Anda di halaman 1dari 5

TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER

MATA KULIAH MANAJEMEN TANAMAN PERKEBUNAN


Dosen Pengampu Ir. Y.B.Suwasono Heddy, Ms

Oleh :
Nama

: Pratama Wahyu Hidayat

NIM

: 125040202111004

Kelas

:C

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
MALANG
2015

Teknik pembibitan tanaman kakao secara generatif

Tanaman kakao dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif. Namun secara umum,
pembibitan kakao secara generatif lebih sering dilakukan para petani. Mungkin karena dirasa
lebih praktis.
Perbanyakan generatif adalah teknik memperbanyak tanaman dengan menggunakan biji.
Sedangkan perbanyakan vegetatif biasanya menggunakan setek, okulasi, cangkok atau kultur
jaringan. Terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan perbanyakan generatif dibanding
vegetatif.
Teknik generatif lebih praktis karena benih bisa disimpan dalam waktu lama, pengiriman
benih lebih fleksibel dan tanaman berdiri kokoh karena memiliki akar tunjang. Hanya saja,
dengan teknik ini sifat-sifat tanaman belum tentu seragam dan bisa saja berlainan dengan
tanaman induknya.
Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam pembibitan kakao menggunakan
teknik perbanyakan generatif. Tahapan-tahapan tersebut antara lain penyiapan benih tanaman,
penyiapan tempat pembibitan kakao, penyemaian, penyiapan media tanam, pemindahan
kecambah dan pemeliharaan bibit.

Penyiapan bahan tanam

Hal pertama yang dilakukan dalam pembibitan kakao adalah penyiapan bahan tanam.
Bahan tanam berupa biji dapat diperoleh dari kebun produksi atau dengan pembelian ke sumber
benih terpercaya.
Untuk penyediaan bahan tanam dari kebun produksi, tanaman induk yang akan
digunakan sebagai sumber benih harus memenuhi persyaratan antara lain kondisi tanaman sehat
dan kuat, memiliki produktivitas tinggi, serta berumur antara 12 18 tahun.
Dari tanaman induk tersebut diambil buah yang sudah masak sempurna. Buah yang sudah
masak ditandai dengan perubahan warna menjadi kuning untuk buah yang kulitnya hijau atau
menjadi jingga untuk buah yang kulitnya merah.

Buah-buah tersebut kemudian dipecah dan diambil bijinya. Biji yang digunakan sebagai
benih terletak pada bagian poros atau tengah-tengah buah. Dalam satu buah umumnya hanya
digunakan 20-25 biji saja.
Biji-biji tersebut kemudian dibersihkan dari lendir (pulp) yang menempel. Caranya,
campurkan serbuk gergaji atau abu gosok pada biji yang berlendir. Kemudian remas-remas
dengan tangan. Setelah itu biji dicuci menggunakan air mengalir untuk kemudian dianginanginkan hingga kering selama 1 hari. Setelah kering biji siap untuk dikecambahkan.
Bila kita tidak memiliki sumber tanaman untuk pembibitan kakao, benih bisa didapatkan
dengan membeli. Kami menganjurkan untuk membeli benih di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao,
di Jember. Bisa dipesan secara online. Satu butir benih kakao di sana dijual seharga 500 750
rupiah tergantung jenis klonnya.

Penyiapan tempat pembibitan kakao

Setelah bahan tanam atau benih siap, langkah selanjutnya dalam tahapan pembibitan
kakao adalah penyiapan bedengan dan naungan. Bedengan dan naungan sebaiknya dibuat di
tempat yang memenuhi syarat tempat pembibitan yang baik yakni dekat dengan sumber air,
tempatnya datar dan rata, dekat dari jangkauan, dan aman dari berbagai gangguan.
Bedengan persemaian dibuat dengan ukuran lebar 1,2 meter dan panjang maksimal 10
meter dengan arah membujur utara-selatan. Tanah untuk bedengan tersebut kemudian
dibersihkan dari gulma dan sisa-sisa perakaran. Tanah dicangkul sedalam 30 cm untuk kemudian
digemburkan, dihaluskan, dan diratakan.
Pada lapisan tanah yang sudah rata itu kemudian ditambahkan pasir setebal 5 cm.
Penggunaan pasir dimaksudkan agar akar kecambah kakao lebih mudah dicabut saat pemindahan
ke polibag. Agar pasir tidak longsor, tepi bedengan harus diberi dinding penahan berupa papan
kayu, bambu, atau batu bata.
Bedengan dilengkapi dengan naungan untuk menghidarkan semaian dari teriknya sinar
matahari atau tetesan air hujan secara langsung. Naungan dibuat dari daun kelapa, daun tebu,
atau dari anyaman daun alang-alang. Naungan dibuat dengan tinggi tiang sebelah timur 1,5 meter
dan di sebelah barat 1,2 meter.

Penyemaian benih

Setelah benih dan bedengan persemaian siap, tahapan pembibitan selanjutnya adalah
melakukan penyemaian benih. Benih-benih kakao yang akan disemai terlebih dahulu direndam
dalam larutan formalin 2,5% selama 10 menit agar jamur tidak tumbuh.
Benih kemudian diletakkan di lapisan pasir dengan posisi bagian yang rata menghadap ke
bawah. Benih ditekan ke dalam lapisan pasir sehingga kira-kira sepertiga bagian benih terbenam
dalam media pasir. Benih disemai secara berjajar dengan jarak 2,5 x 5 cm.
Setelah benih selesai disemai, bedengan kemudian disiram dengan air untuk kemudian
ditutup dengan daun alang-alang kering yang sudah dicelupkan ke dalam larutan fungisida.

Semaian benih disiram setiap bagi dan sore dan setelah 4-5 hari di persemaian, benih kakao akan
mulai berkecambah dan harus segera dipindahkan ke pembibitan polibag.

Penyiapan media tanam

Setelah benih kakao berkecambah, benih harus segera dipindahkan ke polibag. Polibag
yang digunakan adalah polibag yang berukuran 20 cm x 30 cm dengan tebal 0,08 mm. Polibag
ini kemudian diisi dengan media tanam berupa campuran tanah top soil, pupuk kandang, dan
pasir yang telah diayak dengan perbandingan 2:1:1. Pengisian media tanam dilakukan hingga 1-2
cm dari tepi batas atas polibag.
Polibag-polibag yang sudah terisi media tanam kemudian disusun di bawah naungan
yang sudah disiapkan. Naungan pembibitan polibag serupa dengan naungan persemaian. Polibag
disusun dengan pola segitiga sama sisi dengan jarak 60 x 60 x 60 cm. Polibag yang sudah
tersusun rapi kemudian disiram air hingga jenuh.

Pemindahan kecambah

Setelah 4-5 hari di persemaian, benih-benih kakao sudah mulai berkecambah. Benihbenih ini harus segera dipindahkan ke polibag yang sudah disiapkan. Dalam kegiatan ini, seleksi
terhadap kecambah perlu dilakukan untuk mendapatkan bibit yang berkualitas. Kecambahkecambah yang akarnya bengkok, pertumbuhannya lambat, dan kecambah yang sudah tumbuh
lebih dari 14 hari harus dipisahkan.
Pemindahan kecambah dilakukan dengan hati-hati agar akar tunggang tidak putus.
Pengambilan kecambah dilakukan menggunakan bantuan solet bambu. Kecambah yang telah
diambil kemudian ditanam dalam media tanam di polibag yang sudah dilubangi sedalam jari
telunjuk. Akar tunggang kecambah sebisa mungkin diusahakan agar dapat berdiri lurus dalam
lubang tersebut. Selanjutnya lubang ditutup dengan media untuk kemudian dibiarkan hingga
dapat beradaptasi dengan lingkungannya yang baru.

Pemeliharaan bibit

Bibit kakao dalam polibag harus dipelihara dengan baik agar tumbuh kuat dan sehat.
Kegiatan pemeliharaan bibit meliputi penyiraman, pemupukan, dan pengendalian hama penyakit.
Penyiraman mutlak perlu dilakukan agar bibit tidak mengalami kekeringan. Saat musim
kemarau, penyiraman dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari, sedangkan saat musim
hujan penyiraman disesuaikan dengan keadaan media tanam dalam polibag.
Pemupukan pada bibit kakao dilakukan setiap 14 hari sekali sampai bibit berumur 3
bulan. Pemupukan dilakukan dengan pupuk urea yang telah dilarutkan dalam air. Larutan pupuk
urea dibuat dengan konsentrasi 1%, ini berarti dalam 1 liter larutan terkandung pupuk urea
sebanyak 10 gram.Setiap bibit disiram larutan pupuk hingga 100 ml. Setelah penyiraman pupuk,
bibit perlu disiram kembali menggunakan air bersih agar larutan pupuk urea yang menempel
pada bagian tanaman luruh.

Pengendalian hama penyakit pada pembibitan kakao dilakukan tergantung pada kondisi
serangan. Jika hama dan penyakit seperti kutu putih, aphis, kumbang kecil, atau cendawan
pembusuk menyerang bibit, pengendalian dapat dilakukan dengan aplikasi insektisida sesuai
dosis.
Setelah 3 bulan, bibit kakao telah memiliki minimal 18-24 helai daun, diameter batang
sekitar 8 mm, dan tinggi 50 60 cm. Bibit ini pun sudah siap untuk ditanam di lapangan atau
bisa pula diokulasi dan disambung untuk memperbaiki kualitas bibit kakao yang dihasilkan.

Referensi :
Elna Karmawati, dkk. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Kakao. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perkebunan
Hatta Sunanto. 1994. Cokelat, Pengolahan Hasil dan Aspek Ekonominya. Kanisius.
Rijadi Subiantoro. 2009. Teknik Pembibitan Tanaman Kakao. Politeknik Negeri Lampung.6