Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH SOSIOLOGI-ANTROLPOLOGI

ADAT MERANTAU BAGI MASYARAKAT SUKU MINANGKABAU,


BAWEAN DAN MADURA

DISUSUN OLEH:
R. HERDIAS FAJAR S. (13040274073)
DWI WULANDARI O. (13040274079)
KHAFID SYAIFUR (13040274084)
DWI RETNOSARI ((13040274094)
AULIA LISTYO P. (13040274098)
2013 C

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS ILMU SOSIAL
S1 PENDIDIKAN GEOGRAFI
2015

PENDAHULUAN
Merantau merupakan salah satu tradisi yang sudah melekat bagi beberapa suku di
Indonesia. Tradisi merantau ini sendiri dapat diartikan perginya seseorang dari tempat asal
dimana ia tumbuh dan dibesarkan ke wilayah lain.
Di Indonesia ada beberapa suku yang sangat dikenal dengan tradisi dan kebiasaan
merantau. Dari tahun ke tahun tradisi merantau di kalangan masyarakat Indonesia semakin
meningkat. Tentunya hal tersebut terkait dengan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi minat
dan tujuan seseorang untuk merantau. Ada pula wilayah-wilayah tertentu yang menjadi daerah
tujuan dari para perantau, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Dalam menjalani
kehidupan di wilayah perantauan, para perantau mempunya cara-cara untuk dapat beradabtasi
dengan lingkungan tempat tinggalnya yang baru. Bentuk adaptasi tersebut juga sangat beragam
tergantung dari masing-masing suku.
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mempelajari lebih dalam suku-suku yang
menjalankan budaya atau adat merantau dan menganalisis bagaimana pengaruh faktor-faktor
tersebut dalam mempengaruhi minat merantau suku-suku tersebut, serta untuk lebih memahami
bentuk-bentuk adabtasi masyarakat suku perantauan terhadap wilayah yang menjadi tujuan
perantau.

A. Definisi Merantau
Merantau yaitu, perginya seseorang dari tempat asal dimana ia tumbuh dan
dibesarkan ke wilayah lain dengan tujuan untuk mencari kehidupan baru, menuntut ilmu,
atau mencari pengalaman kerja, dengan keinginan untuk kembali lagi ke kampung
halamaan ( tempat lahir ).
B. Faktor-Faktor Penyebab Berbagai Suku Merantau
Banyak faktor yang mendorong orang-orang untuk pergi dari tempat asal atau
kelahirannya menuju tempat lain. Diantaranya faktor tradisi atau budaya dari suatu
kelompok etnis, juga ada faktor ekonomi, pendidikan dan faktor peperangan.
Ramainya Bandar Malaka di abad 15 dan 16 mengakibatkan Malaka jadi tujuan
perantauan dari bermacam etnis di Nusantara. Sampai saat ini keturunan dari para
perantau itu masih teridentifikasi dengan jelas. Di Malaka dan sekitarnya bahkan di
wilayah lainnya di Malaysia bisa ditemukan komunitas keturunan Minangkabau, Jawa,
Banjar, Bawean (di Malaka lazim disebut orang Boyan) dan etnis-etnis lainnya dari
Nusantara. Karena pada masa itu Malaka adalah pusat perdagangan, maka bisa dipahami
bahwa faktor ekonomilah yang mendorong orang-orang untuk merantau ke Malaka.
Pada abad-abad sebelumnya, pelabuhan Barus juga pernah menjadi pusat
perdagangan. Pada awalnya perdagangan di Barus didominasi oleh orang-orang Tamil
dari India, yang menjadikan Barus semacam koloni India untuk menguasai perdagangan
hasil-hasil alam dari Sumatera dan Nusantara pada umumnya. Dominasi Tamil terhadap
perdagangan di Barus baru bisa dipatahkan oleh pedagang Minangkabau sekitar abad 14
dan 15 dengan dukungan kerajaan Pagaruyung. Barus juga sudah jadi tujuan perantauan
dari etnis lain di nusantara sebelum adanya Bandar Malaka.
Pada masa-masa berikutnya Timur Tengah juga menjadi tujuan perantauan bagi
orang-orang dari Nusantara. Banyak orang-orang dari berbagai etnis merantau menuntut
ilmu agama, yang dikemudian hari menjadi ulama-ulama besar di tanah air. Pada masa
kolonial, Belanda juga jadi tujuan perantauan bagi pelajar-pelajar Hindia Belanda. Tidak
sedikit di antara mereka akhirnya menjadi orang-orang terdepan dalam perjuangan

kemerdekaan Indonesia. Dalam hal ini tentu kita pahami faktor pendidikanlah yang
mendorong orang pergi merantau.
Saat ini, pada zaman globalisasi, tujuan perantauan bagi orang-orang Indonesia
sudah sangat beragam. Untuk tujuan pendidikan maupun ekonomi orang bisa pergi atau
merantau kemana saja di bagian dunia ini. Tidak sedikit orang-orang Indonesia yang
merantau ke Malaysia, Australia, Eropa bahkan Amerika Serikat dengan berbagai macam
tujuan dan motivasinya.
Mengenai aspek perantauan dalam negeri, pembangunan yang tidak merata dan
lebih terpusat di kota-kota besar, membuat banyak orang Indonesia dari berbagai etnis
pergi merantau terutama ke pulau Jawa untuk mencari pekerjaan atau pendidikan yang
lebih baik. Para perantau ini, terutama yang beragama Islam, memiliki tradisi untuk
mudik setiap tahun untuk merayakan lebaran. Hal ini dapat diamati dari kenaikan arus
penumpang sistem transportasi umum.
C. Suku-suku Perantau
Banyak orang Indonesia dari berbagai etnis pergi dari tempat asalnya menuju dan
menetap di wilayah lain. Bermacam-macam penyebab, tujuan dan motivasi yang
mendorong mereka pergi merantau. Dari sekian banyak etnis itu ada beberapa etnis yang
warganya melakukan aktivitas merantau dalam jumlah yang sangat signifikan, sehingga
etnis tersebut bisa diklasifikasikan sebagai suku perantau, di antaranya Suku Minang,
Suku Bawean dan Suku Madura.
1. Minangkabau
a. Masyarakat Suku Minangkabau
Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa yang ada di Indonesia.
Minangkabau masuk ke dalam propinsi Sumatera Barat. Banyak terdapat budaya-budaya
yang ada pada masyarakat Minangkabau sendiri. Suku minang Minangkabau terbentuk
dari kultur etnis nan berasal dari satu rumpun, yaitu rumpun melayu. Di dalamnya
terdapat sistem monarki dan masih memegang adat cukup kuat.

Sistem kekerabatan masyarakat Minangkabau ialah matrilineal, yaitu garis


keturunan ditarik dari garis ibu. Seorang nan lahir dalam satu keluarga akan masuk dalam
kerabat keluarga ibunya, bukan kerabat ayahnya. Seorang ayah berada di luar kelompok
kerabat istri dan anak-anaknya.
Peran seorang suami tak jelas batasnya dalam kelompok kekerabatan. Sebab
pertama sebab prinsip matrilineal nan mana peranan ayah dalam rumah tangga teramat
kecil. Sebaliknya, saudara laki-laki ibu (paman) nan lebih banyak berperan dalam
kehidupan anak-anaknya.
Hal-hal krusial dalam keluarga diputuskan oleh Bunda Kanduang, ibu dalam
rumah Gadang (rumah besar). Sebab kedua sebab keluarga intinya sendiri tinggal dengan
keluarga senior dari pihak istrinya nan bersama-sama tinggal di rumah gadang.
Kekerabatan bersistem matrilineal ini lah nan membuat harta warisan pun akan
diturunkan berdasarkan nasab ibunya. Hal-hal inilah nan menyebabkan kaum laki-laki
masyarakat Minang lebih suka merantau ke daerah lain.
Sebab lain mengapa orang Minangkabau suka merantau yaitu sebab faktor
ekonomi. Pertumbuhan besar-besaran pada masyarakat Minang tak diikuti dengan
pembukaan peluang kerja nan memadai. Akibatnya, mereka pergi ke daerah lain buat
mencari pekerjaan. Pada awalnya dan sebagian besar mereka mengawali usaha dengan
berdagang.
Masyarakat Minang memang terkenal dengan kemampuan bernegosiasinya.
Sehingga hal ini menjadi bukti diri bagi generasi penerus kebudayaan Minang. Ini ada
hubungannya dengan masyarakat Minang sebagai pewaris tunggal dari kebudayaan
tradisi milik Kerajaan Melayu dan Sriwijaya. Bahwa kedua kerajaan itu terkenal dengan
keahliannya dalam berdagang serta bergerak dinamis.

b. Wilayah Perantauan
Masyarakat Minangkabau dikenal punya tradisi merantau yang kuat. Mereka telah
mengembara ke wilayah Asia Tenggara lainnya sejak berabad abad yang lalu. Keturunan
mereka sampai saat ini masih ada bahkan berkembang di banyak tempat seperti Aceh,
Riau, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Lampung atau wilayah Sumatera lainnya dan
juga di Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Malaysia, Singapura, Brunei,
Filipina Selatan, dan lain lain.
Suku Aneuk Jamee di Aceh adalah masyarakat keturunan Minangkabau yang
nenek moyang mereka telah merantau dari Ranah Minang sejak berabad abad yang lalu.
Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar yang dikenal sebagai pejuang gigih dan dianugerahi
gelar pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia adalah anak dan keponakan dari
Nanta Setia seorang Uleebalang VI Mukim, keturunan seorang perantau Minang yang
juga jadi uleebalang di Kesultanan Aceh pada abad ke 18.
Dengan dukungan raja Pagaruyung Minangkabau, pada abad ke 15 perantau
Minangkabau sudah mulai bermukim di Negeri Sembilan semenanjung Malaya.
Komunitas keturunan perantau Minangkabau di Negeri Sembilan yang populasinya
cukup banyak akhirnya menjadi sebuah kerajaan dengan raja pertamanya Raja Melewar
yang diutus langsung dari Pagaruyung Minangkabau. Pada pertengahan abad ke 20
seorang Raja Negeri Sembilan yang keturunan Minangkabau Tuanku Abdul Rahman
diangkat menjadi raja Malaysia pertama dengan gelar Yang di-Pertuan Agong Malaysia.
Empat orang putera raja Pagaruyung Minangkabau mengembara / merantau ke
selatan dan mendirikan Kepaksian Sekala Brak di wilayah Lampung sekarang. Di
Mindanao Selatan (Filipina) keturunan perantau Minangkabau dari ratusan tahun yang
lalu masih ada sampai saat ini. Gelar bangsawan mereka "Ampatuan" yang berasal dari
Pagaruyung / Minangkabau (Ampu Tuan) masih mereka pakai sampai sekarang. Di
Sulawesi Selatan keturunan Datuk Makotta Minangkabau sudah menjadi bagian tak
terpisahkan dari masyarakat Bugis-Makassar sejak ratusan tahun yang lalu.

Di pesisir barat Sumatera Utara mulai dari Natal sampai Sibolga, Sorkam dan
Barus keturunan Minangkabau telah bertransformasi dan telah berubah nama menjadi
"Orang Pesisir". Dahulunya nenek moyang mereka berasal dari wilayah Painan, Padang
dan Pariaman. Sampai sekarang bahasa mereka hampir tak ada bedanya dengan bahasa
Minangkabau. Saat masa jayanya Bandar Malaka pada abad ke 15 di semenanjung
Malaya, di wilayah Batu Bara dan Asahan Sumatera Utara dulunya banyak bermukim
komunitas Minangkabau dan menerapkan sistim adat Minangkabau yang matrilineal
sebelum berubah jadi patrilineal atas desakan Sultan Deli. Saat ini keturunan
Minangkabau tersebut telah lebur kedalam masyarakat Melayu pesisir timur Sumatera
Utara.
Tidak hanya di Negeri Sembilan perantau Minangkabau mendirikan kerajaan,
pada akhir abad ke 14 seorang perantau Minang lainnya Raja Bagindo juga mendirikan
Kesultanan Sulu di Filipina Selatan. Awang Alak Betatar pendiri Kesultanan Brunei
disebutkan berasal dari Minangkabau juga, bahkan saat acara peresmian replika Istana
Pagaruyung pada tahun 80 an Sultan Brunei Hassanal Bolkiah juga ikut hadir dan sempat
mengatakan bahwa leluhurnya berasal dari Pagaruyung Minangkabau.
Kalau ditelusuri lebih jauh lagi ke belakang, sebuah peninggalan sejarah dari abad
ke 7 masehi yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang menyatakan bahwa Kerajaan
Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang setelah bertolak dari Minanga Tamwan dengan
membawa bala tentara sebanyak 20.000 orang. Ada ahli sejarah yang berpendapat bahwa
Minanga Tamwan zaman kuno yang berpusat di hulu sungai Batang Hari atau di hulu
sungai Kampar itu adalah Minangkabau sekarang. Mengenai hal ini memang masih
belum ada kesamaan pendapat di antara para ahli sejarah, ada yang berpendapat Dapunta
Hyang bertolak dari Minanga Tamwan kearah selatan, lalu mendirikan wanua (kerajaan
Sriwijaya) setelah menemukan tempat yang dianggap tepat. Sedangkan ahli yang lain
berpendapat Minanga Tamwan adalah kerajaan taklukan Dapunta Hyang. Tidak tertutup
kemungkinan bahwa pendapat yang pertama dari para ahli sejarah tersebut benar adanya
mengingat prestasi yang dicapai orang orang Minangkabau dalam petualangan
perantauannya baik dimasa lalu maupun dimasa kini.

Selain perantauan yang bersifat kolektif dan agak masif yang kemudian hari
menjadi suatu komunitas bahkan kerajaan, juga ada perantau individual yang merantau ke
wilayah yang tidak lazim dijadikan tujuan perantauan orang Minang pada masa itu.
Selain Datuk Makotta Minangkabau juga ada tiga orang Datuk yang ulama yaitu Datuk
Ri Bandang, Datuk Ri Pattimang, Datuk Ri Tiro merantau ke wilayah timur dan
menyebarkan agama Islam di wilayah Sulawesi dan Nusa Tenggara pada awal abad ke
17. Sampai saat ini masyarakat setempat tetap mengenang jasa jasa mereka. Di beberapa
wilayah Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah, Tuan Tunggang Parangan dan Datuk
Karama dikenang masyarakat setempat sebagai pembawa ajaran Islam kedaerah itu.
Di bidang kemiliteran tiga laki laki Minang merantau jauh sampai ke Timur
Tengah dan menjadi bagian dari pasukan Janissary Turki yang terkenal hebat pada
zamannya. Pada awal abad 19, Kolonel Haji Piobang, seorang perwira kavaleri dipercaya
menjadi panglima dari salah satu pasukan Janissary. Ia berhasil mengalahkan salah satu
pasukan Napoleon dalam perang Piramid di Mesir. Perwira lainnya Mayor H. Sumanik
menjadi ahli perang padang pasir bersama H. Miskin. Dikemudian hari setelah pulang
dari perantauan ke Ranah Minang ketiga anggota pasukan Janissary Turki itu berperan
besar sebagai pendiri pasukan militer dalam perang Padri.
c. Sebab Merantau suku minangkabau
1) Faktor Budaya
Ada banyak penjelasan terhadap fenomena ini, salah satu penyebabnya ialah
sistem kekerabatan matrilineal. Dengan sistem ini, penguasaan harta pusaka dipegang
oleh kaum perempuan sedangkan hak kaum pria dalam hal ini cukup kecil. Hal inilah
yang menyebabkan kaum pria Minang memilih untuk merantau. Kini wanita
Minangkabau pun sudah lazim merantau. Tidak hanya karena alasan ikut suami, tapi juga
karena ingin berdagang, meniti karier dan melanjutkan pendidikan.
Menurut Rudolf Mrazek, sosiolog Belanda, dua tipologi budaya Minang, yakni
dinamisme dan anti-parokialisme melahirkan jiwa merdeka, kosmopolitan, egaliter, dan
berpandangan luas, hal ini menyebabkan tertanamnya budaya merantau pada masyarakat
Minangkabau.[7] Semangat untuk merubah nasib dengan mengejar ilmu dan kekayaan,

serta pepatah Minang yang mengatakan Ka rantau madang dahulu, babuah babungo
alun (lebih baik pergi merantau karena dikampung belum berguna) mengakibatkan
pemuda Minang untuk pergi merantau sedari muda.
2) Faktor Ekonomi
Penjelasan lain adalah pertumbuhan penduduk yang tidak diiringi dengan
bertambahnya sumber daya alam yang dapat diolah. Jika dulu hasil pertanian dan
perkebunan, sumber utama tempat mereka hidup dapat menghidupi keluarga, maka kini
hasil sumber daya alam yang menjadi penghasilan utama mereka itu tak cukup lagi
memberi hasil untuk memenuhi kebutuhan bersama, karena harus dibagi dengan
beberapa keluarga. Selain itu adalah tumbuhnya kesempatan baru dengan dibukanya
daerah perkebunan dan pertambangan. Faktor-faktor inilah yang kemudian mendorong
orang Minang pergi merantau mengadu nasib di negeri orang. Untuk kedatangan
pertamanya ke tanah rantau, biasanya para perantau menetap terlebih dahulu di rumah
dunsanak yang dianggap sebagai induk semang. Para perantau baru ini biasanya
berprofesi sebagai pedagang kecil.
3) Faktor religi
Selain kedua karena di atas, unsur agama juga berpengaruh terhadap budaya
merantau. Orang suku Minangkabau sangat menjunjung nilai agama Islam. Mereka
penganut agama Islam nan taat.
Anak laki-laki banyak meninggalkan rumah mereka buat belajar di surau-surau.
Mereka menimba ilmu agama. Untuk seterusnya mereka akan menimba ilmu dengan
pergi ke berbagai daerah, berjumpa dengan berbagai orang, berbagai budaya buat
mencapai kehidupan nan mereka inginkan.
Kini, orang Minangkabau hampir ada di seluruh wilayah Indonesia, bahkan dunia.
Mereka merantau bukan saja buat berdagang, tapi buat menimba ilmu, baik ilmu agama
maupun ilmu pengetahuan.

Begitu banyaknya orang Minang nan merantau, akhirnya muncul istilah


Minangkabau Perantuan , yaitu orang-orang suku Minangkabau nan hayati merantau di
luar wilayah asalnya.
4) Faktor-faktor fisik: Ekologi dan Lokal
Dilihat dari segi ekologinya bentuk fisik pedalaman Sumatera Barat yang terletak
di sepanjang pegunungan Bukit Barisan yang subur. Letak ini sangat cocok untuk
pertanian dan orang Minangkabau telah mengembangkan keterampilannya dalam bidang
pertanian. Hal tersebut dapat dilihat bahwa 25% dari penduduk kota di Sumatera Barat
masih bekerja di bidang ini. Akan tetapi, karena bertambahnya populasi manusia
diperkirakan tanah yang tersedia tidak akan cukup untuk memberi hidup orang yang
jumlahnya selalu bertambah, maka dari itu dorongan untuk merantau menjadi semakin
kuat. Menurut lokasinya sendiri, Minangkabau adalah daerah yang terpencil (di luar pusat
kegiatan perdagangan dan politik). Keadaan ini menyebabkan dunia luar tidak
mendatangi Minangkabau tapi orang Minangkabau yang harus pergi ke dunia luar.
5) Faktor ekonomi dan demografi
Faktor ini mempunyai hubungan dengan faktor sebelumnya, dorongan merantau
karena faktor ekonomi disebabkan oleh adanya lahan pertanian yang sudah tidak banyak
lagi untuk mencukupi masyarakat yang tambah banyak. Salah satu di antara alasan
primordial untuk pergi merantau adalah perjuangan ekonomi ini. Dorongan untuk
merantau karena alasan ekonomi tentu saja akan lebih kuat terasa bila sawah tidak lagi
mencukupi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, dapat dikatakan bahwa
kurangnya sarana kehidupan yang terdapat di Sumatera Baratlah yang mendesak
penduduknya merantau, oleh karena sarana kehidupan di rantau lebih mudah didapat.
6) Faktor Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor pendorong yang penting pergi merantau,
terutama semenjak berkembangnya sekolah-sekolah sejak bagian pertama abad ini.
Merantau dengan tujuan mencari pendidikan selalu akan terbatas pada segolongan
kelompok saja. Meskipun terbatas hanya pada golongan tertentu, faktor ini menjadi

faktor pendorong yang mampu merangsang lainnya, seperti pelajar yang merantau
membukakan jalan untuk pelajar berikutnya. Sebenarnya konsep asli dari merantau itu
sendiri adalah mencari ilmu dan pengalaman untuk mempersiapkan diri untuk dapat
hidup berguna di kampung nanti sesudah kembali dari rantau. Faktor ini mulai terasa
sejak 1920-an, tapi mulai menurun pada tahun 1960-an disebabkan dengan membaiknya
fasilitas pendidikan di Sumatera Barat sendiri.
7) Daya Tarik Kota
Daya tarik kota, juga merupakan faktor pendorong merantau karena di kota segala
ide kemajuan dilaksanakan dan kesempatan kerja banyak disana. Selain dirasakan oleh
golongan pelajar, daya tarik ini juga dirasakan oleh para pedagang. Hal tersebut
disebabkan pusat-pusat kota pasarnya selalu buka tiap hari dan jual-beli sering terjadi
tidak seperti di desa. Daya tarik kota ini baru dirasakan setelah 1930-an dan puncaknya
pada tahun 1950-an.
8) Faktor Keresahan Politik
Faktor keresahan politik terjadi dua kali di Sumatera Barat dan itu menyebabkan
migrasi masyarakat lokal. Pertama semasa pemberontakan komunis di akhir 1920-an dan
kedua selama pergolakan daerah (PRRI) di akhir 1950-an yang menyebabkan eksodus
besar-besaran ke kota-kota besar.
9) Faktor Sosial
Faktor sosial ini dapat dikatakan bahwa pada mulanya merantau itu disebabkan
adanya kebutuhan untuk mencari tanah baru diluar perkampungan sendiri yang membuat
kaum pria meninggalkan keluarganya dalam jangka waktu tertentu. Seiring berjalannya
waktu, pengertian merantau sekarang bukan lagi perluasan wilayah, tetapi berdagang dan
mencari kehidupan baru di kota-kota perantauan.
10) Arus baru
Dalam hal ini arus baru digambarkan dengan kehidupan masyarakat yang tinggal
di perantauan. Mereka hidup dengan mengikuti adat rantau, dimana suami istri bersama-

sama mengatur rumah tangga, menanggalkan sikap matrilinealnya.


d. Profesi orang Minangkabau di perantauan
Pada masa sekarang, dalam periode di negeri orang inilah orang Minang yang
merantau mencari bidang kehidupan yang mereka minati. Bagi yang ingin berniaga atau
wiraswasta mereka memilih menjadi pedagang. Banyak bidang usaha yang bisa mereka
geluti seperti berdagang di pasar, mengelola usaha angkutan, usaha percetakan, penjahit
pakaian, usaha rumah makan atau restoran Padang dan banyak lagi yang lain. Karena
didorong oleh jiwa merdeka sedikit di antara mereka yang merantau untuk mencari
pekerjaan sebagai orang gajian. Bagi yang bertujuan menimba ilmu merekapun masuk
sekolah sekolah yang baik. Tak jarang mereka dijadikan pemimpin di komunitas
perguruan tersebut. Banyak di antara mereka menjadi orang besar dikemudian hari, baik
sebagai tokoh pengusaha, politisi, dokter, ilmuwan, birokrat, seniman, profesional, ulama,
militer dan polisi, dan lain lain.
Bila keadaannya dianggap sudah cukup mapan atau sukses setelah jangka waktu
tertentu, maka barulah ia akan pulang ke kampung halamannya yang telah lama
ditinggalkan. Tidak jarang pula para perantau ini lalu berkeluarga, dan akhirnya menetap
di perantauan. Bagi orang Minangkabau, fenomena ini disebut "Marantau Cino" atau
merantau selamanya dan tak kembali lagi.
e. Adaptasi dan Perubahan
Adalah menarik perhatian, bahwa pada umumnya para perantau Minang ini
mampu menyesuaikan diri dengan adat istiadat serta kebudayaan daerah rantaunya, yang
antara lain terlihat pada hampir tidak pernahnya terjadi konflik dengan masyarakat
tempatan yang menjadi tuan rumahnya. Mungkin sekali hal ini disebabkan oleh pepatah
bijak Minangkabau yang berbunyi: Dimano bumi dipijak, disitu langik dijunjuang yang
bermakna menghargai kultur dan budaya setempat tanpa harus kehilangan kultur dan
budaya sendiri.

2. Suku Bawean

a. Masyarakat Suku Bawean


Orang Bawean bermukim di pulau yang luasnya 188,66 kilo meter persegi, dan
terletak di utara pulau jawa yang masih termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten
Gresik. Pada mulanya pulau ini dihuni oleh penduduk yang berasal dari madura. Namun
sekarang penduduk pulau ini tidak mau disebut sebagai keturunan Madura sebab mereka
ini memandang bahwa mereka merupakan hasil pembauran dengan para pendatang dari
Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra sehingga lahirlah masyarakat yang menamai
dirinya Bawean.
Sebagian besar orang Bawean hidup dari pertanian sawah tegalan dan menangkap
ikan (nelayan). Pertanian sawah ada yang dilakukan dengan setengah teknis dengan
menggunakan irigasi, sedangkan sebagian lain merupakan sawah tadah hujan.
b. Masyarakat Suku Bawean Merantau
Pola perilaku masyarakat Bawean yang berhubungan dengan pemenuhan
kebutuhan ekonomi yakni dengan cara merantau. Masyarakat Bawean sering melakukan
perantaun ke berbagai daerah di Indonesia dan ke luar negeri. Merantau sudah menjadi
kebudayaan di masyarakat Bawean untuk memenuhi kebutuhannya. Bagi orang Bawean
keinginan merantau sudah ditanamkan sejak kecil, hal ini yang menyebabkan orang
Bawean terus menyebar ke seluruh daerah di Indonesia dan di Luar Indonesia. Waktu
merantau orang bawean selalu menggunakan waktu yang panjang, sehingga kampung
halaman mereka seolah-olah hanya sebagai tempat lahir dan untuk mati.
Dalam sistem mata pencaharian masyarakat suku bangsa Bawean yang sebagian
besar merantau, menunjukkan peningkatan pada setiap tahunnya hal itu yang
menyebabkan orang asli Bawean yang masih tinggal di pulau Bawean lebih sedikit dari
perantauan. Dan bahkan kisah merantau sudah menjadi bahan obrolan sehari-hari di
langgar dan masjid, anak-anak suku bangsa Bawean sejak kecil sudah ditanamkan dan
dikenalkan tentang merantau untuk kehidupanya kelak.

c. Faktor Penyebab Suku Bawean Merantau

Pandangan tersebut terkait dengan teori Fungsionalisme dan Difusi dimana yang
menekankan kepada keteraturan bahwa masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang
terdiri atas bagian-bagian atau elemen-elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu
dalam membentuk keseimbangan, dan juga orang Bawean sebagai agen yang secara tidak
langsung ikut menyebarkan budaya Bawean ke tempat baru yang di tempati si agen.
Hal ini yang menyebabkan dari tahun ketahun masyarakat suku bangsa Bawean
terus mengalir untuk merantau sebab mereka sejak kecil sudah ditanami tentang budaya
merantau yang sudah sejak lama dilakukan oleh nenek moyang mereka, yang telah
menyebar di seluruh wilayah Indonesia dan bahkan sampai Singapura dan Malaysia, dan
para pendahulunya atau familinya telah mendapatkan kesuksesan dan mapan dalam
pekerjaannya, itulah yang membuat orang Bawean tertarik untuk merantau.
Faktor lain yang menyebabkan orang Bawean sering melakukan perantauan
adalah karena memang di daerah mereka sulit untuk mengembangkan pertanian, dan
kalau pun bisa itu harus dengan teknik tertentu. Karena Pulau Bawean tidak cocok dibuat
untuk pertanian. Itulah yang sedang dijalankan dalam masyarakat Bawean untuk menjaga
keseimbangan mereka dalam memenuhi kebutuhannya salah satunya dengan merantau
dan menanamkan rasa merantau sejak kecil dan sudah dikatan sebagai budaya
masyarakat Bawean.
Sistem religi yang ada di Bawean yang pada awal perkemangannya masyarakat
Bawean menganut kepercayaan animistis. Dan kemudian masuklah hindu-budha sesuai
peninggalan yang ada pada desa Sidogedong Batu. Tapi kini masyarakat Bawean
menganut agama islam, yang diperkirakan sejak tahun 1601. Pengalaman agama
terbilang cukup kuat dengan terlihat banyanya tempat-tempat ibadah seperti masjid,
langgar dan madrasah. Anak laki-laki yang berusia enam tahun sudah mendapat pelajaran
agama islam atau mengaji di langar. Dan anak-anak perempuan mendapat pelajaran
mengaji dan menginap di rumah kiyai. Para kiyai cukup dihormati di masyarakat
Bawean.
Dan sebenarnya ada keterkaitan antara masyarakat Bawean yang gemar merantau
itu demi menyempurnakan agama mereka dengan melakukan haji. Menurut Richrad
Weekes dalam bukunya Muslim People: A World Ethnographic Survey (Greenwood Press
1984), "Idealnya seorang Bawean hidup merantau khususnya di Singapura atau

Malaysia untuk mendapat pengetahuan yang sempurna tentang Qur'an dan Hadist,
melaksanakan ibadah Haji dan akhirnya pada masa tuanya menetap sebagai seorang
Kiai di Bawean."
Dari penelitian yang sudah dilakukan oleh Richard Weeks, jelas adanya
keterkaitan antara sistem mata pencaharian dan sistem religi yang ada di masyarakat
Bawean.
Dari berbagai masalah yang dikaji, kebudayaan suku bangsa Bawean mengalami
perkembangan dari segi sistem mata pencaharian, sebab pola pikir masyarakat bawean
untuk memenuhi kebutuhan hidup sudah terbangun sejak lama dari nenek moyang
mereka yang senang merantau demi menyeimbangkan kehidupan mereka. Dan sebab itu
pola pikir orang Bawean sampai saat ini masih terus berlanjut masa demi masa untuk
mencukupi hidupnya, disamping itu faktor religi juga mendorong mereka untuk tambah
yakin dengan apa yang mereka kerjakan demi untuk bisa menyempurnakan agama
mereka untuk mendidik anaknya dan selanjutnya mereka bisa haji.
3. Suku Madura
a. Masyarakat Suku Madura Merantau
Merantau sudah merupakan realitas sosial-budaya universal. Artinya masyarakat
dari kebudayaan manapun di dunia melakukan hal itu. Begitu juga dengan orang Madura.
Sebagaimana masyarakat dari kebudayaan lain, tanpa ada maksud mengabaikan motivasi
lain, motivasi orang Madura merantau tidak bergeser jauh dari dua faktor utama yaitu:
ekonomi dan sosial. Artinya, hampir dapat dipastikan tujuan orang Madura merantau
untuk meningkatkan taraf hidup yang pada gilirannnya akan diperoleh suatu peningkatan
status sosial. Sebagai perantau, mau tidak mau mereka dituntut dapat membangun suatu
interaksi sosial dengan penduduk lokal.
Dalam kehidupan sosial perantau Madura unsur-unsur primordial ini akan
menjadi penanda ciri atau karakter tersendiri yang terwujud dalam sikap dan perilaku
budaya mereka di perantauan. Tegasnya, unsur-unsur primordial yang dimiliki oleh etnik
Madura selain akan menjadi unsur pembeda identitas diri, juga menjadi referensi ketika
mereka harus membangun interaksi sosial dengan kelompok etnik lokal. Dalam sistem
interaksi sosial, perilaku budaya perantau Madura akan mengalami "perbenturan" atau

"persinggungan" dengan unsur-unsur primordial penduduk lokal sebagai penanda ciri


atau karakter mereka.
Dilihat dari faktor agama, hampir dapat dipastikan semua perantau Madura
memilih alternatif strategi puritan yaitu tetap mempertahankan agamanya (Islam) selama
hidup di rantau. Dalam perspektif antropologis, bagi orang Madura, agama Islam bukan
saja sebagai referensi dalam berpikir, bersikap, bertindak dan berprilaku yang bersumber
dari nilai-nilai Ilahiyah, melainkan sudah demikian melekat sebagai salah satu elemen
terpenting identitas etnik. Relasi antara agama Islam dan identitas etnik orang Madura
sangat kuat.
Dalam konteks ini mudah dipahami ketika orang Madura membangun interaksi
sosial di perantauan, terutama menyangkut masalah pernikahan (antaretnik), sangat
mempertimbangkan faktor agama daripada faktor lain. Artinya, para perantau Madura
hampir tidak mungkin menikah dengan penganut agama selain Islam. Namun demikian,
di luar masalah pernikahan antaretnik, orang Madura dapat membangun interaksi dengan
penduduk lokal secara baik. Misalnya, dalam aktifitas perdagangan mereka dapat
melakukan transaksi bahkan membanhun mitra tanpa merasa terhalang oleh perbedaan
kekaayaan dalam agama yang dianutnya.
Sebagai penganut agama Islam yang taat tidak membuat perantau Madura
menjadi eksklusif. Bahkan kehadiran orang Madura justru lebih mewarnai nuansa
keislaman penduduk lokal. Hal ini terlihat dengan jelas di kawasan "Tapal Kuda" hampir
semua pemuka-pemuka agama Islam berasal dari etnik Madura (bandingkan, Ahmadi:
2003).
b. Bentuk adaptasi Suku Madura di Perantauan
Alternatif adaptif biasanya juga dilakukan oleh orang Madura di perantauan
dalam hal penggunaan bahasa. Dalam pergaulan sehari-hari, seperti di tempat-tempat
publik, bahasa lokal biasanya sudah merupakan bahasa komunikasi dan interaksi sosial
perantau Madura dengan penduduk setempat. Sebagai sarana interaksi sosial, penguasaan
bahasa lokal ternyata tidak hanya untuk mengekspresikan diri, tetapi juga menjadi sarana
untuk mempermudah akses terhadap sumber daya ekonomi lokal. Salah satu faktor yang
berpengaruh terhadap keberhasilan para perantau Madura dalam menguasai sektor-sektor

ekonomi informal adalah karena kemampuannya menguasai bahasa lokal dengan baik
sesuai dengan tujuan-tujuan interaksi sosial seperti di atas. Namun demikian, mereka
tetap menggunakan bahasa Madura terutama di kalangan internal keluarga atau dengan
sesama etnik Madura.
c. Profesi Para perantau di Indonesia
Suku Madura sudah sangat terkenal dengan predikat perantau, meskipun tidak
semua orang Madura melakukannya, kebanyakan alasan dari mereka merantau selain
untuk pendidikan adalah untuk memperbaiki kondisi ekonomi mereka, hal ini dilakukan
karena di Madura sendiri perkembangan yang cukup lamban dalam pembangunan
ekonomi, mulai dari keterbatasan modal, tidak meratanya pendidikan dan hasil pertanian
yang hanya cukup untuk dimakan saja, orang Madura dikenal cukup ulet dalam
perantauan, baik sebagai tenaga kerja ataupun usaha mandiri di perantauan
1. TKI (Tenaga Kerja Indonesia)
Mungkin profesi inilah yang paling banyak ditekuni oleh sebagian orang Madura,
karena tergiur dengan upah yang ditawarkan profesi ini sering sekali jadi alternatif bagi
masyarakat Madura baik yg masih muda taupun mereka yang bahkan sudah berkeluarga,
tidak jarang dari mereka untuk menjadi TKI atau TKW meminjam uang kepada sanak
family sebagai modal awal untuk mengurus paspor dan visa, yang nantinya akan dibayar
setelah mereka bekerja, adapun Negara-negara yang menjadi tujuan antara lain Arab
Saudi, Malaysia, Brunei Darussalam, Korea dan beberapa Negara lainnya, mereka akan
bertahan disana dengan bekerja sebagai buruh kasar, seperti buruh bangunan, pembantu
rumah tangga dan lain sebagainya hanya untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan
menyekolahkan anak-anaknya. Berikut beberapa jenis pekerjaan yang ditekuni para
perantau suku Madura.

2. Pemulung dan Pengepul Barang Bekas

Bagi sebagian orang ini bahkan bukan profesi terburuk yg mereka pikirkan, tapi
bagi orang Madura ini adalah peluang, dimana mereka tidak harus mengeluarkan modal
besar atau bahkan tanpa modal sama sekali, berawal dari sebagai pemulung barangbarang
bekas yang masih laku dijual kembali atau didaur ulang seperti kertas, plastik, dan besi
bekas (meliputi, besi, kuningan, timah, dan tembaga) mereka akan berangsur
memperbaiki kondisi ekonomi, setelah cukup modal mereka akan menjadi pengepul,
bahkan tidak jarang mereka akan ikut lelang besi-besi bekas pabrik, industri sampai ke
bangkai kapal yang tidak lagi dipakai, banyak sekali orang Madura yang sukses sebagi
pengusaha barang bekas terutama besi tua, bahkan tetangga saya sudah bisa naik haji tiap
tahun, dan zakatnya dalam 1 tahun tidak kurang dari 200jt dari hasil menjadi pengusaha
besi tua. Orang Madura sangat terkenal denga menafsirkan harga besi tua bahkan sampai
ada yang bilang ke saya kalo orang Madura itu bisa menafsirkan harga besi kapal yang
lagi karam dan tidak Nampak dipermukaan pengusaha-pengusaha barang bekas ini
tersebar mulai dari Jakarta, Surabaya bahkan sampai ke Pulau Kalimantan.
3. Penjual Sate
Sate yang merupakan makanan khas Madura menjadi ladang bisnis yang
menjanjikan rupiah yang tidak sedikit, dan ketika ingat sate maka yang terlintas pertama
dipikiran kita adalah sate Madura selain sate padang mungkin, hampir diseluruh
Indonesia sate tidak terlalu susah untuk ditemui, mulai dari yang menjajakan satenya
dengan gerobak, yang berjualan di pinggir jalan sampai ke warung sate yang cukup besar,
profesi ini banyak juga dipilih orang Madura di perantauan.
4. Tukang Cukur Rambut
Profesi ini cukup unik ditengah gempuran salon-salon professional, namun orang
Madura sekali lagi jeli dalam membaca peluang, pasar yang disasar adalah menengah
kebawah dengan harga yang terjangkau mulai dari Rp. 7000 Rp. 15.000 namun
pelayanan yang diberikan tidak kalah dengan salon-salon modern, setiap kali anda
bercukur di pangkas rambut Madura setelah selesai dicukur anda akan dipijat mulai dari
sekitar bahu, leher sampai ke kepala, dan tidak sedikit yang ketagihan dengan pijatan

enaknya ini :D, profesi ini ditekuni orang Madura terutama dari kabupaten Bangkalan,
tepatnya orang-orang dari kecamatan Socah. Penyebarannya pun terbilang luas mulai dari
kota-kota besar sampai kepenjuru Papua.
5. Pelaut
Mungkin terinspirasi dari lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut dan dengan
kondisi geografis pulau Madura yang dikelilingi laut profesi ini jadi pilihan beberapa
pemuda Madura, meskipun profesi ini membutuhkan modal awal yang cukup besar,
dalam pendidikannya, sertifikasinya dll namun profesi ini cukup jadi favorit dengan gaji
yang lumayan besar, mulai dari kapal-kapal lokal, sampai kapal-kapal yang berlayar
internasional, mulai dari kapal penumpang, tanker, kapal cargo maupun kapal ikan yang
menjadi pilihan, kebanyakan yang memilih profesi ini pemuda-pemuda dari kabupaten
Bangkalan, meliputi beberapa kecamatan, mulai dari socah, arosbaya, klampis dan
sepulu.
6. Pedagang Asongan dan Warung Makan
Selain berjualan sate orang Madura yang diperantauan juga memilih menjadi
pedagang asongan seperti rokok, kopi di tempat-tempat umum, mulai dari pelabuihan,
terminal, stasiun sampai ke tempat-tempat wisata, selain menjadi pedagang asongan bagi
orang Madura yang punya cukup modal biasanya mereka akan membuka warung makan,
makanan yang dijualpun variatif mulai dari bubur kacang hijau, nasi jagung, sampai ke
Nasi Bebek, kerap sekali warung-warung orang Madura ramai dikunjungi pemburu
kuliner atau karyawan yang hanya sekedar makan, pasalnya masakan orang Madura yang
cenderung berani dalam membubuhkan bumbu sehingga menghasilkan makanan yang
lezat.

PENUTUP

A. SIMPULAN
Merantau yaitu, perginya seseorang dari tempat asal dimana ia tumbuh dan dibesarkan ke
wilayah lain. Merantau telah menjadi adat dan kebiasaan dari beberapa suku bangsa yang ada di
Indonesia seperti Suku Minangkabau di Sumatera Barat, Suku Madura di Pulau Madura dan
Suku Boyan atau Bawean di Pulau Bawean. Banyak faktor yang dapat melatarbelakangi dan
mempengaruhi minat seseorang untuk merantau. Faktor-faktor tersebut terus berkembang seiring
dengan berjalannya waktu, dari yang mulanya hanya untuk tujuan memperbaiki taraf hidup,
hingga saat ini tujuan seseorang untuk merantau dapat berupa karena urusan pekerjaan serta
tujuan untuk menempuh pendidikan tertentu. Wilayah yang menjadi tujuan dari masing-masing
suku perantau sangatlah beragam, baik itu di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, para
perantau juga punya cara tersendiri untuk dapat beradaptasi dan melakukan penyesuaian
terhadap budaya maupun lingkungan sekitar wilayah rantau. Bentuk adaptasi tersebutpun
sangatlah beragam.tergantung dari para perantau itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

https://achmadsunjayadi.wordpress.com/2007/03/10/mempelajari-budaya-merantau-orang-boyan
http://bankkamu.blogspot.com/2010/12/mempelajari-budaya-merantau-orang-boyan.html
http://ceritarantau.blogspot.com/2013/07/pengertian-dan-sejarah-kata-merantau.html
https://esfandynamic.wordpress.com/2013/11/04/budaya-merantau/
http://freandana.blogspot.com/tradisi-merantau-dan-pulang-kampung.html
http://infopenelitian.blogspot.com/2009/12/budaya-merantau-orang-minang.html
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Merantau
http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Minangkabau
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bawean
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Madura
https://wahyuriando.wordpress.com/2013/07/25/merantau/
http://wiyatablog.blogspot.com/2008/11/interaksi-sosial-orang-madura-di-rantau_4032.html