Anda di halaman 1dari 25

ANALISIS DATA DAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN KOMUNITAS

PADA AGREGATTE DENGAN ISPA


KELURAHAN TULUSREJO KECAMATAN LOWOKWARU KOTA
MALANG

Oleh: Kelompok 2
Afin Firstian Rahadi

115070200111009

Ida Maryati

115070200111011

Hery Eni Suryani

115070200111013

Amildya Dwi Arisanti

115070200111051

Reny Rudy Asista

115070200111053

Hartono

115070200111055

Maretta Sekar Dewi

115070207111017

Giovanny Sumeinar

115070207111019

Putri Aneswari

115070207111023

Program Studi Ilmu Keperawatan


Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) adalah penurunan
kemampuan pertahanan alami jalan nafas dalam menghadapi
organisme asing yang terjadi secara tiba-tiba, menyerang hidung,
tenggorokan, telinga bagian tengah serta saluran napas bagian
dalam sampai ke paru-paru. Biasanya menyerang anak usia 2
bulan-5 tahun. (Whaley and Wong; 1991; 1418).
ISPA banyak diderita oleh anak- anak, baik dinegara
berkembang maupun dinegara maju dan sudah mampu dan
banyak dari mereka perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya
cukup gawat. Penyakit-penyakit saluran pernapasan pada masa
bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada
masa dewasa. ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang
penting dan

cukup

berbahaya karena

menyebabkan

kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4
kematian yang terjadi.
Berdasarkan penelitian setiap anak diperkirakan mengalami
3-6 episode ISPA setiap tahunnya. 40 % 60 % dari kunjungan di
Puskesmas adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang
disebabkan oleh ISPA mencakup 20 % 30 %. Kematian yang
terbesar umumnya adalah karena pneumonia dan pada bayi
berumur kurang dari 2 bulan. Penyakit ini tidak mengenal musim,
baik kemarau, pacaroba atau hujan tetap bisa menyerang warga.
Cara penularan virus influenza ini melalui air ludah, darah,
bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup
oleh orang sehat kesaluran pernapasannya. Tiga hari setelah itu,
bilamana daya tahan tubuh menurun maka suhu badan naik (suhu
badan dapat meningkat dari 39,5 0C sampai 40,50C). Terasalah
badan panas/demam dan bersin-bersin. Hidung mengeluarkan

cairan (ingus), sakit tenggorokan, batuk-batuk (mula-mula tidak


berdahak tapi kemudian berdahak), pusing, badan terasa lemah,
mual, muntah, sakit perut, serta diare.
Kebetulan, ciri-ciri tersebut dirasakan pula oleh warga
masyarakat RW 10 RT 05 dan 06 kelurahan Tulusrejo kecamatan
Lowokwaru Kabupaten Malang. Walaupun telah banyak warga
masyarakat yang sudah berkonsultasi ke pelayanan kesehatan
untuk mengetahui penyakit yang dideritanya, namun sebagian besa
masih tidak mengenal penyakit ini. Hal ini juga berdampak pada
kegiatan rutinitas dari setiap orang, yang semestinya harus bekerja
namun karena sedang sakit terpaksa harus beristirahat di rumah.
Oleh karena itu, penting sekali membekali pengetahuan bagi
masyarakat untuk memahami tentang ruang lingkup bahkan
informasi lainnya mengenai ISPA. Maka dari itu, akan diadakannya
promosi kesehatan ataupun pendidikan kesehatan bagi masyarakat
untuk mengembangkan pola pikir mengenai kesehatan khususnya
mengenai penyakit ISPA agar ISPA bisa dicegah ataupun diatasi.
1.2.

Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Mampu mengaplikasikan konsep dan teori keperawatan
komunitas pada daerah binaan.
1.2.2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan praktek keperawatan komunitas
diharapkan mahasiswa mampu:
a. Mengidentifikasi masalah kesehatan yang ada di RW 10
RT 05 dan 06 kelurahan Tulusrejo kecamatan Lowokwaru
Kabupaten Malang.
b. Menganalisa masalah kesehatan yang ada di RW 10 RT
05 dan 06 kelurahan Tulusrejo kecamatan Lowokwaru
Kabupaten Malang.
c. Menyusun rencana tindakan (plan of action) yang
berhubungan dengan masalah kesehatan yang ada di
RW 10 RT 05 dan 06 kelurahan Tulusrejo kecamatan
Lowokwaru Kabupaten Malang.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.

Gambaran Wilayah Binaan Kelurahan Tulusrejo


Kelurahan Tulusrejo secara bagian integral tidak terpisahkan dari
sistem perwilayahan kecamatan Lowokwaru. Kelurahan Tulusrejo terdiri
dari 16 RW. Pada RW 10 terdapat 6 RT. Kelurahan Tulusrejo mempunyai
luas wilayah 134,396 km2 dengan jumlah penduduk 16.915 jiwa 3.495
KK. Rata-rata mata pencaharian masyarakat Kelurahan Tulusrejo adalah
karyawan dan wiraswasta/ pedagang.

Gambar 3.1 Peta Wilayah Kelurahan Tulusrejo


Kelurahan Tulusrejo kecamatan Lowokwaru Kabupaten Malang dengan
batas wilayah:

Sebelah utara

Sebelah selatan : Kelurahan Lowokwaru

Sebelah barat

: Kelurahan Jatimulya

Sebelah timur

: Kelurahan Purwatoro

: Kelurahan Mojolangu

Fasilitas ibadah yang tersedia di kelurahan Tulusrejo ada 17


masjid dan 32 musholla. Prasarana pendidikan yang tersedia di kelurahan
Tulusrejo ada 6 TK, 5 SD, 2 SLTP, 2 SMU dan 1 Perguruan Tinggi.
Prasarana kesehatan yang tersedia di kelurahan tulusrejo ada 13
posyandu, 1 poliklinik/ balai pelayanan masyarakat dan 1 puskesmas.
Jalan kelurahan adalah jalan aspal dan jarak antara kelurahan ini dengan
tempat pelayanan kesehatan puskesmas kendalsari cukup dekat

2.1.

Pengkategorian Data
No.

Komponen

Data

Pengkajian
1.

2.

Inti Pengkajian
Demografi
Responden berjenis kelamin lakilaki, sebanyak 62%, Sedangkan
responden yang berjenis kelamin
perempuan sebanyak 38%.
Sebanyak
37%
responden
memiliki pendidikan terakhir
SMP, 33% responden memiliki
pendidikan terakhir SD, 27%
responden memiliki pendidikan
terakhir SMA, dan 3% responden
memiliki pendidikan terakhir
Sarjana.
Sebanyak
56%
responden
memiliki pekerjaan swasta, 28%
responden tidak bekerja, 13%
responden memiliki pekerjaan
wiraswasta, dan 5% responden
memiliki pekerjaan PNS.
Status Kesehatan Sebanyak
87%
pernah
mengalami batuk dalam kurun
waktu 1 bulan terakhir, dan
sisanya 13% tidak mengalami
batuk pada kurun waktu 1 bulan
terakhir.
Sebanyak 100% anak responden
batuk < 3 minggu, dan anak
yang mengalami batuk > 3
minggu sebanyak 0%.
Sebanyak 61% anak batuk tidak
berdahak, dan 39% anak batuk
berdahak.
Sebanyak 64% warna dahak
anak putih, 24 % warna dahak
anak hijau, dan 12% warna
dahak anak kuning.
Sebanyak 79% batuk anak
disertai dengan keluhan demam,
dan 21% batuk anak tidak
disertai demam.
Sebanyak 68% batuk anak
disertai dengan keluhan seperti
demam, pilek, mual, muntah,
sakit tenggorokan; dan 32%
batuk anak tidak disertai keluhan
tersebut.

3.

Status
Kecukupan Gizi

Sebanyak 69% anak tidak


mempunyai alergi, dan 31%
anak mempunyai alergi.
Sebanyak 28% anak mempunyai
alergi terhadap makanan, 3%
anak alergi terhadap cuaca
dingin dan 69% anak tidak
mempunyai alergi.
Sebanyak 84% keluarga tidak
mengalami ISPA, dan 16%
keluarga mengalami ISPA.
sebanyak
63%,
sedangkan
responden yang meluangkan
waktu untuk makan bersama
sebanyak 37%.
sebanyak 9%, diletakkan di atas
kompor
setelah
dimasak
sebanyak 3%, dan tidak ada
responden yang meletakkan
makanan di atas meja dan
dibiarkan dibuka.
pengolahan makanan pada saat
memasak lebih sering di goreng
sebanyak
94%,
sedangkan
responden
yang
memasak
dengan direbus sebanyak 6%.
Tidak ada responden yang
sering
mengolah
makanan
dengan cara dikukus, dibakar,
dan ditumis.
semuanya menggunakan MSG
pada saat memasak yaitu 100%
responden.
responden mengkonsumsi air
minum dengan cara dimasak
terlebih dahulu sebanyak 75%,
sedangkan responden yang
mengkonsumsi
air
galon
sebanyak 22%, untuk sisanya
mengkonsumsi air yang kadang
tidak dimasak terlebih dahulu
sebanyak 3%, dan tidak ada
responden yang mengkonsumsi
air minum yang tidak dimasak
terlebih dahulu.
responden memasak makanan
dengan
terlebih
dahulu

memotong
dan
kemudian
mencucinya
yaitu
sebanyak
70%,
responden
yang
mencucinya
kemudian
memotong sebanyak 15%, dan
untuk sisanya responden tidak
memasak hanya membeli di
warung sebesar 15%.
responden memberikan ASI
Eksklusif > 2 tahun sebanyak
78%, sedangkan responden
yang memberikan ASI Eksklusif
< 2 tahun sebanyak 22%.
besar responden mengkosumsi
karbohidrat setiap hari sebesar
87%, mengkonsumsi karbohidrat
tidak setiap hari sebesar 13%,
dan tidak pernah mengkonsumsi
karbohidrat sebanyak 0%.
responden sering mengkonsumsi
protein
nabati
setiap
hari
sebanyak 67%, mengkonsumsi
protein nabati tidak setiap hari
sebanyak 33%, dan tidak pernah
mengkonsumsi protein nabati
sebanyak 0%.
bahwa
responden
yang
mengkonsumsi protein hewani
setiap hari sebanyak 2%,
responden
yang
yang
mengkonsumsi protein hewani
tidak setiap hari sebanyak 94%,
dan responden yang tidak
pernah mengkonsums protein
hewani sebanyak 0%.
responden mengkonsumsi lemak
setiap hari sebanyak 9%,
mengkonsumsi
lemak
tidak
setiap hari sebanyak 24%, dan
responden yang tidak pernah
mengkonsumsi lemak sebanyak
67%.
responden
mengkonsumsi
sayuran setiap hari sebanyak
47%, mengkonsumsi sayuran
tidak setiap hari sebanyak 50%,
dan responden yang tidak

4.

Pengetahuan dan
Sikap

pernah mengkonsumsi sayur


sebanyak 3%.
bahwa
responden
yang
mengkonsumsi buah setiap hari
sebanyak 25%, responden yang
mengkonsumsi buah tidak setiap
hari
sebanyak
72%,
dan
responden yang tidak pernah
mengkonsumsi buah sebanyak
3%.
menggunakan garam beryodium
pada saat memasak yaitu
sebanyak 100%, dan yang tidak
pernah menggunakan garam
beryodium sebanyak 0%.
tidak dapat menjawab dengan
benar mengenai penyakit ISPA
sebanyak
78%,
sedangkan
responden
yang
dapat
menjawab
dengan
benar
mengenai
penyakit
ISPA
sebanyak 22%. Jawaban benar
dari ISPA misalnya ISPA adalah
penyakit infeksi yang menyerang
sistem pernafasan.
responden mengatakan ISPA
tergolong
penyakit
sangat
berbahaya sebanyak
3%.
Sedangkan responden yang
mengatakan ISPA berbahaya
sebanyak 75%. Responden yang
ISPA tergolong penyakit biasa
saja
sebanyak
19%,
dan
responden yang mengatakan
tidak tahu sebanyak 3%.
responden mengatakan ISPA
menular
sebanyak
75%.
Sedangkan responden yang
mengatakan ISPA tidak menular
sebanyak 25%.
besar
responden
dapat
menjawab
dengan
benar
penyebab ISPA sebanyak 56%.
Sedangkan responden yang
salah menjawab atau tidak tahu
penyebab ISPA sebanyak 44%.
responden
yang
menjawab

benar
tanda-tanda
ISPA
sebanyak 37%, dan responden
yang menjawa salah tanda-tanda
ISPA sebanyak 63%. Tandatanda dari ISPA adalah batuk,
hidung
beringus,
hidung
tersumbat, sakit kepala, sakit
tenggorokan, demam ringan,
sakit telinga.
responden
berobat
ke
Puskesmas jika anak sakit ISPA
sebanyak
47%.
Sedangkan
responden yang berobat ke
bidan/mantri/dokter jika anak
sakit ISPA sebanyak 19%.
Responden yang anaknya sakit
ISPA dibelikan obat sendiri
sebanyak 31% dan responden
yang jika anaknya sakit ISPA
tidak diobati sebanyak 3%.
anggota keluarga yang merawat
anak sakit adalah ibu sebanyak
53%.
Sedangkan
anggota
keluarga yang merawat anak
sakit adalah bapak dan ibu
sebanyak 35%. Responden yang
merawat jika anak sakit adalah
nenek atau anggota keluarga
lain sebanyak 9% dan anggota
keluarga yang merawat jika anak
sakit adalah bapak sebanyak
3%.
responden dapat menjawab
dengan benar manfaat imunisasi
sebanyak
63%,
yaitu
meningkatkan kekebalan tubuh
dan mencegah infeksi berulang.
Sedangkan responden yang
salah
menjawab
manfaat
imunisasi sebanyak 37%.
besar responden yang sering
memanfaatkan
pelayanan
kesehatan
sebanyak
69%.
Sedangkan responden yang
jarang memanfaatkan pelayanan
kesehatan sebanyak 31%, dan
yang
tidak
pernah
memanfaatkan
pelayanan

5.

History

kesehatan sebanyak 0%.


ada anggota keluarga yang
merokok
sebanyak
78%.
Sedangkan tidak ada anggota
keluarga
yang
merokok
sebanyak 22%.
yang merokok dalam keluarga
adalah bapak sebanyak 92%.
Sedangkan yang merokok dalam
keluarga
adalah
anggota
keluarga lain sebanyak 8%, yaitu
kakek atau paman.
anak responden yang mendapat
imunisasi dasar sebanyak 100%,
dan anak responden yang tidak
mendapat
imunisasi
dasar
sebanyak 0%.
persalinan
anak
di
bidan
sebanyak
78%.
Sedangkan
persalinan anak di rumah sakit
sebanyak 22%. Persalinan anak
yang dilakukan di puskesmas
dan dukun sebanyak 0%.
kelahiran anak tanpa operasi
sebanyak
94%.
Sedangkan
kelahiran anak dengan operasi
sesar sebanyak 6%.
anak lahir normal sebanyak
100%, sedangkan yang tidak
lahir normal sebanyak 0%.
anak lahir sesuai usia kehamilan
sebanyak 97%. Sedangkan anak
lahir tidak sesuai usia kehamilan
sebanyak 3%.
besar berat badan lahir anak
2500-4000 gram sebanyak 94%.
Sedangkan berat badan lahir
anak < 2500 gram sebanyak 6%.
memberikan ASI eksklusif pada
anak sampai usia 2 tahun
sebanyak
62%.
Sedangkan
memberikan ASI eksklusif pada
anak < 2 tahun sebanyak 38%.
memberikan MPASI pada anak >
6
bulan
sebanyak
66%.
Sedangkan yang memberikan
MPASI pada anak < 6 bulan

6.

Etnik

1.

Lingkungan

sebanyak 34%.
responden berasal dari suku
Jawa sebanyak 97% dan yang
berasal
dari
suku
Sunda
sebanyak 3%.
responden
menggunakan
bahasa jawa yaitu sebanyak
97% sedangkan responden yang
menggunakan bahasa Indonesia
sebanyak 3%.
responden tidak mempercayai
kepercayaan tertentu mengenai
sehat sakit sebanyak 100%.
Subsistem
responden mempunyai 2 kamar
yaitu sebanyak 38%, sedangkan
34% mempunyai lebih dari 3
kamar, 16% mempunyai 3
kamar,
dan
12%
hanya
mempunyai 1 kamar dalam
rumah.
responden
memiliki
rumah
berlantai keramik yaitu sebanyak
66% sedangkan responden yang
memiliki rumah berlantai ubin
34% dan 0% responden memiliki
rumah berlantai tanah maupun
kayu.
responden mempunyai rumah
berdinding batu bata yaitu
sebanyak 100% sedangkan 0%
responden
memiliki
dinidng
terbuat dari bambu, batako,
beton.
responden memiliki rumah yang
sinar matahari dapat masuk
kerumah yaitu sebanyak 78%
sedangkan responden yang
memiliki rumah yang sinar
matahari tidak dapat masuk ke
rumah sebanyak 22%.
responden tidak
memiliki
jendela rumah yang dapat
dibuka yaitu sebanyak 56%,
sedangkan
responden yang
memiliki jendela rumah yang
dapat dibuka sebanyak 44%.

responden memiliki rumah yang


tidak lembab yaitu sebanyak
69% sedangkan responden yang
memiliki rumah yang lembab
sebanyak 31%.
responden membersihkan rumah
dengan benar yaitu sebanyak
91% sedangkan responden yang
tidak
membersihkan
rumah
dengan benar sebanyak 9%.
responden
menggunakan
sumber air sumur yaitu sebanyak
78% sedangkan responden yang
menggunakan sumber PDAM
sebanyak
22%
dan
0%
menggunakan pompa air.
responden
memiliki
jamban
sehat yaitu sebanyak 94%
sedangkan responden yang tidak
mempunyai
jamban
sehat
sebanyak 6%.
responden mempunyai jarak <
10 meter dari rembesan tempat
tinja dengan sumber air bersih
yaitu
sebanyak
69
%
,
sedangkan yang mempunyai
jarak rembesan tempat tinja
dengan sumber air bersih
sepanjang > 10 meter dari
rembesan tempat tinja dengan
sumber air bersih sebanyak 21
%.
responden membuang sampah
di tempat sampah (100%)
sedangkan
0%
responden
membuang sampah di sungai
maupun got.
responden
membersihkan
sampah dengan dibuang di
tempat pembuangan akhir yaitu
sebanyak
78%
sedangkan
responden yang membersihkan
sampah dengan cara dibakar
sebanyak
22%
dan
0%
responden menimbun sampah.
responden mempunyai saluran
pembuangan
limbah
rumah

2.

Pelayanan
Kesehatan
Sosial

dan

tangga melalui perpipaan yaitu


sebanyak 72%, sedangkan 25%
mempunyai
saluran
pembuangan
limbah
rumah
tangga
tertutup
dan
3%
responden membuang limbah
rumah tangga di got.
responden mempunyai jarak
pembuangan limbah dari sumber
air bersih < 10 meter yaitu
sebanyak 59% , sedangkan 41%
responden mempunyai jarak
pembuangan limbah dari sumber
air bersih >10 meter.
responden tidak mempunyai
binatang
peliharaan
yaitu
sebanyak 63%, sedangkan 37%
mempunyai binatang peliharaan.
responden yang memiliki hewan
pwliharaan
sebagian
besar
mempunyai
kandang
untuk
binatang peliharaannya yaitu
sebanyak 83%, dan sebagian
kecil
responden
tidak
mempunyai
kandang
untuk
hewan
peliharaannya
yaitu
sebanyak 17%.
responden
menempatkan
kandang binatang peliharaannya
di dalam rumah sebanyak 67%,
dan
responden
yang
menempatkan kandang binatang
peliharaan
di
luar
rumah
sebanyak 33%.
responden
membersihkan
kandang binatang peliharaannya
setiap hari sebanyak 33%,
responden yang membersihkan
kandang binatang peliharaannya
tidak setiap hari sebanyak 58%,
sedangkan
sebanyak
33%
responden
tidak
pernah
membersihkan
kandang
binatang peliharaannya.
berobat ke puskesmas, yaitu
sebanyak 69%. Responden yang
berobat ke bidan/mantri/dokter

sebanyak 19%, responden yang


berobat sendiri sebanyak 12%,
dan tidak ada responden yang
berobat ke alternatif.
berobat
ke
tempat
pelayanan/petugas
kesehatan
>1x/bulan, yaitu sebanyak 56%.
Responden
yang
memiliki
frekuensi berobat ke tempat
pelayanan/petugas
kesehatan
>1x/3 bulan yaitu sebanyak 41%,
dan responden yang memiliki
frekuensi berobat ke tempat
pelayanan/petugas
kesehatan
>1x/1 minggu yaitu sebanyak
3%.
tidak
memiliki
asuransi
kesehatan, yaitu sebanyak 56%.
Responden
yang
memiliki
asuransi kesehatan sebanyak
44%.
memiliki Jamkesda sebanyak
36%, responden yang memiliki
asuransi
kesehatan
swasta
sebanyak
4
orang
29%,
responden
yang
memiliki
Jamkesmas sebanyak 21%, dan
yang paling sedikit adalah
responden yang memiliki Askes
yaitu 14%.
memanfaatkan
asuransi
kesehatan, yaitu sebanyak 86%.
Responden
yang
tidak
memanfaatkan
asuransi
kesehatan sebanyak 14%.
puas terhadap pelayanan yang
diberikan di sarana pelayanan
kesehatan , yaitu sebanyak 72%.
Responden yang tidak puas
terhadap
pelayanan
yang
diberikan di sarana kesehatan
sebanyak 28%.
mengetahui adanya pelayanan
kesehatan selama 24 jam, yaitu
sebanyak 59%. Responden yang
tidak
mengetahui
adanya
pelayanan kesehatan selama 24

3.

Ekonomi

jam yaitu sebanyak 41%.


mengetahui adanya kegiatan
posyandu di lingkungan sekitar
rumahnya, yaitu sebanyak 91%.
Responden
yang
tidak
mengetahui adanya kegiatan
posyandu di lingkungan sekitar
rumahnya yaitu sebanyak 9%.
mengikuti kegiatan posyandu
sebulan sekali, yaitu sebanyak
59%. Responden yang kadang
mengikuti posyandu sebanyak
28%, dan responden yang paling
sedikit adalah responden yang
tidak pernah mengikuti posyandu
yaitu sebanyak 13%.
bekerja
di
sektor
swasta
sebanyak
59%,
sedangkan
responden
yang
berkerja
sebagai wiraswasta sebanyak
31%. Kemudian responden yang
tidak bekerja sebanyak 6% dan
responden yang bekerja sebagai
PNS sebanyak 3%.
responden
mempunyai
pendapatan
>1.000.000
perbulan
sebanyak
53%,
sedangkan responden yang
mempunyai
pendapatan
500.000-1.000.000
perbulan
sebanyak 44%, dan responden
yang mempunyai pendapatan
<500.000 perbulan sebanyak
3%.
semua
responden
(100%)
memiliki penghasilan per bulan
dapat mencukupi kebutuhan
sehari-hari
termasuk
biaya
kesehatan dan 0% responden
menyatakan berpenghasilan per
bulan
tidak
mencukupi
kebutuhan sehari-hari.
responden (100%) menyatakan
bahwa biaya kesehatan yang
ada di RW 10 Kelurahan
Tulusrejo masih terjangkau dan
0% menyatakan biaya kesehatan

4.

Transportasi dan
Keamanan

5.

Politik dan
Kebijakan

tidak terjangkau.
responden
(100%)
menggunakan kendaraan pribadi
untuk
menuju
pelayanan
kesehatan
dan
0%
menggunakan angkutan umum
untuk
menuju
pelayanan
kesehatan
sebanyak 94% memiliki jarak
rumah <3 km dari pelayanan
kesehatan terdekat, sedangkan
sisanya sebanyak 6% berjarak
>3
km
dari
pelayanan
kesehatan.
sebanyak 56% kadang-kadang
memanfaatkan
pelayanan
kesehatan terdekat, sedangkan
sebanyak
41%
sering
memanfaatkan
pelayanan
kesehatan, dan 3% tidak pernah
memanfaatkan
pelayanan
kesehatan.
32
responden
(100%)
mengatakan
tidak
tersedia
poskamling di daerah mereka
dan
0%
responden
yang
mengatakan ada poskamling di
daerah mereka.
responden
(100%)
menggunakan kendaraan pribadi
untuk
menuju
pelayanan
kesehatan
dan
0%
menggunakan angkutan umum
untuk
menuju
pelayanan
kesehatan
sebanyak 94% memiliki jarak
rumah <3 km dari pelayanan
kesehatan terdekat, sedangkan
sisanya sebanyak 6% berjarak
>3
km
dari
pelayanan
kesehatan.
sebanyak 56% kadang-kadang
memanfaatkan
pelayanan
kesehatan terdekat, sedangkan
sebanyak
41%
sering
memanfaatkan
pelayanan
kesehatan, dan 3% tidak pernah

memanfaatkan
pelayanan
kesehatan.
32
responden
(100%)
mengatakan
tidak
tersedia
poskamling di daerah mereka
dan
0%
responden
yang
mengatakan ada poskamling di
daerah mereka.
responden sebanyak 56% tidak
mengetahui ada atau tidaknya
PP terkait pencegahan dan
penanggulan ISPA, sedangkan
44% menyatakan bahwa tidak
ada PP terkait pencegahan dan
penanggulangan ISPA.
besar responden sebanyak 75%
tidak mengetahui ada atau
tidaknya
PP
tentang
Pencegahan
dan
Penanggulangan ISPA pada RT
5 dan RT 6 RW 10 Kelurahan
Tulusrejo,
sedangkan
22%
menyatakan bahwa tidak ada PP
tentang
Pencegahan
dan
Penanggulangan ISPA pada RT
5 dan RT 6 RW 10 Kelurahan
Tulusrejo, dan sebanyak 3%
menyatakan
bahwa ada PP
tentang
Pencegahan
dan
Penanggulangan ISPA pada RT
5 dan RT 6 RW 10 Kelurahan
Tulusrejo.
responden
sebanyak
94%
menyatakan
tidak
pernah
memanfaatkan
program
pemerintah
terkait
ISPA
sedangkan
sebanyak
6%
menyatakan
memanfaatkan
program
pemerintah
terkait
ISPA.
responden
sebanyak
94%
menyatakan bahwa tersedia
kader kesehatan di daerahnya,
sedangkan
sebanyak
6%
menyatakan bahwa tidak tahu
ada
atau
tidaknya
kader
kesehatan
di
daerahnya,
sedangkan
0%
responden

6.

Komunikasi

7.

Pendidikan

menyatakan bahwa tidak ada


kader kesehatan di daerahnya.
tidak mendapatkan informasi
tentang ISPA sebanyak 78%,
sedangkan responden yang
mendapatkan informasi tentang
ISPA sebanyak 22%.
mendapatkan informasi tentang
ISPA dari kegiatan puskesmas
sebanyak 71%, responden yang
mendapatkan informasi ISPA
dari kader sebanyak 29%, dan
tidak ada responden yang
mendapatkan informasi tentang
ISPA
dari
penyuluhan
mahasiswa.
mendapatkan informasi tentang
ISPA dari kegiatan penyuluhan
sebanyak 86%, dan responden
yang mendapatkan informasi
ISPA dari poster sebanyak 14%.
tidak mendapatkan informasi
tentang ISPA sebanyak 78%,
sedangkan responden yang
mendapatkan informasi tentang
ISPA sebanyak 22%.
mendapatkan informasi tentang
ISPA dari kegiatan puskesmas
sebanyak 71%, responden yang
mendapatkan informasi ISPA
dari kader sebanyak 29%, dan
tidak ada responden yang
mendapatkan informasi tentang
ISPA
dari
penyuluhan
mahasiswa.
mendapatkan informasi tentang
ISPA dari kegiatan penyuluhan
sebanyak 86%, dan responden
yang mendapatkan informasi
ISPA dari poster sebanyak 14%.
sebanyak
41%
mampu
menjawab dengan benar terkait
pengertian ISPA, dan sebesar
59% menjawab salah atau tidak
tahu dari penyakit batuk pilek.
sebanyak 6% tidak mengetahui
bahaya ISPA, 3% menyatakan

8.

Rekreasi

2.2.

ISPA tergolong penyakit yang


sangat
berbahaya,
75%
menyatakan ISPA tergolong
penyakit berbahaya, dan 3%
lainnya.
sebanyak 75% menyatakan ISPA
menular, 9% menyatakan ISPA
tidak
menular,
16%
tidak
mengetahui
apakah
ISPA
menular atau tidak
sebanyak 44% menjawab benar
penyebab ISPA, dan 56%
menjawab salah penyebab ISPA.
sebanyak 34% menjawab benar
tanda-tanda ISPA, dan 66%
menjawab salah tanda-tanda
ISPA.
sebanyak
63%
melakukan
rekreasi alam, 3% melakukan
rekreasi ke mall, 21% melakukan
rekreasi
pada
event-event
tertentu, dan 13% menyatakan
tidak melakukan rekreasi.
sebanyak
31%
melakukan
rekreasi setiap minggu, 18%
melakukan rekreasi setiap bulan,
51% lainnya melakukan rekreasi
saat hari libur saja.

Rumusan Diagnosa
2.2.1. Ketidakefektifan manajemen kesehatan komunitas
di RW 10 RT 05 dan 06 kelurahan Tulusrejo kecamatan
Lowokwaru Kabupaten Malang berhubungan dengan:
1. Kurangnya
pengetahuan
masyarakat
tentang
penularan, penyebab, tanda-gejala ISPA; ditandai
dengan:
33% responden memiliki pendidikan terakhir SD
responden yang mengatakan ISPA berbahaya

sebanyak 75%.
responden yang menjawa salah tanda-tanda ISPA
sebanyak 63%.
sebanyak 56% tidak mengetahui ada atau tidaknya
PP terkait pencegahan dan penanggulan ISPA

sebanyak

memanfaatkan program pemerintah terkait ISPA


tidak mendapatkan informasi tentang ISPA

sebanyak 78%
sebesar 59% menjawab salah atau tidak tahu dari

penyakit batuk pilek.


tidak dapat menjawab dengan benar mengenai

94%

menyatakan

penyakit ISPA sebanyak 78%,


2. Ketidakefektifan pola perawatan

tidak

keluarga

pernah

dalam

kehidupan sehari-hari; ditandai dengan:


pengolahan makanan pada saat memasak lebih
sering di goreng sebanyak 94%
menggunakan MSG pada saat memasak yaitu

100% responden.
responden memasak makanan dengan terlebih
dahulu memotong dan kemudian mencucinya yaitu

sebanyak 70%,
mengkonsumsi protein hewani tidak setiap hari

sebanyak 94%
mengkonsumsi sayuran tidak setiap hari sebanyak

50%,
mengkonsumsi buah tidak setiap hari sebanyak

72%,
anggota keluarga yang merawat anak sakit adalah
ibu sebanyak 53%.
ada anggota keluarga yang merokok sebanyak

78%.
jarak < 10 meter dari rembesan tempat tinja dengan

sumber air bersih yaitu sebanyak 69 %


jarak pembuangan limbah dari sumber air bersih <

10 meter yaitu sebanyak 59%


menempatkan kandang binatang peliharaannya di

dalam rumah sebanyak 67%,


membersihkan kandang binatang peliharaannya
tidak setiap hari sebanyak 58%,
33% responden tidak pernah
kandang binatang peliharaannya.

membersihkan

2.2.2. Potensial peningkatan pemanfaatan kesehatan


dan pendidikan kesehatan di RW 10 RT 05 dan 06
kelurahan

Tulusrejo

kecamatan

Lowokwaru

Kabupaten Malang ditandai dengan:


besar responden dapat menjawab dengan benar penyebab ISPA

sebanyak 56%.
responden yang mengatakan ISPA berbahaya sebanyak 75%.
anak responden yang mendapat imunisasi dasar sebanyak 100%
memberikan ASI eksklusif pada anak sampai usia 2 tahun

sebanyak 62%
berobat ke puskesmas, yaitu sebanyak 69%.
berobat ke tempat pelayanan/petugas kesehatan >1x/bulan
memanfaatkan asuransi kesehatan, yaitu sebanyak 86%.
mengetahui adanya pelayanan kesehatan selama 24 jam, yaitu

sebanyak 59%
mengetahui adanya kegiatan posyandu di lingkungan sekitar

rumahnya, yaitu sebanyak 91%.


responden (100%) menyatakan bahwa biaya kesehatan yang ada

di RW 10 Kelurahan Tulusrejo masih terjangkau


sebanyak 56% kadang-kadang memanfaatkan

kesehatan terdekat
mendapatkan informasi tentang ISPA dari kegiatan puskesmas

sebanyak 71%
mendapatkan informasi tentang ISPA dari kegiatan penyuluhan
sebanyak 86%

pelayanan

BAB III
KESIMPULAN

3.1.

Kesimpulan
Kelurahan Tulusrejo kecamatan Lowokwaru kabupaten
Malang berada di bawah tanggung jawab Puskesmas Kendalsari.
Laporan tahunan kasus penyakit yang terbanyak di puskesmas
Kendalsari yaitu masalah ISPA yang menduduki tingkat pertama
dari 10 penyakit terbanyak di puskesmas Kendalsari. Pengkajian
yang dilakukan di daerah binaan RW 10 RT 05 dan RT 06 meliputi
pengkajian terhadap core problem dan 8 subsistem ditemukan
beberapa masalah keperawatan komunitas yang perlu ditangani.
Data pengkajian menyatakan pengetahuan masyarakat yang
masih kurang dan juga informasi tentang ISPA yang diperoleh
masyarakat masih rendah sehingga muncul masalah kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang penularan, penyebab, dan tandagejala ISPA.

Sebagian besar masyarakat daerah binaan RW 10 RT 05


dan RT 06 mengelola masakan atau makanan dengan cara yang
masih kurang tepat. Konsumsi sayur dan buah-buahan yang masih
kurang. Masih banyak anggota keluarga yang merokok. Dari
sanitasi, sebagian besar warga memiliki rembesan tempat tinja dan
pembuangan limbah dengan jarak kurang dari 10 meter dari
sumber air bersih. Lebih dari 50% warga memiliki kandang
binatang peliharaan yang ditempatkan di dalam rumah dan tidak
setiap hari warga membersihkannya. Dari data-data tersebut
menunjukkan masalah ketidakefektifan pola perawatan keluarga
dalam kehidupan sehari-hari.
Penyakit ISPA dikatakan berbahaya oleh sebagian besar
warga daerah binaan. Warga juga sudah banyak memanfaatkan
asuransi kesehatan. Imunisasi telah 100% didapatkan oleh anakanak daerah binaan serta lebih dari setengah responden
memberikan ASI eksklusif kepada anaknya sampai usia 2 tahun.
Data

tersebut

menunjukkan

adanya

potensi

peningkatan

pemanfaatan kesehatan dan pendidikan kesehatan di RW 10 RT 05


dan 06 kelurahan Tulusrejo kecamatan Lowokwaru Kabupaten
Malang.

Daftar Pustaka

Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan


Klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC