Anda di halaman 1dari 42
10 Faktor caring 3 Faktor kepuasan pasien a. Nilai humanistic-altruistic b. Faith-hope a. Praktik profesional
10 Faktor caring
3 Faktor kepuasan pasien
a.
Nilai humanistic-altruistic
b.
Faith-hope
a. Praktik profesional
(Technical-professional)
c.
Sensitivitas
d.
Helping trust
b. Hubungan saling percaya
(Trusting relationship)
e.
Ekspresi perasaan positif dan
negatif
f.
Pemecahan masalah yang
sistematis
c. Hubungan pendidikan
(Educational relationship)
(Risser, 1975).
g.
Proses belajar mengajar
interpersonal
h.
Lingkungan yang
mendukung
i. Pemenuhan kebutuhan dasar
manusia
j.
Kekuatan exsistential-
phenomenological
(Watson, 1979).
Skema 2.1.
Kerangka konsep korelasi perilaku caring perawat dengan kepuasan
pasien.

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1.Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelatif. Jenis

penelitian ini digunakan

untuk menguji korelasi antara perilaku caring perawat

dengan kepuasan pasien rawat inap, dan memperoleh gambaran tentang perilaku

caring perawat, serta kepuasan pasien rawat inap.

Universitas Sumatera Utara

3.2.Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di rumah sakit Grand Medistra Lubuk Pakam, dengan

pertimbangan bahwa di rumah sakit Grand Medistra Lubuk Pakam terdapat pasien

rawat inap yang sesuai dengan kriteria populasi yang ditetapkan pada penelitian

ini, merupakan rumah sakit tipe B dan sekaligus sebagai rumah sakit tempat

mahasiswa perawat untuk melakukan praktik. Selain itu lokasi rumah sakit mudah

terjangkau oleh peneliti. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei 2013 sampai

Juni 2013.

3.3. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah pasien rawat inap, pasien dewasa yang

telah menjalani perawatan di ruang rawat inap rumah sakit

selama 3 hari atau

lebih. Sampel yang diperoleh dalam penelitian ini berjumlah 136 pasien. Teknik

sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling. Peneliti

mengidentifikasi semua pasien dewasa rawat inap di rumah sakit, pasien dewasa

yang

sudah

mendapatkan

perawatan

selama

3

hari

atau

lebih

dan

dapat

berkomunikasi dengan baik, dijadikan sampel dalam penelitian ini.

3.4.Metode Pengumpulan data

Peneliti melakukan pengumpulan data penelitian setelah mendapat izin dari

Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara, dan pimpinan rumah sakit

Grand Medistra Lubuk Pakam. Selanjutnya peneliti mendatangi setiap ruangan

rawat inap dan bertemu dengan kepala ruangan di setiap ruangan untuk memohon

izin melakukan pengumpulan data. Peneliti meminta bantuan kepada kepala

ruangan untuk melihat data pasien yang sudah dirawat minimal 3 hari di ruang

Universitas Sumatera Utara

rawat

inap,

setelah

data

pasien

tersebut

didapatkan,

selanjutnya

peneliti

mendatangi ruangan pasien untuk menemui pasien yang menjadi responden pada

peneltian ini. Setelah menemui responden, selanjutnya peneliti menjelaskan pada

responden tersebut mengenai tujuan dan manfaat penelitian serta proses pengisian

kuisioner, kemudian responden diminta untuk menandatangani lembar persetujuan

menjadi responden dan peneliti membagikan kuisioner kepada responden. Selama

proses pengisian kuisioner peneliti mendampingi responden, agar apabila ada

pernyataan yang tidak jelas, peneliti dapat menjelaskan kembali dengan tidak

mengarahkan jawaban responden. Selanjutnya peneliti mengumpulkan seluruh

kuisioner.

3.5. Variabel dan Definisi Operasional

Penelitian ini melibatkan variabel bebas dan variabel tergantung, dengan

identifikasi sebagai berikut:

1. Variabel bebas : perilaku caring perawat.

2. Variabel tergantung : kepuasan pasien rawat inap.

Adapun definisi operasional variabel dalam penelitian ini sebagai berikut:

a. Perilaku Caring Perawat

Perilaku caring perawat adalah, 1) caring sebagai human trait (mencirikan

manusia): suatu komponen esensial dari manusia umumnya dan melekat dalam

diri semua orang, 2) caring sebagai suatu moral imperative (bentuk moral) :

menyangkut pemeliharaan martabat dan respek bagi klien sebagai manusia. 3)

caring sebagai suatu affect (emosi-kasihan) : menggambarkan suatu emosi atau

perasaan, dimana perasaan tersebut harus ada dalam diri setiap perawat supaya

Universitas Sumatera Utara

bisa

merawat

klien.

4)

caring

sebagai

interaksi

interpersonal

:

meliputi

komunikasi perawat-klien, saling percaya penuh hormat dan bertanggung jawab

terhadap satu dan lainnya. 5) caring sebagai suatu intervensi terapeutik : suatu

tindakan yang berlainan yang dilakukan perawat dalam memenuhi kebutuhan

klien (Morse et al, 1993).

Perilaku caring adalah tindakan yang dilakukan perawat dalam memberikan

asuhan keperawatan kepada pasien. Perilaku caring perawat akan diungkap dalam

penelitian

ini

dengan

menggunakan

alat

ukur

berupa

skala

yang

disusun

berdasarkan sepuluh faktor karatif yang dikemukakan oleh Watson (1979), yaitu

membentuk

sistem

nilai

humanistic-altruistic,

faith-hope

(menanamkan

kepercayaan-harapan), sensitivity (mengembangkan kepekaan diri sendiri dan

orang lain), helping-trust (hubungan saling percaya), ekspresi perasaan positif dan

negatif ,pemecahan masalah yang sistematis dalam pengambilan, proses belajar

mengajar interpersonal, lingkungan yang mendukung , pemenuhan kebutuhan

dasar manusia. kekuatan exsistential-phenomenological.

b. Kepuasan Pasien Rawat Inap

Kepuasan pasien adalah ungkapan perasaan senang yang berasal dari pasien setelah

menerima pelayanan keperawatan. Kepuasan pasien rawat inap akan diungkap dalam

penelitian

ini

dengan

menggunakan

alat

ukur

berupa

skala

yang

disusun

berdasarkan

tiga

faktor

perilaku

perawat

terhadap

kepuasan

pasien

yang

dikemukakan oleh Risser (1975), yaitu:

Universitas Sumatera Utara

1. Praktik

profesional

(Technical-professional)

yaitu

perilaku

perawat

yang

mampu melakukan tindakan mencapai tujuan sesuai dengan standar dan

perannya.

2. Hubungan saling percaya (Trusting relationship) yaitu kemampuan perawat

untuk berkomunikasi secara langsung maupun tidak langsung dengan baik,

sehingga terjalin hubungan saling percaya antara perawat dengan pasien.

3. Hubungan pendidikan (Educational relationship) yaitu pertukaran informasi

antara pasien dan perawat ketika interaksi berlangsung selama pasien dirawat.

3.6. Metode Pengukuran

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner. Kuisioner

penelitian terdiri dari tiga kuesioner yaitu data demografi, perilaku caring, dan

kepuasan pasien.

1. Kuisioner data demografi

Kuisioner data demografi digunakan untuk mengkaji data demografi pasien

rawat inap yang meliputi umur, jenis kelamin, dan pendidikan.

2. Kuisioner Perilaku Caring

Kuisioner perilaku caring digunakan untuk mengidentifikasi perilaku caring

perawat melalui pasien rawat inap. Penelitian ini menggunakan instrumen

Caring Behavior Inventory (CBI) yang dikembangkan oleh Wolf (1986, 1994)

dan sudah mendapat ijin untuk penggunaan instrument tersebut. Instrumen ini

diadobsi dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sesuai dengan adobsi

instrumen penelitian lintas budaya

(Beaton, Bombardier, Guillemin, dan

Universitas Sumatera Utara

Ferraz, 2000). Instrumen ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh

Tahan Adrianus Manalu yang merupakan seorang perawat yang memiliki

kemampuan berbahasa inggris dengan baik dan

merupakan

seorang

dosen

bahasa

inggris

yang

dan Deni Sinaga yang

memiliki

kemampuan

berbahasa inggris dengan baik, lalu hasil terjemahan tersebut diterjemahkan

kembali ke dalam bahasa inggris oleh Louise tourtone yang merupakan

seorang dosen bahasa inggris dari negara Amerika.

Kuisioner perilaku caring perawat terdiri dari 42 butir pernyataan yang

didasari oleh 10 faktor karatif Watson (1979) yang lebih disederhanakan lagi

menjadi 5 faktor karatif oleh Wolf, et al (1994) yaitu Respectful deference

yang terdapat dalam instrument penelitian ini pada nomor, 1, 2, 3, 5, 7, 8, 9,

10, 11, 15, 28, 29, Assurance of human presence yang terdapat dalam

instrumen penelitian ini pada nomor, 16, 18, 27, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37,

Professional knowledge and skill yang terdapat dalam instrument penelitian

ini pada nomor, 19, 20, 21, 23, 25, 38, 39, Positive connectedness yang

terdapat dalam instrument penelitian ini pada nomor, 4, 6, 12, 13, 14, 17, 22,

24, 26, dan Attentive to other’s experience yang terdapat dalam instrument

penelitian ini pada nomor, 40, 41, dan 42.

Tabel 3.1

Blue-print Alat Ukur Perilaku Caring Perawat

Faktor

Perilaku Perawat

 

No Item

 

Jumlah Item

1

Mengakui keberadaan manusia

1, 2, 3, 5, 7, 8, 9, 10, 11, 15, 28,

12

29,

2

Menanggapi dengan rasa hormat

16,

18,

27,

30,

11

31,

32,

33,

34,

 

35, 36, 37

Universitas Sumatera Utara

3

Pengetahuan dan keterampilan profesional

19,

20,

21,

23,

7

25, 38, 39

4

Menciptakan hubungan yang positif

4,

6,

12,

13, 14,

9

17, 22, 24, 26

 

5

Perhatian terhadap yang dialami orang lain

40, 41, 42

 

3

 

Jumlah

42

3. Kuisioner Kepuasan Pasien

Penelitian ini menggunakan instrumen Patient Satisfaction Questionnaire

(PSQ) yang dikembangkan oleh Biering, Becker, Calvin, dan Grobe

(2006), dan sudah mendapat ijin untuk penggunaan instrumen tersebut.

Instrumen ini

sesuai

dengan

diadobsi dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia

adobsi

instrumen

penelitian

lintas

budaya.

(Beaton,

Bombardier, Guillemin, dan Ferraz, 2000). Instrumen ini diterjemahkan ke

dalam bahasa Indonesia oleh Tahan Adrianus Manalu yang merupakan

seorang perawat yang memiliki kemampuan berbahasa inggris dengan

baik dan dan Deni Sinaga yang merupakan seorang dosen bahasa inggris

yang memiliki kemampuan berbahasa inggris dengan baik, lalu hasil

terjemahan tersebut diterjemahkan kembali ke dalam bahasa inggris oleh

Louise tourtone yang merupakan seorang dosen bahasa inggris dari negara

Amerika

Kuisioner kepuasan pasien terdiri dari 26 butir pernyataan yang

didasari oleh 3 subskala (Risser, 1975) yaitu Technical-professional yang

terdapat dalam instrument penelitian ini pada nomor, 12, 14, 15, 18, 22,

23, 25, Trusting relationship yang terdapat dalam instrument penelitian ini

pada nomor, 3, 4, 5, 6, 9, 10, 11, 13, 17, 20, 21, Educational relationship

Universitas Sumatera Utara

yang terdapat dalam instrument penelitian ini pada nomor, 1, 2, 7, 8, 16,

19, 24, dan 26.

Tabel 3. 2

Blue-print Alat Ukur Kepuasan Pasien

Faktor

Perilaku perawat

 

Item

 

Jumlah Item

1

Praktik profesional

12, 14, 15, 18, 22, 23, 25

7

2

Hubungan saling percaya

3,

4,

5,

6,

9,

10,

11

11, 13, 17, 20, 21

3

Hubungan pendidikan

1, 2, 7, 8, 16, 19, 24, 26

8

 

Jumlah

26

3.7. Metode Analisa Data

Pada penelitian ini analisa univariat ditampilkan berupa distribusi

frekuensi dan persentasi dari perilaku caring perawat dan kepuasan pasien

rawat

inap.

Pada

penelitian

ini

menggunakan

skala

likert

yang

menggunakan 4 alternatif jawaban, yaitu tidak pernah, kadang-kadang,

sering, dan selalu. Nilai terendah yang dicapai untuk instrumen perilaku

caring perawat adalah 42 dan nilai tertinggi adalah 168.

Berdasarkan

rumus statistik Sudjana (2005), p adalah rentang dimana p merupakan

panjang kelas (nilai tertinggi dikurang nilai terendah) yaitu sebesar 126.

Dan banyak kelas dibagi menjadi empat katagori kelas untuk perilaku

caring, maka akan diperoleh panjang kelas sebesar 32. Nilai terendah 42

sebagai

batas

bawah

kelas

pertama,

maka

perilaku

caring

perawat

terhadap pasien rawat inap di rumah sakit Grand Medistra Lubuk Pakam

dikatagorikan menjadi, Baik=138–168, Cukup=106–137, Kurang=

74–

105, Buruk=42–73. Nilai terendah yang dicapai untuk instrumen kepuasan

Universitas Sumatera Utara

pasien adalah 26 dan nilai tertinggi adalah 104. Berdasarkan rumus

statistik Sudjana (2005), p adalah rentang dimana p merupakan panjang

kelas (nilai tertinggi dikurang nilai terendah) yaitu sebesar 78. Dan banyak

kelas dibagi menjadi empat katagori kelas untuk kepuasan pasien, maka

akan diperoleh panjang kelas sebesar 20.Nilai terendah 26 sebagai batas

bawah kelas pertama, maka kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan

yang diterima di rumah sakit Grand Medistra Lubuk Pakam dikatagorikan

menjadi Sangat Puas=86-104, Puas=66-85, Tidak Puas=46-65, Sangat

Tidak Puas=26-45.

Analisa bivariat merupakan analisa statistik yang digunakan oleh peneliti

untuk menganalisa ada atau tidaknya korelasi perilaku caring perawat

dengan kepuasan pasien rawat inap. Setelah dilakukan uji normalitas

terhadap

data

yang

diperoleh

pada

penelitian

ini,

didapatkan

nilai

kolmogorov-smirnov untuk data perilaku caring perawat 0.058 yang berarti

data berdistribusi normal dan data kepuasan pasien 0.006 yang berarti data

tidak

berdistribusi

normal.

Selanjutnya

dilakukan

transformasi

data

menggunakan

log 10

lalu

dilakukan

uji

normalitas

kembali

dan

menghasilkan

nilai

kolmogorov-smirnov

<

0.05,

sehingga

dapat

disimpulkan

bahwa

data

yang

dihasilkan

pada

penelitian

ini

tidak

berdistribusi

dengan

normal.

Analisa

data

pada

penelitian

ini

menggunakan uji korelasi Spearman pada tingkat kepercayaa 95%. Jika

nilai p-Value < 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa ada korelasi antara

perilaku caring perawat dengan kepuasan pasien rawat inap.

Universitas Sumatera Utara

3.8. Pertimbangan Etik

Pelaksanaan penelitian dilakukan oleh peneliti setelah mendapatkan

izin dari komite etik bidang kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas

Sumatera Utara, dan izin dari rumah sakit Grand Medistra Lubuk Pakam.

Pada penelitian ini seluruh responden diberikan lembar persetujuan yang

ditandatangani sebagai bukti kesediaannya menjadi responden. Sebelum

menyerahkan lembar persetujuan, peneliti terlebih dahulu menjelaskan

tujuan penelitian kepada calon responden. Peneliti

merancang kuesioner

dengan

strategi anonimitas

identitas

untuk

menjaga

kerahasiaan

dari

responden. Peneliti

menjelaskan prosedur penelitian, dan penghormatan

terhadap hak-hak individu selama mengikuti jalannya penelitian.

Universitas Sumatera Utara

BAB 4

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan selama satu bulan, dengan cara mengidentifikasi

setiap pasien dewasa yang dirawat inap di rumah sakit minimal 3 hari, dan mampu

berkomunikasi dengan baik, dijadikan sampel pada penelitian ini. Jumlah sampel

yang diperoleh pada penelitian ini sebanyak 136 responden.

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Rumah sakit Grand Medistra terletak di kota Lubuk Pakam Deli Serdang.

Rumah sakit ini

mulai beroperasi sejak

tahun 2009, yang merupakan salah satu

rumah sakit yang berkelas B, dan telah terakreditasi dengan 5 pelayanan. Jumlah

tempat tidur yang ada di rumah sakit ini sebanyak 201 buah, dan

rawat inap rata-rata 180 orang setiap harinya.

jumlah pasien

Rumah sakit ini memiliki visi yaitu, “menjadi rumah sakit rujukan dengan

kualitas pelayanan yang prima, didukung sumber daya manusia yang berkualitas,

serta sarana dan prasarana kesehatan yang lengkap”. Motto rumah sakit ini adalah

“Mitra Profesional Menuju Sehat”. Modal RS Grand Medistra sebagian besar

berasal dari kucuran dana Yayasan Medistra. Unit Usaha Yayasan yang lain, yaitu

Pendidikan Akper, Akbid, dan Stikes Medistra Lubuk Pakam sangat

besar

peranannya dalam pengadaan alat-alat medis canggih yang harganya relatif mahal.

Ditunjang oleh kucuran dana yayasan tersebut, maka RS Grand Medistra dapat

melengkapi diri dengan alat-alat medis yang relatif mutakhir.

Secara internal, keuangan RS Grand Medistra sebagian besar ditunjang oleh

likuiditas cash flow yang berasal dari pembayaran pasien umum (pay from

Universitas Sumatera Utara

pocket). Sumber keuangan yang lain berasal dari klaim pasien asuransi (Askes,

Jamsostek, Inhealth, Astra Buana, Jasindo, Lippo Insurance, BNI Life), Luncuran

dana

Jamkesmas,

dan

dari

Pembayaran

Klaim

Kerjasama

Mandiri

dengan

perusahaan-perusahaan

yang

berdomisili

di

sekitar

rumah

sakit.

RS

Grand

Medistra Lubuk Pakam menerima beberapa golongan pasien rawat jalan dan

rawat inap, yaitu:

1. Pasien Umum

Pasien umum berasal dari masyarakat yang membayar sendiri biaya pemeriksaan

dan pengobatannya di RS. Sistem pembayarannya adalah out of pocket. Tidak

seperti di beberapa rumah sakit lain, pasien umum di RS Grand Medistra Lubuk

Pakam tidak dibebani uang muka pelayanan. Setelah selesai menjalani perawatan /

pengobatannya,

baru

pasien

yang

bersangkutan

membayar

di kasir.

Sistem

pembayaran terkomputerisasi online yang diterapkan di kasir membuat biaya

pelayanan di RS Grand Medistra menjadi terstandarisasi dan tidak bisa ditambah

atau dikurangi oleh oknum tertentu.

2. Pasien Asuransi

RS Grand Medistra juga menjalin kerjasama dengan asuransi-asuransi yang

menjamin biaya perawatan kesehatan bagi pasien peserta asuransi. Pasien yang

ditanggung

asuransi

ini

tidak

dikenai

biaya

perawatan

kesehatan,

kecuali

pelayanan yang diterimanya melebihi ketentuan dan tarif yang ditanggung oleh

asuransinya. Asuransi-Asuransi yang sudah bekerja sama dengan RS Grand

Medistra sampai dengan saat ini adalah:

Universitas Sumatera Utara

a. PT Askes Persero Indonesia. PT Askes mempercayakan RS Grand Medistra

untuk menjadi Penyelenggara Pelayanan Kesehatan rujukan tingkat II (PPK II)

bagi para PNS, pensiunan PNS, dan pensiunan TNI/Polri yang menjadi peserta

Program Askes Sosial. RS Grand Medistra menjadi PPK II Askes Sosial sejak 1

Maret 2010.

b. PT Jamsostek Indonesia cabang Tanjung Morawa

PT Jamsostek Indonesia menjalin kerjasama dengan RS Grand Medistra sejak

tanggal 22 Oktober 2009, sehingga kami diperbolehkan melayani para karyawan

dan

pegawai

perusahaan

yang

dilindungi oleh

program Jaminan Pelayanan

Kesehatan (JPK) Jamsostek sejak tanggal 02 Nopember 2009. Saat ini, RS Grand

Medistra dipercaya oleh PT Jamsostek menjadi rumah sakit rujukan Trauma

Center untuk pasien-pasien kecelakaan kerja.

c. PT Asuransi Jiwa Inhealth.

PT Asuransi Jiwa Inhealth menjalin kerjasama dengan RS Grand Medistra, yang

berarti

kami

dapat

melayani

para

eksekutif,

karyawan,

maupun

pegawai

perusahaan yang dilindungi oleh program Inhealth sejak 01 Desember 2009.

3. Pasien Perusahaan

RS Grand Medistra Lubuk Pakam juga menjalin kerjasama dengan perusahaan-

perusahaan yang belum bergabung dengan program jaminan pelayanan kesehatan

untuk karyawannya, yang meminta supaya biaya pelayanan dan pengobatan

karyawannya ditagihkan setiap bulan kepada mereka, sehingga karyawan tersebut

tidak

perlu

Medistra.

mengeluarkan

uang

untuk

pelayanan

pengobatan

di

RS

Grand

Universitas Sumatera Utara

Perusahaan-perusahaan yang menjalin kerjasama pelayanan kesehatan mandiri

dengan RS Grand Medistra adalah sebagai berikut: PT Indofood Sukses Makmur,

PT Smart Gloves, PT PLN Persero, PDAM Tirtanadi,PT Kereta Api Indonesia,

PT Japfa, PT WIKA, PT Waskita Yasa, PT SC Johnson, PT Traktor Nusantara,

PT Marajaya, PT SL Prima, PT Juang, PT Tunggal Jaya Prima.

4. Pasien Jamkesmas

Sebagai wujud kepedulian RS Grand

Medistra kepada pasien yang

kurang

mampu, saat ini RS Grand Medistra telah mendapatkan ijin dari Dinas Kesehatan

Kabupaten Deli Serdang dan persetujuan Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera

Utara untuk dapat melayani peserta program Jamkesmas yang berdomisili di 32

wilayah Kabupaten Deli Serdang dan sekitarnya. Pelayanan peserta Jamkesmas di

RS Grand Medistra dimulai sejak Tanggal 1 Januari 2010.

5. Pasien Jampersal

RS Grand Medistra sangat mendukung program pemerintah yang bertujuan untuk

mencapai sasaran Millenium Development Goal (MDG) yaitu menurunkan Angka

Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu Jampersal. Saat ini,

RS Grand Medistra telah melayani peserta Jampersal, terutama yang dirujuk oleh

Puskesmas-puskesmas di sekitar Lubuk Pakam.

Dalam melayani pasien, pada prinsipnya RS Grand Medistra tidak membeda-

bedakan cara memberikan pelayanan, baik kepada pasien yang mampu maupun

tidak mampu. Yang membedakan adalah, pada pasien asuransi, pasien Jamkesmas

dan Jampersal berlaku prinsip pengendalian biaya (managed health care) yang

memberikan

aturan-aturan

dalam

pemberian

pelayanan

supaya

tidak

terjadi

Universitas Sumatera Utara

pembengkakan biaya pelayanan. Dalam menjalankan misinya dan mencapai

tujuannya, RS Grand Medistra didukung oleh berbagai fasilitas sebagai berikut :

Instalasi Gawat Darurat

Unit Gawat Darurat RS Grand Medistra bertujuan menjadi pusat penanganan

trauma (trauma center) untuk memberikan pertolongan dengan cepat, tepat, dan

tanggap

terhadap

setiap

pasien

terutama

pasien

trauma,

yang

memerlukan

pertolongan segera dan tanpa melalui prosedur yang terlalu panjang. Unit gawat

darurat RS Grand Medistra memberikan pelayanan 24 jam nonstop dengan

didukung oleh:

1. Sumber Daya Tenaga yang Terlatih dan Berpengalaman :

a. Tenaga medis dokter-dokter yang sudah bersertifikat ATLS (Advanced Trauma

Life Support) dan ACLS (Advanced Cardiac Life Support).

b. Tenaga paramedis yang sudah menjalani pelatihan kegawatdaruratan BLS

(Basic Life Support) dan BTLS (Basic Trauma Life Support).

c. Tenaga kesehatan penunjang lainnya yang sudah dilatih secara intensif dan

kontinyu oleh RS Grand Medistra.

2. Fasilitas Pelayanan yang Memadai dan Lengkap:

a. Ruangan IGD yang Lapang dan mudah dijangkau,

b. Ruangan bedah gawat darurat (OK Minor) untuk kondisi emergensi yang

memerlukan tindakan bedah dengan segera,

c. Peralatan penunjang diagnostik dan terapi yang memadai, seperti laboratorium,

radiologi (X ray dan CT Scan), dan ruang ICU/NICU dekat dengan lokasi IGD.

Universitas Sumatera Utara

d.

Bedside monitor bagi pasien yang perlu dipantau lebih intensif di ruangan

resusitasi IGD.

Direksi RS Grand Medistra terdiri dari:

Direktur:

dr. Arif Sujatmiko

Wakil Direktur Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan

dr. Ferdinand Dermawan Sembiring

Wakil Direktur Bidang Keuangan dan Logistik

dr. Christina Hardy

Wakil Direktur Bidang Pengembangan dan Infrastruktur

Layari Tarigan, SKM

DOKTER SPESIALIS DASAR

Spesialisasi Dokter

No

Nama Dokter Spesialis Dasar

Spesialis Penyakit Dalam

1

dr. Meilindawaty, SpPD

2

dr. OK Yulizal, SpPD

Spesialis Kebidanan dan Kandungan

1

dr. Ronny Ajartha, SpOG

2

dr. Jhon Tambunan, SpOG

Spesialis Anak

1

dr. Riduanto Situmeang, SpA

2

dr. Pranoto, SpA

Spesialis

Bedah

1

dr. Harry Butar-butar, SpB

 

2

dr. Freddy Tambunan, SpB

3

dr. Chairiansyah Harahap, SpB

Universitas Sumatera Utara

DOKTER SPESIALIS LAIN

Spesialisasi Dokter

No

Nama Dokter Spesialis Lain

Spesialis Penyakit

1

dr. Pinto Yusneni Pulungan, SpM

Mata

Spesialis THT

1

dr.Amran Simanjuntak, SpTHT

Spesialis Kulit &

1

dr. Sulaiman Tanjung, SpKK

Kelamin

Spesialis Saraf

1

dr. Benny Mariduk Silaen, SpS

2

dr. Robert Silitonga, SpS

Spesialis Paru

1

dr. Ucok Martin, SpP

2

dr. Simion Sembiring, SpP

No

Spesialisasi

Nama Dokter Spesialis Penunjang

1

Spesialis Radiologi

dr. Buter Samin, SpRad

2

Spesialis Patologi

dr. Erwin Tahir, SpPK

Klinik

3

Spesialis Patologi

dr. Lisdine, SpPA

Anatomi

4

Spesialis Anesthesia dan Perawatan Intensif

dr. Gloria Situmeang, SpAN

Universitas Sumatera Utara

Sub Spesialisasi

Nama Dokter Spesialis Penunjang

1

Spesialis Penyakit Dalam – Konsultan Gastro Entero Hepatologi

dr. Juwita Sembiring, SpPD-KGEH

2

Spesialis Anak – Konsultan Nutrisi dan Metabolisme

dr. Tiangsa br. Sembiring, SpA-KG

No

Jenis Ketenagaan

Jumlah

1

Apoteker

1 orang

2

Perawat

135 orang

3

Bidan

15 orang

4

Tenaga non Keperawatan / Kebidanan

29 orang

5

Tenaga non Kesehatan

71 orang

T O T A L

4.2.Karakteristik Responden

251 ORANG

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini terkait dengan karakteristik responden

menunjukkan bahwa responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 79 orang

(58,1%) dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 57 orang (41,9%). Mayoritas

responden pendidikan SMA sebanyak 66 orang (48,5%) diikuti pendidikan SD

sebanyak 20 orang (14,7%), SMP sebanyak 19 orang (14,0%), S1 sebanyak 12

orang (8,8%), dan S2 sebanyak 2 orang (1,5%). Hampir semua responden

berstatus menikah sebanyak 104 orang (76,5%), belum menikah sebanyak 25

orang

(18,4%),

sedangkan

yang

berstatus

janda

sebanyak

7

orang

(5,1%).

Universitas Sumatera Utara

Mayoritas responden memiliki umur≤ 35 Tahun sebanyak 69 orang (50,7%) dan

responden

yang

memiliki

umur

>

35

Tahun

sebanyak

67

orang

(49,3%).

Karakteristik responden yang diamati meliputi jenis kelamin, pendidikan, status

perkawinan, serta umur. Karakteristik responden disajikan dalam tabel 4.1 :

Tabel 4.1

Distribusi Responden Berdasarkan Data Demografi

No.

Karakteristik Responden

Jumlah

Persentase

(%)

 

Jenis Kelamin

1.

Laki-Laki

57

41,9

2.

Perempuan

79

58,1

 

Jumlah

136

100,0

 

Pendidikan

1.

SD

20

14,7

2.

SMP

19

14,0

3.

SMA

66

48,5

4.

D III

17

12,5

5.

S1

12

8,8

6.

S2

2

1,5

 

Jumlah

136

100,0

 

Status Perkawinan

   

1.

Belum Menikah

25

18,4

Universitas Sumatera Utara

2. Menikah

104

76,5

3. Duda/ Janda

7

5,1

Jumlah

136

100,0

Umur

1. ≤ 35 Tahun

69

50,7

2. > 35 Tahun

67

49,3

Jumlah

136

100,0

4. 3. Korelasi Perilaku Caring Perawat Dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap

Hasil penelitian ini

dianalisis dengan uji korelasi antara perilaku caring

perawat dengan kepuasan pasien rawat inap. Berdasarkan hasil analisa data

dengan

menggunakan uji korelasi Spearman

diketahui bahwa nilai r=0,615

(p<0,05) yang berarti bahwa ada korelasi antara perilaku caring perawat dengan

kepuasan pasien rawat inap, sehingga hipotesis penelitian ini diterima. Korelasi

Perilaku Caring Perawat dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap disajikan pada

tabel 4.2 berikut ini:

Universitas Sumatera Utara

Tabel 4.2

Korelasi Perilaku Caring Perawat dengan Kepuasan Pasien

Caring

Kepuasan

 

Perawat

Pasien

Spearman's rho

Caring Perawat

Correlation

1,000

0,615

 

Coefficient

Sig. (2-tailed)

0,000

N

136

136

 

Kepuasan Pasien

Correlation

0,615

1,000

 

Coefficient

Sig. (2-tailed)

0,000

N

136

136

4. 4.Perilaku Caring Perawat

Pada penelitian ini, Perilaku

caring perawat terdiri dari 5 faktor. Hasil

penelitian pada faktor 1 (Mengakui keberadaan manusia) perilaku caring perawat

dapat digolongkan menjadi empat kategori yakni

kategori baik (49,3%), cukup

(39,7%), kurang (9,5), dan buruk (1,5%) hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 4.3

di bawah ini:

Universitas Sumatera Utara

Tabel 4.3

Kategori Skor Mengakui Keberadaan Manusia

Faktor 1

Rentang Nilai

Kategori

N

Persentase

Mengakui keberadaan

12

- 20

Buruk

2

1,5

manusia

21

- 29

Kurang

13

9,5

30

- 39

Cukup

54

39,7

40

- 48

Baik

67

49,3

Jumlah

136

100,0

Hasil penelitian pada faktor 2 (Menanggapi dengan rasa hormat) perilaku

caring perawat dapat digolongkan menjadi empat kategori yakni

kategori baik

(62,5%), cukup (26,5%), kurang (9,5), dan buruk (1,5%) hasil tersebut dapat

dilihat pada tabel 4.4 di bawah ini:

Tabel 4.4

Kategori Skor Menanggapi Dengan Rasa Hormat

Faktor 2

Rentang Nilai

Kategori

N

Persentase

Menanggapi dengan rasa

11

- 18

Buruk

2

1,5

hormat

19

- 26

Kurang

13

9,5

27

- 34

Cukup

36

26,5

35

- 44

Baik

85

62,5

Jumlah

136

100,0

Hasil penelitian pada faktor 3 (Pengetahuan dan keterampilan profesional)

perilaku

caring

perawat

dapat

digolongkan

menjadi

empat

kategori

yakni

Universitas Sumatera Utara

kategori baik (75,5%), cukup (20,6%), dan kurang (3,7) hasil tersebut dapat

dilihat pada tabel 4.5 di bawah ini:

Tabel 4.5

Kategori Skor Pengetahuan Dan Keterampilan Profesional

Faktor 3

Rentang Nilai

Kategori

N

Persentase

Pengetahuan dan keterampilan

7

- 11

Buruk

-

-

profesional

12

- 16

Kurang

5

3,7

17

- 21

Cukup

28

20,6

22

- 28

Baik

103

75,7

Jumlah

136

100,0

Hasil penelitian pada faktor 4 (Menciptakan hubungan yang positif) perilaku

caring perawat dapat digolongkan menjadi empat kategori yakni

kategori baik

(45,6%), cukup (44,9%), kurang (8,8), dan buruk (0,7%) hasil tersebut dapat

dilihat pada tabel 4.6 di bawah ini:

Tabel 4.6

Kategori Skor Menciptakan Hubungan Yang Positif

Faktor 4

Rentang Nilai

Kategori

N

Persentase

Menciptakan hubungan yang

9

- 15

Buruk

1

0,7

positif

16

- 22

Kurang

12

8,8

23

- 29

Cukup

61

44,9

30

- 36

Baik

62

45,6

Jumlah

136

100,0

Hasil penelitian pada faktor 5 (Perhatian terhadap yang dialami orang lain)

perilaku

caring

perawat

dapat

digolongkan

menjadi

empat

kategori

yakni

kategori baik (71,4%), cukup (17,6%), kurang (8,8), dan buruk (2,2%) hasil

tersebut dapat dilihat pada tabel 4.7 di bawah ini:

Tabel 4.7

Kategori Skor Perhatian Terhadap Yang Dialami Orang Lain

Faktor 5

Rentang Nilai

Kategori

N

Persentase

Perhatian terhadap yang

3

- 4

Buruk

3

2,2

dialami orang lain

5

- 6

Kurang

12

8,8

7

- 8

Cukup

24

17,6

9 - 12

Baik

97

71,4

Jumlah

136

100,0

Hasil penelitian secara umum menunjukkan bahwa perilaku caring perawat

berada pada kategori baik (52,9%), cukup (36,1%), kurang (10,3%), dan buruk

(0,7%). Penilaian terhadap perilaku caring perawat dilakukan dengan menghitung

total skor yang diperoleh responden. Berdasarkan skoring maka pengkategorian

perilaku caring perawat dapat dilihat pada tabel 4.8 di bawah ini:

Tabel 4.8

Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Caring Perawat

Variabel

Rentang Nilai

Kategori

N

Persentase

Perilaku caring perawat

138 - 168

Baik

72

52,9

106 - 137

Cukup

49

36,1

Universitas Sumatera Utara

 

74 - 105

Kurang

14

10,3

42 - 73

Buruk

1

0,7

Jumlah

136

100,0

Pada penelitian ini, Perilaku caring perawat terdiri dari 5 faktor. Hasil

penelitian dari kelima faktor perilaku caring perawat secara umum berada pada

kategori

baik.

Dari

kelima

faktor

perilaku

caring

perawat,

faktor

yang

persentasinya

paling

tinggi

adalah

faktor

3

(pengetahuan

dan

keterampilan

profesional). Hasil penelitian tersebut dapat dilihat pada gambar 4.1 di bawah ini:

tersebut dapat dilihat pada gambar 4.1 di bawah ini: Skema 4.1. Lima faktor perilaku caring perawat

Skema 4.1. Lima faktor perilaku caring perawat

4. 5. Kategorisasi Skor Faktor Kepuasan Pasien Rawat Inap

Pada penelitian ini, kepuasan pasien rawat inap terdiri dari 3 faktor. Hasil

penelitian pada faktor 1 (Praktik profesional) kepuasan pasien dapat digolongkan

menjadi empat kategori yakni kategori sangat puas (15,4%), puas (45,6%), tidak

Universitas Sumatera Utara

puas (38,3), dan sangat tidak puas (0,7%) hasil tersebut dapat dilihat pada tabel

4.9 di bawah ini:

Tabel 4.9

Kategori Skor Praktik Profesional

Faktor 1

Rentang Nilai

Kategori

N

Persentase

Praktik profesional

7 - 11

Sangat tidak

1

0,7

 

puas

 

12

- 16

Tidak Puas

52

38,3

17

- 21

Puas

62

45,6

22

- 28

Sangat Puas

21

15,4

Jumlah

136

100,0

Hasil penelitian pada faktor 2 (Hubungan saling percaya) kepuasan pasien

dapat digolongkan menjadi empat kategori yakni

kategori sangat puas (26,5%),

puas (58,1%), tidak puas (15,4%), dan sangat tidak puas (0 %) hasil tersebut dapat

dilihat pada tabel 4.10:

Tabel 4.10

Kategori Skor Hubungan Saling Percaya

Faktor 2

Rentang Nilai

Kategori

N

Persentase

Hubungan saling percaya

11 - 18

Sangat tidak

0

0

 

puas

 

19

- 26

Tidak Puas

21

15,4

27

- 34

Puas

79

58,1

35

- 44

Sangat Puas

36

26,5

Jumlah

136

100,0

Hasil penelitian pada faktor 3 (Hubungan pendidikan) kepuasan pasien dapat

digolongkan menjadi empat kategori yakni

kategori sangat puas (36,0%), puas

(47,8%), tidak puas (14,7%), dan sangat tidak puas (1,5 %) hasil tersebut dapat

dilihat pada tabel 4.11 di bawah ini:

Tabel 4.11

Kategori Skor Hubungan Pendidikan

Faktor 3

Rentang Nilai

Kategori

N

Persentase

Hubungan pendidikan

8 - 13

Sangat tidak

2

1,5

 

puas

 

14

- 19

Tidak Puas

20

14,7

20

- 25

Puas

65

47,8

26

- 32

Sangat Puas

49

36,0

Jumlah

136

100,0

Hasil penelitian secara umum menunjukkan bahwa kepuasan pasien berada

pada kategori sangat puas (13,3%), puas (65,4%), tidak puas (20,6%), dan sangat

tidak puas (0,7%). Penilaian terhadap kepuasan pasien rawat inap dilakukan

dengan menghitung total skor yang diperoleh responden. Berdasarkan skoring

maka pengkategorian kepuasan pasien dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut:

Tabel 4.12

Distribusi Responden Berdasarkan Kepuasan Pasien

Variabel

Rentang Nilai

Kategori

N

Persentase

Kepuasan pasien

86 - 104

Sangat puas

18

13,3

66 - 85

Puas

89

65,4

Universitas Sumatera Utara

 

46

- 65

Tidak puas

28

20,6

26

- 45

Sangat tidak

1

0,7

 

puas

Jumlah

136

100,0

Pada penelitian ini, Kepuasan pasien terdiri dari 3 faktor. Hasil penelitian dari

ketiga faktor kepuasan pasien secara umum berada pada kategori puas. Dari ketiga

faktor kepuasan pasien, faktor yang paling tinggi persentasinya adalah faktor 2

(hubungan saling percaya). Hasil penelitian tersebut dapat dilihat pada gambar 4.2

di bawah ini:

90 80 70 60 sangat tidak puas 50 Tidak puas 40 Puas 30 Sangat Puas
90
80
70
60
sangat tidak puas
50
Tidak puas
40
Puas
30
Sangat Puas
20
10
0

Faktor 1

Kepuasanfaktor 2 pasienkepusasanfaktor 3 pasienkepuasan pasien

Skema 4.2. Tiga faktor kepuasan pasien

Universitas Sumatera Utara

BAB 5

PEMBAHASAN

Bab ini menguraikan pembahasan tentang korelasi antara perilaku caring

perawat dengan kepuasan pasien rawat inap. Pengumpulan data dimulai dari bulan

Mei 2013 sampai Juni 2013 di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk Pakam.

5.1. Korelasi Antara Perilaku Caring Perawat Dengan Kepuasan Pasien

Rawat Inap

Berdasarkan hasil analisa data dengan menggunakan uji korelasi Spearman

diketahui nilai r=0.615 (p<0,05) berarti bahwa ada korelasi antara perilaku caring

perawat dengan kepuasan pasien rawat inap.

Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa semakin baik perilaku

caring perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien maka

tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan akan semakin baik juga.

Perilaku

caring

perawat

sangat

penting

dalam

memenuhi kepuasan

pasien,

menjadi salah satu indikator kualitas pelayanan di sebuah rumah sakit. Hal ini

merupakan sentral praktik keperawatan, juga merupakan suatu cara pendekatan

yang dinamis, dimana perawat bekerja untuk lebih meningkatkan kepeduliannya

terhadap pasien. Perawat adalah orang yang menjadi salah satu kunci dalam

memenuhi kepuasan pasien. Oleh karena itu, perilaku caring perawat dapat

memberikan

pengaruh

dalam

pelayanan

(Prompahakul, et al., 2011).

yang

berkualitas

kepada

pasien

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Wolf, et al (1998) didapatkan

data bahwa rata-rata kepuasan pasien

94,86 (SD = 12,91), dengan ketentuan

Universitas Sumatera Utara

rentang skor 25 - 125. Penelitian ini menggunakan instrumen patient satisfaction

instrument (PSI) dan didapatkan korelasi yang positif antara perilaku caring

perawat dengan kepuasan pasien. Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian

adalah pasien rawat inap (n=335).

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Wolf, et al (2003) yang mendapatkan data bahwa rata-rata kepuasan pasien

105,67 (SD=2,26), dengan ketentuan rentang skor 25 - 125. Instrumen yang

digunakan dalam penelitian ini adalah patient satisfaction instrument (PSI). Pada

penelitian ini juga didapatkan korelasi yang positif antara caring perawat dengan

kepuasan pasien. Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah pasien

rawat inap (n=73).

Penelitian ini menunjukkan bahwa ada korelasi antara perilaku caring perawat

dengan

kepuasan

pasien

rawat

inap,

yang

didukung

oleh

penelitian

yang

dilakukan oleh Palese, et al (2011) didapatkan data bahwa rata-rata kepuasan

pasien 3,3 (SD=0.58), dengan ketentuan rentang skor 1 – 4. Instrumen yang

digunakan dalam penelitian ini adalah patient satisfaction scale (PSS). Pada

penelitian ini juga didapatkan korelasi yang positif antara caring perawat dengan

kepuasan pasien di enam negara di Eropa (Czech Republic r=0.27, Cyprus r=0.76,

Finland r=0.71, Greece r=0.85, Hungary r=0.63, dan Italy r=0.45 (p<0.01) ).

Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah pasien rawat inap

(n=1565).

Hasil yang diperoleh pada penelitian perilaku caring perawat dan kepuasan

pasien rawat inap ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Universitas Sumatera Utara

Rafii, et al (2007) yang mana didapatkan data bahwa rata-rata kepuasan pasien

84,76 (SD=15,65), dengan ketentuan rentang skor 25 - 125. Instrumen yang

digunakan dalam penelitian ini adalah patient satisfaction instrument (PSI). Pada

penelitian ini juga didapatkan korelasi yang positif antara caring perawat dengan

kepuasan

pasien

(r=0.72,

p<0.001).

Adapun

yang

menjadi

sampel

dalam

penelitian ini adalah pasien rawat inap (n=250).

Kepuasan pasien merupakan nilai subyektif pasien terhadap pelayanan yang

diberikan setelah membandingkan dari hasil pelayanan yang diberikan dengan

harapannya. Perawat merupakan ujung tombak dari pelayanan kesehatan di rumah

sakit,

dan

merupakan

orang

yang

paling

lama

berinteraksi

dengan

pasien,

sehingga dalam menjalankan praktik keperawatan perlu lebih memperhatikan

perilaku caring perawat sebagai salah satu upaya untuk memberikan pelayanan

keperawatan

yang berkualitas yang pada akhirnya akan memberikan kepuasan

kepada pasien. Perilaku Caring yang diharapkan dalam keperawatan adalah

sebuah perilaku yang didasari oleh beberapa aspek diantaranya : pengetahuan,

kepedulian,

keterampilan,

ketulusan

hati,

tanggung

jawab,

kepercayaan,

mendengarkan, jujur, tepat waktu, spiritual (Watson, 1979).

5.2. Perilaku Caring Perawat

Setelah dilakukan penelitian mengenai perilaku caring perawat dan kepuasan

pasien rawat inap diperoleh hasil bahwa mayoritas perilaku caring perawat baik

dan minoritas perilaku caring perawat buruk (Tabel 4.8). Hasil penelitian tentang

perilaku caring perawat dan kepuasan pasien rawat inap ini sejalan dengan

penelitian yang dilakukan oleh Wolf, et al (1998) tentang Relationship Between

Universitas Sumatera Utara

Nurse Caring and Patient Satisfaction di Philadelphia didapatkan data bahwa

rata-rata perilaku caring perawat 203.92 (SD = 34,35) berada pada kategori baik,

dengan ketentuan rentang skor 42 - 252.

Hasil penelitian tentang perilaku caring perawat dan kepuasan pasien rawat

inap ini juga didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Palese, et al

(2011) tentang Surgical Patient Satisfaction as an Outcome of Nurses Caring

Behaviour di 6 negara bagian Eropa yang mendapatkan data bahwa rata-rata

perilaku

caring

perawat

4.9

(SD=0.8)

berada

pada

kategori

baik,

dengan

ketentuan rentang skor 1 – 6. Juga diperkuat dengan hasil penelitian oleh Becker,

et al (2008) tentang Nursing Student Caring Behaviours During Blood Pressure

Measurement di Minnesota,

mendapatkan data bahwa rata-rata perilaku caring

perawat 2.36 (SD=0.50) berada pada kategori baik, dengan ketentuan rentang skor

1 – 3.

Berdasarkan 10 faktor karatif dari teori Watson (1979) yang disederhanakan

menjadi 5 faktor karatif oleh Wolf, et al (1994), jawaban responden berdasarkan

faktor 1) mengakui keberadaan manusia, ini sama dengan pembentukan sistem

nilai, menanamkan sikap kepercayaan penuh harapan, dan sensitif terhadap diri

sendiri serta orang lain. Hasil penelitian diperoleh bahwa mayoritas responden

menyatakan perawat

sudah berada pada kategori baik dalam hal mengakui

keberadaan manusia sejumlah.

Hasil penelitian tentang perilaku caring perawat ini terdapat pada tindakan

perawat yang mayoritas selalu mendengarkan dengan penuh perhatian kepada

pasien, selalu memberikan instruksi atau mengajari pasien, selalu memperlakukan

Universitas Sumatera Utara

pasien sebagai individu, selalu tegur sapa dengan pasien, selalu memberikan

informasi kepada

pasien

sehingga

pasien

dapat

membuat

keputusan,

selalu

menunjukkan rasa hormat kepada pasien, selalu memberikan dukungan kepada

pasien, selalu memanggil pasien dengan nama yang tapat, selalu bersikap jujur

kepada pasien, selalu membuat pasien merasa nyaman secara fisik atau emosional,

selalu memproses informasi tentang pasien secara rahasia, dan selalu meyakinkan

kehadirannya kembali kepada pasien .

Jawaban responden berdasarkan faktor 2) menanggapi dengan rasa hormat,

kategori ini sama dengan mengembangkan hubungan saling percaya dan saling

membantu, meningkatkan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif pasien.

Hasil

penelitian

diperoleh

bahwa

mayoritas

responden

menyatakan

bahwa

perawat sudah berada pada kategori baik dalam hal menanggapi pasien dengan

rasa hormat.

Hasil penelitian tentang perilaku caring perawat ini terdapat pada tindakan

perawat yang mayoritas selalu bersikap peka terhadap pasien, selalu membantu

pasien, selalu memberitahukan pasien dalam perencanaan perawatannya, selalu

kembali kepada pasien secara sukarela, selalu berbicara dengan pasien, selalu

memberitahukan pasien untuk memanggil jika ada masalah, selalu memenuhi

kebutuhan

pasien,

selalu

menanggapi

cepat

untuk

panggilan

pasien,

selalu

menghargai pasien sebagai manusia, selalu membantu mengurangi rasa sakit

pasien, dan selalu menunjukkan kepedulian terhadap pasien.

Jawaban

responden

berdasarkan

faktor

3)

pengetahuan

dan

ketrampilan

profesional, kategori ini merupakan kombinasi dari dua faktor karatif yaitu,

Universitas Sumatera Utara

menggunakan problem-solving yang sistematik dalam mengambil keputusan, dan

meningkatkan belajar-mengajar interpersonal. Hasil penelitian diperoleh bahwa

mayoritas responden menyatakan bahwa perawat sudah berada pada kategori baik

dalam hal pengetahuan dan keterampilan profesional.

Hasil penelitian tentang perilaku caring perawat ini terdapat pada tindakan

perawat yang mayoritas selalu mengetahui bagaimana memberikan suntikan,

infus,

dan

lain-lain,

selalu

bersikap

percaya

diri

dengan

pasien,

selalu

menggunakan gaya bahasa yang lembut terhadap pasien, selalu mengawasi dan

memperhatikan pasien, selalu menunjukkan sikap ceria kepada pasien, selalu

memberikan obat pasien tepat waktu, dan

selalu memberikan perhatian khusus

kepada pasien selama pengobatan dan rawat inap pertama.

Jawaban responden berdasarkan faktor 4) menciptakan hubungan yang positif,

faktor ini sama dengan menciptakan lingkungan fisik, mental, sosiokultural,

spiritual yang mendukung. Hasil penelitian diperoleh bahwa mayoritas responden

menyatakan

bahwa

perawat

sudah

berada

pada

kategori

baik

dalam

hal

menciptakan hubungan yang positif. Hasil penelitian tentang perilaku caring

perawat ini terdapat pada tindakan perawat yang mayoritas selalu mempercayai

pasien, selalu memiliki sikap empati atau mengenali pasien, selalu membantu

pasien untuk sembuh, selalu bersikap sabar atau tidak kenal lelahterhadap pasien,

selalu

mendemonstrasikan

pengetahuan

profesional dan

keterampilan,

selalu

mengelola

peralatan

secara

terampil,

dan

selalu

membiarkan

pasien

untuk

mengungkapkan perasaan tentang penyakitnya dan pengobatan .

Universitas Sumatera Utara

Jawaban responden berdasarkan faktor 5) perhatian terhadap yang dialami

orang lain, kategori ini merupakan kombinasi dari dua faktor karatif yaitu,

memberikan bantuan dalam pemenuhan kebutuhan manusia, dan terbuka pada

eksistensial-fenomenologikal.

Hasil

penelitian

diperoleh

bahwa

mayoritas

responden menyatakan bahwa perawat sudah berada pada kategori baik dalam hal

perhatian terhadap yang dialami orang lain. Hasil penelitian tentang perilaku

caring

perawat

ini

terdapat

pada

tindakan

perawat

yang

mayoritas

selalu

menghilangkan gejala penyakit pada pasien, selalu memperioritaskan pasien, dan

selalu memberikan perawatan fisik yang baik kepada pasien.

Walaupun demikian masih ada juga perawat yang tidak pernah memproses

informasi

tentang

pasien

secara

rahasia

atau

hanya

kadang-kadang

saja

memproses informasi tentang pasien secara rahasia. Masih ada perawat yang tidak

pernah meyakinkan kehadirannya kembali kepada pasien, atau hanya kadang-

kadang meyakinkan kehadirannya kembali kepada pasien. Masih ada perawat

yang belum memperlakukan pasien sebagai individu, atau hanya kadang-kadang

memperlakukan pasien sebagai individu. Masih ada perawat yang belum bersikap

peka terhadap pasien, atau hanya kadang-kadang bersikap peka terhadap pasien.

Dalam hal ini dapat disimpulkan

bahwa secara umum dapat digambarkan

bahwa perilaku caring perawat berada pada kategori baik dan faktor perilaku

caring

yang

paling

dominan

berada

pada

faktor

3

yaitu

pengetahuan

dan

keterampilan profesional. Hasil penelitian tentang perilaku caring perawat ini

menunjukkan

bahwa

perawat

sudah

berupaya

semaksimal

mungkin

untuk

berperilaku

caring

dalam

memberikan

pelayanan

kepada

pasien

khususnya

Universitas Sumatera Utara

pelayanan keperawatan kepada pasien rawat inap di rumah sakit. Semua perawat

mampu berperilaku caring dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada

pasien,

dan

jika

perawat

berperilaku

caring

dalam

memberikan

pelayanan

keperawatan maka akan terjalin hubungan interpersonal yang baik antara perawat

dengan pasien, perawat dengan tenaga kesehatan lainnya, sehingga akan tercapai

pelayanan keperawatan yang baik dan berkualitas.

Hasil penelitian tentang perilaku caring perawat ini sejalan dengan teori

keperawatan yang diterbitkan oleh Watson (1979), The Phylosophy and Science of

Caring, menyatakan bahwa caring adalah suatu karakteristik interpersonal yang

tidak diturunkan melalui genetika, tetapi dipelajari melalui pendidikan sebagai

budaya profesi. Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam konteks keperawatan caring

bukan merupakan suatu hal yang unik tetapi caring merupakan suatu bentuk

pendekatan seni dan ilmu dalam merawat klien yang merupakan sentral praktik

keperawatan (Watson, 1979). Caring adalah sentral praktik keperawatan, yang

merupakan suatu cara pendekatan yang dinamis, dimana perawat bekerja untuk

lebih meingkatkan kepeduliannya terhadap pasien. Hal ini adalah esensi dari

keperawatan yang berarti juga pertanggungjawaban hubungan antara perawat-

pasien,

dimana

perawat

harus

mampu

mengetahui

dan

memahami

tentang

kebiasaan manusia dan respon manusia terhadap masalah kesehatan yang sudah

ada atau bepotensi akan timbul (Watson, 1979).

Perilaku caring adalah suatu tindakan yang didasari oleh kepedulian, kasih

sayang, keterampilan, empati, tanggung jawab, sensitive, dan dukungan. Perilaku

ini berfungsi untuk memperbaiki atau meningkatkan kondisi dan cara hidup

Universitas Sumatera Utara

manusia yang menekankan pada aktivitas yang sehat dan memampukan individu

serta

kelompok

berdasarkan

budaya.

Perawat

perlu

mengetahui

kebutuhan

individu, bagaimana responnya terhadap sesamanya, kekuatan serta keterbatasan

pasien

dan

keluarganya.

Selain

itu,

perawat

membantu

serta

memberikan

perhatian serta empati kepada pasien dan keluarganya. Caring mewakili semua

faktor yang digunakan perawat untuk memberikan pelayanan kepada pasien

(Leininger, 1988 dalam Potter & perry, 2009).

5.3. Kepuasan Pasien Rawat Inap

Penelitian

yang

telah

dilakukan

mengenai

perilaku

caring

perawat

dan

kepuasan pasien rawat inap didapatkan hasil bahwa mayoritas kepuasan pasien

berada pada kategori puas, namun masih terdapat pasien yang belum puas

terhadap pelayanan perawat dan bahkan sangat tidak puas (Tabel 4.12). Jawaban

responden

pada

kuesioner

menjelaskan

3

faktor

perilaku

perawat

terhadap

kepuasan

pasien

yaitu

meliputi

praktik

profesional

(technical-professional),

hubungan

saling

percaya

(trusting

relationship),

dan

hubungan

pendidikan

(educational relationship).

Jika dilihat berdasarkan dimensi praktik profesional (technical-professional),

sebagian besar perawat di Rumah Sakit telah mampu mencapai tujuan sesuai

dengan

perannya.

menyatakan

bahwa

Hasil

sudah

penelitian

merasa

diperoleh

puas

ketika

bahwa

mayoritas

responden

perawat

melakukan

praktik

profesional. Hasil penelitian tentang perilaku caring perawat dan kepuasan pasien

rawat inap ini dibuktikan dengan perawat selalu mengarahkan pasien dalam

Universitas Sumatera Utara

melaksanakan terapi,

selalu

dapat

memberikan

nasihat

dengan tepat,

selalu

menguasai

tentang

hal

yang

dijelaskannya,

tidak

pernah

ceroboh

dalam

melakukan tindakan, selalu tenang dalam melakukan tindakan, selalu cekatan dan

tidak pernah lambat dalam melakukan tindakan, dan terampil dalam melakukan

tindakan.

Hanya saja memang masih terdapat juga perawat yang belum memberikan

pelayanan keperawatan

yang

terbaik

pada

pasien,

tetapi jumlahnya

sedikit.

Perawat tidak pernah mengarahkan pasien dalam melaksanakan terapi, perawat

hanya kadang-kadang menguasai tentang hal yang dijelaskannya, masih terdapat

perawat yang tidak teliti dalam melakukan tindakan, perawat tidak tenang dalam

melakukan tindakan, perawat kadang-kadang lambat bahkan selalu lambat dalam

melakukan tindakan kepada pasien.

Berdasarkan faktor hubungan saling percaya (Trusting relationship), hasil

penelitian diperoleh

bahwa mayoritas responden menyatakan bahwa sudah

merasa puas ketika perawat menjalin hubungan saling percaya dengan pasien, hal

ini didukung dengan perawat selalu berada di sekitar pasien. Akan tetapi masih

ada didapatkan perawat hanya kadang-kadang saja berada di sekitar pasien,

bahkan terdapat perawat yang tidak pernah berada di sekitar pasien. Namun

demikian, sebagian besar pasien selalu merasa bebas untuk bertanya kepada

perawat. Selain itu, perawat selalu bersikap ramah kepada pasien dan selalu

memahami perasaan pasien. Perawat juga selalu mudah dijumpai ketika pasien

ada masalah, selalu dapat meluangkan waktu berbicara dengan pasien, selalu

memperhatikan pasien dan selalu memahami masalah pasien, serta tidak pernah

Universitas Sumatera Utara

tidak cukup sabar dalam menghadapi pasien. Dengan demikian, pasien tidak

pernah merasa bosan dengan penjelasan perawat dan selalu merasa lebih baik jika

berbicara dengan perawat .

Apabila

dilihat

berdasarkan

faktor

educational

relationship,

pertukaran

informasi antara pasien dan perawat, termasuk di dalamnya seperti aktifitas dalam

menjawab pertanyaan-pertanyaan, penjelasan, dan demonstrasi tindakan sudah

baik.

Hal

ini

didukung

oleh

hasil

penelitian

yang

memperoleh

mayoritas

responden

menyatakan

bahwa

sudah

merasa

puas

ketika

perawat

menjalin

hubungan pendidikan dengan pasien. Berdasarkan jawaban-jawaban responden

pada kuesioner dapat diketahui bahwa perawat selalu menjelaskan tentang hasil

pemeriksaan secara rinci kepada pasien

dan selalu memberi penjelasan kepada

pasien tentang penyakitnya. Dalam hal memberikan penjelasan ini, perawat

menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang sederhana.

Selain itu, perawat juga mudah dijumpai ketika pasien ada masalah, perawat

selalu memberikan penjelasan yang lengkap tentang sesuatu yang diperlukan

pasien,

dan

memberikan

petunjuk

dengan

akurat

sehingga

pasien

dapat

memahami penjelasan perawat. Hanya saja masih ditemukan perawat yang sering

bertanya tentang keadaan pasien, tapi tidak melakukan tindakan .

Pasien atau klien merupakan individu terpenting di rumah sakit sebagai

konsumen sekaligus sasaran produk rumah sakit. Dalam mengambil keputusan,

konsumen yaitu pasien, tidak akan berhenti hanya sampai pada proses penerimaan

pelayanan. Pasien akan mengevaluasi pelayanan yang diterimanya tersebut. Hasil

dari proses evaluasi itu akan menghasilkan perasaan puas atau tidak puas.

Universitas Sumatera Utara

Hal-hal yang menyangkut kepuasan atas pemenuhan kebutuhan seseorang

relatif sifatnya. Seperti yang dikatakan oleh Mc Gregor (1989) bahwa manusia

merupakan makhluk yang terus menerus memiliki keinginan-keinginan, segera

apabila kebutuhan tertentu terpenuhi maka kebutuhan lain muncul. Manusia

secara terus menerus

melakukan usaha-usaha untuk

kebutuhannya.

Kebutuhan-kebutuhan

tersebut

akan

memuaskan kebutuhan-

mempengaruhi

perilaku

pasien yang pada dasarnya merupakan konsumen jasa pelayanan kesehatan.

Pasien secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan menggunakan barang-

barang atau jasa, termasuk didalamnya dalam proses pengambilan keputusan pada

persiapan dan penentuan suatu kegiatan.

Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan

bahwa secara umum dapat

digambarkan

tingkat kepuasan pasien rawat inap berada pada kategori puas dan

faktor kepuasan pasien rawat inap yang paling dominan berada pada faktor 2 yaitu

hubungan saling percaya. Hasil penelitian tentang perilaku caring perawat dan

kepuasan pasien rawat

keluarga

pasien

sudah

inap

ini

menunjukkan

mendapatkan

pelayanan

bahwa

mayoritas pasien dan

keperawatan

sesuai

dengan

harapannya ketika mereka dirawat di rumah sakit. Jika pasien merasa puas

terhadap

pelayanan keperawatan yang mereka peroleh ketika dirawat di rumah

sakit,

maka

mereka

akan

datang

kembali

ketika

membutuhkan

pelayanan

keperawatan, baik untuk mereka sendiri ataupun untuk keluarganya.

Hasil penelitian tentang perilaku caring perawat dan kepuasan pasien rawat

inap

ini

sejalan

dengan

teori

yang

dikemukakan

oleh

Risser

(1975)

yang

menyatakan bahwa kepuasan pasien adalah persepsi,

sikap

pasien terhadap

Universitas Sumatera Utara

pelayanan keperawatan,

dan

merupakan kriteria hasil

evaluasi dari kualitas

pelayanan keperawatan. Kepuasan pasien adalah keluaran (outcome) layanan

kesehatan dan merupakan salah satu tujuan dari peningkatan mutu layanan

kesehatan (Pohan, 2007). Hal ini merupakan bentuk perasaan seseorang setelah

mendapatkan pengalaman

terhadap

kinerja pelayanan

yang

telah

memenuhi

harapan (Gerson, 2004). Kepuasan pasien adalah tingkat kepuasan pelayanan

pasien dari persepsi pasien/ keluarga terdekat. Keadaan ini akan tercapai, apabila

diperoleh

hasil

yang

optimal

bagi

setiap

pasien

dan

pelayanan

kesehatan

memperhatikan kemampuan pasien atau keluarganya, ada perhatian terhadap

keluhan,

kondisi

lingkungan

fisik

dan

memprioritaskan

kebutuhan

pasien,

sehingga tercapai keseimbangan yang sebaik-baiknya antara tingkat rasa puas atau

hasil dan derita-derita serta jerih payah yang telah dialami guna memperoleh hasil

tersebut (Soejadi, 1996).

Universitas Sumatera Utara

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Hasil penelitian yang telah dilakukan di Rumah Sakit Grand Medistra Lubuk

Pakam dapat disimpulkan bahwa ada korelasi antara perilaku caring perawat

dengan kepuasan pasien rawat inap dengan (p < 0,05). Perilaku caring perawat

dapat digolongkan menjadi empat kategori yakni kategori baik (52,9%), cukup

(36,1%), kurang (10,3%), dan buruk (0,7%). Dengan demikian dapat dikatakan

bahwa sebagian besar perilaku caring perawat sudah baik. Kepuasan pasien dapat

digolongkan menjadi empat kategori yakni kategori puas (65,5%), sangat puas

(13,2%), tidak puas (20,6%), dan sangat tidak puas (0,7%). Dengan demikian

dapat dikatakan bahwa separuh pasien

perawat.

6.2. Saran

sudah merasa puas terhadap pelayaan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka disarankan kepada

rumah sakit untuk membuat program pelatihan tentang caring bagi perawat agar

perilaku caring perawat menjadi lebih baik. Disarankan kepada perawat untuk

meningkatkan

pengetahuan,

sikap

dan

khususnya

keterampilan

ketika

menjalankan

perannya

sebagai

pelaksana

tindakan

keperawatan

profesional.

Disarankan kepada peneliti selanjutnya, untuk mendapatkan hasil yang lebih

mendalam maka penelitian perlu ditambah dengan data-data kualitatif yang

mendukung. Diharapkan dengan data tersebut dapat kita lihat dinamika perilaku

caring perawat yang dialami oleh pasien di rumah sakit.

Universitas Sumatera Utara