Anda di halaman 1dari 25

MORBUS HANSEN

NAMA KELOMPOK IV :

BAIQ KURNIA ARIYANTI


ENIK SRI SUPENI
IMANULLAH TAJDID
FAJRIN RAMADHAN
ZAINUDIN THEZA

PENDAHULUAN
Penyakit kusta atau lepra disebut juga Morbus

Hansen, adalah penyakit infeksi menular kronis yang


disebabkan oleh bakterimycobacterium leprae.
Kusta memiliki dua macam tipe gejala klinis yaitu

pausibasilar(PB) danmultibasilar (MB).


Penularan kusta melewat droplet, dari hidung dan

mulut, kontak yang lama dan sering pada klien yang


tidak diobati.

Tujuan
1Mengetahui definisi Morbus Hansen?
2Mengetahui epidemiologi Morbus Hansen?
3Mengetahui etiologi Morbus Hansen?
4Mengetahuibentuk-bentuk dan gejalamorbus

hansen?
5Mengetahui penularan penyakit morbus hansen ?
6Mengetahui patofisiologi morbus Hansen ?
7Mengetahuimanifestasi klinis morbus hansen?
8Mengetahui pemeriksaan morbus hansen?
9Mengetahui penatalaksanaan morbus hansen?

Definisi

Penyakit Hansen adalah sebuah penyakit infeksi

kronis yang disebabkanolehbakteriMycobacterium


leprae
Kusta merupakan penyakit menahun yang menyerang

syaraf tepi, kulit dan organ tubuh manusia yang


dalam jangka panjang mengakibatkan sebagian anggota
tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana
mestinya.

Epidemiologi

Global

Kusta menyebar luas ke


seluruh dunia, dengan
sebagian besar kasus
terdapat di daerah tropis
dan subtropis, tetapi
dengan adanya perpindaham
penduduk maka penyakit ini
bisa menyerang di mana saja

Etiologi
Penyebab penyakit kusta
adalahMycobacterium
lepraeyang berbentuk
pleomorf lurus, batang
panjang, sisi paralel
dengan kedua ujung
bulat, ukuran 0,3-0,5 x
1-8 mikron. Basil ini
berbentuk batang gram
positif dan bersifat
tahan asam,

Klasifikasi Penyakit
Kusta
1)Jenis klasifikasi yang umum
a.KlasifikasiInternasional (1953)
1.Indeterminate (I)
2.Tuberkuloid (T)
3.Borderline-Dimorphous (B)
4.Lepromatosa (L)
b.Klasifikasiuntuk kepentingan riset

/klasfikasiRidley-Jopling(1962).
1.Tuberkoloid (TT)
2.Boderline tubercoloid (BT)
3.Mid-berderline (BB)
4.Borderline lepromatous (BL)
5.Lepromatosa (LL)

c.Klasifikasiuntuk kepentingan
program kusta /klasifikasi WHO (1981)
dan modifikasi WHO (1988)
1.Pausibasilar (PB)

Hanya kusta tipe I, TT dan sebagian


besar BT dengan BTA negatif menurut
kriteriaRidleydanJoplingatau tipe
I dan T menurut klasifikasi Madrid.
2.Multibasilar (MB)

Termasuk kusta tipe LL, BL, BB dan


sebagian BT menurut
kriteriaRidleydanJoplingatau B
dan L menurut Madrid dan semua tipe
kusta dengan BTA positif.

TIPE TT

TIPE BB

TIPE LL

PENULARAN

Berjuta-juta basil dikeluarkan melalui lendir hidung


pada penderita kusta tipe lepromatosayang tidak
diobati, dan basil terbukti dapat hidup selama 7 hari
pada lendir hidung yang kering. Ulkus kulit pada
penderita kustalepromatusadapat menjadi sumber
penyebar basil. Organisme kemungkinan masuk melalui
saluran pernafasan atas dan juga melalui kulit yang
terluka. Pada kasus anak-anak dibawah umur satu
tahun, penularannya diduga melalui plasenta.

Dua pintu keluar dariMycobacterium lepraedari tubuh


manusia diperkirakan adalah kulit dan mukosa hidung.

Timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak


mudah dan tidak perlu ditakuti tergantung dari
beberapa faktor antara lain :

1)Faktor Kuman kusta

2)Faktor Imunitas

3)Keadaan Lingkungan

4)Faktor Umur

5)Faktor Jenis Kelamin

Masa inkubasi
Masa inkubasi pasti dari kusta belum dapat

dikemukakan. Dengan rata-rata adalah 4 tahun


untuk kustatuberkuloiddan dua kali lebih lama
untuk kusta lepromatosa.
Penyakit ini jarang sekali ditemukan pada anak-

anak dibawah usia 3 tahun; meskipun, lebih dari


50 kasus telah ditemukan pada anak-anak dibawah
usia 1 tahun, yang paling muda adalah usia 2,5
bulan. Secara umum, telah disetujui, bahwa masa
inkubasi rata-rata dari kusta adalah 3-5 tahun.

Reservoir
Sampai saat ini manusia merupakan satu-satunya yang

diketahui berperan sebagai reservoir. Di Lusiana dan


Texas binatangArmadilloliar diketahui secara alamiah
dapat menderita penyakit yang mempunyai kusta seperti
pada percobaan yang dilakukan dengan binatang ini.
Diduga secara alamiah dapat terjadi penularan
dariArmadilokepada manusia. Penularan kusta secara
alamiah ditemukan terjadi pada monyet dan simpanse
yang ditangkap di Nigeria dan Sierra Lione.

Menurut Jimmy Wales (2008), tanda-tanda tersangka kusta


(Suspek) adalah sebagai berikut :Tanda-tanda pada kulit,
Bercak/kelainan kulit yang merah/putih dibagian tubuh,
Kulit mengkilat, Bercak yang tidak gatal,Adanya bagianbagian yang tidak berkeringat atau tidak
berambut,Lepuh tidak nyeri,Tanda-tanda pada syaraf,
Rasa kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota
badan, Gangguan gerak anggota badan/bagian muka, Adanya
cacat (deformitas), Luka (ulkus) yang tidak mau sembuh.

Gejala-gejala kerusakan saraf menurut A. Kosasih (2008),


antara lain adalah : N. fasialis :Lagoftalmus.N.
ulnaris : Anastesia pada ujung jari bagian anterior
kelingking dan jari manis,Clawing kelingking dan jari
manis,Atrofi hipotenar dan ototinteroseus
dorsalispertama.N. medianus :Anastesia pada ujung jari
bagiananterioribu jari, telunjuk dan jari tenga, Tidak
mampu aduksi ibu jari,Clawingibu jari, telunjuk dan jari
tengah, Ibu jari kontraktur. N.
radialis :Anastesiadorsum manus,Tangan gantung
(wrist/hand drop), Tidak mampu ekstensi jari-jari atau
pergelangan tangan.N. poplitea lateralis : Kaki gantung
(foot drop),N.tibialis posterior, Anastesia telapak
kaki,Clow toes.

PEM.FISIK

Tanda pasti kusta adalah: a) kulit dengan


bercak putih atau kemerahan dengan mati rasa,
b) penebalan pada saraf tepi disertai kelainan
fungsinya berupa mati rasa dan kelemahan pada
otot tangan , kaki, dan mata, c) pada
pemeriksaan kerokan kulit BTA positif.

Klien dikatakan menderita kusta apabila


ditemukan satu atau lebih dariCardinal
SignsKusta, pada waktu pemeriksaan klinis.

TATALAKSANA

1. Pausibasiler

Rifampicine 600 mg/bulan, diminum di depan petugas (dosis supervisi)


DSS 100 mg/hari
Pengobatan diberikan secara teratur selama 6 bulam dan diselesaikan dalam waktu
maksimal 19 bulan. Setelah selesai minum 6 dosis dinyatakan RFT (Release From
Treatment)

2. Multibasiler

Rifampicine 600 mg/bulan, dosis supervisi.


Lamprene 300 mg/hari, dosis supervisi.
Ditambahkan
Lamprene 50 mg/hari
DDS 100 mg/hari
Pengobatan dilakukan secara teratur sebanyak 12 dosis (bulan) dan deselesaikan dalam
waktu maksimal 18 bulan. Setelah selesai 12 dosis dinyatakan RFT, meskipun
secara klinis lesinya masih aktif dan BTA (+).

PENUTUP

KESIMPULAN

1.Penyakit Hansen adalah sebuah penyakit infeksi


kronis yang disebabkanolehbakteriMycobacterium leprae.
Penyakit ini adalah tipe penyakit granulomatosa pada saraf
tepi dan mukosa dari saluran pernapasan atas; dan lesi pada
kulit adalah tanda yang bisa diamati dari luar.Bila tidak
ditangani, kusta dapat sangat progresif, menyebabkan
kerusakan pada kulit, saraf-saraf, anggota gerak, dan mata.

2.Manefestasi klinis berupaTanda-tanda pada kulit,


Bercak/kelainan kulit yang merah/putih dibagian tubuh,
Kulit mengkilat, Bercak yang tidak gatal,Adanya bagianbagian yang tidak berkeringat atau tidak berambut,
Lepuh tidak nyeri,Tanda-tanda pada syaraf, Rasa
kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan,
Gangguan gerak anggota badan/bagian muka, Adanya cacat
(deformitas), Luka (ulkus) yang tidak mau sembuh.

3.Penatalaksanaan morbus Hansen meliputi pengobatan


dengan obat obatan farmakologi dan rehabiltasi medic.
Rehabilitasi medic meliputi pelatihan untuk mencegah
kerusakan saraf, sehingga terhindar pula dari

DAFTAR PUSTAKA

CDC. (2003). Hansens's Disease (Leprosy), retrieved December 2003 from


http://cdc.gov/ncidod/dbmd/diseaseinfo/hansen-a.htm.htm. Last update: February 11, 2004

Daili, dkk. 1998.Kusta. UI PRES. Jakarta.

Djuanda, Edwin. 1990. Rahasia Kulit Anda. FKUI. Jakarta.

Djuanda.A., Menaldi. SL., Wisesa.TW., dan Ashadi.LN. (1997). Kusta : diagnosis dan
Penatalaksanaan.Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Djuanda. A.,Djuanda. S., Hamzah.M., dan Aisah.A. (1993). Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin.Jakarta: Balai Penrbit FKUI

Graham, Robin. 2002.Lecture Notes Dermatologi. Erlangga. Jakarta.

Nadesul, Hendrawan. 1995. Bagaimana Kalau Terkena Penyakit Kulit.

Barrett. TL., Wells. MJ., Libow.L., Quirk.C., and Elston DM. (2002). Leprosy, retrieved
January 14, 2005 fromhttp://emedicine.com/derm/byname/leprosy.htm. Last update: April
10, 2002

Ditjen PPM & PL. (2000). Buku Pedoman Program P2 Kusta Bagi Petugas Puskesmas. Jakarta :
Sub Direktorat Kusta & Frambusia.

Dinkes Prop.Sumsel. (2003). Modul pemberantasan penyakit kusta.Palembang : tidak


diterbitkan.

Leisinger, KM. (2005). Leprosy in the year 2005: Impressive success with the treatment of
a biblical disease
http://novartisfoundatin.com/en/about/organization/board/klaus-leisinger.htm