Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH BIOLOGI LAUT

MARINE FISH DI LAUT DALAM

Disusun oleh:
Kelompok 5
Windi Ariyani

230110130155

M. Musa Dzulfikar W

230110130187

Zahra Imma Ratu S

230110130169

M. Galdio Novalli A

230110130179

Resna Ajeng Andiani

230110130189

Kelas C

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2015

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah berkenan
memberi petunjuk kepada kami sehingga makalah mengenai Marine Fish Di Laut
Dalam ini dapat diselesaikan. Makalah ini kami buat guna memenuhi salah satu
tugas mata kuliah Biologi Laut.
Semoga dengan adanya makalah ini kami dapat memberikan wawasan
baru yang bermanfaat, khususnya bagi kami yang menyusun makalah ini dan
umumnya bagi khayalak banyak.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bandung, Februari 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan

1.3 Rumusan Masalah

1.4 Manfaat

BAB II ISI
2.1 Sistematika Marine Fish Di Laut Dalam

2.1.1 Pengertian Laut Dalam

2.1.2 Zonasi Laut Dalam

2.1.3 Kondisi Lingkungan Di Laut Dalam

2.1.4 Marine Fish Di Laut Dalam

2.2 Adaptasi Fisiologi Marine Fish Di Laut Dalam

2.3 Adaptasi Tingkah Laku Marine Fish Di Laut Dalam

BAB III KESIMPULAN

11

DAFTAR PUSTAKA

iii

ii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebesar 70 % wilayah bumi ini adalah perairan. Wilayah perairan terbesar
merupakan perairan samudra yang telah dikenal luas memiliki volume terbesar
yang memenuhi permukaan bumi. Dari wilayah tersebut hanya 10 % nya saja
yang merupakan wilayah yang berbatasan dengan benua dan pulau dari samudra
yang dapat didiami oleh organisme-organisme umum yang mudah dikenali. Berati
sebesar 90 % nya merupakan suatu wilayah yang sulit dijangkau dan memiliki
karakteristik khusus yang sulit untuk didiami mahluk hidup. Inilah bagian dasar
samudra yang gelap dan dingin sepanjang tahun itu. Bagian terluas dari lautan ini
merupakan bagian yang tidak mudah untuk dijangkau, gelap dan dingin sepanjang
tahun tersebut dinamakan zona laut dalam.(Nyibakken,1988)
Zona laut dalam masih memiliki berbagai misteri yang belum sepenuhnya
dapat di pecahkan dengan ilmu pengetahuan saat ini. Karena letaknya yang begitu
sulit untuk dijangkau dan keadaannya yang akstrim, membuat para ilmuan
berjuang dalam memecahkan misteri kehidupan laut dalam ini. Namun setidaknya
untuk saat ini telah hadir kapal-kapal selam yang mampu untuk mencapai
kedalaman laut tersebut sehingga dapat membantu para ilmuan untuk mengetahui
sebagian dari habitat perairan tersebut.
Saat ini kita lebih mengenal habitat perairan yang lebih dekat dengan
kehidupan kita, padahal 90% dari habitat perairan di bumi ini merupakan daerah
dimana kehidupannya sangat jauh dari aktivitas manusia. Bukankah munkin saja
habitat tersebut memiliki peran penting bagi kelangsungan kehidupan dibumi ini.
Dewasa ini telah diketahui bahwa Laut dalam ini merupakan sumber dari berbagai
bahan yang berguna bagi manusia bahkan tempat akhir berbagai macam sampah.
Maka dari itu, perlu dipelajari lebih lanjut mengenai habitat laut dalam ini.

1.2 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah mengenai Marine Fish Di Laut Dalam ini
adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Biologi Laut.

1.3 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan laut dalam?
2. Bagaimanakah zonasi perairan laut dalam?
3. Apa sajakah jenis marine fish yang terdapat di laut dalam?
4. Bagaimanakah adaptasi fisiologi marine fish di laut dalam?
5. Bagaimanakah adaptasi tingkah laku marine fish di laut dalam?

1.4 Manfaat
1. Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan laut dalam
2. Dapat mengetahui bagaimanakah zonasi perairan laut dalam
3. Dapat mengetahui apa sajakah jenis marine fish yang terdapat di laut dalam
4. Dapat mengetahui bagaimanakah adaptasi fisiologi marine fish di laut dalam
5. Dapat mengetahui bagaimanakah adaptasi tingkah laku marine fish di laut
dalam

BAB II
ISI

2.1 Sistematika Marine Fish Di Laut Dalam


2.1.1 Pengertian Laut Dalam
Laut dalam merupakan semua zona yang terletak di bawah zona eufotik
(zona bercahaya) mencakup zona batipelagis, abilsal dan hadal (Nontji,2002).
Sangat sedikit atau bahkan tidak ada cahaya yang dapat masuk ke area ini, dan
sebagian besar organismenya bergantung pada material organik yang jatuh
dari zona fotik.

2.1.2 Zonasi Laut Dalam


Zonasi dasar laut dikelompokkan menjadi dua yaitu:
1. Zona Pelagik
Organisme di zona ini lebih dikenal karena lebih mudah untuk didapatkan
daripada organisme di zona bawahnya. Zona Pelagik terdiri dari:
a. Zona Mesopelagik
Penghuninya kebanyakan memiliki mata yang telah berkembang dengan
baik dan berbagai organ penghasil cahaya. kebanyakan spesies ikan penghuni
zona ini berwarna hitam, sementara udang-udangan yang hidup berwarna merah.

b. Zona Batipelagik dan Zona Abisal Pelagik


Penghuni di kedua zona ini cenderung berwarna putih atau tidak berwarna
serta memiliki mata serta organ penghasil cahaya yang rendah tingkat
perkembangannya.

c. Zona Hadal Pelagik


Zona hadal pelagik adalah zona kolom air yang terdapat di daerah palung.

2. Zona Bentik
Zona bentik merupakan wilayah yang organismenya berasosiasi dengan
dasar lautan. Penghuni zona bentik dibagi menjadi dua yaitu:
a. Penghuni zona Abisal
Penghuni zona ini menempati dasar laut dalam yang merupakan kawasan
terluas di dasar laut.

b. Penghuni Zona Hadal (ultra abisal).


Penghuni zona ini menempati daerah dasar palung-palung yang sangat
dalam.

Gambar 1. Zonasi Perairan Laut Dalam

2.1.3 Kondisi Lingkungan Laut dalam


Kondisi lingkungan laut dalam adalah sebagai berikut :
1. Cahaya
Umumnya redup gelap gulita, sehingga tidak ada proses fotosintesis.

2. Tekanan hidrostatis
Meningkat secara konstan sebanyak 1 ATM (1 kg/cm2), setiap
pertambahan kedalaman 10 meter.

3. Suhu
Umumnya seragam, dengan kisaran 1 3oC (kecuali wilayah
hydrothermal vents (>80oC) dan cold hydrocarbon seeps (<1 oC).

4. Salinitas
Umumnya seragam (35 permil), Pada daerah cold hydrocarbon seeps
(hipersalin = 40 permil).

5. Sirkulasi air
Sangat lamban (< 5 cm/detik), tergantung pada bentuk dan topografidasar
laut.

6. Kadar Oksigen
Cukup untuk menghidupi seluruh organisme di laut dalam (DO= 4% s/d
6%; di perairan eufotik, DO= 3.5% s/d 7%).

7. Tipe substrat
Terdiri atas substrat yang halus, Substrat berbatu di daerah mid-ocean
ridge.

8. Suplai makanan
Langka. Bergantung pada pakan yang diproduksi di tempat lain dan
terangkut oleh proses hidrodinamis ke wilayah laut dalam.

9. Jenis pakan
Hujan plankton atau partikel organik lain, Jatuhan bangkai hewan besar
atau tumbuhan, Bakteri berlemak yang mudah dicerna (rata-rata populasi
bakteri 2mgC/m2), Bahan organik terlarut

2.1.4 Marine Fish di Laut Dalam


Di perairan laut dalam ini juga terdapat jenis-jenis ikan yang diantaranya
adalah :
1. Viper Fish
Memiliki nama latin Mesopelagic dapat ditemukan dikedalaman 80-1600
meter, merupakan ikan dengan tampang super kejam (mulut lebar dan gigi

tajam). Seperti kebanyakan ikan dari lautan dalam, ikan ini tidak memiliki warna
kulit alias tembus pandang dan organnya menyala karena proses yang disebut
bioluminescence, selain itu mereka memiliki mata yang besar untuk
mengumpulkan cahaya sebanyak mungkin di dalam kondisi minim cahaya atau
bahkan tanpa cahaya sama sekali.
Mulutnya yang lebar dalam menelan utuh ikan yang bahkan lebih besar
dari badannya, hal ini dimungkinkan karena perutnya bersifat elastis sehingga
dapat mengembang. Ikan-ikan dasar laut ini harus beradaptasi dengan lingkungan
yang sangat minim stok makanan karena lingkungannya yg sangat dalam sehingga
tidak banyak mahluk lain yg blogwalking berkeliaran, kadang mereka saling
memakan sesama sejenis untuk dapat bertahan hidup.

Gambar 2. Viper Fish

2. Fangtooth Fish Deep Bluesea


Dikenal juga dengan nama Anoplogaster cornuta, meski terlihat seperti
monster, ikan ini cuma dapat tumbuh sampai 6 inci panjangnya. Ikan ini memiliki
tubuh pendek dengan kepala yang berukuran besar, ikan ini hidup dikedalaman
yang cukup ekstrim yaitu 16.000 kaki.
Tekanan yang tinggi dan temperatur yang hampir membeku membuat
makanan sulit didapatkan, sehingga ikan ini hampir memakan semua yang dapat
ditemui. Fangtooth dapat ditemukan di lautan tropikal seperti Australia.

Gambar 3. Fangtooth Fish Deep Bluesea

3. Dragonfish
Mempunyai nama latin Grammatostomias flagellibarba, hidup di
kedalaman 5000 kaki / 1.500 meter, memiliki semacam belalai menyala yang
terhubung dengan dagunya. Dibagian samping tubuhnya juga terdapat bagian
menyala yang digunakan untuk memberi tanda kepada ikan Dragonfish lain
selama musim kawin.

Gambar 4. Dragon Fish

4. Angler fish
Dikenal juga dengan nama Melanocetus johnsoni, tubuhnya berkembang
sampai 5 inci, tubuhnya hampir menyerupai bola basket, ditemukan dikedalaman
3000 kaki. Penampilannya sekilas menyeramkan karena tubuhnya berbentuk bulat
& memiliki mulut yg lebar & bertaring melengkung panjang. Ciri khas lain ikan
angler adalah organ lampu pada semacam tali pancing di bagian atas
moncongnya.
Klasifikasinya adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Classis

: Actinopterygii

Ordo

: Lophiiformes

Subordo

: Lophioidei

Genus

: Melanocetus

Species

: Melanocetus johnsonii

Gambar 5. Angler Fish

5. Gulper Eel fish


Dikenal juga dengan nama Eurypharynx pelecanoides, dapat tumbuh
sampai panjang 2-6 kaki dapat ditemukan dikedalaman 3000 sampai 6000 kaki di
dasar laut.

Gambar 6. Gulper Eel fish

6. Long Nosed Chimaera


Memiliki nama lain Harriotta raleighana, dapat tumbuh sampai panjang 5
kaki. Memiliki hidung seperi moncong pesawat supersonic, hidup dikedalaman
8000 ka.

Gambar 7. Long Nosed Chimaera

2.2 Adaptasi Fisiologi Marine Fish Di Laut Dalam


Adaptasi Fisiologi adalah penyesuaian fungsi-fungsi alat tubuh suatu
makhluk hidup terhadap keadaan lingkungannya. Adaptasi fisiologi tidak dapat
dilihat langsung oleh mata. Karena pada adaptasi fisiologi menyangkut tentang
fungsi organ-organ bagian dalam tubuh makhluk hidup dengan lingkungannya.
Adaptasi fisiologi biota laut dalam adalah organisme laut dalam
mempunyai kapasitas untuk mengolah energi yang jauh lebih efektif dari makhluk
hidup di darat dan zona laut atas. Mereka bisa mendaur energinya sendiri dan
menentukan seberapa banyak energi yang akan terpakai dengan stok makanan
yang didapat.

Ikan laut dalam cenderung untuk menghemat energi. Energi yang mereka
miliki digunakan untuk pertumbuhan, pemeliharaan dan reproduksi. Ikan laut
dalam menurunkan penggunaan energi mereka dengan menyesuaikan tubuh
terhadap kondisi yaitu dengan memiliki otot yang lemah, tulang yang kurang
padat, tingkat metabolisme yang lebih rendah, dan memperlambat kecepatan
bernapas (respirasi).

2.3 Adaptasi Tingkah Laku Marine Fish Di Laut Dalam


Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah
laku

terhadap lingkungannya. Beberapa organisme yang mengalami siklus

reproduksi, akan mempunyai perilaku yang unik untuk menarik pasangannya di


tengah kegelapan. Mereka akan memendarkan cahaya yang tampak kontras
dengan kondisi sekitar yang serba gelap. Dalam ekosistem laut dalam, sebisa
mungkin mereka dapat memperoleh sumber energi atau makanan agar dapat
bertahan hidup, oleh karena itu beberapa ikan yang hidup di ekosistem ini
dilengkapi keahlian khusus agar dapat memperbesar kemungkinan mendapatkan
mangsa, seperti Ikan Fangtooth yang memiliki tingkat agresifitas yang tinggi
sehingga ketika ada mangsa yang lewat didepannya ia langsung dapat dengan
cepat memakannya, karena memang tidak banyak hewan laut yang mampu hidup
dalam ekosistem ini.
Kemudian contoh lainnya adalah Ikan Hairyangler yang tubuhnya
dipenuhi dengan atena sensitif, antena tersebut sangat sensitif sekali terhadap
setiap gerakan, fungsinya untuk mendeteksi mangsa yang ada didekatnya. Di laut
dalam sering terlihat cahaya yang berkedip-kedip, cahaya tersebut adalah
Bioluminescence. Bioluminescence adalah cahaya yang dapat dihasilkan oleh
beberapa hewan laut, cahaya tersebut berasal dari bakteri yang hidup secara
permanen didalam sebuah perangkap. Asosiasi dari organisme dan bakteri yang
menghasilkan bioluminescence ini digunakan oleh hewan laut dalam sebagai alat
perangkap atau alat untuk menarik mangsa, kurang lebih bioluminescence
berfungsi sebagai umpan. Pada umumnya bioluminescence dimiliki oleh setiap
hewan laut dalam, baik betina maupun jantan. Namun beberapa diantaranya ada

10

yang hanya dimiliki oleh hewan laut betina. Cahaya bioluminescence yang
dihasilkan biasa berwarna biru atau kehijauan, putih, dan merah. Walau sebagian
besar bioluminescence digunakan untuk mekanisme bertahan hidup, namun
beberapa diantara hewan laut dalam tersebut menggunakan bioluminescence
untuk menarik lawan jenisnya. Asosiasi seperti ini merupakan adaptasi tingkah
laku dari penghuni perairan laut bawah.
Asosiasi juga ditampakkan pada ikan pemancing laut dalam yang ukuran
tubuh jantan dan betina berbeda. Ikan jantan mempunyai ukuran tubuh lebih kecil
di banding yang betina, seperti terlihat pada gambar di atas. Ukuran ikan angler
jantan hanya sebesar ibu jari. Ikan jantan mempunyai pengait untuk menempel
pada ikan betina, begitu mengait dengan ikan betina kait ikan jantan akan
terhubung dengan pembuluh darah ikan betina dan seumur hidupnya akan terus
menempel pada ikan betina seperti parasit dan menghisap sari makanan dari tubuh
sang betina. Jika ikan jantan gagal mengait pada ikan betina, maka ia akan mati
kelaparan. Sementara si jantan akan selalu menyediakan spermanya untuk si
betina.

BAB III
KESIMPULAN

Laut dalam adalah daerah paling bawah dari lautan yang terletak di bawah
zona eufotik (zona bercahaya) mencakup zona batipelagik, abisal dan hadal.
Kondisi lingkungan di perairan laut dalam ini berbeda dengan lingkungan di
permukaan laut. Di laut dalam ini tidak ada sinar matahari sehingga keadaan
dilaut dalam ini gelap gulita. Di perairan laut dalam ini terdapat beberapa jenis
ikan, contihnya adalah viper fish, angler fish, fangtooth fish dll.
Marine fish di laut dalam ini pun memiliki adaptasi fisiologis dan adaptasi
tingkah laku terhadap lingkungan sekitarnya. Adaptasi Fisiologi adalah
penyesuaian fungsi-fungsi alat tubuh suatu makhluk hidup terhadap keadaan
lingkungannya. Adaptasi fisiologi tidak dapat dilihat langsung oleh mata. Karena
pada adaptasi fisiologi menyangkut tentang fungsi organ-organ bagian dalam
tubuh makhluk hidup dengan lingkungannya. Adaptasi fisiologi biota laut
dalam adalah organisme laut dalam mempunyai kapasitas untuk mengolah energi
yang jauh lebih efektif dari makhluk hidup di darat dan zona laut atas. Mereka
bisa mendaur energinya sendiri dan menentukan seberapa banyak energi yang
akan terpakai dengan stok makanan yang didapat.
Sedangkan adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada
tingkah laku terhadap lingkungannya. Dalam ekosistem laut dalam, sebisa
mungkin mereka dapat memperoleh sumber energi atau makanan agar dapat
bertahan hidup, oleh karena itu beberapa ikan yang hidup di ekosistem ini
dilengkapi keahlian khusus agar dapat memperbesar kemungkinan mendapatkan
mangsa

11

DAFTAR PUSTAKA

Firefly, Dianna. 2010. Bagaimana Hewan yang Hidup di Dasar Laut


Mendapatkan Makanan. http://www.faktailmiah.com/2011/03/28/bagaim
ana-hewan-yang-hidup-di-dasar-laut-mendapatkan-makanan.html . Diakses
21 Februari 2015 pukul 20:05
Heriyanto, teguh. 2011. Ekosistem Laut Dalam Adaptasi Biota Laut
Dalam. http://teguhheriyanto.blogspot.com/2011/03/v-behaviorurldefaul
tvmlo.html . Diakses 20 Februari 2015 pukul 13.44
Marine Biology, an ecological approach, James W. Nybakken. Chapter 4:
Deep Sea Biology.
Nybakken, James W. 1988. Biologi
ekologis. Jakarta:PT Gramedia.

laut

suatu

pendekatan

Prismanata,Y. 2010. Ekosistem Laut Dalam( deep Sea) Yang Menakjubkan.


http://eduprisma.blog.uns.ac.id/2010/10/30/ekosistem-laut-dalam-deepsea-yang-menakjubkan/. Diakses 20 Februari 2015 pukul 13.57
Wardoyo, S.T.H. 1978. Kriteria Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan
Perikanan. Dalam : Prosiding Seminar Pengendalian Pencemaran Air.
(edsDirjen Pengairan Dep. PU.), hal 293-300.

iv