Anda di halaman 1dari 6

EFEK GLUTAMIN DAN ANTIOKSIDAN TERHADAP PENYAKIT

INFEKSI

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Enteral and Parenteral Nutrition

Wahyu Widyasari U

(22030112140086)

Muhana Rafika

(22030112140108)

PROGRAM STUDI ILMU GIZI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

PEMBAHASAN
Zat gizi immune-modulating seperti glutamin dan antioksidan, dapat memodulasi respon
inflamasi dan stres oksidatif dan gangguan (seluler) fungsi kekebalan tubuh. Alasan untuk
suplementasi glutamin dan antioksidan didasarkan pada pengamatan kadar plasma yang rendah
pada pasien masuk ICU dan asumsi bahwa tingkat ini terlalu rendah untuk kondisi medis yang
sebenarnya1.
Pedoman

Eropean

Society

for

Clinical

Nutrition

and

Metabolism

(ESPEN)

menyimpulkan bahwa tidak ada indikasi umum untuk zat gizi immune-modulating dalam enteral
nutrition pada pasien dengan penyakit parah atau sepsis dan skor lebih dari Acute Physiology and
Chronic Health Evaluatin II (APACHE-II). Sebaliknya, pedoman Society of Critical care
Medicine

(SCCM) dan American Society for Parenteral and Enteral Nutrition (ASPEN)

menunjukkan bahwa zat gizi immune modulating dalam enteral nutrition harus digunakan untuk
pasien yang tepat termasuk pasien kritis yang bernapas dengan bantuan ventilasi mekanis dan
pada pasien dengan sepsis berat.1
Suplementasi Glutamin
Penelitian klinis pada suplementasi glutamin pada Pasien ICU yang tersedia sejak 1997
telah melaporkan bahwa suplementasi glutamin dikombinasikan dengan enteral dan parenteral
nutrition berhubungan dengan mengurangi morbiditas infeksi dan meningkatkan pemulihan dari
penyakit kritis dibandingkan dengan zat gizi standar2. Namun, dalam meta-analisis terbaru yang
dilakukan oleh Cochrane consortium, sinyal adanya penurunan angka kematian tidak ada dan
hanya terdapat bukti yang lemah terhadap pengurangan morbiditas3.
Lebih dari 2 dekade banyak penelitian yang menganjurkan pemberian suplemen
glutamine baik melalui enteral ataupun parenteral, hal tersebut dilakukan karena glutamin yang
rendah dapat diselesaikan secara efektif dengan suplemen serta tidak memiliki risiko terhadap
tubuh pasien. Seorang pasien dikategorikan gluatamin plasma rendah jika < 420 mmol/l, dengan
kondisi tersebut resiko kematian akan meningkat, maka disarankan untuk mengkonsumsi asam
amino non esensial yang dapat dijadikan sebagai sumber glutamine, namun pada pengamatan
terakhir telah menentang konsep tersebut.1
Suplementasi glutamin secara parenteral direkomendasikan oleh ESPEN serta
menyatakan bahwa ketika parenteral nutrition diindikasikan pada pasien sakit kritis, larutan asam
amino harus berisi 0,2-0,4 g/kg/hari L-glutamine (misalnya 0,3-0,6 g/kg/hari alanyl-glutamin

dipeptida). ESPEN merekomendasikan pemberian glutamin secara parenteral karena hal ini
terkait dengan penurunan komplikasi infeksi, penurunan lama rawat inap di rumah sakit (LOS)
dan mungkin penurunan mortalitas pada paskaoperasi sakit kritis atau pasien tergantung
ventilator yang membutuhkan parenteral nutrition. Selanjutnya, ASPEN menyatakan bahwa
suplementasi glutamin secara parenteral harus diberikan di awal dan dalam dosis lebih dari 0,2
g/kg/ hari untuk menjadi efektif.1
Pada dasarnya Glutamine berfungsi sebagai prekursor untuk arginin dan sintesis de-novo
citrulline. Telah terbukti bahwa L-glutamine dan glutamin-dipeptida memeiliki dampak terhadap
kadar plasma dalam darah. Selain itu, cara pemberian juga memainkan peran tersendiri. Telah
terbukti bahwa glutamin dipeptida yang diberikan melalui enteral lebih menunjukkan kenaikan
yang signifikan jika dibandingkan dengan pemberian melalui infus.1
Suplementasi Antioksidan
Sebuah penelitian meta-analisis menangani dosis farmakologis suplementasi dari
gabungan antioksidan (termasuk selenium) menunjukkan bahwa suplementasi dikaitkan dengan
penurunan angka kematian signifikan dan durasi ventilasi mekanik, kecenderungan penurunan
infeksi dan tidak berpengaruh pada ICU atau lamanya rawat inap di rumah sakit.1
Pengamatan terbaru dalam percobaan acak besar telah menentang teori diatas akan
manfaat dan status keamanan suplementasi baik glutamin ataupun glutamine yang ditambah
dengan antioksidan karena masih dirasa kurang dalam pembenaran teori tersebut. Penguatan teori
yang menentang terjadinya penurunan infeksi akibat suplementasi glutamin didukung oleh
penelitian meta-analisis terbaru yang dilakukan oleh Cochrane, yang menyebutkan jika masih
sedikitnya penurunan kematian maka dapat dikatakan sebagai low level dan hanya sebagai hasil
yang bias. Memang pada sebuah meta-analisis dari percobaan suplementasi selenium pada sepsis,
terbukti mengurangi angka kematian, tetapi muncul satu karakteristik heterogenitas pada uji coba
yang diamati yang memungkinkan terjadinya bias.1
Pengujian Pemberian Glutamin Terhadap Infeksi
Penelitian SIGNET
Desain faktorial ini dilakukan terhadap 502 pasien kritis dengan infeksi sebagai penyebab
utama.dieproleh hasil bahwa tidak ada manfaat yang timbul dari glutamin atau suplementasi
selenium yang diamati dalam analisis intention-to-treat yang dilakukan. Pasien yang menerima

nutrisi parenteral ditambah selenium untuk setidaknya 5 hari memang menunjukkan penurunan
infeksi [odds ratio 0,53, 95% interval kepercayaan (95% CI) 0,30-0,93)]; Namun, penggunaan
antibiotik tidak signifikan. Jumlah mortalitas lebih tinggi pada pasie yang diberikan glutamine
(rasio odds 1,18, 95% CI 0,82-1,70)4
Penelitian MetaPlus
Percobaan MetaPlus dilakukan dari Februari 2010 sampai April 2012 termasuk 6 bulan
tindak lanjut periode pasien ICU di Belanda, Jerman, Perancis dan Belgia. Sebanyak 301 orang
dewasa pasien yang membutuhkan bantuan ventilasi dan nutrisi enteral selama lebih dari 72 jam
yang diberikan intervensi makanan yang diperkaya dengan glutamin, antioksidan termasuk
selenium dan minyak. Hasilnya yaitu Tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistic, tidak
ada pengurangan morbiditas infeksi diamati.5
Pasien dengan pemberian glutamine yang lebih tinggi tampaknya menunjukkan efek
negatif, maka dari itu berdasarkan penelitian tersebut tidak mendukung penggunaan glutamin dan
antioksidan pada pasien kritis yang seharusnya tidak dianjurkan lagi. Memang terdapat hal yang
tidak dapat dipungkiri jika glutamin merupakan sumber bahan bakar untuk sel-sel kekebalan
tubuh In-vitro. Pada sebuh penelitian menunjukkan bahwa produksi sitokin oleh limfosit
andmacrophages tergantung pada konsentrasi glutamine konsentrasi. Namun, suplementasi
glutamine pada pasien dengan kondisi peradangan seperti sebagai sepsis dan MODS justru
berpotensi menambah respon inflamasi yang dapat memberikan pengaruh negative pada kondisi
pasien.5
GLUTAMIN DAN ANTIOKSIDAN
Mekanisme Potensi Kerugian
Mekanisme potensial yang mungkin memainkan peran dalam efek negatif dari glutamin
dan antioksidan dibahas lebih lanjut sebagai berikut.1

Interaksi dengan disfungsi ginjal dan MODS


Untuk glutamin dan antioksidan, potensi yang terbesar terjadi bahaya diamati pada pasien
dengan MODS yang termasuk disfungsi ginjal. Meskipun mekanisme ini masih belum jelas,
namun harus mengarah pada rekomendasi untuk tidak menggunakan suplemen pada kelompokkelompok pasien lagi.1

Bahan bakar untuk sel-sel kekebalan tubuh


Konsentrasi Penelitian In-vitro menunjukkan bahwa produksi sitokin oleh limfosit dan
makrofag tergantung pada glutamin Secara potensial, suplementasi glutamin pada pasien dengan
kondisi peradangan seperti sepsis dan MODS berpotensi menambah respon inflamasi.
Suplementasi pada pasien dengan tinggi glutamin pada gagal jantung kanan akut, dapat
menyebabkan toksisitas.1
Respon maladaptif untuk proses adaptif
Tingkat plasma glutamin rendah, berbeda dengan umumnya, mungkin dianggap sebagai
respon adaptif, yang bila terganggu dan ditambah glutamin dapat menyebabkan efek merusak.
Suplementasi glutamin mungkin berpotensi meningkatkan efek negatif (toksisitas). Meskipun,
karena beberapa intervensi, hubungan sebab akibat suplementasi glutamin dan peningkatan
mortalitas tidak dapat dibuktikan, data menunjukkan bahwa suplementasi yang mengganggu
proses adaptif berpotensi memburuk.1
KESIMPULAN
Hubungan kenaikan risiko kematian pada pasien dengan plasma awal glutamine yang
tinggi dalam studi MetaPlus melalui suplementasi glutamin mungkin berpotensi meningkatkan
efek negatif (toksisitas). Sedangkan untuk suplementasi pada pasien dengan glutamin tinggi pada
gagal jantung akut, juga dapat menyebabkan toksisitas.
Penelitian terbaru menentang jika glutamin dapat menurunkan jumlah mortalitas dan
menurunkan lama rawat inap. Selain itu, dipertanyakan apakah intervensi, seperti suplementasi
glutamin, harus dimulai tanpa mengukur tingkat variabilitasnya, tingkat plasma glutamin yang
rendah tidak selalu hadir dengan bahaya. Penelitian dengan metode MetaPlus mempelajari efek
dari glutamin dan antioksidan yang telah menunjukkan tidak ada manfaat dan sinyal peningkatan
mortalitas. Tidak bisa diyakini bahwa glutamin dan antioksidan yang efektif dan ditoleransi
dengan baik untuk pasien sakit kritis. Bagi pasien kritis tidak disarankan mengkonsumsi glutamin
dan antioksidan secara rutin alangkah lebih baik jika dalam dosis nonphysiological.

DAFTAR PUSTAKA
1. Van Zanten AR. Glutamine and antioxidant: status of their use in critical illness. Curr
Opin Clin Nutr Metab Care 2015: 18: 179-186
2. Tao km, Li XQ, Yang LQ, et al. Glutamine supplementation for critically ill adults.
Cochrane Database Syst Rev 2014; 9:CD010050.
3. Chen QH, Yang Y, He HL, et al. The effect of glutamine therapy on outcomes in critically
ill patients: a meta-analysis of randomized controlled trials. Crit Care 2014; 18:R8.
4. Manzanares W, Dhaliwal R, Jiang X, et al. Antioxidant micronutrients in the critically ill:
a systematic review and meta-analysis. Crit Care 2012; 16:R66.
5. 15. Andrews PJ, Avenell A, Noble DW, et al. Randomised trial of glutamine, selenium, or
both, to supplement parenteral nutrition for critically ill patients. BMJ 2011; 342:d1542.
6. Van Zanten AR, Sztark F, Kaisers UX, et al. High-protein enteral nutrition enriched with

immune-modulating nutrients vs standard high-protein enteral nutrition and nosocomial


infections in the ICU: a randomized clinical trial. JAMA 2014; 312:514524.