Anda di halaman 1dari 8

KATION GOLONGAN III

Dalam penganalisaaan kation-kation golongan III digunakan filtrat dari


analisa dan pemisahan golongan I dan golongan II. Kation-kation yang termasuk
kedalam golongan III adalah Fe3+, Ni2+, Mn2+, Co2+, dan Zn2+. Analisa ini
dilakukan setelah ion-ion pengganggu yang sebelumnya terdapat pada filtrat telah
dihilangkan sebelumnya. Ion-ion penggangggu ynag muncul biasanya akibat
reaksi dari pengenceran residu dan pada proses pengendapan kation yang
golongan I dan kation golongan II.
Dalam penganalisaaan kation golongan III dapat dilakukan secara
bertahap. Pertama dalam penganalisaaan kation dari Fe dan Mn. Filtrat yang
mengadung larutan Fe(OH)3 dan MnO2.xH2O, dilarutkan dengan larutan
campuran dari HNO3 dan H2O2 dengan perbandingan 1:1. Kemudian larutan
dididihkan untuk menguraikan H2O2. Setelah didinginkan tambahkan dengan
tetesan natrium bismutat. Kemudian dikocok dan biarkan sampai terdapat
endapan.
Endapan yang terbentuk berwarna lembayung, maka itu adalah Mn.
Kemudian endapan dapat direaksikan dengan seditik larutan KSCN. Jika terdapat
warna merah, maka terdapa kandungan Fe.

Kemudian kemungkinan filtrat yang mengandung CrO4- yang berwarna kuning


dan [Al(OH)4]- yang tidak berwarna dapat dianalisa dengan penambahan asam
asetat dan penambahan larutan timbel asetat. Maka akan muncul endapan yang
berwarna kuning. Endapan itu adalah endapan yang berasal dari Cr.
Kemudian filtrat dapat pula ditambahkan dengan larutan HCl encer lalu
dalah sitambah lagi dengan larutan NH3 sampai menjadi basa. Kemudian
dipanaskan sampai mendidih, maka akan muncul endapan seperti gelatin yang
berwarna putih. Endapan tersebut berasal dari Al. Reaksi yang terjadi pada Al
adalah sebagai berikut:

Al(OH)3 + OH- [Al(OH)4][Al(OH)4]- + NH4+ Al(OH)3 + NH3 + H2O


Reaksi yang terjadi pada Cr adalah sebagai berikut
CrO42- + Pb(CH3COO)2 PbCrO4 + CH3COO-

Jika filtrat yang yang didapat berwarna hitam, kemungkinan mengandung


CoS dan NiS. Larutan filtrat dapat direaksiakan dengan campuran NaOCl dan
larutan HCl encer dengan perbandingan 3:1. Kemudian didihkan sampai Cl2
menguap, setelah itu didinginkan dan diencerkan. Jika larutan tersebut direaksikan
dengan alkohol dan NH4SCN padat kemudian dikocok, maka akan muncul
lapisan amil alkohol berwarna biru. Hal tersebut menandakan terdapat kandungan
Co.
Kemudian filtrat direaksikan kembali dengan larutan NH3 sampai bersifat
basa. Kemudian ditambahkan dengan reagensia dimetilglioksima, maka akan
muncul endapan berwarna merah. Endapan tersebut adalah kandungan dari Ni.

Sisa filtrat yang ada kemungkinan mengandung [Zn(OH)4]2-. Filtrat


direaksikan dengan asam sulfat encer kemudian ditambahkan dengan larutan
kobalt asetat, kemudian ditetesi dengan reagensia tetrationsianatomerkurat(II).
Larutan tersebut diaduk secara perlahan, maka akan muncul endapan berwarna
biru muda. Endapan tersebut berasal dari Zn.
Reaksi yang terjadi pada Zn adalah sebagai berikut
Zn2+ + Co2+ 2[Hg(SCN)4]2- + Zn[Hg(SCN)4] + Co[Hg(SCN)4]
Prosedur analisis kation golongan III
Prosedur 1
Larutan yang telah didapat dari penganalisaan golongan II yang bersifat
asam dididihkan untuk menghilangkan kandungan sulfide. Kemudian ditanbahkan
dengan larutan amoniak untuk memperoleh suasana basa shingga akan terjadi
pengendapan hidroksidanya atau membentuk kompleks aminanya
Fe2+ + 2NH4OH Fe(OH)2 + NH4OH tidak ada reaksi
Co2+ + 2NH4OH Co(OH)2 + NH4OH [Co(NH3)6]2+
Ni2+ + 2NH4OH Ni(OH)2 + NH4OH [Ni(NH3)6]2+
Zn2+ + 2NH4OH Zn(OH)2 + NH4OH [Zn(NH3)6]2+
Al3+ + 3NH4OH Al(OH)3 + NH4OH tidak ada reaksi
Cr3+ + 3NH4OH Cr(OH)3 + NH4OH tidak ada reaksi
Mn(OH)2 tidak dapat diendapkan karena [OH-] dikendalikan oleh NH4+
Prosedur 2
CoS dan NiS yang tidak larut dalam HCl 12 M akan larut jika ditambahkan
dengan larutan HNO3 karena ion sulifida teroksidasi menjadi unsure belerang,
sehingga akan muncul residu Co2+ dan Ni2+.

Prosedur 3

MnO2 dan Co(OH)2 yang sulit larut dalam asam nitrat ditambahkan hydrogen
peroksida untuk meningkatkan kelarutannya. Oksidasi MnO2 oleh ClO3- dalam
suasana asam cukup memberikan indikasi adanya mangan sampel. Mangan(IV)
oksida kembali dilarutkan dalam suasana asam hanya sebagai komsekuensi
reduksi oleh nitrit. Oksidasi akan menghasilkan MnO4- yang merpakan berwarna
ungu merupakan reaksi khusus untuk indikasi ion mangan.

Prosedur 4

Pemisahan yangbdimualai dari kesetimbangan

NH3 + H2O NH4+ + OH-

Ion Fe3+ bereaksi dengan OH- sedangkan ion Co2+ dan Ni2+ bereaksi dengan
NH3. Saat pertamakali larutan amoniak ditambahkan yang akan terjadi adalah
pengendapan ion hidroksida. Penambahan amoniak berlebih menyebabkan Co2+
dan Ni2+ larut kembali memjadi kompleksnya. Reaksi ion Fe3+ dengan
[Fe(CN)6]4- dan NCS- merupakan reaksi spesifik dan sangat sensitif untuk ion
Fe3+.
prosedur 5
Ion Ni2+ tidak mengganggu dalam proses pembentukan warna biru dari
[Co(NCS)4]2- atau endapan kuning K3[Co(NO2)4]. Flourida digunakan untuk

menarik Fe3+ sebagai kompleks [FeF6]3- agar pembentukan [Fe(NCS)]2+ dapat


dipindahkan.
Prosedur 6
DMG hanya memberikan warna coklat dengan Co2+ sehingga Ni2+ tetap
terdeteksi walaupun ada ion Co2+. Penambahan HCl untuk menetralkan kompleks
hidrokso dari Al3+, Zn2+, dan mengubah CrO42- menjadi Cr2O72-.

Prosedur 7
Al3+ bereaksi dengan OH- dan Zn2+ bereaksi dengan NH3, membentuk
larutan bersuasana basa akan menybabkan perubahan Cr2O72- menjadi CrO42-.

Cr2O72- + 2OH- CrO42- + H2O

Pembentukan endapan merah dari reaksi antara Al3+ dengan alumunium.


Warna barium kromat yang kurang tajam dibandingkan Timbal(II) kromat
menyebabkan kesulitan tersendiri. Endapan kuning yang larut dalam asam adalah
barium kromat. Pembentekan warna biru dari proksokromat dilakukan dengan
penambahan peroksida berlebih sambil dipanaskan. Munculnya warna biru
menandakan adanya kandugan kromium. Sedangkan seng sulfida adalah endapan
putih yang tidak larut dalam air dan larut asam klorida.

Al3+
Mn2+

Cu2+

Fe2+

Zn2+