Anda di halaman 1dari 35

BATUAN BEKU

(Laporan Praktikum Geologi Dasar)

Oleh
Egi Ramdhani
1315051018

LABORATORIUM GEOFISIKA
JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktikum

: Batuan Beku

Tanggal Praktikum

: 15 November 2013

Tempat Percobaan

: Laboratorium Geofisika

Nama

: Egi Ramdhani

NPM

: 1315051018

Fakultas

: Teknik

Jurusan

: Teknik Geofisika

Kelompok

: 7 (Tujuh)

Bandar Lampung, 15 November 2013


Mengetahui,
Asisten

Doni Zulfafa
NPM. 1115051014
i

BAB I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Penulisan laporan ini dilatar belakangi sebagai laporan wajib praktikum
geologi dasar yang masuk mata kuliah wajib semester satu di jurusan Teknik
Geofisika, Universitas lampung. Selain itu juga sebagai pembelajaran untuk
memahami lebih jauh lagi mengenai batuan beku. Dilakukann penamaan
dalam batuan sangat berguna bagi kedepannya. Penamaan batuan sangat
penting sekali dan juga penamaan batuan harus adanya standarisasi
berdasarkan tipe batuan dan sifat-sifatnya. Dalam hal penamaan harus ada
keseragaman pemberian nama, sehingga klafisfikasi dari batuan harus
subyektif mungkin, berdasarkan fakta-fakta yang dapat diamati dan bukan
tafsiran. Batuan beku sudah banyak dikenal orang dan juga sudah sering
dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, dari hal yang paling sederhana
seperti permbuatan jalan sampai hal yang sangat rumit seperti pembuatan
gedung yang megah. Dalam ilmu geologi, batuan beku dapat dijadikan
petunjuk interior bumi. Xenolith yang ultramafik mengindikasikan komposisi
lokasi mantel atas, yang berarti ultramafik. Absennya granit di kerak samudra
menunjukan magma yang dibentuk tidak granitik. Dan di kerak benua hanya
ada granit dan riolit, tetapi basaltic sering juga ditemukan pada kerak benua
dan kerak samudra, hal ini berarti basaltic menyangga kedua lempeng kerak
tersebut. Daerah andesit merupakan campuran keduanya. Namun, hanya
sedikit sekali orang yang mengetahui asal kejadian dari batuan beku ini. Dan
kebanyakan orang hanya mengetahui cara mempergunakannya dalam
kehidupan sehari-hari. Untuk dapat mengidentifikasi nama batuan beku
dengan benar serta dapat mengetahui cara mempergunakannya, maka
dilakukanlah praktikum mengenai batuan beku ini.
2

I.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan praktikum ini adalah sebagai berikut

1. Menentukann nama batuan yang diamati dengan menggunakan sistem


identifikasi batuan.
2. Menentukan sifat-sifat batuan dari segi warna, tekstur dan komposisi
mineralnya.
3. Mengetahui proses pembentukan batuan beku.

4. BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

5. Batuan beku terbentuk dari hasil kristalisasi atau pembekuan magma, dan
yang keluar sampai dipermukaan bumi melalui letusan gunung api disebut
batuan volkanik atau extrusi. Magma yang mencapai berarti basaltik
menyangga (menopang) kedua lempeng kerak tersebut. Daerah andesit
merupakan campuran keduanya (Suharno, 2011).
6. Batuan beku sudah banyak dikenal orang dan juga sudah sering
dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, dari hal yang paling sederhana
seperti pembuatan jalan sampai ke hal yang sangat rumit seperti
pembuatan gedung yang megah. Hanya sedikit sekali orang yang
mengetahui asal kejadian dari batuan beku ini. Dan kebanyakan orang
hanya mengetahui cara mempergunakannya dalam kehidupan ini
(Rachwibowo, 2008).
7. Batuan beku luar/ekstrusif adalah batuan beku yang terjadi dari magma
yang terjadi dari magma yang membeku di permukaan atau di luar bumi.
Magma yang mengalir ke permukaan bumi melalui lubang kawah gunung
api disebut lava. Magma yang keluar permukaan bumi masih mempunyai
suhu yang tinggi yaitu 800o hingga 1200o C. Selain lava yang terbentuk
secara efusif (mengalir) ada batuan beku luar yang terbentuk secara
eksplosif (letusan) yang menghasilkan batuan piroklastik yang berukuran
sangat halus berupa abu volkanik sampai dengan ukuran yang kasar, yaitu
lapili (ukuran kedelai) hingga bomb yang mencapai diameter sampai
beberapa puluh cm. Batu apung merupakan salah satu batuan piroklastik
yang sangat terkenal, berkomposisi gelas volkanik yang berkomposisi
SiO2 amorf. Batuan beku luar mempunyai ukuran kristal yang kecil hingga

amorf karena proses pembekuan magma berlangsung sangat cepat.


Obsidian merupakan salah satu contoh batuan ekstrusif (Alzwar, 1988).

8. Penggolongan batuan beku dapat didasarkan kepada tiga patokan utama,


yaitu berdasarkan genetik batuan, berdasarkan senyawa kimia yang
terkandung dan berdasarkan susunan mineraloginya (Graha, 1987).
9. Berdasarkan letak pembekuannya maka batuan beku dapat dibagi menjadi
batuan beku intrusi dan batuan beku ekstrusi. Batuan beku intrusi
selanjutnya dapat dibagi menjadi batuan beku intrusi dalam dan batuan
beku

intrusi

dekat

permukaan.

Berdasarkan

komposisi

mineral

pembentuknya maka batuan beku dapat dibagi menjadi empat kelompok,


yaitu batuan beku ultramafik, batuan beku mafik, batuan beku menengah
dan batuan beku felsik. Istilah mafik ini sering diganti dengan basa, dan
istilah felsik diganti dengan asam, sekalipun tidak tepat. Termasuk batuan
beku dalam ultramafik adalah dunit, piroksenit, anortosit, peridotit dan
norit. Dunit tersusun seluruhnya oleh mineral olivin, sedang piroksenit
oleh piroksen dan anortosit oleh plagioklas basa. Peridotit terdiri dari
mineral olivin dan piroksen; norit secara dominan terdiri dari piroksen dan
plagioklas basa. Batuan beku luar ultramafik umumnya bertekstur
gelas atau
10. vitrofirik dan disebut pikrit.
11. Batuan beku dalam mafik disebut gabro, terdiri dari olivin, piroksen dan
plagioklas basa. Sebagai batuan beku luar kelompok ini adalah basal.
Batuan beku dalam menengah disebut diorit, tersusun oleh piroksen,
amfibol dan plagioklas menengah, sedang batuan beku luarnya dinamakan
andesit. Antara andesit dan basal ada nama batuan transisi yang disebut
andesit basal (basaltic andesit). Batuan beku dalam agak asam dinamakan
diorit kuarsa atau granodiorit, sedangkan batuan beku luarnya disebut
dasit. Mineral penyusunnya hampir mirip dengan diorit atau andesit, tetapi
ditambah kuarsa dan alkali felspar, sementara palgioklasnya secara
berangsur berubah ke asam. Apabila alkali felspar dan kuarsanya semakin
bertambah dan palgioklasnya semakin asam maka sebagai batuan beku
dalam asam dinamakan granit, sedang batuan beku luarnya adalah riolit.
Di dalam batuan beku asam ini mineral mafik yang mungkin hadir adalah
4

biotit, muskovit dan kadang-kadang amfibol. Batuan beku dalam sangat


asam, dimana alkali felspar lebih banyak daripada plagioklas adalah sienit,
sedang pegmatit hanyalah tersusun oleh alkali felspar dan kuarsa. Batuan
beku yang tersusun

oleh

gelas saja disebut obsidian, dan apabila

berstruktur perlapisan
12.
13. disebut perlit (Sutomo, 1999).
14. Berikut adalah gambar formasi batuan beku pada daerah gunung berapi
ketika mengalami erupsi :
15.

Batuan Beku
Ekstrufif

Batuan Beku
Intrusif
MAGMA

16. Gambar 2.1 Formasi Batuan Beku (Anonim, 2002).


17.
18.

19.
20.
4

21.
22.
23.
24.

25.BAB III. PROSEDUR PERCOBAAN


26.
27. 3.1. Alat dan Bahan
28.
29.

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah

:
1. Sampel beberapa batuan.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.

Gambar 3.1 Sampel beberapa batuan.


40.

2. Lembar kerja (lampiran 1).


41.

42.

43.

Gambar 3.2 Lembar kerja.

3. Alat tulis.

44.
45.
46.

Gambar 3.3 Alat tulis.

4. Kamera.

47.
48.
Gambar 3.4 Kamera.
49.
50.
51. 3.2. Langkah Kerja
52.
53.

Adapun langkah kerja yang dilakukan dalampercobaan kali ini

adalah :
a. Mengambil beberapa sampel batuan beku dan mengamati batuan.
Pengamatan meliputi warna, tekstur, komposisi mineral dan lain-lain.
b. Menatat hasil pengamatan pada lembar kerja yang ada pada lampiran.
54.
55.
56.

57.
58.
59.

3.3. Diagram Alir


Sampel batuan
Mengamati sampel batuan. Meliputi warna, tekstur,
komposisi mineral, dan lain-lain.

60.
61.

Mencatat hasil pengamatan pada lembar kerja.


Hasil

62.

63. BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


64.
65. 4.1 Hasil Pengamatan
66.
67.

Hasil pengamatan yang kami lakukan pada percobaan batuan beku

ini dapat dilihat di lampiran yang tertera di bagian belakang yang berupa
gambar batuan beserta keterangan pendukungnya. Hasil pengamatan berupa

138.

77.
87.
97.
107.
127.
137.

117.

76.
86.
96.
106.

82.
92.
102.
112.

116.

75.
Tipe Batuan

74.
Silika

73.
Warna

72.

71.
81.

126.

129.
128.
B.2
6
1

136.

119.
118.
B.1
5
3

122.

109.
108.
B.1
4
1

132.

99. B
.
9

91.

98.
3

101.

89. B
.
6

111.

88.
2

121.

78.
1

80. G
83. G
84.
85.
ra
e
4
Ul
n
l
ul
a
p
90. ar
G
93. G
94.
95.
la
e
4
Ul
ss
l
A
a
100.
103.
104. 105.
Gran
Gel
4
Ul
ul
a
ar
p
F
110.
113.
114. 115.
Glass
Ter
7
Fe
A
a
fa
n
120.
123.
124. 125.
Gran
Aga
5
M
ul
k
ar
130.F
133.G
134. 135.
Glass
Aga
5
M
A
k
fa
G
ni
Tabel 4.1 Tabel Pengamatan Batuan Beku.
131.

68.
N

69. N
o
.
P
e
r
79. B
.
1

70.
Tekstur

tabel data dapat dilihat sebagai berikut :

139.
140.
N

Berikut adalah gambar batuan yang kami amati :


141.
No.
Per
aga

142.

Foto Batuan

145.
146.
143. 144.
1
B.1

147.
148.
149.
152.
153.

150. 151.
2
B.6

154.
155.
156.
159.
160.

157. 158.
3
B.9

161.
162.
163.
166.
167.

164. 165.
4
B.11

168.
169.
170.
173.
174.

171. 172.
5
B.13

175.
176.
177.
180.
181.

178. 179.
6
B.21

185.

182.
183.

Tabel 4.2

184.

Foto Batuan
8
9

186.

4.2 Pembahasan

187.
188.

Telah dilakukan praktikum mengenai batuan beku oleh kelompok

kami.

Untuk

dapat

memahami

dan

mengerti

dengan

baik

cara

pengklasifikasian serta pengidentifikasiann batuan beku, terdapat serangkaian


proses yang kami lewati. Pertama, asisten dosen mengarahkan kami
bagaimana cara pengklasifikasian batuan beku berdasarkan tabel klasifikasi
yang ada di modul praktikum halaman 2. Tabel yang dimaksud adalah tabel

191.

192.
Debu
200.
Pasir
208.
Kerikil
216.
Konglom
erat

189.
Ekstrusi

190.

klasfikasi batuan beku.

194.
Tufa
Da
sit

238.

245.

A
n
d
e
s
i
t

Gra
nural
Feneritik

246.
Kompo
sisi
Silik
a
254.
Warna

232.
Ri

239.
Gr

247.
70

233.
Dasit

248.
62
70
%
255.

234.
Andesit

Glas
s Afanitik

240.
Granodiorite

231.

237.
244.

243.
Asal Kejadian

193.
Tu

224.
Bongka
s
230.
L

236.
In

195.
Tuf
a

241.
Dio
r
i
t
e
249.
54

196.
Tu

235.
Ba

242.
G

250.
45

6
2
%
Terang >>>
>>> Gelap

262.
Maf
i
k

263.
Ultra Mafik

261.
Intermediet

260.
Felsik

259.
Tipe
Bat
uan
264.

Tabel 4.3

Klasifikasi Batuan Beku.

265.

Tabel diatas adalah tabel yang diajarkan penggunaannya oleh

asisten. Dapat dilihat, tabel diatas memuat asal kejadian, jenis batuan, dan
tekstur dati batuan beku. Tekstur terbagi menjadi tiga yakni komposisi
mineral, warna, dan tipe batuan.
266.
10

267.

Berdasarkan tabel diatas, kami mencoba menganalisis enam

sambel batuan beku yang tersedia. Yakni sampel B.1, B.6, B.9, B.11, B.13
dan B.21 sebagaimana datanya telah tertera di lembar hasil pengamatan.
Pengamatan pertama yakni menentukan jenis batuannya terlebih dahulu.
Penentuan jenis batuan dapat dilihat dengan penyinaran lampu senter pada
batuan sampel, ketika disinari anak tampak butir kilauan pada batuan, kilauan
kecil sedikit menandakan batuan berjenis Piroklastik (Ekstrusi), jika kilauan
besar banyak menandakan batuan berjenis Lava (Intrusi) dan jika kilauan
kecil sekidit bahkan tidak ada kilauan, masuk ke jenis Plutonik (Ekstrusi) dari
sana, dapat ditarik garis lurus melihat ke kiri tabel langsung untuk
menentukan Teksturnya dimana tekstur piroklastik adalah piroklastik
fragmen, tekstur lava adalah glass afanitik dan tekstur plutonik adalah
granural feneritik. Setelah ditentukan jenis dan teksturnya, pengamatan
dilanjutkan dengan menentukan warnanya. Dalam kasus ini, pengamatan
warna terbagi menjadi empat yakni terang dengan kandungan silika 70-80%,
agak terang 62-70%, agak gelap 54-62% dan gelap 45-54%. Kandungan
silika dapat diamati secara langsung dengan melihat warna, warna putih dari
batuan adalah kombinasi dari mineral silika. Setelah didapat warna yang pas,
langsung ditarik garis vertikal untuk menentukan kandungan silika dan tipe
batuannya. Setelah semua sudah dilakukan, langsung ditarik garis horizontal
dari asal kejadian batuan dan garis vertikal dari warna batuan hingga didapat
titik pertemuan garis dan itulah nama dari batuan yang diamati. Lalu untuk
menentukan struktur batuan, diamati batuannya bila batuan tidak memiliki
jejagas (rongga udara) dan sedikit mengembang, batuan masuk ke struktur
bantal. Bila terdapat jejagas dalam ukuran besar, maka batuan masuk ke
struktur vasekuler. Bila batuan berisi mineral lain dalam jejagasnya, batuan
berstruktur amigdaloidal, bila tidak ada jejagas sama sekali berarti batuan
padat dan masuk ke struktur masif. Dan bila terdapat fragmen atau retakan
panjang di batuan, batuan berstruktur xenolitis. Terakhir, penentuan skala
mohs. Pertama, penentuan skala mohs diindikasikan pada goresan kuku di
batuan sampel. Bila kuku menggores batuan berarti skala mohs batuan
dibawah 2,5 (<2,5) bila batuan merusak kuku skala mohsnya diatas 2,5.
Kedua pengindikasian melalui kunci. Bila kunci merusak batu skala mohsnya

dibawah 3 namun bila kunci tidak dapat merusak batuan skala mohsnya diatas
tiga. Terdapat tiga ketentuan skala mohs yakni >2,5 , 2,3 3, dan >3.

268.
(a)
269.

(b)

(c)

(d)

(e)

Gambar 4.1 Macam-macam struktur batuan. (a) Vesikuler (b)

amigdaliodal (c) Bantal (d) Masif (e) Xenolitis.


270.
271.

Batuan beku adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil

pembekuan daripada magma. Magma adalah bahan cair pijar di dalam bumi,
berasal dari bagian atas selubung bumi atau bagian bawah kerak bumi,
bersuhu tinggi (900 1300 oC) serta mempunyai kekentalan tinggi, bersifat
mudah bergerak dan cenderung menuju ke permukaan bumi.Batuan beku
dalam adalah batuan beku yang terbentuk di dalam bumi; sering disebut
batuan beku intrusi. Batuan beku luar adalah batuan beku yang terbentuk di
permukaan bumi; sering disebut batuan beku ekstrusi. Batuan beku hipabisal
adalah batuan beku intrusi dekat permukaan, sering
beku

disebut

batuan

gang atau

272.

batuan beku korok, atau sub volcanic intrusion.

273.

Warna segar batuan beku bervariasi dari hitam, abu-abu dan putih

cerah. Warna ini sangat dipengaruhi oleh komposisi mineral penyusun batuan
beku itu sendiri. Apabila terjadi percampuran mineral berwarna gelap dengan
mineral berwarna terang maka warna batuan beku dapat hitam berbintikbintik putih, abu-abu berbercak putih, atau putih berbercak hitam, tergantung
warna mineral mana yang dominan dan mana yang kurang dominan. Pada
batuan beku tertentu yang banyak mengandung mineral berwarna merah
daging maka warnanya menjadi putih-merah daging. Tekstur Batuan Beku

11
8

274.

adalah hubungan antar mineral penyusun batuan. Batuan beku

sudah banyak dikenal orang dan juga sudah sering dipergunakan dalam
kehidupan sehari-hari, dari hal yang paling sederhana seperti pembuatan jalan
sampai ke hal yang sangat rumit seperti pembuatan gedung yang megah. Dan
kebanyakan orang hanya

mengetahui cara mempergunakannya dalam


12

275.

kehidupan ini.

276.

Berikut adalah hasil identifikasi dan penjelasan keenam batuan

yang kami teliti :


277.

290.

Nama Batuan : Gabro

278.

291.

Tekstur:

279.

Granural

Feneritik

280.

292.

Struktur

: Masif

281.

293.

Skala Mohs

: >3

282.

294.

Warna

: Gelap

283.

295.

Kandungan

284.

Silika

: 45 54%

285.

296.

286.
Gambar 4.2 Batu Gabro (B.1)
287.
288.
289.

No. Peraga

298.

Gabro

Tipe Batuan

: Ultra

Mafik
297.

Jenis Batuan :

Plutonik.

: B.1

adalah

batuan

beku

dalam,

umumnya

berwarna

hitam,mineralnya berbutir kasar hingga sedang, berat jenisnya 2,9


-3,21.Komposisi dan persentase mineral pembentuknya adalah : Plagioklas
( labradorit atau bitownit) 70 45 %, mineral mafis 25 50 %. Batuan gabro
berwarna gelap kehijauan, menunjukkan kandungan silika rendah sehingga
magma asal bersifat basa. Gabro merupakan batuan basis dengan tekstur
fenekris. Didalam gabro, mineral gelap jumlahnya hampir sama dengan
mineral cerah, tetapi kebanyakan gabro mempunyai perbandingan yang
bervariasi antara mineral gelap dan mineral terang. Mineral-mineral silikat
dalam jumlah yang berarti adalah piroksin, biasanya augit dan ovilin,
hornblende atau biotit ada dalam jumlah sedikit. Jika piroksin mengkristal
8

dalam sistem ortorombis, batuannya disebut Neorit (suatu varietas dari


gabro). Dalam gabro tertentu, kwarsa, garnet dan kerundum ada dalam jumlah
sedikit. Batuan gabbro yang seluruhnya terdiri dari feldsfar labradorit
kristalin kasar disebut anortosit.Warna dari gabro hitam, hijau, dan abu-abu
gelap. Terdapat dua macam batu gabro yang berhasil kami identifikasi dalam
percobaan kami yakni B.1 ini dan sampel B.9.
299.
300.

312.

301.

Tekstur:

Glass
13

Afanitik

302.

313.

Struktur

: Masif

303.

314.

Skala Mohs

: 2,5 -

304.

305.

315.

Warna

: Gelap

306.

316.

Kandungan

307.

Silika

: 45 54%

Gambar 4.3 Batu Basalt (B.6)


308.
309.

317.

Tipe Batuan

: Ultra

Mafik

310.

No. Peraga

: B.6

318.

Jenis Batuan : Lava.


13

311.

Nama Batuan : Basalt

319.

Basalt adalah batuan beku yang ekstrusif, terbentuk dari

solidifikasi magma yang terjadi di permukaan bumi. Biasanya basalt


berwarna abu-abu atau hitam, karena pembekuannya cepat di permukaan
bumi. Basalt kerap digunakan sebagai bahan baku dalam industri poles, bahan
bangunan / pondasi bangunan (gedung, jalan, jembatan, dll) dan sebagai
agregat. Batuan basalt termasuk pada jenis batuan beku yang berasal dari
letusan gunung api. Namun gunung api disini merupakan gunung api dasar
laut. Prosesnya berawal dari gerakan saling menjauh (pemekaran) dasar
samudra, muncul gunung api kemudian memuntahkan lava yang selanjutnya
membeku ketika terkena air laut. Basal adalah batuan leleran dari gabro,
mineralnya berbutir halus, berwarna hitam.
320.

324.

321.

325.

322.

326.

323.

327.
8

328.

336.

Gambar 4.4 Batu Gabro (B.9)


329.

Skala Mohs

: 2,5 : Gelap

330.

337.

Warna

331.

338.

Kandungan

332.

No. Peraga

: B.9

333.

Nama Batuan : Gabro

334.

Tekstur:

Granural

Feneritik

: 45 54%
339.

Struktur

341.

Pada

: Masif

Tipe Batuan

: Ultra

Mafik
340.

335.

Silika

Jenis Batuan :

Plutonik.

dasarnya, batuan dengan nomor peraga B.9 ini sama

dengan batuan
342.
343.

nomor peraga B.1 hanya saja tingkat kekerasan moshnya yang


14
berbeda. Hal ini mungkin diakibatkan usia batuan yang lebih tua atau batuan
B.9 ini lokasinya dipermukaan bumi sehingga mengalami pelapukan atau
kondisi alam lainnya yang memungkinkan membuat batuan sedikit
kehilangan daya kekerasannya.
344.

357.

Nama Batuan : Riolit

345.

358.

Tekstur:

346.

Glass

Afanitik

347.

359.

Struktur

: Masif

348.

360.

Skala Mohs

: 2,5 -

349.

350.

361.

Warna

351.

Terang

352.

362.

Kandungan

Silika

353.
Gambar 4.5 Batu Riolit (B.11)
354.

: 45 54%
363.

Tipe Batuan

355.

364.

Jenis Batuan : Lava.

: Felsik

356.

No. Peraga

: B.11

365.

Riolit terbentuk dari pembekuan magma di dalam kerak bumi yang

lazimnya dari letupan gunung berapi. yang terbentuk daripada pembekuan


magma di luar permukaan bumi. Riolit adalah bersifat asid dan bes. Namun
sebenarnya sifat asid batuan ini bergantung kepada kandungan silika di
8

dalamnya. Riolit di anggap berasid apabila kandungan silikanya melebihi


66%. Riolit sering ditemukan berupa lava. Riolit bisa digunakan sebagai
bahan baku beton ringan, isolasi bangunan, plesteran, isolator temperatur
tinggi/rendah, dll.
366.

378.

367.

Tekstur:

Granural

Feneritik

368.

379.

Struktur

: Masif

369.

380.

Skala Mohs

: 2,5 -

370.

371.

381.

Warna

: Agak

372.

Gelap

373.

382.

374.
Gambar 4.6 Batu Diorite (B.13)
375.
376.
No. Peraga
: B.13
377.

Nama Batuan :

Kandungan

Silika

: 54 62%
383.

Tipe Batuan

: Mafik

384.

Jenis Batuan :

Plutonik.

Diorite
15

385.

Diorite adalah batuan beku plutonik, yaitu batuan antara granite

dan gabbro. Batuan ini mengandung sedikit Kalsium (soda) plagioklas


feldspar, mineral berwarna terang, dan hornblende berwarna hitam. Tidak
seperti granit, batuan diorite tidak mengandung mineral kuarsa atau sangat
sedikit, dan juga tidak seperti gabbro, diorite mempunyai warna yang lebih
terang dan mengandung soda, tidak mengandung kalsit plagioklas. Apabila
batuan diorite ini dihasilkan dari letusan gunung api maka akan terjadi
pendinginan menjadi lava andesit.
386.

399.

387.

Andesit

388.

400.

389.

401.

391.

Glass

Struktur

Vesikuler

392.

402.

393.

394.

403.

395. 4.7 Batu Andesit (B.21)


Gambar
396.

Skala Mohs

: 2,5 -

Warna

: Agak

Gelap
404.

397.

407.

Tekstur:

Afanitik

390.

398.

Nama Batuan :

Kandungan

Silika

: 54 62%
No. Peraga

: B.21

405.

Tipe Batuan

: Mafik

406.

Jenis Batuan : Lava.

Andesit berasal dari Magma yang biasanya meletus dari

stratovolcanoes pada lahar tebal yang mengalir, beberapa diantaranya


penyebarannya dapat mencapai beberapa kilometer. Magma Andesite
dapat juga menghasilkan letusan seperti bahan peledak yang kuat
yang kemudian membentuk arus pyroclastic dan surges dan suatu
kolom letusan yang sangat besar. Bagian-bagian kecil yang berwarna
hitam disebut mineral biotite dan yang berwarna putih disebut
potassium feldspar Kristal terbesar dinamakan phenocryst, terbentuk
jauh sebelum lava terletuskan dan membeku, dan kristal-kristal

tersebut dari bentuknya dapat menceritakan sejarah dari proses


perjalanan magma.
408.
409.
410.

16

411.

Batuan Beku
412.
413.

414.

Oleh
Egi Ramdhani

415.
416.

417.

ABSTRAK
418.

419.
Telah dilakukan praktikum mengenai batuan beku di kelompok
kami. Batuan beku pada dasarnya adalah batuan yang terbentuk dari proses
pembekuan magma atau lava baik diluar permukaan bumi atau ekstrusif
maupun didalam permukaan bumi atau interusif. Batuan beku dalam
terbagi dua yakni plutonik dan gang sedangkan batuan beku luar terbagu
dua juga yakni lava dan piroklastik. Dalam praktikum ini, kami
mengidentifikasi enam tipe batuan beku dengan tabel hasil data
pengamatan dapat dilihat di tabel 4.1. pengklasifikasian dan
pengidentifikasian batuan beku ini tentunya dengan berpatokan pada
ketentuan yang berlaku, ketantuan telah dibuat dalam bentuk tabel dan
dapat dilihat pada tabel 4.2. pengidentifikasian yang kami lakukan
meliputi tekstur, struktur, skala mohs, warna, kandungan silika, tipe
batuan, jenis batuan dan yang terakhir adalah nama batuan. Urutan
pengidentifikasian yang kami lakukan adalah penentuan jenis batuan,
tekstur, warna, kandungan silika, tipe batuan, nama batuan, struktur dan
skala mohs. Skala mohs adalah skala kekerasan batuan yang dibandingkan
dengan kekerasan kuku dan kunci motor. Dari keenam sampel batuan yang
kami teliti, kami memberi nomor peraga batuan tersebut dengan B.1, B.6,
B.9, B.11, B.13, dan B.21. dengan urutan nama batuannya adalah gabro,
basalt, gabro, riolit, diorite, dan andesit. Untuk foto batuan dapat dilihat
pada 4.1.A hasil pembahasan atau pada lampiran laporan ini.

ii

420.

DAFTAR GAMBAR
421.
422.

423.

Gambar 2.1 Formasi batuan

Halaman
5

beku .......................................................................
424. Gambar 3.1 Sampel beberapa

batuan .................................................................
425. Gambar 3.2 Lembar

kerja ...................................................................................
426. Gambar 3.3 Alat

6
7
12

tulis .........................................................................................
427. Gambar 3.4

13

Kamera ...............................................................................................
428. Gambar 4.1 Macam-macam struktur

14

14

batuan ..........................................................
429. Gambar 4.2 Batu Gabro

15

(B.1) ............................................................................
430. Gambar 4.3 Batu Basalt

16

(B.6) .............................................................................
431. Gambar 4.4 Batu Gabro
(B.9) .................................................................................
432. Gambar 4.5 Batu Riolit
(B.11) .............................................................................
433. Gambar 4.6 Batu Diorite
(B.13) .............................................................................
434. Gambar 4.7 Batu Andesit
(B.21) ............................................................................
435.

iviv

15

436.

DAFTAR TABEL
437.

438.Halaman
439.Tabel 4.1 Tabel pengamatan batuan beku ....................................................
440.Tabel 4.2 Foto batuan ...................................................................................
8
441.Tabel 4.3 Klasifikasi batuan beku ................................................................
9
442.
10

443.

BAB V. KESIMPULAN
444.

445.
446.

Telah dilakukan praktikum mengenai batuan beku, maka diperoleh

kesimpulan sebagai berikut :


1. Batuan beku terbagi menjadi dua yakni batuan belu luar (ekstrusif) dan batuan
deku dalam (intrusif)
2. Batuan beku dapat diidentifikasi menggunakan ketentuan tertentu.
3. Batuan beku diisentifikasi berdasarkan tekstur, struktur, skala mohs, warna,
kandungan silikat, tipe batuan, jenis batuan dan terakhir nama batuan.
4. Warna mengkilap pada permukaan batuan ketika mendapat penyinaran adalah
butiran pirit yang dapat berupa warna emas atau perak. Ini dapat menentukan
tekstur batuan.
5. Warna batuan dipengaruhi mineral yang dikandungnya. Seperti silikat. Makin
banyak kandungan silikat, maka warna batuan akan semakin gelap. Begitu pula
sebaliknya.
6. Pemberian nomor peraga pada batuan sebelum dilakukan praktikum berguna
untuk memudahkan praktikan mengidentifikasi batuan.
7. Batuan beku berstruktur lebih padat dari batuan lainnya sehingga tidak mudah
rapuh ketika digores.
8. Pemberian nama batuan beku terdiri atas 12 nama yakni Tufa riolit, tufa
andesit, tufa dasit, tufa basalt, basalt, riolit, andesit, dasit, granit, granodiorit,
diorit dan gabro.
9.

447. DAFTAR ISI


448.
449.
450.

Halaman

LEMBAR

i
PENGESAHAN ............................................................................. i
451. ABSTRAK....................................................................................................
ii
.....ii
452.

iii

DAFTAR

ISI.....................................................................................................iii
453. DAFTAR
GAMBAR........................................................................................iv
454. DAFTAR
TABEL.............................................................................................v
455. BAB I. PENDAHULUAN
455.1
Latar
Belakang........................................................................................1
455.2
Tujuan

iv
v
1
2

Praktikum....................................................................................2
7
456. BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
7
457. BAB III. PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan........................................................................................6
3.2 Langkah Kerja.........................................................................................7
3.3 Diagram Alir............................................................................................78
458. BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
10
459.
4.1 Hasil
Pengamatan..................................................................................8
460.
4.2
Pembahasan...........................................................................................10
461. BAB V. KESIMPULAN
462. DAFTAR PUSTAKA
463. LAMPIRAN
464.
465.
466.
467.

iii

468.

DAFTAR PUSTAKA
469.

470.

Alzwar. 1988. Pengantar Dasar Ilmu Gunungapi. Bandung : Nova.

471. Anonim. 2002. Formasi Batuan Beku. http://eolas-indonesia.blogspot.com/.


diakses pada tanggal 13 November 2013 pukul 17.00 WIB.
472.

Graha. 1987. Batuan dan Mineral. Bandung: Nova.

473. Rachwibowo, Prakosa. 2008. Buku Ajar Geologi Fisik. UNDIP. Semarang.
474.

Suharno. 2011. Geologi Dasar. Bandar Lampung : Universitas

Lampung.
475.

Sutomo, Hadi. 1999. Hand Out Batuan Beku dan Metamorf.

Yokyakarta. UGM.
476.
477.
478.
479.
480.
481.

482.
483.
484.
485.
486.
487.
488.
489.
490.
491.

492.

LAMPIRAN
493.
494.
495.
496.
497.
498.
499.
500.

501.

510.

Sampel batuan beku yang kami amati :

511.

502.
503.
504.
505.
506.
507.
508.
509.

512.
513.
514.
515.
516.
517.
518.
519.
520.
521.
522.

523.
524.
525.
526.
527.
528.
529.
530.
531.
532.
533.
534.
535.

551.

Skala Mohs

: 2,5 -

552.

Warna

: Gelap

553.

Kandungan

3
Silika

: 45 54%
554.

Tipe Batuan

: Ultra

Mafik
555.

Jenis Batuan : Lava.

556.

536.

No. Peraga

537.
538.

: B.1

557.

No. Peraga

Nama Batuan : Gabro

558.

Nama Batuan : Gabro

Tekstur:

559.

Tekstur:

Granural

Feneritik

: B.9
Granural

Feneritik

539.

Struktur

: Masif

560.

Struktur

: Masif

540.

Skala Mohs

: >3

561.

Skala Mohs

: 2,5 -

541.

Warna

: Gelap

542.

Kandungan

Silika

562.

Warna

: Gelap

563.

Kandungan

: 45 54%
543.

Tipe Batuan

: Ultra

Mafik
544.

: 45 54%
564.

Jenis Batuan :

Tipe Batuan

565.

545.
546.

Jenis Batuan :

Plutonik.
566.

547.

No. Peraga

548.

Nama Batuan : Basalt

549.

Tekstur:

: B.6
Glass

Afanitik
Struktur

: Ultra

Mafik

Plutonik.

550.

Silika

567.
568.
569.
570.

: Masif

571.

599.

No. Peraga

572.

600.

Nama Batuan : Riolit

573.

601.

Tekstur:

574.

: B.11
Glass

Afanitik

575.

602.

Struktur

: Masif

576.

603.

Skala Mohs

: 2,5 -

577.

578.

604.

Warna

579.
580.

Terang
605.

581.

Kandungan

Silika

: 45 54%

582.

606.

Tipe Batuan

583.

607.

Jenis Batuan : Lava.

584.

608.

585.

609.

586.

610.

No. Peraga

587.

611.

Nama Batuan :

588.
589.
590.

: Felsik

: B.13

Diorite
612.

Tekstur:

Granural

Feneritik

591.

613.

Struktur

: Masif

592.

614.

Skala Mohs

: 2,5 -

593.

594.

615.

Warna

: Agak

595.
596.

Gelap
616.

597.
598.

Kandungan

Silika

: 54 62%
617.

Tipe Batuan

: Mafik

618.

Jenis Batuan :

625.

Plutonik.

626.

620.

Warna

: Agak

Gelap

621.

No. Peraga

622.

Nama Batuan :

: B.21

Tekstur:

Glass

Afanitik
Struktur

Vesikuler

627.

Silika

628.

Tipe Batuan

629.

Jenis Batuan : Lava.

630.
:

Kandungan
: 54 62%

Andesit

624.

: 2,5 -

619.

623.

Skala Mohs

631.
632.
633.

: Mafik