Anda di halaman 1dari 9

Latar Belakang

Adanya Undang-undang tentang CSR. UU 40 tahun


2007.
Pasal 74 :
(1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan
dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai
biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan
dan kewajaran.
(3) Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban dikenai sanksi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan

Undang- Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan


Lingkungan Hidup (UUPLH)

Pasal 41 ayat (1) yang menyatakan: Barangsiapa yang melawan hukum dengan sengaja
melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup,
diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan denda paling banyak lima ratus
juta rupiah.
Pasal 42 ayat (1) menyatakan: Barangsiapa yang karena kealpaannya melakukan perbuatan yang
mengakibatkan pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup, diancam dengan pidana
penjara paling lama tiga tahun dan denda paling banyak seratus juta rupiah

Menurut Jones (1980) CSR didefinisikan sebagai gagasan bahwa


perusahaan memiliki kewajiban untuk kelompok konstituen dalam
masyarakat selain pemegang saham dan yang selain ditentukan hukum
atau kontrak serikat, menunjukkan bahwa hal ini lebih sekadar tentang
kepemilikan.
McWilliams and Siegel (2001) Tindakan yang muncul untuk melebihi
kebaikan sosial, di luar kepentingan perusahaan dan apa yang
diperlukan oleh hukum

Pada Zaman sekarang dimana praktik akuntansi sudah sangat maju, transparan, dan banyak sekali
aturan. CSR bukan lagi dianggap sebagai biaya yang mengurangi profit perusahaan
Hal ini bisa diamati juga bahwa sekitar 90% dari perusahaan yang dikategorikan sebagai fortune 500
mengungkapkan inisiatif CSR mereka menurut Kotler & Lee (2004) dan Lichtenstein, Drumwright,
dan Bridgette (2004) dalam Luo dan Bhattacharya (2006)
Menurut Studi Kiesling, Isaksson, dan Yasar (2015) perusahaan yang fokus pada customer dan
melakukan CSR memiliki performa yang lebih baik. Perusahaan yang memiliki fokus pada customer
akan fokus pada apa yang pelanggan butuhkan, dan CSR membantu meningkatkan reputasi
perusaaahn, dan mengembangkan hubungan dengan pelanggan. CSR juga memiliki hubungan yang
signifikan dengan market orientation kepada performance, perusahaan yang memiliki market
orientation , dengan CSR dapat membuat competitive advantage untuk produknya

Rumusan Masalah
Bekembangnya isu-isu berkelanjutan menambah hal-hal
berbau kepedulian, kesejahteraan lingukungan menjadi isu
yang dipandang, customer, investor, dan stakeholder lainnya.
Semakin banyak atau bagus CSR yang dilakukan, maka
kemungkinan semakin baik citra perusahaan tersebut. Investor
menyukai perusahaan yang memiliki citra yang baik
Menurut Bowman & Haire (1976) dan Preston (1978) dalam
Hackston & Milne (1996), semakin profitabilitas perusahaan,
semakin banyak informasi sosial yang mereka ungkapkan

Problem statement :

1. Apakah tanggung jawab sosial memengaruhi nilai


perusahaan yang diwakili oleh harga saham?
2.

Apakah Corporate Social Responsibility berpengaruh

pada kinerja perusahaan yang dilihat dari profit perusahaan?

Landasan teori
Definisi CSR
McWilliams and Siegel (2001) Tindakan yang muncul untuk melebihi kebaikan sosial, di luar
kepentingan perusahaan dan apa yang diperlukan oleh hukum
Pengungkapan CSR
Menurut Porter & Krammer (2006) CSR bukan lagi menjadi biaya atau hambatan, melainkan
CSR menghasilkan peluang, inovasi, dan competitive advantage.
Menurut Servaes & Tamayo ( 2013) Aktivitas CSR dapat meningkatkan nilai perusahaan
dengan peningkatan public awareness pada perusahaan yang besar. Jika perusahaan melakukan
aktivitas CSR namun tidak terlalu memberitakannya, manajemen harus memikirkan lagi effort
mereka untuk CSR itu atau menemukan cara untuk mendapat benefit lebih dari CSR itu.

Profitabilitas
Profitabilitas adalah tujuan utama dari semua usaha bisnis. Tanpa profitabilitas bisnis
tidak akan bertahan dalam jangka panjang. Jadi mengukur profitabilitas saat ini dan masa
lalu dan memproyeksikan profitabilitas masa depan sangat penting.
Profitabilitas diukur dengan pendapatan dan pengeluaran. Penghasilan adalah uang yang
dihasilkan dari kegiatan bisnis. Namun, uang yang masuk ke dalam bisnis dari kegiatan
seperti meminjam uang tidak menciptakan pendapatan.
Stakeholder Theory
Teori stakeholder, menurut Freeman (1984); dan Golob dan Bartlett (2007) juga
menunjukkan bahwa ada berbagai kelompok di lingkungan sosial yang organisasi dapat
mempengaruhi, dan bahwa kelompok-kelompok ini memiliki klaim yang sah pada
organisasi karena teori agensi dan teori properti