Anda di halaman 1dari 32

Menuju Hidup Sehat dan Awet Muda

Pengantar
Panjang umur, hidup sehat serta awet muda merupakan impian
dan dambaan setiap insan di dunia ini. Segala daya upaya dikerahkan
untuk mewujudkannya, namun sering kali usaha tersebut menemui jalan
buntu yang berakhir pada kegagalan. Salah satu bidang kehidupan kita
yang sangat besar peran dan pengaruhnya adalah bidang kesehatan.
Untuk hidup sehat dan panjang umur sangat besar biaya yang harus
dikeluarkan, tetapi kalau kita mau, maka hal tersebut dapat di upayakan
dengan harga yang tidak terlampau besar, yaitu dengan menyiasatinya.
Dalam bidang kesehatan, organ yang sangat menonjol peranannya
bagi hidup sehat dan panjang unur adalah organ jantung dan otak beserta
pembuluh darahnya; sebab kedua organ tersebutlah yang menjadi motor
dalam kehidupan. Terjadinya penyakit jantung dan stroke didasari oleh
terbentuknya plak pada dinding pembuluh darah, yang dipicu oleh
beberapa faktor resiko, termasuk faktor stres yang akhir-akhir ini sering
berperan sangat dominan dalam kehidupan kitaa. Sudah banyak temuan
yang membuktikan adanya hubungan antara stres dengan terjadnya
penyakit jantung dan stroke, oleh sebab itu menemukan cara jitu untuk
mengatasi stres sangatla penting. Stress sendiri sebetulnya dapat kita
kendalikan melalui pikiran, hati, serta faktor fisik, yaitu melalui meditasi
dan relaksasi.
Plak,

yang

disebutkan

di

atas,

terbentuk

pada

proses

aterosklerosis, dapat menyumbat aliran darah yang menuju ke jantung


dan otak; dan bila suplai darah terhambat maka akibatnya hidup tidak
akan optimal, bahkan akan menyebabkan hidup yang lemah, tidak
bahagia, bergantung pada orang lain, dan bahkan meyebabkan umur
manusia tidak akan panjang.
Semua itu berawal dari apa yang kita sebut proses arterosklerosis,
yaitu suatu proses pembentukan plak atau bekuan pada pembuluh

dinding pembuluh darah, yang menyebabkan sumbatan/ embolisasi oleh


trombus pada arteri jantung dan atau otak.
Untuk itu, hal-hal yang merupakan faktor resiko pada proses
arterosklerosis harus dapat kita siasati sehingga pencegahan dan
pengobatannya dapat dilakukan dengan tepat dan maksimal. Faktor resiko
tersebut diantaranya adalah: hipertensi, hiperkolesterolemia, kencing
manis/

DM, obesitas,

kegemukan,

diet

yang

salah,

stres,

kurang

berolahraga, merokok, dan minum alkohol berlebih.


Stres, selain berperan sebagai salah satu faktor pada proses
arterosklerosis, juga merupakan faktor utama pada proses kehidupan
manusia, yang dapat dialami pada saat kanak-kanak sampai usia tua.
Stres telah menjadi bagian dari hidup manusia dan pada taraf tertentu
sters memang diperlukan untuk memacu semangat serta kemajuan yang
akan dicapai. Namun demikian, sters yang berlebihan dapat merusak
kesehatan dan kehidupan manusia. Oleh karena itu, perlu seklai untuk
memahami dan mengelola stres secara benar dan bijaksana, melalu gaya
hidup santai, tetapi tetap serius di tengah kehidupan yang penuh dengan
tuntutan dan persaingan yang keras ini.
Kendati

anda

tidak

melihatnya,

bahkan

mugkin

tidak

merasakannya, proses arterosklerosis sebetulnya sedang berlangsung dan


berjalan secara progresif. Bila anda tidak peduli, maka penyakit tersebut
akan semakin memburuk dan suau tindakan operasi mngkin sudah tidak
dapat membuat arterosklerosis yang telah parah menjadi baik kembali.
Minum obat pun terkadang tidak banyak membantu. Oleh sebab itu,
pencegahan trhadap arterosklerosis sangat mendesak untuk diupayakan
bagi setiap kita yang menghendaki hidup sehat dan panjang umur.
Proses terjadinya penyakit jantung dan stroke melalui tahapantahapan

arterosklerosis dipengaruhi oleh dua faktor resiko yang tidak

dapat diubah. Pencegahan dan pengobatan penyakit jantung dan stroke


akan dititikberatkan pada faktor resiko yang dapat di ubah. Faktor resiko
tersebut utamanya timbul akibat gaya hidup dan pola makan seseorang.

Apabila kita mencermati gaya hidup dan pola makan suatu masyarakat
tertentu, maka dapat dipahami bahwa ternyata terdapat hubungan yang
erat antara hidup sehat dan panjang umur dengan kebiasaan hidup serta
pola makan seseorang.
Ambil contoh kebiasaan makan atau cara hidup suku Hunza di
Pakistan, suku Caucasus d Rusia, dan masyarakat di sekitar pegunungan
Andes, lembah di Ekuador, Amerika Selatan. Suku-suku ini tetap hidup
sehat, aktif, dan masih bekerja walaupun umur mereka telah mencapai
ratusan tahun.
Pola makan manyarakat tersebut adalah memakan makanan yang
bersifat alami seperti buah dan sayur-sayuran sebagai menu makanan
harian. Protein hewani yang mereka pilih adalah bahan yang tidak
mengandung kolesterol, dan untuk memenuhi kebutuhan protein, semua
masyarakat tersebut mengkonsumsi atau memakan ikan asin, tempe,
keju, dan telur.
Dibandingkan pola hidup mereka dengan orang-orang yang hiup di
daerah selatan India, ebngal dan Madras. Pola makan masyarakat Madras
adalah sedikit atau tidak pernah minum susu, makan buah, dan sayusayuran. Sebaliknya masayarakat Madras banyak minum kopi tanpa gula
dan mengunyah sirih. Akibatnya banyak timbul penyakit dan mati muda.
Rata-rata mereka hidup tidak lebih dari 40 tahun.
Itu semua dapat terjadi karena pembuluh darah arteri yang normal
dapat di ibaratkan seperti pipa jernih dengan dinding yang licin dan dapat
berubah oleh faktor-faktor resiko seperi merokok, tekanan darah tinggi,
kegemukan, dan hiperkolesterolemia, yang berhungan erat dengan pola
hidup atau makan. Zat-zat lemak di dalam darah akan tertimbun dan
menimbulkan
pencegahan

plak
dan

atau

bekuan

pengobatan

melalui

tahapannya.

arterosklerosis

adalah

Jadi

upaya

bagaimana

mengatasinya sejak masih dini. Oleh sebab itu pengobatan Hunza akan
efektif dan berguna apabila dimulai dari sebelum gejala klinisnya tampak,

yaitu melalui perubahan gaya hidup dan pola makan; menuju ke pola
makan yang seimbang dan sehat.

PENDAHULUAN
Dewasa ini, masalah kesehatan yang terkait dengan penyakit
degenerartif, yaitu suatu penyakit yang timgul bersamaan dengan
bertambahnya usia, semakin meningkat. Penyakit tersebut di antaranya
adalah penyakit jantung dan stroke. Untuk itu, perlu kita mengetahiu dan
memahami usaha apa yang dapat dilakukan dalam rangka mengetahui
pencegahan dan pengobatannya, melalui pemahaman yang mmadai
terhadap

proses

terjadnya

penyakit

tersebut;

yakni

penyakit

arterosklerosis.
Perjalanan penyakit koroner

atau stroke berawal dari adanya

faktor resiko dan kemudian berkembang secara progresif menahun sampa


akhirnya menimbulkan kecacatan (hidup yang tidak sehat) atau kematian
(tidak panjang umur).
Faktor risiko adalah keadaan diri seseorang yang menyebabkan dia
memiliki kecenderungan yang lebh besar akanmengalami penyakit bila
dibandingan dengan orang lain yang tidak berada pada kondisi tersebut.
Proses pembentukan ateroma/ plak pada proses arterosklerosis
akan terjadi lebih awal apabila faktor-faktor resiko sudah ada sejak usia
dini. Oleh sebab itu orang yang mempunyai faktor resiko, perlu
diwaspadai sedni mungkin dengan memeriksakan diri dan menjalankan
upaya preventif promotif. Misalnya secara intensif mencegah orang
merokok, memasyarakatkan makanan sehat dan seimbang, pengendalian
tekanan darah, dan berolahraga atau melakukan aktifitas fisik secara
teratur, serta diusahakan untuk menghindari stres.
Perkemabnagn plak pada arterosklerosis berdasarkan usia adalah
sebagai berikut:

Usia <20 tahun: sel-sel busa mulai menempel di lapisan

dinding pembuluh darah (belum ada keluhan).


Usia 20-30 tahun: adanya bercak perlemakan di dinding

pembuluh darah (belum ada keluhan).


Usia 30-40 tahun: tonjolan plak ateroma mulai tampak

(umumnya belum ada keluhan).


Usia >40 tahu: plak ateroma bertambah besar dan dapat
sobek

atau

menutup

saluran

pembuluh

darah

(terjadi

serangan jantung atau stroke).


Virchow pernah mengemukakan suatu triad yang disebut Triad
Virchow. Menurut Triad tersebut, dalam terjadinya kelainan pembuluh
darah harus ada 3 unsur yang terlibat, yaitu:
1. Dinding pembuluh darah
2. Gangguan aliran darah
3. Konstituen zat-zat yang ada di dalam darah.
Untuk masa kkini, arti dari Triad Virchow antara lai adalah
gangguan/ disfungsi sel endotel yang merupakan kelainan dinding
vaskuler, turbulensi aliran darah dan hipertensi sebagai abnormalitas
aliran darah yang mnyebabkan injury pada dinding arteri; dan efek toksik
konstituen darah seperti gula darah, kolesterol LDL, dsb.
Menurut WHO, arterosklerosis adalah keadaan perubahan fokal
pada tunika intima dinding pembuluh darah yang terdiri dari kombinasi
dari substansi lemak, karbohidrat kompleks, darah, konstituean darah,
adanya peningkatan jaringan ikat, dan adanya deposit kalsium yang
berasosiasi dengan perubahan pada tunika media arteri.
Arterosklerosis secara anatomis merupakan suatu penyakit dari
proses proliferatif dalam lapisan intima, sering disertai penyusutan (atrofi)
lapisan media. Proses ini bersifat multifaktoral karena melibatkan
lipoprotein aterogenik, endotel, monosit, proliferasi sel otot polos, platelet,
trombosit, dll.

Sebetulnya, arterosklerosis sendiri bukanlah bentuk akhir dari


suatu penyakit, tai merupakan kempula perubahan patologis pada arteri
dengan dasar perubahan adanya indurasi, hilangnya elastisitas arteri, dan
menyempitnya lumen pembuluh darah. Arterosklerosis lebih berefek pada
arteri dibandingkan dengan vena. Kemungkinan hal ini terjadi karena
arteri bersifat lebih tebal karena adanya oto polos. Sel otot polos banyak
mementuk kumpulan plak arterosklerosis.
Pembuluh darah artei yang normal dapat di ibaratkan seperti pipa
jernih dengan dinding yang licin dan dapat berubah oleh faktor-faktor
resiko

seperi

merokok,

tekanan

darah

tinggi,

kegemukan,

dan

hiperkolesterolemia, yang berhungan erat dengan pola hidup atau makan.


Zat-zat lemak di dalam darah akan tertimbun dan menimbulkan plak atau
bekuan melalui tahapannya, dimulai dengan penyumbatan yang sangat
ringan.
Penyumbatan ringan biasanya tidak menimbulkan gejala atau
masalah yang berarti karena darah yang kaya oksigen (O2) masih dapat
lewat. Tetapi apabila telah tertimbun lemak sudah mencapa 50 persen
atau lebih, maka efeknya akan mulai terlihat. Walaupun pembentukan
plak pada proses arteroklerosis melalui proses yang kronis dan lama,
tetapi manifestasi klinisnya biasanya terjadi secara mendadak dan
cenderung pada satu waktu sebagai akibat hancurnya plak secara tibatiba yang kemudian menyumbat aliran darah pada otak mauoun jantung.
Sumbatan

total

biasanya

terjadi

ketika

timbunan

mengeras

menjadi plak. Apabila plak retak, akan ditutupi oleh terbentuknya bekuan.
Bekuan atau emboli akan menyumbat aliran darah ke otak dan jantung,
sehingga terjadi serangan jantung dan stroke. Jadi, upaya pencegahan
dan pengobatan arteroklerosis adalah bagaimana mengatasinya sejak
masih dini, dengan prosesnya yang begitu lama dan plak yang terbentuk
pada aorta atau arteri yang terjadi sepanjang hidup.
Oleh sebab itu, pengobatan arterosklerosis akan efektif dan
berguna apabila dimulai dari sebelum gejala klinisnya tampak, maka

sebetulnya penyakitnya sudah berat dan telah terjadi kurangnya oksigen


(iskemia) pada jantung, ginjal, gangguan sirkulasi perifer, dan pada otak.
Untuk memahami keterkaitan antara arterosklerosis atau proses
pengerasan arteri dengan penyakit degeneratif saperti penyakit jantung
dan stroke, maka kita akan melihat apa yang terjadi ketika proses
arterosklerosis berkembang.
Dinding dalam (lapisan intima) pembuluh darah terutama arteri
tertutup lapisan sel-sel tipis (sel endotel) yang melindungi jaringan otot
terhadap segala jenis sel/ benda yang mengalir dalam pembuluh darah.
Trejadinya arterosklerosis merupakan respons normal atas terjadinya
serangan pada sel endotel arteri oleh berbagai sel dalam darah, terutama
sel lekosit/ sel darah putih dan faktor lain seperti hipertensi, DM, stres,
hiperkolesterolemia, dan lain-lain dalam sistem peredaran darah.
Sel endotel memegang peranan penting dan merupakan pintu
gerbang dari proses terjadinya plak. Lekosit menembus ke lapisan dalam
dan mulai meangkap molekul lemak atau kolesterol yang lalu mengubah
lekosit menjadi sel busa. Sebagian kolesterol yang ditangkap, kemudian
dicerna oleh lekosit, namun ada juga yang tidak dicerna; dan ketika lekosit
mati, kolesterol yang tertinggal disimpan di dasar dinding arteri.
Karena tumpukan kolesterol pada dinding arteri semakin banyak,
hal ini membuat lapisan bawah garis pelindung arteri perlahan-lahan
mulai menebal dan jumlah sel otot bertambah. Setelah beberapa waktu,
jaringan penghubung yang menutupidaerah itu berubah menjadi jaringan
parut/ selerosis. Parut tersebut akan mengurangi elastisitas dinidng
pembuluh darah, sehingga mudah pecah. Akibatnya, mulai terjadi
penempelan daerah parut oleh sel-sel darah yang beredar dalam sistem
darah.
Selanjutnya, gumpalan darah dapat dengan cepat tertumpuk pada
permukaan lapisan arteri yang sobek dan semakin lama semakin banyak
tumpukan terbentuk, sehingga menimbulkan penyempitan arteri, lalu

penumbatan total. Apabila arterosklerosis terjadi dalam arteri otot jantung


maka akan timbul kekurangan oksigen akut, sehingga terjadi serangan
jantung. Bila jerjadi pada arteri otak, maka akan terjadi serangan stroke.
Semua kejadian tersebut merupakan kendala yang dihadapi manusia,
yang dapat membuat manusia tidak dapat hidup sehat atau panjang
umur.
Manfaat yang dapat dipetik dari mempraktekkan gaya hidup sehat
ditambah dengan melakukan tindakan strategi pengaturan pola makan
sehari-hari dan jenis makanan yang utamanya berkontribusi terhadap
kehidupan yang sehat, akan membuat kita hidup sehat dan awet muda.

Penyakit Jantung
Definisi
Penyakit jantung atau sindroma koroner akut adalah gabungan
gejala klinik yang menandakan adanya iskemia miokard akut, terdiri dari
infark miokardakut dan angina pektoris (yang sifatnya tidak stabil).
Sindroma koroner akut merupakan kondisi yang mengancam jiwa dan
merupakan kasus gawat darurat. Apabila serangan jantung terjadi pada
mereka yang berumur 50 tahun ke atas, layak dipandang sebagai
pengerasan arteri. Jantunglah yang memompakan darah keseluruh
jaringan tubuh, dan di dalam darah tersebut terangkut juga oksigen.
Dalam menjalankan funsinya, oto jantung sama seperti otot atau jaringan
tubuh lainnya yang perlu oksigen.
Gejala penyait jantung
Seseorang kemungkinan besar mengalami serangan jantung, yaitu
apabila ia mengeluhkan adanya nyeri dada atau nyeri hebat di bagian ulu
hati/ epigastrium yang tidak disebabkan oleh trauma, yang terjadi pada
laki-laki berumur 35 tahun atau apabila pada wanita berumur 40 tahun.
Apabila seseorang mengalami sindrom koroner akut, maka biasanya

nyerinya seperti tekanan benda berat, rasa tercekik, ditinju, diremas,


ditikam, atau seperti terbakar di dada. Pada umumnya nyeri dirasakan
dibelakang sternum/ tulnag dada sebelah kiri yang menyebar ke seluruh
bagian dada.
Nyeri dapat menjalar ke tengkuk, rahang, bahu, punggung, lengan
kiri. Keluhan lainnya dapat berupa rasa nyeri atau tidak enak di
epigastrium/ ulu hati yang sebabnya tidak dapat dijelaskan. Dapat terjadi
mula dan muntah, rasa tidak enak di dada diseratai sesak napas,
perasaan lemah, kesadaran turun, dan banyak berkeringat.
Penyakit jantung dapat muncul dalam beberapa bentuk,
yaitu:
1. Serangan jantung
Gejala utamanya adalah nyeri terus menerus di dada, lengan,
dan rahang yang berlangsung dalam beberapa menit sampai
bebrapa jam. Nyeri timbul secara mendadak dan sangat sakit ,
sehingga kerja jantung menjadi tidak efisien dan akibatnya
pasokan darah ke otot jantung berkurang. Keadaan tersebut
sangat berbahay karena jantung hanya dapat berfungsi tanpa
darah sekitar 20 menit. Lebih dari itu, jaringan/ oto jantung akan
mati.
2. Angina pektoris
Pertanda arteri koroner lainnya adalah angina pektoris. Gejala
timbulnya nyeri lebih sering dalam kejutan singkat, biasanya
nyeri sering timbul ketika sedang aktif/ mengeluarkan tenaga;
dan nyeri pada umumnya akan hilang setelah beristirahat.
Pemicu timbulnya nyeri di antaranya makan berlebihan, udara
dingn, dan stres.
3. Gangguan irama denyut jantung
Bentuk ini merupakan penyakit jantung yang paling serius,
karena

dapat

menyebabkan

kematian

secara

mendadak.

Gejalan dari gangguan irama denyut jantung yang umumnya


karena fibrilasi atrium (getaran jantung) adalah hilangnya

kesadaran dengan cepat, yang sering kali didahului oleh nyeri


pada dada.
Tanda-tanda fisik yang terlihat pada penderita penyakit
jantung:
Penderita

biasanya

tampak

lemas,

gelisah,

pucat,

dan

berkeringan dingin
Denyut nadi biasanya cepat
Tekanan darah biasanya normal, dapat masih dapat terjadi

hipertensi atau hipotensi


Pada jantung tidak nampak kelaianan
Pada infark miokard akut, bunyi jantung dapat terdengar redup

dan bila kerusakannya luas terdengar S3 gallop


Apabila terjadi bendungan paru dapat terdengar ronki basah
atau wheezing.

Pemeriksaan EKG:

Pada infark miokard akut, gambaran EKG pada Q wave (STEMI)


berupa elevasi segmen ST

> 1 mm pada

<2 sadapan

ekstremitas atau >2 mm pada >2 sadapan prekordial yang


berurutan , atau gambaran left bundle branch blok (LBBB) baru

atau diduga baru.


Pada infark miokard akut, gambaran EKG pada non- Q wave
(NSTEMI) atau angina pektoris tidak stabil berupa depresi
segmen ST atau gelombang T terbalik pada >2 sadapan yang

berurutan.
Perubahan segmen ST pada saat timbul nyeri dada dan kembali
normal saat nyeri hilang. Keadaan ini sangat mendukung
diagnosa angina pektoris tidak stabil (UA).

Akuransi pemeriksaan EKG bertambah jika dibandingkan dengan


gambaran EKG sebelumnya, dan pemeriksaan yang dilakukan saat
timbul keluhan akan sangat meonolong dalam menegakkan
diagnosa.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan


diagnosa penyakit jantung adalah:

Wanita umumnya mengeluh nyeri dada attipik atau gejala yang

tidak khas/ tidak umum.


Pada penderita DM, gejala mungkin tidak khas akibat gangguan

otonom.
Pada lanjut usia, keluhan nyeri dada dapat tidak timbul, gejala
hanya berupa sesak napas, lemah, kesadaran menurun, dan
perubahan mental

Keluhan yang mungkin disebabkan oleh serangan jantung:


Kemungkinan besar:
Terdapat satu atau lebih keadaan dibawah ini:

Adanya nyeri atau rasa tidak enak di dada atau lengan kiri yang

sama dengan keluhan yang pernah dialami.


Berkeringat dingin
Terdapat bising regurgitasi mitral transient, hipotensi, edema

paru, dan terdapat ronki basah.


Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan peningkatan CK-

MB, CPK, LDH, GOT.


Deviasi segmen ST atau gelombang T.

Kemungkinan sedang:
Kemungkinan sedang menjadi dugaan bila tidak terdapat tandatanda pada kemungkinan besar, namun terdapat satu atau lebih
kenyataan di bawah ini:

Nyeri atau rasa tidak enak di dada atau lengan kiri, yang baru

pertama kali di alami.


Penderita laki-laki, umur >70 tahun, dan mengidap DB.
Pengidap penyakit vaskuler ekstra kardiak/ diluar jantung.
Terdapat gelombang Q yang menetap, segemn ST atau

gelombang T abnormal, yang telah ada sebelumnya.


Batas jantung normal.

Kemungkinan kecil:
Tidak terdapat tanda-tanda Kemungkinan besar maupun sedang,
tetapi terdapat satu atau lebih keadaan dibawah ini:

Nyeri dada atau rasa tidak enak di dada ketika dilakukan

pemeriksaan.
Keluhan- keluhan yang diduga penyebabnya darivkeadaan

jantung dan pembuluh darahnya.


EKG normal
Batas jantung normal
Gelombang T datar atau terbalik pada sadapan dengan R yang
dominan.

Diagnosa Banding
Terdapat beberapa penyakit yang harus diduga ketika seseorang
mengalami keluhan nnyeri pada dada atau rasa tidak enak di dada, yaitu:

Infeksi selaput jantung


Lemah otot jantung
Keluhan yang bersumber

esophagus sampai ke kantung mempedu


Penyakit paru-paru, seperti pleuritis
Sindroma hiperventilasi
Gangguan dinding dada, seperti gangguan pada otot atau saraf
Psikis/ psikogen

dari

saluran

cerna

mulai

dari

Pengelompokan Tingkat Risiko Serangan Jantung


Risiko tinggi:
Apabila paling sedikit terdapat salah satu keadaan dibawah ini:

Nyeri dada semakin bertambah dan lama dalam 48 jam


terakhir, dan nyeri tidak mereda saat istirahat. Atau pada saat

istirahat nyeri masih berlangsung lebih dari 20 menit.


Umur penderita >75 tahun.

Risiko sedang:

Nyeri dada saat istirahat yang berlangsung lama atau >20


menit, tetapi saat diperiksa keluhan telah hilang. Nyeri dada
saat istirahat berlangsung kurang dari 20 menit, atau keluhan
menghilang dengan istirahat, atau dengan obat nitrogliserin

sublingual.
Umur penderita >70 tahun.

Risiko rendah:

Keluhan nyeri dada atau rasa tidak enak di dada saat


beraktifitas yang berlangsung kurang dari 20 menit. Keluhan

nyeri tersebut telah berlangsung dalam 2 minggu terakhir.


Gambar EKG normal.
Batas jantung normal

Penatalaksanaan berdasarkan tingkat risikonya:

Penderita dengan risiko tinggi harus segera dirujuk kerumah

sakit yang memiliki fasilitas coronary intensive care.


Penderita dengan risiko sedang harus segera

dirujuk

kerumah sakit, tetapi tidak harus yang memiliki fasilitas

coronary intensive care.


Penderita dengan risiko rendah dapat dipertimbangkan rawat
jalan.

Pengobatan paska perawatan:

Penggunaan aspirin dosis rendah antara 75- 325 mg/ hari

untuk jangka panjang, apabila tidak terdapat kontraindikasi.


Dapat diberikan obat penyekat beta.
Penderita dengan gagal jantung kongestif, disfungsi ventrikel
kiri, hipertensi, atau diabetes dapat diberikan penghambat
ACE.

STROKE
Definisi
Stroke

adalah

penyakit

gangguan

fungsional

otak

berupa

kelumpuhan saraf akibat gangguan aliran darah pada salah satu bagian
otak. Gangguan saraf atau kelumpuhan yang terjadi tergantung pada
bagian otak mana yang terkena, dan penyakit ini dapat sembuh
sempurna, sembuh dengan cacat, atau kematian.
Penggolongan stroke
Stroke pada umumnya dibagi dalam dua golongan besar, yaitu:
1. Stroke perdarahan dibagi dalam:
Pendarahan subarakhnoid (PSA).
Pendarahan intraserebral (PIS);
intraparenkim atau intraventrikel.
2. Stroke iskemik/ infark (non pendarahan):
Berdasarkan perjalanan klinisnya dikelompokkan menjadi:
Transient Ischemic Attack (TIA), yaitu serangan stroke

sementara yang berlangsung < 24 jam.


Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND), dimana
gejala devisit neurologis akan menghilang antar > 24 jam

sampai dengan 21 hari.


Progressing stroke atau stroke in evolution yaitu kelainan
atau devisit neurologik yang berlangsung secara bertahap

dari yang ringan sampai yang berat.


Complete stroke yaitu dimana kelainan neurologis sudah
mantap, dan tidak berkembang lagi.

Stroke iskemik berdasarkan penyebabnya menurut klasifikasi The


National Institute of Neurological Disorders Stroke Part III trial (NINDS),
dibagi dalam 4 golongan, yaitu:

Aterotrombik, menyempitnya lumen pembuluh darah oleh

plak.
Kardioemboli, sumbatan karena plak yang lepas.

Lakunar, menyempitnya berbentuk lubang.


Penyebab lain yang mengakibatkan hipotensi.

Gejala dan tanda stroke


Gejala dan tanda stroke pada penderita akut adalah:

Adanya

seperti hemiparesis, lumpuh sebelah badan.


Baal atau mati rasa sebelah badan, erasa kesemutan, terasa

spereti terkena cabai/ terbakar.


Mulut, lidah mencong bila diluruskan.
Gangguan menelan.
Bila minum sering tersedak.
Sulit berbahasa, kata tidak sesuai dengan keinginan atau

serangan

defisit

neurologis/

kelumpuhan

fokal,

gangguan bicara berupa pelo, rero, sengau, ngaco, dan katakatanya tidak dapat dimengerti atau tidak dipahami. Bicara

tidak lancar, hanya sepatah-sepatah kata yang terucap.


Tidak memahami pembicaraan orang lain.
Tidak mampu membaca dan menulis.
Berjalan menjadi sulit.
Tidak dapat berhitung.
Kepandaian menurun.
Menjadi pelupa.
Vertigo (pusing, puyeng).
Onset/ awal terjadinya penyakit cepat, mendadak dan

biasanya pada saaat bangun tidur.


Penglihatan terganggu.
Pendengarannya berkurang.
Menjadi mudah menangis atau mudah tertawa.
Kelopak mata sulit dibuka.
Banyak tidur, selalu mau tidur.
Geraakan tidak terkoordinasi.
Kehinlangan keseimbangan.
Gangguan kesadaran, pingsan, sampai koma.

Screening Stroke
Terjadinya salah satu keadaan dibawah ini yang patut diduga
stroke adalah:

Mulut

memperlihatkan giginya atau tersenyum.


Normal:
Kedua sisi muka bergerak simetris.
Abnormal:
Salah satu sisi muka tertinggal.
Gangguan bicara
atau bahasa (penderitta

mengatakan kalimat tertentu).


Normal:
Dapat mengucapkan kalimat dengan benar dan jelas.
Abnormal:
Bicara rero, menggunakan kata yang salah.
Lengan lemah: menahan kedua lengannya lurus kedepan

mencong,

caranya

dengan

meminta

penderita

diminta

sekitar 10 detik, dengan mata tertutup.


Normal:
Kedua lengan dapat bergerak secara bersamaan dan

sejajar.
Abnormal:
Salah satu lengan bergerak turun/ tidak sejajar.
Gangguan gerakan bola mata dan gangguan koordinasi.

Penentuan jenis stroke


Gambar klinis yang dapat digunakan untuk menentukan jenis dari
stroke adalah:
Gejala dan Tanda

Stroke

Stroke Iskemik

Pendarahan
Gejala:
Saat

kejadian/ Sedang aktif

Saat istirahat

onset
Peringatan TIA

Tidak ada

Ada

Nyeri kepala

Hebat

Ringan

Kejang

Ada

Tidak ada

Muntah

Ada

Tidak ada

Penurunan

Sangat nyata

Ringan

kesadaran

Tanda:
Nadi lambat

++ (sejak awal)

+ (hari ke-4)

Edema pupil mata

+ (sering)

Kuku kuduk

Kerning, brudzinski

++

Jenis Stroke

Nyeri Kepala

Gangguan

Defisit Lokal/

Kesadaran

Kelainan/
Kelumpuhan

Stroke

Ringan/

tidak Ringan/

tidak Berat

iskemik

ada

ada

Stroke

Berat

Berat

Berat

Berat

sedang

Ringan/ tidak ada

perdarahan
(PSI)
Stroke
perdarahan
(PSA)

1. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan CT scan harus segera dilakukan pada semua
penderita dengan dugaan stroke. CT scan tanpa kontras dapat
membedakan stroke perdarahan dan stroke non-perdarahan/
iskemik. Pada stroke perdarahan, gambaran lensi berupa
hiperdens,

sedangkan

stroke

iskemik/

non

perdarahan,

gambaran lesi hipodens. Perlu diperhatikan bahwa sekitar 5

persen perdarahan subarakhnoid, gambaran CT scannya dapat


normal, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan punksi lumbal.
Cairan serebrospinal pada perdarahan subarakhnoid berwarna
merah darah.

2. Diagnosa banding
Beberapa penyakit yang memiliki gejala mirip dengan stroke
adalah:

Trauma kepala atau leher


Infeksi otak dan selaputnya
Gangguan otak akibat hipertensi
Massa intracarnial: tumor
Serangan kejang dengan gangguan saraf yang bersifat

sementara
Gangguan metabolik: hiperglekimia, hipoglekimia, uremia, dll
Migren dengan gangguan saraf sementara
Gangguan kejiwaan
Syok disertai hiperpefusi susunan saraf pusat

Tapan Proses Pemulihan Stroke Akut


1. Fase akut, berlangsung antar 4-7 hari
Objektif pada fase ini adalah pasien selamat.
2. Fase pemulihan: setelah fase akut, berlangsung fase pemulihan
antara 2- 4 minggu.
Objektifnya: pasien mempelajari keterampilan motorik yang
terganggu

dan

melakukan

penyesuaian

baru

untuk

mengimbangi keterbatasan yang terjadi.


3. Rehabilitasi
Objektifnya: melanjutkan proses pemulihan untuk mencapai
perbaikan kemampuan fisik, mental, sosial, dan kemampuan
bicara.
4. Fase ke kehidupan sehari-hari.

Setelah fase akut

dilewati,

maka

terapi

pencegahan untuk

menghindari terulangnya stroke akut tetap dilakukan; pasien biasanya di


anjurkan untuk:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Melakukan kontrol tensi secara rutin.


Mengendalikan kadar gula darah.
Mengurangi atau stop merokok.
Melakukan diet rendah lemak.
Menghindari stres.
Terapi terkait lainnya.

Disamping semua tindakan atau pengobatan yang ditujukan untuk


stroke secara langsung, keadaan pasien secara keseluruhan juga perlu
diperhatikan. Kadar hemoglobin, elektrolit, albumin, kebersihan sakuran
pernapasan, dan saluran kencing. Kebutuhan yang mendasar seperti
buang air besar juga memerlukan perhatian. Semua ini bertujuan untuk
membuat tubuh pasien senyaman mungkin agar tercipta kondisi yang
menguntungkan untuk kesembuhan. Setelah selesai dengan program
pengobatan fase akut, terapi dilanjutkan untuk jangka yang lebih panjang
dengan tujuan menyempurnakan pemulihan kesehatan dan mencegah
terulangnya stroke. Beberapa obat yang umum digunakan adalah asetosal
,

triklopidin,

dipiridamol,

pentoksifilin

oral,

naftidofuril,

roborantia

seperlunya, dan sebagainya.

Skala Kecacatan Karena Stroke


(The Modified Ranking Scale)
Kecacatan derajat 0

Tidak ada gangguan fungsi.

Kecacatan derajat 1

Hampir tidak ada gangguan fungsi aktifitas sehari-hari.


Pasien mampu melakukan tugas dan kewajiban sehari-hari.

Kecacatan derajat 2 (ringan)

Pasien tidak mampu melakukan beberapa aktifitas seperti


sebelumnya, tetapi tetap dapat melakukan sendiri tanpa
bantuan orang lain.

Kecacatan derajat 3 (sedang)

Pasien memerlukan bantuan orang lain, tetapi masih mampu


berjalan tanpa bantuan orang lain, walaupun mungkin
menggunakan tongkat.

Kecacatan derajat 4 (sedang- berat)

Pasien tidak dapat berjalan tanpa bantuan orang lain.


Perlu bantuan orang lain untuk menyelesaikan sebagian
aktifitas diri, seperti mandi.

Kecacatan derajat 5 (berat)

Pasien terpaksa berbaring ditempat tidur dan buang air kecil


dan besar tidak terasa, selalu memerlukan perawatan,
bantuan, dan prhatian orang lain.

Pencegahan Serangan Stroke


1. Pencegahan primer
Sehat dan bugar dapat dipertahankan dengan pola makan
sehat, istirahat cukup, mengindari stres, mengurangi kebiasaan
yang

dapat

merugikan

tubuh

seperti

merokok,

makan

berlebihan, makan banyak mengandung lemak jenuh, kurang


aktif berolahraga.
Langkah pertama dalam mencegah stroke adalah dengan
memodifikasi gaya hidup dalam segala hal, memodifikasi faktor
risiko, dan kemudan bila dianggap perlu, atau telah gagal dalam
langkah pertama, bisa dilanjutkan dengan terapi dengan obat
untuk mengatasi penyakit dasarnya, seperti: obat antidiabetes,
obat antihipertensi.

2. Pencegahan sekunder
Dengan melakukan pencegahan primer dan pengobatan pada
faktor risiko, penyakit jantung dan stroke dengan obat-obatan.
Terapi Bagi Penderita Stroke
Penatalaksaan

secara

khusus

pada

stroke

umumnya

dikelompokkan dalam 2 bagian, yaitu terhadap stroke perdarahan dan


stroke iskemik.
1. Pada stroke iskemik:
Penanganan dengan obat-obatan harus dilakukan secara segera,
dalam waktu kurang dari 6 jam, maka kemungkinan sembuh sempurna
tanpa menimbulkan cacat.

2. Terapi khusus stroke iskemik:


Terapi obat trombolitik/ penghancur thrombus atau sumbatan

pembuluh darah.
Obat sebagai anti agregasi trombosit atau anti pembekuan

darah, anti koagulan.


Nueroprotektan/ pelindung saraf.
Antagonis kalsium, misalnya dengan nimodipin

3. Pada stroke pendarahan:


Jika pilihan terapinya secara

konvensional

yaitu

dengan

menggunakan obat, maka waktu yang kita miliki cukup lama (sekitar 4
hari) sejak terjadinya penyakit. Targe pengobatan pada stroke perdarahan
adalah untuk engatasi vasokonstriksi tersebut timbul secara perlahan dan
mencapai puncaknya pada hri ke 5- 10.
4. Terapi khusus stroke perdarahan:
Tindakan bedah.
Konvensional atau dengan menggunakan obat.
5. Pencegahan dan pengobatan komplikasi:
Yaitu pencegahan atau penanggulangan atau pengobatan dari
komplikasi kardiovaskuler, seperti aspirasi pneumonia, infeksi saluran

kemih, dehidrasi/ gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, trombosit


vena dalam dan emboli paru, gelisah dan depresi, kejang.
6. Rehabilitasi:
Dalam kaitan ini minimal ada dua hal, yaitu: rehabilitasi
fungsional tubuh dan psikososial. Mengingat buruknya akibat yang dapat
ditimbulkan oleh kedua penyakit tersebut, yaitu jantung dan stroke, maka
perlu bagi pembaca untuk memahami proses terjadinya
.
PROSES TERJADINYA
PENYAKIT JANTUNG DAN STROKE
Awal terjadinya proses artrosklerosis dimulai dengan adanya luka
pada sel endotel, dimana permukaannya menjadi tidak licin lagi, dan bila
ada cedera pada sel endotel maka respons terhadap cidera akan
meningkatnya permeabilitas sel endotel. Keadaan tersebut akan memicu
komponen-komponen yang terdapat di dalam darah (misalnya leukosit)
untuk masuk ke tunika media arteri.
Terbukanya fibrous kolagen subendotel akan menginduksi adesi
platelet dan agregasi pada lesi endotelium. Agregasii platelet akan
mensekresikan beberapa substansi, termasuk Platelet Derived Growth
Faktoryang dapat disingkat menjadi PDGF. PDGF menyebabkan migrasi sel
dari lapisan media ke intima, yang menstimuli proliferasi sel oto polos
pembuluh darah.
Mediator kemotaktik, misal dari platelet, menarik monosit dari
sirkulasi darah lalu menembus barier endotelial dan masuk ke ruang
subendotel. Di sini mereka berubah bentuk menjadi makrofag, yang
memainkan peanan kunci pada proses artrosklerosis. Makrofag tersebut
akan memakan tumpukan kolesterol LDL yang teroksidasi menjadi foam
cell/ sel busa di dinding pembuluh darah. Akibatnya, keseimbangan
kolesterol di makrofag akan terganggu; dengan kata lain, kolesterol yang
masuk ke dalam sel lebih besar dari kolesterol yang keluar. Di bawah
kondisi yang seperti ini, makrofag mensekresi produk-produk tambahan

yang memicu pergerakan, sehingga terjadi poliferasi fibroblast dan sel oto
polos pembuluh darah.
Sel busa ini merupakan komponen penting yang penting yang
membentuk stuktur massa plak. Plak yang terbentuk akan menjadi
matang dan dapat terjadi ruptur yang akan menyebabkan emboli dan
akan menyumbat aliran darah sehingga terjadi gangguan suplai oksigen,
baik di pembuluh darah jantung atau otak. Terjadinya oklusi aliran darah
akan dilawan dengan meningkatkan tekanan darah, dan usaha paksa ini
akan menyebabkan luka pada endotel semakin parah, sehingga plak yang
terbentuk semakin banyak.
Karena tumpukan kolesterol pada dinding arteri semakin lama
semakin banyak, hal itu membuat lapisan bawah garis pelindung arteri
perlahan-lahan mulai menebal dan jumlah sel otot bertambah. Setelah
beberapa waktu, jaringan penghubung yang menutupi daerah itu berubah
menjadi jaringan parut/ sclerosis.
Parut tersebut akan mengurangi elastisitas dinding pembuluh
darah, sehingga mudah pecah; akibatnya mulai terjadi penempelan
daerah parut oleh sel-sel darah yang beredar dalam sistem darah.
Selanjutnya

gumpalan darah dapat dengan cepat tertumpuk pada

permukaan dinding arteri yang sobek dan semakin lama semakin banyak
tumpukan terbentuk sehingga menimbulkan penyempitan arteri, lalu
penyumbatan total. Apabila artrosklerosis terjadi dalam arteri otot jantung
maka akan timbul kekurangan pasokan oksigen akut, sehingga terjadi
serangan jantung, dan bila terjadi pada arteri otak, maka terjadi serangan
stroke.

Tahapan Proses Artero Artrosklerosis


Sel endotel
Seperti kita ketahui, bahwa sel endotel pembuluh arteri merupakan
pintu gerbang terjadinya arterosklerosis. Lapisan sel endotel letaknya
sangat strategis sebagai lapisan pembatas antara dindng pembuluh darah
dengan darah, konstituen darah, dan aliran darah. Endotel bukan hanya
sebuah lapisan yang tidak memiliki fungsi (inert), tetapi justru berfungsi

sangat penting sebagai mediator yang memodulasi kontraksi dan


relaksasi otot polos pembuluh darah, mengatur adesi dan sgregasi
platelet, adesi lekosit, dan koagulasi darah.
Endotel merupakan organ utama bagi sistem kardioviskular.
Pertama, endotel melespaskan zat-zat yang menyebabkan pembuluh
darah melebar. Pembuluh darah perlu berdilatasi untuk menghasilkan
aliran yang cukup guna memberikan nutrisi pada organ-organ vital,
seperti jantung dan otak. Kedua, sebagai pertahanan tubuh, endotel
berfungsi sebagai barier sehingga cairan, hormon, lemak, dan zat lainnya
yang bersirkulasi di seluruh pembuluh darah tdak mencapai lapisan oto
pembuluh darah yang dapat terakumulasi di dinding pembuluh darah.
Tiga fungsi utama sel endotel
1. Sebagai garis pertahanan utama terhadap hampir semua
elemen asing yang mencoba menginvasi ke dalam organ tubuh.
2. Sebagai tempat metabolisme dan katabolisme.
3. Tempat sintesa senyawa vasoaktif, mediator inflamasi, mediator
proliferasi sel-sel subendotel.
Jadi, sel endotel melakukan fungsinya dengan mekanisme:
1. Mencegah adesi/ perlengketan lekosit dan sel-sel darah.
2. Mencegah agregasi.
3. Menghambat poliferasi sel oto polos arteri.
4. Menjaga permukaan pembuluh darah tetap licin.
5. Memodulasi tonus pembuluh darah supaya tetap

dalam

keadaan dilatasi.
Akibat dari gangguan sel endotel tersebut adalah:
1. Terjadinya kontraksi srteri abnormal, sehingga terjadi agregasi
platelet, proliferasi dan migrasi sel otot polos arteri.
2. Peningkatan permeabilitas sel endotel, sehingga makromolekul
dapat berpenetrasi ke dalam dinding pembuluh darah, dan
terjadilah plak arterosklerosis.
3. Sekresi molekul adesif, sehingga menyebabkan perlengketan
monosit dan platelet ke dinding pembuluh darah; lalu berubah
jadi sel busa yang banyak mengandung lemak.
Perkembangan Artrosklerosis
Kerusakan pada sel endotel mengakibatkan terjadinya sktivasi
agregasi platelet dan monosit, kemudia monosit masuk ke lapisan sub-

endotel tunika intima dan bertemu dengan sel otot polos yang bermigrasi
dari lapisan media. Bersamaan dengan itu, kolesterol LDL menembus
lapisan endotel yang rusak, lalu mengalami proses modifikasi menjadi
bentuk LDL teroksidasi (oxidised LDL). Ox-LDL ini bersifat menarik untuk
el-sel monosit dan SMC.
Sel-sel

monosit

akan

menempel

pada

endotel,

kemudian

menembus lapisan sub-endotel menjadi makrofag. Dengan perantara


scavenger reseptor yang ada pada permukaan sel endotel dan LDL
reseptor, ox-LDL akan dimakan (proses internalization) oleh sel-sel
makrofag. Proses internalization ini akan menimbulkan pembentukan
peroxides dan memfasilitasi akumulasi kolesterol ester, sehingga akhirnya
terbentuklah foam cells (sel busa).
Apabila proses ini terus berlanjut, maka lesi aterosklerotik tersebut
kemudian menjadi fatty streaks yang merupakan tanda awal dari plak
aterosklerosis. Selanjutnya fatty streaks akan membentuk lapisan fibrotik/
parut yang merupakan campuran dari lekosit, lipid, dan zat-zat sisa yang
kemudian membentuk inti yang nekrotik pada bagian lumen yang disebut
fibrous cap.
Fibrous cap sebenarnaya merupakan mekanisme proteksi, dengan
penumpukan zat-zat ekstraseluler matriks pada dindng vaskuler. Pada
tahap ini, proses aterosklerosis sudah sampai pada tahap pembentukan
plak aterosklerosis. Shoulder region/ bahu dari plak aterosklerosis ini
sangat rentan pecah atau bocor, yang kemudian mengikuti aliran darah
menyumbat pembuluh darah kecil otak sehinggga terjadi stroke, atau
sumbatan pada arteri jantung, sehingga terjadi penyakit janutng.
Peranan Faktor Risiko Terhadap Penyakit Jantung dan
Stroke
Faktor

risiko

merupakan

suatu

faktor

yang

menyebabkan

seseorang lebih rentan untuk terkena penyakit jantung dan stroke, melalui
proses pembentukan plak pada dinding pembuluh darah arteri, yang
disebut aterosklerosis. Faktor-faktor ini mencakup faktor genetik atau

faktor lingkungan yang diketahui dapat meningkatkan kemungkinan


seseorang mengalami penyakit.
Faktor Risiko Terhadap Penyakit Jantung dan Stroke
Faktor risiko secara garis vesarnya dibagi dalam 2 golongan besar,
yaitu: faktor risiko yang dapat dikontorl dan faktor risiko yang tidak dapat
dikontrol.
1. Faktor risiko yang dapat dikontrol:
Umur
Semakin tua, risikonya terkena penyakit semakin besar.
Ras/ bangsa
Afrika, Jepang, dan Cina risikonya terkena penyakit

semakin besar.
Jenis kelamin
Laki-laki mempunyai risiko terkena penyakit lebih besar
daripada wanita..
Riwayat keluarga yang pernah mengalami penyakit pada
usia muda, maka yang bersangkutan akan beresiko tinggi
terkena penyakit jantung atau stroke

2. Faktor risiko yang tidak dapat dikontrol:


Hipertensi
Diabetus militus
Stres
Hiperkolesterolemia
Obesitas
Olahraga rendah
Oksidan. Radikal bebas yang tinggi
Abnormalitas lipoprotein
Kadar fibrinogen tinggi
Perokok
Peminum alkohol
Hiperhomocyteinemia
Infeksi: virus dan bakteri
Obat kontrasepsi oral
Untuk tujuan pemahaman yang mendalam, maka bahasan dalam
buku ini akan dikonsentrasikan atau dibatasi pada faktor risiko utama dan
dapat dikontrol atau dipengaruhi dengan tindakan perubahan gaya hidup
ataupun dengan obat-obatan, dan yang merupakan faktor risiko utama
untuk

penyakit

jantung

dan

stroke

adalah

tekanan

darah

ringgi,

hiperkolesterol darah, hiperlipidemia, meroko, kegemukan, inaktivitas,


stres, diabates, dan peminum alkohol.
Dalam

mempertimbangkan

peranan

dan

faktor-faktor

risiko

terhadap penyakit jantung dan stroke, perlu dicamkan, bahwa timbulnya


penyakit tersebut umumnya tidak disebabkan oleh satu faktor saja,
melainkan interaksi dari beberapa faktor risiko. Jadi, apabila seseorang
mempunyai lebih dari satu faktor risiko, maka orang tersebut memiliki
kemungkinan

yang

lebih

besar

untuk

mendapatkan

penyakit

dibandingkan denganmereka yang hanya mempunyai satu faktor saja.


Mekanisme Kerja Faktor Risiko pada Penyakit Jantung dan
Stroke
Faktor Risiko yang tidak dapat dikontrol
1. Faktor genetik atau keturunan
Sampai sekarang, faktor keturunan masih

belum

dapat

dipastikan gen mana penentu terjadinya penyakit jantung atau


stroke. Menurut penelitian, sebanyak 17,7 persen dari 1200
kasus kambar monozigot akan menderita penyakit jantung atau
stroke. Sedangkan hanya 3,6 persen dari 1100 kembar dizigot
yang menderita penyakit jantung atau stroke. Jenis stroke
bawaan adalah Cerebral Autosomal Arteroipathy dengan infark
Subkortikal dan Laukoensefalopati (CADASIL) telah diketahuo
lokasi gennya pada kromosom 19 Q12.
2. Umur
Insiden penyakit jantung dan stroke meningkat sirirng dengan
bertambahnya usia. Setelah berumur 55 tahun, risiko stroke
iskemik meningkat 2 kali lipat tiap dekade. Sedangkan penderita
yang

berumur

antara

70-

79

tahun

banyak

menderita

pendarahan infrakranial.
3. Jenis kelamin
Laki-laki memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk terkena
stroke dibandingkan wanita, dengan perbandingan 1,3 : 1.
Tingkat kemungkinan ini cenderung menjadi hampir sama saat
pria dan wanita itu memasuki usia lanjut. Laki-laki yang

berumur 45 tahun dan mampu bertahan hidup sampai 85 tahun,


memiliki kemungkinan terkena stroke 25 persen, sedangkan
risiko bagi wanita hanya 20 persen.
Laki-laki cenderung terkena stroke iskemik, sedangkan wanita
lebih

sering

menderita

perdarahan

subarakhnoid

dan

kemtiannya 2 kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Manusia


yang berusia lanjut mempunyai kecenderungan dasar kolesterol
darah yang tinggi. Wanita canderung untuk mempunyai kadar
kolesterol total yang lebih rendah dibandingkan dengan pria dan
usia yang sama. Setelah menopause, kadar kolesterol LDL- nya
cebderung meningkat/ semakin tinggi.
4. Ras
Tingkat kejadian stroke tertinggi diseluruh dunia dialami oleh
negara Jepang dan Cina. Berdasarkan penelitian, orang negro
Amerika

cenderung

berisiko

1,4

lebih

besar

mengalami

perdarahan intraserebral (dalam otak) dibandingkan orang kulit


putih. Orang Jepang dan Amerika- Afrika cenderung mengalami
stroke perdarahan intrakranial, sedangkan orang kulit putih
cenderung terkena stroke iskemik.
Faktor Risiko yang dapat dikontrol
1. Stres
Memang belum diketahui dengan pasti pengaruh apa yang
ditimbulkan oelh faktor stres pada proses aterosklerosis. Yang
jelas,

sters

bisa

meningkatkan

pengeuaran

hormon

kewaspadaan oleh tubuh. Kecenderungan dari stres pada


umumnya mendorong seseorang melakukan kegiatan yang
merugikan diri seperti banyak minum minuman keras, merokok,
dan makan secara berlebihan.
Secara biologis, stres dapat mengakibatkan hati memproduksi
radikal bebas lebih banyak dalam tubuh. Selain itu, stres dapat
mempengaruhi dan menurunkan fungi imunitas tubuh, serta
juga menyebabkan gangguan fungsi hormonal. Stres jika tidak
dikontrol dengan baik akan menimbulkan kesan pada tubuh

adanya

bahaya,

sehingga

direspons

oleh

tubuh

secara

berlebihan.
Akibatnya, hormon-hormon yang membuat tubuh waspada,
seperti kortisol, katekolamin, epinefrin, dan adrenalin; yang
berdampak buruk bagi tubuh, dikeluarkan berlebihan. Keadaan
tersebut dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut
jantung; dan hal ini dapat merusak dinding pembuluh darah,
dan terjad plak.
Ada beberapa bentuk stres, yaitu:
Stres biologis, berupa infeksi oleh bakteri, virus, jamur,

pada sel-sel tubuh.


Stres psikis, yaitu stres yang pada tingkat pikiran seperti

mental atau emosional.


Stres fisik, dapat berupa aktifitas fisik yang berlebihan
misalnya karena bekerja secara berlebihan.

2. Tekanan darah tinggi


Tekanan darah tinggi mempercepat pengerasan pada dinding
pembuluh darah arteri, mengakibatkan penghancuran lemak
pada saat sel otot polos, sehingga mempercepat proses
aterosklerosis. Tekanan darah tinggi berperan dalam proses
aterosklerosis melalui efek penekanan pada sel endotel/ lapisan
dalam dinding arteri.
3. Merokok
Sebagian besar dari kita tahu kalau merokok itu tidak baik untuk
kesehatan, namun kebiasaan merokok masih saja dilakukan
oleh banyak orang dengan berbagai alasan. Perokok sebenarnya
membuka dirinya terhadap risiko penyakit jantung dan stroke
serta penyakit lainnya. Bagi perokok diperlukan waktu yang
lama, yaitu sekitar setahun untuk mengurangi risiko secara
optimal setelah berhenti merokok.
Peranan rokok pada proses aterosklerosis adalah:
Mingkatkan kecenderungan sel-sel darah menggumpal
pada dinding arteri.

Kegiatan merokok menurunkan jumlah HDL kolesterol


baik,

dan

menurunkan

kemampuan

HDL

dalam

menyingkirkan kolesterol LDL yang berlebihan.


Merokok meningkatkan oksidasi lemak, yang berperan
dalam perkembangan aterosklerosis.

Merokok

mengurangi

kemampuan

sseorang

dalam

menaggulangi stres, karena zat kimia dalam rokok, terutama


karbon

monoksida

akan

mengikat

oksigen

dalam

darah,

sehingga kadar oksigen dalam darah berkurang; akibatnya


metabolisme tidak berjalan dengan semestinya. Padahal kita
mengetahui bahwa otak lah yang bekerja keras dalam menghapi
stres, dan otak hanya berfungsi bila optimal bila tersedia cukup
oksigen dan energi. Energi sendiri akan diperoleh melalui
metabolisme karbohidrat.
Efek buruk dari rokok banyak sekali, seperti:
kanker; teruatama kanker paru-paru,
faktor utama terjadinya penyakit jantung dan stoke,
serta dapat mempengaruhi warna kulit.
4. Alkohol
Perihal alkohol ini terdapat hal yang unik. Mengkonsumsi alkohol
mempunyai dua sisi yang saling bertolak belakang, yaitu efek
yang menguntungkan dan efek yang merugikan. Apabila minum
alkhol secara rutin setiap hari akan mengurangi risiko stroke,
karena alkohol meningktkan HDL dalam darah.
Tetapi bila minum banyak alkohol lebih dari 60 gram per hari,
maka akan meningkatkan risiko stroke. Alkohol merupakan
racun pada otak dan pada tindakan atau tingkatan yang tinggi
dapat mengakibatkan otak berhenti berfungsi.
Alkohol oleh tubuh dipersepsi sebagai racun

dan

oleh

karenanya, tubuh dalam hal ini hati, akan memfokuskan


kerjanya

untuk

menyingkirkan

racun/

alkohol

tersebut.

Akibatnya, bahan lain yang masuk ke dalam tubuh seperti


karbohidrta dan lemak yang bersirkulasi dalam darah harus
menunggu gliran sampai proses pembuangan alkohol pada
kadar normal selesai dilakukan.

Alhasil kita tau akibatnya, wlaupun kita mnekonsumsi makanan


dalam jumlah normal, tetapi karena tisak diolah, maka seolaholah

tubuh

kita

kelebihan

makanan,

dan

risio

penyakit

kardioserebrovaskuler seperti penyakit jantung stroke tentu


meningkat.
5. Aktifitas sehari-hari atau olahraga rendah
Hidup secara aktif dapat membantu tubuh mnegontrol berat
badan serta mengurangi risiko serangan jantung dan stroke.
Hidup sehari-hari secara aktif sangat membantu menjaga
kesehatan. Adapun beberapa aktifitas yang dapat dilakukan
untuk hidup sehat adalah seperti:

berjalan kaki,
berlari/ jogging,
senam aerobik, dan
naik sepeda

Olahraga rutin tidak hanya membentuk kemampuan sistem


kardiovaskular, namun juga membangun kemampuan untuk
mengatasi stres baik fisik maupun emosional. Olahraga rutin
mampu menghilangkan produk sampingan biokimiawi dari stres
psikis seperti:
lemak darah
gula
kolesterol
Olahrga juga membakar habis produk sampingan hormon dan
racun stres, dan dapat menurunkan tekanan darah tinggi,
serta kelebihan berat badan.
Olahraga

yang

dmaksud

adalah

olahraga

aerrobik,

yaitu

olahraga yang utamanya melatih jantung dan arteri, yang


dilakukan dengan periode waktu yang lebih lama, yaitu lebih
dari 15 menit.

Sedangkan olahraga anaerobik biasanya dilakukan dengan


durasi yang amat singkat walaupun porsinya cukup berat,
misalnya:
lari cepat
angkat berat/ barbel
push up
sit up
Olahraga aerobik memfugsikan

kumpulan

oto-otot

besar,

seperti lengan dan kaki, dengan memaksa kerja sistem


pembuluh

darah

jantung/

kardiovaskuler;

sehingga

menghasilkan kebugaran untuk seluruh tubuh.


Sebaliknya, olahraga anaerobik hanya memperkuat
kumpulan otot, misal pada atlet angkat besi.

satu