Anda di halaman 1dari 20

1

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Allah AWT, karena dengan rahmat
dan hidayahNya kami dapat menyeleseikan Penuntun Praktikum Mikrobiologi ini. Penuntun
praktikum ini berisi materi yang mendukung perkuliahaan / teori tentang mikrobiologi secara
umum, misal : mengenal alat-alat yang digunakan apabila bekerja dengan mikroba,
sterilisasi alat dan pembuatan media, Isolasi mikroba, morfologi mikroba, mengenal sifat
fisiologi dan biokimia mikroba, mengetahui pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan
mikroba, serta cara menghitung populasi mikroba.
Sebagai akhir kata, semoga penuntun praktikum ini dapat memberi bimbingan bagi
mahasiswa pengguna dan berguna bagi pembaca secara umum.

Surabaya,
Tim penyusun

2
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Mikrobiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari mikroba secara umum seperti
bakteri, Actinomycetes,

jamur, virus

dan lainnya. Penuntun praktikum ini merupakan

pelengkap dari buku buku tentang mikrobiologi yang menjadi pedoman kuliah mikrobiologi
sedang materinya disesuaikan dengan silabus wajib nasional untuk mata kuliah mikrobiologi
dalam pedoman akademik.
1.2. Tujuan
Tujuan praktikum mikrobiologi untuk memperkenalkan cara (1) sterilisasi alat dan
media, (2) membuat media, (3) isolasi mikroba, (4) pengamatan morfologi sel dan koloni
mikroba, (5) pengujian sifat fisiologi dan biokimia, 6). mengetahui pengaruh lingkungan
terhadap mikroba dan pengujian mikroba patogen tumbuhan.

3
II. PENGENALAN ALAT DAN MIKROSKOP
Sebelum bekerja dengan mikroba, kita harus mengenal semua alat-alat yang
digunakan, cara menggunakannya dan fungsi dari alat tersebut termasuk mikroskop.Hal
tersebut harus dipahami, agar apa yang kita kerjakan benar dan berjalan dengan baik. Alatalat tersebut ada yang terbuat dari kaca dan ada yang dari logam. Alat-alat yang terbuat dari
kaca antara lain ; Erlenmeyer, cawan petri, beker glass, tabung reaksi, kaca pengaduk,
gelas ukur, dan lain-lain. Adapun alat yang terbuat dari logam antara lain adalah jarum ose,
jarum preparat, pinset, scalpel, bor gabus, dan lain-lain.
Mikroskop merupakan alat untuk mengamati mikroba atau histologi sel/jaringan.
Secara garis besar mikroskop terdiri dari 2 bagian yaitu (1) bagian mekanik dan (2) bagian
optik.Bagian mekanik meliputi : statif, tubus, revolver, meja benda, sekrup pengatur tubus
(kasar dan halus), sekrup pengatur kondensor dan sekrup penggerak meja benda. Bagian
optik meliputi : lensa okuler dan obyektif, kondensor dan cermin pengatur cahaya. Lensa
obyektif membentuk bayangan nyata dari preparat, lensa okuler membuat bayangan semu
sehingga bayangan semu tersebut dapat dilihat mata dan kondensor untuk mengatur
intensitas cahaya yang masuk ke mikroskop.

2.2. Tujuan
Mengenalkan alat-alat yang digunakan untuk bekerja dengan mikroba, dan
mengenalkan bagian-bagian dan cara penggunaan mikroskop.
2.3. Tata Kerja
Siapkan semua alat-alat laboratorium seperti Erlenmeyer, cawan petri, beker glass,
tabung reaksi, kaca pengaduk, gelas ukur, dan alat yang terbuat dari logam antara lain
jarum ose, jarum preparat, pinset, scalpel, bor gabus. Semua alat disebut nama alat, cara
menggunakan serta fungsinya dalam laboratorium.
Untuk mikroskop; siapkan preparat kemudian periksa lensa okuler dan obyektif
kemudian atur lensa okuler dan obyektif. Letakkan preparat di atas meja benda dan amati
preparat dengan perbesaran obyektif yang terkecil, bila telah terdapat bayangan lanjutkan
dengan perbesaran obyektif yang besar sampai tampak bayangan nyata ( bayangan obyek
yang sesungguhnya ). Gambar hasil pengamatan anda.

4
III. STERILISASI ALAT, PEMBUATAN DAN STERILISASI MEDIA
3.1. Pendahuluan
Menurut Jutono, Soedarsono, Hartadi, Kabirun, Suhadi, Soesanto (1980), sterilisasi
merupakan suatu usaha untuk membebaskan alat atau media dari segala jenis mikroba.
Sterilisasi alat atau media dapat dikerjakan secara mekanik ( misal : penyaringan ), kimia
(misal : desinfektan), dan fisik (misal : sinar ultra violet) dan cara sterilisasi yang digunakan
tergantung pada jenis dan sifat bahan yang disterilkan (misal : ketahanan terhadap panas).
Sterilisasi dapat dilakukan dengan 4 cara :
e. Sterilisasi dengan pemijaran
f. Sterilisasi dengan udara panas
g. Sterilisasi dengan uap air panas
h. Sterilisasi dengan uap air panas bertekanan
Adapun penjelasan masing-masing cara Sterilisasi tersebut adalah :
e. Sterilisasi dengan pemijaran : cara ini digunakan untuk Sterilisasi alat dari platina/nikrom
denga cara membakar di atas api Bunsen sampai pijar.
f. Sterilisasi dengan udara panas (kering) : Menggunakan oven (hot air Sterilizer) pada
170-180C selama 1-2 jam, digunaka untuk Sterilisasi alat, bahan/media.
g. Sterilisasi dengan uap air panas : menggunakan Ardold steam sterilizer pada 100C
selama 30 menit, digunakan untuk media tumbuh yang tidak tahan terhadap panas tinggi.
h. Sterilisasi dengan uap air bertekanan : menggunakan otoklaf pada 121C selama 25
menit dan tekanan 1-2 atm, digunakan untuk alat dan media/bahan.
3.2. Tujuan
Mengenalkan alat dan cara untuk sterilisasi alat juga cara membuat media/bahan
dan sterilisasi media/bahan.
3.3. Tata Kerja
3.3.1. Sterilisasi Alat
Rendam dan rebus semua alat dari kaca dalam air mendidih untuk menghilangkan
lemak / sisa-sisa jamur / bakteri yang masih melekat pada alat. Dinginkan air kemudian

5
ambil semua alat atau dalam keadaan air agak panas ambil semua alat dengan
menggunakan penjepit dan tampung dalam suatu tempat / bak plastik. Cuci semua alat dari
kaca (misal : cawan petri, tabung reaksi) dengan sabun dan bilas dengan air mengalir.
Keringkan dengan oven pada 70Cselama 24 jam atau kering angin. Bungkus cawan petri
dengan kertas dan sumbat tabung reaksi, Erlenmeyer dengan kapas kemudian sterilkan
dengan oven pada 170C selama 1,5 jam (dihitung setelah temperatur stabil ) atau sterilkan
dengan autoklaf pada 121C selama 25-30 menit dan tekanan 1-2 atm ( dihitung setelah
temperatur dan tekanan stabil ). Untuk skalpel, pinset, jarum Ose bungkus dengan
alumunium foil kemudian sterilkan dengan oven pada 170C selama 1,5 jam (dihitung
setelah temperatur stabil) ,atau dengan pemijaran menggunakan lampu Bunsen, atau
sterilkan dengan autoklaf pada 121C selama 25-30 menit dan tekanan 1-2 atm (dihitung
setelah temperatur dan tekanan stabil ). Ambil alat dan simpan (Jutono, dkk.,1980).
3.3.2. Pembuatan dan Sterilisasi Media
a. Media Nutrient Agar (NA)
-

Bahan : 1 g ekstrak daging, 1 g ekstrak khamir, 5 g pepton, 5 g NaCI, 15 g agaragar, 1000 ml aquadest (1 resep).

Cara Membuat : Timbang masing-masing bahan dan siapkan. Larutkan ekstrak daging,
ekstrak khamir dalam 200 ml aquadest (larutan I ). Didihkan 800 ml aquadest dan masukan
larutan I kemudian masak sampai mendidih. Ukur pH media (6,8-7,0) dengan kertas lakmus.
Untuk mencapai pH tersebut gunakan larutan NaOH40%. Tambahkan agar-agar dan aduk
sampai larut.
Bila telah siap tuang ke Erlenmeyer sebanyak bagian Erlenmeyer. Sterilkan
dengan autoklaf pada 121C, tekanan 1.5 atm selama 25-30 menit.
b. Media Potato Dekstrosa Agar (PDA)
- bahan : 250 g kentang, 20 g dekstrosa, 15 g agar-agar, 1000 ml aquadest (1 resep).
Cara membuat : Timbang dekstrosa dan agar-agar kemudian siapkan. Kupas kentang
berbentuk dadu kemudian timbang. Rebus kentang dalam 1000 ml aquadest sampai
mendidih dan kentang lunak. Saring air rebusan dan tambahkan aquadest lagi bila
berkurang sampai volume mencapai 1000 ml kembali. Masukan agar-agar sambil aduk
sampai larut. Masukan dekstrosa dan aduk sampai larut.
Bila telah siap tuang ke Erlenmeyer 1/2 bagian
autoklaf pada 121C, tekanan 1.5 atm selama 25-30 menit.

Erlenmeyer. Sterilkan dengan

6
IV. ISOLASI
4.1. Pendahuluan
Isolasi, menurut Jutono, dkk., (1980), isolasi adalah proses memisahkan suatu
organisme / mikroba (patogen / non-patogen) dari inang / tempat tumbuh / hidup ke tempat
tumbuh / hidup baru (alami, buatan / sintesis ).
Isolasi bakteri dan jamur umumnya dilakukan dari jaringan tipis dan tebal juga dari daerah
sekitar perakaran dan tanah tempat tumbuh.
4.2. Tata Kerja
4.2.1. Isolasi Bakteri dari Jaringan Tipis
- Bahan : daun sakit (komoditas menyesuaikan), aquadest steril, sublimat 0,1% atau alkohol
70%, media NA steril.
Alat : Jarum Ose, Lampu Bunsen, skalpel, pinset, laminar air flow.
Sediakan media NA dalam cawan petri. Ambil bahan / spesimen sakit bersihkan
sengan aquadest steril. Potong-potong bahan tersebut, pisahkan bagian yang sakit dan
yang sehat. Rendam potongan tersebut dalam larutan sublimat (HgCI2) 0,1% atau alkohol
70% selama 1 menit kemudian cuci dengan aquadest steril hingga alkohol atau sublimat
hilang.
Masukkan potongan bahan yang telah steril ke cawan Petri yang telah diisi aquadest
steril kemudian cacah potongan bahan hingga keluar masa bakterinya dan membentuk
suspensi bakteri.
Ambil suspensi dengan jarum Ose dan goreskan ke media NA dan inkubasikan 24
jam. Amati koloni yang tumbuh dan pindah ke media NA baru dan inkubasikan 24 jam. Bila
tumbuh amati bentuk, warna, wajah, permukaan koloni berdasar buku Dasar-dasar
Mikrobiologi (Dwidjoseputro, 1985). Catat hasil pengamatan pada tabel 2.
4.2.2. Isolasi Bakteri dari Jaringan Tebal
- Bahan : buah sakit (komoditas menyesuaikan), aquadest steril, sublimat 0,1% atau alkohol
70% NA steril.

Alat : jarum Ose, lampu Bunsen, skalpel, pinset, laminar air flow .

7
Sediakan media NA dalam cawan petri. Ambil bahan / spesimen sakit bersihkan
dengan aquadest steril. Bersihkan atau usap bahan sakit dengan alkohol 70% atau sublimat
0,1%. Potong-potong bahan tersebut, pisahkan bagian sakit dan sehat. Rendam potongan
tersebut dalam larutan sublimat (HgCI2) 0,1% atau alkohol 70% selama 1 menit kemudian
cuci dengan aquadest steril hingga alkohol atau sublimat hilang.
Masukan potongan bahan yang telah steril ke cawan petri yang telah diisi aquadest
steril kemudian cacah potongan bahan hingga keluar massa bakterinya dan membentuk
suspensi bakteri.
Ambil suspensi dengan jarum Ose dan goreskan ke media NA dan inkubasikan 24
jam. Amati koloni yang tumbuh dan pndah ke media NA baru dan inkubasikan 24 jam. Bila
tumbuh amati bentuk, warna, wajah, permukaan koloni berdasar buku Dasar-dasar
Mikrobiologi (Dwidjoseputro, 1985). Catat hasil pengamatan pada tabel 2.
4.2.3. Isolasi Bakteri dari Tanah
- Bahan : tanah sekitar tanaman sakit, aquadest steril, media NA steril.
Alat : timbangan, tabung reaksi steril, pengaduk, pipet tetes.
Metode Pengenceran
Timbang 1 g contoh tanah kemudian buat suspensi dalam 10 ml aquadest steril.
Buat 4 seri pengenceran (104) yaitu setiap 1 ml suspensi tanah dilarutkan dalam 9
ml aquadest steril dan setiap suspensi harus dikocok hingga homogen.
Teteskan 1 tetes suspensi terakhir menggunakan pipet tetes ke media NA yang telah
siap dan ratakan. Inkubasikan 24 jam, amati dan catat hasil pengamatan pada Tabel
2.
Metode Penaburan
Timbang 1 g contoh tanah kemudian kering anginkan beberapa saat. Taburkan
sedikit (1 kolong Ose) ke media NA yang telah siap.Inkubasikan 24 jam. Catat hasil
pengamatann pada Tabel 2.
4.2.4. Isolasi Jamur dari jaringan Tebal
- Bahan : buah sakit (komoditas menyesuaikan), aquadest steril, sublimat 0,1% atau alkohol
70%, media PDA steril.
Alat : jarum Ose, lampu Bunsen, skalpel, pinset, laminar air flow.

8
Sediakan media PDA dalam cawan petri. Ambil bahan / spesimen sakit bersihkan
sengan aquadest steril. Bersihkan atau usap bahan sakit dengan alkohol 70% atau sublimat
0,1%. Potong atau ambil bagian yang berbatasan antara sakit dan sehat.

Letakkan potongan bahan pada medai dalam cawan petri, kemudian inkubasikan 2-3
hari. Amati koloni yang tumbuh dan pindah ke media PDA baru dan inkubasikan 2-3 hari.
Bila tumbuh amati koloninya. Catat hasil pengamatan pada tabel 3.
4.2.5. Isolasi Jamur dari jaringan Tipis
- Bahan :

daun sakit (komoditas menyesuaikan), aquadest steril, sublimat 0,1% atau

alkohol 70%, media NA steril.


Alat : jarum Ose, Lampu bunsen, skalpel, pinset, laminar air flow.

Sediakan media PDA dalam cawan petri. Ambil bahan / spesimen sakit bersihkan
dengan aquadest steril. Potong-potong bahan tersebut, kemudian rendam potongan
tersebut dalam larutan sublimat (HgCI2) 0,1% atau alkohol 70% selama 1 menit dan cuci
dengan aquadest steril hingga alkohol atau sublimat hilang.
Keringkan potongan di atas kertas kering saring steril beberapa saat kemudian
letakkan pada media. Inkubasikan 2-3 hari dan amati koloni yang tumbuh. Pindah ke media
PDA baru, inkubasikan 2-3 hari. Catat koloni yang tumbuh pada tabel 3.
4.2.6. Isolasi Jamur dari Tanah
- Bahan : tanah sekitar tanaman sakit, aquadest steril, media NA steril.
Alat : timbangan, tabung reaksi steril, pengaduk, pipet tetes.
Metode Pengenceran
Timbang 1 g contoh tanah kemudian buat suspensi dalam 10 ml aquadest steril.
Buat 4 seri pengenceran (104) yaitu setiap 1 ml suspensi tanah dilarutkan dalam 9
ml aquadest steril dan setiap suspensi harus dikocok hingga homogen.
Teteskan 1 tetes suspensi terakhir menggunakan pipet tetes ke media PDA yang
telah siap dan ratakan. Inkubasikan 24 jam, amati dan catat hasil pengamatan pada
tabel 3.

Metode Penaburan
Timbang 1 g contoh kemudian keringanginkan bebrapa saat. Taburkan sedikit (1
kolong Ose) ke media PDA yang telah siap. Inkubasikan 24 jam. Catat hasil
pengamatan pada tabel 3.

Tabel 2. Hasil Isolasi Bakteri

No

Isolasi dari

Bentuk

Warna

Koloni

koloni

Wajah Koloni

Permukaan
Koloni

10
Tabel 3. Hasil Isolasi Jamur

No

Isolasi Dari

Bentuk koloni

Warna koloni

11
V.MORFOLOGI KOLONI DAN SEL MIKROBA

A. Pendahuluan
Jamur benang merupakan jamur berbentuk benang multiseluler tidak berklorofil,
selnya tidak mengalami diferensiasi dalam jaringan. Pada umumnya jamur benang hidup
sebagai saprofit atau parasit. jamur benang membentuk pertumbuhan seperti benang
bercabang-cabang yang disebut miselium. Pengamatan morfologi jamur benang sangat
penting untuk identifikasi dan determinasi. Bahkan pengamatan morfologi ini lebih penting
bila dibandingkan dengan pengamatan fisiologi, walaupun pengamatan fisiologi perlu
dilakukan untuk membantu identifikasi dan determinasi jamur sampai spesies. Dalam
pengamatan morfologi secara mikroskopis beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :
hifa, spora seksual, spora aseksual, tangkai (pendukung) badan buah, dan lain-lain.
Pengamatan Bakteridengan menggunakan mikroskop ini hanya dapat untuk
mengamati bentuk sel bakteri, sedangkan untuk mengetahui bagian-bagian sel
dengan teliti dapat dilakukan dengan pengecetan.
Untuk mengetahui bentuk dan warna koloni bakteri dapat dilakukan dengan
menggunakan perlakuan pada media yang telah ditambah tyrosin, sedangkan
konsistensi koloni dilakukan dengan menggunakan media dilakukan dengan
menggunakan media ditambah TTC.
Tujuan :
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui cara pengamatan bentuk, warna, konsistensi
koloni dan sel berbagai mikrobia.
2. Agar mahasiswa dapat mengenal berbagai macam bentuk, warna , konsistensi
koloni dan sel berbagai mikrobia.

Bahan :
Biakan murni jamur dan bakteri, media CPG, PDA, lactofenol, alkohol, TTC
dan tyrosin.
Alat :
Gelas benda, cawan petri, jarum ose, lampu bunsen, mikroskop, dan lain-lain.

Cara kerja :
Morfologi koloni jamur dan koloni bakteri.
Untuk mengetahui bentuk dan warna koloni bakteri yaitu :
1. Siapkan biakan murni bakteri.

12
2. Goreskan biakan murni bakteri pada medium CPG yang telah disiapkan di cawan
petri.
3. Bentuk dan warna koloni bakteri diamati diamati setelah berumur 48 jam.
Pembentukan pigmen bakteri diuji dengan cara :
1. Tumbuhkan bakteri pada medium CPG yang ditambah tyrosin.
2. Inkubasikan selama 24-48 jam.
3. Amati pertumbuhan koloninya, terutama di sekitar koloni (bila di sekitar koloni
berwarna cokelat berarti positif).

Konsistensi koloni Bakteri :


1. Tumbuhkan bakteri pada media CPG yang telah ditambah dengan TTC.
2. Inkubasikan pada suhu kamar selama 48 jam.
3. Amati pertumbuhan koloninya.

Pengamatan koloni jamur :


1. Tumbuhkan jamur pada media PDA.
2. Inkubasikan pada suhu kamar selama 4 hari.
3. Amati pertumbuhan koloninya.

Morfologi sel jamur dan bakteri :


Untuk mengetahui morfologi sel jamur
1.Bersihkan gelas benda dengan alkohol sampai bebas dari lemak dan debu,
kemudian ditetesi dengan larutan laktofenol pada bagian tengahnya.
2. Ambil sedikit biakan jamur dengan jarum preparat dan letakkan di atas gelas
benda yang telah diberi laktofenol.
3. Jika masa miselium jamur menggumpal supaya dipisahkan dengan menggunakan
dua buah jarum preparat.
4. Kemudian ditutup dengan gelas penutup. Harus dijaga agar pada waktu
meletakkan gelas penutup jangan sampai terbentuk gelembung-gelembung udara
di dalam preparat.
5. Amati dengan mikroskop perbesaran lemah terlebih dahulu, selanjutnya
perbesaran kuat.
6. Gambar hyfa dan spora jamur dan beri keterangan yang lengkap.
Untuk morfologi sel bakteri :

13
1. Bersihkan gelas benda dengan alkohol sampai bebas dari lemak dan debu,
kemudian ditetesi dengan larutan laktofenol pada bagaian tengahnya.
2. Ambil sedikit biakan dengan jarum ose dan suspensikan dalam air steril.
3. Ambil sedikit suspensi bakteri dengan menggunakan jarum ose.
4. Teteskan 1 tetes suspensi bakteri ke atas gelas benda, kemudian ditutup dengan
gelas penutup. Harus dijaga agar pada waktu meletakkan gelas penutup jangan
sampai terbentuk gelembung-gelembung udara di dalam preparat.
5. Amati dengan mikroskop perbesaran lemah terlebih dahulu, selanjutnyaperbesran
kuat.
6. Gambar dan beri keterangan yang lengkap.

14
VI. PENGUJIAN SIFAT-SIFAT FISIOLOGI DAN BIOKIMIA

A. Pendahuluan
Identifikasi bakteri patogen tanaman ada 2 tahap yaitu : 1). Identifikasi awal dengan
parameter bentuk dan warna dari koloni maupun sel bakteri, 2). Identifikasi lanjutan dengan
uji fisiologi dan biokimia bakteri. Uji fisiologi dan biokimia bakteri meliputi uji gram, oksidase,
katalase dan Oksidasi Fermentasi (OF). Untuk identifikasi bakteri, bakteri dari biakan murni
yang berumur 24-72 jam adalah yang paling baik karena pertumbuhan bakteri
optimal/proses metabolisme paling baik.

Tujuan :
1. Melatih mahasiswa untuk dapat mengidentifikasi bakteri.
2. Mengelompokkan bakteri patogen tanaman berdasar sifat-sifatnya.

Bahan :
Biakan murni bakteri, media CPG, NA, KOH, H2O2, Kovacs media untuk uji OF
Alat :
outoklaf, Jarum ose, tabung reaksi, gelas benda, dll
Cara Kerja :
Pengujian fisiologi dan biokimia

1.Pengujian gram
a. Teteskan KOH 3% pada gelas benda.
b. Letakkan satu ose koloni bakteri yang diambil dari biakan murni berumur 48 jam,
pada gelas benda yang telah diberi KOH 3%.
c. Lakukan gerakan berputar-putar dengan menggunakan jarum ose dan tarik-tarik
ke atas.
d. Jika larutan KOH menjadi lentur seperti benang dengan panjang kurang lebih 0,5
2 cm berarti reaksi positif sebagai gran negatif.

2. Uji katalase atau reduksi hydrogen peroksida


a. Goreskan biakan bakteri yang telah berumur 48 jam pada gelas benda.
b. Teteskan H2O2 5% pada gelas benda.
c. Tunggu selama 1 2 detik, bila terjadi gelembung udara, menunjukan bahwa
bakteri mereduksi H2O2.

15
3. Uji Oksidasi
a. Goreskan satu ose bakteri yang berumur 24 48 jam pada kertas saring yang
telah diperlukan dengan larutan Kovacs Oxydase.
b. Tunggu selama 10 detik.
c. Apabila pada spot yang ada goresan, kertas berubah warna menjadi ungu berarti
hasil positif.
4. Oksidasi fermentasi = OF (kebutuhan oksigen)
a. Inokulasikan suspensi bakteri pada medium untuk OF test dalam tabung reaksi.
b. Tutup permukaan medium dengan minyak parafin steril setinggi 1 cm, pada salah
satu tabung yang telah diinokulasi.
c. Inkubasikan selama 3 4 hari, selanjutnya amati pertumbuhannya.

16
VII. PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PERKEMBANGAN MIKROBIA

A. Pendahuluan
Kegiatan suatu mikrobia dipengaruhi oleh faktorfaktor lingkungan atau unsur-unsur
ekologi. Perubahan yang terjadi pada faktor-faktor tersebut dapat mengakibatkan perubahan
sifat morfologi dan fisiologi mikrobia. Faktor-faktor lingkungan meliputi faktor abiotik dan
faktor biotik.
Faktor abiotik adalah faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan yang bersifat fisika
dan kimia. Di antara faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah temperatur, pH,
kelembaban, sinar, dan lain-lain.
B. Temperatur
Masing-masing

mikrobia

memerlukan

temperatur

tertentu

untuk

hidupnya.

Temperatur pertumbuhan suatu mikrobia dapat dibedakan dalam temperatur minimum,


optimum, dan maksimum. Berdasarkan atas perbedaan temperatur pertumbuhannya dapat
dibedakan mikrobia yang psikhrofil, mesofil, dan termofil.

C. pH
Mikrobia dapat tumbuh baik pada daerah pH tertentu, misalnya untuk bakteri pada
pH 6,5 7,5; khamir pada pH 4,0 4,5 ; sedangkan jamur pada daerah pH yang luas.
Setiap mikrobia mempunyai pH minimum, optimum, dan maksimum untuk pertumbuhannya.
Berdasarkan atas perbedaan daerah pH untuk pertumbuhannya dapat dibedakan mikrobia
yang asidofil, mesofil (neutrofil), dan alkalofil. Untuk menahan perubahan pH ke dalam
medium sering ditambahkan larutan buffer.
Tujuan :
1. Agar mahasiswa memahami dan mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap
pertumbuhan mikrobia.
2. Agar mahasiswa memahami dan mengetahui kisaran temperatur dan pH untuk hidup
jamur dan bakteri.
Bahan :
Biakan murni jamur dan bakteri, medium CPG dan PDA, air steril, dan lain-lain.

Alat :
Cawan petri, tabung reaksi, jarum preparat, jarum ose, dan lain-lain.

17
Cara Kerja :
Pengaruh temperatur terhadap pertumbuhan bakteri dan jamur :
1. Siapkan biakan murni bakteri dan jamur yang berumur 48 jam.
2. Siapkan medium CPG cair dalam tabung reaksi untuk bakteri dan PDA cair untuk
jamur.
3. Inokulasikan 5 tabung yang telah ada medium CPG masing-masing dengan 1 ose
biakan murni bakteri.
4. Inokulasikan 5 tabung yang telah ada medium PDA masing-masing dengan koloni
jamur dengan menggunakan jarum preparat.
5. Pisahkan masing-masing tabung tersebut dan inkubasikan pada temperatur kamar
almari es, 30, 37, dan 47/50 C.
6. Catat pertumbuhan bakteri maupun jamur dengan melihat keadaan / kekeruhan
medium.

Pengaruh

pH

terhadap

pertumbuhan

bakteri

dan

jamur

1. Siapkan biakan murni dan jamur yang berumur 48 jam


2. Siapkan medium CPG cair dalam tabung reaksi untuk bakteri dan PDA cair untuk
jamur dengan pH yang berbeda yaitu 4;5;6;7;8;10.
3. Inokulasikan 5 tabung yang telah ada medium PDA masing-masing dengan 1 ose
biakan murni bakteri.
4. Inokulasikan 5 tabung yang telah ada medium PDA masing-masing dengan koloni
jamur dengan menggunakan jarum preparat,
5. Pisahkan masing-masing tabung tersebut dan inkubasikan pada temperatur
kamar.
6. Catat pertumbuhan bakteri maupun jamur dengan melihat keadaan / kekeruhan
medium.

18
VIII. PENGUJIAN MIKROBIA PATOGEN TUMBUHAN

A. Pendahuluan
Hampir semua jamur patogen tumbuhan menghabiskan sebagian hidupnya pada
tumbuhan inangnya dan sebagian di dalam tanah atau sisa tumbuhan dalam tanah.
Beberapa jenis jamur melewati seluruh hidupnya pada inang, dan mungkin hanya spora
yang mendarat di tanah, tetapi spora tidak aktif sampai terbawa kembali ke inang untuk
tumbuh dan memperbanyak diri.

Jamur menyebabkan gejala lokal atau sistemik pada

inangnya. Umumnya jamur menyebabkan nekrosis, hipotrofi, hiplasia, atau hiperplasia.


Pada banyak penyakit, patogen menghasilkan sebagai struktur pada permukaan inang.
Struktur tersebut meliputi miselium, sklerotium, tubuh buah dan atau spora, yang disebut
tanda yang dapat dibedakan dengan gejala yaitu hanya berkenan dengan penampakan
tumbuhan atau jaringan tumbuhan yang terinfeksi.
Bakteri patogenik tumbuhan menyebabkan gejala hampir sebanyak gejala tumbuhan
yang terinfeksi jamur, bakteri menyebabkan bercak, hawar daun, busuk lunak pada buah,
layu, pertumbuhan yang tidak normal, kudis, kanker dan lain sebagiannya. Hampir semua
bakteri patogenik tumbuhan berkembang dalam tubuh inangnya sebagai parasit dan
sebagian kecil pada sisa tumbuhan atau di dalam tanah sebagai saprofit.
Tujuan :
1. Agar mahasiswa memahami dan mengetahui cara melakukan inokulasi bakteri atau
jamur ke tanaman inang
2. Agar mahasiswa memahami dan mengetahui reaksi suatu tanaman inang terhadap
inokulasi suatu bakteri atau jamur patogen.
Bahan :
Tanaman inang (tomat, cabai), biakan murni bakteri patogen ( Ralstonia
solanacearum), biakan murni jamur patogen (Colletotrichum sp. Atau Fusarium sp.),
air steril.
Alat :
Cawan petri, tabung reaksi, gelas ukur, jarum ose, jarum preparat, dan lain-lain.

Cara Kerja :
Inokulasi bakteri pada tanaman tomat :
1 Siapkan biakan murni bakteri yang telah berumur 24 48 jam.

19
2. Tambahkan air steril sebanyak 5 ml ke dalam tabung reaksi yang ada biakan
murni bakteri.
3. Koloni diambil dengan dikerok-kerok menggunakan jarum ose secara perlahanlahan agar media tidak terikut. Setelah semua koloni lepas dari media, tabung
reaksi digoyang-goyang agar homogen.
4. Suspensi bakteri dituang kembali ke tabung reaksi yang kosong.
5. Suspensi biakan murni bakteri diambil dengan menggunakan spet (suntikan).
6. Inokulasi pada tomat dilakukan dengan menyuntikan suspensi langsung pada
bagian pangkal daun atau suspensi bakteri sebanyak 4 ml dituangkan pada
bagian pangkal batang dekat akar dengan cara tanah digali terlebih dahulu dan
akar sedikit dilukai.
7. Inkubasikan di dalam rumah kaca dan amati masa inkubasinya setiap hari dan
perkembangan gejalanya setiap 5 hari sekali.

Inokulasi jamur pada tanaman cabai atau buah cabai :


1. Siapkan biakan murni jamur yang telah berumur 48-72 jam.
2. Tambahkan air steril sebanyak 5 ml ke dalam tabung reaksi yang ada biakan
murni jamur.
3. Koloni diambil dengan cara dikerok-kerok menggunakan jarum ose secara
perlahan-lahan agar media tidak terikut. Setelah semua koloni lepas dari media,
tabung reaksi digoyang-goyang agar homogen.
4. Suspensi jamur dituang kembali ke tabung reaksi yang kosong.
5. Hitung kerapatan spora jamur kurang lebih 10 spora / ml.
6. Inokulasikan suspensi jamur sebanyak 4 ml pada tanaman cabai dengan cara
dituangkan ke pangkal batang dekat akar, tetapi sebelumnya tanah digali dan
akar sedikit dilukai.
7. Inokulasi pada buah cabai, dilakukan dengan cara suspensi jamur diteteskan pada
permukaan buah cabai yang sebelumnya telah dilukai dengan cara ditusuk-tusuk
dengan menggunakan jarum.
8. Amati massa inkubasi setiap hari dan perkembangan penyakit setiap 5 hari sekali.

20
VI. DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 1985. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta

Hadioetomo, R.S. 1990. Dasar-dasar Mikrobiologi. PT. Gramedia. Jakarta.

Jutono, J. Soedarsono, S. Hartadi, S. Kabirun, Suhadi, Soesanto. 1980. Pedoman Praktikum


Mikrobiologi Umum. Depart. Mikrobiologi. Fak.Pertanian. UGM.
Ni Made L.E. 2001. Penggunaan Mikroorganisme Tanah Antagonis untuk Menekan
Pseudomonas solanacearum Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman Pisang. Tesis.
Program Pascasarjana Univ. Brawijaya Malang. (Tidak Dipublikasi).