Anda di halaman 1dari 18

Tugas Individu

Mata Kuliah Manajemen SDM


Dosen : Dr. dr. H. Noer Bahry Noor, M.Sc

MAKALAH HUBUNGAN SDM DAN HOSPITAL BY LAW

Oleh :
ASMELYA RIYASANTI
P1806214007
MAGISTER ADMINISTRASI RUMAH SAKIT
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS HASANUDDIN

2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang Hubungan SDM
dan Hospital by laws pada mata kuliah manajemen rumah sakit di Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Hasanuddin . Tak lupa sholawat serta salam tetap tercurahkan
kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah mengarahkan kepada kita satusatunya agama yang diridhoi Allah SWT, yakni agama Islam.
Makalah ini berisi beberapa informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan
hospital by laws , yang penulis harapkan dapat memberikan informasi kepada para pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa
senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin.

Makassar, 18 Oktober 2015

Penulis

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB I (PENDAHULUAN)
1.1. Latar Belakang Masalah
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan Makalah

1
2

BAB II (PEMBAHASAN)
2.1
2.2
2.3
2.4
2.5
2.6
2.7
2.8

Pengetian Hospital by laws


Fungsi Hospital by laws
Tujuan dan manfaat hospital by laws
Ciri ciri hospital by laws
Hubungan SDM dengan hospital by laws
Kerangka Hukum yang mengatur kehidupan rumah sakit
Tingkat dan jenis peraturan dalam rumah sakit
Peraturan internal Rumah sakit Hubungan dengan Kode Etik Rumah Sakit

3
5
5
6
7
11
12
12

BAB III (PENUTUP)


3.1

Kesimpulan

14

3.2

Saran

15

DAFTAR PUSTAKA

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hukum Rumah Sakit
Hukum kesehatan eksistensinya masih sangat relatif baru, dalam
perkembangannya di Indonesia, semula dikembangkan oleh Fred Ameln dan
Almarhum Prof. Oetama dalam bentuk ilmu hukum kedokteran. Perkembangan
kehidupan yang pesat di bidang kesehatan dalam bentuk sistem kesehatan
nasional mengakibatkan di perlukannya pengaturan yang lebih luas, dari hukum
kedokteran ke hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan (hukum kesehatan).
Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam rangka memberikan
kepastian dan perlindungan hukum, baik bagi pemberi jasa pelayanan kesehatan
maupun bagi penerima jasa pelayanan kesehatan, untuk meningkatkan,
mengarahkan dan memberikan dasar bagi pembangunan di bidang kesehatan
diperlukan adanya perangkat hukum kesehatan yang dinamis. Banyak terjadi
perubahan terhadap kaidah-kaidah kesehatan, terutama mengenai hak dan
kewajiban para pihak yang terkait di dalam upaya kesehatan serta perlindungan
hukum bagi para pihak yang terkait.
Undang undang nomor 44 tahun 2009 tentang rumah sakit pasal 29 ayat
(1) menyatakan bahwa rumah sakit harus menyusun dan melaksanakan peraturan
internal rumah sakit ,hospital by laws (HBL) .dalam melaksanakan perizinan
rumah sakit hospital by laws harus dipenuhi.
Menurut guwandi (2004) , yang dimaksud dengan hospital by laws di
Negara kita secara materil by laws sebahagian sudah ada di rumah sakit, tetapi
mungkin belum disadari keberadaannya. Dikatakan sebagian karena banyak
ketentuannya belum tertulis dan berdasarkan kebiasaan-kebiasaan saja yang
belum dikumpulkan dan dijadikan suatu sistematik. Dengan mulai timbulnya
gugatan- gugatan terhadap apa yang dinamakan malpraktek medik ,maka kini
dirasakan penting untuk membuat hospital by laws secara tertulis .

2
Hospital by-laws juga harus mengatur tentang upaya yang dapat
dilakukan guna mencapai kinerja para profesional yang selalu berkualitas dalam
merawat pasiennya; utamanya melalui rambu-rambu penerimaan, review berkala
dan evaluasi kinerja setiap praktisi di rumah sakit. Dalam rangka itu pula hospital
by-laws juga dapat memerintahkan "komite medis" untuk menyelenggarakan
pendidikan dan pelatihan guna mencapai dan menjaga standar serta menuju
kepada peningkatan pengetahuan dan ketrampilan profesi.
Akhirnya

hospital

by-laws

juga

harus

merangsang

timbulnya,

memelihara, me-review dan menyempurnakan peraturan dan standar guna


tercapainya self-governance. Self governance selanjutnya harus diikuti dengan
self-regulation dan self-disciplining. Hal ini mengharuskan hospital by-laws
untuk juga mengatur tentang pengawasan, sistem pelaporan dan pencatatan,
sistem penilaian (peer-review, hearing, dll), dan tentu saja pemberian sanksi
disiplin bagi mereka yang melanggarnya sampai pada tingkat tertentu.
1.2 Perumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan hospital by laws ?
2. Bagaimana fungsi hospital by laws ?
3. Tujuan dan manfaat hospital by laws ?
4. Apa Ciri ciri hospital by laws ?
5. Bagaimana hubungan SDM dan hospital by laws ?
6. Tingkat dan jenis peraturan dalam rumah sakit ?
1.3 Tujuan
1. Dapat mengetahui pengertian dari hospital by laws dan hubungannya dengan
SDM
2. Mengetahui fungsi, tujuan,manfaat dari hospital by laws.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Rumah sakit (RS) adalah suatu badan usaha yang menyediaakan pemondokan
dan memberikan jasa pelayanan medis jangka pendek dan jangka panjang yang
terdiri atas tindakan observasi, diagnostik, terapetik, fan rehabilitative untuk orangorang yang menderita sakit,terluka dan untuk mereka yang melahirkan (WHO)
Menurut Undang-undang No.44 tahun 2009 tentang rumah sakit, Rumah sakit
adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelengarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap,rawat jalan,
dan gawat darurat.
Landasan Hukum dan etika rumah sakit, secara ideologis dan filosofis
undang-undang ini menyebutkan bahwa, rumah sakit diselenggarakan berasaskan
pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan,etika dan profesionalitas,
manfaat,keadilan persamaan hak dan anti diskriminasi,pemerataan,perlindungan dan
keselamatan pasien,serta mempunyai fungsi social.
Fungsi rumah sakit dalam undang-undang ini juga menyebutkan antara lain sebagai
berikut:
1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai
dengan standar pelayanan rumah sakit.
2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan
kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam
rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.

4
4. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penampisan teknologi
bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan
memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

Menurut The Oxford Illustrated Dictionary:By law is regulation made by


local authority or corporation. Pengertian lainnya, By laws means a set of laws or
rules formally adopted internally by a faculty, organization, or specified group of
persons to govern internal functions or practices within that group, facility, or
organization (Guwandi, 2004). Dengan demikian, pengertian By law tersebut
dapat disimpulkan sebagai peraturan dan ketentuan yang dibuat suatu organisasi
atau perkumpulan untuk mengatur para anggota-anggotanya. Keberadaan
Hospital By law memegang peranan penting sebagai tata tertib dan menjamin
kepastian hukum di rumah sakit. Ia adalah rules of the game dari dan dalam
manajemen rumah sakit.
Berdasarakan keputusan menteri kesehatan nomor 772 tahun 2002
tentang pedoman peraturan internal rumah sakit (hospital by laws) menyatakan
bahwa hospital by laws berasal dari dua buah kata yaitu hospital (rumah sakit)
dan by laws (pengaturan setempat atau internal).
Pada hakekatnya hospital by laws mempunyai bidang tersendiri dan juga
mempunyai fungsi penting di dalam mengadakan tata tertib dan kepastian hukum
dan jalannya rumah sakit. Ia adalah aturan main (rules of the game) dari
manajemen rumah sakit dalam melakukan fungsi dan tugasnya. Jika aturan dan
disiplin manajemen sudah dibuat dengan baik dan juga dipatuhi, maka hospital
by laws dapat merupakan alat untuk menjalankan program manajemen risiko dan
good governance dengan baik dan berhasil.
Hospital by laws atau peraturan internal rumah sakit adalah suatu produk
hukum yang merupakan anggaran rumah tangga rumah sakit atau yang
mewakili,peran,tugas dan kewenangan pemilik atau yang mewakili ,peran,tugas
dan kewenangan direktur rumah sakit ,organisasi staff medis, peran,tugas dan
kewenangan staf medis.

5
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa hospital by-laws adalah
semua peraturan yang berlaku di rumah sakit yang mengatur segala sesuatu
penyelenggaraan di rumah sakit tersebut. Dalam prototype hospital by-laws yang
diajukan bersama oleh Ontario Hospital Association and Ontario Medical
Association disebutkan secara implisit bahwa hospital by-laws terdiri dari bagian
administratif

(dalam

arti

penyelenggaraan,

berkaitan

dengan

hospital

administrator) dan bagian medical staff. Selain kedua bagian hospital by-laws
tersebut, di rumah sakit juga dapat dibuat berbagai peraturan, keputusan dan
kebijakan rumah sakit, termasuk standar prosedur pelayanan medis, yang
merupakan aturan/ketentuan di bawah hospital by-laws.
Demikian

pula

Keputusan

Menteri

Kesehatan

R.I

nomor

772/Menkes/SK/VI/2002 tentang Pedoman Peraturan Internal Rumah Sakit


(Hospital Bylaws) menguraikan bahwa Hospital By laws terdiri dari Corporate
Bylaws dan Medical staff by laws. Di dalam pedoman tersebut juga diuraikan
bahwa penyusunan medical staff by laws dapat digabung menjadi satu dengan
corporate by laws yaitu menjadi salah satu pasal atau bab di dalam corporate by
laws, meskipun bisa juga di susun secara terpisah.
2.2 Fungsi Hospital by laws
Berdasarkan keputusan menteri no 772 tahun 2002 tentang pedoman peraturan
internal rumah sakit (hospital by laws) menyatakan bahwa fungsinya :
1. Sebagai acuan bagi rumah sakit dalam melakukan pengawasan rumah
sakitnya.
2. Sebagai acuan bagi direktur rumah sakit dalam mengelola rumah sakit dan
menyusun kebijakan yang bersifat teknis operasional.
3. Sebagai sarana untuk menjamin efektifitas,efisiensi dan mutu.
4. Sarana perlindungan hukum bagi semua pihak yang berkaitan dengan rumah
sakit.
5. Sebagai acuan bagi penyelesaian konflik di rumah sakit antara
pemilik,direktur rumah sakit, dan staff medis.
5

6
6. Untuk memenuhi persyarataan akreditasi rumah sakit.

2.3 Tujuan dan manfaat hospital by laws


a. Tujuan hospital by laws
- Umum : Dimilikinya suatu tatanan peraturan dasar yang mengatur pemilik
rumah sakit atau yang mewakili,direktur rumah sakit dan tenaga medis sehingga
-

penyelengaraan rumah sakit dapat efektif,efisien dan berkualitas.


Khusus : Dimilikinya pedoman oleh rumah sakit dalam hubungannya dengan
pemilik atau yang mewakili, direktur rumah sakit dan staff medis. Dimilikinya
pedoman dalam pembuatan kebijakan teknis operasional rumah sakit.

Dimilikinya pedoman dalam peraturan staff medis.


b. Manfaat Hospital by laws
1. Untuk rumah sakit
- Rumah sakit memiliki acuan hukum dalam bentuk anggaran rumah tangga.
- Rumah sakit memiliki kepastian hukum dalam pembagian kewenangan dan
tanggung jawab baik eksternal maupun internal yang dapat menjadi alat/ sarana
-

perlindungan hukum bagi rumah sakit atas tuntutan/gugatan.


Menunjang persyaratan akreditasi rumah sakit
Memilikinya alat/ sarana untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.
Rumah sakit memiliki kejelasan arah dan tujuan dalam melaksanakan

kegiatannya.
2. Untuk pengelola rumah sakit
- Memiliki acuan tentang batas kewenangan,hak,kewajiban dan tanggung jawab
yang jelas sehingga memudahkan dalam menyelesaikan masalah yang timbul
3.
4.
-

serta dapat menjaga hubungan yang serasi dan selaras.


Mempunyai pedoman resmi untuk menyusun kebijakan teknis operasional.
Untuk pemerintah
Mengetahui arah dan tujuan rumah sakit tersebut didirikan .
Acuan dalam menyelesaikan konflik di rumah sakit.
Untuk pemilik
Mengetahui tugas dan kewajibannya.
Acuan dalam menyelesaikan konflik internal.
Acuan kinerja direktur rumah sakit.

2.4 Ciri ciri hospital by laws.


Guwandi (2004) berpendapat bahwa beberapa ciri dan sifat yang khas dari hospital
by laws :
1. Bahwa hospital by laws adalah tailor made

7
Bahwa isi,substansi dan rumusan rinci dari hospital by laws tidaklah sama di
semua rumah sakit dan tidak mungkin sama. Masing- masing rumah sakit
mempunyai

kekususan

tersendiri.

(faktor

sejarah,maksud

dan

tujuan,kepemilikan,situasi dan kondisi yang berlainan dalam setiap rumah


sakit).
2. Hospital by laws dapat berfungsi sebagai perpanjangan tangan dari hukum
Fungsi hukum membuat peraturan peraturan yang bersifat umum dan
berlaku umum. Sedangkan kasus hokum RS dan kedokteran bersifat kasuistis.
Dengan demikian diperlukan untuk mengukur ada tindaknya kelalaian
/kesalahan yang ditunduhkan.
3. Hospital by laws mengatur bidang yang berkaitan dengan seluruh manajemen
rumah sakit.
4. Rumusan hospital by laws harus tegas, jelas dan terperinci.
5. Hospital by laws bersifat sistematis dan tingkat-tingkatnya berjenjang.
2.5 Hubungan SDM dengan hospital by laws.
Seperti yang sudah dijelaskan diatas, berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan R.I nomor 772/Menkes/SK/VI/2002 tentang Pedoman Peraturan
Internal Rumah Sakit (Hospital Bylaws) menguraikan bahwa Hospital By laws
terdiri dari Corporate By laws dan Medical staff by laws.
Hospital (administrative atau corporate) by-laws mengatur tentang
bagaimana kepentingan pemilik direpresentasikan di rumah sakit, bagaimana
kebijakan rumah sakit dibuat, bagaimana hubungan antara pemilik dengan
manajemen rumah sakit dan bagaimana pula dengan staf medis, dan bagaimana
hubungan manajemen dengan staf medis. Hubungan-hubungan tersebut diuraikan
dalam keadaan statis dan dinamis.
Hospital (medical) by-laws memberikan suatu kewenangan kepada para
profesional medis untuk melakukan self-governance bagi para anggotanya,
dengan cara membentuk suatu "komite medis" yang mandiri; sekaligus
memberikan tanggung-jawab (responsibility) kepada "komite" tersebut untuk

8
mengemban

seluruh

kewajiban

pemastian

terselenggaranya

pelayanan

profesional yang berkualitas dan pelaporannya kepada administrator rumah sakit.


Di dalam bagian administratif dari suatu hospital by-laws diatur tentang
Badan Pengawas (Board of Trustees atau Dewan Penyantun), kepengurusan
korporasi, kepanitiaan (komite) yang diperlukan, rapat, keuangan, tugas-tugas
administrator (manajemen) serta hubungan administrator dengan pengurus rumah
sakit lainnya. Dianjurkan di dalam prototype hospital by-laws tersebut bahwa
administrator rumah sakit ditunjuk juga sebagai sekretaris Badan Pengawas,
tetapi bukan sebagai anggota Badan Pengawas. Administrator adalah orang yang
bertanggung-jawab

atas

berjalannya

korporasi

rumah

sakit,

termasuk

mempekerjakan-mengendalikan dan mengarahkan semua pegawai rumah sakit.

Di dalam bagian medical staff by-laws diatur hal-hal yang berkaitan


dengan penyelenggaraan pelayanan medis di rumah sakit, baik yang bersifat
profesional maupun yang bersifat legal, utamanya tentang sumber daya manusia
di bidang medis. Diperlukannya medical staff by-laws didasarkan kepada
pemikiran bahwa kinerja para profesional, pelayanan medis, pendidikan dan
penelitian di dalam rumah sakit adalah tugas yang maha penting dari rumah sakit
dan staf medis perlu memberikan saran atau nasehatnya kepada administrator
agar kepentingan pasien tetap merupakan tujuan utama disamping tujuan-tujuan
korporasi lainnya. By-laws bagian ini juga bertujuan untuk menjaga kerjasama
yang baik antara staf medis dengan administrator.
Pada umumnya, medical staff by-laws berisikan ketentuan tentang nama,
tujuan, keanggotaan, kategori keanggotaan, profesional yang bukan dokter/dokter
gigi, prosedur pengangkatan dan review, clinical privileges, tindakan korektif,
proses hearing dan banding, kepengurusan staf medis, organisasi pelayanan
medis, kepanitiaan yang harus dibentuk, rapat-rapat, kerahasiaan dan
pengungkapan informasi, peraturan lain, dan ketentuan tentang penambahan bylaws atau peraturan.
Tidak ada seorang dokter yang dapat berpraktek atau merawat pasiennya
di rumah sakit kecuali dia adalah anggota staf medis, atau dokter yang bukan
8

9
anggota tetapi diberi hak khusus secara temporer atau dokter yang berada dalam
pendidikan dan memperoleh hak tersebut secara khusus dengan supervisi dari
anggota staf medis.
Untuk dapat menjadi anggota staf medis, seseorang harus dapat
menunjukkan ijasah dokternya (sertifikat kompetensi), ijin dokter (surat
penugasan atau surat tanda registrasi dan surat ijin praktek tenaga medis sebagai
bentuk pengakuan publik atas kewenangannya), pengalaman, latar belakang,
pelatihan yang pernah diikuti, kemampuan terakhir atau brevet spesialisasi
terakhir yang telah disahkan oleh Kolegium terkait, pertimbangan dalam
membuat keputusan medis, serta status kesehatannya. Semuanya bertujuan untuk
memastikan bahwa dokter tersebut akan memberikan pelayanan medis sesuai
dengan standar tingkat kualifikasinya, bersikap dan bertindak etis, dan mampu
bekerjasama dengan sejawatnya. Ia juga diharapkan selalu menjaga standar
perilaku dan patuh kepada standar pelayanan medis yang terkait dengan
kualifikasinya, sumpah dokter, etik kedokteran dan ketentuan lain. Rumah sakit
sebaiknya mengharuskan para dokter tersebut telah memiliki polis asuransi
profesi dengan jumlah pertanggungan yang disepakati kedua pihak.
Ketentuan tersebut harus tetap dijaga sepanjang keanggotaannya sebagai
staf medis. Seseorang dokter/dokter gigi tidak akan ditunjuk menjadi staf medis
selamanya, melainkan akan selalu di-review per-tahun atau setidaknya setiap dua
tahun. Review ini bermanfaat untuk tetap menjaga kualitas layanan dan
perilakunya.
Keanggotaan staf medis dikategorikan ke dalam beberapa kelompok,
sesuai dengan status dan perannya. Kategori anggota yang digunakan di berbagai
hospital by-laws di negara lain mungkin tidak tepat benar untuk diterapkan di
negara kita, namun setidaknya dapat digunakan sebagai acuan cara berpikir kita.
Anggota aktif adalah anggota staf medis, baik dokter atau spesialis
ataupun dokter gigi, purna-waktu ataupun paruh-waktu, yang melaksanakan
pelayanan medis di rumah sakit dengan menempati jadwal kerja dan tempat
praktek yang telah tertentu dan berhak merawat inap pasien di bidang
kualifikasinya. Di rumah sakit pendidikan, staf tersebut termasuk staf dosen
Fakultas Kedokteran yang ditunjuk untuk menjadi staf medis rumah sakit.
9

10
Anggota yang tidak memenuhi kriteria anggota aktif dapat dimasukkan ke
dalam kategori keanggotaan lain, seperti anggota sementara, anggota
konsultan, anggota kehormatan, dll. Anggota jenis ini tidak memiliki hak
suara dalam pembuatan keputusan, tetapi dapat berkontribusi di dalam
kepanitiaan yang dibentuk.
Anggota sementara diperuntukkan bagi anggota baru yang diharapkan
kelak menjadi anggota aktif, namun membutuhkan evaluasi terlebih dahulu; atau
bagi residen pendidikan spesialis di rumah sakit pendidikan.
Dengan mengingat bahwa dokter di Indonesia tidak hanya bekerja di satu
rumah sakit, maka harus dipikirkan kemungkinan bahwa seorang dokter menjadi
anggota staf medis dari beberapa rumah sakit. Barangkali perlu diatur agar
seseorang tidak menjadi pengurus staf medis di lebih dari satu rumah sakit,
agar mutu pengabdiannya tidak terganggu.

Medical staff by-laws harus mengatur tanggung-jawab profesional


anggota staf medis, seperti keharusan mematuhi standar profesi, mematuhi bylaws dan peraturan lain, dapat bekerjasama, mematuhi aturan pengisian rekam
medis, mematuhi sumpah dokter dan etik kedokteran, kewajiban mengikuti
pendidikan kedokteran berkelanjutan, dan lain-lain.
Prosedur aplikasi menjadi anggota, review oleh tim credential,
pengambilan keputusan, serta waktu pemrosesan harus diuraikan secara rinci di
dalammedical staff by-laws. Demikian pula proses persidangan bila diduga
terdapat pelanggaran etik, kelalaian medis atau pelanggaran profesional lain;
kewajiban mengajukan bukti-bukti dan hak membela diri, hak naik banding,
tindakan korektif yang bisa diberikan dari peringatan hingga pencabutan hak
sebagai anggota staf medis, dll.
By-laws juga mengatur tentang kewenangan medis dari tiap anggotanya
sesuai dengan kualifikasinya, pengaturan apabila terdapat tindakan atau kasus
yang menjadi lahan lebih dari satu spesialisasi, sistem rujukan dan konsultasi
internal, sistem jaga dan perpindahan kewenangan dan tanggung-jawab, dll.

10

11
Sebagaimana layaknya yang berlaku saat ini, rumah sakit juga diharuskan
memiliki beberapa kepanitiaan yang mengurusi aspek khusus dan tertentu dari
pelayanan medis di rumah sakit, misalnya Panitia By-laws, Panitia kredensial,
Panitia Pelayanan Kritis (Critical Care), Panitia Bank Darah dan pemanfaatan
darah, Panitia Kanker, Panitia Pelayanan Klinik, Panitia Penyakit Ginjal terminal,
Panitia Pendidikan Kedokteran, Panitia pengendalian infeksi (nosokomial),
Panitia etik kedokteran, Panitia Perpustakaan medis, Panitia Rekam Medis,
Panitia Quality Assurance, Panitia Kamar Operasi, Panitia Farmasi dan
Perobatan, Panitia Koordinasi peningkatan kualitas, Panitia Praktek profesioal,
Panitia Rehabilitasi, Panitia Trasplantasi, Panitia Trauma, PanitiaUtilization
Review, dll.
Selain hospital by-laws dalam bentuk bagian administratif dan bagian staf
medis di atas, rumah sakit juga harus mengeluarkan peraturan, kebijakan dan
berbagai standar yang harus dipatuhi oleh staf medis dan pegawai rumah sakit
lainnya. Sebagai contoh peraturan tersebut adalah Peraturan Perawatan Inap
Pasien, Peraturan tentang Rekam Medis, Peraturan tentang Sikap Umum dalam
Melakukan Pelayanan Medis, Safety and Disaster Plan, Peraturan Umum tentang
Pembedahan, Peraturan Umum tentang Dialisis, Kerahasiaan Medis, Hak pasien
dan privacy-nya, dan peraturan lain yang diperlukan.
Apabila dikaji uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
hospital (medical) by-laws memiliki peran yang

besar dalam menertibkan

penyelenggaraan layanan medis di sebuah rumah sakit, yang berarti pula


merupakan upaya untuk mencegah terjadinya kasus medikolegal. Bahkan bukan
hanya sengketa medis antara pemberi layanan dengan penerima layanan medis
saja yang dicegah, melainkan juga sengketa hukum antara manajemen rumah
sakit dengan dokter pemberi layanan medis atau antar para pemberi layanan
medis di rumah sakit tersebut.
2.6 Kerangka Hukum yang mengatur kehidupan rumah sakit
Peraturan peraturan atas dasar mana penyelenggaraan rumah sakit berpijak
adalah :
a. Landasan Korporasi
11

12
- AD perseroan terbatas (PT)
- AD Yayasan
- PP Perusahaan Jawatan ( Perjan)
- Peraturan lain yang terkait dengan bentuk badan hokum pemilik rumah
sakit.
b. Peraturan perudangan tentang kesehatan dan perumahsakitan
- Undang- undang tentang kesehatan dan undang-undang lain yang
terkait.
- Peraturan dan Perundang-undangan yang mengatur rumah sakit.
c. Kebijakan kesehatan pemerintah setempat
- kebijakan perijinan
-kebijakan pelaporan
d.

Peraturan internal rumah sakit

e.

Kebijakan teknis operasional rumah sakit


- SOP (Standar Operating Procedure)
- Job description

f.

Aturan hukum umum


- KUHP
- Undang undang tentang Lingkungan
- Undang undang tentang tenaga kerja
- Undang undang tentang perlindungan konsumen.

2.7 Tingkat dan jenis peraturan dalam rumah sakit


a. Peraturan internal rumah sakit
1. Mempunyai jenjang tertinggi karena merupakan anggaran dasar/ anggaran
rumah tangga suatu rumah sakit.
2. Disususn dan ditetapkan oleh pemilik rumah sakit atau yang mewakili.
3. Pada umumnya mengatur tentang visi,misi, tujuan organisasi rumah sakit
dan hubungan pemilik ,direktur rumah sakit dan staf medis.
b. Kebijakan teknis operasional
1. Acuan untuk menyusun adalah peraturan internal rumah sakit.
2. Disusun dan ditetapkan oleh direktur rumah sakit.
3. Pada umumnya terdiri dari kebijakan dan prosedur di bidang
administarsi,medis,penunjang medis, dan keperawatan.

12

13
4. Kebijakan teknis ada yang berupa surat keputusan.

2.8 Peraturan internal Rumah sakit Hubungan dengan Kode Etik Rumah Sakit.
Antara peraturan internal rumah sakit dan kode etik rumah sakit ada
sebagian saling menutupi (overlapping) ,sehingga dalam hal-hal tertentu
kadangkala agak sukar untuk membedakannya. Namun ciri khas dari
Peraturan internal rumah sakit bahwa selain harus tertulis perumusan dapat
langsung dipakai (ready for use) sebagai ketentuan serta berfungsi sebagai
tolak- ukur . Sebaliknya kode etik rumah sakit perumusannya masih bersifat
umum dan tidak langsung siap pakai (not ready for use). Dengan demikian
maka dalam penerapan kode etik rumah sakit masih memerlukan penafsiaran
lagi.

Ciri
Sifat
Tolak Ukur
Dibuat oleh

Etik
Seharusnya
Hati nurani (conscience)
Kelompok
sendiri
(self

Peraturan internal RS
Wajib ditaati
Ketentuan tertulis
-Pemilik atau yang mewak

Sanksi dari

imposed regulation)
Organisasi

- Pemilik atau yang mewa

Berlaku

Intern

- pemerintah
Intern dan
sebagai

Atasan yang berwenang

Atasan /instansi MKEK

dapat

dip

peraturan

hukum
Atasan /peradilan

13

14
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Menurut The Oxford Illustrated Dictionary:By law is regulation made by
local authority or corporation. Pengertian lainnya, By laws means a set of laws or
rules formally adopted internally by a faculty, organization, or specified group of
persons to govern internal functions or practices within that group, facility, or
organization (Guwandi, 2004). Dengan demikian, pengertian By law tersebut
dapat disimpulkan sebagai peraturan dan ketentuan yang dibuat suatu organisasi
atau perkumpulan untuk mengatur para anggota-anggotanya. Keberadaan
Hospital By law memegang peranan penting sebagai tata tertib dan menjamin
kepastian hukum di rumah sakit. Ia adalah rules of the game dari dan dalam
manajemen rumah sakit.
Berdasarakan keputusan menteri kesehatan nomor 772 tahun 2002
tentang pedoman peraturan internal rumah sakit (hospital by laws) menyatakan
bahwa hospital by laws berasal dari dua buah kata yaitu hospital (rumah sakit)
dan by laws (pengaturan setempat atau internal).
Pada hakekatnya hospital by laws mempunyai bidang tersendiri dan juga
mempunyai fungsi penting di dalam mengadakan tata tertib dan kepastian hukum
dan jalannya rumah sakit. Ia adalah aturan main (rules of the game) dari
manajemen rumah sakit dalam melakukan fungsi dan tugasnya. Jika aturan dan
disiplin manajemen sudah dibuat dengan baik dan juga dipatuhi, maka hospital
bylaws dapat merupakan alat untuk menjalankan program manajemen risiko dan
good governance dengan baik dan berhasil.
Hospital by laws atau peraturan internal rumah sakit adalah suatu produk
hukum yang merupakan anggaran rumah tangga rumah sakit atau yang
mewakili,peran,tugas dan kewenangan pemilik atau yang mewakili ,peran,tugas
dan kewenangan direktur rumah sakit ,organisasi staff medis, peran,tugas dan
kewenangan staf medis.

14

15
3.2 Saran
Dengan banyaknya permasalahan hukum di bidang kesehatan terutama
untuk rumah sakit , perlu aturan yang mengatur anggaran rumah tangga rumah
sakit atau yang mewakili,peran,tugas dan kewenangan pemilik atau yang
mewakili ,peran,tugas dan kewenangan direktur rumah sakit ,organisasi staff
medis, peran,tugas dan kewenangan staf medis, untuk menciptakan keadaan yang
stabil dan memiliki aturan hukum yang sistematis . Untuk setiap rumah sakit
ataupun pelayanan kesehatan sebaiknya di buat aturan hukum untuk menjamin
seluruh pelayanan dan tenaga

kesehatan

dengan pasien. Sehingga akan

memperbaiki kualitas dari pelayanan kesehatan di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Triwibowo,Cecep. Perizinan dan Akreditasi Rumah sakit.

Yogyakarta: Nuha

Medika, 2012.

Notoatmodjo, soekidjo . Etika dan Hukum kesehatan. Jakarta : rineka cipta ,2010.

Hanafiyah ,jusuf.M Dan Amri amir . Etika kedokteran dan hokum kesehatan . Jakarta
: Buku kedoteran ECG ,1999.

Hanafiyah ,jusuf.M Dan Amri amir . Etika kedokteran dan hokum kesehatan edisi 4 .
Jakarta : Buku kedoteran ECG ,2008 .

15

Anda mungkin juga menyukai