Anda di halaman 1dari 9

DAFTAR ISI

Pendahuluan

Tympanoplasty

Macam tympanoplasty

Myringoplasty

Tympanoplasty II,III,IV,V

Membran tymphani

Teknik tympanoplasty

Pendahuluan

Transcanal approach

Endaural approach

Retroauricular approach

Overlay technique (lateral teknik)

Underlay technique (medial teknik)

Teknik medio lateral

Material graft

Penatalaksanaan dengan operasi untuk memperbaiki gendang telinga akibat berbagai sebab
perforasi gendang telinga sangat dibutuhkan. Tidak sedikit pasien dengan perforasi membran
timpani sulit untuk disembuhkan hanya dengan terapi konsumsi obat-obatan. Comorbiditas yang
ada mempengaruhi suksesnya pengobatan.
Banyak kasus seperti infeksi pada telinga tengah yang menyebabkan Otitis Media. Dari sini
perkembangan bertambah buruk apabila diagnosis dini dan penatalaksanaan yang adekuat tidak
sepenuhnya dilakukan atau diketahui. Akibatnya Otitis Media menimbulkan perforasi pada
stadiumnya yang menimbulkan perforasi pada membran timphani. Faktor virulensi, dan kekebalan
tubuh merupakan faktor penting dalam kesembuhan.
Oleh sebab itu teknik dan cara dengan operasi perlu dilakukan untuk memperbaiki keadaan
gendang telinga yang perforasi.
Tympanoplasty
Tympanoplasty merupakan teknik surgical untuk memperbaiki defect pada membran
timphany dengan penempatan dengan graft pada membran tymphani yang perforasi, tergantung
medial atau lateral terhadap annulus membrane. Tujuan tindakan ini tidak hanya menutupi membran
yang perforasi tapi juga meningkatkan pendengaran.
Kesuksesan tindakan ini tergantung apakah terdapat gejala lain seperti kolestetaom dan
jaringan granulasi contohnya pada telinga tengah, dan eradikasi penyakit di telinga tengah
memberikan kesuksesan dari tindakan tympanoplasty.
Banyak teknik atau cara untuk tympanoplasty dan teknik graft dapat dikerjakan oleh
spesialis THT. Yang paling penting terhadap suksesnya operasi adalah hemostasis yang baik,
rencana tindakan yang akan dilakukan dengan penempatan dari graft.1
Macam-macam tympanoplasty
Miringoplasty
Operasi ini merupakan jenis tympanoplasti yang paling ringan, dikenal juga dengan nama
timpanoplasti I. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membran tymphani.
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang sudah tenang dengan ketulian ringan
yang hanya disebabkan oleh perforasi membran tymphani. Tympanoplasti idealnya dilakukan
apabila OMSK tipe tenang namun perforasi masih ada setelah diobservasi selama 2 bulan atau
lebih.2
Tujuan operasi ini ialah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah pada OMSK
tipe aman dengan perforasi yang menetap.2

Kondisi berikut ini apabila ditemukan merupakan indikasi myringoplasty, diantaranya :


1. Perforasi central yang relative kecil pada membran tymphani setelah pemasangan tube
extrusion atau perforasi traumatic
2. Membran tympani translucent.1&3
Selain itu indikasi dan keaddan ini diperlukan untuk dilakukan tympanoplasti :
1. Penderita dengan tuli konduksi karena perforasi membran timpani atau disfungsi osikular
2. Otitis media kronik atau rekuren sekunder terhadap kontaminasi
3. Tuli konduktif progressif karena patologi telinga tengah
4. Perforasi atau tuli persisten lebih dari 3 bulan karena trauma, infeksi atau pembedahan
5. Ketidakmampuan untuk mandi atau berpatisipasi dalam olahraga air dengan aman.1&3
Sedangkan syarat dilakukannya timpanoplasti adalah :
1. Perforasi terjadi di central dimana keadaan telinga tengah sudah kering paling tidak 6 minggu.
2. Mukosa telinga tengah normal.
3. Osikular yang utuh
4. Keadaan koklea.3
Tympanoplasti
Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe aman dengan kerusakan yang lebih berat atau
OMSK tipe aman yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi
ialah untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran.2
Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timphani sering kali harus dilakukan juga
rekonstruksi tulang pendengaran. Berdasarkan bentuk rekonstruksi tulang pendengaran yang
dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II, III, dan IV. Gambar 1
Sebelum rekonstruksi dikerjakan lebih dahulu dilakukan eksplorasi kavum timpani dengan
atau tanpa mastoidektomi, untuk membersihkan jaringan patologis. Tidak jarang pula operasi ini
terpaksa dilakukan dua tahap dengan jarak waktu 6 s/d 12 bulan.
Selain itu clinician harus mempertibangkan lokasi dari perforasi (marginal versus central)
and size (total or subtotal). Kemudian kita harus mengetehui atau menandai adanya area
myringosclerosis dan tympanosclerosis. Comorbiditi yang ada penting dicaat mencakup kelainan
craniofacial dan allergi atau rhinitis allergic chronic. Factor critical yang membuta tympanoplasty
kurang berhasil adalah adanya otitis media adhesive, disfungsi tuba eustachia berat dengan perforasi
contralateral telinga atau otthorea intermittent, cholesteatoma, dan perbaikan surgery sebelumnya.
Tipe II, tympanoplasti digunakan untuk perforasi membran timpani dengan erosi maleus. Ini
melibatkan pencangkokan pada inkus atau sisa-sisa maleus tersebut.

Tipe III, timpanoplasti diindikasikan untuk hancurnya dua ossicles, dengan stapes masih utuh dan
mobile. Ini melibatkan penempatan cangkokan ke stapes, dan menyediakan perlindungan untuk
perakitan. (juga dikenal myringostapediopexy)
Tipe IV, timpanoplasti digunakan untuk penghancuran tulang pendengaran, yang mencakup semua
atau bagian dari lengkungan stapes. Ini melibatkan penempatan cangkokan pada atau sekitar kaki
stapes mobile.
Tipe V timpanoplasti digunakan kaki dari stapes menetap.
Tidak ada konsensus yang menyatakn usia optimal dilakukan tympanoplasty. Paparella
menyatakan bahwa tympanoplasty bisa dilakukan pada anak dalam berbagai usia, tapi sheehy dan
anderson tidak merekomendasi grafting membran tymphani pada anak lebih muda dari 7 tahun
karena berpotensi timbulnya otitis media post operative. Sekarang ini, pendapat sheehy dan
anderson lebih diterima dan secara umum timpanoplasti lebih jarang dilakukan di bawah usia lima
tahun. Hal ini karena tingginya insiden infeksi telinga pada kelompok umur yang belum lagi
mencapai fungsi tuba eustachius yang memadai ini.4

Gamb
a

r 1. A.
Tipe I

cangkokan bersandar pada maleus. B. Tipe II - Cangkokan bersandar pada inkus, C. Tipe III cangkokan menempel pada kaput stapes. D. Tipe IV - cangkokan menempel pada basis stapes. E.
Tipe Va - fenestrasi pada kanalis semisirkuaris lateralis (panah). F. Tipe Vb - stapedektomi (panah).
Terdapat berbagai teknik timpanoplasti yang berbeda termasuk pencangkokan (kulit, fasia,
membrana timpani homolog) dan rekonstruksi (osikula homolog, kartilago dan materi aloplastik).
Technical consideration
Membrane tymphani
Pemahamn anatomic membrane sangat penting untuk kesuksesan perbaikan operasi. Teknik
tympanoplasti mewajibkan untuk memahami lapisan dari membran. Membran tymphanic terdiri
dari 3 lapisan
Lateral epithelial layer
Middle fibrous layer
Medial mucosal layer
Lapisan luar ephitellium terdiri dari epithelium stratified squamous, yang berlanjut dengan
kulit canalis external. Daerah ini sangat penting karena pertumbuhan bagian epithel ini berjalan
ketempat perforasi bisa mengakibatkan kista epitelial disebut acquired cholesteatoma. Jika tidak
diobati, kista ini melepaskan enzyme destructive yang bisa melebarkan ukuran perforasi dan bisa
menyebabkan erosi ossicular. Technique grafting lateral membutuhkan lapisan epitel menyeluruh
dipisahkan dari selaput yang rusak sebelum penempatan graft sehingga mencegah pembentukan
cholesteatom iatrogenik.
Lapisan fibrous medial terdiri dari jaringan ikat yang terdiri dari bagian luar serat radial dan
bagian dalam serat circular. Serat ini memberikan kekuatan pada gendan gtelinga. Perforasi yang
sembuh biasanya tidak sempurna menutup pada lapisan fibrous medial. Lapisan epitel dan endothel
beregenerasi membentuk dimeric membran. Regenarasi membran ini dapat terlihat pada
microscope.
Lapisan dalam dari membran terdiri dari simple cuboidal dan sel epitel columnar. Lapisan
ini indentic dengan mucosa jaringan telinga tengah dan daerah penyembuhan pada perforasi
membran timphany.1
Teknik timpanoplasty
Beberapa teknik dari timpanoplasti dilakukan untuk menutup perforasi dari membran
timpani, diantaranya timpanoplasti medial (underlay), timpanoplasti lateral (overlay), dan yang
paling populer saat ini adalah teknik timpanoplasti medial dan lateral (under-over technique).

Adapun cara pencapaian pada membran tymphani mungkin digunakan transcanal, endaural atau
retroauricular.
Transcanal approach
Operasi telinga dilakukan dengan menempatkan speculum telinga di canalis acusticus
externus. Karena cara transcanal sulit dilakukan karena beberapa faktor keterbatasan ruang,
penggunaannya atau teknik ini dilakukan untuk perforasi traumatic atau pada kasus canalis
akustikus yang luas dengan letak perforasi di posterior. Canalis acusticus externus seharusnya
cukup luas, dan seharusnya dapat terlihat sekitar margin dari perforasi; paling sering digunakan
pada perforasi di posterior membran tymphani.
Endaural approach
Teknik endaural membutuhkan pembuatan insisi antara tragus dan helix; pintu masuk liang
telinga kemudian diregangkan

dengan endaural retractor. Teknik ini digunakan bagus untuk

perforasi posterior, ditambah lagi teknik ini lebih baik dibandingkan transcanal, namun teknik ini
tidak cocok untuk perforasi anterior Gambar 2.

Gambar

Endaural

teknik. Insisi diantara

tragus dan

cartilago dari helix.

Retroauricular approach

Insisi pada retroauricular dilakukan dekat garis rambut dengan jaringan lunak tepat
dibelakang telinga. Teknik ini biasanya digunakan untuk perforasi anterior. Teknik ini dapat
melakukan canalplasty circumferential.
Beberapa teknik dari timpanoplasty dilakukan untuk menutup perforasi dari membran
timphany, diantaranya timpanoplasty medial (underlay), timpanoplasty lateral (overlay), dan yang
paling populer saat ini adalah teknik timpanoplasti medial dan lateral (under-over teknik).5
Overlay teknik (lateral grafting)
Teknik ini cukup sulit sehingga harus dilakukan oleh ahlinya. Pada overlay teknik, materi
graft dimasukkan di bawah skuamosa (lapisan kulit) dan membran timpani. Kesulitannya pada
memisahkan tiap lapisan dari membran timpani kemudian menempatkan graft diatas perforasi.
Teknik lateral ini bisa digunakan untuk semua jenis perforasi dan dapat meminimalisasi
kemungkinan reduksi rongga telinga tengah. Teknik ini memiliki keberhasilan yang tinggi dan
efektif untuk perforasi yang besar dan perforasi di letak anterior. Kerugian teknik ini adalah dapat
terjadi anterior blunting, lateralisasi tandur, membutuhkan manipulasi maleus, waktu penyembuhan
yang lama, waktu operasi yang lama, dan operasi akan sulit dilakukan untuk perforasi kecil dan
retraction pocket.
Pada teknik lateral prosedur anestesi yang digunakan adalah anestesi lokal dengan
pendekatan transcanal.
Corong telinga ditempatkan pada meatus akustikus eksternus. Seluruh pinggiran perforasi
membran timpani dilukai dan dibuang dengan menggunakan cunam pengungkit dan cunam
pemegang. Sisa membran timpani di atas manubrium malei dibersihkan. Mukosa di bagian medial
sekeliling sisa membran timpani dilukai secukupnya untuk tempat menempel fasia temporalis
sebagai graft or flap.
Underlay teknik (medial grafting)
Teknik ini lebih simple dan mudah dilakukan. Graft ditempatkan dibawah tympanomeatal
flap yang telah dielevasi makanya teknik ini dinamai sebagai underlay teknik. Keuntungan dari
teknik ini adalah mudah dilakukan dengan hasil yang cukup memuaskan. Selain itu, menghindari
risiko lateralisasi dan blunting pada sulkus anterior da memiliki angka keberhasilan tinggi terutama
pada perforasi membran timpani posterior. Kerugian teknik ini adalah tidak terdapatnya visualisasi
yang adekuat pada daerah anterior telinga tengah terutama bila dilakukan dengan pendekatan
transkanal, kemungkinan jatuhnya tandur anterior ke dalam kavum timpani dan reduksi ruang
telinga tengah dengan konsekuensi meningkatnya resiko adhesi tandur pada promontorium terutama

pada perforasi anterior dan subtotal. Penelitian lain melaporkan keberhasilan miringoplasti dengan
teknik medial (underlay) sebesar 92 % dari 96 kasus miringoplasti dengan pendektan transcanal.
Pada teknik ini medial prosedur anestesi yang digunakan adalah lokal dengan pendekatan
transkanal. Corong telinga ditempatkan pada meatus akustikus eksternus.
Teknik medio lateral
Salah satu kegagaln yang serius pada penggunaan teknik pencangkokan adalah lateralisasi
membran timpani. Lateralisasi membran timpani adalah keadaan permukaan membran timpani yang
dapat dilihat, terleta pada cincin tulang annulus dan kehilangan kontak dengan sistem mekanisme
konduksi telinga tengah. Untuk menghindari kegagaln yang terjadi pada miringoplasti baik pada
teknik medial maupun lateral maka dilakukan teknik lain yaitu tekknik mediolateral, dengan cara
menempatkan tandur dibagian medial pada setengah bagian posterior membran timpani dan
perforasi termasuk prosesus longus malesu, dan lateral terhadap setengah perforasi dibagian anterior
untuk menghindari terjadinya lateralisasi.3
Material graft
Material graft bisa digunakan dengan pericondrium diambil dari tragus, fascia yang bisa
didapat dari musculus temporalis, atau fat graft dari lobul telinga. Material dengan fat lebih tinggi
kesuksesannya selain sangat mudah didapat pada pekerjaannya telinga tengah tidak perlu diisi
dengan gelfoam. Ditambah lagi fat-plug graft lebihstabil karena penempatannya setengah berada di
telinga tengah dan setengah lainnya berada di luar lapisan membran tympanic.
Fascia temporalis sering digunakan untuk rekonstruksi membran tympanic. Fascia ini mudah
didapat. Keuntungan dari fascia temporalis adalah reccurent cholesteatoma atau residual lebih
mudah diidentifikasi dibelakang rekonstruksi membran tymphani. Fascia ini dapat diambil di regio
retroauricular. 6

Daftar pustaka
1. Reilly BK, McCormick ME, Meyers AD. Tympanoplasty : In Medscape. WebMD, LLC, 2015
2. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Tuli mendadak dalam buku : Buku ajar
ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala & leher. Ed.7. Jakarta : FKUI, 2012

3.

Roland PS. Tympanoplasty : repair of the tympanic membrane. Continuig education program
(American academy of Otolaryngology - Head and Neck Surgery Foundation), Alexandria, VA;
American academy of otolaryngology, 2010.

4. Adams GL, Boies LR, Highler PA. Masalah ketulian mendadak dalam buku : BOIES buku ajar
penyakit THT; alih bahasa, caroline wijaya. ED.6. Jakarta : EGC, 2015.
5. Harris T, Linder T. Myringoplasty and tympanoplasty. Divison of otolaryngology university of
cape town : cape town, south africa, 2014.
6. Bluestone CD. Selection approach and technique myringoplasty and tympanoplasty