanjutkan dengan suatu nasihat.

M'llI'IIIIIVII nH'IIH'IIIH'lllya, '('('11111 saI'l Ihrnn] II hcrpusat pad a irnan. mula- 11111111 dl'llglllI lIu'lHkl'lIllslkan dan kcmudian mcrnaparkan bcrturut-turut eli 1IIIIIIIpllll k nu s('l\lllllah tokoh iman Pcrjanjian Lama. Namun mereka Iidiliah 11I;III1ISla yallg hcrpcgang pada pcngharapan sekaligus iman, sebab "11111111 uduluh dnsur dari scgala scsuatu yang kita harapkan" (lbr. 11:1). Iklwrap" JOIIIJi diwariskan scrnasa hidup mereka, namun dalam pengerlIilll hun "mcrcka SCl11l1a tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu" (lbr. I I II)), xchuh ada bagian-bagian terdalam dari janji Allah yang tidak bisa .hw.nis: kccuali di dunia mendatang. Dengan demikian, timbullah kebutuhnn ukan pcngharapan, dan akan disiplin ilahi, ketika kita menantikan dl'lI)',an sahar pcnggenapan janji-janji tersebut.

lhrnni 13 menyentuh secara singkat aspek-aspek kasih yang timbal hnhk dularn keluarga Kristen, bagaimana kita ramah terhadap orang 11',111)'., mcngingat orang-orang hukuman, menghormati perkawinan, lebih suk a mcrasa puas ketimbang iri hati, menghargai para pemimpin Kristen k rtu, dan pergi kepada Yesus "di luar perkemahan dan menanggung kehiuuan-Nya" (lbr. 13: 13).

Ilak dan kewajiban orang Kristen ini - akses kepada Allah melalui

unan, tahan uji melalui pengharapan, dan kasih persaudaraan dalam keluarga jemaat - semua ini muncul dari fakta yang agung yang berusaha pcnul is tekankan: keunikan dan finalitas mutlak dari Tuhan kita Yesus Kristus.

Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat rnasuk ke dalam temp at kudus [yaitu, hadirat Allah secara langsung] ... dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita .... Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. (Ibr. 10: 19-24)

14. Surat-surat Petrus:

Kristus Sang Penderita Teladan

Mungkin Anda heran karena saya menempatkan Surat Petrus di bawah subjudul "Surat-surat untuk Orang-orang Yahudi," meskipun melalui dialah Komelius, orang non-Yahudi pertama, mengalami pertobatan (Kis. 10). Namun Petrus telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk "orangorang bersunat (kaum Yahudi)" (Gal. 2:7), dan jelas kelihatan bahwa suratnya yang pertama tampaknya Petrus tujukan secara terutama (rneskipun tidak secara eksklusif) kepada sidang pembaca berbangsa Yahudi. Dia menunjuk mereka sebagai bagian dari orang-orang Yahudi yang tersebar di lima provinsi di Asia Kecil, dan dia menyinggung "bangs abangsa bukan Yahudi" sebagai suatu kelompok tersendiri (IPtr. 2:12; 4:3). Perbendaharaan katanya juga memberi kesan serupa, misalnya, untuk menerima "bagian" (lPtr. 1:4), seruan untuk menjadi kudus (lPtr.

Sulit untuk tidak memperhatikan rujukan penulis kepada triade Kristen yang terkenal: iman, pengharapan, dan kasih. Dan sisa surat tersebut

liS

·r, KRIST! JS Y AN(; TIAI>A TAI~A

+ ',111,11 ,.111,1111111111, (11111111 0111111\ \ .11111111

1 :6-7), dan darah Kristus sebagaimana darah seekor anak dornba yung tuk bercela (lPtr. 1:2, 19). Rujukan yang banyak kepada Pentatcukh, Muzmur, Amsal, dan Kitab Para Nabi juga menunjukkan bahwa dia sangat mengenal Perjanjian Lama.

Doksologi Petrus pada awal suratnya memuji Allah bahwa Dia tclah memberikan kepada kita suatu kelahiran baru menuju suatu pengharapan yang hidup melalui kebangkitan Yesus Kristus (lPtr. 1:3). Dan pengharapan yang hidup ini menopang kita, tidak peduli bagaimanapun kerasnya perlawanan terhadap orang Kristen. Sekalipun Petrus membahas tentang banyak topik lain dalam suratnya yang pertama, penekanannya yang utama adalah pada perilaku Kristen dalam menghadapi penganiayaan. Kata menderita dan penderitaan muncul tujuh kali dalam hubungannva dengan Kristus dan sembi Ian kali dalam hubungannya dengan orang Kristen.

Sejauh yang kita tahu, waktu itu belum ada maklumat resmi yang melarang Kekristenan dan umat Kristen. Sekalipun demikian, perrnusuhan .ya~g .dialami para pembaca surat Petrus sangat keras (lPtr. 4: 12) dan terjadi di mana-mana (lPtr. 5:9). Sepertinya awan badai dari penganiayaan yang lebih serius dan sistematis membuat keadaan semakin mendung. Pergolakan setempat telah dimulai. Bagaimanakah sebaiknya orang Kristen bersikap dalam keadaan seperti ini? Bagaimanakah orang Kristen menghadapi penderitaan yang sebenamya tidak layak diterima? Umat Kristen dilarang membalas; itu je1as. Namun Petrus mengatakan lebih dari itu. Suratnya yang pertama berisi enam bagian tentang penderitaan: mas.ing-masing bagian mengungkapkan nasihat yang berbeda, dan setiap bagiannya mengarahkan para pembacanya kepada Kristus.

• 1 Petrus 1:6-7: Saat mereka tabah menghadapi segal a macam ujian, mereka harus ingat bahwa berbagai peneobaan menguji. memperku.at. dan memurnikan iman mereka sebagaimana api terhadap emas. Ini akan memberikan kemuliaan kepada Allah ketika Yesus Kristus dinyatakan.

• 1 Petrus 2:18-25: Paragraf ini khususnya berkaitan dengan hambahamba (budak-budak) Kristen yang para majikannya kurang ber~urah h~ti dan bengis. Mereka harus menanggung penderitaan yang tidak adil, Mengapa? Karena penderitaan merupakan bagian dari panggilan Kristen. Kristus sudah meninggalkan teladan sikap tidak membalas kepada mereka, sehingga mereka harus mengikuti jejakNya.

• I 1'1'1111', I H I H K('III"1 mcrulcruu kurcna kcbcuuran, orang Kristen Ild,lI, h"II'II tukut, nn-hunkun scbaliknya mcrcka harus mcnguduskan K 11'1111' ... dlll)!,a I Tuhun du lam hal i mcrcka, dan selalu siap mernberikun [uwuhnn kcpada sctiap orang yang mcminta mereka memberikan "III~IIII IIlas pL'l1glwrapan Kristen mcrcka. Penderitaan memberikan A I 's. '/11//(/11111 kc ',\', '/II/W Iii II untuk bersaksi.

• I l'ctrus 4: 1-(,: Petrus di sini menekankan bentuk penganiayaan jas- 11111111. l'cndcruaan ini mcrupakan penderitaan "badani." Penderitaan I I II 11111 Ilk Ycsus; mungkin juga untuk kita. Maka marilah kita ingat hahwa "barangsiapa tclah menderita penderitaan badani, ia telah ber- 111'11 I I bcrbua t dosa." Karena penderitaan memiliki pengaruh memurlIi/;1111 em/a diri kita, kita harus menyambutnya dengan lebih siap.

• I Petrus 4: 12-19: Kita tidak boleh terkejut karena ujian-ujian yang mcnyakitkan, seakan-akan sesuatu yang aneh sedang terjadi, namun scbuliknya, harus bergembira bahwa penderitaan memberikan ke/}(II/a kita hak untuk berbagian di dalam penderitaan-penderitaan Kristus dan dengan begitu berbagian dalam kemuliaan-Nya (4:13; bdk I: 11; 5: 1; dan Luk. 24:25-26).

• I Petrus 5: 10-11: Kita harus ingat bahwa kita sudah dipanggil untuk kcmuliaan Allah yang kekal di dalam Kristus, tetapi kita perlu mengalami sedikit penderitaan sebab penderitaan merupakan jalan menuju kemuliaan, sebagaimana kematian merupakan jalan menuju hidup kekal,

Kemuliaan yang akan datang merupakan salah satu tema utama dari .urat Petrus yang kedua, yang autentisitasnya masih dibela oleh sejumlah sarjana. Dalam 2 Petrus, dia melukiskan para guru palsu dengan gambar.m-gambaran yang jelas dan memperingatkan bahwa penghakiman Allah akan jatuh atas diri mereka. Dalam 2 Petrus 3, dia berdebat dengan para pcncemooh berkaitan tentang kepastian dari kedatangan kembali Kristus (2Ptr. 3:3-7) dan kemudian memperhitungkan penundaannya kepada kemurahan Allah (2Ptr. 3:8-10). Namun hari Tuhan akan datang dan akan mcrnbawa masuk langit baru dan bumi yang baru.

Jadi harus menjadi manusia yang bagaimanakah kit a, pada saat kita bcrsiap-siap (2Ptr. 3: II)? Kita harus berupaya keras agar didapati "tak bercacat dan tak bemoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia" (2Ptr. 3:14), dalam kewaspadaan kita terhadap guru-guru palsu (2Ptr. 3: 17) dan bertumbuh "dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus" (2Ptr. 3:18).

70

,r, KR(STliS Yi\N(~T(i\()i\ TA({'\

+ Smill surat untuk (lJ'illl~: OJ'illlg Yaluul!

71

Kesimpulan:

Keberbedaan dalam Kesatuan

Bahkan survei yang singkat atas literatur Perjanjian Baru ini (kccuuli Kitab Wahyu, yang akan kita pelajari dalam bagian empat) sudah cukup untuk menyingkapkan keragamannya. Ada keragaman dalam kcpcnulisan (setidaknya sembilan penulis terlibat di dalamnya), dalam bentuk sastranya (Injil, sejarah, surat, risalah, dan apokaliptis), dalam topik-topik yang ditujukan menurut kebutuhan setempat, dalam penekanan theologisnya, dan dalam pemaparannya ten tang Yesus.

Namun Perjanjian Baru yang sama ini mengklaim memiliki suatu kesatuan pesan. Injil Kristus yang sama, menurut Paulus, diberitakan oleh semua rasul dan diyakini oleh seluruh gereja (lKor. 15:11). "Satu tubuh, dan satu Roh ... satu pengharapan, ... satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua" (Ef. 4:4-6). Apa yang disebut sebagai gerakan theologi biblikal yang mengguncang Eropa selama dan sesudah Perang Dunia II memberi penekanan pada hal ini. A. M. Hunter di Inggris, misalnya, bisa menulis bahwa "ada suatu pengakuan yang semakin besar tentang kesatuan yang hakiki dari Perjanjian Baru dan akan perlunya sintesis.v" "suatu kesatuan yang mengatasi dan mendominasi seluruh keberbedaan.l'"

Satu buku berpengaruh lain dari zaman itu adalah The Riddle of the New Testament oleh Edwyn Hoskyns dan Noel Davey. "Teka-teki"-nya berkaitan "antara sosok historis Yesus dan iman jemaat (gereja) yang bertumbuh dengan subur.?" Sesudah dengan teliti mempertimbangkan buktinya, Hoskyns dan Davey menyimpulkan bahwa "semua bahan Perjanjian Baru yang beragam berkonsentrasi pad a, dan berasal dari, satu peristiwa sejarah yang tersendiri," yakni, "kehidupan dan kematian Yesus.,,23

Namun selama tahun-tahun terakhir dari abad kedua puluh, pendulum telah berayun ke arah yang berlawanan, kepada penekanan pada keberbedaan. Itu sebagian adalah reaksi terhadap harmonisasi (Perjanjian Baru) yang dibuat-buat, sekalipun juga menyingkapkan bahwa sejumlah sarjana Perjanjian Baru menyukai apa yang disebut Oscar Cullmann sebagai "suatu kesenangan yang agak sadistis" untuk menemukan apa yang tampak sebagai perbedaan." Kita diberi tahu bahwa kini tidak ada lagi hal seperti "theologi biblikal," yang ada hanya "theologi-theologi biblikal" yang saling tidak sesuai. Nama-nama para rasul berubah menjadi

kutu SI rat, dan para sarjana mcnulis tcntang suatu pandangan doktrin "lukus" atau "Paulus," atau pcndirian "Petrus" atau "Yohanes," seakannkun mcrcka saling cksklusif Salah satu kritik yang paling terkenal terh.rdup upaya untuk menyatukan kesaksian Perjanjian Baru dilontarkan nil-I! James Dunn dari Durham University. Dalam bukunya Unity and l tivcrsity in the New Testament: An Inquiry into the Character of /,:{//,/ie.\·; Christianity, dia menulis bahwa tidak ada konsep ortodoksi yang scragarn pada Kekristenan purba. Injil tidak hanya satu, lanjutnya: setidaknya ada empat - satu dari Yohanes, yang lain dari Injil Sinoptik, dan dua lagi dalam Kisah Para Rasul dan Surat-surat Paulus. "Upaya apa pun yang ada untuk menemukan kerygma tunggal yang menyatukan, satu kali untuk selamanya, bisa dipastikan gagal.,,25 Pada saat yang sama, Dunn mcngakui bahwa ada suatu "unsur yang mempersatukan" dalam Perjanjian Baru, "persatuan antara Yesus historis dan Kristus yang ditinggikan.,,26 Namun jika dilihat secara keseluruhan, ini adalah pengakuan yang tidak begitu berarti dan diberikan dengan enggan.

Bagaimanakah kita seharusnya menanggapinya? Kita harus menyetujui dengan tegas bahwa kita tidak boleh memanipulasi tulisan-tulisan dalam Alkitab menjadi suatu harmonisasi yang dibuat-buat, bahwa kita tidak boleh menyingkirkan hal-hal yang tampak sebagai diskrepansi, dan bahwa kita harus membiarkan apa yang dikatakan oleh setiap penulis Perjanjian Baru sebagaimana adanya. Dan ketika kita berbuat begitu, ketegangan-ketegangan akan tetap ada. Namun dari survei ini kita juga sudah melihat bahwa keempat kitab Injil saling melengkapi; mereka tidak saling bertentangan. Yesus dan Paulus pun begitu. Demikian pula halnya dengan ketiga belas surat Paulus. Surat-surat untuk orang-orang Yahudi (Yakobus dan 1 Petrus) juga tidak bertentangan. Bahkan Paulus dan Yakobus tidak memberitakan Injil yang berbeda. Semua penulis Perjanjian Baru menemukan kesatuan mereka, sebagaimana yang pemah ditulis Charlie Moule, di dalam "pengabdian kepada pribadi Yesus Kristus - Yesus historis yang diakui sebagai Pribadi yang berkesinambungan dengan Pribadi yang kini diakui sebagai Tuhan yang transenden.t"

Uskup Stephen Neill, sebagaimana yang diperbarui oleh N. T.

Wright dalam The Interpretation of the New Testament, 1861-1986, memadukan kesatuan dan keberbedaan Perjanjian Baru: "Peristiwa Yesus Kristus terlalu agung untuk bisa dipahami dan dipelajari dalam satu penafsiran saja." Maka gereja mengumpulkan di dalam kanon gereja Perjanjian Baru "banyak arus tradisi dan penafsiran yang berbeda .... Hal

-I< "I{IST! IS YAN(; TIA!>i\ 1':\1(/\

yang mengejutkan ten tang scmua tradisi ini adalah kcsatuan mcrcku: me reka semua berhubungan dengan satu peristiwa, yang pasti sangat agllng. dan dengan satu Pribadi, yang pasti berbeda dari semua manusia yang pemah hidup. ,,28

Dan kembali: "Banyak sarjana berkompeten zaman sckarang yang berpendapat bahwa semua fragmen dari tradisi Kristen yang kita miliki dalam Perjanjian Baru bersaksi dengan suara bulat untuk satu sosok yang historis, yang berbeda dengan siapa pun yang pemah berjalan di an tara anak-anak manusia.''" "Prinsip kesatuan ada di sana, dalam orisinalitas dan kekuatan rohani yang menjulang tinggi dari Yesus, orang Nazaret. ,,30

Kita dalam angkatan kita tidak bisa berbuat apa-apa selain mendukung - berdasarkan keyakinan dan pengalaman kita - kesaksian Perjanjian Baru tentang Kristus. Kesaksian ini menyatu sekaligus sangat beragam. Tetapi inilah yang sebenamya kita harapkan akan kita temukan jika kita percaya kepada kepenulisan ganda Kitab Suci sebagai Firman Allah yang berbicara melalui kata-kata manusia. Kesatuannya disebabkan oleh adanya satu pikiran ilahi yang darinya Kitab Suci berasal, dan keragamannya disebabkan oleh adanya banyak pikiran manusia yang melaluinya firman itu disampaikan. Kita memberikan penyembahan kepada Yesus yang sejati, yakni Yesus yang disaksikan oleh Perjanjian Baru, yang adalah Kristus yang tiada taranya.zs

1\ 1\ ( ; 1 1\ N 1\ 1 I) II ;\

YESUS MENURUT GEREJA

(at au Baqaim ana Gereja Memaparkan Dia)

"YESUS YANG LAIN"

Il!lgasan untuk membahas "Yesus menurut Gereja" mula-mula kedengar!llIlIya tidak masuk akal. Apakah Yesus seorang tokoh "gereja"? Apakah v,l'f'l'I" mcmiliki semacam monopoli atas diri-Nya? Tidak. Apa yang akan ',lIya pcrhatikan dalam bagian kedua ini adalah cara-cara gereja memaparkun diri-Nya selama berabad-abad ini, yang sayangnya sering menguI unu-Nya dalam prasangka-prasangka dan tradisi-tradisi gereja sendiri.

Pcrhatikanlah kecaman yang Paulus tujukan kepada umat Kristen Korintus yang berkompromi: "Aku takut, kalau-kalau pikiran kamu dise.,alkan dari kesetiaanmu yang sejati kepada Kristus .... Sebab kamu sabar snja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan ... " (2Kor. 11 :3-4).

"Yesus yang lain." Ungkapan ini sendiri sudah begitu provokatif dan uduk bisa diterima. Sebab hanya ada satu Yesus yang autentik, dan Yesus 1111 adalah Yesus yang disaksikan oleh para rasul dalam Perjanjian Bam. lidak ada Yesus yang lain. Sarna juga halnya, hanya ada "satu Tuhan," "satu iman," "satu baptisan" (Ef. 4:5). Kembali, sekalipun ada banyak "allah" dan banyak "tuhan," yang menuntut kesetiaan orang-orang, "namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya hcrasal segal a sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segal a sesuatu telah dijadikan dan yang karen a Dia kita hidup" (lKor. 8:5-6).

Namun kenyataannya adalah bahwa selama berabad-abad masa Kristen ratusan Yesus yang berbeda sudah ditawarkan dalam supermarket keagamaan dunia. Sebagian bergema dengan budaya kontemporer, tetapi itu bisa terjadi hanya dengan memanipulasi Kitab Suci. Yang lain setia kepada Alkitab, tetapi terasing secara budaya. Namun yang lain dalam ting-

76

'1, KIUSTIIS YAN(; TIAllA TAl(A

1/

katan yang berbeda berhasil menghubungkan Kitab Suci dan huduyn. Berbeda dengan "satu Tuhan" dari kesaksian Perjanj ian Baru yang Ill'ragam namun bersatu, gereja memperlihatkan suatu kecerdikan yang ILIaI' biasa dalam menyesuaikan, membentuk, dan memaparkan gambarnya sendiri tentang Kristus.

Sebagaimana dalam bagian pertama buku ini telah memberikan satu survei Perjanjian Baru dalam kesaksiannya yang beragam ten tang Yesus yang satu, maka dalam bagian kedua ini saya akan berusaha memberikan survei sejarah gereja dalam kesaksiannya yang luar biasa luas dan beragam ten tang Dia.

Perhatikanlah, sejarah gereja tidak bisa disurvei semudah Perjanjian Baru. Kisah gereja selama lebih dari dua milenium meliputi terlalu banyak rag am tokoh dan gerakan untuk bisa dimasukkan ke dalam satu survei. Yang saya bisa lakukan hanyalah memilih dua bel as contoh bagaiman~ -: esus dipaparkan oleh gereja dan para pemimpin gereja sampai saat mi.

Para pembaca mungkin bertanya tentang dasar saya untuk melakukan seleksi ini, karena bagi sebagian orang, pilihan saya akan tampak arbitrer. lawaban saya adalah bahwa karena survei yang komprehensif tidak dimungkinkan, saya sudah berusaha mengumpulkan beberapa gerakan pikiran utama dalam gereja dan para wakil mereka.

Kita memulai dari abad kedua Masehi, masa sesudah periode para rasuI. Salah satu keyakinan yang teguh dari gereja mula-mula pada masa itu adalah bahwa bersama Yesus, sesuatu yang benar-benar baru telah dimulai. Dia telah mengukuhkan kerajaan Allah. Dia telah memulai zaman baru. Ucapan-Nya yang pertama yang tercatat ketika Dia memulai pelayanan-Nya bagi orang banyak adalah: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat" (Mrk. I: 15). Begitu pula Paulus menulis, "Tetapi setelah ge~ap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya" (Gal. 4:4). Dan sekalipun demikian, dalam pengertian yang lain, permulaan yang baru tersebut tidaklah baru, sebab permulaan yang baru itu sudah diramalkan dan dijanjikan selama berabad-abad. Apa yang telah terjadi adalah ~enggenapan janji tersebut. Maka ada suatu kesinambungan yang pentmg antara yang disebut sebagai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

I. '(..JlltU" PcmJ(J(cmllplln yang Lengkupr .Justinu!! Mnrtir

Para nabi dan para [ilsu]

""1"1 HI'n'):1 yallg paling kerns mengungkapkan pengertian penggenapan 1111 1IIIIIIgkili udnlah Justinus Martir (± tahun 100-165). lustinus lahir dari 11111111(111:1 kulir di Samaria. Intclcknya berkembang pesat, dan pada masa unuluuvn mcmului pcncarian akan kebenaran. Dia menyelidiki berturut- 1111111 Itlsa ral Stoik, Aristoteles, Phytagoras, dan Plato. Namun dia tidak II11'11I'1I111i<an kcbcnaran maupun damai sejahtera. Kemudian suatu hari, ""Lilli providcnsi Allah yang baik, di dekat laut di Efesus dia berjumpa IkllV_:1I1 seorang yang lanjut usia yang memperkenalkan dirinya dengan I'ill a nahi Pcrjanjian Lama, dan juga dengan Kristus. Sesudah pertobatannvn tlla mclanjutkan mengenakan jubah filsuf, yang menempuh perjalanilll ,kngan berjalan kaki ke sejumlah kota besar untuk mengajar dan men"!I Ibn sckolah Kristen di Roma.

Justinus menjadi apologet Kristen terbesar pada abad kedua. Dia menunuskan untuk menyelaraskan iman dengan rasio, mengharmoniskan 1\ rtah Suci bahasa Ibrani dengan filsafat Yunani, dan mempertahankan 1\ ckristcnan terhadap salah tafsir dan fitnah. Karyanya yang berjudul "",..\1 Apology ditujukan kepada Kaisar Antoninus Pius, dan kepada putra illlgkat yang sekaligus penerusnya, Marcus Aurelius. Karyanya yang berJlI"I" Second Apology, yang ditujukan kepada Senat Romawi, merupakan oIpclldiks singkat bagi buku yang pertama dan penulisannya didorong oleh .ulanya penganiayaan yang tidak adil terhadap umat Kristen. Karya lustinus yang ketiga dan yang terpanjang adalah Dialog with Trypho, a .lvw: yang adalah seorang rabi terpelajar. Karya ini digambarkannya «-hagai "eksposisi terperinci yang pertama tentang alasan-alasan untuk mcrnandang Kristus sebagai Mesias yang dinubuatkan Perjanjian Lama, dan upaya sistematis yang pertama untuk menunjukkan pandangan yang sulah dari orang-orang Yahudi tentang Kekristenan." Dengan sopan dan sabar lustinus bersaksi tentang Kristus dalam seluruh Kitab Suci (sekaIiplll1 adakalanya menggunakan alegori yang menarik), dengan mengumurnkan Injil tentang Kristus yang telah disalibkan dan yang telah bangkit. Dia mengakhiri dengan undangan sepenuh hati kepada Trypho dan teman-temannya untuk percaya kepada Kristus: "Janganlah mengucapkan yang jahat, Saudara-saudaraku, terhadap Dia yang telah disalibkan .... Oleh karena itu, sepakatilah, dan janganlah menimpakan ejekan kepada Anak Allah.,,2

78

-r- KRIST! IS YAN(; TIAIlA TAI{A

Pada kira-kira tahun 165, Justinus dituduh secara tcrhuka karcnu lila orang Kristen. Dia menolak mempersembahkan korban kcpada dewadewa dan menghadapi hukuman matinya dengan tenang dan bcrani.

"Yesus Kristus penggenapan yang lengkap" adalah kalimat yang saya sampaikan sebagai rangkuman atas theologi Justinus. Dalam First Apology-nya, dia menunjuk kepada banyak nubuat Perjanjian Lama (kesukaannya terutama pada Kitab-kitab Musa, Mazmur, dan Yesaya) yang menunjuk kepada Kristus. Pengetahuan Perjanjian Lamanya begitu luar biasa. Tetapi dia juga percaya bahwa sedikitnya sampai taraf tertentu Kekristenan merupakan perwujudan dari semua yang terbaik da1am filsafat Yunani. Maka ketika bertobat, sekalipun dia meninggalkan kekafiran, dia tidak meningga1kan filsafat. Jika demikian, bagaimanakah mungkin para filsufbisa mengetahui kebenaran yang mereka ketahui? Itu yang sebagian (begitu klaim Justinus) Plato pinjam dari Musa dan para nabi. Tetapi juga Logos i1ahi itu, yang sudah ada di dunia sejak mula dan yang berinkamasi sepenuhnya dalam Yesus Kristus, disebarkan oleh Sang Penabur ilahi di segala tempat. Maka "tampak adanya benih kebenaran di antara semua manusia.t" Misalnya, ajaran moral kaum Stoik pantas dikagumi "karen a logos spermatikos [benih rasional atau benih nalar] yang ditanam di setiap umat manusia.'" Ini berlaku untuk semua filsuf. "Sebab semua penulis sanggup melihat kenyataan secara samar-samar melalui ditaburkannya benih yang ditanam di dalam diri mereka.:" Akibatnya, "mereka yang hidup selaras dengan rasio adalah orang Kristen, sekalipun mereka dinyatakan tak berallah [dalam kaitannya dengan dewa-dewa kafir], seperti Sokrates di antara bangsa Yunani, ... dan Abraham, ... Elia, ... dan banyak yang lain di antara bangsa barbar (non-Yahudi)." Sebab "mereka yang telah hidup menurut rasio, dan mereka yang hidup dengan cara demikian pada saat ini, adalah orang Kristen,"? yakni orang-orang Kristen sebelum Kristus.

Maka para nabi dan para filsuf, sekalipun berbeda dalam derajatnya, bersaksi bagi Kristus, dan apa yang mereka tulis digenapi dalam Kristus. Orang akan dipenuhi dengan kekaguman karena luasnya visi Justinus, karena keteguhannya untuk mengklaim bagi Kristus segala sesuatu yang benar di mana pun hal terse but terdapat, dan karen a semangatnya yang penyayang dan penuh kemurahan.

Maka mungkin saya yang akan dianggap kurang bermurah hati karena menambahkan bahwa saya berharap dia mengembangkan suatu dasar alkitabiah yang jelas bagi temanya. Rujukan-rujukannya kepada logos

("1111111111" utuu "rusto") lusu mcmbawnnya kcpada prolog Injil Yohancs, SI-hllh Ynluuics 1:1) tumpakuya mcrangkurn kcyakinan Justinus: "Terang Yilll"" sl'slIlIggullllya, yang mcncrangi setiap orang, sedang datang ke da- 111111 dumu." Vakili, schclum Kristus "datang" dalam inkamasi, Dia "sedllllg dalallg," dan sckarung pun Dia tetap sedang datang, memberikan te- 11111 .... kcpuda sctiap orang. !tu bukan terang yang menyelamatkan (seperti Yllllg Just lIlllS kctahui), namun itu adalah terang, sehingga segal a sesuatu yllllg 1I11lah, baik, dan benar, di mana pun segalanya ditemukan, bersumlin padu Firman itu, "terang yang sesungguhnya," Yesus Kristus.

2. Kristus Allah-Manusia yang Unik:

Konsili-konsili Awal Pentingnya Kristologi

Justinus Martir menegaskan bahwa Perjanjian Baru berkesinambungan dcngan Perjanjian Lama dan bahwa dengan demikian, Injil bukanlah sesuatu yang baru. Sebaliknya, Yesus merupakan penggenapan Kitab Suci sckaligus filsafat. Tetapi Yesus dari Nazaret tetap perlu dimengerti. Maka sclama satu setengah abad, sepanjang abad keempat dan kelima, para pemimpin gereja terlibat dalam debat Kristologis yang serius. Kemajuan ke arab kesepakatan pandangan dicatat oleh apa yang kemudian diakui sebagai empat konsili ekumenis yang pertama. Keempatnya mungkin sebaiknya dipandang sebagai dua pasangan. Maka Konsili Nicea (325) menyimpulkan kebenaran bahwa Yesus adalah Allah sejati, sedangkan Konsili Konstantinopel (381) menyimpulkan bahwa Yesus adalah manusia sejati. Sclanjutnya Konsili Efesus (431) menyimpulkan bahwa sekalipun Yesus adalah Allah dan manusia, Dia hanyalah satu pribadi; sedangkan Konsili Kalsedon (451) menyimpulkan bahwa sekalipun Yesus adalah satu pribaeli, Dia memiliki dua natur: ilahi dan manusiawi.

Ini merupakan perkembangan yang kompleks, sering ditandai dengan amarah, iri hati, dengki, dan intrik politik yang tak patut. Namun pada saat yang sarna, orang bisa merasakan karya Roh Kudus yang sabar, yang memampukan gereja mendapatkan kejemihan pikiran pada Kristologinya.

Konsili ekumenis yang pertama diadakan adalah Konsili Nicea (325). Hal penting yang mendorong penyelenggaraannya adalah pengajaran Arius, seorang penatua. Dia mengatakan bahwa Yesus bukanlah Allah, sekalipun merupakan yang sulung dan yang terbaik dari seluruh ciptaan Allah. Dia tidak kekal, karena Dia memiliki awal ("Dia pemah

80

·r· KRISTIIS YANG TIAI IA TARA

oJ. "\ ''',II" \ ,IlIg 1,1111"

HI

tidak ada") dan bahkan menjadi ada dari ketiadaan. Maka Kuisar KOl1stantine menyerukan diadakannya konsili dengan maksud mcngusahukun kesatuan dan kedamaian. Lebih dari dua ratus uskup hadir, kcbanyakun dari timur, dan banyak yang tubuhnya cacat dan mendapat hekus luku yang tetap akibat penganiayaan yang terjadi pada waktu-waktu itu, Konsili tersebut menyatakan Arius sesat dan mengeluarkan krcdo Nicca (the creed of Nicaea; jangan dikacaukan dengan Pengakuan Iman Nicca [Mcene Creed]), yang menegaskan bahwa Tuhan Yesus kita "diperanakkan, bukan dijadikan," "memiliki substansi yang sarna [homoousiosJ dengan Bapa." Sekalipun ada sejumlah uskup yang menyatakan keengganan atas penggunaan istilah ini, karena tidak berasal dari Alkitab, sebagian besar menerimanya, dan konsili tersebut memperoleh suatu kemenangan yang tak terlupakan atas keilahian Yesus yang sepenuhnya.

Kedua, Konsili Konstantinopel (381) diadakan oleh Kaisar Theodosius. Latar belakang diadakannya konsili ini adalah pengajaran ApolIinarius, yang menyangkal bahwa Yesus memiliki akal budi atau jiwa manusiawi. Maka sekarang, sesudah menegaskan kembali melawan Arius bahwa Yesus adalah Allah sepenuhnya, konsili ini juga menegaskan melawan Apollinarius, bahwa Yesus adalah manusia sepenuhnya. Tetapi bagaimana, dalam hal ini, Dia adalah satu pribadi? Inilah pertanyaan berikutnya.

Ketiga, Konsili Efesus (431) diselenggarakan untuk mempertimbangkan pengajaran Uskup Nestorius dari Konstantinopel. Nestorius dituduh membagi Kristus menjadi dua pribadi, Allah Firman dan manusia Yesus, dan menyatakan bahwa manusia itu didiami oleh Firman. Nestorius ditentang oleh Cyril dari Aleksandria, yang bersikukuh tentang inkarnasi (yang dibedakan dari mendiami). Firman secara aktual menjadi daging, menyatukan diri-Nya sepenuhnya dengan natur manusia.

Yang keempat adalah Konsili Kalsedon (451), yang dihadiri oleh sekitar lima ratus uskup, dan diadakan untuk menghadapi pengajaran Eutyches, yang melebur kemanusiawian dan keilahian Yesus sehingga Dia hanya memiliki satu natur, yakni natur ilahi. Ini adalah kaum Monofisit ("satu natur" karena percaya bahwa Yesus hanya memiliki satu natur); mereka terus menjadi anggota dari gereja-gereja Ortodoks Koptik dan Ortodoks Etiopia masa kini. Mereka ditentang oleh Paus Leo yang Agung, yang adalah uskup Roma pada tahun 440-461. Tome-nya yang terkenal membuktikan kesalahan Eutyches dan dibaca dan disetujui oleh konsili. Konsili menghasilkan pemyataan yang dikenal sebagai Definisi

KithI'd"", yang nll'lll')J,lIsk:in hahwa. sckalipun salu pribudi, YCSllS mcmi- 111" ,hili 11111111 yllng hcrbcdu. Hcrikut ini udalah ixi dari Dcfinisi Kalscdon:

Kunu II1l'IIF.akll dcngun suara bulat bahwa Allah Anak yang satu dan s.uu xntunva, Tuhun kumi Ycsus Kristus, scmpurna dalam keallahan dan Sl'llIpllllla 'dalall' kcmunusiawian, sepenuhnya Allah dan sepenuhnya maIIIISla .... f)ia mcrniliki substansi yang sarna [homoousios] dengan Allah Ilapa sl'hagai Allah, dan juga substansi yang sarna [homoousios] dengan kita schagai manusia .... Dia diperanakkan oleh Bapa-Nya sebelum segala waktu scbagai Allah, tetapi pada akhir zaman ini dan demi keselamatall kami, Dia lahir dari anak dara Maria .... Kristus yang satu dan yang snma ini ... dikenal dengan dua natur tanpa pencampuran, tanpa perubahan, tanpa pembagian, tanpa pemisahan.

Scbagian orang Kristen masa kini tidak sabar dengan apa yang tampaknya bagi mereka merupakan perdebatan mengenai kata-kata. Tetapi bcbcrapa hal bisa ditunjukkan sebagai tanggapan terhadap mereka.

Pertama, para bapa gereja, yang tidak tercemar oleh budaya postmodcrn kita, sangat memperhatikan kebenaran Allah dan melihat kebutuhan untuk melawan para guru palsu seperti Arius, Apollonarius, dan Eutychcs. Kiranya kita pada saat ini juga memiliki semangat yang sarna demi kcbenaran seperti yang dulu mereka miliki!

Kedua, mereka melihat bahwa perdebatan tentang Kristologi tersebut mcrupakan perdebatan tentang keselamatan, sebab hanya seorang Juruselarnat yang sepenuhnya ilahi dan sepenuhnya manusiawilah yang bisa mewakili kedua belah pihak dan mendamaikan kita dengan Allah.

Ketiga, mereka melakukan tugas mereka dengan baik sehingga hasilnya tetap bertahan. Para tokoh reformasi abad keenam belas, misalnya, yang terlibat dalam kontroversi dengan Gereja Roma tentang supremasi dan kecukupan Kitab Suci dan tentang pembenaran hanya oleh iman, tidak melihat adanya kebutuhan untuk mengubah pemyataan-pemyataan Kristologis dari abad-abad permulaan. Mereka justru menerimanya. Maka Artikel Anglikan kedua (1563) berbunyi demikian:

Anak, yang adalah Firman dari Bapa, diperanakkan sejak kekekalan oleh Bapa, Allah yang kekal, dan memiliki substansi yang sarna dengan Bapa, mengambil natur manusia dalam kandungan anak dara, dari substansinya, sehingga dua natur yang utuh dan sempurna, yakni, keallahan dan kemanusiaan, digabungkan dalam satu pribadi, tidak pemah terpisahkan,

8L

+ I-.:RISTIIS YAN(; TI;\I);\ TAlt·\

>It "\I'''II~ \'illIH 111111"

HI

yang adalah satu Kristus, yang adalah Allah scmpurna dan mauusiu sempuma.

111111111 Nvn "SI'II"P lIIallg yang mall mcnuikur Aku, iu harus mcnyangkal till tuvn, nu-nukul snlrhnya dan rncngikut Aku." Jelaslah bahwa "meuvungkul dm" dun "mcnuikut Kristus" rncrupakan aspek-aspek yang saItllll. nwil-Ilv,kllpl dulam rclasi yang sama. Untuk mengikut Kristus, kita 11111 liS mcnyunukul diri. Narnun apakah yang diperlukan penyangkalan diri 1111" Apnkuh hcrurti harus menjalani suatu kehidupan dalam biara?

(iagasan ten tang kchidupan dalam biara bukan berasal dari Kekrisunuu. Ashram dalarn agama Hindu telah ada sebelum era Kristen, dan I"ga ada komunitas-komunitas Yahudi. Karena itu, tidak heran bahwa be- 111"1 apa orang Kristen yang memutuskan untuk benar-benar menjalankan I H'llgalaran Y csus, pasti sudah bereksperimen dengan berbagai gaya kehi.lupuu scbagai pcrtapa dan biarawan.

Narnun demikian, pada abad keenam barulah gaya hidup biara diganskuu olch Benediktus dari Nursia, Italia tengah (480-550). Dikirim ke Rorna untuk belajar saat usia remaja, dia merasa ngeri dengan kemerosot;111 moral dari kota itu, dan sebagai reaksinya, dia menarik diri ke dalam schuah gua di Subiaco. Sesudah itu, dia mendirikan dua belas komunitas hiara, masing-masing dengan dua belas biarawan dan seorang kepala biarawan, dan akhimya mendirikan biaranya sendiri di Monte Cassino di anlara Rorna dan Napoli, di mana dia menetap sampai akhir hayatnya. Di xini dia mengembangkan, dari peraturan-peraturan awal yang ada di kelompok-kelompok lain, Peraturan Benediktus yang lengkap, yang mernhuatnya mendapatkan julukan "bapa monastisisme Barat" dan yang selama ini disebut sebagai "salah satu dokumen peradaban Barat yang

I· b h ,,9

pa ing erpengaru .

Orang akan langsung terhenyak oleh dua kualitas yang dimiliki penulis Peraturan tersebut. Pertama, dia memiliki pikiran yang sangat rapi, scbab Peraturan tersebut terbagi atas tujuh puluh tiga pasal pendek, masing-masing tentang satu topik tersendiri, dan ditambah dengan tujuh puluh tiga kewajiban Kristen yang masing-masing dinyatakan dalam sebuah kalimat.

Kedua, sang penulis sangat mengenal Alkitabnya, sebab Peraturan tersebut dipenuhi dengan ayat-ayat Kitab Suci. Isinya meliputi beraneka ragam masalah praktis yang luas, termasuk petunjuk untuk mendisiplin komunitas, "rnencampurkan kelembutan dengan ketegasan" (pasal 2). Sedangkan bagi para biarawan, penekanannya adalah pada kerendahan hati dan ketaatan. "Sifat buruk berupa kepemilikan harta pribadi" (pasal 55) sarna sekali ditolak; sandang dan pangan yang dibutuhkan oleh para

Keempat, alasan para tokoh Reformasi rnenerima pengajaran ini adalah bahwa mereka mengakui dasar alkitabiahnya yang kuat. Seperti yang ditulis oleh B. B. Warfield dari Princeton, "Kristologi Kalsedon ... adalah suatu sintesis yang sangat sempurna dari data alkitabiah.,,7

Kelima, sekalipun kita mengagumi keseimbangan yang cermat dari para bapa gereja dalam menyusun definisi tersebut, kita juga mengakui bahwa kita sendiri terbatas dan telah terjatuh, bahwa Allah dalam kesernpurnaan-Nya yang tak terbatas benar-benar melampaui kita dan bahwa inkamasi merupakan misteri yang jelas akan terus kita selidiki sepanjang kekekalan.

Keenam, merupakan sikap yang bijaksana dan sekaligus rendah hati untuk menerima paradoks terbesar ini tanpa beranggapan bahwa kita bisa menyelesaikannya, Paus Leo menulis dalam Tome, "Kristus adalah Allah dan Kristus adalah manusia. Kedua natur ini bereksistensi bersama. Tidak satu pun dari kedua natur ini yang saling mengurangi apa pun atau menambahkan apa pun pada properti natur yang lainnya."

Tak seorang pun yang menyampaikan dengan lebih baik daripada Charles Simeon dari Cambridge, yang menjabat sebagai vikaris di Holy Trinity Church selarna lima puluh empat tahun pada awal abad kesembiIan belas dan yang secara mendalam berpengaruh atas beberapa generasi mahasiswa, Inilah yang dipegang teguh olehnya: "Kebenarannya bukanlah terletak pada bagian tengah, bukan pula pada salah satu ekstrem; melainkan pada kedua ekstremnya.?" Simeon berbicara tentang kedaulatan ilahi dan tanggung jawab manusiawi, Tetapi prinsipnya juga bisa diterapkan pada pribadi Yesus Kristus. Dia bukanlah Allah yang berpura-pura sebagai manusia, bukan pula manusia dengan kemampuan-kernampuan ilahi yang khusus, bukan pula semi-ilahi dan semi-manusiawi, tetapi sepenuhnya manusia dan sepenuhnya ilahi, Allah-manusia yang unik.

3. Kristus Biarawan yang Sempurna:

Benediktus

Dua pertanyaan tentang monastisisme

Markus 8:34 selalu tampak bagi umat Kristen sebagai teks yang mendasar dan memberi arti. Ini merupakan pesan Yesus kepada para calon

84

·r- KRISTIIS \'AN(; HAllA TAHA

'" "Y('SIIS rolng 1.001n"

biarawan ditetapkan oleh kepala biara. Pcraturan tcrsebut mcnggariskan suatu jadwal yang tidak terlampau ketat untuk ibadah dan masa tcnang, membaca buku-buku perpustakaan, dan kerja di dapur atau ruang pcnyimpanan makanan, mencuci pakaian, berkebun atau memanggang roti. Tugas-tugas lain termasuk pengembangan karunia seni para biarawan, praktik keramahan terhadap tamu, pendidikan bagi kaum muda, serta perawatan bagi orang sakit, lanjut usia, dan miskin.

Syarat-syarat dasar dari suatu kehidupan biara selalu adalah tiga kaul: kemiskinan, kesucian (artinya hidup selibat), dan ketaatan (pad a kepala biara). Ketiga kaul ini konon dibuat berdasarkan teladan Kristus, yang boleh dianggap sebagai biarawan sempuma. Dia hidup dalam kemiskinan, "tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya" (Mat. 8:20); Dia tidak pemah menikah; dan Dia berkata bahwa Dia datang bukan untuk melakukan kehendak-Nya melainkan untuk melakukan (menaati) kehendak Bapa-Nya yang telah mengutus-Nya (Yoh. 6:38).

Sudah pasti kita berutang banyak kepada tradisi monastis. Pertama, tradisi ini merupakan protes radikal terhadap dunia yang jahat dan gereja yang bobrok. Ini merupakan ungkapan rasa lapar orang Kristen akan kekudusan dan komitmen orang Kristen untuk menyangkal diri.

Kedua, tradisi ini tetap menghidupkan visi Kristen tentang kecendekiawanan dan memelihara budaya yang bercirikan Kristen melalui perpustakaan-perpustakaannya yang berharga, bahkan pada masa-masa barbarisme.

Ketiga, para biarawan abad pertengahan adalah misionaris, yang berkomitmen kepada penginjilan sekaligus kepedulian sosial terhadap kaum miskin. Sejumlah misionaris yang terbaik, seperti Franciscus Xaverius, adalah biarawan. Dalam hal ini mereka mempertahankan kesaksian yang diperlukan. Bapa Zossima, tokoh dalam karya Dostoyevsky yang berjudul The Brothers Karamazov, berkata dengan tepat bahwa para biarawan dari Gereja Ortodoks Rusia di dalam kesunyian mereka "menjaga gambar Kristus tetap bersih dan tanpa cela."'o

Namun sesudah mengungkapkan penghargaan yang tulus terhadap nilai tambah dari biara, saya merasa wajib mengajukan beberapa pertanyaan. Apakah tepat atau bermanfaat menggambarkan Tuhan Yesus sebagai biarawan teladan? Karena orang mengagumi komitmen, semangat, dan penyangkalan diri para biarawan Kristen, orang ragu-ragu untuk mengkritiknya. Namun kita harus melakukannya, jika kita ingin setia dengan gambaran Yesus yang diberikan oleh Perjanjian Baru.

I'l'Il a 111 a , monastisismc mcngagungkan pcnarikan diri dari dunia. 1\,11111 suju, sama scpcrti Y csus mcnarik diri dari kesibukan pelayananNyu kcpada orang hanyak dan pergi ke gunung untuk beristirahat dan hcrdoa, hcgitu pula para murid-Nya harus berbuat begitu, dan tetap begllu. Mcrupakan sikap yang sehat bagi semua orang Kristen untuk mempcrtahankan ritme keterlibatan dan penarikan diri. Namun penarikan diri dari dunia untuk sernentara, dengan pandangan untuk kembali kepada duilia, rncrupakan satu hal; sedang gaya hidup menutup diri merupakan hal lain. Escnsi dari inkamasi adalah bahwa Anak Allah masuk ke dalam dunia kita, dan tidak mau menjauh darinya. Dia juga menjelaskan bahwa I )ia ingin para pengikut-Nya mempunyai pandangan yang serupa tentang dunia, "Aku tidak meminta," kata-Nya kepada Bapa-Nya, "supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mercka dari pada yang jahat" (Yoh. 17:15). Kemudian Dia berkata lebih lanjut, "Sarna seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia" (Yoh. 17: 18). Maka kita tidak boleh mengagungkan penarikan diri dari dunia, kecuali untuk sementara waktu; karena itu akan menjadi penyangkalan terhadap inkarnasi.

Kedua, monastisisme menetapkan suatu standar ganda. Standar ini mengimplikasikan adanya dua jenis orang Kristen, kelas satu dan kelas dua, atau dua standar moral, yang satu baik dan yang lain lebih baik. Yang dianggap sebagai dasar alkitabiah untuk ini adalah pandangan Matius terhadap apa yang Yesus katakan kepada pemuda yang kaya itu:

"Jikalau engkau hendak sempuma, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin" (Mat. 19:21). Dari ucapan ini berkembanglah perbedaan di antara "perintah" (yang mengikat semua umat Kristen) dan "nasihat untuk sempuma" (yang mengikat para biarawan). Namun apa yang dipaparkan Perjanjian Baru kepada kita bukanlah dua standar, yang satu lebih tinggi atau lebih baik daripada yang lain, melainkan aneka pekerjaan dan pelayanan, yang sarna-sarna baik, namun berbeda satu dengan lainnya. Sebagian orang Kristen tetap dipanggil untuk menjadi miskin secara sukarela, seperti pemuda yang kaya dalam Injil, dan seperti Ibu Teresa dan para biarawatinya pada masa kini. Namun kebanyakan orang Kristen terpanggil untuk menjadi penatalayan atas harta milik mereka dengan saksama dan murah hati. Seperti yang Rasul Petrus katakan kepada Ananias tentang kekayaannya, "Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah di-

Xli

>I- "IUSTIIS L\N(; 11"1).,\ 1,\1(,\

-I' "Y('SUS yang Lain"

Xl

jual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasarnu?" (Kis. 5:4). Tiduk sutu pun dari pekerjaan-pekerjaan ini - kemiskinan dan pcnatalayanan yang lebih tinggi daripada yang lain.

Atau bicara tentang selibat. Tanpa keraguan, sebagian kecil orang Kristen terpanggil untuk hidup membujang. Yesus berkata dcmikian (Mat. 19:11-12). Demikian pula halnya dengan Paulus (lKor. 7: 1-7). Namun, bukan berarti keadaan membujang itu lebih hebat daripada menikah, atau menikah mengungguli hidup membujang. Keduanya merupakan charismata, karunia-karunia dari anugerah Allah (lKor. 7:7); sebagian terpanggil untuk menjalani hidup yang satu, sebagian untuk menjalani hidup yang lain. Ayat 7 merupakan kunci pemahaman keseluruhan dari 1 Korintus 7.

Kesimpulannya, paradoks Kristen berlaku bagi seluruh orang Kristen. Hanya jika kita melayani, kita akan mengalami kebebasan. Hanya jika kita melepaskan diri dalam kasih, kita akan menemukan diri. Hanya jika kita mati terhadap pemusatan pada diri sendiri, kita akan mulai hidup.

I innucy sampai berkata "buku yang paling benar dan paling agung tenIlIllg Pcncbusan yang pemah ditulis."!'

Ansclmus memulai pemikirannya dengan kondisi manusia. Dosa ber- 11111 "tidak memberikan kepada Allah apa yang seharusnya menjadi milikNva."!' Karena itu, dosa berarti "mengambil dari Allah apa yang menjadi nulik-Nya" dan dengan demikian, tidak menghormati Dia. Tetapi mengnpa Allah tidak mau mengampuni kita begitu saja, tanpa perlu salib? xcpcrti yang diucapkan oleh Heine, seorang sinis, pada abad kesembilan bclas, "Le bon Dieu me pardonnera; c 'est son metier.,,]3 "Lagi pula," lanjut orang yang mungkinjuga merasa berkeberatan, "kita dituntut untuk saling mengampuni. Mengapa Allah tidak bisa mempraktikkan apa yang I >ia khotbahkan dan berlaku murah hati juga?" Jawaban Anselmus terus rcrang: "Anda belum belajar tentang seriusnya dosa.,,14 Kita boleh menarnbahkan juga, kita belum belajar tentang keagungan Allah. Meskipun dcmikian, ketika kita sudah melihat Allah dalam kekudusan-Nya, dan diri kita sendiri dalam pemberontakan terhadap Dia, pertanyaan yang sesuai untuk diajukan adalah bukan mengapa Allah merasa sulit mengampuni kita, melainkan bagaimana Dia merasa bahwa itu tidak mustahil.

Anselmus menolak teori uang tebusan yang diajarkan oleh beberapa bapa gereja sebelumnya dengan alasan bahwa "Allah tak berutang apa pun pada Iblis selain hukuman.?" Sebaliknya, umat manusia berutang sesuatu kepada Allah, dan ini adalah utang yang harus dibayar. Namun kita tidak bisa membayamya. Bukunya yang pertama diakhiri dengan: "Manusia sebagai orang berdosa berutang kepada Allah, karena dosa, yang tidak bisa dibayamya; dan kecuali dia membayamya, dia tidak bisa selamat.,,]6 Maka hanya ada satu jalan untuk keluar dari dilema ini: "Tidak ada seorang pun ... yang bisa menyelesaikan utang ini kecuali Allah sendiri .... Tetapi tidak ada seorang pun yang harus melakukannya kecuali manusia; jika tidak, maka manusia tidak bisa menyelesaikannya." Karena itu, "perlu satu pribadi yang adalah Allah-manusia untuk melakukannya."!' "Pribadi yang sarna yang melakukan pelunasan itu haruslah Allah yang sempuma dan manusia yang sempuma karena tidak ada seorang pun yang bisa melakukannya kecuali Dia adalah Allah sejati, dan tidak seorang pun harus melakukannya kecuali dia adalah manusia sejati.?" Oleh karena inilah terjadi inkamasi Allah dalam Kristus, yang menyerahkan diri-Nya untuk mati dengan sukarela demi kehormatan Allah. Dia adalah satu-satunya Juruselamat, karena di dalam Dia sajalah aspek "rnanusia harus" dan "Allah bisa" bersatu.

4. Kristus dan Pengutang Feodal:

Anselmus

Theologi penebusan Abad Pertengahan

Selama beberapa abad, sejak Origen pad a abad ketiga dan Bapa-bapa Kapadokia pada abad keempat, teori "uang tebusan" (ransom) dalam doktrin penebusan (pendamaian) sangat berpengaruh: bahwa dosa telah menyebabkan umat manusia masuk dalam perbudakan oleh Iblis dan bahwa Kristus telah menebus kita dengan pembayaran uang tebusan kepada Iblis. Teori yang tidak bisa diterima ini tidak benar-benar ditentang sampai munculnya buku karya Anselmus yang luar biasa yang berjudul Cur Deus homo (Mengapa Allah Menjadi Manusia). Dia mendebat bahwa utangnya dibayarkan kepada Allah, bukan kepada Iblis.

Anselmus lahir di Italia pada sekitar tahun 1033, tinggal selama bertahun-tahun di Normandia, datang ke Inggris sesudah Penaklukan Normandia pada tahun 1066 dan meneruskan tugas Lanfranc sebagai Askup Agung di Canterbury pada tahun 1093. Dia adalah seorang yang banyak ~elajar, berpikiranjemih, dan saleh. Cur Deus homo, bukunya tentang salib, merupakan salah satu buku paling berpengaruh tentang penebusan semasa Abad Pertengahan; buku ini mengubah pemikiran gereja. James

oJ< KRISTlJS Y;\N(; '1'1;\));\ TAllA

oJ< "Yexus yang I.ain"

Kelebihan dari karya Anselmus yang berjudul Cur Deus hOII/o adalah penegasannya yang kuat (1) pada seriusnya dosa sebagai kctidaktuutan yang tak terampuni terhadap Allah, (2) pada kemustahilan dari kcsclamatan oleh diri sendiri, dan (3) pada perlunya inkarnasi, karena tidak ada seorang pun yang harus melakukan pelunasan kecuali manusia (yang telah berutang) dan tidak ada seorang pun yang bisa melunasinya kccuali Allah.

Meskipun begitu, bisa dimengerti mengapa Anselmus juga menerima kritik. Pertama, dia adalah seorang skolastik abad pertengahan, yang berupaya menyelaraskan filsafat dengan theologi. Sekalipun dia sangat ingin tunduk kepada Kitab Suci, perhatiannya yang lebih utama adalah agar pengajarannya "bisa diterima oleh rasio.,,19 Karena itu, kadang-kadang, dia sangat suka berspekulasi, dan dia selalu tampak dikuasai oleh logika yang dingin. Orang tidak bisa merasakan di dalam tulisannya suatu gel ora seperti yang ditimbulkan oleh Peter Abelard pada abad kedua bel as ketika dia merenungkan kasih Allah dalam salib Kristus.

Kedua, Anselmus mencerminkan budaya feodal pada zamannya di sepanjang pembahasannya. Feodalisme adalah sistem sosial abad pertengahan tentang hak pemilikan tanah dan hubungan pribadi yang melibatkan keseimbangan hak dan kewajiban di pihak tuan tanah maupun penggarapnya. Sang tuan tanah menginvestasikan hartanya (tanah atau uang) pada penggarap dan bertanggung j awab untuk melindungi dia. Sebaliknya, si penggarap menghormati tuannya dan bertanggung jawab melakukan pelayanan tertentu. Pelanggaran kewajiban oleh seorang penggarap dianggap sebagai perlawanan yang kejam seperti seorang penjahat, dan pe!unasan tertentu harus dilakukan demi kehormatan tuannya yang telah dilanggarnya. Apakah ini sesuai untuk menggambarkan Allah sebagai tuan feodal yang menuntut kehormatan, dan Kristus sebagai pengutang feodal yang melakukan pelunasan sebagai ganti kita?

Andai saja kita bisa menambahkan semangat Abelard kepada logika Anselmus! ~dai saja kita bisa mengubah gambaran Anselmus tentang Allah yang dianggap sebagai tuan tanah feodal, yang memutuskan untuk memuaskan tuntutan kasih dan keadilan dalam diri-Nya sendiri! Maka keseimbangan kita bisa lebih sesuai dengan Kitab Suci itu sendiri.

5. Kristus Sang Mempelai Laki-Iaki Sorgawi:

Bernard dari Clairvaux

Mistisisme Kristen

Mistisisme Kristen mencapai perkembangan yang terpenuh di Eropa antara abad kedua belas dan abad keempat be1as. Mistisisme ini berpusat puda Yesus Kristus sebagai kekasih, rnempelai laki-laki yang sesungguhllyn, dari jiwa orang Kristen, dan Bernard dari Clairvaux (1090-1153) mcrupakan penyohornya yang paling terkenal.

Sekalipun dia seorang yang pemalu dan sakit-sakitan karena disiplin dirinya yang keras, Bernard berbakat menjadi pemimpin, memiliki karunia yang banyak dan beragam. Dia berkhotbah dan menulis dengan sangat fasih, dan sangat bertekad kuat untuk mereformasi kehidupan biara. I ria pun tertarik ke dalam politik gereja dan memiliki pengaruh yang hcsar atas sejumlah paus, uskup, dan konsili serta atas keseluruhan gereja. Sclama dua dekade terakhir yang penuh gejolak dalam hidupnya, secara luas dia dianggap sebagai "hati nurani dari seluruh Eropa."

Pada saat yang sarna, dia adalah murid Kitab Suci yang tekun dan seorang theolog yang ortodoks. Sesungguhnya, pesannya yang berpusat pada Kristus merupakan aspek penting dari protesnya terhadap penekanan yang terlalu berlebihan pada intelek dan terhadap pelembagaan dan nominalisme gereja abad pertengahan.

Karya Bernard yang terkenal mungkin adalah Sermons on the Canticle of Canticles. Dia sarna sekali bukan sarjana pertama yang mengembangkan tafsiran alegoris tentang Kidung Agung. Untuk mernbela dimasukkannya kitab ini dalam kanon Perjanjian Lama, Rabi Aqiba yang kenamaan itu berkata, "Seluruh Kitab Suci adalah kudus, tetapi Kitab Kidung Agung merupakan yang paling kudus dari yang kudus.,,20 Sudah ada pula tafsiran-tafsiran Kristen tentang Kidung Agung yang ditulis oleh para bapa gereja, salah satunya oleh Origen pada abad ketiga dan yang lain oleh Gregory dari Nisa pada abad keempat. Namun khotbah-khotbah Bernard merupakan yang paling banyak dibaca dan disukai." Dia dikenal sebagai "doktor bersuara merdu," dan menurut pendapat Luther, "Bernard melebihi semua doktor lain di gereja.,,22

Selama delapan belas tahun terakhir dari kehidupannya (1135-1153) Bernard menyampaikan delapan puluh enam khotbah tentang Kidung Agung, sekalipun selama waktu itu dia hanya menyampaikan dua pasal pertama kitab tersebut. Dia tidak bisa dikatakan menulis sebuah tafsiran melainkan serangkaian meditasi bagi orang percaya yang sudah matang,

DO

.;. J.:IUSTIIS ),AN(; TIAI)/\ IAIL\

+ "\"SIIS V,IIIH 1.1111"

'll

Yesus, dengan merenungkan Engkau Rasa manis memenuhi dadaku ....

Yes us, renungan ini manis;

Dalam nama yang terkasih itu segala sukacita hati bertemu ....

Yesus, Engkaulah sukacita dari hati yang penuh kasih, Engkaulah sumber hidup, Engkau terang manusia, Dari pemberian terbaik yang bisa dunia berikan

Kami berpaling kepada-Mu dalam keadaan hampa.

1'1'11j1,j1,l1hI1I1I1YI1. "Ildak 1111l<lal1 untuk mcnduga srupa yang mcnulisnya," ~"'lI1h "11 I 1111 rc 111 11 11 Il' 1111 sallgal jclas bcrisi jcjak pikirannya, dan hanya

"1_,,

111111111 sed",11 dl'Il~I,all prosunya ..

Sl'Ill·l1ll11 kita mcninggalkan Bernard dari Clairvaux dan kedekatan nuxl rxnya dcugun Kristus, kita perlu mengajukan dua pertanyaan.

l'crt.uua. upa natur dari mistisisme Kristen? Karena bahasa misIISISI1Il' dipakui dalarn l linduisme, Buddhisme, Taoisme, Neoplatonisme, Yudaismc, dan Islam, dernikian pula halnya dalam Kekristenan, orang tcrlulu ccpat bcranggapan bahwa menjadi mistis memiliki arti yang sarna .lulam scluruh agama. Tetapi tidaklah demikian. Yang jelas, setiap orang mcngnrtikan "rnistisisme" dengan pengalaman yang salah dimengerti scbagai "pcrsatuan dengan yang ultimat." Namun sedikitnya ada satu perhcdaan mcndasar antara mistisisme Timur dan mistisisme Kristen. Tujuan dari mistisisme Timur adalah menghilangkan kepribadian mereka melalui pcnycrapan ke dalam yang ilahi, seperti setetes air menjadi larut dalam sumudra. Sebaliknya, dalam mistisisme Kristen setiap orang pereaya rncrnpertahankan jati dirinya, karena Allah telah meneiptakan diri kita dcngan kepribadian kita sendiri yang unik dan sudah menebus kita sehingga kita boleh semakin menjadi diri sendiri yang sejati, dan bukan mcnguranginya, Destini kita bukanlah kehilangan diri, melainkan melalui kchilangan diri, kita menemukan diri. Berada "di dalam Kristus" (suatu ungkapan kesukaan Paulus) berarti bersatu dengan-Nya seeara intim dan organis sehingga berbagi kehidupan-Nya. Yesus berdoa agar para pengikutnya boleh menjadi "satu" sarna seperti Dia dan Bapa adalah satu (Yoh. 17:21-23). Namun ketiga Pribadi dari Trinitas, sekalipun satu, tetap merupakan tiga pribadi yang berbeda seeara kekal.

Pertanyaan kedua yang perlu diajukan adalah apakah sah untuk menggunakan Kidung Agung sebagai suatu alegori tentang kasih di antara Kristus dan jiwa Kristen. Seeara umum menggunakan alegori untuk memberikan ilustrasi bagi suatu kebenaran adalah sah, tetapi bukan untuk membuktikan kebenaran tersebut. Artinya, jika suatu doktrin atau kewajiban sudah ditetapkan berdasarkan makna harfiah dari suatu bagian Alkitab, maka boleh saja menggunakan alegori untuk memberikan ilustrasi bagi kebenaran ini. Maka Kitab Suei mengajarkan dengan terus terang dan sering bahwa Allah dan umat-Nya saling berkomitmen dalam suatu kovenan kasih. Karena itu, adalah sah untuk memakai Kidung Agung, yang mengungkapkan kasih mempelai laki-laki dan mempelai wanita, untuk mengilustrasikan kebenaran ini.

yang "sudah siap bagi perkawinan mistis dengan Sang Mcrnpclai lnk i laki Sorgawi.v" Delapan khotbahnya yang pertama semuanya mcmhicarakan ayat yang sarna, yakni Kidung Agung 1 :2: "Kiranya ia mcncium aku dengan kecupan!"

Tidak perlu dikatakan lagi bahwa pembahasannya merupakan alcgorisasi yang menarik. Misalnya, dia merinei tiga ciuman (di kaki, tangan, dan mulut), yang melambangkan tiga tingkatan kemajuan jiwa mcnuju kesempurnaan. Meneium kaki Kristus berarti tersungkur di hadapan-Nya dengan penuh penyesalan yang rendah hati, seperti kisah Maria yang ada dalam kitab-kitab Injil. Inilah awalpertobatan. Meneium tangan Kristus berarti mengakui bahwa Dia adalah pemberi segal a karunia yang baik dan bahwa hubungan kita dengan Dia didasarkan pada kemurahan-Nya, bukan pada kebaikan kita. Namun, hanya sedikit yang mencapai eiuman ketiga. Ini adalah "ciuman tertinggi," ketika dengan takut dan gentar kita memberanikan diri untuk menaikkan diri "ke mulut ilahi yang mulia itu," dan menikmati ciuman persekutuan penuh kasih dengan Bapa, Anak, dan Roh Kudus.24 Dirangkum dalam deklarasi bahwa "kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia" (Kid. 2: 16), ciuman ini mengungkapkan persatuan tertinggi dari jiwa dengan Allah yang dirindukan oleh kaum mistik.

Banyak di antara kita sampai pada keyakinan bahwa devosi pribadi Bernard kepada Kristus terungkap dengan paling baik di dalam himnehimnenya. Saya terutama memikirkan himne yang berikut ini:

Sekalipun himne-himne ini sudah lama dianggap milik Bernard, para himnolos kini mengatakan kepada kita bahwa tidak ada bukti untuk beranggapan demikian. Mereka puas dengan mengatakan bahwa himnehimne ini dalam bentuk aslinya yang berbahasa Latin berasal dari abad kedua belas. Namun setidaknya seorang tokoh berotoritas seperti Uskup Agung Richard Chenevix Trench bisa menulis bahwa jika bukan Bernard

>[< I\RISTIIS YAN(; IIAIIA I/\lt,\

'" "YI'SII'i ~'aIiH lutu"

'II

Namun Kidung Agung sudah terlalu sering diindividualisusikun dun dipakai untuk menunjukkan kasih yang pribadi yang rnenyatukun Allah dengan individu tertentu. Sebaliknya, dua nabi yang banyak bcrbicara tentang kasih ilahi, Hosea dan Yeremia, me1ukiskan suatu gambar tcntang kasih Allah kepada umat kovenan-Nya. Janji-janji seperti "Aku akan menjadikan engkau istri-Ku dalam kesetiaan" tidak ditujukan kepada pribadi melainkan kepada bangsa yang tidak setia (Hos. 2: 19). Demikian juga dalam Perjanjian Baru, Paulus menulis bahwa "Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya" (Ef. 5:25). Memang, Paulus juga bisa menulis bahwa "Anak Allah ... telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku" (Gal. 2:20), tetapi bias-bias individualime seperti itu jarang, mungkin karena risiko erotisisme rohani, yakni suatu risiko yang - setidaknya dalam bahasa - tidak selalu bisa dihindari oleh mistik Kristen.

kuh lx-rhubuupuu Iil-llgall mcnuuikan sll:ll-sil:lt buruk, mclawun pcncoba- 1111, II 11'1 III ll'IICI kcsomhonuan duniawi, mcrniliki pandangan yang rendah 111111 trrhndnp tim scndiri, tidak mcmpcrcayai atau memikirkan hal yang ,,111111 1(,l1lal1g orang lain, mcnanggung kescngsaraan dan "salib-salib," IlIl'lI).',hllldari pcnghakirnan yang tcrgesa-gesa, dan mempersiapkan diri 1I1('lIghadapi kcmatian.

Nurnun dcmikian, buku ketiganya mengambil bentuk dialog antara "sunra Kristus" dengan "suara murid," di mana adakalanya Thomas menycrukan ungkapan kasihnya kepada Kristus. Berikut ini adalah sebuah contoh dari pasal 21 :

6. Kristus Sang Teladan Etika:

Thomas it Kempis

Suatu peneladanan yang asketis terhadap Kristus

Dalam buku Thomas a Kempis yang berjudul The Imitation of Christ, yang sangat terkenal dan direkomendasikan di seluruh dunia, kita melihat bahwa gereja di akhir abad pertengahan memaparkan Kristus sebagai teladan pemuridan yang tertinggi.

Thomas a Kempis lahir pada tahun 1379 di Kempen (karena itu dia dinamai demikian) di Jerman. Pada tahun 1400, pada usia dua puluh satu tahun, dia masuk sebuah biara Augustinian di wilayah keuskupan Cologne, dan dia ditahbiskan pada tahun 1413. Dia menetap di biara yang sarna sepanjang hidupnya, mati sebagai kepalanya pada tahun 1471, pada usia sembilan puluh satu tahun. Dia dikatakan pemalu dan suka belajar. Dia menghabiskan waktunya dengan membaca, menulis, menyalin, dan berdoa.

Dalam prakata untuk suatu terjemahan bahasa Inggris yang berjudul The Imitation of Christ, L. M. J. Delaisse menulis bahwa buku itu "telah memapankan dirinya dalam perjalanan se1ama berabad-abad, di samping Alkitab, sebagai buku yang paling berpengaruh dalam agama Kristen.,,26 Daya tarik buku ini mungkin adalah kombinasi asketisme dan mistisismenya. Dua buku atau bagiannya yang pertama diperuntukkan bagi pengembangan suatu kekudusan yang asketis. Tema-tema yang muncul berulang

Ya, Engkau mempelai jiwaku yang termanis, Yesus Kristus, Engkaulah kckasih yang termurni, Tuhan atas segala ciptaan! Siapakah yang akan memberiku sayap kebebasan sejati, sehingga aku boleh terbang ke peristirahatan terakhir dalam diri-Mu! 0, bilamanakah anugerah rohani ini diberikan kepadaku, sehingga dalam ketenangan akal budiku aku boleh melihat betapa manisnya Engkau, ya Tuhan Allahku? Bilamanakah aku boleh menjadi satu dengan-Mu? Bilamanakah, karena kasihku yang mendalam, aku tak lagi sadar akan diriku sendiri, melainkan hanya akan Engkau semata-mata?27

Sejenak kemudian dalam pasal yang sarna dia berseru kembali:

Ya Yesus, Engkaulah gemerlap kemuliaan yang kekal, Engkaulah penghiburan pada jiwa musafir, ... berapa lama lagi ya Tuhan, Engkau akan datang? Biarlah Dia datang kepadaku, hamba-Nya yang malang, dan membuatnya bersukacita .... Datanglah, ya datanglah! Sebab tanpa Engkau takkan ada hari atau jam yang membahagiakan; sebab Engkaulah sukacitaku, dan tanpa Engkau mejaku hampa."

Biarlah orang lain mencari kesukaan mereka selain Engkau; tetapi bagiku tidak ada yang lain yang dapat menyukakan diriku selain Engkau saja, Allahku, pengharapanku, keselamatanku yang abadi.29

Sekalipun kasih Thomas kepada Yesus dan kerinduannya akan hidup kudus seluruhnya disendirikan dalam bukunya, tentunya ada beberapa bagian yang mengintegrasikan keduanya. Misalnya, "berbahagialah dia yang mengerti apa artinya mengasihi Yesus, dan membenci diri demi Yesus. Biarlah dia menjadi kekasih yang mengabaikan segalanya demi Sang Kekasih.?" Dan lagi, "ketika Yesus hadir, segalanya baik, dan tidak ada yang tampak sui it; tetapi ketika Yesus tidak ada, segalanya SUlit.,,31

94

>I< KRISTUS YANG TJADA TARA

fI'i

Dan "kasih Yesus yang agung mengilhami kita untuk melakukan hal-hal besar, dan mendorong kita untuk merindukan kesempurnaan. ,,32

Maka sasaran dan motivasinya jelas - mengejar kekudusan karcna kasih kepada Kristus. Buku itu dirangkum dalam satu epigram Thomas:

"Orang yang banyak mengasihi adalah yang banyak berbuat. "JJ Pcncgasan-penegasan ini sangat kita dukung, dan sangat kita kagumi. Kiranya kita semua yang mengaku mengikut Yesus Kristus merasakan lapar dan haus ak~n kebenaran, sebagaimana Thomas, dan berapi-api mengabdi pada Knstus, sebagaimana Thomas!

Ta~i akan tampak kasar dan berkesan menggurui jika kita mengajukan penngatan apa pun. Namun perlu setidaknya mengajukan sejumlah pertanyaan. Apakah gereja pada akhir Abad Pertengahan boleh menampilkan Yesus Kristus terutama sebagai teladan etika tertinggi dan kehidupan Kristen sebagai peneladanan terhadap Kristus? Memang Yesus berkata, "Ikutlah Aku," dan Paulus menulis, "Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus" (lKor. 11: 1). Jadi apakah yang kurang dari karya klasik Thomas a Kempis? Saya mengajukan empat pertanyaan lanjutan.

Pertama, sudahkah Thomas memahami esensi dari undangan Injil, yang bukan berupa melakukan pekerjaan yang baik dengan meneladani Kr~stus, melainkan terlebih dahulu menaruh kepercayaan kita kepada K~lSt~S yang disaIibkan sebagai Juruselamat kita? Dia tidak tampak memiliki keyakinan apa pun bahwa Allah menerima dia, sebab dia terus hidup dal~m keta~tan pada penghakiman, api penyucian, dan neraka. Lagi pula, ruJu~an-ruJukannya kepada kasih Kristus hampir seluruhnya rnerupakan kasihnya kepada Kristus daripada kasih Kristus kepada dia. Dia tidak pernah mengutip keyakinan yang kuat mengenai "kasih Kristus y~ng meng~asai" kami (2Kor. 5:14) dan bahwa tidak ada yang bisa mernisahkan kita dari kasih Kristus (Rm. 8:35-39).

K~dua, sudahkah Thomas memahami jalan kekudusan, yang bukan melalui peneladanan terhadap Kristus, melainkan melalui persatuan dengan-Nya? Hal yang lebih utama bukanlah saya yang hidup seperti Kristus, melainkan Kristus yang hidup di dalam saya. Sebagaimana yang dikatakan James Stalker, "Keseluruhan pengajaran Rasul Paulus berkisar pada dua kutub, yaitu kebenaran melalui kematian Kristus bagi kita dan kckudusan melalui hidup Kristus di dalam kita. ,,34

Ketiga, sudahkah Thomas memahami konteks etika Kristen? Kontcksnya, jika kita boleh mengutip ucapan Stalker kembali, adalah "dunia

11111111 VUlIg 1\1'1,11 d:tll 111111101011.,,1', Nnmun koutcks kcludupun Kristen I'LTlillllIlIlI 1111111 "dllialt :lIl'l1a tcmpa: kcrju dan pasa r yang ramai, sibuk, dan 1I11'IHIIII:IIIV, Ml'lltallg, kitu udaluh "pcndatang dan pcrantau" di bumi (sehllilit kcIoutpok kat a dart I Petrus 2: 11, yang Thomas kutip berulang ~illl), Il'Iapl 1111 tld"k pcrlu diartikan scbagai penarikan diri seperti yang t1111',1l111SIl,all nlch Thomas. "Rindukanlah persekutuan dengan Allah senuuu." tulisnya, "dan dcngan para malaikat-Nya yang kudus; dan jauhkilldah dirt dari pcrgaulan dcngan manusia.":" Dan lagi, "Sebisa mungkin lu-husk.m diri dari tckanan dan kekacauan dunia.":" Dia menganggap umat Kristen scharusnya "sepenuhnya tenggelam" bukan dalam dunia nu-Iumkun "dalarn AlIah.,,38 Sebab dalam pandangannya, "orang kudus u-rbcsnr mcnghindari masyarakat manusia, dan memilih hidup bagi Allah dalum kcscndirian," dan dia menambahkan, "seperti yang Yesus perhila L" I'J Namun ada suatu ketidaksesuaian atau kesalahpahaman yang seI illS di sini. Yesus memang mencari waktu menyendiri untuk beristirahat dan bcrdoa, seperti yang kita lihat ketika memperhatikan kehidupan di lnara, tctapi hanya untuk memulihkan kekuatan dalam menghadapi tuntutun pclayanan-Nya kepada orang banyak.

Kcempat, sudahkah Thomas memahami implikasi dari peneladanan? /'II(' Imitation of Christ adalah judul populer yang menarik yang diberikan kcpada bukunya dan mungkin mempengaruhi ketenarannya. Namun ketika seseorang mulai membaca, dia akan langsung kecewa karena Thomas tidak berhasil menangani tema peneladanan itu seperti Perjanjian Baru. 'I 'ampaknya satu-satunya hal mengikut Kristus yang dibicarakan Thomas adalah kewajiban memikul salib kita dan tabah menghadapi penderitaan mcnurut teladan Kristus. Maka, di manakah referensi untuk meneladani kerendahan hati Kristus dalam inkarnasi dan kematian-Nya (Flp. 2:5-8), mengasihi sesama sebagaimana Kristus mengasihi kita (Ef. 5:2) dan mengampuni sesama sebagaimana Allah di dalam Kristus mengampuni kita (Ef. 4:32), memurnikan diri sebagaimana Dia murni (l Yoh, 3:3), mengikuti Iangkah-langkah-Nya menanggung penderitaan karena ketidakadilan tanpa dendam (lPtr. 2:18-21), atau pergi ke dunia dalam mengemban misi, sarna seperti Dia diutus o1eh Allah Bapa (Yoh. 17: 18; 20:21)7 Tema-tema besar Perjanjian Baru ini, yang merinci makna meneladani Kristus, tidak ada dalam buku karya Thomas, dan ini adalah kekurangan buku tersebut.

Orang berharap agar Thomas lebih memperhatikan pcngajaran Perjanjian Baru dan tidak memisahkan antara Kristus Sang Juruselamat dan

!)(i

>[< I\I{ISTIIS YAN(; 111\1)1\ 1 "11\

·1' """,ll'; "illllt I .uu"

1)7

Kristus Sang Teladan (lPtr. 2:21, 24). Kristus bagi kita dan Kristus dl du lam kita, dan panggilan mengikut Kristus baik dalam penarikan diri maupun dalam keterlibatan.

1"" .... 11 l'crnvntnun YIlIIJ-l mcugcjutknn uu mcnyingkapkan citra yang k"IIIII It'lllallg Yl"SIlS Knstus yang dia miliki sclama ini, yang discbabkan lilt-II 1',",,-IIII1Ulal1 moralnya yang bcgitu bcrat. Bagi dia kala itu, Kristus 111111 ku, hukan hcrsahabat: mcngancam, bukan penyayang; hakimnya, bukun .luruschuuatnyu. Di manukah dia bolch menemukan suatu Allah yang pl'lIgaslh? ltulah tangis kcscdihannya yang mendalam.

K 1111 Luther bcrpaling kcpada Kitab Suci. Dalam mempersiapkan pvrkuliuhan yang disampaikannya di universitas, dia mempelajari Maz- 111111" pada tahun 1513-1515 dan Surat Roma pada tahun 1515-1516. Dia lalh Icrganggu olch doa dalam Mazmur 31 :2, "Luputkanlah aku oleh kurenu keadilan [kebenaranj-Mu," dan oleh pernyataan dalam Roma 1: 17 hahwa kcbenaran Allah disingkapkan dalam Injil. Jika kebenaran Allah adalah keadilan-Nya, tanyanya pada dirinya sendiri, bagaimanakah kebenuran tersebut membawa keselamatan, atau menjadi bagian dari lnjil? l.uther bergulat dengan pertanyaan ini, sebab dia tetap memahami bahwa "kcadilan Allah" dinyatakan dalam menghukum ketidakbenaran. Kedengarannya bukan seperti kabar baik!

7. Kristus Sang Juruselamat yang Penuh Kemurahan:

Martin Luther

Pembenaran hanya oleh iman

Sulit bagi kita pada masa ini untuk memahami beban berat dosa dan kejahatan yang ditanggung jemaat gereja abad pertengahan. Mereka dibesar~an untuk memusatkan perhatian pada murka Allah, kengerian penghakiman, dan sengsara di api penyucian dan neraka. Mereka hidup dalam ketakutan, berjuang untuk memperoleh perkenan Allah dengan perbuatan kebenaran yang baik. Sebab inilah pengajaran gereja.

Tidak terkecuali pula Martin Luther pada mulanya. Dia lahir pad a tahun 1483; ayahnya berambisi tentang dirinya dan mengirimkannya untuk mene~puh pembelajaran di sekolah dan universitas. Namun sepanJ~ng waktu dia mengalami gejolak rohani yang dahsyat. Ketika menyaksikan seorang ternan mati oleh sambaran kilat, dia dicekam oleh rasa t~k_ut menghadapi kematian dan penghakiman. Maka dia menyerahkan ~lr~ sepenuhnya u~tuk melayani Allah dan masuk ke sebuah biara Angustinian, ~arena yakin bahwa di sini dia pasti sanggup menyelamatkan jiwanya. Dia berdoa, berpuasa, dan menjalankan pola hidup yang benar-benar ketat. "Saya adalah biarawan yang baik," kelak dia menulis. "Jika ada seorang biarawan pergi ke surga karen a kebiarawannya itu pastilah sa-

,,40 N '

ya. amun semua cara hidupnya yang asketis justru meningkatkan,

dan bukannya mengurangi, pergolakan batinnya. Dia melakukan pengakuannya dan melakukan penebusan dosa. Dia mengambil kaul kemiskinan, ke~u~ian, dan ketaatan. Dia tenggelam dalam studi-studi theologinya. Dia ditahbiskan menjadi imam. Dia berziarah ke Roma dan rnerangkak dengan lututnya menaiki dua puluh delapan anak tangga di Scala Sancta. Namun semuanya itu tidak bermanfaat. Dia menjadi kecewa dengan gereja, yakin bahwa gereja telah kehilangan kunci-kunci kerajaan Allah.

Pada tahun 1512 Luther menjadi profesor Alkitab di Universitas Wittenberg. Mula-mula dia terus merasa ragu-ragu dan takut. Dia mene~~pk~n untuk memu~skan Allah namun tidak menemukan kedamaian.

Ketika saya mencan Kristus," dia pemah berkata, "saya seperti melihat

Siang dan malam aku merenungkan sampai ... aku memaharni makna yang sesungguhnya, yaitu bahwa kebenaran Allah adalah kebenaran yang dengannya, melalui anugerah dan kemurahan semata, Dia membenarkan kita oleh iman. Pada saat itulah aku merasa diri ini dilahirkan kembali dan pergi melewati pintu-pintu yang terbuka menuju firdaus. Seluruh Kitab Suci seperti memiliki makna baru, dan jika sebelunmya "kebenaran Allah" memenuhiku dengan kebencian, kini bagiku kebenaran itu menjadi manis tak terucapkan dalam kasih yang lebih besar. Perikop dari Paulus ini bagiku menjadi gerbang menuju sorga.42

Maka theologi dan pengalaman Luther berjalan bersama. Melalui lnjil pembenaran oleh anugerah saja, dalam Kristus saja, melalui iman saja, yang kini telah menjadi jelas baginya, Luther menemukan penerimaan oleh Allah yang selama bertahun-tahun telah dicarinya dengan putus asa. Dia tidak menjadi antinomian (seperti yang adakalanya dilontarkan oleh pihak-pihak yang mengkritiknya), dengan menyatakan bahwa perbuatan baik bukan perkara yang penting, sebab dia bersikeras bahwa perbuatan baik merupakan buah iman. Luther juga bukan seorang inovator; sebaliknya dia memulihkan lnjil rasuli yang asli yang untuk sementara waktu hilang dari gereja. Dia menulis dalam tafsirannya atas Surat Galatia, "Inilah kebenaran Injil. Ini juga adalah artikel mendasar dari seluruh

-I< KIUSTI IS Y;\Nt; '1'1;\0;\ T;\I{!\

1)1)

doktrin Kristen, yang di dalamnya terkandung pengetahuan tcntung Sl'~~i1' la kesalehan. Karena itu, yang paling penting adalah bahwa kita scharusnya kenaI baik dengan proposisi ini, mengajarkannya kepada scsarna, dan terus mengingatnya dalam benak mereka.?" Doktrin inilah, tambahnya, "yang benar-benar membuat seseorang menjadi Kristen sejati, ,,44 scbub "begitu proposisi tentang pembenaran hilang, maka seluruh doktrin Kristen sejati pun hilang, ,,45

Karena itu, di setiap generasi, gereja perlu memulihkan kembali doktrin pembenaran. Paulus menyebutnya "Injil kasih karunia [anugerah] Allah" (Kis. 20:24; bdk. Gal. 1 :6), dan anugerah adalah kasih Allah yang bukan didapatkan melalui perbuatan baik kita, Injil ini menampakkan keindahannya yang sempurna pada salib. Injil ini menawarkan keselamatan bagi orang berdosa sebagai karunia yang sepenuhnya cuma-cuma. Karena itu, Injil ini tidak memberikan temp at bagi manusia untuk memegahkan diri. Injil ini memberikan kemuliaan kepada Yesus Kristus semata-matakepada Yesus Kristus Juruselamat kita yang penuh anugerah.

Sd"V"II/I'1 1I11'lIl1l1s. "llIglll Illl'nggill1lbarkan I )ia scbugai manusia yang llqilll dun 111111111. nll'ngoyakkan dari-Nya jubah indah yang dikcnakanNyu. dun mcngcnnkun pada-Nya sckali lagi pakaian yang tak layak yang

I 'I di G 1'1 ,,4{, 1"'1111111 I ),a pakai saal icrja an I ra I ea.

ltuku Uli' ofJesus yang paling terkenal ditulis oleh David Friedrich SlnlllSS dan ditcrhitkan dalam dua volume setebal 1.480 halaman ketika dill mnsih bcrusia dua puluh tujuh tahun pada tahun 1835-1836. S,·hwcil:l,l'I" menghabiskan tiga pasal untuk membahas Strauss dan meuvatukan bahwa sckalipun dia bukan theolog yang paling besar maupun yang paling mcndalam, namun "dia adalah yang paling tulus.T" Strauss nn-ncmukan bahwa, karena masalah integritas, dia tidak bisa mengkhothnhkan apa yang sebelumnya dia yakini. Dia membahas seluruh kitab lnj i l dcngan sangat terperinci, kejadian demi kejadian dan perumpamaan dcmi pcrumpamaan, dengan menjelaskan semua kejadian dan perump.uuaan tersebut menurut konsep "mitos'l-nya atau menyebut semuanya scbagai legenda mumi, sekalipun dia percaya akan adanya kesadaran diri Mcsianis dalam diri Yesus. Straus langsung menjadi selebriti di tengahIcngnh badai theologi, namun ini justru menghancurkan kariemya.

Yang lebih dikenal oleh para pembaca berbahasa Inggris mungkin .ulalah La vie de Jesus oleh Ernst Renan (1863). Seperti halnya Strauss, bcgitu pula dengan Renan: ledakan kecemasan dan amarah menyambut pcnerbitan bukunya, Meskipun demikian, kritik terhadap Renan berasal dari kedua belah pihak. Bagi kaum ortodoks, dia adalah bidat; bagi kaum liberal, dia kurang liberal. Namun yang pasti, dia memang liberal. Pada bagian awal bukunya dia menulis, "Bahwa sebagian dari kitab-kitab Injil hcrisi Jegenda sudah terbukti, sebab kitab-kitab itu penuh dengan mujizat dan hal-hal yang supernatural.?" Sekalipun Yesus yakin Dia adalah Mesias, Dia bukanlah inkamasi Allah; kitab-kitab Injil "penuh dengan kesalahan dan konsep yang keliru'?"; dan tanpa kebangkitan yang sesungguhnya, "kasih sayang dari seseorang yang begitu dikuasai halusinasi [d 'une hallucinee, yang merujuk kepada Maria Magdalena] memberikan kepada dunia berita tentang Allah yang bangkit kernbali.T"

Namun alasan mengapa Vie karya Renan juga menarik pujian dari pembaca adalah adanya kekaguman dan bahkan devosi yang jelas dimi- 1iki si penu1is pada Yesus. Renan menulis tentang "hati Yesus yang peka dan baik"Sl dan tentang "kegeniusan-Nya yang lembut namun tajam.?" Dia bahkan menulis tentang "keilahian" Yesus, meskipun tidak memaksudkannya secara harfiah.

8. Kristus Sang Guru Manusia:

Ernst Renan dan Thomas Jefferson

Skeptisisme Pencerahan

Apa yang dinamakan sebagai Pencerahan Eropa atau Abad Rasio, yang berkembang semasa abad ketujuh belas dan kedelapan bel as, membentuk suatu serangan frontal terhadap keyakinan tradisional gereja. Tujuannya yang terutama adalah menyatakan otonomi akal budi manusia, dan dengan begitu menggantikan penyataan dengan rasio, dogma dengan ilmu pengetahuan, yang supernatural dengan yang natural, dan suatu pandangan yang pesimis tentang kondisi manusia dengan keyakinan pada kebaikan hakiki dari natur manusia yang mengakibatkan kemajuan sosial yang tak terhindarkan.

Dalam serangan umum terhadap Kekristenan yang ortodoks, pribadi Yesus tidak dibiarkan luput. Pencerahan ini memaparkan Yesus yang hanyalah seorang guru manusia. Ungkapan yang paling terkenal tentang hal ini ditemukan dalam berbagai tulisan "kehidupan Kristus" yang diterbitkan sejak akhir abad kedelapan belas sampai akhir abad kesembilan bel as, kira-kira delapan puIuh dari antaranya didokumentasikan oleh Albert Schweitzer dalam bukunya yang terkenal, The Quest of the Historical Jesus. Penulis-penulis dari "kehidupan" yang radikal ini, demikian

100

'I' KRIST! JS YAN(; IIAI)t\ TAIL\

0(0 "\ (· ... 1, .. \jlIlH 1.1111"

I () I

Sesudah mengisahkan kematian-Nya, Renan berkata sccara langsung kepada Yesus, "Beristirahatlah kini dalam kemuliaan-Mu, hai Pcmrukursu yang mulia. Karya-Mu telah usai; keilahian-Mu telah ditegakkan.:":' "Sclama ribuan tahun dunia akan menyanjung-Mu .... Antara Engkau dan Allah, manusia tidak bisa lagi membedakan.Y' Namun, janganlah kita tertipu oleh jenis penghonnatan retorik ini. Renan sendiri yang mengatakannya. "Sosok yang agung ini ... boleh kita sebut ilahi, tidak dalam pengertian bahwa Yesus telah menyerap seluruh yang ilahi '" melainkan dalam pengertian bahwa Yesus adalah sosok yang menyebabkan sesamaNya manusia melakukan langkah terbesar menuju yang ilahi."S5

P~da akhirnya, Yesus menurut pandangan Renan hanyalah seorang manusia, "Maka, marilah kita menempatkan manusia Yesus di puncak t~rtinggi. dari keagungan manusia.?" Di antara orang-orang yang "biasablas~ saja seperti pada umumnya" umat manusia, "ada pilar-pilar yang menjulang ke langit." "Yesus adalah yang tertinggi dari pilar-pilar ini."s7

Berikut ini adalah kesimpulan Renan:

11111 yUill'. 111111111 dllll snit-lillIlIlI yall)!. l Jiu lallalllkall hcruluug-ulang. maka klill ukun 111"11111 111"11111 "4111 layak Ihsehllllllllrid-lIIurid-Nya.'"

Apa pun fenomena yang tidak terduga yang mungkin muncul kelak Yesus tidak mungkin akan terlewati. Penyembahan kepada-Nya akan terus-menerus diperbarui, kisah kehidupan-Nya akan menyebabkan air mata .mengalir tanpa h.enti, penderitaan-Nya akan melembutkan hati yang terbaik; dan segala USIa akan mengumumkan bahwa di antara anak-anak manusia, tidak ada yang lebih besar daripada Yesus.S8

i\klllllillya, dcngun I1lcnggunakan gunting dan perekat, Jefferson dua kllil IlIl'lIghasdlwll verst kitab-kitab Injilnya sendiri, yang di dalamnya ',1°11 II Iii 11111)1/,<11 dan mistcri dihilangkan. Versi yang pertama adalah karya VIIIIF, dlhasdkannya hanya dalam waktu dua atau tiga malam di Gedung 1'111 III dan dibcri judul /11(' Philosophy of Jesus of Nazareth (1804). Buku 1111 hunya hcrisi pcngajaran moral Yesus, yang dikelompokkan dalam Illpll,-lopik. Vcrsi yang disebut sebagai Alkitab Jefferson kedua muncul pad a tahun 1820 dan dinamakan The Life and Morals of Jesus of Ni/;:{/reth. Buku ini berisi garis besar kehidupan-Nya, yang diakhiri secara mcndudak dengan penguburan-Nya: mereka "menggulingkan sebuah batu llL"sar kc pintu kubur, lalu pergi." Itulah kata-kata terakhirnya. Tidak di-

';1I1ggung masalah kebangkitan.

Jefferson mengklaim bahwa karyanya merupakan hasil dari akal se-

hat. Scpcrti halnya dengan kebenaran-kebenaran "yang membuktikan dinnya sendiri" dari Deklarasi Kemerdekaan yang ditulisnya, demikian pula dalam pengajaran Yesus dia menganggapnya sebagai masalah sederhana, yaitu mengabstraksi "apa yang sebenarnya milik-Nya dari sampah

b d .. b k ,,60 N

yang mengu urnya .. , pennata an tim unan otoran. amun perasa-

all hatinya adalah rasa percaya diri yang tidak beralasan, dan kriterianya sangat subjektif. Ketika dua rekonstruksi Jefferson tumbang, kitab-kitab

lnj i I sendiri tetap bertahan.

Sebuah eontoh pemikiran Pencerahan yang terkenal adalah Thomas Jefferso~, peran~ang utama dari Deklarasi Kemerdekaan Amerika (1776) dan presiden ketiga Amerika Serikat (1801-1809). Selain genius, dia adalah penemu, arsitek, petani, filsuf, negarawan, diplomat, dan pendiri University of Virginia. Pada saat yang sarna, dia seorang pemikir bebas (freethinker) dan deis. Sekalipun dia mengagumi Yesus karena mengajarkan penlaku murah hati dan etika, dia menolak mujizat, dan semua misteri se~erti Trinit~s, karena dianggapnya tidak kompatibel dengan alam dan rasto. Maka dia berketetapan untuk merekonstruksi suatu Kekristenan tanpa dogma dan seorang Yesus tanpa mujizat. Dia menulis:

K~tika ~ita te.la~ menyingkirkan istilah yang tidak bisa dipahami tentang ant~etIka Tnmtas: bahwa tiga adalah satu, dan satu adalah tiga ... ketik~, .smgkat ~ata, kita telah menghapus semua pembelajaran yang pemah diajarkan sejak masa hidup-Nya [Yesus], dan kembali pada doktrin-dok-

9. Kristus Sang Korban yang Tragis:

John Mackay

Jumat Agung tanpa Paskah

Yesus sang teladan etika adalah milik Abad Pertengahan, Yesus Juruselamat yang penuh kemurahan milik Refonnasi, dan Yesus guru manusia biasa milik Pencerahan abad kedelapan belas. Ketiga-tiganya muncul di Eropa. Karena itu, kini tiba saatnya untuk memperhatikan suatu gambaran gereja tentang Yesus Kristus, yang dimulai di Spanyol namun kemudian mengembangkan bentuk khusus tersendiri di se1uruh Amerika Latin.

Dalam penelitian ini saya akan bersandar pada sebuah buku terkenal yang diterbitkan pada tahun 1932 dengan judul The Other Spanish Christ. Penulisnya adalah seorang Skotlandia yang bernama John A. Mackay,

I()~

'" "\('SIIS yang 1,1111"

I () I

yang sesudah belajar di Spanyol dan menemukan jiwa Iberia, mcnghahrskan waktu dua puluh tahun sebagai seorang misionaris Presbiterian dl 1,1- rna, Peru (di mana dia merupakan orang Protestan pertama yang mcnjabat sebagai kepala departemen filsafat di Peru's National University), di Montevideo, Uruguay, dan di Meksiko City, Kelak dari tahun 1936 sampai tahun 1959, Mackay menjadi presiden khusus dari Princeton Theological Seminary.

Buku klasik Mackay yang berjudul The Other Spanish Christ: A Study in the Spiritual History of Spain and South America mengisahkan kembali kisah mengerikan dari para penjajah asal Spanyol, yang mengalahkan dan menjajah penduduk asli benua tersebut dengan paksaan secara fisik pada awal abad keenam belas.

Apakah gambaran tentang Yesus yang diperkenalkan oleh ajaran Katolikisme Spanyol kepada Amerika Latin? Kristus yang datang ke Amerika Latin, jawab Mackay, adalah sosok tragedi. "Kristus bcrdiri di hadapan kita sebagai korban yang tragis."?' Para seniman religius Spanyol melukiskan Kristus sebagai sosok yang "memar, biru lebam, pucat, dan berbilur-bilur darah," "Kristus-Kristus yang dipelintir yang bergumul dengan maut, dan Kristus-Kristus yang terbaring yang telah menyerah kepada maut itu ... Semuanya adalah inti dari tragedi yang berat. ,,62

Tentang satu gambaran tertentu, Mackay menulis, "Dia mati untuk selamanya. Dia telah menjadi inkamasi dari kematian itu sendiri .... Kristus ini .. , tidak bangkit kembali. ,,63 Kemudian dia mengutip perkataan Miguel de Unamuno, filsuf eksistensial awal abad kedua puluh: "Mayat Kristus ini ... terbujur terlentang dan lurus bagaikan dataran, tanpa jiwa dan tanpa pengharapan, dengan mata terpejam menghadap ke langit?" Mackay berkomentar, "Dalam agama Spanyol, Kristus telah menjadi pusat dari penyembahan kepada kematian.T" "Seorang Kristus yang dikenal dalam kehidupan sebagai bayi dan dalam kematian sebagai mayat, yang atas masa kanak-kanak-Nya yang tak berdaya dan nasib tragisNya Sang Bunda Perawan memegang kendali.T"

Demikian juga Kristus Creole (Amerika Latin yang dijajah Prancis) "tampil hampir secara eksklusif dalam dua peran yang dramatis - peran sebagai bayi dalam tangan ibu-Nya, dan peran sebagai seorang korban yang menderita dan berdarah. Itu merupakan lukisan dari seorang Kristus yang lahir dan mati, namun yang tidak pemah hidup,,67 - dan, kita boleh menambahkan, tidak pemah hidup kembali, yaitu, tidak pemah bangkit,

11'11111 sallV,al mcnarik hahwa sckitar lima puluh tahun sesuda~ Mackuv hnada dl Peru. almnrhurn I lcnri Nouwen berkunjung ke kota ItU, dan I,,'dlla ~all)', lersehlll, scorang misionaris Presbiterian dan seorang Ima~ 1\1Ii1lllk Roma, snrnpai pada kesimpulan yang sarna. Nouwen menuhs ,Ldallllllrnainya hahwa di gereja-gereja di kota Lima, "banyaknya pengI',allll1arall K ristus yang menderita menimbulkan suatu kesan yang menda- 1:lIl1,""x "Namun yang paling mengerikan," lanjut Nouwen,

adalah scbuah altar besar yang dikelilingi oleh enam celah dinding di mana Yesus digambarkan dalam keadaan penderitaan yang berbeda: diikat pada sebuah tiang, tergeletak di lantai, duduk di atas sebuah batu: dan sebagainya, hampir selalu dalam keadaan telanjang dan diselimuti darah, .. Saya sarna sekali tidak melihat adanya tanda-tanda kebangkltan pada semua gambar tersebut, tidak satu pun yang mengingatkan saya kepada kebenaran bahwa Kristus mengalahkan dosa dan maut, dan bangkit dengan penuh kemenangan dari kubur. Semuanya ad~lah Jumat Agu~g. Tidak ada Paskah .... Penekanan yang hampir eksklusif pada tubuh Knstus yang teraniaya bagi saya merupakan pemutarbalikan terhadap Kabar Baik menjadi suatu kisah yang mengerikan dan mengancam ." orang

k 69 banyak namun tidak membebaskan mere a.

Dalam menarik perhatian pada penggambaran Kristus yang tak berdaya yang populer di Amerika Latin ini, tentu saja saya tidak n:engatakan bahwa ini adalah gambaran satu-satunya yang dikenal umat Kristen Amerika Latin. Buku Mackay sengaja diberi judul The Other Spanish Christ dengan maksud untuk menunjukkan bahwa ada sebuah t~a?isi altematif, sekalipun tradisi itu sudah hampir punah. Itu adalah tradisi kaum mistik

Spanyol abad keenam belas, yang dimulai oleh Raymond Lull. .

Lull lahir di Mallorca pada tahun 1236 dan ketika masih muda dia adalah seorang pengawal istana dan prajurit yang suka mencari kesenan~an. Namun, sesudah pcrtobatannya, tiga tujuan hidup terbentuk dala~ pikirannya: (l) menulis sebuah buku yang definitif untuk membuktikan bahwa Kekristenan adalah hcnar dan Islam salah, (2) membangun perguruan-perguruan tinggi di mana bahasa-bahasa misiona~is bisa dipelaj~ri, dan (3) mati sebagai martir bagi Kristus. Dia kemudian membuat tiga kunjungan misi ke Afrika Utara, kctika dia berusia lima puluh enam, tu~ juh puluh, dan delapan puluh tahun: Pad a setiap kesempatan, dia berani memberitakan Kristus sccara tcrhuka eli alun-alun kota dengan menggunakan bahasa Arab. Pada dun kcscmpatan pcrtama, dia ditangkap, dipen-

104

>[< "IWiTl IS YAN(; TIAI M ,,,,(.\

,I, "Y('SUS yang Lain"

IW,

jarakan, dan dibuang. Pada kunjungannya yang ketiga, sckclompok orallj.{ yang marah menyeretnya ke pantai dan merajamnya sarnpai mati.

Berikut adalah salah satu dari pemyataannya yang paling bcrkcsun:

"Gambar dari Kristus yang disalibkan justru lebih banyak didapati padu diri manusia yang meneladani Dia dalam kehidupan mereka sehari-hari daripada dalam salib yang terbuat dari kayu .... Orang yang tidak mcngasihi adalah orang yang tidak hidup. Dia yang hidup oleh Kehidupan itu tidak dapat mati. ,,70

Kemudian muncullah tokoh-tokoh mistik Spanyol abad keenam belas, di antaranya yang paling terkenal adalah San Juan de la Cruz dan Santa Teresa de Avila. St. John of the Cross paling terkenal karen a puisipuisinya "The Dark Night of The Soul" dan "A Spiritual Canticle of the Soul," sedangkan St. Teresa dikenang karena The Way of Perfection dan The Interior Castle. Keduanya adalah "jiwa-jiwa besar yang hidup menyendiri.?" yang merupakan ungkapan individualisme Iberia. Keduanya sungguh-sunguh mengabdikan diri kepada Kristus, dan St. Teresa menggabungkan kebajikan-kebajikan yang dimiliki Maria dan Marta. "Tuhan berjalan di antara jambangan dan periuk," itu yang dia suka ucapkan kepada para biarawatinya. Biasanya dia menulis tentang Kristus sebagai "Yang Mulia Ilahi." Baik John maupun Teresa dengan cara-cara mereka yang berbeda juga memberontak terhadap kemapanan. Tradisi mereka diteruskan pada abad kedua puluh oleh Miguel de Unamuno, yang Mackay sebut sebagai seorang "pemberontak Kristen yang suci."'" dan oleh Ricardo Rojas, presiden dari University of Buenos Aires pada tahun I 920-an, penulis dari buku provokatif yang berjudul El Cristo invisible (1927) dan seorang kritikus yang radikal terhadap Katolikisme Amerika Latin.

Andaikata Mackay menulis tentang Amerika Latin pada paruh kedua, dan bukannya paruh pertama, abad kedua puluh, dia pasti akan memasukkan bangkitnya theologi pembebasan (liberasi), dan pertumbuhan yang fenomenal dari gereja-gereja Pentakosta maupun gerakan karismatik di dalam gereja-gereja arus utama sebagai bagian-bagian penting dari bukunya. Perkembangan-perkembangan ini merupakan aspek lanjutan dari "Kristus Spanyol yang lain." Kita akan terlebih dahulu memperhatikan Pentakostalisme dan baru kemudian theologi liberasi.

Pentakostalisme yang kini menjadi fenomena di seluruh penjuru dunia haruslah diperhitungkan sebagai karya Roh Kudus. Pad a saat yang sarna, aktivitas Roh biasanya bukan langsung melainkan melalui keadaan-

krudaan masyarakat yang sedang terjadi. Analisis yang terbaik mungkin 11101.-;111 karya David Martin yang berjudul Tongues of Fire: The Explosion II/ Protestantism in Latin America. Dengan latar belakang perubahan suslal yang cepat dan menakutkan, Pentakostalisme menawarkan perlindungun, atau apa yang sudah disebut sebagai suatu "temp at perlindungan untuk massa," yang menghasilkan kembali kedekatan dan perlindungan dart hacienda, petemakan Amerika Latin. Pentakostalisme memiliki empal ciri utama: (1) autentisitas Latin - dari warga ash (sedangkan para Imam Katolik Roma kebanyakan adalah warga asing), bersemangat, dan cmosional, (2) partisipasi aktif - terdiri dari orang-orang awam dan mcnganut persamaan derajat, meliputi orang-orang yang tadinya tidak bcrsuara, tidak berdaya, dan tersisihkan, (3) berkat materi - Pentakostalisme menjanjikan perbaikan ekonomi, penyembuhan jasmani, dan kebebasan dari kekhawatiran, dan (4) suatu keluarga perwalian - Pentakostalisme "menciptakan suatu jaringan kerja yang melindungi dan menghasilkan kembali sejumlah solidaritas dan struktur-struktur otoritas yang

d d h . d ,,73

tcr apat pa a acien a.

Singkat kata, dalam disorientasi yang disebabkan oleh modemisasi dan perubahan dari hacienda menjadi kota besar, Pentakostalisme menawarkan "suatu pengharapan, suatu terapi, suatu komunitas dan suatu jaringan kerja.?" Pentakostalisme memberikan pengukuhan bagi nilai diri dan martabat pribadi, dan dengan demikian menemukan suatu jati diri yang baru.

Maka, kita sudah melihat bahwa dalam gereja-gereja Amerika Latin terdapat beberapa gambaran yang berbeda tentang Kristus dan bahwa gambaran-gambaran ini saling membutuhkan. Kita harus waspada terhadap ketidakseimbangan. Kita tidak memiliki kebebasan untuk memberitakan tentang bayi Yesus tanpa memberitakan kehidupan apa yang dituju oleh masa kanak-kanak tersebut; kita juga tidak memiliki kebebasan untuk memberitakan kehidupan dan kematian-Nya tanpa memberitakan kebangkitan-Nya yang mulia, kita juga tidak memiliki kebebasan untuk memberitakan Yesus yang historis dan objektif tanpa memberitakan pengabdian pribadi kepada Dia; kita juga tidak memiliki kebebasan untuk memberitakan penyembahan yang tradisional, liturgis, dan penuh hormat kepada-Nya tanpa memberitakan sukacita karismatik atau spontanitas apa pun. Kita juga tidak boleh mengabaikan gambaran tentang Yesus sang Pembebas, dengan seruan-Nya yang nyaring untuk kebebasan, yang akan kita bahas berikut ini.

I ()(;

'I, IdOSlllS \ANI, IIAII,\ 1.\1,,\

+ "\'('SIIS rang 1..1111"

10. Kristus Sang Pembehas Smlinl:

Gustavo Gutierrez

Kabar baik bagi kaum papa

Yesus ditunjukkan kepada kita di dalam Perjanjian Baru scbagai pc 111- be bas tertinggi dunia. Tidak mungkin ada keraguan tentang ini, scbab Din sendiri yang berkata begitu. "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran , dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yoh. 8:31-32). Dan Paulus menulis kepada jemaat di Galatia, "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita" (Gal. 5:1). Maka di setiap zaman sejarah gereja, "keselamatan" telah ditafsirkan sebagai suatu bentuk kebebasan.

Pada tahun 1970-an berkembanglah apa yang disebut sebagai theologi liberasi di Amerika Latin. Tokoh-tokohnya yang terkenal adalah Rubem Alves (A Theology of Hope, 1969), Gustavo Gutierrez (A Theology of Liberation, 1971) dan Hugo Assmann (Oppression-Liberation: a Challenge to Christians, 1972). Orlando Costas membeda-bedakan mereka dengan menyatakan bahwa "jika Alves adalah nabi dari gerakan itu, dan Assmann adalah apologetnya, maka Gutierrez adalah theolog sisternatikanya." 75

Latar belakang untuk buku pertama Gutierrez, yang diberi subjudul History, Politics and Salvation, merupakan realitas sosial bahwa Amerika Latin adalah benua tertindas. Sekalipun dimerdekakan pada awal abad ke.sembilan. bel~s dari ~emerintahan kolonial Spanyol dan Portugal, repubhk-rep~bhk dl Amenka Latin tetap berada dalam belenggu politik dan ekonomi. Profesor Jose Miguez Bonino, yang menyampaikan London Lectures yang pertama pada tahun 1974 dengan tema Christians and Marxis.ts: The Mutual Challenge to Revolution, memulai bukunya yang kernudian, Revolutionary Theology Comes of Age, 76 dengan suatu analisis sejarah yang singkat. Dia menunjukkan bahwa orang Kristen memasuki ~merik,~ Latin. d~lam dua tingkat yang berbeda namun sama-sama opres~fn~a, Kolonialisme bangsa Spanyol (Katolikisme Roma) dan neokolomal~s~e Atlantik Utara (Protestantismej.':" Akan tetapi, bukan berarti penjajahan itu sepenuhnya berasal dari luar. Dom Helder Camara, mantan uskup agung Katolik Roma dari Recife di Brazil bagian timur laut, terus melancarkan protes terhadap "kolonialisme internal," yakni, penindasan politik dan ekonomi yang terus-menerus oleh pemerintahan sayap kanan

Anu-nkn 1,;11111 scndiri yang hanya dipcgang oleh scgclintir orang saja dan tlit'll nu litcr.

Kctulusan Gutierrez dan sesama kaum liberalisnya terhadap kaum 11'I11Ildas tidak pcrlu diragukan lagi. Dia menyerukan gereja untuk memilrki komitrncn bagi Iiberasi yang lebih Injili, lebih autentik, lebih konkret, dun lchih mcmbcrikan hasil terhadap kebebasan.T" Beberapa kali dia iucngutip dcngan persetujuan beberapa diktum Marx yang terkenal bahwa "kaum filsuf hanya menafsirkan dunia ... namun tujuan sebenarnya .ulalah mengubahnyar " Gutierrez melihat proses pembebasan dan peruhahan sebagai "suatu pencarian untuk memuaskan aspirasi-aspirasi manusia yang paling hakiki - kebebasan, martabat, dan kemungkinan pemenuhan diri bagi setiap orang.t''"

Dengan definisi seperti ini, semua orang Kristen seharusnya samasama berkomitmen kepada pembebasan. Bahkan kita yang adalah orangorang Protestan mungkin merasa malu karena kita tidak berada dalam pasukan garis depan gerakan pembebasan dan karena kita tidak men gembangkan suatu theologi pembebasan yang Injili. Sebab kita percaya bahwa Allah menjadikan manusia laki-laki dan perempuan menurut gambar-Nya; bahwa manusia, yang merupakan keberadaan-keberadaan yang menyerupai keberadaan Allah, memiliki nilai yang hakiki, dan atas dasar ini mereka harus dilayani, bukan dieksploitasi; dan bahwa kita seharusnya menyiapkan diri dalam nama Kristus melawan segal a kecenderung an yang merendahkan manusia, terhadap apa pun dan segala sesuatu yang merintangi kebebasan dan pemenuhan diri manusia.

Ini menimbulkan satu pertanyaan langsung. Theologi pembebasan awalnya ditujukan terhadap penindasan sosial, politik, dan ekonomi. Namun sejak saat itu telah muncul theologi-theologi pembebasan lain. Ada theologi Dalit, yang mempersoalkan kasta di kalangan orang India, yaitu kaum Harijan ("the Untouchables"); theologi hitam di Amerika Serikat dan Afrika, yang mempersoalkan masalah ras; theologi feminis, yang mempersoalkan masalah gender; dan theologi pembebasan gay, yang mempersoalkan orientasi seksual." Ketepatan secara politis menekankan bahwa semua ini sarna-sarna sah dan bahwa tidak boleh ada diskriminasi yang diizinkan berkaitan dengan kasta, ras, gender, atau orientasi seksual.

Namun, perspektif Kristen berbeda. Memang, seperti yang Paulus tulis, "Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karen a kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus" (Gal. 3:28). Ayat ini

WI{

'1· I\I((SlIlS YANC lIAI)A Tt\I{A

'1' "Y(,SIIS }'.lIlg I.aln"

I ().)

merupakan piagam kcbebasan Kristen, tctapi harus ditafsirkun dcugan hati-hati dan benar-benar cermat. Ayat ini meneguhkan bahwa perbcdaan etnis, sosial, dan seksual tidak reI evan dengan hubungan kita dengan Kristus oleh iman. Kita setara dalam nilai dan martabat di hadapan-Nya. Akan tetapi, perbedaan-perbedaan terse but belum terhapus. Asal usul etnis kita masih menjadi bagian penting dari jati diri kita. Demikian pula laki-Iaki tetap laki-Iaki, dan perempuan tetap perempuan, dan memiliki perbedaan dalam fungsi dan peran menurut gender masing-masing.

Maka kita perlu mendefinisi ulang pembebasan. Pembebasan ini dimaksudkan untuk menjamin kebebasan kita dari apa pun dan segal a sesuatu yang menghambat manusia untuk menjadi apa yang Allah maksudkan bagi mereka melalui penciptaan dan penebusan - yang akan meliputi perkawinan sebagai kerekanan yang heteroseksual, monogami, penuh kasih, dan seumur hidup, yang dibentuk oleh Allah dan yang disahkan oleh Yesus Kristus.

Satu ciri lain dari theologi pembebasan yang patut diperhatikan adalah penekanannya pada praksis (penerapan) sebagai "suatu cara baru untuk bcrthcologi.''" Langkah pertama dalam "bertheologi," menurut Gutierrez, bukanlah membuka Alkitab, tetapi membuat komitmen yang serius untuk berjuang demi pembebasan. Maka teks pertama yang harus dipelajari bukanlah teks Alkitab, melainkan teks sosial, yaitu realitas di sekitar kita dan pengalaman kita akan realitas itu. Barulah setelah itu kita siap untuk langkah kedua, yakni studi Alkitab. Karena itu, theologi didefinisikan sebagai "suatu refleksi kritis tentang praksis Kristen dalam terang Firman. ,,83 Dan konteks yang penting untuk mengambil kedua langkah tersebut adalah "komunitas-komunitas gereja yang mendasar," yakni, kelompok-kelompok akar rumput, yang terdiri dari umat Kristen awam.

Tidak diragukan lagi, banyak orang merasa bahwa proses ini memberi iluminasi dan menantang. Tetapi mungkin dipertanyakan apakah kedua langkah tersebut memang harus diambil dengan urutan yang sama, karena Firman dan dunia saling berhubungan secara kreatif. Bisa saja terjadi, ketika langkah pertamanya adalah studi yang serius terhadap realitas sosial, studi yang serius atas Alkitab menjadi terabaikan. Andrew Kirk mengeluhkan ini: "Tidak satu pun dari para penulis ini yang melakukan studi eksegetis terhadap perikop [yang populer] yang dijelaskan .... Kebanyakan tidak berusaha menguji secara eksegetis kebenaran dari metode maupun penggunaan teks mereka sendiri.':"

1III sangat jclas tcrutarna kctika orang mcmpcrhatikan penggunaan 1('111:1 cksodus olch kaum liberal. Mcreka menganggapnya sebagai suatu pal:llllgllla untuk sctiap penyelamatan dari penindasan, tanpa pengakuan y:111g sclayaknya bahwa eksodus Israel dari belenggu bangsa Mesir adalah .1/1; g(,l1('ris. Itu bukan hanya merupakan perbuatan Allah yang besar (dcllgan "tangan kanan-Nya yang kuat"), melainkan juga merupakan pCllggcnapan kovenan, di mana Allah men gin gat dan menggenapi kovenan-Nyu dcngan Abraham, Ishak dan Yakub (Kel. 2:24) dan sebagai persiapan untuk pembaruan di Gunung Sinai (Kel, 19:4-6).

Kclonggaran hermeneutik yang sarna juga tampak dalam hubungannya dcngan perbendaharaan kata keselamatan. Gutierrez mengakui perbcdaan antara keselamatan (dari dosa dan maut) dan pembebasan (dari kcmiskinan dan penindasan), tetapi mungkin tidak dengan kejelasan yang mcrnadai. Salah satu keluhan tentang hal ini datang dari suatu sumber yang tidak terduga, Uskup K. H. Ting dari Shanghai, yang selama bertahun-tahun menjadi presiden dari China Christian Council. Ketika mempcrkenalkan theologi pembebasan kepada para mahasiswanya di Nanjing Seminary pada tahun 1985, dia berkata, "Theologi pembebasan adalah hal yang baik sehingga kita merasa berat hati karen a tidak sanggup mendukung keseluruhannya." Namun, "tema kekal dari Kekristenan dan theologinya seharusnya bukan bersifat politik ... melainkan pendamaian manusia dengan Allah .... Pendamaian antara Allah dan manusia merupakan tema kekal dari theologi Kristen. ,,85

Klarifikasi lebih lanjut tentang persoalan ini tetap penting. William H. Lazareth, yang menulis prakata untuk buku Bonino yang berjudul Revolutionary Theology Comes of Age, merasa perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

Isu yang sang at penting bagi theologi pembebasan adalah relasi antara kebebasan Kristen dan kebebasan politik. Dengan otoritas rasuli apakah kita boleh mencampurkan pembebasan dari dosa, maut, dan si jahat dengan pembebasan dari ketidakadilan, penindasan, dan kemiskinan? Dalam pengertian yang lebih pribadi, bagaimanakah kita menghubungkan aktivitas Yesus dan Paulus pada abad pertama dengan aktivitas Che Guevara dan Camilo Torres pada abad kedua puluh? Apakah kedua aktivitas ini serupa, merupakan pengulangan, bisa dibedakan, atau tidak berhubungan'l'"

I I ()

>I< 1..:1{ISTlIS \,ANt: !IAIlA I !\Ie,\

·1· "\'('SIIS )'illll( 1.1111"

III

Kami menegaskan bahwa Allah adalah Pencipta sekaligus Hakim alas semua manusia. Karena itu, kita hams berbagi kepeduJian-Nya terhadap keadilan dan rekonsiliasi di seluruh masyarakat manusia dan terhadap pembebasan manusia dari segala jenis penindasan. Karena umat manusia dijadikan menurut gambar Allah, setiap orang - tidak peduli ras, agarna, warna kulit, budaya, kelas, jenis kelamin atau usia - memiliki marta hat yang tertanam di dalam dirinya, maka dia hams dihormati dan dilayani, bukan dieksploitasi. Di sini kami juga menyatakan penyesalan atas ketidakpedulian kami dan karena adakalanya menganggap penginjilan dan kepedulian sosial merupakan dua hal yang terpisah. Sekalipun rekonsiliasi dengan manusia bukanlah rekonsiliasi dengan Allah, bukan penginjilan tindakan sosial, bukan pula keselamatan liberasi politik, kami menegaskan bahwa baik penginjilan maupun keterlibatan so sial politik, keduanya rnerupakan bagian dari kewajiban Kristen kita karena keduanya merupakan ungkapan yang niscaya dari doktrin-doktrin kita tentang Allah dan manusia, kasih kita terhadap sesama kita dan ketaatan kita kepada Yesus Kristus.V

II. Kristus Sang Mcsias Kaum Yahudi:

N. T. Wright

Pembuangan dan ehsodus

Salah satu gcrakan bidat pertama yang muncul di gereja mula-mula adaluh I iokctismc, kcyakinan bahwa kemanusiaan, penderitaan, dan kemati:III Y cSLlS hanya tampaknya demikian (dari dokein, tampaknya) tetapi uduk nyata. Berdasarkan pandangan Yunani bahwa materi itu jahat, kaum dokctis menyangkal kemanusiawian Yesus dan dengan demikian juga mcnyangkal inkamasi dan penebusan. Rasul Yohanes melihat betapa senusnya ajaran ini dan menentangnya baik dalam kitab Injilnya maupun dalum surat-suratnya. "Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke scluruh dunia," begitu tulisnya, "yang tidak mengaku, bahwa Yesus KrisIus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus" (2Yoh.7).

Sebagian orang pada zaman kita bersalah karen a bidat yang sarna namun tidak menyadarinya. Mereka tahu bahwa pada masa kini, keilahian Yesus lebih sering disangkali daripada kemanusiawian-Nya. Maka mereka memberikan waktu dan tenaga mereka untuk menyusun bukti bagi keilahian-Nya sampai dalam proses Dia bukan lagi seorang manusia yang autentik.

Akan tetapi, karena Yesus adalah manusia, Dia juga merupakan sosok historis yang hidup pada masa tertentu di suatu tempat tertentu dan di dalam budaya tertentu. Semua kekhususan ini merupakan bagian dari kenyataan historis-Nya. Menyangkalinya berarti menolak sejumlah aspek penting dari jati diri-Nya.

Pada tahun 1937, Henry J. Cadbury, sarjana dari Havard, menghasilkan buku The Peril of Modernizing Jesus. Dia menunjukkan bahwa para seniman besar Italia dan Belanda "jelas-jelas tidak bisa mengklaim memiliki kesamaan dengan orang Palestina." Mereka bahkan tidak berusaha. Sebaliknya, mereka memodernisasi sosok-sosok yang mereka sampaikan. Maka Adam digambarkan di dalam suatu Taman Eden Flemish yang sangat subur, Delila memotong rambut Samson dengan gunting cukur perak berukir, dan Maria Magdalena mcngenakan hiasan kepala Flemish; sementara sepanjang waktu, latar bclakangnya adalah "dataran Italia atau dataran rendah Belanda. "xx Scbaliknya, tulis Cadbury, tujuan dari bukunya adalah "meminimalkan kcmodcrnan Y csus," sementara pada saat yang sarna mengakui orisinalitas-Nya dan tidak menuju ekstrem yang sebaliknya, sehingga kita "terlalu rncngkunokan Dia."x<) Dalam bab ketiga

Bagi saya sendiri, saya senang hahwa Kovcnan Lausanne ( 11)'74) her bicara terus terang tentang masalah ini. Berikut ini mcrupakun ulinca ~ yang berjudul "Tanggung Jawab Sosial Orang Kristen":

Kita sekarang harus kembali kepada Yesus Sang Pembebas dan kepada keyakinan dari kaum muda yang idealis bahwa Dialah pembela kaum miskin dan tertindas. Ketika Salvador Allende, presiden Cile yang Marxis, jatuh pada tahun 1973, diadakan misa besar bagi para mahasiswa Marxis di Quito, Ekuador. Pengkhotbahnya adalah Leonides Proafio, uskup Riobamba, yang sekalipun dikenal sebagai "el obispo rojo" (uskup merah), sebenamya bukanlah seorang Marxis, sebab dia bersikukuh bahwa motivasi pelayanannya bukanlah Karl Marx melainkan Yesus Kristus, yang beridentifikasi dengan kaum miskin. Pada misa untuk Allende tersebut, dia mengumumkan Yesus yang autentik dan berbelas kasihan, Yesus yang mengecam pihak penguasa, Yesus yang radikal dari Injil. Selama sesi tanya jawab, para mahasiswa menanggapi, "Jika kita sudah terlebih dahulu mengenal Yesus yang satu ini, kita tidak akan pernah menjadi Marxis."

II::!

·r- I\){ISTIIS YAN(; TIAIlA TAll/\

'1- ")'(,SIIS yilll~: LIlli"

III

dari buku Cadbury ini, "Keyahudian kitab-kitab Injil," dia mcncgaskun keyahudian Yesus sendiri. Karena kecenderungan kita adalah melupukun konteks Palestina abad pertama di mana Yesus berada dan menciptakan seorang Yesus yang serupa dengan diri kita sendiri dan menurut kernauan kita. Kita melakukan terhadap Dia apa yang dilakukan para prajurit Pilatus ketika mereka mengoyak pakaian-Nya, mengenakan pada-Nya jubah militer berwama merah tua, dan mencemooh Dia. "Para prajurit mengenakan pada Yesus jenis pakaian mereka sendiri.,,90 Kita cenderung melak~k~n hal. yang sarna pada zaman kita. Kita mengenakan pada-Nya "pemikiran kita sendiri.'?"

. Dalam kaitannya dengan keyahudian Yesus inilah saya ingin merujuk kepada karya seorang theolog kontemporer, Tom Wright.92 Dia adalah seorang sarjana Perjanjian Bam yang berkemampuan besar dan sudah menulis buku-buku akademis maupun populer. Dia juga adalah pembela yang kukuh bagi ortodoksi Kristen dalam melawan (misalnya) reduksionisme radikal yang diajukan Jesus Seminar.

Penekanan utama Wright adalah bahwa Yesus hams ditempatkan dalam konteks Yudaisme Palestina abad pertama; dan hipotesis utamanya adalah bahwa penawanan Israel oleh bangsa Babel (dimulai pada tahun 587 SM), telah berakhir secara geografis pada abad keenam SM, namun secara theologis masih terus berlangsung sampai pada abad pertama M. Israel tetap berada di bawah kekuasaan pemerintahan asing. Tetapi kini, sesudah masa yang panjang, Sang Mesias akan menyelamatkan mereka dalam suatu eksodus yang bam, yang akan menjadi klimaks sejarah.

Maka Yesus, dalam mengumumkan datangnya Kerajaan Allah, juga mengumumkan berakhimya pembuangan. Namun, pesan-Nya sangat berbe~a dengan pilihan-pilihan populer. Pilihan-pilihan tersebut adalah (1) pilihan yang diberikan Qumran berupa memisahkan diri dan berdiam diri (2) piliha~. dari Raja Herodes untuk berkompromi dalam bidang politik: dan (3) pilihan kaum Zelot untuk mengadakan revolusi besar. Berlawanan den~an ini semua, saat Yesus berjalan dari satu tempat ke temp at lainn~~, Dla ~enyemkan kepada bangsa itu untuk bertobat (untuk menolak ~Ihhan lam) dan menerima agenda-Nya yang radikal - yakni jalan Kerajaan Allah yang berupa sikap tidak membalas, murah hati, dan mengasihi musuh. Maka Israel diberi arti bam dan dibentuk kembali, dengan kedua belas rasul.sebagai bagian intinya dan dengan Yesus sebagai pusatnya.

Karunia pengampunan Yesus menunjukkan bahwa pembuangan, hukuman atas dosa, sudah berakhir. Mujizat-mujizat penyembuhan-Nya,

yang mcrnulihkan orang-orang dari kccacatan (buta, tuli, dan lain-lain) vnnj; hisa saja mengucilkan mereka dari komunitas Qumran, menunjukkun hahwa komunitas Kerajaan Allah akan ditandai dengan penerimaan u-rhadap orang-orang dari semua kalangan. Sambutan-Nya terhadap bum yang dikucilkan dalam masyarakat dan kesediaan-Nya untuk makan bcrsama-sama dengan mereka menunjukkan bahwa perjamuan mesian is tc1ah dimulai. Selanjutnya, para warga Kerajaan-Nya hams meninggalkan keterpusatan mereka pada jati diri mereka sendiri dan sebaliknya mcnerima panggilan untuk menjadi terang dunia. Melalui Yesus, Israel akan diperbarui; melalui Israel yang diperbami, dunia akan diberkati.

Jadi apakah Yesus percaya bahwa diri-Nya adalah Mesias? Va, menurut Wright, yang memberikan rincian tentang implikasi-implikasi mesianis dari berbagai teks Alkitab. Secara khusus dia menekankan dua perbuatan simbolis yang sifatnya melengkapi, yang Yesus tunjukkan dengan sengaja dan "yang merangkum seluruh pekerjaan dan agenda-Nya.T" Pertama, Yesus menyucikan Bait Allah, mengindikasikan bahwa sistem yang bobrok yang berlaku pada saat itu telah siap untuk mendapat hukuman dan bahwa Dia akan menggantikannya, sehingga kelak kehadiran Allah secara pribadi akan ditemukan di mana saja Dia dan umat-Nya berada. Kedua, perjamuan terakhir mempakan perjamuan Paskah yang bam, perjamuan Kerajaan Allah yang merayakan berakhimya masa pembuangan, eksodus yang sebenamya dan kovenan bam.

Namun Sang Mesias juga diharapkan berperang dalam pertempuran akhir melawan musuh. Pengharapan ini juga ditransformasikan oleh Yesus. Dia akan melemparkan kejahatan bukan dengan kekerasan melainkan tanpa kekerasan, dengan memberikan pipi yang satunya. Dia menganggap salib sebagai klimaks dari panggilan-Nya untuk beridentifikasi dengan Israel, menanggung sendiri hukuman yang mengancam bangsa itu, dan menanggung penderitaan Israel sebagai wakilnya. Dia membuktikan bahwa diri-Nya benar-benar adalah Mesias melalui kebangkitan.

Apakah Yesus juga percaya bahwa Dia ilahi dengan pengertian tertentu? Untuk pertanyaan ini Wright memberikan suatu jawaban yang mendua. Di satu sisi dia menulis dengan terus terang, "Saya tidak merasa Yesus 'tahu diri-Nya adalah Allah.",94 Namun pemyataan ini muncul di tengah-tengah suatu bagian yang membahas tentang jenis-jenis "pengetahuan" yang berbeda. Dia melanjutkan menulis bahwa Yesus "yakin akan apa yang hams Dia lakukan dan hams menjadi apa Dia, bagi Israel dan dunia, apa yang menurut Kitab Suci hanya Yahweh sendiri yang bisa me-

114

>I< J.,.HlSTlIS YAN(; 11:\11\ 1\1(\

11',

lakukannya.?" Maka dalam eksodus yang baru, Dia bukun hanyn MWIII yang baru melainkan tiang awan dan api yang memimpin umat itu menuju kemerdekaan; dan perjalanan terakhir-Nya ke Yerusalcm, yang herpuncak pada masuknya Dia dengan disambut orang banyak, sepcrtinyu merupakan penggenapan yang ditunjukkan secara nyata bagi pengharapan bahwa suatu hari sesudah pembuangan, Yahweh akan kcmbali kc Sion. Dalam mengklaim diri-Nya sebagai Bait Allah yang baru, Y csus mengimplikasikan bahwa Dialah Shekinah96 yang hadir dalam sosok seorang pribadi, hadimya Yahweh di antara umat-Nya. Yesus juga mengklaim otoritas mengajar yang superior bahkan atas Taurat, yang membuat diri-Nya "bukan Musa yang baru, melainkan, dalam pengertian tertentu, Yahweh baru.,,97 Ketika merangkumnya, Wright berkata, "Yesus ... akan mewujudkan dalam diri-Nya tindakan kembalinya dan penebusan kovenan Allah.,,98 Bagaimanakah mungkin Dia mengajukan klaim-klaim tentang memiliki kuasa dan tindakan ilahi ini tapi tidak percaya bahwa diriNya adalah Allah?

Sungguh tidak masuk akal jika mencoba merangkum argumen yang disampaikan dengan begitu ketat dalam beberapa buku ke dalam satu atau dua alinea saja. Saya juga sadar bahwa saya belum cukup mengungkapkan penghargaan terhadap kelengkapan, kesegaran, dan penghormatan yang mendalam dalam pengembangan tesis yang Wright lakukan. Perdebatannya tentu saja akan berlanjut. Saya hanya punya beberapa pertanyaan untuk diajukan.

Pertama, apakah pasti bahwa tema pembuangan-eksodus merupakan hal yang penting baik bagi Yudaisme Palestina abad pertama maupun bagi pemahaman tentang Yesus?

Kedua, kita tidak diberi tahu bagaimana Yesus bisa mengetahui tentang siapa diri-Nya. Kita juga tidak bisa melihat ke dalam kesadaran diri-Nya. Tetapi apakah niscaya, dalam rangka mempertahankan kemanusiaan-Nya yang riil, untuk menahan pemyataan bahwa Dia tahu siapa diri-Nya? Dia jelas-jelas mengaku memiliki kuasa ilahi untuk mengampuni, mengajar, dan menghakimi.

Ketiga, perihal Mesias yang tersalibkan sebagai wakil Israel dar perihal salib sebagai "jendela" sejati - penyingkapan yang paling benaratas hati Allah yang penuh kasih dibahasnya dengan baik. Wright juga membedakan dengan jelas antara jawaban "historis" dan jawaban "theologis" bagi pertanyaan tentang mengapa Yesus mati. Namun, saya merin-

.lukun pcmhnhusnu yang lcbih dari xckadar pcnycbutan sccara singkat Pl'l k.uaan pcnung tcntung tcbusan (Mrk, 10:45).

Kccmpat, Tom Wright scring merujuk kepada klimaks dan konsuIlIaSI sejarah, Tctapi dia membalikkan arah kedatangan Kristus dari "suaIII gcrakan turun dcngan awan" menjadi kenaikan-Nya dari bumi ke sorga. dengan mclibatkan pembuktian diri-Nya." Apakah ini berarti bahwa kedatangan Yesus Kristus sendiri yang kasatmata dan mulia sudah scpcnuhnya larut menjadi penggambaran yang apokaliptis?

l Jntuk menyimpulkan, saya menghargai ketetapan Wright untuk mematahkan rintangan antara akademi dan gereja dengan komitmennya yang mendalam terhadap misi. Dia menulis tentang kesempatan untuk "rncnjalankan misi Kristen yang serius dan penuh sukacita kepada dunia yang post-postmodem.t'J'" Topik tentang misi inilah yang akan kita perhatikan berikutnya.

12. Kristus Tuhan atas Dunia:

Misi pada Abad Kedua Puluh

Dari Edinburgh (1910) sampai Lausanne (1974)

Yesus yang bangkit itulah yang membuat klaim yang agung bahwa segal a kuasa telah diberikan kepada-Nya baik di sorga maupun di bumi (Mat. 28: 18). Akibatnya, gereja selalu memberikan kesaksian tentang ketuhanan-Nya yang universal. Sebab Allah telah sangat meninggikan Dia dan memberi-Nya nama di atas segala nama lain (yakni, tingkat di at as segala tingkat lain), agar setiap lutut sujud di hadapan-Nya dan setiap lidah mengaku bahwa Dia adalah Tuhan (Flp. 2:9-11). Ini adalah dasar yang hakiki dari misi gereja di seluruh dunia, sebagaimana yang dilukiskan dengan baik pada abad kedua puluh.

Pada tahun 1910, World Missionary Conference mengadakan sidang di Edinburgh di bawah pimpinan John R. Mott. Sidang ini telah dipersiapkan dengan saksama selama lebih dari delapan bulan melalui delapan komisi intemasional, yang laporan tertulisnya sudah dibaca sebelumnya oleh sekitar dua ratus delegasi. Mott sendiri mengaku bahwa dalam rencana, personel, semangat, dan janjinya ada "kesatuan yang kuat yang tidak pemah ada sebelum ini dalam masalah penginjilan dunia.?'"

Buku Mott yang bcrjudul The Decisive Hour of Christian Missions memancarkan euforia yang bangkit selama konferensi itu. Berdasarkan kebangkitan rohani di Asia Tcnggara, gerakan massa di India, kemajuan

I I Ii

+ J...IUS 1'1 IS YAN(;IIAI )1\ '1,\1(,\

'I' "\'('SIIS vallg 1.,1111"

I 1/

lnjil yang pesat di Afrika, rnclcmahnya ccngkcrarnan ugumu-ngn: I III 111111, dan "naiknya arus kebangkitan rohani di dunia non-Knsten,"'!" Motl 11Il:nulis tentang "dasar yang melimpah bagi pengharapan dan keyakinan.t":" Sesungguhnya "jalan nyata-nyata telah dipersiapkan agar sangat banyak orang di banyak temp at menerima Kekristenan.?'?" Dan dengan menggunakan apa yang mungkin kita anggap sebagai metafora militer yang kurang tepat, Mott melanjutkan, "Di medan pertempuran Kekristenan di seluruh dunia ... kemenangan sudah dipastikan.v'"

Para utusan meninggalkan Edinburgh dengan sukacita besar dan penuh semangat. Mereka tidak ragu-ragu tentang besarnya tugas mereka. Mereka tahu bahwa tetap ada sekitar satu milyar orang non-Kristen di dunia, tidak lebih dari seperlimanya yang pernah mendengar dengan jelas tentang Kristus. Namun mereka berketetapan hati. Mereka sepakat dengan Mott bahwa "merupakan tugas gereja untuk melihat bahwa rasa malu yang telah lama ada ini sepenuhnya disingkirkan.v''" Juga, "sudah sangat mendesak bagi gereja untuk secara sengaja dan teguh menyerang beberapa benteng yang sampai saat ini tak tergoyahkan.v'I" Mereka yakin (meskipun agak naif) bahwa di bawah pengaruh Kristus, agama-agama lain akan berangsur-angsur menghilang, seperti dewa-dewa kuno Yunani dan Romawi.

Siapa sangka bahwa di dalam kurun waktu beberapa tahun berikutnya, ketegasan misionaris ini hampir seluruhnya menguap? Ada dua alasan utama. Pertama, karen a kengerian Perang Dunia I pada tahun 1914. Bukan hanya umat Kristen yang terbagi-bagi oleh konflik, melainkan hampir seluruh urusan internasional terhenti. Dan ketika rekonstruksi pascaperang dimulai, dunia sudah berubah dan bergerak maju.

Kedua, menyebarnya theologi liberal di antara kedua perang menimbulkan keragu-raguan terhadap isi Injil dan merusak kepercayaan orang kepadanya. Ini sangat terbukti pada kedua konferensi berikutnya, di Yerusalem (1928) dan di Tambaram di luar Madras (1938). Ketika di Edinburgh suasananya bersemangat, namun di Yerusalem dan Tambaram umurnnya sangat tidak percaya diri dan ragu-ragu,

Di Yerusalem (1928) berkumpul suatu kelompok yang agak kecil yang beranggotakan sekitar dua ratus orang, sekalipun penting untuk diperhatikan bahwa sekitar lima puluh orang di antaranya berasal dari apa yang sekarang disebut sebagai gereja-gereja "yang lebih muda." Karena itu, agenda besar mereka meliputi relasi antargereja yang lebih tua dan gereja yang lebih muda, selain topik-topik seperti relasi antarras, per-

tunynan-pcrtnuyaun tcntung masalah pcrkotaan dan pcdcsaan, pcndidikan agama, dan ancaman sckularismc. Dalam haltheologi, re1ativisme berkuasu. Kckristcnan tidak lagi dianggap unik atau final. William Temple mcnyclarnatkan konferensi tersebut dari bencana dengan menulis konsep "Message," yang meliputi scbuah epigram terkenal tentang Injil: "Injil itu hcnar untuk semua orang, atau Injil sarna sekali tidak benar."

World Missionary Conference di Tambaram (1938) mengumpulkan sckitar lima ratus delegasi, dan delegasi dari gereja yang lebih muda sctara jumlahnya dengan, dan sarna derajatnya dengan, mereka yang berasal dari gereja yang lebih tua. Namun hal yang paling penting di Tambaram adalah perselisihan yang tajam antara William E. Hocking dan IIcndrik Kraemer. Hocking adalah profesor filsafat di Havard. Bukunya yang berjudul Re-thinking Missions sudah terbit pada tahun 1932, sehingga para peserta konferensi memiliki kesempatan untuk membacanya dengan teliti. Di dalam buku tersebut, keyakinan-keyakinan misionaris lama sudah hilang. Demikian pula halnya dengan klaim eksklusif apa pun untuk Kristus. Upaya mencari pertobatan menjadi tidak disenangi dan digantikan dengan mencari yang terbaik dalam semua agama. Tujuan ultimat dari misi adalah pemunculan suatu persekutuan iman-iman sedunia.

Lawan Hocking di Tambaram adalah Hendrik Kraemer, seorang awam dari gereja Reformed Belanda tetapi misionaris dan ahli bahasa kawakan di Indonesia. Dia telah diundang untuk menulis sebuah buku untuk konferensi tersebut. Buku tersebut diterbitkan pada tahun 1938 dengan judul The Christian Message in a Non-Christian World. Dipengaruhi oleh Karl Barth (yang serangannya terhadap liberalisme dalam tafsirannya tentang Surat Roma sudah muncul pada tahun 1919), Kraemer mernpertahankan apa yang disebutnya "realisme alkitabiah." Dia bersikukuh bahwa ada suatu ketidaksinambungan yang radikal antara penyataan Allah yang unik dalam diri Yesus Kristus dan semua agama manusia.

Perdebatan ini terus berlanjut sampai hari ini dan sarna sekali belum ada pemecahannya. Setahun sesudah Tambaram, Perang Dunia II pecah, dan kembali hubungan-hubungan ekumenis di mana-mana berhenti untuk sementara, sampai usainya perang tersebut. Kemudian pada tahun 1948, sidang pertama dari Dewan Gereja-gereja Sedunia diadakan di Amsterdam, dan pada tahun I % I, pada sidang ketiganya di New Delhi, Dewan Gereja-gereja Sedunia dan Dewan Misionaris Internasional bergabung. Jaminan-jaminan dibcrikan bahwa penggabungan tersebut akan mern-

II II

+ "Y('SUS yallg 1..1111"

II!)

bawa misi kepada garis depan agenda Dewan ini. Nal11l1l1 1111 tulnk Il'llIlIlI. Sebaliknya, Dewan terus terbawa arus menjauh dari Injil yang alkituluah.

Namun tidak semua pemimpin Dewan tersebut mengikutinya. Misalnya, Visser't Hooft, sekretaris umum pertama dari Dewan Gereja-gereja Sedunia, menulis dalam bukunya No Other Name, "Sudah waktunya umat Kristen mempelajari kembali bahwa inti dari iman mereka adalah bahwa Yesus Kristus bukan datang untuk memberikan sumbangsih bagi perbendaharaan agama-agama buatan manusia, melainkan bahwa di dalam Dia Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya.,,'08

Pemyataan yang lebih tegas disampaikan secara terus terang oleh almarhum Uskup Lesslie Newbigin:

Il'llelllli 1l"1I1i111)'. Allah mclnlui pcnyatuan 1I11l1l1ll-Nya di dalam alum. Na- 1111111 kumi mcuyungkal bahwa pcngctahuan ini bisa mcnyelarnatkan, schah manusia menindas kebenaran dengan kelaliman mereka. Karni Iliga mcnganggap setiap jenis sinkretisme dan dialog yang mengimplikasikan hahwa Kristus juga berbicara melalui semua agama dan ideologi scbagai pcnghinaan terhadap Kristus dan Inji!. Yesus Kristus, yang ada~ lah satu-satunya Allah-manusia, yang telah memberikan diri-Nya sebagal satu-satunya tebusan bagi orang berdosa, merupakan satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia. Tidak ada nama lain yang melaluinya kita harus diselamatkan .... Yesus Kristus sudah ditinggikan di atas setiap nama lain' kami menantikan hari ketika setiap lutut akan sujud di hadap-

, . 110

an-Nya dan setiap lidah akan mengaku bahwa Dialah Tuhan.

Rasa malu yang muncul pada masa kini terhadap gerakan misionaris abad sebelumnya bukanlah, seperti yang kita suka pikirkan, bukti bahwa kita sudah menjadi lebih rendah hati. Saya khawatir, bahwa ini justru adalah bukti yang lebih jelas tentang suatu perubahan dalam kepercayaan. Terbukti bahwa kita kurang siap dalam menegaskan keunikan, sentralitas, arti penting Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang universal, Jalan yang harus diikuti dunia untuk menemukan tujuannya yang sejati, Kebenaran yang melaluinya semua klaim kebenaran lainnya harus diuji, Hidup yang di dalamnya saja kehidupan dalam kepenuhannya ditemukan.109

Kesimpulan:

Autentisitas Versus Akomodasi

Saya sudah melakukan survei yang cepat - dan yang akibatnya juga bersifat selektif - tentang sejarah gereja, dengan memperhatikan selusin gerakan dan para pemimpin mereka yang berpengaruh. Tidakkah Anda terkejut melihat kepandaian gereja yang luar biasa ketika dia melukiskan dan melukiskan ulang gambaran tentang Yesus?

Dalam melakukannya, motivasi gereja sudah bercampur. Memang baik untuk menunjukkan Yesus dengan terang yang paling memungkinkan untuk memperkenalkan Dia kepada dunia. Namun yang tidak baik adalah bahwa demi melakukan hal ini, kita menghilangkan dari gambaran tersebut setiap hal yang mungkin menjadi sandungan, termasuk sandungan yang disebabkan salib. Ini justru membantu memuaskan "para pembenci Kekristenan yang terpelajar," julukan yang diberikan oleh Frederich Schleiermacher. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk jenis akomodasi yang diberikan oleh pemikiran yang lembek ini. Yesus dikeluarkan dari konteks yang sebenamya. Dia menjadi termanipulasi dan "diadaptasi," dan apa yang ditampilkan kepada dunia adalah gambaran yang tidak sesuai dengan waktunya, bahkan sebuah karikatur.

Bagaimanakah kita sendiri bisa menghindar dari membuat kesalahan ini? Bagaimanakah kita dapat menampilkan Yesus Kristus kepada dunia dengan cara yang scdcrnik ian rupa sehingga tetap autentik namun sekaligus relevan? Di sini dibutuhkan disiplin ganda, yang negatif dan yang positif. Yang negatif adalah mcnyingkirkan dari pikiran kita segala prakonsepsi dan prasangka, dan kctctapan hati untuk membuang segala ke-

Kenyataannya adalah bahwa selama kuartal terakhir abad kedua puluh, inisiatif misionaris pindah dari Dewan Dunia kepada gerakan Lausanne, yang diluncurkan oleh Billy Graham. Kongres Intemasional mengenai Penginjilan Dunia diadakan di Lausanne, Swiss, pada tahun 1974. Dua ribu tujuh ratus peserta (50 persennya dari negara-negara berkembang) datang dari 150 negara, dan sesudah sembilan hari aktivitas yang padat, disahkanlah Kovenan Lausanne, yang menurut seorang theolog dari Asia, boleh jadi merupakan bukti "pengakuan ekumenis yang paling teguh tentang penginjilan yang pemah dihasilkan oleh gereja." Kovenan ini lebih penting men gin gat latar belakang yang pluralistis, yang mendesakkan legitimasi yang setara dari setiap agama.

Kovenan tersebut terdiri atas lima bel as alinea, dan di sini saya mengutip aline a ketiga, "Keunikan dan Universalitas Kristus." Inilah yang gereja umumkan tentang "Yesus Kristus Tuhan atas dunia":

Kami menegaskan bahwa hanya ada satu Juruselamat dan hanya ada satu Injil.. .. Kami mengakui bahwa semua manusia memiliki pengetahuan

>1< Kl{lSTlJS YAN{; TIAIJA TAl{A

'I' "Yt'SIIS Villllt l.alu"

L'l

inginan untuk memaksa Yesus masuk ke dalam bentuk yang sudah kita tetapkan sebelumnya. Dengan kata lain, kita harus bertobat dari procrustean-isme Kristen. Procrustes dalam mitologi Yunani adalah perarnpok brutal yang memaksa korbannya untuk menyesuaikan diri dengan ukuran temp at tidur besinya. Jika mereka terlalu pendek, dia menarik mereka. Jika mereka terlalu panjang, dia mematahkan kaki mereka. Para Procrustes Kristen menunjukkan sikap tidak fleksibel yang serupa, dengan memaksa Yesus masuk ke dalam jalan pikiran mereka dan menggunakan cara-cara yang tidak berbelas kasihan demi mendapatkan kesesuaian dari-Nya, Bebaskanlah kami ya Tuhan, dari Procrustes dan semua muridnya!

Berikutnya adalah sisi yang positif. Kita harus membuka pikiran dan hati kita pada apa pun yang ayat Alkitab berikan kepada kita, dan mendengarkan kesaksian tentang Kristus dari seluruh Perjanjian Baru, seperti yang telah kita coba di bagian I. Sebab Yesus yang autentik adalah Yesus yang orisinal, Yesus dari kesaksian rasuli dalam Perjanjian Baru. Sungguhpun kita kagum terhadap keserbabisaan gereja yang kreatif dalam memaparkan Yesus dengan banyak bentuk, kita harus terus kembali kepada gambaran Perjanjian Baru sebagai aturan yang menjadi acuan untuk menilai gambaran-gambaran yang diberikan gereja tersebut.

C. S. Lewis melihat adanya suatu analogi dengan apresiasi terhadap seni, "Kita harus melihat, dan terus melihat, sampai kita sudah benarbenar melihat dengan tepat apa yang ada. Kita duduk di hadapan sebuah lukisan dengan maksud mendapatkan sesuatu yang dikerjakannya terhadap diri kita, bukan apa yang kita bisa lakukan terhadapnya. Tuntutan pertama dari setiap karya dari seni apa pun terhadap diri kita adalah agar kita takluk. Lihat. Dengar. Terima. Janganlah Anda menghalangi."lll

Disiplin ganda ini dirasakan paling penting dalam penginjilan. Sebab sering kali orang bukannya menolak Kristus, melainkan menolak Kristus yang palsu. Peter Kuzmic, presiden Evangelical Theological Seminary di Osijek, Yugoslavia, mengatakan sebagai berikut:

pi opaganda antagonis dari kornunismc yang athcistis sclama bcbcrapa

plllllh tahun bclakangan ini.112 .

Judi, dcngan perhatian penuh pada kesaksian Perjanjiafl Baru, dan dulam minat pada penginjilan yang autentik, semoga visi t<:ita tentang Kristus tcrus menjadi semakin jelas. Pada semua peristiwa, betapapun hurum dan kurang jelasnya gambaran Kristus yang kita miliki sampai sckarang, sudah dijanjikan kepada kita ketika Kristus datang dalam kemuliaan, "kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenamya" (I Yoh. 3:2), Kristus yang sebenamya dan yang tiada tara . .e;"

Kita harus memperbarui kredibilitas misi Kristen. Misi dan penginjilan secara terutama bukanlah perkara metodologi, uang, manajemen, dan jumlah, melainkan perkara autentisitas, kredibilitas, dan kuasa rohani .... Ketika menginjili di Yugoslavia, saya sering mengatakan kepada para mahasiswa seminari kami bahwa tugas utama kami mungkin saja hanya "rnembasuh wajah Yesus," sebab wajah itu sudah dikotori dan dicemari olch kompromi Kekristenan yang melembaga selama berabad-abad dan

BAGIAN KETIGA

------====

YESUS YANG BERPENGARUH

(atau Baqaimana Via Telah Mengilhami Manusia)

KISAH TENT ANG YESUS

Dalam bagian dua kita telah memperhatikan beragam pemaparan gereja tentang Kristus selama berabad-abad, Dalam bagian tiga kami membalikkan urutannya dan mempelajari pengaruh Kristus terhadap gereja dan terhadap dunia. Pertanyaan yang akan saya ajukan pernah disampaikan dengan baik oleh K. S. Latourette dari Yale University pada awal karya besamya yang berjumlah tujuh volume yang berjudul The History of The Expansion of Christianity: "Perbedaan apakah yang dibuat pada dunia bahwa Yesus pemah hidup?"l

Pertanyaannya ini tidak bisa dijawab semudah anggapan yang mungkin timbul pada pandangan pertama. Pertama, kita harus membedakan antara pengaruh Kristus terhadap dunia dan pengaruh peradaban atau budaya, yang merupakan gabungan dari banyak pengaruh (bukan hanya Kristen). Kedua, mengutip perkataan Latourette lagi, "kita juga harus memperhatikan keterkaitan yang erat antara pengaruh Kekristenan terhadap lingkungan [sosialj-nya dan pengaruh lingkungan terhadap Kekristenan.i" Ketiga, kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa Kekristenan (sekalipun bukan Kristus sendiri) telah memberikan pengaruh yang buruk maupun yang baik. Yang saya maksudkan adalah beberapa kelemahan seperti Perang Salib, Inkuisisi, kegagalan menghapus perbudakan sampai seribu delapan ratus tahun sesudah Kristus, dan imperialisme dari sejumlah misi Kristen selama dua abad silam. Ketika merenungkan halhal seperti ini, yang bisa kita perbuat hanyalah menundukkan kepala karena malu.

Sekalipun begitu, masih mungkin menegaskan - dengan hati-hati namun penuh keyakinan - bahwa Yesus Kristus memiliki pengaruh baik yang begitu besar, bukan hanya dalam seni dan arsitektur, musik dan

1.'/

lukisan, ilmu pengetahuan, demokrasi dan sistern hukum, tctupi 1(,lIlllIllIa dalam standar-standar dan nilai-nilai moral seperti martabat dan pnhadi manusia.' Memang orang hampir tidak bisa disalahkan atas ucapan hipcrbolanya jika dia mengklaim, "Sernua tentara yang pemah berbaris, semua angkatan laut yang pemah berlayar, semua anggota parlemen yang pernah menjabat, dan semua raja yang pemah berkuasa, jika dikumpulkan bersama sekalipun, belumlah mempengaruhi kehidupan kita di bumi sebesar yang dilakukan oleh kehidupan satu Pribadi itu.?"

Yang membuat saya kagum adalah bahwa umat Kristen yang berbeda sudah dipengaruhi oleh aspek-aspek yang berbeda dari Kristus untuk mengemban tugas-tugas yang berbeda. Perhatian kita dalam bagian tiga ini bukanlah kisah tentang gereja dan bagaimana gereja memaparkan Kristus, melainkan kisah tentang Yesus dan tantangan-Nya kepada gereja. Memang, kedua kisah ini tumpang tindih; misalnya, jika Fransiskus dari Asisi mempengaruhi cara gereja memaparkan Kristus (yang memang terjadi), Kristus juga mempengaruhi cara Fransiskus mengembangkan gerakan Fransiskan. Walau begitu, kedua pengaruh tersebut berbeda. Kita akan memperhatikan sekarang keseluruhan lingkaran karier Yesus, dari kedatangan-Nya yang pertama sampai pengharapan akan kedatangan-Nya yang kedua, dan melihat bagaimana setiap tingkat (baik episode maupun pengajaran dalam kitab-kitab Injil) telah mencengkeram imajinasi seseorang dan mengilhaminya untuk bertindak.

kill! pcrnYIII1I1I1! IClllI1ggi dari kcmiskinan yang Anak Allah bcbankan puda din-Nyu scndiri.

Tiga atau cmpat abad berlalu sesudah kelahiran Kristus sebelum Nntul mcnikmati posisi yang pasti dalam penanggalan gereja Barat dan umat Kristen secara teratur merayakannya. lni mungkin disebabkan sebauian karena suatu kebingungan. Orang berbicara tentang Kristus yang mcngcndarai sebuah kereta melintasi langit bagaikan dewa matahari. Bahkan, karena umat Kristen [di Barat] beribadah pada Hari Minggu dan scring berpaling ke arah timur untuk melakukannya, banyak orang kafir mcnyangka bahwa orang Kristen adalah penyembah matahari. Baru pada abad keempat gereja Barat mulai merayakan tanggal 25 Desember - hari jadi dewa matahari pada saat matahari berada pada jarak terjauh dari katulistiwa pada musim dingin, hari terpendek dalam setahun - sebagai kelahiran Kristus.

Fransiskus menemukan banyak ilham dari keadaan-keadaan di seputar kelahiran Yesus. "Dia mengucapkan kata-kata yang menarik berkaitan dengan kelahiran sang Raja miskin dan kota kecil Betlehem." Dia sering menyebut Yesus "Anak Betlehem," dan dikatakan tentangnya, "Sang Anak, Yesus, sudah dilupakan dalam hati banyak orang; tetapi, melalui karya anugerah-Nya, dia dihidupkan kembali melalui hamba-Nya, St. Fransiskus.:" Maka "kelahiran Sang Anak, Yesus, diperingati oleh Fransiskus dengan hasrat tak terkatakan yang melebihi peringatannya atas semua perayaan lain, dengan mengatakan bahwa itu adalah perayaan di atas segal a perayaan, karena pada kejadian yang dirayakan tersebut, Allah, sesudah menjadi bayi mungil, berpaut pada dada manusia,:"

Sekalipun sentralitas salib jelas terdapat di dalam iman dan kehidupan Fransiskus, dia menggabungkan dalam hati dan pikirannya inkamasi dan penyaliban, Kristus dalam palungan dan Kristus pada salib, karena dia melihat keduanya sebagai wujud kerendahan hati dan kemiskinan ilahi, yang benar-benar ingin dia teladani dengan sungguh-sungguh, Dia yakin dirinya diamanatkan untuk mengabarkan tentang Kerajaan Allah, melayani kaum papa, mengabaikan harta duniawi, dan bahkan tanpa pakaian cadangan.

Ini tidak berarti bahwa dia menolak, atau bahkan merendahkan, dunia material atau berkat-berkat yang baik dari Pencipta yang baik. Sebaliknya, dia terkenal karena mernuji-muji ciptaan Allah, dengan menyebut mereka sebagai "saudara" dan menemukan sukacita dalam hubungan-hubungan ini. Karyanya, "Canticle of the Sun," masih merupakan

1. Kandang Binatang Betlehern:

Fransiskus dari Asisi

Kelahiran sang raja miskin

I'ada tahun 1926, peringatan hari kematian St. Fransiskus yang ketujuh tutus, ada sekitar dua juta peziarah mengunjungi Asisi, tempat kelahirnllllYiI di Italia. Pada saat itu Paus Pius XI secara resmi menegaskan 'H'hlliall tak resmi Fransiskus sebagai "Alter Christus," "Kristus kedua," kill 1"1 Iii dia dianggap begitu menyerupai Dia.

Apakah yang mengilhami Fransiskus untuk menjalani suatu kehidup- 1111 VIIII~', bcnar-benar miskin dan sederhana? Sebagian karena ajaran v nil', p.mggilan-Nya untuk menyangkal diri dan amanat misi-Nya keplldll krrlua hclas murid-Nya. Namun secara khusus, teladan Yesuslah Ylltll' h nusiskus rindukan untuk dia teladani dengan ketat dan harfiah.

, hllll"l"kll~ mcnganggap kelahiran Yesus dalam sebuah palungan merupa-

I:!X

-I' I\I(JSTI IS rAN!; IIAI)A TAI(A

-I' 1\1~"h 1I'II1illiH \'I'SUS

ungkapan pujian yang indah, tentu saja bukan tcrhadup 11111111 uu-lumkun terhadap Allah atas alam semesta. Sepertinya dia tidak rnclihut dikotomi antara pengakuan atas dunia material sebagai pemberian Allah dan penolakan untuk memiliki benda-benda materi.

Meskipun demikian, orang lain sudah merasakan adanya suatu konflik yang tidak teratasi di sini. G. K. Chesterton, misalnya, dalam karyanya yang terkenal tentang Fransiskus," memberi judul pasal pertamanya "The Problem of St. Francis." Apakah masalah yang dia maksudkan? Chesterton, yang biasanya menganggap dirinya sebagai ahli paradoks, mendapati dalam diri Fransiskus banyak ketidakkonsistenan dan bahkan kontradiksi. Bagaimanakah mungkin kita mengharmonisasikan sukacita Fransiskus atas alam dengan asketismenya, dia bertanya, "kegembiraannya dan kesederhanaannya.?" "sikapnya yang memuliakan emas dan kemewahan tapi sebaliknya mengenakan kain lusuh,"!" "kerinduannya untuk menjalani hidup bahagia" dan "kehausannya untuk mati sebagai pahlawan"?"

Mustahil membaca kisah Fransiskus tanpa benar-benar tergerak, bahkan sekalipun kita tidak bisa benar-benar menggemakan kesimpulan Chesterton bahwa Fransiskus "telah hidup dan mengubah dunia.,,]2 Selanjutnya, saya memberanikan diri untuk bertanya, bukankah keputusan Fransiskus untuk meniru Kristus dalam segala hal terlalu harfiah? Bukankah dia gaga 1 memahami gambaran yang hidup dan dramatis yang sering Yesus gunakan? Misalnya dalam Lukas 14:25-33, Yesus menetapkan tiga syarat yang jika tidak dimiliki calon pengikut-Nya, kata-Nya, "tidak dapat menjadi murid-Ku." Pertama, orang harus "membenci" ayah dan ibunya, pasangan hidup dan anak-anaknya, saudara laki-Iaki dan saudara perempuannya. Kedua, orang harus memikul salibnya dan mengikut Kristus. Ketiga, orang harus "meninggalkan segal a sesuatu" yang dimilikinya. Kini kita benar-benar tidak berhak untuk mengencerkan obat Injil yang kuat ini. Walau begitu, "memikul salib" jelas tidak harfiah; Yesus tidak menuntut semua murid-Nya disalibkan. Tidak juga perintah untuk membenci kerabat dekat kita bisa ditafsirkan secara harfiah; Yesus yang menyuruh kita mengasihi bahkan musuh kita tidak mungkin menyuruh kita membenci keluarga kita sendiri. Begitu juga perintah ketiga, menolak kekayaan kita, pastilah juga tidak boleh diartikan secara harfiah. Ini bukanlah usaha untuk mengelak secara pengecut dari ajaran Yesus, melainkan suatu hasrat yang jujur untuk menemukan apa yang Dia maksudkan.

l luruu pcnuuulun meliputi mcngutamakan Kristus di atas segalanya, hahkan di hudapan sanak kcluarga, ambisi, dan harta kita.

2. Bangku Panjang Si Tukang Kayu:

George Lansbury

Keagungan pekerja kasar

K ita tidak tahu banyak mengenai apa yang disebut sebagai tahun-tahun Y csus yang tersembunyi sebelum dimulainya pelayanan-Nya secara terbuka. Satu-satunya kisah yang masih bertahan mengenai masa-masa itu adalah catatan Lukas tentang bagaimana ketika berusia dua belas tahun Dia mengunjungi Yerusalem dan tetap berada dalam bait Allah (Luk. 2:41-51). Ayat sebelurnnya meliputi dua belas tahun antara kelahiran-Nya dan kunjungan-Nya ke Yerusalem, sementara ayat yang berikutnya meliputi delapan belas tahun antara kunjungan ke Yerusalem dan baptisan-Nya. Kedua ayat ini (ayat 40 dan 52) dengan demikian merupakan ayat jembatan; yang mengatakan kepada kita bahwa Dia bertumbuh dalam hikmat dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah maupun sesama, dan bahwa anugerah Allah menyertai Dia. Mungkin hanya ini semua yang dimaksudkan untuk kita ketahui, dan semua yang perlu kita ketahui, tentang ketiga puluh tahun pertama dari kehidupan Yesus di

bumi.

Di seluruh keempat kitab Injil, istilah tukang kayu muncul hanya dua

kali. Matius menyebutnya "anak tukang kayu" (Mat. 13:55), sementara Markus mencatat pertanyaan yang diajukan oleh penduduk desa Nazaret:

"Bukankah Ia ini tukang kayu?" (Mrk. 6:3). Dari kedua ayat ini, kami beranggapan bahwa Yusuf bekerja sebagai tukang kayu; bahwa Yesus dilatih olehnya dalam bidang yang sarna dan bahwa Yesus kemudian mengambil alih pekerjaan itu, mungkin sejak kematian Yusuf.

Istilah tekton bisa dipakai untuk pengrajin atau tukang yang ahli namun biasanya merujuk kcpada scorang yang bekerja dengan kayu, seorang tukang kayu, pembuat pcrabotan kayu, atau tukang bangunan. Mengutip William Barclay, scorang tckton hisa "membuatkan bagi Anda apa pun, mulai dari kandang uyam sampai rumah.?" Dengan kata lain, Dia adalah seorang tukang yang hisa mcnucrjakan banyak hal. Pada saat yang sarna, Martin Hengel mcncgaskan hahwa "Ycsus sendiri tidak berasal dari kelas proletar yang mcrupukun pckcrja harian dan pengerja yang tidak memiliki tanah, tctapi duri kclus mcncngah pcnduduk Galilea,

110

,I, 1\({ISTtiS YAN(; TIAIlA TAIIA

'l'l\l~ilh 1I'IllilllH YI'SIl~

III

para pekerja yang terampil." Dia menambahkan bahwa tekton berarti "tukang batu, tukang kayu, pembuat kereta, pembuat perabot rumah tangga.':" Justinus Martir, pada sekitar pertengahanabad kedua, menegaskan dalam tulisannya Dialogue with Trypho, a Jew'S bahwa Yesus "tadinya membuat bajak dan kuk." Selain alat-alat pertanian, tampaknya mungkin Dia sudah belajar membuat dan memperbaiki perabot rumah tangga seperti meja, kursi, tempat tidur, dan lemari.

Penting bagi kita untuk mengingat bahwa bangsa Romawi dan Yunani merendahkan para tukang. Sekalipun demikian, "Di kalangan bangsa Yahudi," begitu tulis Alfred Edersheim, "tidak ada penghinaan terhadap mereka yang bekerja sebagai tukang, sikap yang merupakan salah satu ciri paling buruk dari kekafiran. Sebaliknya, ini dianggap sebagai tugas yang religius, sering kali dan paling diharapkan, untuk mempelajari bidang kemahiran tertentu, asalkan itu bukan untuk kemewahan, tidak pula cenderung mengalihkan perhatian dari hukum Taurat.'?" Jadi Talmud mencatat diktum dari Rabi Yehuda pad a abad kedua Masehi: "Orang yang tidak mengajarkan kemahiran kepada anaknya sendiri, telah mengajamya menjadi pencuri.t''" Orang Yahudi tahu bahwa pekerjaan sudah diperintahkan oleh Allah sebagai konsekuensi akibat penciptaan, bukan kejatuhan.

Rasul Paulus beberapa kali dalam surat-suratnya membicarakan bidang kemahirannya sendiri. Dalam Kisah Para Rasul 18:3 Lukas menyebutnya seorang skenopoios, yang, karena skene atau skenos adalah tenda, biasanya diterjemahkan sebagai "pembuat tenda," sekalipun sejumlah penafsir lebih memilih untuk menyebutnya "pengrajin kulit" atau "pembuat sadel," sebab tenda dalam dunia purba biasanya terbuat dari kulit, Yang pasti, Paulus bekerja dengan tangannya dan bangga atas pekerjaannya."

Sesudah mempelajari latar belakang ini, kini kita siap menanyakan siapa yang sudah diilhami oleh pengetahuan bahwa Yesus bekerja sebagai tukang kayu. Kita bisa mulai menjawab dengan merujuk kepada PraRaphaelite Brotherhood, para pelukis dari pertengahan abad kesembilan belas yang bersatu untuk membangkitkan kesetiaan pada alam dalam seni. Pada tahun 1850, salah seorang anggota mereka, J. E. Millais, menyelesaikan lukisannya yang berjudul Christ in the Home of His Parents, yang juga disebut The Carpenter's Shop. Sang Anak, Yesus, adalah pusat lukisan tersebut. Dia dilukiskan terluka karena sebuah paku; Yusuf sedang membungkuk untuk memeriksa lukanya; Maria sedang berusaha menghibur Yesus dengan sebuah ciuman; dan Y ohanes Pembaptis yang

mnsil: muda sedang mcmbawa sernangkuk air untuk mcrnbasuh luka terscbut. Y csus sedang bersandar pada sebuah bangku kerja, yang scpcrtinya Illclambangkan mezbah korban, dan domba yang dikurung bisa terlihat lcwat pintu yang terbuka."

Dua puluh dua tahun kemudian, sahabat Millais yang bemama

Ilolman Hunt menyelesaikan lukisannya yang berjudul The Shadow of neath. Kita sekali lagi berada dalam toko temp at kerja si tukang kayu. Namun kali ini Yesus sudah dewasa, bertelanjang dada dan berdiri di sisi scbuah kuda-kuda kayu. Berhenti sejenak dari pekerjaannya, Dia merentangkan badan-Nya, mengangkat kedua lengan-Nya ke atas, dan tampaknya mengarah kepada langit. Saat Dia melakukan ini, sebuah bayangan gelap berbentuk salib tampak pada dinding di belakang-Nya, di mana rak perkakas-Nya tampak bagaikan sebuah papan datar dan mengingatkan kita pada palu dan paku penyaliban.i"

Kedua lukisan tersebut memiliki rnakna simbolis. Keduanya berbicara dengan kuat mengenai salib tetapi tidak berkata apa pun tentang kemuliaan dari kerja manual. Maka dalam penelitian saya, saya kemudian berpaling kepada para pemimpin Kristen pada awal gerakan kaum buruh di Inggris. Saya mulai dengan James Keir Hardie (1856-1915), perintis dari gerakan kaum buruh Skotlandia. Dia menciptakan sebuah sensasi ketika dia memasuki Parlemen Rendah dengan mengenakan pakaian dan topi kerjanya. Dia terkenal karena komitmennya kepada Kristus, yang sering dia sebut sebagai "Si Tukang Kayu dari Nazaret." Tetapi ilham utama bagi karyanya bukanlah teladan Yesus Kristus melainkan ajaran-Nya, terutama Khotbah di Bukit, yang dia tafsirkan dengan agak naif sebagai manifesto sosialis.

Meskipun demikian, para pemimpin buruh lain yang muncul kemudian merasa didukung oleh kenyataan bahwa Yesus termasuk golongan kelas pekerja. Seorang pendukung persatuan buruh yang tidak dikenal namanya menulis sebuah buku pendek pada tahun 1921 berjudul Jesus the Carpenter and His Teaching. "Bagaimanapunjuga," tulisnya,

kehidupan Yesus adalah kehidupan seorang pekerj a. Boleh dikatakan bahwa kehidupan itu melebihi dan jauh lebih agung daripada itu! Memang demikian. Namun pada masa hidup-Nya di dunia sebagai manusia, Dia adalah seorang tukang kayu. Kita tidak memiliki banyak penyair, pahlawan, martir di antara kita, kaum pekerja. Namun Yesus, Tukang Kayu dari Nazaret itu, berasal dari kalangan kita. Dan oleh karena itu, pada masa-masa ini, ketika banyak hal mengisi pikiran para pekerja,

of. I\IHSTlIS VAN!; TIAI>A TMA

·r· Kisah rentang Yesux

1:U

setiap kita bisa bclajar tcntang kchidupan dan pcngajarun Sang Tukung Kayu dari Nazaret itu dengan baik."

yang kckanak-kanakan, dan ketulusannya yang jelas menjadikannya dixukai semua orang. Sejarawan terkenal yang bemama A. J. P. Taylor lIll'nggambarkan Lansbury dalam sebuah catatan kaki sebagai "sosok yang paling disukai dalam politik modern.?" Bahkan suatu ukuran yang lchih baik lagi bagi ketenarannya yang meluas ke mana-mana adalah hahwa dia bahkan dikenal oleh anak-anak di East End London, yang mcnyoraki dia ketika dia mengunjungi sekolah mereka dengan teriakan

, T B ik ,,24

"George ua yang at.

Motivasi Lansbury dalam karier politik yang tak kenaI 1elah sudah pasti merupakan gabungan dari sosialismenya dan Kekristenannya. Tak terlihat dia merasakan adanya kebutuhan untuk membedakan secara tajam antara keduanya. "Sosialisme," tulisnya, "yang berarti kasih, kerja sarna, dan persaudaraan dalam setiap bagian persoalan manusia, merupakan pengungkapan dari iman Kristen. ,,25 "Kekristenan dan sosialisme mendominasi Lansbury. Di dalam Kekristenan dia menemukan prinsipprinsip dan kekuatan hidup. Di dalam sosialisme dia menemukan sistem yang melaluinya prinsip dan kekuatan hidup itu bisa dinyatakan.''" Dia berhasrat kuat pada terwujudnya suatu masyarakat yang adil tanpa kemiskinan, pengangguran, kelaparan, dan tunawisma di dalarnnya.

Sepertinya Fenwick Kitto, rektor dari Whitechapel, yang melalui pengajaran dan teladannya telah membawa George Lansbury ke dalam suatu komitmen pribadi kepada Kristus. Kitto "masuk ke dalam kehidupan kita," katanya. Sesudah diteguhkan di gereja paroki, Lansbury menjadi guru sekolah minggu dan kemudian berkhotbah di berbagai gereja.

Bob Holman pemah menulis, "Penting bagi kita untuk memperhatikan bahwa Kekristenan Lansbury mendahului sosialismenya, sebab sosialismenya sebagian besar muncul dari pemahamannya akan Kekristenan.'.27 Dalam sebuah majalah Katolik Roma di East End, seorang penulis anonim menuliskan, "Kita kaum muda takkan pemah sanggup mengatakan betapa kita merasa berutang kepada George Lansbury dari teladan yang dia tunjukkan di hadapan kita semua, dari suatu kehidupan yang terus-menerus mengorbankan diri, dari suatu kesaksian tentang Yesus Kristus yang terus-menerus dan tanpa rasa takut.?"

George Lansbury mengagumi yang disebut sebagai kelas pekerja karena keberanian, kegigihan, rasa saling solider, dan rasa humor mereka, dan dengan tegas dia menolak upaya untuk mendorong dirinya "menaiki tangga sosial." Dia berketetapan untuk mempertahankan budaya East End-nya, Holman, penulis biografinya, menulis, "Lansbury pulang dari,

Demikian juga Ira Boseley, dalam bukunya yang berjudul Christ the Carpenter, His Trade and His Teaching, yang dia persembahkan kcpadu Worshipful Company of Carpenters, berkata bahwa dia bermaksud mcnggambarkan Yesus sebagai "satu-satunya pekerja yang sempurna.?"

Namun contoh yang paling baik yang pernah saya temukan dari scorang pemimpin yang terinspirasi oleh Yesus si tukang kayu adalah George Lansbury, yang mendominasi gerakan buruh Inggris pada sebagian besar paruh pertama abad kedua puluh. George Lansbury lahir pada tahun 1859 di pedesaan Suffolk, namun dia tidak tinggal di sana. Keluarganya terus berpindah temp at karena ayahnya bekerja di jawatan kereta api, dan dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di East End London. Ketika meninggalkan bangku sekolah saat berusia empat belas tahun, dia memperoleh pekerjaan sebagai pengangkat batu bara, yang menurunkan batu bara dari kapal dan kereta api. Bahkan pada usia yang masih begitu muda ini, dia mengalami tantangan-tantangan dalam pekerjaan kasar dan pengaruh-pengaruh kemiskinan dan kelaparan bisa menurunkan keberadaban manusia.

Tetapi hati Lansbury ada dalam politik, dan dia menghabiskan lebih dari setengah abad di pemerintah setempat dan nasional. Sesudah sejenak mencicipi hubungan dengan Partai Liberal dan beberapa upaya yang gaga 1 untuk masuk ke dalam Parlemen, akhirnya dia terpilih pada tahun 1910 sebagai anggota Partai Buruh untuk Bow dan Bromley; tetapi dia mundur dari kursinya dua tahun kemudian. Selama satu dekade berikutnya, ketika dia sedang tidak duduk di Majelis Rendah, dia tetap tak kenaI lelah aktif dalam gerakan buruh. Dia menyunting Daily Herald dan berbicara pada pertemuan-perternuan di seluruh penjuru negeri.

Pada tahun 1922 dia kembali ke Majelis Rendah, tetapi baru pada tahun 1929 dia menerima jabatan dalam kabinet sebagai Komisioner Kerja Pertama, dengan tanggung jawab khusus untuk taman-taman istana di London. Dia berhasil membuat taman-taman itu diperbolehkan untuk tempat rekreasi bagi masyarakat kelas pekerja. Pada tahun 1931 dia menjadi ketua Partai Buruh di parlemen dan berarti juga pemimpin oposisi.

Selama tahun-tahun ini, Lansbury sangat terkemuka. Sosoknya yang besar, kepribadiannya yang periang, wajahnya yang merah segar, cambangnya, suaranya yang berat, logatnya yang asli London, senyumannya

-I' KIUSTIIS YAN(; TIAIlA TAI{A

-!'Klsah "'lit illig Y(,SIIS

1\'.

menjadi bagian dari, dan bekerja dengan dan bagi penduduk brnsu, kclus pekerja, dan, melalui teladan hidupnya, dia terus menjadi satu dengan mereka. ,,29

Holman menelusuri hal ini sampai kepada theologi Lansbury: "Sebagai orang Kristen, dia ditawan oleh Kristus yang menerapkan prinsip mengasihi kepada diri-Nya sendiri dan Dia datang ke bumi sebagai tukang kayu biasa, dan tunduk pada kematian yang kejam demi orang lain.,,30

Berbicara secara theologis, "akan sulit menjelaskan pentingnya kenyataan bahwa ketika Dia tinggal di antara manusia, dari semua kemungkinan posisi yang di dalamnya Dia akan menempatkan diri, Allah memilihkan bagi Anak-Nya posisi sebagai seorang pekerja. Itu berarti memberikan penghormatan selamanya kepada kerja keras manusia.?" Untuk menyatakan kebenaran yang sarna dalam bahasa dan sintaksis kelas pekerja, J. Paterson Smyth menulis:

Clinic til Rochester, Minnesota, orang pasti mclihat sebuah jendela kaca scpuh yang pudu bagian tengahnya terukir tulisan, "Adakalanya menyembuhkan, sering kali melegakan, senantiasa menghibur."

lni bukan menyangkali bahwa rumah-rumah sakit yang pertama dikcmhangkan oleh kaum Hindu dan Buddhis sebelum Kristus, dan juga olch hangsa Yahudi. Melainkan ini adalah klaim bahwa Yesus dari Nazarct memperkenalkan ke dalam dunia suatu motivasi tiga lapis - pcrumpamaan-Nya tentang Orang Samaria yang Baik, hukum emas-Nya, dan teladan pribadi-Nya, semuanya memperlihatkan rasa hormat-Nya kepada pribadi manusia yang dijadikan menurut gambar dan rupa Allah.

Dr. Frank Davey mencatat:

Aku tidak benar-benar tahu di mana gudangnya berdiri, Tetapi sering saat aku sedang mengetam papanku sendiri, Aku melepaskan topiku begitu aku memikirkan tentang Dia, Menggeluti pekerjaan yang sarna denganku.Y

Yesus membalikkan prioritas-prioritas masyarakat pada zaman-Nya dengan memperlihatkan dan mengajarkan suatu kepedulian khusus terhadap orang-orang yang miskin, yang cacat, yang terpinggirkan, dan yang hak-haknya tidak dipenuhi. Manusia semacam ini luput dari perhatian sampai Yesus datang dan menjadi pembela mereka .... Orang tidak bisa membayangkan Hippokrates memperlihatkan banyak minat terhadap seorang pelacur yang bermasalah, pengemis yang buta, budak dari seorang perwira dari bangsa penjajah, seorang asing yang gila yang jelas tidak punya uang, seorang wanita tua dengan kondisi tulang belakang yang kronis. Yesus bukan saja menunjukkan kepeduliannya, Dia berharap para pengikut-Nya meneladani-Nya."

3. Pelayanan Penuh Kemurahan:

Pastor Damien dan Wellesley Bailey

Menyentuh yang tak tersentuh

Pada sejumlah kesempatan, kita membaca dalam kitab-kitab Injil bahwa Yesus tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak yang tidak memiliki pemimpin, yang lapar, yang berduka, yang buta, dan terutama yang sakit." Bahkan sangatjelas bahwa penyembuhan merupakan bagian penting dari pelayanan-Nya kepada orang banyak. Dia berkeliling "mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu" (Mat. 4:23; 9:35). Itu berarti, Dia bukan hanya mengumumkan datangnya Kerajaan Allah, tetapi juga menunjukkan tibanya Kerajaan tersebut melalui pekerjaan-Nya yang penuh belas kasihan dan kuasa.

Akibatnya, umat Kristen selama ini berada dalam garis depan dari mereka yang berusaha mengembangkan suatu pelayanan belas kasihan kepada mereka yang menderita sakit atau luka. Ketika memasuki Mayo

Penghargaan Yesus terhadap mereka yang dihina dunia dengan sangat baik tercermin saat Dia diperhadapkan dengan seorang penderita kusta, menjelang awal pelayanan-Nya kepada orang banyak:

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalan Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. (Mrk. 1 :40-42)

Belas kasihan-Nya memotivasi Dia untuk menyentuh mereka yang tak tersentuh, dan tindakan-Nya terus menjadi inspirasi sejak saat itu. Basil dari Kaisarea, Bapa gereja Kapadokia yang terkenal itu, tampaknya adalah orang pertama yang mendirikan rumah sakit Kristen berskala besar pada tahun 369. Dia mendirikan sekelompok bangunan yang selain

-

1: 1(,

-I' KRISTliS YAN(; TIAJ)A TARA

-I' Kisah icntang Yesus

t:l7

menjadi rumah sakit yang memiliki tiga ratus tempat tidur, "mcnuliki rumah istirahat bagi para pelancong, rumah istirahat bagi kaum miskin, rumah istirahat bagi kaum lanjut usia, sebuah unit isolasi dan rumah bagi mereka yang menderita kusta, yang dirawat dalam isolasi. ,,35

Selama berabad-abad berikutnya, rumah istirahat untuk merawat korban kusta tersebar ke seluruh Eropa. Mereka dikenal sebagai "rumahrumah lazar [penderita lepra)" atau lazarettos, istilah yang berasal dari nama Lazarus, yang kemudian dianggap sebagai contoh orang suci bagi penderita kusta.

Namun mungkin tak seorang pun pada Abad Pertengahan yang begitu termotivasi oleh teladan Yesus, dan yang pada gilirannya menjadi dorongan bagi yang lain, seperti St. Fransiskus dari Asisi. Kisahnya mungkin sudah dibumbuhi selama bertahun-tahun, tetapi Fransiskus mengakui pada pemyataannya yang terakhir bahwa "manisnya jiwa" pertama dirasakannya ketika dia bertemu dengan seorang pengemis yang menderita kusta. Mula-mula Fransiskus membelokkan kudanya untuk menyingkir dari si pengemis. Kemudian tiba-tiba dia dikuasai rasa sesal bahwa "dengan berpaling dari saudaranya yang membutuhkan bantuan, dia telah lari dari Allah, yang telah menanggung setiap penderitaan manusia." Maka dia membelokkan kembali kudanya, turun darinya, dan mencium tangan pcngemis kusta itU.36 Teladan Fransiskus segera menular. Adakalanya dikatakan bahwa apa yang orang dapatkan dari dia bukanlah penyakitnya, mclainkan kepeduliannya kepada orang yang sakit. Dia melanjutkan dcngan mendirikan sebuah rumah sakit bagi penderita kusta dan sekaligus "suatu persekutuan persaudaraan" untuk merawat mereka.

Kita beralih sekarang kepada pertengahan abad kesembilan belas dan kepada dua pribadi luar biasa yang menyerahkan hidup mereka untuk merawat penderita kusta. Satu di antaranya adalah seorang Katolik Roma berkebangsaan Be1gia, Pastor Joseph Damien, yang lahir pada tahun 1840, yang melayani di Hawaii; dan yang satunya lagi adalah seorang Protestan berkebangsaan Irlandia, yang bemama Wellesley Bailey, yang lahir pada tahun 1846, yang melayani di India dan merupakan pendiri Leprosy Mission (Misi Kusta).

Pada tahun 1863 Pastor Damien berlayar sebagai seorang misionaris kc Hawaii dan begitu terkejut melihat keadaan para korban kusta yang sudah diasingkan selamanya ke Pulau Molokai. Di sini mereka harus berlahan hidup dengan susah payah dalam penyakit, kekotoran, dan kemisk innn; tanpa keluarga atau gereja yang menopang mereka. Pastor Damien

dcngan sukarela pergi dan tinggal di antara mereka. Dia mengubur mcrcka yang mati. Dia mengajarkan cara hidup yang sehat. Dia membangun gereja-gereja dan kapel-kapel, membersihkan persediaan air mercka, memperbaiki rumah dan rumah sakit mereka, mendirikan sebuah panti asuhan, melatih paduan suara, dan melayani sebagai guru, tukang kuyu, tukang batu, imam, dan sahabat mereka. Pelayanan yang sarna sckali tidak mementingkan diri sendiri ini berlanjut selama enam belas tahun, sampai pada suatu hari Minggu pagi pada tahun 1885, saat ibadah di gereja, jemaat dikejutkan ketika dia memulai khotbahnya dengan pcrkataan "Kita kaum penderita kusta ... " yang menunjukkan bahwa dia sendiri tertular penyakit ini. Dia wafat di Molokai pada tahun 1889.37

Wellesley Baily lahir hanya enam tahun sesudah Damien, namun mereka bekerja di dua ujung dunia yang berseberangan. Ketika Bailey sedang mengajar di sebuah sekolah misi di India Barat Laut, dia mengunjungi sebuah "penampungan penderita kusta" kecil di sekitar sana dan ngeri dengan apa yang dia lihat.

[Para penderita] dari semua tahap penyakit itu, sangat menyedihkan untuk dipandang, dengan ekspresi wajah berduka - suatu pemandangan yang sarna sekali tak berdaya. Aku hampir bergidik ngeri, namun pada saat yang sarna aku tertarik, dan aku rasa, jika saja ada suatu karya yang menyerupai Kristus di dunia ini, karya itu pastilah dilaksanakan di antara para penderita yang malang itu dan memberi mereka penghiburan Inji1.38

Bailey benar. Saat dia mulai mengunjungi temp at penampungan itu secara teratur, dia melihat Injil sepenuhnya mengubah kehidupan dan penampilan dari para penghuninya. Pada saat yang sarna, dia berupaya meningkatkan kondisi fisik mereka. Maka pada tahun 1872 dia mendirikan Mission to Lepers di India, yang kelak menjadi Leprosy Mission, nama yang tetap dipakai saat ini.

Apakah yang menjadi inspirasinya? Dia menceritakan kepada kita:

Aku berhasrat sekarang untuk memberikan sedikit pengalamanku sendiri di tengah-tengah mereka [penderita kusta], dan menetapkan di hadapan para pembaeaku sebuah rene ana di mana semua orang boleh menolong penderita kusta, orang-orang yang bersimpati, yang tidak merasa bahwa di dunia ini penderita kusta terlalu menjijikkan untuk dijamah, melainkan "tergerak oleh belas kasihan," menguiurkan tangan, dan menjamah penderita kusta, dan berkata, "Aku mau; jadilah tahir.,,39

-

III{

-I' I\IUSTIIS ),AN(; TIAJ)i\ TAIC,\

-I' J.:1~"h 1('111;1111\ )'('SUS

II ~ )

Tradisi Kristen yang baik dalarn kcpcduliun tcrhadap para pcndcritn kusta diteruskan pada abad kedua puluh melalui suatu sukscs: para nhh penyakit kusta Kristen yang terkenal seperti Stanley Browne (Nigeria dan Zaire), Frank Davey (Nigeria dan India), dan Robert Cochrane, yung, dengan mengueapkan teladan Yesus, "memimpin suatu karnpanyc untuk menentang stigma sosial yang tersebar luas.?" Kernudian ada Paul Brand, yang menemukan bahwa jari-jari tangan yang bengkok, hilangnya jari tangan dan kaki, dan luka dan memar yang tidak diketahui kejadiannya pada diri para pasien kusta temyata bukan disebabkan oleh aspck misterius tertentu dari penyakit itu sendiri, melainkan oleh hilangnya sensasi mereka, kctidakmampuan mereka untuk merasakan sakit."

Pada zaman kita, AIDS adakalanya digambarkan sebagai kusta zaman modem, dengan mcmbawa sebuah stigma serupa dan disisihkan oleh rasa tabu yang serupa pula. Tetapi Yesus memberikan teladan penuh belas kasihan "dengan menjangkau dan menyentuh - suatu tindakan kebcranian yang tak terbayangkan pada masa-masa itU.,,42

Allahaptls) dan gcrcja-gcrcja darnai masa kini (misalnya Mennonites, ()llakns, dan United Brcthcn) bcrkomitmen kepada pasifisme total dan IIll'Il)'.al11hll mandat dan motivasi mereka dari Khotbah di Bukit, sebagaimana yang ditcladankan dalam perilaku-Nya.

l'crhatian saya dalam bab ini adalah mempelajari tiga pemimpin dari akhir abad kescmbilan bel as dan awal abad kedua puluh, yang seluruhnya mcngakui mendapatkan inspirasi mereka dari khotbah dan penderitaan Ycsus: novelis Rusia, Leo Tolstoy (1828-1910), tokoh reformasi sosial India, Mahatma Gandhi (1869-1948), dan tokoh kampanye hak-hak sipil Arncrika, Martin Luther King Jr. (1929-1968).

Tolstoy lahir dalam suatu keluarga aristokrat, yang menghabiskan masa mud any a yang imoral dan kemudian beralih kepada kegiatan menulis yang serius. Novel-novelnya yang terkenal adalah War and Peace dan Anna Karenina, tetapi untuk tujuan kita, kita perlu memperhatikan karya pendeknya yang berjudul What I Believe. Dalam buku ini Tolstoy menggambarkan bagaimana pada suatu masa krisis pribadinya dia membaca dan membaca lagi Khotbah di Bukit dan tiba-tiba memahami (demikian diakuinya) apa yang telah disalahpahami oleh semua gereja selama seribu delapan ratus tahun.

Inilah yang Yesus maksudkan saat Dia menyerukan agar para pengikut-Nya bersikap tidak melawan." Mustahil untuk percaya kepada Kristus, Tolstoy me1anjutkan, dan pada saat yang sarna "bekerja bagi kemapanan kekuatan kekayaan, peradilan, pemerintah, dan militer.?" sebab polisi, pengadilan, dan tentara semua menggunakan kekerasan untuk melawan kejahatan dan dengan demikian tidak sejalan dengan hukum kasih. Hanya jika perintah-perintah Kristus ditaati seeara harfiah, "maka semua manusia akan menjadi saudara, dan setiap orang akan berdamai satu dengan lainnya.?" Maka pada bab terakhir, dengan membela diri terhadap kritik bahwa dirinya naif, dia menunjukkan pandangannya yang sebenarnya tentang manusia, bahwa manusia pada dasamya adalah baik, rasional, dan ramah.

Mohandas Gandhi, atau Gandhiji, julukan yang diberikan orangorang India kepadanya karena rasa hormat, tentu saja adalah bapa negara India modem. Sesudah belajar hukum di London dan mempraktikkannya di Afrika Se1atan, di mana dia dihina karena wama kulitnya, dia kembali ke India pada tahun 1914 dan memimpin Kampanye Ketidaktaatan Sipil. Dia merindukan India yang bebas dari kolonialisme, kasta, dan materialisme.

4. Khotbah di Bukit:

Leo Tolstoy, Mahatma Gandhi, dan Martin Luther King Jr.

Tantangan dari sikap tidak melawan

Setiap orang yang tahu sesuatu tentang Kekristenan pastilah sampai taraf tertentu mengenal Khotbah Yesus di Bukit, yang mungkin merupakan suatu periode yang cukup panjang di mana Yesus memberikan pengajaran. Kebanyakan orang juga tahu bahwa khotbah tersebut berisi larangan "Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu" dan perintah "Kasihilah musuhmu" (Mat. 5:39, 44). Bukan hanya begitu, Yesus mempraktikkan apa yang Dia khotbahkan. Seperti yang Rasul Petrus tulis, "Ketika Ia dieaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam" (IPtr. 2:23). Sebaliknya Dia berdoa agar Allah mau mengampuni mereka yang menyalibkan Dia (Luk. 23:34).

Generasi demi generasi manusia, baik Kristen maupun non-Kristen, telah tertantang dan terinspirasi oleh gabungan khotbah dan teladan Yesus, gabungan ueapan dan perbuatan-Nya - melalui ketabahan dan pengendalian diri-Nya, kasih-Nya kepada musuh-musuh-Nya, dan keadaan-Nya yang sama sekali bebas dari keinginan untuk membalas den dam. Para Reformator Radikal dari abad keenam bel as (berbagai kelompok

1·1 ()

'I' I\IUSltlS VAN!; 111\111\ I,.\JC\

- ,I, 1\I.'",III1'''t''''H \ I'~"IS

1·11

Scjak masa kanak-kanak Gandhi sudah belajar tcntung 01/1111.111, "menahan diri agar tidak menyakiti orang lain," Namun kcmudian kctika tumbuh jadi pemuda di London, dia membaca Bhagawad Gita - karya klasik Hindu - dan Khotbah di Bukit. "Khotbah itulah yang sudah mernbuatku mengasihi Yesus," katanya. Dan konon dia terus merenungkannya, terutama melalui pandangan Tolstoy, sebab di Afrika Selatan dia membaca karya Tolstoy yang berjudul The Kingdom of God Is Within You, secara mendalam dipengaruhi olehnya, dan memutuskan untuk menerapkan ide-idenya ketika dia kembali ke India. Dia menggambarkan politiknya sebagai satyagraha, yang sebaiknya diterjemahkan menjadi "kekuatan kebenaran," upaya untuk mengalahkan musuh dengan kekuatan kebenaran dan "melalui teladan menderita yang dijalani dengan sukarela." "Negara mewakili kekerasan dalam suatu bentuk yang terorganisasi dan terkonsentrasi," katanya. Maka dalam suatu negara yang sempurna yang dia cita-citakan, polisi akan tetap ada tetapi akan jarang menggunakan kekerasan, hukuman akan berakhir, penjara akan berubah menjadi sekolah, dan proses pengadilan akan digantikan oleh arbitrasi (menggunakan pihak penengah)." Untuk semua ini Gandhi mendapatkan inspirasinya dari Yesus. "Sekalipun aku tidak bisa mengaku sebagai orang Kristen dalam pengertian agama," katanya, "teladan penderitaan Yesus merupakan suatu faktor dalam menyusun imanku yang tak pernah pupus kepada sikap tanpa kekerasan yang menguasai semua tindakanku. ,,47

Mustahil untuk tidak mengagumi kerendahan hati dan ketulusan Gandhi. Walaupun demikian, kebijakannya harus tetap dinilai tidak realistis. Dia berkata dia mau menahan penyerbuan Jepang dengan suatu "brigade damai"; dia mendesak kaum Yahudi untuk menawarkan penolakan tanpa kekerasan kepada Hitler; dan dia menuntut Inggris menghentikan permusuhan. Namun seperti komentar Jacques Ellul, Gandhi tidak mempelajari konteksnya. "Tempatkan Gandhi di Rusia tahun 1925 atau Jerman tahun 1933. Solusinya akan sederhana: sesudah beberapa hari dia akan ditangkap, dan tidak ada lagi yang akan terdengar darinya. ,,48

Walaupun demikian, ketidaksetujuan utama kita dengan Tolstoy dan Gandhi bukanlah karena posisi mereka yang tidak realistis, melainkan karena tidak alkitabiah. Kita tidak bisa menafsirkan perintah Yesus untuk tidak melawan kejahatan sebagai larangan mutlak terhadap penggunaan kekuatan (termasuk polisi), kecuali kita siap berkata bahwa Alkitab bertentangan dengan dirinya sendiri dan para rasul salah mengerti Yesus. Sebab Perjanjian Baru mengajarkan (mis., Rm. 13) bahwa negara memiliki

otolltas dun Allah untuk mcnghukurn yang hcrsalah, yakni untuk mt:laWill' orang yang bcrbuat jahat, dcngan mernaksanya menjalani hukuman atas kcjuhutunnya. Akan tctapi, kcbcnaran ini tidak boleh dibalik, untuk uu-rulu-narkan kckcrasan yang dilembagakan yang dilakukan oleh suatu I('/.Inl yang mcnindas, Kcbcnaran ini hanya membenarkan kekerasan yang scpcrlunya dan minimal untuk menangkap pelaku kesalahan dan mcnuhadapkan mcreka kepada keadilan.

Maka jclas, bahwa tugas negara sangat berbeda dengan tugas seorang individu. Dalarn Roma 12:17, seorang individu diperintahkan, "Janganlah mcmbalas kcjahatan dengan kejahatan" (pasti merupakan gema dari "Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu"), dan jangan pcmah membalas dendam pribadi, tetapi "berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan." Dengan kata lain, hukuman adalah hak prerogatif Allah, dan Dia menjalankannya melalui sidang-sidang pengadilan. Paulus meneruskan menulis dalam Roma l3:4 bahwa pemerintahan yang berkuasa secara sah adalah "hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuatjahat."

Ini tidak sesuai dengan ajaran dan perbuatan Yesus. Dia dengan jelas tidak membalas dendam, melainkan sebaliknya "Ia menyerahkan diriNya [berikut tujuan-Nya] kepada Dia yang menghakimi dengan adil" (l Ptr. 2:23). Merangkum antitesis ini, Yesus tidak melarang dijalankan, nya keadilan, melainkan melarang kita main hakim sendiri, dan sebaliknya mengajak kita untuk mengasihi musuh-musuh kita dan sepenuhnya bebas dari kebencian dan dendam. Seperti yang sudah sering dikatakan, jalan Iblis adalah membalas kebaikan dengan kejahatan; jalan dunia adalah membalas kejahatan dengan kejahatan, dan kebaikan dengan kcbaikan; jalan Kristus adalah mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Rrn. 12:21).

Satu orang yang memahami perbedaan ini adalah Martin Luther King Jr. Dia sudah belajar banyak dari Gandhi seperti Gandhi belajar dari Tolstoy, sekalipun menurut saya, dia memahami ajaran Yesus lebih baik daripada kedua tokoh tersebut. Sebagai pendiri Southern Christian Leadership Conference, dia berkomitmen kepada tindakan nonkekerasan dan pada tahun 1963 memimpin March on Washington yang terkenal itu, yang disusul pada tahun 1964 dan 1965 oleh undang-undang hak-hak sipil yang pasti. Di satu sisi, dia sering mengaku keberutangannya kepada

-

1·12

o{o "'IUSlIIS \ AN(; IIAI )/\1 AIl,\

1·11

Khotbah di Bukit. Di sisi lain, dia tahu pcrlunyu pcrunduuuun, apalagl hukum yang bisa diberlakukan untuk menghapus diskrirninasi ruxiul.

Salah satu khotbah King yang paling mengharukan, berjudul "Kusihilah Musuhmu," disusun di dalam sebuah penjara di Georgia. Diu menggambarkan bagaimana "kebencian menggandakan kebencian '" dalam suatu spiral yang menyeret turun kepada kehancuran yang semakin parah" dan "melukai orang yang membenci" sarna seperti melukai korban kebenciannya. Namun demikian, kasih, "adalah satu-satunya kekuatan yang sanggup mengubah seorang musuh menjadi seorang sahabat." Dia melanjutkan untuk menerapkan temanya pada krisis rasial di Amerika Serikat. Selama lebih dari tiga abad orang-orang Afro-Amerika menderita penindasan, frustrasi, dan diskriminasi. Namun King dan teman-temannya berkeputusan untuk "menjawab kebencian dengan kasih." Kemudian mereka akan memenangkan baik kebebasan maupun penindas mereka, "dan kemenangan kita akan merupakan kemenangan ganda.Y'"

palt Il'Isl'Illll 1IIIIIIgkill bukan ditulis olch l lippokratcs (4()O-377 SM), "sail)'. hapa kcdoktcrun," mclainkan olch para muridnya, Namun demikiall, scpcrti yang pcrnah ditulis W. H. S. Jones, "sungguh sulit untuk mernpcrcayai bahwa sctidaknya inti dari Sumpah tersebut tidak kembali pada l lippokratcs 'yang agung' itu sendiri.,,52 Namun bagian dari sumpah ini bcuitu scring dilanggar, sebab dalam masyarakat Yunani dan Romawi yang pcrmisif, pembinasaan atau pencampakan anak-anak yang tidak diinginkan mcnjadi praktik yang umum. Di sisi lain, orang Kristen menenrangnya berdasarkan basis theologi dan moral. Misalnya, Tertullian dalam Apology-nya menuduh bangsa Romawi melakukan pembantaian bayi, dan kemudian melanjutkan:

5. Kasih untuk Anak-anak:

Thomas Barnardo

"Sebuah pintu yang selalu terbuka"

Suatu kasih kepada anak-anak dan perhatian kepada kesejahteraan mereka merupakan unsur-unsur yang hakiki dari budaya Kristen, sehingga kita cenderung menganggapnya sudah sewajamya demikian. Namun un surunsur ini tidak selalu diperhatikan. Pengorbanan anak, misalnya, dipraktikkan dalam berbagai agama kafir, dan praktiknya oleh para penyembah dari bani Amon untuk menenangkan dewa Milkom atau Molokh ditanggapi oleh para nabi Perjanjian Lama dengan penuh kemarahan dan kengenan.

Sepertinya dalam dunia purba tidak ada hukum yang melawan, dan tidak ada ketidaksetujuan etika, terhadap aborsi atau pembunuhan bayi. Para orangtua memiliki hak penuh untuk menentukan hidup atau matinya anak-anak mereka.i" Misalnya, di antara papirus Oxyrhynchus dari abad 1 SM, ditemukan surat dari seorang laki-laki yang bemama Hilarian kepada istrinya yang bemama Alis yang sedang mengandung: "Jika dia lakilaki, biarkan dia hidup; jika perempuan, campakkan. ,,51

Memang benar bahwa sumpah Hippokrates, yang diucapkan oleh para dokter, meliputi j anj i "Aku tidak boleh memberikan alat kontrasepsi kepada seorang wanita untuk menyebabkan aborsi." Sebagian dari sum-

Bagi kita, pembunuhan sepenuhnya dilarang, kita tidak boleh rnenggugurkan bahkan janin yang ada di dalam kandungan sementara manusia itu memperoleh darah dari bagian tubuh lain untuk menopang hidupnya. Mencegah kelahiran hanyalah pembunuhan yang dilakukan dengan lebih cepat terhadap manusia, tidak peduli apakah Anda merampas suatu kehidupan yang telah dilahirkan, atau menghancurkan yang akan segera lahir. ltulah bakal manusia yang akan jadi seorang manusia; Anda sudah memiliki buahnya di dalam bentuk benih/"

Sesudah pertobatan Konstantin pada tahun 312, aborsi menjadi kejahatan, dan panti asuhan bagi anak-anak yang tak diinginkan dibangun di Roma, Athena, dan di segala tempat. Dan untuk pengakuan atas keberartian dan martabat anak-anak ini, dunia berutang kepada Yesus Kristus. Kitab-kitab Injil Sinoptik menggambarkan dua kesempatan terpisah di mana Dia menyambut anak-anak dan memerintahkan untuk menyayangi anak-anak. Yang pertama adalah ketika anak-anak kecil ("bayi" menurut Luk. 18:15) dibawa kepada-Nya agar Dia mau menumpangkan tanganNya atas mereka dan memberkati mereka. Namun ketika para murid memarahi orang-orang yang membawa anak-anak itu, Yesus menegur mereka dan berkata:

"Biarkan anak-anak itll datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah scpcrti seorang anak keeil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." Lalu Ia mcmcluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka [a rncrnberkati mereka. (Mrk. 10: 13-16; bdk. Mat. 19:13-15; Luk. 18:15-17)

-

I·I·~

'I' I\IUSTIIS YAN(; TIAI)A Tr\I{A

+ "1~Hlh It'III,III)( ) t'SIIS

1·1',

Kesempatan keduanya timbul karcna suatu diskusi ICIII:lII)' .. ',Iapa yang akan menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Allah. Kali 1111 Ycsus mengambil inisiatif memanggil seorang anak kecil dan menyuruhnya berdiri di antara mereka. Dia kemudian menegaskan bahwa kecuali orang dewasa bertobat dan menjadi seperti anak-anak kecil, mereka tidak akan pemah memasuki Kerajaan Allah. Demikian pula mereka yang merendahkan diri bagaikan seorang anak adalah yang terbesar dalam Kerajaan Allah (Mat. 18:1-5; Mrk. 9:35-37; Luk. 9:46-48).

Di antara semua yang pemah terinspirasi oleh penghargaan Yesus pada anak-anak, salah seorang yang paling tergerak adalah Dr. Thomas Bamardo (1845-1905). Sesudah bertobat kepada Kristus ketika berusia tujuh belas tahun, dia masuk ke Rumah Sakit London sebagai seorang mahasiswa kedokteran empat tahun kemudian, bermaksud pergi ke Cina sebagai seorang misionaris medis. Namun dalam waktu beberapa bulan, peristiwa-peristiwa yang terjadi yang mengubah arah hidupnya. Dia menemukan eksistensi yang mengibakan di East End London yang menimpa anak-anak yang miskin, dan pada tahun 1870, ketika berusia dua puluh lima tahun, dia membuka rumah pertamanya bagi mereka di Stepney. Dia memutuskan untuk menetap di London dan memberikan hidupnya untuk menyelamatkan yang "paling tidak berdaya dan membutuhkan pertolongan dari semua makhluk ciptaan Allah - yakni anak-anak yang malang. ,,54 I )alam waktu empat puluh tahun dia mengumpulkan dana sebesar 3 25 juta pounds, membangun suatu jaringan kerja rumah-rumah untuk menenrna, merawat, dan melatih anak-anak yang tidak berumah, yang butuh pcrtolongan, dan yang sakit," dan menyelamatkan enam puluh ribu anak laki-laki dan perempuan dari kemelaratan. Hari ini kita boleh menyebutnya orang kudus pelindung untuk anak-anak jalanan,

Pelayanan yang dipersembahkan Bamardo bagi anak-anak memiliki :Iwal yang dramatis. Di antara anak-anak jalanan yang dikenalnya adalah .I ohn Somers, berusia sebelas tahun, dikenal sebagai Wortel karena I .unbutnya yang merah menyala. Dia sering tidur di luar, di antara Covent ( iardcn dan Billingsgate. Pada salah satu perjalanan tengah malamnya, I \:Irnardo memilih lima anak laki-laki jalanan untuk tinggal di rumahnya. wortcl memohon agar disertakan, namun tidak ada kamar lagi. Maka I \:lIl1ardo menjanjikannya kamar kosong berikutnya yang ada.

vall)', 11'11>""". tlla 1IIL'IIggallggll scorang bocuh laki-Iaki yang scdang 11.1111, yallg .II xis iuya juga tcrbaring scorang anak yang tampak sedang pulas. Salah satu anak tcrscbut, yang selicin belut, meloloskan diri, na- 1111111 kctika si pesuruh menyentuh yang seorang lagi, tidak ada respons arau gcrakan ... anak itu telah meninggaL Anak itu adalah si Wortel. Kcputusan dari pemeriksaan resmi petugas koroner adalah "kematian karcna kclelahan, akibat sering mengalami euaca buruk dan kurang makan." Tragedi ini membakar jiwa Bamardo yang peka .... Lama kelamaan scbuah keputusan terbentuk dalam hatinya. "Takkan pemah lagi!" katanya, "Takkan pemah lagi!" '" Dia memasang sebuah papan tanda yang terkenal di luar rumah di Stepney dengan huruf-huruf sebesar kirakira tiga kaki 'T AK ADA ANAK MALANG YANG TIDAK DITERIMA.,,56

Dan kelak dia menambahkan perkataan "PINTU YANG SELALU TERBUKA" - di mana per1indungan, makanan, pakaian, dan perawatan medis, jika diperlukan, bisa tersedia seketika kapan pun, baik siang maupun malam."

Kelak Bamardo bisa mengklaim, "Kami menerima anak-anak yang

ditolak oleh lembaga amallain ... anak-anak yang berada dalam stadium akhir dari penyakit yang mereka derita; anak-anak yang lumpuh, pincang, dan buta; anak-anak yang - sebagai akibat dari lamanya diacuhkan dan menderita - sekarat. Satu-satunya syarat untuk bisa diterima adalah bahwa mereka anak yang malang. ,,58

Namun apa yang memotivasi keputusan yang luar biasa mendalam ini? Janda Bamardo membuka rahasia dari semangatnya. Dalam The Memoirs of the Late Dr. Barnardo dia menulis,

Di mana-mana Bamardo mencari anak-anak .... Sebab dia mengasihi mereka.. .. Dia mencintai mereka semua.... Dalam semangat muda yang tidak mementingkan diri, dia paling mengasihi yang paling buruk, dengan kasih itu dia bergembira dalam pelayanan yang tidak mementingkan diri.... Di antara banyak orang yang mengaku mengikut Dia yang berkata "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku ... " ada anak-anak kelaparan di lorong-lorong dan hanya sedikit yang peduli.59

I Ie berapa pagi kemudian, ketika seorang pesuruh sedang memindahkan scjumlah karung gula yang bersandar pada dinding dengan ujungnya

Sesaat setelah kematian Bamardo, sebuah puisi kenangan muncul di dalam Punch, ditulis oleh penyuntingnya, Sir Owen Seaman. Terdiri atas delapan bait. Berikut ini dua baitnya yang pertama:

-

1·l(i

'I, I\IWiTIJS YANt;IIAIlA TAI{A

'l'l\lsah l('nl'IIII\ Yt'SllS

1·11

"Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, Anak-anak kecil," ucap suara Kristus.

Dan bagi dia yang bibirnya kini bungkam membisu Suara Tuhan pun cukup.

"Biarkan anak-anak itu -"; begitu kata-Nya

Dan mengikuti langkah-Nya murid sejati itu berjalan, Mengangkat mereka yang tak berdaya, demi kasih yang tulus, Menyerahkannya ke lengan Allah.60

segera kernbali kcpada Bapa-Nya. Kcdcngarannya scpcrti dramatisasi .lcngan sengaja bagi lima atau lebih tingkatan karier-Nya yang Paulus lukiskan dalam himne Kristen yang dia kutip dalam Filipi 2.

Kcdua, peristiwa itu merupakan tanda. Yesus mengaku sebagai Tuhan dan Guru atas murid-murid-Nya (Yoh. 13:13-14). Tetapi bukannya bcrperilaku otoriter seperti kebanyakan majikan, Dia merendahkan diri-Nya untuk melayani mereka. Tuan mereka menjadi budak mereka. Bukti apa lagi yang kita perlukan untuk menunjukkan keilahian-Nya?

Ketiga, peristiwa itu adalah perumpamaan dari kebutuhan seluruh dunia untuk dibersihkan dari dosa. Sesungguhnya Yesus berkata kepada Petrus, "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku [yaitu, dalam Kerajaan-Ku]" (Yoh. 13:8). Implikasi dari protes Petrus adalah untuk menunjukkan tidak perlunya salib.

Keempat, peristiwa itu adalah teladan. Yesus berkata: "Sebab Aku telah memberikan suatu tcladan kcpada kamu, supaya kamu juga berbuat sarna scperti yang tclah Kupcrbuat kepadamu" (Yoh. 13: 15). Artinya, jika kita memindahkan ajaran Yesus ke dalam budaya kita sendiri, tidak ada pekerjaan yang terlalu hina atau rendah untuk dilakukan dcmi kasih.

Namun demikian, gereja cenderung menafsirkan ajaran Yesus terlalu harfiah. Yang disebut scbagai pedilavium, atau upacara pembasuhan kaki, dilakukan sclama bertahun-tahun, terutama berkaitan dengan pernbaptisan, dalam gereja-gereja di Timur maupun Barat. Kanon 3 dari Sinode Toledo yang ketujuh belas (tahun 694) mencela ketidaktaatan terhadap upacara ini dan mewajibkan dilakukannya upacara ini pada Hari Kamis Putih (sehari sebelum Jumat Agung) "di seluruh gereja Spanyol dan Gaul." Dan sampai hari ini, kaum Mennonite mengaj arkan bahwa pembasuhan kaki merupakan suatu keharusan selain pembaptisan dan Perjamuan Tuhan. Kaum Adventis Hari Ketujuh melaksanakannya setiap kuartal sebagai "ketetapan kerendahan hati," dan demikian pula halnya dengan kelompok-kelompok Baptis."

Secara khusus, upacara yang dilakukan sesekali oleh para pemimpin gereja dan negara dianggap sebagai lambang kerendahan hati mereka. Maka pada tahun 1530 Kardinal Wolsey (yang sarna sekali bukan teladan kerendahan hati) "membasuh, menyeka, dan mencium kaki dari lima puluh sembilan orang miskin di Peterborough.l'" Demikian juga pada masa kini, setiap Kamis Putih di Gereja Holy Sepulchre di Yerusalem, patriark Gereja Ortodoks Yunani membasuh kaki kanan dari dua belas pendeta senior yang melambangkan para rasul, sementara di Roma, sang paus

6. Peristiwa Pembasuhan Kaki:

Samuel Logan Brengle

Sebuah pelajaran penting dalam kerendahan hati

Pembasuhan kaki, baik oleh diri sendiri atau oleh orang lain, dipraktikkan di hampir seluruh dunia purba. Kebanyakan di antaranya dalam dunia alkitabiah meliputi penyediaan air untuk para tamu, sehingga mereka boleh membasuh kaki mereka sendiri;" membasuh kaki orang lain dianggap sebagai tanda tindakan yang menunjukkan kemurahan hati dan kerendahan hati, karena dalam kenyataannya, itu adalah pekerjaan seorang budak.f

Tindakan Yesus membasuh kaki para murid-Nya pada malam terakhir Dia bersama dengan mereka sarat dengan simbolisme dan signifikansi. Memang Yesus sendiri menunjukkan bahwa ada misteri di sini, lebih dari apa yang tampak, ketika Dia berkata, "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak" (Yoh. 13:7).

Pertama, peristiwa itu adalah sebuah drama, yang memaparkan bahwa waktunya sudah tiba dan bahwa Dia berasal dari Allah dan akan kernbali kepada Allah (Yoh. 13:1-3). Maka Dia "bangun," seperti Dia telah bangkit dari takhta-Nya, Dia "menanggalkan jubah-Nya," seperti Dia mengesampingkan kemuliaan-Nya, Dia "mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya," seperti Dia mengambil rupa seorang hamba. Dia "menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya," seperti Dia telah merendahkan diriNya dan menjadi taat sampai mati - bahkan mati di salib. Kemudian, "sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya" (lih. Yoh. 13:4-5,12), sebagaimana Dia akan

-

1·11l

+ "RISTIIS YAN<;IMIJi\ lAllA

.[. Kisah I!'nlang Yesus

I·I!)

melakukan hal yang serupa, suatu kebiasaan yang dibangun kcrnhah (licit Paus Yohanes XXIII sesudah tidak berlaku selama kira-kira scmlular: puluh tahun.

Salah satu contoh yang paling menarik dari penafsiran harfiah tcrhadap perintah Kristus ditemukan di antara para raja dan ratu lnggris, yang dimulai dari Raja John pada tahun 1213. Selain pembasuhan kaki, dia memberikan tiga be1as mata uang penny kepada tiga belas orang. yang kemudian dikenal sebagai uang Kamis Putih Kerajaan. Pernbagian uang ini berlanjut hingga hari ini. Para penerimanya adalah orang-orang berusia lanjut yang sudah seumur hidup melayani secara sukarela dan sedang membutuhkan uang. Jumlahnya sarna dengan jumlah tahun dari usia sang ratu. Dompet berwama hijau, putih, dan merah dibagi-bagikan, berisi terutama mata uang logam perak yang dicetak khusus, sebagai pengganti makanan dan pakaian. Sekalipun tidak ada pembasuhan kaki, para petugas tetap mengenakan handuk lenan putih sebagai celemek, dan semua peserta utama (termasuk para bangsawan) tetap membawa rangkaian yang terdiri dari berbagai herba dan bunga yang harum sebagaimana yang mereka perbuat pada masa-masa terjadinya penyakit sampar, untuk menghindari risiko terkena infeksi.f

Tetapi ini semua sangat harfiah. Saya rasa Calvin benar ketika berkata, "Kristus tidak memerintahkan upacara tahunan, tetapi mengatakan kepada kita agar siap, sepanjang hidup kita, untuk membasuh kaki saudara-saudara kita." Dan bukan membasuhnya secara harfiah, me1ainkan menjalani suatu kehidupan dalam kasih, dan pelayanan yang rendah hati dan berkorban"

. Sebuah contoh yang mengharukan dari hal ini adalah Samuel Logan Brengle, yang merupakan orang kelahiran Amerika pertama yang menjadi komisioner Bala Keselamatan. Dia adalah seorang pendeta muda Metodis ketika pertama kali dia berjumpa dengan William Booth; dia memiliki sebuah ambisi rahasia untuk menjadi berhasil dan terkenal, seorang uskup mungkin. Pada tahun 1887 dia menyeberangi Lautan Atlantik untuk bergabung dengan Bala Keselamatan. Namun mula-mula Booth curiga terhadap dia. "Brengle," katanya kepada dia, "engkau termasuk dalam 'kelas berbahaya'" (yang dimaksudkannya adalah gerejawan). "Anda sudah jadi bos selama ini dan saya rasa Anda tidak mau tunduk pada disiplin Bala Keselamatan."

Meskipun terdapat ketidakpercayaan ini, disetujui untuk memberi masa percobaan bagi Brengle. Agar kerendahan hati menetap dalam diri-

nva, dia dikirim ke Leamington untuk dilatih sebagai kadet, dan tugas pcrtuma yang diberikan kepada dia adalah menyemir sepatu bot sesama kadct. Dia mendapati dirinya berada dalam ruang bawah tanah kecil yang gL'lap "dengan delapan be1as pasang sepatu berlumpur, sekaleng semir, dan sebuah godaan yang besar." Brengle cemas, bahkan memberontak. "Apakah aku menempuh perjalanan sejauh 3.000 mil," katanya pada dirinya sendiri, "untuk menyemir sepatu bot?" Lalu

dalam khayalan dia melihat sebuah gambar: Yesus merupakan sosok utama, dan Dia sedang membasuh kaki para murid-Nya! Tuhannya, yang datang dari '" sorga yang mulia dan dipuja-puja penghuninya - membungkuk ke arah kaki para nelayan yang tak terpelajar dan kasar, membasuh kaki mereka, merendahkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba! Hati Brengle direndahkan. "Ya, Tuhan," bisiknya, "Engkau benar-benar membasuh kaki mereka; aku akan menyemir sepatu bot mereka." Dengan antusiasme yang sampai sekarang bahkan tidak dimiliki oleh para penyemir sepatu, dia menjalankan tugasnya, dengan nyanyian di bibirnya, dan damai di hatinya."

Brengle tidak pemah melupakan bagaimana kesombongannya direndahkan. "Dia menjalani ... suatu kehidupan menyerupai Kristus," tulis biografemya, "dan menyerupai Kristus ... merupakan esensi dari pengalaman kekudusan yang dia ajarkan .... Namanya banyak dibicarakan di antara tokoh-tokoh gerakan itu, dan masih disebut-sebut dalam lingkungan Bala Keselamatan dengan penuh kekaguman.Y" Dan semuanya karena penglihatan akan Yesus yang membasuh kaki!

Sebuah contoh serupa pada masa kini, Chuck Colson, yang dihukum penjara karena keterlibatannya dalam kasus Watergate, yang kemudian dipindahkan ke kamp penjara umum di Maxwell Air Base, di mana dia ditugaskan untuk bekerja di bagian pencucian. "Saat itu udara musim panas sangat panas menyengat," tulisnya, dan pekerjaannya meliputi "mernilah-milah pakaian dalam dan seragam kerja coke1at yang basah oleh keringat." "Tugas saya di bagian pencucian tersebut juga adalah, saya yakin, satu langkah lain dalam proses menghancurkan ego saya. Ada pelajaran tertentu dalam kerendahan hati dengan mencuci pakaian orang lain, tidak terlalu jauh berbeda dari membasuh kaki mereka. ,,69

'1' I\.RISTIIS YANG TIAI>A TARA

I '"

7. Salib:

Toyohiko Kagawa

Penyataan kasih Allah

Salib Kristus sudah menj adi inspirasi bagi jutaan orang. Bahkan dari seluruh karya dan ucapan Yesus, tidak ada yang lebih menggugah daripada salib. Semua orang Kristen harus bisa berkata bersama dengan Paulus bahwa "Kasih Kristus yang menguasai kami" (2Kor. 5:14), "tidak ada pilihan lain bagi kami (NEB)" atau bahkan "menguatkan cengkeramannya pada kami," sehingga kita berkeputusan untuk tidak lagi hidup bagi diri sendiri, melainkan bagi Dia yang mati bagi kita.

Sebagai contoh dari saya tentang bagaimana salib memotivasi orang, saya sudah memilih seorang pemimpin Kristen Asia, Toyohiko Kagawa (1880-1960). Dia lahir di Kobe, Jepang. Ayahnya adalah seorang aristokrat, seorang usahawan yang kaya, seorang menteri dalam kabinet, dan penasihat kaisar; sedangkan ibu biologisnya adalah seorang geisha, gadis penari. Kedua orangtuanya meninggal ketika dia baru berumur empat tahun, dan kemudian dia dikirim untuk tinggal dalam keluarga petani dengan ibu tirinya. Di sini dia mendapat siksaan badan, tidak diinginkan dan tidak dikasihi, dan bekas luka hati karen a kesepian ini ditanggungnya sepanjang sisa hidupnya.

Ketika dia bersekolah di Tokushima, dia diperkenalkan kepada beberapa misionaris Presbiterian Amerika, terutama Dr. Harry Myers, yang menjadi mentomya. Karena sangat terkesan dengan ajaran dan teladan Yesus, Kagawa belajar tentang Khotbah di Bukit dengan sepenuh hati dan mulai berdoa setiap hari, "Ya, Allah, buatlah agar aku menyerupai Kristus." Kemudian ketika berusia lima belas tahun, dia dibaptis. Bagi sanak keluarganya, ini keterlaluan. Pamannya tidak mengakui dia dan tidak memberi dia hak waris.

Pada Natal 1909, ketika berusia dua puluh satu tahun, dia pindah dari Kobe Theological Seminary, dengan mengangkut seluruh harta miliknya dalam sebuah kereta tangan, untuk tinggal di antara kaum miskin di perkampungan kumuh Shinkawa yang begitu buruk keadaannya. Gubuknya yang tak berjendela berukuran hanya kira-kira enam kali enam kaki: mes-

,

kipun demikian, dengan rela dia berbagi dengan siapa saja yang membutuhkan perawatan dan perlindungan, adakalanya beberapa orang sekaligus. Dia hidup bergantung pada dua mangkuk bubur beras sehari dan mengenakan jaket compang-camping yang sarna selama beberapa tahun.

liduk hcran jikn lila sl'I"ing sukit. Diu Juga disulahpahami, difitnah, dan discrang, Namun dia tidak pcrnah mcrnbalas dcndam dan tidak pemah mcnyerah. Salah scorang pcnulis biografinya, William Axling, menulis tcntang dia scbagai bcrikut:

Dia mengunjungi orang sakit; dia menghibur yang berduka; dia memberi makan yang lapar; dia menerima yang tak punya rumah; dia menjadi kakak bagi para pelacur, mengunjungi mereka ketika mereka sakit dan menyediakan obat bagi mereka. Para orangtua berpaling pada dia untuk minta nasihat. Kaum muda menceritakan kepada dia masalah hidup yang sulit. Para penjahat menjadikan dirinya pastor yang menerima pengakuan dosa. Anak-anak mengerumuni dia."

Pengalaman-pengalaman ini, bersama dengan studi-studinya yang berkelanjutan di seminari, meyakinkan dirinya tentang kebutuhan untuk melangkah melampaui filantropi kepada aksi sosial. Maka ketika para buruh pelabuhan Kobe berunjuk rasa, mereka in gin menjadikannya sebagai pemimpin, dan dia mengorganisasi mereka menjadi persatuan buruh Jepang yang pertama. Dia juga menampung maksud para petani penggarap tanah dan membantu mengatur koperasi nasional petani kecil yang pertama. Karena solidaritasnya terhadap para pekerja, Kagawa dianggap sebagai penghasut, sehingga polisi memasukkan dirinya dalam daftar hitam, para detektif membayang-bayangi dirinya, dan suatu kali dia ditangkap, diseret ke pos polisi dan dijebloskan ke dalam penjara selama tiga belas hari. Namun, karena terkesan dengan tulisan-tulisannya, pemerintah mengumumkan maksudnya untuk menghapuskan perkampungan kumuh di enam kota terbesar di Jepang.

Sesudah gempa bumi mengerikan yang menghancurkan Yokohama dan dua pertiga Tokyo serta membunuh sekitar 100.000 orang, Kagawa aktif dalam rekonstruksinya. Namun dia tidak pemah kehilangan semangat untuk menginjili. Pada tahun 1928, dia mendapatkan penglihatan tentang satu juta orang Jepang yang berpaling kepada Kristus, dan "terna inti khotbahnya adalah salib Kristus sebagai penyataan kasih Allah.,,7)

Sebelum Perang Dunia II dia ditangkap tiga kali karen a propaganda damai yang dinilai subversif. Namun sesudah perang (yang baginya berarti empat tahun kesedihan mendalam), perdana menteri berbicara dengan dia seperti berikut: "Hanya Yesus Kristus yang sanggup mengasihi musuh-musuh-Nya .... Bantulah saya untuk menanamkan kasih Yesus Kristus ke dalam hati bangsa kita.,,72 Dan sang kaisar memberi waktu

-

I, ') .J"

-I< '" IUSTliS YAN(; TIAI>A TARA

01- Ktsuh 1('lIlallg Y,'sus

I', I

khusus sclama setengah jam untuk mendengamya secara pribadi menjelaskan makna dari salib.

Buku-buku Kagawa sangat populer, dan ketika sebuah buku baru diterbitkan, barisan panjang terbentuk di luar toko-toko buku. Semua karyanya menyinggung ten tang salib dengan cara tertentu.

Pertama, sekalipun keyakinannya tentang penebusan tidak dirumuskan dengan jelas, Kagawa menegaskan dengan teguh bahwa Kristus "menyerahkan diri bagi dosa orang lain.,,73 "Hanya orang berdosa yang meratapi dosa-dosanyalah yang bisa memahami keajaiban kasih ini.,,74 "Bagiku, yang dilahirkan dalam keadaan berdosa, kasih penebusan ini memenuhi dan menggetarkan setiap serat keberadaanku. Kasih ini menggerakkan dalam diriku suatu rasa syukur yang mendalam.t"

Kedua, "salib adalah kristalisasi kasih.,,76 Maksudnya, salib menunjukkan kasih Allah kepada kita dan sekaligus merupakan ukuran kasih yang seharusnya kita tunjukkan kepada sesama. "Singkat kata, gerakan kasih Kristus terangkum dalam salib. Salib adalah keseluruhan Kristus, kcseluruhan kasih.,,77

Ketiga, Kagawa melihat di salib sesuatu yang seluruhnya tidak ada taranya. Dia menulis, "Fakta yang unik di seluruh dunia, dari pengorbanan diri Kristus dan pencurahan darah penebusan bagi dosa-dosa umat manusia, adalah penyataan kasih itu sendiri.?"

Yang terakhir, berikut ini mungkin adalah pemyataan pribadinya yang paling mengharukan:

I kngan pertanyaan yang tak terjawab terscbut kita mcninggalkan Kagawa. Pengakuannya adalah bahwa "salib merupakan inti Kekristenan,,,80 dan himne kesukaannya adalah "Jesus, Keep Me Near the Cross" I "Bawalah Aku Dekat ke Salib," karya Fanny J. Crosby - ed.].

Aku bersyukur untuk Shinto, untuk Buddhisme, dan untuk Konfusianisme. Aku berutang banyak pada iman-iman ini. Kenyataan bahwa aku dilahirkan dengan memiliki suatu semangat yang khidmat, bahwa aku memiliki kehausan untuk menggali dengan sungguh-sungguh nilai-nilai yang melebihi kehidupan duniawi, dan bahwa aku berjuang untuk berjaIan menurut hukum terutama, aku sepenuhnya berutang kepada pengaruh dari iman-iman etnik tersebut. Namun ketiga iman ini semuanya gagal memenuhi kebutuhan hatiku yang terdalam. Aku adalah seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan yang sangat panjang yang tanpa titik balik. Aku lelah. Kakiku capek. Aku berkelana ke seluruh dunia yang gelap dan pahit, yang sarat dengan tragedi. Air mata adalah makananku siang dan malam.... Buddhisme mengajarkan belas kasihan yang besar. ... Tetapi sejak awal mulanya, siapakah yang mengumurnkan, "inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pcngampunan dosa"? 79

8. Kebangkitan:

Joni Eareckson Tada

"Aku akan menari dengan kakiku sendiri"

Pada tanggal 30 Juli 1967, seorang atlet perempuan Amerika berusia tujuh belas tahun yang bemama Joni Eareckson mengalami kecelakaan menyelam di Pantai Chesapeake. Kecelakaan ini menyebabkan dirinya lumpuh dari leher ke bawah.

Mula-mula di rumah sakit dia berjuang dengan berani melawan kondisinya, dengan keyakinan bahwa dia akan berjalan kembali. Namun semakin lama semakin dia menyadari bahwa lukanya permanen dan bahwa dia takkan pemah bisa mendapatkan kembali kemampuan menggunakan tangan atau kakinya. Dia menceritakan kisahnya dalam buku pertamanya dengan sangat jujur. 81 Dia merasakan gelombang seluruh emosi manusiawinya - kepahitan, frustrasi, kekecewaan, amarah, dan bahkan depresi yang menjurus kepada keinginan bunuh diri. Dia juga mengalami apa yang disebutnya sebagai "ledakan-ledakan kemarahan yang memberontak

kepada Allah."

Akan tetapi, melalui suatu masa rehabilitasi dan terapi, dan dengan

dukungan yang kuat dari orangtua, saudara-saudara perempuan, kekasih, dan ternan-ternan lainnya, perlahan-lahan dia merangkak keluar dari lubang kegelapan terdalam. Dia mulai mempercayai Allah dan menghadapi masa depan dengan realistis. Dia belajar melukis dengan mulutnya. Dia menjadi pembicara publik dan penulis yang populer. Dan dia mengembangkan JAF Ministries ("Joni and Friends") untuk mendukung orang-orang cacat.

Inti dari perubahannya adalah penemuannya kembali akan Alkitab.

Dia mempelajari kembali doktrin-doktrin agungnya. Dia dibantu oleh penglihatan akan Yesus di salib, "yang tidak bisa bergerak, tidak berdaya, lumpuh," seperti dirinya. Namun yang paling menolong dirinya adalah kebangkitan. "Sekarang aku memiliki pengharapan akan masa depan," tulisnya. "Alkitab berbicara tentang tubuh kita yang 'dimuliakan' di

-

1:,·1

'1' I..:RISTI IS Y AN(; TIAI)A TARA

0(0 1\1~ .. h 1I'II1allg YI'SIIS

Aku dengan jari-jari yang melengkung tanpa daya, otot-otot yang mengecil, lutut yang kasar berlekuk-lekuk, tidak ada rasa dari bahu ke bawah, suatu hari akan punya tubuh bam, yang terang, cemerlang, dan mengenakan kebenaran - kuat dan berkilauan. Bisakah Anda bayangkan pengharapan yang diberikan kepada orang yang terluka tulang belakangnya seperti aku? Atau seseorang yang menderita lumpuh otak, luka otak, atau yang mengalami pengerasan jaringan tubuh yang bertubi-tubi? Bayangkanlah pengharapan yang diberikan kepada seseorang yang mengalami tekanan batin yang dalam. Tidak ada agama lain, tidak ada filsafat lain, yang menjanjikan tubuh, hati, dan akal budi yang bam. Hanya dalam Injil Kristuslah manusia yang terluka menemukan pengharapan yang begitu luar biasa.83

Temple rucruj Ilk kcpada tiga kcbcnaran agung ten lang aspek mate- 11:11. yakni pcnciptaan, inkarnasi, dan kcbangkitan.

Sctiap kali orang Kristen mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli atau l'cngakuan Nicea, kita menyatakan keyakinan kita pada dua kebangkitan

kcbangkitan Yesus Kristus (yang sudah terjadi) dan kebangkitan tubuh kita (yang akan terjadi). Dan keduanya saling berkaitan, sebab Yesus "akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuhNya yang mulia" (Flp. 3:21). Kembali, "Sarna seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah [Adam], demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi [Kristus] " (lKor. 15:49).

Meskipun demikian, di antara tubuh kita yang sekarang dan tubuh kita yang akan datang, akan ada kesinambungan dan sekaligus ketidaksinambungan, sebagaimana dalam kasus Yesus. Tubuh kebangkitan-Nya bisa dikenali sebagai tubuh yang sarna, namun tubuh itu memiliki kuasakuasa baru yang mengagumkan. Paradoks kesamaan dan perbedaan ini digambarkan dengan baik oleh Paulus dengan metafora tanaman. Benih menentukan identitas bunganya - benih semak duri menghasilkan semak duri, bukan buah ara, kata Yesus (Mat. 7:16) - tetapi bunga jauh lebih indah daripada benihnya. Demikian pula halnya dengan tubuh kita sekarang yang lemah dan bisa binasa, sedangkan tubuh kebangkitan kita akan kuat dan tidak bisa binasa (lKor. 15:35-44). Singkat kata, pengharapan Kristen bukanlah pada kekekalan jiwa, melainkan pada kebangkitan dan perubahan tubuh.

Natur fisis dari kebangkitan itulah yang telah menginspirasi Joni Eareckson Tada. Dia bersemangat, dia menulis, "betapa lebihnya sorga dibandingkan dengan Karang Gibraltar." "Kita akan menyentuh dan merasakan, memerintah dan berkuasa, bergerak dan berlari, tertawa dan takkan pemah punya alasan untuk menangis.?"

Dia melukiskan suatu konvensi Kristen di mana si pembicara, saat menutup pesannya, meminta hadirin berlutut untuk berdoa. Dia menyaksikan mereka melakukannya. Namun tentu saja dia tidak bisa melakukannya sehingga dia tidak bisa membendung air matanya. Itu sangat menyusahkannya sebab, dibesarkan dalam sebuah gereja Episkopal Reformed, dia sudah terbiasa berlutut untuk berdoa. Kemudian dia teringat akan kebangkitan:

sorga .... Sekarang aku tahu makna 'dimuliakan' itu. Itu adalah saat, sesudah kematianku, ketika aku akan menari dengan kakiku sendiri.''"

Perlu diperhatikan bahwa yang menguatkan Joni adalah pengharapan Kristen akan kebangkitan tubuh. Tidak akan ada penghiburan besar jika yang diyakini hanyalah bertahan melewati kematian. Dan kepercayaan pada kehidupan yang dikembalikan, yakni pemulihan kepada kehidupan seperti yang ada pada saat ini, akan berarti ngerinya pemenjaraan selanjutnya dalam kursi rodanya. "Aku tentu saja tidak mempercayainya," tulisnya:

Entah disadarinya atau tidak, Joni menggemakan beberapa perkataan yang indah dari Uskup Agung William Temple:

Bisa dikatakan dengan pasti bahwa satu dasar bagi pengharapan Kekristenan, agar Kekristenan bisa membuktikan klaim-klaimnya sebagai iman yang sejati, terletak pada fakta bahwa Kekristenan adalah yang paling materialis dari semua agama besar. Kekristenan memberikan pengharapan bahwa ia sanggup mengendalikan hal material, justru karena ia tidak mengabaikannya atau menyangkalinya, melainkan menegaskan realitasrealitas materi dan penundukan materi-materi tersebut. Pernyataannya yang paling penting dari Kekristenan adalah: "Firman itu menjadi manusia," di mana pengertian terakhirnya adalah, tentu saja, dipilih karena asosiasi-asosiasinya yang teramat materialistis. Dikarenakan natur dari bentuk sentralnya, Kekristenan meyakini signifikansi tertinggi dari proses historis, dan kenyataan materi dan tempatnya di dalam rancangan ilahi.84

Duduk di sana, aku diingatkan bahwa di sorga aku akan bebas untuk melompat, menari, menendang, dan melakukan aerobik. Dan sekalipun aku

-

'I' KIUSTUS YANG TIADA TARA

+ Kisuh 1('lIlilllg Y,'sus

yakin Yesus akan senang menyaksikan aku berdiri sambil berjinjit, ada sesuatu ya~g a~u rencanakan untuk kulakukan, yang akan lebih ~1eIlYl'n~ngka~ ~la. Jika memungkinkan, di suatu tempat, di saat sebelum pestu dirnulai, di suatu waktu sebelum para tamu dipanggil ke meja perjamuan Perayaan Perkawinan Anak Domba, hal pertama yang aku rencanakan untuk kelakukan dengan kaki kebangkitan adalah bertelut dengan penuh rasa syukur. Aku akan dengan tenang bertelut di dekat kaki Yesus.86

Saya tidak menemukan contoh yang lcbih baik dari scmangat ini .l.uipada Henry Martyn. Dia berasal dari daerah Cornwall, lahir di Truro pada tahun 1781. Pada usia yang baru empat belas tahun, dia disekolahkan di St. John's College, Cambridge. Dia memiliki banyak minat. Dia suka berjalan dan menunggang kuda di pedesaan dan memiliki karunia scni musik, lukis, dan puisi. Kemudian sesudah kematian ayahnya yang mcndadak dan sebagai respons terhadap kesaksian adiknya yang bernama Sally, dia mencari dan menemukan kemurahan di dalam Kristus.

Studinya di St. John's College dengan dinobatkannya dirinya menjadi "Senior Wrangler," yaitu mahasiswa yang paling tinggi prestasinya dalam bidang matematika, dan pada tahun 1802 dia menjadi staff pengajar di perguruan tingginya. Tahun berikutnya dia ditahbiskan sebagai pembantu pendeta di Holy Trinity Church, Cambridge. Namun begitu, dia tinggal hanya selama dua tahun, sebab beberapa waktu sebelurnnya dia pernah mengumumkan maksudnya untuk pergi keluar negeri sebagai mi-

sionans.

Maka pada bulan Juli 1805, ketika berusia dua puluh empat tahun,

dia berlayar ke Kalkuta, India, meninggalkan karier akademis yang cemerlang dan sekaligus (setidaknya, pikirnya, untuk saat itu) Lydia Grenfell, wanita yang dicintainya. "Hatiku adakalanya hampir hancur karena kesedihan," tulisnya, "karena dipisahkan dari sosok yang disayanginya.?" Selama kira-kira delapan tahun Henry dan Lydia meneruskan berkirim surat, namun Lydia menolak pinangannya, dan mereka tidak pernah

menikah.88

Martyn terbukti merupakan ahli bahasa yang luar biasa berbakat. Dia

menguasai Bahasa Urdu (satu rumpun dengan bahasa Hindi), Persia, dan Arab, ketiga bahasa penting dalam dunia Muslim, dan Perjanjian Baru Bahasa Urdunya tetap menjadi dasar bagi semua terjemahan berikutnya. Kemudian dia berlayar menuju Shiraz, Iran, di mana sekalipun iklirnnya begitu panas, dia menyelesaikan Perjanjian Baru Bahasa Persianya dalam waktu setahun. Dia dibantu oleh seorang sarjana Islam yang bernama Mirza Sayyid Ali, yang suatu hari mengatakan kepadanya tentang suatu kemenangan baru-baru ini atas bangsa Rusia, di mana Putra Mahkota Abbas Mirza, putra dari shah di sana, dengan pasukannya sudah membunuh begitu banyak orang Kristen Rusia sehingga "Kristus dari sorga keempat menarik-narik ujung jubah Muhammad untuk memohon dengan sangat agar dia berhenti melakukannya.T"

Dia menulis berulang kali dalam buku-bukunya, "Aku tidak sabar menunggu."

9. Pemuliaan:

Henry Martyn

Semangat untuk kehormatan nama Kristus

Dalarn beberapa bagian Perjanjian Baru, kebangkitan dan pemuliaan Y csus tampa~ya dipandang sebagai peristiwa tunggal. Namun kebangkitan dan kenmkan-_Nya dipisahkan oleh selang waktu empat puluh hari, dan keduanya memiliki signifikansi yang berbeda. Kebangkitan merayakan kemenangan-Nya atas kematian, dan kenaikan merayakan pemulia:I11-Nya di posisi kehormatan dan otoritas tertinggi di sebelah kanan Allah Hupa. Sebuah contoh yang baik dari cara pandang tunggal ini adalah pcrnyataan Paulus bahwa karena Kristus begitu merendahkan diri-Nya pada sahb, ?la sud~h begitu ditinggikan dan diberi nama di atas segala llama (yakni, kemuliaan di atas setiap kemuliaan), agar setiap lutut mau lx-rtclut kepada Dia dan setiap lidah mengaku bahwa Dia adalah Tuhan 11'lp.2:9-11).

Di sinilah terdapat motivasi misi yang tertinggi: bukan ketaatan l.vpuda Amanat Agung, bukan pula belas kasihan kepada jiwa yang terhiJ:lllg, bukan pula kegirangan atas Injil, melainkan semangat (bahkan

l.cccmburuan") demi kehormatan nama Kristus. Maka Paulus menulis )1'lllang panggilannya untuk mengabarkan Injil kepada bangsa nonY;llllidi "supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Ny a" (Rm. 1:5), .1.111 Yohanes menggambarkan sejumlah misionaris yang pergi "karena 11.IlI1a-Ny~" (3Yoh. 7). Dia bahkan tidak menyebut nama yang dimaksud, 11.11111111 kita memahaminya, yaitu nama di atas segala nama. Tidak ada ,1I11;II1,1-';at yang lebih kuat daripada kerinduan agar Kristus diberi kehor.u.u.m yang layak bagi nama-Nya,

-

ISH

I ',1)

Bayangkanlah adegannya. Kristus digarnbarkan hcrlulut til hudupan Muhammad. Bagaimanakah Martyn bereaksi? "Jiwaku tcrkoynk-koyuk karena penghujatan ini," katanya.

Mirza Sayyid Ali terkejut dan bertanya apa yang begitu ditentangnya. Dia menjawab, "Aku tidak tahan hidup jika Yesus tidak dimuliakan, bagaikan neraka bagikujika Dia selalu begitu tidak dihormati."

Ternan sarjananya kagum dan kembali bertanya mengapa. "Jika ada orang yang mencabut keluar matamu," jawab Martyn, "tidak ada yang bertanya mengapa kamu merasa sakit; itu perasaan. Karena aku adalah orang yang bersama dengan Kristus, maka aku sangat terluka. ,,90 Salah seorang penulis biografinya menuduh Martyn "terlalu peka.'?" Tetapi tidak, itu adalah semangatnya bagi kehormatan Kristus yang dimuliakan.

Pada tanggal21 Oktober 1811, Henry Martyn menulis suratnya yang terakhir kepada Lydia, yang menyampaikan kepadanya bahwa dia terus memikirkan dirinya. Empat bulan kemudian, Perjanjian Baru Bahasa Persia selesai. Dia mempersiapkan dua salinan penuh dengan hiasan untuk presentasi kepada shah dan sang putra mahkota, tetapi salinan-salinan tersebut tidak pemah sampai pada mereka. Martyn meninggalkan Shiraz dengan menunggang kuda dan dua bulan kemudian tiba di Tabriz. Dia sudah men gal ami demam tinggi karena tuberkulosis, tetapi tetap berangkat, berharap mencapai Konstantinopel, kira-kira empat ratus mil jauhnya, dalam waktu dua bulan. Pada awal Oktober dia menulis catatan hariannya ~ang terakhir, dalam keadaan sakit parah. Dia berhasil menempuh perjalanan selama sepuluh hari lagi, tetapi dia wafat pada tanggal 16 Oktober 1812, di Tokat, Armenia, dalam usia hanya tiga puluh satu tahun.

Apakah yang memotivasi Henry Martyn mengunjungi India dan sekaligus Persia sebagai misionaris, menanggung risiko dicelakai oleh kaum Muslim fanatik, belajar tiga bahasa, bertekun mengerjakan terjemahannya sekalipun dalam kondisi kesehatan yang terus-menerus buruk dan lebih mengutamakan panggilannya daripada cintanya kepada Lydia? Ia sudah berketetapan bahwa Kristus yang dimuliakan layak menerima penghormatan yang layak. Martyn "termasuk dalam para misionaris kudus," tulis salah seorang penulis biografinya, "didorong oleh semangat yang besar, yang membuat mereka tidak pemah beristirahat, tapi terus menggerakkan mereka untuk lebih bersemangat lagi dalam mengembangk.an Kerajaan Allah."n Himne kesukaannya, kata seorang penulis biografmya yang lain kepada kita, adalah parafrasa Issac Watts atas Mazmur 72:

\'I'SIIS nkan lu-r t.rk lua. ki: manu pun matahuri

IInedar 1I11111k memancarkun sinaruya;

Knapall·Nya u-rbcntang dari pantai kc pantai, Illllgga bulan bcrsinar pcnuh dan mcrcdup kernbali.Y

10. Karunia Roh:

Roland Allen

Roh Kudus adalah Roh Misi

"Dan scsudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini" (Kis. 2:33). Demikian kata Petrus dalam puncak khotbahnya pada hari Pentakosta. Tindakan terakhir dalam karya keselamatan Y csus, sesudah kebangkitan dan kenaikan-Nya, adalah pengaruniaan Roh-Nya kepadajemaat-Nya yang menanti dan berharap.

Dari semua pelayan Roh Kudus, Perjanjian Baru menegaskan (sekalipun sering diabaikan) tentang misi. Pentakosta terutama merupakan suatu peristiwa misi. Masa antara kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua, antara kenaikan (ketika Dia menghilang) dan parousia (ketika Dia akan muncul kembali) harus, menurut tujuan Allah, diisi dengan misi gercja ke seluruh dunia. Seperti yang dikatakan oleh almarhum Uskup Lesslie Newbigin, "Gereja adalah umat Allah yang bermusafir. Gereja terus bergerak - sampai ke ujung-ujung bumi untuk mendamaikan semua orang dengan Allah, dan sampai akhir waktu untuk bertemu dengan Tuhan yang akan mengumpulkan semua orang.'?" Kedua tujuan terse but akan serentak tercapai, karena, seperti yang Yesus katakan, "Inj il Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya" (Mat. 24: 14).

Satu tokoh yang sangat terinspirasi oleh relasi antara pengaruniaan Roh oleh Kristus dan misi gereja ini adalah Roland Allen. Lahir pada tahun 1868 di Bristol, Inggris, dia merasa terpanggil sej ak masa kanakkanak untuk menjadi misionaris. "Sejak tahun-tahun awal kehidupanku," tulisnya, "aku sangat yakin tentang panggilanku, seyakin tentang keberadaanku.'?" Dia ditahbiskan pada tahun 1892, dan tiga tahun kemudian dia berlayar menuju Cina utara. Sekalipun dia melayani di sana hanya selama delapan tahun (dia pulang karena sakit pada tahun 1903), dia telah mengembangkan beberapa keyakinan radikal tentang natur jemaat yang

-

J(i()

'1· I\I{(STIIS YAN(; 1'1,\1);\ T;\H,\

1 (, 1

asli dan menghabiskan cmpat puluh tahun berikutnya untuk nll'llldlS IL'ntang keyakinan-keyakinan tersebut. Dia juga mengunjungi Afrika Tirnur, India, dan Kanada, dan menetap sejenak di Kenya.

Bukunya yang pertama, yang paling terkenal, dan yang paling berpengaruh adalah Missionary Methods: St. Paul's or Oursr" Dimulai dengan kata-kata provokatif sebagai berikut:

Dalam kurun waktu sepuluh tahun lebih sedikit, Rasul Paulus telah mendirikan jemaat di empat provinsi Kekaisaran - Galatia, Makedonia, Akhaya, dan Asia. Sebelum tahun 47, tidak ada jemaat di provinsi-provinsi ini; pada tahun 57, Rasul Paulus bisa berbicara seakan-akan pekerjaannya di sana sudah selesai, dan bisa merencanakan perjalanan yang ekstensif menuju Barat jauh tanpa khawatir jangan-jangan jemaat-jemaat yang sudah didirikannya akan mati karena ketidakhadirannya karena tidak adanya bimbingan dan dukungannya"

prrtnnyann-pcrtanyaun ini scbagai krisis iman. Apakah Allah tidak bisa .lrpcrcayu dalarn mcmclihara jcrnaat-Nya scndiri? Satu-satunya tindakan pcnccgahan yang Paulus ambil adalah dia meninggalkan bagi mereka, keuka dia menarik diri, Kitab Suci Perjanjian Lama, penggembalaan sctcmpat, dan ajaran rasuli dari dirinya sendiri.l'" Namun di atas segal anya, tulis Allen, Paulus "percaya kepada Roh Kudus '" sebagai Pribadi yang tinggal di dalam diri orang-orangnya yang bertobat. Karena itu, dia yakin kepada mereka yang sudah bertobat. Dia percaya kepada mereka. 1 )ia mempercayai mereka bukan karena dia percaya kepada kebaikan alarni mereka atau kecukupan intelektual mereka. Namun dia percaya kepada Roh Kudus yang ada di dalam mereka.Y''" Dia yakin bahwa Roh Kudus akan membangun dan menguatkan mereka, serta menjadikan mereka teguh.

Prinsip-prinsip Allen tetap terus diperdebatkan, sebab ada perbedaanperbedaan yang mencolok antara situasi Paulus dan situasi kita, yang mungkin tidak cukup diperhitungkan oleh Allen. Lagi pula, seperti yang ditulis Alexander McLeish dalam Memoir-nya, "Allen selalu berjiwa memberontak." t 04

Bagaimanapun, dalam penekanannya kepada peran Roh Kudus yang mutlak dalam misi, dia tak bisa dipersalahkan. "Perhatian dan minatnya terutama dalam pengertian tertentu adalah pada temp at Roh Kudus."t05 Ini mendominasi pemikirannya. Bagi dia, Kitab Kisah Para Rasul adalah sebuah kitab misi dan Roh adalah Roh misi.t06 Penglihatannya tentang sebuah jemaat yang asli adalah suatu jemaat yang bersandar pada pengaruniaan Roh Kudus oleh Kristus.

Sebab "tidak ada yang bisa menggantikan atau menyamarkan kenyataan bahwa Rasul Paulus pada kunjungan pertamanya memang meninggalkan gereja-gereja yang sudah jadi.'?" Memang "perbedaan yang perlama dan paling menonjol antara tindakannya dan tindakan kita adalah buhwa dia mendirikan 'jemaat' sedangkan kita mendirikan 'misi. ,,,99

Scbaliknya, ketika Allen meneliti apa yang kemudian dikenal seba~~a I "ladang misi," dia melihat "tiga gejala yang sangat mencemaskan." I'nlall1a, di setiap tempat Kekristenan merupakan "tanaman" yang menaII k - II a 111 un dianggap berasal dari luar. Kedua, di setiap tempat misi Kris- 11"11 Ingantung pada keuangan dan kepemimpinan dari luar. Ketiga, di -,.'Ilap icmpat dia melihat bentuk-bentuk kehidupan Kristen dari luar \.111)' mcrniliki "keserupaan yang mencengangkan antara yang satu dan \1111)' luinnya," namun sarna sekali tidak memiliki keasIian budaya setem)Iii I Maka misi Kristen bersifat "eksotik, berketergantungan, seragam" _ '''1111',11 bcrlawanan dengan indigenos (keasIian setempat).'?" Sebaliknya, -~ lid 111)',111 melihat Kekristenan berdiri di tempat-tempat asing dengan

1I1I11)"'II:lkan pakaian asing [yaitu, ada ciri budaya setempat] dan meII". "d',lllgkan suatu bentuk kemuliaan dan keindahan yang baru."':"

f\1t'lo<ic misi Paulus adalah menanam sebuah jemaat dan kemudian IIlIlIIlIlk dui, dengan maksud memberikan tempat kepada Kristus. Namun 1111'11.11" tI,a mcrnpertimbangkan adanya risiko terjadi bencana? Jika semua 1111 '''''''ill 1\ harus menarik diri, apakah mereka tidak menempatkan jemaat _I "!lV,'l ',:t~':lran ajaran sesat dan kegagalan moral? Roland Allen melihat

11. Kedatangan Kedua:

Anthony Ashley Cooper (Lord Shaftesbury)

Sebuah program reformasi sosial

Buku Doa Umum yang diterbitkan pada tahun 1662 memberikan petunjuk tentang bagaimana menemukan tanggal Hari Paskah selama lebih dari lima ratus tahun, sampai tahun 2199. Dan menurut suatu perundangan Parlemen pada tahun 1732, Buku Doa Umum Episkopal Amerika memampukan pembacanya untuk menghitung kalender gereja sejauh 8500 tahun. Gereja-gereja Anglikan sungguh-sungguh tidak mendorong jemaatnya untuk menjalani hidup yang penuh pengharapan pada kedatangan Tuhan! Namun demikian, perkecualian yang patut diperhatikan adalah

-

>(0 "1· .. lh lI'III,lIlg \ ,'SIIS

If,l

Anthony Ashley Cooper, yang ketika ayahnya mcninggal. IIll'lIPldl hII'I Shaftesbury yang ketujuh.

Lahir pada tahun 1801, dia menjalani masa kanak-kanak yang tidak bahagia, diabaikan, dan diperlakukan dengan tidak baik oleh orangtuanya. Satu-satunya penghiburannya adalah pengurus rumahnya yang bernama Anna Maria Miles, yang mengajarkan kepada dia kisah-kisah Alkitab, mengajarinya berdoa, dan sepertinya juga membawanya kepada iman pribadi kepada Tuhan Yesus Kristus.

Ketika berusia enam belas tahun, sementara bersekolah di Harrow School, dia melihat sekelompok orang yang mabuk menjatuhkan peti mati seorang laki-laki miskin di jalanan, sambil mengumpat dan tertawatawa saat melakukannya. Dia merasa muak dan terganggu oleh peristiwa ini, dan kelak menyebutnya "awal karier publikku untuk orang banyak," sebab saat itu dan di sanalah dia mengambil keputusan untuk memperscmbahkan hidupnya untuk mengurus yang miskin dan yang lemah.''"

Dia masuk Parlemen pada tahun 1826, ketika baru berusia dua puluh lima tahun, dan segera memulai program reformasi sosialnya, berupaya mcrnperbaiki sejumlah dampak terburuk dari Revolusi Industri. Kerja kerasnya yang tiada henti berlanjut selama hampir enam puluh tahun, dan pcrundangan yang untuknya dia sangat bertanggung jawab, menunjukkan suatu pencapaian yang mengagumkan.

Pada tahun 1842, Undang-undang Tambang Batu Bara melarang kcrja dalam tambang dan bangunannya di bawah tanah bagi para wanita dan gadis dan mengurangi jam kerja bagi para bocah laki-laki, Pada tahun I S45, Undang-undang Sakit Jiwa menjamin perlakuan manusiawi bagi orang-orang yang gila dan menunjuk lima belas "Kornisioner untuk Kaurn Sakit Jiwa," yang salah satunya adalah dirinya sendiri selama cmpat puluh tahun. Pada tahun 1847, 1850, dan 1859, di dalam Parlemen dra mernperjuangkan Undang-undang Sepuluh Jam Kerja di Pabrik, yang uu'nggariskan jam kerja bagi para wanita dan anak-anak. Dia adalah Jll'l11impin yang diakui dari semua reformasi pabrik ini. Pada tahun 1851, und.mg-undang Rumah Asrama Umum berjuang mengakhiri keadaan V;lllg tidak sehat dan terlalu padat di rumah-rumah asrama, menetapkan ·.LIIHlar-standar yang bisa diterima, dan mengizinkan penguasa setempat 11111 Ilk merneriksa dan mengawasi mereka. Bahkan daftar ini jauh dari kll)IJap. Ashley Cooper juga mendirikan Persatuan Sekolah bagi Kaum Misk in, dan menyibukkan diri demi para bocah laki-Iaki yang member-uhk nn ccrobong asap, gadis penjual bunga, yatim piatu, pelacur, narapi-

dalla, llljlll~~ Ol:tll~', cac.u, dan annk-anak lumpuh. Sckalipun rancangan pl'nllHlangan parlcmcnnya bchcrapa kali rncngulami kckalahan, dia panlang mcnycrah. "Aku harus bcrtahan." begitu jurnalnya mencatat.

Apakuh yang mcndorong dia? Pertama-tama, itu karena kepercayaan dan kasihnya kcpada Injil. "Pada hakikatnya, dan dari keyakinan yang tcrdalum." tulisnya dalam buku hariannya, "". aku adalah seorang Injili dar: antara kaum Injili.,,'Og Ini berarti bahwa secara khusus ia menekankan "kcilahian Kristus, pengorbanan-Nya yang menebus, dan KerajaanNya yang akan datang."I09 Dan pekerjaan kasih dan keadilannya merupakan luapan alamiah dari imannya.

Namun, selama tahun 1830-an, dia menjadi sedemikian yakin pada kcdatangan Kristus yang kedua kali. "Keyakinan ini masuk ke dalam seluruh pikiran dan perasaannya," tulis Edwin Hodder; "keyakinan ini memberinya dorongan di tengah-tengah seluruh kerja kerasnya; keyakinan ini memberi nada dan warna pada seluruh pengharapannya akan masa depan."!" Sebab "tidak ada pemulihan yang sesungguhnya, dia sering berkata, bagi semua orang yang sengsara ini, selain di dalam kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus. Mengapa kita tidak memohonnya setiap kali kita mendengar jam berdentang'i'"!'

"Aku tidak bisa mengatakan kepada Anda," Cooper pemah berkata kepada Hodder, penulis biografinya yang resmi, "Bagaimana topik ini mula-mula menguasaiku; topik ini, sejauh yang bisa kuingat, merupakan topik yang selalu kuyakini dengan teguh. Kepercayaan kepada topik ini telah menjadi prinsip yang menggerakkan dalam kehidupanku; sebab aku melihat segal a sesuatu yang berlangsung di dunia tunduk kepada peristi-

b .. ,,112

wa esar yang satu uu.

Karena itu, tidak heran bila ayat Alkitab kesukaan Cooper adalah ayat kedua terakhir dari Alkitab: "'Ya, Aku datang segera!' Amin, datanglah, Tuhan Yesus!" (Why. 22:20). Buku harian yang ditulisnya seumur hidup, yang di dalamnya dia mencatat pikiran-pikiran pribadinya, menunjukkan luapan ayat ini di semua isinya. Itu merupakan semboyan yang dia tuliskan dalam bahasa Yunani pada tutup amp lop yang dia pakai setiap hari.113 Beberapa tahun sebelum dia meninggal, dia meninggalkan petunjuk bahwa Wahyu 22:20 harus menjadi salah satu dari tiga ayat yang diukirkan pada batu nisannya. Dan di tempat tidur menjelang kematiannya, dia terus menggumamkan, "Datanglah Tuhan Yesus."

Anthony Ashley Cooper, Earl of Shaftesbury yang ketujuh, meninggal pada tahun 1885. Begitu pantasnya dia dijuluki "earl (bangsawan)

-

I (j-t

>I- 1-:1{ISIlIS rAN(; TIAIlA TAI{A

l tr' •

bagi orang miskin" sehingga belasan ribu orang, dari bcrbagui kalangan, memenuhi jalur perjalanan yang dilalui prosesi jenazahnya dari rumahnyu di Grosvenor Square ke Westminster Abbey. Di sana ada ratap, kasih, dan rasa horrnat yang sangat besar dari orang banyak. Para wakil dari berbagai panti, rumah sakit jiwa, sekolah dan komunitas yang sudah didirikan olehnya membawa spanduk-spanduk, yang ditulisi ayat dari Matius 25: "Aku lapar, kamu memberi Aku makan," "Aku haus, kamu memberi Aku minum," "Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan," "Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian," "Aku sakit, kamu melawat Aku," "Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku" (Mat. 25:35-36). Bahkan hujan lebat yang turun tidak mampu memadamkan semangat mereka.

"Yang Mulia Sekalian," seru Duke Argyll, dalam suatu pidato politik yang disampaikan tidak lama kemudian, "reforrnasi sosial pada abad silam tidak berasal dari partai politik: melainkan karena pengaruh, karakter, dan ketabahan satu orang: tentu saja yang saya maksud adalah Lord Shaftesbury." Time juga mengakui dia sebagai manusia yang "mengubah seluruh kondisi masyarakat di Inggris.t''!"

Dan mengapa? Apa yang sudah mendorongnya? Dia mengatakan kepada kita. Sampai akhir hidupnya dia berkata, "Aku tidak merasa bahwa selama empat puluh tahun terakhir aku pemah menjalani satu jam saja dari keterjagaannya tanpa dipengaruhi oleh pikiran ten tang kedatangan Tuhan kita.,,115

,/,'11' II/Ih,' 1",-I'llIlillg Ikligillll,I' SI'.I'/(,J11 of' l'm//i'.I'cd Christians, ill the IIll,II,-,. (/1/(1 !lfidd/I' ('/(/.1',1'1'.1' ill 'l hi» Countrv Contrasted with the Real

" .

( 'liristinnitv. Tcrhit pada tahun 1797, dicctak ulang lima kali pada tahun

v.uu; s.nua, dltcrjcmahkan kc dalarn lima bahasa Eropa, dan lebih dikenal ,,('!lagal R('(// Christianity, huku ini memberi dampak yang sensasional.

Kchnnyukan judul babnya dimulai dengan kata-kata "Ketidakcukupall Konscpsi dari ... " karen a tujuannya, dari pengetahuan Alkitabnya yallg ckstcnsif, untuk menunjukkan ketidakcukupan Kekristenan "nominal" atau "yang diakui," dan menjelaskan esensi-esensi dari Kekristenan yang "nyata," "sejati," "penting," atau "praktis." Perbedaan utama di untaranya, desaknya, "terdiri dari temp at yang berbeda yang diberikan kepada kitab-kitab Injil.,,117 Doktrin-doktrin dasamya adalah "kebobrokan natur manusia, penebusan dari Sang Juruselamat, dan pengaruh Roh Kudus yang menguduskan."ll8 Dari kebenaran-kebenaran ini, yang diyakini dan dialami, mengalirlah suatu kehidupan barn yang radikal, yang terinspirasi oleh rasa syukur kepada Allah, yang bercirikan kasih, kekudusan, dan kerendahan hati, dan meresap ke dalam setiap bagian kita, baik pribadi maupun umum.

Wilberforce menyadari dengan penuh kepedihan bahwa pada saat dia menulis, agama dan moral sedang mengalami kemerosotan yang serius di Inggris. "Alkitab tergeletak di rak dan tidak dibuka,,,119 keluhnya. Di atas segalanya, "kebiasaan terburuk untuk menganggap moral Kristen berbeda dari doktrin-doktrin Kristen secara diam-diam telah tumbuh semakin kuat. ... Bahkan dalam sebagian besar khotbah saat ini, jarang ditemukan sisa-sisa dari doktrin yang alkitabiah.v"

Secara khusus, Wilberforce sangat marah terhadap keterlibatan Inggris dalam perdagangan budak. Kengeriannya dilukiskan sebagai berikut:

12. Penghakiman Terakhir:

William Wilberforce

Penghapusan perbudakan dan perdagangan budak

Contoh terakhir dari saya tentang seseorang yang sangat dipengaruhi oleh Yesus Kristus adalah William Wilberforce. Dia terns mengingat bahwa suatu hari nanti dia harus berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus. Wilberforce pemah merangkum ambisi-ambisi hidupnya dengan perkataan berikut: "Allah yang Mahakuasa memberikan di hadapanku dua tujuan hesar, penghapusan perdagangan budak dan reforrnasi perilaku."!"

Saya anjurkan untuk memperhatikan dua tujuan ini dengan urutan yang terbalik. Pengaruh Wilberforce pada nilai dan standar moral bangsa Inggris bisa dianggap disebabkan terutama oleh bukunya yang terkenal dan judulnya yang mungkin tidak terlalu luwes bagi kita: A Practical

Serangan tiba-tiba di waktu malam pada desa setempat yang darnai [di Afrika Barat], dengan penyeretan pria dan wanita dan anak-anak yang dirantai menuju pantai, perjalanan yang panjang dan lambat menyeberangi Atlantik, kotoran dan bau busuk dari ruang bawah kapal yang beracun, di mana para budak dibiarkan berdesak-desakan, dan kemudian dipekerjakan di kebun tebu di bawah cambuk mandor.l'"

Wilberforce masuk Parlemen sebagai anggota untuk Yorkshire ketika berusia dua puluh satu tahun pada tahun 1780, dan tujuh tahun kemudian memulai gerakan menentang perdagangan budak. Dia bukanlah sosok yang bisa membuat orang terkesan. Selain berperawakan kecil,

--

Ili7

IGG

'I' KRISTI JS Y AN(; TIADA TAI{i\

matanya rabun, dan hidungnya terlalu mencuat ke atas. Ketika James Boswell mendengar dia berbicara, dia menyebutnya "udang yang sernpuma," namun kemudian mengatakan bahwa "udang itu kini membesar menjadi seekor ikan paus."J22 Wilberforce juga menghadapi oposisi yang gigih dari kelompok orang yang mengharapkan keuntungan pribadi. Namun sekalipun dihadang semua masalah ini, dia tetap betjuang dengan gigih. Pada tahun 1789 dia berbicara di Parlemen tentang perdagangan budak dengan kata-kata ini: "Begitu besar, begitu mengerikan, begitu tidak bisa diperbaiki kefasikan yang muncul, sehingga pikiranku sendiri benar-benar mantap untuk mempetjuangkan Penghapusan.... Apa pun akibat-akibat yang mungkin tetjadi, mulai sekarang aku memutuskan bahwa aku takkan pernah beristirahat sampai aku mencapai Penghapusan . . ,,123

tnt.

yallg nuhkul "Tak scorang pun yang pcrnah bisa mcngcrti Inggris pada 1.11111<111 Victoria jib dia tidak mcnghargai bahwa di antara bangsa-bangsa yang sangat bcradab, ... Inggris adalah salah satu bangs a yang paling rcIigius yang dikenal dunia." Ensor membicarakan tentang agama yang II1Jili, yang menurutnya memiliki esensi kedua berupa

kepastian tentang adanya upah dan hukuman sesudah kematian. Jika orang bertanya bagaimana para pedagang Inggris pada abad kesembilan belas memperoleh reputasi sebagai pedagang yang paling jujur di dunia ... jawabannya adalah: karena neraka dan sorga tampak pasti bagi mereka, sepasti terbitnya matahari esok, dan Penghakiman Terakhir tampak

k . 125

senyata neraca euangan mmgguan.

Maka rancangan undang-undang penghapusan (berkaitan dengan perdagangan) dan rancangan un dang-un dang perbudakan di luar negeri (yang melarang keterlibatan kapal-kapal Inggris) diperdebatkan dalam Majelis Rendah pada tahun 1789, 1791, 1792, 1794, 1796, 1798, dan 1799. Namun semuanya gagal, sampai Undang-undang Penghapusan Perdagangan Budak akhirnya diluluskan pada tahun 1807. Kemudian, sesudah Perang Napoleon, Willberforce mengarahkan energinya untuk penghapusan perbudakan itu sendiri. Namun pada tahun 1825, sakit keras memaksa dia mundur dari Parlemen, dan Thomas Fowell Buxton mengambil alih kepemimpinan kampanye tersebut. Pada tahun 1833 Undang-undang Penghapusan Perbudakan disahkan oleh mayoritas dari kedua Majelis di Parlemen. Tiga hari kemudian Wilberforce meninggal. Dia dimakamkan di Westminster Abbey, dengan pengakuan atas perjuangannya yang gigih selama empat puluh lima tahun demi para budak Afrika.

Wilberforce tidak betjuang sendirian. Dia benar-benar adalah pemimpin kampanye yang diakui, tetapi dia tidak bisa memenangkannya tanpa dukungan dari masyarakat luas negeri itu, dan terutama dari sahabat-sahabat karibnya di London selatan, yang dijuluki oleh si cerdik Sydney Smith, salah seorang pendiri The Edinburgh Review, sebagai "the Clapham Sect," sekalipun di Parlemen mereka dijuluki "the Saints,"

Agenda dari the Clapham Sect begitu besar. Sesungguhnya "ciri yang paling menonjol dari aksi amal Injili pada zaman Victoria," tulis Kathleen Heasman, "adalah dimensi-dimensi yang sangat luas dari agenda mereka.t''<' Jadi apakah yang menggerakkan mereka? Berikut ini adalahjawaban yang diberikan oleh R. C. K. Ensor, wartawan dan sejarawan

John Venn, pemimpin Sekte Clapham (1792-1813), banyak memberi tekanan dalam khotbah-khotbahnya tentang pertanggungjawaban moral kita kepada Allah. Inilah, tulis Michael Hennel, yang "memberikan kepada the Clapham Sect seluruh integritas yang bertindak sebagai garam dan ragi dalam Majelis Rendah; pengertian akan pertanggungjawaban kepada Allah inilah yang memampukan kelompok Anti Perdagangan Budak bertahan dengan kampanye mereka selama perang besar di Eropa dan ketika menghadapi kekalahan, kekecewaan, dan keputusasaan selama dua puluh lima tahun.,,126

Hennel juga memberi tahu kita bahwa perdana menteri muda William Pitt pernah bertanya kepada Henry Thornton, seorang bankir yang juga anggota the Clapham Sect, mengapa dia memberikan suara melawan dia pada satu kesempatan. Thornton menjawab, "Aku mernberikan suara hari ini supaya jika Tuhanku datang kembali, pada saat itu aku bisa memberikan pertanggungjawaban atas penatalayananku.t'V"

Wilberforce pasti juga mengatakan hal yang sarna. Pemahamannya yang kuat tentang kewajiban kepada sesamanya bangkit dari pemahamannya tentang pertanggungjawaban kepada Kristus, Juruselamat, Tuhan, dan Hakirnnya.

Kesimpulan:

Natur Radikal dari Pengaruh Kristus

Bahwa Yesus memberikan pengaruh yang kuat pada perkembangan kisah manusia banyak diakui oleh para sejarawan. Berikut ini adalah rangkuman Kenneth Scott Latourette pada akhir volume ketujuhnya:

-

Ill/{

-I, J...IUSl{IS YAN!; 11.\1).\ 1,\1(,\

111'1

Dalam dunia manusia ini, dengan aspirasi dan pcrjuanguuuyn. 1111111

cullah satu, yang lahir dari perempuan .... I3agi kebanyakun . orang pada zaman-Nya, Dia tampak sebagai orang yang gaga!. ... Namun tidak ada kehidupan yang pemah ada di planet ini yang sudah sedemikian hcrpengaruh kuat terhadap perjalanan umat manusia. Dari kehidupan iiu tumbuhlah persekutuan yang hampir universal, jemaat Kristen, yang telah dikenal manusia ....

Dari kehidupan singkat dan apa yang tampak sebagai kegagalan itu telah mengalir suatu kekuatan yang lebih hebat untuk memenangkan pertempuran manusia yang panjang, yang lebih hebat daripada kekuatan apa pun yang pemah dikenal oleh umat manusia. Melalui kekuatan ini jutaan orang telah menyelesaikan konflik batin dengan kemenangan yang progresif atas keingingan hati yang lebih kedagingan. Melalui kekuatan ini jutaan orang sudah ditopang untuk bertahan di dalam tragedi-tragedi kehidupan yang terbesar dan sudah tiba pada terang. Melalui kekuatan ini ratusan juta orang sudah diangkat dari kondisi buta huruf dan tidak berpendidikan, dan sudah ditempatkan di jalan kebebasan intelektual yang bertumbuh, dan pengendalian atas lingkungan fisik mereka. Kekuatan ini sudah melakukan lebih banyak untuk menyembuhkan sakit dari wabah dan kelaparan daripada dorongan hati lain apa pun yang dikenal manusia. Kekuatan ini telah membebaskan jutaan orang dari perbudakan dan jutaan orang lain dari cengkeraman sifat buruk. Kekuatan ini telah melindungi puluhan juta orang dari eksploitasi oleh sesama mereka. Kekuatan ini telah menjadi sumber yang paling memberi hasil bagi gerakan-gerakan untuk mengurangi sebanyak mungkin kengerian perang, dan untuk meletakkan relasi manusia dan bangsa di atas dasar keadilan dan perdamaian.128

1)1 hahk proSt'S dcurokruus, tcrlctak puradoks kcmanusiaan kita yang Y(''iIIS :lIarkall nuutubut kila karcna pcnciptaan, yang mcnuntut agar kita .hpcr uuuh hanya dcngan persctujuan kita, dan kerusakan kita karena ketidill,taatan, yang mcnuntut agar kekuatan politik disebarkan seeara merata,

J>I balik gcrakan rnenuju pendidikan bagi semua orang, terdapat Ill'nghargaan Y CSLlS terhadap anak-anak, yang menuntut perkembangan potcnsi yang Allah berikan.

J>i halik pcnearian akan keadilan dan hak asasi manusia, untuk perhaikan kondisi-kondisi di pabrik, pertambangan, dan penjara, dan bagi kcschatan tubuh, pikiran, jiwa, dan komunitas manusia, terdapat nilai dari sctiap manusia, yang baginya Yesus hidup dan sekaligus mati.

Di balik kepedulian masa kini terhadap lingkungan alam, terdapat panggilan untuk menjadi penatalayan yang bertanggung jawab, yang Yesus wariskan dari pasal-pasal awal Kitab Kejadian, bahkan meskipun kita para pengikut-Nya selama ini lamban memahami tugas mereka.

Di balik penearian akan keselarasan relasi-relasi antarras yang harmonis, terdapat keyakinan akan kesetaraan hakiki dari seluruh umat manusia, yang dieiptakan menurut gambar Allah, tidak peduli warna kulit, budaya, atau kredo; hal ini Yesus ajarkan dalam perumpamaan-Nya tentang orang Samaria yang baik.

Di balik keluarga-keluarga manusia sebagai dasar dari masyarakat manusia, terdapat penetapan Allah untuk perkawinan monogami heteroseksual yang Yesus dukung, bersama dengan pengendalian seksual yang sehat yang menjadi presuposisinya.

Semua prinsip sosial yang hakiki ini diajarkan atau ditegaskan, seeara langsung atau tidak langsung, melalui perilaku dan tutur kata, sikap dan teladan Yesus Kristus.

Namun, sebagaimana yang ditulis Thomas Carlyle dalam bukunya yang terkenal On Heroes and Hero-Worship (1841), gerakan-gerakan tidak begitu saja bangkit, gerakan-gerakan ini mempresuposisikan pribadi-pribadi yang inovatif. Karena itu, saya memilih untuk menyampaikan kisah-kisah dari selusin pemimpin seperti itu, yang imajinasinya sudah dikobarkan, yang kasihnya sudah dibangkitkan, dan yang perbuatannya diinspirasikan oleh Yesus - melalui kandang Betlehem atau bengkel tukang kayu, melalui pelayanan-Nya yang penuh bel as kasihan atau Khotbah di Bukit, melalui kasih-Nya kepada anak-anak atau tindakanNya membasuh kaki, melalui salib, kebangkitan, dan kenaikan-Nya atau

Ini bukan berarti mengklaim bahwa semua perkembangan ini hanya lusa diperhitungkan semata-mata kepada pengaruh dari Yesus Kristus, ';I'hab ada banyak orang lain yang juga sudah meninggalkan jejak yang poxitif pada masyarakat. Ini juga bukan bermaksud untuk berpura-pura h.ihwa catatan Kristen tidak bereacat, sebab selama ini Kekristenan telah Il'Illoda oleh eaeat dan kesalahan besar, yang mengenainya kita merasa ilia IlL Bagaimanapun, di setiap tempat dan setiap generasi, di mana pun 1I,II11a dan kisah Yesus sudah dikenal, natur radikal dari pengaruh-Nya 11I',a tcrlihat,

1)1 halik keseluruhan us aha ilmu pengetahuan yang besar, terdapat '01111111 kcyakinan kepada rasionalitas dan keseragaman dari tatanan yang dJllI'llkan oleh Peneiptanya.

170

or KRISTUS YANG TIADA TARA

pengaruniaan Roh, melalui kedatangan-Nya yang kedua kali atau penghakiman-Nya yang terakhir.

Satu pertanyaan lagi harus menjadi perhatian kita. Pertanyaan ini muncul karena kisah panjang dari gereja dan diajukan oleh Uskup Stephen Neill: "Batu jenis apakah, yang ketika telah dilemparkan ke dalam kolam eksistensi manusia, bisa menggerakkan riak-riak gelombang yang akan terus menyebar sampai menjangkau batas terluar dari dunia , ,?,,]29

mi.

B/\(;I/\N KEEMPAT

Jawaban saya adalah: hanya Kristus yang tiada tara. Dan jika kita siap mengambil risiko membiasakan diri dengan kisah-Nya dan terus mengarahkan diri kepada kepribadian, teladan, dan pengajaran-Nya, kita tidak mung kin akan tetap tidak terpengaruh. Kita justru akan merasakan pula kekuatan dari pengaruh-Nya dan berkata bersama Paulus bahwa kasih Kristus memperkuat cengkeramnya atas diri kita, sampai tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali hidup - dan mati - bagi Dia (2Kor. 5: 14).~

YESUS YANG KEKAL

(at au Baq aimuna Dia Menantang Kit a Hari lni)

"w AHYU YESUS KRISTUS"

Dalam bagian kedua dan ketiga kita telah memperhatikan sejarah gereja dan mempelajari bagaimana gereja memaparkan Kristus dan sekaligus bagaimana Kristus telah mengilhami gereja. Kita sekarang kembali ke Perjanjian Baru, khususnya ke Kitab Wahyu, yang sengaja tidak saya masukkan dalam survei yang pertama.

Mungkin tampak aneh jika sesudah tiga survei yang luas dalam ketiga bagian sebelumnya, saya sekarang hams mempersempit fokus saya hanya pada satu dokumen Perjanjian Bam dan memakai keseluruhan bagian keempat untuk membahas Kitab Wahyu. Mengapa?

Alasan pertamanya adalah karena Kitab Wahyu, yang karena adalah tulisan yang apokaliptis, bahkan satu-satunya tulisan apokaliptis Kristen, termasuk ke dalam suatu genre sastra yang khusus, dan karen a itu, mernbutuhkan penanganan yang khusus pula.

Kedua, kitab ini berisi suatu galeri gambaran-gambaran tentang Yesus Kristus. Untuk setiap kitab Perjanjian Bam lainnya, kita bisa mengisolasi penekanan khususnya. Setiap kitab Injil dan setiap surat memiliki temanya yang khusus. Namun tidak demikian halnya dengan Kitab Wahyu, yang berisi berbagai gambaran tentang Kristus. Kitab ini memaparkan Dia sebagai Yang Awal dan Yang Akhir, Anak Domba dan Singa, pencuri pada waktu malam, Raja di atas segala raja, Hakim Ilahi, dan Mempelai Laki-laki Sorgawi. Metafora ini dan yang lain mengalir dari pemikiran Y ohanes yang subur. Kita hams menilai dengan adil galeri gambaran-gambaran ini.

Ketiga, Kitab Wahyu merupakan klimaks dari Perjanjian Bam. Tanpa memedulikan waktu penulisan dokumen-dokumen Perjanjian Bam, gereja sudah bertindak bijaksana dengan mengurutkan kanon Perjanjian

-

In

I·• I I

Baru sedcmikian rupa schingga dimulai dengan kisah tentaug Ycsus (kecmpat kitab Injil) dan kisah ten tang gereja mula-mula (Kisah Para Rasul); berlanjut dengan dua puluh dua surat pengajaran rasuli tentang iman, kehidupan, dan pengharapan Kristen; dan berakhir dengan Kitab Wahyu, yang membawa kekekalan mendekat.

Karena alasan-alasan inilah Kitab Wahyu layak menerima perhatian khusus dan tersendiri.

Reaksi-reaksi pembaca Kitab Wahyu sangat beragam. Sebagian orang Kristen terobsesi olehnya. Mereka beranggapan bahwa, bersama pasal-pasal apokaliptis dalam Kitab Daniel di Perjanjian Lama, kitab ini berisi rahasia sejarah dunia, terutama untuk peristiwa-peristiwa dan manusia masa kini, dan bahwa mereka memiliki kunci untuk memecahkan rahasia-rahasia tersebut. Maka mereka memprediksikan, sering kali dengan rasa percaya diri yang besar, perkembangan yang akan terjadi di dunia dan memperlihatkan kepada kita gambaran-gambaran yang menakutkan tentang Perang Harmagedon.

Misalnya, Edward Irving, yang membantu mendirikan Catholic Apostolic Church pada tahun 1832, menulis sebuah tafsiran yang akademis tentang bagian Kitab Daniel yang berbahasa Ibrani, yang di dalarnnya dia menemukan rujukan-rujukan kepada Napoleon Bonaparte, kepada Louis XVI sebagai "yang menyuruh seorang pemungut pajak" dan tentang Inggris Raya sebagai "saksi yang setia" bagi Allah. Dia juga meramalkan bahwa menjelang tahun 1867 Kerajaan Seribu Tahun akan dimulai.

( )1II11~ til !lIlg y.uu; IIll'llgallgkal lim mcrcka scndir: schagal nabi 1111 ',\1110111 hcglill SClIllg tcrbukti salah dalarn prcdiksi-prcdiksinya, schingga til allg bcrharap para pcncrus rncrcka bisa lcbih rendah hati.

xchagian orang Kristen lainnya, tidak tcrobscsi dengan Kitab Wahyu, hahkan scbaliknya, mereka mengabaikannya. Mereka tahu bahwa k ituh tcrschut berisi banyak penggambaran yang sangat aneh. Ketika kita mcmbaca, kita mcnjumpai seekor anak domba, seekor singa, dan seekor nagu mcrah besar, bersama dengan dua monster yang mengerikan, yang satu muncul dari lautan dan yang lain muncul dari daratan. Meterai-meterai dari sebuah gulungan kitab terbuka, sangkakala dibunyikan, cawancawan diturnpahkan, dan ada banyak gempa bumi, badai, sambaran kilat, dan gemuruh halilintar. Bisa dimaklumi bahwa para pembaca merasa ini mcrnbingungkan dan bahkan merasa kurang nyaman oleh fen omena yang tidak biasa ini. Maka mereka melawan rasa malu karena kitab tersebut, atau jika mereka memulai membacanya, dengan segera mereka rnenyerah karena putus asa, dan kitab tersebut menjadi kisah Cinderella dan Perjanjian Baru.

Reaksi ketiga dan yang positif dicontohkan oleh Richard Bauckham, yang merupakan spesialis terpelajar dari Kitab Wahyu. Dia memulai kajian-kajiannya yang berjudul The Climax of Prophecy dengan kata-kata ini:

"Kitab Wahyu kepada Yohanes ini merupakan karya yang dihasilkan melalui pembelajaran yang begitu luar biasa, merupakan karya seni sastra yang sangat teliti, imajinasi yang begitu kreatif, kritik politik yang radikal, dan theologi yang begitu dalam.?' Evaluasi dari pakar yang rnahir ini seharusnya mendorong kita untuk tabah. Maka kiranya berkat istimewa yang dijanjikan dalam ayat ketiga baik untuk lektor yang l11embacakan kitab ini dalam ibadah umum maupun mereka yang mendengar pembacaannya dan memperhatikan dengan saksama apa yang mereka den gar (Why. 1:3; bdk. 22:18-19).

Kemudian dalam generasi kita, dengan bukunya yang sangat populer yang berjudul The Late Great Planet Earth (1970), Hal Lindsey membuat kesalahan mengidentifikasi kesepuluh tanduk dari binatang di dalam Kitab Daniel dan Wahyu sebagai kesepuluh negara anggota Persatuan Eropa. Ketika dia menulis, baru ada en am anggota. Pada tahun 1981, dengan tambahan Yunani, jumlah mereka menjadi sepuluh. Tetapi, sekarang, mereka berjumlah lima belas! Lindsey tentu saja bingung ketika ini terjadi. Penje1asannya, yang disampaikan dengan satu kalimat, adalah bahwa "lebih dari sepuluh bangsa pada suatu waktu tertentu bisa diterirna" namun bahwa "pada tahap-tahap terakhir nanti, jumlahnya akan scpuluh saja.?' Lindsey juga terbukti salah dalam meramalkan bahwa tahun 1980 bisa jadi merupakan klimaks dari sejarah.'

Empat prinsip penafsiran. Sekarang pertimbangkanlah keempat prinsip penafsiran berikut.

Pertama, Kitab Wahyu penuh dengan perlambangan. Memang banyak orang bertanya dengan tidak sabar mengapa Yohanes menggunakan sedemikian banyak perlambangan, sebab itu membuat kitabnya jadi sulit dipahami. Mungkin ada dua penjelasan. Yang pertama, Yohanes sedang berbicara tentang kebenaran-kebenaran transenden yang tidak bisa diungkapkan dengan prosa langsung. Kedua, bukan hanya mustahil tetapi juga

-

I /(i

+ 1\ IlIST! IS YAN(; 11:\1 I'" 1/\11 '\

'I' "\V,III\'11 't'SlIS I\l'lstlls"

1//

gegabah baginya untuk berbuat begitu. Yohancs scduru; uu-nulrx 1l'lllallg penolakan umat Kristen untuk menyembah kaisar dan ten lang turnbang nya Kekaisaran Romawi, yang pasti akan dianggap oleh pihak pcnguasa sebagai penghasutan. Selain itu, lambang-lambang dalam Kitab Wahyu harus dipahami, bukan dibayangkan. Jika kita berusaha membayangkannya, akibatnya akan sering teras a mengerikan. Misalnya, umat tebusan Allah dikatakan mengenakan jubah yang dijadikan "putih di dalam darah Anak Domba" (Why. 7: 14). Saya akui bahwa saya tidak pemah mencoba mencuci kain lenan yang kotor dengan darah anak domba, tetapi konsepnya sebenamya agak menjijikkan, dan akibatnya tidak akan menjadikannya putih. Namun, bagaimanapun penafsirannya indah - bahwa satu-satunya kebenaran yang membuat kita memenuhi syarat untuk berdiri di hadirat Allah adalah kebenaran yang disebabkan oleh kematian Yesus Kristus yang menebus kita, yang kepada-Nya kita percaya.

Kedua, Kitab Wahyu berbicara ten tang masa lampau, kini, dan yang akan datang. Memang ini merupakan teori-teori klasik dalam menafsir. Kaum "preteris" menganggap bahwa hampir keseluruhan kitab tersebut berbicara tentang masa lampau, yaitu tentang peristiwa-peristiwa pada abad-abad Masehi awal, terutama tentang jatuhnya Kekaisaran Romawi. Kaum "historisis" memandang kitab tersebut menyampaikan kisah tentang jemaat tahap demi tahap selama seluruh masa antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedatangan Kristus yang kedua, termasuk generasi kita sendiri. Namun hal ini mempresuposisikan suatu cakrawala Barat, dan ada banyak ketidaksepakatan tentang detail-detailnya. Pandangan ketiga atau pandangan kaum "futuris" berharap sebagian besar kitab ini digenapi segera sebelum parousia. Namun dalam kasus ini, sudah tidak rel evan untuk seribu sembi Ian ratus tahun terakhir ini atau lebih.

Pastinya kita tidak perlu diharuskan untuk memilih dari antara ketiga pandangan ini, sebab Firman Allah dimaksudkan untuk berbicara kepada jemaat dari setiap generasi. Oleh karena itu, sepertinya lebih baik mengarnbil pandangan kaum "pararelis," yang memandang bahwa setiap bagian kitab tersebut merekapitulasi keseluruhan masa "di antara kedatangan," yaitu antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedua, dan rnasing-masing bagian diakhiri dengan adegan penghakiman dan keselamatan, Yohanes mendapat penglihatan-penglihatan tersebut secara berurutan, namun realitas-realitas yang mereka lambangkan tidak terjadi sccara berurutan.

Kcllgil, Kitul) "'lIlty" ntcravakun kemcnangau III/a/I. Kitab Wahyu 1IIl'Ilggalllharkan konflik antara Allah dan Iblis, Anak Dornba dan naga, It'llIa,,! dan dunia, kola suci Y crusalern dan kota besar Babel, mempelai .l.m pclacur, orang-orang yang ditandai keningnya dengan nama Kristus (Why. 7:2-3; 14: L 22:4) dan orang-orang yang ditandai dengan nama hinutang (Why. 13: 17; 14:9, 11; 16:2; 19:20). Kitab Wahyu menggamharkun Ichih dari sekadar konflik; Kitab Wahyu merayakan kemenangan. Sudut pandang kitab ini adalah bahwa Kristus "telah menang" (Why. 5:5, lxlk. 12:9-10) dan bahwa umat-Nya dimaksudkan untuk mendapat bagian dalarn kcmenangan-Nya. "Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan hcrsama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah mcnang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya" (Why. 3:21). Jadi seperti yang ditulis H. B. Swete pada awal abad kedua puluh, "keseluruhan kitabnya adalah Sursum corda," suatu seruan kepada umat Kristen yang percaya untuk "mengangkat hati mereka" dan melihat kesengsaraan mereka dalam kaitannya dengan Kristus yang berkuasa dan akan kedatangan kembali.4

Keempat, Kitab Wahyu berfokus pada Yesus Kristus. Ketiga kata pertama dari kitab ini dalam bahasa Yunaninya adalah apokalupsis Iesou Christou, yakni, suatu apokalips atau wahyu (penyataan) Yesus Kristus. Memang, ban yak komentator beranggapan bahwa frasa ini berbentuk subjektif genitif, sehingga Yesus Kristuslah yang menyatakan isi kitab tersebut. Namun bagi saya sepertinya lebih mungkin bentuknya adalah objektif genitif, sehingga kitab tersebut adalah di atas segalanya suatu penyingkapan keagungan dan kemuliaan Yesus Kristus. Sebab inilah yang diperlukan oleh jemaat yang sedang dikepung dan yang dianiaya melebihi segala hal lain - bukan serangkaian nubuat tentang masa lampau atau masa depan, bahkan bukan pula suatu panorama sejarah gereja yang disampaikan secara perlambang, melainkan suatu penyingkapan akan Kristus yang tiada taranya, yang pemah disalibkan, yang kini bangkit dan bertakhta, dan yang suatu hari nanti akan kembali dalam kuasa dan kemuliaan yang besar.

Kita sekarang perlu memperhatikan konteks kitab tersebut. Yohanes dibuang ke Pulau Patmos di Laut Aegean karena kesetiaannya memberitakan Firman Allah dan kesaksiannya tentang Yesus (Why. 1:2, 9). Dia menggambarkan dirinya sebagai "sekutu" dari para pembacanya di Asia, sebab dia juga berbagian dalam "kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus" yang mereka alami "dalam Yesus" (Why.

171\

>1< KHISTIIS Y AN(;I'lAI)A TAHA

0(0 "Wlllly'll V"SIIS I\I'IS1I1S"

1 /~)

1 :9, NIV). Dan kini dia diperintahkan untuk membagikan kepada mcrcka segal a sesuatu yang sudah dilihatnya (Why. 1: 10), khususnya penglihatannya tentang Kristus. Apakah yang harus dia sampaikan?

Setiap komentator memberikan analisis struktural mereka sendiri tcntang Kitab Wahyu, sehingga banyaknya proposal yang berbeda ini rncmbentuk apa yang dikatakan oleh G. K. Beale sebagai "labirin kebingungan penafsiran.t" Tujuan saya bukanlah untuk menambah kebingungan itu dengan satu analisis lagi, melainkan sebaliknya berkonsentrasi pada kesepuluh penglihatan yang paling Kristologis di kitab ini. Sctiap penglihatan ini memberikan kontribusi yang segar bagi "wahyu Y csus Kristus" yang komposit di dalam kepenuhan pribadi dan karyaNya.

IlIl'nj:Hhkall kitu "xuutu kcrajaan, menjadi imam-imam" untuk mclayani Allah dan Bapa-Nya. Kernudian doksologi ini langsung dilanjutkan ,k'llgan scbuah aklarnasi (Why. 1 :7) yang menyatakan bahwa Kristus akan datang kcmbali. Kedatangan-Nya akan menjadi peristiwa bersejarah yang mulia (awan melambangkan kemuliaan hadirat Allah), sekaligus kusatrnata (mata kita akan melihat Dia), dan universal (sebab "setiap mata ukun mclihat Dia," baik yang bertobat maupun yang tidak bertobat).

Pcndahuluan ini berakhir dengan suatu pernyataan ilahi yang di dalarnnya Allah mengulangi bahwa Dia adalah yang "ada dan yang sudah ada dan yang akan datang" (Why. 1: 8) dan menambahkan bahwa Dia adalah "Alfa dan Omega" dan "Yang Mahakuasa."

Hal luar biasa dari kedelapan ayat pembukaan ini (salam, doksologi, aklamasi, dan pernyataan) adalah bahwa di dalam semuanya itu Yohanes, tanpa sadar dan tanpa diatur, menyinggung tentang setiap peristiwa dalam karya penyelamatan Yesus, dan begitu pula esensi dari Injil rasuli. Dia merujuk kepada pelayanan Tuhan di bumi ("Saksi yang setia"), pengorbanan kematian-Nya sebagai korban yang dipersembahkan ("melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya"), kebangkitan-Nya yang menentukan ("yang pertama bangkit dari antara orang mati"), kenaikan-Nya yang tertinggi ("yang berkuasa atas raja-raja bumi ini"), penggenapan penyelamatan-Nya (Dia "membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imamimam"), dan kedatangan-Nya kembali yang kasatmata ("Ia datang dengan awan-awan"). Semua ini terdapat dalam pendahuluan surat bahkan sebelum masalah serius dari surat tersebut dimulai!

Dalam Wahyu 1:9-11, Yohanes memaparkan adegan penglihatannya yang pertama dan menentukan tentang Kristus yang dimuliakan. Hari itu adalah hari Minggu. Dia dibuang ke Pulau Patmos. Dan dia "dikuasai oleh Roh," sebab Roh yang memberi penyataan dan ilham menguasai dirinya. Kemudian, sebelum dia mendapat penglihatan, dia mendengar suara. Suara yang nyaring dan berkuasa, bagaikan bunyi sangkakala, dan jelas itu adalah suara Kristus sendiri, yang memerintahkan Yohanes untuk menuliskan pada sebuah gulungan kitab apa yang akan dia lihat dan mengirimkannya kepada ketujuh jemaat yang ada di provinsi Asia yang dikuasai Romawi, dimulai dari Efesus, ibu kota dan yang terdekat dengan Patmos, dan dilanjutkan ke sebelah utara dan kemudian tenggara mengikuti jalan melingkar yang menghubungkan semua kota itu.

Ketika berpaling untuk melihat suara siapa itu, Y ohanes mendapati perhatiannya pertama-tama terpusat pada tujuh kaki dian yang terbuat

1. Kristus Mengklaim sebagai Yang Pertama dan Yang Terakhir dan Yang Hidup (Wahyu 1)

Penglihatan tentang Kristus yang bangkit dan kekal

Maka, yang pertama dalam Wahyu 1: 17-18 kita melihat Kristus mengklaim sebagai Yang Pertama dan Yang Terakhir dan Yang Hidup. Namun sebelum kita membaca ucapan-ucapan ini, ayat-ayat sebelumnya sudah memberikan kepada kita suatu Kristologi yang kaya. Bahkan dalam salam pembukaannya (Why. 1 :4-5), yang dalam kebanyakan surat hanyalah suatu rumusan konvensional, Y ohanes berhasil memasukkan salam dari Trinitas, yaitu kiranya para pembacanya beroleh kasih karunia dan damai sejahtera "dari Dia, yang ada dan sudah ada dan yang akan datang" (Bapa yang Kekal), dan "dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhtaNya" (mungkin Allah Roh Kudus, sebagaimana dalam Wahyu 1:10, tetapi dikatakan sebagai tujuh untuk menunjukkan pelayanan-Nya di dalam dan melalui ketujuh jemaat), dan "dari Yesus Kristus," yang kepada-Nya diberikan suatu sebutan rangkap tiga yang penuh penyanjungan "Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini," di mana sebutan terakhir ini benar-benar sangat berani, karena justru itulah yang diklaim oleh kaisar Romawi.

Sesudah salam ini adalah doksologi pribadi kepada Kristus (Why. 1 :5-6), yang merayakan apa yang telah Dia perbuat bagi kita: bahwa Dia mengasihi kita, bahwa Dia membebaskan kita dari dosa-dosa kita melalui kematian-Nya sebagai korban yang dipersembahkan, dan bahwa Dia telah

IXO

+ i-:IUSTI IS Yi\N(;IMI)i\ TAI{A

'" "wuhvu YI'SIIS i-:I'ISIIlS"

IXI

dari emas. Namun, ketujuh kaki dian itu hanyalah kerangka kcrja, Yang jauh lebih penting adalah pribadi yang berdiri di antara kaki-kaki dian itu, yaitu di tengah-tengah mereka. Dia disebut "seorang serupa Anak Manusia," yakni, yang menyerupai sosok manusia, suatu ungkapan yang dip injam dari Kitab Daniel, yang pasal 7 dan l O-nya memberikan banyak deskripsi berikut.

Yohanes terpaku dengan pakaian sosok tersebut. Dia mengenakan jubah yang panjangnya mencapai kaki-Nya dan diikat dengan sebuah ikat pinggang dari emas di dada-Nya, Kelihatannya seperti pakaian raja, imam, atau hakim.

Selanjutnya Yohanes menggambarkan berbagai bagian tubuh-Nya, Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu domba atau salju, yang merupakan penggambaran yang diberikan Daniel tentang "Yang Lanjut Usianya," yakni Allah sendiri (Dan. 7:9). Kini gambaran tersebut dipindahkan kepada Kristus, yang menunjukkan bahwa sosok manusia itu juga adalah sosok ilahi. Mata-Nya berkilat bagaikan api, menembus hati; kakiNya kuat dan mantap bagaikan tembaga, dan suara-Nya senyaring gelombang kuat yang menabrak tebing-tebing di Patmos.

Di tangan kanan-Nya anak manusia itu memegang tujuh bintang, yang akan dijelaskan nanti; dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam yang bermata dua, yang melambangkan ucapan-Nya yang berkuasa, dan wajah-Nya bercahaya bagaikan matahari dalam segenap kecernerlangannya - wajah yang pada hari penghakiman nanti orang-orang yang tidak bertobat akan berseru agar mereka disembunyikan darinya (Why. 6: 16).

Tidaklah mengherankan jika sebagai reaksi atas penglihatan yang bcgitu mulia itu, seperti yang dialami Yehezkiel (Yeh. 1 :28) dan Daniel (Dan. 8:17; 10:9) sebelumnya, Yohanes jatuh tersungkur seperti orang yang mati. Sekalipun tidak mengherankan, bagaimanapun itu tidak lazim, sebab dia terbaring mati di dekat kaki Yang Hidup itu!

Tetapi Kristus yang sarna yang menimbulkan perasaan gentar ini Juga membawa penghiburan. Dia meletakkan tangan kanan-Nya pada Yohanes dan berkata kepadanya, "Jangan takut!" Namun bagaimana dia tidak takut? Bukan penglihatan itu saja yang membuatnya takut, melainkan keseluruhan situasi di mana dia temukan dirinya berada. Dia berada dalam pembuangan. Bagaimanakah masa depan baginya dan masa depan komunitas Kristen di Asia yang menjadi tanggung jawabnya? Kaisar Domitian menuntut untuk disebut sebagai Dominus et Deus Noster (tuan dan allah kami), yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh kaum Kristen

yallg sella yallg suduh mcngaku Ycsus scbagai Tuhan, Scorang yang bcr- 1l:Il11a Ant ipas di Pcrgamus sudah mcmbayar kesaksiannya yang setia deligan darahnya (Why. 2: 13). Siapakah yang akan menjadi yang berikutnya dalam daftar martir Kristen?

Hahwa hal-hal ini terdapat dalam pikiran Yohanes terbukti dari kenyataan bahwa dalam suratnya kemudian kepada jemaat di Smima, Kristus akan mengumumkan diri-Nya dengan perkataan yang terdengar dalam pcnglihatan ini, sebagai "Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali" (Why. 2:8). Dia akan melanjutkan dengan mempcringatkan jemaat Smima tentang penderitaan, fitnah, kesengsaraan (dengan menambahkan, "Jangan takut"), penjara dan aniaya, dan akan mendcsak seluruh anggota jemaat, "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan" (Why. 2:10).

Kepada jemaat seperti itu, yang sedang menganggung penganiayaan dan menghadapi kemungkinan mati sebagai martir, pesan Kristus lebih dari sekadar perintah "Jangan takut" (Why. 1:17; 2:10). Itu juga alasan mengapa umat Kristen tidak perlu takut. Alasan ini berlapis dua. Pertama, Kristus berbagi kekekalan Allah. Sebab gelar yang diumumkan-Nya, "Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir" (Why. 1:17), sesungguhnya identik dengan pengakuan Allah, "Aku adalah Alfa dan Omega" (Why. 1:8). Kedua, Dia menyebut diri-Nya "Yang Hidup," bukan dalam pengertian bahwa Dia bertahan melalui kematian atau bahwa Dia sadar kembali dan dibawa kembali ke dalam kehidupan ini, hanya untuk mati lagi, melainkan bahwa tubuh-Nya yang mati dibangkitkan dan sekaligus diubahkan. Akibatnya Dia kini "hidup sampai selama-larnanya," menang atas kematian, tidak akan pemah mati lagi. Selanjutnya, karena kemenangan kebangkitan-Nya, Dia "memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.?" maksudnya Dia memiliki kuasa atasnya.

Maka karena Kristus adalah Yang Kekal dan Yang Bangkit, kematian telah kehilangan ancamannya, kita memiliki alasan untuk bergembira dan tidak takut.

Dalam dua ayat terakhir dari pasal 1, Y ohanes diperintahkan untuk menuliskan apa yang telah dilihatnya, yang meliputi "apa yang terjadi sekarang" dan "apa yang akan terjadi sesudah ini." Dia juga diberi tahu bahwa ketujuh bintang dalam tangan kanan Kristus adalah "rnalaikat dari ketujuh jemaat," mungkin mcrupakan lambang dari para pemimpin jemaat setempat (atau mungkin rekan sorgawi mereka), dan bahwa ketujuh

·r· KI{(sTI1S Y;\N(; TI;\I);\ T;\H;\

1111

kaki dian tersebut adalah jemaatnya sendiri, yang bersinar bagaikan lampu dalam dunia yang ge1ap (Mat. 5: 14).

Maka "wahyu Yesus Kristus" yang pertama adalah Kristus yang tclah bangkit dan yang kekal. Kebangkitan-Nya merupakan hal yang hakiki. Dia dipaparkan terus sebagai pemenang, dan sekalipun mendapat serangan gencar dari si jahat, Dia te1ah memperoleh kemenangan telak atas kejahatan melalui kematian dan kebangkitan-Nya,

l,l"Il'k'lIlllIlI'"''', "Aku tahu sl'gala pckcrjuunmu: cngkuu dikatakun 11Il1up. (1l1dahalt'ngkau 1110111"; "Ak" tclah mcmbuka kun pintu bagimu"; "Engkau tulnk dll1gin dan tidak panns."

Kcligu, Kristus mcngirimkan kepada setiap jemaat pesan yang disesunikun dcngan situasi mereka, sebab masing-masing layak dipuji atau palut ditcgur, dan karena itu, menerima pujian atau kritikan. Kebanyakan mcncrima scruan untuk bertobat, dan bersama ini juga peringatan dan nasihat.

Bagian keempat dari setiap surat merupakan seruan, dan dalam kasus ini scruannya sarna: "Siapa bertelinga hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat." Itu adalah sebuah kalimat yang sangat penting. Pertama, sekalipun setiap surat ditulis oleh Y ohanes, mclaluinya Roh berbicara. Kedua, sekalipun surat-surat Yohanes mungkin sudah ditulis berbulan-bulan sebelurnnya, melaluinya Roh tetap berbicara (masa kini). Ketiga, sekalipun setiap surat ditujukan kepada sebuah jemaat tertentu, Roh berbicara kepada "jemaat-jemaat" (jamak).

Akhirnya, setiap surat diakhiri dengan janji bagi umat Kristen yang menang. Secara umum, itu adalah janji kehidupan kekal, tetapi karunia ini digambarkan dengan berbeda dengan frasa-frasa yang diambil dari klimaks Wahyu 21-22.

Karena tujuh merupakan jumlah sempurna atau lengkap (setidaknya bagi lingkungan penulis dan para pembacanya), rasanya sah untuk menganggap bahwa ketujuh jemaat dari provinsi di Asia bersama-sama mewakili jemaat universal. Dan karena satu bentuk tertentu ditekankan dalam masing-masing jemaat, kita boleh menganggap ketujuh bentuk ini sebagai tanda-tanda dari scbuahjemaat yang ideal.

Kasih. lni adalah tanda pertama dari sebuahjemaat yang ideal. Jemaat di Efesus memiliki banyak hal yang layak dipuji. Kristus mengetahui kerja keras dan ketekunannya, sikapnya yang tidak menoleransi kejahatan, dan kemampuannya memahami dengan cermat masalah-masalah theologis. Beberapa tahun kemudian, pada awal abad kedua, Uskup Ignatius dari Antiokhia, dalam perjalanannya menuju ke Roma untuk dieksekusi sebagai orang Kristen, menulis surat kepada jemaat di Efesus yang berisi pujian: "Kahan semua hidup menurut kebenaran, dan tidak ada bidat yang tinggal di antara kalian; 'kalian memang tidak mau mendengar seseorang yang berbicara hal lain selain yang berkaitan dengan Yesus Kristus dan kebenaran-Nya.:"

2. Kristus Menilik Jemaat-jemaat-Nya di Bumi (Wahyu 2·3)

Tujuh tanda dari jemaat yang ideal

Adegannya berubah. Penglihatan kita kini tidak lagi difokuskan sepenuhnya kepada sosok manusia-ilahi Kristus yang mulia, melainkan lebih banyak kepada jemaat-jemaat di antara mana Kristus berjalan, seperti yang dikatakan kepada kita (Why. 2:1), dan kepada jemaat-jemaat inilah Dia memerintahkan Y ohanes untuk menuliskan surat. Hal yang langsung patut disimak adalah bahwa ketujuh surat kepada ketujuh jemaat tersebut memiliki garis besar yang identik.

Bagian pertama dari surat-surat itu adalah pengumuman ten tang si penerima dan si penulis surat. Si penerima adalah "malaikat" dari rnasing-masing jemaat. Penulisnya tentu saja adalah Kristus, namun Dia menggambarkan diri-Nya secara berbeda dalam setiap surat, dengan mengambil satu atau dua frasa yang sesuai dari penglihatan awal. Misalnya, Dia menulis kepada Smirna (Why. 2:8), "Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali."

Bagian kedua adalah pernyataan, yang dimulai dalam setiap kasusnya dengan dua kata Aku tahu. Kristus mengenal jemaat-jemaat-Nya dengan baik, sebab Dialah yang "mata-Nya bagaikan nyala api" (Why. 2: 18), "yang menguji batin dan hati orang" (Why. 2:23), dan "berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu" (Why. 2: 1). Karena Dia berjalan di antara jemaat-jemaat-Nya dan menilik mereka, Dia mengetahui segala scsuatu tentang mereka, yang masing-masing berbeda dalam setiap kasus. "Aku tahu segala pekerjaanmu," Dia ucapkan lima kali, tetapi kemudian I ria membuat pernyataan sebagai berikut: "Aku tahu segala pekerjaanmu: haik jerih payahmu maupun ketekunanmu"; "Aku tahu kesusahanmu dan kcmiskinanrnu"; "Aku tahu di mana engkau diam"; "Aku tahu segala pekcrjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->