Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Uraian Tumbuhan

2.1.1 Morfologi Tanaman Sirsak


a. Daun
Daun berbentuk bulat telur terbalik, berwarna hijau muda sampai hijau tua,
ujung daun meruncing, pinggiran rata dan permukaan daun mengkilap
(Radi, 1998).
b. Bunga
Bunga tunggal (flos simplex) dalam satu bunga terdapat banyak putik
sehingga dinamakan bunga berpistil majemuk. bagian bunga tersusun secara
hemicylis, yaitu sebagian terdapat dalam lingkaran yang lain spiral atau terpencar.
mahkota bunga berjumlah 6 sepalum yang terdiri atas 2 lingkaran, bentuknya
hampir segi tiga, tebal dan kaku, berwarna kuning keputih-putihan, dan setelah tua
mekar, kemudian lepas dari dasar bunganya. putik dan benang sari lebar dengan
banyak karpel (bakal buah). bunga keluar dari ketiak daun, cabang, ranting, atau
pohon. bunga umumnya sempurna, tetapi terkadang hanya bunga jantan dan
bunga betina saja dalam satu pohon. bunga melakukan penyerbukan silang, karena
umumnya tepung sari matang lebih dahulu sebelum putiknya (Radi, 1998).
c. Buah
Buah sejati berganda (agregat fruit) yakni buah yang berasal dari satu
bunga dengan banyak bakal buah tetapi membentuk satu buah. buah memiliki duri
sisik halus. apabila sudah tua daging buah berwarna putih, lembek, dan berserat
dengan banyak biji berwarna coklat kehitaman (Radi, 1998).

d. Biji
Berwarna coklat agak kehitaman dan keras, berujung tumpul, permukaan
halus mengkilat dengan ukuran panjang kira-kira 16,8 mm dan lebar 9,6 mm.
jumlah biji dalam satu buah bervariasi, berkisar antara 20-70 butir biji normal,
sedangkan yang tidak normal berwarna putih kecoklatan dan tidak berisi
(Radi, 1998).
e. Pohon
Memiliki model Troll, ketinggian mencapai 8-10 meter, dan diameter
batang 10-30 cm (Radi, 1998).
2.1.2

Daerah Asal dan Penyebaran


Sirsak (Annona muricata Linn.) termasuk tanaman tahunan yang dapat

tumbuh dan berbuah sepanjang tahun, apabila air tanah mencukupi selama
pertumbuhannya. Menurut beberapa literatur, tanaman sirsak berasal dari Amerika
Tengah. Di Indonesia tanaman sirsak menyebar dan tumbuh baik mulai dari
daratan rendah beriklim kering sampai daerah basah dengan ketinggian 1.000
meter dari permukaan laut. Penyebaran hampir merata dibuktikan dengan adanya
nama-nama daerah yang berbeda beda untuk tanaman sirsak (Radi, 1998).
Tanaman ini memiliki batang utama yang kecil dan pendek. Daunnya
berbentuk bulat telur agak tebal dan pada permukaan bagian atas yang halus
berwarna hijau tua, sedangkan pada bagian bawah daun warnanya lebih tua
(Septiatin, 2009).
2.1.3

Sistematika Tumbuhan
Tanaman sirsak (Annona muricata Linn.) termasuk tanaman tahunan

dengan sistematik sebagai berikut :

2.1.4

Divisi

: Spermatophyta

Sub Divisio

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyldonae

Bangsa

: Ranunculales

Suku

: Annonaceae

Marga

: Annona

Species

: Annona muricata Linn.

(Depkes RI, 2001)

Kegunaan
Kegunaan daun sirsak dari artikel diketahui dapat menyembuhkan

penyakit kanker, caranya dengan merebus 10 lembar daun sirsak yang berwarna
hijau tua kedalam 3 gelas air dan direbus hingga airnya tinggal 1 gelas saja. Air
rebusan diminumkan kepada penderitanya 2 kali sehari. Setelah diminum, badan
pasien terasa panas, mirip dengan efek kemoterapi, bahkan lebih hebat lagi karena
rebusan daun sirsak hanya membunuh sel-sel yang tumbuh abnormal dan
membiarkan sel-sel yang tumbuh normal. Sedangkan kemoterapi masih ada efek
membunuh juga sebagian sel-sel yang normal (Anonimb, 2010).
Menurut hasil penelitian Dr. Sugeng Juwono Purwohusodo dari
Yogyakarta, tanaman sirsak ini dapat digunakan untuk obat nyamuk, dalam
bentuk infusa, hasilnya infus (cairan) yang kadar ekstrak racunnya adalah 10%.
Ekstrak tersebut diberikan kepada larva instar III dari nyamuk Aides dan Cules
yang direndam dalam 100 ml air. Dari 25 ekor nyamuk ternyata mati semua. Dari
ekstrak daun sirsak : dengan 6,48 ml ekstrak dalam 100 ml air, 50% larva mati
dalam 24 jam, sedangkan jika 5,5 ml sebanyak 50% mati dalam waktu 48 jam
(Radi, 1998).

2.2

Uraian Kandungan Kimia Tumbuhan

2.2.1

Alkaloida
Alkaloida merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar.

Alkaloida mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih
atom nitrogen, biasanya dalam gabungan sebagai bagian dari sistem siklik.
Alkaloida mempunyai aktivitas fisiologi yang menonjol sehingga digunakan
secara luas dalam bidang pengobatan (Harborne, 1987).
Ada tiga pereaksi yang sering digunakan dalam skrining fitokimia untuk
mendeteksi alkaloida sebagai pereaksi pengendapan yaitu pereaksi Mayer,
pereaksi Bouchardat, dan pereaksi Dragendorff (Farnsworth, 1966).
2.2.2

Flavonoida
Flavonoida mencangkup banyak pigmen yang paling umum dan terdapat

pada seluruh dunia tumbuhan mulai dari fungus sampai angiospermae. Pada
tumbuhan tinggi, flavonoida terdapat baik dalam bagian vegetatif maupun dalam
bunga. Pigmen bunga flavonoida berperan jelas dalam menarik burung dan
serangga penyerbuk bunga. Beberapa fungsi flavonoida pada tumbuhan ialah
pengatur tumbuh, pengatur fotosintesis, kerja antimikroba dan antivirus serta kerja
terhadap serangga (Robinson, 1995).
2.2.3

Saponin
Saponin mula-mula diberi nama demikian karena sifatnya yang

menyerupai sabun (bahasa latin sapo berarti sabun). Saponin tersebar luas
diantara tanaman tinggi. Saponin merupakan senyawa berasa pahit, menusuk,
menyebabkan bersin dan mengakibatkan iritasi terhadap selaput lendir. Saponin
adalah senyawa aktif permukaan yang kuat yang menimbulkan busa jika dikocok.

Dalam larutan yang sangat encer saponin sangat beracun untuk ikan, dan
tumbuhan yang mengandung saponin telah digunakan sebagai racun ikan selama
beratus-ratus tahun (Robinson, 1995: Gunawan, et al, 2004).
2.2.4

Tanin
Tanin merupakan salah satu senyawa yang termasuk ke dalam golongan

polifenol yang terdapat dalam tumbuhan, yang mempunyai rasa sepat dan
memiliki kemampuan menyamak kulit. Tanin terdapat luas dalam tumbuhan
berpembuluh, dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu
(Harborne, 1987).
Umumnya tumbuhan yang mengandung tanin dihindari oleh pemakan
tumbuhan karena rasanya yang sepat. Salah satu fungsi tanin dalam tumbuhan
adalah sebagai penolak hewan pemakan tumbuhan (herbivora) (Harborne, 1987).
2.2.5

Glikosida
Glikosida adalah senyawa yang terdiri atas gabungan gula dan bukan gula.

Bagian gula biasa disebut glikon sementara bagian bukan gula disebut aglikon
atau genin (Gunawan, et al, 2002).
Klasifikasi (penggolongan) glikosida sangat sukar. Bila ditinjau dari
gulanya, akan dijumpai gula yang strukturnya belum jelas. Sedangkan bila
ditinjau dari aglikonnya akan dijumpai hampir semua golongan konstituen
tumbuhan, misalnya tanin, sterol, terpenoid, dan flavonoid. Hampir semua
glikosida dapat dihidrolisis dengan pendidihan dengan asam mineral. Hidrolisis
dalam tumbuhan juga terjadi karena enzim yang terdapat dalam tumbuhan
tersebut. Nama enzimnya secara umum adalah beta glukosidase, sedangkan untuk
ramnosa nama enzimnya adalah ramnase (Anonimc, 2010).

2.2.6

Glikosida Antrakuinon
Golongan kuinon alam terbesar terdiri atas antrakuinon. Beberapa

antrakuinon merupakan zat warna penting dan sebagai pencahar. Keluarga


tumbuhan yang kaya akan senyawa jenis ini adalah Rubiaceae, Rhamnaceae,
Polygonaceae.
Antrakuinon biasanya berupa senyawa kristal bertitik leleh tinggi, larut
dalam pelarut organik biasa, senyawa ini biasanya berwarna merah, tetapi yang
lainnya berwarna kuning sampai coklat, larut dalam larutan basa dengan
membentuk warna violet merah (Robinson, 1995).
2.2.7

Steroid/Triterpenoid
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam

satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik,
yaitu skualen. Triterpenoid adalah senyawa tanpa warna, berbentuk kristal, sering
kali bertitik leleh tinggi dan aktif optik. Uji yang banyak digunakan ialah reaksi
Liebermann Burchard (asam asetat anhidrida H2SO4 pekat) yang kebanyakan
triterpena dan sterol memberikan warna hijau biru. Steroida adalah triterpena yang
kerangka

dasarnya

sistem

cincin

siklopentana

perhidrofenantren

(Harborne, 1987). dapat dilihat pada gambar 2 berikut ini :

Gambar 1. Struktur dasar steroida dan sistem penomorannya

Dahulu steroida dianggap sebagai senyawa satwa tetapi sekarang ini


makin banyak senyawa steroida yang ditemukan dalam jaringan tumbuhan
(fitosterol). Fitosterol merupakan senyawa steroida yang berasal dari tumbuhan.
Senyawa fitosterol yang biasa terdapat pada tumbuhan tinggi yaitu sitosterol,
stigmasterol, dan kampesterol (Harborne, 1987).
2.3

Metode Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut

sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair
(Depkes RI, 2000)
Ekstraksi dengan menggunakan pelarut dapat dilakukan dengan beberapa
cara yaitu :
Cara Dingin
a. Maserasi
Maserasi adalah proses pengekstraksi simplisia dengan menggunakan
pelarut

dengan

beberapa

kali

pengadukan

pada

temperatur

ruangan

(Depkes RI, 2000).


b. Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut sampai sempurna (exhaustive
extraction) yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Proses ini terdiri
dari tahapan pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi
sebenarnya (penetasan/penampungan ekstrak) (Depkes RI, 2000).
Cara Panas
a. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya,
selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan

adanya pendingin balik. Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu


pertama sampai 3-5 kali sehingga dapat termasuk proses ekstraksi sempurna
(Depkes RI, 2000).
b. Soxhlet
Soxhlet adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang umumnya dilakukan
dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut
relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Depkes RI, 2000).
c. Digesti
Digesti adalah maserasi dengan pengadukan kontinu pada temperatur yang
lebih tinggi dari temperatur ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada
temperatur 40-500C (Depkes RI, 2000).
d. Infus
Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati
dengan air pada suhu 900C selama 15 menit (Depkes RI, 1979).
e. Dekok
Dekok adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati
dengan air pada waktu yang lebih lama 30 menit dan temperatur sampai titik
didih air (Depkes RI, 2000).
2.4

Kromatografi
Kromatografi adalah suatu metode pemisahan berdasarkan perbedaan

perpindahan dari komponen-komponen senyawa diantara dua fase yaitu fase diam
(dapat berupa zat cair atau zat padat) dan fase gerak (dapat berupa gas atau zat
cair) (Depkes RI, 1995). Jika fase diam berupa zat padat maka cara tersebut
dikenal sebagai kromatografi serapan, jika zat cair dikenal sebagai kromatografi

partisi. Karena fase gerak dapat berupa zat cair dan gas maka ada empat macam
sistem kromatografi (Sastrohamidjojo, 1985):
1. Fase gerak zat cair fase diam padat:
- Kromatografi lapis tipis
- Kromatografi penukar ion
2. Fase gerak gas fase diam padat:
- Kromatografi gas padat
3. Fase gerak zat cair fase diam zat cair:
- Kromatografi cair kinerja tinggi
4. Fase gerak gas fase diam zat cair:
- Kromatografi gas cair
- Kromatografi kolom kapiler
Pemisahan dan pemurnian kandungan tumbuhan dilakukan dengan
menggunakan salah satu atau gabungan dari beberapa teknik tersebut dan dapat
digunakan pada skala mikro maupun makro (Harborne, 1987).
2.4.1

Kromatografi Lapis Tipis


Kromatografi lapis tipis ialah metode pemisahan fisikokimia. Lapisan

pemisah terdiri atas bahan berbutir-butir (fase diam), ditempatkan pada penyangga
berupa plat gelas, logam atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan dipisah
berupa larutan yang di totolkan baik berupa bercak ataupun pita. Setelah plat atau
lapisan dimasukkan ke dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan
pengembang yang cocok (fase gerak), pemisahan terjadi selama perambatan
kapiler (pengembangan). Selanjutnya senyawa yang tidak berwarna harus
ditampakkan (stahl, 1985).

Pendeteksian bercak hasil pemisahan dapat dilakukan dengan beberapa


cara. Untuk senyawa tak berwarna cara yang paling sederhana adalah dilakukan
pengamatan dengan sinar ultraviolet. Beberapa senyawa organik bersinar atau
berfluorosensi jika disinari dengan sinar ultraviolet gelombang pendek (254 nm)
atau gelombang panjang (366 nm). Jika dengan cara itu senyawa tidak dapat
dideteksi maka harus dicoba disemprot dengan pereaksi yang membuat bercak
tersebut tampak yaitu pertama tanpa pemanasan, kemudian bila perlu dengan
pemanasan (Gritter, et al, 1991; Stahl, 1985).
a. Fase Diam (Lapisan Penjerap)
Pada kromatografi lapis tipis, fase diam berupa lapisan tipis yang terdiri
atas bahan padat yang dilapiskan pada permukaan penyangga datar yang biasanya
terbuat dari kaca, dapat pula terbuat dari plat polimer atau logam. Lapisan melekat
pada permukaan dengan bantuan bahan pengikat, biasanya kalsium sulfat atau
amilum (pati). Penjerap yang umum dipakai untuk kromatografi lapis tipis adalah
silika gel, alumina, kieselgur, dan selulosa (Gritter, et al, 1991).
Dua sifat yang penting dari fase diam adalah ukuran partikel dan
homogenitasnya, karena adhesi terhadap penyokong sangat tergantung pada kedua
sifat tersebut. Ukuran partikel yang biasa digunakan adalah 1-25 mikron. Partikel
yang butirannya sangat kasar tidak akan memberikan hasil yang memuaskan dan
salah satu cara untuk memperbaiki hasil pemisahan adalah dengan menggunakan
fase diam yang butirannya lebih halus. Butiran yang halus memberikan aliran
pelarut yang lebih lambat dan resolusi yang lebih baik (Sastrohamidjojo, 1985).

b. Fase Gerak (Pelarut Pengembang)


Fase gerak ialah medium angkut yang terdiri atas satu atau beberapa
pelarut. Jika diperlukan sistem pelarut multi komponen, harus berupa suatu
campuran sesederhana mungkin yang terdiri atas maksimum tiga komponen
(Stahl, 1985).
Dalam pemisahan senyawa organik selalu menggunakan pelarut campur.
Tujuan menggunakan pelarut campur adalah untuk memperoleh pemisahan
senyawa yang baik. Kombinasi pelarut adalah berdasarkan atas polaritas masingmasing pelarut, sehingga dengan demikian akan diperoleh sistem pengembang
yang cocok. Pelarut pengembang yang digunakan dalam kromatografi lapis tipis
antara lain: n-heksana, karbontetraklorida, benzena, kloroform, eter, etilasetat,
piridian, aseton, etanol, metanol dan air (Gritter, et al, 1991).
c. Harga Rf
Dalam mengidentifikasi noda-noda dalam kromatografi sangat lazim
menggunakan harga Rf (Retordation Factor) yang didefinisikan sebagai:
Rf =

Jarak titik pusat bercak dari titik awal


Jarak garis depan pelarut dari titik awal
Harga Rf beragam mulai dari 0 sampai 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga
Rf (Sastrohamidjojo, 1985):
a. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan
b. Sifat Penjerap
c. Tebal dan kerataan dari lapisan Penjerap
d. Pelarut dan derajat kemurniannya
e. Derajat kejenuhan uap pengembang dalam bejana
f. Teknik percobaan

g. Jumlah cuplikan yang digunakan


h. Suhu
i. Kesetimbangan
2.4.2 Kromatografi Cair Vakum
Cara ini pertama kali dipublikasikan oleh Coll dkk. Pada tahun 1977
dengan menggunakan corong Buchner kaca masir atau kolom pendek untuk
mengisolasi diterpena sembrenoida dari terumbu karang Australia. Kolom
kromatografi dikemas kering dalam keadaan vakum agar diperoleh kerapatan
kemasan maksimum. Vakum dihentikan, pelarut yang kepolarannya rendah
dituangkan ke permukaan penjerap lalu divakumkan lagi. Kolom dihisap sampai
kering dan sekarang siap dipakai.
Sampel dilarutkan dalam pelarut yang cocok, dimasukkan langsung pada
bagian atas kolom atau pada lapisan penjerap dan dihisap perlahan-lahan kedalam
kemasan dengan memvakumkannya. Kolom dielusi dengan campuran pelarut
yang cocok, mulai dari pelarut yang kepolarannya rendah lalu kepolarannya
ditingkatkan perlahan-lahan, kolom dihisap sampai kering pada setiap
pengumpulan fraksi. Oleh karena itu kromatografi cair vakum menggunakan
tekanan rendah untuk meningkatkan laju aliran fase gerak (Hostettmann, et al,
1995).
2.4.3

Kromatografi Lapis Tipis Preparatif


Kromatografi lapis tipis (KLT) preparatif merupakan salah satu metode

pemisahan dengan menggunakan peralatan sederhana. Ketebalan penjerap yang


sering dipakai adalah 0,5 - 2 mm. ukuran plat kromatografi biasanya 20 x 20 cm.
Pembatasan ketebalan lapisan dan ukuran plat sudah tentu mengurangi jumlah

bahan yang dapat dipisahkan dengan KLT preparatif. Penjerap yang paling umum
digunakan adalah silika gel.
Penotolan cuplikan dilakukan dengan melarutkan cuplikan dalam sedikit
pelarut. Cuplikan ditotolkan berupa pita dengan jarak sesempit mungkin karena
pemisahan tergantung pada lebar pita. Penotolan dapat dilakukan dengan pipet
tetapi lebih baik dengan penotol otomatis. Pelarut yang baik untuk melarutkan
cuplikan adalah pelarut yang atsiri. Pengembangan plat KLT preparatif dilakukan
dalam bejana kaca yang dapat menampung beberapa plat. Bejana dijaga tetap
jenuh dengan pelarut pengembang dengan bantuan kertas saring yang diletakkan
berdiri disekeliling permukaan bagian dalam bejana (Hostettmann, et al, 1995).
Kebanyakan Penjerap KLT preparatif mengandung indikator fluorosensi
yang membantu mendeteksi letak pita yang terpisah pada senyawa yang menyerap
sinar ultraviolet. Untuk mendeteksi senyawa yang tidak menyerap sinar ultraviolet
yaitu dengan cara menutup plat dengan sepotong kaca lalu menyemprot kedua sisi
dengan penyemprot (Hostettmann, et al, 1995).
Setelah pita ditampakkan dengan cara yang tidak merusak maka senyawa
yang tidak berwarna dengan penjerap dikerok dari plat kaca. Cara ini berguna
untuk memisahkan campuran beberapa senyawa sehingga diperoleh senyawa
murni (Gritter, et al, 1991).
2.5

Spektrofotometri
Spektrofotometri adalah metode pengukuran dimana sumber energinya

berupa sinar/cahaya dan sistem detektornya menggunakan sel fotolistrik


(Noerdin, 1985).

2.5.1

Spektrofotometri Ultraviolet
Spektrum ultraviolet adalah suatu gambaran yang menyatakan hubungan

antara panjang gelombang atau frekuensi serapan terhadap intensitas serapan


(transmitasi atau adsorbansi) (Sastrohamidjojo, 1985). Apabila suatu molekul
menyerap radiasi ultraviolet, di dalam molekul tersebut terjadi perpindahan
tingkat energi elektron-elektron ikatan pada orbital molekul paling luar dari
tingkat energi yang lebih rendah ke tingkat energi yang paling tinggi
(Noerdin, 1985).
Pelarut yang banyak digunakan untuk spektrofotometri UV adalah etanol
95% karena kebanyakan golongan senyawa larut dalam pelarut tersebut. Alkohol
absolut komersial harus dihindari karena mengandung benzena yang dapat
menyerap di daerah sinar UV pendek. Pelarut yang sering digunakan ialah air,
etanol, metanol, n-heksana, eter minyak bumi dan eter (Harborne, 1987).
2.5.2

Spektrofotometri Inframerah
Sinar inframerah bila dilewatkan melalui cuplikan senyawa organik maka

sejumlah frekuensi akan diserap sedangkan frekuensi yang lain diteruskan tanpa
diserap. Daerah inframerah terletak antara spektrum elektromagnetik cahaya
tampak dan spektrum radio, yakni antara 400-4000 cm-1 (Noerdin, 1985).
Daerah pada spektrum inframerah di atas bilangan gelombang 1200 cm-1
menunjukkan pita spektrum atau puncak yang disebabkan oleh getaran ikatan
kimia atau gugus fungsi dalam molekul yang ditelaah. Daerah di bawah 1200 cm-1
menunjukkan pita yang disebabkan oleh getaran seluruh molekul, dan karena
kerumitannya dikenal sebagai daerah sidik jari. Intensitas berbagai pita direkam
secara subjektif pada skala sederhana.

Kenyataan yang menunjukkan bahwa banyak gugus fungsi dapat


diidentifikasi dengan menggunakan frekuensi getaran khasnya mengakibatkan
spektrofotometri inframerah merupakan cara paling sederhana dan paling
terandalkan dalam menentukan golongan senyawa yang terkandung dalam sebuah
molekul (Harborne, 1987).