Anda di halaman 1dari 9

Abrar Solikhin

Saturday, May 30, 2009

PENGARUH SARBANES-OXLEY ACT SECTION 302&404:


KUALITAS PELAPORAN KEUANGAN PUBLIK, KOMISARIS,
DIREKSI, KOMITE AUDIT, AKUNTAN MANAJEMEN & KAP.
PENGARUH PENERAPAN SARBANES-OXLEY ACT SECTION 302 & 404 TERHADAP KUALITAS
PELAPORAN KEUANGAN PADA PERUSAHAAN YANG TERCATAT DI PASAR MODAL
Akuntan Manajemen, Komite Audit & Akuntan Publik harus BertanggungJawab jika
terjadi Penyajian Laporan Keuangan yang Menyesatkan Masyarakat (Investor).
Dalam Banyak Kasus; Seringkali Hanya Akuntan Publik yang dipersalahkan jika terjadi
kondisi diatas.
Latar Belakang Masalah
Sekandal pelaporan keuangan yang terbesar di awal abad millennium (mulai tahun
2001) dengan melibatkan kantor akuntan publik (kap) the Big Five; Arthur Andersen
dan kliennya perusahaan Enron, Tyco, Worldcom, Adelphia, dll, sehingga menguak
sederet kasus skandal laporan keuangan perusahaan terbuka yang melibatkan the Big
Five lainnya, telah mengakibatkan runtuhnya kepercayaan investor terhadap laporan
keuangan khususnya bagi perusahaan yang tercatat di pasar modal. Bahkan seperti
kasus yang terjadi di indonesia, kasus bank global membuat prinsip transparansi,
keterbukaan dan akuntabilitas merupakan harga mutlak yang harus dibayar demi
terciptanya pasar modal yang sehat dan dapat dipercaya. Untuk mencegah hal
tersebut dapat terulang dan mengembalikan kepercayaan stakeholder terhadap pasar
modal maka muncullah sarbanes-oxley act (Sox) of 2002.
Terdapat 2 (dua) section dari Sarbanes-Oxley Act of 2002 yang mewajibkan
pengungkapan terbaru mengenai efektivitas sistem internal control dari sebuah
entitas (perusahaan). Pertama, section 302, yang mewajibkan CEO dan CFO
mengevaluasi design dan efektivitas dari sistem internal control perusahaan secara
periode kuartal laporan (setiap 3 bulan). Kedua, section 404; mewajibkan annual
audit untuk mereview dan evaluasi atas manajemen internal-control yang harus
direview dan diattest oleh KAP yang mengaudit laporan keuangan tahunan
perusahaan.
Berdasarkan latar belakang masalah yang diungkapkan diatas, terdapat beberapa hal
yang dapat diidentifikasikan masalah yang dapat kita rumuskan sebagai berikut:
Bagaimana pengaruh kualitas komite audit dan auditor independent terhadap kualitas
pengungkapan kelemahan internal control?
Bagaimana pengaruh pengungkapan Sox, section 302 dan section 404 terhadap
kualitas laporan keuangan?
Bagaimana reaksi pasar terhadap pengungkapan kelemahan internal control seperti

yang disyaratkan Sox, section 302 dan section 404?


Sarbanes-Oxley Act of 2002, merupakan undang-undang yang namanya berasal dari
dua arsitek utamanya, senator paul sarbanes (dari partai demokrat yang mewakili
Maryland) dan congresman michael oxley (dari partai republik, mewakili Ohio). Oleh
kebanyakan orang, undang-undang ini disingkat sebagai Sox, Sarbox, atau Soa.
(Selanjutnya kita akan menggunakan Sox).
Sox juga mempunyai nama panjang, yakni the Public Company Accounting Reform and
Investor Protection Act (terjemahan: undang-undang tentang penataan kembali
akuntansi perusahaan publik dan perlindungan terhadap investor). Perusahaan Public
di sini bermakna perusahaan-perusahaan yang mencatat dan memperdagangkan suratsurat berharga (efek-efek) mereka di berbagai pasar modal di Amerika.
Dari nama panjangnya dapat disimpulkan bahwa Sox merupakan ketentuan
perundangan yang merombak ketentuan-ketentuan di bidang akuntansi. perombakan
atau penataan kembali ini dimaksudkan (sebagaimana lazimnya ketentuan pasar
modal) untuk melindungi penanam modal. Sox dirancang untuk mencegah terulangnya
sekandal keuangan yang dilakukan Enron, Tyco, Worldcom, Adelphia, dan lain
sebagainya.
Sebagai bagian undang-undang pasar modal, Sox ingin memastikan adanya ketaatan
terhadap aturan yang didesain untuk mengamankan kepentingan pemodal dan calon
pemodal. karena itu Sox disebut compliance legislation. Dampaknya dirasakan secara
global, karena perusahaan publik Amerika Serikat berdomisili di banyak penjuru
dunia. termasuk perusahaan Indonesia yang mencatatkan diri di pasar modal Amerika;
PT Telkom Tbk. juga harus mentaati Sox.
Sox diundangkan pada tanggal 30 juli 2002. ada suatu bagian penting dalam Sox
(section 404) yang mulai berlaku belakangan, yakni pada tanggal 15 november 2004.
Namun, untuk menerapkan section 404 yang rumit ini, perusahaan-perusahaan publik
harus menyiapkan diri sejak diundangkannya Sox di tahun 2002.
(Theodorus M.Tuanakotta, Setengah Abad Profesi Akuntansi: 235- 236)
Tujuan Sox
Terdapat 4 (empat) tujuan utama Sox:
1. membuat manajemen bertanggungjawab
2. memperkuat pengungkapan (disclosures)
3. melakukan review yang teratur (oleh sec; securities and exchange commission)
4. membuat akuntan bertanggung jawab.
Sox berlaku untuk siapa
Sox berlaku untuk penerbit dari semua surat berharga atau efek-efek (securities)
dalam semua perusahaan yang diperdagangkan secara terbuka, unutk segala ukuran.
secara spesifik, Sox berlaku bagi:
1. Perusahaan yang surat berharganya diperdagangkan di New York Stock Exchange
atau bursa lainnya di AS

2. Perusahaan dengan lebih dari 500 pemodal dan mempunyai asset $10 juta atau
lebih
3. Perusahaan dengan lebih dari 300 pemodal, dan memenuhi syarat lain seperti
penerbitan surat-surat utang jangka panjang seperti obligasi.
4. Para pendaftar sukarela, mereka tidak wajib secara hukum,, tetapi menerapkan
Sox secara sukarela.
5. Perusahaan yang registerasinya masih pending. misal perusahaan yang melakukan
IPO untuk saham atau surat utang.
Dampak Sox Terhadap Profesi Akuntansi
Menurut Sox salah satu penyebab terjadinya kekacauan / fraud terhadap laporan
keuangan adalah kondisi hiruk-pikuknya jasa yang diberikan kantor akuntan publik,
atau dikenal dengan multi-disciplinary practice. Untuk menghindari conflict of
interest dalam kode etik akuntan; independent in appearance, sehingga dalam Sox
section 201 membatasi jasa-jasa non-audit. jasa-jasa berikut apabila diberikan
bersamaan dengan jasa audit akan bertentangan dengan hukum (unlawful):
Pembukuan, atau jasa lain berkaitan dengan jasa pencataran akuntansi dan
penyusunan laporan keuangan dari klien yang diaudit.
Desain dan implementasi dari system informasi keuangan.
Jasa appraisal atau valuation service, pendapat mengenai kewajaran (fairness
opinions), atau laporan mengenai sumbangan dalam bentuk jasa (contribution-in-kind
reports)
Jasa aktuarial.
Jasa-jasa audit internal (internal audit outsourcing services)
dll
Selain itu, agar auditor tidak terlalu dekat dengan klien sehingga dapat kehilangan
objektivitasnya, Sox juga mengatur rotasi atau pertukaran auditor. hal ini diatur
dalam Sox section 203, menetapkan rotasi dari lead audit partner dan concurring
audit partner setiap 5 (lima) tahun.
(Theodorus M. Tuanakotta, Setengah Abad Profesi Akuntansi: 265- 271)
Seperti telah diungkapkan dan diberikan contoh diatas, dampak Sox ini dirasakan
secara global, karena perusahaan Publik Amerika Serikat berdomisili di banyak
penjuru dunia. Termasuk perusahaan Indonesia yang mencatatkan diri di pasar modal
Amerika; PT Telkom Tbk juga harus mentaati Sox. Di bawah ini akan dijabarkan
substansi yang terkandung dalam Sox section 302 dan Sox secton 404, sebagai berikut:
Sox section 302 (disclosure controls and procedures)
Bostelman (2005:12-14) dan Telkom Presentation to HCGA (2007:5) menyatakan bahwa
Sarbanes Oxley Act section 302 berisi kewajiban:
a. Sertifikasi terhadap laporan keuangan triwulanan oleh CEO dan CFO.
b. CEO dan CFO melakukan sertifikasi kelengkapan dan keakuratan laporan yang
diserahkan kepada US SEC.
c. CEO dan CFO melakukan sertifikasi terhadap efektivitas internal control menurut
bostelman (2005:14),
disclosure controls and procedures is defined under SEC rules as controls and other

procedures of public company that are designed to ensure that both non-financial and
financial information required to be disclosed by the company in its periodic reports is
recorded, processed, summarized, and reported in a timely fashion.
Berdasarkan definisi dari SEC, cakupan disclosure controls and procedures tidak
terbatas pada pengendalian internal atas pelaporan keuangan, tetapi juga
pengendalian untuk memberikan keyakinan atas kepatuhan (compliance) terhadap
persyaratan SEC. definisi dengan maksud yang sama juga dinyatakan oleh PT
Telekomunikasi Indonesia, Tbk secara terperinci. Menurut definisi yang dinyatakan
oleh PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk pada keputusan direksi no: kd 76/pw000/proiic/2006 tanggal 22 desember 2006, disclosure controls and procedures
(pengendalian dan prosedur pengungkapan)
adalah pengendalian dan prosedur yang dirancang dan dijalankan untuk memberikan
keyakinan yang memadai bahwa semua informasi keuangan dan non-keuangan yang
wajib diungkapkan dalam laporan perusahaan yang disampaikan atau diserahkan ke
otoritas pasar modal (stock exchange) telah dikumpulkan, diperiksa, dicatat,
diproses, diikhtisarkan dan disampaikan secara tepat waktu, akurat dan dapat
diandalkan sesuai dengan tenggang waktu yang telah ditetapkan di dalam peraturan
otoritas pasar modal.
Sox section 404 (internal control attest)
Bostelman (2005:15-16) dan Telkom Presentation to HCGA (2007:5) menyatakan bahwa
Sarbanes Oxley Act section 404 berisi:
a. Tanggung jawab manajemen terhadap internal controls over financial reporting
(icofr)
b. Atestasi manajemen terhadap efektifitas internal control over financial reporting
(icofr) berdasarkan pengujian yang dilakukan
c. Auditor harus melakukan atestasi dan melaporkan evaluasi atas laporan manajemen
menurut Bostelman (2005:31),
Internal control over financial reporting is a process designed to provide reasonable
assurance regarding the reliability of financial reporting and the preparation of
financial statements for external purposes in accordance with generally accepted
accounting principles.
Bostelman (2005:15) menyatakan bahwa proses pengendalian internal atas pelaporan
keuangan (internal controls over financial reporting) harus mencakup tiga elemen,
yaitu:
a. Pemeliharaan dokumentasi yang akurat, wajar, dan dalam rincian yang memadai
yang
mencerminkan transaksi dan disposisi asset.
b. Keyakinan yang memadai atas pencatatan transaksi sesuai dengan prinsip akuntansi
secara umum
c. Keyakinan yang memadai terhadap tindakan prevention atau detection pada hak
akuisisi, penggunaan, atau disposisi asset perusahaan Telkom Presentation to HCGA
(2007:16) Internal Control perusahaan dilaksanakan pada beberapa level kontrol,
yaitu:
a. Entity level control
Soft control, pengendalian yang dilakukan oleh top manajemen, seperti: komitmen

dari pimpinan puncak, etika bisnis, dan corporate governance.


b. Transactional level control
Hard control/physical control, pengendalian di dalam proses dan sistem untuk
mengawali, mencatat, melaksanakan, dan melaporkan transaksi yang telah dilakukan.
dengan kata lain, pengendalian internal level transaksional melibatkan serangkaian
aktivitas yang secara umum bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh akun
signifikan beserta risiko dan pengendalian terkait telah diidentifikasi, dilaksanakan,
dan diuji secara memadai sehingga efektivitasnya dapat terukur.
c. IT general control
Pengendalian atas aplikasi dan sistem pemeliharaan software dan keamanan akses
dalam program aplikasi dan data perusahaan, yang disesuaikan dengan peran dan
tanggung jawab karyawan.
annisa istikawati (http://www.ittelkom.ac.id/library/index.php?option=com)
BAPEPAM Menindaklanjuti Sarbanes Oxley Act 2002
Sebagaimana telah diketahui bahwa untuk tahun buku 2004 berdasarkan Keputusan
Ketua Bapepam No.kep.40/pm/2003 tentang tanggung jawab direksi atas laporan
keuangan, direksi emiten wajib membuat surat pernyataan, atau di dalam sarbannes
oxley act disebut directors certification on financial statement.
Sejak diberlakukan sertifikasi tersebut, timbul pertanyaan kenapa sertifikasi harus
dilakukan. dalam UU PT, tanggung jawab direksi kelihatannya cukup jelas. didalam
opini akuntan, alinea pertama dikatakan bahwa laporan keuangan adalah tanggung
jawab direksi, sedangkan opini adalah tanggung jawab akuntan. Pertama, membahas
substansi dari regulasi yang terkait dengan sertifikasi oleh direksi atas laporan
keuangan. mengapa peraturan ini dikeluarkan? Apa yang dimaksud dengan fakta
material? Karena diisyaratkan bahwa direksi tidak boleh mengungkapkan fakta
material yang tidak benar atau menghilangkan fakta material. apa sebenarnya fakta
material itu? Disamping tanggung jawabnya terhadap laporan keuangan, direksi juga
bertanggung jawab terhadap sistem pengendalian internal.
Kedua, sebelum pernyataan ini ditandatangani oleh direksi, mekanisme atau proses
apa yang harus dikerjakan oleh direksi? Apakah mereka disodorkan langsung dan
tandatangan ataukah ada suatu proses atau mekanisme yang harus dilalui sebelum
mereka dengan yakin dan aman menandatangani surat pernyataan? Termasuk
didalamnya peran komisaris dan komite audit dalam proses tersebut. ketiga, setelah
ditandatangani, apa implikasinya khususnya dilihat dari aspek hukum?
Dikeluarkannya peraturan No. VIII.g. 11 tentang tanggung jawab direksi atas laporan
keuangan oleh Bapepam merupakan respon dari Bapepam atas dikeluarkannya
Sarbanes Oxley Act tahun 2002. sebagai undang-undang, Sarbanes Oxley Act
diundangkan karena semakin tingginya tuntutan ditegakkannya prinsip-prinsip good
corporate governance dalam segala aspek praktek dunia usaha.
Pada prinsipnya tanggung jawab direksi atas laporan keuangan bukanlah hal yang
baru, karena pada UU perseroan terbatas tahun 1995 dan UU pasar modal telah diatur
secara implisit tentang tanggung jawab tersebut, namun demikian peraturan Bapepam
mengharuskan direksi untuk secara eksplisit bertanggung jawab atas laporan keuangan
perusahaan, yang dituangkan ke dalam surat pernyataan atas laporan keuangan
perusahaan.

Regulasi Bapepam yang mengatur mengenai sertifikasi laporan keuangan oleh direksi
adalah peraturan Bapepam No. VIII.g. 11, namun demikian ada dua peraturan lain
yang terkait dengan peraturan tersebut, yaitu peraturan No. IX.I.6 tentang direksi dan
komisaris perusahaan emiten dan peraturan No. IX.I.5 tentang komite audit.
Ketiga peraturan ini saling berhubungan, dimana peraturan IX.I.6 menerangkan
tanggung jawab direksi atas laporan keuangan secara rinci dan peraturan IX.I.5
menjelaskan tentang peran komite audit dalam melakukan penelaahan atas laporan
keuangan dan pengawasan atas internal control dalam perusahaan.

PEMBAHASAN
Dalam bab ini, penulis akan membahas 3 (tiga) permasalahan seperti yang telah
diindentifikasi pada bab I, berdasarkan hasil penelitian dari berbagai narasumber yang
melakukan penelitian terhadap 3 (tiga) hal diatas, sebagai berikut:
A. Bagaimana pengaruh kualitas komite audit dan auditor independent terhadap
kualitas pengungkapan kelemahan internal control?
Pengaruh kualitas komite audit
Menurut Krishnan,2005 ; Yan Zhang dkk,2006, menemukan bahwa terdapat hubungan
antara kelemahan internal control suatu perusahaan terhadap kualitas (pengalaman,
background, dll) komite audit.
Disini komite audit dapat dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu:
Komite audit yang memang mempunyai pengalaman dan ahli di bidang financialakuntansi (accounting-financial expertise)
Komite audit yang tidak memiliki pengalaman dan keahlian di bidang financialakuntansi (non-accounting financial expertise).
Oleh Defond, 2005: secara specific komite audit accounting-financial expertise,
dikelompokkan lagi menjadi 2 (dua) yaitu:
Accounting-financial expertise, yang pernah bekerja sebagai akuntan public, auditor,
principal or Cief Financial Officer, Controller, atau principal/ Chief Accounting Officer.
Non-accounting financial expert, yang pernah menjadi CEO, President, atau Chairman
of Board in profit corporation, berpengalaman sebagai managing director, principal in
venture financing, investment banking.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa untuk kelompok accounting-financial expertise
(terutama kelompok 1 (satu) oleh Defond; yang pernah menjadi auditor, controller,
dst), mereka memiliki kemampuan mendeteksi material misstatement, jika
dibandingkan dengan non-accounting financial expertise.
Pengaruh Auditor Independent
Menurut Doyle,2006; mencatat bahwa problem kelemahan internal-control antara
perusahaan kecil maupun yang keuntungannya rendah, adalah tidak ada bedanya jika

dibandingkan dengan perusahaan besar serta yang mempunyai keuntungan besar.


Disisi lain, terdapat perusahaan yang mempunyai resiko rendah namun mereka
memilih auditor dari the big-4 (PWC, E&Y, Deloitte, dan KPMG) dikarenakan
disyaratkan oleh pemegang saham (pemilik/sumber dana), karena mereka menilai
tingkat independent the Big-4 lebih baik dibandingkan non the Big-4. Namun banyak
pula sebenarnya mereka menghindari auditor dari the Big-4, karena dipersepsi mereka
terlalu berisiko. berisiko dalam arti the Big 4 sangat memegang litigasi, dan sangat
ketat dalam menemukan signal potensial internal control problems.
kemudian, Ashbaugh-Skaife,2006; penyebab masalah kelemahan internal control ini
juga bisa diakibatkan oleh adanya pergantian auditor independent yang lama dengan
yang baru. baik pergantian itu karena persyaratan dari Sox 203-rotasi auditor maupun
hal lain.
Hal ini dimungkinkan, karena untuk auditor yang baru membutuhkan waktu untuk
mengerti bisnis klien (understanding client business) secara menyeluruh. sehingga
auditor baru mempunyai keterbatasan dalam perencanaan strategi managemen
resiko.
Sehingga hal ini dapat mempengaruhi kualitas dalam mereview dan attest internalcontrol perusahaan.
B. Bagaimana pengaruh pengungkapan Sox, section 302 dan section 404 terhadap
kualitas laporan keuangan?
Berdasarkan banyak studi, mencatat bahwa pengungkapan Sox section 302 dan section
404 membawa pengaruh yang positif terhadap kualitas laporan keuangan. Ashbauh,
Collin, Kinney,LaFond, Zvi Singer 2008; internal control yang dilakukan perusahaan
secara periodik (setiap 3 bulan sekali) terhadap temuan kelemahan yang material
sebagaimana disyaratkan dalam section 302, serta review dan attestasi oleh KAP
(kepatuhan section 404). Menurut PCAOB, 2004 jika auditor menemukan terdapat
kelemahan yang material pada internal control, maka auditor harus memberikan
laporan serta menolak memberikan pendapat.
Beberapa studi lainnya, Lobo dan Zhou, 2006; dengan Sox mencatat bahwa terdapat
penurunan dalam pencatatan akrual-basis, dan meningkatkan kehati-hatian dalam
pelaporan keuangan.
Dengan demikian akan terjadi perubahan dalam mekanisme dokumentasi, evaluasi,
dan laporan terhadap efektifitas internal control, akurasi pada laporan keuangan,
sehingga hasinya tidak hanya bermanfaat untuk perusahaan perusahaan yang memiliki
sistem yang buruk namun bermanfaaat pula untuk semua perusahaan, sehingga akan
meningkatkan kualitas laporan keuangan.
C. Bagaimana reaksi pasar terhadap pengungkapan kelemahan internal control seperti
yang disyaratkan Sox, section 302 dan section 404?
Inti dari pembahasan ini adalah menilai apakah pengungkapan kelemahan internal
control sangat bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan investor. Lebih khusus
lagi dampaknya terhadapa reaksi harga saham. Menurut Jacqueline, Linda A.Myers,
Catherine Shakespeare, 2007; yang melakukan observasi terhadap pengungkapan
kelemahan yang (berita) material dalam kurun waktu Hari-H sampai dengan 3 hari
setelah pengungkapan, menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan.

Hal ini dimungkinkan karena investor secara agregat (umum) telah faham bahwa
perusahaan sudah merevisi nilai dari laporan keuangan. Pengungkapan kelemahan
yang material ini justru mendorong investor (pemegang saham) lebih memberikan
perhatian terhadap biaya yang akan dikeluarkan demi perbaikan sistem yang perlu
dibenahi. Lagipula kemungkinan masih terdapat kelemahan material yang belum
diungkap sangat kecil, karena masih ada auditor yang akan memberikan laporan dan
berhak untuk menolak memberikan pendapat terhadap internal control perusahaan
apabila terdapat kelemahan material, sesuai dengan Sox section 404.
Dari beberapa penelitian lain disebutkan bahwa, meskipun pada saat setelah
pengungkapan kelemahan internal control secara material, harga saham bisa
mengalami penurunan, namun hal itu hanya terjadi sementara dan dalam interval
waktu yang pendek..
Berdasakan hal tersebut diatas, secara umum dengan adanya pengungkapan informasi
tentang kelemahan internal control secara periodik, maka dapat digunakan oleh
investor untuk merevisi rata-rata ekspektasi terhadap nilai perusahaan. Dari sisi
perusahaan, perusahaan akan lebih hati-hati dan selalu melakukan perbaikan secara
berkelanjutan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan terhadap identfikasi masalah yang ada, maka dapat
kita buat beberapa kesimpulan mengenai penerapan Sox section 302 dan Sox section
404:
1. Kualitas pengungkapan kelemahan internal control, dalam rangka penerapan Sox
section 302 sangat tergantung pada komposisi anggota dari komite audit. komite audit
yang mempunyai pengalaman keuangan dan akuntansi (financial-accountant
expertise), terlebih lagi yang berpengalaman sebagai auditor, kap, financial cotroller,
dan sejenisnya, akan mampu mendeteksi kelemahan sistem internal control, serta
salah saji laporan keuangan.
peran akuntan independent juga sangat berpengaruh dalam memberikan review,
attest, serta memberikan pendapat dalam laporan auditnya terhadap sistem internal
control perusahaan sebagaimana diatur dalam Sox 404.
2. Dengan adanya Sox section 302 dan Sox section 404, dapat menigkatkan kualitas
laporan keuangan pada khususnya, dan internal control serta performa perusahaan
secara umum. manajemen perusahaan akan lebih hati-hati dalam melakukan
dokumentasi, pencatatan dan pelaporan keuangan. perusahaan juga akan dapat
melakukan perbaikan secara berkelanjutan, paling tidak setiap 3 (tiga) bulan sekali
(kuartal report) oleh komite audit, dan paling tidak 1 (satu) tahun sekali akan diattesst melalui annual audit dari kap.
penomena yang menarik adalah aturan ini tidak hanya dilakukan oleh perusahaan yang
diwajibkan (perusahaan public) untuk menerapkan aturan Sox, namun banyak juga
dilakukan dengan sukarela oleh perusahaan non-publik yang secara hukum tidak
diwajibkan.
3. Meskipun biaya untuk melaksanakan aturan Sox section 302 dan Sox section 404 ini
sangat besar, namun secara umum hampir semua investor sangat mendukung

pelaporan kelemahan internal-control. justru kebanyakan pemegang saham


mewajibkan manajemen perusahan untuk diaudit oleh kap the big-4 yang dinilai
mempunyai independensi dan litigasi yang sangat ketat. hal ini ditunjukkan oleh hasil
penelitian bahwa pada saat hari-h dan 3 (tiga) hari setelah pengungkapan kelemahan
internal control harga saham tidak signifikan mengalami perubahan. namun investor
harus menelaah kembali tentang ekspektasi mereka terhadap nilai perusahaan.
4. Porsi Hukum harus lebih berimbang dalam memperkarakan pihak-pihak yang
bertanggung jawab (Komisaris, Direksi, Akuntan Manajemen, Komite Audit, Kantor
Akuntan Publik) apabila terjadi salah saji material, penyimpangan, bahkan manipulasi
dalam Laporan Keuangan. Yang tentunya akan merugikan masyarakat banyak terutama
Investor. Dalam banyak kasus, seringkali hanya Akuntan Publik yang dipersalahkan jika
terjadi kondisi diatas. Padahal Keterbatasan Akuntan Publik untuk dapat
mengungkapkanFraud/ moral Hazard dalam perusahaan yang diaudit sangat terbatas;
waktu, lingkup penugasan, budget. Dan jarang dapat terungkap jika tidak
terdapat Whistle-Blowing (informasi internal). Sementara Komite Audit sendiri yang
ditunjuk sebagai perwakilan publik (seperti diamanatkan Sox section 404), terbebas
dari segala tuntutan hukum. Padahal mereka telah mendapatkan gaji dan berbagai
fasilitas dari Manajemen, lebih cenderung bersifat formalitas dan hanya menumpang
nama.
Abrar Solikhin
Mahasiswa PPAK UGM
Abrar Solikhin at Saturday, May 30, 2009

No comments:
Post a Comment
Links to this post
Create a Link

Home

View web version


About Me

Powered by Blogger.