Anda di halaman 1dari 38

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM LEARNING UNTUK

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA


PADA MATERI SISTEM TRANSPORATASI MAKHLUK HIDUP DI KELAS
VIII SMP NEGERI 9 BANDA ACEH

Proposal Skripsi

diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan


memenuhi syarat-syarat guna memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan

oleh
NURSYAFNY RIZKIANA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2015

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu upaya yang ditempuh untuk meningkatkan mutu pembelajaran
adalah melalui peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Sekolah adalah bagian dari
masyarakat yang merupakan tempat bagi pembinaan sumber daya manusia yang
sesuai dengan perkembangn sains dan teknologi. Di sekolah, guru adalah faktor
utama yang berperan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tingkat
keberhasilan siswa belajar di kelas.
Adityarini (2013) mengatakan bahwa proses belajar mengajar yang
berkembang di kelas umumnya ditentukan oleh peran guru dan siswa sebagai
individu yang terlibat langsung di dalam proses tersebut. Siswa seringkali mengalami
kesulitan dalam memahami konsep, untuk itu, selama proses kegiatan belajar
berlangsung bantuan guru sangat diperlukan. Tugas guru dalam proses belajar
mengajar antara lain adalah mengefektifkan terjadinya proses belajar mengajar.
Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah
dengan menciptakan suasana belajar yang dapat meningkatkan aktivitas seperti
menyesuaikan model pembelajaran dengan materi yang akan diajarkan. Dengan
adanya peningkatan aktivitas belajar siswa, maka hasil belajar juga akan mengalami
peningkatan.
Hasil observasi terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan di SMPN 9
Banda Aceh menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar di dalam kelas
menggunakan metode ceramah dan diskusi. Guru berusaha melibatkan seluruh siswa
dalam proses pembelajaran dan merangsang keaktifan belajar siswa dengan metode
tanya jawab, akan tetapi keterlibatan siswa dalam proses tanya jawab hanya
didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja dan masih banyak siswa yang kurang
1

berpartisipasi dalam diskusi, salah satunya pada materi sistem transportasi makhluk
hidup. Hasil belajar siswa pada materi tersebut pada semester genap tahun 2015/2016
belum menunjukkan angka yang maksimal. Dari seluruh siswa kelas VIII pada tahun
tersebut masih terdapat sekitar 43% siswa yang belum memenuhi batas kriteria
ketuntasan minimal yaitu 70. Oleh karena itu perlu pembaharuan dalam
melaksanakan pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa dengan
menerapkan model pembelajaran yang mampu menarik perhatian dan memotivasi
siswa untuk berperan aktif dalam aktivitas belajar, salah satunya adalah model
Quantum Learning.
Quantum learning adalah seperangkat model dan falsafah belajar yang
terbukti efektif di sekolah dan bisnis untuk semua tipe orang dan segala usia.
quantum learning pertama kali digunakan di Supercamp, yaitu sebuah lebaga
pendidikan atau pelatihan di Amerika Serikat. Di Supercamp dapat menggabungkan
rasa percaya diri, keterampilan berkomunikasi siswa dalam lingkungaan yang
menyenangkan (Putra, 2013). Dalam model pembelajaran quantum learning, guru
harus memahami potensi siswa dalam menyerap dan mengolah informasi siswa
dengan mengetahui modalitas (gaya belajar) siswa.
DePorter, (2010) menjelaskan bahwa di awal pengalaman belajar, salah satu
diantara langkah-langkah pertama adalah mengenali modalitas seseorang sebagai
modalitas visual, auditorial, dan kinestetik. Seperti yang diusulkan istilah-istilah ini,
orang visual belajar melalui apa yang mereka lihat, pelajar audoitorial melakukannya
melalui apa yang mereka dengar, dan pelajar kinestetik belajar lewat gerakan dan
sentuhan. Walaupun masing-masing dari kita belajar dengan menggunakan ketiga

modalitas pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu
di antara ketiganya.
Dengan mengetahui gaya belajar siswa yang berbeda-beda, guru bisa
mengoptimalkan proses pembelajaran dengan menyusun rencana pembelajaran yang
bervariasi dan melibatkan indera visual, auditorial, dan kinestetik. Semakin banyak
indera yang digunakan, semakin kuat pula daya ingatnya.
Tambah penelitian terdahulu............................................................
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis bermaksud melakukan penelitian
eksperimen sebagai usaha untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui
Penerapan Model Quantum Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
pada Materi Sistem Transportasi Makhluk Hidup di Kelas VIII SMPN 9 Banda
Aceh .
1.2 Rumusan masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut.
1. Apakah penerapan model quantum learning dapat meningkatkan hasil belajar
siswa pada materi sistem transportasi pada makhluk hidup di kelas VIII SMPN
Banda Aceh?
2. Apakah penerapan model quantum learning dapat meningkatkan aktivitas belajar
siswa pada materi sistem transportasi pada makhluk hidup di kelas VIII SMPN
Banda Aceh.
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah sebagai
berikut.
1. Mengetahui penerapan model quantum learning terhadap peningkatan hasil
belajar siswa pada materi sistem transportasi pada makhluk hidup di kelas VIII
SMPN 9 Banda Aceh.

2. Mengetahui penerapan model quantum learning terhadap peningkatan aktivitas


siswa pada materi sistem transportasi pada makhluk hidup di kelas VIII SMPN 9
Banda Aceh.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapan dapat bermanfaat bagi guru, siswa, dan sekolah
tempat penelitian, yaitu:
1. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan penulis tentang model quantum learning.
2. Bagi siswa, dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa pada materi
sistem transportasi pada makhluk hidup dengan menggunakan model quantum
learning.
3. Bagi guru, dapat meningkatkan kualitas belajar biologi dengan menggunakan
model quantum learning.
4. Bagi sekolah, dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menggunakan
model

quantum

learning

demi

peningkatan

efisiensi

dan

efektivitas

pembelajaran biologi.
1.5 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka hipotesis dalam penelitian ini
antara lain sebagai berikut. adalah
1. Penerapan model pembelajaran quantum learning dapat meningkatkan hasil
belajar siswa pada materi sistem transportasi pada makhluk hidup di kelas VIII
SMPN 9 Banda Aceh.
2. Penerapan model pembelajaran quantum learning dapat meningkatkan aktivitas
siswa pada materi sistem transportasi pada makhluk hidup di kelas VIII SMPN 9
Banda Aceh
1.6 Definisi Operasional
a. Model Pembelajaran

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual

yang melukiskan

prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk


untuk mencapai tujuan tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang
pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.
b. Quantum Learning
Quantum learning merupakan model pembelajaran yang dapat
mempertajam pemahaman dan daya ingat serta membuat belajar sebagai suatu
proses yang bermanfaat dan bermakna. Quantum Learning menggabungkan
sugestologi, teknik pemercepatan belajar dan neurologistik (NLP).
c. Gaya Belajar
Gaya belajar merupakan cara seseorang dalam menyerap dan mengolah
informasi. Secara umum, gaya belajar dibedakan menjadi tiga, yaitu a) gaya
belajar visual; 2). gaya belajar auditorial; dan 3). gaya belajar kinestetik.

BAB II LANDASAN TEORETIS

2.1 Pengertian Belajar dan Pembelajaran


Belajar secara umum diartikan sebagai perubahan pada individu yang terjadi
melalui pengalaman, dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan tubuhnya
atau karakteristik seseorang sejak lahir dan ada yang berpendapat sebelum lahir.
Bahwa antara belajar dan perkembangan sangat erat kaitannya (Trianto, 2009).
Lebih lanjut Slameto (2010) menjelaskan bahwa belajar adalah suatu proses
usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil penglamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.
Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau
tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni
mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan
pengubahan kelakuan (Hamalik, 2010).
Ruswandi (2013) mengatakan bahwa belajar menunjukkan beberapa
penjelasan, yaitu:
1. Belajar adalah perubahan perilaku dalam diri individu, artinya individu yang telah
belajar mengalami perubahan perilaku.
2. Perubahan perilau itu secara keseluruhan, artinya meliputi semua aspek yaitu
pengetahuan, sikap, dan keterampilan sehingga belajar itu disebut sudah lengkap.
3. Belajar merupakan suatu proses, artinya belajar merupakan aktivitas yang
berlangsung berkesinambungan atau terus menerus.
4. Proses belajar terjadi karena adanya dorongan dan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan. Selain itu, belajar terjadi karena ada tujuan yang ingin dicapai.
5. Belajar merupakan bentuk pengalaman. Artinya perubahan perilaku yang
diperoleh dari proses belajar pada dasarnya merupakan bentuk interaksi individu

dengan lingkungannya, sehingga banyak memberikan pengalaman yang berarti


dari situasi nyata.
Dalam pengertian secara luas, belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psikofisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit,
belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang
merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya
(Sardiman, 2010).
Secara umum, belajar boleh dikatakan juga sebagai suatu proses interaksi
antara diri manusia (id-ego-super ego) dengan lngkungannya, yang mungkin
berwujud pribadi, fakta, konsep, ataupun teori. Dalam hal ini terkandung suatu
maksud bahwa proses interaksi itu adalah:
1. Proses internalisasi dari sesuatu ke dalam diri yang belajar, dan
2. Dilakukan secara aktif, dan segenap panca indera ikut berperan ( Sadirman, 2010).
Pembelajaran merupakan kegiatan manusia yang kompleks, yang tidak
sepenuhnya dapat dijelaskan. Pembelajaran secara simpel dapat diartikan sebagai
produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. Dalam
makna yang lebih kompleks pembelajaran haikatnya adalah usaha sadar dari seorang
guru untuk membelajarkan siswanya (mengarah interaksi siswa dengan sumber
belajar lainnya) dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam makna ini jelas
terlihat bahwa pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan
peserta didik, dimana antara keduanya terjadi komunikasi yang intens dan terarah
menuju pada suatu target yang telah ditetaapkan sebelumnya (Trianto, 2009).
Proses pembelajaran terjadi melalui banyak cara baik disengaja maupun tidak
disengaja dan berlangsung sepanjang waktu dan menuju pada perubahan pada diri
pembelajar. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan perilaku tetap berupa
pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kebiasaan yang baru diperoleh

individu. Sedangkan pengalaman merupakan interaksi antara individu dengan


lingkungan sebagai sumber belajarnya. (Trianto, 2009). Dimyati (2002) berpendapat
bahwa proses pembelajaran akan lebih efektif apabila siswa lebih aktif berpartisipasi
dalam proses pembelajaran. Melalui partisipasi seorang siswa akan dapat memahami
pelajaran dari pengalamannya sehingga akan mempertinggi hasil belajar.
2.2 Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.
Dari sisi guru tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, dari sisi
siswa hasil belajar merupakan puncak proses belajar (Dimyati, 2002).
Sanjaya (2008) menyatakan bahwa hasil belajar berkaitan dengan pencapaian
dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan.
Dengan demikian, tugas utama guru dalam kegiatan ini adalah merancang instrumen
yang dapat mengumpulan data tentang keberhasilan siswa mencapai tujuan
pembelajaran. Lebih lanjut Sudjana (2000) membagi hasil belajar menjadi tiga ranah
yaitu, a) ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual, b) ranah afektif,
berkenaan dengan sikap, 3) ranah psikomotorik, berkenaan dengan keterampilan dan
kemampuan bertindak.
2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Manusia belajar melalui interaksi dengan lingkungannya yang sangat
dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar menurut
Ruswandi (2013) dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:
1. Faktor pribadi (Personal)
Faktor ini datangnya dari manusia itu sendiri, misalnya bawaan sejak lahir. Fatorfaktor pribadi ini antara lain intelegensi, kesehatan, bakat dan minat, serta
kemampuan lainnya.
2. Faktor lingkungan

Faktor ini datangnya dari lingkungan alam maupun dari orang lain (personal).
Faktor dari lingkungan alam misalnya alam (cuaca), gangguan (noise) seperti
suara bising atau berisik. Faktor dari luar personal lainnya seperti guru, orang tua,
dan suasana ruang kelas.
3. Faktor instrumental
Faktor ini sebagai pendukung yang berkaitan dengan peralatan yang tidak
termasuk pada faktor pribadi dan lingkungan. Faktor ini antara lain kesesuaian
antara perkembangan siswa dengan materi pelajaran, penggunaan alat peraga atau
media, dan sebagainya.
Faktor lain yang mempengaruhi belajar adalah situasi. Situasi adalah keadaan
seseorang pada saat melaukan suatu kegiatan. Situasi belajar adalah keadaan
seseorang yaitu siswa pada saat melakukan kegiatan belajar. Oleh karena itu, situasi
merupakan salah satu unsur penting dalam belajar. Komponen keadaan (situasi)
belajar diantaranya keadaan diri sendiri, keadaan belajar, proses belajar mengajar,
guru yang memberi pelajaran, teman di sekolah dan lingkungan, atau program belajar
yang ditempuh (Ruswandi, 2013).
2.4 Aktivitas Belajar
Aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan guru dan siswa
yang mendukung proses pembelajaraan guna mencapai tujuan pembelajaran
(Sudjana, 2001). Aktivitas adalah segala pengetahuan yang diperoleh melalui
pengamatan dan pengalaman sendiri. Aktivitas merupakan segala kegiatan yang
dilakukan baik fisik maupun psikis. Indikator aktivitas adalah adanya keinginan
siswa belajar dalam proses belajar mengajar. Selain itu, aktivitas pembelajaran juga
dapat diartikan sebagai kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar

mengajar misalnya bertanya, mengemukakan pendapat, mengerjakan tugas,


menjawab pertanyaan, bekerja sama, serta bertanggung jawab terhadap tugas yang
diberikan (Rohani, 2009).
Hamalik (2009) menyatakan bahwa aktivitas belajar berbanding lurus dengan
dampak hasil belajar. Pembelajaran berbasis masalah menekankan pada adanya
aktivitas guru dan siswa. Aktivitas dapat membantu siswa agar dapat belajar mandiri
dan kreatif sehingga dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan terbentuknya
sikap (Sanjaya, 2009).
2.5 Model Pembelajaran
Istilah model pembelajaran sering dimaknai sama dengan pendekatan
pembelajaran. Bahkan kadang suatu model pembelajaran diberi nama sama dengan
nama pendekatan pembelajaran. Sebenarnya model pembelajaran mempunyai makna
yang lebih luas daripada makna pendekatanm, strategi, metode dan teknik. Model
pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai
pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Arends (1997) menjelaskan
definisi model pembelajaran sebagai berikut.
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan dan suatu pola yang
digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau
pembelajaran dalam tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan
pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan
pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan
pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada
strategi, metode, atau prosedur. Model pengajaran mempunyai empat ciri khusus
yang tidak dimiliki oleh strategi, metode, atau prosedur. Ciri-ciri tersebut ilah:
1. Rasional teoritis logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya.
2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan
pembelajaran yang akan dicapai).

10

3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan
dengan berhasil, dan
4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai
(Kardi dan Nur, 2000)
2.6 Model Pembelajaran Quantum Learning
Quantum learning merupakan model pembelajaran yang dikembangkan oleh
Bobby DePorter dan Mike Hernacki yang mengedepankan pembelajaran yang
imajinatif dan tenik-teknik yang efektif dalam belajar. Guru hanya sebagai fasilitator,
sehingga guru harus memahami potensi siswa terlebih dahulu. Salah satu cara yang
dapat digunakan dalam hal ini adalah mengaitkan apa yang akan diajarkan dengan
peristiwa-peristiwa, pikiran atau perasaan, tindakan yang diperoleh siswa dalam
kehidupan baik di rumah, di sekolah, maupun dilingkungan keluarga.
Istilah Quantum berasal dari ilmu fisika yang berarti interaksi yang
mengubah energi menjadi cahaya. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur
untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. Interaksi-interaksi ini
mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan
bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi orang lain (DePorter, 2008).
Lebih lanjut DePorter (2008) menjelaskan bahwa asas utama Quantum
Learning adalah bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke
dunia mereka. Setiap bentuk interaksi dengan pembelajaran, setiap model
pembelajaran harus dibangun diatas asas ini. Asas ini memiliki maksud agar pengajar
membangun jembatan yang otentik memasuki kehidupan pelajar sebagai langkah
pertama.

11

DePorter (2008) menjelaskan bahwa quantum learning berakar dari upaya Dr.
Georgi Lozanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen
dengan apa yang disebutnya sebagai suggestology atau suggestopedia.
Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar,
dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif ataupun negatif. Beberapa teknik
yang digunakan untuk

memberikan sugesti positif adalah mendudukkan murid

secara nyaman, memasang musik latar di dalam kelas, meningkatkan partisipasi


individu, menggunakan poster-poster untuk memberi kesan besar sambil
menunjukkan informasi, dan menyediakan guru-guru yang terlatih baik dalam seni
pengajaran sugestif.
Quantum

learning

mencakup

aspek-aspek

penting

dalam

program

neurologistik (NLP), yaitu suatu penelitian tentang bagaimana otak mengatur


informasi. Para pendidik dengan pengetahuan NLP mengetahui bagaimana
menggunakan bahasa yang positif untuk meningkatan tindakan positif-faktor penting
untuk merangkang fungsi otak yang paling efektif. Semua ini dapat pula
menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang, dan
menciptakan pegangan di saat-saat keberhasilan yang meyakinkan (DePorter,2008).
Ada lima prinsip utama yang mendasari quantum learning yaitu:
1. Segalanya berbicara
Dalam quantum learning, segala sesuatu mulai lingkungan pembelajaran sampai
dengan bahasa tubuh pengajar, penataan ruang sampai sikap guru, mulai kertas
yang dibagikan pengajar sampai dengan rancangan pembelajaran, semua
mengirim pesan pembelajaran. Dalam hal ini, guru dituntut untuk merancang
segala aspek yang ada di lingkungan kelas sebagai sumber belajar bagi siswa.

12

2. Segalanya bertujuan
Dalam hal ini,setiap kegiatan belajar harus jelas tujuannya. Tujuan pembelajaran
ini harus dijelaskan kepada siswa.
3. Pengalaman sebelum memberi nama.
Otak manusia berkembang pesat dengan adanya rangsangan kompleks yang
menggerakkan rasa ingin tahu, oleh karena itu, proses belajar paling baik ketika
siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa
mereka mempelajari. Guru harus memberikan tugas (pengalaman/eksperimen)
terlebih dahulu. Dengan tugas tersebut akhirnya siswa mampu menyimpulkan
sendiri konsep, rumus, dan teori tersebut. Dalam hal ini, guru harus menciptakan
simulasi konsep agar siswa memperoleh pengalaman.
4. Akui setiap usaha
Dalam setiap proses pembelajaran siswa patut mendapatkan pengakuan atas
prestasi dan kepercayaan dirinya. Guru harus memberi penghargaan walaupun
usaha siswa salah, dan secara perlahan membetulan jawaban siswa yang salah.
Jangan sampai mematikan semangat siswa untuk belajar.
5. Jika layak dipelajari maka layak untuk dirayakan
Dalam hal ini, guru harus memiliki strategi untuk memberi umpan balik
(feedback) positif yang dapat mendorong semangat belajar siswa. Umpan balik
dapat diberikan baik secara kelompok maupun individu (Wena, 2009).

2.6.1 Kerangka Rancangan Quantum Learning


Pada dasarnya dalam pelaksanaan komponen rancangan pembelajaran
quantum learning dikenal dengan singkatan TANDUR yang merupakan
kepanjangan dari: Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan
(DePorter, 2010). Unsur-unsur tersebut membentuk basis struktural keseluruhan yang
melandasi pembelajaran kuantum.

13

Tabel 2.1 Keranga Pembelajaran quantum learning


N
o
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Rancangan

Penerapan dalam

Tumbuhkan

Tumbuhkan mengandung makna bahwa awal kegiatan


pembelajaran
pengajar
harus
berusaha
menumbuhkan/mengembangkan minat siswa untuk
belajar. Dengan tumbuhnya minat, siswa akan sadar
manfaat kegiatan pembelajaran bagi dirinya atau
kehidupannya.
Alami
Alami mengandung makna bahwa proses pembelajaran
akan lebih bermakna jika siswa mengalami langsung atau
nyata materi yang diajarkan. Demikian pula pengalamanpengalaman siswa sebelumnya akan bermakna bagi guru
dalam mengajarkan konsep-konsep yang berkaitan.
Namai
Namai mengandung makna bahwa penamaan adalah
saatnya untuk mengajarkan konsep, keterampilan berpikir,
dan strategi belajar. Penamaan mampu memuaskan hasrat
alami otak untuk identitas, mengurutkan, dan
mendefinisian.
Demonstrasika Demonstrasikan berarti bahwa memberi peluang kepada
siswa untuk menerjemahkan dan menerapkan pengetahuan
n
mereka ke dalam pembelajaran lain atau ke dalam
kehidupan mereka. Kegiatan ini akan dapat meningkatkan
hasil belajar siswa.
Ulangi
Ulangi berarti bahwa proses pengulangan dalam kegiatan
pembelajaran dapat memperkuat koneksi saraf dan
menumbuhkan rasa tau dan yakin terhadap kemampuan
siswa.
Pengulangan
harus
dilakukan
secara
multimodalitas, multikecerdasan.
Rayakan
Rayaan mengandung makna pemberian penghormatan
pada siswa atas usaha, ketekunan, dan kesuksesannya.
Dengan kata lain, perayaan berarti umpan balik positif
pada siswa atas keberhasilannya, baik berupa pujian,
pemberian hadiah, atau bentuk lainnya (Wena, 2009).
Ada delapan karakteristik keunggulan yang diyakini dalam pembelajaran

kuantum. DePorter (2010) menjelaskan karakteristik keunggulan yang dapat


diterapkan dalam pembelajaran melalui konsep quantum learning dengan cara:
1. Kekuatan AMBAK

14

AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku) adalah motivasi yang didapat dari pemilihan
secara mental antara manfaat dan akibat-akibat suatu keputusan motivasi sangat
diperlukan dalam belajar karena dengan adanya motivasi maka keinginan untuk
belajar akan selalu ada. Pada langkah ini, siswa akan diberi motivasi oleh guru
dengan memberi penjelasan tentang manfaat apa saja setelah mempelajari suatu
materi.
2. Penataan Lingkungan Belajar
Dalam proses belajar dan mengajar diperlukan penataan lingkungan yang dapat
membuat siswa merasa betah dalam belajarnya. Dengan penataan lingkungan
belajar yang tepat juga dapat mencegah kebosanan dalam diri siswa.
3. Memupuk Sikap Juara
Memupuk sikap juara perlu dilakukan untuk lebih memacu dalam belajar siswa,
seorang guru hendaknya tidak segan-segan untuk memberikan pujian kepada
siswa yang telah berhasil dalam belajarnya, tetapi jangan pula mencemooh siswa
yang belum mampu menguasai materi.
4. Bebaskan Gaya Belajarnya.
Ada berbagai macam gaya belajar yang dipunyai oleh siswa. Gaya belajar tersebut
yaitu: visual, auditorial, dan kinestetik. Dalam Quantum Learning, guru
hendaknya memberikan kebebasan dalam belajar pada siswanya dan jangan
terpaku pada satu gaya belajar saja.
5. Membiasakan Mencatat
Belajar akan benar-benar dipahami sebagai aktivitas kreasi ketika siswa tidak
hanya menerima, melainkan bisa mengungkapkan kembali apa yang didapatkan
menggunakan bahasa hidup dengan cara dan ungkapan sesuai gaya belajar siswa
itu sendiri.
6. Membiasakan Membaca

15

Salah satu aktivitas yang cukup penting adalah membaca, karena dengan
membaca akan menambah perbendaharaan kata, pemahaman, dan menambah
wawasan dan daya ingat akan bertambah.
7. Jadikan Anak Lebih Kreatif\
Siswa yang kreatif adalah siswa yang ingin tahu, suka mencoba, dan senang
bermain. Dengan adanya sikap kreatif yang baik maka siswa akan mampu
menghasilkan ide-ide yang segar dalam belajarnya.
8. Melatih Kekuatan Memori Anak
Kekuatan memori sangat diperlukan dalam belajar, sehingga siswa perlu dilatih
untuk mendapatkan kekuatan memori yang baik.
Dalam penerapan quantum learning lebih mengutamakan keaktifan peran
serta siswa dalam berinteraksi dengan situasi belajarnya melalui panca inderanya
baik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecapan
sehingga hasil penelitian quantum learning terletak pada modus berbuat yaitu
Katakan dan Lakukan.
2.5.2 Gaya Belajar Siswa
Gaya belajar adalah kunci untuk mengembangkan kinerja dalam pekerjaan,di
sekolah, dan dalam situasi-situasi antar pribadi. Ketika kita menyadari bagaimana
kita dan orang lain menyerap dan mengolah informasi, kita dapat menjadikan belajar
dan berkomuniasi lebih mudah dengan gaya kita sendiri (DePorter, 2008).
Semakin banyak indera yang digunakan, semakin kuat pula daya ingatnya.
Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda. Secara umum, gaya belajar dapat
dikelompokkan menjadi 3, yakni visual, auditorial, dan kinestetik.
1. Gaya Belajar Visual
Jensen (2010) menjelaskan bahwa siswa dengan gaya belajar visual biasanya
lebih menyukai input visual. Pada umumnya mereka mempertahankan kontak mata

16

dengan guru, postur mereka tegap, mereka menciptakan potret atau model mental,
mereka berbicara secara cepat dan monoton, mereka menyukai handout. Pembelajar
visual biasanya merupakan pengeja yang baik, lebih suka membaca daripada
dibacakan, menikmati penulisan, menyukai kerapian, terorganisir, dan kurang
terganggu oleh kebisingan
2. Gaya Belajar Auditorial
Untuk siswa dengan gaya belajar auditorial, Jensen (2010) mengatakan
bahwa mereka lebih suka masukan atau menjadi auditori. Mereka berbicara banyak,
mudah terganggu, dan mengingat langkah demi langkah dan prosedur demi prosedur.
Pembelajar auditori juga sering mendongakkan kepalanya dan memaksimalkan
tempo, nada suara, dan volume dalam pola bicara mereka. Mereka menginginkan
pertanyaan-pertanyaan tes yang disajikan secara berurut sesuai dengan yang
dipelajari.
3. Gaya Belajar Kinestetik
Jensen (2010) menjelaskan bahwa siswa dengan gaya belajar kinestetik lebih
menyukai masukan fisik. Mereka ingin belajar tentang sesuatu dengan menyentuh,
merasa, dan beraktivitas. Singkatnya, belajar dengan melakukan tugas lebih menarik
bagi mereka daripada membaca atau mendengar.
2.7 Kelebihan Model Pembelajaran Quantum Learning
Kelebihan dan kekurangan dalam suatu model pembelajaran pasti ada. Hal ini
berkaitan erat dengan bagaimana guru bersangkutan menerapkan pada suatu
pembelajaran nantinya. Suksesnya suatu model pembelajaran

yang diterapkan

tergantung pada pengelolaan ruang belajar (Darkasyi, 2011). Kelebihan dari model
pembelajaran quantum learning menurut Dona (2012) antara lain sebagai berikut:

17

1. Pembelajaran kuantum membiasakan siswa untuk melatih aktivitas kreatifnya


sehingga siswa dapat menciptakan suatu produk kreatif yang dapat bermanfaat
bagi diri dan lingkungannya. Contonya ketika dikelas guru terbiasa mengajari
siswa untuk selalu berfikir kreatif untuk menemukan hal yang baru.
2. Dalam pembelajaran kuantum, emosi sangat diperlukan untuk menciptakan
motivasi belajar yang tinggi. Motivasi yang tinggi dapat menambah kepercayaan
diri siswa, sehingga siswa tidak ragu dan malu serta mau mengembangkan
potensi-potensi yang ada.
3. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan
bermakna, bukan sekedar transaksi makna. Jadi guru bukan hanya menjelaskan
tetapi menanamkan dalam diri siswa.
4. Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran
dengan taraf keberhasilan tinggi. Contohnya penggunaan music klasik akan
merangsang percepatan daya tangkap siswa sehingga mudah dalam memahami
materi yang diberikan.
5. Pembelajaran kuantum sangat menentukan kealamiahan dan kewajaran proses
pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat. Contohnya
guru memberikan konsep-konsep dengan contoh yang nyata bukan khayalan.
6. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan ketrampilan
akademis, dan ketrampilan (dalam) hidup.
7. Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian
penting proses pembelajaran. Jadi seorang guru bukan hanya menyampaikan
materi tetapi juga menanamkan karakter yang harus dimiliki siswa.
8. Pembelajaran kuantum mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan
keseragaman

dan

ketertiban.

Jadi

siswa

diberikan

kebebasan

menyampaikan pendapat dan melakukan aktifitas yang diminatinya.


Kekurangan dari model quantum learning antara lain sebagai berikut.

18

untuk

1. Membutuhkan pengalaman yang nyata. Karena kuantum learning menuntut guru


untuk kreatif dan menjadikan kegitan belajar mengajar lebih menyenangkan
sehingga diperlukan pengalaman yang matang untuk dapat menciptakan situasi
yang diatas.
2. Waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan motivasi dalam belajar. Karena
kuantum learning menggunakan metode pemberian sugesti sehingga dibutuhkan
waktu yang lama untuk menumbuhkan karakter yang diharapkan.
3. Kesulitan mengidentifikasi ketrampilan siswa. Karena setiap siswa memiliki
ketrampilan yang berbeda-beda sehingga untuk mengidentifikasi ketrampilan
setiap siswa memerlukan proses yang tidak mudah yaitu dengan mengamati
perilaku dan minat setiap siswa.
4. Memerlukan dan menuntut keahlian dan ketrampilan guru. Karena kuantum
learning menuntut guru untuk kreatif dan menjadikan kegitan belajar mengajar
lebih menyenangkan sehingga diperlukan keahlian dan ketrampilan guru untuk
dapat menciptakan situasi yang diatas.
5. Memerlukan proses perancanaan dan persiapan pembelajaran yang cukup
matang dan terencana dengan cara yang lebih baik. Karena kuantum learning
harus bisa menjadikan kegiatan belajar menyenangkan sehingga persiapan yang
matang akan membantu terlaksananya kegiatan pembelajaran tersebut.
6. Adanya keterbatasan sumber belajar, alat belajar dan menuntut situasi dan
kondisi. Karena dengan keterbatasan sarana prasarana akan menghambat
terlaksananya kegiatan tersebut dan hasilnya kegiatan belajar mengajar akan
berjalan kurang efektif.

19

2.8 Materi Sistem Transportasi pada Makhluk Hidup


Di dalam tubuh makhluk hidup selalu terjadi sistem transportasi. Sistem
tranportasi ini terjadi melalui proses pengangkutan nutrisi, oksigen, karbondioksida,
dan sisa metasbolisme. Tumbuhan atau hewan memanfaatkan organ ataupun jarngan
yang terdapat pada tubuhnya untuk menjalankan sistem tranportasi ini.
2.8.1

Sistem Transportasi pada Tumbuhan


Jaringan yang berperan dalam proses transportasi tumbuhan adalah xilem dan

floem. Xilem berfungsi untuk mengangut air dan mineral dari tanah e daun
sedangkan floem berfungsi untuk mengangkut hasil metabolisme ke seluruh tubuh
tumbuhan. Xilem dan floem yang ada di akar bersambungan dengan xilem dan floem
pada seluruh bagian tubuh tumbuhan.
1. Transportasi Air dan Miineral
Pertama-tama, air diserap oleh rambut-rambut akar. Kemudian air dan
mineral akan masuk ke sel epidermis melalui proses osmosis. Selanjutnya, air dan
mineral akan melewati korteks. Dari kortes air kemudian melewati endodermis dan
periskel. Selanjutnya air masuk ke jaringan xilem yang berada di akar. Setelah tiba di
xilem akar air dan mineral bergerak ke xilem batang serta ke xilem daun.
Epidermis
korteks
endodermis
periskel
xilem
2. Transportasi hasil fotosintesis
Perjalanan zat-zat hasil fotosintesis dimulai dari tempat terjadinya fotosintesis
misalnya daun yakni daerah yang memiliki onsentrasi gula tinggi ke bagian tanaman
lain yang dituju yakni daerah yang memiliki konsentrasi gula rendah. Gambar 2.1
menunjukkan proses trnaspor nutrisi pada tumbuhan.

20

Sumber: (Kemendikbud 2013)


Gambar 2.1 : Transportasi Nutrisi pada Tumbuhan
2.8.2

Sistem Transportasi pada Manusia


Sistem transportasi pada tubuh manusia berfungsi untuk mengangkut nutrisi,

oksigen, karbondioksida serta sisa metabolisme. Proses ini berlangsung terus


menerus selama kehidupan manusia (Kemendikbud, 2013).
1. Darah
Darah tersusun atas plasma, sel darah merah, sel darah putih, dan kepingkeping darah. Kurang lebih 55% bagian dari darah adalah plasma.

Sumber: (Kemendikbud, 2013)


Gambar: 2.2 Komponen Darah
a. Sel darah merah (eritrosit)
Eritrosit berbentuk bulat pipih dengan bagian tengahnya cekung (bikonkaf).
Sel darah tidak memiliki inti sel. Eritrosit berfungsi untuk mengangkut oksigen dari
21

paru-paru ke sel-sel seluruh tubuh. Warna merah pada darah disebabkan adanya
hemoglobin (Hb) dalam sel darah merah. Hemoglobin merupakan suatu protein yang
mengandung unsur besi dan berfungsi mengikat oksigen dan membentuk
oksihemoglobin.
b. Sel Darah Putih (Leukosit)
Sel darah putih memiliki bentuk yang tidak tetap atau bersifat amuboid dan
mempunyai inti sel. Fungsi utama dari sel darah putih adalah melawan bibit penyakit
yang masuk ke tubuh dan membentuk antibodi. Setiap satu mililiter kubik darah
mengandung sekitar 8.000 sel darah putih.
Berdasarkan ada tidaknya butir-butir kasar (granula) dalam sitoplasma,
leukosit dapat dibedakan menjadi granulosit dan agranulosit. Leukosit jenis
granulosit terdiri atas eosinofil, basofil, dan neutrofil. Agranulosit terdiri atas limfosit
dan monosit. Karakteristik jenis-jenis sel darah putih dapat dilihat pada Tabel 2.2

22

Tabel 2.2 Karakteristik Jenis-Jenis Sel Darah Putih

Sumber: (Kemendikbud,2013)
c. Keping Darah (Trombosit)
Trombosit atau platelet berdiameter sekitar 2-3m dan tidak memiliki nukleus
(inti sel). Trombosit memiliki fungsi struktural maupun molekular dalam
penggumpalan darah (Campbell, 2010). Trombosit sangat berhubungan dengan
proses mengeringnya luka. Sesaat setelah terluka, trombosit akan pecah karena
bersentuhan dengan permukaan asar dari pembuluh darah yang terluka. Proses
penutupan luka dapat dilihat pada skema di Gambar 2.3 di bawah ini.

23

Sumber: (Kemendikbud, 2013)


Gambar 2.3 Mekanisme Pembekuan Darah (Penutupan Luka)
d. Plasma Darah
Plasma darah merupakan cairan darah yang sebagian besar terdiri atas air
(92%). Selain itu, plasma darah juga terdapat garam-garam organik dan proteinprotein plasma yang terdiri atas albumin, fibrinogen, dan globulin (Campbell, 2010).
Kemendikbud (2013) juga menjelaskan bahwa terdapat zat-zat lain yang terlarut
dalam plasma darah adalah sari makanan, hormon, anitbodi, dan zat sisa
metabolisme (urea dan karbondioksida).
2. Fungsi Darah
Fungsi darah menurut kemendikbud (2013) antara lain sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.

Menjaga kestabilan suhu tubuh


Berfungsi sebagai sistem kekebalan tubuh
Alat transportasi nutrisi dan sisa metabolisme
Alat transportasi oksigen.

3. Organ Peredaran Darah


Organ yang berperan dalam sistem peredaran darah manusia adalah sebagai
berikut.
a. Jantung

24

Jantung manusia adalah sebuah struktur berkamar empat yang terletak di


dada. Bagian jantung yang amat berotot terdiri atas ventrikel (bilik) kiri dan bilik
kanan, atrium (serambi) kiri dan serambi kanan (Fried, 2005). Seperti pompa,
jantung berfungsi memompa darah, sehingga darah dapat diedarkan ke seluruh
tubuh. Besar jantung manusia adalah sekepalan tangan (kemendikbud, 2013).
Bagian-bagian jantung ditunjukkan oleh Gambar 2.4.

Sumber: (Campbell, 2010)


Gambar 2.4 Bagian-Bagian Jantung
b. Pembuluh Darah
Campbell (2010) menjelaskan bahwa arteri, vena, dan kapiler adalah tiga tipe
utama pembuluh darah. Arteri membawa darah meninggalkan jantung ke organorgan di seluruh tubuh. Di dalam organ-organ, arteri bercabang-cabang menjadi
arteriola, pembuluh darah kecil yang mengangkut darah ke kapiler-kapiler. Kapiler
adalah pembvuluh darah mikroskopik yang menembus setiap jaringan dan melewati
setiap sel tubuh. Pada ujung hilir kapiler bertemu dengan venula, dan venula-venula
bergabung menjadi vena. Vena merupakan pembuluh darah yang membawa darah

25

kembali ke jantung. Perbedaan antara pembuluh arteri dan vena ditunjukkan pada
Tabel 2.3
Tabel 2.3 Perbedaan Pembuluh Arteri dan Vena
Pembuluh Nadi
Pembeda
Pembuluh Balik (Vena)
(Arteri)
Tempat
Agak tersembunyi di Deat dengan permukaan
dalam tubuh
tubuh, tampak kebirubiruan
Dinding pembuluh
Tebal, kuat, elastis
Tipis dan tidak elastis
Aliran darah
Meninggalkan
Menuju jantung
jantung
Denyut
Terasa
Tidak terasa
Katup
Satu pada pangkal
Banya di sepanjang
jantung
pembuluh
Darah yang keluar Darah memancar
Darah tidak memancar
dari pembuluh
c. Proses Peredaran Darah Pada Manusia
Peredaran darah manusia termasuk peredaran darah tertutup karena darah
selalu beredar di dalam pembuluh dara. Setiap beredar, darah melewati jantung dua
kali sehingga disebut peredaran darah ganda. Peredaran darah ganda tersebut dikenal
dengan peredaran darah kecil dan peredaran darah besar (Kemendikbud, 2013).
Peredaran darah besar dan kecil dapat dilihat pada Gambar 2.5.
1. Peredaran darah kecil
Peredaran darah kecil merupakan peredaran darah yang dimulai dari jantung
menuju paru-paru kemudian kembali lagi ke jantung.
Arteri
Pulmonalis
Jantung
(Bilik Kanan)

Vena
Pulmonalis
Paru-paru

Jantung
(Serambi Kiri)

2. Peredaran darah besar


Peredaran darah besar adalah peredaran darah dari jantung ke seluruh tubuh
kemudian kembali ke jantung lagi.

26

Aorta
Jantung
(Bilik Kiri)

Vena Cava
Seluruh Tubuh

Jantung
(Serambi Kanan)

Sumber: (Campbell, 2010)


Gambar 2.5 Peredaran Darah Besar dan Kecil
d. Gangguan pada Sistem Peredaran Darah
Ada beberapa gangguan dalam sistem peredaran darah manusia, antara lain
sebagai berikut.
1. Serangan jantung
Serangan jantung terjadi jika arteri koronaria yang terdapat pada jantung tidak
dapat menyuplai darah yang cukup ke sel-sel jantung. Arteri koronaria merupakan
pembuluh darah yang menyuplai darah beroksigen dan bernutrisi ke sel-sel otot
jantung. Kondisi ini dapat terjadi arena arteri koronaria tersumbat oleh lemak atau
kolesterol.
2. Stroke

27

Stroke merupakan suatu penyakit yang terjadi karena matinya jaringan di otak
yang disebabkan karea\na kurangnya asupan oksigen di otak. Hal ini terjadi jika
pembuluh darah pada otak tersumbat atau salah satu pembuluh darah di otak pecah.

28

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan dan jenis Penelitian


Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen, dengan
desain Pretes-Postes Control Group. Penelitian ini dilaksanakan pada dua kelas,
yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Proses pembelajaran di kelas kontrol
dilakukan dengan ceramah dan diskusi, sedangkan di kelas eksperimen dilakukan
proses pembelajaran dengan model quantum learning.
Tabel 3.1 Desain Pretes-postes grup kontrol (Pretes-Postes Control Group)
Grup
Pretes
Eksperimen
Y1
Kontrol
Y1
(Sumber: Sukardi, 2013)

Ubahan terikat
X
-

Postes
Y2
Y2

Keterangan:
Y1 = diberikan pretes
Y2 = diberikan postes
X = diberikan perlakuan
- = tidak diberikan perlakuan
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 9 Banda Aceh. Pengambilan data
dilakukan pada bulan Januari 2016.

3.3 Populasi dan Sampel


Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMPN 9 Banda
Aceh yang berjumlah 92 siswa dan terdiri dari 3 kelas. Untuk menentukan sampel
penelitian, terlebih dahulu diberikan pretes kepada seluruh siswa kelas VIII. Setelah
didapatkan hasil pretes, dipilih dua kelas yang akan dijadikan sebagai kelas

29

ekperimen dan kelas kontrol. Penentuan kelas sampel dilakukan dengan teknik
purposive sampling karena harus mempertimbangkan hasil pretes yang relatif sama.
3.4 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:
1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disusun sebelum melakukan
penelitian di sekolah. RPP disusun untuk dua kali pertemuan untuk pokok bahasan
Perubahan Benda-Benda di Sekitar Kita. Penyusunan RPP dilakukan agar proses
pembelajaran lebih terarah dan dapat memenuhi tujuan pembelajaran.
2. LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik)
Penyusunan LKPD juga dilakukan sebelum penelitian dilakukan. LKPD
diberikan kepada siswa selama pembelajaran berlangsung. LKPD ini berisi
pertanyaan-pertanyaan yang akan di diskusikan dalam kelompok belajar.
3. Lembar Observasi
Lembar observasi disusun untuk mendapatkan data aktivitas siswa selama
pembelajaran berlangsung. Penilaian aktivitas siswa dilakukan oleh peneliti
menggunakan lembar observasi berupa kolom check list dan dianalisis dengan
menggunakan rumus : Nilai aktivitas belajar siswa = (skor yang diperoleh) / (skor
maksimal) x 100%
P=

f
x 100
N

Keterangan:
P = Persentase nilai aktivitas belajar siswa
f = frekuensi aktivitas siswa
N = Jumlah skor maksimal (Sudijono, 2003)
Pengolahan data hasil observasi aktivitas

diolah

dengan

cara

mengkonversikan data tersebut menjadi bentuk persentase (%). Selanjutnya skor


persentase disesuaikan dengan indeks kategori aktivitas yang dapat dilihat pada tabel
3.1 Kriteria aktivitas belajar siswa dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Tabel 3.1 Parameter skala aktivitas siswa

30

No
1
2
3
4
5

Persentase rata-rata
81% atau lebih
61%-80%
41%-60%
21%-40%
0%-20%

Kategori
Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
Kurang baik
(Arikunto, 2006)

4. Perangkat Tes
Dalam penelitian ini, tes diberikan kepada siswa dalam bentuk pretes dan
postes untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa. Soal untuk pretes dan
postes diberikan sebanyak 40 item tes dalam bentuk pilihan ganda (multiple choice).
Untuk mengetahui kualitas item tes yang diberikan kepada siswa, perlu dilakukan uji
validitas, uji reliabilitas, uji taraf kesukaran, dan uji daya pembeda terhadap item tes
tersebut.
a. Uji Validitas
Sudijono (2003) menjelaskan dimaksud dengan validitas item dari suatu tes
adalah ketepatan mengukur yang dimiliki oleh sebutir item (yang merupakan bagian
tak terpisahkan dari tes sebagai suatu totalitas), dalam mengukur apa yang
seharusnya diukur lewat butir item tersebut. Untuk mengetahui valid atau tidaknya
suatu item tes, digunakan rumus:

rpbi =

M p M
SD t

p
q

Keterangan:
rpbi
= koefisien korelasi biserial
Mp
= Skor rata-rata hitung siswa yang menjawab benar item tes
yang sedang diuji
Mt
= skor rata-rata dari skor total
SDt
= Deviasi standar dari skor total
p
= proporsi jawaban benar terhadap butir item yang sedang diuji
q
= proporsi jawaban salah terhadap item tes yang sedang diuji
Untuk mengetahui validitas item tes, hasil perhitungan rpbi dibanding dengan
rtabel korelasi biserial dengan taraf signifikansi 5% ( = 0,05). Taraf signifikansi 5%
pada rtabel adalah 0,444.
Jika rpbi rtabel maka butir item dinyatakan valid.
31

Jika rpbi < rtabel maka butir item dinyatakan tidak valid (Sudijono, 2003).
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas suatu tes adalah taraf sampai dimana suatu tes mampu
menunjukan konsistensi hasil pengukurannya yang diperlibatkan dalam taraf
ketepatan dan ketelitian hasil. Suatu tes yang realibel akan menunjukkan ketepatan
dan ketelitian hasil dalam satu atau berbagai pengukuran. Untuk mengetahui taraf
reliabilitas suatu tes dapat digunakan metode Kuder-Richardson ke 21 (K-R 21).
Rumus K-R 21 digunaan karena menggunakan item tes yang menggunakan pilihan
ganda empat alternatif jawaban. Rumus K-R 21 dapat dituliskan sebagai berikut.
2
n S t M t (nM t )
rtt =
(n1)S 2t

Keterangan:
rtt = koefisien reliabititas
n = jumlah item
S = deviasi standar
M = mean (Masidjo, 1995)
Kriteria reabilitas tes dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Jika rtt = 0,91 sampai 1,00 maka reliabilitas butir soal tergolong sangat tinggi
Jika rtt = 0,71 sampai 0,90 maka reliabilitas butir soal tergolong tinggi
Jika rtt = 0,41 sampai 0,70 maka reliabilitas butir soal tergolong cukup
Jika rtt = 0,21 sampai 0,40 maka reliabilitas butir soal tergolong rendah
Jika rtt = negatif sampai 0,20 maka reliabilitas butir soal tergolong sangat
rendah

c. Uji Taraf Kesukaran


Bermutu atau tidaknya butir-butir tes hasil belajar pertama-tama dapat
dilakukan dari derajat kesukaran atau taraf kesulitan yang dimiliki oleh masingmasing butir item. Butir-butir item tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai butirbutir item yang baik apabila butir-butir item tersebut tidak terlalu sukar dan tidak
terlalu mudah (Sudijono, 2003: 370).
Rumus untuk mencari taraf kesukaran item tes adalah:
B
P = JS

32

Keterangan:
P = Taraf kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab butir soal dengan benar
JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes
Taraf kesukaran butir soal sering diklasifikasikan sebagai berikut:
Jika P= 0,00 sampai 0,30 maka butir soal tergolong sukar.
Jika P= 0,31 sampai 0,70 maka butir soal tergolong sedang.
Jika P= 0,71 sampai 1.00 maka butir soal tergolong mudah (Arikunto, 2012).
d. Uji Daya Pembeda
Uji daya pembeda dilaukan untuk membedakan antara siswa yang
berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Angka yang
menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminan. Rumus untuk
menentukan indeks diskriminasi adalah:
D=

B A BB

JA JB

Keterangan:
D = Indeks diskriminan
JA = banyaknya siswa kelompok atas
JB = banyaknya siswa kelompok bawah
BA = jumlah siswa kelompok atas yang menjawab butir soal dengan benar
BB = jumlah siswa kelompok bawah yang menjawab butir soal dengan benar
Indeks diskriminan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Jika D = 0.00 sampai 0,20 maka butir soal tergolong jelek
Jika D = 0,21 sampai 0,40 maka butir soal tergolong cukup
Jika D = 0,41 sampai 0,70 maka butir soal tergolong baik
Jika D = 0,71 sampai 1,00 maka butir soal tergolong baik sekali (Arikunto, 2012).

3.5 Teknik Pengumpulan Data


Dalam memperoleh data hasil belajar siswa, peneliti memberikan pretes kepada
seluruh siswa kelas VII. Pemberian pretes dilakukan untuk mengetahui pengetahuan
awal siswa tentang materi sistem transportasi pada makhluk hidup.
Setelah memberikan pretes, peneliti membentuk kelas eksperimen dan kelas
kotrol dan melakukan kegiatan belajar mengajar di kedua kelas tersebut. Proses
pembelajaran dilakukan selama tiga kali pertemuan, baik di kelas eksperimen
maupun di kelas kontrol. Di kelas eksperimen, peneliti menerapkan model quantum
learning. Rencana pelaksanaan pembelajaran disusun dengan menerapkan ketiga
33

gaya belajar tersebut kepada siswa. Sedangkan pada kelas kontrol, peneliti
melakukan proses pembelajaran secara konvensional. Di akhir pertemuan, para siswa
diberikan postes untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada materi .
3.6 Tenik Analisis Data
Untuk melihat ada tidaknya perbedaan hasil belajar di kelas esperimen dan
kelas kontrol dilakukan dengan uji hipotesis (uji-t). Sebelum dilakukan uji hipotesis,
terlebih dahulu dilakukan pengujian prasyarat analisis data, yaitu uji normalitas dan
uji homogenistas.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah data berdistribusi normal. Uji
normalitas menggunakan rumus sebagai berikut:
OiEi 2

2 =
k

i=1

Keterangan:
2 = statistik Chi-Square
Oi = Frekuensi pengamatan
Ei = frekuensi yang diharapkan (Sudjana, 2005).

2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas antara elas kontrol dan kelas eksperimen dilakukan untuk
mengetahui kesamaan antara dua populasi yang diteliti. Uji homogenitas dilakukan
dengan menggunakan rumus uji Fisher, yaitu:
Varian terbesar
F = Varian terkecil
(Sudjana, 2005)
Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas, maka dilakukan uji
hipotesis (uji-t). Uji-t digunakan untuk menguji kebenaran antara dua Mean sampel

34

yang diambil secara random dari populasi yang sama. Rumus uji-t menurut Arikunto
(2002) adalah sebagai berikut:

x 2 + y 2

t=

N x + N y 2

1
1
+
Nx Ny
( )

M x M y

Keterangan:
M = Nilai rata-rata hasil perkelompok
N = Banyaknya subjek
X = Deviasi setiap nilai X2 dan X1
Y = Deviasi setiap nilai Y2 dari Mean Y1
T = Harga thitung.
Pengujian hipotesis dilakukan pada tahap signifikansi 5% ( = 0,05) dengan
ketentuan sebagai berikut:
Jika t-hitung < t-tabel, maka hipotesis alternatif (Ha) ditolak
Jika t-hitung t-tabel, maka hipotesis alternatif (Ha) diterima.

35

DAFTAR PUSTAKA
Adityarini, Y. dkk. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Quantum Learning dengan
Media Flashcard untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa
Kelas X di SMA Negeri 1 Purwoharjo-Banyuwangi Tahun Pelajaran
2011/2012 (Pada Pokok Bahasan Animalia). Jurnal Pancaran. Volume 2(2):
189-199.
Arends, R. 1997. Classroom Instructional Management. New York: The Mc Grawhill Company.
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian. Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta.
________. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Deporter, B dan Mike Hernacki. 2008. Quantum Learning. Membiasakan Belajar
nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Penerbit Kaifa.
DePorter, B. Mark Reardon., Sarah Singer-Nouri. 2010. Quantum Teaching.
Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Bandung: Penerbit
Kaifa.
Ebi, F. 2013. Model Pembelajaran Visual Auditory dan Kinesthetic. Tersedia di:
(http://www.febitia.blogspot.com/2013/07/model-pembelajaran-visualauditory,and-12.html, diakses 5 September 2015).
Darkasyi, M. 2013. Peningkatan Komunikasi Matematis dan Motiasi Siswa dengan
Pembelajaran Pendekatan Quantum Learning paada Siswa SMPN 5
Lhokseumawe. Skripsi (tidak diterbitkan). Banda Aceh: Unsyiah.
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik, O. 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Jensen, E. 2010. Guru Super dan Super Teaching. Jakarta: PT. Indeks.
Kardi, S. Dan Nur, M. 2000. Pengajaran Langsung. Surabaya: University Press.
Kemendikbud. 2013. Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta:
Kemendikbud.
Margowati, D. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Kolaboratif Disertai Stategi
Quantum Learning dalam Meningkatkann Hasil Belajar Biologi. Skripsi
(Publikasi). Jurusan Pendidian Biologi, Universitas Sebelas Maret.
Masidjo. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa. Yogyakarta: Kanisius.

36

Nurel, D. 2013. Model Pembelajaran VAK. Tersedia di:


(http://www.dewinurel30.blogspot.co.id/2013/03/model-pembelajaran
-vak.html, diakses 5 September 2015).
Putra, M. S. D. dkk. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Quantum Learning Tipe
Kinestetik untuk Meningkatkan Hasil Belajar Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 2 Singaraja Tahun
Pelajaran 2012/2013. Jurnal Karmapati. Volume 2(5): 601-607.
Rifanto, R. 2010. Quantum Learning at Home. 3 Menit Membuat Aba Keranjingan
Belajar. Jakarta: Gramedia.
Ruswandi. 2013. Psikologi Pembelajaran. Bandung: Cipta Pesona Sejahtera.
Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran Standar Proses Pendidikan. Jakarta:
Kencana.
Sardiman, A. M. 2010. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Grafindo
Persada.
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rinea Cipta.
Sudijono, A. 2003. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakart: Grafindo Persada.
Sudjana, N., dan Ibrahim. 2000. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung:
Sinar Baru Algesindo.
______, N. 2005. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.
Sukardi. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi
Angkasa.
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif dan Progresif. Jakarta:
Kencana Prenada Media.
Wena, M. 2009. Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.

37