Anda di halaman 1dari 5

OBAT-OBAT PENGINDUKSI PENYAKIT GINJAL

Penyakit ginjal yang diduga timbul akibat adanya induksi dari obat-obatan tertentu biasanya
dapat dideteksi secara dini melalui kreatinin serum dan nitrogen urea darah. Kedua parameter
tersebut layak dijadikan parameter karena keduanya memiliki hubungan temporal antara tingkat
toksisitas ginjal dan penggunaan obat-obat yang berpotensi nefrotoksik. Mekanisme
terbentuknya penyakit ginjal akibat induksi obat dapat terjadi melalui toksisitas imunologik
(misal: glomerulonefritis dan nefritis interstisial alergik) maupun toksisitas nonimunologik.
Toksisitas imunologik maupun nonimunologik secara langsung akan mempengaruhi karakteristik
fungsi ginjal yang normal. Pencegahan penyakit ginjal akibat induksi obat yang terbaik adalah
dengan menghindari penggunaan obat-obat yang potensial nefrotoksik. Namun, dalam kondisi
tertentu dimana penggunaan obat-obat tersebut tidak dapat dihindari, maka minimalisasi faktor
resiko dengan teknik spesifik seperti hidrasi dapat digunakan untuk mengurangi resiko
nefrotoksik tersebut.
Penyakit ginjal terinduksi obat atau nefrotoksisitas obat merupakan suatu komplikasi yang umum
terjadi pada pasien yang menerima pengobatan dengan beberapa obat sekaligus. Manivestasi
klinis dari kondisi tersebut diantaranya adalah :
Kelainana asam-basa
Ketidakseimbangan elektrolit
Kelainan pada sedimentasi urin
Proteinuria
Pyuria, dan atau
Hematuria
Namun manivestasi paling umum dari nefrotoksisitas ini adalah adanya penurunan laju filtrasi
glomerulus (GFR = glomerular filtration rate) yang menyebabkan terjadinya peningkatan kadar
kreatinin serum (Scr) dan nitrogen urea darah (BUN = blood urea nitrogen). Sehingga wajar jika
BUN dan Scr dijadikan sebagai sarana deteksi awal bagi penyakit ginjal akibat induksi obat ini.
BUN dan Scr akan memberikan gambaran temporal antara tingkat toksisitas ginjal dengan
jangka waktu penggunaan obat-obat yang berpotensi menyebabkan nefrotoksik.
Epidemiologi
Nefrotoksisitas akibat induksi obat terjadi disemua bagian pengaturan dimana obat tersebut
diberikan. Nefrotoksisitas obat terjadi pada sekitar 7% dari semua kasus toksisitas obat dan
sekitar 18-27% kasus gagal ginjal akut yang menjalani perawatan di rumah sakit dan
berkontribusi pada sekitar 35% pada kasus nekrosis tubular akut (NTA) dan pada sebagian besar
kasus nefritis interstisial alergik (NIA), serta nefropati yang terjadi karena adanya perubahan
hemodinamik ginjal dan obstruksi postrenal. Antibiotik aminoglikosida, media radiokontras,
antinflamasi nonsteroid, amfoterisin B dan ACE inhibitor merupakan contoh-contoh obat yang
dapat bersifat nefrotoksik.

Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (AINS) dan obat-obat bebas meningkatkan resiko
nefrotoksik pada pasien yang pernah mengalami gagal ginjal akut.
Penilaian Toksisitas Ginjal
Karena penurunan GFR yang mengarah pada terjadinya peningkatan BUN dan Scr, maka
pemeriksaan rutin BUN dan Scr tersebut harus dilakukan untuk pemantauan toksisitas ginjal.
Selain itu, penurunan pengeluran urin juga dapat menjadi tanda awal adanya toksisitas, terutama
jika toksisitas tersebut disebabkan penggunaan media radiokontras, AINS dan ACE inhibitor.
Pada sebagian pasien yang belum memerlukan perawatan intensif rumah sakit, nefrotoksisitas
umumnya ditandai dengan adanya:
malaise
anoreksia
muntah
sesak nafas dan edema
hipertensi
Selanjutnya nilai BUN dan Scr dapat digunakan untuk menghitung penurunan laju GFR.
Nefrotoksisitas dapat dibuktikan dengan adanya perubahan fungsi tubular ginjal tanpa penurunan
GFR. Indikator luka tubular proksimal:
asidosis metabolik dengan bikarbonaturia
glikosuria tanpa hiperglikemia
penurunan fosfat, asam urat, kalium, dan magnesium dalam serum karena penurunan urinari
Sedangkan cedera distal ditandai dengan:
poliurea
asidosis metabolik karena adanya gangguan pengasaman urin
hiperkalemia karena adanya gangguan pengeluaran kalium
Enzim-enzim urinari dan protein berbobot molekul rendah juga digunakan sebagai penanda awal
adanya nefrotoksisitas. Misal adanya enzim N-acetyl-D-glucosaminidase, -glutamyl
transpeptidase dan glutathione S-transferase merupakan penanda adanya cedera tubular dan
digunakan untuk mendeteksi adanya kerusakan ginjal akut.
Prinsip Pencegahan Nefropati Obat
Prinsip utama pencegahan nefrotoksisitas terinduksi obat adalah dengan menghindari
penggunaan obat-obat yang potensial menyebabkan terjadinya nefrotoksisitas. Namun bila
penggunaan obat-obat tersebut tidak mungkin dihindari maka penggunaannya harus disertai
dengan pengenalan faktor-faktor resiko dan penerapan teknik-teknik khusus untuk meminimalisir

kemungkinan terjadinya nefrotoksisitas. Tidak ada faktor resiko yang umum yang berlaku
terhadap semua jenis obat, dan toksisitas biasanya berkembang melalui berbagai mekanisme,
baik melalui reaksi hipersensitivitas idiosinkratik maupun melalui toksisitas seluler langsung.
Dengan pengecualian pada gagal ginjal akut yang disebabkan oleh AINS dan ACE inhibitor,
toksisitasnya sering kali dapat dicegah setelah diketahui adanya insufisiensi ginjal, penurunan
aliran darah efektif ke ginjal akibat adanya deplesi volume, gagal jantung atau penyakit liver.
Pada pasien dengan hipertensi atau gagal jantung sangat sensitif terhadap kombinasi ACE
inhibitor dan AINS, terlebih bila penggunaannya juga bersamaan dengan diuretik.
Teknik khusus yang cukup efektif untuk mengurangi nefrotoksisitas obat adalah dengan hidrasi
yang cukup untuk meningkatkan laju aliran urin tubular ginjal. Sedangkan teknik-teknik lain
yang masih kontroversial diantaranya adalah:
Penggunaan adefovir, suatu antiviral nukleotida yang secara aktif ditransport oleh OAT1.
Penghambatan transport OAT1 meminimalisir akumulasi adefovir di ginjal sehingga
menyebabkan pengurangan efek toksisitasnya.
Diflunisal, ketoprofen, flurbiprofen, indometasin, naproksen dan ibuprofen sama efektifnya
dengan probenesid yang menunjukan penghambatan yang cukup kuat terhadap OAT1 pada
pencegahan sitotoksisitas.
Antioksidan juga terbukti mampu memberikan proteksi dari nefrotoksisitas akibat induksi
gentamisin, siklosporin dan cisplatin.
Khelator besi juga memberikan proteksi terhadap toksisitas gentamisin.
Obat-obat yang menginduksi perubahan struktur dan fungsi ginjal adalah sebagai berikut:
Kerusakan sel epitel tubular
Nekrosis Tubular akut:
antibiotik aminoglikosida
media kontras radiografi
cisplatin/ karboplatin
amfoterisin B
Nefrosis osmotik
manitol
dekstran
imunoglobulin intravena
Gagal ginjal secara hemodinamik
Inhibitor ACE
Antagonis reseptor angiotensin II
Antiinflamasi nonsteroid

Nefropati Obstruktif
Obstuksi intratubular
Asiklovir
Sulfadiazin
Indinavir
Foskarnet
Metotreksat
Obstruksi ekstrarenal
Antidepresan trisiklik
Indinavir
Nefrolitiasis
Triamteren
Indinavir
Penyakit Glomerular
Emas
AINS
Pamidronat
Penyakit Tubulointerstisial
Nefritis interstisial akut
Penisilin
Siprofloksasin
AINS
Omeprazol
Furosemid
Nefritis interstisial kronis
Siklosporin
Lithium
Nekrosis papilari
Kombinasi fenasetin, aspirin dan kafein

Vaskulitis ginjal, trombosis, dan kolesterol emboli


Vaskulitis dan Trombosis
Hidralazin
Propiltiourasil
Allopurinol
Penisilamine
Gemsitabin
Mitomisin C
Metamfetamin
Kolesterol emboli
Warfarin
Agen trombolitik
Gagal ginjal semu
Kortikosteroid
Trimetoprim
Simetidin
Sumber
Pharmacotherapy-Dypiro