Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI ACARA MEDIA PERTUMBUHAN MIKROBA

NAMA
: KURNIA ANDRY SETYAWAN NPM
: E1J011029 Shift
2
: Senin (08.00-09.40) Kelompok
: 3 (Tiga) LABORATORIUM
AGRONOMI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU 2012 BAB I
PENDAHULUAN 1.1
1.1 Latar Belakang Kita tahu bahwa semua makhluk
hidup membutuhkan nutrient untuk pertumbuhan dan reproduksinya. Nutrien
merupakan bahan baku yang digunakan untuk membangun komponen-komponen
seluler baru dan untuk menghasilkan energy yang cdibutuhkan dalam proses
kehidupan sel.
Untuk membutuhkan dan mengembangbiakkan mikroba
diperlukan suatu substrat yang disebut medium. Sedangkan medium itu sendiri
sebelum digunakaan harus dalam keadaan steril artinya tidak ditumbuhi oleh mikroba
lain yang tidak diharapkan agar mikroba dapat tumbuh dan berkembangbiak dengan
baik di dalam medium, maka diperlukan syarat tertentu yang diantaranya bahwa
didalam medium harus terkandung semua unsur hara yang diperlukan untuk
pertumbuhan dan perkembangan mikroba kemudian susunan makanannya, tekanan
osmosis, derajar, keasaman (pH), temperature, sterilisasi.
Perlu kita ketahui
pembuatan media didasarkan pada fungsi, komposisi media, dan konsistensinya
sehingga dalam kultur atau media yang dibuat dapat menumbuhkan mikroba dengan
baik dan sesuai dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan.
Yang
melatar belakangi praktikum pembuatan media adalah agar praktikan dapat
menambah pengetahuan mengenai cara pembuatan medium pertumbuhan mikroba.
1.2
1.2 Tujuan Mengetahui fungsi dari masing-masing medium Mengetahui cara pembuatan medium NA (nutrient agar ) Mengetahui cara
pembuatan medium PDA (potato dextrose agar) BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat hara (nutrient) yang
berguna untuk membiakkan mikroba. Dengan mempergunakan bermacam-macam
media dapat dilakukan isolasi, perbanyakan, pengujian sifat-sifat fisiologis dan
perhitungan jumlah mikroba (Sutedjo,1996).
Supaya mikroba dapat tumbuh
baik dalam suatu media, maka medium tersebut harus memenuhi syarat-syarat antara
lain : a.
Harus mengandung semua zat hara yang mudah digunakan oleh mikroba
b.
Harus mempunyai tekanan osmosa, tegangan permukaan dan pH yang sesuai
dengan kebutuhan mikroba yang ditumbuhkan c.
Harus mengandung zat-zat yang
dapat menghambat pertumbuhan mikroba d.
Harus berada dalam keadaan steril
sebelum digunakan, agar mikroba yang diinginkan dapat tumbuh baik (Sutedjo,1996).
Macam-macam media
Media dapat digolongkan berdasarkan atas susunan
kimianya, sifat wujudnya dan fungsinya. Penggolongan media berdasarkan susunan
kimia : 1.
Media anorganik. Yaitu media yang tersusun dari bahan-bahan anorganik
2.
Media organik. Yaitu media yang tersusun dari bahan-bahan organik 3.
Media sintetik (media buatan). Yaitu media yang susunan kimianya diketahui dengan
pasti. Media ini umumnya digunakan untuk mempelajari kebutuhan makanan suatu
mikroba 4.
Media non sintetik. Yaitu media yang susunan kimianya tidak dapat
ditentukan dengan pasti. Media ini umumnya digunakan untuk menumbuhkan dan
mempelajari taksonomi mikroba (Sutedjo,1996). Penggolongan media berdasarkan
sifat wujudnya 1.
Media cair yaitu media yang berbentuk cair 2.
Media padat.
Yaitu media yang berbentuk padat. Media ini dapat berupa bahan organik alamiah,
misalnya yang dibuat dari kentang, wortel, dan lain-lain, atau dapat juga berupa

bahan anorganik misalnya silica gel 3.


Media padat yang dapat dicairkan, (semi
solid), yaitu yang apabila dalam keadaan panas berbentuk cair, sedangkan dalam
keadaan dingin berbentuk padat, misalnya media agar (Sutedjo,1996). Penggolongan
media berdasarkan fungsinya 1.
Media diperkaya. Yaitu media yang ditambahi zatzat tertentu misalnya serum darah ekstrak tanaman dan lain sebagainya, sehinggan
dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroba yang bersifat heterotrof. 2.
Media
selektif. Yaitu media yang ditambahi zat kimia tertentu untuk mencegah pertumbuhan
mikroba lain (bersifat selektif). Misalnya media yang mengandung Kristal violet pada
kadar tertentu dapat mencegah pertumbuhan bakteri gram positif tanpa
mempengaruhi pertumbuhan bakteri gram negative. 3.
Media diferensial. Yaitu
media yang ditambahi zat kimia (bahan) tertentu yang menyebabkan suatu mikroba
membentuk pertumbuhan atau mengadakan perubahan tertentu sehingga dapat
dibedakan tipe-tipenya. Misalnya media daerah agar dapat digunakan untuk
membedakan bakteri homolitik (pemecah darah) dan bakteri non hemolitik. 4.
Media penguji. Yaitu media dengan susunan tertentu yang digunakan untuk pengujian
vitamin. Vitamin asam-asam amino, antibiotika dan lain sebagainya. 5.
Media
untuk perhitungan jumlah mikroba. Yaitu media spesifik yang digunakan untuk
menghitung jumlah mikroba dalam suatu bahan. 6.
Media khusus. Yaitu media
untuk menentukan tipe pertumbuhan mikroba dan kemampuannya untuk mengadakan
perubahan-perubahan kimia tertentu (Sutedjo,1996). Cara pembuatan media
Garis besar pembuatan media yang tersusun atas beberapa bahan adalah sebagai
berikut : a.
Mencampur bahan-bahan : bahan-bahan yang dilarutkan dalam air
suling. Kemudian dipanaskan dalam pemanas air supaya larutannya homogeny. b.
Menyaring : beberapa jenis media kadang-kadang perlu disaring, dan sebagai
penyaringan dapat digunakan kertas saring, kapas atau kain. Untuk media agar atau
gelatin penyaringan harus dilakukan dalam keadaan panas. c.
Menentukan dan
mengatur pH : penentuan pH media dapat dilakukan dengan menggunakan kertas pH,
pH meter atau dengan komparator blok. Pengaturan pH media dapat dilakukan
dengan penambahan asam atau basa (organik atau anorganik). d.
Memasukkan
media ke dalam tempat tertentu : sebelum disterilakan, media dimasukkan ke dalam
tabung reaksi, Erlenmeyer atau wadah lain yang bersih, kemudian dibungkus kertas
sampul (kertas perkamen) supaya tidak basah sewaktu disterilkan. e.
Sterilisasi :
pada umumnya sterilisasi media dilakukan dengan uap panas di dalam autoclave,
pada suhu 121 C selama 15-30 menit (Sutedjo,1996). Media biak dan persyaratan
bagi pertumbuhan.
Media biak kompleks. Untuk banyak mikroorganisme
bertuntutan tinggi belum dikenal benar bahan-bahan makanan yang diperlukan.
Orang membiakkannya dalam larutan biak yang mengandung ekstrak ragi, otolisat
ragi, pepton, atau ekstak daging. Untuk beberapa kelompok organisme lazim juga
digunakan : rempah-rempah, dekok rumput kering, sari buah prem, sari buah wortel,
santan dan untuk cendawan kupofil juga sari perasan tahi kuda. Mengingat biaya,
larutan-larutan baik tidak dibentuk dari senyawa-senyawa murni tetapi lebih disukai
untuk menggunakan zat-zat kompleks, seperti air didih, melaso, air rendaman jagung
atau ekstrak kedelei, yang sebagai produk sisa tersedia dengan harga murah. Media
bak seperti ini disebut media bak kompleks. (Schlegel, 1994). Media biak padat.
Untuk membuat bak padat pada larutan bak cair di tambahkan bahan pemadat yang
member konsistensi seperti selai pada larutan air. Hanya untuk keperluan tertentu

masih digunakan gelatin, karena sudah mencair pada suhu 26-300 C dan banyak
mikroorganisme mampu mencairkan gelatin. Kadar ion hydrogen. Diantara semua ion,
ion H+ dan OH- adalah ion-ion yang paling mobil ; oleh sebab itu perubahan kadar
yang kecil saja sudah menimbulkan pengaruh yang besar. (Schlagel, 1994).
Karbondioksida, larun bak yang diperlukan untuk pertumbuhan mikroorganisme yang
ototrof yang memfikasi CO2 biasanya ditambahi Na- bikarbonat dan diinkubasi
dibawah atmosfir yang mengandung CO2 dalam wadah tertutup (Schlagel, 1994).
Kadar air dan tekanan osmotik. Mikroorganisme menunjukkan perbedaan yang luas
dari segi tuntutan keperluan akan kadar air (Schlagel, 1994). Suhu. Memilih tuntutan
mengenai suhhu inkubasi miroorganisme berbeda-beda prilakunya. Aerasi untuk
semua mikroorganisme aerob obligat, oksigen merupakan akseptor electron yang
sangat penting. Biak anaerob. Untuk menumbuhkan jenis bakteri yang anaerob kuat
penyingkiran O2 udara merupakan persyaratan yang amat perlu (Schlegel, 1994) Zat
hara yang ditambahkan ke dalam media. Untuk pertumbuhan diperlukan zat hara.
Berbagai zat hara yang diperlukan adalah : Nitrogen : Pada umumnya bakteri tidak
dapat langsung menggunakan N2 bebas dari udara, sehingga keperluannya diberikan
dalam bentuk garam. Nitrogen diperlukan sebagai bahan dasar untuk protein, asam
nukleat dan vitamin. Dalam media bahan yang mengandung N ini berupa : NH4Cl N inorganik NaNO3 Pepton N organik Karbon :
Sebagai
sumber karbon digunakan bernagai gula, pati, glikogen. Gula yang dipakai berupa
5C,6C, atau disakarida (laktosa, sukrosa, dan maltose). Untuk dapat menggunakan
sumber karbon ini bakteri dapat menguraikannua menjadi molekul yang lebih kecil
yang kemudian digunakan untuk bahan dasar protein, polisakarida, lipida dan asam
nukleat. Vitamin dan Faktor pertumbuhan :
Berbagai vitamin yang diperlukan
bakteri adalah thiamine, riboflavin, asam nikotinat, asam pantotenas biotin. Vitamin ini
berfungsi sebagai koenzim atau bagian lain dari bahan dasar sel (Hastowo,1992).
BAB III METODE KERJA 3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum kedua ini
melakukan percobaan tentang media pertumbuhan mikroba yang dilaksanakan pada
hari Rabu, pada tanggal 16 Maret 2011 pukul 10.00-12.00 WITA. Bertempat di
Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman Samarinda. 3.2 Alat dan Bahan 3.2.1
Alat-alat - Gelas kimia - Gelas ukur - Hot plate - Autoclave - Saringan Tabung reaksi - Rak tabung reaksi - Pipet volume - Timbangan (neraca) Erlenmeyer - Magnetic stirrer - Batang pengambil magnetic stirerr - Indicator pH
- Gelas beker - Wadah (mangkuk) - Pensil - Inkubator 3.2.2 Bahan-bahan Ekstrak daging - Ekstrak kentang - Pepton - Dextrose - Agar-agar - NaCl Aquades - Chloramphenicol - Alumunium foil - Karet gelang - Kertas Indikator pH / kertas lakmus 3.2 Cara Kerja
3.3.1 Media nutrient agar (NA) 1.
Ditakar ekstrak daging sebanyak 250 ml menggunakan gelas ukur 2.
Dicampurkan
ekstrak daging 250 ml dengan pepton sebanyak 1,25 gr dan agar-agar 3,75 gr
kedalam Erlenmeyer 3.
Dipanaskan diatas hot plate hingga mendidih sambil
diaduk dengan magnetic stirrer sampai larutan homogen 4.
Diukur kadar
keasaman (pH) 5.
Dimasukkan ke dalam 2 buah Erlenmeyer masing-masing
sebanyak 125 ml 6.
Ditutup mulut Erlenmeyer menggunakan alumunium foil 7.
Dimasukkan ke dalam autoclave untuk disterilkan beserta alat-alat yang akan
digunakan, autoclave pada suhu 121oC dan tekanan 15 psi 3.3.2 Media potato

dextrose agar (PDA) 1.


Ditakar ekstrak kentang sebanyak 250 ml menggunakan
gelas ukur 2.
Dicampurkan ekstrak kentang 250 ml dengan dextrose 2,5 gr dan
agar-agar 3,75 gr ke dalam Erlenmeyer 3.
Dipanaskan diatas hot plate hingga
mendidih sambil diaduk dengan menggunakan magnetic stirrer sampai homogen, lalu
dibiarkan beberapa saat 4.
Dilarutkan chloromphenicol dengan aquades sebanyak
10 ml ke dalam media ekstrak kentang 5.
Dihomogenkan kemudian diukur kadar
keasamannya (pH) 6.
Ditutup mulut Erlenmeyer menggunakan alumunium foil,
kemudian dibungkus dengan kertas 7.
Dimasukkan ke dalam autoclave untuk
disterilokan beserta alat-alat yang akan digunakan, autoclave pada suhu 121oC dan
tekanan 15 psi 3.3.3 Garam fisiologis Ditakar 150 ml aquades dengan labu
takar Dicampurkan 1,275 gr NaCl dengan 150 ml aqudes kedalam Erlenmeyer
Dihogenkan menggunakan magnetic stirrer Dimasukkan ke dalam
tabung reaksi masing-masing 9 ml Ditutup mulut tabung reaksi menggunakan
alumunium foil , kemudian dibungkus dengan kertas Dimasukkan ke dalam
autoclave untuk disterikan beserta alat-alat yang akan digunakan, autoclave pada
suhu 121oC dan tekanan 15 psi BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil
pengamatan 4.1.1
Tabel hasi pengamatan media pertumbuhan bakteri No. Media
Keterangan 01. Warna awal pengamatan, berwarna kuning. Setelah
pemanasan warna media agak cokelat Komposisi : kaldu daging 250 ml,
pepton 1,25 gr, dan agar 3,75 gr pH = 7 4.1.2
Tabel hasil pengamatan
media pertumbuhan jamur No. Media Keterangan 02. Warna awal
pengamatan, sebelum proses pemanasan berwarna keruh, setelah pemanasan warna
media agak cokelat muda Komposisi : kaldu kentang 250 ml, dextrose 2,5 gr,
dan agar 3,75 gr, ditambah chloromphenicol pH = 5,9 4.3 Pembahasan
Pada media NA digunakan ekstrak daging karena daging sebagai sumber vitamin B,
mengandung nitrogen organik, dan senyawa karbon. NA adalah nutrient agar. Pada
media PDA (potato dextrose agar) digunakan ekstrak kentang karena kentang
sebagai sumber karbon (karbohidrat), vitamin, dan energy. Dextrose sebagai sumber
gula dan energy, dan agar berguna untuk mendapatkan media PDA. Pepton sebagai
sumber protein, karbohidrat, dan penghasil nitrogen. Dan diberi agar sebanyak
pemadat media NA.
Pembuatan media nutrient agar (NA) berasal dari bahan
ekstrak daging sebanyak 250 ml, lalu dicampurkan dengan pepton sebanyak 1,25 gr
dan agar 3,75 gr. Dipanaskan diatas hot plate hingga mendidih, wadah yang
digunakan adalah Erlenmeyer. Campuran ini selama dipanaskan juga diaduk
menggunakan magnetic stirrer, setelah itu diuku pHnya, sesuai standarisasinya.
Media adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat hara (nutrient)
yang berguna untuk membiakkan mikroba. Dengan menggunakan bermacam-macam
media dapat dilakukan isolasi, perbanyakan, pengujian sifat-sifat fisiologis dan
perhitungan juimlah mikroba (schlegel,1994).
Tujuan dalam pembuatan media
untuk wadah membiakkan mikroba, sehingga mikroba dapat tumbuh baik dalam suatu
media yang telah dibuat.
Chloromphrnicol adalah antibiotik yang diberikan
pada media yang berfungsi untuk membunuh mikroba-mikroba yang tidak diinginkan
supaya mikroba yang akan kita buat tidak terganggu atau dengan kata lain agar
media tidak terkontaminasi (Sutedjo,1996).
Pada pembuatan media NA,
ekstrak daging 250 ml, dicampurkan pepton 1,25 gr, dan agar 3,75 gr.didapatkan
pada awal pengamatan, berwarna kuning. Setelah pemanasan didapatkan hasil

warna media agak cokelat, dan diukur keasamannya (pH). pH yang ada pada NA
sudah sesuai dengan standarisasi pH 6,8-7,0 , pH NA adalah 7. Sehingga tidak harus
diberi tambahan NaCl. Kemudian pada pembuatan media potato dextrose agar
dengan menggunakan bahan dasar ekstrak kentang 250 ml, ditambah dextrose 2,5
gr, dan agar 3,75 gr ditambah chloramphenicol. Didapatkan pada awal pengamatan,
sebelum proses pemanasan berwarna keruh, setelah dilakukan pemanasan
didapatkan hasil warna media agak cokelat muda, kemudian diukur keasamannya
didapatkan pH 5,9.
Pada pembuatan larutan garam fisiologis aquades dan
NaCl ditakar untuki membuat larutan NaCl 0,85%, larutan distirer supaya larutan
aquades dan NaCl tercampur. Mulut tabung reaksi ditutup dengan menggunakan
alumunium foil dan dibungkus dengan kertas, dilakukan ini berfungsi untuk media
tetap steril, tidak terkontaminasi terhadap mikroorganisme yang ada diluar. Kemudian
larutan disteril menggunakan autoclave, ini berfungsi untuk membunuh semua
mikroorganisme yang terdapat dalam larutan.
Dalam melakukan percobaan
dilakukan beberapa perlakuan yaitu menakar ekstrak kentang dan daging agar sesuai
dengan komposisi yang ada. Memanaskan atau autoclave larutan agar
mikroorganisme yang lain mati. Menggunakan sstirer agar larutan menjadi larutan
homogen. Menutup mulut Erlenmeyer dengan alumunium foil agar tidak ada
mikroorganisme yang masuk.
Faktor kesalahan terjadi apabila pada saat
pemanasan diatas hot plate tidak hati-hati sehingga air mendidih dan berhamburan
keluar dari Erlenmeyer. BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari praktikum pada media
pertumbuhan mikroba dapat disimpulkan bahwa : Fungsi medium (NA)
berdasrkan susunan kimianya merupakan medium non sintetik atau semi ilmiah,
berdasarkan konsistennya merupakan medium padat, untuk menumbuhkan bakteri,
(PDA) termasuk media padat, berdasarkan susunan kimianya termasuk sintetik untuk
menumbuhkan jamur. Pembuatan media (NA) menggunakan bahan utama
ekstrak daging 250 ml dengan komposisi pepton sebanyak 1,25 gr dan agar 3,75
pada pembuatan media ini ditambahkan pepton agar mikroba cepat tumbuh karena
mengandung N2 Pembuatan medium (PDA) menggunakan bahan utama ekstrak
kentang 250 ml dengan komposisi dextrose 2,5 gr dan agar 3,75 gr. Pada media ini
ditambahkan chlorainphericol sebagai antibiotik sehingga mikroba yang tidak
digunakan tidak tumbuh. 5.2 Saran Sebaiknya pada saat praktikum, dilakukan dengan
berhati-hati, pada saat pemanasan menggunakan hot plate harus diperhatikan agar
tidak terjadi air mendidih dan bertumpahan keluar. DAFTAR PUSTAKA Sumanti,
Debby dkk. 2008. Diktat Penuntun Praktikum Mikrobiologi Pangan . Universitas
Padjajaran, Jatinangor. Fardiaz, S. 1989. Mikrobiologi Pangan 1. Jurusan Teknologi
Pangan dan Gizi.
Fateta IPB, Bogor.
Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu