Anda di halaman 1dari 23

2.

3 Mekanisme Pembentukan Cekungan Sedimen


2.3.1 Cekungan akibat peregangan litosfer (lithospheric stretching)
Litosfer sebagai lapisan paling luar dari fisik bumi, merupakan lapisan
bumi yang tipis. Salah satu prinsip teori tektonik lempeng adalah kulit bumi
terdiri atas lempeng-lempeng yang kaku dengan bentuk tidak beraturan. J.
Tuzo Wilson (1970), seorang ahli geologi Kanada, mengajukan suatu daur
tektonik tentang pembukaan dan penutupan lautan pada awal 1970-an,
selanjutnya daur tersebut dikenal sebagai Wilson Cycle. Dalam daur
tersebut, terdapat dua jenis fase: opening phase dan closing phase. Dalam
kaitannya dengan Daur Wilson tersebut, fase pembukaan atau opening
phase berperan banyak untuk menjelaskan mekanisme pembentukan
cekungan berdasarkan pemekaran litosefer.
Intracontinental sags, rifts, failed rifts, dan passive continental margins
merupakan deretan cekungan yang disatukan oleh proses peregangan
litosfer. Rifts merupakan daerah penipisan kerak, ditunjukkan dengan
kedalaman dangkal terhadap batas

Moho, aliran panas permukaan yang

tinggi, aktivitas vulkanik, aktivitas seismik, anomali gravitasi Bouguer


negatif, dan umumnya merupakan topografi rift margin terangkat.
Passive continental margin secara seismik tidak aktif, dan secara
tektonik didominasi oleh runtuhan kontrol gravitasi, halokinesis, dan sesar
yang berkembang. Passive continental margin dapat dibagi ke dalam dua
jenis: (i) volcanic margin yang dicirikan dengan basalt ekstrusif yang
memanjang dan batuan beku yang menunjam di bawah lempeng serta
pengangkatan permukaan yang signifikan pada saat pemisahan, dan (ii)
nonvolcanic margin yang sedikit dengan aktivitas termal, dan terdiri dari
lapisan sedimen memanjang yang menutupi basement yang teregang kuat.
Pada conjugate margins, litosfer benua terletak pada kedalaman samudera
yang besar di bawah lapisan sedimen yang sangat tipis, atau dapat ditutupi
oleh prisma sedimen dengan tebal lebih dari 10 km.

1 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

Di dalam lempeng yang stabil tersebut, selanjutnya muncul pusat


panas (hotspot) dari lapisan astenosfer yang mengakibatkan adanya transfer
panas secara tidak normal ke lempeng di atasnya. Transfer panas tersebut
dapat berupa magma mafik atau ultramafik yang naik ke permukaan. Panas
dari hot spot tersebut melelehkan batuan batuan di sekitarnya hingga
menyebabkan munculnya sesar-sesar normal yang menyebabkan terjadinya
penurunan (subsidence). Panas yang terus menerus terjadi menyebabkan
hilangnya seluruh lempeng asal akibat pelelehan yang digantikan dengan
magma mafik membentuk lantai samudera baru. Panas naik ke permukaan
dari aliran konveksi yang tetap terkonsentrasi pasa pusat pemekaran di
tengah ocean basin baru, sehingga ocean basin memperluas batas kerak
benua yang baru terbentuk bergerak jauh dari sumber panas dan kemudian
mendingin. Kerak dingin yang lebih padat daripada kerak hangat (sebagai
passive continental margin) mendingin lalu tenggelam, dimana pada
awalnya akan berlangsung secara cepat dan akhirnya melambat pada waktu
thermal decay (peluruhan panas).

Gambar 1. Gambaran umum proses pemekaran benua


Melalui

gambaran

singkat

proses

tersebut,

selanjutnya

terbentuklah lantai samudera baru. Proses pemekaran litosfer dapat


2 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

dikatakan sebagai bentuk mekanisme pembentukan cekungan samudera,


sebab material lempeng yang terbentuk secara umum murni berasal dari
pembekuan magma dari lapisan mantel yang cendeurng bersifat mafik
hingga ultramafic.
Penyelidikan awal mengindikasikan bahwa pemekaran terdiri atas dua
kelas. Active rifting (pemekaran aktif) melibatkan peregangan litosfer benua
sebagai respon terhadap proses aktivitas termal di astenosfer, seperti
tubrukan pada mantle plume panas di bagian dasar litosfer. Passive rifting
(pemekaran pasif), melibatkan peregangan mekanik pada litosfer benua dari
gaya ekstensional yang jauh, dengan upwelling pasif astenosfer. Subsiden
pada rifts merupakan respon isostatik terhadap peregangan pada litosfer
benua. Fase postrift pada failed rifts dan postrift atau fase drift pada passive
continental margin merupakan akibat kontraksi termal selama pendinginan
litosfer yang meregang. Isian sedimen didukung secara fleksur selama fase
pendinginan yang lama ini.

Gambar 2. Cekungan pada sabuk rift-drift sebagai fungsi jumlah


penambahan peregangan benua

3 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

Berdasarkan ketebalan sedimen, passive margin dapat dibagi ke dalam


dua kelompok: (i) starved margins (tebal 2-4 km), dan (ii) nourished margins
(secara umum ketebalan 5-12 km).
Terdapat beberapa macam pola dasar passive margins, di antaranya:
1. Volcanically-active

margins

(batas

aktif

vulkanik),

dicirikan

dengan basalt ekstrusif, akresi batuan beku kerak bawah, dan


pengangkatan signifikan pada saat penghancuran. Ekstensi
benua dan pemisahan samudera diyakini terkait dengan aktivitas
mantle plume.
2. Nonvolcanic margins

(batas

nonvulkanik), dicirikan dengan

aktivitas termal yang sedikit pada saat penghancuran. Margins


dapat berupa: (i) sediment-starved, dengan lapisan sedimen tipis
(2-4 km) yang menutupi susunan besar blok sesar synrift yang
berotasi di atas subhorizontal detachment, seperti di Teluk
Biscay, atau (ii) sediment-nourished, dengan prisma sedimen
postrift sangat tebal (<15 km) yang menutupi sejumlah blok
sesar kerak atas yang miring dan ekstensi kerak menengahbawah pada wilayah yang luas.

4 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

Gambar 3. Conjugate margins berdasarkan informasi seismik dalam (Luster


et al. 1986, Louden dan Chian 1999). (a) Batas simetris (pure shear), dan (b)
batas asimetris (simple shear) dengan lithospheric detachment fault. COB
adalah batas benua-samudera.
Beberapa rifts terbentuk pada sudut yang besar pada batas lempeng
yang berasosiasi, seperti sabuk orogenik (Burke 1976, 1977). Beberapa dari
rifts ini muncul dan saling berkait membentuk triple junction, yang
berasosiasi dengan fase awal pembukaan samudera failed rifts ini dikenal
sebagai aulakogen. Sementara yang lain tersusun pada sudut yang besar
pada zona kolisi yang berasosiasi dan dikenal sebagai impaktogen (Sengor et
al. 1978) atau collision grabens. Berbeda dengan aulakogen yang terbentuk
bersamaan dengan fase pembukaan samudera, impaktogen terbentuk
setelah fase tersebut, berkaitan dengan aktivitas kolisi.

5 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

Gambar 4. Diagram skematik yang mengilustrasikan perkembangan (a)


aulakogen dan (b) impaktogen, berdasarkan Sengor et al. (1978).
Pada gambar (a), pembukaan cekungan samudera sepanjang dua
lengan rift pada triple junction yang menyebabkan perkembangan
cekungan rift-sag sepanjang lengan failed rift ketiga. Pada gambar
(b), tumbukan dengan passive continental margin menghasilkan
extensional graben sudut besar terhadap orogenic front.
2.3.2

Cekungan

Berdasarkan

Flexura

Litosfera

(Lithospheric

Flexure)
Fleksura litosfer (juga disebut isostasi regional) adalah proses dimana
litosfer

membengkok akibat keberadaan suatu massa tertentu seperti

massa orogen atau perubahan ketebalan es yang berkaitan dengan proses


deglasiasi. Seperti yang kita ketahui, litosfer merupakan lapisan tipis yang
dapat bersifat lentur (ductyle) maupun getas (brittle) dan dalam sejarahnya
pada kurun waktu geologi berperilaku sebagai cairan kental. Dengan
demikian, saat dibebani, litosfer akan berusaha mencapai keseimbangan
isostatis sesuai dengan prinsip Archimedes dalam penerapannya di bidang
geologi.

6 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

Fleksur

litosfer

dapat

menyebabkan

subsiden

primer

atau

pengangkatan dalam suatu cekungan sedimen. Contoh paling penting adalah


downflexing pada suatu lempeng benua akibat sistem gaya selama
pembentukan pegunungan. Aktivitas tersebut menghasilkan foreland basins.
Kedua, litosfer dapat mengalami fleksur yang panjang dalam pengisian
sedimen. Hal ini dapat berlangsung di berbagai tipe cekungan, termasuk
cekungan akibat peregangan litosfer.
Mekanisme fleksura litosfer tersebut secara jelas dapat menjadi
mekanisme terbentuknya cekungan sedimen yang baru. Cekungan sedimen
tersebut dapat terbentuknya seiring dengan adanya akumulasi materialmaterial sedimen, sehingga litosfer secara alami akan menyesuaikan atau
beristoasi membentuk sebuah cekungan sedimen untuk mengakomasi
adanya beban material sedimen di atasnya.
Fleksur pada litosfer samudera berlangsung pada palung samudera,
pematang

tengah

samudera

(mid

oceanic

ridges),

pegunungan

laut

(seamount chains), dan kepulauan vulkanik samudera. Fleksur pada litosfer


benua berlangsung pada daerah rifting, sesar strike-slip, passive margin, dan
pada batas konvergensi lempeng. Cekungan sedimen disebabkan oleh
fleksur litosfer benua yang terletak berdekatan dengan zona pemendekan
tektonik yang umumnya hadir berpasangan, dipisahkan oleh sebuah sabuk
orogenik atau busur magmatik. Cekungan fleksural memanjang sepanjang
jurus (strike), dengan penampang melintang asimetris yang semakin dalam
sepanjang sabuk orogenik atau busur magmatik. Pada litosfer benua,
anomali gravitasi Bouguer bernilai negatif, yang mengindikasikan adanya
kehadiran defisit massa pada kedalaman tertentu.

7 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

Gambar 5. Ilustrasi skematik peripheral foreland basins, retro-foreland


basins, dan cekungan berkaitan dengan zona subduksi roll-back.

8 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

Gambar 9. Evolusi perkembangan bivergent wedge (dari Willett el at., 1993)


dari sebuah pengangkatan blok diikat dengan dua zona shear
berpasangan berpusat pada S (a), pada sebuah bivergent wedge
asimetris (b), dan retrowedge sebagai pergerakan deformasi ke
lempeng atas (c).
Perkembangan tektonik orogenic wedge, kompensasi isostatik dan
penutupan erosionalnya, merupakan analisis penting foreland basins. Kita
dapat merekonstruksi evolusi tektonik pada sebuah batas konvergen seperti
tiga stage berikut (Beaumont et al, 1996a):
1. Awalnya, tektonik didominasi oleh subduksi pro-litosphere akibat
gaya apung (buoyancy) negatif pada downgoing slab (slab-pull
effect). Kompleks subduksi membentuk zona shear yang relatif tipis
di atas kerak samudera tersubduksi.
9 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

2. Pada

stage

menengah, yaitu transisi subduksi-kolisi, muatan

subduksi berkurang seiring subduksi litosfer benua yang lebih


apung (atau karena slab break-off), menyebabkan pro-lithosphere
memantul secara fleksur.
3. Pada

stage akhir, ketika ada muatan subduksi yang dapat

diabaikan, pro- dan retro-wedges terbentuk.

Gambar 10. Tiga fase evolusi unsur regangan bidang terbatas (Beaumont et
al., 1996a) dari fase subduksi (fase 1) sampai ke fase kolisi (fase 3).
2.3.3 Cekungan yang Dikorelasikan dengan Deformasi Strike-Slip
Cekungan yang terbentuk berhubungan dengan strike-slip dapat
dijumpai di sepanjang punggungan pemekaran samudra, di sepanjang batas
transform di antara lempeng kerak utama, dan di dalam lempeng benua.
10 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

Pergerakan di sepanjang sesar strike-slip dapat menghasilkan beberapa jenis


cekungan pull-apart yang dapat berupa sesar transform yang terjadi pada
batas lempeng dan mempenetrasi kerak atau sesar transcurent yang
terfokus hanya pada setting intraplate dan hanya melibatkan pensesaran
pada bagian atas dari kerak (Sylvester, 1988). Kebanyakan cekungan yang
dibentuk oleh sesar strike-slip memiliki ukuran relatif kecil, beberapa puluh
kilometer panjangnya, meskipun beberapa dapat mencapai ukuran hingga
50 km (Nilsen dan Sylvester, 1995). Cekungan ini dapat menunjukkan bukti
adanya relif syn-depositional lokal yang signifikan, seperti dijumpainya
kehadiran baji konglomerat yang dibatasi di kedua bagian sayap oleh sesar.
Karena cekungan strike-slip dapat hadir dalam beberapa setting, mereka
dapat diisi baik oleh sedimen marin maupun nonmarin, tergantung pada
setting yang ada. Sedimen yang dijumpai pada cekungan ini cenderung
cukup tebal, karena tingkat sedimentasinya yang tinggi yang dihasilkan oleh
proses pengerosian yang cepat dari tinggian di sekitar cekungan ini, serta
ditandai dengan adanya beberapa perbedaan fasies lokal.

11 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

Gambar 13. Klasifikasi genetik sesar strike slip utama berdasarkan tektonik
lempeng (Woodcock, 1985)

Tabel 1. Klasifikasi sesar strike-slip (Sylvester, 1988)

Terdapat dua tipe cekungan strike slip pada sejarah termal dan
subsiden: (i) cekungan strike slip yang melibatkan mantel; dikenal dengan
cekungan panas, dan (ii) cekungan strike-slip yang umumnya relatif tipis;
dikenal dengan cekungan dingin.
Ada beberapa skema penghancuran cekungan pada zona strike slip
berdasarkan kinematik dan geometri bounding faults, di antaranya seperti
yang dikemukakan Nilsen dan Sylvester (1995), yang meliputi:
1. Fault bend basins umumnya berkembang pada bagian bengkok pada
sesar strike slip utama di mana ekstensi lokal berlangsung. Contohnya
cekungan Ridge, cekungan Vienna, California pada sistem San Andreas.
2. Overstep basins terbentuk di antara dua segmen sesar strike-slip
subparalel, yang pada kedalaman tertentu dapat bergabung menjadi satu
master fault.
12 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

3. Transrotational basins terbentuk sebagai triangular gaps di antara blokblok kerak berotasi pada sumbu subvertikal.
4. Transpressional basins merupakan depresi memanjang sejajar dengan
jurus (strike) regional lipatan dan sesar di zona konvergensi oblique.

2.4 Pengisian Cekungan Sedimen


2.4.1 Kontrol Terhadap Cekungan Stratigraf
Proses stratigrafi sebagaimana didefinisikan dalam Allen & Allen (2005)
adalah ilmu pengenalan dan interpretasi struktur genetik stratigrafi. Tujuan
mendasar dari proses stratigrafi adalah untuk memahami mekanisme yang
terjadi untuk berbagai arsitektur stratigrafi yang ditemukan di cekungan
sedimen. Konsep utama dari proses stratigrafi adalah penghancuran ruang
akomodasi dan jumlah sedimen yang disediakan. Isian sedimen pada
cekungan secara umum dikendalikan oleh tiga variabel utama:
1. Subsidence, Sifat termal dan mekanik litosfer mengerahkan
kontrol

penting

pada

pembentukan

cekungan

sedimen"

(Steckler, 1990). Tingkat subsidence termal dan besarnya dan


distribusi subsidence akibat pembebanan bervariasi dalam
cekungan pada tatanan tektonik yang berbeda (Steckler dan
Watts, 1978; Stephenson, 1990).
2. Eustasy

(permukaan

laut

global),

Eustasy

mengacu

permukaan laut relatif terhadap datum tetap, seperti pusat bumi.


Variasi permukaan laut global yang mengakibatkan perubahan,
baik volume cekungan samudera maupun volume air. Eustasy
dikombinasikan

dengan

subsidence

menghasilkan

variasi

permukaan laut relatif yang mengontrol akomodasi untuk


pengendapan sedimen (Posamentier et al, 1988;. Posamentier
dan Vail, 1988).
13 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

3. Suplai Sedimen Peran suplai sedimen dalam transgresi dan


regresi

adalah salah satu dasar ..." (Schlager, 1994). Ketika

tingkat

pasokan

sedimen

lebih

besar

dari

laju

kenaikan

permukaan laut relatif, ruang akomodasi akan diisi.

Gambar 14. Eustatic sea level, relative sea level and water depth
2.4.2 Sistem Dan Model Pengendapan
Sistem pengendapan yang bervariasi menghasilkan jenis system tract
yang bermacam-macam sehingga menghasilkan tipe-tipe terminasi refleksi,
bentuk geometri dan pola-pola yang bervariasi juga. Hal tersebut bergantung
pada fasies dari maing-masing satuan batuan.
Fasies merupakan suatu tubuh batuan yang memiliki kombinasi
karakteristik yang khas dilihat dari litologi, struktur sedimen, dan biologi
yang

memperlihatkan

aspek-aspek

berbeda

dengan

satuan

batuan

disekitarnya.
Fasies umumnya dikelompokkan ke dalam facies association dimana
fasies-fasies tersebut berhubungan secara genetis sehingga asosiasi fasies
ini memiliki arti lingkungan. Dalam skala lebih luas asosiasi fasies bisa
disebut atau dipandang sebagai basic architectural element dari suatu
lingkungan pengendapan yang khas sehingga akan memberikan makna
bentuk tiga dimensi tubuhnya (Walker dan James, 1992).

14 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

Menurut Slley (1985), fasies sedimen adalah suatu satuan batuan yang
dapat dikenali dan dibedakan dengan satuan batuan yang lain atas dasar
geometri, litologi, struktur sedimen, fosil, dan pola arus purbanya. Fasies
sedimen merupakan produk dari proses pengendapan batuan sedimen di
dalam suatu jenis

lingkungan pengendapannya. Diagnosa

lingkungan

pengendapan tersebut dapat dilakukan berdasarkan analisa faises sedimen,


yang merangkum hasil interpretasi dari berbagai data, diantaranya:
1. Geometri

regional dan lokal dari seismik (misal : progradasi, regresi,


reef dan chanel)

intra-reservoir dari wireline log (ketebalan dan distribusi


reservoir)

2. Litologi : dari cutting, dan core (glaukonit, carboneous detritus)


dikombinasi dengan log sumur (GR dan SP)
3. Paleontologi : dari fosil yang diamati dari cutting, core, atau side
wall core
4. Struktur sedimen : dari core
Model Fasies (Facies Model) adalah miniatur umum dari sedimen
yang spesifik. Model fasies adalah suatu model umum dari suatu sistem
pengendapan yang khusus ( Walker , 1992).
Model fasies dapat diiterpretasikan sebagai urutan ideal dari fasies
dengan diagram blok atau grafik dan kesamaan. Ringkasan model ini
menunjukkan sebagaio ukuran yang bertujuan untuk membandingkan
framework dan sebagai penunjuk observasi masa depan. model fasies
memberikan prediksi dari situasi geologi yang baru dan bentuk dasar dari
interpretasi lingkungan. pada kondisi akhir hidrodinamik. Model fasies
merupakan

suatu

cara

untuk

menyederhanakan,

menyajikan,

mengelompokkan, dan menginterpretasikan data yang diperoleh secara


acak.
Ada bermacam-macam tipe fasies model, diantaranya adalah :
15 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

a. Model Geometrik berupa peta topografi, cross section, diagram


blok tiga dimensi, dan bentuk lain ilustrasi grafik dasar
pengendapan framework
b. Model Geometrik empat dimensi adalah perubahan portray
dalam erosi dan deposisi oleh waktu .
c. Model statistik digunakan oleh pekerja teknik, seperti regresi
linear multiple, analisis trend permukaaan dan analisis faktor.
Statistika

model

berfungsi

untuk

mengetahui

beberapa

parameter lingkungan pengendapan atau memprediksi respon


dari suatu elemen dengan elemen lain dalam sebuah prosesrespon model.
Facies Sequence merupakan suatu unit yang secara relatif conform
dan sekuen tersusun oleh fasies yang secara geneik berhubungan. Fasies ini
disebut parasequence. Suatu sekuen ditentikan oleh sifat fisik lapisan itu
sendiri bukan oleh waktu dan bukan oleh eustacy serta bukan ketebalan atau
lamanya pengendapan dan tidak dari interpretasi global atau asalnya
regional (sea level change). Sekuen analog dengan lithostratigrafy, hanya
ada perbedaan sudut pandang. Sekuen berdasarkan genetically unit.
Ciri-ciri sequence boundary :
a. Membatasi lapisan dari atas dan bawahnya.
b. Terbentuk secara relatif sangat cepat (<10.000 tahun).
c. Mempunyai suatu nilai dalam chronostratigrafi.
d. Selaras yang berurutan dalam chronostratigrafi.
Batas sekuen dapat ditentukan dengan ciri coarsening up ward.
Asosiasi Fasies Mutti dan Ricci Luchi (1972), mengatakan bahwa fasies
adalah

suatu

lapisan

atau

kumpulan

lapisan

yang

memperlihatkan

karakteristik litologi, geometri dan sedimentologi tertentu yang berbeda


dengan batuan di sekitarnya. Suatu mekanisme yang bekerja serentak pada
saat yang sama. Asosiasi fasies didefinisikan sebagai suatu kombinasi dua
atau lebih fasies yang membentuk suatu tubuh batuan dalam berbagai skala
dan kombinasi. Asosiasi fasies ini mencerminkan lingkungan pengendapan
16 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

atau

proses

dimana

fasies-fasies

itu

terbentuk.

Sekelompok asosiasi fasies endapan fasies digunakan untuk mendefinisikan


lingkungan sedimen tertentu. Sebagai contoh, semua fasies ditemukan di
sebuah fluviatile lingkungan dapat dikelompokkan bersama-sama untuk
menentukan

fasies

fluvial

asosiasi.

Pembentukan dibagi menjadi empat fasies asosiasi (FAS), yaitu dari bawah
ke atas. Litologi sedimen ini menggambarkan lingkungan yang didominasi
oleh braided stream berenergi tinggi.
1. Asosiasi fasies 1
Asosiasi fasies terendah di unit didominasi oleh palung lintasstratifikasi, tinggi energi braided stream yang membentuk dataran outwash
sebuah sistem aluvial. Trace fosil yang hampir tidak ada, karena energi yang
tinggi berarti depositional menggali organisme tidak dapat bertahan.
2. Asosiasi fasies 2
Fasies ini mencerminkan lingkungan yang lebih tenang, unit ini
kadang-kadang terganggu oleh lensa dari FA1 sedimen. Bed berada di
seluruh tipis, planar dan disortir dengan baik. Bed sekitar 5 cm (2 in) bentuk
tebal 2 meter (7 ft) unit "bedded sandsheets"- lapisan batu pasit yang
membentuk lithology dominan fasies ini. Sudut rendah (<20 ), lintas-bentuk
batu pasir berlapis unit hingga 50 cm (19,7 inci) tebal, kadang-kadang
mencapai ketebalan sebanyak 2 meter (7 kaki). Arah arus di sini adalah ke
arah selatan timur - hingga lereng - dan memperkuat interpretasi mereka
sebagai Aeolian bukit pasir. Sebuah suite lebih lanjut lapisan padat berisi
fosil jejak perkumpulan; lapisan lain beruang riak saat ini tanda, yang
mungkin terbentuk di sungai yang dangkal, dengan membanjiri cekungan
hosting mungkin pencipta jejak fosil. Cyclicity tidak hadir, menunjukkan
bahwa, alih-alih acara musiman, kadang-kadang innundation didasarkan
pada peristiwa-peristiwa tak terduga seperti badai, air yang berbeda-beda
tabel, dan mengubah aliran kursus.
3. Asosiasi fasies 3
17 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

Fasies ini sangat mirip FA1, dengan peningkatan pasokan bahan clastic
terwakili dalam rekor sedimen tdk halus, diurutkan buruk, atas-fining (yaitu
padi-padian terbesar di bagian bawah unit, menjadi semakin halus ke arah
atas), berkerikil palung lintas-unit tempat tidur hingga empat meter tebal.
Jejak fosil langka. Sheet-seperti sungai dikepang disimpulkan sebagai kontrol
dominan pada sedimentasi di fasies ini.
4. Asosiasi fasies 4
Asosiasi fasies paling atas muncul untuk mencerminkan sebuah
lingkungan di pinggiran laut. Fining-up yang diamati pada 0,5 meter (2 kaki)
hingga 2 meter (7 kaki) skala, dengan salib melalui seperai pada unit dasar
arus overlain oleh riak. Baik shales batu pasir dan hijau juga ada. Unit atas
sangat bioturbated, dengan kelimpahan Skolithos - sebuah fosil biasanya
ditemukan di lingkungan laut.
Hubungan

Antara

Fasies,

Proses

Sedimentasi

dan

Lingkungan

Pengendapan
Lingkungan pada semua tempat di darat atau di bawah laut dipengaruhi oleh
proses fisika dan kimia yang berlaku dan organisme yang hidup di bawah
kondisi itu pada waktu itu. Oleh karena itu suatu lingkungan pengendapan
dapat mencirikan proses-proses ini. Sebagai contoh, lingkungan fluvial
(sungai) termasuk saluran (channel) yang membawa dan mengendapkan
material pasiran atau kerikilan di atas bar di dalam channel.
Ketika sungai banjir, air menyebarkan sedimen yang relatif halus
melewati daerah limpah banjir (floodplain) dimana sedimen ini diendapkan
dalam bentuk lapis-lapis tipis. Terbentuklah tanah dan vegetasi tumbuh di
daerah floodplain. Dalam satu rangkaian batuan sedimen channel dapat
diwakili oleh lensa batupasir atau konglomerat yang menunjukkan struktur
internal yang terbentuk oleh pengendapan pada bar channel. Setting
floodplain akan diwakili oleh lapisan tipis batulumpur dan batupasir dengan
akar-akar dan bukti-bukti lain berupa pembentukan tanah. Dalam deskripsi
batuan sedimen ke dalam lingkungan pengendapan, istilah fasies sering
digunakan. Satu fasies batuan adalah tubuh batuan yang berciri khusus yang
18 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

mencerminkan kondisi terbentuknya (Reading & Levell 1996). Mendeskripsi


fasies suatu sedimen melibatkan dokumentasi semua karakteristik litologi,
tekstur, struktur sedimen dan kandungan fosil yang dapat membantu dalam
menentukan proses pembentukan. Jika cukup tersedia informasi fasies, suatu
interpretasi lingkungan pengendapan dapat dibuat. Lensa batupasir mungkin
menunjukkan channel sungai jika endapan floodplain ditemukan berasosiasi
dengannya. Namun bagaimanapun, channel yang terisi dengan pasir
terdapat juga di dalam setting lain, termasuk delta, lingkungan tidal dan
lantai laut dalam. Pengenalan channel yang terbentuk bukanlah dasar yang
cukup untuk menentukan lingkungan pengendapan.
Fasies

pengendapan

batuan

sedimen

dapat

digunakan

untuk

menentukan kondisi lingkungan ketika sedimen terakumulasi.Lingkungan


sedimen telah digambarkan dalam beberapa variasi yaitu :
1. Tempat pengendapan dan kondisi fisika, kimia, dan biologi
yang menunjukkan sifat khas dari setting pengendapan
[Gould, 1972].
2. Kompleks dari kondisi fisika, kimia, dan biologi yang tertimbun
[Krumbein dan Sloss, 1963].
3. Bagian dari permukaan bumi dimana menerangkan kondisi
fisika, kimia, dan biologi dari daerah yang berdekatan [Selley,
1978].
4. Unit spasial pada kondisi fisika, kimia, dan biologi scara
eksternal dan mempengaruhi pertumbuhan sedimen secara
konstan untuk membentuk pengendapan yang khas [Shepard
dan Moore, 1955].
Tiap lingkungan sedimen memiliki karakteristik akibat parameter fisika,
kimia, dan biologi dalam fungsinya untuk menghasilkan suatu badan
karakteristik sedimen oleh tekstur khusus, struktur, dan sifat komposisi. Hal
tersebut biasa disebut sebagai fasies. Istilah fasies sendiri akan mengarah
kepada perbedaan unit stratigrafi akibat pengaruh litologi, struktur, dan
19 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

karakteristik organik yang terdeteksi di lapangan. Fasies sedimen merupakan


suatu

unit

batuan

yang

memperlihatkan

suatu

pengendapan

pada

lingkungan.

2.5 Evolusi Pengisian Sedimen


2.5.1 Evolusi Sejarah Subsidence
Teori geosinklin menyatakan bahwa suatu daerah sempit pada kerak
bumi mengalami depresi selama beberapa waktu sehingga terendapkan
secara ekstrem sedimen yang tebal. Proses pengendapan ini menyebabkan
subsidence (penurunan) pada dasar cekungan. Endapan sedimen yang tebal
dianggap berasal dari sedimen akibat proses orogenesa yang membentuk
pengunungan lipatan dan selama proses ini endapan sedimen yang telah
terbentuk akan mengalami metamorfosa. Pada intinya, golongan ilmuwan
menganggap bahwa gaya yang bekerja pada bumi merupakan gaya vertical.
Artinya, semua deformasi yang terjadi diakibatkan oleh gaya utama yang
berarah tegak lurus dengan bidang yang terdeformasi.

20 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

Gambar 15. Contoh evolusi cekungan sedimen dan kaitannya dengan


subsidence
Teori

ini

dikonsep

oleh

Hall

pada

tahun1859

yang

kemudian

dipublikasikan oleh Dana pada tahun 1873. Teori ini bertujuan untuk
menjelaskan terjadinya endapan batuan sedimen yang sangat tebal, ribuan
meter dan memanjang seperti pada Pegunungan Himalaya, Alpina dan
Andes.

Konsep

tersebut

menyatakan

bahwa

geosinklin

terbentuk

memanjang atau seperti cekungan dalam skala ribuan meter, yang terus
menurun akibat dari akumulasi batuan sedimen dan volkanik.Sedangkan
geosinklin adalah suatu daerah sempit pada kerak bumi mengalami depresi
selama beberapa waktu sehingga terendapkan secara ekstrim sedimen yang
tebal. Proses pengendapan ini menyebabkan subsidence (penurunan) pada
dasar cekungan. Endapan sedimen yang tebal dianggap berasal dari
sedimen akibat proses orogenesa yang membentuk pengunungan lipatan
dan selama proses ini endapan sedimen yang telah terbentuk akan
mengalami metamorfosa. Terdeformasinya batuan di dalamnya dapat
dijelaskan sebagai akibat dari menyempitnya cekungan, sehingga batuan di
dalamnya terlipat dan tersesarkan. Pergerakan ini terjadi akibat adanya gaya
penyeimbang atau isostasi. Kelemahan dari teori yakni tidak bisanya
menjelaskan

asal-usul

vulkanik.

Pada

intinya,

golongan

ilmuwan

menganggap bahwa gaya yang bekerja pada bumi merupakan gaya vertical.
Artinya, semua deformasi yang terjadi diakibatkan oleh gaya utama yang
berarah tegak lurus dengan bidang yang terdeformasi.
2.5.2 Sejarah Termal
Temperatur merupakan parameter yang paling penting untuk dipelajari
dalam

kaitannya

terhadap

evolusi

cekungan.

Pemodelan

cekungan

memberikan kemungkinan khusus untuk menyelidiki rezim suhu dalam


ruang dan waktu. Sejarah termal cekungan dapat digambarkan sebagai
21 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

keseimbangan energi yang bergantung pada waktu keterjadian, di satu sisi


dengan adanya panas yang masuk dan meninggalkan cekungan sedimen
dalam cekungan dapat memiliki daya penyimpanan energi termal. Dengan
demikian, aspek fisik dan matematika perpindahan panas dan penyimpanan
di bawah kondisi sekitar dapat bervariasi tergantung dari cekungan yang
diamati.

Parameter

bahan

thermofisik

dari

batuan

sedimen

mengisi

cekungan dan perubahan terkait diinduksi selama evolusi baskom dibahas


bersama dengan masukan dari energi panas di lantai cekungan dan panas
kerugian di permukaan. Perubahan atas kondisi lingkungan di bawah
permukaan sebagian besar dikendalikan oleh empat proses geologi, yakni
dengan pengendapan sedimen, periode nondeposisi, proses yang terkait
dengan deformasi mengisi cekungan, dan erosi sedimen. Proses ini identik
dengan proses utama yang harus diperhitungkan ketika konstruksi model
geologi konseptual untuk pemodelan cekungan.
Sejarah termal sebuah cekungan dapat dipengaruhi oleh adanya Siklus
Wilson terhadap pembentukan cekungan sedimen, litosfer berada pada
opening phase. Fase ini diawali dengan kondisi lempeng yang stabil. Contoh
penggambaran umum yang sering diambl adalah lempeng benua. Secara
sederhana, sebuah lempeng benua yang stabil akan dibatasi oleh cekungan
laut di sekitar, dimana benua ini secara normal akan mengalami prosesproses eksogen yang dapat mengikis morfologinya hingga turun mendekati
permukaan laut. Lempeng benua tersebut sedang dalam kondisi equilibrium
isostatik sempurna

yang dengan sendirinya tidak akan naik ataupun

tengelam, dari ujung ke ujung dan sudut ke sudut dan tidak ada aktivitas
tektonik. Di dalam lempeng yang stabil tersebut, selanjutnya muncul pusat
panas (hotspot) dari lapisan astenosfer yang mengakibatkan adanya transfer
panas secara tidak normal ke lempeng di atasnya. Transfer panas tersebut
dapat berupa magma mafik atau ultramafik yang naik ke permukaan. Panas
dari hot spot tersebut melelehkan batuan batuan di sekitarnya hingga
menyebabkan munculnya sesar-sesar normal yang menyebabkan terjadinya
penurunan (subsidence).
22 | S t r a t i g r a fi

Indonesia

Sejarah termal cekungan secara umum juga dapat disebabkan dari


adanya peningkatan gradient termal seiring dengan adanya peningkatan
kedalaman. Semakin kuat akomodasi seuatu cekungan terhadap material
sedimen, semakin besar pula suhu sistem termal yang terjadi seiring dengan
peningkatan jumlah sedimen.

Daftar Pustaka
Allen, 2005. Phillip A & Allen, John R. Basin Analysis. Oxford: Blackwell
Publishing Ltd.
http://sedimentologiduaribusembilan.blogspot.co.id/2010/12/fasies.html.
Diakses pada 29 September 2015

23 | S t r a t i g r a fi

Indonesia