Anda di halaman 1dari 12

Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Atvionita Sinaga
10 2012 369
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510

PENDAHULUAN
Kecelakaan kerja khususnya kecelakaan di industri masih tinggi yaitu rata-rata 17 orang
meninggal tiap hari kerja. Faktor manusia memegang peran penting timbulnya kecelakaan kerja.
Serta kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia secara umum
diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2005 Indonesia menempati posisi yang buruk jauh di
bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand. Kondisi tersebut mencerminkan kesiapan
daya saing perusahaan Indonesia di dunia internasional masih sangat rendah. Indonesia akan sulit
menghadapi pasar global karena mengalami ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja
(produktivitas kerja yang rendah). Padahal kemajuan perusahaan sangat ditentukan peranan mutu
tenaga kerjanya. Karena itu disamping perhatian perusahaan, pemerintah juga perlu
memfasilitasi dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya
untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga
dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada
akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Semakin tersedianya fasilitas
keselamatan kerja semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja
tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi
juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada
akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.

TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI KECELAKAAN KERJA
Adapun dari berbagai sumber mengenai definisi kecelakaan kerja, berikut adalah
beberapa pendapat baik dari institusi pemerintahan nasional dan internasional maupun dari
beberapa tokoh internasional.
Dalam Permenaker no. Per 03/Men/1994 mengenai Program JAMSOSTEK , pengertian
kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja ,
termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja demikian pula kecelakaan yang
terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja daan pulang kerumah
melalui jalan biasa atau wajar dilalui.( Bab I pasal 1 butir 7 ).
Menurut Foresman kecelakaan kerja adalah kontak antara energi yang berlebihan (agent)
secara akut dengan tubuh yang menyebabkan kerusakan jaringan atau organ fungsi.
Sedangkan defenisi yang dikemukakan oleh Frank E. Bird Jr. Kecelakaan adalah suatu
kejadian yang tidak dikehendaki, dapat mengakibatkan kerugian jiwa serta kerusakan
harta benda dan biasanya terjadi sebagai akibat dari adanya kontak dengan sumber energi
yang melebihi ambang batas atau struktur.
Kecelakaan kerja ( accindent ) adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak di inginkan
yang merugikan terhadap manusia, merusakan harta benda ataukerugian proses.
World Health Organization (WHO) mendefinisikan kecelakaan sebagai suatu kejadian
yang tidak dapat dipersiapkan penanggulangan sebelumnya, sehingga menghasilkan
cidera yang riil.
Dalam pasal 86 UU No.13 tahun 2003, dinyatakan bahwa setiap pekerja atau buruh
mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, moral
dan kesusilaan dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat serta nilai-nilai agama.

TEORI PENYEBAB KECELAKAAN KERJA


Teori Tentang Penyebab Terjadinya Kecelakaan Kerja :
1) Teori kebetulan Murni ( Pure Chance Theory )
Mengatakan bahwa kecelakaan terjadi atas kehendak Tuhan, secara alami dan kebetulan
saja kejadiannya,sehingga tidak ada pola yang jelas dalam rangkaian peristiwanya.
2) Teori Kecenderungan ( Accident Prone Theory)
Teori ini mengatakan pekerja tertentu lebih sering tertimpa kecelakaan, karena sifat-sifat
pribadinya yang memang cenderung untuk mengalami kecelakaan.
3) Teori tiga faktor Utama ( Three Main Factor Theory )
Mengatakan bahwa penyebab kecelakaan adalah peralatan, lingkungan kerja, dan pekerja
itu sendiri.
4) Teori Dua Factor ( Two Factor Theory )
Mengatakan bahwa kecelakaan kerjadisebabkan oleh kondisi berbahaya ( unsafe
condition ) dan perbuatan berbahaya ( unsafe action ). Unsafe actions adalah suatu tindakan
berbahaya pada waktu melakukan suatu pekerjaan dimana situasi atau lingkungan kerjarawan
kecelakan jika seorang operator suatu mesin melakukan kecerobohan. Unsafe conditions
adalah suatu keadaan pada lingkungan kerja yang berbahaya seperti rawan terjadinya tanah
longsor, kejatuhan batu-batuan,tempat pengecoran logam dan lain-lain.
5) Teori Faktor manusia ( human factor theory )
Menekankan bahwa pada akhirnyasemua kecelakaan kerja, langsung dan tidak langsung
disebabkan kesalahanmanusia. Menurut hasil penelitian yang ada, 85% dari kecelakaan yang
terjadidisebabkan faktor manusia ini. Hal itu dikarenakan pekerja (manusia) yangtidak memenuhi
keselamatan, misalnya karena kelengahan, kecerobohan,ngantuk, kelelahan, dan sebagainya.
Kecelakaan tidak terjadi begitu saja, kecelakaan terjadi karena tindakan yang salah atau
kondisi yang tidak aman. Kelalaian sebagai sebab kecelakaan merupakan nilai tersendiri dari
teknik keselamatan. Diantara kondisi yang kurang aman salah satunya adalah pencahayaan,
ventilasi yang memasukkan debu dan gas, layout yang berbahaya ditempatkan dekat dengan
pekerja, pelindung mesin yang tak sebanding, peralatan yang rusak, peralatan pelindung yang
tak mencukupi, seperti helm dan gudang yang kurang baik.
KLASIFIKASI KECELAKAAN KERJA
3

1) Klasifikasi menurut jenis kecelakaan :


Terjatuh
Tertimpa benda
Tertumbuk atau terkena benda-benda
Terjepit oleh benda
Gerakan-gerakan melebihi kemampuan
Pengaruh suhu tinggi
Terkena arus listrik
Kontak bahan-bahan berbahaya atau radiasi.
2) Klasifikasi menurut penyebab :
Mesin, misalnya mesin pembangkit tenaga listrik, mesin penggergajiankayu, dan
sebagainya.
Alat angkut, alat angkut darat, udara dan air.
Peralatan lain misalnya dapur pembakar dan pemanas, instalasi pendingin,alat-alat listrik,
dan sebagainya.
Bahan-bahan, zat-zat dan radiasi, misalnya bahan peledak, gas, zat-zatkimia, dan
sebagainya.
Lingkungan kerja (diluar bangunan, didalam bangunan dan dibawahtanah).
3) Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan :
Patah tulang
Dislokasi (keseleo)
Regang otot
Memar dan luka dalam yang lain
Amputasi
Luka di permukaan
Gegar dan remuk
Luka bakar
Keracunan-keracunan mendadak
4

Pengaruh radiasi
4) Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh :
Kepala
Leher

Badan
Anggota atas
Anggota bawah
Banyak tempat
Letak lain yang tidak termasuk dalam klasifikasi tersebut
FAKTOR PENYEBAB KECELAKAN KERJA
1. Faktor Teknis

a. Faktor Alat
Kondisi suatu peralatan baik itu umur maupun kualitas sangat mempengaruhi terjadinya
kecelakaan kerja. Alat-alat yang sudah tua kemungkinan rusak itu ada. Apabila alat itu sudah
rusak, tentu saja dapat mengakibatkan kecelakaan. Contohnya adalah :

Perpipaan yang sudah tua.

Alat-alat safety yang sudah rusak.

2. Faktor Non Teknis

a. Faktor Manusia

Latar Belakang Pendidikan


Latar belakang pendidikan banyak mempengaruhi tindakan seseorang dalam bekerja.

Orang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi cenderung berpikir lebih panjang atau
dalam memandang sesuatu pekerjaan akan melihat dari berbagai segi. Misalnya dari segi
keamanan alat atau dari segi keamanan diri. Lain halnya dengan orang yang berpendidikan
lebih rendah, cenderung akan berpikir lebih pendek atau bisa dikatakan ceroboh dalam
bertindak. Misalnya Ketika kita melakukan pekerjaan yang sangat beresiko terhadap

kecelakaan kerja tetapi kita tidak memakai peralatan safety dengan benar. Hal ini yang
tentunya dapat menimbulkan kecelakaan.

Psikologis
Faktor Psikologis juga sangat mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja. Psikologis

seseorang sangat berpengaruh pada konsentrasi dalam melakukan suatu pekerjaan. Bila
konsentrasi sudah terganggu maka akan mempengaruhi tindakan-tindakan yang akan
dilakukan ketika bekerja. Sehingga kecelakaan kerja sangat mungkin terjadi. Contoh faktor
psikologis yang dapat mempengaruhi konsentrasi adalah :
-

Masalah-masalah dirumah yang terbawa ke tempat kerja.

Suasana kerja yang tidak kondusif.

Adanya pertengkaran dengan teman sekerja.

Faktor Keterampilan

Keterampilan disini bisa diartikan pengalaman seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan.
Misalnya melakukan start/stop pada sebuah peralatan, memakai alat-alat keselamatan, dsb.
Pengalaman sangat dibutuhkan ketika melakukan pekerjaan untuk menghindari kesalahankesalahan yang berakibat timbulnya kecelakaan kerja.

Faktor Fisik
Lemahnya kondisi fisik seseorang berpengaruh pada menurunnya tingkat konsentrasi dan

motivasi dalam bekerja. Sedangkan kita tahu bahwa konsentrasi dan motivasi sangat
dibutuhkan ketika bekerja. Bila sudah terganggu, kecelakaan sangat mungkin terjadi. Contoh
faktor fisik ini adalah:
-

Kelelahan.

Menderita Suatu Penyakit

Mengambil resiko yang tidak tepat

Karena tidak mau repot dalam bekerja, orang kadang melakukan hal-hal yang tidak
mencerminkan tindakan yang selamat. Sebagai contoh, pekerja malas mengambil topeng las
di rak keselamatan kerja, langsung mengelas tanpa pelindung mata. Tanpa di duga, ada
percikan api las yang mengenai mata. Setelah dilakukan pengobatan, ternyata besarnya biaya
pengobatan tidak sebanding dengan beberapa detik mengambil peralatan keselamatan
6

kerja.Demikian juga dengan mesin, sudah tahu bahwa oli sudah waktunya diganti, karena
hanya menyisakan pekerjaan sedikit saja, oli mesin tidak diganti. Ternyata dengan kualitas
oli yang jelek, justru mesin menjadi panas (overheating) dan harus turun mesin,dengan biaya
yang jauh lebih tinggi, ditambah tetap harus mengganti oli.
3. Faktor Alam

Untuk faktor alam adalah hal yang tidak bisa diprediksi seperti contohnya :
-

Saat mengecat gedung yang tinggi kita mengabaikan ada angin yang kencang berhembus
karena kita mngabaikan keselamatan kerja itu bisa jadi akan berakibat fatal bagi kita.

Saat sedang memperbaiki jembatan padahal debit air masih tinggi kita tetap saja
memperbaikinya hal itu bisa saja kita bisa terseret arus air yang deras saat kita
memperbaiki jembatan yang rusak.

H.W Heinrich dengan teori dominonya menggolongkan penyebab kecelakaan kerja menjadi 2 :
a. Unsafe Action (Tindakan yang tidak aman)
Unsafe action adalah suatu tindakan yang memicu terjadinya suatu kecelakaan kerja.
Contohnya adalah tidak memakai masker, merokok di tempat yang rawan terjadi kebakaran,
tidak mematuhi peraturan dan larangan K3, dan lain-lain. Tindakan ini bisa berbahaya dan
menyebabkan terjadinya kecelakaan.
b. Unsafe Condition (Kondisi tidak aman)
Unsafe Condition berkaitan erat dengan kondisi lingkungan kerja yang dapat menyebabkan
terjadinya kecelakaan. Banyak ditemui bahwa penyebab terciptanya kondisi yang tidask aman ini
karena kurang ergonomis. Unsafe condition in contohnya adalah lantai yang licin, tangga rusak,
udara yang pengap, pencahayaan yang kurang, terlalu bising, dan lain-lain.
Salanjutnya Frank Bird mengembangkan teori Heinrich tersebut. Frank Bird menggolongkan
penyebab terjadinya kecelakaan adalah sebab langsung (immediate cause) dan faktor dasar (basic
cause). Penyebab langsung kecelakaan adalah pemicu langsung yang menyebabkan kecelakaan
tersebut, misalnya terpeleset, kejatuhan suatu benda, dan lain-lain. Sedangkan penyebab tidak
langsung adalah merupakan faktor yang memicu atau memberikan kontribusi terhadap
kecelakaan tersebut. Misalnya tumpahan minyak yang menyebabkan lantai yang licin, kondisi
penerangan yang todak baik, terburu-buru atau kurang pengawasan, dan lain-lain.
7

UNDANG-UNDANG
Dasar Hukum Tentang Keselamatan Kerja. Adapun sumber hukum penerapan K3 adalah sebagai
berikut:
1. UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
2. UU No. 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
3. PP No. 14 tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan SosialTenaga Kerja.
4. Keppres No. 22 tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul karena HubunganKerja.
5. Permenaker No. Per-05/MEN/1993 tentang Petunjuk Teknis PendaftaranKepesertaan,
pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan, dan Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
Berdasarkan

Undang-undang,

jaminan

Keselamatan

dan

Kesehatan

Kerjaitu

diperuntukkan bagi seluruh pekerja yang bekerja di segala tempat kerja, baik didarat, di dalam tanah,
di permukaan air, di dalam air maupun di udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum
Republik Indonesia. Jadi padadasarnya, setiap pekerja di Indonesia berhak atas jaminan
keselamatan dan kesehatan kerja.
MENEJEMEN SISTEM K3
Kerugian Akibat Kecelakaan Kerja
Setiap kecelakaan adalah malapetaka, kerugian dan kerusakan pada manusia, harta benda
atau properti dan proses produksi. Implikasi yang berhubungan dengan kecelakaan sekurangkurangnya berupa gangguan kinerja perusahaan dan penurunan keuntungan perusahaan. Pada
dasarnya, akibat dari peristiwa kecelakaan dapat dilihat dari besar-kecilnya biaya yang
dikeluarkan bagi terjadinya suatu peristiwa kecelakaan. Secara garis besar kerugian akibat
kecelakaan kerja dapat dikelompokkan menjadi: (Tarwaka, 2008)
1. Kerugian/ Biaya Langsung (Direct Costs)
Yaitu suatu kerugian yang dapat dihitung secara langsung dari mulai terjadi peristiwa sampai
dengan tahap rehabilitasi, seperti:
a) Penderitaan tenaga kerja yang mendapat kecelakaan dan keluarganya
b) Biaya pertolongan pertama pada kecelakaan
c) Biaya pengobatan dan perawatan
d) Biaya angkut dan biaya rumah sakit
e) Biaya kompensasi pembayaran asuransi kecelakaan
f) Upah selama tidak mampu bekerja
g) Biaya perbaikan peralatan yang rusak, dan lain-lain
8

2. Kerugian/Biaya Tidak Langsung (Indirect Costs)


Yaitu merupakan kerugian berupa biaya yang dikeluarkan dan meliputi sesuatu yang tidak
terlihat pada waktu atau beberapa waktu setelah terjadinya kecelakaan. Biaya tidak langsung
ini mencakup antara lain:
a) Hilangnya waktu kerja dari tenaga kerja yang mendapat kecelakaan
b) Hilangnya waktu kerja dari tenaga kerja lain, seperti rasa ingin tahu dan rasa simpati serta
setia kawan untuk membantu dan memberikan pertolongan pada korban, mengantar ke
rumah sakit, dan lain-lain
c) Terhentinya proses produksi sementara, kegagalan pencapaian target, kehilangan bonus,
dan lain-lain.
d) Kerugian akibat kerusakan mesin, perkakas atau peralatan kerja lainnya.
e) Biaya penyelidikan dan sosial lainnya, seperti;
Mengunjungi tenaga kerja yang sedang menderita akibat kecelakaan
Menyelidiki sebab-sebab terjadinya kecelakaan
Mengatur dan menunjuk tenaga kerja lain untuk meneruskan pekerjaan dari tenaga
kerja yang menderita kecelakaan
Merekrut dan melatih tenaga kerja baru
Timbulnya ketegangan dan stress serta menurunnya moral dan mental tenaga kerja

PREVENTIF KECELAKAAN KERJA


Pencegahan kecelakaan kerja dapat dilakukan dengan :
1.

Pengamatan resiko bahaya di tempat kerja

Pengamatan resiko bahaya di tempat kerja merupakan basis informasi yang berhubungan dengan
banyaknya dan tingkat jenis kecelakaan yang terjadi ditempat kerja.
Ada 2 ( dua ) tipe data untuk mengamati resiko bahaya di tempat kerja
a.

Pengukuran resiko kecelakaan, yaitu mengkalkulasi frekwensi kecelakaan dan mencatat

tingkat jenis kecelakaan yang terjadi sehingga dapat mengetahui hari kerja yang hilang atau
kejadian fatal pada setiap pekerja.
b.

Penilaian resiko bahaya, yaitu mengindikasikan sumber pencemaraan, faktor bahaya yang

menyebabkan kecelakaan, tingkat kerusakaan dan kecelakaan yang terjadi. Misalnya bekerja di
ketinggian dengan resiko terjatuh dan luka yang diderita pekerja atau bekerja di pemotongan
dengan resiko terpotong karena kontak dengan benda tajam dan lain-lain.
2.

Pelaksanaan SOP secara benar di tempat kerja


9

Standar Opersional Prosedur adalah pedoman kerja yang harus dipatuhi dan dilakukan dengan
benar dan berurutan sesuai instruksi yang tercantum dalam SOP, perlakuan yang tidak benar
dapat menyebabkan kegagalan proses produksi, kerusakaan peralatan dan kecelakaan.
3.

Pengendalian faktor bahaya di tempat kerja

Sumber pencemaran dan faktor bahaya di tempat kerja sangat ditentukan oleh proses produksi
yang ada, teknik/metode yang di pakai, produk yang dihasilkan dan peralatan yang digunakan.
Dengan mengukur tingkat resiko bahaya yang akan terjadi, maka dapat diperkirakan
pengendalian yang mungkin dapat mengurangi resiko bahaya kecelakaan.
Pengendalian tersebut dapat dilakukan dengan :
a.

Eliminasi dan Substitusi, yaitu mengurangi pencemaran atau resiko bahaya yang terjadi

akibat proses produksi, mengganti bahan berbahaya yang digunakan dalam proses produksi
dengan bahan yang kurang berbahaya.
b.

Engineering Control, yaitu memisahkan pekerja dengan faktor bahaya yang ada di tempat

kerja, membuat peredam untuk mengisolasi mesin supaya tingkat kebisingannya berkurang,
memasang pagar pengaman mesin agar pekerja tidak kontak langsung dengan mesin,
pemasangan ventilasi dan lain-lain.
c.

Administrative control, yaitu pengaturan secara administrative untuk melindungi pekerja,

misalnya penempatan pekerja sesuai dengan kemampuan dan keahliannya, pengaturan shift
kerja, penyediaan alat pelindung diri yang sesuai dan lain-lain.
4.

Peningkatan pengetahuan tenaga kerja terhadap keselamatan kerja

Tenaga kerja adalah sumber daya utama dalam proses produksi yang harus dilindungi, untuk
memperkecil kemungkinan terjadinya kecelakaan perlu memberikan pengetahuan kepada tenaga
kerja tentang pentingnya pelaksanaan keselamatan kerja saat melakukan aktivitas kerja agar
mereka dapat melaksanakan budaya keselamatan kerja di tempat kerja. Peningkatan pengetahuan
tenaga kerja dapat dilakukan dengan memberi pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada
awal bekerja dan secara berkala untuk penyegaran dan peningkatan wawasan. Pelatihan ini dapat
membantu tenaga kerja untuk melindungi dirinya sendiri dari faktor bahaya yang ada ditempat
kerjanya.
5.

Pemasanngan peringatan bahaya kecelakaan di tempat kerja

Banyak sekali faktor bahaya yang ditemui di tempat kerja, pada kondisi tertentu tenaga kerja
atau pengunjung tidak menyadari adanya faktor bahaya yang ada ditempat kerja, untuk
10

menghindari terjadinya kecelakaan maka perlu dipasang rambu-rambu peringatan berupa papan
peringatan, poster, batas area aman dan lain sebagainya.
Selain upaya pencegahan juga perlu disediakan sarana untuk menanggulangi kecelakaan yang
terjadi di tempat kerja yaitu :
1.

Penyediaan P3K

Peralatan P3K yang ada sesuai dengan jenis kecelakaan yang mungkin terjadi di tempat kerja
untuk mengantisipasi kondisi korban menjadi lebih parah apabila terjadi kecelakaan, peralatan
tersebut harus tersedia di tempat kerja dan mudah dijangkau, petugas yang bertanggung jawab
melaksanakan P3K harus kompeten dan selalu siap apabila terjadi kecelakaan di tempat kerja.
2.

Penyediaan peralatan dan perlengkapan tanggap darurat

Kecelakaan kerja yang terjadi di tempat kerja terkadang tanpa kita sadari seperti terkena bahan
kimia yang bersifat korosif yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit / mata atau terjadinya
kebakaran, untuk

menanggulangi keadaan tersebut perencanaan dan penyediaan perlatan /

perlengkapan tanggap darurat di tempat kerja sangat diperlukan seperti pemadam kebakaran,
hidran, peralatan emergency shower, eye shower dengan penyediaan air yang cukup, semua
peralatan ini harus mudah dijangkau.

KESIMPULAN
Sebagai suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha, kesehatan
dan keselamatan kerja atau K3 diharapkan dapat menjadi upaya preventif terhadap timbulnya
kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja. Pelaksanaan K3
diawali dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dan
penyakit akibat hubungan kerja, dan tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian. Tujuan dari
dibuatnya sistem ini adalah untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan kerja
dan penyakit akibat hubungan kerja.
Peran tenaga kesehatan dalam menangani korban kecelakaan kerja adalah menjadi
melalui pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja yang
meliputi pemeriksaan awal, pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus. Untuk mencegah
11

terjadinya kecelakaan dan sakit pada tempat kerja dapat dilakukan dengan penyuluhan tentang
kesehatan dan keselamatan kerja.
REFERENSI
1. Buku Modul Blok 28 Occupational Medicine
2. Poerwanto, Helena dan Syaifullah. Hukum Perburuhan Bidang Kesehatan dan Keselamatan
Kerja. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005. Indonesia.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
3. Silalahi, Bennett N.B. [dan] Silalahi,Rumondang.1991. Manajemen keselamatan dan
4.
5.
6.
7.

kesehatan kerja:Pustaka Binaman Pressindo.


Suma'mur .1991. Higene perusahaan dan kesehatan kerja. Jakarta :Haji Masagung
http://anakkesmas.blogspot.com/ 009/09/kecelakaan-kerja.html
http://tuloe.wordpress.com/ 2010/02/20/kecelekaan-kerja/
http://wiryanto.wordpress.com/2007/06/07/keselamatan-kerja-konstuksi/feed/
DitjenNak. (2000). Panduan pelatihan total quality management dan meningkatkan sistemsistem organisasi. Jakarta: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan,
Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
1. Budiono S. Manajemen Risiko dalam Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Bunga Rampai
Hiperkes dan Keselamatan. Semarang, 2005.
2. Mansur M. Manajemen Risiko Kesehatan di Tempat Kerja. Maj Kedokt Indon, Volum: 57,
Nomor: 9, September 2007
https://eriskusnadi.wordpress.com/2011/12/24/fishbone-diagram-dan-langkah-langkahpembuatannya/

12