Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Bromazepam
Bromazepam (dipasarkan dengan beberapa nama merek, termasuk Lectopam,
Lexotan, Lexilium, Lexaurin, Brazepam, Rekotnil, Bromaze, Somalium dan Lexotanil)
adalah obat turunan benzodiazepin, dipatenkan oleh Roche pada tahun 1963 dan
dikembangkan secara klinis pada tahun 1970.1

2.1.1. Sifat Fisikokimia


Rumus Struktur :

Gambar 2.1. Rumus Struktur Bromazepam


Rumus Molekul : C14H10BrN3O
Nama Kimia : 7-bromo-5-(pyridin-2-yl)-1,3-dihydro-2H-1,4 benzodiazepine-2-one
Berat Molekul : 316,2 g/mol
Pemerian : Serbuk putih atau kekuningan, bubuk kristal
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, sedikit larut dalam alkohol dan
metilenkhlorida.1
2.1.2. Farmakodinamik
Hampir semua efek benzodiazepine merupakan hasil kerja golongan ini pada
system saraf pusat (SSP) dengan efek utama : sedasi, hypnosis, pengurangan terhadap
rangsangan emosi/anxietas, relaksasi otot dan atnti konvulsi. Hanya dua efek saja
yang merupakan kerjagolongan ini pada jaringan perifer, vasodilatasi koroner setelah
pemberian dosis terapi benzodiazepine tertentu secara IV dan bokade neuromuscular
yang hanya terjadi pada pemberian dosis tinggi.
Mekanisme kerja dan tempat kerja pada system saraf pusat, terutama
interaksinya dengan reseptor penghambat neurotransmitter yang diaktifkan oleh asam
gamma amino butirat (GABA). Reseptor GABA merupakan protein yang terikat pada
membrane dan dibedakan dalam dua bagian besar subtype yaitu reseptor GABA A dan
reseptor GABAB. reseptor ionotropik GABAA terdiri dari lima atau lebih subunit
( bentuk majemuk dari , dan subunit) yang membentuk suatu reseptor kanal ion
1

klorida kompleks. Reseptor GABAA berperan pada sebagian besar neurotransmiter di


SSP. Sebaliknya, reseptor GABAB yang terdiri dari peptide tunggal dengan 7 daerah
transmembran, digabungkan terhadap mekanisme signal transduksinya oleh proteinG. Benzodiazepin bekerja pada reseptor GABAA, tidak pada reseptor GABAB.2,3
Benzodiazepin berikatan langsung pada sisi spesifik (subunit ) reseptor
GABAA (reseptor kanal ion klorida kompleks), sedangkan GABA berikatan pada
subunit atau . Pengikatan ini akan menyebabkan pembukaan kanal klorida,
memungkinkan masuknya ion klorida kedalam sel, menyebabkan peningkatan
potensial elektrik sepanjang membrane sel dan menyebabkan sel sukar tereksitasi.3
2.1.3. Farmakokinetik
Sifat fisikokimia dan farmakokinetic benzodiazepine sangat mempengaruhi
penggunanya dalam klinik karena menentukan lama kerjanya. Semua benzodiazepine
dalam bentuk nonionic memiliki koifisien distribusi lemak; air yang tinggi; namun
sifat lipofiliknya dapat bervariasi lebih dari 50 kali, bergantung kepada polaritas dan
elektronegativitas berbagai senyawa benzodiazepine.
Semua benzodiazepine diabsorbsi secara sempurna, kecuali klorazepat;
klorazepat baru diabsorbsi sempurna setelah di dekarboksilasi dalam cairan lambung
mejadi N-desmetil diazepam (nordazepam). Beberapa benzodiazepine misalnya
prazepam dan flurazepam, hanya bentuk metabolit aktifnya yang mencapai aliran
sistemik.3
Benzodiazeepin menurut lama kerjanya dapat dibagi menjadi dalam 4 golongan3 :
1. Senyawa yang bekerja sangat cepat
2. Senyawa yang bekerja cepat, dengan t1/2 kurang dari 6 jam, termasuk golongan ini
yaitu triazolam dan nonbenzodiazepin: zolpidem, zolpoklon
3. Senyawa yang bekerja sedang, dengan t1/2 antara 6-24 jam, termasuk golongan ini
yaitu estazolam, dan tamazepam
4. Senyawa yang bekerja dengan t1/2 lebih lama dari 24 jam, termasuk golongan ini
yaitu flurazepam, diazepam dan quzepam.
Table 2.1. kesetaraan benzodiazepine2

Benzodiazepine dan metbolit atifnya terikat pada protein plasma. Kekuatan


ikatanya berubungan erat dengan sifat lipofiliknya. Berkisar dari 70% (alprazolam)
sampai 99% (diazepam). Kadarnya pada cairan cerebrosepinal (CSS) kira-kira sama
dengan kadar obat bebas di dalam plasma.
Semua

benzodiazepine

diabsorbsi

secara

sempura,

benzodiazepine

dimetabolisme secara ekstensif oleh kelompok enzim sitokrom P450 di hati, terutama
CYP3A4 dan CYP2C19. Beberapa penghambat CYP3AP antara lain; eritromisin,
klaritromisin, ritonavir, itrakonazol, ketokonazol, nefazodon, dan seri buah grapefruit
dapat mempengaruhi metabolisme benzodiazepine.3
2.1.4. Indikasi
Bromzepam dapat dipakai untuk mensupresi semua gejala kecemasan atau
anxietas, ketegangan dan kelainan-kelainan yang timbul karena reaksi berlebihan dari
emosi terhadap pelbagai situasi yang menegangkan dan konflik.4
2.1.5. Kontra indikasi
Seperti semua benzodiazepine maka Lexotan tidak dapat diberikan pada
penderita koma, syok atau intoxikasi alcohol. Lexotan juga tidak dapat diberikan pada

penderita yang sensitive pada benzodiazepine, glaucoma akut jenis narrow angle
dan open angle.4
2.1.6. Efek samping
Benzodiazepine dosis hipnoik pda kadar puncak menimbulkan efek samping
berikut :kepala ringan,malas atau tak bermotivasi, lamban, inkoordinsi motorik,
ataksia, gangguan fungsi mental dan psikomotorik, dan amnesia anterograt.
Kemampuan motorik lebih dipengaruhi dibandingkan kemampuan berfikir. Semua
efek tersebut dapat sangat mempengaruhi keterampilan mengemudi dn kemampun
psikomotor lainnya. Interaksi denga etanol dpat menimbulka depresi berat.efek
residual terlihat pada beberapa bezodiazepin dan berhubungan erat dengan dosis yang
diberikan. Intensitas dan insiden intoksikasi SSP umumnya meningkat sesuai dengan
usia pasien, farmakokinetik dan farmakodinamik obat. Efek samping lain yang realtif
lebih umum terjadi ialah lemas, sakit kepala, pandangan kabur, vertigo, mual dan
muntah ,diare, nyeri epigastic, nyeri sendi, nyeri dada, dan pada beberapa pasien
mengalami inkontinensia. Benzodiazepine dengan efek anti konvulsi kadang-kadang
malah meningkatkan frekuensi bangkitan pada pasien epilepsy.perubahan pola tidur
pasien juga dapat terjadi pada pemberin hipnotik-benzodiazepin.3
Efek

samping

psikologik.

Benzodiazepine

dapat

menimbulkan

efek

paradoksol. Misalnya, flurazepam, sesekali meningkatkan insiden mimpi buruk,


terutama pada minggu pertama penggunaan obat, kadang-kadang pasien menjadi
banyak bicara /(nyinyir), cemas, mudah tersinggung, takikardi dan berkeringat. Gejala
amnesia, euphoria, gelisah, halusinasi, dan tingkah laku hipomaniak pernah terjadi
pada penggunaan berbagai benzodiazepin. Selain itu dilaporkan timbulnya reaksi
berupa tingkah laku aneh/tanpa inhibisi, bermusuhan, dan kemarahan pada pemakai
obat ini, kadang-kadang terjadi gejala paranoid, depresi dan keinginan bunuh diri.
Walaupun demikian, insiden efek paradoksal dan reaksi diskontrol tersebut sangat
jarang terjadi dan tampknya bergantung kepada dosis.3
Penggunaan kronik benzodiazepine memiliki resiko terjadinya ketergantungan
dan penyalahgunaan, tapi tidak sama seperti pada obat hipnotik sedative terdahulu
serta obat yang dikenal sering disalahgunakan. Ketergantungan ringan sudah dapat
terjadi pada banyak pasien yang menggunakan benzodiazepine dosis terapi secara
teratur untuk waktu lama. Gejala putus obat dapat berupa makin hebatnya kelainan
4

yang semula akan diobati, misalnya insomnia dan ansietas. Disforia, mudah
tersinggung, berkeringat, mimpi buruk, tremor, anoreksia, dan pusing kepala dapat
terjadi penghentian obat secara tiba-tiba. Penghentian penggunaan obat sebaiknya
dilakukan secara bertahap. Pada umumnya selama pengobatan dengan benzodiazepine
pasien jarang menaikkan dosis obat tanpa instruksi dari dokternya. Namun pada
pasien dengan kebiasaan mengkonsumsi alcohol dan obat psikotropik lain, cenderung
manyalahgunaan golongan bemzodiazepin bersama-sama dengan senyawa lain.
Penggunaan

benzodiazepine

dosis

tinggi

dalam

waktu

yang

lama

dapat

mengakibatkan gejala putus obat lebih parah setelah pemutusan obat, yaitu : agitasi,
panic, paranoid, mialgia, kejang otot dan bahkan konvulsi.3
Selain efek samping yang luas, secara umum benzodiazepine merupakan obat
yang relative aman . bahkan dosis tinggi jarang menyebabkan kematian kecuali bila
digunakan bersama-sama dengan depresan SSP yag lain missal alcohol.3
2.1.7. Dosis dan cara pemberian
Dosis rata-rata pada penderita yang ringan dan sedang biasanya berkisar antara
3-9- mg sehari yang diberikan dalam dosis terbagi 2 atau 3. Pada penderita gangguan
yang berat dan di hospitalisasi dosis dapat ditingkatkan sampai 12-24 mg sehari dalam
dosis terbagi 2 atau 3.
Pada pasien yang berobat jalan sebaikya diberikan dosis yang serendahrendahnya dan kemudian dinaikan secara progresif. Setelah pengobatan dengan
lexotan 3-6 minggu harus diperhatikan kemajuan pasien dan dosis secara perlahanlahan di kurangi untuk kemudian dihentikan.4

BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Bromazepam adalah obat turunan benzodiazepin yang banyak digunakan
sebagai sedasi, hypnosis, pengurangan terhadap rangsangan emosi/anxietas, relaksasi
otot dan atnti konvulsi, yang antara lain menyangkut efek samping, pengembangan
toleransi, ketergantungan obat, interaksi dan kematian akibat kelebihan dosis. Dalam
dosis rendah bromazepam dapat mengurangi ketegangan dan kecemasan, sedang pada
dosis tinggi menunjukkan sifat sedatif dan relaksasi otot. Setelah pengobatan dengan

Lexotan (Bromazepam) 3-6 minggu harus diperhatikan kemajuan pasien dan dosis
secara perlahan-lahan di kurangi untuk kemudian dihentikan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Wikipedia. Bromazepam. https://en.wikipedia.org/wiki/Bromazepam.( Diakses pada
14 oktober 2015)
2. Kusumawardhani,A.A.A.A. 2013. Terapi fisik dan Psikofarmaka di Bidang Pskiatri.
In Buku ajar Pskiatri edisi ke-2. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
3. Wira ,Meta Sinta Sari. 2011. Hipnotik-sedatif dan Alkohol in Farmakologi dan Terapi
Edisi 5. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI.
4. Setyonegoro, kusmanto. Yul iskandar. Kedja Musadik. Rudy Salan. 1984. Obat-obat

yang dipakai Dibidang Kesehatan Jiwa. Jakarta : Yayasan Dharma Graha